Page 1

Media

Surat Kabar

Aesculapius PERANGKO BERLANGGANAN KP JAKARTA PUSAT 10000 NO. 3/PRKB/JKP/DIVRE IV/2014

Kedokteran dan Kesehatan Nasional Terbit Sejak 1970

No. 01 l XLV l Maret-April 2015 Advertorial

Konsultasi

Tanggap Antisipasi Kejang Epilepsi dengan Smartwatch

Perlukah Insulin Diganti Obat Oral Pasca Rawat Inap pada DM Tipe 2?

halaman 4

Harga Rp3.000,00

ISSN No. 0216-4966 Senggang

Belajar Mawas Diri dengan Mountain Bike

halaman 3

Kontak Kami @SKMAesculapius beranisehat.com

halaman 8

Vaksinasi, Sebuah Suntikan Polemik Tanpa Batas Ketika ada yang menutup mata dari vaksinasi, apakah yang mereka hindari risiko atau justru manfaat yang ditawarkannya?

L

ebih dari seratus tahun berlalu sejak Louis Pasteur mengemukakan vaksin kepada dunia kesehatan. Sejak itu pula ribuan insiden penyakit mematikan dapat dicegah setiap tahunnya. Vaksin memperoleh kemampuannya dari olahan antigen patogen (bakteri atau virus) yang dilemahkan, inaktivasi, atau sekadar mengambil sebagian dari proteinnya. Antigen yang dimasukkan ke tubuh akan tetap memicu sistem imun tanpa menimbulkan reaksi penyakit. Dengan demikian, seseorang menjadi terlindung dari penyakit tertentu. Efek pencegahan penyakitnya yang spesifik membuat vaksin lebih unggul dibanding metode preventif lainnya. Tak ayal, pemerintah telah menyerukan kewajiban imunisasi terjadwal terhadap Hepatitis B, polio, campak, BCG, DPT, dan Haemophilus influenzae B. Selain itu, paradigma kesehatan yang telah beralih pada tindakan preventif juga berhasil mendorong masyarakat untuk mengembangkan produk vaksin dan menyongsong program imunisasi. Di balik berbagai keuntungan yang ditawarkan vaksin, rupanya terdapat pula efek samping yang menyertainya, yaitu efek lokal dan sistemik. Efek lokal vaksin dirasakan sebagai nyeri, gatal, atau bengkak pada daerah sekitar suntikan, sedangkan efek sistemiknya demam. Kedua hal ini biasanya menjadi bahan pertimbangan bagi banyak orang karena dipandang akan menurunkan kinerja dan aktivitas sehari-hari. Menanggapi hal tersebut, dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc (VPCD) sebagai ahli vaksinologi Indonesia menjelaskan, “Demam adalah tanda terstimulasinya sistem imun. Setelah pemberian vaksin, selsel radang terpicu sehingga memunculkan

demam tersebut. Dengan begitu, tubuh akan membentuk antibodi untuk melawan patogen jenis yang sama seperti vaksin tadi.” Kekhawatiran masyarakat juga merujuk pada data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). KIPI merupakan catatan segala kejadian yang terjadi sehabis imunisasi, termasuk berita bayi yang meninggal dunia tidak lama setelah imunisasi sehingga sering terjadi miskonsepsi di kalangan masyarakat mengenai vaksin. Selain itu, penyebaran informasi tanpa saringan, terutama melalui internet, turut menguatkan anggapan bahwa vaksin tidak aman. “Tidak semua KIPI memiliki hubungan sebabakibat dengan vaksin atau imunisasi. Jika memang vaksin berdampak pada KIPI yang sangat serius, tentu saja vaksin akan ditarik fatira/MA dari peredaran,” ungkap dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) selaku aktivis provaksin sekaligus sekretaris umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Di sisi lain, pihak kontravaksin justru menggembar-gemborkan laporan KIPI ini. Kelumpuhan dan kanker, bahkan kematian yang dianggap mempunyai hubungan kausatif dengan vaksin menjadi momok menakutkan bagi kaum tertentu.

Yang Aman, yang Menyehatkan Menurut Dirga, setidaknya terdapat tiga vaksin yang pada proses pembuatannya bersinggungan dengan enzim berasal dari babi. Meskipun sebenarnya produk akhir vaksin sendiri setelah melalui serangaian proses kimiawi tidaklah lagi mengandung babi, paham fiqih agama dipercaya kerap mengalihkan sejumlah orang dari

Dana dan Teknologi Terbatas Ganjal Imunisasi Dewasa Indonesia Di tengah maraknya isu imunisasi anak, usaha pembangunan kekebalan diri terhadap kuman pada dewasa seolah aman-aman saja. Padahal, imunisasi dewasa masih belum terlepas dari sejumlah masalah.

M

endengar kata imunisasi, yang terlintas di pikiran masyarakat pada umumnya adalah imunisasi pada bayi dan anak. Padahal, imunisasi pada dewasa tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan imunisasi pada anak. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI, menjabarkan pentingnya imunisasi dewasa dalam temu media “Perkembangan Program Imunisasi di Indonesia” yang diselenggarakan di Ruang Kuliah Parasitologi, FKUI pada 4 Maret 2015. “Imunisasi dewasa dapat mencegah kematian seratus kali lebih banyak daripada anak karena cukup banyak penyakit yang dapat dicegah penularannya dengan vaksinasi pada orang dewasa dan usia lanjut,” jelas

Anggota Satuan Tugas Imunisasi Dewasa PAPDI tersebut. Akan tetapi, imunisasi dewasa ini belum disosialisasikan secara massal lantaran layanannya masih tergolong lemah dan tersebar secara sporadis. Di Indonesia, vaksin anak mayoritas diproduksi oleh PT. Biofarma, sementara khusus dewasa harus diimpor. Keharusan mengambil dari luar negeri tak terlepas dari masalah dana. Dalam temu media tersebut, Ketua Lembaga Eijkman, Prof. dr. Amin Soebandrio, PhD, SpMK(K), memaparkan contoh biaya yang perlu dikucurkan oleh Indonesia. “Dengan populasi penduduk sekitar 240 juta orang, Indonesia membutuhkan 230 juta dosis. Jika harga vaksin diasumsikan sekitar 10 USD per dosis, dibutuhkan 2.300 juta USD,

yakni sekitar 30 triliun rupiah,” tutur Amin. Jika disesuaikan dengan anggaran kesehatan dalam APBN RI 2015, harga vaksin mencapai tiga perempat anggaran kesehatan itu sendiri. Persoalan berikutnya teknologi. Teknologi vaksin di Indonesia terbatas dan masih jauh di bawah negara-negara maju yang sanggup memproduksi vaksinnya sendiri. Peneliti masih berupaya mengembangkan vaksin yang efektif, murah, dan aman dengan berbagai teknik rekombinan DNA. “Pemerintah telah berusaha untuk menyediakan vaksin baru dengan Konsersium Riset Vaksin, seperti konsersium vaksin tuberkulosis, dengue, dan AI,” jelas Amin. fidi, nadia, irmapriyadi, puspa

memperoleh vaksin tertentu. Tak ayal kontroversi kehalalan produk vaksin kian menjadi dilema komunitas bermayoritas muslim, tidak terkecuali Indonesia. Untuk menanggapi hal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) berusaha menyuarakan hak konsumen agar mendapatkan vaksin yang halal. “MUI selalu mendukung program kesehatan pemerintah. Tidak ada larangan untuk melakukan vaksinasi jika terdapat produk vaksin halal yang tidak mengandung babi seperti yang beredar selama ini,” ujar Osmena Gunawan selaku Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI Jakarta. Dengan demikian, keharamannya bukan pada tindakan vaksinasi melainkan karena penggunaan vaksin yang diharamkan. Hal ini yang mendasari keluarnya Fatwa MUI NO 06 Tahun 2010 yang mengharamkan vaksin meningitis jenis Mancevax ACW135 Y yang diproduksi oleh Glaxo Smith Kline (GSK), Beecham Pharmaceutical dari Belgia.Rupanya memperoleh vaksin halal bukan suatu hal yang nadir. Tidak semua vaksin dinyatakan haram oleh MUI, misalnya jenis Manveo Meningococcal A, C, W135 and Y Conyugate Vaccine yang diproduksi Novartis Vaccine and Diagnostics S.r.i dan Meningococcal Vaccine yang diproduksi Zheijiang Tianyuan Bior Pharmaceutical Co. Ltd dinyatakan halal karena tidak tercemar babi dalam pembuatannya. Hanya saja, ketersediaan vaksin halal masih terbatas di Indonesia. bersambung ke halaman 7

Pojok MA “Jangan biarkan asumsi mengaburkan fakta. Jangan biarkan kontroversi merusak kesehatan bangsa. Akankah kontroversi vaksin ini mengorbankan masa depan generasi berikutnya?”


MARET-APRIL 2015

DARI KAMI Assalamualaikum wr. wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Tidak terasa kini susunan kepengurusan Media Aesculapius telah berganti kembali. Untuk edisi ini, kami menghadirkan SKMA dengan jumlah halaman lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Namun, tidak perlu khawatir, pengurangan halaman tidaklah menurunkan kualitas berita seputar kedokteran yang akan Anda dapatkan. Kali ini, bahasan utama berpusat pada gerakan antivaksin di Indonesia. Kami menghadirkan pendapat dokter penggiat perlawanan antivaksin dan ahli vaksinologi Indonesia. Tidak lupa pula, ada LPPOM MUI yang turut memberikan komentarnya, mengingat paham antivaksin sering dihubung-hubungkan dengan agama. Dalam rubrik Konsultasi, dr. Wismandari Wisnu, SpPD-KEMD, FINASIM dari Divisi Metabolik-Endokrin IPD RSCM memberikan kiat-kiat seputar pemberian terapi insulin dan obat hipoglikemik oral pada pasien DM tipe 2. Apakah insulin perlu diganti dengan obat hipoglikemik oral apabila pasien DM tipe 2 pulang dari perawatan? Kegundahan itu bisa terjawab di rubrik konsultasi. Tertarik dengan olahraga ekstrem ala sepeda gunung? Ternyata kesibukan sebagai dokter tidaklah menjadi alasan untuk menolak menjajali sepeda gunung. Lihat saja dokter Ifzal Asril, spesialis obsgin dengan hobi ekstrem ini di rubrik Senggang. Perkembangan teknologi juga memberikan imbas positif terhadap dunia kedokteran. SKMA mengulas smart watch antiepilepsi. Walau tak mencegah serangan, niscaya jam tangan canggih ini melindungi penderita dari luka akibat serangan. Ingin tahu lebih lanjut? Silakan tengok di rubrik Advertorial. Selamat membaca!

Patria Wardana Yuswar Pemimpin Redaksi

MA FOKUS Antivaksin, Ideologi Perenggut Masa Depan Si Kecil

A

ntivaksin, isu yang tidak pernah mati. Menilik sekilas sejarahnya, kelompok antivaksin bermula di tahun 1998, ketika Andrew Wakefield menerbitkan penelitian termasyurnya di Jurnal Medis Inggris The Lancet. Wakefield mengklaim bahwa terdapat hubungan antara autisme dengan vaksin Measles, Mumps, dan Rubella (MMR). Didukung sejumlah opini selebriti, tiba-tiba antivaksin menjadi sebuah aliran kepercayaan yang menyebar luas. Saat di kemudian hari terbukti bahwa Wakefield merekayasa data penelitiannya, kepercayaan antivaksin terlanjur mengakar luas secara global. Bahkan, hingga saat ini negara maju maupun berkembang masih kewalahan mengatasi keyakinan antivaksin. Di tanah air yang multireligi ini, paham antivaksin datang berkedok agama. Dengan mayoritas penduduk muslim, suatu produk di Indonesia bisa langsung jatuh pamornya begitu terkena cap haram. Sayangnya, vaksin “si pembuat kebal” ternyata tidak kebal terhadap cap haram tersebut. Walaupun hanya segelintir vaksin yang bersinggungan dengan babi dalam proses pembuatannya, masyarakat terhanyut informasi pseudosains tak berbasis fakta sehingga tanpa pandang bulu memandang jijik semua jenis vaksin. Di sisi lain, benarkah segala produk vaksin yang dibuat dengan enzim babi lantas sepenuhnya jadi haram? Pernah dijelaskan oleh dr. Piprim B. Yanuarso, SpA, seorang dokter yang gencar menyuarakan berbahayanya paham antivaksin, mengenai proses pembuatan vaksin. Dua prinsip dapat menjadi kacamata melihat vaksin. Pertama Istihalah, yaitu transformasi sepenuhnya suatu substansi sehingga sama sekali berbeda dari produk awalnya. Walau dipotong dengan tripsin yang berasal dari babi, produk akhir vaksin telah dirancang terbebas dari tripsin. Berikutnya adalah hukum pengenceran luar biasa yang dikenal dengan istilah Istihlak. Aplikasinya dapat dicontohkan ketika sebotol minuman alkohol tercebur ke dalam danau, maka alkohol tersebut terencerkan secara ekstrem sehingga air danau tadi tidaklah menjadi haram. Demikian pula vaksin. Meskipun pada proses pembuatannya dicampurkan dengan substansi haram, kadarnya begitu kecil sehingga tidak signifikan lagi. Baru-baru ini, kejadian luar biasa (KLB) difteri kembali merebak di Bandung dan Padang. Lepas setengah windu setelah KLB difteri terakhir di Jawa Timur, kini penyakit pengancam jiwa anak muncul kembali. Aneh bin ajaib sebenarnya, mengingat difteri termasuk mudah dicegah karena termasuk dalam Program Imunisasi Nasional yang wajib pada anak. Akan tetapi, mungkin kesan aneh itu bisa pudar melihat masih panasnya pergulatan kubu provaksin dengan kontravaksin. Uniknya lagi, pemerintah terkesan adem ayem saja dengan terpecahnya pendapat masyarakatnya tersebut. Memang, kebebasan berpendapat termasuk ke dalam hak asasi manusia. Namun, perlu dipertanyakan lagi jika pendapat ini sampai merenggut masa depan anak-anak, masih patut diperjuangkankah opini tersebut?

KLINIK

MEDIA AESCULAPIUS

ASUHAN KEPERAWATAN

Mempertahankan Kesehatan Sistem Termoregulasi Lansia Pernahkah Anda melihat lanjut usia (lansia) masih mengenakan baju hangat meski matahari sudah berada tepat di atas kepala? Atau mendengar lansia meninggal akibat suhu ekstrem? Itu adalah bagian dari fenomena perubahan sistem termoregulasi pada lansia.

P

enuaan merupakan suatu proses alami dalam siklus hidup. Seiring berjalannya proses tersebut, fungsi organ tubuh akan berubah secara perlahan, termasuk sistem termoregulasi. Sistem ini berfungsi untuk menyesuaikan suhu tubuh dengan lingkungan serta menjaga kestabilan suhu tubuh. Pada lansia, kemampuan termoregulasi mengalami penurunan. Berkurangnya kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan suhu lingkungan menimbulkan kompensasi berupa peningkatan kerja jantung yang dapat berujung pada kematian. Oleh karena itu, penurunan fungsi termoregulasi pada lansia perlu mendapat perhatian serius. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan termoregulasi lansia, seperti manajemen lingkungan, pengaturan pola perilaku, dan asupan nutrisi. Manajemen lingkungan dapat diaplikasikan dengan mempertahankan temperatur ruangan dalam kisaran 21.1 0C - 23.9 0C (70 0F – 75 0F). Apabila keadaan lingkungan dingin, dianjurkan untuk menggunakan pakaian hangat yang longgar atau memakai beberapa lapis baju. Topi dan sarung tangan dapat dikenakan saat beraktivitas di luar ruangan. Ketika tidur, sebaiknya menggunakan penutup kepala dan kaus kaki. Pada pagi hari, gunakan pakaian lebih dari satu karena metabolisme lansia sedang berada di bawah poin normal. Semua poin tersebut dapat mencegah hipotermia pada lansia. Ketika suhu lingkungan sedang panas, pertahankan temperatur ruangan di bawah 29.4 0C (85 0F). Apabila ruangan tidak mempunyai Air Conditioner (AC), kipas angin dapat digunakan untuk memperlancar sirkulasi udara. Anjurkan lansia memakai pakaian yang berbahan katun yang tipis serta berwarna terang. Tindakan selanjutnya ialah pengaturan pola perilaku seperti penggunaan payung saat berada di luar rumah dalam jangka waktu yang lama. Kegiatan di luar ruangan tidak dianjurkan pada pukul 10.00-14.00 karena dalam rentang waktu tersebut merupakan keadaan yang terpanas dalam 24 jam. Selain itu, disarankan untuk mandi beberapa kali dalam sehari. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan sabun terlalu sering dapat membuat kulit lansia lebih kering. Aspek ketiga ialah pengaturan asupan nutrisi dalam menu makan sehari-hari. Protein dapat meningkatkan metabolisme hingga 30% dalam jangka waktu yang lama. Konsumsi protein yang cukup dapat membantu

MEDIA AESCULAPIUS

Amy Kurniawati Mahasiswa Tingkat IV FIK UI 2011 meningkatkan produksi panas tubuh. Selain itu, disarankan mengonsumsi makanan mengandung seng, selenium, vitamin A, vitamin C, dan vitamin E. Zat-zat tersebut dapat diperoleh dari kacang-kacangan, buahbuahan, telur, dan seafood. Makanlah dalam jumlah yang sedikit tetapi sering. Usahakan minimal lansia makan tiga kali dalam sehari. Selanjutnya, asupan cairan juga harus diperhatikan untuk mencegah dehidrasi. Disarankan untuk meminum 8 hingga 10 gelas perhari. Minuman yang mengandung kafein tidak dianjurkan sebab memicu pengeluaran urin berlebih. Ketiga aspek di atas merupakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan termoregulasi lansia. Meskipun fungsi pengaturan tubuh lansia menurun secara fisiologis, manajemen tersebut dapat membantu lansia beradaptasi dengan lingkungan serta mengoptimalkan kualitas hidupnya. raditya

herlin/MA

22

Pelindung: Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis M. Met. (Rektor UI), Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM(K) (Dekan FKUI) Penasihat: Prof. Dr. Bambang Wibawarta, S.S., M.A. (Direktur Kemahasiswaan UI), dr. Ahmad Fuady, MSc (Koordinator Kemahasiswaan FKUI) Staf Ahli: Seluruh Kepala Bagian FKUI/RSUPNCM, Prof. Dr. Ma’rifin Husein (CHS), dr. Muki Reksoprodjo, dr. Boen Setiawan, dr. Sudarso, dr. E. Oswari, DPH, Prof. Dr. Arjatmo Tjokronegoro, PhD, dr. Hapsara, DPH (Kemenkes RI), dr. Fahmi Alatas, Prof. dr. Marwali Harahap, SpKK, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH Pembantu Khusus: Seluruh Alumni Aesculapius dan Media Aesculapius

Pemimpin Umum: Indra Wicaksono. PSDM: Berli Kusuma, Dwitya Wilasarti, Annisaa Yuneva, Ferry Liwang, Laksmi Bestari, Aditya Indra Pratama. Pemimpin Produksi: Zharifah Fauziyyah. Wakil Pemimpin Produksi: Kartika Laksmi, Dhiya Farah Tata Letak dan Cetak: Vanya Utami Tedhy. Ilustrasi dan Fotografi: Aditya Indra Pratama. Website: Selvi Nafisa Shahab, Andrew John WS. Staf Produksi: Hafizh Ahmad Boenjamin, Stephanie Wijaya, Inda Tasha Bastaman, Andreas Michael S, Muhammad Reza Prabowo, Edo Rezaprasga, Meivita Sarah Devianti, Annisaa Yuneva, Arief Dimas Dwiputro, Karin Nadia Utami, Eiko Bulan Matiur, Rosyid Mawardi, Selvi Nafisa Shahab, Andrew John, Aditya Indra, Nobian Andre, Vanya Utami Tedhy, Zharifah Fauziyyah, Dhiya Farah, Kartika Laksmi, Herlien Widjaja, Gabriella Juli Lonardy, Anyta Pinasthika, Robby Hertanto, Dinarda Ulf Nadobudskaya, Fatira Ratri Audita, Dinda Nisapratama. Pemimpin Redaksi: Patria Wardana Yuswar. Wakil Pemimpin Redaksi: Sukma Susilawati. Redaktur Senior: Amajida Fadia Ratnasari, Paulina Livia Tandijono Ade Irma Malyana Artha, Zatuilla Zahra Meutia, Herdanti Rahma Putri, Halida Umi Balkis, Nadim Marchian Tedyanto, Tiara Kemala Sari. Redaktur Desk Headline: Ferry Liwang. Redaktur Desk Klinik: Edwin Wijaya. Redaktur Desk Ilmiah Populer: Andy William. Redaktur Desk Opini & Humaniora: Elva Kumalasari. Redaktur Desk Liputan: Nadia Zahratus Sholihat. Reporter Senior: Arief Kurniawan, Jusica Putri, Nabila Aljufri, Alima Mawar Tasnima, Berli Kusuma, Juniarto Jaya Pangestu. Reporter Senior: Fidinny Hamid, Rusfanisa, Yasmina Zahra Syadza. Reporter: Hiradipta Ardining, Irma Annisa Priyadi, JIhaan Hafirain, Jimmy Oi Santoso, Raditya Dewangga, Rifka Fadhilah, Shierly Novitawati, Tommy Toar Huberto. Pemimpin Direksi: Hardya Gustada. Finansial: Wilton Wylie Iskandar, Diadra Annisa Setio Utami, Damar Upahita, Indra Wicaksono, Fatimah Sania, Fahmi Kurniawan, Nurul Istianah, Faya Nuralda Sitompul, Jevi Septyani Latief, Heriyanti Khiputra, Tania Graciana. Sirkulasi dan Promosi: Catharina Nenobais, Anita Tiffany, Teguh Hopkop, Febrine Rahmalia, Ryan Reinardi Wijaya, Dyah Ayu, Novtasari Suryaning Jati, Rahma Maulidina Sari, Aisyha Aminy Maulidina. Buku: Indah Lestari, Fildzah Hilyati, Elvina J. Yunasan, Apri Haryono Hafid, Fadhli Waznan, Tiroy Junita. Alamat : Media Aesculapius BEM IKM FKUI. Gedung C lantai 4, Rumpun Ilmu Kesehatan, Kampus UI Depok. E-mail: redaksima@yahoo.co.id, Rek. 6691592 BNI Capem UI Depok website: beranisehat.com Alamat Redaksi/Sirkulasi : Media Aesculapius PO BOX 4201, Jakarta 10042, Harga Langganan: Rp 18.000,00 per enam edisi gratis satu edisi (untuk seluruh wilayah Indonesia, ditambah biaya kirim Rp. 5.000,00 untuk luar Jawa), foto kopi bukti pembayaran wesel pos atau foto kopi bukti transfer via BNI dapat dikirim ke alamat sirkulasi. MA menerima kiriman naskah dari pembaca untuk rubrik MA Klinik (khusus untuk dokter dan staf pengajar), Asuhan Keperawatan (khusus untuk perawat dan mahasiswa keperawatan) Sepuki, Suma, Suduk, Kolum, Arbeb, Kesmas, Seremonia, dan Konsultasi (berupa pertanyaan). Kirimkan email permohonan penulisan ke redaksima@yahoo.co.id dan kami akan mengirimkan spesifikasi rubrik yang Anda minati.

Kirimkan kritik dan saran Anda:

redaksima@yahoo.co.id

Website Media Aesculapius

beranisehat.com

Dapatkan info terbaru kami: @SKMAesculapius


MEDIA AESCULAPIUS

KLINIK

JULI

MARET-APRIL 2015

3

KONSULTASI

Perlukah Insulin Diganti Obat Oral Pasca Rawat Inap pada DM Tipe 2? Salam dok, saya punya dua pertanyaan terkait diabetes mellitus tipe 2. 1. Pada pasien yang menggunakan terapi oral, bagaimana menyesuaikan dosis terapi oral setelah keluar rumah sakit setelah gula darah terkontrol baik selama perawatan dengan insulin? 2. Saya pernah membaca bahwa penggunaan insulin semakin awal akan menurunkan risiko komplikasi. Kalau demikian, apakah dibenarkan memberikan insulin sebagai terapi lini pertama pada pasien kooperatif? dr. M di J Yang terhormat teman sejawat, terima kasih atas pertanyaannya.

D

iabetes melitus (DM) tipe 2 adalah jenis DM yang berciri resistensi sel dan jaringan terhadap insulin dan/ atau kekurangan sekresi insulin. Pada awal perjalanan penyakitnya, penderita DM tipe 2 tidak memerlukan terapi insulin. Namun, sejalan dengan penyakitnya yang progresif, lama-kelamaan sebagian besar pasien diabetes akan memerlukan terapi insulin. Ada beberapa jenis antidiabetes yang sering digunakan, yaitu obat hipoglikemik oral (OHO) dan injeksi (insulin dan GLP-1 agonist). OHO dibagi lagi menjadi perangsang sekresi insulin, biguanid, tiazolidinedion, inhibitor Îą-glukonidase, terapi berbasis inkretin, analog amilin, dan pengikat asam empedu. Jenis OHO yang paling sering digunakan untuk DM tipe 2 adalah sulfonilurea (dari

golongan perangsang sekresi insulin) dan biguanid. Cara kerja sulfonilurea adalah meningkatkan sekresi insulin dari sel beta, sementara biguanid bekerja mengurangi produksi glukosa dari hati. Di sisi lain, insulin berdasarkan lama kerjanya dibagi menjadi rapid-acting, short-acting, intermediateacting, long-acting, very long acting dan premix insulin. Sebagian besar pasien yang masuk ke rumah sakit,mengalami suatu kondisi akut (misalnya infeksi, sindrom koroner akut, stroke, dll) sehingga saat itu terdapat

robby/MA

Narasumber: dr. Wismandari Wisnu, SpPD-KEMD, FINASIM Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM

indikasi pemakaian terapi insulin. Terapi insulin tersebut tidak harus diganti dengan oral setelah selesai perawatan. Biasanya kondisi tersebut belum 100% sembuh ketika pasien pulang. Oleh karena itu, lebih baik jika terapi insulin diteruskan sampai kondisi akutnya membaik. Seminggu setelah perawatan, dinilai kembali insulin perlu diteruskan atau tidak. Ada beberapa pertimbangan/ pilihan terapi saat akan memulangkan pasien dari perawatan. Pertama, jika kebutuhan insulin total >30 Âľ/hari, terapi insulin sebaiknya diteruskan sampai kondisi akut membaik.. Kondisi ini bisa dievaluasi lagi saat kontrol di poli. Kedua, apabila kondisi gula pasien terkontrol sebelum masuk rumah sakit, pasien bisa pulang dengan regimen obat/insulin sebelum masuk rumah sakit. Lalu, seandainya sebelumnya pasien sudah menggunakan OHO, tetapi HbA1C >9, sebaiknya insulin diteruskan. Terakhir, jikalau pasien menggunakan regimen basal bolus dengan dosis tinggi, namun menolak menggunakan insulin, maka ia bisa pulang dengan kombinasi dua OHO. Pertimbangan dosis OHO akan

disesuaikan dengan dosis insulin yang digunakan saat perawatan, namun tidak ada perhitungan ataupun panduan khusus mengenai jumlah dosis yang harus digunakan pada kasus seperti ini. Saya berikan contoh, misalnya insulin rapid 3x10 unit dan kerja panjang 12 unit bisa diganti metformin 3x500 mg dan glibenklamid 1x2,55 mg. Mengenai pemberian insulin sebagai lini pertama diabetes, memang ada beberapa studi yang meneliti tentang pemberian insulin pada fase awal diagnosis, bahkan pada prediabetes. Studi yang cukup baru dan besar mengenai tatalaksana ini adalah penggunaan glargin dari penelitian ORIGIN (Outcome Reduction with Initial Glargine Intervention). Akan tetapi, studi yang ada belum bisa membuktikan bahwa pemberian insulin secara dini memang mempunyai manfaat yang besar terhadap komplikasi DM secara keseluruhan, terutama makrovaskular. Inilah yang membuat insulin sampai saat ini belum ditempatkan sebagai lini pertama terapi DM tipe 2. Sebagai pertimbangan dokter, harus diingat bahwa dasar patofisiologi dari DM tipe 2 adalah resistensi insulin sehingga pemberian insulin tidak memperbaiki kondisi ini. Kirimkan pertanyaan Anda seputar medis ke redaksima@yahoo.co.id. Pertanyaan Anda akan dijawab oleh narasumber spesialis terpercaya.

TIPS DAN TRIK

Terampil Memasang Kateter Urin pada Pasien Laki-laki

Keadaan hiperplasia prostat seringkali menimbulkan retensi urin pada laki-laki sehingga keterampilan pemasangan kateter urin mutlak diperlukan. Asal mengikuti prosedur benar, tidak sulit bagi seorang dokter untuk melakukan prosedur kateterisasi yang nyaman bagi pasien.

H

iperplasia prostat pada laki-laki merupakan penyebab retensi urin terbanyak. Apabila retensi sudah mencapai tahap anuria atau disertai nyeri, keadaan ini termasuk kegawatdaruratan. Tindakan awal yang paling sering dilakukan untuk mengatasi retensi urin adalah kateterisasi urin. Sebelum memulai tindakan, sebaiknya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kemudian, berikan informed consent kepada pasien atau anggota keluarga pasien. Informed consent yang disampaikan meliputi indikasi, cara, risiko, dan komplikasi dari tindakan yang dilakukan. Persilahkan pasien berbaring dengan posisi supinasi dengan kaki agak dibuka. Jangan lupa lakukan enam langkah mencuci tangan dan kenakan sarung tangan steril. Pastikan perlatan yang akan digunakan sudah lengkap. Peralatan yang digunakan antara lain: kateter set, kantung urin, cairan antiseptik, sarung tangan steril, gel anestesi, kasa, plester, dan cairan salin. Siapkan kateter set seusai dengan ukuran pasien. Berdirilah di sisi kiri pasien bila tangan dominan adalah tangan kanan dan sebaliknya. Selanjutnya, lakukan prosedur antisepsis daerah penis dan sekitarnya. Langkah ini dimulai dari sekeliling orificium urethrae externum, penis, skrotum, dan daerah lipat paha. Lalu, pasang duk steril

pada daerah genitalia. Pegang penis dengan tangan yang tidak dominan dan gunakan tangan dominan untuk memasukkan gel anestesi dengan teknik steril. Setelah itu, tutup orificium urethrae externum dan tahan sekitar 5 menit. Mintalah pasien untuk rileks dengan menarik napas. Biasanya, kesulitan yang dihadapi saat memasang kateter adalah apabila pasien mengedan atau terdapat striktur uretra. Sebelum kateter dimasukkan, beri pelumas pada kateter secukupnya. Sebaiknya kateter telah tersambung pada kantung urin. Masukkan kateter secara perlahan dengan tangan kanan. Pastikan kateter sudah masuk ke dalam kandung kemih. Kateter dimasukkan hingga bagian percabangan kateter berada di dekat orificium urethrae externum. Jika kateter sudah masuk ke dalam kandung kemih, maka urin akan keluar dari kateter. Untuk memfiksasi kateter, isilah balon kateter dengan cairan sebanyak 20 cc menggunakan spuit. Tarik kateter secara perlahan hingga terasa tahanan dari balon yang terfiksasi di bukaan kandung kemih. Terakhir, tutuplah orificium urethrae externum dengan kasa steril. Pemasangan kateter urin adalah jurus andalan untuk menangani pasien

dengan retensi urin, inkontinensia uri, dan pada pasien rawat yang tidak dapat atau kesulitan untuk berkemih sendiri. Akan tetapi, perlu diwaspadai kontraindikasinya, yaitu trauma pelvis atau ruptur uretra. Keadaan ini biasanya ditandai dengan pendarahan dari uretra. Proses pemasangan kateter Foley sendiri juga dapat melukai uretra sehingga jangan dipaksakan apabila tidak memungkinkan. Selain itu, pemakaian kateter jangka panjang dapat menimbulkan komplikasi berupa infeksi saluran kemih, striktur uretra, dan hematuria. sukma

JASA PEMBUATAN BUKU Media Aesculapius menyediakan jasa penyusunan buku yang sangat fleksibel. Baik dalam hal desain, ukuran dan tebal buku, maupun gaya penulisan. Tak terbatas hingga penyusunan saja, kami siap melayani distribusi buku Anda! Adapun buku yang pernah kami buat: buku biografi tokoh, buku pemeriksaan fisik berbagai departemen, dan Kapita Selekta Kedokteran.

More Info: Sekretariat MA Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Gedung C lantai 4, Rumpun Ilmu Kesehatan, Kampus Universitas Indonesia, Depok Contact Person: Indah Lestari (081807485400)

anyta/MA


42

Ilmiah Populer

MARET-APRIL 2015

ARTIKEL BEBAS

MEDIA AESCULAPIUS

Dapatkah Manusia Hidup Hingga 200 Tahun?

B

Penelitian mengenai sel punca terus berkembang. Kemampuan regeneratifnya menjanjikan sesuatu yang besar. Mampukah membuat manusia hidup lebih lama?

anyak penelitian yang memiliki fokus pada sel punca. Tujuannya adalah satu, yaitu regenerasi sel yang rusak. Regenerasi merupakan tujuan unggulan yang dijanjikan oleh sel punca. Sel punca merupakan sel yang masih ‘murni’ dan dapat memperbarui dirinya (regenerasi) serta berubah menjadi sel lain (diferensiasi). Kemampuan ini sungguh menakjubkan serta menjanjikan. Bagaimana tidak, kemampuankemampuan yang dimiliki oleh sel punca tersebut menjanjikan sebuah harapan bagi dunia kedokteran di masa depan. Kemampuan regenerasi yang ditawarkan oleh sel punca menjanjikan satu hal: hidup yang lebih panjang. Kata sel punca pertama kali muncul pada literatur yang ditulis oleh ahli biologi Jerman, Ernest Haeckel. Ernest mendeskripsikan sel punca sebagai sel tunggal yang merupakan awal dari semua sel dalam tubuh. Penelitian mengenai sel punca terus berkembang hingga baru-baru ini sel punca dilaporkan telah dapat membentuk sel jantung yang dapat berkontraksi. Secara umum, sel punca dapat dibedakan menjadi sel punca embrionik serta nonembrionik. Sel punca embrionik diperoleh dari embrio manusia setelah 3-5 hari dibuahi, sedangkan sel punca nonembrionik ditemukan di antara sel-sel yang telah berdiferensiasi pada jaringan atau organ. Sel punca embrionik memiliki potensi yang lebih besar dibandingkan dengan sel punca nonembrionik. Sel punca embrionik dapat berubah menjadi seluruh turunan lapis germinal, sedangkan sel punca nonembrionik hanya dapat berubah menjadi turunan satu atau dua lapis germinal. Kemampuan regenerasi dan diferensiasi

ini spontan memunculkan pertanyaan, “Mampukah sel punca memperbarui sel manusia sehingga menunda penuaan?” Masalah penuaan ini selalu menarik perhatian dari masyarakat luas. Berbagai usaha telah dilakukan oleh manusia untuk dapat memperpanjang umurnya. Mengonsumsi makanan-makanan yang sehat, berolahraga setiap hari, menerapkan pola hidup yang seimbang adalah sedikit dari sekian banyak upaya yang telah dilakukan oleh manusia untuk menghadapi penuaan. Akan tetapi, strategi mengubah pola hidup semata belumlah maksimal. Salah satu tanda utama penuaan adalah ketidakmampuan tubuh untuk meregenerasi sel-sel tubuh yang rusak. Teori ini menginisasi pemikiran bahwa penuaan menyebabkan sel punca fungsional pada orang tua kehilangan kemampuan untuk meregenerasi selnya. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Jerman, Alexandra Stolzing, menunjukkan bahwa sel punca pada tikus yang sudah tua kehilangan kemampuan untuk berproliferasi serta berdiferensiasi. Studi tersebut menunjukkan bahwa peran sel punca pada regenerasi sel-sel yang rusak pada manusia sangatlah penting. Penelitian yang dilakukan oleh Alexandra Stolzing memunculkan pertanyaan di kemudian hari, “Apa yang terjadi bila tikus diberikan sel punca dari luar?” Pertanyaan tersebut dijawab oleh ilmuwan asal Amerika, Mitra Lavasani.

vanya/MA

Dalam jurnal yang dipublikasikan di Nature, Lavasani mengungkap bahwa pada pemberian sel punca, dalam hal ini musclederived stem/progenitor stem cells (MDSPCs), secara signifikan meningkatkan umur tikus. Penelitian tersebut dilakukan pada tikus yang dimodifikasi gennya sehingga rata-rata hanya memiliki umur 21 hari. Injeksi MDSPCs dilakukan secara intraperitoneal menjelang hari kematian tikus yang diprediksikan. Hasilnya luar biasa. Tikus dapat bertahan hingga 70 hari atau lebih dari tiga kali usia rata-rata tikus tersebut. Peningkatan harapan hidup umur tikus tersebut terjadi karena adanya regenerasi otot, neovaskularisasi, serta pengaktifan sejumlah faktor secara parakrin untuk mempromosikan harapan hidup yang lebih lama. Penelitian tersebut cukup mencengangkan. Bayangkan jika terapi sel punca tersebut diterapkan pada manusia.

Angka harapan hidup manusia yang tadinya hanya 80 tahun dapat meningkat tiga kali lipat hingga lebih dari 200 tahun. Penelitian mengenai sel punca sebenarnya telah banyak berfokus pada regenerasi sel-sel tubuh yang rusak. Penelitian-penelitian ini menghasilkan harapan untuk penyembuhan berbagai penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, paru, diabetes, dan Alzheimer. Sel punca nantinya dapat menggantikan sel-sel tubuh manusia yang rusak akibat penyakitpenyakit tersebut. Sebagai contoh, sel jantung manusia yang telah mati akibat iskemia pada infark miokardium kini dapat digantikan oleh sel punca. Sel punca tersebut dapat berubah menjadi sel jantung yang fungsional sehingga dapat menggantikan fungsi dari sel jantung yang telah mati. Penelitian mengenai sel punca benarbenar menjanjikan sebuah kehidupan yang lebih lama. Bayangkan saja, seseorang yang terkena penyakit jantung nantinya dapat kembali sembuh dengan jantung yang sehat. Orang tersebut bahkan dapat memperpanjang umurnya dengan terapi sel punca seperti halnya yang terjadi pada tikus pada percobaan Lavasani. Walaupun masih membutuhkan penelitian lebih lanjut dan lebih intensif terhadap manusia, sel punca memiliki potensi untuk memperpanjang umur manusia. Melihat banyaknya kemajuan pada penelitian mengenai sel punca, kita seharusnya optimis bahwa jawaban dari pertanyaan besar di atas adalah, “Ya, manusia dapat hidup hingga 200 tahun!” jimmy

ADVERTORIAL

Tanggap Antisipasi Kejang Epilesi dengan Smartwatch Serangan tiba-tiba tanpa ada bantuan di sekitarnya bagaikan mimpi buruk yang selalu membayangi penderita epilepsi. Kini, tak akan ada lagi kekhawatiran tersebut dengan kehadiran smartwatch.

E

pilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis serius dengan prevalensi tinggi di dunia. Kelainan bertempat pada korteks serebral, yakni terjadi ketidakseimbangan antara kekuatan eksitatorik dan inhibitorik. Ketidakseimbangan tersebut memicu timbulnya eksitasi mendadak yang bermanifestasi sebagai kejang. Pada keadaan tertentu, kejang bisa jadi berbahaya mengingat penderita tidak dapat mengontrol gerakan dan terkadang kehilangan kesadarannya selama kejang terjadi. Hal inilah yang acap menjadi kekhawatiran bagi penderita dan kerabat terdekatnya. Tak jarang ditemukan penderita epilepsi yang selalu cemas untuk berpergian sendirian dan merasa kehilangan kebebasannya karena mereka harus berada di bawah pengawasan seseorang. Kejang yang terjadi mendadak juga akan membahayakan penderitanya dalam kondisi tertentu, misalnya saat penderita sedang menaiki tangga, menyetir, atau berenang. Kehadiran smartwatch dapat membantu penderita mendapatkan kembali kebebasannya yang telah lama hilang. Seperti namanya, smartwatch berbentuk seperti jam tangan, namun alat ini lebih dari sekadar jam tangan. Di balik tampilannya yang sederhana

dan tidak menarik perhatian, tertanam biosensor yang dapat meramalkan datangnya kejang sesaat sebelum terjadi. Biosensor ini terdiri dari accelerometer, yakni alat pendeteksi gerakan, dan sensor electrodermal activity (EDA), yang mendeteksi peningkatan aktivitas saraf simpatis sesaat sebelum kejang. Accelerometer smartwatch secara kontinu memonitor gerakan dan dengan cepat mengirimkan peringatan kepada anggota keluarga penderita jika terdapat gerakan irreguler dan repetitif, yang merupakan karakteristik gerakan kejang epileptik. Sensor EDA juga mendeteksi adanya peningkatan aktivitas saraf simpatis, salah satunya berupa peningkatan denyut jantung yang mendahului terjadinya kejang. Dilengkapi dengan tombol emergency, penderita juga dapat mengirimkan sinyal SOS beserta lokasinya kepada kontak-kontak yang telah didaftarkan jika ia merasa serangan kejang akan datang. Smartwatch dapat merekam data mengenai tanggal, waktu, lokasi, durasi dan intensitas kejang yang dialami penggunanya. Informasi ini kemudian akan dikirimkan ke aplikasi android di gadget penderita melalui bluetooth. Data ini tentunya akan sangat berguna bagi dokter untuk menentukan

terapi dan rencana tindakan yang tepat untuk pasien tersebut. Di samping itu, smartwatch juga memiliki fitur yang mengingatkan penderitanya untuk meminum obat. Oleh karena smartwatch bekerja dengan mendeteksi gerakan abnormal, false positive dapat terjadi ketika pengguna melakukan gerakan yang menyerupai kejang, misalkan ketika pengguna tersandung. Untuk mengatasinya, disediakan tombol cancel pada jam tangan ini yang dapat membatalkan pengiriman data yang salah pada kerabatkerabatnya. Tidak hanya smartwatch, saat ini telah dirilis teknologi portabel lain yang juga memiliki kemampuan deteksi dini serangan epileptik. Misalnya saja EpDetect, aplikasi smartphone ini dapat mendeteksi getaran dengan frekuensi 5 Hz yang berlangsung minimal 10 detik. Biarpun sudah dirilis, aplikasi ini masih seringkali mengalami crash sehingga butuh dikembangkan lagi. Terdapat pula Epilert yang menyerupai Smartwatch, namun alat ini hanya dilengkapi dengan accelerometer untuk mendeteksi gerakan tanpa disertai fitur lain. Penggunaan smartwatch dapat memberikan ketenangan bagi penderita dan kerabat terdekatnya. Penderita dapat berpindah ke tempat yang aman dan kerabat

andrew/MA

dapat segera datang memberi bantuan ketika kejang diramalkan akan datang. Sayangnya, tidak semua jenis kejang dapat diprediksi. Smartwatch hanya dapat mendeteksi tipe myoclonic, tonic, clonic, tonic-clonic, dan complex motor seizures. Selain itu, produk ini masih belum tersedia di Indonesia. Harganya pun relatif tinggi, yakni 329 euro atau sekitar 4,9 juta rupiah, yang mungkin tidak terjangkau oleh beberapa penderita epilepsi. hiradipta


MEDIA AESCULAPIUS

IPTEK

Ilmiah Populer

JULI

MARET-APRIL 2015

5

Vaksin Belum Menjadi Solusi Kegundahan Infeksi Virus Dengue Tergolong wilayah tropis, Indonesia menjadi pelanggan Dengue setiap tahun. Hanya tersedia terapi paliatif, beralih mengejar terapi preventif pun masih menimbulkan tanda tanya akan keefektifannya. Akankah vaksin menjadi jawabannya?

D

emam dengue merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh dengue virus (DENV) melalui vektor nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Penyakit ini umumnya terdapat pada wilayah tropis dan subtropis. Sekitar 40% penduduk dunia tinggal di negara endemis demam dengue. Menurut WHO, setiap tahunnya terdapat 100 juta orang yang terserang infeksi DENV. Saat ini, demam dengue masih menjadi masalah kesehatan global. Pengobatan demam dengue pun masih terbatas pada pengobatan paliatif karena hingga saat ini masih belum ada antivirus yang efektif mengatasi infeksi DENV. Oleh karena itu, banyak penelitian yang bertujuan untuk mencegah infeksi DENV melalui pengembangkan vaksin dengue. Idealnya, vaksin dengue mampu menghasilkan respon imun protektif seumur hidup berupa antibodi yang efektif terhadap keempat serotipe DENV, yaitu DENV 1 sampai 4. Maka dari itu, vaksin dengue yang dikembangkan bersifat multivalen dengan harapan mampu mencegah semua serotipe DENV. Metode pembuatan vaksin dengue yang umum dikembangkan adalah jenis live attenuated, yaitu virus hidup yang dilemahkan sehingga kehilangan kemampuannya untuk menginfeksi. Sayangnya, masih banyak kendala dalam pengembangan vaksin dengue, salah satunya adalah reaksi silang antara antibodi DENV serotipe tertentu dan antigen dari DENV yang berbeda serotipe. Reaksi silang ini meningkatkan kemampuan replikasi DENV berikutnya, yang berbeda serotipe. Fenomena tersebut dikenal sebagai antibody-dependent

zharifah/MA

enhancement (ADE). Misalnya, seseorang terinfeksi DENV 1 sehingga tubuhnya menghasilkan antibodi spesifik terhadap DENV 1. Apabila ia terinfeksi dengan DENV serotipe yang berbeda, timbul gejala yang lebih berat daripada infeksi sebelumnya, seperti demam berdarah dengue atau sindrom syok dengue. Selain fenomena ADE, vaksin dengue juga memiliki kendala dalam penyesuaian dosis. Vaksin dengue yang bersifat multivalen seharusnya memiliki keempat

serotipe DENV dalam dosis yang sama. Namun, kenyataannya terdapat peningkatan replikasi salah satu serotipe dalam vaksin multivalen tersebut. Ketidakseimbangan ini disebut fenomena interference. Untuk mencegah fenomena tersebut, dibutuhkan penyesuaian dosis empiris dari tiap serotipe. Akan tetapi, hingga saat ini para peneliti masih berusaha menemukan dosis yang tepat. Problem utama dalam pengembangan vaksin dengue adalah kurangnya model

hewan coba yang tepat untuk menjelaskan patogenesis, respons imun, dan perjalanan klinis infeksi dengue pada manusia. Sejauh ini, hewan primata menunjukkan kinetika viremia dengue yang mirip pada manusia sehingga banyak digunakan untuk uji preklinis vaksin dengue. Meski demikian, hewan primata tidak menunjukkan gejala klinis. Suatu penelitian yang dilakukan Guy dkk menunjukan vaksin tetravalen memberikan perlindungan terhadap viremia sebesar 98% pada subyek kera sinomolgus. Terdapat respons imun dominan terhadap dua serotipe pada hewan primata setelah vaksinasi dengan formula tetravalen dengan jumlah yang sama tiap jenisnya. Berbagai strategi yang mungkin dilakukan untuk memperbaiki gangguan tersebut meliputi: (1) imunisasi simultan dengan vaksin bivalen pelengkap pada lengan yang berbeda; (2) pemberian berurutan vaksin bivalen pelengkap; (3) preimunisasi dengan vaksin demam kuning; (4) modifikasi formulasi dengan menurunkan rasio serotipe imunodominan; (5) pemberian imunisasi penguat pada satu tahun setelah imunisasi primer. Tantangan pada pengembangan vaksin dengue jenis live attenuated mencetuskan inisiatif untuk mengembangkan jenis vaksin lain, seperti purified inactiveted vaccine, subunit protein vaccine, plasmid DNA vaccine, dan chimeric tetravalent vaccine. Dengan demikian, masih diperlukan penelitian akan keamanan vaksin pada uji klinis dengan populasi yang lebih besar. ferry

SEGAR

Humor Kedokteran Kentut Suatu hari, seorang pasien datang dengan keluhan kentut puluhan kali, tetapi yang aneh kentutnya itu tidak bersuara dan tidak berbau. Dengan tenang, sang dokter memberikan resep obat untuk dimakan tiga kali sehari selama seminggu. Seminggu kemudian, si pasien kembali dengan wajah tidak puas. Pasien: ”Dokter, penyakit kentut saya tidak berkurang, malahan sekarang tidak bersuara tapi berbau busuk sekali!”

Dokter: ”Oh, itu berarti obatnya manjur” Pasien: ”Maksud dokter apa?”

Dokter: ”Saya sudah berhasil mengobati sinusitis Anda dan sekarang giliran saya akan mengobati telinga Anda.”

Autopsi

Seorang profesor sedang memberikan pelajaran autopsi kepada mahasiswa kedokteran yg mengelilinginya di dalam kelas. Sang profesor berdiri di sebelah mayat yang terbaring telungkup di atas meja.

aditya/MA

“Dalam dunia kedokteran, kita harus selalu ingat dua hal penting, pertama kita harus tegar, tidak boleh merasa jijik”, kata sang profesor sambil mencolokkan jarinya ke anus si mayat, lalu menjilatnya seperti menjilat es krim.

“Ayo sekarang giliran kalian mempraktekkannya!” Maka dengan sangat terpaksa para mahasiswa itupun melakukan apa yg diperintahkan. Setelah semua mendapat giliran untuk melakukannya, sang profesor melanjutkan kuliahnya.

“Dan hal penting yang kedua adalah memperhatikan dengan secermatcermatnya!! Coba berapa di antara kalian yg memperhatikan bahwa tadi saya mencolokkan jari telunjuk dan menjilat jari tengah?”


62

OPINI & HUMANIORA

MARET-APRIL 2015

RESENSI

MEDIA AESCULAPIUS

Dokter: Berbasis Eksakta, Berintuisi Kreatif

internet

Seorang dokter jantung anak dihadapkan situasi kritis, yaitu kelainan bawaan mengancam jiwa yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Berbekal pengetahuan seadanya, dikombinasi kreativitas maksimal, alhasil ia berhasil membawa sang bayi melewati periode kritisnya.

Judul : How Doctors Think Genre : Nonfiksi Penulis : Jerome Groopman, MD Penerbit : Mariner Books Tahun : 2008 Tebal : 336 halaman

D

emikian cuplikan kasus yang disajikan dalam buku How Doctors Think karangan dr. Jerome Groopman. Dilema dihadirkan dengan menampilkan bahwa kedokteran adalah

cabang ilmu yang berbasiskan pada ilmu eksakta, tetapi juga sekaligus ilmu yang penuh dengan ketidakpastian. Setiap pasien memiliki karakteristik unik tersendiri sehingga pada kasus penyakit yang mirip belum tentu dapat diatasi dengan metode tatalaksana yang sama. Masih ada juga faktor emosi, sosial, dan psikologi, baik dari pihak pasien maupun dokter, yang semakin mewarnai ketidakpastian tersebut. Dokter pada generasi Jerome Groopman banyak yang belajar hanya melalui ‘ilmu dengar’ dan ‘mengikuti senior’. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan semakin banyaknya misteri kedokteran yang terkuak, pendidikan dokter semakin diarahkan pada paradigma evidence-based medicine (EBM). Salah satu implikasi hal tersebut adalah dokter dididik untuk berpikir sistematis sesuai algoritma dan mengambil keputusan klinis sesuai guideline yang telah disepakati oleh perhimpunan. Sistem ini memang praktis dan memiliki basis yang kuat, tidak sekadar mengandalkan intuisi yang abstrak. Di sisi lain, penulis menyoroti bahwa pada dokter yang demikian justru cenderung terbelenggu pola pikirnya pada statistik, diagram, dan protokol. Ketika dihadapkan pada pasien dengan gejala yang tidak jelas, para klinisi relatif kurang mampu untuk berpikir inventif dalam memecahkan masalah. Berdasarkan inilah muncul

pertanyaan bagaimana pola pikir seorang dokter yang seharusnya. Dalam bukunya, Jerome Groopman mendeskripsikan dengan begitu detail berbagai contoh kasus yang dihadapi rekan sejawatnya. Salah satunya adalah seorang pasien yang mengalami salah diagnosis selama belasan tahun (dan tentunya menjalani terapi yang salah). Pasien tersebut telah dirujuk dan dikonsultasi pada banyak dokter, namun hanya satu yang dapat menemukan kesalahan ini Alasannya, dokter tersebut mau menganamnesis ulang sendiri pasien tersebut. Sementara itu, sejawat lainnya terpaku dengan data yang ada di rekam medik sehingga tidak pernah mencoba menggali lebih jauh. Ada pula pergolakan dokter yang melibatkan emosi pribadinya terhadap pasien sehingga secara tidak rasional memengaruhi diagnosis dan pertimbangan pemilihan terapi. Dokter juga ternyata dapat secara natural enggan menangani pasien sakit terminal karena alam bawah sadarnya sudah dihantui oleh kegagalan dan kematian pasien. Biarpun telah dapat melukiskan masalah dengan baik, sayangnya penulis belum mampu memberikan solusi yang konkret. Sebagai manusia, dokter memang dapat salah. Namun, kesalahan tersebut dapat diminimalisasi bila ia paham cara seorang dokter berpikir dan metode agar dirinya mampu berpikir dengan lebih baik. edwin

KOLUM

Sistem Ramah Rakyat

Sistem kesehatan dengan alur administrasi “sehat” pula. Masih berbentuk secercah harapan di era jaminan kesehatan nasional.

P

erkenankan saya bercerita mengenai sebuah pengalaman saat mengantarkan pasien di sebuah rumah sakit. Ia pasien lama, telah berobat bertahun-tahun. Setelah berlakunya Jaminan Kesehatan Nasional, ia pun mau tak mau ikut masuk dalam naungan sistem yang menjanjikan tersebut. Pada saat itu, ia memerlukan secarik memo dari dokternya demi memperpanjang jaminannya yang masa berlakunya telah lewat satu bulan. Namun, perkara sederhana itu berubah kusut awutawutan dalam pelaksanaannya. Bagai bola, Ia di-pingpong dari tempat pelayanan jaminan dan poli pelayanan kesehatan. Dari poliklinik muncul pernyataan, “Harus minta formulir dulu dari BPJS-nya, baru nanti kami yang ngisi”. Akan tetapi, penjelasan, “Ini memo saja, tulis tangan di kertas, tidak perlu formulir” muncul menampik di unit pelayanan jaminan. Kontradiktif, saya tidak mengerti mendengarnya. Sampai akhirnya saya bersikeras dijelaskan terlebih dahulu oleh petugas BPJS kepentingan memo tersebut serta rupa bentuknya, barulah saya kembali ke poliklinik untuk meminta memo langsung ke dokternya. Alangkah mirisnya, ternyata tidak perlu formulir untuk sebuah memo. Satu jam lebih habis terbuang bolak-balik untuk kebingungan yang sesungguhnya tidak perlu. Pasien tersebut seorang buruh. Rambutnya memutih, paras lelah terpancar dari wajahnya yang tua. Stroke telah merenggut kelancaran bicaranya. Napasnya

tersengal-sengal karena penyakit paru yang dideritanya. Tak tanggung-tanggung, ia harus berjalan kesana kemari untuk secarik memo dengan kondisi pernapasannya. Saya, mahasiswa yang masih muda, pun merasa kelelahan untuk mengurus memo itu. Butuh waktu yang tidak sedikit untuk mengerti urgensi memo itu serta cara sebenarnya memo itu bisa

kartika/MA

didapatkan. Itu adalah sepenggal kisah seorang pasien. Satu di antara berjuta-juta pasien Jaminan Kesehatan Nasional. Tentu tidak semua pasien mengalami hal yang sama. Walau demikian, cuplikan pengalaman ini merupakan pengingat: sistem jaminan kesehatan ini rumit. Mungkin kita sudah mendengar mengenai INA-CBGs, rujukan rumah sakit yang bertingkat,

dan lain sebagainya. Kita yang berada di lingkungan pelayanan kesehatan memang seyogyanya tahu. Lalu, bagaimana dengan peserta jaminan yang kebanyakan bukan dari lingkungan tersebut? Bagaimana dengan mereka yang tingkat pendidikannya tergolong rendah? Haruskah peserta jaminan mengerti luar-dalam sistem yang katanya memudahkan pelayanan kesehatan ini? Kisah tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi. Apa sulitnya petugas BPJS atau petugas poli, untuk saling menelepon apabila mereka berbeda paham? Lokasi mereka masih dalam satu rumah sakit, jarak sama sekali bukan penghalang. Membuat peserta jaminan tersebut menjadi “pengirim pesan” antara kedua pihak tersebut tentunya sangat tidak efektif dan efisien. Peserta jaminan bukanlah ahli kesehatan masyarakat yang harus mengerti seluk-beluk sistem jaminan, yang apabila dikatakan perlu memo dokter akan langsung mengerti bagaimana cara mendapatkannya dan apa tindak lanjut yang harus dilakukan setelah mendapatkan memo itu. Keberadaan Jaminan Kesehatan Nasional merupakan hal yang patut kita syukuri, sebuah batu loncatan menuju kualitas kesehatan yang lebih baik. Sekarang adalah

Aisyah Aminy Mahasiswa Tingkat II FKUI

waktu untuk melanjutkan jalan dari batu loncatan tersebut dengan memperbaiki dan mengembangkan sistem. Saya rasa kisah sebelumnya dapat membantu kita mengembangkan sistem jaminan ini. Sistem yang simpel perlu dibuat agar tidak menyusahkan peserta jaminan. Keterbukaan pelaksanaan sistem bukan berarti tiap peserta jaminan harus mengerti luar-dalam jaminannya. Badan penyelenggara perlu mengusahakan kemudahan bagi pesertanya. Membentuk jaringan komunikasi yang efektif serta efisien antara badan penyelenggara dan pelaksana pelayanan kesehatan merupakan satu usaha yang dapat dilakukan. Kebingungan yang terjadi karena perbedaan pemahaman dapat dikurangi apabila terdapat komunikasi antara pihakpihak yang terlibat. Dengan begitu, sistem jaminan kesehatan yang ramah rakyat dapat terwujud.


Liputan

MEDIA AESCULAPIUS

JULI

MARET-APRIL 2015

7

INSTITUSI

Setengah Abad Melayani “Keluarga Besar” Indonesia “Dua anak lebih baik” sudah menjadi jargon yang tidak asing lagi terdengar di Indonesia, negara dengan penduduk terbanyak keempat di dunia. Upaya penanganan ternyata telah dimulai lebih dari lima dekade yang lalu, melalui organisasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

herlin/MA

P

ada awal berdirinya PKBI, gerakan keluarga berencana bukanlah sesuatu yang didukung oleh pemerintah. Pada saat itu, penggunaan alat kontrasepsi ditentang oleh presiden Soekarno sehingga pembagian alat kontrasepsi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Cukup ironis mengingat pendiri dari PKBI adalah dr. R. Soeharto, tak lain dari dokter pribadi Soekarno sendiri. Setelah Soekarno tidak lagi menjadi presiden, pemerintah pun akhirnya mengakui PKBI dan mendirikan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan keluarga berencana. Organisasi yang didirikan pada tanggal 23 Desember 1957 ini sekarang diketuai oleh dr. Sarsanto Wibisono Sarwono. PKBI telah berkembang dan tersebar di 27 propinsi dan 212 kota. Kini, ranah kerja PKBI sudah lebih luas daripada sekadar keluarga berencana. Masalah-masalah seperti kesehatan reproduksi, edukasi masyarakat, hingga menangani persoalan kaum marginal merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh PKBI. “Semenjak BKKBN berdiri kami tidak bisa lagi bergerak di bidang keluarga berencana, kita bicara tentang beyond the family planning”, jelas Sarsanto. Statusnya sebagai organisasi nonpemerintah tidak membatasi kerja

PKBI. Bagi PKBI, pemerintah merupakan mitra utama dalam menangani masalah kependudukan, kesehatan seksual, dan reproduksi. Tidak jarang PKBI dan pemerintah saling melengkapi dalam mengatasi beberapa permasalahan. Bagi Sarsanto, peran pemerintah diperlukan untuk mencakup seluruh masyarakat Indonesia, sedangkan peran PKBI lebih diutamakan pada hal-hal yang tidak terjangkau oleh pemerintah.

INFO SPESIALISTIK

Spesialisasi Mikrobiologi Klinik FKUIRSCM, Prospek Menjanjikan Sebagai Laboran Merangkap Konsultan Klinis

B

oleh jadi Program Pendidikan Dokter kajian literatur berbahasa Inggris dan Spesialis (PPDS) Mikrobiologi Klinik Indonesia, serta wawancara. Departemen FKUI-RSCM merupakan pilihan yang sudah terakreditasi A ini tidak terbaik bagi para dokter umum yang ingin mengharuskan calon peserta agar memiliki mengambil spesialistik bidang mikrobiologi keterampilan tertentu, tetapi diharapkan medis dan klinis. Pasalnya, departemen calon peserta sudah memiliki pengalaman yang berdiri sejak tahun 1994 ini merupakan mengabdi sebagai dokter. “Kemampuan departemen mikrobiologi klinik pertama berkomunikasi dengan orang lain menjadi di Indonesia. Keunggulan lainnya adalah penting, sebab nantinya lulusan dari dari segi fasilitas. “Kita memiliki teaching mikrobiologi klinik tidak hanya bekerja hospital yang merupakan rumah sakit pusat di laboratorium, tetapi punya dua tugas rujukan nasional, yaitu RSCM. lainnya yaitu sebagai pengendali infeksi dan Laboratorium mikrobiologi konsultan klinis,” tambah Amin. kita pun termasuk yang Departemen ini memiliki daya serap paling lengkap dan saat ini 8-10 peserta tiap tahunnya. Akan tetapi, sudah ditunjuk menjadi karena banyaknya calon peserta yang laboratorium rujukan WHO kurang memenuhi untuk TB,” ungkap kriteria penilaian, Ketua Program Studi departemen ini Departemen biasanya hanya Mikrobiologi menerima 5-6 Klinik FKUIorang saja. Lama RSCM, Prof. dr. pendidikan yang Amin Soebandrio, PhD, akan dijalani oleh SpMK (K). Ditambah peserta adalah 8 semester lagi, staf pengajar dan maksimal 10 semester. di departemen ini Lima semester pertama merupakan para guru digunakan metode kuliah dan besar mikrobiologi klinis praktik di laboratorium, semester dinarda/MA pertama di Indonesia yang 6-7 magang di klinik, sementara masih aktif mengajar. Dalam kualitas selama dua semester terakhir peserta lulusan, nilai ujian board nasional lulusan harus mempersiapkan tesis sebagai syarat departemen ini selalu paling unggul. kelulusan. Beberapa persyaratan pendaftaran Menurut Amin, dokter spesialis yang harus dimiliki oleh calon peserta, mikrobiologi klinis masih merupakan antara lain IPK ≥ 2,75, TOEFL ≥ 500, usia ≤ prospek kerja yang menjanjikan. “Dari 40 tahun saat pendaftaran, dan mendapat kementerian kesehatan mengharuskan surat rekomendasi dari rumah sakit tempat rumah sakit tipe A dan tipe B untuk memiliki calon peserta bekerja. Setelah memenuhi minimal 2 mikrobiologi klinis, dan itu berarti persyaratan tersebut, peserta harus menjalani jumlahnya ribuan. Sementara yang kita beberapa tes yang terdiri atas ujian tertulis, punya saat ini hanya sekitar 150 lulusan tes potensi akademik, psikotes, membuat saja,” jelasnya. rifka

Bagi PKBI, remaja merupakan kaum khusus yang membutuhkan pelayanan. Statusnya yang nomade island, tidak diakui sebagai anak maupun dewasa, membuat PKBI merasa perlu untuk membentuk layanan khusus bagi mereka. Sejak tahun 1980-an, PKBI membentuk Sahabat Remaja (kini menjadi Youth Center) dengan tujuan utamanya adalah untuk edukasi dan konseling. Sahabat Remaja ini pula yang menginspirasi BKKBN untuk membentuk

Pusat Informasi Konseling. Hal ini secara tidak langsung menjelaskan bahwa PKBI seringkali menjadi perintis jalan pemerintah untuk membentuk program bagi masyarakat. Selain itu, tak jarang dari para remaja peserta yang berakhir menjadi relawan PKBI untuk melayani masyarakat Indonesia. Selain remaja, kaum yang dianggap terpinggirkan dan membutuhkan pelayanan khusus adalah kelompok lesbian, gay, bisexual, transgender (LGBT). LGBT ini sulit mendapatkan pelayanan karena orientasi dan identitas gender yang berbeda sehingga kerap dianggap penyakit oleh masyarakat. Bahkan, dari musyawarah nasional yang diadakan Oktober 2014 lalu, masih banyak dari peserta yang menolak membela pelayanan LGBT. Sejauh ini, PKBI mendukung secara penuh hak-hak dan layanan terhadap LGBT. Hanya saja, perkara hak pernikahan sesama jenis, PKBI menyerahkan masalah tersebut kepada pemerintah. Bagi Sarsanto, kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga akan berpengaruh besar bagi masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Perencenaan keluarga merupakan salah satu cara yang menunjang upaya memperbaiki kesehatan, sosial dan ekonomi keluarga. Ia berharap bahwa dengan diadakannya program-program PKBI, aspekaspek tersebut dapat terpenuhi. tommy

Vaksinasi, Sebuah Suntikan Polemik Tanpa Batas sambungan dari halaman 1 Dengan demikian, vaksin haram masih diperbolehkan dalam keadaan mendesak, misalnya penggunaan vaksin khusus polio yang masih haram, Injected Polio Vaccine (IPV) khusus anak dengan imunokompromi, masih dilakukan menimbang risiko penyakit yang lebih besar. Meluruskan Persepsi yang Menyangsikan Kontroversi vaksin tidak akan ada akhirnya. Isu haram dan KIPI mungkin akan selalu diangkat sebagai benteng tertinggi bagi komunitas yang meragukan konsumsinya. Piprim, Dirga dan Osmena percaya akan besarnya peran media dalam mengarahkan persepsi masyarakat terhadap produk kesehatan ini. Dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai produk halal, MUI menjunjung sosialisasi melalui website, majalah hingga mengadakan kegiatan ke sekolah. Peran serta lembaga kesehatan juga penting dalam membangun paham masyarakat terhadap vaksinasi. Tentunya, produksi vaksin yang aman senantiasa diharapkan. Selain itu, partisipasi tenaga kesehatan melalui wawasan terkait vaksinasi yang memadai dapat meyakinkan masyarakat agar tegas dan tepat menentukan pilihannya. Begitu banyak harapan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dan dapat menyikapi dengan bijak tentang gerakan antivaksin. Dengan demikian, segala misinterpretasi dapat disisihkan sehingga animo terhadap vaksin tetap besar. fidi, nadia, irmapriyadi, puspa

Saya yang bertandatangan di bawah ini, Nama: Pekerjaan: Alamat Lengkap (untuk pengiriman):

FORMULIR BERLANGGANAN

Telepon/HP: Email: memohon untuk dikirimi Surat Kabar Media Aesculapius selama kurun waktu (beri tanda silang): 1. Enam edisi (GRATIS 1 edisi): Rp18.000,00 2. Dua belas edisi (GRATIS 2 edisi): Rp36.000,00 Biaya kirim ke luar pulau Jawa Rp5.000,00 per enam edisi. Cara pembayaran: 1. Wesel pos ke Redaksi MA FKUI 2. Transfer ke rekening Media Aesculapius di BNI Capem UI Depok No. 0006691592 Mohon untuk menyertakan bukti pembayaran baik bukti transfer maupun fotokopi wesel pos dengan formulir berlangganan ke MA.

( ) Nama Lengkap


82

Liputan

MARET-APRIL 2015

MEDIA AESCULAPIUS

SEREMONIA

Kuliah Tamu Sang Penulis

KLB Kembali Hampiri Anak-anak Tanah Air

Gray’s Anatomy

juniarto/MA

B

ertempat di Ruang Senat Akademik Fakultas, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Departemen Anatomi FKUI bekerjasama dengan penerbit buku Elsevier menghadirkan penulis buku Gray’s Anatomy, Dr. Richard L. Drake dan Dr. Wayne Vogl, untuk memberikan kuliah tamu “Past, Present, Future of Anatomy Education”. Acara yang digelar hari Minggu, 15 Maret 2015 ini ditujukan untuk memasarkan edisi terbaru anatomi tersohor tersebut dan membagikan kiat-kiat penulisan buku kedokteran taraf internasional. puspa

dokumentasi FKUI

P

rof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp.A(K), Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menyampaikan materi “Beban Penyakit dan Kejadian Luar Biasa pada Anak” dalam acara Temu Media: Perkembangan Program Imunisasi di Indonesia yang diselenggarakan Center for Research and Integrated Development of Tropical Health and Infectious Diseases (CRID-TROPHID) pada hari Rabu, 4 Maret 2015 di Ruang Kuliah Parasitologi FKUI. jimmy

SENGGANG

Belajar Mawas Diri dengan Mountain Bike Kesibukan sebagai dokter tidak memadamkan semangat Ifzal menekuni hobi sepeda gunung.

B

ermodal kecintaan di bidang olahraga, dr. Ifzal Asril, SpOG, yang kerap disapa Ifzal ini, nekat menekuni hobi sepeda gunung. Kecintaan Ifzal terhadap sepeda gunung bermula pada tahun 2010, di tengah maraknya sepeda Fixie dan Car Free Day. Ketika itu, ajakan untuk bersepeda gunung secara tak terduga datang dari salah seorang teman. “Awalnya saya kira mau diajak main sepeda biasa, tapi ternyata kita langsung main off road –turunan-- di track Rindu Alam, Puncak,“ kenang Ifzal. Sepulang dari Puncak, Ifzal langsung ketagihan dan berburu sepeda. Melalui perburuan sepeda gunung inilah, Ifzal mulai mengetahui beragam jenis sepeda beserta kisaran harganya.”Saya juga bingung , kok sepeda bisa lebih mahal dari motor,” tutur Ifzal. Ia kemudian menerangkan bahwa jenis sepeda yang digunakan harus bergantung pada track yang ingin dijalani. “Kalau sepeda downhill paling bagus untuk turunan ekstrim, sementara sepeda all mountain bisa untuk tanjakan maupun turunan,” jelas Ifzal. Bersepeda gunung menjadi kesenangan tersendiri bagi Ifzal. Selain sebagai bentuk olahraga dan refreshing, bersepeda gunung dapat menjadi ajang bertemu relasi. Melalui hobi ini juga, Ifzal belajar pentingnya mengukur kemampuan diri sendiri. Olahraga yang terbilang ekstrem ini memang membutuhkan kewaspadaan yang ekstra. Pasalnya, jika ceroboh dan tidak mengetahui kemampuan teknik maupun

fisik diri sendiri dapat membahayakan. Memaksakan diri untuk melewati track atau untuk unjuk gigi, malah membuat celaka. Salah satu teman Ifzal pernah mengalami patah tulang bagian paha ketika melewati track sepeda gunung di Salatiga. “ Ya karena tidak bisa ngukur diri,” ujarnya. Kesibukannya sebagai seorang dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Hermina dan Metropolitan Medical Centre Jakarta tidak memadamkan semangat Ifzal menekuni hobi sepeda gunung. Bersama teman-temannya dari komunitas sepeda gunung, The Pitts, Ifzal telah melewati beberapa track. Di antaranya adalah track di Klangon (Jogja), Sale Putih (Salatiga), Bedugul (Bali), Bromo, Sentul dan Bogor (Rindu Alam, NURA, Telaga Warna). Salah satu track favorit-nya adalah Klangon karena bersih, tidak banyak batu dan akar. Ifzal sendiri lebih menyukai track turunan dibanding tanjakan. “Kalau track tanjakan yang dibutuhkan hanya kekuatan fisik, sementara kalau track turunan yang dibutuhkan adalah seni dan teknik dalam melewatinya, “ jelasnya. Ifzal berencana untuk mengikuti turnamen Enduro Race tahun depan. Selain itu, ia juga ingin mengunjungi track-track lain di Indonesia. Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki banyak area yang potensial menjadi track sepeda gunung

gabriella/MA

internasional. Namun, perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap pembuatan track ini terasa masih kurang. Ia juga menyayangkan minat terhadap olahraga yang semakin kecil di kalangan usia muda. Bagi pemula yang ingin mencoba bersepeda gunung, Ifzal menyarankan untuk

pertama memilih sepeda gunung yang sesuai dengan track, serta budget yang ada. Selain itu, akan lebih baik jika memulai dari track yang gampang, misalnya di daerah Puncak. Ia juga mengingatkan untuk tidak ceroboh dan tetap hati-hati agar tidak celaka. Yuk berolahraga! jihaan

SKMA Edisi Maret-April 2015  
Advertisement