Page 1

Edisi XII | November/2013 | Terbit 24 Halaman

h Musu at k a r a Masy


DUA

LENSA KINASIH 

Mencari Musuh Bersama “Monolog ada  sebelum  dialog,  namun  saat  dialog  tak  lagi  dua  arah  kita  pun  kembali  bermonolog. Dan ketika semua pihak saling bermonolog, kesunyian dan kehancuranlah  yang menunggu di balik pintu.” Begitulah I. Yudhi Soenarto membuat dasar pemikiran  pertunjukan Multi‐monolog Selingkuh.  Sudah lebih dari 15 tahun bangsa ini reformasi. Zaman yang membelenggu mulut kita  telah  runtuh  dimakan  tanah.  Musuh  bersama  yang  selama  32  tahun  ditentang  mendadak hilang.  Jika dulu kita ketakutan untuk mengungkap kebenaran, sekarang justru kita kebablasan  berbicara  dan  perlahan  indera  pendengar  kita  tak  lagi  berfungsi  dengan  semestinya.  Sekarang  sudah  sedikit  orang  yang  mau  diam  mendengar.  Semua  mau  didengar.  Pola  komunikasi pun menjadi berantakan.  Jurnalisme,  yang  terlalu  heboh  dengan  isu‐isu  tidak  penting,  juga  terus  mengalihkan  perhatian.  Lewat  serba  cepat,  menghilang  tak  kalah  cepat.  Isu  yang  penting,  tentang  kemanusiaan,  justru  semakin  tenggelam  dalam  tumpukan  berita  singkat.  Kita  menjadi  tak lagi dapat membedakan realitas dan ilusi.  Saat ini, musuh sekaligus hambatan utama ada di dalam diri kita sendiri, diri yang terlalu  apatis  terhadap  pandangan  yang  berbeda.  Mencari  musuh  bersama  merupakan  tema  yang  tepat  untuk  mengikis  arogasi  dalam  jiwa  kita  untuk  mendengar  jeritan  yang  tak  kasat mata.  Buletin Kinasih adalah media tentang sosial dan budaya yang berada di bawah naungan Teater Kinasih. Keberadaan buletin ini kemudian menjadi tolak ukur tersendiri, di mana kesenian tidak hanya berbicara tentang absurditas, surealitas, ataupun realitas di atas panggung, di atas kanvas, atau di kedalaman sastrawi tertentu. Namun juga memiliki kemampuan untuk menjelma kata menjadi senjata untuk mengungkap fakta.

Redaksi menerima naskah berupa kritik/saran, esai, prosa, puisi, liputan kesenian atau cerpen. Tulisan yang dikirimkan tidak mengandung SARA. Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah isi. TeaterKinasih Buletin Kinasih buletin.kinasih@yahoo.com www.buletin.teaterkinasih.org


KLIMAKS

TIGA

Realitas dalam Sastra Oleh: Bayu Adji P

ilustrasi Setyo Priyo Nugroho

Meminjam kata‐kata  buku  kumpulan  esai,  Ketika  Jurnalisme  Dibungkam 

Sastra Harus  Bicara,  milik  Seno  Gumira  Ajidarma,  jurnalisme  terikat  oleh  seribu  satu  kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra  hanyalah  kejujurannya  sendiri.  Buku  Sastra  bisa  dibredel,  tetapi  kebenaran  dan  kesustraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan.  Jurnalisme sudah bebas dari agen pembredelan yang telah runtuh bersama jatuhnya  kekuasaan yang telah berdiri 32 tahun. Reformasi membuat media massa yang tadinya  tunduk berubah menjadi bingung. Bingung mencari musuh bersama yang dapat dilawan  secara  diam‐diam.  Musuh  tak  pernah  datang,  dan  perlahan,  media  menjadi  ladang  industri yang subur. Yang dahulu dipaksa bungkam, sekarang justru sengaja bungkam.  Saat ini, dalam era yang selalu dibanjiri oleh informasi serba cepat seperti saat ini,  kita terus tenggelam dalam tumpukan kata demi kata yang semakin lama semakin tak 


EMPAT

KLIMAKS

terarah. Setiap menit, muncul berita demi 

menciptakan

medianya

sendiri.

berita yang  kurang  memikat.  Para 

Merebaknya situs‐situs  independen  yang 

pewarta terus‐menerus  membuat  tanda 

masih bersih dari tuntutan ‘menampilkan 

demi terpenuhinya  dapur  keluarga.  Di 

berita pesanan’, adalah angin segar dalam 

tengah gempuran  informasi  dangkal  tak 

kehidupan di  bangsa  yang  melulu  kacau 

mendalam, kita semua hampir tak sempat 

ini. Isu  humanisme  mulai  terangkat 

lagi meluangkan  waktu  untuk  mengalisa 

kembali melalui  berbagai  teks.  Penulis‐

informasi yang  lewat  dengan  serba cepat 

penulis amatir  mulai  menggandrungi  isu 

tersebut.

humanisme yang  terlihat  lebih  seksi 

Tak hanya  itu,  berita‐berita  yang 

ketimbang curhatan  cengeng  ala  remaja 

disajikan lebih  memilih  isu  tentang  dunia 

urban. Dengan  analisis  seadanya,  mereka 

yang rumit, yang kita pun tak bisa berbuat 

mencoba mengangkat  sesuatu  yang  tak 

banyak

seharusnya terlupakan. Isu kemanusiaan. 

untuk

merubahnya.

Teks

kacangan, yang  hanya  berpedoman  pada 

Bolehlah kita  sedikit  tersenyum 

struktur 5W  +  1H,  terus  ditampilkan 

melihat fenomena  yang  sedang  terjadi. 

hingga pada  saatnya  kita  tak  lagi  bisa 

Tapi tunggu.  Berapa  banyak  masyarakat 

melihat kemanusiaan  dalam  tumpukan 

kita

yang

membaca

situs‐situs

kata yang  tersedia.  Semuanya  melulu 

independen? Mungkin  yang  membaca 

masalah yang  berat  dan  menghilang 

hanyalah

secara cepat,  mungkin  yang  bisa  sedikit 

sepaham, paling  banter  temannya  teman 

bertahan hanyalah  gosip‐gosip  selebriti, 

kita. Ya,  masih  bekutat  di  lingkaran  kecil. 

pun hanya di kalangan antar‐pagar rumah 

Media dalam  bentuk  berbeda  –berani 

teman‐teman

kita

yang

tangga. Tak  telihat  lagi  adanya  isu 

melawan arus yang semakin memberikan 

humanisme yang  terangkat  secara  jelas. 

kenyataan palsu‐  mutlak  diperlukan 

Pun muncul  kisah  yang  humanis,  bisa 

sebagai penyebaran  isu  humanisme 

diperkirakan bahwa  hal  itu  merupakan 

kepada lingkaran yang lebih besar. 

setingan realitas,  yang  lebih  kita  kenal  dengan reality show. 

Seno Gumira  Ajidarma,  sebagai  orang  yang pernah hidup dalam bayangan teror 

utama

Orde Baru, tak berhenti melawan melalui 

merupakan sebuah  teriakan  yang  sia‐sia. 

karya‐karyanya. Kumpulan  cerpennya 

Dalam kebobrokan  industri  media  yang 

yang dibukukan menjadi Saksi Mata, lebih 

semakin merajalela,  beruntunglah  masih 

dipercaya sebagai  kebenaran  –mengenai 

ada segelintir  manusia  yang  berusaha 

pembantaian di  Santa  Cruz  pada  tahun 

Mengutuk

media

arus


KLIMAKS

LIMA

apapun yang tidak penting.  Melalui 

teater,

Ia

mencoba

menuangkan fakta‐fakta  yang  tak  sempat  terbit  di  media  massa,  secara  jujur.  Itu  adalah  cara  Seno  Ilustrasi: Istimewa

untuk

meneruskan

profesinya

sebagai wartawan.  Pertunjukkan  teater,  sadar  atau  tidak,  adalah  usaha  menyampaikan  pernyataan  kepada 

penonton,

layaknya

berkomunikasi. 1991‐  daripada  naskah‐naskah  berita 

Lewat naskah,  lakon  dan  pementasan 

yang diterbitkan  oleh  media‐media 

teater, kemanusiaan  dapat  kembali 

Palmerah, yang  satu  suara  kala  itu. 

terangkat ke  lingkaran  yang  lebih  besar. 

“Ketika Jurnalisme  Dibungkam,  Sastra 

Syukur‐syukur bisa diliput oleh media arus 

Harus Bicara,”  begitu  pikirnya,  yang  juga 

utama dan akhirnya muncul juga di media 

menjadi judul  buku  yang  menutup 

yang tersebar masyarakat luas –pun kecil 

rangkaian Trilogi Insiden. 

kemungkinan menjadi headline. 

Tak berhenti  lewat  sastra,  Seno  juga 

Dengan

kesempatan

u n t u k

memanfaatkan panggung  pertunjukan 

menyampaikan

sebagai cara  untuk  mengangkat  isu 

pementasan,

humanisme. Saat  media  yang  diasuhnya 

meninggalkan esensinya  sebagai  hiburan. 

pesan

teater

m e l a l u i

tak

harus

dimatikan oleh  agen  pembredelan,  Seno 

Seperti itulah kerja teater, menyampaikan 

mengubah kantor  media  yang  kosong 

pesan

sebagai tempat  latihan  teater.  Ia  telah 

menghibur. Memaksa  sutradara,  pemain, 

kehilangan harapan untuk menyampaikan 

tim produksi dan bahkan penonton untuk 

isu kemanusiaan  melalui  media  arus 

berpikir, berusaha  untuk  jujur  dengan 

utama. Menurut  Seno,  headline  di  media 

menertawakan diri  sendiri,  menangis 

tentang

manusia

secara

massa seharusnya  diisi  oleh  masalah 

dalam canda,  marah  kepada  angkasa. 

kemanusiaan, tentang  para  korban  yang 

Karena teater,  selain  menjadi  sebuah 

hilang, bukan  tentang  perilaku  badut‐

hiburan,

badut politik  di  Senayan  dan  sekitarnya 

manusia.

atau

peristiwa

sensasional

tentang

merupakan

ilmu

tentang


ENAM

NUSANTARA

Angklung, Potongan Bambu Penuh Makna Oleh: Nanda Fitri Supriani  Ilustrasi: Istimewa

Angklung adalah alat musik  tradisional yang berkembang di  daerah  Jawa  Barat.  Alat  musik  ini  terbuat  dari  potongan‐ potongan 

bambu

yang

disatukan oleh  palang  gantung  sehingga  menciptakan  nada‐ nada yang indah. Uniknya, satu  angklung  hanya  menghasilkan  satu 

nada.

S e h i n g g a

dibutuhkan banyak  angklung  dengan berbagai  ukuran untuk  menghasilkan sebuah harmoni.  Sampai saat ini belum ada data  pasti 

kapan

petama

kali

angklung ditemukan  dan  siapa  penciptanya.  Namun  catatan  sejarah  menduga  angklung  muncul pada awal kerajaan Sunda sekitar 

kebudayaan PBB,  UNESCO,  menyatakan 

abad ke‐12. 

angklung sebagai  warisan  dunia  dari 

Pada awalnya  angklung  dimainkan 

Indonesia, semakin  banyak  orang  yang 

sebagai bentuk  persembahan  kepada 

tertarik untuk mempelajari angklung, baik 

Nyai Sri  Pohaci,  sebagai  Dewi  Padi,  agar 

dari dalam maupun luar negeri. 

memberikan kemurahan hatinya sehingga 

Salah satu  komunitas  yang  secara 

proses tanam  hingga  panen  padi  lancar. 

konsisten menjaga angklung adalah Saung 

waktu,

Angklung Udjo yang berlokasi di Bandung. 

angklung tidak  hanya  dimainkan  pada 

Sanggar ini  didirikan  sejak  tahun  1966 

upacara‐upacara

sudah

oleh Udjo  Ngalagena  yang  merupakan 

menjadi sarana  hiburan.  Apalagi  setelah 

murid dari  maestro  angklung  Daeng 

organisasi keilmuan,  pendidikan  dan 

Soetigna. Sanggar  ini  tidak  hanya 

Namun

seiring

berjalannya adat 

tetapi


NUSANTARA

Ilustrasi: Istimewa

menampilkan

TUJUH

pertunjukan

angklung atau  kesenian  Jawa  Barat  lainnya,  namun  juga  menyajikan  sebuah  acara  yang 

disebut

Interaktif

yaitu

Angklung masing‐

masing penonton  diberikan  angklung  dan  diajarkan  cara  memainkannya 

sehingga

menghasilkan

s e b u a h

intrumen. Hal  ini  dilakukan  demi  menumbuhkan  rasa  cinta 

kepada

angklung  

sehingga kesenian  angklung  tidak mati dimakan zaman.  Selain menghasilkan nada‐ nada 

indah,

ternyata

angklung juga  menyimpan  sebuah  filosofi  yang  menarik.  Menurut  Karuhun  Urang  Sunda,  tabung  angklung 

mengibaratkan

memetik hasil yang pantas. 

kehidupan

Dan yang  terakhir  nada‐nada  penuh 

manusia. Angklung  hanya  akan  menjadi 

harmoni yang  tercipta  dari  beberapa 

bambu biasa  apabila  terdiri  dari  satu 

angklung

tabung. Begitu  pula  manusia  yang  tidak 

menggambarkan bahwa  manusia  juga 

akan menjadi  apa‐apa  jika  hanya 

bisa hidup  rukun  menciptakan  harmoni 

sendirian,

yang

karena

pada

hakekatnya

manusia merupakan makhluk sosial.  Selanjutnya  bagian  tabung  angklung 

indah

yang

d i m a i n k a n

ditengah

kehidupan

angklung,

potongan‐

bermasyarakat. Begitulah 

yang kecil  disebelah  kiri  kemudian  di 

potongan bambu  ini  terlihat  begitu 

sebelah kanan  terdapat  tabung  angklung 

sederhana namum  penuh  makna.  Sama 

yang lebih  besar  menggambarkan  proses 

halnya seperti  sebuah  perubahan  dapat 

hidup manusia dalam menggapai cita‐cita 

tercipta dari  hal‐hal  sederhana  yang 

dari sebuah  perjuangan  hingga  akhirnya 

saling berkesinambungan.  


DELAPAN

PANGGUNG

Eksperimen Seni Peran dari Dunia yang Penuh Monolog Oleh: Maria Natasha 

Pada era sekarang, orang‐orang hanya berbicara dan tidak mendengar. Dialog‐dialog  sebenarnya  hanyalah  komunikasi  satu  arah.  Kondisi  inilah  yang  coba  dipanggungkan  oleh  Teater  Sastra  UI  dalam  pementasan  multi‐monolog.  Bukan  hanya  monolog,  tapi  multi‐monolog,  yang  para  tokohnya  saling  terkait  dalam  satu  permasalahan,  perselingkuhan.  Pementasan  ini  menggambarkan  betapa  sebuah  perselingkuhan  berakar  pada  permasalahan yang rumit, sangat pribadi dan individual. “Di jaman individualistis seperti  sekarang  ini,  banyak  dialog‐dialog  satu  arah.  Termasuk  di  dalam  rumah  tangga.  Ada  relasi‐kuasa  yang  membuat  seseorang  memaksakan  kehendaknya  pada  orang  lain.  Maka  sengaja  ditampilkan  bahwa  dunia  kita  sekarang  memang  penuh  dengan  monolog.”  Kata  I.  Yudhi  Soenarto,  sutradara  pementasan  ini  yang  juga  dosen  mata  kuliah Drama di jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UI saat ditemui usai geladi  resik, Jumat (24/10/13).  Tujuh  aktor  dalam  pementasan  ini  dikelompokkan  menjadi  dua.  Kelompok  yang  pertama, yang pada awal cerita muncul duluan dengan tuturan bertempo cepat, terdiri  dari  paranormal  Ki  Pujo  Asmoro,  diperankan  oleh  Rezha  Marchelo,  pengacara  Fahry  Asbun diperankan oleh M. Iqbal Fahreza, aktivis feminism Rita Subroto, diperankan oleh  Ariane  Meida  dan  produser  film  mainstream  Vijay  Benggali,  diperankan  oleh  Nosa  Normanda.  Mereka  masing‐masing  bercerita  tentang  sebuah  kondisi  aktual  negeri  ini  dari perspektif profesinya masing‐masing. 


PANGGUNG

Kelompok kedua, adalah mereka yang  terlibat  dalam  cinta  segitiga  dan  hubungan sadomasokistis. Tokoh Hendrik  Panggabean  yang  diperankan  oleh  Yoga  Mohamad,  adalah  seorang  pemuda  asal  Tarutung, Sumatera Utara yang merantau  ke  Jakarta  dan  menjadi  seorang  “pengusaha”  yang  ditakuti  bahkan  oleh  pengacara  sekalipun,  tapi  takut  pada  Mamaknya  yang  memaksanya  untuk  segera kawin. Hendrik Panggabean bukan  seseorang yang mudah menemukan cinta.  Banyak  perempuan  yang  datang  dan  pergi,  tapi  tak  seorangpun  ‘ngetem’    di  hatinya,  kecuali  Ida.  Tapi  sayang,  saat  mereka bertemu, Ida keburu menjadi istri  orang.  Ida,  diperankan  oleh  Nety  Riana,  adalah  seorang  perempuan  mandiri  yang  berasal  dari  keluarga  Jawa,  yang  membesarkannya  menjadi  perempuan  yang patuh dan penurut. Dari kecil ibunya  mengajari bagaimana seorang perempuan  harus  bersikap,  bagi  suami  dan  keluarga.  Pesan  ibunya,  “Nduk,  perempuan  itu  pemegang rahasia keluarga.”  Ketika  dewasa,  Ida  pun  didorong‐ dorong untuk segera menikah oleh kedua  orang  tuanya,  karena  umurnya  yang  sudah lewat dua puluh lima. Akhirnya, Ida  menerima  lamaran  seorang  lelaki  yang  memperlakukannya  sebagai  seorang  partner seks masokistis.  Lelaki  itu  adalah  Ahmad  Zakaria,  atau  Zaki.  Zaki,  diperankan  oleh  Rachman 

SEMBILAN

Muchlas, melewati  masa  kecil  sebagai  seorang  anak  yang  hiperaktif  hingga  ayahnya  kerap  memukulinya.  Zaki  tumbuh  menjadi  seorang  yang  ringan  tangan  memukul  siapapun.  Perangai  ini  terbawa  hingga  pada  kehidupan  seksualnya.  Zaki  merasa  memperoleh  kenikmatan jika pasangannya mau disiksa  saat berhubungan seks.   Sebagai  istri,  Ida  menuruti  semua  perlakuan  sadis  Zaki.  Ketika  Zaki  menampar,  memukul,  mengikat  tangan,  kaki  bahkan  lehernya  dengan  borgol  dan  tali,  melelehkan  lilin  pada  kulitnya,  menggores  tubuhnya  dengan  benda  tajam,  Ida  hanya  mendesis  dan  mengerang tanpa perlawanan. Ida bahkan  orgasme.  Maka  Zaki  pikir,  Ida  menikmati  perlakuan itu.  Selama  enam  tahun  perkawinan,  Zaki  makin  menjadi‐jadi.  Ia  membangun  ‘dunia’ tempat mereka berdua melakukan  apa yang Zaki sebut dengan ‘upacara rasa  sakit’.  Berbicara  mengenai  perempuan,  ada  isu  feminis  yang  radikal,  karena  mengeksplorasi  relasi  kuasa  perempuan  dan laki‐laki secara seksualitas. Tokoh Ida  jelas  mewakili  tubuh  perempuan  sebagai  objek  penindasan,  karena  Zaki,  seperti  dikatakan Ida, “Tidak berbicara denganku,  tapi  berbicara  pada  tubuhku.”  Zaki  dan  Ida  sama‐sama  memiliki  pengalaman  masa  kecil  yang  membentuk  mereka  hingga  dewasa.  Ini  adalah  konstruksi 


SEPULUH

Foto: Maria Natasha

sosial mengenai  peran  gender  yang  diturunkan  melalui  komunikasi  dalam keluarga.  S e l a m a   h a m p i r   s e l u r u h  pertunjukan,  ketujuh  pemainnya  bermonolog  sambil  duduk  di  kursi  yang  mewakili  karakter  mereka.  Kecuali  Ida,  yang  duduk  di  ranjang  serba  putih  dilengkapi  dengan  kelambu dan alat‐alat bantu seks. Set  panggung  minim  properti  diakali  dengan  ilustrasi  video  art  sebagai  latar belakang Ida, Zaki dan Hendrik.   Bentuk adegan yang minim gerak  ini  adalah  hasil  eksperimen  dari  sutradara. Menurutnya, ketika gestur  diminimalkan,  para  aktor  akan  lebih  fokus  untuk  menghidupkan  kata‐ kata.  Hal  ini  juga  membantu  penyampaian  adegan‐adegan  ranjang  yang  vulgar dan  sadis,  seperti  ketika  Zaki  mendeskripsikan perlakuan sadisnya pada  Ida.   Yudhi  mengaku  pada  awalnya  para  aktor  kesulitan  ketika  saat  latihan,  mereka  dilarang  untuk  bergerak  selama  berbicara.  “Dalam  seni  peran,  setiap  gerak,  satu  tolehan  kepala,  ada  maknanya.  Seringkali  aktor  tidak  mengerti  kenapa  harus  bergerak.  Permainan lebih ke bahasa verbal, karena  banyak  yang  ingin  disampaikan,  bisa  rusak  kalau  terlalu  banyak  gerak.  Saya  ingin  aktor  tampil  wajar.  Ini  berbeda  dengan  kebanyakan  permainan  teater  di 

PANGGUNG

Indonesia yang sangat ‘fisik’. Gerakan dan  ciri‐ciri  karakter  seharusnya  ditemukan  saat  eksplorasi  keaktoran  sehingga  menjadi  wajar  dan  tidak  dibuat‐buat.  Ini  yang namanya acting from the inside.”  Ia  menambahkan,  “Bahasa  teater  kita  dijajah  oleh  gerakan‐gerakan  dan  akting  yang  tidak  mendalam.  Makanya,  (pementasan ini) sengaja saya buat minim  gerak.  Ini  juga  memberi  alternatif  pada  penonton  bahwa  kemungkinan  teater  bukan hanya seperti yang selama ini ada.  Resikonya penonton bisa saja bosan, tapi  nonton  pementasan  lain  pun  juga  bisa  saja bosan”.  Para  aktor  baru  berdiri  ketika  cerita  menuju  klimaks.  Hendrik  menyambangi 


PANGGUNG

SEBELAS

Foto: Maria Natasha rumah Zaki untuk ‘membalas’ perlakuannya pada Ida. Lampu merah berkedip‐kedip dari  sisi‐sisi  panggung  menandakan  akan  ada  darah  yang  tertumpah.  Zaki  mati  di  tangan  Hendrik.  Tidak  selesai  sampai  di  situ,  Ida  yang  baru  pulang  kerja  menemukan  ruang  tamu  rumahnya  dibanjiri  darah  Zaki  lalu  balas  menikam  Hendrik,  kemudian  menggantung kepalanya di tali yang biasa mereka gunakan dalam ‘upacara rasa sakit’.  Lakon  tragedi  ini  ditutup  dengan  tuturan,  tapi  bukan  konklusi,  dari  tokoh  paranormal,  aktivis  feminis,  pengacara  dan  produser  yang  mencari  keuntungan  dari  kasus yang baru saja terjadi. Tokoh paranormal, dikatakan oleh Yudhi, “Melambangkan  bawah  sadar  orang  Indonesia.  Dibalik  rasionalitas  wajah  kita,  masih  ada  irasionalitas.  Makanya sekarang banyak paranormal yang mengomersialisasikan jasanya.”  Tokoh  pengacara  dalam  pementasan  ini  digambarkan  sebagai  seorang  oportunis  yang  meminta  dukungan  untuk  dirinya  dengan  memanfaatkan  kasus  ini.  Setelah  menyampaikan  analisa  yang  ngalor‐ngidul  sesuai  dengan  nama  karakternya,  Fahri  Asbun, ia bilang, “Makanya dukung saya dong.”  Tokoh  aktivis  feminis  tampil  dengan  mencampuradukkan  niatan  untuk  membela  ketertindasan perempuan dengan kepentingan pribadinya. Dalih keterbatasan dana dari  pemerintah  membuat  LSM‐nya  bergantung  dengan  bantuan  pihak  asing.  Menurut  sutradara, ini adalah ciri khas LSM Indonesia.  Muncul pertanyaan penuh retorika dari sang sutradara, “Apakah perjuangan mereka 


DUA BELAS 

Penonton seharusnya  cerdas,  maka  kesimpulan  ada  di  tangan  penonton.  Tugas saya hanya memberi stimulus.”  Penonton  yang  mengharapkan  akan  bisa  menonton  pementasan  ini  sebagai  hiburan  mungkin  akan  kecewa.  Pertunjukan ini memang serius dan minim  lawakan.  Seluruh  adegan  dengan  padat  dan  ketat  membangun  klimaks.  Pementasan  ini  menyasar  penonton  intelektual,  yang  mau  berpikir  dan  menyimpulkan  sendiri  apa  yang  bisa  diambil  sebagai  makna  atau  bahkan  amanat cerita.  Poster  pementasan  menampilkan  label 17+ karena adanya unsur seksualitas  pada  pementasan  ini.  Yudhi  mengaku  mengangkat  tema  seksualitas  sebagai  upaya  untuk  mencari  tema  yang  selalu  aktual dan menyentuh orang banyak.  “Seksualitas  dan  sadomasokis  cukup  Foto: Maria Natasha

harus memikirkan  faktor  sumbangan?  Perjuangan  mereka  murni  atau  menjadi  mata  pencaharian?  Kalau  begitu  berarti  mereka  harus  berterima  kasih  pada  konflik,  karena  kalau  tidak  ada  konflik,  mereka tidak dapat uang.”  Yang  tampil  terakhir  dan  menutup  cerita  adalah  tokoh  produser.  Dengan  naluri  industrialnya,  hendak  mengangkat  kisah tragedi Ida menjadi trilogi yang akan  meledak  di  pasaran,  sebagai  kisah  gadis  desa yang akhirnya mati gantung diri dan  jadi  kuntilanak.  Ada  wacana  industri  budaya  mainstream  melalui  media  audio  visual  populer,  televisi  dan  film.  Tokoh  produser  menceritakan  bagaimana  sinetron  diproduksi  secara  seragam  dari  sisi  alur  cerita,  yang  mengandalkan  formula  KISS,  Keep  It  Simple  and  Stupid.  Ini  membentuk  fetisisme  di  masyarakat  yang  seragam  dan  terstandardisasi.  Si  tokoh produser ini jelas menelanjangi  industri sebagai pembodohan massal  karena  tidak  berkontribusi  pada  peningkatan  kualitas  intelektual  audiensnya.  Tidak  ada  amanat  atau  kesimpulan  yang  gamblang  disampaikan dalam cerita ini. Karena  menurut  sutradara,  “Penonton  Indonesia  lebih  suka  hiburan  ringan,  seperti  televisi  yang  memberi  hiburan,  komedi  fisik  yang  sama  sekali  tidak  cerdas.  Tapi  ini  teater  yang  seharusnya  memberi  alternatif. 

PANGGUNG


PANGGUNG

TIGA BELAS 

Foto: Maria Natasha

menarik buat  banyak  orang.  Dalam  hubungan  suami  istri,  saat  satu  pihak  lebih berkuasa, kecenderungannya adalah  penyiksaan. Dalam hubungan Ahmad dan  Ida,  pihak  luar  bisa  melihat  ini  adalah  penyiksaan.  Tapi  buat  Ida,  itu  adalah  ekspresi cinta suaminya. Ini kan pemikiran  yang  terbalik,”  ucap  Yudhi,  yang  memperoleh  gelar  Master  Seni  Murni  Teater di State University of New York ini.  Tapi  menurut  Zaki,  hubungan  antar  manusia  sangat  rentan  dengan  sakit  menyakiti.  Dalam  keseharian,  disadari  atau  tidak,  selalu  ada  pihak  yang  sadis  dan  yang  masokis.  Pihak  sadis  menggunakan  akalnya  untuk  meraih  apa  yang  diinginkannya  dan  melanggengkan  k e k u a s a a n n y a .   P i h a k   m a s o k i s  membenarkan  ketertindasannya  sebagai  defense  mechanism  agar  dirinya  tetap 

pada posisi aman. Seperti tokoh Ida yang  memilih  diam  dan  menerima,  karena  tidak  mau  rahasianya  terbongkar.  Sebelum  melingkarkan  tali  gantungan  di  lehernya, sebagai istri terhadap suaminya  Ida bilang, “Swargo nunut, neraka katut”.  Dengan  caranya  sendiri,  teater  sebagai media komunikasi sekali lagi telah  menyampaikan  bahan  refleksi  dari  ideologi  dan  konstruksi  realitas  yang  melingkupi dan mengembalikan kita pada  pertanyaan  mendasar.  Pertanyaan‐ pertanyaan  yang  menyadarkan  kemanusiaan  kita  sebagai  individu  yang  saling  berhubungan.  Pertanyaan‐ pertanyaan  yang  membuktikan  bahwa  kita  benar  manusia,  bukan  hanya  sekumpulan  massa,  yang  hanya  dilihat  sebagai  audiens  monolitik,  konsumen,  apalagi robot.  


EMPAT BELAS 

TENTANG NADA 

Suasana kampus  Institut  Ilmu  Sosial  dan  Ilmu  Politik  (IISIP)  Jakarta  menjadi  lebih  cepat  sepi.  Tak  seperti  biasa,  para  keamanan  kampus  tidak  harus  memaksa  para  mahasiswa keluar agar kampus sepi. Sepertinya, mahasiswa yang biasanya diusir paksa,  malam itu dengan sukarela meninggalkan kampus menuju tempat di mana semua akan  berjumpa.  Jalan  Raya  Lenteng  Agung,  TB  Simatupang,  Ampera,  sampai  Cipete,  cukup  ramai  malam  itu.  Jakarta  kala  Sabtu  malam  memang  selalu  punya  cerita  tentang  jalan  raya.  Merupakan  sesuatu  yang  biasa  bila  tulisan  ini  membahas  jalan‐jalan  di  Jakarta  yang  semakin  membuat  gila.  Namun  ada  yang  tidak  biasa,  kembali  digelarnya  acara  Disini  Kita Berjumpa (DKB).  Dalam  perjalanannya,  DKB  telah  menjaga  konsistensi  acara  ini  hingga  bisa  disematkan embel‐embel #5. Daftar penampil yang tercantum pun sudah tak asing lagi  oleh  masyarakat  kampus,  yang  memang  produk  lokal  dalam  kampus  dan  sekitarnya.  Adalah  Forbidden  Zone,  Nation  Ska,  Error  X,  KWA!,  Gamelanoink,  Scarabaeus  Saccer,  Ratman, Rastamanis dan The Khe‐Q, yang masuk dalam daftar pengisi acara. Memang  terciptanya  acara  ini  merupakan  sebuah  ajang  apresiasi  bagi  para  pecinta  musik  di  lingkungan kampus –yang katanya‐ “tercinta” IISIP Jakarta. 

Foto: Denny ‘Bewok’ Firmansyah (Buletin Berisik) 

Disini Kita Berjumpa, Oleh: Bayu Adji P Bukan di Kampus Tercinta


TENTANG NADA 

LIMA BELAS 

Kurang lebih  pukul  tujuh  malam,  saat 

Semakin padu  lirik  ‘Anarchy  in  The  UK’ 

kalender menunjuk  tanggal  26  Oktober, 

dinyanyikan, semakin  terasa  ada  sesuatu 

acara dimulai.  Tepat  di  samping  Taman 

yang salah  di  lingkungan  kita  yang  harus 

Pemakaman Umum  Jeruk  Purut,  tempat 

dihancurkan. I wanna be an anarchy/ And 

di mana  Borneo  Beer  House  berdiri,  tak 

I wanna be an anarchy// 

lantas

membuat

suasana

menjadi

Tak henti  sampai  Sex  Pistols,  alunan 

menyeramkan. Yang  terdengar  adalah 

new wave  a  la  The  Clash  pun  ikut 

riuh rendah  suara  manusia‐manusia 

mengiringi lirik  lagu  ‘Rock  The  Casbah’ 

bernyanyi, bergoyang  dan  berbahagia, 

yang tercanpar  dalam  layar  putih.  ‘Rock 

dalam

Dalam

The Casbah’  merupakan  anekdot  tentang 

bangunan sederhana  berlantai  dua  dan 

sebuah tempat di Timur Tengah, di mana 

penuh

sang

bangunan dengan 

tersebut. asap 

rokok

yang

raja

melarang

penduduknya

mengepul, satu  per  satu  penampil 

memainkan atau  mendengar  musik  rock. 

menunjukkan kebolehannya. 

Sang raja  memerintahkan  para  pilot 

Tak

ada

batasan

genre

yang

pesawat tempur  untuk    yang  menghabisi  melanggar 

dengan

memisahkan. Mulai  dari  reggae,  ska, 

mereka

punk, balada,  pop,  post  rock,  sampai 

menjatuhkan bom.  Namun  para  pilot 

yang

memanaskan

justru mendengarkan musik rock di kokpit 

panggung yang  tak  terlihat  sakral. 

mereka dan  mengabaikan  perintah  sang 

Penonton dengan  bebas  merebut  mic 

raja. Ironis,  ketika  ada  kabar  bahwa  lagu 

yang dipegang  oleh  sang  vokalis  untuk 

ini menjadi  soundtrack  awak  tank 

ikut bernyanyi.  Tak  ada  jarak  tercipta, 

Amerika saat  menggempur  Irak.  Sharif 

sesuai slogan  yang  tercetak  di  pamflet 

don't like it/ Rockin’ the Casbah/ Rock the 

yang beredar,  “Datang  ::  Main  :: 

Casbah//

metal,

silih

berganti

Gembira.”

DKB #5 akhirnya benar‐benar berhenti  adalah 

ketika semua telah puas meneriakkan lirik 

santapan penutup dari pegelaran DKB #5. 

tembang ‘First  of  The  Gang  to  Die’  milik 

Dengan iringan musik punk a la Sex Pistols 

Morrissey. Where  Hector  was  the  first  of 

Akhirnya,

berkaraoke‐ria

yang keluar lewat sound dan lirik ‘Anarchy 

the gang with a gun in his hand/ And the 

in The  UK’  dalam  tembakkan  proyektor, 

first to  do  time/  the  first  of  the  gang  to 

semua bernyanyi seakan mereka menjadi 

die/ Oh  my//  ...He  stole  all  hearts  away/ 

John Lydon  yang  menentang  kekuasaan 

He stole all hearts away// 

monarki yang  semakin  mengekang. 

DKB, sebagai sebuah acara musik yang 


ENAM BELAS 

TENTANG NADA 

Foto: Denny ‘Bewok’ Firmansyah (Buletin Berisik)  berawal  dari  tongkrongan  Tikungan  Maut  (Tikma)  IISIP,  telah  sukses  membuat  semua  bernyanyi dalam satu irama, musik. Terselenggaranya DKB #5 adalah peran dari mereka  yang  menamakan  diri  sebagai  Lovely  Crew  dan  Tikma  Crew  serta  dukungan  UKM  Kremmasi, Kampung Segart dan Obtai.  Ada  kontradiksi  yang  terjadi.  Tikma  sering  disebut  sebagai  tempat  yang  paling  menyeramkan di lingkungan kampus IISIP. Bukan karena di tempat itu banyak kejadian  gaib, melainkan yang berdiam di tempat tersebut adalah para angkatan tua dan bahkan  alumni  yang  sesekali  datang,  yang  membuat  banyak  mahasiswa  menunduk  bila  melewatinya.  Sementara  kesan  DKB  yang  berawal  dari  Tikma,  jauh  dari  kesan  yang  menyeramkan,  di  mana  semua  bebas  berekspesi  tanpa  mengenal  angkatan.  Imej  sebagai tempat angker tersebut, mungkin yang ingin dihilangkan melalui DKB.  DKB  memang  sengaja  digelar  di  luar  area  kampus.  Menurut  Kadol,  salah  satu  pencetus  pertama  acara  tersebut,  suasana  di  luar  itu  menjadikan  kita  menjadi  lebih  leluasa  dan  tak  ada  rasa  kaku.  “Kampus  itu  identik  dengan  belajar.  Kalau  di  luar  kita  udah  punya  waktu  luang  satu  sama  lain  antara  alumni  dan  mahasiswa,  dan  dari  situ  timbul rasa saling memperhatikan,” jelas Kadol sesaat setelah berkaraoke‐ria.  Dengan diadakan di luar kampus, pemberian nama ‘Disini Kita Berjumpa’ pun terasa 


TENTANG NADA 

TUJUH BELAS 

untuk

m e m b u a t

apresiasi,” paparnya.  Sebagai  alumni  yang  pernah  terlibat  dalam  kepanitiaan  Kredit foto: Adisti Daramutia (http://krilianeh.wordpress.com/ ) 

Bobby

DKB, j u g a 

menambahkan

kalau

acara di  kampus  itu  selalu  terbatas  oleh  waktu.  “Anak‐anak  itu  maunya  full,  dari  sore  sampai  malam.  Kalau  di  kampus  gak  bisa,”  ucap  Bobby  sambil  mengingat 

masa

kepanitiaannya di  DKB  saat  digelar  di  Magical  Cafe, Depok.  Mungkin 

anggapan

bahwa DKB  adalah  acara 

yang

diperuntukkan

hanya bagi 

angkatan tua  dan  para  cocok  karena  perjumpaan  antara  alumni 

alumni masih  beredar  di  kalangan 

dan mahasiswa  tak  melulu  berada  di 

mahasiswa pada  umumnya.  Banyak  yang 

kampus, yang  terkenal  dengan  istilah 

masih sungkan  untuk  terlibat  atau 

“ribet”‐nya.

sekedar datang.  Namun  Bobby  kembali 

Junaidi Bobby,  sebagai  salah  satu 

mengeluarkan petuahnya, “Coba aja dulu 

penampil yang  memeriahkan  acara 

dateng, di  sini  kita  bisa  ketemu  dengan 

tersebut, juga  menyatakan  hal  senada. 

orang‐orang yang  belum  dikenal.  Kalau 

“IISIP kan  bukan  kampus  musik,  jadi 

enak ya  terus,  kalau  enggak  yaudah,” 

apresiasi yang diberikan itu minim. Sering

tutup Bobby dengan tawa. 

‐sering aja  sih,  gak  harus  nunggu  DKB 


DELAPAN BELAS 

TENTANG RUPA 

Aroma Jawa Barat di Pameran Foto Kaphac 32 Oleh: Ahmad Alfian  Foto: Dokumentasi Kaphac 32  Sore itu, suasana tampak tak biasa di area food court  Depok Town Square (Detos).  Terlihat  beberapa  orang  mengenakan  blangkon  di  kepala  atau  selendang  batik  di  pinggangnya,  sibuk  berlalu‐lalang.  Untuk  beberapa  saat,  Detos  terasa  begitu  kental  dengan  kebudayaan  Jawa  Barat.  Adalah  Kaphac  32,  sebuah  unit  kegiatan  mahasiswa  Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, dalang dari penyulapan sebuah mall,  yang identik dengan gaya hidup kekinian, menjadi kental dengan budaya lokal.  Suasana  kemeriahan  dari  panggung  sederhana  di  antara  meja‐meja  makan,  menggambarkan  pembukaan  pameran  foto  Kaphac  32  yang  digelar  pada  18  Oktober  yang  lalu.  Pameran  yang    berlangsung    pada  18‐25  oktober  2013  ini,  menyuguhkan   berbagai foto yang diambil dari 13 daerah di Jawa Barat.  Acara ini dibuka oleh penampilan dari Kremmasi dengan memainkan musik sampah,  di  mana  alat  yang  digunakan  adalah  barang‐barang  bekas.  Dilanjutkan  dengan  penampilan  dari  Teater  Kinasih  yang  menambah  heboh  suasana  pembukaan  pameran  dengan pertunjukan parodinya. Ada pula sekelompok penari yang membawakan tarian  Jaipong dengan gemulainya. Dosen IISIP Jakarta Rachman Achdiat, yang akrab dipanggil 


TENTANG RUPA 

SEMBILAN BELAS 

suling merupakan  salah  satu  kesenian  musik  dari  Foto: Dokumentasi Kaphac 32 

Cirebon  yang  mengusung  aliran  dangdut.  Tarling  sering 

d i a n g g a p

masayarakat luas  kurang  etis 

karena

goyangan

penyanyinya yang seronok.  Jawa  Barat  pun  sering  dkaitkan  dengan  Tarling,  yang dianggap tidak etis.  bang  Boim,  juga  ikut  membuka  acara 

Namun Kaphac  32  memamerkan  sisi 

tersebut. Tidak  lupa  sang  kurator 

lain Jawa Barat yang jauh dari isu seronok 

pameran, Feri  Latief,  photo  contributor 

khas Pantura.  Pameran  yang  memasang 

National Geographic  Indonesia,  ikut 

foto para petani sedang membawa gabah 

memberikan sekapur  sirihnya  di  hadapan 

sebagai masterpiece  ini  seakan  mengajak 

para pengunjung. 

para pengunjung  masuk  ke  dunia  yang 

Ketua umum  Kaphac  32  Singgih 

dekat namun  perlahan  terlupakan.  Foto‐

Wahyu Febriat  Moko,  yang  lebih  familiar 

foto yang  dipamerkan  seakan  berkata 

dengan

menjelaskan,

bahwa masih  banyak  kebudayaan  Jawa 

“Kenapa kita  mengusung  tema  Jawa 

Barat selain  Tarling.  Salah  satunya  adu 

Barat, karena  Jawa  Barat  punya  budaya 

domba khas Garut. Dalam salah satu foto, 

nema

Pakde,

yang tidak  kalah  hebat  dibanding  budaya 

terlihat ada  dua  domba  yang  sedang 

lain di  Indonesia.  Persiapan  kita  kurang 

beradu kepala,  menunjukkan  betapa  adu 

lebih setahun, dan hunting di 13 daerah di 

domba merupakan  kebudayaan  kita yang 

Jawa Barat. Salah satunya Garut.” 

sudah mengakar. 

Jawa Barat  memiliki  budaya  sangat 

“Setiap foto punya karakter yang kuat. 

menarik. Keseniannya  yang  sering  kita 

Ditambah lagi  dengan  adanya  penjelasan 

jumpai diantaranya adalah Wayang Golek, 

isi foto  yang  nambah  wawasan  tentang 

Jaipong, Angklung, Batik, dan banyak lagi. 

Jawa Barat.    Pokoknya  aroma  Jawa  barat 

Selain kesenian tersebut,  Jawa Barat juga 

banget deh,”  ucap  Mega,  salah  seorang 

memiliki kesenian  yang  tidak  kalah 

pengunjung yang hadir malam itu. 

menariknya. Adalah  Tarling  atau  gitar 


DUA PULUH 

WAWANCARA

SEBUAH PERGERAKAN BERNAMA NGAMEN SASTRA Oleh: Bayu Adji P  Bila Kampus Tercinta punya Disini Kita Berjumpa (DKB), Fakultas Ilmu Pengetahuan  Budaya Universitas Indonesia punya Ngamen Sastra. Tentu saja, Ngamen Sastra digelar  di dalam kampusnya sendiri, sedangkan DKB, dari namanya kita sudah dapat mengambil  pesan tersirat, bukan di kampus kita berjumpa.  Bila  UI  selalu  sedia  24  jam untuk  mahasiswa,  namun Kampus  Tercinta,  buka  jam  6  pagi tutup jam 8 malam, layaknya memperlakukan  anak sekolah seragam. Mendengar  hal  itu,  Ngamen  Sastra  pun  ikut  komentar,  “Mahasiswa  itu  masa  puncak‐puncaknya  beraktifitas dan bersosialisasi sesama. Kalau dibatasin gimana jadinya, bro?”  Melalui sosial media, kami bertemu dan memulai wawancara.  Ngamen Sastra itu apa sih?  Ngamen Sastra merupakan konsep acara music for charity, juga sebagai mekanisme  ruang  interaksi  sosial  dan  budaya  masyarakat  kampus  di  kantin  yang  representatif  kepada  pemain,  pemerhati  serta  penikmat.  Konsep  acara  ini  adalah  sebagai  sarana  berekspresi dan berapresiasi menuangkan keterampilannya dalam berkesenian (musik,  puisi, teater, dll).  Konsep acara music for charity itu apa maksudnya?  Jadi,  karena  konsep  “Ngamen”,  di  setiap  sesi  acara  ada  panitia  untuk  berkeliling  mebawa  kardus  untuk  "ngecrek"  sebagai  ciri  "otentik"  dari  acara  ini,  sejumlah  uang  kepada  penonton  yang  hadir  di  acara  ini.  Uangnya  yang  terkumpul  akan  kita  sumbangkan  kepada  yang  membutuhkan.  Itu  konsep  Charity  dari  "Ngamen"  Sastra.  Kalau berkesenianya apa aja bisa ditampilkan di acara ini, baik puisi, seni rupa, musik,  dll.  Bisa diceritain awal terbentuknya?  Bermula  dari  "tongkrongan"  di  Kantin  Sastra  (Kansas)  Fakultas  Sastra  UI,  paska  reformasi 1998, Ngamen Kansas digelar dengan bermodalkan alat‐alat musik minimalis  berupa sound system dari Gedung 5 (Laboratorium Bahasa), tiga mic, dua gitar kopong  serta galon air mineral sebagai gendang.  Sebuah cara berkesenian di kantin yang freak, nyentrik, tapi asyik, saat itu. Ngamen  Kansas  sebagai  wujud  kebudayaan  baru  di  Kansas,  mendapatkan  suasana  kondusif  untuk  perkembangan  berkesenian  di  kampus.  Antusias  dan  partisipasi  mesyarakat  kampus  untuk  terlibat  dalam  acara  hingga  pada  tahun  1999,  "tongkrongan"  itu  mendirikan komunitas bernama Sastra Kid's Production sebagai penyelenggara Ngamen  Kansas secara profesional. Pernah ada band IISIP main di sini, sekitar tahun 1999. 


WAWANCARA

DUA PULUH SATU 

Perubahan nama  menjadi  Ngamen  Sastra  dilakukan  atas  dasar  Fakultas  Sastra  berumbah  nama  menjadi  Fakultas  Ilmu  Pengetahuan  Budaya  Universitas  Indonesia  pada  tahun  2002.  Sebuah  acara  berkesenian  di  Kantin  Sastra  dalam  format  panggung  terbuka, yang diselenggarakan tiap semester perkuliahan. Perjalanan kegiatan acara ini  sudah  berlangsung  ke  tujuh  kalinya  di  tahun  2002    hingga  acara  akbar  yaitu  Ngamen  Sastra n Gelar Sastra Raya FSUI sebagai acara puncak kegiatan, lalu vakum semenjak itu.  Pada  2011,  Ngamen  Sastra  akhirnya  diselenggarakan  kembali  di  FIB  UI  dibawah  naungan  Senar  Budaya  FIB  UI,  sebuah  format  baru  sebagai  media  silahturahmi  dan  berkesenian  untuk  mahasiswa,  alumni,  dosen,  karyawan,  satpam  dan  pedagang  serta  koleganya.  Nama  Ngamen  Sastra  dipergunakan  kembali  pada  acara  berikutnya;  Pro  Event  Ngamen  Sastra,  April  2012  dan  Ngamen  Sastra  Tribute  to  Dekun,  Mei  2012.  Ngamen Sastra menjadi kegiatan berkesenian, acara yang telah mengakar di FIB UI.  Kenapa menamakan diri sebagai sastra, bukan karya,yang lebih universal, misalnya?  Karena  konsep  berkesenian  ini  lahir  di  FSUI,  sekarang  menjadi  FIB  UI,  sebuah  keterputusan rangkaian angkatan se‐fakultas, karena itu Ngamen Sastra ada.  Kalian menganggap Ngamen Sastra ini sebagai apa?  Ngamen  Sastra  sebagai  aktivitas  kebudayaan  dalam  berkesenian,  membangun  kerjasama yang di antara berbagai komunitas kesenian yang ada di lingkungan kampus  FIB  UI  pun  luar  dan  masyarakat  lainnya  untuk  menciptakan  networking  berkesenian  bersama yang kuat, mandiri dan berkarakter. Terlebih menjadikan berkesenian adalah  kebutuhan  mentalitas  budaya  (Frof.  Koentjaraningrat,  Kebudayaan  Mentalitas  dan  Pembangunan, 1987) bagi seluruh civitas akademika FIB UI.  Sampai kapan Ngamen Sastra bakal tetap ada?  Harapanya ini acara jadi "sindikasi" pergerakan. maunya selama‐lamanya.. Aamiin! 


DUA PULUH DUA 

ANGKRINGAN

Konsumsi Tanpa Arah Oleh: Maria Natasha Ilustrasi: Ridwan Sobar  Sudah  beberapa  bulan  terakhir  ini,  saya,  Sal,  berhenti  menonton  televisi.  Awalnya  sih  gara‐gara  tv  saya  rusak.  Layarnya  gelap  segelap  masa mudanya Mbah Jarwo. Maklum, tv murah. Waktu mempertimbangkan beli dulu,  saya  mau  ikut‐ikutan  warteg  gang  seberang,  asal  ada  tv‐nya.  Jadi  ya  saya  beli  tv  yang  mereknya  tidak  terkenal.  Setelah  rusak  pun  ternyata  saya  nggak  mau  repot‐repot  membetulkan.   Pelanggan  warteg  saya  ada  yang  mengeluh,  nggak  bisa  makan  sambil  nonton  tv.  Padahal  saya  pikir,  ada  bagusnya  juga  kalo  nggak  ada  tv,  orang‐orang  yang  datang  ke  warteg saya akan lebih banyak mengobrol. Mungkin awalnya hanya basa‐basi ngobrolin  cuaca hari ini, lalu bisa berlanjut ke diskusi menyelesaikan masalah bangsa. Ngobrol kan  bisa  memancing  opini‐opini,  biarpun  nggak  terdengar  ke  bapak‐bapak  dewan,  yang  penting masyarakat kita ini berpikir. Nggak terus‐terusan mengonsumsi informasi yang  kadang  bikin  malas  mikir.  Eh  ternyata  pelanggan  warteg  saya  lebih  memilih  untuk  mencet‐mencet gadgetnya daripada menyapa kanan‐kiri.   Ternyata, setelah beberapa waktu lamanya tidak menonton televisi, hidup saya kok 


ANGKRINGAN

DUA PULUH TIGA 

rasanya jadi  lebih  tenang.  Kalau  saya  lagi 

Karena beragamnya  informasi  di 

begadang meracik  bumbu‐bumbu  untuk 

internet, sulit  bagi  saya  untuk  memilah, 

hidangan warteg  saya,  nggak  ada  berita‐

mana yang penting untuk saya konsumsi, 

berita kriminal  yang  biasanya  jadi 

dan mana  yang  tidak.  Ketika  saya  mulai 

headline berita tengah malam. Kalau saya 

bosan sama  model  dan  warna  rambut 

lagi nunggu suami saya mengantar barang 

saya, saya  mulai  gugling  tren  rambut 

dagangan ke  luar  kota,  nggak  ada  berita 

2013. Ketika semua tetangga saya demam 

kecelakaan yang  bikin  pikiran  nggak 

belanja online,  dari  baju  sampai  double 

tenang. Kalau  sore‐sore,  biasanya  ada 

pan, saya  jadi  ikut‐ikutan  cuci  mata  di 

berita investigasi  tentang  ayam  tiren  dan 

web belanja. Untung akhirnya saya sadar, 

tahu formalin,  bikin  saya  takut  dicurigai 

harga barang  yang  sama  di  itese  tentu 

jualan yang begituan.  

bisa lebih murah.  

Mungkin benar,  televisi  bukan  lagi  kanal 

terpopuler

mencari

deintelektualisasi, bisa  juga  demikian 

informasi, sejak  ada  internet.  Tapi 

halnya dengan  internet.  Kalau  ada  yang 

benarkah internet  adalah  tempat  kita 

bilang, televisi bisa menyetir persepsi dan 

mencari informasi?  Sekarang  hampir 

menjerumuskan pemahaman,  internet 

semua mahasiswa  adalah  pengguna  aktif 

bisa lebih parah lagi. Seorang teman yang 

sosial media.  Kenyataannya,  mereka 

belum pernah  makan  di  warteg  saya 

mulai kesulitan  memisahkan  apa  yang 

pernah bilang,  “Justru  dengan  hadirnya 

nyata

Buktinya,

internet, toh kendali media ada di tangan 

kebanyakan mahasiswa  yang  datang  ke 

kita yang terserah mau ngeklik mousenya 

warteg saya  obrolannya  kurang  lebih 

kemana atau close browser tab‐nya.” 

dan

yang

untuk

Kalau ada  yang  bilang,  televisi  adalah 

maya.

begini, “Eh,  lo  udah  gue  mention  nih.” 

Luasnya ruang  lingkup  internet  yang 

Dan balasannya  kira‐kira  begini,  “Oke, 

dipuja‐puja sebagai  ruang  kebebasan 

nanti pasti  gue  follback.”  Setelah  itu 

berekspresi justru bisa menjadi bumerang 

biasanya, “Mana  postingan  foto  kita  lagi 

dan mempersempit  dunia,  kalau  tidak 

makan di warteg? Tag‐in ke gue dong!”  

siap menggunakannya  atau  tidak  bisa 

Informasi apa  yang  kita  cari  di  internet?   Informasi  apa  yang  sebenarnya  kita  butuhkan? 

menentukan tujuan,  untuk  apa  kita  mengonsumsi internet.   Tapi  toh  warteg  saya  belum  pasang  HotSpot wifi.  


Buletin Kinasih #12  

Download: http://buletin.teaterkinasih.org/download-pdf/file/9-edisi-12-2013-musuh-masyarakat

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you