Page 1


Tim Majalah Penanggung Jawab Tito Satria Joel M.

Branding & Propaganda Penanggung Jawab Tom Majiid H.

Editor Muzaimatul M. Priquela Aprilya Anastasia Cesaria Azra

Redaksi Penanggung Jawab William Chang

Anggota Adisty Najmia Daud Agniya Dwiputri A. Beta Miftahul Falah Claresta Evadne I. Efri Liana Dewi Gabriella Yovanda

Artistik Penanggung Jawab Artistik Dini Dermawan

Jeihan Aulia R.

Visual Content

Kirei Serly Agatha

Bunga Sausan Aisha

Luthfi Risalullah A.

Layouting

Maria Sinta Kusuma Muzaimatul M.

Vikha Puti Madani

Patricia Anita Rosiana

Anggota

Qinthara Silmi Faizal

Audrey Xaveria

Sebastian Anthony

M. Akbar Sighab

Suwaibatul Amalina

M. Febrilian Syah

Ulqi Ulya

Nisrina Nurulita K. Theressa Triyessy S. Veronika Diah P.


VISI REVITALISASI SISTEM BERTRANSFORMASI

T

ransformasi adalah hal yang luar biasa. Setiap kegiatan, setiap cara, dan setiap proses yang bersifat perubahan dapat dikategorikan sebagai transformasi. Untuk dapat berkembang, transformasi adalah hal yang tidak terelakkan. Akhir-akhir ini, transformasi marak mengudara di bumi Ganesha. Mulai dari pembangunan sarana dan prasarana seperti lapangan maupun toilet, hingga yang akhir-akhir ini cukup mempengaruhi mahasiswa seperti sistem perpustakaan.

Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah perubahan tersebut hadir pada waktu dan kondisi yang tepat? Apakah perubahan tersebut membawa dampak positif? Apa sebenarnya alasan di balik perubahan tersebut? Sebenarnya, apakah revitalisasi transformasi ITB sudah efektif?


4

DAF TAR


ISI

06 10 15

LAPORAN UTAMA

ISU KAMPUS

Kemandirian dalam Menitipkan Barang di Perpustakaan

Pasar Seni Singgah Kembali? Menelusuri Komunitas Kucing di ITB

06

KENCAN

SASTRA

Mussa Izzanardi Wijanarko

Cerita dari Atas Awan

21

LANGKAH Budaraa 2.0 Jigoku Ramen

GALERI

Sudut Mata

KILAS

10 13

40

Transnangor

23

Di Balik OA Line Lucu di ITB

25

REVIEW 32

OPINI Kaderisasi

15 17 19

GELITIK

JATINANGOR 29 30

Pameran Produk Unik nan Menarik Berangkat Songs of Jazz

46

Film: Crazy Rich Asians Buku:The Giver

35 38


Laporan Utama

KEMANDIRIAN DALAM MENITIPKAN BARANG DI PERPUSTAKAAN Oleh Muzaimatul Musyarofah, Kirei Serly Agatha, dan Dini Dermawan

6


S

enin (24/09), pagi hari itu mahasiswa berdatangan ke kampus ITB untuk memulai minggu ke-6 masa perkuliahan tahun akademik 2018/2019. Pagi di hari Senin itu tak berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya di ITB. Suasananya masih terasa sama—hiruk pikuk mahasiswa yang berjalan santai hingga berlari pun masih mewarnai jalan dan selasar gedung— hingga pada pukul 11.00, waktu istirahat serta pergantian kelas, terlihat sebuah pemandangan yang tidak biasa di sebuah tempat yang sering digunakan untuk kongkow oleh sebagian mahasiswa. Siang itu, dari depan Gedung Riset dan Inovasi, terlihat adanya sebuah antrean mengular yang memenuhi pintu masuk perpustakaan. Antrean mengular di pintu masuk perpustakaan itu ternyata disebabkan oleh adanya perubahan pada sis-

tem pelayanan penitipan barang. Sistem penitipan barang yang sebelumnya dibantu oleh petugas penitipan barang kini dilakukan mandiri oleh mahasiswa. Sebelum menitipkan barang, mahasiswa diharuskan untuk memasukkan NIM mereka pada sebuah komputer yang posisinya dekat dengan pintu masuk. Pada mulanya sistem ini berjalan, para mahasiswa harus rela antre lebih lama untuk masuk ke perpustakaan karena banyak yang bingung mengenai prosedur sistem baru ini maupun karena hanya adanya satu komputer untuk memasukkan NIM. Selain itu, beberapa mahasiswa juga kebingungan ketika tahu mereka diharuskan mengambil barang bawaannya terlebih dahulu sebelum melewati mesin detektor. Pada sistem lama, mahasiswa diharuskan untuk mengambil kunci loker di meja kunci yang dijaga oleh

petugas. Setelah memasukkan barang ke dalam loker, loker dikunci. Kemudian, kunci diberikan kepada petugas untuk ditukarkan dengan kartu. Kartu tersebut dipegang oleh mahasiswa sampai mereka ingin mengambil lagi barang mereka dari loker. Saat ingin mengambil kembali barang bawaan mereka, mahasiswa harus menukarkan kartu dengan kunci loker mereka dan mengembalikan lagi kuncinya ke petugas. Sistem penitipan barang dengan bantuan petugas dirasa kurang efisien karena seringkali loker yang tersedia tidak cukup untuk digunakan oleh mahasiswa. Hal ini disebabkan adanya beberapa mahasiswa yang hanya menitipkan barangnya di loker tanpa tujuan untuk berkegiatan di perpustakaan. Selain itu, pada sistem penitipan lama, ada banyak barang mahasiswa yang sering tertinggal di dalam loker sehingga mere-

7


ka perlu meminta lagi kunci yang sudah dikembalikan ke petugas. Kondisi ini cukup menyulitkan petugas apabila kunci tersebut sudah ditaruh di tumpukan kunci loker. Pada sistem penitipan barang mandiri, mahasiswa hanya perlu mencari loker kosong yang kuncinya masih tertancap di lubangnya. Setelah meletakkan barang di loker, mahasiswa akan membawa kunci tersebut selama berkegiatan di perpustakaan. Pada Senin (24/09) yang merupakan hari pertama penerapan sistem tersebut, hanya ada satu buah komputer untuk mengisi NIM sebelum masuk ke loker penitipan barang. Untuk mengantisipasi antrean yang mengular, diletakkan satu komputer tambahan yang letaknya berdampingan dengan komputer lainnya mulai Kamis (27/09). Satu hal yang menarik pada perbedaan kedua sistem di atas terletak pada gantungan kuncinya. Sebelumnya, gantungan kunci berukuran kecil dan hanya bertuliskan nomor loker, kini gantungan kunci berukuran lebih besar dan bertuliskan nomor loker serta peraturan penitipan barang. Jika mahasiswa ingin keluar dari perpustakaan, mereka harus mengambil barang bawaannya terlebih dahulu karena jika kunci dibawa melewati mesin detektor yang ada di pintu keluar, mesin akan langsung berbunyi. Ide perubahan ini sebenarnya sudah dipikirkan sejak lama oleh para petugas penitipan barang. Namun, sistem ini baru diberlakukan belakangan ini karena proses penyetujuan rencananya yang agak lama. Tujuan utama sistem baru ini adalah agar mahasiswa bisa lebih mandiri dan tidak membutuhkan pelayanan dari petugas penitipan lagi se-

8

Tujuan utama sistem baru ini adalah agar mahasiswa bisa lebih mandiri.

hingga sistemnya menjadi lebih praktis. Petugas yang berjaga hanya tinggal mengawasi keluar masuknya mahasiswa serta menangani kerusakan pada loker. Perpustakaan pusat yang dimiliki oleh Institut Teknologi Bandung terletak di bagian utara ITB. Pelayanan perpustakaan dilakukan pukul 08.00-21.00 untuk tiap Senin sampai Jumat, sedangkan pada hari Sabtu pelayanan dilakukan pukul 08.0013.30. Menurut Pak Dadan, salah seorang petugas penitipan barang di perpustakaan, jumlah mahasiswa yang masuk ke perpustakaan ada sekitar 2.500 orang per hari dan rata-rata merupakan mahasiswa TPB.


Dokumentasi oleh Tim Dokumentasi Dialektika

9


ISU KAMPUS

PASAR SENI SINGGAH KEMBALI? oleh Dini Dermawan

P

asar Seni adalah satu ajang bergengsi yang diadakan tiap empat tahun sekali oleh mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung. Di sana, para seniman dan desainer, baik mahasiswa, alumni, maupun tamu, diberikan kesempatan untuk memperlihatkan sekaligus memamerkan karya seni maupun desain mereka. Tahun 2014 lalu, yakni pada tanggal 23 November 2014, ajang ini diadakan kembali oleh FSRD dan menjadi salah satu ajang pameran seni terbesar di Asia Tenggara.

Dokumentasi oleh akun Instagram @septyanputra Suasana Pasar Seni tahun 2014 pada tanggal 23 November 2014

10


Terinspirasi oleh dosen A. D. Pirous dari pasar kaget seniman di Amerika, Pasar Seni diadakan pertama kali pada tahun 1972 dan berlangsung sampai 2014 lalu. Ajang tersebut menjadi wahana bagi para seniman dan desainer untuk berkreasi dan memukau para penikmat seni. Sebelum menjadi sebuah ajang yang dikenal oleh seluruh masyarakat kota Bandung maupun Indonesia, Pasar Seni hanyalah acara pameran sederhana yang diadakan untuk mengapresiasi karya seni dan desain yang dihasilkan oleh mahasiswa, dosen, maupun alumni. Namun, tahun 2014 lalu menjadi sebuah dobrakan besar kepanitiaan Pasar Seni karena telah membawa dan membagikan pengalaman kepada seluruh masyarakat Bandung maupun Indonesia. Mengusung tema ‘Aku, Kamu, dan Semesta’, para

seniman dan desainer mencoba untuk merespons kegiatan manusia dan teknologi yang penuh dengan internet serta media sosial. Dengan kehidupan yang serba instan, manusia dengan mudah dan cepat memperoleh informasi, mengenali orang-orang lebih dekat, dan membuka wawasan yang lebih tentang dunia. Namun, tak jarang juga internet dan media sosial menjadi salah satu alat yang menyebabkan perpecahan di antara sebuah komunitas maupun secara individual. Hal tersebutlah yang diinterpretasikan menjadi sebuah karya dan akhirnya dapat dinikmati oleh para pengunjung. Selain pameran karya, pengunjung juga disajikan dengan wahana-wahana yang dapat disaksikan dan merasakan Bazar dan stanstan makanan dan merchandise yang ikut memeriahkan

suasana. Pengunjung juga dapat melihat pertunjukan seni kontemporer yang ditunjukkan oleh mahasiswa FSRD. Setelah kesuksesan pada tahun 2014, mahasiswa kembali mulai menanyakan keberlangsungan Pasar Seni yang dikatakan akan diadakan empat tahun sekali. Namun, di tahun 2018 ini, tidak terlihat sama sekali kegiatan yang mengusungkan bau-bau Pasar Seni. Pada tanggal 13 September 2018 lalu, sebuah Forum Lapangan diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Seni Rupa di Lapangan Merah, Gedung Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Lima ketua himpunan KMSR: Shofiya Qurrotu A’yunin (Ketua Himpunan Industrial Design Student Society ITB), Ilham Dwi Laksono (Ketua Himpunan Ikatan Mahasiswa Desain Interior ITB), Delpi Suhariyanto (Ketua Himpunan Visual Art Student Aggregate), Nathaya

Dokumentasi oleh akun Instagram @fikri_indra_maulana

11


Rahmasari (Ketua Himpunan Terikat), dan Muhammad Afif (Ketua Himpunan Ikatan Pemuda Pemudi Desain Grafis DKV ITB), menyerukan lima klaim tentang keberlangsungan Pasar Seni tahun 2019 membuat seluruh masyarakat seni rupa dan desain menjadi penasaran. Berdasarkan forum tersebut, terbentuk keputusan bahwa lima klaim yang diajukan telah menang melawan berbagai pertentangan lainnya. Namun, penentuan tanggal Pasar Seni akan kemudian ditindaklanjuti jika Ketua Pasar Seni telah diangkat dan diresmikan. Pada tanggal 1416 September lalu, sebuah open recruitment telah diadakan oleh KMSR untuk mengisi posisi-posisi sebagai kepanitiaan Pemilu Pasar Seni. Berdasarkan update dari akun Instagram @pemilu-

pasarseni pada 3 Oktober, organogram Pemilu Pasar Seni tahun 2018 telah terbentuk. Rapat dan juga forum juga terus-menerus diadakan untuk membahas Pasar Seni. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Pasar Seni tidak diadakan pada tahun 2018? Apakah Pasar Seni benar-benar akan diadakan pada tahun 2019? Apakah Pasar Seni akan kembali menjadi salah satu ajang bergengsi seni rupa dan desain hingga menjadi salah satu acara seni dan desain terbesar di Asia

Ilustrasi oleh Tim Kreatif Pasar Seni 2014

12

Tenggara? Kejutan apa yang menanti para pengunjung di Pasar Seni selanjutnya?


ISU KAMPUS

MENELUSURI KOMUNITAS KUCING ITB Oleh Muzaimatul, Vikha Puti Madani

K

ucing. Tak lengkap rasanya bila lingkungan sebuah kampus tidak diisi dengan keberadaan makhluk kecil yang satu ini. Keberadaan kucing sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat kampus. Banyak masyarakat kampus yang beranggapan bahwa bermain dengan kucing dapat membantu mereka untuk melepaskan rasa penat setelah menghadapi hari yang berat. Umumnya, kucing yang berada di area kampus memiliki tubuh yang lebih gempal daripada kucing liar lainnya. Hal ini terjadi karena banyak pecinta kucing yang berasal dari masyarakat kampus dengan sukarela memberikan makanan kepada kucing-kucing tersebut.

13


Sama halnya seperti kampus pada umumnya, di ITB tentu juga banyak mahasiswa yang merupakan pecinta kucing. Saat ini, para pecinta kucing ITB telah tergabung dalam suatu komunitas yang bernama Kucing ITB. Nama Kucing ITB sendiri berasal dari nama Line Square serta Instagram yang anggotanya merupakan para pecinta kucing di ITB. Saat penulisan artikel ini, Line Square Komunitas Kucing ITB telah memiliki anggota sebanyak 312 orang, sedangkan akun Instagram Kucing ITB sendiri telah diikuti oleh 2702 pengguna Instagram lainnya. Melalui akun media sosial tersebut, para pecinta kucing ITB dapat berbagi cerita serta foto mengenai keadaan kucing-kucing di ITB. Tidak hanya aktif membahas isu tentang kucing di media sosial, Komunitas Kucing ITB juga memiliki aksi nyata untuk para kucing. Aksi tersebut biasanya merupakan kegiatan pemberian makan, perawatan kesehatan, dan sterilisasi. Dana yang digunakan untuk melakukan aksi tersebut masih berasal dari kantong-kantong pribadi sukarelawan.

14 14

Setiap hari, ada sukarelawan pecinta kucing yang membawa makanan untuk para kucing. Pemberian makan untuk para kucing biasanya difokuskan di area yang memiliki populasi kucing yang melimpah seperti di depan perpustakaan dan terowongan Tamansari. Sama halnya dengan p e m b e r i a n makanan, perawat kesehatan dan sterilisasi untuk para kucing masih dilakukan secara mandiri oleh sukarelawan. Biasanya kucing-kucing yang mendapat perawatan adalah kucing yang sedang terserang penyakit atau memiliki infeksi. Kucing yang sakit ditangani dengan dua metode, yaitu pemberian obat oleh sukarelawan atau pemeriksaan langsung oleh dokter hewan. Sementara itu, sterilisasi bertujuan untuk mengurangi populasi kucing di area kampus agar para kucing yang tersisa dapat memperoleh kasih sayang dan kepedulian yang cukup dari para pecinta kucing. Populasi kucing yang terus meningkat dapat menyebabkan banyaknya kucing yang tidak terawat. Ada begitu banyak aksi mulia yang dilakukan para pahlawan kucing. Dengan harapan agar dapat memberikan aksi nyata secara maksimal, saat ini Komunitas Kucing ITB sedang berencana untuk membangun sebuah UKM yang bertemakan kucing. Semoga komunitas ini bisa terus memberikan aksi yang positif terhadap kucing-kucing di ITB!


KILAS

ia

aver

elia,

Industrial Design Exhibition, atau yang lebih dikenal sebagai Inddex, adalah pameran yang diselenggarakan oleh para mahasiswa program studi Desain Produk ITB. Pameran ini bertempat di selasar Gedung CADL ITB. Memasuki tahun keduanya di tahun 2018, tema yang diangkat adalah design entrepreneur. Produk yang ditampilkan adalah hasil karya milik mahasiswa Desain Produk 2014, Desain Produk 2015, dan Desain Produk 2016. Pameran ini berlangsung dari tanggal 27 hingga 29 September 2018, pukul 10.00 sampai 20.00. Menurut Fauzur Rahman (Desain Produk 2015) dan Christophorus Kyoto (Desain Produk 2015), mendesain produk sama seperti pekerjaan mendesain yang lain, tidak mudah. Oleh karena itu, acara ini bertujuan untuk menyadarkan mahasiswa akan hal tersebut. Saat mendesain produk, hal-hal yang harus diperhatikan bukan hanya estetika tetapi juga manfaat, problem solving, dan kemudahan produk ketika digunakan (human-centered). Salah satu contoh problem solving adalah membantu pengembangan industri kecil menengah dalam memproduksi suatu barang yang tidak sulit dibuat tetapi tetap memiliki nilai jual tinggi.

E

Proses yang perlu dilalui untuk membuat suatu produk tentu saja tidak mudah. Diperlukan beberapa tahapan seperti pengenalan material benda, teknologi, komunitas, mekanisme, analisis pasar, dan presentasi. Pada pameran, produk-produk yang ditampilkan dibagi berdasarkan proses dengan tambahan produk tugas akhir dan produk hasil kolaborasi bersama mahasiswa-mahasiswa dari Musashino Art University. Beberapa contoh produk yang dipamerkan adalah sepeda berkerangka pipa, tas dari pelepah pisang, meja dari rotan dan bambu, dan jam dari tulang hewan. Selain menampilkan produk-produk hasil karya mahasiswa Desain Produk, Inddex juga mengadakan acara lainnya. Pada tanggal 28 September, diadakan workshop kayu untuk pengunjung yang berminat. Pada tanggal 29 September, terdapat seminar yang mengundang alumni Desain Produk ITB. Waktu yang diperlukan untuk menyiapkan pameran kali ini adalah 3 bulan efektif. Dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya memerlukan waktu seminggu (dengan spontanitas dan tanpa tema), persiapan pameran tahun ini lebih lama dan lebih matang. Berdasarkan buku daftar pengunjung, terdapat sekitar 300 pengunjung yang datang setiap harinya. “Sebenarnya kami nggak terlalu peduli sama rame atau sepi, yang penting pameran kami bisa berdampak untuk mahasis-

ta lares C h e l

O

e Id vadn

ey X Audr

15


wa Desain Produk atau mahasiswa ITB lain,� ucap Fauzur. Mereka juga berharap agar pameran ini dapat diselenggarakan lagi di tahun-tahun berikutnya karena dapat memberikan manfaat untuk orang-orang. “Sama semoga acara bisa lebih bagus lagi,� tambah Christophorus.

Dokumentasi: Tim Dokumentasi Inddex 2018

16


KILAS

Oleh Anastasia C. A, Veronika Diah P, dan Dini Dermawan

K

eluarga Paduan Angklung (KPA) menyelenggarakan acara “Berangkat” pada hari Sabtu, 15 September 2018 di Basement CC Barat. Berangkat, yang merupakan singkatan dari Bermain Angklung Awal Banget ini, merupakan salah satu rangkaian acara dari kegiatan Dinamika KPA 2018. Dalam acara ini, para bucil (panggilan untuk calon anggota KPA) untuk pertama kalinya menunjukkan permainan angklung mereka. Selain menghibur penonton, aksi mereka juga dinilai oleh para juri. Para bucil dibagi menjadi lima grup. Setiap grup tampil secara bergantian dengan membawakan lagu yang berbeda pula. Beberapa lagu yang dipertunjukkan hari itu adalah “Hey, Soul Sister”, “Bunda”, dan “Baby”. Setelah itu, juri menilai penampilan mereka dan grup yang mendapatkan

nilai tertinggi dinobatkan sebagai Best Performance. Tak hanya Best Performance, ada juga penghargaan untuk Best Costume dan Best Player of the Team. Kali ini, tim 5 memenangkan penghargaan Best Performance dan tim 3 memenangkan penghargaan Best Costume. Fariha (FITB ’18), salah seorang Bucil, mengatakan bahwa banyak persia- pan yang dilakukan untuk mengikuti Berangkat. “Persiapan ikut Berangkat cukup banyak. Salah satunya latihan intensif sebanyak empat kali sebelum hari-H. Latihan tim 5 yang aku dapat itu tiap hari Senin sama Jumat jam 16.15 – 21.00 WIB. Latihannya itu enggak cuma main angklung, tapi latihan baca not dan juga sama sedikit olahraga tangan,” ujarnya. Suci (FMIPA ’18), salah seorang anggota

17


tim 2, mengatakan bahwa acara ini menyenangkan walaupun sempat kesulitan membagi waktunya. “Yang pasti kesannya seru dan menyenangkan. Seru bisa kenal banyak orang dari berbagai fakultas dan juga ketemu akang teteh yang ramah-ramah dan sabar banget waktu latihan tamper (tampil perdana). Sempet chaos buat bagi waktu antara kuliah, KPA, dan unit lainnnya. Tapi Alhamdulillah abis tampil itu udah agak lega, setidaknya udah nyelesain satu tahap dari perjalanan bucil-bucil KPA,� ujarnya. Setelah penampilan yang menarik dan juga pemberian hadiah, acara ini diakhiri dengan sesi foto bersama.

Dokumentasi: Tim Dokumentasi Dialektika

18


KILAS

SONGS OF JAZZ Oleh Sebastian Anthony, Veronika Diah P

K

amis, 27 September 2018. Sebuah konser bernama ‘Songs of Jazz’ diselenggarakan oleh ITBJazz di Aula Barat ITB. Kali ini, ITBJazz berkolaborasi dengan Marthin Siahaan, dan mengusung tema ‘Disney World’. Acara tersebut dibuka dengan kata sambutan dari ketua ITBJazz dan ketua acara konser lalu dilanjutkan dengan penampilan dari lima kelompok band. Suasana Disney World semakin lama semakin terasa, begitu pula lagu yang dimainkan semakin enak didengar. Acara semakin meriah karena diadakan kuis berhadiah voucher setiap pergantian

19


lagu. Jeremy Gunawan, mahasiswa jurusan kelautan 2017 yang memegang jabatan sebagai ketua divisi acara ini, memberikan beberapa informasi menarik tentang konser kali ini. Acara ini merupakan program tahunan yang diselenggarakan oleh badan pengurus dan sudah menjadi tradisi ITBJazz. Acara ini menjadi tempat atau ajang massa ITBJazz untuk mengeskpresikan dirinya melalui musik jazz, entah itu mengisi acara dengan bermain alat musik maupun bernyanyi. Calon ITBJazz sendiri belum diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara ini. Tema Disney Word, yang terkenal dengan kartunnya, digunakan karena Disney sendiri dekat dengan masyarakat. Banyak orang yang mengetahui lagu-lagu dari film Disney dan Kak Jeremy juga mengatakan, �Disney itu sangat erat dengan jazz. Kalau sering dengar di film atau di alunan musiknya, Disney tuh kebanyakan lagunya jazz semua sehingga banyak pe-

�Disney itu sangat erat dengan jazz. Kalau sering dengar di film atau di alunan musiknya, Disney tuh kebanyakan lagunya jazz semua, sehingga banyak penonton yang merasakan nostalgia.� nonton yang merasakan nostalgia.� Acara ini sudah dipersiapkan sejak bulan Juni. Setiap divisi juga memiliki kendalanya masing-masing, salah satunya adalah divisi acara yang terlambat menentukan tempat serta tanggal tampil. Tempat dan tanggal baru dapat dipastikan 21 hari sebelum acara berlangsung. Di samping itu, setelah pemilihan panitia, banyak panitia yang tiba-tiba menghilang sehingga banyak tugas sebuah divisi yang dikerjakan hanya oleh ketua divisinya. Walaupun banyak kendala yang dihadapi, Kak Jeremy berharap agar acara berjalan dengan lancar, terutama di bagian artis. Menurutnya, artis paling banyak maunya. Kak Jeremy sendiri belum dapat memenuhi kebutuhan artis tersebut secara pribadi, sehingga ia harus meminta bantuan orang lain

20

Dokumentasi: Tim Dokumentasi ITB Jazz Songs of Jazz

untuk bertanggung jawab kepada artis. Namun, secara keseluruhan, harapannya akan acara tersebut telah tercapai. Acara kemarin ramai; banyak orang yang datang. Beberapa alumni pun meluangkan waktu untuk hadir dan ikut meramaikan. Dari acara ini, Kak Jeremy belajar untuk tidak mengerjakan tugas terlalu dekat dengan deadline. Tugas seharusnya dikerjakan dari jauh-jauh hari, sedikit demi sedikit. Ia juga belajar untuk lebih tegas saat memegang jabatan yang penting supaya setiap ketua divisi tidak menanggung seluruh tugas yang seharusnya dapat dibagi-bagi dengan anggota divisi yang lain. Tidak lupa, Kak Jeremy juga mengucapkan terima kasih kepada calon ITB Jazz yang sudah datang.


KENCAN

MUSSA IZZANARDI WIJANARKO Mahasiswa FMIPA Termuda Oleh Efri L. D, Muhammad Akbar Sighab

Musa Izzanardi Wijanarko, mahasiswa Institut Teknologi Bandung kelahiran 24 Oktober 2002, adalah tunas muda Ganesha yang sempat menjadi pusat perhatian massa pada tahun 2017 setelah ia dinyatakan diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB. Sekarang berusia enam belas tahun, dua tahun lebih muda dari mahasiswa angkatannya, tidak menjadi penghalang baginya untuk melangkah lebih maju dari anak-anak pada umumnya. Berawal dari homeschooling dan belajar otodidak, Izzan mampu menembus SBMPTN 2017 dan masuk FMIPA ITB sebagai mahasiswa termuda.

21

21


“It will work somehow, YOLO!”

I

zzan memiliki ijazah tingkat SMA pada tahun 2016, tetapi ia belum berhasil dalam SBMPTN tahun 2016. Ia sempat berhenti satu tahun sebelum kembali dalam semangatnya dan akhirnya diterima sebagai mahasiswa baru ITB. Dunia ITB awalnya terasa asing bagi mahasiswa muda yang mengikuti UKM Genshiken ini karena ia tidak pernah menempuh pendidikan formal sejak sekolah tingkat dasar hingga sekolah menengah atas. Banyak hal yang harus Izzan sesuaikan dengan lingkungan yang baru. Kiat yang ia lakukan untuk mampu menembus SBMPTN memang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Izzan, yang tidak menempuh pendidikan formal, hanya bermodal belajar melalui buku-buku yang ia miliki dan belajar dengan dipandu oleh kedua orang tuanya. Meskipun awalnya ada kendala dalam menyesuaikan diri dengan suasana baru, lambat laun Izzan mampu menyesuaikan diri.

22

“Kesan kuliah di ITB tuh kayak merokok, lama-lama bisa membunuh,” gumam Izzan mengungkapkan kesannya tentang kampus gajah. ”Jangan sampai semangat euforianya berkurang, itu membantu. Terus kalau nggak kuat belajar sendiri, cari teman buat belajar kelompok. Belajar sendiri itu kayak susah gitu, sih,” ujarnya, mengungkapkan pesan kepada mahasiswa TPB 2018. Tentu membanggakan menjadi bagian dari kampus Ganesha dengan kelebihan yang Izzan miliki. Terpaut usia yang cukup jauh tidak lantas membuat Izzan merasa kesulitan atau bahkan menyerah, justru hal itu membuat Izzan merasa lebih bersemangat dalam menjalani perkuliahan. Izzan dan semangatnya dalam belajar, tanpa memandang usia yang lebih muda sebagai penghalang, adalah sebuah hal besar yang patut kita contoh.


SASTRA

CERITA DARI ATAS

AWAN Oleh Tito Satria Joel M, Vikha Puti Madani

23

N

ostalgia adalah rasa pedih yang paling mulia. Orang-orang yang bilang seperti itu. Omong kosong, pikirku. Hingga akhirnya hidup mempersilakanku untuk bertemu dengan rasa tersebut pada penerbangan kali ini. Aku selalu benci penerbangan, terlebih jika aku harus terbang tanpa teman. Aku benci berlama-lama menunggu waktu masuk ke pesawat, duduk diam sendirian selama di udara hingga pantat pegal, kemudian berdesakan untuk berebut keluar dari pesawat dan mengambil bagasi. Ditambah fakta mengenai ketidakpastian keselamatan, rasanya terbang bahkan bukan pilihan untuk melakukan perjalanan. Akan tetapi, kali ini berbeda. Aku terbang, tetapi aku tidak sendirian. Aku ditemani oleh tumpukan foto dan segudang kenangan pada pangkuanku. Hal-hal yang mungkin membuat perjalanan selama hampir 24 jam menuju Philadelphia ini sedikit tidak membosankan. Yah, aku tidak pernah sadar seberapa benar perkataanku barusan. *** Aku masih berusaha menghilangkan bekas tangisan dari pelupuk mataku saat aku berhasil menemukan tempat dudukku. Air mata ini adalah hasil dari pelukan terakhirku dengan Biru, kekasihku yang akan aku tinggalkan selama aku menempuh pendidikan di negeri seberang. Pada detik-detik terakhir sebelum berpisah, Biru masih sempat mengatakan, “Belajarlah membiarkan jarak memisahkan dan mempertemukan.� Kemudian Biru memberikan kecupan singkat di bibirku, kecupan pertama yang ia berikan sejak kami berpacaran beberapa tahun lalu. Kecupan itu pula yang membuat mataku banjir hingga masih terisak saat memasuki pesawat, mengingat bahwa aku akan sangat merindukan kecupan yang baru kukenal. Tidak ada siapa-siapa yang menyaksikan kejadian itu selain Jingga, sahabatku yang ikut mengantarku ke bandara dan kebagian tugas menjaga barang bawaanku saat kejadian itu berlangsung. Aku berusaha keras menghilangkan ingatan mengenai kecupan itu. Perjalanan masih panjang dan aku tidak ingin menyiksa diri. Aku memutuskan untuk membolak-balik memori di

23


pangkuanku. Keputusan yang buruk karena mata bengkakku mulai berkaca-kaca lagi. pangkuanku. Foto yang kulihat adalah foto ayah, ibu, dan kakakku. Aku terpaksa membuka memori yang sudah aku coba kubur sejak lama. Memori entah berapa tahun lalu, saat rasanya hidup meruntuhkan semua fondasi terbaik yang aku punya. Memori saat ayah berboncengan naik motor dengan kakak pada tengah malam untuk mencari kue ulang tahun ibu. Sayangnya, setelah dari toko kue, ayah dan kakak tidak pernah kembali lagi ke rumah. Mayat mereka ditemukan oleh pihak kepolisian keesokan pagi dengan kue ulang tahun yang sudah hancur di sebelahnya. Ibu menyalahkan ulang tahunnya atas kejadian itu. Ibu menjadi sering melamun hingga depresi, lalu kesehatan mentalnya terganggu. Sekarang ibu masih berada di rumah pemulihan dan aku masih menjadi anak tunggal yang tidak memiliki orang tua. Untungnya nenek mau memberikanku pertolongan finansial, walaupun aku harus belajar mandiri karena perhatian nenek lebih tercurah pada permainan poker daripada cucunya. Ayah adalah anak tunggal, sedangkan ibu memiliki saudara yang tinggal di Italia dan tidak pernah kembali lagi ke Indonesia. Bisa dibilang hidupku setelah kejadian itu rasanya seperti tidak punya keluarga kandung. Aku hanya memiliki Biru dan Jingga yang selalu ada untukku dan mendukungku. Foto selanjutnya yang membuatku terenyak adalah foto Biru dan Jingga dalam satu jepretan. Aku sendiri yang mengambil gambar ini ketika kami bertiga menikmati malam di alunalun. Aku dan Biru masih sebatas teman saat itu dan aku kira persahabatan kami akan abadi. Tidak disangka, ternyata Biru dan aku malah

24

menjalin ke jenjang yang lebih serius. Aku teringat, aku sering cerita pada Jingga apabila aku dan Biru bertengkar. Jingga adalah pendengar yang baik. Tidak pernah sekalipun ia memotong saat aku bercerita dan saran yang ia berikan selalu masuk akal serta tepat sasaran. Kabarnya, Biru juga sering cerita pada Jingga. Aku mengasumsikan hal itu benar karena Jingga sering memberiku informasi kecil, namun krusial yang bersinggungan dengan Biru. Bahkan Jingga pernah memberiku kabar bahwa ibunya Biru sedang sakit tifus, entah dari mana Jingga mengetahuinya. Aku sedih karena aku bukan orang pertama yang tahu dan semakin sedih karena pada saat itu aku sedang dalam masa karantina lomba debat. Aku tidak berkesempatan untuk menjenguk. Untungnya, Jingga bersedia menggantikanku menengok keadaan ibunya Biru. Aku merasa terwakilkan. Pada intinya, aku sangat bersyukur memiliki Biru dan Jingga dalam hidupku. Mereka berdua adalah orang kepercayaanku dan aku bertekad menjaga mereka. Aku senang memiliki mereka dan kurasa mereka merasakan hal yang sama. *** Tumpukan foto sudah habis kubolak-balik, namun penerbangan baru berlangsung 90 menit. Rasanya sudah tidak ada lagi yang dapat kulakukan selain duduk sendirian dan menunggu untuk sampai di bandara transit. Sesuatu yang aku benci. Aku memilih mengambil penutup mata di tasku dan tidur. Namun, aku mendapati benda yang asing dalam tasku. Sesuatu yang berbentuk seperti buku. Undangan pernikahan. Nama Biru dan Jingga tertera jelas di atasnya menggunakan tinta emas.


GELITIK

Di Balik OA Line Lucu di ITB oleh William Chang, Nisrina Nurulita, dan Dini Dermawan

Disclaimer: Kami tidak memberi refund bagi yang merasa waktunya terbuang membaca artikel ini.

A

plikasi bertukar pesan Line tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Aplikasi ini banyak digunakan karena interface yang gaul dan ramah, pilihan stiker yang beragam, dan linimasa yang ramai. Salah satu hal yang meramaikan linimasa adalah kiriman dari Official Account yang kita tambahkan sebagai teman. Di ITB, kita mengenal beberapa OA yang sudah lama menarik hati mahasiswa. Ketika gerah akibat UTS, para OA ini siap mendinginkan hati dan membuat kita tersenyum. Mari kita lihat beberapa dari mereka.

25


Mirip Itebe “Reborn”

Mahasiswa angkatan atas pasti ingat OA Mirip Itebe yang aktif dari tahun 2016 sampai awal tahun 2017. OA tersebut mencocokkan wajah mahasiswa ITB dengan tokoh publik maupun sesama mahasiswa ITB yang berwajah mirip. Kiriman pertamanya memiripkan wajah seorang mahasiswa Planologi’13, Adit, dengan penyanyi Tulus. Kiriman berikutnya tidak kalah seru, yaitu mencocokkan muka Presiden KM saat itu, Ardhi TA’13, dengan aktor Nicholas Saputra. Setelah OA itu tidak aktif, dibuatlah OA Mirip Itebe “Reborn” (reborn = lahir kembali). Pada kenyataannya, para admin OA ini tidak berhubungan maupun mengenal admin-admin lama Mirip Itebe. Jadi, bisa dibilang OA ini adalah sebuah inisiatif (dan keisengan) untuk membangun kembali sebuah tren yang sempat hilang. Bahkan, sekarang OA ini sudah meluas hingga memiripkan mahasiswa ITB dengan tokoh kartun. Admin Mirip Itebe “Reborn” sendiri memiliki jadwal yang sibuk. Seorang admin mengatakan bahwa ia menghabiskan kurang lebih tiga jam per hari mengurus OA ini. Mulai dari mem-filter submisi sampai kadang membuat caption. Khusus hari Minggu, jam operasional lebih sedikit dan hari Senin libur. Ketika ditanya apakah ada kesenangan tersendiri bagi admin ketika waktunya dapat digunakan untuk mem-

26

buat orang lain tertawa, admin menjawab, “Tidak terlalu, biasa saja. Hanya pelampiasan kejenuhan hingar-bingar akademik.” Seputar kehidupan OA Mirip Itebe “Reborn” sendiri, admin mengaku stabil-stabil saja dan tidak terlalu ada persaingan dengan OA Line lucu di ITB lainnya kecuali dalam jumlah adders. Pada dasarnya, tiap OA memiliki fokusnya masing-masing dan hanya Mirip Itebe “Reborn” yang memfokuskan diri dalam memiripkan wajah. Sampai saat ini, OA ini juga belum mendapat peringatan terlalu keras mengenai kirimannya. Biasanya, peringatan yang didapat hanya berupa komplain untuk meminta kiriman dihapus karena dianggap menyinggung. Selagi tidak ada komplain, kiriman akan tetap ada di linimasa untuk selama-lamanya.


Jomblo ITB

Ketika OA Jomblo UI semakin populer, sekelompok anak ITB melihat ladang potensi ITB yang penuh dengan mahasiswa jomblo. Akhrinya, dibuatlah OA Jomblo ITB pada tahun 2016. Para admin mula-mula masih tetap setia meluangkan dua jam sehari untuk mengurus submisi (which is literally minimal lima kali sehari), menerima kritik dan saran, sekaligus menampung curhatan mahasiswa yang kesepian. Banyak orang yang mengira Jomblo ITB sebagai sebuah OA match-making atau wadah mempertemukan para jomblo ITB yang sedang mencari pasangan hidup. Bagi maba, jauhkanlah gambaran itu dari benak kalian. Bagi kalian yang benar-benar ingin mencari pasangan, buatlah akun Tinder saja. Yakinlah bahwa peluangmu lulus dari kejombloan akan semakin kecil apabila masuk Jomblo ITB. Pada kenyataannya, OA Jomblo ITB dipenuhi dengan foto-foto (yang cenderung) aib dari mahasiswa-mahasiswa ITB (sekarang juga sudah ekspansi ke mahasiswa kampus lain) beserta kelebihan, kekurangan, dan tingkat kewibuan yang nyeleneh. Ya, OA Jomblo ITB sebenarnya adalah OA lucu-lucuan layaknya OA yang telah dibahas sebelumnya. Soal konten, admin mengaku hanya mengopikan apa yang dikirim submitter. “Kenapa seperti itu, jujur saja kami tidak tahu,” kata seorang admin. Salah satu format unik yang harus disertakan di submisi adalah tingkat kewibuan. Pihak admin mengatakan bahwa format awalnya hanya kelebihan dan kekurangan. Seiring berjalannya waktu (dan semakin mudahnya akses kepada anime full HD), banyak sekali submitter yang mencantumkan wibu sebagai kelebihan atau kekurangan. Admin menganggap hal tersebut unik sehingga menjadikan tingkat kewibuan sebagai format wajib. Ketika ditanya soal korelasi jomblo dengan wibu, admin hanya berkata, “Tidak berkorelasi saya rasa sih.” Pada dasarnya, admin Jomblo ITB tidak menganggap kejombloan anak-anak ITB sebagai sesuatu yang meresahkan maupun

masalah yang harus diselesaikan. Meskipun belum pernah meriset persentase, kuantitas, maupun kualitas jomblo di ITB, admin berpendapat bahwa kejombloan anak ITB masih di tingkat wajar. Mengenai dilema pacaran saat masa kuliah, admin menjawab, “Tergantung orangnya masing -masing. Jika merasa berpasangan, bisa ngasih dukungan emosional ya lakukan. Jika merasa merepotkan, ya jangan.” Akan tetapi soal apakah admin Jomblo ITB sendiri jomblo atau tidak, itu masih belum bisa kami beritahukan.

27


Kapal ITB

Melihat tren OA yang sudah ada, seorang mahasiswa melihat bahwa masih belum ada OA yang bertemakan shipping mahasiswa ITB. Ia pun lalu mendirikan OA Kapal ITB (ya, nama Kapal ITB diambil dari istilah shipping, bukan karena berkaitan dengan teknik perkapalan atau sebagainya). Di pop-culture sekarang, istilah shipping sendiri berarti “mencocokkan dan mendukung seorang dengan yang lain menjadi sebuah pasangan”. Submitter cukup memberi foto “pasangan” (bisa antarsesama mahasiswa ITB, mahasiswa ITB dengan anak kampus lain, ataupun dengan tokoh kartun) yang ingin di-ship beserta alasan kenapa mereka cocok. Berhubung masih baru, admin mengaku submisi masih relatif sedikit dan satu jam per hari sudah cukup untuk mengurus OA ini. Status OA baru tidak menjadikan Kapal ITB imun terhadap kritik. Ketika baru berdiri, kebanyakan kiriman adalah shipping antara cowok dengan cowok. Melihat itu, ada pihak yang memberi peringatan untuk jangan kebanyakan mengirim foto shipping sesama jenis karena secara tidak langsung bisa disalahartikan sebagai dukungan kepada LGBT. Terlebih lagi, nama “ITB” di Kapal ITB menjadikan masalah itu semakin serius. Oleh karena itu, admin sudah menahan beberapa submission terkait shipping cowok-cowok maupun cewek-cewek, dan mengimbau para adder untuk mengirim shipping cowok-cewek. Ada salah satu kiriman unik Kapal ITB yang isinya seorang mahasiswa di-ship dengan Kizuna Ai, seorang karakter anime sekaligus artis Youtube. Kiriman ini bahkan telah dibagikan oleh Jomblo ITB dengan caption ia dianggap lulus dari kejombloannya karena telah bersama waifu-nya tercintanya tersebut. Admin kapal ITB menganggap bahwa shipping mahasiswa dengan karakter anime bukanlah sebuah masalah karena itu hanya perluasan dari format meng-ship orang dengan tokoh kartun. Ketika ditanya soal femomena wibu dan waifu yang semakin marak di kampus, admin berkata, “Perubahan bukan sesuatu yang tidak mungkin.”

28


LANGKAH

Budaraa Kozi 2.0 Oleh Luthfi Risalullah A, Dini Dermawan

B

udaraa Kozi 2.0 adalah sebuah proyek kolaborasi antara coffee shop Kozi 2.0 dengan Budaraa. Kolaborasi ini terjadi karena owner Kozi memiliki afiliasi dengan owner Budaraa sehingga terbentuklah Budaraa Kozi 2.0. Nama ‘Kozi’ sendiri dipilih karena pemilik Kozi ingin memberikan nuansa nyaman di coffee shopnya (kozi adalah adaptasi dari cozy), sehingga bisa dipakai untuk belajar dan nongkrong bersama teman. Hal ini terlihat dengan bentuk coffee shopnya yang seperti rumah. Nuansa dekorasi rumahan sangat melekat di kafe ini dengan adanya sofa, teras halaman, dan berbagai lukisan di dalamnya. Menu Sebagai coffee shop, Kozi mempunyai minuman khasnya

sendiri, yaitu Es Kopi Pisang Susu (Kosangsu). Sementara itu, terdapat juga dua jenis makanan yang dijual, yaitu makanan berat dan snacks. Salah satu makanan beratnya adalah smoked brisket yang bisa dipadukan dengan buttered rice atau mashed potato. Ada juga banyak pilihan makanan ringan yang bisa kita coba, seperti churros dengan saus coklat, brownies coklat, matcha greentea, donat, dan lain-lain. Untuk minumannya, kafe ini juga menyediakan banyak variasi selain kopi, seperti teh dan soda. Kisaran harganya dimulai dari yang termurah seharga Rp5.000 sampai yang lumayan mahal seharga Rp55.000 sehingga masih bisa disesuaikan untuk kantong anak muda.

Tempat Budaraa Kozi 2.0 terletak di Jl. Bukit Dago Utara No. 28 dengan waktu operasional dari jam sepuluh pagi hingga sepuluh malam. Menjelang senja, kita bisa melihat banyak anak muda memenuhi kafe ini. Kozi juga menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis sehingga tempat ini sangat cocok untuk sekadar bercengkerama bersama teman-teman ataupun belajar dan mengerjakan tugas bersama.

Dokumentasi: Tim Dokumentasi Dialektika

29


LANGKAH

JIGOKU RAMEN

Ramen Murah Enak di Lidah Oleh Claresta Evadne Adelia, Bunga Saushan Aisha

S

udah cukup banyak tempat makan ramen, kuliner berupa mie kuah yang berasal dari Jepang, di Bandung. Sayangnya, hanya sedikit tempat yang memiliki cita rasa yang sangat lezat dan harga yang pas di kantong (terutama kantong pelajar atau anak indekos). Jigoku Ramen adalah salah satu dari sedikit tempat itu.

30


Alamat

Jl. Cikutra No. 143, Cibeunying Kaler, Bandung

Jam Buka

10.00 - 22.00 (Jumat tutup)

Rasa 9/10

Pelayanan 7/10

Porsi 8/10

Suasana 8/10

Tempat Harga 7/10 9/10

TOTAL

8,0

Dokumentasi: www.fun-japan.jp

Ramai dan Perlu Reservasi

Nama Jigoku diambil dari salah satu mata air yang berada di Jepang, Mata Air Jigoku, yang warna airnya merah seperti darah. Arti Jigoku secara harafiah adalah neraka. Dengan begitu, arti Jigoku Ramen adalah ramen yang memilki kuah sangat pedas (merah) dan membakar lidah (neraka). Inilah yang membuat cita rasa ramen Jigoku sangat disukai banyak pelanggan—orang-orang Indonesia, yang mayoritas suka makan makanan pedas.

Menu dan Harga

Banyak menu yang ditawarkan di Jigoku Ramen—dari jenis ramennya, makanan sampingan (side dish), minuman, sampai jenis kuah ramen yang diinginkan dan level kepedasan ramen. Harganya pun tidak terlalu mahal, kisaran Rp10.000,00 sampai dengan Rp26.000,00 (pengecualian untuk ramen yang porsinya sangat sangat besar.)

Dokumentasi: Instagram @jigoku_ramen

Jigoku itu apa sih?

Jigoku Ramen berada di Jl. Cikutra No.143, Bandung. Tempatnya tidak jauh dari wilayah sekolah dan kampus (dekat dengan Universitas Widyatama). Dengan target penjualan berupa anak muda, tempat ini tak pernah sepi pengunjung. Pengunjungnya tidak hanya anak muda yang berasal dari sekolah atau kampus di dekat sana, tetapi juga anak muda di daerah lain. Kalangan orang tua dan pekerja pun tidak jarang kita temukan. Saking ramainya, di waktu-waktu tertentu, pengunjung perlu melakukan reservasi agar mendapat tempat duduk.

31


JATINANGOR

Transnangor

ANDALAN MAHASISWA TAPI SISTEM BELUM MUMPUNI Oleh Maria Sinta, Dini Dermawan, dan Theresa Tri

D

engan jarak sekitar 25 km, Jatinangor-Bandung bukanlah jarak yang bisa ditempuh dengan cepat dan juga bukan jarak yang masuk akal untuk ditempuh pulang pergi—terlebih lagi bila mengendarai kendaraan pribadi dengan kondisi fisik tubuh yang bisa dibilang kurang prima setelah berjam-jam kuliah. Maka dari itu, demi mewujudkan konsep multikampus yang ideal, diadakan sebuah mode transportasi penghubung kampus Ganesha dan Jatinangor yang dinamakan Transnangor. Kemunculan Transnangor ini tentu saja menjadi sebuah jawaban yang ditunggu-tunggu mahasiswa multikampus ITB. Selain karena punya satu tempat penjemputan dan satu tempat penurunan serta keamanan yang terjamin, Transnangor ini juga gratis.

32


Apakah Transnangor diminati? Sangat diminati, sampai-sampai mahasiswa rela menunggu beberapa jam sebelumnya untuk menaiki Transnangor. Sangat diminati, sampai-sampai mahasiswa pengguna Transnangor menganggap dirinya berada dalam film Hunger Games. Mengapa bisa seberlebihan itu? Tidak lain tidak bukan adalah karena keterbatasan armada yang diluncurkan per harinya. Dalam satu hari, jam keberangkatan Transnangor, baik dari Ganesha ke Jatinangor dan sebaliknya, hanya dibagi menjadi 3 shift. Keberangkatan dari Ganesha untuk Senin sampai Kamis terdapat pada pukul 6.30, pukul 11.00, dan pukul 17.00. Jadwal keberangkatan dari Ganesha untuk hari Jumat sama seperti hari lain tetapi keberangkatan siangnya ada pada pukul 10.30. Sementara itu, keberangkatan dari Jatinangor untuk hari Senin sampai Jumat terdapat pada pukul 7.45, pukul 13.00, dan pukul 18.30. Tak hanya itu, setiap shift Transnangor hanya memberangkatkan satu armada berkapasitas 27 orang. Angka itu masih sangat jauh dari yang seharusnya disediakan untuk menyesuaikan animo mahasiswa multikampus. Menanggapi masalah ini, pihak penyelenggara kini mulai menerapkan sebuah sistem agar antrean lebih tertib, yaitu dengan menempelkan kertas bertuliskan angka di tempat tunggu. Di tempat itulah mahasiswa harus duduk diam menunggu sampai Transnangor menjemput mereka. Tidak diperbolehkan hanya menaruh tas dan tidak boleh menitipkan tempat

33


Dokumentasi: Tim Dokumentasi FSRD 2017 Jatinangor

34

pada teman. Intinya, jika sudah mendapat tempat yang bernomor, kita harus duduk diam menunggu jika tidak mau tempatnya diambil orang lain. Apakah solusi yang diberikan penyelenggara sudah tepat? Untuk sekadar menertibkan antrean, ya. Akan tetapi, bagaimana solusi untuk mengimbangi jumlah mahasiswa multikampus yang membutuhkan Transnangor? “Transnangor sangat perlu menambah armadanya.” ungkap Umar Hilmi F. TPP’15. Seorang mahasiswa lain mengatakan ia mau membayar ongkos naik jika memang itu lebih baik. “Saya masih mau naik Transnangor jika berbayar, maksimal Rp4.000,00,” ujar Ichsan Rama RIL’16. Masalah mengenai terbatasnya jumlah armada Transnangor rasanya bukan terjadi baru-baru ini saja. Meski demikian, apakah baru ini saja upaya yang dilakukan Transnangor untuk memperbaikinya? Sesulit itukah untuk mempunyai armada baru jika mahasiswa penggunanya bersedia untuk membayar? Transnangor, yang dahulu digagas mahasiswa untuk mendukung sistem multikampus yang diterapkan ITB, kini dirasa menjadi salah satu kebutuhan terpenting dan mendasar bagi mahasiswa multikampus ITB. Oleh karena itu, penyediaan fasilitas yang memadai sangatlah diperlukan untuk terciptanya keselarasan multikampus ITB.


REVIEW FILM

CRAZY RICH ASIANS Inikah Kisah Kasih di Balik Kehidupan Konglomerat Asia?

oleh Priquela Apriliya, Dini Dermawan

35


D

i antara berbagai film yang beberapa waktu lalu tampil di layar lebar, Crazy Rich Asians sukses menjadi salah satu perbincangan panas para penikmat film. Film garapan John M. Chu yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Kevin Kwan ini menarik perhatian banyak orang, baik dari para movie-goers atau penonton biasa. Crazy Rich Asians merupakan salah satu film Hollywood berlatar belakang kebudayaan Asia. Setelah sekian lama dunia perfilman Asia tidak menapaki kancah Hollywood, film ini hadir untuk menjadi film pertama yang melibatkan orang-orang Asia sebagai pemeran utamanya. Meski demikian, film ini tergolong sukses dengan menghasilkan lebih dari $190 juta worldwide dan mendapatkan kritik yang bagus dari segi desain, produksi, maupun skenarionya. Kesuksesan film ini tidak lepas dari hadirnya para pemain hebat, lokasi glamor, lelucon menghibur, dan terutama alurnya yang sangat sentimental. Pada dasarnya, film ber-genre romance-comedy ini mengisahkan tentang kisah cinta biasa antara seorang konglomerat Singapura berdarah Tionghoa dengan kekasihnya yang berdarah Tionghoa-Amerika. Kisah dimulai dengan cerita mengenai Nick Young (Henry Golding), konglomerat Singapura dan kekasihnya, Rachel Chu (Constance Wu), seorang perempuan berdarah Tionghoa yang tinggal di Amerika. Rachel adalah seorang female protagonist yang cerdas, cantik, percaya diri, dan memiliki semangat yang kuat dalam menjalani profesinya sebagai profesor ekonomi di NYU, Amerika. Sementara itu, Nick Young adalah seorang anak dari keluarga konglomerat Singapura. Pada pesta pernikahan sahabatnya, Nick memutuskan untuk memperkenalkan Rachel kepa-

36

da keluarganya. Tentu saja hal ini menyebabkan berbagai kericuhan di antara keluarga mereka. Konflik dimulai ketika ibu Nick, Eleanor Young (Michelle Yeoh), tidak menyetujui hubungan mereka. Selain itu, terdapat juga kerabat serta teman Nick yang tidak menyukai Rachel. Kekuatan Rachel dan Nick sebagai sepasang kekasih pun diuji. Selain lika-liku hubungan Nick dan Rachel, hubungan antara Nick dengan keluarganya juga menjadi highlight dalam film ini. Walau dengan plot dan konflik yang dapat terbilang klise, film ini dikemas dengan baik sehingga mampu menonjolkan latar cerita dengan sempurna. Berbagai adegan yang menunjukkan sifat “crazy rich asians� itu sendiri sukses membuat banyak penonton terkagum-kagum, dimulai dari perumahan yang indah, pakaian dan gaun yang glamor, serta gaya hidup yang digambarkan. Karakter dari tiap tokoh film ini juga patut diapresiasi karena memiliki kekhasannya masing-masing. Tiap-tiap tokoh memiliki sifat yang realistik dan mudah disukai. Dimulai dari Rachel, pemeran utama wanita yang bukanlah typical female lead film-film romcom pada umumnya. Rachel memiliki sisi outgoing-nya sendiri yang membuat penonton lebih merasa terhubung terhadap karakternya. Salah satu yang paling menarik adalah sifat Rachel yang tidak membutuhkan pria untuk selalu melindunginya, melainkan kemampuannya untuk menunjukkan kekuatan seorang wanita. Selain Rachel, tokoh lain yang juga paling mengundang perhatian di film ini karena keunikannya adalah sahabat perempuannya, Peik Lin (Awkwafina). Peik Lin dan segala tingkah penuh kekonyolannya sukses membuat penonton tertawa terbahak-bahak di tengah film. Selain itu, pemeran utama laki-lakinya, Nick Young, adalah seorang tokoh yang pasti diidam-idamkan seluruh


“It was never my job to make you feel like a man. I can’t make you something you’re not.” – Astrid Young

penonton setelah menyelesaikan film ini. Nick digambarkan sebagai seorang yang rendah hati—walaupun lahir dari keluarga terkaya di Singapura—dan romantis. Eleanor Young, ibu Nick, meskipun menjadi antagonis utama dari film ini, tidak digambarkan sebagai seseorang yang jahat dan tidak punya hati, melainkan hanyalah seorang ibu yang ingin melindungi keluarganya dan akan melakukan apapun untuk putranya. Kisah antara tokoh-tokoh konglomerat lainnya selain Rachel dan Nick juga mendukung keseluruhan cerita utama. Selain itu, adegan-adegan emosional diperankan dengan sangat baik oleh para aktris dan aktor, serta didukung dengan alunan musik yang baik dari soundtrack film ini. Adegan ro-

mantis dan sentimental antara Rachel dengan Nick maupun adegan menyentuh antara keduanya dengan ibu mereka masing-masing diproduksi dengan sangat baik dan dijamin akan menyentuh hati para penonton. Berbagai skenario digambarkan dengan begitu indahnya sehingga penonton hampir menitikkan air mata. Film ini juga mampu mengangkat hal yang sudah tidak asing lagi kita dengar, seperti soal identitas etnik maupun budaya Asia seperti pandangan tentang orang tua yang terlalu mengatur kehidupan anaknya. Secara garis besar, film ini perlu diberi acungan jempol karena kualitasnya. Crazy Rich Asians adalah suguhan jelang akhir tahun yang terlalu bagus untuk dilewatkan karena bisa

dijamin bahwa film ini akan membuat penontonnya tertawa, sedih, tersenyum, dan yang paling utama, terhibur.

Dokumentasi: theatlantic.com, PopSugar, dan WordPress

37


REVIEW BUKU

“Bukan

Sekadar

Kebahagiaan � oleh Gabriella Yovanda dan Muhammad Febrilian Judul buku : The Giver Penulis : Lois Lowry Tahun terbit : 1993 Penerbit : Houghton Mifflin Jumlah halaman: 232 halaman

B

anyak orang mengatakan bahwa hidup adalah tentang kebahagiaan. Mereka berpikir bahwa hidup adalah ketika kita mampu mencapai kebahagiaan—dan sebaliknya, hidup kita tidak akan terasa berarti apabila ada kesedihan, kekecewaan, atau kegagalan didalamnya. Lalu, bagaimana kalau kita mencoba untuk menghilangkan segala keburukan yang terjadi dalam hidup kita? Bagaimana jika kita coba menciptakan sebuah kehidupan yang hanya ada kebahagiaan di dalamnya? Kita ciptakan dunia yang tanpa cela. Putih dan polos. Keadaan seperti inilah yang digambarkan oleh Lois Lowry dalam bukunya ini. Sebuah kondisi yang di dalamnya semua adalah sempurna. Dunia yang digambarkan dalam novel ini adalah dunia sempurna, yang bernama community. Sebuah komunitas yang terisolasi dari dunia luar. Sebuah tempat tanpa kemiskinan, kelaparan, perang, dan bahkan kesakitan. Semuanya sempurna, karena community telah diatur oleh para petinggi yang disebut elders. Mereka membuat community sebagai surga yang nyata, tempat setiap orang berpasang-pasangan, mempunyai keluarga yang

38


Cover: Lo

is Lowry

lengkap, pakaian yang teratur, dan memiliki pekerjaan. Orang-orang dalam community tidak akan merasakan sakit, tidak bisa melihat warna, atau pada dasarnya tidak bisa merasakan apapun, sebab seluruh ingatan mereka telah dihapus. Akan tetapi, memori itu tidak hilang begitu saja. Memori itu dilimpahkan kepada seseorang yang memiliki tugas untuk memegang kendali ingatan kehidupan yang sesungguhnya, yang disebut sebagai The Giver. Hanya dia yang mengetahui dan mengerti apa itu warna, rasa sakit, kebahagiaan, dan kesedihan. Semua ini didesain secara sengaja oleh para elders karena mereka mempunyai suatu pandangan bahwa dunia tempat orang-orang bisa melihat warna, merasakan berbagai emosi, sakit maupun kesedihan, adalah dunia yang kejam dan berbahaya. Jonas, seorang anak kecil berumur 12 tahun, menjalani kehidupan seperti anak-anak community pada umumnya. Belajar dan bermain. Tidak ada yang spesial dalam hidupnya, dan semua terasa monoton. Tibalah saatnya ia dinyatakan sebagai The Next Giver, seseorang yang akan menggantikan The Giver sebelumnya untuk memegang kendali terhadap memori kehidupan. Segala memori yang diberikan kepadanya membuat Jonas menyadari bahwa dunia bukan hanya sekadar dunia yang ia rasakan selama ini. Dunia bukanlah hanya hitam dan putih, tapi juga merah, kuning, ungu, hijau, dan warna lain. Dunia bukan hanya sekadar senyuman, tapi juga tangisan. Dunia bukan hanya soal kebahagiaan, tetapi juga

kesedihan. Hal ini akhirnya membuka pikiran Jonas bahwa semua orang di dunianya telah salah mendefinisikan hidup. Memang benar bahwa segala keteraturan, kemakmuran, dan kebahagiaan adalah yang paling penting dalam hidup. Meskipun begitu, hidup tidak akan lengkap jika tidak ada kekecewaan, kegagalan, kesedihan, dan segala kekurangan lainnya. Segala kebahagiaan dan kesedihan adalah bagian dalam hidup yang akan membuat manusia belajar menjadi manusia yang seutuhnya dan membuat hidup itu terasa hidup. Buku ini sangat direkomendasikan untuk remaja maupun dewasa. Selain sebagai hiburan, buku ini juga memiliki banyak pesan yang bisa kita hubungkan dengan dunia nyata. Dengan berbagai plot twist nya dan karakter menarik, buku ini mampu membuat pembaca dapat merasakan lika-liku alur ceritanya. Cara penyajian dan kata-kata yang digunakan dalam buku ini juga mudah dipahami oleh pembaca sehingga pembaca tidak akan pusing saat membacanya. Namun, tentunya buku ini memiliki kekurangan, yang mana pada awal cerita, tidak dijelaskan terlebih dahulu latar belakang dari karakter maupun peristiwa-peristiwa tertentu sehingga pembaca akan kesulitan memahami pada awal ceritanya. Meskipun begitu, secara keseluruhan buku ini sangat baik untuk dibaca dan penting dalam mempelajari tentang literatur yang baik.

39


GALERI

40


SUDUT MATA Fotografi oleh Vikha Puti Madani

41


Fotografi oleh Dini Damarpertiwi Dermawan

42


Fotografi oleh Dini Damarpertiwi Dermawan

43


Fotografi oleh Naufal Abiza Utama DKV FSRD 2017

44


Fotografi oleh Naufal Abiza Utama DKV FSRD 2017

45


OPINI

oleh Efri L. D, Patricia, dan Vikha Puti Madani

S

etelah mengikuti OHU pada akhir bulan Agustus kemarin, tentu para mahasiswa, khususnya mahasiswa baru, sedang giat-giatnya mengikuti rangkaian acara pada unit masing-masing. Dalam hal ini, tentu kita semua tidak asing dengan kata “kaderisasi�. Benar, kaderisasi. Sebenarnya bagaimana pandangan para mahasiswa mengenai kaderisasi itu sendiri? Kemudian, dampak apa saja yang mereka rasakan dengan adanya kaderisasi?

46


Pada dasarnya, kaderisasi adalah kegiatan yang di dalamnya mahasiswa lebih berpengalaman dari suatu unit untuk menurunkan nilai-nilai dalam unitnya kepada penerus unit tersebut. Para mahasiswa yang mengikuti kaderisasi unit tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai kaderisasi. Ada sebagian yang menganggap bahwa kaderisasi diperlukan untuk lebih mendalami segala hal tentang unit yang diikuti. Sekalipun terkadang merasa tugas dari suatu kaderisasi terasa memberatkan, mereka menganggap tetap ada suatu hikmah yang dapat dipetik di balik itu semua. Salah satunya adalah mendekatkan satu dengan yang lain antarsesama calon anggota unit maupun antara calon anggota dengan mahasiswa pengkader dan tingkat atas di unit itu lewat tugas wawancara yang diberikan. Jika dipikir-pikir kembali, membangun relasi seperti ini sangatlah penting untuk mempersiapkan kerja tim ketika sudah resmi menjadi anggota unit. Bagi beberapa mahasiswa pengkader, tidak adanya kaderisasi bisa lambat laun melunturkan esensi dari unit itu sendiri. Menurut mereka, kaderisasi penting untuk membuat mahasiswa yang baru terjun ke dunia unit tersebut tidak terlalu kaget akan suasana unit tersebut, dan agar mereka masih mampu menurunkan nilai yang dirasa patut dilestarikan dalam unit tersebut. Namun, pada prakteknya, tak sedikit pula mahasiswa yang menganggap bahwa kaderisasi dalam suatu unit terasa memberatkan. Ada

yang merasa bahwa beberapa kaderisasi telah melenceng dari tujuan awalnya. Ada juga beberapa mahasiswa yang menganggap bahwa tugas dalam kaderisasi mengganggu tugas lain dalam bidang akademik. Di sisi lain, banyak juga mahasiswa baru yang sulit menjalankan tugas kaderisasi karena masih merasa asing dengan lingkungan kampus. Meskipun kaderisasi menuai pro dan kontra bagi mahasiswa satu dengan yang lain, banyak manfaat yang dapat kita dapatkan dari kaderisasi. Sesuai dengan fungsi awalnya, kaderisasi dibuat bukan semata untuk memberatkan mahasiswa dalam memasuki suatu unit, melainkan agar mahasiswa lebih paham mengenai unit yang dipilih, mendapatkan nilai-nilai dalam unit tersebut, serta membuat lebih mengenal satu sama lain. Jadi, tidak ada salahnya mengikuti kaderisasi selama kaderisasi itu tidak melanggar hukum, HAM, maupun mendiskriminasi sekelompok orang atas dasar SARA. Segala keputusan kembali kepada diri kita masing-masing. Ketika kita memilih untuk mengikuti suatu unit dengan alasan yang matang dan tekad yang kuat, tentu kita tidak akan dengan mudah meninggalkan unit tersebut hanya karena kaderisasinya yang terkesan “tidak manusiawi�. Kita pasti bisa melewatinya selama kita mau dan mampu mengatur waktu. Jadi, apapun bentuk kaderisasinya, kita harus mau melihat dari berbagai perspektif. Jangan hanya berpikiran sempit dan terus mengeluh tetapi tanyakan dan dengarkan juga pendapat orang lain. Kumpulan Dokumentasi Pribadi

47


12 Oktober 2018 DIALEKTIKA

Dialektika 2018  

Ca-Bouls 2018 mulai menunjukkan kebolehannya dengan menghadirkan karya perdana, DIALEKTIKA. Memperhatikan berbagai macam perubahan yang ten...

Dialektika 2018  

Ca-Bouls 2018 mulai menunjukkan kebolehannya dengan menghadirkan karya perdana, DIALEKTIKA. Memperhatikan berbagai macam perubahan yang ten...

Advertisement