Issuu on Google+

Gratisan

Vol. 2/2. Juni 2009

Berbeda untuk Lebih Bergairah

Dayak Iban Sui Utik

Tinggalkan Bajalai Demi Kelestarian Lingkungan

Duit Dapet, Bumi Selamet

Ekobisnis Pilihan yang Menyelamatkan Lingkungan

Arrgghh... Berisik!!!! Kurangi Kebisingan Sekarang Juga!

www.mapalaui.info/jejak


Jejak Utama

14

Halo Jejakers!!!

Arrgghh... Berisik!!!!

Kurangi kebisingan sekarang juga!

Ada satu hal yang menarik setiap kali kita menyaksikan pertandingan atletik sub-cabang lari estafet. Makna harfiah di balik beralihnya tongkat estafet dari pelari yang satu ke pelari berikutnya, lalu sampai di garis finish terdepan. Mungkin ini yang tengah Jejak alami. Ketika tongkat estafet pemimpin redaksi beralih dari Sdri. Dien Nurdini kepada saya. Tantangannya pasti akan semakin besar karena di edisiedisi sebelumnya saya duduk di bangku redaktur pelaksana, kini di bangku pemimpin redaksi. Tapi bagi saya, ini menjadi sebuah tanggung jawab tersendiri. Untuk terus melanjutkan tongkat estafet ke pelari berikutnya, tentu bukan membawa tongkat ini ke garis finish. Isu-isu mengenai lingkungan terus berkembang dewasa ini, dari global warming hingga green lifestyle. Sound pollution pun ada di dalam lingkaran isu lingkungan tersebut. Ketika semua orang ‘sibuk’ dengan masalah polusi udara atau mungkin polusi air, polusi suara seperti dianaktirikan. Entah karena kurang populer, entah karena terlalu populer sampai-sampai enggak kita sadari keberadaannya. Padahal efeknya bagi kita, baik fisik maupun psikis, jelas-jelas sangat berbahaya. Oleh karenanya, Jejak edisi ke-4 kali ini akan mengangkat masalah polusi suara sebagai rubrik utamanya. Selain masalah mengenai polusi suara, sajian informatif khas Jejak lainnya juga coba dikemas semenarik mungkin; selukbeluk dunia ekobisnis, dan tentunya tidak lupa juga cerita perjalanan yang kali ini ngebahas masyarakat Dayak Iban di Dusun Sui Utik, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Terkait dengan berlangsungnya seleksi penerimaan anggota baru dalam Badan Khusus Pelantikan (BKP) Mapala UI 2009, dihadirkan juga reportase berupa cerita perjalanan ke Gunung Gede, Jawa Barat hasil ketikan salah seorang calon anggota Mapala UI. Penasaran? Langsung aja deh dibaca...

Kebisingan Jakarta, kebisingan kota. Polusi suara.

Let’s enjoy it... PRIHANDOKO

“Hidup Harus Lebih dari Sekedarnya...”

Budi Laksmono/M-236-UI (Alm.)

Sofyan Nurhadi

GAYA LO, GAYA GUE

6

DUIT DAPET, BUMI SELAMET

Ekobisnis pilihan yang menyelamatkan lingkungan Pengusaha di sektor ekobisnis, sebagai sebuah sektor usaha yang bergerak di bidang lingkungan, secara sadar atau tidak biasanya adalah mereka yang peduli terhadap lingkungan. IST

JEJAK ALAM

18

TINGGALKAN BAJALAI DEMI KELESTARIAN LINGKUNGAN

KOTAK SURAT

2

TAHUKAH KAMU?

2

REKOMENDASI

2

KELILING KAMPUS

3

JEJAK WAKTU

4

DAUR ULANG

5

DALAM KENANGAN

9

REPORTASE

10

AGENDA 24

Seiring dengan meningkatnya pencemaran lingkungan di Kalimantan, suku Dayak Iban di Dusun Sui Utik, Kapuas Hulu justru semakin mencintai lingkungan tempat tinggal mereka. Tradisi ber-bajalai pun ditinggalkan demi hal ini. SETO WARDHANA DOK. mapala ui

JEJAK INSPIRASI

Gaya arung jeram mapala UI tahun 1990an, Sungai Tripa, Aceh Tengah.

22

untuk peduli kudu konsisten “Jika kita konsisten terhadap sesuatu, maka sesuatu itu akan memberikan kehidupan kepada kita…” Suwardi Hagani

DITERBITKAN OLEH: BIRO PEMINATAN BP MAPALA UI 2009; BEREDAR GRATIS Empat BULANAN FOTO SAMPUL Suku Dayak Iban Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Foto oleh Seto Wardhana

Berbeda untuk Lebih Bergairah Fikri Muftih

Pemimpin Redaksi: prihandoko; Redaktur Pelaksana: Ade Sulaeman; Senior Editor: Adiseno; Koordinator Artistik: Wahid Nurfiantara, Sofyan nurhadi, seto wardhana; Pemasaran: annisa rahmania; Produksi dan Distribusi: m. ary tridharma; Fotografer: Fikri Muftih, M. Fauzan, SAhala Rodotuo, KANENORI MIURA; Kontributor: Zulbahri, Enos Primo, Dian Ekawati, Sofyan Nurhadi, Rizky Fitrahadi, FERI SYAMSU NUGROHO Alamat redaksi: Sekretariat Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) Kampus Baru UI, Depok. telp. (021) 7888 4872.

majalahjejak@gmail.com


KOTAK SURAT

KELILING KAMPUS

Majalah kampus yang beda, artikel-artikel yang disuguhkan informatif dan inspiratif. Gud luck buat Jejak, semoga tetap menjejak di kampus. Meriska Angelina FKM UI

Jejak edisi 3 menarik banget, selain bisa ngasih info tentang pentingnya hutan kota, majalah ini juga ngingetin gue tentang momenmomen yang sebelumnya gue anggep remeh. Bagian yang paling gue suka dari majalah (Jejak edisi 3) ini di bagian jejak waktu dan jejak alam tentang perjalanan ke Pulau Komodo. Salut dah buat anak-anak Mapala UI yg udah nerbitin majalah ini. Sukses truz yak!

Apakah Fakultasmu Cukup Nyaman dari Kebisingan?

Halo redaksi Jejak, majalah ini bagus terutama foto-foto yang disajikan. Sepertinya kekuatan dari majalah ini adalah fotonya, jangan sampai menurun ya kualitas fotonya.

Kampus UI memang terkenal dengan lingkungannya yang asri. Namun apakah lingkungan kampus UI jauh dari kebisingan dan hingar bingar yang memusingkan kepala? Inilah hasil survei tim Jejak mengenai kebisingan di lingkungan kampus UI dan pendapat dari beberapa mahasiswa UI mengenai polusi suara di green campus kita ini.

Dani Saputra FE UNPAD

Githa Farahdina - FIB UI

tahukah kamu?

Vol. 2/2, Juni 2009

(http://www.ristek.go.id/ index.php?mod= News&conf=v&id=2269)

 (bbc.co.uk)

Dara Fpsi 08 Fakultas Psikologi menurut saya cukup tenang jauh dari kebisingan. Tapi kalau untuk UI secara keselurahan cukup berisik. Sumber utamanya kendaraan bermotor dan pembangunan infrastruktur di UI yang juga menjadi sumber kebisingan menurut saya.

Supri FIK 08 Kampus UI itu lumayan berisik. Itu dikarenakan masih diperbolehkannya kendaraan-kendaraan dari masyarakat umum untuk memasuki lingkungan kampus sehingga memunculkan kebisingan, terutama dari sepeda motor. Untuk FIK-nya sendiri sudah cukup tenang karena tempatnya yang jauh dari keramaian.

3

Zilda FKM 08 Menurut saya, kampus UI itu sangat tenang dan tidak berisik. Begitu juga lingkungan kampus FKM. Itu dikarenakan kampus UI jauh dari pusat kebisingan kota Jakarta, nggak seperti kampus-kampus yang lain yang ada di Jakarta.

REKOMENDASI

Potensi objek ekowisata di Indonesia cukup besar. Agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan hasil secara berlanjut, pengembangan potensi tersebut perlu didahului dengan perencanaan yang tepat. Dengan perencanaan yang tepat itu pula semua kinerja

proyek ekowisata dapat dievaluasi dan keberlanjutan proyek dapat lebih terjamin. Buku ini ditulis untuk mengatasi kekosongan rujukan dalam melakukan perencanaan ekowisata di Indonesia secara praktis dan memudahkan pembaca untuk memahami metode praktis perencanaan ekowisata. Didahului dengan uraian tentang alasan pembenar dan urgensi perencanaan ekowisata, keseluruhan isi buku ini akan mencoba untuk menjawab pertanyaan berikut: Apa yang harus dilakukan? Oleh siapa? Dengan menggunakan sumberdaya apa? Serta dengan cara bagaimana menghasilkan produk perencanaan

ekowisata yang dapat diandalkan? Sebagai pegangan praktis dalam penyusunan rencana ekowisata, buku ini ditujukan kepada para konsultan dan perencana pariwisata, mahasiswa perguruan tinggi pariwisata, pengambil keputusan dan kebijakan pariwisata di daerah maupun pusat, serta praktisi pariwisata lainnya. Penulis : Penerbit : Edisi : Tahun Terbit : Harga :

Janianton Damanik dan Helmut F. Weber Andi Pertama 2006 Rp 21.500

Sekar FISIP 08 Menurut saya, FISIP itu berisik karena kebanyakan orangnya sedangkan luas kampusnya tidak terlalu besar. Namun kalau untuk UI sendiri menurut saya tidak terlalu berisik, tapi motor-motor yang berseliweran dikampus ini cukup menggangu dan cukup bising juga.

Tempat bising yang ada di lingkungan UI Perpustakaan 10%

Pusgiwa 17%

Sumber kebisingan di lingkungan UI Kelas 7% Selasar 13%

Kantin 57%

Vol. 2/2, Juni 2009

Beberapa jenis binatang telah bisa mendengar tsunami yang akan datang dari saat gempa yang meletus dibawah dasar laut. Spesies burung, anjing, gajah, harimau dan binatang lainnya bisa mendeteksi frekuensi infrasonik antara 1-3 hertz dibandingkan manusia hanya pada frekuensi 100-200 hertz, sehingga binatang lebih memiliki sensitifitas pada gelombang suara berfrekuensi rendah dimana manusia tidak bisa mendengarnya.

Jejak

Jejak 2

Sejenis katak langka dari Cina mencetak rekor sebagai hewan amfibi pertama yang berkomunikasi menggunakan suara ultrasonik. Sejauh ini hanya beberapa mamalia seperti kelelawar, paus, dan lumba-lumba - yang diketahui menggunakan sumber suara berfrekuensi sangat tinggi untuk saling memanggil. Menurut para peneliti, katak ini sepertinya mengembangkan mekanisme komunikasi ultrasonik agar mereka tetap bisa didengar walau hidup di lingkungan air mengalir yang suaranya bising. Katak-katak Cina tersebut hidup di sungai-sungai yang mengalir deras di Propinsi Anhui, Cina. Pada musim hujan, ketinggian air meningkat secara dramatis, sehingga alirannya menciptakan suara gemuruh yang mengalahkan suara-suara hewan. Namun, suara katak Amolops tormotus itu bisa didengar karena mereka mengeluarkan nyanyian ultrasonik yang frekuensinya lebih tinggi dari 20 kilohertz. Nyanyian katak ini juga sangat tidak lazim. Bila kebanyakan katak mengeluarkan suara dengan nada hanya naik atau hanya turun, katak Cina ini menggunakan variasi nada naik-turun seperti kicauan burung atau lengkingan paus dan primata.

Proyek Pembangunan 2%

Lainnya 13%

Mobil 7%

Sepeda Motor 40%

Kereta 35% Foto-foto oleh Sofyan Nurhadi


JEJAK WAKTU

DAUR ULANG

Oleh Enos P. Nugraha

L

IST

Jejak 4

Februari

Maret

23 / 1972 Tepat pukul 10 pagi WIT tim ekspedisi Mapala UI berhasil mencapai Puncak Jaya (4.862 mdpl) dan mencatatkan diri sebagai pendaki sipil Indonesia pertama yang menjejakkan kaki di puncak tertinggi se-Australasia tersebut. Sukses mencapai Puncak Jaya ini kemudian diikuti juga oleh kesuksesan yang sama ketika mencapai Puncak Carstensz Timur (East Carstensz, 4.775 mdpl) pada 2 hari setelahnya, tanggal 25 Februari 1972.

1 / 1949 Pasukan gerilya Indonesia melancarkan serangan umum ke sejumlah markas dan pos pertahanan tentara Belanda di dalam Kota Jogjakarta. Serangan dadakan ini membuat tentara Belanda yang dipimpin oleh Kolonel Van Langen kocar-kacir dan dalam enam jam Ibukota Jogjakarta berhasil dikuasai oleh pasukan gerilya Indonesia. Peristiwa bersejarah ini kemudian dikenal dengan nama “Serangan Umum 1 Maret 1949’�

April

IST

Vol. 2/2, Juni 2009

4 / 1968 Aktivis HAM kulit hitam Amerika, Dr. Martin Luther King, Jr. dibunuh di Memphis, Tennessee, saat akan memimpin demonstrasi menentang upah rendah dan kondisi kerja yang buruk dari para pekerja sanitasi. IST

7 / 1948 World Health Organization (WHO) didirikan oleh Perserikatan BangsaBangsa.

Mei

Juni

29 / 1953 Prestasi dalam pendakian gunung terukir pada hari ini. Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay menjadi orang-orang pertama yang mencapai puncak Gunung Everest.

5 Juni Hari ini diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia (Natural Environment World Day)

IST

IST

ayaknya cahaya - sentuhan, sensasi rasa, dan bau - yang melalui indera kita memberikan informasi tentang seperti apa dunia kita, suara pun memberikan informasi tentang seperti apa dunia ini. Mungkin kedekatan sekaligus kebiasaan sebagian manusia dengan suara atau bunyi menjadikannya tidak pernah dapat membayangkan kondisi tanpa bunyi atau suara. Jika kita menutup telinga kita rapat-rapat pun kita masih mendengar suara. Terlepas dari itu semua, manusia dengan telinga sebagai indera pendengarannya ternyata masih memiliki beberapa batasan dalam memahami dunia. Salah satunya adalah kemampuan manusia untuk mendengar suara dengan cepat rambat gelombang (pitch) kurang dari 20 Hz atau lebih dari 20.000 Hz. Sehingga karena batasan inilah kita mungkin tidak akan pernah menyadari suara yang ditimbulkan oleh seekor semut yang menjatuhkan makanan yang dibawanya, begitupun sebaliknya. Tak hanya dalam hal kemampuan menerima suara dengan cepat rambat gelombang (frekuensi) tertentu, telinga kita pun memiliki kemampuan maksimal dalam menerima suara dalam amplitudo (loudness atau volume) tertentu. Keterbatasan yang satu inilah ternyata memiliki efek yang berbeda terhadap indera pendengaran kita. Batasan frekuensi hanya akan membuat kita tidak dapat mendengar suara di luar batasan frekuensi tersebut dan yang terpenting itu tidak akan pernah merusak telinga kita. Namun, lain halnya dengan batasan amplitudo, apabila amplitudo terlalu besar (diukur dengan satuan decibel atau dB) maka akan dapat memekakan telinga.

Karena pada dasarnya perbedaan amplitudo tidak akan mempengaruhi besaran frekuensi. Artinya sebesar atau sekecil apapun amplitudo gelombang suara itu (selama tidak sama dengan nol), ia tetap akan terdengar di telinga kita, sejauh gelombang itu berfrekuensi antara 20 Hz hingga 20.000 Hz. Berangkat dari pengalaman sehari-hari, kita pasti menyadari bahwa suara yang terlalu keras terkadang akan menyakitkan telinga kita. Yang sebenarnya terjadi saat kita merasa tidak nyaman dan sakit tersebut adalah rusak atau terganggunya receptors yang dikenal dengan sel rambut yang berfungsi untuk mengubah getaran menjadi reaksi kimia yang akan dikirim dan dibaca oleh otak. Sehingga suara yang mengganggu dan tidak terkontrol itulah yang kemudian disebut sebagai polusi suara. Berbagai faktor yang dapat menjadi penyebab polusi udara diantaranya adalah alam, mesin, alat musik, dan aktivitas manusia itu sendiri. Suara-suara tersebut didefinisikan sebagai polusi suara saat amplitudonya lebih besar atau sama dengan 85 dB. Sehingga jika suara yang kita keluarkan saat

membentak orang lain atau kekasih kita sekitar 85 dB, maka sudah jelas bentakan tersebut memiliki potensi untuk merusak indera pendengarannya sekaligus indera pendengaran kita. Selain memiliki potensi untuk merusak indera pendengaran manusia, polusi suara juga akan memberi efek psikologis tersendiri terhadap manusia. Studi psikologis (Cohen & others, 1981) telah membuktikan bahwa anak yang tinggal di sekitar bandar udara menjadi sangat emosional dan susah berkonsentrasi dibandingkan dengan anak yang tinggal jauh dari bandar udara. Lalu bagaimana dengan musik atau harmoni? Musik atau harmoni merupakan rangkaian tertentu dari beragam frekuensi. Memang dalam musik terdapat dinamika (tingkat kekencangan jika sebuah not dibunyikan), namun dinamika itu pun tetap dalam batas tertentu yang tidak ingin membuat para pendengarnya kabur. Tetapi terkadang musik pun dapat menjadi polusi suara. Misalnya, dalam konser musik rock yang menghasilkan suara dengan amplitudo 130 dB hingga 140 dB. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, manusia kemudian tahu bahwa ternyata polusi suara tidak hanya dialami oleh manusia, tetapi juga oleh makhluk hidup lainnya. Beberapa diantaranya adalah burung finch zebra dan ikan paus. Di Amerika, para ahli baru menyadari bahwa ternyata banyak kematian burung (finch zebra) yang disebabkan oleh polusi suara yang timbul akibat kesibukan lalu lintas di habitatnya (yang kini sudah menjadi kota). Akhirnya, segala penjelasan mengenai suara itu memang telah membuat kita tahu lebih banyak tentang dunia ini. Namun, bukan berarti setelah kita memahami dunia itu kita menjadi tidak membutuhkannya lagi. Hidup itu terus bergerak, mungkin akan ada banyak hal baru lainnya yang ingin kita dengar.

5

Jejak

15 / 1974 Peristiwa yang terkenal dengan sebutan Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) ini merupakan salah satu rekaman sejarah terpenting dalam perkembangan Bangsa Indonesia. Ketika itu, sejumlah mahasiswa melancarkan gerakan antiJepang di sekitar pelabuhan udara Halim Perdanakusuma, ketika PM Kakuci Tanaka tiba untuk memulai kunjungan resmi selama empat hari di Indonesia. Efek dari gejolak anti-Jepang menimbulkan aksi-aksi kekerasan terhadap modal Jepang.

Vol. 2/2, Juni 2009

Januari


GAYA LO, GAYA GAYA LOE, GAYAGUE GUE

Jejak 6 Vol. 2/2, Juni 2009

Ecotourism

Perusahaan ecotourism merupakan perusahaan yang menjadikan pariwisata sebagai daya tariknya, seperti perusahaan travel yang marak beberapa tahun terakhir ini. Namun, tidak hanya itu. Pariwisata yang ditawarkan di sini adalah kegiatan pariwisata peduli lingkungan. Kegiatan pariwisata yang dilakukan akan meningkatkan kesadaran akan lingkungan sekitar, serta menambah kepedulian terhadap penduduk lokal. Salah satu kegiatan yang ditekankan dalam perusahaan ecotourism ini adalah berinteraksi dengan penduduk lokal. Jadi, perusahaan yang hanya menawarkan jasa transportasi, penginapan, serta jalan-jalan di Bali tanpa berinteraksi dengan penduduk lokal di sana, seperti perusahaan

DUIT DAPET, BUMI SELAMET Isu global warming mungkin sudah nampak “basi” di telinga manusia-manusia penghuni bumi. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampaknya seolah hanya menguras pikiran, biaya dan tenaga.

Memetik uang, dengan memanfaatkan alam, tapi tanpa merusak alam. Sofyan Nurhadi

IST

IST

Ecofashion

Ekobisnis juga dapat dilakukan di bidang fashion dengan menjadikan lingkungan sebagai tema. Usaha tersebut dikenal dengan istilah ecofashion. Tentu ini membuat para fashionista yang ingin ‘go green’ bisa mendapatkan solusinya. Usaha ecofashion merupakan usaha yang bergerak di bidang pakaian dengan bertema lingkungan. Tidak berbeda dengan usaha ecotourism, usaha ecofashion juga merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh ahli-ahli fashion untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Apa sih usaha yang mereka lakukan untuk berpartisipasi dalam menjaga lingkungan? Salah satu langkah yang dilakukan perusahaan ecofashion untuk mengurangi kerusakan lingkungan adalah meminimalisasi penggunaan bahan kimia dalam memproduksi pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya. Minimalisasi penggunaan bahan kimia tersebut dilakukan di setiap langkah produksi, mulai dari penanaman bahan baku, pemintalan, sampai proses produksi pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya selesai. Pada akhirnya, barang-barang yang diproduksi merupakan barang yang pastinya ramah lingkungan. Selain memroduksi barangbarang dengan bahan yang ramah lingkungan, para perancang berlomba-lomba menciptakan baju baru dari baju lama alias menggunakan kembali baju lama yang sudah dimodifikasi. Bagaimanapun, produksi yang paling baik dan paling ramah lingkungan adalah produksi baju lama menjadi baju baru. Dengan menggunakan kembali baju-baju lama, para perancang tersebut telah menambah nilai baju lama tersebut. Dengan sedikit kreativitas, baju lama yang telah usang kini menjadi baju yang tak kalah bagusnya dengan baju yang

Vol. 2/2, Juni 2009

M

mmhh, “biaya”?, yap, “biaya”, inilah salah satu kata yang semakin mempersulit usaha ini. Namun, apabila upaya yang konon mahal itu justru dapat membantu anda mendapatkan biaya hidup, mungkin semua orang akan berlomba-lomba mengatasi global warming. Pertanyaan yang muncul sekarang,” apakah itu?”, dan jawaban yang hadir adalah “ekobisnis”, yaitu suatu usaha yang bergerak di bidang lingkungan, secara sadar maupun tidak, biasanya merupakan orang yang peduli dengan keadaan lingkungan di sekitarnya. Selain melakukan langkah kecil untuk menjaga lingkungan, pengusaha di bidang ekobisnis ini tentunya akan mendapatkan keuntungan dari apa yang mereka lakukan. Sebagai contoh, JEJAK akan mencoba menjelaskan beberapa jenis sektor ekobisnis, yaitu ecotourism, ecofashion, dan ecofurniture. Untuk lebih jelasnya, yuk kita bahas lebih lanjut.

travel pada umumnya, bukan merupakan usaha ecotourism. Dengan demikian, tujuan utama usaha ecotourism ini bukanlah sekadar menawarkan paket-paket menarik ke suatu daerah, melainkan mengenalkan para pelanggannya kepada lingkungan sekitar, seperti flora, fauna, dan kebudayaan suatu tempat atau daerah. Selain itu, perusahaan semacam ini akan memromosikan kegiatankegiatan yang dapat melestarikan lingkungan, seperti daur ulang, hemat energi, dan konservasi air. Menurut The International Ecotourism Society (TIES) dalam wikipedia, ecotourism adalah “responsible travel to natural areas that conserves the environment and improves the well-being of local people”. Orang-orang yang melaksanakan dan berpartisipasi dalam usaha semacam ini harus menganut prinsip-prinsip ecotourism, yakni semua kegiatan merupakan kegiatan yang meminimalisir dampak kerusakan lingkungan, membangun kepedulian dan rasa hormat terhadap lingkungan dan kebudayaan, memberikan pengalaman positif kepada pelanggan dan penduduk lokal. Berikutnya, memberikan keuntungan materi dan memberikan pekerjaan kepada penduduk lokal, serta meningkatkan rasa peduli penduduk lokal terhadap politik, linkungan, dan suasana sosial yang sedang terjadi di negeri ini. Itulah lima prinsip dasar yang harus dianut para pengusaha di bidang ecotourism.

7

Jejak

Teks Annisa Rahmania dan Rizki Fithrahadi


ist

Jejak 8 Vol. 2/2, Juni 2009

baru diproduksi. Dengan demikian, tujuan usaha ecofashion untuk melestarikan lingkungan dapat terwujud. Langkah-langkah untuk melestarikan lingkungan di bidang fashion tidak hanya dapat dilakukan oleh para perancang. Kita sebagai pengguna produk fashion, seperti pakaian, tas, sepatu dan lain-lain juga dapat melakukan langkah-langkah kecil untuk berpartisipasi dalam usaha melestarikan lingkungan. Recycle, reuse, dan reduce (3R) yang menjadi prinsip pelestarian lingkungan dapat kita terapkan dalam bidang ecofashion. Prinsip recycle alias ‘mendaur ulang’ dapat kita terapkan untuk mengurangi kerusakan lingkungan, yakni dengan mengubah suatu produk fashion yang sudah tidak terpakai menjadi produk baru. Misalnya, kita dapat mengubah rok jin yang sudah tidak terpakai menjadi tas jinjing yang unik. Prinsip reuse alias ‘menggunakan kembali’ juga dapat

kita terapkan. Misalnya mengubah kemeja lama yang kita miliki menjadi kemeja “baru” dengan menambah aksesoris. Selain recycle dan reuse, prinsip reduce alias ‘mengurangi’ juga dapat kita terapkan dalam bidang fashion, yakni mengurangi penggunaan produk fashion yang menggunakan kulit binatang. Dengan tidak membeli produk yang terbuat dari kulit binatang, kita telah melakukan sebuah langkah besar dalam melestarikan lingkungan. Jadi, dengan menerapkan ketiga prinsip di atas, kita juga dapat menjadi pengusaha ecofashion seperti yang telah dilakukan oleh ahli fashion yang peduli lingkungan.

Selain ecotourism dan ecofashion, masih terdapat satu jenis usaha yang juga tergolong dalam ekobisnis, yakni ecofurniture. Usaha ini merupakan usaha yang bergerak di bidang furnitur atau perabot rumah tangga yang juga menitikberatkan peduli lingkungan sebagai tema. Kegiatan yang dilakukan oleh pengusaha ecofurniture adalah kegiatan memproduksi berbagai perabot rumah tangga dengan menjadikan bahan bekas sebagai bahan utama. Bahan-bahan tersebut dapat berupa kayu bekas, kaleng bekas, koran bekas, atau sekadar serbuk kayu yang dianggap tidak berguna. Pengusaha ecofurniture yang kreatif dapat menciptakan berbagai perabot rumah tangga dari berbagai barang bekas yang disebutkan tadi. Bahkan, karya mereka dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi karena ide yang mereka punya dalam menghasilkan karya tersebut. Dengan sedikit kemauan, kita pun dapat menjadi pengusaha ecofurniture. Lagi-lagi kita dapat memanfaatkan prinsip 3R sebagai pedoman. Pada intinya, usaha ecotourism, ecofashion, dan ecofurniture merupakan sektor usaha yang berbasis peduli lingkungan. Ketiga bentuk usaha tersebut meminimalisir kerusakan lingkungan, di samping mencari keuntungan. Semua tindakan yang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha tersebut merupakan langkah besar untuk melestarikan alam ini. Dan kita masih bisa tetap bergaya dengan barangbarang 3R.

“Life Cycle” Itu...

B

ulan menjelang purnama, namun cahayanya cukup terang menyinari hamparan kebun bawang menjelang kawasan kaki Gunung Gede dari arah Gunung Putri, Puncak-Cipanas. Waktu menunjukkan pukul 20.00. Jumat, 29 Mei 2009. Seperti yang telah direncanakan, delapan orang berniat mendaki ke Lembah Suryakencana, Gunung Gede. Sebagian besar adalah anggota toku Mapala UI alias senior banget. Setelah bersantap malam, mereka berencana mendaki malam itu juga agar dapat menikmati terbitnya matahari di Lembah Suryakencana. Kemudian turun pada Minggu pagi, sehingga punya banyak waktu istirahat dan ‘bercumbu’ dengan alam. Buat beberapa orang di kelompok toku ini, perjalanan kayak gini sudah menjadi hal yang rutin, apalagi mendaki gunung seperti ‘gelombang yang datang kembali’. Dan bagi Robby Limahellu (55), salah satu anggota tim, ini adalah untuk yang pertama kalinya setelah ‘pensiun’ mendaki 30 tahun. Setelah melapor di Pos Informasi yang masih dekat dengan permukiman penduduk, tim mulai bergerak. Fandi ‘Agi’ Achmad/M-658UI, anggota Mapala UI termuda di tim ini berjalan di depan, dan Didit yang juga ‘anak muda’ menjadi sweeper. Keduanya mengapit yang toku-toku: Sahlan ‘Lelon’ Salehan/M-068-UI (60), Robby/M-135-UI, Agus “STM’ Mulyono/M-128-UI (55), Syamsirwan Ichien/MK-598-UI (54), dan Dedi Aloy/M-280-UI (45), sebuah komposisi yang ideal. Malam itu relatif tidak ada rombongan pendaki lain. Seperti biasa, awal pendakian selalu diisi dengan canda tawa, saling meledek. Sangat khas Mapala UI. Soal ngeledek orang dan bercanda, Robby paling jago, sehingga di awalan ini dia paling berisik di tengah gelap malam. Namun seiring dengan napas yang makin terengah, keberisikan itu mulai redup. Setelah melewati sungai kecil menjelang kaki Gunung Gede, jalanan pun makin menanjak. Robby berjalan agak terpisah, di depan Agi dan Lelon ngacir duluan, di belakangnya Agus

belum nampak. Tapi sesungguhnya Agus tidak terlalu jauh, karena sesaat setelah tanjakan sungai itu ia mendengar suara kedubrak! Cukup keras suara itu, dan Agus cepat berpikir sesuatu terjadi dengan Robby. Benar saja, ketika dihampiri, Robby terlihat tersungkur di tanjakan. Agus segera membalikkan tubuh Robby. Setelah itu, “tarikan napasnya udah berat, sempet seperti batuk sampai tiga kali, abis gitu napasnya gak ada,” kata Agus. “Tapi nadinya masih ada,” kata Agi yang telah bergegas turun. Agi pun melakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR) untuk pertolongan pertama. Tapi, “sangat sulit melakukan CPR di lokasi yang terlalu miring itu, sementara kalau harus digotong dulu ke tempat datar, pasti akan terlambat, apalagi Robby orangnya tinggi besar,” jelas Agi. Dengan bantuan petugas Taman Nasional dan penduduk, Robby segera dibawa ke rumah sakit. Namun dokter di UGD RS Cimacan menyatakan Robby telah tiada. Penyebabnya, serangan jantung mendadak, kemudian jatuh sehingga dahinya terantuk batu. Artinya, itu sekitar pukul 20.28. Anggota Mapala UI pun banyak yang terhenyak. Beberapa segera menyusul ke Cimacan dan Rancamaya (rumah Robby). Namun sebagian besar malam itu sulit tidur dengan pikiran menerawang... ••• Ya, mendaki gunung buat anggota Mapala UI senior memang seperti gelombang yang senantiasa datang kembali. Kembali merasakan tanjakan dengan tarikan napas panjang dan terengah-engah, menikmati dingin yang menusuk tulang, menguji ulang persendian dan otot-otot kaki, tangan, pinggang, bahu, dan leher. Serta ngetes nyali, semangat, dan kemauan untuk melakukan itu (naik gunung) lagi. Karena seringkali berhenti di tahapan niatan doang, kagak ada realisasi. Meskipun ada yang menghibur, “lumayan kalau udah ada niat, dari pada nggak ada sama sekali.”

Barangkali memang demikian sejatinya karakter anggota Mapala UI. Pengalaman naik gunung bersama ketika ‘masih muda’ terpatri begitu dalam. Setelah lulus kuliah, kemudian bekerja, terus sebagian besar berkeluarga, terus bekerja lagi, hingga pada satu titik patrian itu ingin dibangkitkan lagi. Katakanlah ini sebuah life cycle. Lalu, apa salahnya kenangan itu diwujudkan kembali. Toh sesungguhnya menyehatkan jasmani dan rohani. Udah gitu jaman sekarang sudah ada sentuhan teknologi untuk outdoor equipment, mulai dari tenda yang ringan, jaket penahan dingin, kantung tidur yang empuk, sepatu anti selip, pakaian yang mampu menyerap keringat, makanan siap saji, kompor yang ringkas, ransel yang nyaman di punggung, treking pole yang ada shock-nya, GPS anti nyasar, handphone, kamera digital..., apalagi? Kalau nggak sanggup manggul ransel lagi, tinggal bayar porter, beres. Itulah pula yang dilakukan oleh Robby Limahellu. Sejak kuliah di Fakultas Hukum pertengahan 1970an dan kemudian mendaftar menjadi anggota Mapala UI, Robby bukan saja menjadi teman yang asik di alam, tapi juga dalam keseharian pergaulan. Tahun 1981, Robby tercatat ikut dalam tim ekspedisi ke Puncak Jaya dan Carstensz Timur, Irian Jaya (sekarang Papua). “Setelah Robby menikah pada tahun 1980an, kami tidak pernah lagi ketemu,” kenang Arianto (M-041-UI), teman jalan dan main Robby. “Tautau, waktu kita rapat untuk bikin buku 40 tahun Mapala, dia nongol, setelah itu kita jadi sering jalan lagi, meskipun bukan jalan naik gunung.” Buat teman dekat, penyebab kematian Robby sungguh mengejutkan, karena selama ini tidak pernah terdengar Robby punya ‘ancaman’ penyakit jantung. Kalaupun ada, ia tidak pernah bilang, termasuk ketika ditemukan obat pencegah penyakit jantung di saku celananya ketika di UGD Cimacan. Selamat jalan, Bang Robby. Abang pasti udah nyampe di atas sana, –lembah nan abadi, udah buka tenda dan bikin teh anget pake lemon. Tungguin ya, karena kita pasti akan selalu naik gunung. Ade Sulaeman, Anak Muda di Mapala UI

9

Jejak

Ecofurniture

Vol. 2/2, Juni 2009

DALAM KENANGAN


Jejak 10 Vol. 2/2, Juni 2009

Menjadi pasukan yang terdiri dari orang-orang dengan kepedulian tinggi terhadap kebersihan. Seperti semut yang selalu berupaya membersihkan sampah dan sisa-sisa makanan dimana pun mereka berada. Teks Feri Syamsu Nugroho Foto Ade Sulaeman

Latihan fisik di pagi hari sebelum pendakian

aik gunung bagi sebagian orang adalah hal yang biasa dan sudah umum dijalani, baik itu oleh sebagian anak muda ataupun para orang tua yang pada masa mudanya suka berpetualang ke tempat-tempat yang eksotis. Sebagian yang lain menganggap naik gunung adalah suatu kegiatan yang cukup berbahaya, dan memang harus dipersiapkan secara matang. Bagi saya, naik gunung adalah gabungan dari keduanya, di mana kita diharapkan untuk dapat melakukan petualangan yang seru dan juga harus mempersiapkan management perjalanan sebaikbaiknya agar kegiatan naik gunung tidak menjadi kegiatan yang menyusahkan, tetapi menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan. Sir Henry Dunant, Bapak Palang Merah Sedunia pernah berkata, “Sebuah negara tidak akan kekurangan sosok pemimpin, apabila para pemudanya suka berpetualang

di gunung, hutan, dan lautan�. Itulah alasan mengapa saya ingin ikut serta dalam perjalanan ke Gunung Gede bersama Mapala UI sebagai calon anggota dalam program BKP 2009. Perjalanan kali ini terasa sangat berbeda bagi saya pribadi. Ada beberapa hal yang membuat perjalanan kali ini berbeda. Pertama, jalur yang akan dilalui untuk sampai ke tempat tujuan baru pertama kali saya lalui. Biasanya saya selalu melewati jalur Cibodas jika ingin pergi ke Gunung Gede, begitu pula ketika perjalanan turun. Tetapi kali ini saya melewati jalur Gunung Putri. Kondisi jalurnya secara umum seringkali menemui tanjakan terjal yang tidak ada kompromi dan pelit jalan datar. Dari awal pendakian, kita akan disuguhi tanjakan, baik itu berupa undakan tangga, hingga tanjakan terjal dengan medan yang berbatu-batu. Selain itu, banyak sekali ditemui akar-akar pohon yang menjulur dan melintang.

Awal perjalanan, tanjakan yang dilalui tidak terlalu terjal, jadi tidak terlalu menghabiskan tenaga. Tetapi, setelah setengah perjalanan, tanjakannya betul-betul membuat badan capek dan membuat kesal. Kedua, setiap perjalanan, ke mana pun itu, jika dilakukan bersama dengan orang yang berbeda, maka akan timbul kesan yang baru dan berbeda pula jika dibandingkan dengan kesan sebelumnya. Hal itu terjadi pada diri saya, dimana kesan baru mulai terbentuk dengan teman perjalanan yang berbeda, misalnya saja dalam hal koordinasi antar teman perjalanan. Awalnya mungkin agak canggung dengan adanya pembentukan kelompok baru karena saya merasa sudah klop dengan kelompok perjalanan sebelumnya. Tetapi yang dirasakan berbeda dengan apa yang dipikirkan. Ada perasaan kesal ketika

mengharapkan imbalan sedikit pun. Imbalan yang mungkin sekali akan kita dapatkan adalah terjaganya kondisi lingkungan dari sampah. Rasa kepedulian yang ditunjukkan teman-teman calon anggota Mapala UI BKP ’09 (Badan Khusus Pelantikan bagi calon anggota Mapala UI tahun 2009) dalam kegiatan operasi bersih menunjukkan bahwa memang hal inilah yang harus dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang mengaku sebagai penggiat alam bebas. Dengan sikap yang seperti itu, kita juga ikut mengurangi dan menjaga dampak yang mungkin timbul akibat kerusakan hutan oleh sampah. Contoh kecilnya seperti daya resap hutan terhadap air hujan yang terganggu dapat mempengaruhi persediaan air bagi wilayah sekitarnya maupun wilayah yang lebih luas lagi. Tidak ada salahnya jika sembari menjalankan kegemaran, kita juga ikut membantu menjaga kelestarian lingkungan dan masyarakat sekitar dari kerusakan alam. Jadi, ayo menjadi pasukan semut, menjadi pasukan yang terdiri dari orang-orang dengan kepedulian tinggi terhadap kebersihan. Seperti semut yang selalu berupaya membersihkan sampah dan sisa-sisa makanan dimana pun mereka berada. Baik ketika berada di Suryakencana, maupun di tempat-tempat lainnya dimana pun kita berada. Sehingga hobi atau kegemaran yang dilakukan tidak hanya bermanfaat bagi kita sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.

11

Jejak

Menjadi Pasukan Semut di Suryakencana N

teman melakukan kesalahan, ada kesan ceria ketika teman melakukan hal konyol atau hal lucu. Dan, ada perasaan senang dan bangga ketika mereka sudah sampai Suryakencana untuk kemudian berfoto bersama. Ketiga, perjalanan kali ini memiliki maksud tertentu yang mencerminkan kepedulian terhadap alam sekitar. Peserta dalam perjalanan ini dilibatkan dalam kegiatan aksi operasi bersih. Operasi bersih ini dilakukan untuk membersihkan sampah yang ada di Puncak Gede dan Lembah Suryakencana. Sampah itu dimasukkan ke dalam trash bag yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sampah anorganik, mulai dari bekas bungkus permen hingga botol plastik bekas minuman kemasan, merupakan target utama dalam operasi bersih ini. Menurut saya kegiatan sangat berkesan, ditambah lagi karena belum pernah saya lakukan sebelumnya. Sebagai seseorang yang gemar naik gunung, sikap untuk menghargai alam tentunya harus diaplikasikan secara berkelanjutan. Selain untuk menjaga kelestarian berbagai sumber daya alam dimana kita berada, ini juga merupakan salah satu usaha untuk menjaga sumber daya manusia itu sendiri. Dengan tidak meninggalkan sampah di gunung, atau bahkan membersihkan sampah yang orang lain tinggalkan, maka kita juga ikut melestarikan kepedulian kepada alam sekitar dan kepada sesama Kegiatan tersebut bernilai sangat mulia jika kita lakukan tanpa

Vol. 2/2, Juni 2009

REPORTASE


Panorama Dua Cahaya Dua cahaya yang berbeda, berpadu dalam malam yang indah... Antara temaram lampu kota dan cahaya yang terbentuk di cakrawala...

Pemandangan Kota Bogor di Malam Hari dari Bumi Perkemahan Gunung Putri Foto oleh Kanenori Miura


Jejak 14 Vol. 2/2, Juni 2009

Kebisingan memang ibarat jadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Teks Sofyan Nurhadi, Zulbahri Foto Sofyan Nurhadi

S

uara yang berasal dari proyekproyek pembangunan sarana infrastruktur, mesin kendaraan bermotor, maupun musik keras, menimbulkan suara bising yang berdampak secara fisik maupun psikis. Ironis memang, ketika dampak tersebut semakin mengancam, banyak dari kita yang tidak sadar atau seolah tidak ingin sadar akan bahaya yang timbul dari kebisingan tersebut. Kebisingan di perkotaan yang padat lalu lintasnya bukanlah merupakan masalah baru, namun masalah lama yang perlu dipecahkan dan ditemukan solusinya bersama-sama.

Kebisingan Kota Jakarta

Polusi suara merupakan salah satu isu lingkungan yang ada di wilayah perkotaan, jenis polusi yang paling tak terlihat dan kasat mata. Perancangan kota yang tidak atau kurang mengikuti kaidah-kaidah perancangan kota berbasis ekologis akan memberikan efek bising yang semakin meningkat sejalan dengan peningkatan aktivitas dan gaya hidup urban. Perkembangan fisik kota yang tidak terbendung pun akan membawa dampak yang semakin parah terhadap bahaya kebisingan, khususnya untuk wilayah pusat

perkotaan. Ketika proyek-proyek pembangunan semakin menjamur, kendaraan bermotor dengan suara knalpot keras yang kian membludag, dan musik volume keras lewat konser musik di tempat umum. Kebisingan pun seolah tak pernah hilang dari wilayah ini. Bagaimana dengan Jakarta? Kota yang dianggap lebih maju dibandingkan dengan kota-kota lainnya yang ada di Indonesia ini pun tidak luput dari pengaruh negatif modernisasi. Oleh karenanya, tidaklah aneh bila dampak polusi suara juga menggaung di Jakarta. Sebagai kota terbesar, tentunya begitu banyak aktivitas dan rutinitas di dalamnya. Terbuai untuk menuju kehidupan yang lebih modern dengan segala kemudahannya, kota ini terus saja membangun sarana dan prasarana untuk menunjang kehidupan fisik wilayah perkotaan.

Pekerja yang “kuat“, kebisingan yang ada tak mengharuskan mereka menggunakan penutup telinga, apa memang tak terasa ataukah tiada pengawasan mengenai hal ini?

Pembangunan yang tanpa henti turut memberikan dampak polusi suara yang seolah tak terhenti. UI, salah satu kampus kebanggan Indonesia, menjadi model untuk itu. Apakah kita harus bangga dengan rusaknya telinga serta tingkat stres yang tinggi?

Pada kenyataannya tidak semuanya berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Misalnya saja pembangunan koridor-koridor jalan. Tujuan ideal dari proyek ini adalah untuk mengurangi kemacetan. Namun pada kenyataannya, terutama pada jam-jam sibuk, Jakarta masih saja disesaki oleh kendaraan-kendaraan bermotor. Hal ini dikarenakan pembangunan tersebut tidak diimbangi dengan kebijakan pembatasan membludagnya jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi. Tak bisa dipungkiri, dampak lain pun terjadi, suara-suara klakson silih berganti keluar dari kendaraan bermotor yang mengiringi kemacetan ibukota. Rasa tidak nyaman, stres meningkat, dan sakit kepala pun terjadi akibat kebisingan tersebut. Padahal kebisingan kontinyu di atas 85 desibel tidak hanya akan menyebabkan keluhan pada telinga dan pendengaran, tetapi juga menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah, gangguan tidur, kelainan pencernaan, meningkatnya emosi, serta berbagai kelainan lainnya akibat stres. Banyak sekali jenis kegiatan yang melebihi ambang 85 desibel, misalnya peralatan mesin, lalu lintas ramai, musik yang menggunakan loudspeaker, dan berbagai jenis permainan di sebuah arena rekreasi. Salah satu kelompok masyarakat yang cukup riskan dalam hal ini adalah mereka yang tinggal

di pinggir jalan raya, terutama sekali anak-anak, yang pastinya sangat rentan mengalami bahaya kebisingan. Lokasi publik dengan paparan kebisingan tinggi sampai di atas 100 desibel banyak sekali ditemukan di kota Jakarta, seperti di jalan raya, bandara, industri, ruang latihan fitness, diskotik, pusat-pusat games, pertokoan, tempat perhelatan, dan konser musik. Tidaklah mengherankan jika di Jakarta ini banyak ditemukan orang-orang dengan tingkat stres yang tinggi.

Polusi Suara

Polusi suara, atau yang lebih dikenal dengan sebutan kebisingan, didefinisikan sebagai bunyi yang tidak dikehendaki dan bersifat relatif, yang penilaiannya sangat bergantung pada penilaian subjektif. Sederhananya, polusi suara adalah bising yang teramat mengganggu, sehingga lambat laun berpengaruh pada kondisi kejiwaan. Apabila kondisi ini dialami dalam kurun waktu yang panjang, imbasnya akan membuat telinga berkurang kepekaannya. Wardhana (2001) membagi kebisingan atas tiga macam berdasarkan asal sumbernya. Pertama, kebisingan impulsif yang datangnya tidak secara terusmenerus akan tetapi sepotongsepotong. Kedua, kebisingan kontinyu yang datang secara terusmenerus dalam waktu yang cukup lama. Terakhir adalah kebisingan semi kontinyu (intermittent), yaitu

Peringatan fungsi utamanya, kebisingan yang dihasilkannya. Tapi, apakah masyarakat kita sudah terlalu terbiasa melanggar rambu lalu lintas hingga suara yang begitu nyaringpun seolah tak terdengar?

kebisingan kontinyu yang hanya sekejap, kemudian hilang dan mungkin akan datang lagi.

Efek Polusi Suara

Polusi suara sangat berpengaruh terhadap menurunnya tingkat kesehatan manusia. Tingkat kerusakan akibat polusi suara itu kadang tidak terjadi secara langsung namun kerusakan itu akan terus mempengaruhi tubuh secara perlahan. Beberapa efek dari polusi suara, antara lain: 1. Mengurangi tingkat kinerja dan ketahanan tubuh. Dampak langsung dari polusi suara adalah rusaknya fungsi pendengaran. Kebisingan berdampak pada tingkat konsentrasi dan stres seseorang. Perlu diketahui bahwa stres dan hipertensi merupakan awal dari masalah kesehatan, yang berlanjut kepada penyakit-penyakit berikutnya, seperti “tinnitus�, yang memiliki ciri-ciri seperti gampang lupa, depresi berat, dan serangan gampang panik. Hipertensi tentu berhubungan dengan tekanan darah yang ada di dalam tubuh. Apabila tekanan darah ini tidak stabil, maka jaringan darah dalam tubuh akan terganggu, sehingga bisa juga berdampak pada kardiovaskular dan juga serangan jantung. Bagi wanita hamil, ternyata kebisingan bisa menjadi penyebab tidak lancarnya proses kelahiran. Proses kehamilan membutuhkan suasana yang tenang dan tenteram,

Vol. 2/2, Juni 2009

. . . h h g g r r r A Berisik!!!

15

Jejak

JEJAK UTAMA


Vol. 2/2, Juni 2009

Kurangi Bising Sekarang Juga!

Untuk mengatasi kebisingan kota, khususnya di jalan raya, Haryoto mengatakan, produsenprodusen kendaraan bermotor hendaknya mengeluarkan standar kebisingan pada produknya. Jadi bukan cuma gas emisi, hydrocarbon, dan karbon monoksida-nya saja yang diperhatikan, melainkan juga standar suaranya. Sebab di situlah sumber kebisingan, ungkap Haryoto Teknologi pun dapat turut serta menyumbangkan perannya untuk mengurangi tingkat kebisingan. Pada jalan raya, bisa dikurangi dengan tembok suara. Tembok di

Jangan Hanya Dipikirkan, Tapi Lakukan!!!

Seperti yang telah diterangkan di atas, kita akhirnya bisa “melihat� dengan jelas apa itu polusi suara. Suara yang tak diinginkan atau bisa disebut bising merupakan polutan yang berbahaya bagi kesehatan, baik secara fisik maupun psikis. Pencemaran suara yang bersifat terus-menerus dengan tingkat kebisingan di atas 80 dB dapat mengakibatkan efek atau dampak yang merugikan kesehatan manusia. Sifat polutan yang terdiri dari dua macam; merusak sementara dan merusak untuk selamanya. Dan polusi suara termasuk dalam kedua kategori itu, bahkan apabila terpapar secara kontinyu, maka itu sama saja dengan sifat membunuh secara perlahan. Sumber-sumber polutan seperti suara bising yang keluar dari kendaraan bermotor, pekerjaan konstruksi dan lain-lain sebaiknya harus dihindari. Pencegahan agar makhluk hidup, yang notabene-nya merupakan korban, tidak terpapar bisa dilakukan secara maksimal. Kampus sebagai lembaga akademis, tempat yang diharapkan bisa ideal bagi masyarakat di dalamnya, diharapkan mampu menerapkan kebijakan yang berujung bagi kondisi nyaman bagi para civitas academica. Lingkungan yang sehat bermanfaat bagi kegiatan

belajar mengajar. Infrastruktur yang dibangun harus bisa mereduksi segera macam polusi, dan terutama polusi yang tak tampak di mata kamu dan berbahaya itulah polusi suara!

Kebisingan Kampus UI

Sebenarnya kampus kita termasuk wilayah yang sering terpapar oleh polusi suara. Kamu pasti pernah merasa dongkol, ketika perkuliahan sedang berlangsung, tiba-tiba terganggu oleh berisiknya aksi panggung suatu band dalam sebuah konser musik di dekat gedung perkuliahan. Ya, entah sudah berapa kali kita sering merasa terganggu dengan kebisingan yang keluar dari suara speaker panggung ketika kuliah berlangsung. Mungkin kamu juga pernah merasakan hal yang sama di fakultas kamu. Suara tersebut tidak akan menjadi polusi suara apabila tidak ada yang merasa terganggu. Oleh karena kebisingan tersebut mengganggu para mahasiswa dan dosen yang sedang menjalankan proses belajar-mengajar, maka suara tersebut telah menjadi sebuah masalah tersendiri. Mungkin fakultas lain tidak akan terpengaruh apabila ada kebisingan di fakultas lainnya. Hal ini memang lumrah karena yang meredam suara itu adalah pepohonan yang ada di lingkungan sekitar. Menilik kembali mengenai fungsi hutan kota (kamu bisa lihat di edisi jejak sebelumnya), selain sebagai filter udara, hutan kota juga berpengaruh untuk meredam suara. Di Jerman, ada sebuah hutan kota yang memang sengaja dibangun sebagai barrier polusi suara, dalam hal ini berarti peredam suara. Itulah yang terjadi di UI, walaupun tidak disadari oleh kita sebelumnya. Pencegahan polusi suara di UI bisa di atasi dengan berbagai cara, diantaranya adalah gedung yang memang sering dilewati oleh kendaraan bermotor harus didesain mampu meredam suara yang datang, atau apabila terlambat bisa dibuat peredam suara seperti di studio musik. Dan satu hal lagi, proyek pembangunan gedung harus dilaksanakan pada malam hari, tidak di waktu perkuliahan.

POLUTAN Polusi suara, seperti halnya jenis polutan lainnya, merupakan hasil samping dari industrialisasi, urbanisasi, dan peradaban modern lainnya. Secara umum, polusi suara dapat dibedakan dari dua sumber, yaitu industri dan nonindustri. Sumber yang datangnya dari industri biasanya berasal dari berbagai macam jenis industri yang menggunakan mesin-mesin besar yang berkecepatan tinggi dengan intensitas suara yang besar. Sedangkan yang termasuk dalam sumber suara non-industri tercipta dari transportasi dan rumah tangga. Kebanyakan sumber-sumber polusi terbesar berasal dari kategorikategori dibawah ini: Kemacetan Lalu Lintas Suara yang timbul dari lalulalang kendaraan, mulai dari sepeda motor sampai dengan truk gandeng, mempunyai tingkat polusi yang tinggi. Kenapa? Karena suara ini menjadi lebih besar akibat gema yang ditimbulkan oleh kepadatan gedung-gedung bertingkat. Pesawat Terbang dan Kereta Api Mengapa Bandara Kemayoran Jakarta dipindahkan ke Bandara Soekarno-Hatta? Jawabannya adalah karena kekumuhan di sekitar Bandara Kemayoran (ini terkait dengan anggapan bahwa bandara merupakan pintu gerbang dan citra pertama sebuah negara). Selain karena alasan itu, sebenarnya suara

Ringga Rezza

Apakah semua orang harus ikut mendengarkan?

yang ditimbulkan oleh pesawat terbang bisa merusak kesehatan masyarakat yang tinggal di dekat bandara. Oleh karena itu, lokasi Bandara Kemayoran yang memang terletak di pusat pemukiman kemudian dipindahkan. Begitu juga dengan kereta api. Di kota besar seperti Jakarta, hilir-mudiknya kereta api tentunya sangat mengganggu konsentrasi kerja para karyawan dan pelajar yang gedungnya berdekatan dengan rel. Pekerjaan Konstruksi Suara pemasangan tiang pancang merupakan sumber polusi suara terbesar dari pekerjaan konstruksi selain dari beradunya peralatan kerja yang ada di situ. Industri Ada beberapa industri yang tidak memiliki peredam suara. Hal ini tentu menjadi sebuah masalah tersendiri terkait dengan para pekerja di industri yang sebenarnya butuh penutup telinga untuk meredam kebisingan dari mesin-mesin yang terus berputar itu.

IST

Di wilayah permukiman banyak dijumpai industri kecil yang tidak memperhatikan dampaknya bagi lingkungan sekitar.

Seringkali mobil dan motor melakukan hal yang tidak perlu seperti membunyikan klakson di traffic light, atau mengganti knalpot yang tidak sesuai standar umum. Perilaku egois ini sepertinya sulit dijelaskan melalui teori sosial yang ada.

Rumah Tangga Sumber suara yang biasa ada di tempat tinggal kita berasal dari saluran pipa, alat elektronik yang menggunakan volume terlalu besar, AC, kipas angin, dan suara ketel yang juga bisa menjadi suara yang mengganggu. Sumber suara ini bisa menjadi lebih besar lagi kalau konstruksi bangunannya tidak baik, yang dalam permulaannya berawal dari rambatan suara yang tidak dapat tereduksi dengan baik. Speaker Speaker atau biasa disebut pengeras suara merupakan benda elektronik yang membantu memperbesar volume suara yang akan kita dengar. Sekarang penulis akan bicara tentang speaker yang ada di dekat kamu, yaitu headset/ earphone. Memang, sederhananya sebuah kebisingan adalah suara yang tidak kita inginkan. Dan musik yang sedang kamu dengar melalui mp3 player entah itu ipod, handphone, ataupun gadget lainnya itu bisa menjadi polusi yang secara tidak sadar terus menerus dapat merusak gendang telinga kamu. Radiasi yang ditimbulkan tampaknya tidak seberapa, tapi bagaimana yang radiasi sedikit itu tiba-tiba menjadi bukit? Sedikit saran bagi kamu yang senang mendengarkan lagu melalui pemutar musik, sebaiknya kalian tidak perlu mendengar itu dengan volume yang besar, cukup bisa didengar dengan jelas saja. Atau, kalian bisa menggunakan tipe earphone circumaural headphones.

Vol. 2/2, Juni 2009

Jejak 16

2. Pada lingkungan Manusia harus segera menghentikan polusi suara. Polutan yang ada selama ini sebenarnya banyak hadir karena aktivitas kita di muka bumi. Dampaknya tidak hanya menimpa kita sebagai manusia, tetapi juga makhluk hidup lain, seperti hewan dan tumbuhan. Tumbuhan sangatlah sensitif, layaknya juga manusia. Butuh tempat yang nyaman, tenang, dan tenteram untuk proses perkembangannya. Suasana bising dapat mengurangi kualitas tanaman tersebut. Hewan pun merasa terganggu akibat polutan ini. Efek utama yang menimpa hewan adalah pada sistem navigasi dan reproduksinya. Habitat hewan sudah banyak terganggu, tidak hanya daratan saja, tetapi juga lautan yang semakin parah saja. Penggunaan sonar bawah laut dapat mengganggu hewan laut. Banyak sistem navigasi hewan laut yang terganggu akibat sonar ini, contohnya adalah paus.

sini tidak seperti tembok biasa, melainkan tembok yang dirancang sedemikian rupa sehingga suara yang tercipta dari kendaraan dapat tereda. Permukaan jalan, batas bobot kendaraan, dan mengurangi kecepatan kendaraan adalah alternatif lain untuk mengurangi kebisingan. Suara pesawat dapat tereduksi dengan merancang mesin jet yang lebih smooth. Pembuatan jalur terbang yang tidak dekat dengan pemukiman juga berguna dalam rangka mengurangi efek kebisingan yang menimpa masyarakat. Mesin penggerak harus dirancang ulang, pekerja menggunakan penutup telinga, dan penggunaan ruangan yang ada peredamnya merupakan cara lain untuk mengurangi suara di pabrik- pabrik industri.

17

Jejak

kebisingan ini tentunya menjadi sebuah hal yang harus dihindari. Seseorang yang sering terpapar oleh polusi suara ini pastinya akan mudah marah. Mungkin kamu juga pernah mengalami hal ini, seperti saat ingin belajar sebagai persiapan untuk menghadapi ujian, lalu tibatiba teman kost disamping kamu menyetel suara radio keras-keras, maka timbul emosi sesaat dalam diri kamu terhadap tingkah temanmu tersebut.


JEJAK ALAM

Kalau hutan rusak, anak cucu kami makan apa?”, begitu ujar Pak Bandi, atau yang lebih dikenal sebagai Pak Janggut, “Tuai Adat” Sui Utik. Kirakira seperti itulah filosofi yang dipegang teguh oleh para penghuni Dusun Sui Utik untuk mencegah rusaknya hutan adat yang sudah mereka huni sejak tahun 1972 ini.

Jejak 18

DAYAK IBAN SUI UTIK Tinggalkan Bajalai demi Kelestarian Lingkungan

Vol. 2/2, Juni 2009

lain yang membuka hutannya bagi para investor yang ingin mengelola, dan sering kali mengeksploitasinya, Sui Utik tak terbuai dan berani untuk menolak tawaran-tawaran tersebut walupun ditawarkan janji-janji pembangunan. “Pada akhirnya mereka yang mendapatkan pembangunan Rumah Panjang ‘Ruko’ (sebutan untuk

Vol. 2/2, Juni 2009

B

erbeda dengan kenyataan yang sering kita lihat dan dengar bahwa Indonesia merupakan salah satu negara perusak hutan tercepat di dunia. LSM Greenpeace yang bergerak di bidang lingkungan pun menyatakan bahwa hutan yang hilang di wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan, hampir mencapai luas sebuah lapangan bola setiap dua menitnya. Keinginan untuk melihat paruparu bumi dari dekat inilah yang membawa saya dan seorang teman saya melancong ke Pulau ini. Dusun Sui Utik terletak di Desa Jalai Lintang, Kecamatan Mbaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Untuk mencapai dusun kecil ini, kami harus melalui perjalanan melewati jalur darat selama 20 jam. Tentunya jalur yang kami lalui tidak senyaman jalan tol dalam kota di Jakarta. Jalan trans Kalimantan Barat yang juga menghubungkan Indonesia dan Malaysia melalui Entikong tidak terawat dan memiliki banyak lubang yang menggangu kelancaran lalu lintas kendaraan yang melalui jalan tersebut. Dusun ini merupakan bagian dari Desa Jalai Lintang yang terdiri dari tujuh buah desa Dayak.

Teks dan foto oleh Seto Wardhana

Jejak

Teks dan Foto Seto Wardhana

rumah panjang yang dibangun dengan cara dan materi modern) pun tak dapat menikmatinya karena hutan mereka rusak, air sungai mereka kotor, dan listrik pun tak menyala selama 24 jam,” ujar Raymundus Remang, Kades Dusun Sui Utik.

Hidup Sederhana, Melindungi Hutan

Menjaga hutan ini pun bukan perkara yang mudah. Pemenuhan kebutuhan ekonomi seringkali mendesak masyarakat untuk memenuhi kebutuhan itu dengan mengorbankan lingkungan untuk memenuhinya. Tak seperti desa-desa

Ladang Gogo. Padi Gogo merupakan salah satu tanaman utama menjadi sumber penghasilan penduduk Sui Utik. selain menanam padi gogo, mereka juga mengelola hutan karet liar. Ketam dan Bunga Terong. tatto bergambar bunga terong dan ketam sudah mulai menghilang dari tubuh para pemuda Sui Utik seiring dengan semakin ditinggalkannya budaya Bajalai.


salah satu peraturan yang mereka pegang teguh, hanya 30 pohon maksimal per tahunnya. Selain itu pohon tersebut hanya boleh diambil dengan cara tradisional, penggunaan alat-alat modern pun dilarang. “Biasanya setiap tahun masingmasing kepala keluarga hanya dapat mengambil paling banyak dua buah pohon, bahkan kadang tidak sama sekali,� ujar Pak Kades lagi. Hutan Adat Sui Utik yang mencakup kurang lebih 9.000 ha ini pun terbagi-bagi dalam hutan inti, hutan produksi, dan hutan cadangan. Dalam membuka ladang pun mereka melakukan musyawarah

Tato yang menghilang

Untuk menjaga hutan ini pun ada harganya. Kebiasaan merantau atau biasa mereka menyebut bajalai yang biasa dilakukan pemuda Dayak yang mulai beranjak dewasa semakin menghilang seiring dengan munculnya sumber pendapatan dari ladang dan perkebunan yang mereka kelola tersebut. Penghasilan ini membuat mereka merasa tidak perlu melakukan perjalanan lagi untuk mencari pekerjaan. Dahulu bajalai merupakan sebuah inagurasi kedewasaan terhadap para pemuda yang sudah akil balig. Dalam perjalanan yang biasanya mengambil tujuan Brunei Darussalam atau Malaysia ini, mereka membuat tato, atau rajah, yang menunjukan kedewasaan mereka. Tato yang biasanya bermotif bunga terong dan ketam ini pun semakin menghilang dari punggung, tangan dan kaki para pemuda Dayak Iban Sui Utik. Kebudayaan ini sekarang hanya bisa kita lihat pada orangorang yang berumur 70 tahun ke atas saja. Tato yang mayoritas dimiliki laki-laki di Dusun Sui Utik saat ini

berevolusi dalam bentuk dan arti. Para penduduk yang berumur 40-50 tahunan mulai meninggalkan tato motif lama dan berubah menjadi tato dengan motif modern yang telah bercampur dengan budaya Melayu, Tionghoa, maupun kebudayaan barat. Selain itu, tato bermotif Dayak yang dibuat dengan sentuhan modern banyak digemari oleh mereka yang berumur 20-30 tahunan. Salah satu penyebab hilangnya rajah asli Iban ini adalah semakin berkurangnya pemuda Sui Utik yang merantau karena mereka lebih memilih untuk mencari penghasilan di hutannya sendiri. Sistem pengelolaan hutan adat Dusun Sui Utik telah menghasilkan sebuah penghargaan Ekolabel pada tahun 2008. Dengan menjaga keasrian dari hutan adat tersebut mereka dapat membuka lapangan pekerjaan bagi para penduduk desa. Lapangan pekerjaan yang telah tersedia di belakang halaman rumah tersebut memberikan jaminan kehidupan bagi masyarakat untuk menafkahi keluarganya. Dengan mengelola hutan adat tersebut mereka dapat tetap menghidupi keluarga mereka tanpa perlu merantau, pendapatannya pun tak jauh berbeda dan tetap berada dekat dengan keluarga mereka sendiri. Pemuda-pemuda Dusun Sui Utik masa kini memilih untuk mencari nafkah di lingkungannya sendiri. Bertanam padi gogo di ladang atau menyadap karet di hutan. Hasil yang diperoleh tak berbeda dengan yang dari rantau, tanpa perlu berpisah dengan keluarga. Jadi, buat apa berbajalai? Mencermati adanya pendayagunaan hutan oleh masyarakat, dan mencemaskan kerusakan hebat pada hutan-hutan di dusun-dusun sekitar akibat penebangan oleh para pemegang HPH, dewan adat Dusun Sui Utik lalu membentuk hukum adat yang mengatur dan mengawasi penggunaan hutan. Dasar pemikirannya sederhana tapi maju; kalau hutan rusak, makan apa anakcucu nanti?. Memang pada akhirnya semua keputusan ada akibatnya baik maupun buruk.

Vol. 2/2, Juni 2009

Foto searah jarum jam : Rumah Panjang tradisional Sui Utik . Rumah ini masih terbuat dari kayu, berbeda dengan rumah panajng “ruko “ di desa-desa lainnya. Generasi muda Dayak Iban Sui Utik . Generasi yang ada pada saat ini umumnya sudah tidak lagi mengenal budaya bajalai yang biasa dilakukan kakek nenek mereka.. Hutan yang Asri. Peraturan dan hukum adat yang tegas menjadi salah satu faktor yang menjaga keasrian hutan Dayak Iban Sui Utik. Bernyanyi dan menari. Seusai melakukan rutinitas, penduduk Sui Utik melepas lelah bersama-sama, baik tua maupun muda. Barang Langka. Listrik yang belum mengaliri dusun Sui Utik membuat acara televisi menjadi sesuatu yang sangat ditunggu oleh anak-anak. Penyuluhan. Untuk mendukung pelestarian hutan ini. Taman Nasional Betung Kerihun melalui petugasnya memberikan bantuan bibit karet dan penyuluhan demi memberikan hasil yang optimal. Menganyam. Selain berladang, mengayam tikar dan gelang rotan menjadi salah satu pemasukn bagi dusun Sui Utik. Pemanfaatan kayu. Pemotongan kayu yang di atur oleh hukum adat memberikan pembatasan jumlah kayu yang dapat di manfaatkan setiap Individu di Dusun Sui Utik.

untuk menentukan berapa luas lahan yang akan dibuka oleh tiap-tiap kepala keluarga. Penentuan luas lahan tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing keluarga. Sanksi adat dan sosial pun sudah menunggu bagi mereka yang membiarkan lahan yang luasnya mereka tentukan sendiri tersebut terbengkalai. Hal inilah yang dibutuhkan untuk meningkatkan efektifitas penggunaan lahan. Mereka lebih memilih untuk hidup sederhana melalui pengelolaan hutan adat mereka yang dapat memenuhi kebutuhan ekonomi mereka tanpa perlu merusak hutan yang menyangga kehidupan mereka. Selain berladang, mereka juga mengelola hutan karet liar dan menanam lada. Perhatian pun diberikan oleh Taman Nasional Betung Karuhun dengan memberikan bantuan bibit karet. Dengan kebun karet yang terkelola lebih baik diharapkan produktivitas dan pendapatan para penduduk Sui Utik pun meningkat.

21

Jejak

Suku Dayak Iban masih memegang teguh aturan adatnya, dan menolak tawaran investor untuk mengekploitasi hutan adatnya, sehingga hutan mereka hingga kini masih terawat baik, inilah kearifan tradisional yang kian langka. Hukum ada yang diikuti dengan sanksi yang tegas harus diberlakukan oleh pemuka adat yang memastikan peraturan yang dibentuk berdasarkan kesepakatan bersama itu berjalan lancar. Pembatasan jumlah pohon yang boleh diambil dari hutan inti menjadi


JEJAK INSPIRASI

Untuk Peduli Kudu Konsisten Jejak 22

Teks Dian Ekawati Foto Fikri Muftih

Vol. 2/2, Juni 2009

P

ada saat ini, ada berbagai jenis usaha yang dapat dijalankan untuk menghasilkan uang. Namun terkait dengan isu perubahan iklim yang marak dibicarakan pada saat ini, muncul suatu jenis usaha baru yang dapat meredam laju perubahan iklim tersebut. Apabila dalam pikiran kalian terlintas kata ecobusiness, kamu telah menjawab dengan tepat jenis usaha yang dimaksud. Dalam pelaksanaannya, jenis usaha ini membutuhkan minimal satu orang pelaku atau pengusaha yang bergerak di bidang ekobisnis ini. Di antara orang-orang yang memilih untuk menjadi pengusaha sekaligus dapat mengurangi dampak perubahan iklim di dunia, majalah Jejak mengantar kamu untuk mengenal sosok Suwardi Hagani atau yang biasa akrab disapa dengan panggilan Bang Wardi, seorang pengusaha tanaman. Bang Wardi memulai usaha tanaman sejak tahun 1994, melanjutkan usaha yang telah dirintis orang tuanya. Wardi kemudian memberi nama pada usahanya itu dengan nama Hagani Flora.

Sedikit cerita, sebelum Bang Wardi menjadi “caang” (calon anggota) Mapala UI, beliau memang sudah bergiat dalam isuisu lingkungan, seperti misalnya menjadi anggota Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (sekarang Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia) dan menjadi salah satu ketua Departemen Lingkungan Hidup. Hingga ia mengikuti BKP (Badan Khusus Pelantikan) Mapala UI pada tahun 1990, Wardi pun mengambil divisi lingkungan yang pada saat itu masih ada. Walaupun pada tahun 1990an isu lingkungan belum begitu populer. Aktivitas Bang Wardi selama menjadi mahasiswa cukup padat. Tahun 1990 pernah mengikuti Prokasih (Program Kali Bersih) di Kali Ciliwung. Menurut Bang Wardi, yang lahir pada tanggal 2 Mei 1969, kali Ciliwung saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan dahulu. Dulu masih banyak jamban di pinggir kali Ciliwung, yang digunakan warga sekitar bantaran sungai untuk buang air. Kebayang enggak sih, ketika sedang mengarungi kali Ciliwung, tibatiba ada ‘pisang goreng’ lewat di dekat kita? Selain Prokasih Ciliwung, Bang Wardi, ayah dari tiga anak ini, juga pernah mengikuti Sibelut (Siar Bersih Laut).

Tahun 1992, demonstrasi mengenai isu lingkungan masih dianggap sebagai hal yang tabu. Jadi, jika ingin melakukan protes, atau yang sekarang populer dengan istilah demo, maka dilakukan dalam bentuk tulisan di media cetak atau di kaos. Pada tahun ini pula Bang Wardi yang lulusan S-1 Arkeologi, memegang jabatan sebagai Ketua Ordik Pusat (sekarang OKK/Orientasi Kegiatan Kampus). Setiap mahasiswa baru UI, diwajibkan untuk membawa satu buah biji pohon untuk ditanam. Beliau termasuk salah satu pendiri SMUI, bersama dengan Eep Syaefulah dan Chandra Hamzah yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua KPK. Bang Wardi mengatakan, jika ingin bergiat atau memulai usaha di bidang lingkungan sebenarnya hanya masalah konsistensi yang dibutuhkan. Karena tantangannya adalah tanaman bukan sebagai kebutuhan primer, sekunder, ataupun tersier melainkan tanaman merupakan kebutuhan nomor kesekian. Awal Bang Wardi, yang juga bekerja sebagai konsultan eksportir, memulai usaha tanaman ini adalah ketika beliau mulai aktif di berbagai kegiatan yang bertemakan

Hendak membeli tanaman atau hendak membicarakan lingkungan, Bang Wardi selalu siap menyambut.

lingkungan. Mungkin lima tahun pertama sangat sulit. Banyak hambatan yang dihadapi untuk memulai usaha ekobisnis. Akan tetapi jika sudah sampai pada tahun kesepuluh, ketika citra, kualitas, komitmen, dan pelayanan sudah teruji maka bukan kita yang mencari uang, melainkan uang yang akan mencari-cari kita. Semua ilmu mengenai tanaman yang Bang Wardi dapatkan murni beliau cari sendiri melalui buku-buku bacaan alias otodidak. Semua usaha yang Bang Wardi lakukan tidak sia-sia. Terbukti bahwa pada tahun 2008, Bang Wardi, suami dari Aisyah Maulina ini berhasil mendapatkan dua penghargaan sekaligus dari Departemen Pertanian. Yang pertama adalah Penghargaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional tahun 2008, yang juga menjadi Penghargaan Eksportir Hasil Pertanian Berprestasi tahun 2008. Sedangkan penghargaan kedua adalah Penghargaan

Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian tahun 2008, Eksportir Hasil Pertanian dari Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian RI. Sedikit bocoran, Bang Wardi, yang anak ketujuh dari delapan bersaudara ini, rencananya akan meluncurkan sebuah buku yang berjudul “Tropical Rain Forest Garden”. Bang Wardi, yang bernomor angota mapala UI ML-464-UI, mengemukakan bahwa salah satu akibat dari adanya pemanasan global adalah taman minimalis, yakni suatu taman yang dirancang seminimalis mungkin dengan pohon yang jumlahnya relatif sedikit, agar terlihat lebih rapi dan apik. Menurutnya, lahan kosong di sekitar rumah harusnya ditanami oleh banyak pohon. Walaupun lahan yang dimiliki sangat terbatas, namun semua itu bukan halangan untuk menanam banyak pohon. Karena dengan menanam banyak pohon, sangat bagus buat iklim. Selain itu, supaya pohonnya juga

laku terjual…hehe... Salah satu kalimat yang Bang Wardi selalu ingat adalah: “Jika kita konsisten terhadap sesuatu, maka sesuatu itu akan memberikan kehidupan kepada kita”. Pesan dari Bang Wardi, seorang Betawi tulen ini bahwa pada prinsipnya hidup itu harus konsisten dalam menekuni sesuatu, meskipun itu merupakan bidang yang sangat sederhana. Bukti nyata dari kalimat yang Bang Wardi lontarkan tersebut terlihat dari dirinya yang selalu peduli terhadap lingkungan, sedari mahasiswa hingga beliau menjadi pengusaha tanaman. Yang kedua adalah jangan pelit berbagi ilmu yang kita punya. Karena kita hidup dari masyarakat, oleh karena itu kita harus mengembalikan segala sesuatu yang kita punya kepada masyarakat. Jadi kalau kalian berminat untuk memulai usaha dalam bidang ekobisnis, terutama terkait dengan bisnis tanaman, Bang Wardi tidak akan segan untuk membagi ilmunya.


AGENDA

SEE U...

10 hari di hutan, tak bertemu siapapun selain teman-teman seperjalanan, para calon anggota Mapala UI akan mencoba melalui 14 checkpoint yang sudah ditentukan. Kawasan Taman Nasional Meru Betiri pun menanti. Mampukah mereka? Apa saja yang akan terjadi? Kita lihat di JEJAK edisi depan.

The 17th Indonesia International Motor Show (IIMS) 2009 24 Juli - 2 Agustus 2009 Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta dipastikan diikuti oleh 21 merek.

Vol. 2/2, Juni 2009

G N A J N A P N A N A 2009 PERJAL BKP MAPALA UI

Vol. 2/2, Juni 2009

dibuat panitia hanya Rp 1,7 triliun, turun dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 1,79 triliun. Tingginya target panitia terhadap pengunjung ini karena kapasitas arena yang sekarang jauh lebih luas. Total area yang digunakan untuk IIMS tahun ini mencapai 36.077 meter persegi. Adapun di JCC sebelumnya hanya 25.216 meter persegi. “Kalau di JCC, kapasitas pengunjung, terutama di akhir pekan, tidak bisa lagi tertampung. Sekarang, dengan arena yang lebih luas, daya tampung pengunjung lebih banyak,” ujar Danny Budiharto, Direktur Dyandra, Panitia Pelaksana Pameran. Berkenaan dengan adanya keluhan akses ke Kemayoran, panitia juga menyediakan shuttle bus gratis yang diberangkatkan dari Pondok Indah Mall, Plaza Senayan, dan FX Lifestyle X’center. Adapun untuk parkir, yang tersedia di empat lokasi, daya tampung mencapai 10.000 mobil lebih. Itu belum termasuk 1.000 mobil peserta. Event tambahan lain adalah Motor Show Concert selama pameran berlangsung (19.00–22.00 WIB) dengan menghadirkan band seperti The Changcuters, Samson, Radja, Naif, Padi, Ungu, Gigi, Dewa, Hijau Daun, ST12, Project Pop, Cokelat, Andra TBB, dan Hello. Untuk atraksi, ada Achilles Drift Show, Achilles Drift Battle, Wimcycle BMX Jam, Car Audio, dan truckhead pulling atau menarik truk bersama-sama. Semua itu tentunya untuk menarik pengunjung!

KALI-KALI DI JAKARTA

25

Sungai-sungai di Jakarta, yang lebih akrab disapa dengan sebutan “kalikali“, seolah menjadi momok tersendiri bagi warga Jakarta. Bau yang menyengat, warna air yang hijau, timbunan sampah yang mengambang, serta tumpukan perumahan kumuh, telah membuat siapapun enggan berada di sekitarnya. Seburuk itukah kondisi kali-kali di Jakarta?

perjalanantigawanita.wordpress.com

PECINTA SATWA Bagaimana sebenarnya keberadaan dari pencinta satwa terkait dengan penyelamatan hewan-hewan yang terancam punah? Apa saja yang telah mereka lakukan?

Memasok kebutuhan pohon pertamanan dengan pohon ukuran besar (instant trees), yang akan segera menghijaukan ruang terbuka Anda. Butuh bibit pohon langka atau pohon keras dengan ukuran besar, hubungi ahlinya: HAGANI FLORA Jl. Jombang Raya, Parigi Lama No. 8 Pondok Aren, Tangerang 15227 Tel. (021) 745 4172 HP. 0817 710 464

Jejak

Jejak 24

Pameran mobil Internasional Indonesia kembali akan diselenggarakan di Jakarta. Ini adalah kali ke-17 kegiatan ini dilakukan dan akan diikuti 21 merek kendaraan. Ke21 merek terdiri dari produsen kendaraan penumpang dan komersial (truk dan bus). Tema IIMS kali ini: “Drive for Better Life”. Merek-merek yang terdaftar antara lain Audi, Daihatsu, Foton MPV, Hino, Honda, Hyundai, Isuzu, Mitsubishi, Nissan Diesel, Proton, Toyota, VW, Bentley, BMW, Mercedes-Benz, Jaguar, Nissan, Suzuki, KIA, dan Chery. Kendati demikian, beberapa merek hanya diwakili oleh dealer dan stannya pun kecil, yaitu Suzuki, Mazda, Mercedes-Benz, Nissan, BMW, KIA, Jaguar, dan Chery. Di samping merek-merek tersebut, juga dipamerkan mobil klasik dan eksotik, seperti Ferrari, Maseratti, Lamborghini, Aston Martin, Hummer dan Jeep. Panitia pameran juga memamerkan mobil-mobil yang telah dimodifikasi. Adapun di kelas sepeda motor, yang ikut berpameran antara lain Honda, Yamaha, dan Bajaj untuk di luar hall. Merek yang absen adalah Chevrolet (GM), Ford, Volvo, Renault, dan Subaru. Berdasarkan data yang dikeluarkan panitia, total perusahaan yang mengikuti pameran ini mencapai 151 perusahaan (data terakhir pada 17 Juni). Dibandingkan dengan tahun lalu, harga tiket pada tahun ini lebih murah, yaitu Rp 20.000 pada hari biasa dan Rp 30.000 pada hari libur. Jumlah pengunjung yang diharapkan 250.000 orang, lebih banyak dari tahun lalu, 200.000 orang. Kendati demikian, target transaksi yang

n

Gratisa

Sugi BJ

Jejak Jejak bisa bisa diambil diambil di: di: • Kantin, Perpustakaan, dan Koperasi Mahasiswa semua fakultas di UI •

• Kantin, dan Koperasi Mahasiswa Asrama UIPerpustakaan, Depok • Masjid Ukhuwah Islamiyah • Alfamart Psikologi UI fakultas di UIUI• •Asrama UI Margonda Depok • Masjid •semua Perpustakaan Pusat Gramedia Depok • TM BookStore • Starbucks Margo City • J.Co Margo City Ukhuwah Coffee Islamiyah • Alfamart Psikologi UI • Roda Link Margonda • Obonk Steak• Pidie 2000 •UI Sami Moro • The • Perpustakaan Pusat • PUSGIWA UI Patch • Barra de Cafe • Comic Zone

• Warteg Shinta • Bloc Cafe • Stasiun UI dan Pondok Cina • Zoe Cafe • Burger n Grill • Buku Kafe • D’space Cafe • English First • Nurul Fikri English Course •Tertarik Waroeng Steak iklan? n Shake pasang

Hubungi: Annisa Rahmania 0817 646 1939 atau Prihandoko 0817 666 8895

2. Juni

Vol. 2/

a untuk

Berbed

2009

rgairah

Lebih Be

ban DayakiIUtik Su

lai an Baja Tinggalk ingkungan an L elestari Demi K met mi Sela pet, Bisunis Pilihan yang an

Duit Da

Ekob

ng

ku an Ling



jejak-vol2_2juni09_2