Issuu on Google+

Sensasi Ngopi @KoffieGoenoeng #Tebet Rabu, 25 Juli 2012, Pukul 04.15 sore di ruang rapat Sofyan Hotel Tebet, suasana meeting masih terus berlangsung. Walaupun tema nggak begitu connect dalam fikiranku tapi aku terus ikuti sampai terus. Pak Martua Sirait menyela dalam rapat “ walaupun sudah agak terlambat, meeting kita break untuk Sholat Ashar, ya kira-kra 5-10 menit kita kumpul lagi” bilangnya. Tak ku biarkan kesempatan berlalu, aku keluar dan ambil air wudlu dan kebetulan di mushola hotel itu sudah ada pak Hasbi yang sudah sholat duluan, akhirnya aku shalat dan jadi makmum beliau. 20 menit berlalu Aku dan semua peserta sudah kembali membahas agenda rapat. Sesekali ku iseng buka samsung andoridku lalu kubuka twitterku, ternyata ada DM dari @KoffieGoenoeng. “ sekarang kamu sudah sampai mana” begitu kalimatnya. Tanpa fikir panjang kujawab “ mas aku lagi rapat di tebet nanti malam tidur di KPA” balasku. Setelah itu aku larut dengan alur rapat dan sesekali membalas twitter dari teman-teman Infest Jogja yang suka ngejek- ngejek saya, kaya mas Ibad dan Khayat, tapi mereka baik juga. @KoffieGoenoeng itu akun twitter guru dan sahabat saya, namanya Prasetyo, tapi aku lebih suka bilang Mas Pras. Beliau kerja di bidang penelitian. Namun beliau suka sekali memberdayakan masyarakat petani dengan model pertanian organik. Aku kenal Mas Pras sekitar tahun 2004-an, waktu itu aku masih mengelola Sekolah Komunitas di Serikat Petani Pasundan di wilayah Garut, Tasik dan Ciamis. Sosok Mas Pras yang aku kenal bukan karena pekerjaan penelitiannya, tapi sebagai orang yang konsern terhadap pertanian organiknya. Jam 5.oo sore, Rapat masih berlangsung, tiba-tiba Mas Pras nelpon saya, dengan setengah berbisik aku angkat teleponnya. “ Ji, kamu Tebet-nya dimana? aku juga tinggal di Tebet'' tanyanya. “ Aku di Hotel Sofyan Tebet, mas ” jawabku singkat. “ Gini, sebaiknya kamu ketemu aku, banyak hal yang ingin aku tunjukkan ke kamu. Makanya aku ingin ngajak kamu ke tempatku buat kamu agar tahu kopi dan jenisjenisnya” Katanya meyakinkan. “ Nanti aku jemput ya, setelah itu aku anter kamu ke KPA, karena besok pagi aku harus berangkat ke Kalimantan. “ Ok, saya tunggu mas, jawabku singkat. Waktu sudah menunjukan jam 5.50, itu akhirnya 9 menit lagi untuk waktunya buka puasa. Rapatpun


ditutup dan masing-masing mempersiapkan diri untuk berbuka puasa bersama. Jam 07.30 Malam, Peserta yang lain sudah sebagian pulang meninggalkan hotel. Aku dan rekan-rekan KPA masih terlibat diskusi ngalor ngidul. Tiga puluh menit berselang Mas Pras datang, kedatangannya pun disambut oleh rekanBogel dan Pak Martua Sirait yang asih diskusi. Akhirnya kami dan Mas Pras pun terlibat diskusi ngalor ngidul. Jam 08.00 malam. Saat nya berpisah dengan rekan-rekan, aku ikut dengan Mas Pras dan sementara yang lain ikut ke mobilnya KPA. Dijalan tidak terlalu ramai, mungkin karena sebagian orang ikut shalat tarawih. Mas Pras membawaku ke daerah Tebet Timur. “ Hotel Sofyan itu di daerah Tebet Barat, kalo aku di daerah Tebet Timur, deket kok” Katanya dan akhirnya aku sampai di kantornya. Suasana kantornya tidak terlalu ramai, terlebih sepertinya itu di komplek perumahan. Dari dalam rumah ada perempuan yang masih muda yang membukakan pintu untuk kami berdua. “ Mari masuk mas” Ajaknya. Begitu di dalam, ku simpan tas dan jaketku, lalu aku lihat sekeliling ruangan depan kantor. Mas Pras sendiri dia sibuk buka laptop dan menullis. Di dalam ruangan terdapat meja rapat besar, ada timeline stiker-striker dan sebuah tivi yang menyala. Diatas meja masih bergeletakan palstik kresek yang isinya biji kopi. Kertas, gunting dan kertas tebal masih berserakan disana. Sementara dibawah samping tembok banyak karung plastik yang ternyata berisi kopi-kopi lengkap dengan tulisan asal kopi tersebut berasal. Ternyata kopi-kopi tersebut berasal dari seluruh nusantara, ada dari Aceh, Manggarai, Jember, Tasikmalaya, dan daerah lain. Di atas meja pun ada kemasan siap kirim ke Singapura. Aktifitas Mba-mba tadi (maaf aku gak tanya namanya dan gak tanya juga).. sedang memilih biji kopi. Dia pisahkan dengan berbagai kualitas biji dengan cara manual. Kalo aku hitung ada sekitar 5-6 kelas dari satu jenis kopi yang ia pilih. “ Mba ini teliti banget milihin kopinya” gumamku. Sementara aku masih terus sibuk ambil beberapa gambar jenis-jenis pilihan kopi itu. Kebetulan kopi yang ia pilih kopi dari daerah Manggarai. Yang membuat aku kagum, dari semua yang ada disana, baik kantong yang berisi biji kopi semuanya dikasih label yang berisi tulisan-tulisan yang


dimasukan dalam plastik id card, termasuk juga kantong plastik yang berisi kopi berdasarkan kualitasnya terdapat jenis-jenis pilihnnya. Ada yang disebut berkutu, kecil bagus, besar bagus, cacat, dan masih banyak deh catatannya.

Dari semua jenis kopi ada dua jenis yang dikelola, yaitu jenis kopi arabica dan Robusta. Arabica mempunyai jenis warna yang agak kehijau-hijauan, kalau Robutsa warnanya agak cerah. Tetapi menurut Mas Pras, Kopi arabica lebih mahal di banding kopi robusta. Termasuk beliau sendiri sekarang sedang memberdayakan petani dengan kopi arabica, terutama di daerah-daerah pegunungan yang diatas 400 mdpl. “ Kalo soal rasa itu gimana selera masing masing, tapi kalo kopi robusta rasanya agak asam dibanding dengan arabica” Kata Mas Pras. “ Kamu mau ngopi Ji?” Tanya beliau. “ Sebenarnya saya bukan pengopi berat, tapi saya datang kesini mau merasakan apa perbedaan kopi @KoffieGoenoeng dengan kopi-kopi yang lain” Jawabku tegas. “ Ok kalau begitu, kamu ikut saya!” ajaknya. Mas Pras mengajak saya ke ruangan sebelah, disana ternyata sudah ada toples besar berisi bijibiji kopi yang sudah digoreng lengkap dengan label kopi jenis, kelas dan daerah asalnya. Alat penggiling kopi kecil, alat timbangan dan mangkok serta sendok plastik kopi. Saat itu aku pilih kopi arabica yang berasal dari Aceh. Beliau ambilkan biji kopi tersebut untuk kami bertiga dan setelah ditimbang mulailah dimasukan dalam alat penggilingan yang kecil. “ Kamu tau gak kenapa saya mendadak giling kopinya?'' Tanyanya. “Gak tau mas” jawabku singkat. “Kopi yang sudah digoreng itu asal ditempatkan di wadah yang kedap udara dia dapat mempertahankan rasa dan kualitas kopinya dibanding yang dibeli dengan hasil gilingan. Cuma karena petani atau para penikmat kopi ini tidak mau repot dengan semuanya, maka mereka lebih memilih kopi dari hasil gilingan. Kualitas aroma nya juga berbeda” Jelasnya. Gilingan Kopinya jangan terlalu lembut, gak enak! Katanya. Selesai di giling kopi dimasukan kedalam gelas penyaring yang sudah tersedia. Kemudian di seduh dengan air panas yang beberapa detik airnya di diamkan dulu. Aduk perlahan sesuai ukurannya kemudian masukan alat penyaring sederhana dan murah ( maaf Gak tau namanya), lalu tekan. Dan air yang teratas adalah air kopi yang bebas dari ampas.


Kutuang kopi itu digelasku sedikit, hanya untuk merasakan rasanya kopi Aceh itu. Pertama kuminum tanpa gula, aku rasakan rasa pait nya, tapi tidak asam, dan rasa kopinya nempel banget dilidah lama sekali rasanya. Aku coba tambahkan gula putih sedikit, yang aku rasakan sedikit manis, tapi segar sekali rasanya. Aku memang bukan pengopi berat, tapi aku rasakan kopinya enak sekali tidak membuat perut sakit atau mules. Yang jelas berbeda dengan rasa kopi yang sering kuminum di warungwarung. Malam itu aku banyak terlibat ngobrol dengan Mas Pras, ngalor ngidul gak karuan. Kemudian Mas Pras mengajak aku lagi ke lantai atas. Ketika kaki mau naik tangga kucium aroma kopi yang sangat kuat sekali. Diatas ternyata dipakai untuk penggorengan kopi. Disampingnya berderet karung berlabel yang berisi biji-biji kopi siap goreng. Alat goreng terbuat dari plat tahan panas yang dirancang oleh Mas Pras sendiri, menggunakan alat bakar gas yang sumbunya telah dimodifikasi, mesin putar dan mesin giling besar. Kipas angin diletakkan di bawah tempat kopi hasil gorengan itu keluar supaya dapat mendinginkan kopi. Ada dua buah alat pengukur suhu, baik suhu dalam maupun suhu agak luar penggorengan. Aku diambikan beberapa sendok kopi robusta kualitas sedang asal dari daerah Jember, Jatim. Proses penggorengannya cukup mudah. Biji kopi dimasukan setelah alatnya dipanaskan terlebih daluhu dan alat putar pengadukpun telah berjalan. Kulit- kulit kopi yang masih menempel di biji kopi keluar dengan sendirinnya dari dalam penggorengan melalui kran yang tersedia, alat termometer yang dipasang digunakan untuk melihat tekanan panas dalam penggorengan dan sesekali juga dilihat dari sendok pengambil biji untuk mengetahui kondisi kopi. Menggoreng kopi atau sangray adalah aktifitas menggoreng kopi tanpa minyak. Di pedesaan Tahap ini dilakukan dengann menggunakan alat sangray yang terbuat dari tanah liat atau wajan. Dibeberapa distro kopi alat ini menggunakanalat modern tapi harganya sangat mahal. Hasil kematangan ini dapat berdasarkan permintaan konsumen karena tingkat kematangannya akan membedakan cita rasa kopi itu sendiri. Setelah dicukupkan selesai, api dimatikan dan tuas pembuka diangkat, secara otomatis kopi keluar dari penggorengan yang dibawahnya sudah ada campah yang dikipasi oleh kipas angin, tujuannya agar kopi cepat dingin.


Kopi kemudian di masukan ke mesin penggiling kopi dan hanya 5 menit saja, bubuk kopi sudah selesai digiling. Kopi bubuk tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kemasan alumunium foil yang sudah disediakan, lengkap dengan stiker, label asal kopi, harga serta tanggal penggorengan. Semua jenis kopi yangg ada disini dibeli bervariasi juga, terkadang Mas Pras membeli dengan harga pasar dan terkadang juga membeli dengan harga yang dihitung berdasarkan biaya produksi. “ Mungkin sangat mahal tapi kualitas tidak mungkin ada yang mengalahkan. Karena selain harga, ada perlakuan terhadap kopi itu sendiri, misalnya pupuk dengan pupuk alami atau juga organik, cara petik yang hanya buah yang sudah merah saja. Itu sangat menentukan kualitas kopi itu sendiri. Petani harus terus diberdayakan agar mampu menikmati dari hasil kopi yang ia tanam. Itulah mengapa saya tidak mau membuat kedai kopi, diantaranya karena kalau saya buat kedai, nanti perhatian terhadap petani berkurang. Saya ingin fokus terhadap petani kopi dan kulatas kopi yang unggul. Untuk harga jual, banyak variasinya tapi Mas Pras menjamin tidak akan memberatkan harga. Yang jelas harga kami bersahabat. Untuk kopi yang digoreng tadi dijual dengan harga Rp 10.000/ 200 gram. Sedang yang diminum tadi dijual dengan harga Rp 20.000,-/200 gram. Sangat bersahabat bukan?� Tambah nya. Jam 12.15 Malam. Waktu begitu larut, banyak cerita yang sungguh membuatku banyak menemukan hal-hal baru. Dari sebuah kopi ternyata banyak mengungkap misteri yang harus di pecahkan lebih dalam, terutama kehidupan petani kopi yang perlu diperhatikan kehidupannya. Saatnya Mas Pras mengantarkan aku pulang ke kantor KPA. Dan hanya ucapan terimakasih yang dapat kusampaikan untuk Mas Pras yang telah membawaku semakin mencintai petani kopi dan jadi seneng minum kopi sedikit gula. See You Next Time...


Sensasi Ngopi @KoffieGoenoeng