Page 1

5 Informasi Bagi Pengunjung ke Hutan Lambusango Pada bab ini, Anda akan memperoleh informasi mengenai: ? cara berkunjung ke Hutan Lambusango; ? informasi jalur transek di Hutan Lambusango; ? persiapan yang harus diperhatikan sebelum memasuki Hutan Lambusango; ? peraturan selama di dalam Hutan Lambusango; ? tips tambahan mengamati satwa, menelusuri hutan, dan camping.

105


A.

Bagaimana Cara Berkunjung ke Hutan Lambusango?

Untuk memasuki kasawan Hutan Lambusango Anda harus memiliki izin dan mengetahui akses masuk ke hutan.

1. Bagaimana Cara Memperoleh Izin?

Jika Anda ingin memasuki kawasan hutan konservasi (C.A. Kakenauwe dan S.M. Lambusango), terlebih dahulu Anda harus menghubungi kantor pusat BKSDA Kendari. Namun, jika Anda ingin memasuki blok hutan produksi dan hutan produksi terbatas Anda terlebih dahulu harus menghubungi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kehutanan di tempat Anda akan masuk. UPTD tersebar di empat lokasi, yaitu Kapontori, Lasalimu, Lasalimu Selatan, dan Pasarwajo. Dusun Kawele

Resort BKSDA C.A. Kakenauwe & S.M. Lambusango/Dusun Labundo-bundo

UPTD Kapontori/ Kelurahan Wangkaka

UPTD Lasalimu/ Kelurahan Kamaru

Dusun Watambo

UPTD Lasalimu Selatan dan Siontapina/ Kelurahan Ambuau

Bau-Bau

Dusun Kabongka UPTD Pasarwajo dan Walowa

bagian besar adalah S.M. Lambusango, & bagian kecil di atas adalah C.A. Kakenauwe hutan produksi terbatas. hutan produksi. hutan produksi yang sudah rusak. jalan angkutan umum hutan lindung, wilayahnya kecil dan tersebar, tidak tergambar di peta.

Gambar 5.1 Lokasi UPTD kehutanan di sekitar kawasan Hutan Lambusango

106

Misteri Kekayaan Hayati Hutan Lambusango Singer dan Purwanto, 2006


Untuk memudahkan dalam memperoleh izin dan informasi di perjalanan, sebenarnya Anda bisa juga menghubungi beberapa tour operator berikut ini. a. Senora Buton Jln. Wolio Umna Plaza Lt-2, Blok 6. 30–31, Kota Bau-Bau Phone: (0274) 26857 E-mai: senora3actour@yahoo.com b. Angsa Indonesia Jln. Sekarwijan 14A Balapan, Yogyakarta 55222 Indonesia Phone: (0274) 554217; 520940 Fax: (0274) 520913, E-mai: angsa@indosat.net.id

2. Bagaimanakah Akses Perjalanan ke Hutan Lambusango?

Untuk masuk Hutan Lambusango, ada beberapa pintu masuk di hampir seluruh bagian. Namun demikian, sedikitnya ada lima lokasi tempat masuk yang lebih mudah. Masing-masing lokasi tempat masuk tersebut mempunyai keunikan tersendiri. Jika Anda memulai perjalanan dari pusat Kota Bau-Bau, ada empat lokasi pintu masuk yang berada satu jalur perjalanan, yaitu Watambo, Wakangka, Kawele, dan Labundo-Bundo. Untuk lokasi terjauh dari pusat kota, Anda membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam menuju Dusun Labundo-Bundo. Satu lokasi lagi yang tidak searah dengan ke empat pintu masuk tersebut adalah menuju Dusun Kabongka. Untuk mencapai Kabongka, Anda harus memilih arah yang lain. Diperlukan waktu perjalanan sekitar 3 jam dari pusat Kota Bau-Bau. Semua lokasi tersebut dapat dicapai dengan kendaraan umum dari Bau-Bau. Setelah tiba di lokasi yang Anda tuju, cobalah bersikap baik terhadap penduduk setempat. Jika bertemu dengan penduduk setempat sangat dianjurkan untuk bisa tersenyum dan menyapanya. Umumnya mereka sangat bersahabat. Masyarakat sekitar Hutan Lambusango sangat ramah menerima pendatang. Seandainya Anda ingin menginap di rumah penduduk setempat, sangat penting bagi Anda untuk berkunjung ke kepala desa atau kepala dusun setempat. Para kepala desa biasanya akan menolong Anda seandainya mengalami kesulitan. Jika belum mengenal jalan masuk hutan, Anda perlu ditemani oleh salah seorang penunjuk jalan atau jagawana (polisi hutan).

Informasi Bagi Pengunjung ke Hutan Lambusango

107


I N F O Di Pulau Buton, suatu desa bisa terdiri atas beberapa dusun. Kepala desa secara formal tercatat dalam administrasi pemerintahan. Adapun kepala dusun secara informal diakui oleh penduduk setempat. Seorang kepala dusun bisanya merupakan sesepuh juga orang asli wilayah setempat.

Berikut ini keunikan di setiap pintu masuk menuju kawasan konservasi Hutan Lambusango. a. Dusun Labundo-Bundo Jika ingin menginap di tempat penginapan khusus, Anda sebaiknya berkunjung ke dusun ini. Labundo-Bundo merupakan dusun yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan karena posisinya terletak di antara C.A. Kakenauwe dan S.M. Lambusango. Di dusun ini sudah terdapat tempat tinggal (home stay) yang disediakan oleh Dinas Pariwisata Buton. Penginapan ini berdekatan pula dengan pompa bensin, pos jagawana BKSDA, kantor polisi, kantor dusun, serta tersedia pemandu jalan di hutan yang terlatih bekerja dalam kegiatan wisata ilmiah. Dengan demikian, Anda bisa menginap cukup nyaman di sini. Hutan di dekat lokasi ini sangat baik untuk kegiatan pengamatan burung, Kuskus, Tarsius, dan melihat keindahan air terjun Kakenauwe. Anda yang suka berenang bisa pula melakukan snorkeling (berenang dengan menggunakan masker-pipa). Dusun Labundo-Bundo berdekatan dengan Pantai Kakenauwe yang masih memiliki keindahan terumbu karang dan ikan-ikan laut.

Gambar 5.2 Tempat penginapan di Dusun Labundo-Bundo Sumber: PKHL, 2005.

108

Misteri Kekayaan Hayati Hutan Lambusango Singer dan Purwanto, 2006


b. Dusun Kawele Jika Anda ingin mengamati Andoke, datanglah ke dusun ini. Di kebunkebun penduduk yang berbatasan dengan Hutan Lambusango banyak dijumpai Andoke. Andoke di sini relatif mudah ditemukan dan tidak terlalu liar karena mereka sering Sumber: Priston, 2005. berjumpa dengan manusia. Gambar 5.3 Andoke banyak dijumpai di c. Dusun Wakangka Dusun Kawele. Anda yang ingin menikmati perjalanan sehari (one day trip ), sangat cocok jika masuk melalui dusun ini. Berawal dari dusun ini, kemudian melanjutkan perjalanan melaui rute naik turun gunung Wakangka– Watumbubosu–Kateresa–Padang Kuku. Anda akan menikmati perjalanan ke hutan melalui daerah pertanian yang luas, perkebunan, sungai kecil, perbukitan, hutan yang banyak ditumbuhi oleh rotan, hingga daerah terbuka Padang Kuku. d. Dusun Watambo Di dusun ini tersedia banyak pencari madu Sumber: Singer, 2006. yang sangat mengenal Hutan Lambusango. Gambar 5.4 Jika Anda ingin berpetualang selama Perjalanan di Padang Kuku. beberapa hari dalam hutan. Tidak salah untuk mengambil pemandu jalan dari dusun ini. Sekitar 45 menit perjalanan ke puncak, Anda bisa menemui suatu tempat yang unik di Hutan Lambusango. Tempat yang berada di puncak bukit ini disebut Padang Kuku. Blok Hutan Lambusango ini sangat unik. Unik karena memiliki vegetasi terbuka yang banyak ditumbuhi rumput dan pohon-pohon pendek, berdaun kecil tebal seperti di daerah hutan pegunungan atau subalpine. Padahal daerah ini hanya memiliki ketinggian 300–370 m dpl. Anda juga harus berhati-hati karena di lokasi ini sering ditemukan Kalajengking.

Informasi Bagi Pengunjung ke Hutan Lambusango

109


Pada saat sore hari sekitar pukul 17.30–18.00, jika cuaca cerah, Anda dapat duduk di puncak Padang Kuku sambil menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset) di Teluk Kapontori.

Gambar 5.5 Keindahan sunset di Teluk Kapontori. Sumber: Singer, 2005.

e. Dusun Kabongka Jika Anda ingin melakukan petualangan yang lebih menantang. Masuklah ke dusun ini. Pemandu jalan dusun setempat akan membawa Anda bertualang melalui sungai yang lebih deras dan dalam. Anda juga bisa melakukan kegiatan turun tebing menggunakan tali (rappelling) jika berjalan lebih jauh lagi. Pada malam hari, Anda dapat menemukan katak berukuran besar (panjang sekitar 30 cm) di sungai sekitar kawasan ini. Tidak jauh dari dusun ini, Anda juga bisa melihat proyek pertambangan aspal di Pulau Buton yang sedang berlangsung.

Gambar 5.6 Penambangan aspal yang berada di dekat Dusun Kabongka. Sumber: www.opwall.com

110

Misteri Kekayaan Hayati Hutan Lambusango Singer dan Purwanto, 2006


B.

Takut Tersesat Saat Melakukan Wisata Hutan?

Selain tersedianya pemandu wisata hutan yang handal, di beberapa blok Hutan Lambusango, Blok Lapago, Anoa, Wahalaka, Wabalamba, Bala, dan Sumber Sari telah tersedia 6 Ă— 4 transek. Setiap transek memiliki panjang 3 km. Selain itu, ada juga dua buah grid berukuran 1 Ă— 1 km yang terdapat di hutan blok Kakenauwe dan Lapago. Transek dan grid ini sangat bermanfaat jika Anda ingin melakukan penelitian hewan atau tumbuhan. Beberapa metode penelitian memerlukan suatu ukuran tertentu dan konsistensi, hal tersebut hanya bisa diperoleh dengan cara membuat transek di hutan. Dalam transek dan grid sudah dilengkapi dengan nomor (tanda-tanda jalan) yang juga akan membantu Anda agar tidak tersesat dalam hutan.

Sumber: Seymour, 2005.

Gambar 5.7 Lokasi transek yang sudah tersedia di Hutan Lambusango.

Informasi Bagi Pengunjung ke Hutan Lambusango

111


C.

Apakah Persiapan yang Harus Diperlukan Sebelum Masuk Hutan Lambusango?

Sebelum masuk ke dalam hutan, tentunya Anda telah memiliki tujuan tertentu. Ada beberapa tips bermanfaat yang perlu Anda perhatikan selama melakukan beberapa kegiatan di hutan. 1. Persiapankan air, makanan, dan perlengkapan seperlunya. 2. Sesuaikan kebutuhan Anda dengan berapa lama Anda akan tinggal dalam hutan. Makanan dan logistik yang berlebih malah akan memberatkan, tetapi bawaan yang kurang juga akan menyebabkan Anda tidak nyaman dalam hutan. 3. Pastikan air selalu Anda bawa, walaupun dalam perjalanan pendek. Cuaca di Buton sangat panas bagi beberapa pengunjung sehingga menyebabkan orang bisa cepat terkena dehidrasi. 4. Jangan lupa untuk selalu membawa perlengkapan kesehatan dan obat-obatan pribadi. 5. Siapkan juga plastik kedap air, untuk menjaga beberapa peralatan penting Anda agar tidak basah saat turun hujan. 6. Jika Anda ingin melakukan pengamatan lebih serius, bawalah alat tulis, kamera, atau handycam untuk mencatat dan merekam objek yang menarik. Buku panduan lapangan seperti untuk mengetahui jenis burung-burung di Kawasan Wallacea dapat Anda bawa ke lapangan atau Anda simpan di desa/camp.

Gambar 5.8 Kenyamanan menggendong ransel mempengaruhi perjalanan Anda. Insert: contoh ransel yang nyaman untuk perjalanan hutan. Sumber: opwall, 2005; CD Photo Image.

112

Misteri Kekayaan Hayati Hutan Lambusango Singer dan Purwanto, 2006


7. 8. 9.

Bawalah peluit sebagai alat pemberi tanda seandainya Anda tersesat. Pakailah ransel dengan konstruksi yang baik dan nyaman dipakai di badan. Penataan barang (packing) ransel yang baik perlu juga Anda perhatikan agar Anda merasa nyaman saat menggendong ransel tersebut.

D.

Bagaimanakah Peraturan Selama Berada di Dalam Hutan Lambusango?

1. Dilarang membawa masuk hewan peliharaan ke dalam kawasan Hutan Lambusango. 2. Dilarang membawa senjata, seperti pisau belati atau perlengkapan berburu lainnya. 3. Dilarang membawa perangkat keras yang menimbulkan polusi suara. 4. Dilarang sembarangan menyalakan api di kawasan konservasi. 5. Dilarang mengganggu, memindahkan, atau mencoret-coret properti Hutan Lambusango. 6. Dilarang memetik bunga atau mencabut tumbuhan liar. 7. Berjalanlah mengikuti jalan yang telah ada. Membuat jalan potong akan berbahaya bagi keselamatan Anda, juga merusak vegetasi hutan. 8. Dilarang membuang sampah. Bawalah pulang sampah tersebut bersama Anda. 9. Dilarang mencemari perairan. 10. Sebaiknya selama wisata hutan, Anda ditemani pemandu jalan atau polisi hutan. Gambar 5.9 Dengan mengikuti jalan setapak yang telah ada, Anda berarti telah membantu melestarikan Hutan Lambusango.

Sumber: Singer, 2005.

Informasi Bagi Pengunjung ke Hutan Lambusango

113


E.

Tips Bagi Anda

1. Tips Pengamatan Satwa a.

Untuk mengamati burung dan Andoke, persiapkanlah teropong (binoculer) atau teleskop (monoculer).

Sumber: CD Photo Image.

Gambar 5.10 Teropong.

b. c. d.

e.

f.

114

Gambar 5.11 Teleskop.

Penggunaan teleskop hanya efektif di daerah terbuka dan memiliki ruang pandang yang luas. Untuk mengamati hewan Vertebrata sebaiknya dilakukan dalam kelompok kecil (tidak lebih dari 5 orang). Jumlah pengamat yang terlalu banyak hanya akan menakuti hewan. Untuk mengamati Aves dan Mammalia, pergunakanlah pakaian yang redup (seperti pakaian berwarna hijau, cokelat, atau hitam), dan tidak menggunakan pakaian yang mencolok (seperti kuning, jingga, atau merah muda). Umumnya waktu pagi hari pukul 6.00–9.00, sangat baik untuk mengamati satwa diurnal, kecuali pengamatan burung elang (raptor watch). Lebih baik Anda memilih waktu pada pukul 10.00–14.00. Saat itu, burung pemangsa akan melakukan aktivitas terbang melingkar-lingkar memanfaatkan panas udara (thermal soaring). Jika Anda ingin mengamati hewan malam, seperti Tangkasi atau Katak Sungai. Jangan lupa untuk membawa senter besar. Namun, waktu paling baik untuk mengamati Tangkasi adalah pagi hari 5.45–6.15, saat itu Tangkasi sedang bergerak menuju ke tempat tidurnya (sleeping site).

Misteri Kekayaan Hayati Hutan Lambusango Singer dan Purwanto, 2006


g.

Beberapa daerah potensial untuk pengamatan hewan adalah di daerah ecotone, pinggir bukit, dan dekat sungai. h. Perhatikan juga bagian lantai hutan karena Anda bisa belajar melakukan pengamatan hewan secara tidak langsung (indirect method). Pada saat tersebut Anda mungkin akan menemukan jejak kaki Anoa, Babi, atau kotoran beberapa hewan. i. Dalam melakukan hunting photograph, Anda harus sabar untuk mendapatkan posisi hewan yang bagus, beberapa hewan di hutan memiliki pergerakan cukup cepat.

2. Tips untuk Anda yang Menyukai Aktivitas Penelusuran Hutan a.

Pergunakan sepatu yang nyaman dipakai serta dapat melindungi angkle (alas kaki) Anda dan memiliki grip baik. Sepatu yang tidak pas di kaki akan menimbulkan lecet kaki Anda. Di beberapa lokasi hutan akan sangat licin, terutama saat musim hujan sehingga kaki Anda rawan cedera.

Sumber: CD Photo Image.

Gambar 5. 12 Sepatu lapangan

b.

c.

Pakailah celana panjang, dan baju lengan panjang, terutama saat musim hujan. Namun, saat musim kemarau, baju lengan panjang akan menyebabkan Anda cepat gerah. Jadi, sesuaikan pakaian Anda dengan kondisi lapangan saat itu. Pakaian seperti ini akan melindungi Anda pada saat berpetualang di alam bebas. Bawalah perlengkapan perjalanan secukupnya. Anda akan merasa cepat lelah jika beban yang dibawa terlalu banyak.

3. Tips untuk Anda yang Memilih Aktivitas Berkemah a.

Jika Anda ingin tinggal lebih lama di dalam hutan, perlengkapan dan bahan makanan yang dibutuhkan akan lebih banyak. Tidak ada salahnya jika Anda meminta bantuan porter (pengangkut barang) untuk memudahkan saat pengangkutan.

Informasi Bagi Pengunjung ke Hutan Lambusango

115


b.

Pilihlah tempat berkemah (camping) di dekat sungai atau sumber air, tetapi jangan berkemah di sungai besar yang memungkinkan air dapat meluap seandainya terjadi banjir. Jangan membuang sampah atau kotoran ke sungai. Buatlah tempat sampah khusus dan tempat untuk mencuci makanan. Sampah atau kotoran yang Anda buang ke dalam air akan mencemari sungai.

Sumber: Opwall, 2005.

Gambar 5.13 Lokasi berkemah camp anoa.

c. d. e.

f.

Sebelum menentukan lokasi kemah, perhatikan jejak binatang sepetri Anoa atau babi. Jangan sampai Anda berkemah di jalur pergerakan binatang tersebut. Perhatikan pula pohon-pohon di sekitarnya Anda sebaiknya tidak mendirikan tenda atau tempat tidur di dekat pohon rapuh yang rawan tumbang. Saat berkemah di musim hujan, perhatikan kebersihan Anda. Seringlah membuka sepatu di sekitar tenda agar kaki Anda tetap kering. Pakaian dan sepatu basah sering cepat menimbulkan jamur pada kulit Anda. Pastikan api padam sebelum Anda meninggalkan lokasi. Waspadalah akan kebakaran hutan. g. Saat Anda tidur, pastikan tubuh Anda terlindungi dari kemungkinan gigitan nyamuk, lipan, atau ular.

Sumber: Singer, 2005.

116

Gambar 5.14 Tempat tidur yang tertutup dan menggantung (hamock)akan melindungi Anda dari hewan-hewan liar.

Misteri Kekayaan Hayati Hutan Lambusango Singer dan Purwanto, 2006


DAFTAR PUSTAKA Audley-Charles, M.G. 1981. Geological History of The Region of Wallace's Line. In Wallace's Line and Plate Tectonics. Ed. T.C. Whitmore. Oxford University Press: Oxford. Bird, D. 2005. The Fishes of Buton and The Lambusango Forest . Report. Operation Wallacea BPS. 2004. Kabupaten Buton Dalam Angka 2004. Badan Pusat Statistik: Buton Burton, J. A., A.H. Mustari dan A.A. Macdonald. Status dan Rekomendasi Konservasi In Situ Anoa (Bubalus sp.) dan Implikasinya Terhadap Konservasi Ex Situ (Conservation Breeding Population). Buletin Konservasi Alam: Bogor. Carlisle, B. 2005. Seeing the wood and the trees: value, variety, and change in Buton's forests. Northumbria University: Newcastle. Coates, B.J., K.D. Bishop and D.Gardner. 1997. A Guide to The Birds of Wallacea: Sulawesi, The Mollucas and Lesser Sunda Islands, Indonesia. Dove Publications: Queensland. Gillespie, G., S. Howard, D. Lockie, M. Scorggie and Boeadi. 2005. Herpetofaunal Richness and Community Structure of Offshore Islands of Sulawesi, Indonesia. Biotropica. 37 (2). Gunawan, H. 2005. Laporan Inventarisasi Hutan UPTD Kapontori Dinas Kehutanan Buton. Laporan. Program Konservasi Hutan Lambusango: Bau-Bau. Janumiro, 2000. Rotan di Indonesia. Kartesius: Jakarta Kelly, D., N. Marples, H.A. Singer, and M. Meads. 2003. Study Biogeography of Birds in Buton, Kabaena and Wakatobi Island. Report. Operation Wallacea: Bau-Bau. Kinnaird, M.F. 1995. North Sulawesi: A Natural History Guide. Yayasan Pengembangan Wallacea: Jakarta Lee,R.J.,J.Riley, R.Merrill dan R.P.Manoppo. 2001. Keanekaragaman Hayati dan Konservasi: Di Sulawesi Bagian Utara. WCS-IP dan NRM: Jakarta. Macdonald, A.A. 1993. Pigs, Peccaries, and Hippos Status Survey and Action Plan. University of Edinburgh: Scotland. O'Donovan, G. 2001. Report on Botanical and Ecological Status of The Kakenauwe and Lambusango Nature Reserve on Buton Island, Sulawesi. Report. Operation Wallacea: Bau-Bau. Operation Wallacea. 2005. Wallacea: A Biodiversity Hotspot. www.opwall.com Primack, R.B., J. Supriatna., M. Indrawan dan P. Kramadibrata. 1998. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta Priston, N.E.C. 2005. Crop-raiding by Macaca ochreata brunnescens in Sulawesi: Reality, perceptions and outcomes for conservation. PhD Thesis. University of Cambridge: UK. nancy@cantab.net. Putro, H.R. 2004. Panduan Konservasi Hutan bagi Pengambil Keputusan. Inform

Daftar Pustaka

117


Purwanto, E. 1999. Erosion, Sediment Delivery, and Soil Conservation in an Upland Agricultural Catcment in West Java, Indonesia. A hydrological approach in a socio-economic context . PhD thesis. Vrije Universiteit: Amsterdam. Purwanto, E. and E. Warsito, 2002. Deforestasi dan Perubahan Lingkungan Tata Air Di Indonesia: Resiko, Implikasi, dan Mitos. BIGRAF Publishing: Yogyakarta. Purwanto, E. and Y. Hadiprakarsa, 2004. Managing Way Sekampung amd Way Seputih Basins for Wildlife Conservation: Where the Sinergy Between Wildlife and Watershed Conservation Co-exist. Dinas Pekerjaan Umum dan prasarana Wilayah, Lampung Timur. Purwanto, 2004. Menggalang Kepedulian Hulu-Hilir Dalam Restorasi Ekosistem Pulau Jawa. Paper dipresentasikan pada BP2TPDAS-IBB: Solo Purwanto, E. dan J. Ruijter. 2004. Hubungan antara Hutan dan Fungsi Daerah Aliran Sungai. Dalam Fahmuddin Agus dkk.. (ed.). Dampak Hidrologis Hutan, Agroforestri , dan Pertanian Lahan Kering Sebagai Dasar Pemberian Imbalan Kepada Penghasil Jasa Lingkungan di Indonesia. World Agroforestry Centre: Bogor. Schmidt, F.H. and J.H.A. Ferguson. 1951. Rainfall types based on wet and dry period ratios for Indonesia and Western New Guinea. Djawatan Meteorology dan Geofisik: Jakarta Shekelle, M. dan S.M. Leksono. 2004. Strategi Konservasi di Sulawesi dengan Menggunakan Tarsius sebagai Flagship Spesies. Biota. Vol IX. Singer, H.A. 1997. Pola Aktivitas Harian Banteng (Bos Javanicus) di Taman Nasional Alas Purwo. Laporan. Universitas Padjadjaran: Jatinangor. ––––. 2001. Keragaman Burung Di Pulau Buton dan Beberapa Pulau Sekitarnya . Laporan. Operation Wallacea: Bau-Bau. Triono, U. 2002. The Preliminary Survey of Solid Bitumen Acumulation of Kalisusu and Surounding Area, Muna Regency, South-east Sulawesi Province. Noerdjito, M., I. Maryanto, 2005. Kriteria Jenis Hayati yang Harus Dilindungi Oleh dan Untuk Masyarakat Indonesia. Pusat Penelitian Biologi LIPI Bekerjasama dengan World Agroforestry Center-ICRAF: Bogor. Schroorl, P. 2003. Masyarakat, Sejarah, dan Budaya Buton. Penerbit Djambatan: Jakarta. Suyanto, A. 2001. Kelelawar Di Indonesia. Puslitbang Biologi - LIPI . van Bemmelen, R.W. 1970. The Geology of Indonesia. Government Printing Office: The Hague Waryono, T. 2005. Pendekatan Pemulihan Bio-Fisik Bantaran Sungai Di Jakarta. Thesis Doktor. Departemem Biologi, Fakultas MIPA. Universitas Indonesia: Jakarta. Whitten, T., M.Mustafa and G.S. Henderson. 2002. The Ecology of Sulawesi. Periplus Wijaya, A. 2005. Survey Populasi Macaca ochreata brunescens. Draft Skripsi. Institut Pertanian Bogor : Bogor. WWF. 2001. Terrestrial Ecoregions of the World. [online]. http://worldwildlife.org/science/ ecoregions/terrestrial.cfm

118

Misteri Kekayaan Hayati Hutan Lambusango Singer dan Purwanto, 2006

Bab 5_Informasi bagi Pengunjung ke Hutan Lambusango  

Jika Anda ingin memasuki kawasan hutan konservasi (C.A. Kakenauwe dan S.M. Lambusango), terlebih dahulu Anda harus menghubungi kantor pusat...