Issuu on Google+

DariRedaksi

Tidak Ingin Hanya Sekedar Menginspirasi Lestari Desaku

Pimpinan dan Penanggungjawab Dr. Edi Purwanto Dewan Redaksi Edi Purwanto Ujang Susep Irawan Ludiro Prajoko Hendra Gunawan Editor Bahasa Edi Purwanto Ujang Susep Irawan Kontributor Ahli Prof. Dr. Ani Mardiastuti Prof. Dr. Mapatoba Prof. Dr. Hendro Wardoyo Dr. Supriyanto Dr. Damayanti Buchori Ilustrator Wahyu Gumelar Desain dan Penata Letak www.adioga.com Fotografer Irfan Cakra Distributor Aryudi Reza Diterbitkan oleh

Penerbitan majalah ini didanai oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Lingkungan Mandiri Perdesaan (PNPM-Green) Alamat Redaksi Taman Cimanggu Jl. Akasia III Blok P VI No. 4-5 Bogor - Jawa Barat Telp.: (0251) 8343184 - 08129655233 E-mail: purwanto.owt@gmail.com Website: www. owt.or.id

Lestari Desaku

A

pabila majalah ini sampai di tangan anda, kami berharap majalah ini bukan saja menarik untuk dibaca, melainkan mampu menginspirasi. Bahkan bukan sekedar menginspirasi, melainkan (dan ini yang paling penting) membuat anda mampu berbuat. Kami berusaha untuk menginspirasi dan sekaligus menstimulasi. Memberikan teori dan sekaligus panduan untuk beraksi. Memberikan perspektif dan sekaligus memotivasi anda untuk proaktif. Kami tidak ingin majalah ini hanya layak dibaca di ruangan, namun sekaligus menjadi panduan bekerja di lapangan. Kami bersyukur telah banyak makan asam garam dunia pelatihan masyarakat perdesaan. Salah satu kunci membuat masyarakat berdaya adalah memfasilitasi mereka untuk bekerja. Kami tidak ingin banyak menghabiskan waktu pelatihan di ruangan, melainkan di lapangan. Kami tidak ingin membiarkan peserta pelatihan berangan-angan, melainkan menstimulasi menyelesaikan persoalan. Kami tidak ingin membuang banyak waktu berwacana, melainkan bekerja. Pelatihan masyarakat akan memberikan manfaat, jika dan hanya jika dilakukan dengan menstimulasi masyarakat untuk berbuat, learning by doing. Dengan berbekal prinsip ini, dapur redaksi kami mencoba untuk mengolah dan menyuguhkan menu: Kini menanam esok memanen: Kiat memberdayakan tanaman buah. Sebagaimana biasa, kami menjanjikan aneka masakan yang kami sajikan secara berurutan, dari tataran teori hingga mengerucut ke praktik lapangan. Dimulai dari Editorial yang mengupas maksud jargon ‘kini menanam esok memanen’, pentingnya menghijaukan lahan kritis marjinal negeri ini dengan tanaman buah (Perspektif). Pentingnya memilih bibit unggul tanaman pepohonan.  Alasan diperlukan pembiakan vegetatif, kiat memilih teknik pembiakan vegetatif dan panduan teknis melakukannya. Tentunya tidak lengkap bila hanya bicara soal teknis. Kami lengkapi sajian menu utama dengan liputan kisah sukses penangkar bibit dan petani buah-buahan, serta liputan Taman Buah Mekarsari. Sebagaimana biasa, suguhan majalah ini kami taburi dengan aneka rasa praktik cerdas. Tentunya semuanya berkaitan dengan ide menuju kesejahteraan, Edi Purwanto kelestarian dan kemandirian desa. Selamat menikmati !

Edisi 3, Oktober 2012

|1


DaftarIsi

Lestari Desaku

Edisi 3, Oktober 2012

6.Fokus

Tanaman Unggul dari Induk Unggul Agar tidak sia-sia, maka sejak dini kita harus ketat dalam menetapkan asal tanaman. Tanaman harus jelas induknya, karena tanaman unggul pada dasarnya diperoleh dari induk yang unggul pula.

30.Tokoh Kita

> H. Udin Saefudin Pengusaha penangkar bibit buah-buahan, Desa Ciapus, Kecamatan Ciomas, Bogor

Kepedulian Menuai Kesuksesan Bermodal dari kepedulian dan kesenangan menangkar bibit buah-buahan sebagai penghasil oksigen dan buah. Kesadaran bahwa menanam pohon adalah ibadah, Haji Udin (55), pria kelahiran 1957, berhasil meraup rejeki melimpah dari usaha penangkaran vegetatif pohon buah-buahan.

34.Pembelajaran Praktik Cerdas

> Belajar dari Warso Farm:

Membuat Durian Berbuah Sepanjang Musim Warso Farm, sebuah kebun wisata buah-buahan di Kota Bogor yang dapat memberikan pembelajaran berharga tentang bagaimana agar pohon rajin berbuah sepanjang musim, kuncinya adalah perawatan intensif secara benar.

2 | Edisi 3, Oktober 2012

1 dari redaksi 3 Editorial 4 perspektif FOKUS 8 Generatif atau Vegetatif 12 Menyiapkan Pembibitan Vegetatif 16 Membibitkan Tanaman Secara Vegetatif 26 Menanam Buah dalam Pot info produk 11 Seri Manual Perlindungan dan Rehabilitasi Daerah Tangkapan Air dari anda 29 Kiat Menangani Bibit Cabutan dan Perkecambahan Benih wisata ilmiah 38 Yuk... Kita berkunjung ke Taman Buah Mekarsari Kolom PENGUATAN DESA 5 Menyelamatkan Pohon Uru Melalui Pohon Induk Desa 32 Lingkungan Hidup Tidak Muncul dalam RPJM Desa: Wah, gak betul tuh! 36 Kembalikan Kolam Susu dan Tanah Surgaku ! 40 Kurungan Peminat majalah ini dapat menghubungi alamat redaksi : Taman Cimanggu, Jl. Akasia III Blok P VI No. 4-5, Bogor - Jawa Barat Tel: (0251) 8343184 E-mail: redaksilestaridesaku@gmail. com, Website: www. owt.or.id Redaksi menerima sumbangan tulisan maupun foto/gambar yang dapat disampaikan ke alamat redaksi, tulisan dibatasi sebanyak 2500 karakter per halaman.

Lestari Desaku


Editorial

Kini Menanam Esok Memanen Ala Lestari Desaku

J

argon ‘Kini menanam Esok Memanen’ merupakan tema Seminar Hutan Tanaman Industri (HTI) pertama yang diselenggarakan di Fakultas Kehutanan IPB pada tahun 1983. Alkisah, di awal tahun 1980an, para ahli kehutanan mulai resah, pengelolaan hutan alam di  luar Jawa dengan menggunakan berbagai teknik silvikultur (budidaya hutan) yang digadang mampu menjamin kelestarian hutan, hasilnya nol besar. Pengelolaan hutan alam oleh Hak Pengusahaan Hutan (HPH), tidak lebih dari kegiatan penghancuran hutan untuk sebesarbesarnya kepentingan bisnis semata. Silvikultur hutan alam yang seharusnya menjadi panglima ternyata hanya menjadi asesoris belaka. Memperhatikan tingginya degradasi hutan alam muncul pemikiran untuk membangun hutan tanaman di bekas lahan HPH.  Karena penanaman jenisjenis asli seperti Meranti, Keruing, Ulin dan Eboni memakan waktu lama yang tentunya kurang menarik dari perhitungan bisnis, maka dipilihlah jenis-jenis kayu eksotik cepat tumbuh, seperti Acasia Mangium, Eucaliptus dan sebagainya yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri pulp dan kertas. Mimpinya, walau Indonesia gagal melestarikan hutan alamnya, namun kemudian Indonesia mampu membangun hutan tanaman produktif terluas di dunia dengan nilai ekonomi yang tidak kalah tinggi dibandingkan hutan alam.  Tergiur mimpi besar membangun masa depan hutan Indonesia melalui HTI, pemerintah kemudian mengucurkan kredit lunak yang bersumber dari dana reboisasi untuk menggiring para pebisnis besar Indonesia berinvestasi di HTI. Sayangnya harapan besar itu lagi-

Lestari Desaku

lagi bak mimpi di siang bolong. Program HTI yang diharapkan mampu merestorasi hutan, justru menimbulkan berbagai tekanan dan kerusakan besar terhadap kelestarian hutan alam. Pasalnya, pebisnis ternyata hanya tertarik untuk melakukan land-clearing dari hutan alam yang masih produktif daripada merestorasi hutan alam yang rusak; kemudian seiring dengan berkembangnya HTI munculah ekspansi industri pulp dan kertas besar-besaran yang berada diluar kapasitas HTI untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya. Tak urung kekurangan bahan baku itu berdampak pula pada semakin rusak dan hancurnya hutan alam. Sungguh tragis nasib hutan alam kita !

Kiat Memberdayakan Tanaman Buah

Pusing menggantungkan kelestarian hutan alam dari para pebisnis besar Indonesia yang banyak kehilangan hati nurani. Pusing menggantungkan masa depan hutan alam Indonesia pada kebijakan pemerintah yang sering grusa-grusu (kurang cermat) dan tidak menentu. Pusing dengan para ilmuwan konservasi hutan yang hanya sibuk mengikuti konferensi dunia (COP) yang tidak jelas jluntrunganya (hasilnya). Pusing dengan LSM yang hanya getol bicara dan mengumpulkan dana, tetapi miskin karya .... Dalam Edisi ini, Lestari Desaku mencoba mengaktualisasi jargon ‘Kini Menanam Esok Menanen’ dengan sesuatu yang secara sekilas sepele, namun memiliki konteks yang lebih nyata dan membumi bagi kepentingan pelestarian lingkungan Indonesia. Yaitu upaya penangkar bibit dan petani buah-buahan untuk mengembangkan berbagai jenis pohon buah-buahan dari bibit buah

unggul yang cepat berbuah dalam hitungan tahun jari tangan. Dengan pembiakan vegetatif, seperti okulasi, sambung susuan, sambung kaki ganda, sambung samping, sambung pucuk dan sebagainya, kita bisa berharap esok memamen buah berkualitas sebagaimana cita rasa buah induknya yang kita makan kini.  Disadari bahwa kehancuran hutan alam telah berdampak pada menyusutnya produksi buah tropis Indonesia. Ambil contoh durian yang doeloe begitu melimpah ruah, namun  kini menyusut drastis dan tergusur oleh  aneka durian impor. Demikian pula dengan buah lainnya yang mendominasi pasar-pasar super (super-market) yang kini banyak menjamur hingga pelosok pedalaman desa. Banyak pihak kemudian hanya mampu berkeluh kesah oleh tingginya serbuan buah impor dan merananya nasib buah tropis kita.  Di tengah kegalauan ini, para penangkar bibit buah-buahan dengan pakaian lusuh di berbagai pojok desa yang umumnya tidak pernah menikmati pendidikan menengah dan tinggi yang banyak disubsidi pemerintah. Tanpa gembargembor (publikasi). Tanpa naungan kebijakan pemerintah. Tanpa kucuran dana reboisasi dan tanpa bantuan teknis dari ilmuwan dan LSM pelestari lingkungan. Dalam diam dan kesederhanaan, mereka justru telah berbuat nyata bagi pengembangan silvikultur buah tropis Indonesia yang memungkinkan para pebisnis, para birokrat, para ilmuwan dan LSM lingkungan yang sedang pada duduk manis di menara gading-nya masingmasing, bisa benar-benar menanam buah kini dan memanen esok di Edi Purwanto kebunnya!

Edisi 3, Oktober 2012

|3


Perspektif

Hijaukan Negeri dengan Tanaman Buah

B

egitu hutan ditebang, sebagian besar tanah yang tersingkap hutannya adalah tanah miskin hara, sehingga budidaya pertanian dan kehutanan intensif, sebagaimana tanaman semusim atau hutan tanaman industri (HTI) dengan jenis monokultur, eksotik dan cepat tumbuh, akan menguras hara mineral tanah. Pertanian semusim hanya mampu dilakukan sekitar 3 sampai 5 kali tanam, sedangkan HTI hanya tumbuh baik pada rotasi (penanaman) pertama. Diperlukan pemupukan intensif pada periode setelah itu. Sebagian besar unsur hara hutan tropis berada pada biomas hutannya, bukan pada tanah hutannya. Keperkasaan hutan tropis ditopang oleh kesuburan semu yang disebabkan oleh siklus hara tertutup.  Biomas hutan menghasilkan humus yang menghidupi biomas hutannya sendiri, demikian seterusnya, sehingga terbentuk siklus hara tertutup. Berbeda dengan hutan temperate,  perontokan daun di musim gugur berperan untuk mengembalikan kesuburan tanah hutan, sehingga sebagian besar unsur haranya berada pada tanah dan bukan di biomas hutannya. Pembentukan hutan tropis terjadi melalui proses suksesi, pergantian komunitas tanaman pada lahan marginal, sesuai dengan perbaikan status kesuburan tanahnya, selama ratusan, ribuan hingga jutaan tahun. Hutan tropis membangun diri sekaligus memperbaiki kondisi lingkungan yang sesuai untuk dirinya. Penebangan hutan memutus mesin penggerak siklus hara sehingga

4 | Edisi 3, Oktober 2012

menyisakan lahan marginal. Kondisi ini menyulitkan rehabilitasi hutan tropis yang telah terdegradasi lanjut oleh pembalakan hutan dengan alat berat, tebang habis atau pertanian oleh masyarakat setelah hutan ditebang.  Pengurasan kesuburan tanah besarbesaran setelah penebangan hutan ini tidak terjadi di wilayah temperate, karena sebagian besar unsur haranya bukan terletak di biomas, melainkan pada tanah hutannya.   Sebagain besar lahan subur di Indonesia berada di wilayah berbatuan volkanik, yaitu tanah yang terbentuk dari erupsi sedimen gunung api, dimana sebagian besar kini tanah telah menjadi pemukiman padat penduduk, persawahan dan perkebunan. Pengelolaan lahan bekas tebangan hutan alam tropis memerlukan pengelolaan kesuburan tanah secara ketat. Di wilayah yang memiliki intensitas hujan tinggi dan kesuburan lahan rendah ini, jenis pertanian yang paling sesuai adalah pola Agroforestri atau wanatani. Dengan pola wanatani maka lahan pertanian dapat dipertahankan kelestariannya dari kerasnya energi kinetik hujan, kemudian tumbuhan bawah yang merupakan tanaman semusim dapat menghambat aliran permukaan sehingga pengikisan top-soil tanah dihambat. Jaringan perakaran yang rapat dari tanaman keras dan semusim mampu menghambat pencucian unsur hara, sekaligus berperan sebagai biopori peresapan air tanah. Sedangkan bahan organik melimpah dari tanaman keras dan semusim dapat diolah menjadi pupuk

organik untuk merevitalisasi siklus hara tertutup. Jenis tanaman keras yang paling sesuai adalah tanaman buah, seperti durian, mangga, rambutan, manggis, kelengkeng, kemiri dan sebagainya.  Berbeda dengan tanaman kayu-kayuan dimana dalam jangka tertentu (7 – 10 tahun) akan ditebang. Tanaman buah dapat dipertahankan dalam jangka lama, sehingga mampu mempertahankan landscape (bentang lahan) secara stabil yang kondusif bagi upaya rehabilitasi daerah resapan air.  Agroforestri tanaman buah mampu menjamin keragaman pendapatan petani, apalagi kalau petani menanam aneka macam buah. Semakin tinggi keragaman tanaman, semakin baik untuk mengelola kesuburan lahannya, sekaligus meningkatkan resistensi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Sangat baik kalau dikombinasi dengan budidaya lebah sehingga dapat dihasilkan aneka jenis madu. Agroforestri tanaman buah menstimulasi petani untuk mengelola lahannya secara intensif. Restorasi lahan marjinal hanya dapat dilakukan dengan pengelolaan kesuburan tanah intensif.  Dengan pola tanam yang baik, Agroforestri tanaman buah memiliki produktifitas lahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hutan alam. Dan yang tidak kalah penting perbaikan iklim mikro dan kesuburan tanah diharapkan mampu menghadirkan kembali surga yang hilang oleh penebangan hutan alam. Hijaukan negeri dengan tanaman Edi Purwanto buah ! 

Lestari Desaku


Kolom Penguatan Desa

Ujang Susep Irawan*

Menyelamatkan Pohon Uru Melalui Pohon Induk Desa

R

umah-rumah tradisional masyarakat Suku Toraja di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat itu berdiri kokoh dan gagah. Bangunan yang dikenal dengan “Rumah Tongkonan” ini hampir semua bagiannya terbuat dari kayu dengan ukiran-ukiran khas Toraja, terkadang kepala kerbau terpasang di depannya sehingga semakin menambah kewibawaan rumah Tongkonan tersebut. Rumah Tongkonan dibangun dari jenis kayu lokal yang secara turun-temurun digunakan untuk membangun rumah-rumah tradisional masyarakat Toraja. Kayu ini dikenal dengan nama kayu Uru (Elmerrillia sp). Kebutuhan masyarakat Toraja di Kabupaten Mamasa akan jenis kayu uru ini boleh dikatakan sangat tinggi, apalagi sejak Tahun 2002 Mamasa menjadi sebuah kabupaten baru, maka kebutuhan kayu pun semakin meningkat seiring dengan meriahnya genderang pembangunan. Kemeriahan masyarakat dalam membangun kabupaten baru, membuat mereka lupa akan keberadaan populasi kayu uru ini, pohon yang berpenampilan bagus maupun tidak bagus tetap menjadi sasaran penebangan. Sementara sebaran Pohon Uru semakin sulit dijumpai, terutama pohon-pohon yang memliki penampilan bagus. Melihat kondisi ini, Operation Wallacea Trust (OWT) yang saat itu (Tahun 2010) melakukan kegiatan “Pengelolaan Daerah Tangkapan Air” di Kabupaten Mamasa merasa terpanggil untuk menyelamatkan material genetik Pohon Uru. Sejak saat itu dilakukanlah sosialisasi penyelamatan Uru di desa-desa model. Aksi ini disambut sangat positif baik oleh pemerintah maupun masyarakat desa. Pada kesempatan itulah disampaikan kepada masyarakat bahwa Pohon Uru perlu diselamatkan dengan cara diperbanyak melalui pembibitan sendiri dan menanamnya di lahan-lahan kosong. Agar pohon yang ditanam kelak memiliki sifat unggul, maka perlu diambilkan benih dari pohon-pohon yang unggul pula. Oleh karena itu mulai dikenalkan pada masyarakat bagaimana memilih pohon unggul yang akan dijadikan sebagai penghasil benih untuk pembibitan.

Lestari Desaku

Upaya memilih Pohon Uru yang berpenampilan bagus antara lain dilakukan di Desa Tawalian Timur, Kec. Tawalian Kab. Mamasa. Bersama kepala desa dan tokoh masyarakat, maka dilakukanlah pemilihan pohonpohon yang memiliki penampilan lebih bagus dari pohon sejenis lainnya, hal ini ditandai oleh : pohon sehat, berbatang silindris, berbatang lurus, bebas cabang tinggi, berdiamater besar, dan terdapat pohon pembanding di sekitarnya. Pohon-pohon tersebut selanjutnya diberi tanda dan dijadikan sebagai “Pohon Induk Desa”. Pohon-pohon yang telah diberi tanda, dipertahankan oleh masyarakat untuk tidak ditebang dan dijadikan sebagai pohon penghasil benih untuk membangun tanaman-tanaman uru baru. Semoga upaya penyelamatan uru melalui pohon induk desa ini tetap dapat dilestarikan untuk terselamatkannya material genetik dan tetap lahirnya kemegahan tongkonan-tongkonan baru bagi generasi mendatang. *) Staff OWT

Edisi 3, Oktober 2012

|5


FOK US

Tanaman

Unggul dari Induk Unggul S

etiap makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan, membawa sifatnya masing-masing yang disimpan dalam bagian terkecil dari sel, yaitu gen. Dengan kemampuannya berkembang biak, maka sifat tersebut akan diturunkan. Jika perkembangbiakan diawali oleh pembuahan, yaitu bercampurnya sel jantan dan betina, maka sifat yang akan muncul merupakan hasil percampuran kedua sel tersebut. Secara sederhana jika kedua sel jantan dan betina sama baiknya, maka keturunannya akan baik, sebaliknya jika kedua sel jantan dan betina tidak baik, maka keturunannya pun tidak baik. Namun akan lain masalahnya jika salah satu memiliki sifat tidak baik, maka percampuran keduanya akan

6 | Edisi 3, Oktober 2012

menghasilkan keturunan yang bergantung pada sifat mana yang lebih mendominasi. Alhasil, jika sifat baik yang mendominasi, maka keturunan pun akan cenderung baik, demikian juga sebaliknya. Terkait dengan uraian di atas, maka wajar jika di sekitar kita terkadang menjumpai pohon dari jenis dan pada kondisi lingkungan yang sama tetapi memiliki rasa, jumlah, dan ukuran buah serta ketahanan terhadap hama dan

penyakit yang berbeda. Demikian juga jika dilihat dari kualitas kayunya, ada yang tumbuh lurus namun ada juga yang bengkok-bengkok. Ini adalah salah satu bukti bahwa munculnya sifat yang berbeda tersebut dipengaruhi kuat oleh percampuran kedua sifat sel jantan dan betina. Kondisi ini sebenarnya sudah dipahami oleh masyarakat. Masyarakat memahami pohon yang berbuah bagus akan menghasilkan keturunan yang bagus pula, namun terkadang jarang mempraktekannya di lapangan. Dalam membuat tanaman masih jarang mengutamakan pemilihan bahan dari induk yang unggul. Mereka lebih mengutamakan yang penting tanaman dapat hidup dan tumbuh, tetapi

Lestari Desaku


Menyeleksi Pohon Induk Penghasil Kayu

Seleksi pohon induk penghasil kayu dilakukan pada pohon kelompok kayu-kayuan seperti mahoni, suren, jati, sengon, kayu afrika, jati putih, dll. Seleksi dapat dilakukan pada jenis pohon yang tumbuh di hutan alam, hutan tanaman, atau lahanlahan masyarakat. Yang penting di sekitarnya terdapat pohon lain dari jenis yang sama sebagai pembanding. Pohon yang memiliki penampilan yang terbaik di antara sekumpulan pohon sejenis di sekitarnya dapat ditetapkan sebagai pohon induk. Pohon induk berikutnya dapat diseleksi dan ditandai kembali, namun sebaiknya jarak antar pohon induk sekitar 100 m.

mengabaikan bagaimana kondisinya kelak setelah beberapa tahun ke depan. Beruntung jika sifat baik yang dibawa, namun menjadi tidak beruntung jika ternyata sifat tidak baik yang dibawa, sehingga kerugianlah yang akan diraih. Oleh sebab itu agar tidak sia-sia, maka sejak dini kita harus ketat dalam menetapkan cikal bakal tanaman. Bahan yang akan digunakan untuk membuat tanaman harus jelas induknya, karena tanaman unggul pada dasarnya diperoleh dari induk yang unggul pula.

Sasaran utama pohon induk penghasil kayu adalah pohon yang dapat menghasilkan volume kayu tinggi, hal ini dapat ditunjukkan oleh beberapa sifat, yaitu : bebas cabang tinggi, pohon lurus, pohon lebih silindris, tidak ada cacat pada batangnya, dan sehat.

Jika terdapat beberapa pohon, maka untuk menetapkan pohon mana yang akan dijadikan sebagai pohon induk adalah dengan melakukan penilaian pohon dengan mengacu pada sifatsifat di atas. Pohon yang memiliki total nilai tertinggi, akan ditetapkan sebagai pohon induk.

Menyeleksi Pohon Induk Penghasil Non-Kayu

Berbeda dengan pohon induk penghasil kayu yang penekannya lebih kepada volume kayu terbaik yang diinginkan, untuk pohon penghasil non-kayu maka penetapan pohon induk adalah dengan melihat sifat kualitas selain kayu, misalnya : produksi getah, rasa buah, ukuran buah, ketebalan daging buah, jumlah buah, tingkat ketahanan terhadap hama dan penyakit, kualitas resin (misalnya pada pohon gaharu), dll. Dengan demikian dalam menyeleksi pohon induk non kayu harus melihat pada hasil yang akan dicapai. Pohon yang memiliki kualitas terbaik, akan dijadikan sebagai pohon induk. Ujang S. Irawan

Induk-induk unggul tersebut perlu diseleksi dan ditandai agar memudahkan mendapatkan bahan untuk perbanyakan tanaman. Pohon yang sudah diseleksi karena memiliki sifat unggul tersebut selanjutnya disebut sebagai pohon induk. Terkait dengan seleksi pohon induk, maka pada dasarnya kita dapat membedakan dua kelompok, yaitu : (1) Pohon induk sebagai penghasil kayu dan (2) Pohon induk penghasil selain kayu.

Lestari Desaku

Edisi 3, Oktober 2012

|7


FOK US

Generatif atau Vegetatif

S

etiap tanaman mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan, dan pada umur tertentu mereka akan mulai berbunga. Penyerbukan pun akan terjadi baik disebabkan oleh seranga, angin, atau faktor lainnya sehingga menghasilkan buah. Di dalam buah inilah terdapat biji, biji tersebut jika jatuh ke tanah dan berhubungan dengan air serta kondisi lingkungan yang mendukung maka akan berkecambah menjadi tumbuhan muda/semai. Dari semai ini terus mengalami perkembangan hingga menjadi dewasa, demikian seterusnya. Masa pertumbuhan dari semai menjadi tanaman dewasa hingga menghasilkan buah ini memerlukan waktu yang cukup lama, tergantung dari jenis tanaman.

Pohon Generatif

Ilustrasi sederhana di atas menggambarkan proses perkembangan tanaman yang dimulai dari perkecambahan benih, proses inilah yang kita kenal dengan pembiakan generatif. Pembiakan generatif jelas dipengaruhi oleh bersatunya sel jantan (serbuk sari) dan sel betina (di kepala putik) tanaman, sehingga sifat yang diturunkan akan bergantung dari hasil percampuran kedua sel tersebut. Baik buruknya sifat dalam serbuk sari yang dibawa oleh angin atau serangga dari satu pohon untuk membuahi

8 | Edisi 3, Oktober 2012

Lestari Desaku


pohon lainnya, akan menentukan sifat keturunannya kelak. Sebagai tanaman yang tumbuh dimulai dari perkecambahan benih, maka umumnya akan memiliki jangka waktu hidup yang lebih lama serta menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan sel yang lebih banyak, hal ini bisa kita lihat bahwa tanaman tersebut akan menghasilkan diamater besar, tajuk lebar, perakaran dalam, dan pohon yang lebih tinggi. Selain pohon dapat dibangun dari pembiakan generatif, juga dapat dikembangkan secara vegetatif. Pembiakan secara vegetatif tidak dimulai dari pengecambahan benih, tetapi dari bagian vegetatif tanaman selain benih, misalnya : batang, mata tunas, ranting, atau akar. Bagian-bagian tersebut memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi pohon sempurna yang memiliki akar, batang, dan

daun. Pembiakan vegetatif umumnya dilakukan pada tanaman pohon buahbuahan, namun juga dapat dilakukan pada tanaman kayu-kayuan seperti meranti, jati, akasia, ekaliptus, ramin, jabon, mahoni, pulai, dll. Pohon hasil pembiakan vegetatif tumbuh tidak sebesar pohon generatif. Pohon vegetatif umumnya memiliki tinggi, diameter, dan tajuk yang lebih pendek dari pohon generatif. Bagian vegetatif tanaman yang diambil dari pohon memiliki umur yang sama dengan pohon tersebut, sehingga misalnya kita mengambil mata tunas dari pohon berumur 15 tahun, maka jika mata tunas tersebut telah tumbuh menjadi tanaman melalui teknik oklulasi, tanaman inipun telah berumur 15 tahun. Maka wajar ketika bagian vegetatif tersebut dikembangkan menjadi tanaman sempurna, akan memiliki kemampuan berbuah yang lebih cepat, buah yang dihasilkan pun

akan serupa dengan induknya karena tidak ada proses pembuahan dua sel yang membawa sifat berbeda. Namun karena umurnya sudah 15 tahun maka menyebabkan jangka waktu menghasilkan buah menjadi lebih pendek daripada tanaman generatif, mungkin tanaman generatif tersebut dahulunya sudah mulai berbuah sejak umur 10 tahun. Jika pohon ini masa produktifnya hingga umur 20 tahun, maka tanaman hasil pembiakan vegetatif hanya mengalami masa berbuah selama 5 tahun, sedangkan tanaman generatif mengalami masa berbuah selama 10 tahun. Inilah yang dimaksud jangka waktu berbuah tanaman vegetatif lebih pendek, namun waktu untuk berbuahnya lebih cepat. Untuk menetapkan pilihan teknik pembibitan mana yang akan diterapkan, maka perlu dicermati kelemahan dan kekurangan masingmasing sebagai berikut: Ujang S. Irawan

Perbandingan Pembiakan Secara Generatif dan Vegetatif No

Uraian

Generatif

Vegetatif

1

Masa berbuah

Memerlukan waktu lebih lama

Memerlukan waktu lebih cepat

2

Sifat keturunan

Bisa berbeda dengan induknya

Serupa dengan sifat induk, jika induknya baik maka akan baik pula atau sebaliknya

3

Waktu pembibitan

Tergantung pada musim berbuah sehingga dibatasi waktu

Tidak tergantung musim, dapat dilakukan kapan saja (tidak dibatasi waktu)

4

Kecepatan waktu pembibitan

Untuk jenis-jenis yang memiliki masalah kesulitan benih untuk berkecambah, maka pembibitan memerlukan waktu lama

Pembibitan tidak terkendala oleh masalah benih, sehingga untuk jenis tertentu prosesnya akan lebih cepat

5

Kombinasi sifat

Tidak dapat menggabungkan sifat-sifat lain yang diinginkan

Dapat menggabungkan sifat-sifat lain yang diinginkan

6

Masalah daya simpan benih

Untuk benih-benih yang tidak bisa disimpan lama, maka menjadi kendala pembibitan jika pelaksanaannya di luar musim buah

Tidak ada kendala daya simpan benih karena dapat dilakukan kapan saja

7

Kemudahan dalam membibitkan

Lebih mudah, karena cukup dengan menyemai benih

Lebih sulit sehingga memerlukan keahlian khusus

8

Jangka waktu berbuah

Lebih panjang karena dimulai dari benih hingga tumbuh dewasa

Lebih pendek, karena dimulai dari pohon dewasa

9

Sistem perakaran

Lebih dalam dan lebar karena memiliki akar tunggang dengan tajuk lebih lebar

Lebih dangkal dan sempit karena tidak memiliki akar tunggang (khususnya hasil cangkok dan stek) dan tajuk sempit

Lestari Desaku

Edisi 3, Oktober 2012

|9


FOK US

Pohon Vegetatif

Perbandingan Waktu Berbuah Tanaman Generatif dan Vegetatif No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Jenis Tanaman Alpukat Cempedak Duku Durian Jambu air Jambu biji Jambu mete Jeruk keprok Jeruk manis Kedondong Mangga Manggis Matoa Melinjo Nangka Rambutan Sawo Sirsak Srikaya Sukun

Masa Berbuah (Tahun) Tanaman Generatif 7-10 7-10 12-15 12-15 7-10 7-10 7-10 4-6 6-8 7-8 7-10 12-17 10-15 7-10 7-10 7-10 7-10 5-7 7-8 7-10

Tanaman Vegetatif 4 3-5 5-6 5-6 3-5 3-5 3-5 1-2 2-3 4-5 3-4 6-7 6-7 3-4 3-5 3-4 3-4 1-2 3-5 3-5

Sumber : ICRAF, 2007

10 | Edisi 3, Oktober 2012

Lestari Desaku


info produk

Seri Manual Perlindungan dan Rehabilitasi Daerah Tangkapan Air OWT adalah lembaga penyadaran dan pelatihan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan hidup. Dalam LD edisi lalu telah diperkenalkan berbagai produk penyadaran, berikut disampaikan produk teranyar, yaitu manual perlindungan dan rehabilitasi daerah tangkapan air (DTA). Hingga kini telah diproduksi 8 seri, jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan denyut nadi pendampingan di lapangan. Seri 1 : Konsep Perlindungan dan Rehabilitasi Daerah Tangkapan Air (DTA)

Manual ini mengupas tuntas tentang konsep Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Daerah Tangkapan Air (DTA) secara mendasar dan peranan dari sebuah rehabilitasi DTA dalam perlindungan sumber air. Dalam manual ini dijelaskan tentang cekungan peresapan dan fungsi DTA dalam mengontrol aliran permukaan, sehingga memudahkan pemahaman peran ekosistem hutan sebagai pengatur tata air, penghasil air, pengendali banjir, atau justru hutan sebagai penguras air? Penjelasan-penjelasan di atas akhirnya mengantarkan pentingnya rehabilitasi vegetatif sebagai upaya solusi jangka panjang dan perlindungan terhadap sumber air melalui peningkatan areal-areal peresapan air.

Seri 2 : Teknik Pemetaan Daerah Tangkapan Air

Setelah memahami konsep DTA dan kondisi ekosistem yang ada di dalamnya, maka tidak lengkap jika kita belum memahami batasan areal DTA yang dimaksud. Pembatasan DTA ini terkait dengan upaya pengelolaannya. Oleh sebab itu manual ini mencoba menyajikan pemahaman dasar tentang pemetaan dan teknik sederhana dalam memetakan sebuah DTA yang disertai gambar-gambar untuk mempermudah pemahaman materi.

Seri 4 : Teknik Pembibitan Vegetatif

Manual ini secara lengkap menjelaskan cara pembibitan vegetatif yang dimulai dari cara menentukan pohon induk, membangun kebun entres, hingga berbagai teknik pembibitan vegetatif yang meliputi : stek, okulasi, sambung, dan cangkok. Setiap tahap cara pembibitan diserta foto detil sehingga memudahkan pemahaman.

Seri 3 : Pembuatan Persemaian dan Teknik Pembibitan

Manual ini menyajikan secara ringkas tentang sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk membuat persemaian dan cara pembibitan generatif yang meliputi perlakuan benih, penyemaian, penyiapan media tumbuh, penyapihan, hingga pemeliharaan. Semua tahapan disertai dengan foto dan gambar-gambar ilustrasi untuk memudahkan dalam mengaplikasikan di lapangan.

Lestari Desaku

bersambung ke halaman 15

Edisi 3, Oktober 2012

| 11


FOK US

Menyiapkan Pembibitan Vegetatif B erbagai teknik pembibitan vegetatif telah diperkenalkan mulai dari stek, okulasi, sambung, hingga cangkok, termasuk kultur jaringan. Namun tidak semua tanaman dapat dikembangkan dengan setiap teknik vegetatif tersebut, tanaman tertentu hanya bisa dikembangkan dengan teknik vegetatif tertentu.

seperti okulasi dan sambung memerlukan batang bawah (root stock) dimana batang bawah ini umumnya menggunakan bibit hasil pembiakan generatif (biji). Oleh sebab itu pada tahap awal perlu dibangun persemaian yang dapat digunakan untuk pembibitan generatif dan akan dilanjutkan dengan pembibitan vegetatif ketika batang bawah siap diokulasi atau disambung.

Beberapa teknik pembibitan vegetatif, tidak bisa lepas dari kebutuhan bibit generatif misalnya pada teknik okulasi dan sambung karena kita memerlukan batang bawah yang dibuat dari bibit generatif. Oleh sebab itu untuk memulai pembibitan vegetatif, perlu juga dimulai dengan pembibitan generatif. Beberapa langkah tersebut antara lain : a. Membangun Kebun Entres Pembangunan kebun entres menjadi penting agar sumber entres tidak selalu bergantung pada pohon induk yang mungkin tempatnya jauh dari lokasi pembibitan. Kebun entres dapat dibangun dari bibit-bibit vegetatif yang telah diketahui sifat unggulnya, akan lebih aman jika dari bibit bersertifikat. Bibit tersebut ditanam dalam sebidang tanah dengan jarak tanam tertentu, misalnya 2 m x 2 m atau 3 m x 3 m. Setelah tanaman tumbuh dan memproduksi banyak cabang dan ranting maka dapat

12 | Edisi 3, Oktober 2012

dijadikan sebagai sumber entres ataupun penghasil mata tunas. Agar pertumbuhan pohon subur, maka pada awal penanaman diberi pupuk organik sebanyak 5 kg/ lubang tanam. Satu bulan setelah penanaman, berikan pupuk kimia NPK (50 gr/tanaman), urea (5 gr/ tanaman), SP 36 (20 gr/tanaman), dan KCl (15gr/tanaman). Pupuk organik diberikan setiap tahun, sedangkan pupuk kimia diberikan di awal dan di akhir musim hujan. b. Menyiapkan Persemaian Beberapa pembibitan vegetatif

Lestari Desaku


Persemaian dibangun sesuai dengan ketersediaan bahan yang ada, namun sebaiknya memenuhi kebutuhan sarana prasarana persemaian standar, yaitu : naungan persemaian, bedeng tabur, bedeng sapih, tempat penyiapan media, sarana air, dll. Persemaian sebaiknya dibangun pada lahan datar atau landai dan jaraknya tidak jauh dari kebun entres, sangat bagus jika beberapa pohon induk juga berada di sekitar persemaian.

c. Menyemai Benih Pilih benih sesuai dengan jenis yang akan dikembangkan. Beberapa benih buah-buahan umumnya tidak bisa disimpan lama, oleh sebab itu segera lakukan penyemaian ketika benih telah terkumpul. Beberapa benih ukuran besar seperti : durian, nangka, alpukat, mangga, maka dapat ditanam langsung ke dalam polybag. Sedangkan benih ukuran kecil, seperti : kelengkeng, jeruk, manggis, rambutan, sirsak dapat disemai dahulu di bak tabur atau bak kecambah plastik sebelum disapih ke media di polybag. Media semai cukup dibuat dari campuran tanah: arang sekam = 1 : 1 atau tanah : pasir = 1 : 1.

d. Menyiapkan Media Tumbuh Media tumbuh sangat berpengaruh pada pertumbuhan bibit selanjutnya, oleh sebab itu gunakan media yang lengkap dan seimbang. Media yang dibuat harus cukup nutrisi dan dapat menghasilkan perakaran yang kompak, hal ini antara lain dipengaruhi oleh komposisi media tumbuh. Media tumbuh yang dapat digunakan misalnya

campuran tanah : pupuk organik: arang sekam = 2 : 1 : 1. Namun ketika bibit yang telah tumbuh tersebut akan ditanam di dalam pot, maka komposisi medianya akan berubah, sebagai contoh media dalam pot untuk tanaman jambu biji adalah campuran tanah : pupuk organik : arang sekam = 1 : 2 : 2 (Baca Fokus “ Menanam Buah dalam Pot). e. Menyapih Semai dan Memelihara Bibit di Persemaian Benih yang telah berkecambah dan memiliki sepasang daun dapat dipindah ke media di polybag. Sebelum mencabut semai, sebaiknya media bak kecambah disiram air terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kerusakan perakaran semai. Selanjutnya bibit dipelihara hingga batangnya

Lestari Desaku

Edisi 3, Oktober 2012

| 13


FOK US

berkayu atau memenuhi persyaratan sebagai batang bawah untuk pembibitan okulasi atau sambung.

Sebagai acuan pilihan teknik pembibitan vegetatif yang akan diterapkan pada jenis tanaman buah-

buahan tertentu, dapat dilihat pada Tabel berikut : Ujang S. Irawan

Kemampuan Pembibitan Vegetatif Beberapa Tanaman Buah-buahan NO

JENIS TANAMAN

CANGKOK

OKULASI

SAMBUNG

STEK BATANG

STEK AKAR

STEK PUCUK

1

Alpukat

-

*

*

-

-

*

2

Blimbing manis

*

*

*

-

-

-

3

Blimbing wuluh

*

*

-

-

-

-

4

Cempedak

*

*

-

-

-

-

5

Ceremai

*

*

-

-

-

-

6

Delima

*

-

-

*

-

*

7

Duku

*

*

*

-

-

-

8

Durian

*

*

*

-

-

*

9

Jambu air

*

*

*

*

-

-

10

Jambu biji

*

*

*

-

*

-

11

Jambu bol

*

*

*

-

-

-

12

Jambu mete

*

*

-

-

-

-

13

Jambu semarang

*

*

*

-

-

-

14

Jengkol

*

-

-

-

-

-

15

Jeruk besar

*

*

*

-

-

-

16

Jeruk citrun

*

*

*

-

-

-

17

Jeruk keprok

*

*

*

-

-

*

18

Jeruk manis

*

*

*

-

-

-

19

Jeruk nipis

*

*

*

-

-

*

20

Jeruk purut

*

*

*

-

-

-

21

Jeruk siam

*

*

*

-

-

-

22

Kedondong

*

*

-

*

-

-

23

Kelengkeng

*

*

-

-

-

-

24

Keluwih / Sukun

*

-

-

-

*

-

25

Kemang

*

*

*

-

-

-

26

Kesemek

-

*

-

-

*

-

27

Mangga

*

*

*

-

-

*

28

Mangga kuweni

*

*

*

-

-

*

29

Manggis

-

-

*

-

-

*

30

Matoa

*

-

-

-

-

-

31

Melinjo

*

*

*

-

-

-

32

Nangka

*

*

*

-

-

-

33

Petai

*

*

*

-

-

-

34

Rambutan

*

*

*

-

-

-

35

Rukam

*

-

-

-

-

-

36

Sawo

*

*

-

-

-

-

37

Sirsak

-

*

-

-

-

-

38

Srikaya

-

*

-

-

-

-

Keterangan : * = dapat dilakukan, - = tidak dapat dilakukan

14 | Edisi 3, Oktober 2012

Sumber : ICRAF, 2007 Lestari Desaku


info produk

Seri 5 : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

Keberhasilan suatu kegiatan penanaman sudah jelas tidak luput dari berbagai kegiatan persiapan sebelum penanaman. Pengusaaan teknik penanaman dan pemahaman persyaratan keberhasilan suatu penanaman menjadi modal dasar agar penanaman yang dilakukan tidak sia-sia sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Manual ini menyampaikan secara ringkas persyaratan untuk mencapai keberhasilan penanaman, beberapa teknik penanaman, alur kegiatan penanaman mulai dari persiapan hingga pelaksanaan penanaman, alur pemeliharaan tanaman, serta contoh tata waktu dan pembiayaan penanaman dan pemeliharaan. Untuk memudahkan pemahaman, dalam manual ini juga disertakan foto dan gambar-gambar ilustrasi.

Seri 6 :Agroforestri

Aplikasi penanaman di lapangan dapat dilakukan dalam bentuk tanaman homogen atau campuran. Agroforestri menjawab bagaimana ketika teknik penanaman campuran yang kita pilih, apa manfaat dan kelebihan dari sistem ini, semuanya dijelaskan dalam manual agroforestri. Manual ini juga menyajikan contoh-contoh praktek agroforestri di beberapa tempat di Indonesia serta cara sederhana tahapan ketika akan membangun tanaman dengan sistem agroforestri .

Seri 7 : Teknik Rehabilitasi Kawasan Mangrove

Mangrove sebagai benteng terdepan di kawasan pesisir tidak dapat dipungkiri lagi memiliki peran yang penting sebagai penyangga bagi ekosistem pantai dan daratan. Oleh sebab itu rusaknya kawasan tersebut mutlak harus dipulihkan kembali melalui rehabilitasi kawasan mangrove. Untuk dapat melakukan rehabilitasi kawasan mangrove, maka perlu dikuasai pemahaman tentang mangrove dan cara rehabilitasinya. Seperti penanaman di daratan, maka penanaman di kawasan mangrove pun tidak luput dari kegagalan sebagai akibat tidak dipenuhinya syarat-syarat penanaman yang baik dan benar. Oleh sebab itu dalam manual ini secara ringkas dijelaskan tentang pengenalan jenis tanaman mangrove, peran, serta cara pembibitan hingga penanaman dan pemeliharaannya yang disertai berbagai foto dan gambar ilustrasi.

Seri 8 : Budidaya Jamur Merang dan Tiram Putih

Melimpahnya limbah tidak selalu menjadi masalah, bahkan sebaliknya limbah tersebut justru menjadikan berkah dan selalu dinantikan ketersediaannya. Limbah jerami padi dan serbuk gergaji menjadi kebutuhan utama dalam usaha budidaya jamur merang dan tiram. Manual ini mengupas tuntas budidaya kedua jenis jamur pangan tersebut mulai dari mengenal jamur, cara membibitkan, menyiapkan sarana-prasarana, cara membudidayakan, hingga analisis sederhana usaha bisnisnya. Manual ini juga dilengkapi foto maupun ilustrasi sehingga memudahkan pemahaman untuk mengaplikasikannya. Hendra Gunawan dan Ujang S. Irawan

Lestari Desaku

Edisi 3, Oktober 2012

| 15


FOK US

Membibitkan Tanaman secara Vegetatif banyak yang diharapkan, maka teknik okulasi menjadi pilihan. Ketika suatu pohon ingin diperbaiki sifatnya, maka sambung samping menjadi pilihan. Ketika kecepatan berbuah yang diharapkan dengan sistem perakaran yang kuat, maka teknik okulasi, sambung pucuk, sambung samping, dan sambung susuan menjadi pilihan. Ketika ingin mempercepat pertumbuhan karena jenis tersebut termasuk jenis lambat tumbuh dan menginginkan perakaran yang kuat, maka teknik sambung kaki ganda menjadi pilihan.

K

emampuan tanaman untuk cepat berbuah dengan sifat yang mirip dengan induknya merupakan salah satu alasan mengapa pembibitan vegetatif menjadi pilihan dan cukup diminati jika dibandingkan dengan bibit generatif. Di antara bibit vegetatif itu sendiri juga terdapat berbagai pilihan teknik perbanyakannya, bisa secara stek, okulasi, sambung, atau cangkok, namun masing-masing teknik memiliki keunggulan dan kelemahan.

16 | Edisi 3, Oktober 2012

Kapan kita menetapkan suatu teknik pembibitan vegetatif? Mengapa kita memilih mencangkok, memilih okulasi, stek, atau sambung? Pemilihan jenis teknik pembibitan vegetatif tergantung dari situasi dan kondisi. Ketika jumlah bibit banyak yang diharapkan serta terdapat kendala ketersediaan benih, maka teknik stek pucuk menjadi pilihan. Ketika bibit batang bawah tidak tersedia, maka teknik cangkok dan stek menjadi pilihan. Ketika batang bawah tersedia dengan jumlah bibit

Setelah teknik pembibitan vegetatif mana yang akan kita pilih, maka selanjutnya kita perlu mengetahui bagaimana teknik itu kita terapkan agar berhasil. Intinya adalah kita perlu selalu mencoba agar terbiasa.

Stek (Cutting)

Stek adalah cara perbanyakan tanaman dengan menanam potongan bagian pucuk, batang, atau akar kedalam media tanaman sehingga pada bagian yang ditanam akan keluar akar hingga menjadi bibit yang siap tanam. Pembuatan tanaman secara stek sudah umum dilakukan misalnya pada penanaman singkong. Berbagai jenis tanaman yang dapat dikembangkan dengan cara stek, antara lain tanaman bunga, buah-

Lestari Desaku


Keunggulan dan Kelemahan Setiap Teknik Pembibitan Vegetatif No

Teknik Pembibitan

Keunggulan

Kelemahan

1

Okulasi

- Mempunyai kualitas lebih baik dari induknya karena merupakan penggabungan dua sifat - Bibit relatif seragam - Produktifitas tinggi - Dapat dilakukan dalam jumlah banyak - Perakaran kuat

- Pertumbuhan bisa tidak normal jika terjadi tidak ada keserasian batang bawah dan atas - Peluang kegagalan tinggi - Tergantung pada ketersediaan batang bawah

2

Cangkok

- Lebih cepat berbuah - Waktu untuk perbanyakan relatif lebih cepat (1 bulan) - Tidak tergantung pada ketersediaan batang bawah, sehingga jika kelangkaan benih tidak menjadi kendala

- Perakaran dangkal dan kurang kuat - Pembibitan tidak dapat dilakukan dalam jumlah banyak - Pencangkokan yang sering, mengganggu produksi buah pohon induk - Tajuk pohon dapat rusak jika banyak dicangkok - Tanaman tidak tahan kering

3

Sambung

- Dapat dilakukan dalam jumlah banyak - Perkaran kuat karena batang bawah dari generatif

- Peluang kegagalan tinggi - Tergantung pada ketersediaan batang bawah

4

Sambung susuan

- Cepat berbuah - Keberhasilannya cukup tinggi - Perakaran kuat

- - - - -

5

Stek

- Dapat dilakukan dalam jumlah banyak - Bibit relatif seragam - Tidak bergantung pada ketersediaan benih

- Perakaran tidak kuat - Sulit berhasil jika bahan stek diambil langsung dari pohon, perlu dibuatkan kebun pangkas terlebih dahulu

buahan, bahkan tanaman kayukayuan. Jenis tanaman kayu-kayuan yang dapat dikembangkan dengan stek antara lain : meranti, jati, jabon, akasia, ekaliptus, ramin, pulai, dll. 1. Kebutuhan Sarana dan Prasarana

Untuk membuat bibit stek maka diperlukan sarana dan prasarana sebagai berikut :

(1) Bak perakaran, digunakan sebagai tempat menanam bahan stek hingga terbentuk akar. Bak dibuat dari papan kayu ukuran

Dapat merusak tajuk pohon Biaya mahal Jumlah terbatas Lebih sulit karena menyambung di pohon Tergantung pada ketersediaan batang bawah

panjang 4 m, lebar 1 m, tinggi 0,6 m, bagian atas dibuat tutup yang dilapisi plastik, bagian dinding dalam dilapisi plastik. Bagian dasar bak diisi batu kecil/kerikil setebal 5 cm dan bagian atasnya diisi pasir halus setebal 10-15 cm.

Model bak perakaran stek

Lestari Desaku

Edisi 3, Oktober 2012

| 17


FOK US

(2) Rumah stek, digunakan sebagai tempat naungan bak perakaran dapat berupa rumah atau penaung biasa. Sebaiknya naungan tidak menimbulkan panas ruangan.

Model rak adaptasi bibit stek

(3) Ruang/sungkup adaptasi, dapat berupa rak yang dilapisi plastik atau sungkup plastik dengan kelembaban tinggi yang digunakan sebagai tempat adaptasi bibit stek yang telah disapih dari bak perakaran hingga bibit benar-benar segar sehingga dapat diletakkan di persemaian. (4) Kebun pangkas, digunakan sebagai sumber penghasil bahan stek. Dibuat dari bibit yang ditanam dalam tanah atau tetap di dalam polybag dimana bagian pucuknya telah dipangkas sehingga akan menghasilkan tunas-tunas baru yang akan digunakan sebagai bahan stek.

Menyiapkan bahan stek

(5) Bahan dan Alat, antara lain : hormon perangsang akar dan gunting stek

(A)

2. Cara Membuat Bibit Stek Menyiapkan bahan stek Bahan stek dipilih dari cabang ke atas (orthotrop) bukan ke samping (plagiotroph), memiliki tunas yang masih kuncup, batang tidak terlalu tua atau muda, memiliki minimal tiga ruas. Selanjutnya bahan stek yang telah dipanen dari kebun pangkas dikumpulkan dalam ember berisi air agar tidak lekas menguap. Pelaksanaan penyetekan - Bahan stek dipotong dengan gunting stek. Bahan stek minimal memiliki tiga ruas, pemotongan di bawah ruas secara mendatar.

18 | Edisi 3, Oktober 2012

(B)

Pelaksanaan penyetekan Kemudian potong daun 1/2 1/3 bagian untuk mengurangi penguapan - Olesi bagian bawah batang dengan hormon perangsang akar (Gambar A) - Tanam pada media di bak perakaran stek, biarkan Âą 2 -3 bulan (Gambar B). - Ruangan harus selalu lembab. Jika kurang lembab, lakukan penyiraman dengan sprayer

Penyapihan dan adaptasi stek - Siapkan media sapih dalam polybag (komposisi tanah : kompos: arang sekam = 2 : 1 : 1) - Pilih stek yang telah berakar lalu tanam ke media di polybag - Masukkan bibit stek yang telah disapih ke dalam rak adaptasi atau disungkup selama Âą 2 minggu hingga muncul daun baru. - Pindahkan bibit stek yang tetap segar ke persemaian dan pelihara hingga siap tanam Lestari Desaku


Okulasi (Budding)

Pada setiap ruas tanaman atau ketiak daun biasanya dijumpai tunas. Tunas ini akan tumbuh dan berkembang membentuk ranting hingga percabangan. Pada pohon dewasa, di bagian ranting atau cabang akan muncul bunga yang menghasilkan buah. Berangkat dari pemahaman ini, maka jika tunas pada pohon dewasa disatukan dengan bibit tanaman diharapkan kelak tunas yang tumbuh tersebut juga akan mampu menghasilkan buah seperti pohon dewasa. Teknik ini biasa disebut dengan pembibitan cara okulasi atau menempel. Jadi okulasi adalah perbanyakan tanaman dengan cara menempelkan mata tunas pada bagian batang bawah bibit. Umumnya batang bawah merupakan bibit hasil perbanyakan secara generatif/benih. Prinsip dari okulasi adalah melekatnya kambium suatu jenis tanaman dengan jenis tanaman lain agar berpadu satu dan dapat tumbuh baik. Jika proses okulasi berhasil, maka tunas yang ditempelkan tersebut akan tumbuh dan menghasilkan tanaman baru yang memiliki sifat mirip induknya. Daya rekat mata tunas hasil okulasi tersebut lebih kuat daripada hasil secara sambung. Dengan teknik ini maka tanaman akan cepat menghasilkan buah. 1. Kebutuhan Bahan dan Alat Bahan dan alat utama yang diperlukan antara lain : plastik elastis, bibit sejenis untuk ditempel, alkohol 70%, kapas, mata tunas dari pohon unggul, gunting stek, pisau okulasi atau cutter. 2. Cara Membuat Bibit Okulasi Menyiapkan tunas Persyaratan mata tunas antara lain: (1) diambil dari pohon unggul, (2) masih kuncup, (3) diambil di ketiak daun, (4) diameter ranting tempat tumbuh tunas sama atau lebih kecil dari diamater bibit untuk batang bawah, (5) pengambilan pagi hari. Proses penyiapan mata tunas adalah sebagai berikut : • Ada baiknya tangan, gunting

Lestari Desaku

(A)

(B)

(C)

(D)

PROSES PENYIAPAN MATA TUNAS

stek, dan pisau okukasi disemprot alkohol dahulu • Pilih mata tunas pada 10-20 cm dari ujung cabang (Gambar A) • Hilangkan tangkai daun pada mata tunas yang akan diambil (Gambar B) • Lakukan penyayatan secara hatihati dari atas mata tunas ke bawah dengan mengikutkan sebagian kayunya (Gambar C) • Buang bagian kayu dari bagian kulit yang mengandung mata tunas (Gambar D) • Jika terlalu panjang, maka potong kulit yang telah dibuang bagian kayunya sehingga ukurannya sekitar 2-3 cm

Menyiapkan batang bawah Batang bawah merupakan bibit hasil pembiakan dari benih. Langkahlangkah penyiapan batang bawah adalah sebagai berikut (lihat halaman berikutnya): • Penyayatan dilakukan dari atas ke bawah. Batas bagian bawah adalah sekitar ketebalan dua jari dari bekas kotiledon (bekas biji terangkat saat berkecambah) (gambar A dan B) • Lakukan penyayatan kulit batang sepanjang ±3 cm, (gambar C) • Jika sayatan pertama terlalu kecil, maka lakukan penyayatan kembali di kulit sebelahnya • Potong kulit yang telah disayat dan sisakan sekitar 1 cm (gambar D)

Edisi 3, Oktober 2012

| 19


FOK US

(A)

(B)

(A)

Batas kotiledon

(B)

(C)

(D)

(C)

Proses penyiapan batang bawah Cara menempel Langkah-langkah penempelan mata tunas adalah sebagai berikut : • Selipkan mata tunas pada batang bawah yang telah dikupas kulitnya, posisi mata tunas tidak boleh terbalik (Gambar A) • Ikat kulit mata tunas yang telah diselipkan dimulai dari bagian bawah (Gambar B) • Mata tunas sendiri bisa diikat atau tidak diikat plastik, jika mata tunas ditutup plastik, lakukan secara hatihati (Gambar C) • Ikat semua bagian batang yang telah diselipi mata tunas agar tidak ada air yang menembus hasil penempelan

20 | Edisi 3, Oktober 2012

Proses penempelan mata tunas

Memelihara hasil tempelan mata tunas Langkah-langkah pemeliharaan tempelan mata tunas adalah sebagai berikut : • Letakkan bibit yang telah ditempel mata tunas di tempat teduh, bibit tetap disiram

• Batang bagian atas dipotong sempurna jika daun yang tumbuh dari mata tunas telah tua

• Setelah 22 hari, ikatan plastik mata tunas disobek, lalu biarkan bibit selama 2 hari

Teknik menyambung merupakan pembibitan vegetatif yang paling banyak macamnya, antara lain : (1) sambung pucuk (cleft/top grafting), sambung samping pada bibit maupun pohon (side cleft grafting), sambung susuan (approach grafting), hingga sambung kaki ganda.

• Patahkan bagian batang di atas tempat penempelan tunas dengan cara menyayat batang setengah bagian, kemudian bagian pucuk dipotong. Hal ini dilakukan untuk merangsang pertumbuhan mata tunas (Gambar A dan B) • Lakukan penghilangan daun secara bertahap

• Pelihara bibit durian okulasi yang telah berhasil tumbuh hingga siap tanam (Gambar C)

Sambung (Grafting)

Menyambung tanaman pada dasarnya sama seperti okulasi, jika okulasi yang digabungkan adalah mata tunas,

Lestari Desaku


(A)

2. Cara Membuat Bibit Sambung a. Sambung Pucuk

(A)

Menyiapkan batang atas Bahan atas/scion/entres diambil dari pohon unggul dan telah berbuah. Langkah pengambilan entres adalah sebagai berikut : - Diameter entres lebih kecil atau sama dengan ukuran diameter batang bawah

(B)

- Pilih entres yang masih memiliki tunas kuncup, lalu potong dengan gunting stek - Entres sebaiknya mengandung minimal dua ruas - Potong pangkal entres hingga membentuk “Vâ€? (Gambar A) - Potong daunnya hingga menyisakan ½ bagian, untuk mengurangi penguapan

(C)

(B)

Menyiapkan batang bawah - Pilih batang bawah (root stock) yang berumur 1-2 tahun atau batang telah berkayu - Potong dan buang bagian batang tempat keluar daun paling bawah sehingga tersisa batang yang sudah tidak berdaun (Gambar B)

Memelihara hasil tempelan mata tunas

- Secara hati-hati belah batang bawah dari tengah diameter batang hingga kedalaman 1 – 1,5 cm (Gambar C) Cara menyambung (lihat halaman berikutnya) - Masukkan entres ke batang bawah yang telah dibelah (Gambar A dan B)

maka pada teknik sambung yang digabungkan adalah entres yaitu bagian ranting/cabang tanaman. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa teknik pembibitan sambung merupakan teknik perbanyakan bibit tanaman dengan cara menyambung antara bagian atas (scion) dan batang bawah (root-stock). Sama seperti teknik okulasi, maka batang bawah merupakan bibit hasil perbanyakan dari benih.

- Ikat batang yang telah menyatu tersebut dengan menggunakan plastik elastis sedemikian rupa sehingga air tidak bisa membasahi sambungan (Gambar C)

1. Kebutuhan Bahan dan Alat Bahan dan alat utama yang diperlukan antara lain : plastik elastis, plastik bungkus, bibit sejenis untuk batang bawah, alkohol 70%, kapas, entres dari pohon unggul, gunting stek, pisau atau cutter.

- Lakukan penyiraman secara rutin

Lestari Desaku

(C)

- Sungkup dengan kantong plastik (Gambar D) Memelihara sambungan - Letakkan bibit-bibit sambungan di bawah naungan, jangan di tempat terbuka.

Menyiapkan batang atas dan batang bawah

- Jika sambungan berhasil, maka entres tetap segar dan tidak busuk sampai menunjukkan tanda-tanda muncul daun baru Edisi 3, Oktober 2012

| 21


FOK US

(A)

(B)

(C)

hingga setengah diameter batang yang akan digunakan untuk menyelipkan entres, lalu selipkan entres (Gambar B) - Ikat batang yang telah diselipi entres dengan tali plastik ± 2 cm hingga menutupi seluruh bagian entres - Pelihara entres hingga menyatu dengan batang sekitar 30 hari, letakkan di tempat teduh - Setelah 30 hari, buka ikatan plastik dan pelihara sambungan hingga bibit siap ditanam

(E)

(D)

b.2 Cara sambung samping pada pohon - Siapkan bahan dan peralatan, antara lain : tali rafia, kantong plastik bening, gunting stek, dan pisau (Gambar A) - Pilih entres dari unggul, masih produktif (pada kakao umur 7-8 tahun), dan sehat dengan diamater ± 1 cm

- Biarkan hingga daun menjadi tua, baru tali ikatan sambungan (Gambar E) - Buka plastik sungkup, dan tetap biarkan di bawah naungan selama 1 minggu - Jika daun telah tumbuh sempurna, pindahkan bibit ke persemaian b. Sambung Samping Sambung samping dapat dilakukan baik pada bibit maupun tanaman pohon yaitu dengan cara menyambung entres di bagian samping batang. Salah satu penerapan teknik sambung samping pada pohon yang sudah dikenal misalnya sambung samping kakao/ coklat.

- Potong entres, minimal memiliki tiga ruas dengan panjang ± 10 cm, potong pula bagian daun dan biarkan bagian tunas-tunas yang dorman - Potong bagian pangkal entres membentuk seperti huruf “V” (Gambar A) - Siapkan bibit untuk batang bawah - Buat belahan pada batang bawah dengan cara membelah miring bagian kayu dari bagian atas batang menuju bagian bawah

(A)

- Potong entres, minimal memiliki tiga ruas sepanjang ± 10 cm, hilangkan bagian daun - Potong miring pangkal entres ± sudut 450, lalu potong sedikit miring saja bagian ujung entres, pemotongan antara ujung dan pangkal entres saling berlawanan (Gambar B) - Entres yang memiliki jarak antar ruas lebih rapat lebih baik karena dalam satuan panjang entres akan lebih banyak terdapat mata tunas - Tanaman yang akan disambung harus dalam kondisi sehat yang ditunjukkan oleh kulit batang yang

(B)

(C)

b.1 Cara sambung samping pada bibit - Siapkan bahan dan peralatan (sama seperti sambung pucuk) - Pilih entres dari pohon unggul, masih produktif, dan sehat dengan diamater ± 1/2 cm

22 | Edisi 3, Oktober 2012

Lestari Desaku


segar dan mudah disayat. Agar tanaman sehat, maka 1 minggu sebelum penyambungan dapat dipupuk terlebih dahulu - Posisi batang yang akan disambung berada satu garis dengan buah dan terletak Âą 20 - 30 cm di atas tanah (Gambar C) - Lakukan penyayatan batang berbentuk “Vâ€? terbalik dengan lebar Âą 3-4 cm dan panjang 5 cm (Gambar D) - Selipkan pangkal entres pada kulit batang yang telah disayat dengan posisi dimiringkan agar ruas tunas tidak tertutup kulit batang (Gambar E)

(D)

(A) Pangkal

Ujung

(B)

(E)

(C)

(F)

- Pelihara entres hingga menyatu dengan batang, jika entres sudah keluar daun baru, plastik bisa dibuka - Pelihara sambungan hingga memproduksi buah (Gambar F) c. Sambung Susuan Sambung susuan adalah teknik menyambung batang bawah dengan batang atas yang masih tumbuh di pohon. Cara penyambungannya adalah sebagai berikut : - Bahan dan peralatan yang diperlukan : tali rafia, plastik bening, gunting stek, dan pisau - Pilih cabang pada pohon yang menghadap ke atas dan berdiamater sama dengan batang bawah (Gambar A). - Hilangkan bagian batang bawah lalu potong runcing agar bisa diselipkan ke cabang pada pohon (Gambar B)

(A)

(B)

(C)

(D)

(E)

(F)

- Buat sayatan pada cabang pohon mulai dari bagian bawah hingga menembus setengah diameter kayunya untuk diselipi batang bawah - Selipkan batang bawah ke cabang pohon yang telah disayat (Gambar C). - Ikat seluruh hasil sambungan dengan plastik elastis (Gambar D) - Ikat bibit dengan tali rafia agar dapat menggantung di pohon, biarkan hingga proses penyabungan berhasil (Gambar E). Lestari Desaku

Edisi 3, Oktober 2012

| 23


FOK US

d. Sambung Kaki Ganda Sambung kaki ganda adalah teknik menyambungkan dua bibit menjadi satu batang utama dengan tetap memiliki dua perakaran. Kedua bibit yang disambungkan merupakan hasil pembibitan dari benih. Sebenarnya ketika bibit sambung kaki ganda sudah terbentuk, maka dapat dilanjutkan dengan teknik sambung lainnya, misalnya sambung pucuk, sehingga bibit akan terbentuk bibit yang memiliki dua perkaran dengan bagian atas telah disambung pucuk. Harapannya dua perakaran dapat mempercepat pertumbuhan, sedang sambung pucuk untuk mempercepat pembuahan. Teknik sambung ini bisa dilakukan pada manggis. Pembuatan bibit sambung ganda adalah sebagai berikut : - Tanam dua bibit dalam satu polybag besar (Gambar A)

24 | Edisi 3, Oktober 2012

- Pilih salah satu bibit yang akan disambungkan batangnya ke batang bibit yang lain. Bibit yang akan disambungkan selanjutnya di hilangkan bagian daunnya dan dipotong bagian ujungnya (gambar B) - Pemotongan dlakukan sedemikian rupa agar batang mudah disambungkan ke batang bibit satunya (Gambar C) - Bibit yang sudah dipotong bagian ujunngnya, selanjutnya diruncingkan agar mudah diselipkan ke batang bibit satunya (Gambar D) - Batang bibit yang akan diselipi disayat dari bawah ke atas hingga menembus bagian tengah diamater (Gambar E) - Selipkan batang bibit yang telah diruncingkan ke batang bibit yang telah disayat sehingga menyatu

antara kedua batang bibit tersebut (Gambar F) - Bibit yang telah disambungkan kedua batangnya tersebut, lalu diikat dengan plastik elastis hingga menutupi seluruh sambungan (Gambar G) - Letakkan bibit di bawah tempat teduh dan biarkan proses penyambungan berjalan (Gambar H) - Jika batang sambungan sudah terlihat tanda-tanda tersambung (sekitar 1 bulan), maka plastik sambungan bisa dilepas dan pelihara bibit sambungan hingga siap tanam

(A)

(B)

(C)

(D)

(E)

(F)

(G)

(H) Lestari Desaku


Cangkok (Air layering)

Mencangkok adalah membuat bibit dari hasil proses pengulitan untuk menghilangkan kambium pada cabang atau ranting sepanjang 5-10 cm hingga menghasilkan akar sehingga bisa menjadi tanaman baru. Tumbuhan yang dicangkok akan memiliki akar serabut, bukan akar tunggang sehingga akan lebih mudah roboh. Cara mencangkok adalah sebagai berikut : - Siapkan bahan dan alat, antara lain : tali rafia, media tumbuh (kompos:tanah = 3:1 atau kokopit/ serbuk sabut kelapa), plastik, pisau, hormon perangsang akar ( jika perlu) - Pilih batang yang akan dicangkok, pastikan batang menghasilkan buah - Kupas kulitnya, mulai dari batas ruas ke bawah, panjang kupasan sekitar 1,5 kali diameter cabang (Gambar A) - Secara perlahan kerik bagian cabang yang telah dikupas (Gambar B) - Biarkan bagian yang telah dikupas selama tiga hari (Gambar C) - Siapkan media cangkok, dapat dibuat dari kokopit yang dimasukkan pada plastik ukuran 1/4 - 1/2 kg. Lalu media dalam plastik tersebut (Gambar D) - Letakkan media cangkok hingga menutupi cabang yang telah disayat (Gambar E) - Ikat media cangkok dengan tali rafia dan biarkan hingga akar cangkok mulai tumbuh (sekitar 1 bulan) - Jika akar sudah mulai muncul, siapkan kembali media cangkok dengan ukuran volume yang lebih besar dari media cangkok pertama (plastik 1 kg). Belah media tersebut lalu gabungkan ke media cangkok pertama yang telah ditumbuhi akar. Biarkan selama 2 minggu hingga akar mulai menembus ke media cangkok kedua. - Potong bagian cabang yang telah dicangkok dan tanam pada media tumbuh di polybag (kompisisi tanah : pupuk kandang : arang sekam = 2 : 1 : 1), pelihara hingga Ujang S. Irawan siap tanam.

Lestari Desaku

(A)

(B)

(C)

(D)

(E)

(F) Edisi 3, Oktober 2012

| 25


FOK US

Menanam Buah dalam Pot B ibit hasil perbanyakan vegetatif dapat berbuah meskipun tanaman masih berukuran kecil. Kondisi seperti ini tentu menyebabkan bibit buah hasil vegetatif dapat ditanam pada lahan berukuran sempit karena tidak banyak memerlukan ruangan, hal ini dapat dilakukan dengan menanamnya di halaman rumah atau bahkan di dalam pot. Lahan sempit seperti ini umumnya dijumpai di perumahan-perumahan, beberapa di antaranya sama sekali tidak memiliki lahan tanah terbuka.

Namun sekarang menanam tanaman buah tidak selalu memerlukan lahan luas dan jauh dari tempat tinggal kita karena bisa dilakukan dengan cara menanamnya di dalam pot. Jenis tanaman buah yang dapat berbuah di pot antara lain : buah naga, belimbing, jambu air, jambu biji, lengkeng, mangga, sirsak, srikaya, jeruk, sawo, kedondong, rambutan. Penanaman buah dalam pot sudah mulai banyak diminati oleh masyarakat, teknik ini mulai dikenalkan pada tahun 1979-an dan populer di era tahun 1980-1990-an. Penanaman bibit dalam pot memiliki beberapa keunggulan antara lain : (a) penghias rumah, (b) buah mudah dipanen, (c) mudah dipindahkan, (d) penanaman mudah, (e) perawatan mudah. Karena buah yang diharapkan dari penanaman dalam pot, maka perlu diketahui cara-cara budidayanya agar tanaman cepat dan rajin berbuah. a. Memilih bibit Untuk menanam buah dalam pot, maka pilihlah bibit dari hasil perbanyakan vegetatif (stek, okulasi, sambung, atau cangkok), bibit sehat dan sebaiknya dari induk unggul, oleh sebab itu belilah dari tempat yang bisa dipercaya, antara lain ditunjukkan oleh bibit bersertifikat. Pilih juga bibit yang telah berumur satu

26 | Edisi 3, Oktober 2012

Menentukan ukuran pot

tahun (tinggi 50-70 cm). Bibit yang baru dibeli, jika belum diperlakukan, simpanlah di tempat teduh. Tips dalam memilih beberapa jenis bibit buah-buahan antara lain : (a) lengkeng (bibit yang telah berumur 5 bulan), (b) mangga (bibit telah memiliki tunas baru), (c) nangka (pilih bibit hasil penyambungan), (d)

Lestari Desaku


durian (bibit berbatang lurus dan berwarna cokelat), (e) belimbing (bibit bertajuk rimbun), (f) jambu air (pilih bibit hasil okulasi atau penyambungan), (g) jambu biji (bibit telah bercabang), (h) jeruk nagami (pilih yang berdaun lebat). b. Menentukan ukuran pot Model dan bahan pot beragam, misalnya terbuat dari plastik, tanah liat, semen, atau drum bekas. Ukuran pot akan menentukan media tanam yang tertampung dan kemampuan tanaman untuk berbuah, sebaiknya ukuran pot minimal 30 cm x 30 cm x 30 cm. Pot ukuran kecil tersebut dapat digunakan untuk tanaman buah

Perbandingan Media Tanam Beberapa Jenis Tanaman Buah NO

JENIS

TANAH

PUPUK ORGANIK

SEKAM/ARANG SEKAM

1

Buah naga

1

1

1

2

Belimbing

1

2

3

3

Durian

1

1

1

4

Jambu air

1

2

2

5

Jambu biji

1

2

2

6

Jeruk

1

2

3

7

Lengkeng

1

2

2

8

Mangga

1

2

2

9

Melon

1

2

3

10

Nangka mini

1

2

2

11

Sirsak

1

2

2

12

Srikaya

1

2

3

Sumber : Tim Mekarsari, 2012

udara dan air tidak tergenang dalam pot. Air yang tergenang dalam jangka lama dapat menyebabkan pembusukan pada akar tanaman. c. Menyediakan media tanam Seperti manusia, tanaman untuk tumbuh dan berkembang juga memerlukan gizi seimbang yang terkandung dalam media tanaman, hal ini dipenuhi dengan mencampur beberapa media tanaman, misalnya : tanah, pupuk organik, dan arang sekam, umumnya komposisi 1 : 2 : 2.

jenis belimbing atau kedondong, sedangkan jenis tanaman berkayu keras seperti mangga dan rambutan memerlukan pot ukuran besar seperti drum. Bagian dasr pot sebaiknya berlubang dan memiliki kaki atau alas penopang menggunakan batu atau bata, hal ini bermanfaat untuk sirkulasi

Lestari Desaku

d. Menanam Penanaman dilakukan secara mudah dengan tahapan : (a) Siapkan bahan-bahan media tanam, yaitu tanah, pupuk organik, dan arang sekam atau sekam, lalu campur media tanam tanam tersebut secara merata, (b) Tambahkan pupuk NPK 30 gram untuk pot kecil atau 50 gram untuk drum, (c) Memasukan media tanam 1/3 bagian di dalam pot, (c) Lepas bibit dari polybag dan pindahkan ke dalam pot, (d) Isi ruangan kosong pada pot dengan media tanam, padatkan, lalu siram.

e. Merawat tanaman - Memupuk Merupakan tahap penting untuk pertumbuhan tanaman dan merangsang pembungaan. Pupuk yang diberikan adalah campuran antara pupuk organik dan kimia. Pemupukan dilakukan setiap 4 bulan sebagai berikut : (a) Pupuk organik diberikan sesuai dengan ukuran pot dengan cara mengurangi media dalam pot, (b) Pupuk kimia ditabur sedalam 5-10 cm pada larikan sekitar pot, lalu menutupnya kembali dengan media. Pada saat tertentu juga tanaman dalam pot perlu diberikan pupuk daun, karena selain mengandung unsur hara, pupuk daun juga mengatur zat pengatur tumbuh sehingga dapat mamacu pertumbuhan daun maupun bunga. Cara penggunaannya adalah dengan menyemprotkan ke seluruh daun tanaman. Pupuk daun dapat dibeli di toko-toko pertanian, yang pada dasarnya terdiri dari dua jenis, yaitu : (1) Pupuk daun generatif, bermanfaat untuk memacu

Edisi 3, Oktober 2012

| 27


FOK US

Dosis Pupuk Organik dan Kimia Berdasarkan Ukuran Pot NO

UKURAN POT

PUPUK KIMIA (GRAM)

PUPUK ORGANIK (KG)

NPK

Urea

SP36

KCl

2

2

1

1

Pot ember 6 liter

2

5

2

Pot ember 12 liter

3

10

5

3

2

3

Pot ember 22 liter

5

20

10

6

4

4

Pot ember 40 liter

5

30

5

15

10

5

Drum 100 liter

8

50

5

20

15

Sumber : Tim Mekarsari, 2012

pembungaan. Pupuk digunakan saat daun telah dewasa dan tajuk tanaman sudah bagus, pupuk ini diberikan setiap 2 minggu, (2) Pupuk daun vegetatif, bermanfaat untuk memperbaiki tajuk tanaman. Pupuk digunakan setelah tanaman dipangkas, diberikan setiap 2 minggu selama 1 bulan. - Mengatur air Untuk mempercepat pembungaan perlu pengaturan penyiraman dengan cara perlakuan tanaman stres air, yaitu membuat tanaman layu tetapi tidak sampai merontokkan daun. Caranya : (a) Satu bulan sebelum perlakuan tersebut, berikan pupuk kimia SP36 dan KCl dosis sesuai ukuran pot, (b) tanaman tidak disiram 3-5 hari, (c) Setelah tanaman layu, segera lakukan penyiraman air kembali.

- Mengerat batang Hal ini dilakukan untuk merangsang dan mempercepat pohon berbuah, caranya adalah : (a) Pastikan kondisi tanaman sehat, (b) Satu minggu sebelum perlakuan pengeratan, tanaman dipupuk SP36 dan KCl dengan dosis sesuai ukuran pot (Lihat Tabel Pemupukan),(c) Lakukan pengeratan pada ketinggian 3-5 cm dari permukaan tanah, lebar pengeratan ½-1 cm, pengeratan menembus sampai kambium seperti mencangkok, lapisan lendir kambium dihilangkan, (d) Tutup bekas keratan dengan plastik gelap/lakban, (e) Jika telah tumbuh akar baru, timbun dengan media tanam. - Memangkas cabang Dilakukan setiap 3-4 bulan, terutama setelah panen buah, hal ini berguna untuk memapecepat pertumbuhan cabang baru dan merangsang munculnya bunga dari cabang baru tersebut. Cabang-cabang yang dipangkas adalah : (a) Cabang mati atau terserang penyakit, (b) Tunas air/cabang ortotrop (cabang yang tumbuh tegak ke atas), (c) cabang berhimpitan, (d) cabang terlalu rimbun, (e) cabang yang tidak produktif. - Mengerok batang Ini biasanya dilakukan pada tanaman lengkeng untuk merangsang pembungaan dan pembuahan, dilakukan setelah berakhir masa panen, caranya dengan melukai ringan pada

Tunas Air

permukaan kulit tidak sampai melukai bagian dalam batang. - Memberikan ZPT ZPT adalah zat pengatur tumbuh yang bisa digunakan mempercepat pembungaan. Beberapa ZPT yang biasa digunakan antara lain Cultar (untuk jambu, belimbing, jeruk) dan patrol (untuk mangga dan apel). Cara penggunaannya tertera dalam kemasan ZPT tersebut. - Penjarangan buah Tanaman yang berbuah terlalu lebat akan menguras energi, hal ini menyebabkan pada musim berikutnya tanaman tidak berbuah bahkan bisa mati. Oleh sebab itu perlu dilakukan penjarangan buah dengan tujuan : berbuah setiap musim secara teratur, juga meningkatkan mutu, ukuran, bobot, serta penampilan buah. Caranya adalah pada saat muncul bakal buah, sisakan 1-2 bakal buah yang paling sehat dan mulus bentuknya. Ujang S. Irawan

Mengerat batang

28 | Edisi 3, Oktober 2012

Lestari Desaku


Dari Anda

Tanya

Kiat Menangani Bibit Cabutan dan Perkecambahan Benih Jawab

Saya melakukan pembibitan tanaman bayur, karena untuk mempercepat pembibitan dan memang mengalami kesulitan pengadaan benih, saya melakukan cabutan bibit di bawah tegakan bayur. Tetapi mengapa bibit hasil cabutan yang ditanam langsung di polybag layu dan mati, padahal sudah disiram pagi dan sore? Parni, Padang Pariaman Sumatera Barat

Saya mau bertanya, saya mengecambahkan benih tetapi kenapa tidak mau berkecambah padahal sudah 1 bulan lebih disemai di bak tabur, mohon petunjuknya. Srigading, Mamasa Sulawesi Barat

S

aat tanaman dicabut dari tempat kedudukannya, maka akar yang berada di dalam tanah sebagian besar akan rusak dan putus termasuk akar rambut yang berperan menyerap air dan unsur hara, apalagi jika pencabutan dilakukan pada bibit yang telah besar. Dengan rusaknya akar rambut maka otomatis peran penyerapan air akan terhenti, hal ini tentu menyababkan tanaman perlu waktu untuk memulihkan kembali akar yang rusak. Bibit yang dicabut langsung dari lapangan atau jika ditanam langsung di polybag, akan layu dan lambat laun akhirnya mati. Hal ini disebabkan oleh akar rambut yang telah rusak sehingga proses penyerapan air ke dalam tanaman terganggu, di lain pihak tanaman secara alami terus melakukan proses penguapan air dari dalam tubuhnya khususnya melalui daun (yaitu proses transpirasi). Jika air yang menguap dari daun tanaman jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah air yang masuk ke dalam tanaman, maka lama kelamaan tanaman akan kekurangan air yang pada gilirannya akan layu bahkan mati. Oleh sebab itu penyiraman tidak memberi dampak nyata karena akar yang masih rusak belum bisa menyerap air secara optimal. Oleh sebab itu agar bibit cabutan tetap segar, maka perlu dilakukan penyungkupan dengan plastik buram/bening terhadap bibit-bibit yang telah ditanam di polybag, bibit tersebut juga dapat dipotong daun-daunnya ½ bagian. Jika telah muncul daun baru, itu menandakan proses penyerapan air oleh akar telah berjalan normal. Pada kondisi ini sungkup bisa dibuka hingga bibit siap tanam. Silakan mencobanya...!

A

da beberapa hal yang perlu dicek berkaitan dengan tidak berkecambahnya benih yang kita semai, yaitu :

1. Cek sifat benih berdasarkan daya simpannya, dia termasuk yang dapat disimpan lama (ortodok) atau tidak bisa disimpan lama (rekalsitran). Beberapa jenis kelompok ortodok misalnya : sengon, jati, sirsak, akasia, ekaliptus, merbau, dll., sedangkan kelompok rekalisitran misalnya : nangka, durian, rambutan, lengkeng, jeruk, meranti, gaharu, dll. Kelompok rekalistran tidak bisa disimpan dalam jangka lama karena kemampuan berkecambahnya akan menurun. Kelompok benih tidak bisa dikeringkan, jika terlalu kering justru menyebabkan benih tidak dapat berkecambah. 2. Jika benih tersebut apakah termasuk kelompok ortodok? Untuk benih kelompok ortodok penyimpanan jangka lama dan penjemuran benih tidak mempengaruhi daya simpannya. Jika benih tetap tidak mau berkecambah, jangan-jangan benih tersebut belum masak. 3. Cek kondisi media untuk mengecambahkan, apakah sudah benar memenuhi pesyaratan media yang baik? Jika media perkecambahan kering atau tergenang air maka benih meskipun masih bagus, tidak akan mampu berkecambah. Jadi media kecambah cukup lembab saja, jangan tergenang air atau kering. 4. Ada juga benih yang memerlukan waktu kecambah cukup lama, atau sulit berkecambah jika tidak ada perlakuan dahulu. Benih-benih berkulit keras dapat dipercepat dengan cara menyangrai yaitu menggoreng pada pasir panas, misalnya pada benih jati. Demikian, selamat mencoba dan mengecek kembali...!

Lestari Desaku

Edisi 3, Oktober 2012

| 29


tokoh kita

H. Udin Saefudin

Pengusaha penangkar bibit buah-buahan, Desa Ciapus, Kecamatan Ciomas, Bogor

Kepedulian Menuai Kesuksesan Bermodal dari kepedulian dan kesenangan menangkar bibit buah-buahan sebagai penghasil oksigen dan buah. Kesadaran bahwa menanam pohon adalah ibadah, Haji Udin (55), pria kelahiran 1957, berhasil meraup rejeki melimpah dari usaha penangkaran vegetatif pohon buah-buahan. Hal itu diperoleh bukan dari bangku sekolah namun berkat ketekunan dan kegigihannya. Memulai usaha dengan menjual bibit dari pasar ke pasar, kini tinggal duduk manis, pembeli berdatangan dari berbagai kota. Bibit buah-buahan vegetatifnya tersebar di berbagai perumahan mewah hingga Kalimantan dan Sumatra. Kami mewawancarainya di tempat usahanya yang asri di lereng Gunung Salak yang sejuk dan indah. Berikut petikannya. Kapan Bapak memulai usaha pembibitan buah-buahan ini? Sejak tahun 1979 saya memulai usaha pembibitan mungkin  sekitar 20 tahun yang lalu, cara saya berusaha dengan memikul dari satu tempat ke tempat lain. Tahun 1985-1987 saya berhenti sekitar 2 tahun, sempat menekuni supir angkot di Bogor, karena sesuatu dan lain hal, saya kembali lagi jalani usaha pembibitan  buah-buahan ini. Sebenarnya saya ini, berawal dari orang kecil dengan jerih payah sendiri, karena  saya ini anak yatim. Saat duduk di kelas 3 SD saya sudah belajar bekerja. Saya berjualan sampai ke Majalengka persisnya daerah Cikijing. Saat dewasa, saya sudah bawa satu mobil pick up bibit, biasanya bibit itu habis terjual dalam waktu 3 hari di sekitar Cikijing.

30 | Edisi 3, Oktober 2012

Darimana Bapak mengetahui tentang pembibitan buah-buahan ini? Pengetahuan ini saya dapat atas dorongan kepedulian pribadi karena melihat orang tua yang memang sudah memulai usaha pembibitan. Saya berpikir kenapa saya tidak ikuti. Kemudian saya sambil belajar pergi ke Pondok Cina (Depok) untuk belanja bibit. Ketrampilan teknik stek dan okulasi, saya dapatkan hanya melihat dari orang lain. Selain itu, saya juga suka tanaman dan peduli terhadap lingkungan. Apakah ada perbedaan nilai pendapatan penjualan dari waktu ke waktu? Ya ada, bahkan meningkat dari tahun ke tahun, apalagi bibit saya

banyak yang tumbuh dan berbuah. Untuk perbedaan bisa dilihat dari jumlah konsumen yang datang ke tempat saya. Waktu itu saya menjual ke perumahan dan pasar-pasar dadakan, alhamdulillah sekarang bisa menetap jualan dan hasilnya memiliki tiga kebun dengan luas masing-masing kurang lebih 0,5 ha. Di tahun 1985, saya pinjam uang bank sebesar Rp 200 ribu untuk modal, ya nilainya sekarang mungkin sama dengan 10 juta-an saat ini. Pada waktu itu saya mendapat pekerjaan besar dari Perumahan Hijau di Kota Tangerang untuk mengisi tanaman, dan perumahan di wilayah Ciganjur, Jakarta. Ketika itu, belum banyak orang membuat bibit. Jadi saya beruntung membuat bibit buahbuahan. Nah, baru sekitar tahun 1990  sampai sekarang, banyak yang mengikuti saya membibitkan buahbuahan terutama di sekitar Ciapus. Jenis tanaman apa saja yang diminati masyarakat? Tanaman yang disenangi oleh masyarakat adalah rambutan, durian, mangga, memang campur sih, harga bisa variasi tergantung besar tinggi dan umur, misalnya bibit ukuran kecil Rp. 15.000 - Rp. 50.000, ada juga  harga Rp 250.000 dengan tinggi sekitar 2 meter. Apa motivasi Bapak sehingga tidak takut bibit ini tidak terjual?

Lestari Desaku


kesehatan dan kesuburan bibit. Bibit yang dijual harus dapat menjamin berbuah di masa datang dan sesuai dengan jenis yang diinginkan. Jangan sampai bibit okulasi durian montong, tapi ternyata yang tumbuh bukan montong atau bahkan tidak berbuah sama sekali. Jadi kualitas harus dijaga, insya Allah konsumen akan datang lagi. Selama  ini kemana saja pemasarannya? Sebenarnya sekarang pembeli datang sendiri, namun sering juga saya kirimkan ke luar Jawa misalnya Kalimantan dan Sumatra. Saya juga sebagai pemasok Toko Majalah Trubus. Apa ada dukungan mitra atau pemerintah ? Pembinaan pemerintah ada dalam bentuk penyuluhan terkait pembibitan, misalnya untuk durian kalau musim hujan berjamur. Pihak penyuluh melakukan arahan terkait penyakit tanaman. Misalnya melatih pembuatan pupuk organik.

Begini, berusaha itu jangan kapokan (mudah bosan). Apalagi sekarang pemerintah menggalakan penghijauan dan perumahan banyak yang mencari bibit seperti tanaman buah untuk ditanam di pekarangan rumah atau membuat taman. Selanjutnya jangan khawatir, selama ada barang pasti ada saja sih yang belanja. Banyak orang yang berpikiran takut dan khawatir, saya justru kewalahan oleh banyaknya pesanan. Apa yang membuat pembibitan vegetatif Bapak bagus?

Lestari Desaku

Selain faktor keahlian yang dimiliki pekerja pembibitan saya, batang bawah yang ditanam juga harus tumbuh bagus, ini tentu memerlukan media tumbuh yang berkualitas. Ketika menyambung atau okulasi  ke bibit, batang bawah bibit sudah setinggi 20 cm ke atas. Selain itu, dalam pengambilan bahan entres harus dari indukan pohon yang bagus. Apa yang menyebabkan orang banyak datang ke pembibitan Bapak? Hanya mempertahankan kualitas,

Apa yang menyenangkan dari bisnis pembibitan ? Bagi saya, bisnis ini sangat menyenangkan karena selain kita mendapat barokah dan ibadah dengan menanam pohon, oksigen sekitar kita juga terbentuk dan dihirup banyak orang, juga hasil berupa uang dari berjualan bibit ini sangat menjanjikan lho, bahkan bisa menjadi amal ibadah membantu menghijaukan lahan. Bukan takabur saya, Alhamdulilah bisa berangkat ke haji dari usaha pembibitan ini. Apa pesan Bapak bagi yang memulai usaha ini? Untuk usaha bibit ini, memang perlu kesabaran, pantang menyerah, dan ulet yang paling penting. Kalau gagal jangan kapok. Semua usaha harus ditekuni jangan cepat menyerah. Boleh dibilang saya ini memiliki 32 pekerja, coba pikir dari mana saya harus menggaji orang sebanyak itu, jika tidak dari Allah yang telah menumbuhkan bibit saya ini. Hendra Gunawan

Edisi 3, Oktober 2012

| 31


Kolom Penguatan Desa

Lingkungan Hidup Tidak Muncul dalam RPJM Desa: Ludiro Prajoko*

Wah, gak betul tuh!

D

esa, pada umumnya, menjadi tempat dimana pembangunan malas berkunjung. Apakah pembangunan itu menyerupai sosok perjaka yang genit gemar bersolek, sehingga lebih suka berada di kota? Tentu saja tidak demikian. Kota, sebagaimana kita ketahui, adalah tempat dimana para pejabat, orang kaya, dan pesohor bertempat tinggal. Karena itu, harus ditata dan terus dipercantik dengan lampu-lampu yang terang warnawarni, jalanan yang mulus, gedunggedung yang bagus, dan tamantaman yang disediakan bagi warga untuk berleha-leha sore hari.

Salah satu Urusan Wajib itu adalah urusan Lingkungan Hidup (LH) - alam: tempat dimana manusia menggantungkan kehidupannya. Kerusakan lingkungan itu akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia. Sebagaimana bisa kita rasakan dewasa ini: kelangkaan air akibat rusaknya daerah tangkapan air, tanah longsor akibat hutan yang gundul, kelangkaan ikan akibat rusaknya terumbu karang dan air laut yang tercemar racun, gagal panen akibat perubahan musim yang dipicu oleh pemanasan global, wabah penyakit akibat sampah yang berserakan dimana-mana, aneka penyakit yang diderita manusia karena pestisida dan pupuk-pupuk kimia yang bersemayam dalam aneka bahan pangan, tanah dan air yang cemar akibat limbah beracun dan sampah plastik, punahnya aneka makhluk hidup akibat kerusakan habitat dan ekosistemnya, ‌. Semua itu terjadi dimana-mana, juga di desa-desa.

Pembangunan adalah proses perubahan secara terencana dan terukur menuju peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan mencakup semua urusan dan aspek kehidupan

Desa dianggap belum membutuhkan semua itu, karena warga desa, pada umumnya, dipandang sebagai penghuni yang sudah amat terbiasa dengan berbagai kekurangan: air, sarana prasarana, listrik, dan sebagainya. Toh, mereka tetap hidup sebagaimana mestinya. Walaupun, sesungguhnya warga desa begitu merindukan pembangunan. Apa makna pembangunan itu bagi warga desa? Jawabnya tidaklah pelik: air bersih, jalan makadam, pengaspalan, gedung sekolah, ‌. tidak jauh dari soal penyediaan sarana prasarana. Tentu tidak salah, karena semua itu memang dibutuhkan dan secara umum kondisinya memang memprihatinkan.

Namun demikian, menjadi salah bila kita membiarkan warga desa memahami pembangunan hanya sebatas itu. Pembangunan adalah proses perubahan secara terencana dan terukur menuju peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan mencakup semua urusan dan aspek kehidupan. Pemerintah kemudian memilah menjadi Urusan Wajib dan Urusan Pilihan dalam menyusun rencana pembangunan. Dikatakan sebagai Urusan Wajib, karena urusan itu harus dikerjakan oleh Pemerintah Pusat sampai Desa (Pendidikan, Kesehatan, Sarana prasarana, dll). Meninggalkan sesuatu yang wajib, pasti akan berdampak buruk.

32 | Edisi 3, Oktober 2012

Karena itu, Pemerintah Desa juga berkewajiban menetapkan kebijakan dan melakukan berbagai upaya untuk menjaga dan melindungi kelestarian lingkungan (alam) desanya. Di sisi lain, Pemerintah Desa berkepentingan dan harus melindungi potensi sumber daya alam yang dimiliki desanya untuk didayagunakan secara optimal berkelanjutan demi kemajuan desa dan warganya. Pemerintah Desa ada atau dibentuk memang untuk tujuan itu: menyelenggarakan pembangunan guna memajukan desa dan kehidupan warga desa dari semua aspek. Upaya ke arah itu harus dilakukan secara tertib dan terencana. Maka, sesuai Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 tentang Desa, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 66 Tahun 2007, Pemerintah Desa wajib menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) untuk kurun waktu 5 tahun, dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Des) tahunan.

Lestari Desaku


Maka, harus dipastikan bahwa lingkungan hidup menjadi salah satu urusan wajib yang dituangkan dalam RPJM Des. Mengacu pada Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, yang diperbaharui dengan Permendagri No. 59 Tahun 2007. Urusan Wajib LH itu kemudian diurai menjadi ProgramProgram. Selanjutnya, setiap program diurai menjadi kegiatan-kegiatan. Tentu saja harus dipilah dan dipilih sesuai porsi kewenangan dan kemampuan Pemerintah Desa untuk melaksanakannya. Dengan demikian, perlu kiranya ditinjau ulang RPJM Des kita untuk memastikan

Lestari Desaku

Pembangunan Lingkungan (konservasi - pelestarian alam) menjadi salah satu isu kuat dalam RPJM Des, dan kegiatan, misalnya: mengelola sampah, membuat pupuk organik, melindungi daerah aliran sungai, menanam pohon di lahan-lahan kritis, memelihara sumber air, rehabilitasi mangrove, menjaga kebersihan pantai, ‌. Muncul sebagai kegiatan dalam RKP Des dan berhak ‘menikmati’ dana dari APBDes. Memang, hal itu membutuhkan kepedulian dan kecerdasan Kades, juga kita! *) Penggiat Pemberdayaan Masyarakat Desa, E-mail: prajoko.ludiro@yahoo.com

Edisi 3, Oktober 2012

| 33


Pembelajaran Praktik Cerdas

Belajar dari Warso Farm:

Membuat Durian Berbuah Sepanjang Musim

D

i Kota Bogor, nama ‘Rancamaya’ berkonotasi erat dengan durian. Sampai awal tahun 90-an, Kecamatan Rancamaya dan sekitarnya merupakan gudang durian. Sayangnya kawasan Agroforestri yang begitu subur dan indah di lereng Gunung Salak ini terus dikonversi menjadi kawasan bisnis dan pemukiman mewah. Dalam waktu kurang dari 20 tahun, wajah Rancamaya yang dulu damai, sejuk dan rindang telah berubah menjadi sesak, dan maskot ‘Durian’ itu kini hanya tinggal sebagai ken angan.

Beruntung, di tengah kepengapan dan hilangnya maskot durian,  kawasan ini masih memiliki Warso Farm, yaitu kebun buah seluas 23 hektar yang tepat bersebelahan dengan kawasan Rancamaya. Tepatnya Di Desa Cihideung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.  Kebun ini dibangun oleh Pak Soewarso Pawaka (85 tahun) pada tahun 1980-an. Pak Warso adalah seorang perwira

TNI Angkatan Darat yang jatuh hati dengan tanaman buah. Sejak muda beliau mengumpulkan aneka jenis tanaman buah dari berbagai wilayah dan membiakan tanaman-tanaman tersebut di kebunnya. Kini Warso Farm sudah banyak dikenal di kalangan masyarakat Bogor maupun luar Bogor, dan mereka lebih mengenalnya dengan nama “Durian Warso”, hal ini disebabkan di kebun tersebut lebih didominasi oleh jenis buah durian. Di Warso Farm pengunjung bisa menikmati aneka macam durian yang ditanam secara

34 | Edisi 3, Oktober 2012

vegetatif, seperti Durian Montong (Thailand), Sitokong (Montong-nya Indonesia), Petruk, Matahari, Cane, Lai dan sebagainya, juga aneka macam buah lainnya, seperti buah Naga, Jambu Jamaica, Jeruk Limau, sirsak, rambutan dan sebagainya. Setiap hari, tanpa mengenal musim, pengunjung bisa menikmati durian segar di Restoran Warso Farm. Kebun Warso Farm  dibuka gratis untuk umum pada Hari Sabtu dan Minggu. Selain dapat menikmati udara segar, keindahan kebun buah yang rapi dan indah, pengunjung bisa menikmati kolam pemancingan dan  permainan anak-anak.  

Lestari Desaku


Berjalan-jalan di Warso Farm, kita bisa menambah wawasan dan ilmu tentang budidaya buah-buahan karena selain mengembangkan pembibitan vegetatif, di tempat ini juga telah dipraktekkan penanaman hasil pembibitan vegetatif yang telah mencapai umur 20 tahunan. Kita dapat melihat bagaimana pertumbuhan pohon buah hasil pembiakan vegetatif. Pohonpohon yang tumbuh tersebut lebih didominasi oleh hasil pembibitan okulasi, sehingga masih menunjukkan sistem perakaran yang kuat dengan percabangan pohon yang relatif rendah. Arsitektur pohon seperti ini tentu memudahkan dalam pemanenan buah. Di Warso Farm ini pula kita dapat membuktikan bahwa pohon dari bibit vegetatif mampu berbuah dalam waktu yang lebih cepat jika dibandingkan pohon dari bibit generatif. Durian yang ditanam secara vegetatif (okulasi) ini telah mampu berbuah pada umur 5 tahun, buahnya mencapai puncak pada umur 10 – 20 tahun. Pada umur 10 tahun, ratarata produksi buah setiap pohon per tahunnya bisa mencapai 75 buah, sedangkan pada umur 20 tahun bisa mencapai 500 buah. Sedangkan pohon durian dari bibit generatif umumnya mulai berbuah pada umur 10-12 tahun. Hal lain yang menarik dijumpai di Warso Farm adalah kemampuan pohon buah-buahan, khususnya pohon durian untuk dapat berbuah sepanjang musim. Hasil wawancara dengan Pak Dasar, salah satu petugas pengelola kebun di Warso Farm, menjelaskan bahwa pada dasarnya pohon buah-buahan dapat berbuah sepanjang musim asal kebutuhan nutrisinya terpenuhi secara optimal, kuncinya perawatan secara intensif dengan pemupukan, pemberian hormon pengatur tumbuh, dan pemangkasan. Pohon durian merupakan jenis pohon buah yang banyak memerlukan energi ketika sedang berbuah, hal ini

Lestari Desaku

ditunjukkan oleh keringnya rantingranting pucuk percabangan yang ada buahnya karena banyak terkuras ke proses pembentukan buah. Namun pada lahan-lahan yang subur hal tersebut tidak terjadi. Wajar jika tanaman durian dalam pot sulit menghasilkan buah, karena volume nutrisi yang tersedia terbatas. Durian dalam pot hanya sampai tahap pembungaan kemudian rontok. Hal ini tidak terjadi pada jenis tanaman buah dalam pot lainnya seperti mangga, jambu, jeruk, rambutan, atau sawo. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa berbuahnya pohon sepanjang musim tidak lepas dari perawatan secara intensif, hal ini telah dibuktikan pada teknik perawatan pohon durian di Warso Farm yang selalu berbuah sepanjang musim. Pemupukan yang diterapkan adalah kombinasi antara pupuk organik dan kimia. Pupuk organik (kotoran kambing) diberikan setiap 6 bulan, sedangkan pupuk kimia (NPK) diberikan setiap 4 bulan. Jenis pupuk kandang kotoran kambing yang dipilih karena pupuk ini mengandung banyak kalium dengan kadar air yang rendah sehingga cocok jika diberikan pada tanaman untuk merangsang terbentuknya buah. Ketika pohon mulai berbunga, maka dosis nitrogen dikurangi sedangkan dosis pupuk fosfor dan kalium ditingkatkan, hal ini agar kecukupan nutrisi tanaman untuk proses pembentukan buah dapat terpenuhi. Selain pupuk organik dan kimia, untuk merangsang pembungaan juga diberikan hormon pengatur tumbuh (Atonic) dan pemangkasan.

memperhatikan akar rambut sebagai penyerap hara sudah jauh dari batang pohon. Teknik budidaya menghasilkan buah durian sepanjang musim seperti perlu dicoba pada beberapa jenis pohon buah lainnya, terutama jenisjenis yang lambat tumbuh atau tidak berbuah sepanjang musim, seperti mangga, manggis, rambutan, dan lainnya. Selamat mencoba! Edi Purwanto dan Ujang S. Irawan

Durian yang ditanam secara vegetatif (okulasi) ini telah mampu berbuah pada umur 5 tahun,...

Pemupukan yang benar dilakukan dengan cara membuat lubang di sekeliling pohon sedalam 30-50 cm di bawah proyeksi tajuk pohon terluar. Kemudian percabangan pohon yang mati kita pangkas dengan harapan pada bekas pangkasan akan muncul trubusan yang kelak bisa menjadi percabangan baru. Memupuk di dekat batang pohon tidak efektif, karena selain penggalian tanah dapat merusak akar, pupuk banyak terbuang

Edisi 3, Oktober 2012

| 35


Kolom Penguatan Desa

Edi Purwanto*

Kembalikan Kolam Susu dan Tanah Surgaku !

Bukan lautan hanya kolam susu Kail dan jala cukup menghidupimu Tiada badai tiada topan kau temui Ikan dan udang menghampiri dirimu Orang bilang tanah kita tanah surga  Tongkat kayu dan batu jadi tanaman 

L

agu ‘Kolam Susu’ ciptaan Koes-Plus yang meledak di tahun 70-an dan terus dikenang hingga kini tersebut menggambarkan betapa indah, mudah dan nyamannya hidup di negeri tercinta ini. Tentunya di saat kondisi alamnya masih utuh. Dalam ekosistem alam yang utuh dan terpelihara. Yaitu ketika wilayah daratannya sebagian besar masih tertutup oleh kelebatan hutan alam, pesisirnya masih berpagar hutan mangrove, berbalut padang lamun dan berbenteng terumbu karang. Dalam kondisi ini, terciptalah gambaran sempurna kolam susu dan tanah surga. Sungai-sungai begitu lebar dan jernih airnya, mengalir sepanjang musim dan banyak ikannya. Dengan berbekal kail dan jala didapat tangkapan ikan segar yang menghidupi masyarakat desa di sepanjang sungai. Mereka yang tinggal di pesisir tidak perlu berlayar jauh untuk mendapat ikan, cukup memasang bubu dan jaring, maka ikan, udang dan kepiting akan menghampiri alat tangkapnya. Para petani dan pekebun dapat memanen hasilnya sepanjang tahun, saat musim hujan tanam padi, di musim kemarau tanam palawija. Di kala menunggu panen, mereka dapat mengumpulkan aneka macam hasil hutan, seperti madu, buah-buahan dan rotan. Alangkah nikmatnya hidup di desa yang  masih sehat alamnya. Dalam alam yang sehat, terbangunlah masyarakat yang memiliki modal sosial yang kuat, maka tidak heran kalau masyarakat Indonesia doeloe dikenal ramah tamah, sopan santun dan memiliki jiwa gotong-royong yang kuat. Idealnya, pembangunan yang kita laksanakan mampu memberdayakan masyarakat untuk menciptakan nilai tambah dari sumberdaya alam (SDA) yang telah mereka

36 | Edisi 3, Oktober 2012

kelola. Masyarakat pengumpul rotan, selayaknya dimampukan untuk mengolah rotannya menjadi produk kerajinan bernilai tinggi. Masyarakat petani sawah, selayaknya dimampukan untuk meningkatkan frekuensi panen dan kualitas produk hasil pertaniannya tanpa harus merusak lahannya. Masyarakat pekebun, selayaknya dimampukan untuk  menghasilkan buah lokal yang berkualitas tinggi. Masyarakat nelayan, selayaknya dimampukan untuk menciptakan aneka produk berbasis ikan yang layak untuk diekspor  dan sebagainya ... dan sebagainya. Yang terjadi, pembangunan dalam banyak kasus justru merampas dan bukan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan SDA-nya. Desa yang sebelum pembangunan berselimut kehijauan hutan, kini menjadi gersang oleh aktifitas pembalakan hutan. Desa yang doeloe permai, kini menjadi kumuh dan berdebu setelah di-haru-biru oleh investor pertambangan nikel. Desa yang doeloe pemanfaat hasil hutan, kini gigit jari setelah lahan hutannya dikuasai oleh investor sawit. Desa pesisir yang saat masih berselimut mangrove melimpah hasil ikannya, kini merosot, setelah mangrovenya dikonversi menjadi tambak oleh pebisnis besar. Desa nelayan yang memiliki pantai indah mempesona, kini menjadi pengap dan kumuh setelah pantainya dikuasai oleh pengembang hotel-hotel berbintang. Desa persawahan beririgasi yang doeloe-nya menjadi lumbung padi, kini harus impor padi, setelah lahan persawahannya dikuasai oleh pengembang perumahan mewah. Desa pegunungan yang melimpah sumber airnya, kini sering kekurangan air, setelah sumber-sumber airnya dikuasai oleh investor air mineral. Desa yang terletak di batas kota yang doeloe remajanya rajin bermain bola di lapangan desa, kini gantung sepatu, setelah lapangan bolanya dikuasai oleh pengusaha mall. Menghadapi berbagai gempuran tersebut, masyarakat desa  umumnya hanya bengong, segelintir elit desa memang ada yang menjadi penikmat, namun sebagian besar teraniaya, kemudian tersingkir entah kemana. Tragisnya, kehancuran SDA desa berdampak pada kehancuran nilai dan modal sosial desa yang telah terajut selama ratusan hingga ribuan tahun. Tidak aneh kalau kini terlahir generasi baru masyarakat desa yang beringas, individualis dan prakmatis. Tidak aneh kalau kini banyak terjadi konflik soial dan konflik penguasaan

Lestari Desaku


lahan. Tidak aneh kalau kini banyak terjadi tawuran pelajar.       Perlu upaya kuat dari semua pihak untuk menghentikan bola liar ini. Salah satunya adalah menguatkan pemerintahan desa. Desa sebagai unit pemerintahan terkecil di republik ini harus dikuatkan. Masyarakatnya perlu disadarkan akan pentingnya pemeliharaan SDA desa.  Desa perlu diperkuat bargaining posisiton-nya

Lestari Desaku

terhadap investor dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada kelestarian SDA desa. Kelembagaan usaha desa perlu diperkuat agar mampu menjalin kesetaraan kerjasama dengan pihak luar. Lebih dari itu pemerintah kabupaten dan pusat perlu disadarkan terhadap pentingnya pemeliharaan kelestarian SDA desa ! asi baru masyarakat desa yang beringas, individualis ! *) Direktur OWT, Email: purwanto.owt@gmail.com

Edisi 3, Oktober 2012

| 37


Wisata Ilmiah

Yuk... Kita T

berkunjung ke

Taman Buah Mekarsari

erletak di Jalan Raya Cileungsi, Bogor yang semakin sesak oleh hunian rumah mewah dan kemacetan lalu lintas, hanya beberapa kilometer dari kediaman Presiden SBY, Taman Buah Mekarsari (TBM) bak oase di tengah kesesakan dan hiruk pikuk Metropolitan Jakarta. Terhampar pada lahan seluas 264 ha, TBM merupakan pusat pelestarian plasma nutfah dan pemuliaan buahbuahan asli (endemis) Indonesia. Kebun buah yang pembangunannya diprakarsai oleh Ibu Tien Soeharto itu kini dikelola oleh PT Mekar Unggul Sari (MUS). Dengan berkunjung ke TBM kita bisa mensyukuri betapa luar biasa kekayaan plasma nutfah negeri ini. Tidak salah kalau Koes Plus dalam salah satu lagunya menyebut bahwa  negeri ini bak kolam susu dan tanah surga.   Layaknya berkunjung ke kebun raya, kita bisa mengamati aneka ragam buah-buahan  tanah air yang telah dikelompokan sesuai famili dan jenisnya. Berbagai macam durian dari yang berduri hingga yang mulus, aneka macam sirsak, sawo, jambu,

Oktober 2012 2012 38 | Edisi 3, Nopember

Lestari Desaku


mangga, rambutan dan berbagai macam buah yang biasa tumbuh di dataran rendah. Banyak jenis buahbuahan yang selama ini hanya kita dengar dari dongeng atau dari cerita nenek dan kakek kita bisa kita lihat pohon dan buahnya. Kehadiran TBM sangat penting bagi pelestarian pohon induk buah-buahan langka Indonesia, baik sebagai sumber biji maupun entres. Baik untuk pembiakan generatif maupun vegetatif. Selain sebagai taman buah, TBM juga menyediakan aneka fasilitas wisata ruang terbuka (out-door tourism) yang tergolong lengkap, seperti danau, air terjun, out-bond, dan tentunya aneka macam restoran yang siap memanjakan lidah kita oleh aneka macam kuliner tanah air. Jangan kuatir bila anda tidak kuat atau tidak ingin jalan kaki mengelilingi kebun, karena di taman ini kita dapat menggunakan kereta khusus keluarga atau kereta umum keliling kebun dengan harga terjangkau.    Aneka macam hiburan dan festival digelar saat hari libur atau weekend. Seperti festival agro yang

Lestari Desaku

menampilkan aneka macam bunga dan buah-buahan tropis, Festival Boneka Barbie, Sunny Day Carnival, Coffee Attraction, Nanas Vaganza dan sebagainya.  

yang baik. Karenanya, PT MUS membagikan aneka macam bibit buah unggul, membantu pengadaan sarana produksi dan memberikan bantuan teknis.

Bukan hanya itu saja, pengelola TBM juga memiliki komitmen tinggi dalam pemberdayaan masyarakat. PT MUS memiliki program Corporate Social responsibility (CSR) untuk membangun kemitraan dengan petani buah-buahan. Syarat agar masyarakat petani buah-buahan berdaya berawal dari penggunaan bibit buah-buahan unggul dan pemeliharaan tanaman

Singkatnya TBM begitu inspiring dan mengesankan. Kita banyak bawa oleh-oleh dari sana, baik bibit buah-buahan unggul, maupun aneka macam pengetahuan, dari plasma nutfah buah-buahan, pembiakan vegetatif tanaman buah, sampai ke pemberdayaan masyarakat petani buah. Pokoknya lengkap deh !

Hendra Gunawan dan Edi Purwanto

Edisi 3, Oktober 2012

| 39


Kolom Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pelestarian Lingkungan (1)

Kurungan

B

erbicara pembangunan, hal yang terlalu sering terucap, namun jarang terwujud di keseharian adalah ketidakpaduan antar berbagai sektor pembangunan (ego-sektoral). Sejak awal orde-baru, fenomena ini telah terasa kental. Jargon KIS (Keterpaduan, Integrasi dan Sinkronisasi) muncul seiring dengan bangkitnya kesadaran terhadap fenomena ego-sektoral di awal 70-an. Kosa kata  koordinasi, integrated, sinergis, keterpaduan, satu pintu, link and match, comprehensive  telah menjadi semacam mantra berbagai program pembangunan. Sejak awal 70-an, kabinet pembangunan  telah mulai memiliki menteri koordinator yang jumlahnya terus bertambah seiring berjalannya waktu. Himbauan koordinasi telah menjadi standar pidato para petinggi.  Berbagai pertemuan dari workshop di hotel-hotel berbintang, hingga rapat yang banyak menyibukkan pejabat dari tingkat atas hingga kecamatan. Kemudian setiap dokumen program selalu mewajibkan adanya upaya pengkaitan dengan program yang telah lalu atau berbagai inisiatif yang sedang berjalan. Telah begitu banyak upaya dan kesibukan mengurus koordinasi dari dulu hingga kini. Lantas, rontokah tembok ego-sektoral? Tidak ! Fenomena ini justru terus menguat bak semen bercampur air.          Berbagai sektor pembangunan yang telah terjabar dalam berbagai program dan proyek, apabila diibaratkan dengan kendaraan yang sedang melaju, pengendara dan sebagian besar penumpangnya hanya sibuk menginjak gas mobil masing-masing. Mereka abai melihat spion, abai membuka jendela komunikasi dengan pengendara lain yang berjalan setujuan. Tidak cukup disitu. Kurang terbukanya  jendela komunikasi terjadi pula diantara penumpang dalam satu mobil yang sama. Bukan saja antar program yang kurang saling sapa, tetapi juga sering diantara sub-komponen dalam satu program. Bukan saja antar kementerian, tetapi juga sering diantara eselon satu (direktorat jendral) dalam satu kementerian, di antara direktorat dalam eselon satu yang sama, di antara  bagian dalam satu direktorat yang sama, diantara seksi dalam satu bagian yang sama dan seterusnya. Yang sesungguhnya terjadi, karena itu, bukan hanya ego-sektoral, tetapi juga

40 | Edisi 3, Oktober 2012

ego-direktorat jenderal, ego-direktorat, ego-bagian, ego-seksi, ego-program, ego-proyek dan seterusnya. Fenomena ini terjadi di semua lini dan jajaran dari Jakarta hingga ke pelosok desa !  Ungkapan Jawa menyatakan ’sakdumuk bathuk, sanyari bumi’. Manusia adalah petarung tangguh saat memperjuangkan harkat dan kepentingan pribadi, golongan dan kelompoknya. Mereka rela mempertaruhkan jiwa dan raganya, walau hanya menyangkut urusan yang sesempit dahi (sakdumuk bathuk) dan sejengkal tanah (sanyari bumi). Sebaliknya mereka sering justru abai dengan hajad hidup masyarakat luas, misal keberlangsungan fungsi sistem pendukung kehidupan, kesejahteraan masyarakat dan sebagainya, hanya karena hal tersebut berada diluar kepentingan ingroup-nya.  Berbagai program yang dibungkus berbagai warna dengan sasaran sama seharusnya bersinergi satu sama lain. Sayangnya hal tersebut sering tidak terjadi. Koordinasi dengan sektor atau kegiatan lain sering hanya di tataran wacana. Masing-masing asyik bekerja di sekatnya. Karena keterbukaan sekat sering dianggap sebagai penganggu privacy yang mengancam kepentingan sekatnya.                Kondisi sebagaimana tergambar di atas juga menerpa berbagai program pemberdayaan masyarakat yang difasilitasi berbagai kementerian dengan pelibatan konsultan dan organisasi masyarakat sipil (CSO). Mereka bekerja di wilayah yang sama, untuk tujuan yang sama, namun tidak saling menyapa. Mereka begitu asyik dengan kurungan masing-masing. Alhasil, berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh banyak pihak dengan aneka macam bendera bak festival  tetabuhan. Ada yang memukul genderang saja, ada yang menabuh gong saja, ada yang meniup suling atau menggesek biola saja. Masing-masing targetnya hanya mengaungkan bunyi sekeras-kerasnya. Tidak peduli apakah bunyi tersebut dinikmati atau justru memekakkan telinga masyarakat. Alangkah indahnya kalau berbagai tetabuan  itu berpadu menjadi sebuah orchestra gamelan. Alangkah besarnya manfaat yang ditimbulkan, apabila berbagai inisiatif tersebut  saling memperkuat. Bersambung.

Edi Purwanto

Lestari Desaku


Majalah LD 03 Edisi Okt 2012