Page 1


SALAM REDAKSI MENYONGSONG MILAD SUARA MUHAMMADIYAH

SAJIAN UTAMA Ada gejala kalau parpol Islam cenderung menikmati kemenangan atau kekalahannya sendiri dan lupa pada agenda pemberdayaan umat. Mengapa?

BINA AKHLAK Pemimpin itu Khâdim al-Ummah, siapa sekarang yang masih mempraktikannya?

TANYA JAWAB AGAMA Apa hukum pengalihan wakaf masjid

IBRAH Muhasabah ternyata tidak mudah, mengapa?

Assalamu’alaikum wr. wb. Pembaca yang terhormat, tahun depan, tahun 2012, majalah Suara Muhammadiyah ini genap berusia 97 tahun. Sebuah usia yang membuat majalah ini menjadi cukup matang, dewasa, dan memiliki peluang untuk lebih maju lagi. Tentu saja semangat untuk lebih meneguhkan dan mencerahkan akan dikobarkan lagi. Meneguhkan dalam arti memperkuat landasan dalam beragama kita, dalam mengamalkan ajaran agama kita, baik dalam hal ikut mengembangkan pemikiran Islam, agar agama Islam menjadi lebih mudah dipraktikkan dan mampu menjaga perilaku kita dari godaan duniawi serta menjauhkan kita semua dari kecenderungan akhlak yang tidak terpuji. Misalnya perilaku yang mengarah pada praktik kolusi, korupsi dan nepotisme. Semua itu akan kita bongkar dan kita habisi di struktur dan kultur majalah ini. Dengan peneguhan semacam itu, majalah ini menjadi lebih mudah untuk melakukan langkah-langkah pencerahan. Yaitu ikut memberikan alternatif solusi bagi aneka macam pemecahan masalah individual, masalah sosial, masalah kelembagaan dalam Persyarikatan, dalam masyarakat, bangsa dan negara. Kalau majalah ini terasa makin mengkritisi sesuatu, itu dimaksudkan agar kita mampu memiliki peluang untuk memperbaikinya di masa depan. Demikianlah, sampai jumpa pada edisi mendatang. Wassalamu’alaikum wr. wb. REDAKSI

4

SUARA MUHAMMADIYAH 23 / 96 | 5 - 19 MUHARRAM 1433 H

WAWASAN Mari belajar dari kepedulian sosial KH Ahmad Dahlan

MENU 04 TAJUK RENCANA 07 SAJIAN UTAMA 12 BINGKAI 16 TANYA JAWAB AGAMA 18 TAFSIR 20 HADITS 24 DIRASAH ISLAMIYAH 26 KOLOM 31 KHUTBAH 39 LAZIS 43 KALAM 44 HUMANIORA 46 SAKINAH 50 WAWASAN 56 SOHIFAH 59 DINAMIKA PERSYARIKATAN


TAJUK RENCANA

Muhammadiyah tidak meminta jabatan

P

ada sejumlah forum masih sering muncul pertanyaan atau pernyataan tentang orang Muhammadiyah sebagai Menteri di Kabinet Pemerintahan Indonesia Bersatu Kedua. Di sebuah forum publik, bahkan ada seorang pejabat yang bersimpati kepada Muhammadiyah bertanya secara terbuka dengan nada empati. Katanya, jika pada era-era sebelumnya Menteri Agama diberikan kepada kader Nahdhatul Ulama dan Menteri Pendidikan Nasional kepada kader Muhammadiyah, kenapa pada Kabinet yang sekarang kedua-duanya malah diberikan kepada orang Nahdhiyyin. Apa tidak ada kader Muhammadiyah yang layak untuk menjadi Mendiknas? Selorohnya. Sesungguhnya, Muhammadiyah dalam era Kabinet kapan pun tidak pernah meminta jabatan Menteri atau jabatan publik/politik apa pun. Kalau ada kader atau orang Muhammadiyah menjadi Menteri hal itu ada yang murni karena pilihan Presiden sendiri maupun apabila diminta Muhammadiyah memberikan nama. Jadi, manakala diminta maka sebagaimana lazimnya sebuah niat baik jika hal itu dipandang bermanfaat maka Muhammadiyah memberikan nama. Namun apabila tidak diminta maka tidak akan dan tidak pernah menyodor-nyodorkan nama. Muhammadiyah itu besar dan memiliki kehormatan untuk tidak meminta-minta jabatan kepada siapa pun dan atas alasan apa pun. Jadi jika pertanyaan dan pernyataan yang berkembang itu dijawab maka hal itu sepenuhnya merupakan pilihan Presiden sendiri. Muhammadiyah tidak pernah meminta jabatan, apabila diminta maka sebagaimana lazimnya memberikan nama. Maka sangatlah jelas posisi Muhammadiyah dalam hal ini. Prinsipnya jangan meminta jabatan atau sesuatu, apalagi dengan sikap merendahkan diri. Tetapi, jangan pula menolak manakala diminta dan hal itu baik, yang menunjukkan sikap congkak dan naif. Selalu berbuat yang terbaik, tetapi perlu koreksi diri dan tetap arif dalam menghadapi segala sesuatu. Jika persoalannya kenapa Presiden melakukan kebijakan seperti itu? Tentu Presiden sendiri yang tahu. Tetapi apapun alasannya, memang inilah catatan tersendiri dalam sejarah politik Indonesia terakhir, tentang pimpinan nasional yang kehilangan kepekaan dan sikap positif sebagaimana layaknya negarawan. Jika untuk hal sama memperhatikan representasi politik dan kemasyarakatan, tetapi untuk Muhammadiyah tidak berlaku, maka semuanya kembali pada posisi sikap dan pilihan Presiden. Presiden yang hanya mempertimbangkan satu hal tidak melupakan banyak hal yang bersifat kenegarawanan dan memperhatikan apa yang tersirat dari yang tersurat dalam memahami dinamika kebangsaan. Presiden pertama sepanjang sejarah politik Indonesia yang kehilangan sensitivitas dan mungkin kehilangan jiwa kenegarawanan dalam memahami denyut nadi kebangsaan. Bagi Muhammadiyah soal jabatan terlalu sederhana untuk diributkan dan dikeluhkan. Manakala kita mengangkatnya sebagai tulisan dalam tajuk ini, lebih sebagai tanggapan atas pertanyaan atau pernyataan yang kadang muncul di ruang publik Muhammadiyah. Selebihnya sebagai catatan kritis tentang bagaimana karakter kepemimpinan dalam konteks kenegarawanan sekaligus bagaimana pimpinan nasional memahami dinamika kebangsaan. Pimpinan nasional boleh merasa memiliki kuasa sekaligus memiliki ganjalan perasaan tertentu terhadap siapa pun yang tidak menyenangkan, tetapi tidak boleh kehilangan keseimbangan dan kearifan dalam memperlakukan kekuatan-kekuatan masyarakat lebih-lebih Muhammadiyah yang telah berjasa besar tanpa pamrih untuk bangsa ini, jauh sebelum negara tercinta ini lahir. Muhammadiyah sendiri tidak perlu merasa terganggu dan kesal hati, meski tidak perlu pula sombong dan apologi diri. Dalam perjalanan Muhammadiyah banyak yang tidak menyenangkan, selain yang menggembirakan. Perjalanan Muhammadiyah yang panjang dan sumbangsih yang tidak dihitung-hitung untuk bangsa ini terlampau kecil manakala dipertautkan pada jabatan tertentu. Kekuasaan manusia sehebat apa pun itu fana. Serahkan semuanya pada proses sejarah dalam genggaman hukum Tuhan. Sunatullah selalu berlaku, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (Qs. Al-Isra’: 7).l Hns PENASIHAT AHLI: H Din Syamsuddin, HM Amien Rais. PEMIMPIN UMUM: H Ahmad Syafii Maarif. WAKIL PEMIMPIN UMUM: HA Rosyad Sholeh. PEMIMPIN REDAKSI: H Haedar Nashir. WAKIL PEMIMPIN REDAKSI: HM Muchlas Abror. PEMIMPIN PERUSAHAAN: Didik Sujarwo. DEWAN REDAKSI: HA Munir Mulkhan, Sjafri Sairin, HM Sukriyanto AR, Yusuf A Hasan, Immawan Wahyudi, M Izzul Muslimin. REDAKSI PELAKSANA: Mustofa W Hasyim. STAF REDAKSI: Amru HM, Asep Purnama Bahtiar, Deni Al-Asy'ari, Ahmad Mu'arif. SEKRETARIS REDAKSI: Isngadi Marwah. TATA LETAK/ARTISTIK: Dwi Agus M., Amin Mubarok, Elly Djamila. PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN: Zuly Qodir. ARSIP & DOK: H Aulia Muhammad, A Nafian, EDITOR BAHASA: Imron Nasri, Ichwan Abror .

SM 24-2011 COVER: Joko Supriyanto

ALAMAT REDAKSI/TATAUSAHA: Jalan KH Ahmad Dahlan 43 Yogyakarta 55122 Telp. (0274) 376955 Fax. (0274)411306 SMS: 081904181912 E-mail: redaksism@gmail.com Web: www.suara-muhammadiyah.com Terbit 2 kali sebulan. Harga langganan/eceran 1 nomor Rp. 12.500,- +ongkos kirim untuk: - Sumatera dan Bali Rp.500,- Kalimantan dan Sulawesi Rp.1.500 ,- NTT, NTB, Maluku dan Indonesia Timur Rp.2.500,Berlangganan sekurang-kurangnya 3 bulan (6 nomor) bayar di muka. "SM" menerima sumbangan tulisan dari para pembaca. Panjang tulisan 3-7 hal A4, diketik dua spasi penulis harus mencantumkan alamat lengkap, no. telp., dan no. rekening. Semua naskah masuk menjadi milik Suara Muhammadiyah dan tidak akan dikembalikan.

WARTAWAN "SUARA MUHAMMADIYAH"

Melaksanakan Dakwah Islamiyah Amar Makruf Nahi Munkar. Dirintis KHA. Dahlan sejak tahun 1915 PENERBIT: Yayasan Badan Penerbit Pers "Suara Muhammadiyah" SIUPP: SK. Menpen RI No. 200/SK/Menpen/SIUPP/D.2/1986, tanggal 26 Juni 1986, Anggota SPS No. 1/1915/14/D/ 2002 // ISSN: 0215-7381

BANKERS: BNI Trikora Rek. No. 0030436020 BRI Katamso Rek. No. 0245.01.000264.30.7 BRI Cik Ditiro Rek. No. 0029.01.000537.30.6 Giro Pos Rek. No. 550 000200 1 Bank Niaga Syariah Rek. No. 520-01-00185-00-4 BPD Rek. No. 001.111.000798 BNI Syariah Rek. No. 009.2196765 Bank Muamalat Rek. No. 531.0000515 Shar-E Rek. 902 69924 99 an. Drs. H Mulyadi Dicetak: Cahaya Timur Offset Telp. (0274) 376730, 380372

TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARASUMBER


SAJIAN UTAMA

PARPOL ISLAM ABAIKAN PEMBERDAYAAN UMAT

M

elihat praktik politik para politisi Islam yang bergabung dalam partai politik Islam tampak makin menguatnya kecenderungan bahwa Parpol Islam itu sesungguhnya mengabaikan pemberdayaan umat. Para politisi parpol Islam sebagaimana politisi parpol sekuler, pasca pemilu dan pasca mereka mendapat kedudukan di parlemen atau di eksekutif sama-sama melupakan kepentingan konstituennya. Logika mereka, buat apa memikirkan kepentingan rakyat atau umat, sebab waktu mereka dulu memperoleh suara kan sudah dengan cara membeli suara itu? Buat apa memberdayakan umat atau rakyat karena para politisi sudah merasa impas, mereka sudah mengeluarkan modal untuk membeli suara itu. Dengan demikian kalau ketika mereka berkuasa di parlemen atau di eksekutif, adalah giliran mereka mengembalikan modal materi yang telah keluar saat pemilu. Jadi kalau sekarang pemberdayaan umat dan rakyat, kalau sekarang nasib rakyat atau umat diabaikan, bahkan cenderung diprekkan, itu adalah dampak logis dari buruknya demokrasi transaksional yang tengah dibangun di negeri ini lewat formalitas dari pemilu ke pemilu di era reformasi ini. Indikatornya sederhana. Ketika para politisi itu memproses Undang-undang maka yang dipikirkan adalah bukan kepentingan rakyat baik berupa keuntungan atau kerugian yang diderita rakyat jika undang-undang itu disahkan dan diberlakukan. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana mereka dapat mengeruk uang sebanyak mungkin dari sponsor pembuat undang-undang itu. Kaum neolib yang sekarang berkuasa di negeri inilah yang menjadi sponsor dan pengatur munculnya undang-undang yang ketika disahkan dan diterapkan sangat potensial merugikan umat dan rakyat. Setelah reformasi sangat banyak undang-undang di negeri kita ini sangat berbau neolib dan terbukti menggusur kedaulatan rakyat di negerinya sendiri. Termasuk kedaulatan pangan dan kedaulatan usaha milik rakyat dan umat yang seharusnya

6

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

dibela oleh para politisi itu. Indikator kedua, ketika rakyat Indonesia yang sebagian besar adalah pemeluk Islam (umat), yang bekerja sebagai petani, pedagang, pengusaha, pemilik warung kecil dihancurkan kekuatannya oleh kebijakan impor, kebijakan membiakkan mall, mart, pasar terlalu bebas, maka para politisi Islam itu bungkam saja. Tidak ada yang berani bersuara nyaring. Jangan-jangan mulut mereka telah ‘disumpal’ dengan lembaran uang atau lembaran saham oleh pemodal dan kaum neolib itu. Pelan-pelan rakyat dan umat pun termiskinkan, pelan-pelan tergerogoti kekuatannya sebagai pelaku ekonomi, dan mereka pun seperti didorong ke arah jalan buntu sejarah, yaitu diarahkan oleh kaum neolib yang berkuasa itu hanya menuju pada dua posisi yang mengenaskan, menjadi budak di negeri sendiri dan menjadi konsumen yang rakus tanpa memiliki daya juang untuk memproduksi barang dan jasa. Betul-betul posisi yang amat marjinal di negeri ini, posisi sebagai kaum terjajah secara ekonomi di negeri sendiri? Mereka ditelikung oleh para tokoh yang mereka pilih lewat pemilu demi pemilu. Dalam kondisi yang demikian, ormas Islam bersama kekuatan masyarakat sipil lain, seharusnya bangkit untuk membebaskan rakyat dan umat dari belenggu penjajahan ekonomi berbasis regulasi dan standardisasi yang dipaksakan oleh kekuatan besar global yang berkomplot kekuatan besar nasional. Kalau ormas Islam bersatu dan punya agenda satu, yaitu membebaskan kaumnya yang tertindas dan terpenjara oleh kepentingan asing itu, masih ada harapan negeri ini akan ditolong oleh Tuhan. Akan tetapi kalau ormas Islam, bersama kekuatan masyarakat sipil kemudian ikut memble dan membiarkan ketidakadilan di segala bidang berlangsung, maka yang menghadang di depan kita adalah kutukan Tuhan. Negeri ini bisa hancur berkeping tanpa ada yang menolong lagi. Ini yang harus dicegah ramai-ramai, kalau kita memang masih mencintai negeri ini.l Bahan dan tulisan: tof


SAJIAN UTAMA

PARPOL ISLAM BERPIHAK KEPADA SIAPA?

Anggota Dewan dari Parpol Islam kok korupsi? Parpol Islam kok menyetujui perda pelegalan miras? Menteri dari parpol Islam kok malah membuat kebijakan yang memecah belah persatuan dan ukhuwah umat Islam? Bupati dari parpol Islam kok malah melegalkan kemaksiatan. Partai Islam kok tidak protes pada kebijakan impor garam.

P

ernyataan yang bernada gugatan seperti di atas sangat banyak terdengar di masyarakat dengan berbagai macam versi dan materinya. Gugatan seperti ini pada dasarnya sangat wajar. Setelah terkungkung sangat lama semasa Orde Baru, aspirasi umat Islam kembali dapat disalurkan secara bebas ke partai politik apapun yang dikehendakinya. Partai politik yang sebanar-benarnya partai politik bukan partai politik yang dibentuk oleh Pemerintah untuk sekedar melengkapi tatanan agar dapat disebut sebagai negara demokrasi yang menggelar pemilu secara reguler. Semua partai politik era Orde Baru pada dasarnya dapat dikatakan sebagai parpol jadi-jadian, semua programnya harus dirancang sepersetujuan Pemerintah, siapa yang jadi ketua dan pengurusnya harus direstui penguasa negeri, bahkan siapa-siapa yang diusulkan untuk jadi calon anggota legislatif juga harus disaring kembali oleh Pemerintah. Pada masa itu partai politik peserta pemilu dibatasi hanya tiga partai, dan sebelum pemilu digelar pemenangnya juga sudah diketahui, yaitu

partai penguasa. Dua partai lain selain partai penguasa memang dipertahankan untuk tetap ada, namun tidak boleh membesar. Demi stabilitas politik, partai penguasa harus terus menjadi pemenang mutlak, menjadi mayoritas tunggal di semua lini kekuasaan. Namun, ketika rezim Orde Baru berganti dan partai-partai yang bukan dibentuk oleh Pemerintah itu mulai ikut meramaikan jagad politik di negeri ini, umat Islam kembali harus menelan kekecewaan yang berkelanjutan. Era multi partai dan menjamurnya partai Islam ternyata masih menjauhkan harapan umat yang mendambakan tatanan Pemerintah yang lebih baik dan lebih islami di negeri ini. Partai politik yang secara terang-terangan menyatakan diri sebagai partai Islam maupun partai yang dianggap dekat dengan umat Islam dan yang lahir dari keluarga besar ormas Islam, yang mengklaim membawa aspirasi umat Islam ternyata masih jauh dari harapan umat. Semua partai politik yang ada, termasuk partai politik Islam ternyata malah sibuk

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

7


SAJIAN UTAMA dengan permasalahan yang ada di dalam mereka sendiri. Beberapa parpol Islam malah sibuk berkonflik antarpengurusnya karena berebut jabatan basah. Ada pula partai Islam yang menjadi anak manis Pemerintah demi kursi menteri yang telah didapatnya. Aspirasi dan harapan umat Islam yang dahulu dijanjikan saat kampanye akan dibawa dan diperjuangkan lewat saluran yang semestinya, dilupakan semuanya. Menyimak berbagai prestasi yang telah diraih oleh partai Islam yang sekarang masih bertahan di negeri ini, KH Hasyim Muzadi menyatakan, kalau tidak lama lagi umat Islam akan segera meninggalkan partai-partai Islam yang ada. Umat Islam lama-lama akan tercerahkan dan akan melihat kenyataan yang sengaja digelapkan oleh elit partai Islam yang ada. Partai Islam yang ada sekarang ini ternyata tidak berbeda dengan parpol lain, yaitu korup dan tidak jujur. Kalau umat Islam tidak melihat manfaat yang positif dari parpol Islam untuk apa lagi umat Islam mendukung partai itu, selain hanya akan menambah kekecewaan? Kalau kita jujur melihat program yang ditawarkan semua partai Islam yang ada di senayan maupun yang dipercaya mengelola suatu kementrian, seluruh kerja yang dijalankan itu nyaris tidak ada bedanya dengan partai lain. Itu pun juga dengan prestasi yang sangat mengecewakan. Sampai hari ini kita tidak pernah mendengar suara resmi partai Islam apa pun terkait dengah isu kentang impor, garam impor, peminggiran pedagang kecil oleh jaringah toko modern dan kebijakan-kebijakan anti wong cilik dan anti orang miskin yang mayoritas adalah umat Islam. Berdasarkan survei investigatif yang baru saja dirilis KPK yang menempatkan tiga kementrian sebagai lembaga paling korup di Indonesia adalah tiga kementerian yang dipimpin kader parpol. Ironisnya rangking satu dan duanya justru dipegang oleh Kementerian Agama yang menterinya adalah ketua umum partai politik yang secara resmi menyatakan diri sebagai partai Islam. Rangking duanya diduduki oleh Kementrerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, yang menterinya juga ketua umum dari suatu partai yang dianggap dan 8

mengaku sebagai saluran politik resmi dari keluarga besar ormas Islam tertentu. Menurut Sekretaris Perkumpulan Sumbu Demokrasi Untuk Rakyat, Budi Asyhari, MA, apa yang dilakukan oleh hampir semua partai politik Islam yang ada saat ini hanyalah mampu memainkan politik gincu Islam saja. Parpol Islam itu berpurapura dianggap sebagai parpol yang berpihak pada kepentingan umat Islam dengan membuat kebijakan-kebijakan populer, namun miskin inovasi. Semisal membuat perda makan pakai tangan kanan, perda masuk toilet pakai dengan mendahulukan kaki kiri, perda kawasan wajib jilbab dan semacam dengan itu. Perda semisal itu memang baik, namun akan lebih baik lagi kalau parpol-parpol Islam juga pro aktif membuat kebijkan yang mampu melindungi kepentingan ekonomi rakyat bawah, yang mayoritasnya beragama Islam.

Melihat semua tingkah polah partai politik Islam tersebut, umat Islam akan segera tahu bahwa keberpihakan parpol Islam sekarang ini bukanlah pada umat Islam, tetapi kepada diri mereka sendiri. Mereka akan membela kepentingan umat Islam selama pembelaan itu tidak mengusik kepentingan mereka sendiri. Mereka akan membela kepentingan umat Islam dengan catatan pembelaan itu bisa menaikkan citra mereka. Sementara itu pengamat politik, Arbi Sanit menyatakan, kalau prospek partai Islam ke depan memang agak buram. Ini disebabkan prestasi mereka sendiri. Partai Islam yang sekarang ada gagal membedakan dirinya

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

dengan parpol lain. Parpol yang berkampanye anti pornografi lewat kadernya yang jadi menteri komunikasi dan informasi, kader lainnya yang jadi anggota dewan malah ketangkap basah sedang membuka situs porno saat sidang paripurna di gedung DPR. Sedangkan kader parpol Islam di semua partai Islam yang ada juga mulai antri diperiksa dan bahkan dipenjarakan oleh KPK, sama saja dengan parpol lain. Sedangkan peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi juga menyatakan kalau parpol Islam memang harus membuktikan dirinya berpihak pada kepentingan umat Islam, namun caranya tidak lagi hanya berkonsentrasi pada urusan keagamaan dan berkutat pada isu-isu ke-Islaman secara langsung. Tetapi juga harus mulai merambah pada isu lain yang secara tidak langsung juga bersinggunga dengan kepentingan umat Islam semisal masalah ekonomi. Pemilih Muslim di Indonesia, menurutnya, semakin rasional melihat isu yang diangkat oleh partai politik. Partai Islam harus mengeksplorasi dan menawarkan program-program untuk kesejahteraan rakyat yang lebih terukur. Menurut Burhanudin Muhtadi, Parpol Islam, tidak lagi bisa mengandalkan retorika yang menguatkan sentimen keagamaan saja. Sementara itu partai-partai Islam selama ini terlanjur dicitrakan kalah dalam mengusung program untuk kepentingan rakyat. Senada dengan Burhanuddin Muhtadi, Prof Azyumardi Azra juga mengingatkan kalau Partai Islam tidak akan mendapat pendukung yang besar, jika tetap menjual syariat Islam saja. Partai Islam harus lebih membuktikan diri bermanfaat dan berpihak pada kepentingan umat Islam. Tentang keberpihakan parpol Islam ini juga dikemukakan oleh dosen Fakultas Dakwah UI Sunan Kalijaga Drs Hamdan Daulay, MSi, MA, Seandainya partai Islam benarbenar memihak rakyat, mereka harus mempunyai komitmen yang kuat untuk memihak rakyat lewat wewenang yang mereka miliki. Parpol Islam tidak seharusnya mendukung kebijakan yang merugikan rakyat. Sekarang kita lihat saja, benarkah parpol Islam yang sekarang ada ini benar-benar mau berpihak pada kepentingan umat Islam atau malah sibuk mementingkan kepentingan kelompoknya sendiri?l isma


SAJIAN UTAMA

PARPOL ISLAM MANDUL, SAATNYA ORMAS BERPERAN Dalam sebuah kesempatan, salah seorang bapak yang berprofesi sebagai guru bertanya kepada sahabatnya, yang kebetulan partisipan dari salah satu parpol Islam. “Kenapa partai Islam sering inkonsisten dan cenderung ikut arus politik, di mana kepentingan politik bergerak, seakan-akan parpol Islam begitu mudah gampang terbawa arus, tanpa memerhatikan aspirasi umat/ konstituennya,” tanya si bapak yang berprofesi sebagai guru ini kepada sahabatnya. Dengan sedikit kebingungan, sahabatnya, hanya bisa menjawab, “Karena ini politik,” tuturnya.

P

ercakapan singkat seperti di atas, bukan hal yang baru dan pertama didengar. Banyak umat belakangan ini justru bingung dengan posisi dan tujuan dari partai politik Islam. Sebab dalam prinsip, aturan tertulis bahkan dalam kampanye-kempanye yang dilakukan oleh para politisi parpol Islam, begitu indah, sebagaimana pesan-pesan ajaran Islam dalam bermuamalah. Akan tetapi, fakta-fakta di lapangan, terutama sekali setiap selesainya even pemilihan, baik tingkat daerah maupun nasional, perilaku para politisi parpol Islam, sulit dibedakan dengan parpol yang tidak berlabelkan Islam, bahkan tidak sedikit pula, perilaku parpol Islam ini, di bawah kualitas parpol-parpol sekuler lainnya. Atas pandangan ini, KH Hasyim Muzadi, mengingatkan, agar anggapan tentang klaim parpol Islam sebagai representasi umat Islam perlu ditinggalkan. Alasannya, tak mungkin ada parpol yang bisa benar-benar mewakili Islam. “Apalagi, kenyataannya, banyak politisi nakal yang sulit dikendalikan oleh parpol,” katanya di berbagai kesempatan. Inilah mengapa Hasyim Muzadi mengaku

tak merasa heran bahwa nasib parpol Islam tak pernah berubah sejak zaman demokrasi liberal di era 1950-an. Kenyataan pahit ini bisa terjadi, menurutnya, karena demikian banyak parpol Islam yang menggunakan agama sekadar sebagai alat politik. “Setelah berkuasa, mereka lupa diri,” ujarnya. Bahkan sebagaimana yang sering dipertontonkan melalui media massa, tidak sedikit para politisi dari parpol Islam ini yang bertikai antarsesama aktivis parpol lantaran berebut kue kekuasaan atau kepentingan yang bersifat pragmatis. Inilah kemudian, yang membuat parpol Islam terpecah belah ke dalam banyak parpol dan kaderisasinya macet. Kenyataan ini tentunya sangat bertolak belakang dengan sebuah Hadits yang menyebutkan bahwa semua orang Islam itu bersaudara. Akan tetapi yang terjadi, pertikaian di antara elit politik Islam yang tampak makin parah, yang ditandai dengan adegan saling pecat dan laporan ke polisi. Maka tidak heran, jika gagasan koalisi strategis parpol Islam sebagaimana yang pernah diwacanakan oleh Ketua SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

9


SAJIAN UTAMA Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof DR HM Din Syamsuddin menjelang pemilu 2009 yang lalu, guna menyatukan kekuatan parpol Islam sulit diwujudkan, karena ditanggapi dingin oleh para politisi parpol Islam. Sulitnya penyatuan parpol Islam ini menurut R Siti Zuhro, Peneliti Utama LIPI memang bukan hal yang baru. Menurutnya, sejak dulu dalam sejarah penyatuan ini sulit dilakukan. “Dalam sejarahnya, parpol dan tokoh politik Islam sulit untuk bersatu. Pada tahun 1952, misalnya, NU keluar dari Masyumi dan membentuk parpol sendiri. Pada masa Soekarno, NU lebih memilih berkoalisi dengan Pemerintah ketimbang dengan Masyumi. Begitu pula fusi parpol-parpol Islam ke PPP pada masa Orde Baru hingga

kini belum sepenuhnya tuntas. Konflik internal antara unsur Parmusi dan NU terus terjadi. Elit-elit Parmusi (seperti Bachtiar Chamsyah) dalam PPP dituding sebagai biang kerok penyebab anjloknya suara PPP pada Pemilu 2009,” ungkapnya. Alih-alih untuk bersatu, justru parpol Islam semakin menunjukkan pragmatisme yang luar biasa, ketimbang gagasan dan aksi idealisme untuk kepentingan umat. Islam dan kepentingan umat cenderung hanya menjadi label dan merek untuk momentum tertentu dan sesaat. Pasca semua kepentingan parpol Islam tewujud, label Islam maupun kepentingan umat kurang mendapat perhatian yang kongkret. Akhirnya, jika banyak umat menilai, tidak ada bedanya parpol berlabelkan Islam atau tidak berlabelkan Islam. Karena jika masing-masing politisi dari parpol Islam sudah memperoleh jabatan, justru yang cenderung terjadi sikap pragmatisme yang amat luar biasa. Seperti laporan beberapa media nasional baru-baru ini yang merilis hasil survei KPK tentang indeks integritas 22 10

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

instansi pusat menyebutkan, bahwa Kementerian Agama adalah lembaga yang paling rendah integritasnya karena besarnya perilaku korupsi. Di bawah lembaga Kementerian Agama, adalah Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Padahal dua lembaga kementerian ini dipimpin oleh ketua partai yang berlabelkan dan berbasis Islam, dan bahkan berasal dari ormas Islam yang sama. Tentu saja, tidak hanya itu, masih banyak perilaku yang sulit dinalar oleh akal sehat dari praktik politik yang dilakukan oleh berbagai parpol Islam lainnya yang kini menduduki jabatan. Semua ini, membuktikan jika kehadiran parpol Islam, ternyata tidak semuanya benar untuk memberikan solusi bagi kepentingan dan aspirasi umat, justru sebaliknya, cenderung merusak citra dan nilai Islam yang menolak segala macam bentuk dari perilaku tercela tersebut. Maka sangat wajar jika KH Hasyim Muzadi, menyarankan agar parpol Islam tidak usah mudah mengklaim jika keberadaannya mewakili aspirasi dan kepentingan umat. Berharap Pada Ormas Potret yang sangat memprihatinkan dari sebagian para politisi Islam ini, sudah seharusnya menjadi cambuk bagi ormas Islam, untuk meningkatkan kualitas perannya dalam memberdayakan umat. Sebab menurut Dwi Kuswantoro, Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah, sekarang ini tumpuan terbesar umat itu pada gerakan sipil (ormas). “Memang gerakan sipil seperti ini tidak sekuat Pemerintah. Sebab ormas-ormas kita tidak memiliki dana besar seperti Pemerintah sehingga ada keterbatasan. Akan tetapi harus diakui, untuk saat ini yang bisa dipegang moralitasnya hanya tinggal pada gerakan-gerakan sipil seperti ormas Islam. Melalui gerakan sipil ini, diharapkan bisa menjadi tumpuan bagi masyarakat kecil supaya mereka memiliki kemudahan-kemudahan dalam memberdayakan dirinya,” katanya kepada SM. Lebih lanjut ia mengatakan, ke depan, Bagaimana Muhammadiyah lebih konsen kepada pelayanan terhadap masyarakat bawah. Tentunya, hal ini menjadi salah satu PR bagi Muhammadiyah. Bagaimana caranya Muhammadiyah bisa lebih berperan pada masyarakat. Untuk masuk pada wilayah sana, ormas Islam seperti Muhammadiyah harus konsen dalam optimalisasi memberdayakan umat. “Bagaimana ormas melakukan fungsi-fungsi in powering lebih serius, terukur dan kontinyu. Gerakan Dakwah Jamaah itu menjadi sangat penting, bagaimana menggerakkan pada akar bawah tapi juga menggerakkan kelas menengahnya supaya bisa bergerak bersamasama,” tambahnya.l d


SAJIAN UTAMA KURANG MELINDUNGI SEKTOR RIIL Jadin. C Jamaluddin, Desainer Fashion dan Pelaku Usaha Tekstil Tradisionil i atas kertas secara nasional perkembangan ekonomi makro kelihatan baik-baik saja. Akan tetapi kalau didalami anatominya sungguh banyak yang mengkhawatirkan di negeri ini. Sebab yang lebih banyak dikembangkan di negeri ini adalah sektor yang tidak riil. Yaitu sektor finansial yang rawan oleh terjangan goncangan ekonomi global. Itu pun secara hakikat sekarang ini sektor tidak riil itu banyak dikuasai oleh pihak asing. Jadi kalau sektor tidak riil ini lebih banyak membukukan keuntungan maka keuntungan itu pun mengalir ke luar negeri, tidak menetes ke rakyat kita sendiri. Dalam kaitan ini, sektor riil sering menjadi bumper kebijakan ekonomi Pemerintah. Sebab semua prosesprosesnya dihadang oleh pajak, mulai dari perijinan, pengadaan bahan baku, bahan tambahan, mesin, prsoes produksi, pegawai, kemasan, sampai distribusinya di pasar dan keuntungan perusahaan sebagai lembaga. Belum lagi ditambah degan biaya siluman. Ini menyebabkan usaha di sektor riil berbiaya tinggi dan ketika dimasukkan ke pasar harus berhadapan atau bertempur sendirian tanpa perlindungan melawan barang-barang impor yang harganya sangat murah. Dengan kebijakan berbau neolib yang serba impor ini maka pengusaha yang bergerak di sektor riil merasa kurang dilindungi oleh pemerintah. Payahnya lagi, partai politik, termasuk partai Islam yang punya wakil di parlemen juga membiarkan semua ini. Partai politik, termasuk partai Islam membiarkan kami dihajar oleh pasar bebas ala neolib sampai banyak yang usahanya rontok. Ini yang menyebabkan saya sendiri kecewa dengan kinerja semua partai politik itu. Aspirasi kami telah mereka khianati.l tof

D

BELUM PERNAH ADA YANG MEMBELA KAMI Lutfi, Pedagang Penyedia alat-alat ibadah dan peralatan ibadah haji Pasar Beringharjo Yogya erus terang saja, selama saya berkecimpung menjadi pedagang penyedia peralatan ibadah dan peralatan ibadah haji selama ini belum pernah didatangi oleh sebuah ormas dan parpol Islam untuk diadvokasi atau dibela nasib saya sebagai pedagang untuk mendapatkan kemudahan sarana dan

T

uluran tangan bantuan. Sejauh ini saya membuka kios di lantai bawah (utara pasar Beringharjo) bekerja keras sendiri untuk mengembangkan usaha yang saya rintis bersama istri. Kendati baru mempunyai seorang anak, tetapi kami tahu masa depan kami harus saya perjuangkan sendiri agar lebih berkembang dan laku jualannya. Soal jargon-jargon ormas dan parpol Islam yang ingin membantu masyarakat kecil, pedagang kecil, dan para pelaku ekonomi hanyalah saya dengar lewat sebuah spanduk, iklan di tv, atau janji-janji lewat kampanye. Selebihnya belum saya lihat kenyataannya di dunia nyata, dan realitas kehidupan ini. Alangkah baiknya, ormas dan parpol Islam membuktikan mampu membantu daya hidup masyarakat kecil terutama para pedagang untuk berkembang dan mengembangkan usahanya. Janganlah nasib para pedagang kecil menjadi alat kampanye dan perjuangan politik ormas Islam dan parpol Islam. Buktikan dulu realitas dan jangan memperalat untuk tujuan politis saja.l am

TOLONG IMPOR HASIL PERTANIAN DIKURANGI Heru Kisworo, Ketua Kelompok Tani Dusun Karang Nongko Desa Dadirejo Kec Bagelen, Purworejo. ndonesia adalah negara agraris, tanahnya subur, makmur airnya melimpah, dan cocok untuk menanam berbagai macam tanaman. Maka tak heran jika masyarakat di negeri ini sebagian besar bekerja sebagai petani. Ironisnya negeri ini masih saja mengimpor hasil panen dari luar negeri seperti beras dan sayur. Hal ini tentu membuat petani lokal menjerit, karena impor hasil petanian memukul petani lokal. Sebenarnya kualitas produk lokal sendiri hampir sama dengan produk impor.� Untuk para petani di sini masih mengelompok-mengelompok contoh di daerah tertentu menghasilkan padi, di daerah lain menghasilkan semangka, melon, cabe tapi harapannya sesama petani lokal sendiri bisa saling melengkapi dan kebutuhan sesama petani bisa terpenuhi. Sekarang pemasaran untuk palawija, semangka, melon sudah bisa sampai Jakarta. Saya berharap pada Pemerintah agar lebih memperhatikan nasib petani lokal sehingga bisa meningkatkan taraf hidupnya dengan mengurangi impor hasil tani dari luar negeri. Sekiranya hasil panen dari petani lokal masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat, Pemerintah tidak perlu mengimpor hasil panen dari luar negeri secara besar-besaran.l irm

I

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

11


BINGKAI

PANDANGAN MUHAMMADIYAH TENTANG KEMAJEMUKAN DR H HAEDAR NASHIR, MSI

Di kalangan Muhammadiyah masih muncul salah pandang tentang kemajemukan bangsa, khususnya kemajemukan agama. Isu tentang pluralisme agama yang diperdebatkan antara dua kutub ekstrem, yakni antara pandangan kaum tekstualradikal dan kontekstual-liberal tampaknya mewarnai sebagian pandangan warga khususnya Pimpinan Muhammadiyah. Ada yang serba reaktif anti-pluralisme apa pun tanpa pemahaman yang lengkap, ada pula yang menerima begitu saja seolah tanpa masalah. Boleh jadi Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Liberalisme, Sekularisme, dan Pluralisme ikut memengaruhi salah satu pandangan ekstrem itu, dari yang semata-mata pro maupun kontra.

M

uktamar Muhammadiyah ke-46 tahun 2010 di Yogyakarta telah memutuskan keputusan sekaligus pandangan tentang isu-isu strategis, termasuk tentang Kemajemukan Agama, yang telah dimuat baik dalam Tanfidz maupun Majalah Suara Muhammadiyah. Sebenarnya semuanya telah begitu terang benderang bagaimana pandangan Muhammadiyah tentang “Kemajemukan Agama�, sehingga jika dijadikan rujukan, maka tidak akan menimbulkan kekhawatiran dan salah paham. Tulisan ini mencoba mengangkat kembali masalah tersebut, selain untuk lebih dapat dipahami baik substansi maupun konteksnya dalam kehidupan secara keseluruhan. Kondisi Kemajemukan Manusia atau masyarakat di muka bumi ini sesungguhnya majemuk, baik dari kebangsaan, etnik, ras, dan agama. Meskipun semuanya keturunan Adam (Bani Adam), keragaman atau kemajemukan umat manusia dipermaklumkan Tuhan sebagai gejala berbangsa-bangsa dan bergolongan, semuanya untuk saling mengenal (Qs. Al-Hujarat: 13). Kendati Allah SwT jika mau dapat menyatukan umat manusia itu, tetapi membiarkannya hidup dalam kemajemukan. Demikian pula bangsa Indonesia. Bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang majemuk (plural, bhineka), yang terdiri atas keragaman agama, suku bangsa atau etnik, ras, golongan, dan sebagainya. Masyarakat majemuk pada dasarnya terdiri atas elemenelemen sosial yang heterogen dan tidak merupakan satu kesatuan politik. Antarelemen bersifat non-komplementer, artinya sulit dipersatukan satu sama lain. Sehingga sering mengalami kesulitan adanya harmoni (konsensus, integrasi) dan relatif mudah terjadi konflik satu sama lain. Karena itu, ketika masyarakat majemuk itu 12

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

dapat menyatukan diri dalam kebangsaan, maka hal itu merupakan modal utama yang sangat positif baik dalam kehidupan kemasyarakatan maupun kebangsaan. Namun dalam kemajemukan selalu ada masalah. Problem yang sering terjadi dalam masyarakat Indonesia ialah konflik yang dilatarbelakangi oleh sentimen-sentimen agama, ras, suku bangsa, kedaerahan, golongan, dan hal-hal yang bersifat primordialisme lainnya. Latar belakang sosiologis teresebut, saling bersenyawa atau bertemu dengan kepentingan-kepentingan kondisional, sehingga bersifat cross-cuting of interest, yakni saling silang kepentingan antara berbagai faktor. Kadang karena perkembangan psikososial masyarakat yang belum mengalami pendewasaan di satu pihak dan faktor-faktor pemicu yang keras di pihak lain, tidak jarang dalam kehidupan masyarakat yang majemuk timbul konflik dari yang sederhana seperti sentimen dan ketegangan sampai bentrokan fisik seperti terjadi di Ambon, Poso, Aceh, Papua, dan sebagainya. Di sinilah, pentingnya membangun pandangan-pandangan baru yang lebih konstruktif dalam mencegah konflik dan mengembangkan perdamaian di tengah kemajemukan bangsa. Mengembangkan perdamaian dan toleransi dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk orientasinya tidak berhenti pada ikhtiar menghilangkan atau meminimalisasikan berbagai bentuk kekerasan, konflik, dan saling menegasikan satu sama lain. Tetapi, pada saat yang sama bagaimana mengembangkan perilaku dan budaya harmoni, interaksi sosial, dan kerjasama di tengah kemajemukan atau keragaman. Bersamaan dengan itu penting untuk dikembangkan pendewasaan perilaku sosial dan kematangan budaya masyarakat dalam memecahkan berbagai persoalan krusial yang dihadapi bersama, sekaligus dalam


BINGKAI

mengembangkan jati diri sebagai bangsa yang berperadaban utama. Pandangan Muhammadiyah Muhammadiyah mengakui adanya kebhinekaan masyarakat Indonesia, termasuk kemajemukan dalam beragama. Pada saatsaat paling kritis dan krusial, yakni pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, melalui Ketua PB Muhammadiyah saat itu, yakni Ki Bagus Hadikusuma, Muhammadiyah dan segenap wakil umat Islam bersedia berkorban untuk keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dengan merelakan tujuh kata dalam Piagam Jakarta (paragraf “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”) dan berkonsensus menyepakati Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila serta Pembukaan UUD 1945. Peran Ki Bagus Hadikusuma dan Mr Kasman Singodimedjo dalam momentum yang krusial dan sangat penting itu sangatlah menentukan. Karena itu, Muhammadiyah sejak awal kemerdekaan sampai saat ini dan ke depan berkomitmen kuat akan keutuhan NKRI yang hidup dalam Bhineka Tunggal Ika. Muhammadiyah juga mengakui pluralitas keberagamaan sebagaimana tercermin dalam. Keputusan Muktamar ke-46 di Yogyakarta tentang isu-isu strategis mengenai “Kemajemukan Agama”. Dinyatakan bahwa “Kemajemukan agama adalah realitas obyektif dalam kehidupan sosial-keagamaan sebagai Sunnatullah. Penolakan terhadap kemajemukan agama berdampak sikap yang tidak toleran, menafikan eksistensi pihak lain sehingga menimbulkan perpecahan di kalangan umat dan masyarakat. Muhammadiyah menerima pluralitas agama tetapi menolak pluralisme yang mengarah pada sinkretisme, sintesisme, dan relatifisme. Karena itu, umat Islam diajak untuk memahami kemajemukan agama dan keberagamaan dengan mengembangkan tradisi toleransi dan koeksistensi (hidup berdampingan secara damai) dengan tetap meyakini kebenaran agamanya masing-masing. Setiap individu bangsa hendaknya menghindari segala bentuk pemaksaan kehendak, ancaman dan penyiaran agama yang menimbulkan konflik antar

pemeluk agama. Pemerintah diharapkan memelihara dan meningkatkan kehidupan beragama yang sehat untuk memperkuat kemajemukan dan persatuan bangsa”. Sementara itu dikemukakan pula pandangan tentang “Dialog Antar Agama dan Peradaban”, yang berisi pernyataan sebagai berikut: “Tidak dapat dipungkiri, kekerasan bernuansa agama yang terjadi di berbagai kawasan dunia telah menimbulkan sentimen dan rasa tidak suka di antara pemeluk agama, khususnya pemeluk agama besar dunia: Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu. Globalisasi yang ditandai oleh kemajuan teknologi informasi yang menghilangkan batas-batas geografis antar negara membuat ‘benturan’ antarbudaya dan peradaban tidak terhindarkan. Fundamentalisme agama dan kebudayaan berkembang di hampir semua agama dan kebudayaan. Pada sisi lainnya, dialog dan kerjasama antariman (interfaith) dan antarperadaban (intercivilization) berkembang dengan baik sebagai jawaban dan usaha positif memecahkan berbagai masalah keagamaan dan kebudayaan. Muhammadiyah sangat mendukung dan berperan serta dalam prakarsa dan kegiatan dialog yang terbuka, tulus dan bersahabat. Muhammadiyah menghimbau agar dialog yang sudah diselenggarakan oleh negara dan masyarakat dapat ditingkatkan ke arah kerjasama kemanusiaan yang konkret untuk menciptakan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan bersama (common good) tidak terbatas pada elit pemimpin agama, tetapi juga masyarakat akar rumput”. Dengan pandangan yang jelas tersebut diharapkan anggota Muhammadiyah, khususnya kader dan pimpinan, dapat memahami dan meletakkan pluralisme kebangsaan termasuk pluralisme keagamaan dalam posisi yang wajar dan moderat, dengan melihat kaitannya secara menyeluruh dalam kehidupan berbangsa dan relasi-relasi kemanusiaan di mana siapa pun di bumi ini tidaklah hidup ekslusif dan sendirian. Muhammadiyah menjadi kekuatan Islam yang tetap berpegang pada prinsip-prinsip Islam yang diyakini dan dipahaminya, sekaligus menampilkan agama yang paripurna ini sebagai rahmahatan lil-’alamin bagi semesta kehidupan.l SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

13


TANYA JAWAB AGAMA

APAKAH MENGALIHFUNGSIKAN MASJID DAPAT MEMUTUSKAN PAHALA ORANG YANG MEMBERI WAKAF ? Pertanyaan: Assalamu ‘alaikum wr. wb. Di Cabang Muhammadiyah tempat saya tinggal, 20 tahun yang lalu diberi hibah sebuah masjid berukuran 10x10 m dari Arab Saudi melalui PP Muhammadiyah. Kini bangunan tersebut sudah rusak dan atapnya bocor bila hujan tiba, dan ketika pelaksanaan shalat Jum’at, jamaahnya pun tidak tertampung lagi. Lalu pengurus masjid bermusyawarah untuk merenovasi masjid tersebut. Tetapi setelah dikalkulasi biaya untuk renovasi dan pelebaran masjid, ternyata biayanya hampir sama dengan membangun masjid yang baru. Maka, dalam musyawarah tersebut diputuskan untuk membangun sebuah masjid baru di sebelahnya dengan pertimbangan sambil membangun dengan cara bertahap masjid yang dihibah masih dapat digunakan. Hal ini ada yang kontra dengan alasan akan memutuskan pahala bagi yang menghibahkan masjid tersebut. Apabila nanti kalau masjid yang baru dibangun sudah selesai dan terus dipergunakan untuk kegiatan ibadah, otomatis masjid yang lama ditinggalkan. Pertanyaan saya: 1. Bolehkah masjid hibah tersebut dialih fungsikan? Seperti dipergunakan untuk balai pengobatan/klinik, Taman Pendidikan Al-Qur’an, kantor, maupun perpustakaan Islam? 2. Masihkah mengalir pahala bagi yang menghibahkan masjid tersebut andaikata masjid tersebut dialihfungsikan? Mohon jawaban dan penjelasannya disertai dasar hukumnya agar bisa mendinginkan jamaah yang kontra. Atas dimuatnya di Suara Muhammadiyah pada rubrik Tanya Jawab Agama, diucapkan banyak terima kasih. Nasrun minallah wa

fathun qarib. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. Tuparman Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Makarti Jaya, Banyu Asin, Sumatera Selatan Jawaban: Sebelumnya kami haturkan terima kasih atas pertanyaan yang Bapak sampaikan kepada Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Berikut ini kami sampaikan jawaban dari dua pertanyaan yang bapak sampaikan kepada kami, sesuai dengan urutan pertanyaannya: A. Hukum mengalihfungsikan masjid hibah: Salah satu persoalan yang harus diperhatikan dalam setiap melakukan transaksi mu’amalah adalah persoalan ‘aqad (transaksi) antara kedua belah pihak, untuk mengetahui bentuk dan tujuan dilakukannya transaksi tersebut. Hal ini penting untuk diperhatikan sehingga salah satu pihak tidak mengingkari dan menyalahi kesepakatan yang telah dibangun sejak awal. Setelah memerhatikan substansi pertanyaan Bapak, maka menurut hemat kami bahwa transaksi yang dilakukan antara pemerintah Arab Saudi (yang diwakili oleh PP Muhammadiyah) termasuk wakaf, sekalipun dalam istilah hibah. Hal semacam ini disebut isti’arah (menggunakan istilah hibah padahal yang dimaksud adalah wakaf). Indikasinya adalah, jika transaksi tersebut merupakan hibah (pemberian cumacuma), maka hibah umumnya diberikan kepada perseorangan dan dalam wujud sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh seseorang secara individu (termasuk keluarga). Namun dalam hal ini sesuatu yang diberikan tersebut berwujud masjid yang merupakan fasilitas umum dan diberikan

kepada jamaah (sekelompok orang) dalam hal ini adalah warga Muhammadiyah. Penggunaan bahasa isti’arah semacam ini sering digunakan dalam berbagai hal. Dalam kontek kehidupan sosial dan bernegara, kita sering mendengar ungkapan “Indonesia mendapatkan bantuan dari negara A”, padahal maksudnya adalah bantuan pinjaman (hutang) sebab adanya kewajiban (perjanjian) untuk mengembalikannya. Oleh sebab itu, jalan yang paling tepat (selamat) adalah memposisikan pemberian tersebut sebagai wakaf. Wakaf merupakan pemberian dari seseorang atau lembaga tertentu (al-wâqif) kepada pihak lain (al-mauqûf ‘alaih) dengan maksud dan tujuan tertentu. Jika hal ini dilakukan, maka telah terjadi proses perubahan kepemilikan (taghayyur al-milkiyah) dari pihak pemberi wakaf (al-wâkif) kepada pihak penerima wakaf (al-mauqûf ‘alaih), sehingga pihak penerima memiliki hak untuk menggunakan benda (al-mauqûf bih) sesuai dengan tujuan dan kesepakatan pada saat aqad. Pada prinsipnya, jika benda yang diwakafkan tersebut telah ditentukan bentuk pemanfaatannya oleh pihak pemberi wakaf (alwâqif) kepada pihak penerima wakaf (almauqûf ‘alaih), maka pihak penerima harus konsisten memegang amanah sesuai dengan kesepakatan awal terjadinya proses wakaf tersebut. Oleh sebab itu, tujuan wakaf harus dijelaskan pada saat berlangsungnya proses penyerahan benda wakaf. Namun demikian, dalam keadaan tertentu benda wakaf dapat saja dialihfungsikan atau bahkan dijual untuk diganti dengan wujud atau lokasi lain karena alasan-alasan yang sangat obyektif dan rasional. Misalnya; wakaf tanah atau masjid di daerah yang sangat rawan dengan longsor atau bencana alam. Lalu dijual untuk dibelikan

Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah 14

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H


TANYA JAWAB AGAMA lokasi lain yang lebih aman dan strategis sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hal seperti ini dibenarkan untuk mencapai kemaslahatan yang lebih maksimal. Namun jika masih ada alternatif yang lebih baik, maka tentu alternatif itulah yang harus ditempuh. Oleh sebab itu, sebelum mengalihfungsikan masjid yang diwakafkan tersebut, ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah di tempat bapak berdomisili, yaitu: 1. Panitia atau Pimpinan Cabang Muhammadiyah di tempat Bapak tinggal sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu kepada pemberi hibah (dalam hal ini wakaf) setidaknya kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, terkait dengan tujuan dan kepatutan untuk mengalihfungsikan masjid yang dihibahkan tersebut. Hal ini patut dilakukan, dalam rangka menjaga amanah yang diterima oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah di tempat Bapak tinggal. Sebab menjaga amanah merupakan persoalan yang sangat diperintahkan oleh agama. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw, beliau bersabda: Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga macam; apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia ingkar dan apabila diberikan kepercayaan (amanah) ia khianat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa Hadits ini adalah Hadits hasan-shahih. (HR atTirmidzi dan Ahmad) Artinya: “Diriwayatkan dari Abdulah bin Amr, bahwasanya Nabi saw bersabda: Ada empat perkara, barangsiapa yang ada di dalamnya (ia) termasuk orang munafik yang sesungguhnya, dan barangsiapa yang terdapat padanya salah satu di antara kempat hal tersebut (ia) memiliki salah satu ciri dari orang munafik sampai ia meninggalkannya (yaitu); apabila dipercaya (diberikan kepercayaan) ia khianat, apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila bersumpah ia menyalahi sumpahnya.” (HR. alBukhari dan Muslim)

Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Buraidah, dari Bapaknya, ia berkata; Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang menyalahi amanah maka ia tidak termasuk dari golongan (umat)ku.” [HR. Abu Dawud] 2. Menjaga dan menghargai pemberian seseorang dengan merawat semaksimal mungkin pemberiannya, sekaligus sebagai wujud rasa berterima kasih. Hal ini patut diperhatikan agar si pemberi merasa senang dan dihargai pemberiannya. Rasulullah saw bersabda:

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra, ia berkata; Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang tidak bersyukur (berterimakasih) kepada manusia,

Artinya: “Diriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir berkata; Nabi saw bersabda di atas mimbar: Barangsiapa yang tidak mensyukuri sesuatu yang sedikit, (maka) ia tidak mensyukuri yang banyak, dan barangsiapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah, menceritakan (tahadduts) nikmat Allah adalah bentuk kesyukuran dan meninggalkannya termasuk kufur, bersatu itu rahmat dan bercerai berai itu adzab.” (HR Ahmad) 3. Selaras dengan semangat beragama, masjid merupakan baitullah yang harus dihormati sehingga tidak gampang dialihfungsikan sebagaimana dilakukan oleh penganut agama lain. 4. Jika estimasi biaya pembangunan hampir sama dengan biaya renovasi, maka menurut hemat kami, sepatutnya bangunan yang sudah ada yang merupakan pemberian dan sekaligus amanah seseorang benar-benar dijaga dan dirawat. Sehingga orang yang memberi merasa senang dan dihargai pemberiannya, kecuali jika dalam keadaan darurat dan tidak ada pilihan yang lebih baik dari itu. B. Apakah pahala orang yang menghibahkan tetap mengalir (amal jariyah) sekalipun masjid telah dialihfungsikan? Persoalan pahala tentunya yang paling mengetahui hanya Allah SwT, sebab suatu amalan sangat ditentukan oleh niat dan keikhlasan seseorang. Namun jika sese-

Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

15


TANYA JAWAB AGAMA orang telah berniat dengan ikhlas untuk melakukan suatu kebaikan, terlebih lagi untuk kemaslahatan orang banyak, bahkan keteladanan yang dilakukannya dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan kebaikan, maka tentu amal kebaikan yang dicontohkannya tersebut menjadi amal jariyah buat pelakunya, begitu pula sebaliknya. Dalam Hadits Nabi saw dijelaskan:

Artinya: “Telah menginformasikan kepadaku Muhammad bin Ibrahim at-Taimy, bahwasanya ia telah mendengar Alqamah bin Waqqash al-Laitsi berkata; saya telah mendengar Umar bin al-Khattab berkata di atas mimbar; saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya amal-amal tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang tergantung dari apa yang diniatkannya, maka barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya, atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang ia harapkan itu.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Artinya: “Diriwayatkan dari Jarir bin Abdillah, ia berkata; ... lalu Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang memberikan contoh dalam Islam berupa contoh yang baik, lalu dilakukan (dicontoh) oleh orang setelahnya, (maka) dicatat baginya seperti pahala orang yang melakukannya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahal-pahala mereka (yang mengikutinya). Dan barangsiapa yang memberikan contoh dalam Islam berupa contoh yang jelek, lalu diamalkan (dicontoh) oleh orang-orang setelahnya, dicatat baginya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka (orang yang mengikutinya) …”. (HR Muslim) Bahkan jika niat baik dan keikhlasan seseorang untuk menghibahkan atau mewakafkan sesuatu untuk tujuan yang baik (fi sabilillah), lalu dikhianati dan digunakan untuk hal-hal yang negatif (tidak sesuai dengan niat baik orang yang menghibahkan, mereka (orang yang menghibahkan/mewakafkan) tetap akan mendapatkan pahala dari amal shalihnya itu. Sementara orang yang menyalahgunakan amanah tersebut akan menanggung sendiri dosanya. Terlebih lagi jika amanah tersebut digunakan untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat agama, maka pemberi hibah/wakaf termasuk pihak yang dikhianati dan dizalimi. Dengan demikian, orang yang mengkhianati tersebut termasuk orang merugi (muflis) yang harus membalas kejahatan/kezalimannya dengan pahalanya sesuai dengan kadar dan tingkat kezalimannya. Hadits-hadits berikut ini cukup menjelaskan persoalan-persoalan tersebut:

Artinya: “Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, telah menginformasikannya; bahwa Rasulullah saw bersabda: Seorang Muslim merupakan saudara (bagi) Muslim lainnya, janganlah ia menzaliminya, dan tidak membiarkannya (mengabaikannya), dan barangsiapa yang (memenuhi) kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya, dan barangsiapa yang mempermudah urusan seorang Muslim, maka Allah akan mempermudah suatu urusan dari urusan-urusannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) saudaranya, maka Allah akan menutup (aib) nya pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan lainnya)

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. berkata; bahwasanya Rasulullah saw bersabda (bertanya); tahukah (kamu sekalian) apakah ciri orang yang merugi Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah 16

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H


TANYA JAWAB AGAMA (pailit) itu ? Para sahabat menjawab; orang yang merugi menurut kami adalah orang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memiliki harta benda. Lalu Rasulullah saw bersabda; Sesungguhnya orang yang merugi dari umatku (adalah) orang yang datang di hari kiamat dengan (membawa pahala) shalat, puasa dan zakat, dan ia datang (dalam keadaan) telah mencaci ini, menuduh orang lain ini, dan telah memakan (menggunakan) harta ini (secara batil), telah menumpahkan darah ini, dan memukul ini. Lalu ia memberikan (membayar) ini

dengan kebaikan-kebaikan (pahala)nya dan ini dari kebaikan-kebaikan (pahala)nya. Maka jika kebaikan-kebaikan (pahala)nya sudah habis sebelum bisa melunasi dosa-dosa (kezaliman)nya, diambillah dari dosa-dosa mereka (orang yang dizalimi), lalu diberikan kepadanya kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi dan Ahmad) Jadi menurut pendapat kami, bahwa mengalihfungsikan masjid untuk keperluan seperti balai pengobatan/klinik, taman pendidikan Al-Qur’an, kantor, maupun per-

pustakaan Islam, seperti yang Bapak ditanyakan, tidak akan memutuskan amal jariyah orang yang menghibahkan. Apalagi hal tersebut masih dalam wilayah yang ma’ruf (kebaikan) dan bagian dari fungsi masjid secara lebih luas. Namun sebelum melakukan hal tersebut, perlu dipertimbangkan hal-hal sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Agar seseorang dapat menjaga amanah dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak mengurangi nilai kebaikan yang telah diberikan oleh orang lain serta tidak menzaliminya. Wallahu a’lam bish-shawab. *rf).l

GED JALIN KERJASAMA DENGAN MAJELIS EK ONOMI MUHAMMADIY AH EKONOMI MUHAMMADIYAH

A

cara Rapat Kerja Wilayah & Temu Saudagar Majelis Ekonomi & Kewirausahaan PWM Banten yang berlangsung selama 2 hari tanggal 25-26 November 2011 kemarin berjalan lancar & sukses. Semangat Tahun Baru Islam 1433H mewarnai wajah-wajah antusias dari pada peserta Rakerwil Banten yang dihadiri utusan-utasan pengurus PDM, PCM, Ortom-ortom dan Amal Usaha Muhammadiyah seperti BTM, Koperasi Sekolah & PTM. Sambutan pembukaan disampaikan beberapa dari Bpk. H.Najmi Tanjung (Ketua Panitia), Bpk.H. Ade Muchlas Syarief (Ketua MEK PWM Banten), Bpk.H. Hasan Alaydrus (Ketua PWM Banten) dan Bpk. Syafrudin Anhar (Ketua MEK PP Muhammadiyah) yang sekaligus meresmikan acara tersebut. Dalam acara pembukaan tersebut berlangsung pula penandatangan MoU kerjasama Pemberdayaan Usaha Mikro antara Majelis Ekonomi Kewirausahaan PP Muhammadiyah dengan PT. Trimuda Nuansa Citra (GED) dalam Keagenan Outlet Jasa Pengiriman Paket-Dokumen dilingkungan Persyarikatan Muhammadiyah yang digagas

& prakarsai oleh Fakhrul Bahry (Anggota PP Pemuda Muhammadiyah Bidang Ekonomi & Kewirausahaan serta Sekretaris MEK PWM DKI Jakarta). Pada hari kedua,Temu Saudagar Muhammadiyah dihadiri pembicara Bpk. H. Arief Wismansyah (Wakil Walikota Tangerang) setelah itu dilanjutkan dengan pemaparan Bank BTN Syariah Komitmen Lembaga Keuangan dalam Pemberdayaan UMKM olehBpk. Mohammad Faiz (Ka. Cabang BTN Syariah BSD Tangerang) serta Sosialisasi Peluang Usaha Persyarikatan Muhammadiyah mitra & binaan MEK PP Muhammadiyah yang dipersentasikan langsung oleh pelaku usaha diantaranya Keagenan GED Outlet Muhammadiyah (OutletMU).

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

17


DI ANTARA KITA

Moderasi Islam dalam Kepribadian Rasulullah saw (3) PROF DR H MUHAMMAD CHIRZIN, MAg GURU BESAR UIN SUNAN KALIJAGA DAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

an yang benar. Tugas Rasul hanya menyampaikan ajaran yang sudah jelas. (AnNur [24]: 51-54).

Barang siapa taat kepada Rasul ia sudah taat kepada Allah, dan barang siapa berpaling Kami tidak mengutusmu sebagai pengawas atas perbuatan jahat mereka (An-Nisa‘ [4]: 80).

Jawaban orang-orang beriman bila diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar memberikan keputusan kepada mereka. Mereka hanya berkata, “Kami mendengar dan kami patuh”; dan mereka itulah yang mendapat kebahagiaan. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang yang menang pada akhirnya. Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sekuat-kuatnya, sekiranya kau perintahkan mereka, pasti mereka akan berangkat meninggalkan kampung halaman. Katakanlah, ‘Janganlah kamu bersumpah; ketaatan kamu hanya bicara sudah diketahui; sungguh Allah tahu benar apa yang kamu kerjakan. Katakanlah, ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; tapi jika kamu berpaling, maka tanggungjawab hanya untuk tugas yang diwajibkan kepadanya, dan kamu sekalian hanya bertanggungjawab atas apa yang diwajibkan padamu. Kalau kamu taat kepadanya, kamu mendapat bimbing18

Yang disebut Mukmin ialah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya; bila mereka bersama dia menghadapi masalah bersama, mereka tidak pergi sebelum meminta izin kepadanya. Mereka yang meminta kepadamu, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (An-Nur [24]: 62). Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam adalah norma manusia di dalam fungsi-fungsi individual dan kolektifnya atau dalam fungsi-fungsi spiritual dan keduniawiannya. Cinta kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam merupakan sebuah unsur pokok di dalam spiritualitas Islam. Rasa cinta ini timbul karena kaum Muslimin melihat di dalam diri Nabi bentuk dasar dan model dari kebajikan-kebajikan yang menjadi kunci atau jalan menuju keesaan yang memberikan keselamatan kepada mere-

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

ka. Oleh karena itulah, mereka mencintai dan meniru Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam hingga dalam hal-hal yang paling mendetail dari kehidupan mereka sehari-hari. Cinta kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam ada dalam lubuk hati setiap Muslim sejati, terutama mereka yang menginginkan kehidupan yang suci. Cinta kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam tidaklah bersifat individual. Ia dicintai karena ia menjadi lambang harmoni dan keindahan yang mencakup semua hal, yang dalam keutuhannya menunjukkan sifat-sifat –apabila dimiliki– akan membuat manusia menyadari asal-usulnya yang teomorfis. (Muhammad Chirzin dan Nur Kholis, Bimbingan Nabi untuk Mengatasi 101 Masalah, xx). Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi Rasul. Rasul-Rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh, dan ada pula yang karena sakit biasa. Karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga akan wafat seperti halnya Rasul-Rasul yang terdahulu itu. Di waktu berkecamuk Perang Uhud tersiar berita bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum Muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan, pemimpin kaum Quraisy. Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi, tentulah dia tidak akan mati terbunuh. Allah menenteramkan hati kaum Muslimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menjadi penengah dalam pemugaran Baitullah. Pembangunan berjalan sesuai rencana, sampai dinding tembok mencapai tinggi satu setengah meter, saat mereka mesti menempatkan kembali batu hitam (hajar


aswad) ke tempat semula, di sudut timur. Karena ini upacara suci penuh kehormatan, terjadilah perebutan antara sesama klan Quraisy. Klan Abu Dar merasa paling berhak memonopoli, dan menolak campur tangan klan lain. Keadaan memanas ketika terjadi pengelompokan dan kedua pihak semakin nekad dan bersumpah dengan baki berisi darah tempat mereka mencelupkan tangannya siap berperang dan mati untuk agama. Dari suasana panas itu, Abu Rabi’ah muncul mengemukakan usul agar menyerahkan keputusan kepada orang pertama yang masuk dari pintu Shaffah. Hadirin setuju dan melihat ke arah pintu dengan tegang. Secara kebetulan Muhammad muncul dari sana. Orang-orang datang mengerumuni dan minta pemecahan. Keputusan Muhammad sungguh mengesankan. Ia merentangkan selendangnya ke dekat batu hitam itu. Dengan hati-hati ia tunduk, mengangkat batu lonjong itu dan meletakkannya di atas kain itu. Setiap pemimpin klan diminta memegang ujung kainnya. Mereka mengangkat secara bersama dan lega oleh cara mulus ini. Muhammad mengambil hajar aswad itu dan menaruh di tempatnya. Suasana menjadi dingin, ketegangan lenyap dan Muhammad dielu-elukan orang. Itulah salah satu puncak prestasi Muhammad dan mempertebal nama julukan atas dirinya sebagai al-amin, orang yang dapat dipercaya. (Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah Suatu Penafsiran Baru, 110-11). Hadits dan Sunnah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam adalah sumber ajaran Islam bersama Al-Qur'an. Tanpa hadis dan sunnah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, sebagian besar isi Al-Qur'an akan tersembunyi dari mata manusia. Di dalam AlQur'an tertulis perintah untuk mengerjakan shalat, tetapi tanpa Sunnah kita tidak akan tahu bagaimana cara mengerjakannya. Shalat tak akan dapat dikerjakan tanpa petunjuk yang berupa tindakan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam setiap hari. Ini berlaku pula pada seribu satu hal lain. Hampir 15 abad, jutaan kaum Muslimin bangun di pagi hari seperti yang dilakukan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Mereka makan seperti ia makan, menggosok gigi seperti ia menggosok gigi, tidur sebagaimana ia tidur, bergaul dengan istri, bertetangga, menghormati

tamu; berjual beli menurut tuntunan dan teladannya, dan sebagainya. Tidak ada daya yang menyeragamkan kehidupan kaum Muslimin di seluruh dunia lebih daripada model ini yang menjadi pola tindakan sehari-hari. (Muhammad Chirzin dan Nur Kholis, Bimbingan Nabi untuk Mengatasi 101 Masalah, xx-xxi). Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah rahmat bagi alam semesta. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

Kami utus engkau, semata-mata sebagai rahmat bagi alam semesta (AlAnbiya‘ [21]: 107).

bersabda,

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin di hari kiamat daripada baik budi. Dan Allah membenci orang yang keji kelakuannya.” (Tirmidzi) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati orang yang ringan dalam jual beli.

Dan sungguh kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al-Qalam [68]: 4) Moderasi Rasulullah dalam Kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan moderasi dalam segala aspek kehidupan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lemah lembut dalam pergaulan, suka memaafkan dan memohonkan ampun buat orang yang bersalah; suka bermusyawarah dalam menghadapi perkara. Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Ali Imran [3]:159) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah merahmati orang yang ringan dalam menjual atau membeli jika menagih utang.” (Bukhari)

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri; berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (AtTaubah [9]: 128) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lembut hati, merasa sedih sekali melihat masyarakatnya terjerumus ke dalam kehancuran. Dia begitu bergairah menjaga mereka, dan bila ada tanda-tanda pada mereka akan beriman, ia sudah diliputi oleh sifatnya yang begitu lemah-lembut, penuh kasih-sayang, dan begitu gembira. (Abdullah Yusuf Ali, Quran Terjemahan dan Tafsirnya, 480 footnote 1379).l

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

19


HADITS

Kontroversi Hadits Doa Kafaratul Majelis RUSLAN FARIADI AM, SAg, MSI.

D

oa penutup majelis (kafaratul majelis) sudah biasa dibaca oleh sebagian umat Islam, termasuk warga Muhammadiyah. Doa yang secara etimologi berarti “penebus kesalahan selama berada dalam sebuah majelis” ini tidak secara otomatis bisa diterima oleh semua kalangan. Sebagian kalangan menolak untuk membaca doa ini. Alasannya karena validitas (kekuatan) Hadits tentang doa kafaratul majelis masih diragukan (dha’if). Benarkah Hadits-Hadits tentang doa kafaratul majelis tersebut dha’if? Untuk menjawab kontroversi tersebut, dalam tulisan ini dikemukakan beberapa representasi Hadits-Hadits Nabi saw yang berbicara tentang persoalan tersebut, disertai dengan penelitian kuantitas serta kualitas (validitas) Haditsnya.

“…dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw apabila duduk di suatu majelis atau berdoa, (kemudian) beliau mengucapkan beberapa kalimat, lalu ‘Aisyah ra., bertanya tentang beberapa kalimat tersebut, lalu Rasulullah saw bersabda; jika kamu berbicara dengan pembicaraan yang baik, maka tentu kebaikan-kebaikan 20

tersebut akan senantiasa menyertainya sampai hari kiamat, dan jika ia berbicara selain itu (bicara jelek), (maka) tebusan baginya adalah dengan membaca: Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan pujianMu aku mohon ampunan-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.” (HR An-Nasa’i). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dari ‘Aisyah ra, dalam kitab Sunan alNasa’i pada kitab al-Sahwu, bab Nau’ alâkhar min al-dzikri ba’da al-taslîm, nomor 1327. Seluruh rawi yang terdapat dalam sanad Hadits ini dinilai oleh para kritikus Hadits (ulama’ ahli Hadits) dengan komentar; tsiqah (kredibel), tsiqah ma’mûn (kuat lagi terpercaya), dan berbagai bentuk penilaian yang menunjukkan keadilan dan kedhabitan (kekuatan intelegensi dan dokumentasi) mereka. Sekalipun Muhammad bin Ishaq al-Shaghaniy dan Abu Salamah al-Khuza’i masing-masing dinilai oleh Imam Nasa’i dan Ibnu ‘Adi dengan ungkapan “La ba’sa bihi” (tidak ada kecacatan dengannya). Namun, hal tersebut masih dalam batasan keadilan rawi serta tidak sampai terjatuh dalam kategori dha’if. Begitu pula dengan sifat sanad-nya, Hadits ini termasuk Hadits muttashil (bersambung) sampai kepada Nabi saw, tidak ada keterputusan (inqitha’), serta tidak ada kecacatan dan pertentangan dengan dalil yang lebih kuat (tidak syadz). Dengan demikian, Hadits ini telah memenuhi syarat-syarat keshahihan Hadits dan dapat dijadikan sebagai argumentasi hukum. Lebih lanjut, dalam syarah Sunan Nasa’i li al-Sindy ditegaskan tentang kemaqbulan Hadits ini sebagai dasar hukum. AlSindy mengatakan disunnahkan bagi seseorang untuk menutup semua majelisnya (ayyu majlisin kana) dengan membaca doa kafaratul majelis. Salah satu fungsinya adalah, agar jika dalam suatu majelis tersebut seluruhnya mengandung kebaikan, maka dengan doa kafaratul majlis semakin memantapkan kebaikan tersebut hingga hari kiamat. Namun, jika dalam suatu

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

majelis terdapat kesalahan-kesalahan, maka dengan doa kafaratul majelis dapat menjadi kaffarat (tebusan) atau ampunan bagi kesalahan dan dosa yang ada (Syarah Sunan al-Nasa’i li al-Sindy). Selain Hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i tersebut, Imam Abu Dawud juga meriwayatkan dengan matan (lafazh yang sedikit berbeda) dan dari sahabat yang berbeda pula, yaitu Abdullah bin Amr bin Ash, sebagai berikut:

“…dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, bahwasanya ia berkata, ada beberapa kalimat (yang) tidaklah seseorang mengucapkannya dalam majelisnya ketika ia bangun (selesai) dari majelisnya (ia mengucapkannya) tiga kali, kecuali digugurkan (dosa-dosanya) dengan kalimat tersebut, dan tidaklah ia mengucapkannya dalam suatu majelis yang baik dan majelis zikir kecuali ia tutup dengannya sebagai-


HADITS mana disegelnya kertas dengan cincin, yaitu; Maha suci Engkau ya Allah dan dengan pujian-Mu, tiada Tuhan selain Engkau, saya mohon ampunan-Mu dan saya bertaubat kepada-Mu”. Abu Dawud juga meriwayatkan Hadits ini dari Ahmad bin Shalih, Ibnu Wahab berkata, telah berkata Amru dan telah menceritakan kepadaku seperti itu Abdurrahman bin Abi Amr dari al-Maqbury dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw seperti itu”. (HR Abu Dawud) Hadits ini terdapat dalam sunan Abu Dawud kitab Al-Adab, bab fi Kaffarat alMajlis, nomor 4216. Seluruh rawi yang terdapat dalam sanad Hadits ini dikomentari oleh para imam ahli Hadits sebagai rawi yang kredibel dengan berbagai penilaian yang menunjukkan keadilan dan kedhabitannya, seperti hujjah, tsiqah, dzakarahu fi al tsiqât (mengkategorikannya ke dalam rawi yang tsiqah) dan lainnnya. Hanya Imam Nasa’i yang memberikan penilaian terhadap Ahmad bin Shalih dengan ungkapan “laisa bitsiqatin wala ma’mûnin” (tidak termasuk rawi yang kuat dan terpercaya), namun para imam ahli Hadits yang lain mengomentarinya dengan tsiqah dan hujjah. Berdasarkan qa’idah “al-Jarhu muqaddamun ‘ala al-ta’dîl (penilaian cacat harus diprioritaskan daripada penilaian yang mengatakan adil), Hadits riwayat Abu Dawud dari jalur ini dapat dikategorikan sebagai Hadits dha’îf. Namun, ke-dha’îf-annya tidak terlalu berat karena kecacatannya bukan karena kedustaan dan kefasikan rawi, sehingga dapat saja terangkat menjadi Hadits maqbûl (hasan lighairihi) jika dikuatkan oleh jalur-jalur lainnya. Hal tersebut terbukti dengan adanya Hadits dari sumber atau jalur lain yang dapat menguatkan eksistensi Hadits tersebut sebagai dalil hukum. Dalam kitab ‘Aunul Ma’bûd syarah kitab Sunan Abu Dawud dijelaskan sebagai berikut; “Hadits ini juga tiriwayatkan oleh imam al-Tirmidzi, al-Nasa’i dari Hadits Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya (Abu Shalih) dari Abu Hurairah ra., dan imam al-Tirmidzi mengatakan Hadits ini adalah “Hasan-Shahih-gharîb”. Dengan demikian, Hadits yang diriwayatkan oleh imam Abu Dawud diatas secara pendekatan ilmu musthalah al-hadîts dapat diamalkan sebagai argumentasi hukum karena mendapatkan penguat dari jalur Hadits lainnya.

Di samping Hadits tersebut di atas, Imam Abu Dawud juga meriwayatkan Hadits tentang persoalan yang sama dengan redaksi matan yang sedikit berbeda dari Abu Barzah al-Aslamy, sebagai berikut:

“…dari Abu Barzah al-Aslamy berkata; adalah Rasulullah saw bersabda di akhir majelis: Apabila seseorang ingin berdiri dari suatu majelis (hendaknya mengucapkan); Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan pujian-Mu, saya bersaksi tiada tuhan selain Engkau aku mohon ampunan-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu”, lalu seseorang bertanya; wahai Rasulullah sesungguhnya engkau telah mengucapkan suatu ucapan yang tidak pernah engkau ucapkan sebelumnya, lalu Rasulullah saw bersabda: menjadi kaffarat (penebus) bagi sesuatu yang terjadi dalam majelis”. (HR Abu Dawud). Hadits ini terdapat dalam kitab Sunan Abu Dawud, kitab Al-Adab, bab fi Kaffarat al-Majlis, nomor 4217. Seluruh rawi dalam Hadits ini dikomentari dengan tsiqah, dzakarahu fi al-tsiqât (dikategorikan sebagai rawi yang tsiqah), hujjah (dapat dijadikan hujjah), subhanallah la a’lamu illa al-khair (Maha Suci Allah saya tidak mengetahuinya kecuali kebaikan), shadûq (jujur), tsiqatu tsiqatin (sangat tsiqah), mustaqîm al-hadîts jiddan (Haditsnya sangat lurus), di samping ada juga seorang rawi bernama al-Hajjaj bin Dinar yang dinilai laisa bihi ba’tsun (tidak ada persoalan dengannya).

Kecuali Ibnu Hibban yang memberikan penilaian kepada Muhammad bin Hatim alJarjara’i dengan ungkapan “rubbama yakhta’u” (mungkin dia salah) setelah beliau menilainya dengan penilaian tsiqah. Sedangkan sifat sanad Hadits ini muttashîl sampai kepada Rasulullah saw dan tidak terjadi keterputusan (inqithâ’). Sehingga paling tidak Hadits ini memiliki derajat “hasan lidzâtihi”, karena salah seorang rawinya masih disangkakan melakukan kesalahan oleh Ibnu Hibban, setelah beliau menilainya sebagai rawi yang tsiqah. Bahkan, dapat terangkat (irtiqâ’) menjadi shahîh lighairi jika didukung oleh Hadits-Hadits dari jalur yang lain. Sebab, faktor kecacatan yang diberikan oleh Ibnu Hibban bukan karena faktor kedustaan maupun kecacatan yang cukup berat, serta pada saat yang sama hampir seluruh kritikus Hadits (ulama’ ahli Hadits) menilainya sebagai rawi yang tsiqah. Dari beberapa representasi Hadits tentang doa kafaratul majelis tersebut di atas, terlihat jelas bahwa Hadits tentang doa kaffaratul majelis diriwayatkan dari berbagai jalur dengan kualitas yang beragama. Di antara jalur-jalur periwayatan tersebut ada yang shahih, hasan, dan bahkan ada juga yang dha’if. Namun, ke-dha’if-an suatu jalur sama sekali tidak berpengaruh terhadap eksistensi jalur lain yang telah memenuhi syarat Hadits maqbul (Hadits yang diterima). Terlebih lagi di antara beberapa Hadits dha’if tersebut saling menguatkan antara satu jalur dengan jalur lainnya (yasuddu ba’duhâ ba’dha), sehingga dapat terangkat (irtiqâ’) menjadi Hadits hasan lighairihi. Dengan demikian, Hadits-Hadits tersebut di atas beserta penjelasannya dapat memberikan informasi yang cukup jelas dan tegas bahwa tuntunan doa kafaratul majelis memiliki dasar yang kuat berasal dari Nabi saw. Wallahu a’lam bi al shawab!l Staf Pengajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

21


DI ANTARA KITA

MUHAMMADIYAH BERKIPRAH UNTUK BANGSA Jauh sebelum negara dan Pemerintah Indonesia lahir, sejak 18 November 1912 M / 8 Dzulhijjah 1330 H, Muhammadiyah telah berjuang untuk bangsa. Sang Pencerah hadir untuk membebaskan umat dan bangsa dari belenggu kejumudan, keterbelakangan, dan penjajahan. Dengan senantiasa bersyukur kepada Allah SwT dan terimakasih atas dukungan masyarakat luas Muhammadiyah terus berkiprah dalam kerja-kerja dakwah yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, dan program-program kemasyarakatan yang sepenuhnya berada dalam pengelolaan (milik) organisasi dibangun dan dikhidmatkan untuk kemajuan bangsa meraih peradaban utama.

Menghadirkan Islam Yang Berkemajuan Muhammadiyah sejak awal kelahirannya mendeklarasikan pandangan dan amaliah Islam yang berkemajuan. Muhammadiyah didirikan guna memelopori pembaruan yang bersifat membebaskan, memberdayakan, dan memajukan 22

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan universal. Dari rahim Muhammadiyah, Islam bukan hanya diwacanakan, tetapi diwujudkan dalam amaliah. Karena pada hakikatnya, tidak ada manifestasi lain dari Islam kecuali dalam amal. Amal Islam yang berkemajuan.


DI ANTARA KITA Muhammadiyah memandang bahwa Islam merupakan bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mengemagama yang mengandung nilai-nilai ajaran tentang kemajuan untuk bangkan ijtihad di tengah tantangan kehidupan modern abad kemewujudkan peradaban umat manusia yang utama. Kemajuan 21 yang sangat kompleks. Islam yang berkemajuan menyemaikan benih-benih kebenaran, dalam pandangan Islam melekat dengan misi kekhalifahan manusia yang sejalan dengan Sunnatullah kehidupan, karena itu kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan setiap Muslim baik individual maupun kolektif berkewajiban keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia. Islam menjadikan Islam sebagai agama kemajuan (din al-hadlarah) yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia baik laki-laki maupun dan umat Islam sebagai pembawa misi kemajuan yang membawa perempuan tanpa diskriminasi. Islam yang menggelorakan misi rahmat bagi kehidupan. antiperang, antiterorisme, antikekerasan, antipenindasan, Kemajuan dalam pandangan Islam bersifat multiaspek, baik antiketerbelakangan, dan anti terhadap segala bentuk pengrusakan dalam kehidupan keagamaan maupun dalam seluruh dimensi di muka bumi seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan kehidupan, yang melahirkan peradaban utama sebagai bentuk kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemunkaran yang peradaban alternatif yang unggul secara lahiriah dan ruhaniah. menghancurkan kehidupan. Islam yang secara positif melahirkan Adapun dakwah Islam sebagai upaya keutamaan yang memayungi kemajemewujudkan Islam dalam kehidupan mukan suku bangsa, ras, golongan, diproyeksikan sebagai jalan perdan kebudayaan umat manusia di Dengan pandangan Islam ubahan (transformasi) ke arah termuka bumi. yang berkemajuan ciptanya kemajuan, kebaikan, keMuhammadiyah berkomitmen adilan, kemakmuran, dan kemaslauntuk terus mengembangkan pandan menyebarluaskan hatan hidup umat manusia tanpa dangan dan misi Islam yang berkepencerahan, membeda-bedakan ras, suku, gomajuan sebagaimana spirit awal maka Muhammadiyah longan, agama, dan sekat-sekat sokelahirannya tahun 1912. Pandangan sial lainnya. Islam yang berkemajuan Islam yang berkemajuan yang dipertidak hanya berhasil melakukan menghadirkan Islam dan dakwah kenalkan oleh pendiri Muhammapeneguhan dan pengayaan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin diyah telah melahirkan ideologi kemamakna tentang ajaran akidah, dimuka bumi. juan, yang dikenal luas sebagai ideoBahwa Muhammadiyah melogi reformisme dan modernisme ibadah, dan akhlak kaum mandang Islam merupakan agama Islam, yang muaranya melahirkan Muslimin, tetapi sekaligus yang mengandung nilai-nilai kemapencerahan bagi kehidupan. Penmelakukan pembaruan cerahan (tanwir) sebagai wujud dari juan untuk mewujudkan kehidupan Islam yang berkemajuan adalah jalan umat manusia yang tercerahkan. dalam muamalat duniawiyah Islam yang membebaskan, memKemajuan dalam pandangan Islam yang membawa berdayakan, dan memajukan kehiadalah kebaikan yang serba utama, perkembangan hidup dupan dari segala bentuk keteryang melahirkan keunggulan hidup belakangan, ketertindasan, kejumulahiriah dan ruhaniah. Adapun sepanjang kemajuan dan, dan ketidakadilan hidup umat dakwah dan tajdid bagi Muhammaajaran Islam. manusia. diyah merupakan jalan perubahan Dengan pandangan Islam yang untuk mewujudkan Islam sebagai berkemajuan dan menyebaragama bagi kemajuan hidup umat manusia sepanjang zaman. Dalam perspektif Muhammadiyah, luaskan pencerahan, maka Muhammadiyah tidak hanya berIslam merupakan agama yang berkemajuan (din al-hadlarah), hasil melakukan peneguhan dan pengayaan makna tentang yang kehadirannya membawa rahmat bagi semesta kehidupan. ajaran akidah, ibadah, dan akhlak kaum Muslimin, tetapi Bahwa Islam yang berkemajuan memancarkan pencerahan sekaligus melakukan pembaruan dalam muamalat duniawiyah bagi kehidupan. Islam yang berkemajuan dan melahirkan pen- yang membawa perkembangan hidup sepanjang kemajuan cerahan secara teologis merupakan refleksi dari nilai-nilai ajaran Islam. Paham Islam yang berkemajuan semakin transendensi, liberasi, emansipasi, dan humanisasi yang terkan- meneguhkan perspektif tentang tajdid yang mengandung makna dung dalam pesan Al-Qur’an surat Ali Imran 104 dan 110 yang pemurnian (purifikasi) dan pengembangan (dinamisasi) dalam menjadi inspirasi kelahiran Muhammadiyah. Secara ideologis gerakan Muhammadiyah, yang seluruhnya berpangkal dari Islam yang berkemajuan untuk pencerahan merupakan bentuk gerakan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah (al-ruju’ ila transformasi Al-Ma’un untuk menghadirkan dakwah dan tajdid Al-Qur’an wa Al-Sunnah) untuk menghadapi perkembangan secara aktual dalam pergulatan hidup keumatan, kebangsaan, zaman. Dengan Islam yang berkemajuan, Muhammadiyah dan kemanusiaan universal. Transformasi Islam bercorak berkiprah tak kenal lelah dalam amal-amal dakwah untuk kemajuan dan pencerahan itu merupakan wujud dari ikhtiar mewujudkan peradaban utama dalam kehidupan bangsa dan meneguhkan dan memperluas pandangan keagamaan yang umat manusia sepanjang zaman.l SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

23


DIRASAH ISLAMIYAH

MODAL KEBANGKITAN ISLAM MARAH HALIM, MAg

U

mat Islam dewasa ini telah terpisah oleh garis-garis demarkasi negara masing-masing dengan semangat nasionalisme sempit. Fenomena ini adalah rancangan Barat pasca-era imperialisme yang berakhir tahun 1960-an. Perpecahan umat Islam diperparah lagi oleh lemahnya sumber daya manusia dunia Islam. Sebagian besar negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim adalah negara miskin atau negara kembang-kempis. Di pihak lain, sejak abad ke-18, Barat telah bangkit dari keterbelakangan. Awal abad ke-19, Barat penuh percaya diri memamerkan hasil revolusi industrinya di hadapan umat Islam dengan melakukan penjajahan. Pada 1809, Prancis mengalahkan Mesir, salah satu pusat peradaban Islam saat itu. Dunia Islam tersentak menyadari hadirnya sebuah peradaban baru. Kebangkitan Barat menyentakkan syaraf kesadaran dunia Islam karena telah hadir kekuatan nyata Barat yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Mulailah para pemikir Islam mengintrospeksi diri, apa yang telah berlangsung di Barat sehingga mereka berhasil mengalahkan Islam. Sejak itu, gerakan pembaruan giat didengungkan. Muhammad Ali, penguasa Mesir pasca-hengkangnya Perancis, mengadopsi ide-ide kemajuan Barat, terutama dalam bidang kemiliteran. Dia berkeyakinan bahwa kekuasaannya akan langgeng jika memiliki persenjataan yang tangguh. Untuk proyek besar itu, di dalam negeri ia mendirikan sekolah-sekolah kejuruan. Seperti teknik, farmasi, kedokteran dan pembangunan besar-besaran sektor pertanian. Belakangan diketahui, semua bidang yang dikembangkan Muhammad Ali erat kaitannya dengan bidang kemiliteran. Sementara ke luar negeri (Perancis), dia mengirim ribuan pemuda Mesir untuk

24

memperdalam ilmu yang sama dengan yang dikembangkan di dalam negeri, dengan penekanan utama pada bidang kemiliteran. Para mahasiswa ditempatkan dalam sebuah kompleks dan diawasi ketat. Akan tetapi, metode ini tidak menghalangi para mahasiswa berkenalan dengan ideide yang sedang tumbuh subur di Barat, seperti demokrasi, rasionalisme, nasionalisme, dan lain-lain. Salah seorang mahasiswa yang memanfaatkan kesempatan belajar tersebut adalah Rifa’ah al-Thahthawi. Spesifikasinya di bidang penerjemahan memungkinkannya mengetahui ide-ide Barat lewat tulisan para tokoh modernis Barat. Generasi setelahnya tampil dengan semangat pembaruan yang lebih revolusioner, Jamaluddin al-Afghani dengan slogan Pan-Islamisme, persatuan dunia Islam dengan tema utama mengusir penjajahan dan memberantas kebodohan. Pengalaman tokoh ini sangat luas, dia menguasai ide-ide Barat dan Islam sekaligus, sehingga dia sangat optimis dunia Islam-pun pada suatu saat akan mampu seperti Barat. Muhammad Abduh, murid Jamaluddin, merumuskan ajaran gurunya dalam kerangka idiologis dan teologis sebagai landasan pembaruan dunia Islam. Gerakan pembaruan yang dipelopori oleh kedua tokoh ini menjadi model gerakan pembaruan di dunia Islam, termasuk gerakan pembaruan di Indonesia yang dipelopori Muhammadiyah, Sarikat Islam (SI), al-Irsyad, Jami’at al-Khair, dan lain-lain. Gerakan yang mereka bawa telah berusia seabad lebih yang sampai sekarang hasilnya baru bisa dicapai berupa kemerdekaan, tetapi pada hakekatnya dunia Islam masih dijajah. Inti dari pembaruan yang mereka bawa adalah kembali kepada ruh jihad dan ijtihad.

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

Jihad Secara literal, jihad berarti perjuangan (struggle, fight), usaha menyeluruh (colossal effort). Istilah ini mencuat ke permukaan pada masa-masa perjuangan Nabi Muhammad saw menghadapi kaum musyrikin. Pada awalnya memang jihad identik dengan perang fisik. Dalam makna yang lain, jihad juga diartikan dengan kemampuan melawan godaan setan. Nabi saw menyebutnya dengan jihad al-akbar, jihad yang lebih besar. Secara umum, jihad dapat dibagi menjadi dua: jihad dengan fisik dan jihad dengan batin. Keduanya penting dan keduanya amat menentukan eksistensi agama Islam. Jihad dalam arti fisikal untuk mempertahankan ketinggian dan kehormatan agama Islam, pelakunya semua kaum Muslimin, sedangkan jihad psikis bertujuan menjaga keimanan masingmasing individu Muslim. Dalam kondisi di mana agama membutuhkan jihad secara fisik, maka jihad fisik lebih diutamakan. Manakala kondisi normal, maka jihad selalu ada dalam banyak bentuk. Situasi dan kondisi menentukan terma jihad yang akan diutamakan. Menurut penulis, dunia Islam masih mungkin berdiri sejajar dengan Barat dengan segala potensi yang ada. Umat Islam memiliki Ruhiyyah Islamiyyah yang kental. Potensi ini harus diolah sedemikian rupa sehingga tidak sekedar luapan emosional tanpa diiringi nalar yang rasional. Agresi sekutu jelas membahayakan dunia Islam. Walau bagaimana, Irak adalah pusat peradaban Islam. Kehancuran pusat peradaban Islam merupakan “kehilangan yang besar”. Kejatuhan Irak berarti ancaman bagi Timur Tengah, sebab tidak ada negara yang lebih disegani Israel di kawasan ini selain Irak. Banyak pengamat internasional yang meramalkan bahwa kepentingan Amerika


DIRASAH ISLAMIYAH tidak sekedar Irak saja, tetapi seluruh Timur Tengah. Irak hanyalah pintu masuk bagi sebuah episode penaklukan Timur Tengah. Giliran berikutnya bukan mustahil beberapa lagi negara Timur Tengah yang akan dijadikan “provinsi” oleh Amerika (Hery Sucipto, “AS-Israel Kini Kendalikan Timur Tengah” Republika, 22 April 2003). Ke mana suara umat Islam? Ke mana solidaritas umat Islam yang dulu dibina oleh Rasulullah? Di mana Pan-Islamisme yang disuarakan oleh Jamaluddin alAfghani pada awal abad ke-20? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang amat mengusik hati kita. Dunia Islam hanya bisa bengong ketika Irak dibombardir. Sedikitkah umat Islam? Tidak. Umat Islam bahkan hampir sepertiga penduduk bumi. Tetapi, mereka telah disekat oleh batas-batas teritorial, masing-masing memikirkan stabilitas nasionalnya. Inilah ironi umat Islam yang pernah bisa menjadi satu, satu jiwa, satu penderitaan. Sepertinya tepat apa yang dikatakan oleh Nabi saw bahwa pada akhir zaman kondisi umat Islam seperti buih di lautan, banyak tetapi centang perenang. Harapan harus tetap ada. Allah SwT membenci hamba-Nya yang putus asa dari rahmat-Nya. Dunia Islam harus kembali bangkit. Sejak lama dunia Islam menunggu renaissance Islam babak kedua. Kebangkitan umat Islam sejak lama didengungkan oleh para pembaru Islam sejak Ibn Taimiyah sampai Yusuf Qaradhawi dan sederet tokoh pembaru modern lain. Pembaru seperti Ibn Taymiyah mendobrak zaman kebekuan pemikiran umat Islam, periode sejarah yang menyebabkan kehancuran dunia Islam. Para pemikir Islam ketika itu cenderung beranggapan bahwa masa berijtihad telah cukup, pemikiran para imam mazhab telah memadai untuk menjawab semua permasalahan umat. Kemandegan pemikiran di bidang hukum ini diikuti pula oleh kemandegan pemikiran dalam bidang ilmu pengetahuan lain, dan ini berlangsung cukup lama (1250-1800 M). Padahal, kemajuan Islam hanya dimungkinkan oleh ruh jihad dan ijtihad. Karena itu, jihad dan ijtihad merupakan dua aspek yang tidak bisa ditinggalkan oleh umat Islam.

Ijtihad Jihad sebagai perjuangan fisik akan sangat erat kaitannya dengan ijtihad sebagai perjuangan pemikiran. Perjuangan fisik umat Islam memungkinkannya menguasai daerah yang sangat luas di Timur dan Barat, demikian pula perjuangan dalam bidang pemikiran yang melahirkan ilmuwan di berbagai bidang, seperti Ibn Sina, al-Farabi, al-Razi, Ibn Rusyd, Ibn Thufail, Ibn Maskawaih, dan lain-lain. Tetapi, mereka hidup pada periode di mana umat Islam sangat percaya pada potensi akal manusia. Sehingga fondasi ilmu pengetahuan yang mereka rintis menjadi landasan bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern. Kemunduran Islam disebabkan oleh terputusnya mata rantai ilmu pengetahuan. Islam jaya karena ilmu pengetahuan. Pembukaan daerah-daerah baru, baik di Timur dan di Barat selalu diiringi dengan “pembukaan” alam pikiran peradaban Islam yang telah maju. Islam juga dikalahkan pada abad ke-18 sampai sekarang juga karena ilmu pengetahuan. Karena itu, untuk bangkit kembali, Islam harus kembali merebut ilmu pengetahuan. Firman Allah SwT yang mengatakan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat amat tepat. Bangsa yang berilmu pengetahuan di mana-mana akan unggul. Kita bisa saksikan mesin perang Amerika yang sangat canggih, peluru kendali yang diluncurkan dengan panduan satelit dari kapal induk, pesawat tempur dengan tembakan yang akurat, tank-tank canggih yang direkayasa dengan kemampuan ilmu pengetahuan. Sebenarnya, pasca-perang ArabIsrael bersamaan dengan embargo minyak, dunia Islam telah mendapatkan kembali kepercayaan dirinya karena keberhasilan dalam perang tersebut, walaupun “kalah” dari Israel, tetapi dunia maklum, Israel tidak terkalahkan karena Amerika berdiri di belakangnya (John L. Esposito, (ed.), 1993). Embargo minyak oleh negara-negara teluk telah cukup menggoncangkan ekonomi dunia. Tetapi, gerakan ini tidak diikuti oleh gerakan-gerakan selanjutnya yang

sistematis dan efektif. Pasca-aksi embargo tersebut, dunia Islam kembali tenggelam mengikuti irama yang dimainkan Barat. Secara tidak sadar, dunia Islam kembali dibelenggu penjajahan gaya baru, penjajahan intelektual. Buktinya, konstruksi intelektual “orang-orang pintar” di dunia Islam dengan corak pemikiran terbelenggu oleh Barat. Sebagai contoh adalah demokrasi. Istilah demokrasi berasal dari barat, tetapi yang menjadi persoalan kenapa dunia Islam meniru mentah-, mentah substansi demokrasi, seperti pemilihan wakil rakyat secara kuantitatif, bukan kualitatif. Padahal, syura (demokrasi Islami) telah menetapkan bahwa yang berhak menjadi pemilih (belum wakil rakyat) adalah orang-orang yang berilmu, berpengalaman dan bijaksana, bukan sistem demokrasi seperti sekarang, di mana suara seorang pedagang kaki lima, secara kuantitatif, sama dengan suara seorang profesor, padahal secara kualitatif sangat berbeda. Untuk itu, penulis menyarankan hendaknya sistem pemilu di Indonesia diubah secara mendasar, bukan cuma wakil rakyat yang dipilih, tetapi pemilih wakil rakyat pun harus diseleksi secara ketat. Ini membutuhkan jihad dan ijtihad untuk mengubah suatu pandangan yang sudah mengkristal. Untuk mengubah pandangan dunia, umat Islam perlu ilmu pengetahuan. Taqlid (kepengikutan tanpa reserve) hanya membelenggu kebebasan berpikir. Taqlid juga merupakan bentuk penjajahan intelektual. Kenapa dunia Islam tega menjajah dan dijajah oleh taqlid? Inilah realita yang tidak boleh berlanjut. Para ilmuwan Islam adalah para mujtahid. Ijtihad di semua bidang ilmu perlu digalakkan. Karena dengan kedua faktor itulah dunia Islam akan kembali diperhitungkan dalam kancah perpolitikan dunia. Sehingga, janji Allah yang akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu pengetahuan dapat diwujudkan, bukan sekedar materi yang dibaca pada setiap khutbah Jum’at saja.l Wakil Sekretaris Lembaga Tarjih dan Tajdid PWM Aceh, Widyaiswara BKPP Aceh.

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

25


KOLOM

PERAN PTM DALAM MEMBERDAYAKAN RANTING Pudjo Sumedi, Wakil Rektor II UHAMKA Muhammad Luthfie, Dosen FKIP UHAMKA

P

ersyarikatan Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang tumbuh dari bawah. Semangat berfastabiqul khairat yang berasal dari warganya (bottom up) mewarnai hampir semua lini kegiatan dan amal usaha yang ada di Muhammadiyah. Karena hampir semua gagasan itu bukan timbul dari atas (top down), maka diharapkan apa pun aktivitas dan amal usaha yang ada di lingkungan Muhammadiyah dapat berjalan dengan baik dan diwarnai oleh dedikasi dari anggotanya. Hanya pada kenyataannya, tidak semua aktivitas Muhammadiyah dapat optimal dilakukan. Dari 3.221 Cabang Muhammadiyah (Kecamatan) dan 8.107 Ranting Muhammadiyah (Desa/ Kelurahan), sebagai front terdepan Muhammadiyah di masyarakat, tidak semua dapat melaksanakan aktivitasnya dengan baik. Umumnya, penyebabnya bertumpu pada konsep ibadah Muhammadiyah, militansi dan pemahaman anggota terhadap Persyarikatan dan nilai-nilai ke-Muhammadiyahan. Konsep ibadah Muhammadiyah yang bertentangan dengan takhayul, bid’ah dan churafat (TBC) dianggap tidak lazim di masyarakat, terutama bertentangan dengan pandangan Islam tradisionalis yang mayoritas dan berpengaruh di pedesaan. Akhirnya Muhammadiyah popular di perkotaan dan kurang dikenal di pedesaan. Bahkan dari sebuah pengalaman wawancara seorang wartawan, Muhammadiyah dibedakan dengan Islam. Wartawan itu bertanya kepada seorang warga desa tentang agama yang berkembang di wilayah tersebut dan warga itu menyebutnya ada dua, yakni Islam dan Muhammadiyah. Mensosialisasikan pemurnian akidah seperti konsep Muhammadiyah ini, memang bukanlah perkara yang mudah dan jika tidak diantisipasi dengan baik, dapat menjadi batu sandungan Muhammadiyah untuk lebih berkembang di masyarakat. Tentang rendahnya pemahaman anggota Muhammadiyah terhadap persyarikatan dan nilai-nilai Kemuhammadiyahan, seperti tidak paham dalam pemberdayaan organisasi dan aktivitas ibadahnya masih ada yang bertentangan dengan nilai-nilai Muhammadiyah, juga dapat menjadi hambatan pemberdayaan Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Padahal, Ranting yang kuat akan melahirkan Cabang yang kuat. Cabang yang kuat akan melahirkan Daerah yang kuat, begitu seterusnya sampai ke Pimpinan Pusat. Dalam konteks umum cita-cita tersebut dapat ditampilkan dalam format Islamic Civil Society (ICS), yang berkarakter demokratis, otonom dan bermoral utama. Cabang dan Ranting harus kuat, dinamis dan berkemajuan sesuai dengan prinsip dan cita-cita gerakan Muhammadiyah menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. 26

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

Peran Perguruan Tinggi Muhammadiyah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) harus proaktif mengambil peran penguatan Cabang dan Ranting di sekitarnya sehingga semakin memperkuat peran pimpinan Persyarikatan di masyarakat setempat. Ada sejumlah peran yang dapat dilakukan oleh PTM dalam pengembangan dan pemberdayaan Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Pertama, untuk mendiseminasikan konsep ibadah Muhammadiyah ke tengah masyarakat, maka PTM dapat menyempurnakan kurikulum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIKA) melalui seminar dan kajian-kajian komprehensif, kemudian menularkannya melalui aktivitas Orientasi Dasar-Dasar Islam (ODDI), Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM), Darul Arqam Dasar (DAD), serta pengajian di masyarakat. Kedua, mengarahkan program tridharma PTM untuk mendukung pengembangan dan pemberdayaan Cabang dan Ranting. Penelitian dan pengabdian masyarakat dari para dosen yang dibiayai oleh pemerintah, dapat diarahkan atau disinergikan dengan kepentingan Cabang dan Ranting, yaitu untuk memetakan dan menghasilkan konsep-konsep penataan sekaligus pemberdayaan Cabang dan Ranting. Workshop, pelatihan dan penataan organisasi secara langsung dapat dilakukan oleh para dosen sebagai wujud program dari pengabdian masyarakat. Ketiga, dalam konteks pemberdayaan Cabang dan Ranting ini, peran mahasiswa juga dapat dilibatkan. Misalnya, para mahasiswa ditugaskan oleh dosen-dosennya untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang terkait erat dengan tuntutan kurikulum. KKN dan pengabdian masyarakat oleh mahasiswa sesuai kurikulum dapat dikaitkan dengan program pengembangan dan pemberdayaan Cabang dan Ranting. Mahasiswa juga dapat diaktifkan sebagai aktivis-aktivis di Cabang dan Ranting sebagai program ekstra kurikuler dan pembinaan kepemimpinan (leadership). Dengan peran-peran seperti itu, sebagaimana telah dilakukan oleh UHAMKA tempat penulis bekerja, maka PTM telah terlibat dalam pengembangan dan pemberdayaan Persyarikatan Muhammadiyah di institusi terbawah, sekaligus mengembangkan kader-kader Muhammadiyah di PTM untuk berperan dengan nyata di lingkungan Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Peranperan seperti itu juga dapat menumbuhkan kepedulian yang lebih tinggi dari kader-kader Muhammadiyah di PTM untuk turut membangun Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Pada akhirnya, mereka diharapkan dapat melanjutkan kaderisasi Muhammadiyah di tingkat Cabang dan Ranting.l


P E D O M A N

MEMBANGUN MASYARAKAT PARIPURNA DIN SYAMSUDDIN

A

l Qur’an menyebut posisi masyarakat Islam yang memiliki kualitas paripurna sebagai khaira ummah. Sebaik-baiknya umat. Untuk sampai pada posisi sebagai khaira ummah, umat Islam harus memiliki keunggulan-keunggulan dalam berbagai bidang kebudayaan dan peradaban. Hal ini pernah diraih oleh umat Islam ketika mereka berjaya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad-abad pertengahan. Pada waktu itu, umat Islam dengan disinari wahyu Al-Qur’an, berhasil menemukan dan mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan dan filsafat yang merupakan pilar suatu peradaban tinggi. Sebagai hasilnya, umat Islam menjadi pemegang supremasi peradaban dunia. Kejayaan peradaban Islam itu tidak berlangsung terus, tetapi kemudian justru mengalami kemunduran hingga sekarang ini. Dunia Islam menjadi mundur, dan umat Islam terjatuh kepada tiga masalah sekaligus citra utama. Yaitu, kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Dalam konteks Indonesia, gejala serupa juga terjadi. Sebagai bagian terbesar dari bangsa ini, umat Islam belum dapat menampilkan peran terbesar. Umat Islam Indonesia menghadapi masalah rendahnya kualitas infrastruktur sosial, ekonomi dan pendidikan. Dalam bidang pendidikan, banyaknya lembaga pendidikan yang dikelola umat Islam belum sepadan dengan mutu lembaga-lembaga pendidikan tersebut, walaupun sudah mulai muncul sekolahsekolah berkualitas. Dalam bidang ekonomi terdapat ironi. Islam yang masuk ke Nusantara lewat jalur ekonomi karena dibawa oleh da’i-da’i pedagang, yang kemudian ikut memengaruhi terbentuknya kelas menengah Islam yang relatif berjaya dalam bidang ekonomi dan kemudian membentuk sentrasentra perekonomian umat di beberapa daerah, kini terpuruk dan belum dapat bangkit kembali. Kalau dalam bidang pendidikan keagamaan ada fenomena ’robohnya surau kami’, dalam bidang ekonomi ada fenomena ’robohnya kedai kami’. Kelemahan dalam bidang ekonomi ini membawa dampak terhadap bidangbidang kehidupan lain, baik sosial, pendidikan, politik maupun dakwah. Kesenjangan antara idealitas Islam dan realitas kehidupan umat Islam adalah masalah besar yang harus di-

atasi. Jika kemajuan Eropa didorong oleh etika Protestianism yang menekankan kerja keras, produktivitas, penghargaan akan waktu, dan penghematan, begitu pula kebangkitan Asia Pasifik karena etik Konghucu yang juga menekankan nilai-nilai yang sama, maka Islam jauh lebih kuat mendorong nilai-nilai etika tersebut dalam banyak ayat AlQur’an dan Hasits. Bahkan sebagai khaira ummah, umat Islam diperintahkan oleh Al-Qur’an untuk menjadi saksisaksi bagi umat manusia. Perintah ini dapat kita baca pada ayat 143 surat Al-Baqarah yang artinya, Dan dengan demikian Kami jadikan kamu semua umat tengahan supaya kamu semua menjadi saksi-saksi atas semua manusia dan Rasul menjadi saksi atas apa yang kamu semua lakukan. Dari ayat di atas terdapat isyarat bahwa umat Islam perlu menampilkan dua macam syahadat. Selain harus menampilkan ’syahadat keyakinan’, yaitu keyakinan atas keesaan Allah swt dan kerasulan Muhammad saw, umat Islam perlu juga sebagai manifestasi ’syahadat keyakinan’ itu untuk menampilkan ’syahadat kebudayaan dan peradaban’, yaitu dengan memberi bukti-bukti bahwa kebudayaan dan peradaban Islam adalah tinggi. Maksudnya, umat Islam harus tampil merebut kemajuan dan keunggulan dalam peradaban. Dengan memproses bukti-bukti, lewat kerja keras semua pihak maka pembentukan masyarakat paripurna nantinya akan betul-betul memiliki basis kenyataan. Maksudnya, umat Islam di dalam membangun mayarakat yang paripurna tidak hanya berlandaskan kata-kata dan wacara, akan tetapi dilengkapi dengan aksi demi aksi. Dan ini perlu dilakukan setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik. Kita tidak boleh membiarkan hidup dan waktu kita lowong dan kosong dari prestasi kehidupan. Bukankah di dalam surat Al-’Ashr yang terkenal dan dulu juga sering disebut oleh KHA Dahlan dan merupakan pasangan dari surat Al-Ma’un, disebutkan bahwa manusia yang tidak beriman dan tidak produktif hidupnya dia akan ditimpa kerugian demi kerugian. Apalagi, kalau kemudian manusia yang rugi itu juga tidak mau mengomunikasikan kebenaran dan kesabaran sebagai senjata untuk meraih sukses kehidupan.l t SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

27


DI ANTARA KITA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

SMART CHOICE FOR BRIGHT FUTURE

Tampak Depan Kampus I UMT Cikokol Tangerang A. SEJARAH SINGKAT Sejak didirikan pada tahun 1912 oleh KH Ahmad Dahlan, Persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam, tidak henti-hentinya melakukan gerakan tajdid (pembaruan) terutama di bidang pendidikan dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar melalui berbagai bidang kehidupan sosial dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat adil dan makmur serta sejahtera di bawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di bidang pendidikan khususnya, Muhammadiyah kini telah memiliki lembaga yang cukup signifikan dalam ikut serta mendidik dan membangun putra/putri bangsa. Sebut saja misalnya, data pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah saat ini, Perguruan Tinggi Muhammadiyah sudah mencapai lebih dari 165, SMU: 511, SMK: 263, MA: 172, SMP: 1184, Mts: 534, SD: 1132, MI: 1769, TK/RA: 6.865 dan Ponpes Muhammadiyah: 54. Total jumlah amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan sebanyak: 12.662 Amal usaha pendidikan Muhammadiyah di Tangerang sejak tahun 1960-an hingga saat ini pun terus berkembang pesat, termasuk yang berlokasi di wilayah Cikokol Kota Tangerang atas tanah yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang tahun 1977 seluas 3.650 m2. Di atas tanah itu pada tahun 1982 mulai dirintis pembangunan 1 unit gedung (4 lokal) dengan swadaya. Kemudian pada 1984 mendapat bantuan Pemda Jawa Barat sebanyak 2 lokal. Enam lokal/ruangan ini kemudian diwaktu pagi-siang digunakan oleh SMP Muhammadiyah 15 (sekarang SMPM 1) dan TK ABA 69 Tangerang, serta SDM 15 (sekarang SDM 4) pindahan dari Jln. Daan Mogot No. 2 Tangerang. Untuk optimalisasi penggunaan ruang diwaktu sore-malam digunakan untuk perkuliahan STIEM sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang didirikan oleh PDM dan PWM DKI pada tahun akademik 1992/1993. Pendirian STIEM di atas menginspirasi dan mendorong PDM untuk mendirikan STAIM thn 2000, lalu STIKesM tahun 2004 dan akhirnya thn 2009 semua melebur menjadi UMT. Hadirnya UMT memacu pertumbuhan gedung/fasilitas kampus yang terletak di jln. Perintis Kemerdekaan ini. Dan alhamdulillah kini telah memiliki + 87 28

lokal/ruang yang terdiri dari ruang belajar sebanyak 66, selebihnya 21 ruang digunakan untuk kantor, perpustakaan, laboratorium, Masjid, microteaching, dll. Singkatnya di atas tanah seluas 3.650 m2 ini sekarang terselenggara beberapa lembaga pendidikan milik Muhammadiyah di antaranya: UMT, SMAM 3, SMPM 1, SD dan TK. Alhasil ketersediaan ruang yang ada, perguruan Muhammadiyah ini harus menampung peserta didik dari semua institusi pendidikan di atas yang jumlahnya mencapai + 8000 peserta didik (idealnya membutuhkan + 130 ruang belajar). Kondisi ini akhirnya mendorong UMT untuk melakukan pengembangan pembangunan fisik termasuk melakukan ekspansi mencari lahan baru. Dan jika Allah SwT mengijinkan, dalam waktu dekat UMT bersama Bank Syariah Bukopin (BSB) akan menginvestasikan lahan seluas 2,47 ha di kecamatan Neglasari, Kota Tangerang untuk pembangunan kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Tangerang. Tuntutan pembangunan fisik yang tiada henti tersebut mengindikasikan bahwa minat dan kepercayaan masyarakat dalam menitipkan putra/putrinya untuk dididik di perguruan Muhammadiyah trend-nya semakin meningkat. Sesungguhnya pendirian UMT merupakan respon konkret Muhammadiyah dari kondisi di atas untuk memperluas pilihan program studi bagi masyarakat. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tangerang melalui Musyda III merumuskan pendirian UMT dengan menggabungkan Sekolah Tinggi yang ada (STIEM, STAIM dan STIKesM) dan menambah program studi baru. Kemudian TIM Pendiri yang dibentuk oleh PDM menindaklanjuti dengan pengajuan proposal ke Mendiknas RI pada tahun 2007. Dan setelah melalui proses perbaikan proposal lebih dari 5 kali revisi. Alhamdulillah pada tanggal 3 Agustus 2009 secara resmi berdiri Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) melalui SK Mendiknas RI nomor 109/D/O/2009, membuka lebih dari 22 program studi yang terdistribusi sebanyak 18 prodi/jurusan jenjang Strata Satu (S1), 3 program diploma dan 1 Prodi jenjang Strata Dua (S2) yakni Magister Manajemen dan rintisan prodi Magister Studi Islam. Prospek ini memberikan energi yang sangat kuat bagi Muhammadiyah khususnya Muhammadiyah kota Tangerang dengan segala keterbatasannya untuk tetap berbuat sebagai panggilan sejarah dan cita-cita luhur yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mengantisipasi ledakan minat masyarakat yang setiap tahun meningkat (+ 3.500 mahasiswa baru), kini UMT bekerjasama dengan BSB sedang merampungkan pembangunan gedung berlantai 6 termasuk basemen yang berkapasitas 35 ruang belajar dengan biaya + Rp10 Milyard. Insya Allah akhir Desember 2011 ruang belajar sudah dapat digunakan semua. B. FAKULTAS DAN PROGRAM STUDI Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) menyelenggarakan program-program studi sebagai berikut, yaitu: 1. Manajemen (S1) 2. Akuntansi (S1)

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H


DI ANTARA KITA 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22.

Akuntansi (D3) Pendidikan Agama Islam (S1) Muamalat Ekonomi Islam (S1) Keperawatan (S1) Kebidanan (D4) Kebidanan (D3) Pendidikan Matematika (S1) Pendidikan Bahasa Indonesia (S1) Pendidikan B. Inggris (S1) PGSD (S1) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) (S1) Teknik Informatika (S1) Teknik Elektro (S1) Teknik sipil (S1) Teknik industri (S1) Teknik Mesin (S1) Ilmu Hukum (S1) Ilmu Pemerintahan (S1) Ilmu Komunikasi (S1) Magister Manajemen (S2)

Seminar Nasional tentang Ekonomi Syariah di Universitas Muhammadiyah Tangerang

Untuk melaksanakan kegiatan akademik di berbagai fakultas atau program studi tersebut, secara terus menerus Universitas Muhammadiyah Tangerang mengambil berbagai kebijakan penyelenggaraan pendidikan dengan skala prioritas sebagai berikut: 1. Menyediakan sarana dan prasarana fisik berupa pembangunan gedung perkuliahan yang memadai, perpustakaan, berbagai laboratorium yang semuanya itu untuk mendukung keberhasilan proses perkuliahan mahasiswa 2. Perluasan lokasi kampus yang saat ini dirasa makin tidak memadai menampung jumlah mahasiswa yang terus-menerus bertambah di Kompleks Kawasan Pendidikan Cikokol Jl. Perintis Kemerdekaan 1/33 Cikokol Kota Tangerang di atas tanah seluas 4.700 m2 dan luas bangunan 5.843 m2. 3. Meningkatkan kualitas tenaga pengajar/dosen dengan mengikuti program studi lanjut S2 dan S3 di berbagai PTS dan PTN di Indonesia. 4. Meningkatkan pelayanan akademik melalui berbagai pelatihan dan pembinaan kepegawaian untuk mendukung pencapaian visi, misi dan tujuan pendidikan C. VISI DAN MISI 1. Visi Menjadi Universitas unggul berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah pada tahun 2018 di Provinsi Banten

2. Misi a. Menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, b. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan serta pengabdian masyarakat yang dapat meningkatkan kesejahteraan manusia. c. menyelenggarakan kerjasama dengan pihak lain yang saling menguntungkan dalam pengembangan IPTEK. d. Mengembangkan kehidupan Islami menurut pemahaman Muhammadiyah D. ORGANISASI Badan Pelaksana Harian: H Naisan, MHum HM Nasir H Abd Shomad, SE Muhidin Chanansyah Turhaerudin 1. Pimpinan UMT Rektor : H Achmad Badawi, SPd, SE, MM Wakil Rektor I : Dr H Asmuni Ilyas, MM Wakil Rektor II : Drs HM Bay Masruri, MM Wakil Rektor III : Drs Desri Arwen, MPd Wakil Rektor IV : Dr (cand) Ahmad Amarullah, MPd 2. Pimpinan Fakultas a. Fakultas Ekonomi (FE) Dekan : Rahmat, SE., MM. Wadek I : Hj Siti Chanifah, SE., MM Wadek II : Dr (cand) Seleman Hardi Y, SIP, SE, MM b. Fakultas Agama Islam (FAI) Dekan : H Saiman Sholeh, MPd Wadek I : H Khoirul Anwar, MPd Wadek II : H Syamsuri, Lc, MA c. Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Dekan : dr Hj Anna Ulfa Rahayoe, SpJp Wadek I : dr. HM. Komala, Sp.Jp Wadek II : Hj Elly Purnamasari, SKp, MPd d. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Dekan : Dr (cand) Enawar, SPd, MM Wadek I : Dr (cand) Edi Riadi, MPd Wadek II : Drs Asep Suhendar, MPd e. Fakultas Teknik (FT) Dekan : Ir. Saiful Haq Wadek I : Taufik Rohmat, ST, MKom. Wadek II : Drs Syamsul Bahri, MSi f. Fakultas Hukum (FH) Dekan : Upik Mutiara, MH Wadek I : Wahyul Furqan, SH Wadek II : Dwi Nur Fauziah Ahmad, SH g. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) Dekan : Drs H Zaenuddin, MM, MPd Wadek I : H Achmad Kosasih, MM Wadek II : Fitria Santi, S Ag h. Program Pasca sarjana: Magister Manajemen Direktur : Dr H Priyo Susilo, MM Asdir I : Prof Dr H Aris Gumilar, MM Asdir II : Muljadi, S Ag, MM.l SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

29


DI ANTARA KITA

WISUDA KE-3 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG “Optimalisasi Peran dan Fungsi UMT untuk Mencerdaskan dan Memperkuat Karakter Bangsa”

Sidang Terbuka Senat UMT dalam Wisuda Ke-3 Tahun 2011

M

eski masih seumur jagung, Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) telah melaksanakan model pendidikan yang dibutuhkan stakeholder. Sistem pendidikan menerapkan Student Center Learning (SCL) dengan sajian kurikulum yang mengarahkan mahasiswa untuk mampu menjadi pemikir dan praktisi di bidangnya. Tanpa terasa, tepat pada tanggal 03 Agustus 2011 kemarin, UMT genap berusia 3 tahun. Ibarat bayi berumur 3 tahun, UMT tumbuh dan berkembang sesuai harapan masyarakat Provinsi Banten. Pertumbuhan dan perkembangan UMT sejalan dengan harapan masyarakat yang tertuang dalam visi dan misi UMT yakni menjadi Universitas terdepan di tahun 2018 dalam mengembangkan pengetahuan dan teknologi Cita-cita inilah yang hendak dipikul oleh Rektor UMT, H Achmad Badawi, SPd, SE, MM. Seperti kapal yang sedang berlayar, sang nahkoda beserta ‘anak buah kapal’ dituntut untuk mampu membawa penumpang sampai ke tujuan. Menjadikan UMT sebagai universitas terdepan dalam pengembangan pengetahuan dan teknologi bukan isapan jempol belaka. Cita-cita berat itu, ternyata dituangkan oleh Pimpinan Universitas Muhammadiyah Tangerang dalam Rencana Strategis (Renstra) pengembangan UMT lima tahun ke depan. Perwujudan renstra tersebut diarahkan kepada menghasilkan lulusan berkualitas. Konsekuensinya, UMT dituntut untuk melakukan transfer ilmu yang berkualitas kepada mahasiswa sesuai dengan permintaan stakeholder. Selain menyekolahkan para dosen, UMT terus melakukan berbagai kegiatan pembinaan bekerjasama dengan lembaga-lembaga professional dalam peningkatan kinerja para pegawai dan kompetensi para dosen yang mengajar di UMT. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman kepada dosen tentang pendekatan-pendekatan pengajaran kepada mahasiswa. Di samping itu UMT sedang mengupayakan penerapan sistem komputerisasi on-line sehingga mahasiswa dapat mengakses nilai dan mengisi KRS secara on-line. Untuk mengukur sejauhmana pelaksanaan program-program yang sudah disusun dalam renstra, maka UMT menerapkan sistem manajemen mutu. Untuk itu pula UMT bekerjasama dengan lembaga yang dapat memberikan penilaian sertifikat ISO 2008: 9001 sebagai bukti keseriusan UMT dalam sistem manajemen mutu. Untuk tetap

30

memastikan berjalannya sistem manajemen mutu maka dibentuk lembaga Penjaminan Mutu Universitas (LPMU). Tugasnya mengawasi segala aspek di universitas, mulai dari akademik, saranaprasarana sampai tercapainya mutu standar yang ditetapkan. Perhelatan Wisuda UMT pada 29 Nopember 2011 yang ke-3 akan dijadikan momentum untuk mengevaluasi perjalanan 3 tahun Universitas Muhammadiyah Tangerang. Wisuda akan diikuti oleh program diploma, sarjana dan pascasarjana dari 3 Fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Agama Islam dan Fakultas Ilmu Kesehatan. Wisuda diikuti oleh 735 mahasiswa dengan mengangkat tema “Optimalisasi Peran dan Fungsi UMT untuk Mencerdaskan dan Memperkuat Karakter Bangsa” Seiring dengan Wisuda Ke-3 pada tahun ini, Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) akan menguatkan komitmen untuk melaksanakan dan mengawal pembentukan karakter bangsa Indonesia. Hal ini sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang harus diemban sebagai lembaga penghasil kader-kader pemimpin umat di masa datang. Grand design pendidikan karakter di UMT memiliki sifat komprehensif, sistemik, dan perlu didukung oleh kultur yang positif serta fasilitas yang memadai. Sifat komprehensif selain dari metode dan strategi yang digunakan dalam pendidikan karakter, juga dari segi aktor (semua komponen yang berperan dalam proses pendidikan karakter), yakni pimpinan lembaga, pendidik, subjek didik, dan tenaga administrasi, termasuk pustakawan. Pengertian pendidik tidak hanya terbatas pada yang bertanggungjawab melaksanakan pendidikan karakter secara langsung lewat beberapa mata kuliah, seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, dan Pendidikan Kewarganegaraan, tetapi juga pendidik setiap mata kuliah lain, yang secara tidak langsung melaksanakan pendidikan karakter dengan mengintegrasikannya dalam pembelajaran dan tugas-tugas yang diberikan kepada subjek didik. Pendidikan karakter baik secara langsung lewat berbagai mata kuliah tertentu maupun yang secara tidak langsung dengan diintegrasikan pada semua mata kuliah dan kehidupan kampus secara keseluruhan meliputi pengembangan pikiran, perasaan, dan perilaku berlandaskan nilai-nilai religius dan nilai-nilai kemanusiaan.l

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H


DI ANTARA KITA

UAD TAK KENAL LELAH MEMBERI YANG TERBAIK Yogyakarta - Semakin tingginya persaingan antarperguruan tinggi yang terjadi belakangan ini, mendorong setiap kampus untuk selalu meningkatkan kualitas, pelayanan serta hasil yang terbaik kepada masyarakat dan mahasiswanya. Apalagi, begitu besarnya problem bangsa yang dihadapi saat ini, membutuhkan peran strategis dari perguruan tinggi agar mampu memberikan problem solving bagi kehidupan bangsa. Kampus II Universitas Ahmad Dahlan

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN (UAD) adalah salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang secara kontinu dan secara cepat merespons berbagai kebutuhan dan problem umat tersebut. Melalui berbagai peningkatan mutu dan pelayanan kepada masyarakat, UAD ingin Drs Dedi Pramono, MHum menjadi mitra dan solusi bagi tantangan ke depan. Drs Dedi Pramono, MHum Kepala Biro Akademik dan Admisi (BAA) UAD, saat ditemui Suara Muhammadiyah, menyebutkan bahwa UAD ingin menjadi bagian dari masyarakat terutama bagi warga Muhammadiyah. “Kita berharap warga Muhammadiyah di seluruh Tanah Air, bisa menjadi bagian dari UAD,” katanya. Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini, UAD terus memberikan peningkatan dalam hal pelayanan dan sarana prasana dalam pembelajaran. “Selain memiliki kelengkapan pada seluruh prasarana untuk masingmasing fakultas, seperti laboratorium, UAD juga kini menambah beberapa program studi baru untuk jenjang S1 dan S2, di antaranya, Program S1 adalah, Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD), Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Matematika Bertaraf Internasional, Pendidikan Fisika Bertaraf Internasional, Pendidikan Biologi

Bertaraf Internasional serta Program studi S2 Magister Manajemen Pendidikan,” tambahnya kepada SM. Di samping itu, untuk memberikan kualitas pengajaran yang terbaik, UAD memiliki tenaga pengajar profesional yang terdiri dari dosen yayasan, dosen dalam negeri (DPK) dan luar negeri serta dosen tamu. Sekitar 60% persen, menurut Drs Dedi Pramono, MHum, dosen UAD sudah bergelar Magister dan Doktor lulusan dalam negeri dan luar negeri. Hal yang sama juga dalam representasi mahasiswa, UAD bukan saja menerima mahasiswa asal Yogyakarta, tapi kini UAD sudah memiliki jumlah mahasiswa dari seluruh Tanah Air dan juga beberapa asal luar negeri seperti China, Korea Selatan, Jepang, Belanda, Malaysia, Thailand, Philipina, Bangladesh, Timor Leste, Mesir, Irak, Syria, Turki, Jerman, Italia, Slovakia, dan Kirgiztan. Bertabur Beasiswa dan Awards Drs Dedi Pramono, MHum juga menjelaskan, bahwa untuk kemudahan masyarakat bisa menempuh pendidikan di UAD, pihak kampus menurutnya juga telah menyediakan berbagai bentuk beasiswa. Di antara; beasiswa BPPA Depdiknas, BBBM Depdiknas, Supersemar, Pemda DIY, Bank-Bank rekanan UAD, dan Beasiswa dari Internal UAD. Bahkan untuk tahun ajaran 2011/2012 ini, UAD menambahkan pemberian beasiswa dalam bentuk lain, yaitu beasiswa Bantuan Siswa Unggulan (BSU). Beasiswa yang terakhir ini menurut Dedi Pramono diperuntukkan khusus SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

35


DI ANTARA KITA

kepada warga Muhammadiyah yang berprestasi sejumlah 30 orang untuk 12 program studi. “Bantuan Siswa Unggulan ini sudah berjalan tahun ke-6 dan hanya diberikan kepada warga Muhammadiyah seluruh tanah air yang berprestasi dengan persyaratan-persyaratan khusus dengan jumlah 30 orang. Maka, bagi warga Muhammadiyah yang berasal dari luar Yogyakarta, sangat terbuka memperoleh beasiswa tersebut. Hanya saja, saya secara pribadi, meminta kepada pimpinan

Muhammadiyah di daerah masing-masing, agar dapat mensupport dan memberikan dukungan bagi warga Muhammadiyah yang akan ke Yogyakarta ini,” katanya. Di samping bertaburnya beasiswa yang disediakan UAD untuk masyarakat, Perguruan Tinggi Muhammadiyah ini juga bertabur penghargaan atas berbagai prestasi yang diraihnya. Di antara penghargaan yang diperoleh dari UNDP, World Bank, Telkom R & D Malaysia.l d

JADWAL SELEKSI MAHASISWA BARU S1 TAHUN 2012

PMDK Yudisium: Ketetapan penerimaan dilakukan dengan yudisium dan diumumkan sesuai jadwal *) PENGUMUMAN PMDK YUDISIUM DISAMPAIKAN PUKUL 12.00 WIB. KECUALI JUM’AT PUKUL 13.00

JADWAL LENGKAP JALUR TES TERTULIS STRATA 1 (S-1) TAHUN 2012

*) Pengumuman Tes Tertulis Disampaikan pukul 12.00 WIB, Kecuali Jum’at Pukul 13.00

36

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H


DI ANTARA KITA

UHAMKA BERINTEGRASI DAN MENEGUHKAN KOMITMEN TERHADAP KUALITAS PENDIDIKAN

U

niversitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (UHAMKA) lahir sebagai wujud komitmen Persyarikatan Muhammadiyah dalam pengembangan sumberdaya manusia melalui bidang pendidikan. UHAMKA berkembang melalui sejarah yang relatif panjang. Pada tanggal 18 November 1957 (25 Rabiul Awal 1377 H) didirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) kemudian pada tahun 1958 berubah menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKIPUMJ). Pada tahun 1965 FKIP UMJ berdiri sendiri dan beralihfungsi menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah Jakarta. Seiring dengan perkembangan pendidikan, pada tanggal 30 Mei 1997 IKIP Muhammadiyah Jakarta berubah bentuk kembali menjadi Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (UHAMKA). Pengembangan IKIP Muhammadiyah Jakarta menjadi UHAMKA didasari oleh keinginan untuk meningkatkan kapasitas organisasi dalam wadah universitas yang mengacu dalam kaidah keilmuan dan ke-Islaman. Upaya ini dimaksudkan untuk menyatukan kadar intelektual secara memadai dan keluhuran hati serta mengacu pada nilai-nilai Islam sebagai spirit dalam pemikiran dan tingkah laku. Berpijak dari pemikiran tersebut, UHAMKA bertekad menjadikan “Pluralitas Keilmuan dalam Ketauhidan� sebagai filosofi penyelenggaraan dan pengembangan institusi pendidikan tinggi. Penyelenggaraan dan pengembangan UHAMKA berusaha mengintegrasikan antara nilai-nilai keilmuan yang berkembang yang didasari ketauhidan sehingga mampu menumbuhkan kepribadian yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya yang dijiwai oleh nilai-nilai ke-Islaman. Menapaki usianya yang ke-54, UHAMKA terus meneguhkan komitmen terhadap peningkatkan kualitas. Kesiapan itu tentu saja dibarengi dengan berbagai program yang tertuang dalam RENSTRA (Rencana Strategis) Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA, akan dilakukan di perguruan tinggi yang telah sukses mencetak ribuan lulusan yang telah mengabdi pada masyarakat. Menurut Rektor UHAMKA, Prof Dr H Suyatno, MPd, UHAMKA akan selalu siap dan tetap eksis karena termasuk salah satu perguruan tinggi yang menjadi kepercayaan dan kebanggaan masyarakat. Sehingga pada masa krisis apa pun, UHAMKA harus selalu siap melayani umat dan antisipatif/tanggap terhadap programprogram pemerintah serta merespons perubahan. UHAMKA memberikan yang terbaik dalam kualitas dan solutif terhadap permasalahan bangsa dan umat. Baik dari kualitas (output) maupun pelayanan (customer service). Sehingga tercipta lulusan yang cerdas intelektual, emosional, spiritual dan bermartabat secara komprehensif. Demi selalu adaptif dan punya visi ke depan untuk menghadapi perubahan yang akan terjadi (antisipatif) dengan cara mengembangkan SDM yang unggul.

Peningkatan kualitas pendidikan UHAMKA dibarengi dengan penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana baik untuk gedung, laboratorium dan sarana pengembangan kreatifitas mahasiswa. Dalam bidang manajemen UHAMKA telah mengaplikasikan teknologi manajemen berbasis ICT (Information, communication & technologi). UHAMKA juga telah menerapkan sistem manajemen mutu berbasis SPMI dan ISO 9001 : 2008. Perguruan tinggi ini juga memelopori terbentuknya asuransi syariah sehingga mendapatkan pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Selain itu, UHAMKA mendapat kepercayaan dari pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan. UHAMKA merupakan salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ditetapkan pemerintah sebagai penyelenggara sertifikasi guru. Hal ini berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 022/P/2009 tanggal 13 April 2009 tentang Penetapan Penyelengaraan Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan. Berdasarkan Keputusan tersebut, UHAMKA ditetapkan sebagai Perguruan Tinggi (PT) Induk Rayon 37. UHAMKA juga menyelenggarakan Model Pembelajaran Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) berbasis ICT dan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Para mahasiswa UHAMKA juga memiliki segudang prestasi seperti mahasiswa jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) yang berhasil meraih penghargaan dalam ajang Indonesia Innovations 2011 yang digelar Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI, juara umum Olimpiade Farmasi Indonesia, Badan Eksekutif Mahasiswa UHAMKA terpilih menjadi delegasi bersama BEM dari beberapa negara Eropa ke Beijing, serta berhasilnya mahasiswa UHAMKA mewakili Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia menjadi delegasi dalam pertemuan Farmasi ASEAN. Setiap tahunnya UHAMKA juga menerima hibah-hibah Kompetisi seperti PHKI, DIA BERMUTU,PHP PTS, KUI Penelitian Dosen dan Pengabdian Masyarakat serta Hibah Program kreativitas Mahasiswa dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiknas. Guna meningkatkan mutu dan daya saing internasional, UHAMKA telah menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga dan perguruan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. Tahun 2010 UHAMKA telah melakukan kerjasama dengan Hubei University of Chinese Medicine dalam bidang farmasi dan Huazhong Normal University (HNU) China. Selain itu juga menjalin kerjasama dengan Woosong University Korea. Bulan November 2011, UHAMKA menandatangani MoU dengan Central Luzon State University dan SEAMEO Innotech, Philipina. Saat ini UHAMKA memiliki 8 Fakultas yaitu (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ekonomi, Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA), Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

37


DI ANTARA KITA Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Agama Islam dan Fakultas Psikologi). Sedangkan Program Pascasarjana meliputi Magister Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP), Magister Administrasi Pendidikan (MAP), Magister Manajemen (MM), Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Magister Pendidikan Bahasa Inggris dan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia. Dalam penyelenggaraan pendidikan, UHAMKA didukung oleh 586 tenaga dosen dan 207 tenaga administrasi serta didukung oleh dosendosen tamu baik dari dalam maupun luar negeri. Saat ini jumlah mahasiswa UHAMKA mencapai 14.500 orang dengan menempati lahan kampus seluas 64.800 meter persegi yang tersebar di

beberapa lokasi di Jakarta, antara lain Jalan Limau II, Jl. Tanah Merdeka, Pasar Rebo, dan Klender. Kemajuan dan perkembangan UHAMKA yang sedemikian pesat mendapat apresiasi positif dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Din Syamsuddin, MA. “Saya bangga dan bersyukur atas prestasi yang dicapai UHAMKA selama ini, baik prestasi mahasiswa yang sudah merambah ke tingkat internasional maupun juga prestasi para dosen. Tetapi menurut saya saat ini yang jauh lebih penting disyukuri bahwa UHAMKA telah menjenjang dan memasuki orientasi kualitas. Dan inilah yang kita pentingkan, lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan Muhammadiyah harus selalu berorientasi kepada peningkatan kualitas.”•

UHAMKA TERIMA PENGHARGAAN DARI QS STARS

U

niversitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (UHAMKA) menerima sertifikat penghargaan atas perolehan Bintang 1 dari QS Stars sebagai salah satu perguruan tinggi berkelas dunia pada tanggal 18 November 2011 di Universitas Santo Thomas, Manila, Filipina. Penyerahan sertifikat tersebut merupakan bagian dari Konferensi QS APPLE ke 7, yang dihadiri oleh para pimpinan perguruan tinggi Asia, Eropa, dan Amerika. QS (Quacquarelli Symonds) Stars adalah lembaga pemeringkatan internasional yang diakui dan digunakan oleh Dirjen Dikti Kemdikbud RI sebagai indikator perguruan tinggi negeri dan swasta dalam menilai dan mengetahui peringkat sebuah perguruan tinggi di tingkat dunia. Selain UHAMKA, perguruan tinggi lainnya yang menerima sertifikat penghargaan tersebut adalah Universitas Sriwijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Makassar, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Nasional, Universitas Ahmad Dahlan, dan yang lainnya. Sedangkan

Perguruan Tinggi Indonesia yang meraih 2 bintang adalah Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Islam Indonesia. Delegasi UHAMKA yang hadir dalam Konferensi QS APPLE ke 7 dan penerimaan sertifikat penghargaan Bintang dari QS Stars adalah Rektor UHAMKA, Prof Dr Suyatno, Wakil Rektor I Dr Muchdie, Dr Tri Wintolo Apoko dari Divisi Kerjasama Luar Negeri KUI dan Munawar Rahman, MM, Kepala Bagian Promosi UHAMKA. Penghargaan yang diterima UHAMKA ini merupakan kado istimewa atas Milad UHAMKA yang ke 54, yang lahir tepatnya pada tanggal 18 November 1957. Prof Suyatno bersyukur atas capaian yang telah diraih UHAMKA sebagai perguruan tinggi yang memiliki daya saing internasional, dan capaian ini akan terus mendorong UHAMKA mengembangkan dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan UHAMKA yang lebih baik.•

Tasyakuran atas Anugerah Gelar Pahlawan

UHAMKA menggelar Tasyakuran atas Anugerah Gelar Pahlawan Buya HAMKA. Acara dihadiri oleh para tokoh Nasional. Tampak dalam gambar Hj Fathiyah HAMKA (salah satu putri Buya HAMKA) bersama Rektor UHAMKA Prof Dr Suyatno, MPd, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin, MA, dan AM Fatwa. 38

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

Tuan Rumah APPRITTL ke-2

UHAMKA menjadi Tuan rumah pertemuan Asian Policy, Practice, and Research in Technology Transformed Learning (APPRITTL) ke-2. Pertemuan Internasional yang dihadiri delegasi dari Taiwan, Hongkong, Malaysia, Thailand, Jepang, Singapura dan Indonesia itu digelar di Gedung utama UHAMKA, Pasar Rebo, Jakarta pada 30/9/2011. Rektor UHAMKA, Prof Dr H Suyatno, MPd menjadi tuan rumah pertemuan APPRITTL ke-2 makin menunjukkan bahwa UHAMKA siap menuju Universitas Kelas Dunia (World Class University). •


SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

39


B I N A

A K I D A H

IMAN DAN LAYANAN SOSIAL DR MOHAMMAD DAMAMI, MAg

S

etiap orang pasti tidak suka kalau jatuh martabat dan rugi. Bukan saja sekedar tidak suka, melainkan sangat-sangat tidak suka. Seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an, manusia merupakan makhluk yang paling baik, paling lengkap, paling luhur keterciptaannya dibandingkan dengan makhluk yang lain ( At-Tin [95]: 4). Hanya manusia yang memiliki hubungan antara badan kasar dengan pikirannya, hubungan antara badan kasar dengan perasaannya, dan hubungan antara badan kasar dengan keyakinannya. Jika pikirannya (inteligensinya) berjalan normal, maka sehat badan kasarnya, jika perasaannya (emosinya) terganggu, maka terganggulah kesehatan badan kasarnya, dan jika lurus dan kuat keyakinannya (spiritualnya), maka tampak tegar penampilan hidupnya. Kebenaran hubungan-hubungan ini semuanya dapat dibuktikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah, benar kalau dikatakan bahwa manusia itu memiliki martabat yang paling baik, paling lengkap dan paling luhur kalau dibandingkan dengan makhluk lain. Seperti makhluk hewan (hayawanat), makhluk tumbuh-tumbuhan (nabatat), dan makhluk benda beku (jamadat: benda padat, cair, dan gas) Sungguhpun demikian, Allah SwT juga mengingatkan, bahwa manusia itu pada hakikatnya merupakan makhluk yang “mudah lupa”, yang karena itu disebut dengan istilah insaan (At-Tin [95]: 4). Lupa tentang apa? Pertama, lupa terhadap hal-hal yang remeh dan memang hal-hal yang remeh tersebut tidak perlu dingat-ingat. Contoh: lupa tentang berapa kilogram beras yang telah dimakan selama ini, berapa ribu liter air yang pernah melalui kerongkongannya, berapa ribu meter kubik udara yang pernah lewat paruparunya, berapa ribu kilometer kakinya telah dipakai untuk berjalan, berapa ribu jam tidur yang telah dialaminya, dan berapa liter urine yang telah dikeluarkan selama ini. Kedua, lupa terhadap hal-hal yang penting yang kalau hal-hal tersebut dilupakan, maka seseorang lalu dinilai melenceng dari tata nilai (benar menjadi salah, baik menjadi

40

buruk, indah menjadi jelek, manfaat menjadi mudlarat/merusak). Contoh: lupa terhadap rumus ilmu, lupa terhadap berbakti kepada orangtua, lupa terhadap kerapihan, dan lupa menjaga diri dari minum minuman keras. Ketiga, lupa terhadap hal yang mutlak penting yang kalau sampai ditinggalkan, maka seseorang akan kehilangan pegangan hidup. Dalam hal ini adalah jika lupa terhadap Tuhan. Jika sifat “lupa” ini, khususnya lupa yang kedua dan ketiga, sampai dikerjakan dengan sengaja oleh seseorang apalagi dibiasakan maka menurut AlQur’an, orang semacam itu akan dijatuhkan martabatnya oleh Allah SwT ke martabat serendah-rendahnya, (At-Tin [95]: 5). Sekalipun sebagian ulama tafsir memaknai kata-kata “asfala safilin” itu dengan pengertian “neraka”, namun dalam tulisan ini penulis lebih cenderung memaknai kata-kata tersebut sebagai kejatuhan martabat di atas. Selanjutnya, manusia juga sangat tidak suka terhadap apa yang disebut rugi. Semua manusia sangat senang kalau merasa memiliki untung. Hakikat untung di sini adalah bertambah, sedangkan hakikat rugi adalah berkurang, dalam arti berkurang dari apa yang diinginkan untuk dimiliki. Contoh: Orang merasa sangat senang kalau bertambah kekayaan ilmunya atau makin tajam analisanya, orang akan merasa sangat senang kalau bertambah tinggi pangkatnya atau kuat kekuasaannya, orang akan sangat senang kalau bertambah kekayaannya, orang akan sangat senang kalau bertambah sehat atau kebugaran tubuhnya, dan sebagainya. Tetapi, lagi-lagi manusia diingatkan Al-Qur’an, bahwa dirinya selalu diberi cobaan penyakit “lupa” di atas. Sebab, ayat Al-Qur’an yang berbicara dalam konteks masalah “rugi” ini juga memakai kata “insaan” ketika menyebut dunia manusia (Al’Ashr [103]: 2). Jadi, kalau sampai manusia menjadi “lupa” (lupa model, kedua dan ketiga di atas), maka manusia tersebut pasti akan mengalami apa yang disebut “rugi”. Bagaimana jalan keluarnya agar manusia tidak turun martabatnya dan sekaligus tidak rugi? Jawabannya adalah:

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

beriman dan beramal shalih (At-Tin [95]: 6; Al-‘Ashr [103]: 3). Dalam konteks pembicaraan ini, beriman di sini inti artinya adalah seluruh tindakan manusia diniatkan hanya untuk beribadah kepada Allah SwT (Adz-Dzariyat [51]: 56). Ini artinya, bekerja karena niat beribadah, menghormati orang lain karena niat beribadah, menolong orang lain karena niat beribadah, berhemat juga karena berniat ibadah, dan sebagainya. Katakanlah, ketika bergerak di permukaan planet bumi ini dalam kesehariannya senantiasa dicantolkan kepada “Yang di Atas” (Allah SwT). Kalau itu dilakukan, akan aman, benar, baik, indah, dan bermanfaat dalam arti yang sebenar-benarnya. Selanjutnya, beramal shalih di sini inti artinya adalah lebih banyak memberi daripada meminta. Jadi, lebih banyak memperhatikan “orang lain” daripada sekadar memuaskan kepentingan “diri sendiri”. Ini artinya, melayani orang lain atau layanan sosial jauh lebih menjadi perhatian daripada melayani untuk diri sendiri (layanan untuk diri pribadi). Bukti-bukti simbolik dalam peribadatan yang diajarkan agama Islam cukup banyak. Sebagai contoh, dalam ibadah shalat. Ketika memulai shalat, seorang Mukmin yang mengerjakannya senantiasa memulainya dengan menyebut “takbir”, Allahu akbar; ini adalah urusan vertikal (hablun mina-’l-laah). Ketika mengakhiri shalat, seorang Mukmin menyebut ucapan “salam”, assalamu ’alaikum wa rahmatullah: ini adalah urusan horizontal (hablun mina’n-naas). Ucapan “salam” ini pada hakikatnya adalah “memberi”, bukan ingin “diberi”. Ini artinya, bahwa anjuran “memberi” merupakan tema besar dalam keseharusan dalam hidup secara sosial ini. Atau dengan lain kata, layanan sosial tidak lepas dari sifat pokok bagi seseorang yang mengatakan “dirinya beriman”. Iman dan layanan sosial bagaikan dua wajah dalam sekeping koin. Agama Islam tidak mengajari untuk cenderung ekstrem) pada salah satu sisi dari dua wajah tersebut. Pahala dan harga manusia beriman bisa terukur lewat layanan sosialnya. Wallaahu a’lam bishshawaab.l


B I N A

A K H L A K

Pemimpin sebagai Khadim al-Ummah MUHSIN HARIYANTO

“Pemimpin yang mampu dalam memenangkan pertarungan kehidupan yang hakiki adalah pemimpin yang mampu menjadi pelayan bagi rakyatnya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah, sehingga rakyatnya mampu menjadi komunitas manusia penuh kemuliaan.” (Dikutip dan diselaraskan dari Jurnal MQ Vol.2/No.1/Mei 2002)) Sejarah Islam mencatat betapa besarnya perhatian para khalifah sebagai pemimpin umat terhadap urusan mereka. Sebut saja nama: “Umar bin Abdul Aziz”. Sejak dibaiat menjadi khalifah, beliau bertekad untuk mengabdikan segenap hidupnya untuk mengurus rakyatnya. Ada sebuah kisah yang dipaparkan oleh Atha’ bin Abi Rabah yang menceritakan bahwa isteri Umar bin Abdul Aziz, ‘Fathimah’, pernah menemui suaminya saat berada di ruang shalat rumahnya. Fathimah menemukan suaminya — Umar bin Abdul Aziz — tengah menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi janggutnya. Ia pun segera bertanya kepada suaminya itu, “Wahai suamiku, kenapa kau menangis? Adakah sesuatu yang telah terjadi?” Umar bin Abdul Aziz pun menjawab, “Fathimah, isteriku tercinta, sungguh di pundakku ada urusan umat Muhammad s.a.w. baik yang berkulit hitam maupun putih. Karenanya, aku berpikir tentang mereka kaum fakir yang lapar, orang sakit yang tak punya biaya, orang ‘telanjang’ yang terpinggirkan, orang yang dizalimi lagi dicengkeram, orang yang terasingkan dan ditawan, para manula yang sudah ‘tua-renta’, keluarga yang banyak anak tetapi sedikit hartanya, dan urusan lain mereka di setiap jengkal bumi dan negeri. Padahal, aku tahu bahwa Tuhanku pasti meminta pertanggungjawabanku kelak pada hari kiamat. Aku takut kelak tak memiliki hujjah (argumentasi) di hadapan-Nya. Itulah sebabnya aku menangis. Kalau akau menangis karena takut kepada Allah karena kesalahan-kesalahanku, salahkah

aku? Inilah, kesadaran spiritual yang langka dimiliki orang para pemimpin kita. Bahkan, tidak sedikit yang sudah ‘jelas-jelas bersalah’ pun masih tidak mau mengaku bersalah! Berkaitan dengan hal ini, penulis mempunyai cerita yang menarik tentang seorang perempuan tua yang tak mau menyebutkan nama aslinya. Sebut saja “Mbok Darmo” (bukan nama sebenarnya), isteri almarhum pak Darmo, yang setiap hari mengais sampah di kampus kami (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) tak pernah sekali pun mengenal dunia kampus secara formal. Namun “Dia” bukanlah sosok yang sama sekali ‘buta’ terhadap dunia kampus. Bahkan dalam beberapa hal dia ‘terlihat’ lebih cerdas dari pada orang-orang kampus. Pernah suatu hari dia bercerita bahwa ‘ada’ yang hilang di kampus ini. Dan saya pun bertanya: “Apa yang hilang, Mbok?” Dengan tersenyum, dia menjawab: “tiyang wonten mriki kirang saget ngajeni tiyang sanes” (sikap saling-menghargai sudah tidak ada lagi). Lha, para pemimpin kita ugi sampun sami manja, nyuwunipun dipun ladosi. Kedahipun, para pemimpin punika ingkang kedah ngladosi rakyatipun. Lha mbok menawi tata-laku para pemimpin kita punika ingkang sami dipun tuladani dening para mahasiswa? (Pemimpin kita sudah manja, selalu meminta untuk dilayani. Seharusnya merekalah yang melayani rakyatnya. Mungkin perilaku para pemimpin kita itulah yang banyak dicontoh oleh para mahasiswa). Para pemimpin kita – memang — sering mengucapkan kalimat indah: “Seorang pemimpin pada hakikatnya adalah “Seorang Pelayan”. Itulah ucapan ‘klise’ yang sering kita dengar dari para pemipin kita. Penulis masih ragu, apakah mereka masih ingat pada sabda Rasulullah s.a.w.: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka

pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian”. (Hadis Riwayat Muslim, Ahmad dan alDârimi, dari ‘Auf bin Mâlik al-Asyja‘i). . Begitu bencinya Nabi s.a.w. terhadap pejabat publik yang senang menyusahkan rakyatnya sehingga beliau mendoakan mereka: “Ya Allah, barang siapa yang memegang suatu urusan umatku, lantas ia menyusahkan mereka, maka timpakan kesusahan padanya. Barang siapa yang memegang urusan umatku dan memberikan kemudahan pada mereka, maka berilah kemudahan padanya.” (Hadis Riwayat Muslim dari Abdurrahman bin Syumamah). Sebaliknya, jika seseorang banyak membantu dan membebaskan kesulitan orang lain maka ganjarannya tidak sebatas ketika di dunia tapi juga berlanjut hingga di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.: “Dan barangsiapa yang membebaskan kesulitan seorang muslim maka Allah akan pasti membebaskan berbagai kesulitannya pada hari kiamat.” (Hadis Riwayat Bukhari-Muslim dari Abdullah bin Umar) Nah, pertanyaan yang perlu dilontarkan sekarang adalah: “siapkah para pemimpin kita saat ini menjadi penjaga umat, dan bersedia untuk menjadi yang utama dan pertama sebagai Khâdim al-Ummah (pelayan umat) seperti halnya “Dua-Umar” yang prestasi kepemimpinannya dicatat dengan tinta emas dalam sejarah kepemimpinan umat Islam (yang masingmasing memiliki hubungan nasab), Umar bin Abdul Aziz (salah seorang khalifah dari Bani Umayyah) dan Umar bin al-Khaththab (Khalifah Kedua)? Semoga!l Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UM Yogyakarta dan Dosen Tidak Tetap STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta.

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

41


B I N A

J A M A A H

BAGAIMANA MENGHADAPI JSM?

D

alam survei kecil-kecilan di banyak masjid di pelosok kampung dan desa, penulis sering menemukan hubungan langsung antara kondisi masjid dengan jamaahnya yang diketagorikan sebagai JSM atau jamaah sulit maju. Masjidnya kurang terpelihara, kumuh, berlumut, kamar kecilnya minta ampun kotor dan berbau. Pada masjid yang demikian adalah wajar atau dapat dimaklumi jika jamaahnya dikategorikan sebagai jamaah sulit maju. Akan tetapi sering pula penulis terkecoh oleh paradoks yang ada di kota besar atau di kota agak besar. Masjidnya megah, tampak bersih, tetapi masjid ini miskin kegiatan. Pengajian anakanak tidak ada, pengajian untuk muda-mudi sama saja, dan pengajian untuk orang tua hanya sebulan sekali diadakan, dengan format pengajian yang kurang menarik. Jadi jamaah sulit maju dapat ditemukan di masjid yang tidak maju atau yang kurang megah bangunannya, tetapi juga dapat ditemukan di masjid-masjid yang megah di kota-kota. Bentuk bangunan masjid tidak dapat serta merta dapat dijadikan ukuran bagi maju mundurnya jamaah masjid yang aktif di tempat itu. Lantas bagaimana cara untuk mencari tanda-tanda bahwa jamaah sebuah masjid, musholla atau langgar dapat disebut sebagai JSM atau jamaah sulit maju itu? Biasanya tanda-tanda yang muncul adalah; (1) tidak adanya cita-cita sosial dari jamaah itu, (2) tidak adanya tokoh simbolik atau faktual yang dapat dijadikan teladan atau rujukan di kalangan jamaah itu, (3) tiadanya keberanian dari kalangan jamaah untuk tampil menjadi pemimpin, (4) tidak adanya jaringan atau terputusnya jaringan antara jamaah masjid itu dengan jamaah masjid, musholla atau langgar lain, (5) terputusnya jalur sejarah antara sejarah masjid itu, sejarah sosial budaya jamaah itu dengan masa silam dan masa kini, (6) menghilangkan kader atau anak muda yang dapat diandalkan sebagai aktivis masjid, musholla atau surau, (7) adanya kecenderungan jamaah itu untuk menyukai sifat tertutup dan sudah merasa cukup dengan apa yang ada, bahkan ada yang merasa kalau jamaahnya sendiri paling hebat di dunia. Mari kita simak apa makna dari hadirnya tujuh tanda-tanda itu bagi sulit majunya jamaah masjid, musholla atau surau kita. Pertama, tidak adanya cita-cita sosial jamaah. Ini dapat dilihat dari tidak tahunya jamaah tentang untuk apa masjid itu dibuat, dan kemana jamaah itu akan mengarah pada hari ini dan di masa depan. Mereka memandang hadirnya sebuah masjid, musholla atau surau semata-semata hanya sebagai tempat ibadah shalat saja. Sebelum adzan dikumandangkan masjid sepi, dan setelah shalat jamaah selesai masjid kembali sepi. Hubungan emosional antara jamaah dengan tempat masjid hanya terbatas beberapa menit saat shalat berjamaah dilangsungkan. Kedua, tidak adanya tokoh simbolik atau faktual yang dapat

42

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

dijadikan teladan atau rujukan. Tokoh simbolik adalah tokoh kampung atau desa atau pendiri masjid atau orang alim di situ yang telah meninggal tetapi apa yang pernah dikatakan atau yang pernah diajarkan tetap diingat oleh jamaah masjid. Bahkan selalu diingat oleh masyarakat setempat. Jika tokoh simbolik ini ketika hidupnya pernah berkhutbah, berceramah atau berdialog dengan jamaah bahwa kehidupan beragama Islam hendaknya selalu berkemajuan maka jamaahnya pun akan mudah untuk maju. Yang dimaksudkan dengan tokoh faktual adalah tokoh kuat yang masih hidup yang rumahnya di sekitar lokasi berdirinya masjid. Tokoh umat yang sangat dekat jamaah ini kata-katanya didengarkan orang dan tindakannya ditiru jamaah. Jamaah masjid dan musholla, atau surau Muhammadiyah yang tidak didampingi oleh tokoh faktual dan simbolik menyebabkan jamaah kehilangan arah hidupnya. Ketiga, tiadanya keberanian dari kalangan jamaah untuk tampil menjadi pemimpin. Ini juga menjadi tanda sulit majunya jamaah. Kalau menjadi pemimpin saja tidak berani, apalagi kalau ditambah lagi dengan tidak beraninya jamaah memiliki dan mengembangkan ide, termasuk ide tentang kemajuan maka hampir dipastikan jamaah tersebut sulit untuk maju. Pada giliran berikutnya, muncul tanda keempat dan kelima. Yaitu terputusnya dengan jaringan sesama jamaah masjid dan terputusnya mereka dengan jaringan waktu bernama sejarah. Fungsi jaringan ruang dan waktu ini adalah dapat menjadi sumber dari inspirasi baru, gagasan baru dan pengalaman baru, atau pengalaman lama yang potensial diperbarui. Inspirasi, ide dan pengalaman ini dapat menjadi pendorong kemajuan. Kalau ketiganya tidak ada maka sulit sekali upaya kita untuk memajukan jamaah itu. Dari penelusuran di masjid dan musholla itu biasanya ada hubungannya antara hadir atau menghilangnya generasi muda dari kelompok jamaah masjid dengan maju atau mundurnya jamaah. Kalau generasi muda masih bersemangat dan puny ide dan sanggup meramaikan masjid maka masih ada harapan jamaah itu akan maju. Akan tetapi kalau sebaliknya yang terjadi yaitu munculnya gejala keenam, maka harapan akan munculnya gerak maju jamaah menjadi semakin tipis. Apalagi kalau kemudian di masjid, musholla atau surau itu munculnya gejala ketujuh, yaitu gejala makin tertutupnya masjid dan jamaahnya itu. Apalagi kalau selain tertutup, merasa cukup dengan apa yang ada kemudian ditambah lagi dengan munculnya keangkuhan bahwa jamaah tersebut adalah jamaah yang paling hebat se dunia. Segenap upaya untuk memajukan jamaah dan masjid akan terbentur dan membentur sikap dan sifat tertutup dari jamaah itu. Seandainya tujuh tanda di atas dapat dihilangan, dihapus dan yang muncul ada tanda positif yang sebaliknya maka makna JSM bukan lagi jamaah sulit maju, akan tetapi sudah menjadi jamaah suka maju. Mari kita buktikan.l Mustofa W Hasyim


K KALAM A L A M

Muhammadiyah dan Politik M MUCHLAS ABROR

M

UHAMMADIYAH adalah Gerakan Islam, Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta berasas Islam. Maksud dan tujuannya ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Persyarikatan ini, sejak kelahirannya hingga sekarang, tidak berjuang di lapangan politik serta tidak memiliki hubungan apa pun dengan kekuatan politik mana pun. Persyarikatan ini, sebagai Gerakan Dakwah dan Tajdid, bergerak di ranah dakwah dan berkiprah dalam pembinaan masyarakat dan bukan di kancah politik kekuasaan. Muhammadiyah tetap istiqamah bergerak di ranah pembinaan masyarakat dan di lapangan dakwah serta tidak ingin berbelok arah ke perjuangan politik kekuasaan. Sedikit pun tak pernah terlintas dalam pikiran Muhammadiyah bahkan bermimpi pun tidak untuk berubah menjadi partai politik. Kalau mau, sudah sejak dulu. Ketika Presiden Soeharto di rumahnya, pada tanggal 9 Desember 1966, menerima kunjungan silaturrahim PP Muhammadiyah, beliau menawari Muhammadiyah untuk menjadi partai. Menanggapi tawaran tersebut, PP Muhammadiyah selain mengucapkan terima kasih, juga menyampaikan pendiriannya bahwa Muhammadiyah memilih tetap sebagai gerakan dakwah. Presiden pun dapat memahami dan menghargai pendirian Muhammadiyah itu. Muhammadiyah memiliki beberapa Khiththah yang berkaitan dengan politik, antara lain Khiththah Ujung Pandang (keputusan Muktamar ke-38 tahun 1971), Khiththah Surabaya (keputusan Muktamar ke-40 tahun 1978), dan Khiththah Denpasar (keputusan Tanwir Denpasar tahun 2002). Khiththah dalam Muhammadiyah demikian penting, sehingga yang berhak memutuskannya adalah Muktamar atau sekurang-kurangnya Tanwir. Tanwir adalah permusyawaratan dalam Muhammadiyah yang tingkatnya berada di bawah Muktamar. Keputusan Tanwir dan Muktamar tentu mengikat dan harus dilaksanakan oleh segenap jajaran pimpinan dan warga Muhammadiyah. Beberapa Khiththah itu selama ini menjadi pegangan dan pedoman Muhammadiyah dalam memposisikan diri dan menyikapi politik yang senantiasa datang setiap saat ke dalam rumah Muhammadiyah. Tulisan “Muhammadiyah dan Politik” dalam kolom ini banyak merujuk pada beberapa Khiththah tersebut. Khiththah Ujung Pandang yang disempurnakan oleh Khiththah Surabaya pada dasarnya mengandung dua garis perjuangan Muhammadiyah sebagai berikut: 1. Muhammadiyah adalah Gerakan Dakwah Islam yang beramal dalam segala bidang kehidupan manusia dan masyarakat, tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan dan tidak merupakan afiliasi dari suatu Partai Politik atau Organisasi apa pun. 2. Setiap anggota Muhammadiyah sesuai dengan hak asasinya dapat tidak memasuki atau memasuki organisasi lain, sepanjang tidak menyimpang dari Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Persyarikatan Muhammadiyah. Khiththah Denpasar juga tetap berpijak pada dua Khiththah sebelumnya. Bahkan Muhammadiyah memberi kebebasan warganya untuk menyalurkan aspirasi politik masing-masing sesuai dengan hak asasinya. Penegasan tersebut tidak berarti bahwa Muhammadiyah alergi atau memandang negatif terhadap politik. Muhammadiyah tidak anti

terhadap politik. Muhammadiyah ingin berbagi tugas dan hanya mau fokus pada dakwah dan pembinaan masyarakat. Muhammadiyah meyakini bahwa politik dalam kehidupan bangsa dan negara merupakan salah satu aspek dari ajaran Islam dalam urusan keduniawian atau al-umur ad-dunyawiyat. Muhammadiyah mengakui bahwa politik penting dan strategis, meskipun banyak plus dan minusnya. Penegasan itu adalah penyadaran dan pemagaran diri bahwa Muhammadiyah bukan partai politik, tidak bergerak di bidang politik praktis untuk perjuangan mencapai kekuasaan negara. Selain itu penegasannya jelas untuk menegakkan dan menjaga netralitas dirinya dari mendukung, memihak, dan memobilisasi dukungan terhadap partai politik mana pun serta kegiatan politik praktis apa pun. Muhammadiyah meyakini bahwa perjuangan bisa ditempuh melalui dua saluran, yaitu: saluran politik dan saluran pengembangan masyarakat. Keduanya merupakan wahana yang mutlak diperlukan untuk membangun kehidupan. Masing-masing saluran perjuangan itu memiliki alat atau sarananya sendiri. Untuk perjuangan politik wadah sarananya adalah partai politik. Sedangkan perjuangan melalui pengembangan masyarakat wadah sarananya adalah organisai kemasyarakatan. Muhammadiyah memilih perjuangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui usaha-usaha pembinaan atau pemberdayaan masyarakat guna terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Kedua saluran itu sama-sama penting dan diperlukan. Muhammadiyah mendorong secara kritis perjuangan politik yang bersifat praktis atau berorientasi pada kekuasaan untuk dijalankan oleh partai-partai politik. Meskipun tidak melakukan politik praktis, Muhammadiyah harus tetap proaktif dalam peran-peran kebangsaan. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Muhammadiyah, sebagai moral force (kekuatan moral) dan interest group (kelompok kepentingan), menjalankan fungsi dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Muhammadiyah dapat melakukan silaturrahim dan lobi, menyampaikan pendapat dan pandangan yang konstruktif, kerjasama dengan berbagai komponen bangsa dan langkah-langkah lainnya untuk mendorong kebijakan yang positif dan mencegah kebijakan yang salah dari Negara/Pemerintah. Lebih dari itu, Muhammadiyah untuk lebih fokus menjalankan peran transformasi sosial untuk pemberdayaan, pembebasan, pembinaan, pembangunan, dan pencerahan masyarakat dan bangsa. Mestilah Muhammadiyah dalam segala keadaan tetap bergerak dalam dakwah dan pembinaan masyarakat dan tidak bergerak di lapangan politik praktis atau politik yang berorientasi pada kekuasaan. Muhammadiyah haruslah pula tetap proaktif dalam membangun masyarakat dan bangsa, menentukan sikap-sikap tertentu terhadap berbagai kebijakan negara, sebagai kekuatan moral bukan sebagai kekuatan politik. Muhammadiyah hendaklah tetap konsisten dalam mengemban misi dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid untuk rahmatan lil ‘alamin. Jika hal itu tetap dilakukan dengan baik, maka Muhammadiyah akan mendapat bantuan dan sambutan dari berbagai pihak yang telah dibuktikan selama ini sepanjang perjalanan gerakannya. Karena mereka tahu bahwa Muhammadiyah berkiprah untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan. Dan kiprah Muhammadiyah itu fakta serta nyata.l SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

43


HUMANIORA

Mas Bas CERPEN: M SYAHFRUDDIN / KETUA PRPM TRIRENGGO BANTUL

W

aktu itu Bapak berusia 51 tahun, ia ingin anaknya yang pertama melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, yang diharapkannya menolak dengan sopan. Mas Bas ingin bekerja untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Melunasi semua hutang orangtua yang pasti ada, demi aku dan saudara-saudaraku, oh Bapak-ibu. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Bapak dan iIbu sudah peras keringat banting tulang demi kelanjutan pendidikan kami. Mas Bas, kakakku berumur 20 tahun, ia sudah tamat dari Madrasah Aliyah. Sedangkan adikku kelas satu SMP dan aku sendiri baru menginjak kelas satu SMA. Usia Bapak semakin tua. Kata Mas Bas, kedua adiknya, termasuk aku, masih membutuhkan biaya pendidikan. Memang, sebagai buruh pabrik umur Bapak yang setengah abad bukanlah usia ideal. Kakakku berkorban untuk kami

*** Selama empat puluh delapan purnama di Arab Saudi, Mas Bas tidak pernah pulang. Ia bekerja sebagai penjaga toko swalayan di samping masjid Nabawi, Madinah. Setidaknya, itulah yang kuingat waktu membaca surat Mas Bas yang masih disimpan Bapak di lemari buffet baru. Komunikasi Mas Bas dengan kedua orangtua sebatas surat dan pelunasan hutang, kini sudah lunas. Hubungan persaudaraan denganku dan adikku berkisar seputar uang. Aku akan menyurati Mas Bas jika butuh duit. Tidak hanya itu, rumah kami sekarang sudah seperti rumah. Isinya pun juga sudah seperti isi rumah. Gentingnya tidak bocor. Lantai tanah berubah menjadi keramik. Yang terpenting, aku bisa kuliah dan adikku bisa melanjutkan sekolah. Suatu hari di bulan Juli, kuliahku libur dan aku pulang. Di rumah, istirahatku terganggu oleh suara Bapak yang seperti berbicara sendiri. “Alhamdulillah, Bapak dan Ibu dalam keadaan sehat wal afiat. Adikmu, Anang sudah lulus. Kuliah semester satu di Yogyakarta. Tinggal Rina yang masih kelas 1 SMA.” Bapak diam sejenak dan berkata lagi, ”Sudah lunas setahun lalu”. Aku mengintip dari kamar. Ternyata Bapak sekarang mempunyai handphone baru. Dan ia berbicara dengan seseorang melalui telponnya itu. Aku melanjutkan pengintaian, menguping, dan mencoba memahami pembicaraan Bapak. “Apa? ulangi!,” perintah Bapak kepada lawan bicaranya. Ia diam sambil mendengarkan. Sesaat kemudian Bapak menyahut lagi, “gajiku bisa kupakai memperbaiki rumah le, 44

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

membeli perabot, dan melengkapi isi rumah. Alhamdulillah, tidak usah risau lagi dengan keberadaan Bapak-Ibu di Indonesia”. Bapak diam lagi. “Sekarang Bapak mau tanya, kapan kamu pulang?.” Agak lama Bapak mendengarkan lawan bicaranya bercerita. Ia manggut-manggut, lalu menyeruput kopi kental khas Ponorogo dalam mug biru yang sedari tadi di atas meja. Dari kamar terdengar sruputannya “srrrrrtt”, menunjukkan gambaran kenikmatan seorang peminum kopi sejati. “Ya tidak apa-apa, kamu harus mulai berfikir masa depanmu sendiri. Aku dan ibumu sudah bisa hidup dari hasil garapan sawah yang kamu belikan. Kirimanmu sudah terlalu banyak, kini saatnya aku dan ibumu membiayai kuliah dan sekolah adik-adikmu”. Kini aku paham, Bapak berbicara dengan Mas Bas. Satu hal yang tidak segera kupahami, apa yang dikatakan Mas Bas pada Bapak. “Baiklah, besok Senin aku bukakan rekening di Bank. Setelah itu nomor rekeningnya biar dikirim Anang padamu.” Aku berfikir, buat apa Mas Bas meminta Bapak untuk membuat rekening lagi?. Bukankah sebelum ini ia sering mengirim uang ke rekening yang biasanya. Ah, mengapa aku harus berteka-teki, nanti Bapak pasti bercerita. “Wadhuh, ibumu lagi di sawah le. Nanti habis maghrib telpon lagi, ibu pasti di rumah”. Bapak sekarang mondar-mandir di dekat pintu. Tangannya masih menempelkan telepon di telinga. Dibukanya pintu itu dan kepalanya mendongak ke luar, tengok kiri dan kanan seperti mencari-cari seseorang yang mungkin sedang berada di depan rumah. Ada orang lewat, tapi kelihatannya bukan yang dimaksud. “Oh, iya-iya……selisih waktunya empat jam. Ya sudah, lain waktu ibumu aku kasih tahu kalau kamu mau telpon.” Bapak masuk ke rumah lagi, “Nanti aku sampaikan ke ibu, wa’alaikum salam.” Dengan diucapkannya salam berarti pembicaraan di telpon sudah selesai. Kudengar langkah kaki berbunyi dhug dhug dhug semakin mendekat ke arah kamar. Kaki Bapak memang besar, selalu menimbulkan efek bunyi yang khas bila melangkah. Kaki itu dulu tidak pernah memakai alas jika ia pergi ke sawah, sehingga menjadi lebar, menjadi saksi kerasnya kehidupan yang dihadapi Bapakku. Benar, Bapak masuk kamarku, “Nang, tadi Mas Bas telepon, sekarang Bapak akan bercerita.” ***


HUMANIORA Purnama ke tujuh puluh dua Bapak menderita sakit typhus. Aku mewajibkan diriku pulang ke Ponorogo, langsung menuju rumah sakit. Kata Ibu, sudah lima hari Bapak opname. Jika tidak dibawa pulang, maka biaya perawatan akan semakin bertambah. Sayang sekali, dokter tidak mengizinkan Bapak pulang dan harus tetap rawat inap. Lebih dari tiga juta rupiah dihabiskan untuk merawat Bapak. Nominal yang bagi kami cukup besar. Sebagian dari uang itu hasil meminjam dari kakek yang tinggal di Ngawi. Apalagi sekarang masanya paethe2, jadi tidak ada apa-apa yang bisa dijual. Ibu berfikir mau cari uang kemana?. Akhirnya dia teringat pada tabungan hasil kiriman Mas Bas. Hatinya agak riang mengingat ada jalan keluar baru. Segera saja Ibu menyuruh aku menelpon Mas Bas untuk minta izin mengambil uang tersebut. “Assalamualaikum, Mas,” aku mengawali “Wa’alaikum salam warahmatullah, apa kabar,” jawabnya “Ini Mas, Bapak sakit typhus dan sekarang dirawat di rumah sakit di Ponorogo. Aku minta izin mengambil tabungan untuk biaya perawatan Bapak,” kataku. “Rekening yang mana?” “Rekening yang nomornya aku kirim pada Mas dua tahun lalu, kan isinya banyak Mas…” Ternyata, jawaban Mas Bas sungguh di luar dugaan. Dia tidak memperbolehkan Ibu mengambil tabungan di Bank. Yang lebih menjengkelkan, Mas Bas menyuruh aku meminjam uang kepada orang lain. Tentu saja, Ibu marah, namun ia pendam sendiri. “Mengapa tidak boleh, kalau tabungan Mas Bas untuk persiapan nikah, apa salahnya jika dia yang meminjami dulu demi kesembuhan Bapak”, gumamku dengan muka masam tanpa pelampiasan. Aku tidak cukup keberanian memarahi dia. Akhirnya, aku menghubungi teman-teman kuliah untuk pinjam uang. Dalam waktu satu hari, rekeningku bertambah tiga juta, pinjaman itu aku dapatkan. Dua hari kemudian, Bapak dinyatakan sembuh oleh dokter. Hati kami sekeluarga lega, tapi menyisakan perasaan tak menentu pada Mas Bas. *** Purnama ke delapan puluh Aku dan Rina menjadi saksi ketika Bapak bercerita kepada Ibu, ia menerima telepon dari Mas Bas: “Uangnya berjumlah tujuh puluh dua juta rupiah, nak. Lebih dari cukup untuk biaya resepsi pernikahanmu,” kata Bapak. Mas Bas bertanya lagi, “Bapak punya hutang tidak.” “Alhamdulillah, tidak nak”, jawab Bapak. “Sekarang begini,” Mas Bas menimpali, “Bapak boleh mengambil uang tabunganku yang ada di Bank. Setelah itu, Bapak silakan mengajak Ibu pergi ke Departemen Agama untuk menyusul aku ke Tanah Suci bulan Dzulhijjah tahun ini. Habis itu, aku akan turut serta ke Indonesia”. Bisa jadi, tadi menjelang Subuh, Bapak mengalami mimpi

puspa tajem. Orang Jawa bilang, inilah mimpi yang mendekati kebenaran dan benar-benar akan terjadi. Pertanda yang tidak semua orang pernah menyaksikan. Sekali lagi: katanya. Untaian kata-kata dari Mas Bas menjadi kalimat, kumpulan kalimat menjadi paragraf, selanjutnya tersusunlah cerita. Memang berbelit-belit, namun Bapak langsung bisa menangkap maksudnya. Bapak menceritakan kepada Ibu secara rinci obrolannya dengan Mas Bas. Baru sekali ini seumur hidupku, mereka berdua menangis bahagia bersama. Hal yang tidak diimpikan menjadi kenyataan. Aku dan Rina turut menitikkan air mata. *** Aku tidak tahu pasti berapa gajinya. Setahuku, uang kiriman dari Mas Bas setiap bulan benar-benar membantu perbaikan ekonomi keluarga. Meskipun begitu, Bapak tetap bekerja sebagai buruh pabrik dan Ibu tetap pergi ke sawah. Berkat perjuangan ketiga pahlawan ini, aku bisa lulus SMA dan melanjutkan kuliah ke Yogyakarta. Aku ingat waktu Bapak menceritakan pesan Mas Bas dalam telpon yang sebelumnya tak aku pahami, “Syukurlah, selanjutnya aku akan tetap mengirim uang pada Bapak tiap bulan. Tapi harus ditabung ya pak, dan jangan diambil, apapun yang terjadi,” pesan Mas Bas. Dengan terheran-heran Bapak menyanggupi permintaan Mas Bas. Dan benar, Bapak dan Ibu berkomitmen menabung uang itu. Selama dua tahun, tabungan tidak diambil sama sekali. Termasuk, tidak boleh diambil ketika Bapak sakit. Sebagai pelaku sejarah, itulah yang membuatku benci pada Mas Bas. Setelah semua terjadi, terselip pesan Mas Bas yang bermaksud menyadarkanku, meskipun tidak pernah kudengar ia berkata begitu. Aku juga bisa mengusahakan yang selama ini Mas Bas lakukan pada kami, sewaktu Ibu kesulitan membiayai opname Bapak. Mas Bas membuktikan bahwa aku mampu. Lalu kupikir, apa hak-ku membenci Mas Bas. Membenci orang yang memegang teguh janji. Seharusnya dia yang punya kewajiban membenciku. Adik yang selama ini dibiayai namun tak tahu cara berterimakasih. Aku juga mengaku salah, silaturahmi dengannya baru kujalin lantaran sedang butuh. Aku baru ingat, kakakkulah yang selama ini memperbaiki ekonomi keluarga, menyekolahkan aku dan adikku tanpa meminta pamrih, serta menghajikan Bapak Ibuku. Kini, aku mulai menggali nilai-nilai yang selama ini dijalankan Mas Bas, bukan berusaha meniru apa yang sudah dilakukannya. Itu tidak mungkin. Bisakah diriku menjalankannya?l

Rubrik Humaniora ini dipersembahkan oleh

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

45


K E L U A R G A

S A K I N A H

Ayah Terlalu Mengekangku Assalamu’alaikum wr. wb. Ibu Emmy yang baik, saya gadis (22 tahun), bungsu dari 3 bersaudara. Kami dari keluarga yang religius dan disiplin. Sebetulnya, saya termasuk gadis yang supel, namun sejak SMP ayah membatasi pergaulan terutama dengan lawan jenis. Saya pun jadi pendiam pada laki-laki maupun perempuan. Di SMA saya tidak punya banyak teman. Di masa kuliah, saya kos karena kuliah di luar kota. Saya bisa lebih bebas, meski masih agak tertutup pada lawan jenis. Tapi kata teman-teman saya orangnya cerewet dan ceria. Di masa SMP, saya pernah jatuh cinta pada kakak kelas, F. Dulu kami saling suka, dan sering kontak lewat facebook. Tapi sekarang rupanya ia tidak ingat. Pernah saya mengontak lewat telpon, tapi tidak jadi karena tidak berani. Sementara ayah masih suka curiga, dan mewanti-wanti supaya tidak pacaran dan tidak melupakan kuliah. Kenapa ayah selalu curiga, padahal saya termasuk tidak aneh-aneh. Di usia saya sekarang ini saya belum pernah pacaran, kadang saya minder. Apa saya kurang cantik atau terlalu tertutup? Saya takut jadi perawan tua dan kadang menangis karena ingin merasakan pacaran. Saya heran dan iri melihat teman-teman yang tidak terlalu cantik, tapi banyak pria yang mendekatinya. Kini, saya memilih fokus pada kuliah, tapi juga ingin merasakan mencintai laki-laki. Hubungan saya dengan ayah agak renggang, karena saya jengkel dengan sikapnya. Pernah terbersit untuk jadi gadis nakal, biar ayah malu atau tidak nikah sekalian. Bu, saya masih sering memikirkan F. Saya tidak ingin memendam perasaan pada F, tapi juga tidak tahu bagaimana harus memulainya. Apa yang harus saya lakukan, Bu? Mohon saran Ibu. Terima kasih atas jawaban Bu Emmy. Wassalamu’alaikum wr. wb. An, somewhere Wa’alaikumsalam wr. wb. An yang baik, ketika ayah melarang dan membatasi pergaulan An, kemarahan yang An rasakan adalah kemarahannya, karena secara sadar An tidak mau mengikuti larangan-larangannya. Tetapi di bawah sadar, pengaruh ayah sebenarnya sangat kuat, sehingga saat berjauhan pun An merasa harus tetap mengikuti larangan ayah. Kini, saya kok yakin An sudah mulai bisa mengatakan pada

diri sendiri bahwa, tidak mengapa tidak bergaul bebas, karena bisa membuat saya lebih konsen kuliah. Artinya, seiring bertambahnya pengalaman, An bisa melihat sisi lain apa yang ayah khawatirkan. Ini pertanda positif, meski saya juga tidak bisa mengatakan apa yang ayah An lakukan 100% benar untuk An. Paling tidak, bisa menjadikan An lebih berhati-hati dalam memulai berhubungan dengan lawan jenis, dan kuliah tetap lebih utama. Sejauh ini, An mengatakan kesempatan untuk bergaul lebih terbuka dengan lawan jenis, tapi An masih jaga jarak. Bukankah hal ini menyebabkan peluang untuk mengenal dan dikenal lakilaki jadi kurang atau malah tak ada. Sementara ketika melihat sekeliling, teman-teman sudah punya pacar, sedang An masih jomblo. Ditambah lagi dengan keadaan An yang tidak banyak punya teman laki-laki, membuat An berkelana mencari teman masa lalu. Sehingga F pun termasuk yang menjadi perhatian An. Dan menempati tempat istimewa di hati An. Tapi, tanpa keberanian diri untuk mengatakan pada F siapa sebenarnya An, ya, An hanya akan dininabobokan oleh bayangan. Perasaan yang menyertai ini tidak enak, lho. Akan ada banyak hal yang menyakitkan ketika kita mengetahui status FB-nya sekarang, karena memang ia tak tahu An memantaunya terus. Maka, saya kira suatu kebodohan bila An berlama-lama membayangkan untuk pacaran lagi dengan F, kali ini dengan gaya pacaran dewasa, sementara F tidak punya perasaan yang sama dengan An. Kebingungan yang muncul karena sibuk membayangkan segala sesuatu yang belum tentu terjadi pastilah membuat wajah An murung. Cepat tersinggung dan tidak berani lagi bergaul dengan laki-laki. Tidak ada untungnya lho, karena An hidup dalam bayangbayang rasa takut yang An tumbuh-tumbuhkan dalam hati. Saran saya, beranilah hidup di hari ini dengan kedua kaki tetap berpijak di bumi. Dan katakana pada diri bahwa An sudah cukup dewasa untuk memutuskan bagaimana kebutuhan An bisa dipenuhi dengan tetap menjaga rambu yang ditetapkan ayah tidak An langgar. Mulailah berteman dengan siapa saja. Dan menjadikan prestasi kuliah sebagai prioritas. Berhentilah membayang-bayangkan F, bila tak kunjung berani memperkenalkan diri. Jangan lupa dekatkan diri pada Allah. Yakinlah, Allah sudah menyediakan jodoh untuk An. Tetap semangat dan cerialah selalu.l

Kami membuka rubrik tanya jawab masalah keluarga. Pembaca bisa mengutarakan persoalan dengan mengajukan pertanyaan. Pengasuh rubrik ini, Emmy Wahyuni, S.Psi. seorang pakar psikologi, dengan senang hati akan menjawabnya.

46

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H


KRONIK DUNIA ISLAM

ENNAHDA, PARTAI PEMENANG PEMILU DI TUNISIA

S

elama bertahun-tahun, Tunisia dikenal sebagai negara yang paling Eropa di Afrika Utara. Dengan kelas menengah yang relatif besar, norma-norma sosial liberal, kesetaraan gender yang luas, dan pantai Mediterania yang membentang . Pada Januari 2011 berada di tengah panggung landasan gelombang demonstrasi yang melanda dunia Arab. Untuk semua ciri-ciri modern, Tunisia memiliki salah satu pemerintah paling represif di daerah yang penuh polisi negara bagian, dan tingkat korupsi di kalangan elit yang tidak tertoleransi setelah kelesuan ekonomi yang melanda Eropa Selatan menyebar ke berbagai negara. Pemberontakan dimulai pada Desember 2010, ketika Mohamed Bouazizi, mempersiapkan dirinya pada kobaran api di kota miskin, Sidi Bouzid, memprotes kurangnya kesempatan dan tidak hormat terhadap polisi. Dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Jasmine, gelombang protes yang tiba-tiba dan eksplosif di jalanan, bertujuan menggulingkan presiden otoriter, Zine el-Abidine Ben Ali, yang memerintah dengan tangan besi selama 23 tahun. Pada 14 Januari, Ben Ali meninggalkan Tunisia setelah gagal mencoba menenangkan para demonstran dengan janji-janji pemilu. Menurut data pemerintah yang dikeluarkan kemudian, 78 demonstran tewas dan 94 terluka selama demonstrasi. Dalam pemilihan umum bebas pertama di negara itu, jutaan rakyat Tunisia memberikan suara pada 24 Oktober 2011 lalu guna merancang dan menyusun konstitusi serta bentuk pemerintahan baru. Dalam ledakan kebanggaan dan harapan bahwa setelah pemberontakan inspiratif di seluruh dunia Arab, negara kecil mereka sekarang bisa memimpin jalan menuju demokrasi. Partai Islam moderat, Ennahda, muncul sebagai pemenang, dengan perolehan suara 41% menurut para pejabat pemilihan. Ennahda akan memimpin pembentukan pemerintah koalisi baru dan nama perdana menteri, dan juga akan menuai suara paling keras di parlemen karena menulis sebuah konstitusi baru. Pada 27 Oktober, pemimpin partai Ennahda, Rachid Ghannouchi, mengimbau agar tetap tenang di Sidi Bouzid. Hari berikutnya, pasukan menembakkan peluru ke udara untuk membubarkan kerumunan demonstran yang mencoba menyerang kantor-kantor pemerintah. Partai Ennahda memiliki sejarah panjang oposisi terhadap kediktatoran sebelum penganiayaan Ben Ali menghancurkan budaya itu pada 1990-an. Para pemimpin Ennahda mengatakan, mereka berharap untuk mendirikan sebuah tatanan demokrasi yang akan melindungi hak-hak individu dan minoritas, terlepas dari siapa yang berada di dalam kekuasaan. Mereka sering

mengutip model Turki, demokrasi sekuler sekarang diatur sebuah partai dengan identitas Islam. Partai Ennahda, yang dilarang selama beberapa dekade dan para pemimpinnya terpaksa mengungsi ke luar negeri, mencoba untuk meyakinkan tentang prospek pemerintahan Islam di salah satu negara dunia Arab yang paling liberal dengan mengatakan, ia akan menghormati hak-hak perempuan dan tidak mencoba untuk memaksakan kode moral Islam pada masyarakat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, rakyat Tunisia banyak yang mengatakan, mereka memperkirakan penghitungan suara jujur mereka untuk menentukan masa depan negara. Banyak orang menyatakan, pemungutan suara itu sendiri akan mengubah Tunisia untuk peduli. Beberapa berpendapat, demokrasi akan membuat pejabat publik lebih akuntabel. “Orangorang yang berkuasa tahu, kita akan menjaga pengawasan yang ketat,� kata Kamel Abdel, 45, guru filsafat sekolah tinggi di daerah kumuh padat Tadamon. Di sisi lain, kebanyakan para pemilih mengatakan kekhawatiran terbesar mereka adalah masalah ekonomi dan pekerjaan di Tunisia. Republik Tunisia, adalah sebuah negara Arab Muslim di Afrika Utara, tepatnya di pesisir Laut Tengah. Tunisia berbatasan dengan Aljazair di sebelah barat, dan Libya di selatan dan timur. Di antara negara-negara yang terletak di rangkaian Pegunungan Atlas, wilayah Tunisia termasuk yang paling timur dan terkecil. 40% wilayah Tunisia berupa padang pasir Sahara, sisanya tanah subur. Tunisia memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang beragam, mulai dari pertanian, pertambangan, manufaktur, dan produk minyak bumi, termasuk pariwisata. Tunisia juga merupakan salah satu negara Afrika dan Timur Tengah yang berpendapatan tinggi. Sektor pertanian 11,6%, industri 25,7%, dan jasa 62,8%. Sektor industri terutama terdiri dari manufaktur pakaian dan alas kaki, produksi suku cadang mobil, dan mesin listrik. Kendati pertumbuhan 5%, selama dekade terakhir Tunisia terus mengalami tingkat pengangguran yang tinggi, terutama di kalangan pemuda. Pada 2009, menurut Forum Ekonomi Dunia, Tunisia memiliki peringkat ekonomi paling kompetitif di Afrika dan menduduki peringkat nomor 40 di dunia. Tunisia berhasil menarik perusahaan-perusahaan internasional seperti Airbus dan HewlettPackard. Uni Eropa tetap merupakan mitra perdagangan pertama Tunisia. Merupakan mitra dagang 30 terbesar dari Uni Eropa. Tunisia adalah negara pertama yang menandatangani Perjanjian Asosiasi Mediterania dengan Uni Eropa pada Juli 1995.l au – dari berbagai sumber

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

47


HADLARAH

GERAKAN WAHABI DANI FADILLAH, S.I.KOM

W

ahabi adalah nama gerakan Islam yang dinisbatkan kepada tokoh pendirinya. Namanya Muhammad bin Abdul Wahab (11151206 H/1701-1793 M). Lelaki kelahiran Nejd ini pengikut mazhab Hanbali, kemudian berijtihad dalam beberapa masalah, sebagaimana diakuinya sendiri dalam kitab Shiyânah al-Insân karya Muhammad Basyir as-Sahsawani. Meski demikian, hasil ijtihad Muhammad bin Abdul Wahab dinilai bermasalah oleh ulama Sunni yang lainnya. Sesungguhnya, nama gerakan “Wahabi” dipakai oleh para rival politik Muhammad bin Abdul Wahab. Nama “Wahabi” telah dikubur oleh para pengikutnya sendiri. Mereka tidak pernah menggunakan nama ini untuk menyebut gerakan puritan yang pernah mendominasi peta politik di Arab Saudi. Menurut mereka, ajaran Muhammad bin Abdul Wahab adalah ajaran Nabi Muhammad saw, bukan ajarannya sendiri. Oleh karena itu, para pengikut ajaran Muhammad bin Abdul Wahab enggan menisbatkan gerakan kepada tokoh pendirinya. Justru, mereka lebih memilih untuk menyebut diri sebagai kaum Muwahhidûn. Secara kharfiah, nama ini berarti “orang-orang yang mentauhidkan Allah”. Secara historis, gerakan Wahabi telah mengalami beberapa kali metamorfosis. Mula-mula adalah gerakan keagamaan murni yang bertujuan untuk memurnikan tauhid dari syirik, takhayul, bid’ah, dan churafat, yang dimulai dari ‘Uyainah, kampung halaman pendirinya pada tahun 1740 M. Di kampungnya, gerakan ini mendapatkan penentangan yang keras. Muhammad bin Abdul Wahhab pun sempat terusir dari kampung halamannya sendiri dan ia harus berpindah ke Dar’iyyah. Di sinilah, pendiri Wahabi itu mendapat perlindungan politik dari Muhammad bin Saud, yang notabene bermusuhan dengan Amir Uyainah. Dalam kurun tujun tahun, sejak tinggal di Dar’iyyah, dakwah Wahabi berkembang pesat. Pada tahun 1747 M, Muhammad bin Saud menyatakan secara terbuka penerimaannya terhadap berbagai pemikiran dan pandangan keagamaan Muhammad bin Abdul Wahab. Keduanya menjalin kontrak politik yang saling menguntungkan. Dalam kurun 10 tahun, wilayah kekuasaan Muhammad bin Saud berkembang seluas 30 mil. Perluasan wilayah kekuasaan Ibnu Saud menguntungkan bagi Abdul Wahab. Kontrak politik dengan Ibnu Saud, Muhammad bin Abdul Wahab secara leluasa mengembangkan gerakan dakwah dan

48

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

pengaruhnya di wilayah kekuasaan Ibnu Saud. Apalagi, Ibnu Saud secara getol memberikan dukungan politik kepada Muhammad bin Abdul Wahab. Namun demikian, pengaruh gerakan ini berhenti sampai di wilayah Ihsa’ pada tahun 1757 M. Ketika Ibnu Saud meninggal dunia tahun 1765 M, kepemimpinannya diteruskan oleh anaknya, Abdul Aziz. Peralihan kekuasaan tidak membawa dampak yang cukup berarti bagi perkembangan gerakan ini, kecuali setelah tahun 1787 M. Dengan kata lain, selama 31 tahun (19571788 M), ajaran Wahabi stagnan. Pada tahun 1787, setelah Abdul Aziz mendirikan Dewan Imarah menandai lahirnya sistem monarki baru. Gerakan Wahabi pun terlibat dalam ekspansi kekuasaan yang didukungnya, sekaligus menyebarkan paham yang dianutnya. Pada tahun 1788 M, mereka berhasil menyerang dan menduduki Kuwait. Melalui metode baru ini, gerakan Wahabi menimbulkan instabilitas di wilayah Khilafah Turki Utsmani; di semenanjung Arabia, Irak, dan Syam yang bertujuan melepaskan dari wilayah kekuasaan Khilafah. Gerakan mereka akhirnya berhasil dipukul mundur dari Madinah pada tahun 1812 M. Benteng terakhir mereka di Dar’iyyah pun berhasil diratakan dengan tanah oleh pasukan Turki Usmani pada tahun 1818 M. Sejak itu, nama Wahabi seolah terkubur dan lenyap ditelan bumi. Biarpun gerakan telah bubar, tetapi ideologi tidak pernah mati. Ajaran dan pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab masih mengendap di kalangan umat Islam. Demikian juga, hubungan penganut dan pendukung Wahabi dengan keluarga Ibnu Saud. Metamorfosis berikutnya terjadi ketika gerakan ini mengubah nama. Nama Wahabi tidak pernah digunakan lagi, mungkin karena secara ideologis dan politis sangat rentan. Akhirnya, mereka lebih suka menyebut diri sebagai kaum Salafi. Namun, pandangan keagamaan dan cara mereka berdakwah tetap sama seperti gerakan Wahabi. Inilah fakta sejarah tentang gerakan yang pertama kali dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Dari fakta ini jelas sekali, bahwa Wahabi (Salafi) ikut membidani lahirnya Kerajaan Arab Saudi. Oleh karena itu, tidak aneh jika kemudian gerakan Wahabi (Salafi) senantiasa menjadi pendukung kekuasaan Ibnu Saud. Sekalipun kaum Wahabi (Salafi) sering berdalih bahwa gerakan mereka bukan merupakan gerakan politik, tetapi


HADLARAH

faktanya sudah amat jelas. Di Tanah Air, di antara gerakan-gerakan Islam yang sering dihubungkan dengan paham Wahabi adalah Muhammadiyah. Dengan menilik tujuan dan strategi gerakannya, benarkah Muhammadiyah berpaham Wahabi? Menyamakan Muhammadiyah dengan paham Wahabi jelas keliru besar. Muhammadiyah adalah organisasi masyarakat yang berideologi Islam. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kehidupan Islam dengan sebuah visi untuk membentuk “masyarakat Islam yang sebenarbenarnya” (MIYS) dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Terlebih, Muhammadiyah secara organisatoris membatasi diri untuk tidak berkecimpung dalam dunia politik praktis. Muhammadiyah tidak pernah terlibat dalam pendirian rezim mana pun yang berkuasa saat ini di berbagai belahan dunia. Tujuan dan pola gerakan Muhammadiyah ini jelas berbeda dengan gerakan Wahabi. Paham keagamaan Wahabi yang keras, ditambah ketidaktahuan mereka tentang konstruksi masyarakat yang multikultural, maka wajar jika sejarah gerakan Wahabi senantiasa “berlumuran darah.” Situs-situs

penting dan bersejarah dalam dunia Islam pun pernah mereka hancurkan. Ini jelas berbeda dengan Muhammadiyah yang tahu persis konstruksi masyarakat sehingga dalam dakwahnya tidak pernah menyerang manusia atau obyek-obyek fisik, seperti situs-situs penting dan bersejarah. Selama ini dakwah Muhammadiyah dikenal sebagai dakwah fikriyyah lâ ‘unfiyyah (intelektual dan nir-kekerasan). Pendek kata, perbedaan Muhammadiyah dengan Wahabi begitu jelas dan nyata. Bagi kelompok yang menyamakan Muhammadiyah dengan paham Wahabi bisa jadi karena tidak mengerti tentang kedua-duanya, atau memang itu disengaja untuk melakukan monsterisasi terhadap Muhammadiyah. Tujuannya, agar gerakan Muhammadiyah disalahpahami, dibenci, lalu dimusuhi oleh umat. Lalu, siapakah yang diuntungkan dengan semuanya ini? Wallahu A’lam!l Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kabupaten Sleman, tenaga pendidik SMP-SMA Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta. SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

49


WAWASAN

BELAJAR DARI KEPEDULIAN SOSIAL KH AHMAD DAHLAN DRS H MARJOHAN, MM

Dalam penafsiran KH Ahmad Dahlan, surat Al-Ma’un (1-7) secara substantif mengandung beberapa pesan. Pertama, orang yang acuh tak acuh terhadap kaum dhu’afa, tergolong si pendusta agama. Kedua, ibadah shalat sebagai ibadah mahdhah memiliki dimensi sosial yang tidak diragukan sedikit pun. Lebih menukik lagi, tidak ada faedah shalat bila tidak dibarengi dengan ibadah sosial. Ketiga, melakukan amal shalih tidak boleh riya, seperti ingin mencari nama atau popularitas atau berudang di balik batu demi uang. Keempat, tidak sedikit orang yang terjerembab ke dalam egoisme sehingga enggan mengulurkan pertolongan (material dan imaterial) terhadap kaum mustadh’afin.

K

H Ahmad Dahlan dengan segenggam motivasi dan aplikasi sengaja mengajarkan surat Al–Ma’un di atas pada jamaahnya secara berulang-ulang. Dalam memupuk kepedulian sosial umat, KH Ahmad Dahlan tak terperangkap dengan teori-teori muluk — yang kadang amat melangit— seperti yang menggejala di alam kontemporer kini. Tapi, tokoh yang bernama kecil Muhammad Darwis dan pernah menimba ilmu kepada Syeikh Ahmad Khatib al–Minangkabawy, bahkan rela berkorban moril dan material demi mempraktikkan sensibilitas dan cita-cita sosial umat, yaitu tercapainya sebuah masyarakat egaliter yang peduli kaum dhu’afa (ekonomi lemah). Masih berpijak pada spirit surat Al–Ma’un, satu ketika KH Ahmad Dahlan, memukul kentongan guna mengum-

50

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

pulkan para tetangganya. Apa gerangan? Kiranya kaumkerabat dan handai-tolan bersedia membeli perabot rumah tangganya dalam sebuah lelangan spontan. Dijelaskan beliau bahwa hasil lelang akan digunakan untuk menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Cita-cita Sosial versus Realitas Bila dikerucutkan, paling tidak cita-cita sosial KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya berkisar pada empat persoalan esensial, yaitu: ukhuwah (persaudaraan), hurriyah (kemerdekaan), musawwah (persamaan) dan ‘adalah (keadilan). Namun, di sigi pada ranah realita, Persyarikatan Muhammadiyah hingga di usianya yang sudah 99 tahun (menurut perhitungan tahun masehi) atau 102 tahun menurut tahun hijrah, baru menyikapi sejumlah kecil cita-cita sosial yang diwariskan KH Ahmad Dahlam tersebut. Sudah tentu kiat-kiat menggapai cita-cita sosial yang demikian runyam dan komplek kini, dan dipertautkan dengan apa yang telah dicapai Muhammadiyah terkesan belum memadai. Ketika Muhammadiyah berhadapan dengan masyarakat agraris yang serba sederhana pada 1960-an, aktivitas yang digeluti Muhammadiyah tampak begitu relevan dan bahkan bersipongang (bergema— Red.) di depan sejarah. Namun, ketika Muhammadiyah


WAWASAN kini berhadapan dengan era industrialisasi dengan segala implikasinya, maka konsep-konsep perjuangan, pranata– pranata organisasional plus corak leadership yang ada sejatinya berada di depan perubahan sosial plus perubahan budaya yang kian menapak maju. Bersangkut-paut dengan hal itu, persoalan sosial yang mesti disikapi organisasi reformis dan modernis ini ke depan, bahkan sekarang juga, tidak lain adalah hal-ihwal kemiskinan. Pasalnya, walau sudah 13 tahun reformasi, demokratisasi, dan juga otonomi bergulir di negeri ini, namun sekitar 38 juta jiwa —dari populasi penduduk terpaut angka 237,56 juta jiwa (sensus 2010)— masih terhuyung-huyung dalam lumpur kemiskinan yang kian meluas. Yang membuat kening banyak orang berkerut, kemiskinan yang diidap itu tidak cuma kemiskinan material, tetapi juga terpuruk dalam kubangan kemiskinan spiritual, kemiskinan intelektual, kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural. Berbarengan dengan kebijakan Pemerintah yang dinahkodai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu, kian menghempaskan komunitas miskin ke lembah yang lebih miskin. Walau Pemerintah berupaya menopang lewat bantuan langsung tunai (BLT) bagi sekitar 15,1 juta rumah tangga miskin yang disantuni Rp.100 ribu/bulan selama setahun, namun hal semacam itu hanyalah sekadar menyuguhkan pil penenang bagi masyarakat miskin. Program BLT ini nyaris sama dan sebangun dengan program Inpres Desa Tertinggal (IDT) pada 1994-1998 pada masa Pemerintah otoritarian Orde Baru yang mengalokasikan dana sejumlah Rp 57.000.000 untuk setiap desa. Hasilnya, hanya membuat komunitas miskin jadi cengeng, dan jauh dari kemandirian seperti yang diharapkan. Menyikapi hal tersebut, setidaknya ada dua upaya yang bisa ditawarkan. Pertama, cara perbaikan incremental, yaitu menggugah kesadaran kaum berpunya (aghniya) untuk mendongkrak sensibilitas plus sensitivitas sosial mereka agar rela memberikan sebagian kekayaanya guna memperkecil kesenjangan sosial yang masih menganga di tengah masyarakat. Dalam konteks ini, sesungguhnya kewajiban zakat, infak, shadaqah, wakaf, hibah, hadiah dan lain sebagainya yang dituntut plus dituntunkan Islam dapat dikatakan termasuk kategori ini, seperti yang tersurat dalam surat At-Taubah: 60. Kedua, cara reformatif, berupa perubahan yang cukup drastis dengan catatan tanpa menelungkup-menelentangkan struktur ekonomi dan politik yang ada. Perubahan reformatif, tidak lain adalah sebuah perubahan yang bertumpu pada political will yang kuat lewat perundang-undangan dengan penegakan hukum yang tegas. Misalnya, memberlakukan UU anti monopoli dan monopsoni tanpa pandang bulu dan pandang kartu (diskriminatif); dan mengimplementasikan dengan sungguhsungguh undang-undang yang berpihak dan membela

hak-hak konsumen. Agenda Muhammadiyah Bagaimana posisi Muhammadiyah menghadapi persoalan-persoalan sosial-ekonomi yang tidak semudah membalik telapak tangan itu? Hemat kita, seyogianya Muhammadiyah tidak “bernafsu besar, tapi tenaga kurang”. Pasalnya, problematika sosial-ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia kini jauh lebih besar dan kompleks ketimbang kemampuan Muhammadiyah. Terutama menyangkut hal-ihwal jabaran konsep, rentang kendali organisasi, kekuatan personil/SDM, daya dukung finansial dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, Muhammadiyah memang harus bersikap realistis. Sikap realistis itu tidak berarti Muhammadiyah stagnan dan puas dengan kondisi yang ada. Sebab, seperti dikritik banyak pihak (internal dan eksternal) Muhammadiyah pelan-pelan bisa kehilangan relevansi bila tidak tanggap melakukan perubahan di tengah perubahan sosial yang kian menggelinding. Ke depan bahkan sekarang juga, Muhammadiyah sejatinya mengakrabi perubahan-perubahan kreatif yang meliputi: penataan kelembagaan yang rapi plus sinergis; menggenjot kualitas personel/SDM sehingga lebih mumpuni dan visioner; dan yang tak kalah mendesak adalah memperbanyak kader (genetikal, formal dan informal). Semuanya dilakukan demi mengejar obsesi dan cita-cita sosial Muhammadiyah tadi. Muhammadiyah perlu mengemas pembaruan organisasional (tajdidu al-jam’iyyah) serta menyiapkan kader berspektrum kualitatif dan kuantitatif (tajdidu al-kawadir) yang mampu memosisikan diri sebagai agents of change. Para petinggi dan Organisasi Otonom Muhammadiyah seperti IMM, NA, Pemuda Muhammadiyah, IPM dan Tapak Suci Putra Muhammadiyah) perlu menggelar acara duduk bersama. Tujuannya adalah untuk memformulasikan program aksi untuk melahirkan kaderkader sebagai pelanjut, penyempurna dan pelangsung Muhammadiyah dalam gerakan spiritual, intelektual, kultural dan sosial demi mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Untuk itu diperlukan tiga hal penting yang sejatinya berjalin-kelindan. Pertama, konsep masyarakat Islam yang sebenar-benarnya itu mesti jelas plus koheren. Kedua, mengerucutkan konsep–konsep tersebut dengan realitas sosial yang menyelinap di tengah kehidupan masyarakat. Ketiga, Muhammadiyah dituntut melakukan semacam analisis sosial yang lebih komprehensif tentang masyarakat yang menjadi arena berkibarnya “bendera” Muhammadiyah. Sudah barang tentu, skop orientasinya sejak level Pusat sampai tingkat Wilayah, Daerah, Cabang dan Ranting.l ___________________________________________________ Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pasaman, Sumatera Barat. SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

51


WAWASAN

Kontekstualisasi Gerakan Tajdid M HUSNAINI

Di tengah perubahan zaman yang demikian cepat, tantangan yang dihadapi Muhammadiyah tidak semakin mudah. Sejak berdiri satu abad silam, Muhammadiyah telah mengukuhkan jati dirinya sebagai gerakan Islam yang melaksanakan dakwah dan tajdid. Dakwah dilakukan dengan mendirikan sistem organisasi yang dinamis dan berkemajuan, dengan berlandaskan AlQur’an dan As-Sunnah. Tajdid dilakukan dengan dua cara, yaitu pemurnian (purifikasi) dan pembaruan atau pengembangan (dinamisasi).

W

ujud nyata dari gerakan itu sudah tercermin dalam kepeloporan Muhammadiyah dengan mendirikan lembaga pendidikan Islam modern, Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), panti asuhan, dan mendobrak segala praktik dan pemikiran Islam yang jumud. Namun demikian, sejalan dengan tema yang diusung dalam Muktamar Satu Abad “Gerak Melintasi Zaman, Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama” diperlukan perangkat-perangkat konseptual, epistemologi, serta metodologi kontekstual dan multiperspektif agar gerakan tajdid Muhammadiyah dapat masuk ke percaturan dunia kontemporer sembari tetap kokoh dalam jati dirinya yang genuine. Kontekstualisasi Tajdid Kontekstualisasi gerakan tajdid semakin niscaya, ketika Muhammadiyah menjadi sebuah gerakan Islam yang memang punya jati diri khusus dan berbeda dari organisasi Islam mana pun di dunia. Sebagai gerakan pemurnian, Muhammadiyah berbeda dengan gerakan Islam semisal Wahhabi atau Ikhwan alMuslimin. Modernisme Islam Muhammadiyah juga tidak sama dan sebangun dengan gerakan Islam modernis semacam Persatuan Islam (Persis). Muhammadiyah bukanlah gerakan Islam bercorak salafiah dan lebih menonjolkan aspek pemurnian an-sich, apalagi sampai menempuh jalur kekerasan. Menurut Prof DR Deliar Noer (1996), gerakan Muhammadiyah bersifat toleran. Hal ini bisa dipahami, sebab KH Ahmad Dahlan dalam pandangan Prof DR Robert W Hefner (2001) adalah seorang pemikir Islam moderat, yang berani mengambil modernitas Barat demi kemajuan umat dan dunia Islam. Tidak heran jika Prof DR Nurcholish Madjid (1983) pernah menyatakan, Kiai Dahlan adalah sosok pencari kebenaran sejati, yang secara cerdas mampu menangkap makna tersirat tafsir alManar, sehingga langkah tajdidnya bersifat break-through (terobosan). Dalam konteks ini DR Haedar Nashir (2006) menegaskan, gerakan Muhammadiyah tidak sekadar 52

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

meneguhkan dan memurnikan paham agama semata, tetapi juga mampu memajukan kehidupan umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. Dengan kata lain, Muhammadiyah telah menghadirkan Islam yang murni dan berkemajuan. Pernyataan-pernyataan tadi bukan isapan jempol. Senyatanya, memang terdapat dialektika pemikiran yang tidak pernah berhenti dalam tubuh Muhammadiyah. Sebagai gerakan Islam yang murni dan berkemajuan, di satu sisi Muhammadiyah terus berupaya mempertahankan keotentikan Islam sesuai Al-Qur’an dan AsSunnah, lalu mengembangkan ijtihad dan tajdid yang senapas dengan dinamika zaman di sisi lain. Muhammadiyah memang


WAWASAN tidak anti-ijtihad, selama itu sesuai dengan jiwa Islam. Lima Agenda Di tengah kemajuan teknologi informasi yang membuat manusia hidup dalam an integrated digital network seperti sekarang, paling tidak, ada lima agenda tajdid yang strategis dan patut segera diupayakan. Pertama, tajdid dalam bidang akidah. Yang dimaksud pembaruan akidah di sini tentu bukan memodifikasi akidah Islam, tetapi melenyapkan segala gejala dan praktik syirik. Tidak disangkal, pada manusia modern syirik kerap tampil dalam kemasan modern pula. Materialisme, misalnya, adalah syirik dalam kemasan modern. Saat ini, ada kecenderungan seolah-olah materi (iptek, harta, tahta) adalah means everything, sehingga menjadi ukuran keberhasilan dan kegagalan. Oleh pelaku syirik modern, segala yang tampak dan nyata itu diberhalakan, senantiasa dikejar, seraya mengesampingkan nilai-nilai ketuhanan. Inilah yang harus diperbarui, dikikis habis sampai ke akar-akarnya.

Kedua, tajdid dalam bidang teologi. Yang dimaksud teologi di sini bukan ilmu teologi gaya lama, seperti membahas secara bertele-tele dua puluh sifat Allah, di manakah kedudukan seorang Muslim yang melakukan dosa besar, kemakhlukan dan keazalian Al-Qur’an, dan semacamnya. Semua itu bukan berarti tidak penting. Namun, yang lebih penting lagi adalah bagaimana hubungan antara ketuhanan dan kemanusiaan. Jadi, teologi tidak boleh sekadar didiskusikan secara njelimet dan tidak jelas ujungpangkalnya, tetapi harus dibumikan. Ajaran Islam harus menjadi resep mujarab atas problem kehidupan nyata manusia, berupa eksploitasi, penindasan, dan kemiskinan.

Ketiga, tajdid dalam bidang ilmu pengetahuan. Prof DR M Amin Abdullah pernah menyatakan, umat Islam jangan sampai terkena expired knowledge. Karena itu, kita harus terus meng-up date ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan Alvin Toffler (1980), bahwa dalam dunia modern ini ada tiga kekuatan: low level of power itu kekuatan fisik, midlevel of power itu kekuatan ekonomi, sementara high level of power adalah sains dan teknologi. Jadi, sains dan teknologi adalah kekuatan paling ampuh. Sekarang ada istilah ulama pesantren dan ulama kampus. Dalam upaya meningkatkan sains dan teknologi, tidak ada salahnya mereka yang akrab dengan kitab kuning (al-kutub al-shafra) bekerja sama dengan mereka yang menguasai kitab putih (al-kutub albaidha). Keempat, tajdid dalam bidang manajemen organisasi. Kemajuan teknologi informasi telah menjadikan jarak spasial semakin menyempit. Begitu mudahnya orang mendapat informasi dari seluruh penjuru dunia, tanpa menunggu dalam waktu lama. Menurut David Hakken (1999), ruang maya (cyberspace) telah menjadi ruang bertatap pikiran antara komunitas dunia. Karena itu, dalam pemanfaatan ruang maya ini, Muhammadiyah jangan lagi tertinggal oleh organisasi Islam lain. Bukankah Muhammadiyah ini tidak sebatas berorientasi dalam lingkup nasional, tetapi juga internasional. Pemanfaatan ruang maya, selain untuk kepentingan internal, juga sangat berguna untuk melebarkan sayap dakwah ke seluruh warga dunia. Terlebih, sebagai organisasi Islam dengan amal usaha terbesar dan tersukses di dunia, kehadiran Muhammadiyah di ruang maya, jelas akan menjadi bumbu penyedap bagi kehidupan umat manusia di dunia. Kelima, tajdid dalam bidang etos kerja. Islam ini adalah agama yang mengajarkan orientasi kerja (achievement-orientation). Paham fatalisme atau paham nasib tidak punya tempat dalam Islam. Yang harus disadari, sekarang ini kita telah memasuki era liberalisasi perdagangan antara negara-negara Asia Tenggara. Pada 2020, kita akan memasuki era liberalisasi perdagangan antara negara-negara Asia Pasifik (Indonesia, China, Jepang, Taiwan, Korea, Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru). Kita benar-benar tidak ingin umat Islam ini hanya rajin shalat lima waktu, berpuasa Ramadlan, dan banyak mengaji AlQur’an, tetapi disiplin, kerja keras, menghargai waktu, prestasi, dan kejujuran tidak menjadi way of life. Jika itu terjadi, jangan kaget jika nanti umat Islam hanya akan menjadi kuli internasional. Pembaruan atas lima bidang tadi harus segera dilakukan. Muhammadiyah jangan sampai terjebak pada masalah-masalah kontroversial yang sebenarnya sepele, tetapi kerap melelahkan. Masih banyak agenda yang lebih besar, strategis, dan faktual ketimbang sibuk mengurus masalah-masalah periferal (pinggiran), apalagi sekadar ritualistik yang bukan merupakan agenda utama pembaruan Islam menuju peradaban utama.l ____________________________________________________ Penulis adalah Pendidik di Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Basyir, Takerharjo Solokuro Lamongan. SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

53


CAKRAWALA

KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN Setidaknya dalam 3 tahun terakhir ini, Aisyiyah bekerja di 5 kabupaten di Indonesia untuk melakukan advokasi kesehatan reproduksi perempuan atas dukungan Royal Netherland Embassy (RNE) dan The Asia Foundation.

S

trategi yang diterapkan Aisyiyah dalam penguatan kesehatan reproduksi ialah menguatkan elemen civil society di komunitas. Agar mereka paham persoalan kesehatan reproduksi yang dilihat dari aspek medis dan sosial (relasi gender) serta secara paralel membantu pemerintah dengan data dan penyediaan tenaga sukarela terdidik yang bekerja di tingkat komunitas. Tujuan akhir dari program ini ialah memampukan masyarakat dalam mencapai derajat kesehatan reproduksi yang berkualitas agar dapat melaksanakan perannya sebagai khalifah fil ard. Program Aisyiyah di bidang kesehatan diarahkan pada upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat, termasuk kesehatan reproduksi, yang berbasis pada pelayanan kesehatan dan komunitas berdasarkan spirit Al-Ma’un. Pengembangan program kesehatan yang tidak berhenti pada kegiatan-kegiatan praktis pelayanan semata, tetapi lebih jauh ditarik ke gerakan pembebasan dan pemberdayaan kaum dhu’afa, yakni mereka yang miskin, lemah, dan terlemahkan, baik karena budaya maupun struktur. Di antara kaum dhu’afa yang selama ini mengalami keadaan yang terlemahkan dan termarjinalkan dalam banyak hal ialah perempuan. Hak kesehatan reproduksi merupakan hak dasar yang harus dimiliki setiap warga negara, karenanya negara berkewajiban memenuhi hak dasar tersebut. Komitmen pemerintah ditunjukkan dengan menentukan target Millenium Development Goals (MDGs) 2015 dalam peningkatan kualitas kesehatan, menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi serta masalah HIV/AIDS melalui upaya kesetaraan gender. Dalam UU Kesehatan no. 36/2009 secara eksplisit juga menyebutkan pasal-pasal tentang perlindungan kesehatan reproduksi perempuan. Namun sejumlah penelitian menunjukkan, upaya peningkatan kualitas kesehatan reproduksi perempuan dianggap belum optimal. Studi Aisyiyah di 5 daerah (Serang, Kendal, Bantul, Lombok Timur, dan Mataram) menunjukkan, TFR (total fertility rate) mengalami stagnasi, penurunan angka kematian ibu tidak cukup signifikan, dan angka drop out KB tetap tinggi. 54

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

Secara nasional, angka kematian ibu melahirkan masih tergolong tinggi, sekitar 228 menurut perhitungan pemerintah atau 407 per 100.000 kelahiran hidup versi laporan independen lembaga dunia. Demikian pula dengan masalah HIV/AIDs, upaya penurunan angka HIV/AIDS sesuai dengan target MDGs pada 2015 tampaknya sulit dicapai, mengingat masih sulitnya menumbuhkan kesadaran tentang perilaku sehat untuk menghindari HIV. Bahkan di beberapa daerah yang diteliti, muncul kecenderungan penularan HIV/AIDS bergeser dari para pengguna jarum suntik di lingkungan pecandu narkoba ke ibu-ibu rumah tangga. Problem lain berkenaan dengan pelayanan KB. Perempuan mengalami gangguan akibat kontrasepsi KB hormonal yang tidak sesuai dengan kondisi tubuhnya. Situasi ini disebabkan terbatasnya pilihan alat kontrasepsi yang tersedia dan kurang terjangkaunya biaya kontrasepsi non hormonal, terutama bagi keluarga miskin. Masyarakat sipil dan LSM bekerja untuk mengadvokasikan kebijakan yang lebih sensitive dan memihak kepada kebutuhan perempuan. Sebagai bagian dari civil society, Aisyiyah membangun 5 model tahapan advokasi sebagai upaya komprehensif. Model advokasi yang diujicobakan di beberapa kabupaten itu, kini dijadikan sebagai strategi nasional Aisyiyah dalam penguatan hak-hak reproduksi perempuan. Kelima tahapan advokasi itu: penguatan kapasitas komunitas/ anggota; sosialisasi kesadaran tentang hak reproduksi kepada komunitas; penelitian terlibat; penyusunan policy paper didasarkan hasil penelitian yang direkomendasikan kepada pengambil kebijakan di tingkat lokal; dan pengawalan hasil advokasi oleh masyarakat sipil (termasuk media) agar menjadi kebijakan, antara lain melalui perubahan anggaran. Langkah komprehensif advokasi Aisyiyah itu merupakan strategi yang dipilih agar kebijakan pemerintah di tingkat lokal senantiasa berbasis penelitian dan tidak melulu atas dasar kepentingan politik jangka pendek. Sebaliknya, policy paper dan advokasi yang direkomendasikan Aisyiyah sepenuhnya didasarkan pada hasil penelitian dan sama sekali tidak ada kepentingan politik lain selain penguatan hak-hak warga, terutama hak kaum perempuan untuk aman dan nyaman dalam mengemban amanah Allah dalam menjalankan peran reproduksinya. Dalam rangka memperlebar dan memberi konteks yang lebih luas atas pengalaman Aisyiyah di beberapa kabupaten tersebut dan mengidentifikasi komitmen pemerintah, baik nasional maupun daerah, serta memperkuat civil society dalam meneguhkan dukungan mereka atas upaya penguatan hak kesehatan reproduksi perempuan, maka Aisyiyah menyelenggarakan


CAKRAWALA seminar nasional bertema, “Mengidentifikasi Komitmen kelahiran. Kematian ibu sebesar itu karena ‘4 terlalu’ dan ‘3 Pemerintah dan Partisipasi Civil Society dalam Meningkatkan terlambat’ yakni terlalu muda melahirkan, terlalu tua, terlalu sering, Kualitas Kesehatan Reproduksi Perempuan” yang didukung The dan terlalu rapat jarak kelahirannya. Untuk itu, BKKBN Asia Foundation dan Royal Netherlands Embassy. bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan sepakat Seminar yang diselenggarakan pada Kamis, 24 November meluncurkan program Jaminan Persalinan (Jampersal) di tempat2011, di ruang seminar Asri Medical Centre (AMC) Yogyakarta, tempat pelayanan kesehatan. Melalui Jampersal, ibu-ibu hamil menghadirkan narasumber dari Badan Kependudukan dan yang akan melahirkan dapat dilayani secara profesional, termasuk Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Utusan Khusus MDGs pemberian alat kontrasepsi hingga mengurangi risiko kematian Indonesia, PP Aisyiyah, Bupati Kendal, dan DPRD Kabupaten yang tidak diharapkan. Serang Komisi II. Pada kesempatan pembukaan, Kepala Politik Di sesi pembukaan, berbicara pula Dr Sandra Hamid mewakili Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Mr Maarten Boef, The Asia Foundation. Ia menuturkan perjalanan kerjasama yang menyerahkan beasiswa Rp 100 juta untuk 30 mahasiswa terjalin antara Aisyiyah, The Asia Foundation, dan Royal Netherlands kebidanan dari daerah terpencil, yang diterima Ketua PP Aisyiyah, Embassy. Di sesi berikutnya, pemaparan Pencapaian MDGs Dra Noordjannah Djohantini MM MSI, secara simbolis. Melalui Pembangunan Berwawasan Kesehatan yang disampaikan Dalam kesempatan itu Maarten Boef mengatakan, “pelayanan Prof DR Dr Nila Juwita Moeloek, Utusan Khusus Presiden RI untuk kesehatan masyarakat merupakan bagian dari pemenuhan hak MDGs. Ia mengatakan, “Perempuan memiliki hak memutuskan asasi manusia. Kedutaan Besar Kerajaan Belanda bekerjasama berapa jumlah anak yang akan dilahirkan. Namun demikian, dengan The Asia Foundation mendukung perempuan bukan ‘pabrik anak’.” pemenuhan kesehatan reproduksi Pada kesempatan itu Nila juga “...Mahasiswa yang perempuan melalui pemberian beasiswa menyoroti ledakan penduduk Indonesia. kepada mahasiswa kebidanan dari daerah Menurutnya, dalam 10 tahun terakhir ini memperoleh beasiswa terpencil. Mahasiswa yang memperoleh angka kelahiran tidak dapat ditekan dan dipersiapkan menjadi beasiswa dipersiapkan menjadi bidanada pertumbuhan yang tinggi. Jika pada bidan-bidan di desa bidan di desa terpencil untuk memenuhi tahun 1800 penambahan penduduk 1 layanan kesehatan reproduksi perempuan. miliar perlu waktu 130 tahun, maka pada terpencil untuk Mereka yang telah menyelesaikan studi tahun 2000 pertambahan 1 miliar hanya memenuhi layanan di akademi milik Asyiyah akan bekerja perlu waktu 11 tahun. Penduduk dunia kesehatan reproduksi untuk masyarakat dan komunitasnya.” saat ini mencapai 7 miliar dan 82% di Sementara itu, DR Dr Sugiri Syarif antaranya tinggal di negara berkembang perempuan. Mereka MPA, Kepala BKKBN, di hadapan 200dengan rata-rata pertumbuhan di negara yang telah an peserta seminar, yang berbicara berkembang mencapai 1,4% dan di menyelesaikan studi di sebagai keynote speech dan sekaligus negara kurang berkembang rata-rata membuka acara seminar mengatakan, mencapai 2,4%. akademi milik Asyiyah “Indonesia perlu mewaspadai ledakan “Karenanya,’ harapnya, “mindset akan bekerja untuk penduduk yang terjadi, karena hal ini akan hidup sehat menjadi hal yang harus masyarakat dan berdampak pada kualitas kehidupan menjadi pemikiran semua pihak. Apalagi manusia.” mengingat indeks pembangunan komunitasnya.” Ia memaparkan, Indonesia saat ini manusia (IPM) kita sekarang berada di masih dalam posisi peringkat empat posisi 124, menurun jauh dari tahun lalu besar negara di dunia yang menyumbang jumlah penduduk yang berada di angka 108. Untuk itulah, kesehatan perempuan terbesar. Pada 1900 jumlah penduduk Indonesia mencapai 40 menjadi hal yang sangat penting.” juta, pada 2000 mencapai 200 juta. Dengan melihat kecenderungan Diakuinya, permasalahan kesehatan perempuan ini berawal seperti ini, bisa diprediksi, jumlah penduduk Indonesia pada 2100 dari masih tingginya angka perkawinan pertama di bawah 20 tahun. mencapai satu miliar atau naik lima kali lipat ketimbang seratus Ia meminta kepada Aisyiyah dan Muhammadiyah untuk tahun sebelumnya. senantiasa berkampanye dan mensosialisasikan agar tidak Menurutnya, ledakan jumlah penduduk yang terjadi, di menikah di bawah 20 tahun. samping akan berdampak pada kualitas kesehatan, hal ini “Ada bahaya dari sudut medis. Kekurangmampuan mendidik memengaruhi pula kondisi lingkungan dan ketersediaan pangan. dan masa subur yang panjang yang bisa membuat banyak Masalah kesehatan akan berdampak pada tingkat kematian ibu melahirkan,” ujarnya. hamil dan beragam persoalan kesehatan lainnya. “Kesehatan Dalam sesi diskusi panel yang bertajuk: Problem, Tantangan reproduksi selama ini menjadi bagian penting dari masalah dan Pengalaman Advokasi Kesehatan Reproduksi, dipaparkan 3 kependudukan yang masih perlu ditangani,” katanya. materi dari 3 narasumber: Tri Hastuti Nur R MSi (PP Aisyiyah), Dr Ia menuturkan, angka kematian ibu sebesar 228 setiap Widya Kandi Susanti MM CD (Bupati Kendal), dan Drs M. Najib 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi 34 setiap 1.000 Hmas (Anggota DPRD Komisi II, Kabupaten Serang Banten).l au SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

55


SOHIFAH

PENGUATAN CABANG DAN RANTING SEBAGAI BASIS GERAKAN MUHAMMADIYAH DR. SYARIFUDDIN JURDI Dosen FISHUM - UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Sekretaris Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting PP Muhammadiyah

M

enghadapi abad ke-2, Muhammadiyah dituntut kontribusi aktifnya dalam mewujudkan kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai demokrasi, berkemajuan dan bermartabat, terbebas dari imperialisme ekonomi, politik dan intelektual. Visi itu merupakan dasar bagi pergerakan Muhammadiyah sejak didirikan pada 1912. Deklarasi kebebasan itu sebagai bagian integral dari proses menjadi bangsa yang mandiri melalui suatu pergerakan yang sistematis untuk menuju perubahan masyarakat menjadi lebih beradab. Memasuki abad ke-2, Muhammadiyah masih mengembangkan dan meneruskan gagasan besar untuk mewujudkan masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai etis Islam sebagaimana tertuang dalam tujuan Muhammadiyah yakni terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Visi ini diterjemahkan Muhammadiyah dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya pada aspek teologi (dakwah) tetapi juga pada aspek sosial kemanusiaan. Penerjemahan visi ini menjadi penting untuk meletakkan kembali peran strategis gerakan ini pada abad ke-2. Artinya Muhammadiyah tidak hanya mengelola “napas” agar dapat bertahan dari berbagai perubahan yang berlangsung, tetapi mengambil inisiatif untuk memantapkan perannya dalam memajukan kehidu-

56

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

pan masyarakat, untuk itu, sarana yang terbuka bagi Muhammadiyah adalah memberdayakan peran strategis Cabang dan Ranting sebagai ujung tombak kegiatan Muhammadiyah. Untuk menopang visi besar tersebut, agenda gerakan Muhammadiyah abad ke-2 tidak terlepas dari penguatannya sebagai kekuatan sosial kemasyarakatan. Komitmen Muhammadiyah untuk berkontribusi pada pemecahan masalah-masalah sosial kemanusiaan menjadi titik point yang krusial untuk diterjemahkan dalam program Lembaga dan Majelis. Penguatan basis gerakan yakni Cabang dan Ranting menjadi perhatian utama Muhammadiyah di awal abad ke-2, hal ini tergambar dengan baik dalam keputusan Muktamar ke-46 tahun 2010 “Muhammadiyah dalam melakukan gerakan pencerahan berikhtiar mengembangkan strategi dari revitalisasi (penguatan kembali) ke transformasi (perubahan dinamis) untuk melahirkan amal usaha dan aksi-aksi sosial kemasyarakatan yang memihak kaum dhu’afa dan mustad’afin serta memperkuat civil society (masyarakat madani) bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa...” (Pernyataan Abad Kedua). Pernyataan di atas menegaskan bahwa Muhammadiyah harus terpanggil untuk terlibat dalam pemecahan masalah-


SOHIFAH masalah kemanusiaan di akar rumput (grass roots) itu suatu keniscayaan. Oleh karena itu, penguatan basis gerakan di akar rumput seperti Cabang dan Ranting Muhammadiyah menjadi penting dijadikan agenda bersama semua Majelis dan Lembaga, tidak hanya menjadi tugas Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR). Penguatan Cabang dan Ranting Muhammadiyah merupakan amanat Muktamar ke-46 dan menjadi agenda prioritas utama dari agenda prioritas yang lainnya. Strategi pengembangan Cabang dan Ranting untuk mencapai visi Muhammadiyah 2015 adalah “peningkatan dan pengembangan kuantitas dan kualitas Cabang dan Ranting sebagai basis penguatan, pemberdayaan, dan perluasan gerakan Muhammadiyah di akar rumput sebagai bagian penting dan strategis dalam mengembangkan kekuatan civil Islam (masyarakat madani, civil society) di masyarakat� (Tanfidz keputusan Muktamar ke-46: 97). Prioritas program tersebut menempatkan penguatan Cabang dan Ranting sebagai basis utama gerakan Muhammadiyah sebagai prioritas yang paling pertama dalam program Muhammadiyah 2010-2015. Berdasarkan hal tersebut, perhatian pada pengembangan Cabang dan Ranting tidak bisa dipandang sebagai program sampingan atau bersifat parsial, tetapi merupakan program terintegrasi dengan berbagai bidang terkait. Dalam hal ini, pemberdayaan Cabang dan Ranting bersinergi dengan majelis dan lembaga yang lain untuk memperkuat peran gerakan ini dalam membentuk peradaban utama. Kalau selama ini, Muhammadiyah lebih banyak memerhatikan aktivitas riil melalui kegiatan pendidikan, kesehatan, dakwah dan tabligh, maka kini dengan instrumen yang sama harus dimaksimalkan untuk penguatan kelembagaan organisasi di akar rumput sebagai fokus utama yang perlu diperhatikan agar kontribusi aktif Muhammadiyah dapat maksimal dalam memecahkan masalah-masalah sosial kemanusiaan yang semakin beragam dewasa ini. Penguatan kelembagaan di akar rumput merupakan pilihan rasional untuk menggerakkan Muhammadiyah agar maksimal berkontribusi dalam kehidupan riil masyarakat. Penguatan Cabang dan Ranting merupakan rumusan Muktamar yang menjadi perhatian semua pihak, ini merupakan bentuk keprihatinan kolektif terhadap kondisi dan eksistensi sebagian besar Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Oleh sebab itu, amanat Muktamar merekomendasikan agar mengintensifkan pembinaan Cabang dan Ranting yang lebih tersistematis disertai pemetaan yang akurat serta mengembangkan Cabang dan Ranting Muhammadiyah sebagai prioritas penting sehingga dalam masa kerja 2010-2015 minimal tercapai 40% desa telah berdiri Ranting Muhammadiyah dan 70% kecamatan telah berdiri Cabang Muhammadiyah (Tanfidz Keputusan Muktamar ke-46). Untuk mewujudkan target statistik 40% Ranting dan 70% Cabang yang diamanahkan muktamar tersebut memang tidaklah mudah dilakukan, tanpa ada suatu perencanaan yang matang dan sistematis mengenai bagaimana model pengembangan Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Tanpa melibatkan semua pihak termasuk amal usaha, tentulah akan sulit mewujudkan target pembentukan Cabang dan Ranting berdasarkan amanat muktamar tersebut. Jumlah Cabang Muhammadiyah seluruh

Indonesia hingga saat ini sebanyak 3.221 dari 5.265 total Cabang atau sekitar 61%, itu berarti masih perlu diupayakan agar terbentuk sekitar 10% lagi, selain mengaktifkan Cabang yang vakum atau tidak aktif, sementara jumlah Ranting sebanyak 8.107 dari 62.806 desa atau sekitar 12 persen, itu berarti LPCR harus mengaktifkan sekitar 28 persen dari amanat muktamar serta mengembangkan dan memberdayakan seluruh Cabang dan Ranting yang telah eksis. Oleh karena itu, program pengembangan Cabang dan Ranting tidak lagi mengandalkan pola kebijakan yang bersifat sentralistik, tetapi bagaimana menggerakkan sumber daya pada tingkat basis, artinya pemberdayaan umat melalui pendekatan kapitalistik yang bersifat top down harus dirombak dengan melakukan pemberdayaan kelompok-kelompok basis gerakan di tingkat grass-roots (Cabang dan Ranting) dengan menggairahkan kegiatan jamaah dan dakwah jamaah. Perhatian pada basis gerakan yakni jamaah dan masjid melalui kegiatan dakwah jamaah akan mendukung dan menopang program pengembangan Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Oleh karena itu, program pengembangan Cabang dan Ranting tidak dapat dilakukan secara parsial dan temporal oleh lembaga pengembangan Cabang dan Ranting saja, melainkan program ini harus diintegrasikan dengan Majelis dan Lembaga yang eksis di Muhammadiyah. Mensinergikan program pengembangan Cabang dan Ranting dengan semua Lembaga dan Majelis merupakan syarat utama untuk mempercepat proses pengembangan, penguatan dan pengaktifan Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Pola pengembangan Cabang dan Ranting harus bersifat otonom dengan melihat potensi dan kemampuan masing-masing daerah Muhammadiyah dengan membuka ruang gerak yang lebih dinamis bagi PDM-PDM untuk mengembangkan Cabang dan Ranting agar gerak menuju pada pencapaian target pendirian Cabang dan Ranting dapat terealisasi. Dengan mendorong kepemimpinan di tingkat PDM untuk menginisiasi pengembangan Cabang dan Ranting dengan model dan panduan yang sesuai dengan kondisi obyektif masing-masing Cabang dan Ranting akan mempercepat proses eskalasi gerakan ini di tingkat grass-roots. Model yang seragam untuk pengembangan Cabang dan Ranting tidak banyak membantu mendorong inisiasi jaringan organisasi di daerah-daerah, karena itu diperlukan pola dan model yang bersifat khusus bagi Cabang dan Ranting tertentu. Misalnya, Cabang dan Ranting yang sudah maju tidaklah mungkin dibuat model pengembangan yang sama dengan Cabang dan Ranting yang vakum atau belum berdiri sama sekali. Pelibatan institusi gerakan di tingkat daerah serta mobilisasi sumberdaya gerakan secara efektif akan membantu mempercepat proses pengembangan Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Melakukan sinergi antara berbagai majelis dan lembaga yang terkait dengan penguatan basis gerakan Muhammadiyah dapat mendorong penguatan komunitas dan pemberdayaan pranata sosial masyarakat di akar rumput sehingga terjadi perubahan ke arah yang produktif bagi masyarakat. Wallahu a’lam bi shawab.l SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

57


S I L A T U R A H I M LAHIR: l Diwan Bakhtiar Azmah, anak pertama pasangan Khoirul Umam Uswar Badawi dan Etina Primasari AM, 7 November 2011, di Sukoharjo, Solo.

MENIKAH l Winda Ningsih, SPd binti Warsito (alm) dengan Istirika Hadi Saputra, ST bin Istiyarno, SIP, 12 November 2011, di Pegagan, Paliman, Cirebon, Jawa Barat. l Dwi Rachma Devi binti Pursinggih dengan Bayu Widayat bin Pawit Isyatmoko, SmHk, 12 November 2011, di Sumberrejo, Batanghari Lampung Timur. l Sri Puji Rahayu binti Sutikno dengan Maddasan Asasih bin M Asasih, 20 November 2011, di Margahayu Raya, Bandung. l Evitta Trias Amelina, Sfarm binti Haryono HP dengan Arief Dwi Purnama, ST bin Drs Much Syuib Ersal (alm), 20 November 2011, di Bayan, Purworejo. l Noni Rezki Amalia binti H Syamsuddin Saleh dengan Fikrie Faisal bin Achmad Supiani M, 27 November 2011, di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. l Widitra Maulida, ST binti H Budi Setiawan, ST dengan Wanda Hafiz Nurzaman, ST bin H Subardan Rochmad, Dipl.EST, MSi, 27 November 2011 di Kauman Yogyakarta. l Eka Wahyuni binti Mayor (Arh) Sayat dengan Tulus Setiawan bin Yuswardi (alm), 4 Desember 2011, di Serpong, Tangerang Selatan. l Sri Umawati, SH binti Ridwan dengan Drs Justin Ketaren bin H Sanggup Ketaren (alm), 10 Desember 2011, di Yogyakarta.

MENINGGAL: l Hj Supatmi (76 tahun), ibunda Prof DR H Susiknan Azhari, MA., 8 November 2011, di Blimbing, Lamongan, Jawa Timur. l Tugiran (58 tahun), 1 Desember 2011, Perum. Pendowo Indah, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

JALAN PINGGIR Jembatan Mahakam II Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur ambruk. Kalau yang ambruk gedung sekolah, puskesmas atau balai desa, sudah biasa. *** Kisruh Pemilihan Umum 2014 sudah terbayang. Hasilnya juga sudah terbayang. *** Menteri Agama terkejut dengan penilaian KPK yang menyebutkan Kementerian Agama seagai lembaga terkorup. Kalau rakyat sih, tidak terkejut lagi. *** Otonomi Daerah ternyata tidak membuat rakyat menjadi sejahtera. Yang sejahtera para pejabat dan politisi. *** Dana Bantuan Sosial selama ini, banyak digunakan untuk kepentingan politik. Pantesan, setiap kali ada bencana banyak bendera parpol berkibar. *** Kasus HIV/AIDS merisaukan. Sekitar 10 orang yang meninggal karena AIDS per hari. Kalau masalah ini, tidak masuk perhatian para anggota legislatif. *** Menurut para pengamat, hanya 9 persen Kepala Daerah dan Wakilnya akur. Akurnya pada saat kampanye. *** Presiden mengritik guru yang tidak menjalankan kinerjanya dengan baik. Guru mengritik Presiden, karena tidak bisa meningkatkan kesejahteraan. *** BUNG SANTRI

58

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H


TABLIGH AKBAR DAN TA’ARUF PC MUHAMMADIYAH DAN AISYIYAH RANTAUPRAPAT RANTAUPRAPAT. Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Rantauprapat, belum lama ini telah dilantik oleh PDM dan PDA Labuhanbatu. Pelantikan ini dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Drs H Goodwil Zubir, PWM Sumatera Utara, Sekda Kabupaten dan SKPD di lingkungan Pemda Labuhanbatu. Acara tersebut dilaksanakan di kompleks Perguruan Muhammadiyah Rantauprapat. Ketua PDM Labuhanbatu, H Yursalim Nasution, Ama dalam sambutannya mengatakan, perlunya komitmen kebersamaan dalam menggerakkan Persyarikatan. Sedangkan Sekda Kabupaten Labuhanbatu Ali Usman Harahap, SH menyampaikan bahwa, Pemda siap membantu Muhammadiyah sebagai mitra kerja dalam menyejahterakan masyarakat. Ketua PP Muhammadiyah Drs H Goodwil Zubir dalam ceramahnya menekankan tiga pilar utama kemajuan Islam, yaitu: akidah, silaturahmi dan akhlakul karimah. Dalam acara ta’aruf ini, juga dilaksanakan pemberian bea siswa untuk murid SD dan SMP Muhammadiyah yang tidak mampu. Serta pengecoran pertama pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah Cabang Rantauprapat, yang dilakukan oleh Ketua PP Muhammadiyah Goodwil Zubir, Sekda Kabupaten Labuhanbatu, Ketua PDM dan para SKPD yang hadir.l im

PENGURUS LAZIS KAWUNGANTEN DILANTIK CILACAP. Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kawunganten, Kabupaten Cilacap beberapa waktu yang lalu mengukuhkan pengurus LAZIS Al Falah Cabang Muhammadiyah. Pengukuhan dilakukan oleh Yani Yhustianta, SSTP, MM Sekretaris Camat Kawunganten mewakil Camat Kawunganten yang berhalangan hadir. Ketua LAZIS Al Falah, H Ngadiman Wahidi dalam laporannya menyampaikan dalam tahun 2011 ini telah berhasil menghimpun zakat, infak dan shodaqoh sejumlah Rp 56.000.000,- Uang ZIS tersebut disalurkan kepada fakir miskin berupa modal usaha dan ada juga yang untuk konsumtif. Untuk modal usaha berupa 34 ekor kambing dan kedelai untuk membuat tempe diberikan kepada 22 orang fakir miskin. Sedang sisanya dibagikan kepada 456 orang mustahik. Selain acara pengukuhan LAZIS, pada kesempatan itu juga dilaksanakan Musyawarah Cabang Muhammadiyah. Musyawarah Cabang Muhammadiyah itu, berhasil memilih sembilan orang pimpinan. Yaitu: H Ngadiman Wahidi, H Hadiro, Salamun, Memet Rahmat, SSos, Agung Siswantara, SPd., Drs Edi Nuryanto, H Fatoni, Aris Santoso, SPd dan Sudomo. Kesembilan orang terpilih itu, memilih H Ngadiman sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kawunganten, periode 2010-2015. Muhammadiyah Cabang Kawunganten, saat ini membawahi 12 desa. Namun, belum semua desa telah terbentuk Pengurus Ranting. Baru 6 Desa yang sudah terbentuk Pengurus Ranting, yaitu Desa Mentasan, Kawunganten, Kawunganten Lor, Bojong,

Kubangkangkung dan Sidaurip. Yang sudah mulai aktif ada kegiatan pengajian yaitu, Ranting Mentasan, Sidaurip, Kubangkangkung dan Kawunganten. Sedangkan di Muhammadiyah Cabang sudah berjalan pengajian rutin yang diselenggarakan setiap Ahad pagi, minggu kedua setiap bulan. Tausiah Subuh yang diselenggarakan setiap Ahad pagi dan menghimpun serta menyalurkan zakat, infak dan shodaqoh yang dibagikan secara rutin pada saat Idul Fitri.l Maryoto, SH

PELANTIKAN PENGURUS JAMAAH PRM DAN PRA JATIREJO UTARA JATIREJO UTARA. Pimpinan Ranting Muhammadiyah Jatirejo Utara, Glagahagung, Purwoharjo, Banyuwangi terbagi menjadi empat jamaah. Demikian juga, Pimpinan Ranting Aisyiyah Jatirejo Utara. Masing-masing jamaah baik PRM maupun PRA nya, membina umat antara 50 sampai 100 orang anggota Persyarikatan, simpatisan, dan warga. Setelah masing-masing jamaah melaksanakan musyawarah jamaah, Ketua PRM Jatirejo Utara, Drs Kasiyanto beberapa waktu yang lalu melantik kepengurusan jamaah periode 2010-2015. Mereka yang dilantik adalah: Slamet Riyanto, SE (Ketua Jamaah I), Drs H Nur Ahmadi (Ketua Jamaah II), Yasman Alfnadi (Ketua Jamaah III) dan H Jemingan (Ketua Jamaah IV). Sedangkan, untuk Aisyiyah masing-masing: Kamisah (Ketua Jamaah I), Surati (Ketua Jamaah II), Umiyati (ketua Jamaah III) dan Sulastri (Ketua SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

59


Jamaah IV). Ketua PRM Jatirejo Utara, Drs Kasiyanto dalam sambutannya mengatakan, bahwa pengurus jamaah sebagai pengemban amanah dan sekaligus sebagai ujung tombak Muhammadiyah dan Aisyiyah, yang secara langsung berhubungan dengan akar rumput. Tugas pokoknya adalah melaksanakan Dakwah Jamaah, baik secara perorangan, pengajian mingguan dan bulanan. Disamping itu, pengurus jamaah juga membantu tugas-tugas PRM/PRA dalam menangani, penerimaan dan pembagian zakat mal/fitrah, pembagian daging hewan kurban, santunan keluarga miskin karena sakit, musibah, dan kepedulian sosial yang lain. Khusus bagi pengurus jamaah Aisyiyah, ditekankan untuk menggalakkan ‘Jimpitan Beras’ pada setiap pengajian rutin, yang hasilnya untuk keperluan sosial. Pelantikan ini diisi pengajian oleh Ketua PCM Purwoharjo Drs Suryani Hamdan, SAg.l H Mudjais HS

PIMPINAN DAERAH AISYIYAH LAMPUNG BARAT LAMPUNG BARAT. Pimpinan Daerah Aisyiyah, Kabupaten Lampung Barat, dalam musyawarahnya beberapa waktu yang lalu telah berhasil memilih dan menyusun pengurus baru periode 2010-2015. Musyawarah Daerah Aisyiyah yang dilaksanakan di kompleks perguruan Muhammadiyah Krui ini, dihadiri oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Lampung, Bupati Lampung Barat dan Camat Pesisir Tengah. Serta dimeriahkan oleh berbagai atraksi dari siswa-siswa sekolah Muhammadiyah dan ortom Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Kabupaten Lampung Barat.

Adapun susunan anggota Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Lampung Barat periode 2010-2015 adalah: Dr Hj Herlina Rustam, Mkes (Ketua), Hj Mairo, SPd (Ketua I), L Liastuti, SPd (Ketua II), Yunani, SPd (Sekretaris I), Maya Safitri, SPdI (Sekretaris 2), Hj Rusnani (Bendahara), Hj Linayati (Wakil Bendahara). Kepengurusan periode ini dilengkapi juga dengan Majelis-majelis yaitu: Majelis Tabligh, Ketua; Nurul Hasanah. Majelis Ekonomi, Ketua; Mina Wati, SPd. Majelis Dikdasmen, Ketua; Subekti Sri Rahayu, SH. Majelis Kesejahteraan Sosial, ketua; Suyanti, SPd. Majelis Pembinaan Kader, Ketua: Arlina. Majelis Kesehatan dan Lingkungan Hidup, Ketua; Bidan Dewi Anggraini. Dan Majelis Hukum dan HAM, Ketua: Rahmawati, SH.l ron

TANWIR II PIMPINAN PUSAT NASYIATUL AISYIYAH YOGYAKARTA. Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, belum lama ini melaksanakan Tanwir II bertempat di Wisma Diklat Dinas Pekerjaan Umum Yogyakarta. Tanwir yang mengambil tema, “Peningkatan Kualitas Kader Nasyiatul Aisyiyah Dalam Menggerakkan Aksi Advokasi Perempuan dan Anak” ini bertujuan, untuk meningkatkan kualitas strategi gerakan advokasi terhadap hak-hak perempuan dan anak menuju Sasaran Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals atau disingkat MDGs), Penguatan konsolidasi organisasi dan perumusan materi dan agenda Muktamar Nasyiatul Aisyiyah ke-XII. Tanwir yang diikuti oleh seluruh Pimpinan Nasyiatul Aisyiyah dari Pimpinan Pusat, Wilayah dan Daerah ini, diisi dengan berbagai ceramah dan tabligh akbar yang disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof DR HM Din Syamsudin.l im

MUSYAWARAH RANTING MUHAMMADIYAH DAN AISYIYAH BUGISAN PRAMBANAN KLATEN. Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah, Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah belum lama ini mengadakan Musyawarah Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah. Musyawarah Ranting ini dilaksanakan di Balai Desa Bugisan. Dibuka oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Prambanan Klaten, Ir H Sadjiran, MKes. Musyawarah Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah ini dihadiri oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Pimpinan Cabang Aisyiyah Prambanan Klaten, sesepuh Muhammadiyah Prambanan serta warga dan simpatisan Muhammadiyah yang ada di lingkungan Muhammadiyah Ranting Bugisan. Selain itu, hadir juga Kepala Desa Bugisan, Muhammad Irfan Heru Susanto, SH. Serta Pimpinan Ranting Muhammadiyah Taman Martani, Kalasan, Sleman. Musyawarah Ranting Muhammadiyah Bugisan telah memilih Pimpinan periode 2010-2015 yaitu: Ketua, Supriyono, SPd. Anggota: Sunarno, Sarwanto, Sriyanto, Sunarjo, Suradi, dan Mursyid Suprihatin, SAg. Sedang untuk Pimpinan Ranting Aisyiyah, terpilih; Ketua, Sri Untari. Anggota: Dra Harmani, Dwi Hastuti, Amk, Rukiyem, Hj Wasiyah, Tri Wanito dan Rustinah.l im

60

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H


PERKEMBANGAN PDM TANAH BUMBU TANAH BUMBU. Masjid Anizaam yang menjadi pusat gerakan Muhammadiyah di Kabupaten Pagatan, Kalimantan Selatan direnovasi dengan nilai Rp 2 miliar lebih. Salah seorang aktivis dan tokoh Muhammadiyah Tanah Bumbu, yang juga mantan Ketua PDM Kabupaten Tanah Bumbu, Achmad Supiani M, melaporkan kepada “SM”, ketika berkunjung di kantor Majalah Suara Muhammadiyah Jalan KHA Dahlan 43. Masjid tersebut mendapat suntikan dana dari Pemkab Pagatan sebesar Rp 150 juta. “Masjid Anizaam direnovasi total, sejak dari menara hingga lantai keramik,” kata Ahmad Supiani, yang bertindak sebagai Bendahara Panitia Renovasi Masjid. Muhammadiyah di Kab Tanah Bumbu berkembang sangat baik, memiliki Pimpinan Cabang Muhammadiyah di Kecamatan Satui, Batulicin, Pagatan, dan Tanah Bumbu. Gerakan dakwahnya menjangkau ke seluruh aspek kehidupan masyarakat di Pagatan, sejak dari bidang pendidikan mendirikan SD, SMP, dan SMA Muhammadiyah. Sementara itu, Pimpinan Daerah Aisyiyah Tanah Bumbu yang memiliki PCA Pagatan, PCA Batulicin, dan PCA Satui dipimpin oleh Hajah Nur Aidah, mengungkapkan kepada “SM”, organisasi wanita ini mampu mendirikan 2 TK Bustanul Athfal Aisyiyah dan Taman Pendidikan Al Quran Aisyiyah. Taman Pendidikan Al-Qur’an mendapat bantuan wakaf bangunan seharga Rp 100 juta dari Keluarga Dra Hj Darmatosia dan suami Ir Andi Abdala Haris Parawansyah. Keluarga ini juga membiayai renovasi bangunan TK ABA I, dan II. TK ABA Tanah Bumbu sendiri dibangun tahun 1963, dan terus mendapat perhatian peningkatan kualitas pendidikannya hingga kini. Gerakan Aisyiyah Tanah Bumbu mengadakan gerakan pengajian secara rutin dan membina jamaah ibu-ibu dengan berkaya di bidang pemberdayaan ekonomi dan keterampilan keluarga.l am

SMA MUHAMMADIYAH LAPE-LAPE DAPAT BERKEMBANG Sumbawa. Berdirinya SMA Muhammadiyah di Lape-Lape Sumbawa, Nusa Tenggara Barat semakin meyakinkan bahwa kehadiran gerakan dakwah Muhammadiyah di Sumbawa dapat terus berkembang dengan baik. Kabupaten Sumbawa merupakan lahan tersubur di salah satu kabupaten yang ada di NTB dalam mengembangkan sayap gerakan Persyarikatan Muhammadiyah. Sumbawa terus bersaing dengan PDM Kabupaten Lombok Timur dalam berlomba-lomba mendirikan jaringan Persyarikatan di tingkat Cabang dan Ranting. Di Sumbawa sendiri tidak kurang ada 20 Pimpinan Cabang Muhammadiyah tersebar di Kecamatan Sumbawa Besar, Alas, Mapin, Langan, Utan, Empang, Aikpaya, Lenangguar dan Pelampang. Juga tumbuh subur di Kecamatan Lunyuk Besar, Moyo, Buer, Lempeh, dan Maronge. Peningkatan bahkan terjadi di Kecamatan Lamenta, Lante, Labuhan Sumbawa, Hulu dan di Moyo Hilir. Gerakan dakwah di bidang sosial juga bermakna dengan

berdirinya Panti Asuhan Zaenap Binti Jahsy di Jalan Mangga 16, Sumbawa Besar. Di tempat inilah sudah banyak alumni panti yang hidup mandiri dan dapat meneruskan pendidikan lebih tinggi berkat bimbingan dari para pembimbing Muhammadiyah.l am

LOMBOK UTARA TINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT Bima. Muhammadiyah Kabupaten Lombok Utara bekerja keras untuk meningkatkan tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan di Muhammadiyah. Terutama, menggalang jamaah di pengajian-pengajian yang ada di masjid dan mushala. Tingkat partisipasi masyarakat mulai terlihat ketika gerakan Muhammadiyah mengadakan kegiatan pengajian di mushalla dan masjid. Misalnya, di Dusun Lekok Desa Gangga-Gangga, Lombok Barat Muhammadiyah menggairahkan pengajian yang diadakan oleh PCM Gangga. Menyatu dengan Kantor PDM Lombok Barat, kegiatan terpadu PCM Kayangan, PCM Bayan dan PCM Pamenang berlangsung di Jalan Raya Km 15, Tibuling Namada. SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 16 - 31 DESEMBER 2011

61


Menurut salah seorang pimpinan PDM Lombok Barat, kegiatan pengajian dan kegiatan dakwah lainnya selalu dihadiri oleh masyarakat. Itu berarti, tingkat partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat cukup tinggi terhadap kegiatan dakwah Muhammadiyah.l am

PANTI ASUHAN MUHAMMADIYAH BANYUBIRU Bali. Keberadaan Panti Asuhan Muhammadiyah di Banyubiru Kecamatan Negara atau di Jalan Udayana 80, Bali, menjadi sentra kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Keberadaannya yang tidak jauh dari kota Denpasar, sangat memudahkan pembinaan pengawasan panti tersebut agar dapat memfungsikan diri sebagai wadah penyantunan anak yatim dan fakir miskin yang tidak berdaya oleh keadaan lingkungannya. Segenap pimpinan di daerah ini, terus berupaya mendapatkan perhatian dan bimbingan da ri PWM Bali yang kini dipimpin oleh Haji Mafrukin yang senang turun keliling meninjau ke pelosokpelosok daerah di Bali. Dukungan dan uluran dana sangat diperlukan untuk eksistensi keberadaan panti tersebut.l am MELAWI KEMBANGKAN SEKOLAH Melawi. Terdorong semangat untuk terus mengembangkan gerakan dakwah Muhammadiyah di bumi Kalimantan, aktivis Muhammadiyah di Kabupaten Melawi tunjukkan diri kembangkan sekolah Muhammadiyah lewat berbagai metode pengembangan. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Melawi sendiri tidak cukup besar, hanya terdapat Pimpinan Cabang Muhammadiyah di Kecamatan Nanga Pino, Ella Hilir, Menukung dan Nanga Sokan. Terkait kehadiran sekolah Muhammadiyah cukup menarik masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan Muhammadiyah. Hal ini dipergunakan untuk mengembangkan sekolah Muhammadiyah agar menunjukkan kualitas pendidikan untuk menarik siswa dari masyarakat luas. PDM Kabupaten Melawi sendiri berkantor di SMA Muhammadiyah Nanga Pinoh Jalan Kota Baru km 2, Melawi. Sekolah ini cukup dikenal oleh masyarakat, bahkan menjadikan acuan dan tujuan orang tua untuk menitipkan pendidikan anaknya kepada Muhammadiyah. Di Jalan Baru Km 2, Nanga Pinoh juga terdapat Perguruan Muhammadiyah yang cukup banyak menampung siswa. Selain fasilitas dan sarana yang cukup, perguruan Muhammadiyah ini diasuh oleh guru-guru yang sudah baik. Diharapkan pendirian sekolah akan berlanjut di PCM Menukung dan PCM Nanga Sokan untuk melebarkan sayap pelayanan pendidikan kepada masyarakat luas.l am MUH NUNUKAN TAK TERPENGARUH ISU Nunukan. Di tengah isu politik perbatasan Indonesia-Malaysia soal tapal batas, Muhammadiyah di Kabupaten Nunukan tidak terpengaruh oleh hal itu dan bertekad akan terus berdakwah memuliakan agama Islam, agar dipeluk masyarakat dengan sepenuh hati dan utuh. 62

SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H

Para Pimpinan Muhammadiyah, beberapa waktu lalu sudah banyak yang datang di Ibukota Muhammadiyah Yogyakarta untuk meminta para pendekar silat Tapak Suci Putra Muhammadiyah agar melatih para siswa di Nunukan. Keinginan para Pimpinan Muhammadiyah di Nunukan tersebut dikabulkan oleh Pendekar Besar Tapak Suci, mereka sangat beralasan untuk melatih keterampilan bela diri mereka agar terus terjaga. Selain dapat menyehatkan, juga menambah dakwah syiar Islam di perbatasan yang memang cukup kondusif untuk meningkatkan k-Iislaman mereka. Terbilang Muhammadiyah sudah tersebar di Jalan Pasar Baru RT 14 Nunukan Barat. Muhammadiyah berkonsentrasi mengadakan kegiatan di Masjid Fastabiqul Khaerat. Selain itu juga mendirikan PCM Sei Nyamuk di Jalan Kartini Tanjung Aru, Sei Nyamuk Kecamatan Sebalik. Di bagian lain daerah, berkembang PCM Liang Bunyu di Jalan Pasar Baru RT 14 dan di PCM Sedadap. Muhammadiyah terus mengadakan kegiatan pengajian dan aksi sosial serta menyantuni anak-anak yatim dan fakir miskin.l am

JADIKAN MASJID AL HIKMAH BASIS KEGIATAN Merauke. Muhammadiyah Kabupaten Merauke Timur bertekad menjadikan Kompleks Masjid Al Hikmah di Jalan Raya Mandala Bambu Pemali, Merauke Papua Barat sebagai basis kegiatan Muhammadiyah. Kiprah Muhammadiyah di Kabupaten Merauke cukup lumayan untuk tingkat gerakan dakwah Islam, mengingat di daerah ini masih cukup banyak tantangan dan kendala yang harus dihadapi oleh lembaga dakwah Islam. Muhammadiyah sendiri menjadikan Kabupaten Merauke sebagai basis gerakan, karena itu dibentuk wadah-wadah pendukung gerakan di Kecamatan Kuprik, Merauke dan Moppa Lama TB. Muhammadiyah menjadikan masjid sebagai Kantor Muhammadiyah, mendapat dukungan dari aktivis Muhammadiyah, M Thamrin yang bekerja di Kantor Inspeksi Agama Jalan Raya Mandala dan dukungan dari A Hady Rachman’s. Diharapkan kedua aktivis Muhammadiyah tersebut dapat terus berpartisipasi menggalang dan menata organisasi Persyarikatan di bumi Merauke.l am SMA MUHAMMADIYAH DI PULAU SERAM TIMUR Seram Timur. SMA Muhammadiyah di Kabupaten Seram Timur menjadi simbol kehadiran Muhammadiyah dalam berdakwah di bumi Maluku. Bahkan, kehadiran perguruan Muhammadiyah ini menjadi sentral kegiatan Cabang Muhammadiyah dari Kecamatan Geser, Werinama dan Gorom. Kabupaten Seram banyak merekrut penduduk untuk berpartisipasi dalam kegiatan dakwah Islam, lewat berbagai pengajian dan gerakan sosial. Diharapkan di kemudian hari akan semakin meningkatkan frekuensi kegiatannya, baik yang ada di sekolah maupun di organisasi tingkat Cabang dan Ranting.l am

parpo islam  

tesss asd'askdaskd'asd asdasldjasljdasjdlasjdasd

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you