Issuu on Google+

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

1


2

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

1


Daftar Isi TOPIK UTAMA 13

Banyak Anak Banyak Rezeki UMAT Islam jangan sampai terpancing oleh kata-kata busuk yang melatar-belakangi program KB. Umat Islam harus terus berpegang pada akidah yang benar: “Banyak anak banyak rezeki!”.

21

Syiar Agama dan Politik Populasi

KH Nurul Huda, Ketua MUI Kab. Pasuruan

KONON, Firaunlah yang mulamula menerapkan kebijakan politik berupa tahdîdun-nasl, atau pembatasan populasi, dalam sejarah umat manusia. Sebagaimana telah maklum, Firaun menghabisi bayi-bayi lelaki Bani Israil dan membiarkan bayi perempuan mereka hidup, sebagai strategi politik untuk melanggengkan kekuasaannya

SAAT ini umat Islam banyak yang mengikuti KB. Umumnya, mereka ikut serta dalam program kontrol populasi ini karena mencemaskan soal ekonomi. Mereka punya anggapan, “menambah anak berarti menambah beban keluarga.” Nah, bagaimana Islam membincang masalah tersebut?

17

WAWANCARA

Tambah Anak Tambah Rezeki

32 Al-Qur’an dan Karakter Jahiliyah 35 Menikmati Sastra al-Qur’an 38 Balaghah dan Keindahan alQur’an

31-51

CAKRAWALA Menyelami Keindahan al-Qur’an 2

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

41 Membaca al-Qur’an dengan Rasa: Telaah Sastra Surah al-Kautsar 44 Kata Kuncinya adalah “Keindahan”! 49 Mengungkap Kedahsyatan al-Qur’an


08

28

 Bada’ dalam Syiah

 Puasanya Orang yang Keluar

SOWAN

BAHTSUL MASAIL Mani sebab Melihat

 Cara Wudhunya Orang yang Diamputasi

SALAM REDAKSI SURAT PEMBACA SOWAN KATA MEREKA EDITORIAL TOPIK UTAMA WAWANCARA BAHTSUL MASAIL CAKRAWALA KHANIQAH SUFI KOLOM FUQAHA PESANTRENKU ALBUM-AGENDA REUNI SILATURAHIM SIDOGIRIDOTNET MUALAF HADHARAH RIHLAH RIJALUDDIN KLINIK PESANTREN TIPS PESANTREN SAKINAH KASYKUL SYAIR PENGAJIAN ISTIJABAH KUIS PENDIDIKAN

04 05 08 10 11 13 14 28 31 52 55 58 63 64 67 71 75 78 83 87 90 92 96 100 102 106 110 112

66

REUNI KH. M. Basori Alwi Al-Qur’an Telah Menjadi Darah dan Ruh

69

SILATURAHIM PP. Salafiyah Pasuruan Saat Waktu Begitu Berarti

73

SIDOGIRIDOTNET Arab Saudi Pembangunan Makkah Kebarat-Baratan

75

MUALAF WS. Rendra Mengenal Daun-daun Hidayah di Amerika

85

RIHLAH Kota Kuno Jerusalem, Kota Suci Tiga Agama (2/2) BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

3


Salam Redaksi Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Pembaca sekalian, alhamdulillah BS bisa kembali hadir menyapa pembaca, sesuai waktu yang telah dijadwalkan. Seperti yang telah pembaca hafal, jadwal BS sampai di pangkuan pembaca adalah setiap tanggal 1 bulan hijriah. Jika pembaca dan pelanggan sekalian tidak menerima BS pada tanggal 1, silakan komplain ke Buletin SIDOGIRI Mobile: 081330440000. Memang, Redaksi Buletin SIDOGIRI sedang melakukan perbaikan secara bertahap, untuk memberikan yang terbaik kepada pembaca. Dalam hal ini, kami juga tidak berhenti untuk terus belajar dari pembaca. Karena itu, setiap saran dan kritik yang masuk ke dapur redaksi, baik melalui SMS, email, maupun surat, selalu kami diskusikan dalam rapat redaksi, guna mendapatkan rumusan terbaik. Jika ada saran baik atau kritik membangun yang disampaikan oleh pembaca, namun tidak kami tampilkan di rubrik Surat Pembaca, itu tidak berarti kami mengabaikan begitu saja saran dan kritik itu. Ada banyak kemungkinan mengapa ia tidak ditampilkan, di antaranya karena sudah pernah ada yang mengirimkan saran dan kritik dengan esensi yang sama pada edisi-edisi sebelumnya. Selain itu, kami juga mengharapkan parsitipasi pembaca untuk juga mengirimkan karya-karya tulisnya kepada BS, baik berupa artikel bebas, atau artikelartikel yang sesuai dengan salah satu rubrik kami. Sertakan juga foto diri, alamat lengkap, dan nomor ponsel, serta nomor rekening Anda. Selamat menikmati suguhan sederhana kami. Redaksi

4

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Diterbitkan oleh Pondok Pesantren Sidogiri dengan nomor SK: 08/BPP/A08/1429 sebagai Wahana Aktualisasi Pemikiran Salaf

Pondok Pesantren Sidogiri berdiri sejak 1745 M. Didirikan oleh Sayid Sulaiman, cicit Sunan Gunungjati. Pesantren ini berkomitmen mendidik umat dengan akidah, syariah, dan akhlak Ahlusunah wal Jamaah.

PENDIRI  Majelis Keluarga PP. Sidogiri PENASEHAT  Pengurus Harian PP. Sidogiri KOORDINATOR  d. Nawawy Sadoellah PEMIMPIN UMUM  HM. Masykuri Abdurrahman PEMIMPIN REDAKSI  Moh. Achyat Ahmad WAKIL PEMIMPIN REDAKSI  Moh. Yasir REDAKTUR SENIOR  H Ahmad Baihaqi, M. Sholeh Romli, Ahmad Dairobi, A. Qusyairi Ismail REDAKTUR  M. Masyhuri Mochtar, A. Fadoil Khalik, Ahmad Muntahal Hadi. STAF REDAKSI  Alil Wafa, Ahmad Biyadi, M. Husni Mubarok, Badrus Sholeh SH, Ali Wafa Yasin, Abdurrahman Wahid, Anwar Sholeh, Zainuddin Rusdy. DESAIN GRAFIS  M. Ali Hafidz (redaktur), Abdul Faqih M.R., Muhyidin, Dwy Sadoellah SEKRETARIS REDAKSI  Muhyidin PERPUSTAKAAN & WEBSITE  Zainuddin Rusdi RUMAH TANGGA  Noer Kholis, M Afifi PEMIMPIN PERUSAHAAN  HM. Aminulloh Bq. TATA USAHA PERUSAHAAN  Ali Wafa SIRKULASI & DISTRIBUSI  M. Thoha (Kepala), M. Qosim, Moch Sibro Mulisi Chamim, A. Sa’dullah IKLAN & PROMOSI  Ach. Edy Amin (Kepala), Muhammad Ali, M. Halibi BENDAHARA  Ach. Edy Amin ALAMAT REDAKSI  Gedung MMU an-Nawawie, Pondok Pesantren Sidogiri, Sidogiri Kraton Pasuruan Jatim, PO. Box 22 Pasuruan 67101 Email: buletinsidogiri@yahoo.co.id Website: http://www.sidogiri.net buletinsidogiri

buletinsidogiri

KONTAK Redaksional  0343 7750000 Iklan dan Promosi  087856906174, 085851874111, Sirkulasi dan Distribusi  085730824111, 081913911258 Berlangganan  0811338358 Faximile  0343 431010 NOMOR REKENING a.n. Dwy Sadoellah Bank BCA: 0890533833 Redaksi menerima karya tulis dari pembaca sesuai rubrik yang telah disediakan. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah substansinya. Tulisan yang dimuat akan mendapat imbalan.

Terdapat Tulisan al-Quran dan Hadis, Mohon Tidak Diletakkan di Sembarang Tempat!


Saran, kritik dan komentar, kirim melalui SMS ketik: SP#namaAnda#kotaAnda# atensiAnda (contoh: SP#Ahmad Mujib#Pasuruan#isi atensi), ke 081330440000, email: buletinsidogiri@yahoo.co.id atau surat ke alamat Redaksi

Surat Pembaca Pertanyaan seputar Pesantren dijawab oleh: Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri

Musyawarah Ibtidaiyah

Bagaimana kalau waktu musyawarah madrasiyah sore hari untuk tingkat Istidadiyah/Ibtidaiyah dipindah di malam hari? Karena minimnya waktu yang tersedia di sore hari. Hasnan, Surabaya Terima kasih, waktu malam setelah Maghrib s.d pukul 8.00 diisi kegiatan yang wajib diikuti oleh semua santri yaitu mengaji al-Qur’an dan kitab. Sedangkan pukul 8.00 s.d 9.00 malam diisi dengan istirahat dan kegiatan pribadi. Pukul 9.00 s.d 10.00 jam belajar wajib. Sedangkan jam 10.00 ke atas terlalu malam untuk kegiatan musyawarah santri tingkat Ibtidaiyah/ Isti’dadiyah. Maka waktu sore jam 5.00 s.d 6.00 paling efektif untuk kegiatan musyawarah mereka, karena waktu sekolah mereka pagi hari.

Makan-Minum di Jalan

Mohon digalakkan kembali larangan menikmati makanan dan minuman di warung milik warga sekitar PPS, lebihlebih makan dan minum di jalan. Terima kasih.

Ibnoe Abdiel Wafie, Probolinggo

Terima kasih, saran Anda akan segera kami tindak lanjuti.

Dekorasi Aula PPS

Sebaiknya Aula lantai III Sekretariat PPS disediakan pentas atau sarana dekorasi, agar tidak mengotori dan mengurangi keindahan, serta

kerapian sekretariat PPS, dengan bekas pemasangan background yang kurang rapi.

Ibnoe Abdiel Wafie, Probolinggo

Terima kasih, usulan Anda sudah menjadi program kami, dan sekarang masih dalam proses pengerjaan.

Distribusi Guru Tugas

Kenapa guru tugas PPS kok tidak merata sampai ke tempat saya? Syukran.

Abdul Rizky, Kunir Lumajang, 085746126xxx 24.04.2011 09.20

Distribusi Guru Tugas dan Dai mengikuti permintaan dari masyarakat, dan sampai saat ini masih banyak permintaan yang belum bisa dilayanani karena keterbatasan tenaga Guru Tugas dan Dai.

Alas Kaki Masuk WC

Kenapa santri dilarang memakai alas kaki ketika masuk WC? Sebab BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

5


Surat Pembaca larangan ini bertolak belakang dengan keterangan kitab kuning yang menganjurkan memakai alas kaki ketika q창dhil-h창jah. Vicky Abdillah, Surabaya Kebijakan itu dilakukan karena ketika santri membawa alas kaki/ gampiak ke dalam kamar mandi/WC bisa menyebabkan keramik pecah dan kotoran yang menempel ke keramik/ tegel dari alas kaki tersebut sulit dibersihkan.

Foto Pengirim Karya Tulis

Bagaimana kalau setiap karya tulis non-redaksi yang telah dimuat di BS dipasang foto penulisnya?

Muhibbin, PPS K-02, Surabaya

Terima kasih atas partisipasinya. Usulan Adik akan kami tindak lanjuti dalam sidang redaksi.

Bonus Syair Arab

Bagaimana kalau bonus di setiap edisi BS berupa kumpulan tukilan sastra Arab. Syukran.

Muhibbin, PPS K-02, Surabaya

Insya Allah, semoga masukan saudara dapat kami wujudkan.

Bisa Tepat Waktu?

Saya sangat suka dengan Buletin Sidogiri dan ingin berlangganan Buletin SIDOGIRI. Akan tetapi apakah pihak Buletin SIDOGIRI bisa datang tepat waktu sesuai jadwal?

Kholilul Rahman, Jember, 085631526xxx 21.09.2011 09.20

Terima kasih atas apresiasi Anda yang luar biasa terhadap Buletin SIDOGIRI. Apresiasi positif seperti ini

6

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

sangat memotivasi kami untuk menjadi lebih baik. Insya-Allah kami bisa mengantar BS sesuai jadwal, yaitu setiap tanggal 1 bulan Hijriah BS sudah ada di tangan Anda. Bahkan, kami kini memberlakukan kebijakan baru yang sangat menguntungkan pelanggan, sebagai berikut: 1) Jika Anda berlangganan, Anda tidak akan dikenai kenaikan harga (dalam tahun berjalan) jika seandainya BS mengalami kenaikan, baik karena harga cetak maupun karena ada tambahan bonus. 2) Pelanggan akan mendapatkan garansi 100% uang kembali jika pelanggan menerima BS di atas tanggal 1 bulan hijriah. Dua keuntungan berlangganan ini merupakan komitmen kami, bahwa kami bisa tepat waktu. Terima kasih.

Tentang Topik Utama

Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada Buletin SIDOGIRI, sebagai berikut: 1) Dahulu pada awal-awal terbit, sekitar empat tahun yang lalu, Buletin SIDOGIRI selalu mengumumkan topik utama yang akan diangkat pada bulan berikutnya. Tapi kenapa sekaran kok tidak ada lagi? 2) Saya mengamati topik utama di Buletin SIDOGIRI sering berubahubah, kadang topiknya sangat aktual, kadang topik lama, dan kadang pula topiknya biasa-biasa namun diangkat sebagai topik utama. Kenapa demikian? Atas jawabannya kami sampaikan terimakasih. Muhammad Chilmy, Pasuruan chilmy001_@ymail.com Terima kasih atas perhatian saudara yang sangat mendalam terhadap Buletin


Surat Pembaca SIDOGIRI. Kami terus berusaha untuk menjadi yang terbaik, dengan cara terus belajar sedikit demi sedikit, termasuk dari saran dan kritik membangun dari pembaca sekalian. Jawaban dari pertanyaan saudara adalah sebagai berikut: 1) Kami menilai bahwa pemberitahuan itu kurang efektif, karena beberapa hal. Di antaranya karena sewaktu-waktu topik utama bisa berubah, sehingga bisa jadi topik yang dimuat pada edisi berikutnya tidak sama dengan topik yang diumumkan sebelumnya. Di antaranya lagi karena topik utama tidak bisa diisi oleh pembaca. Jadi memberitahukan rencana topik utama tidak begitu penting. 2) Buletin SIDOGIRI tidak membidik topik-topik aktual saja, karena kami tahu bahwa masyarakat membaca Buletin SIDOGIRI tidak untuk mencari berita-berita aktual, sebab hal-hal aktual bisa mereka dapatkan di televisi, koran, dan internet. Fokus pada topik utama kami adalah mengkaji hal-hal yang dianggap penting untuk diketahui masyarakat dari sudut pandang Islam. Jadi sifatnya bisa aktual atau tidak. Terima kasih.

Mengirim Tulisan

BS. Akan tetapi penanggung jawab rubrik tidak harus mengisi rubriknya dengan tulisannya sendiri. Mereka boleh mengisinya dengan tulisan yang datang dari para pembaca sekalian. Karena itu, sebagaimana telah kami sampaikan dalam Salam Redaksi, bahwa kami sangat mengharap partisipasi dari pembaca agar juga menulis untuk Buletin SIDOGIRI, sehingga terjadi interaksi yang lebih positif antara BS dan pembacanya. Terima kasih.

Foto Redaksi

Hai Kak BS yang makin cakep aja, kenapa sih dari awal foto-foto redaksi BS tidak pernah dipajang di BS, kok tidak seperti majalah-majalah yang lain? Aini, Bangil, 081989875xxx 09.11.2011 20.05 Terimakasih atas perhatian Anda kepada Buletin SIDOGIRI. Sebetulnya telah ada banyak surat dengan permintaan serupa. Akan tetapi sampai saat ini kami tidak bisa memenuhi permintaan itu, karena redaksi Buletin SIDOGIRI sama-sama keberatan jika foto mereka ditampilkan. Terima kasih.

Makalah Murid Aliyah

Saya lihat rubrik-rubrik di BS diisi oleh tulisan-tulisan redaksi. Apakah memang yang bukan redaksi tidak diperkenankan mengisi rubrik-rubrik di BS? Syukran. M. Imron, Probolinggo, 085252353xxx

Saya dengar persyaratan IMNI tingkat Aliyah jurusan dakwah itu harus membuat artikel ilmiah/makalah. Bagaimana kalau BS memuat salah satu dari yang terbaik, agar mereka tambah semangat belajar, dan semua orang tahu kalau santri itu serba bisa. Terima kasih.

Terima kasih atas perhatiannya. Setiap rubrik yang tersedia di Buletin SIDOGIRI memang ada penanggung jawabnya masing-masing. Penanggung jawab rubrik adalah jajaran redaksi

Usulan brilian, terima kasih. Usulan Anda menjadi bahan pertimbangan kami.

11.10.2011 07.11

M. Sholihin Umar, Bangkalan, 087757393xxx 20.04.2011 10.35

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

7


Buletin SIDOGIRI menerima konsultasi masalah akidah dan ushuluddin. Kirim melalui SMS ketik: SW#nama Anda#kotaAnda#pertanyaan Anda (contoh: SW#Ahmad Mujib#Pasuruan#isi pertanyaan), ke 081330440000, email: buletinsidogiri@yahoo.co.id atau surat ke alamat redaksi.

Sowan

diasuh oleh: KH. A. Nawawi Abd. Djalil (Khâdimul-Ma‘had Sidogiri)

Badâ’ dalam Syiah Kyai, mohon penjelasan tentang ideologi Badâ’ yang menjadi salah satu keyakinan pokok dalam agama Syiah? Dan apakah Badâ’ itu sama dengan konsep Nâsikh-Mansûkh?

Anonim

Badâ’ adalah timbulnya pemikiran baru, semisal: kita telah mengambil satu keputusan, dengan pertimbangan yang sangat matang, di mana buah pertimbangan ini selanjutnya disebarkan, agar menghasilkan karya yang nyata. Namun tidak lama berselang, terlintas di benak kita bahwa keputusan yang telah diambil ternyata

8

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

kurang tepat, sehingga mengharuskan untuk menghapus keputusan tadi dan menggantinya dengan hasil pikiran yang baru. Hal semacam ini lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sebab kesalahan dalam mengambil sikap adalah hal yang manusiawi. Tapi bagaimana kalau Badâ’ dengan arti ini disandarkan kepada Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu, akan segala apa yang ada di alam ini. Jadi pada hakikatnya Badâ’ adalah pelecehan pada sifat Ulûhiyyah-nya Allah  . Dalam Islam, doktrin Badâ’ tidak pernah dikenal. Justru keyakinan ini masyhur dan lumrah dikenal


Sowan dalam agama Yahudi. Sehingga bisa disimpulkan penalaran yang paling mendekati kebenaran mengenai awal mula munculnya doktrin ini adalah, bahwa Badâ’ memang bersumber dari doktrin Yahudi. Kesimpulan ini semakin masuk akal jika kita kembali pada kenyataan bahwa pencetus dari sekte Syiah memang seorang Yahudi tulen, yakni Abdullah bin Saba’. Badâ’ merupakan salah satu akidah pokok dalam ajaran Syiah. Dan setara dengan akidah-akidah Syiah yang lain, sampai-sampai ada riwayat dalam alKâfî, salah satu kitab hadits mereka yang menyatakan sebagai berikut: Tidak ada penyembahan kepada Allah yang lebih baik dari pada Badâ’. Dalam riwayat lain dari Abu Abdillah  juga disebutkan: Tidak ada pengagungan kepada Allah seperti Badâ’. Di antara contoh doktrin Bada’ yang diterapkan dalam ajaran Syiah adalah bahwa Syiah Itsna Asyariyah percaya jika imâmah akan selalu diwasiatkan kepada putra tertua dari Imam sebelumnya, kecuali Imam pertama yaitu Imam Husain  . Komitmen Syiah Itsna Asyariyah ini terus berlangsung hingga periode Imam Ja‘far Shadiq, Imam keenam Syiah. Beliau—menurut kepercayaan Syiah—juga berwasiat bahwa yang akan menjadi penggantinya kelak adalah putra tertuanya, Isma‘il bin Ja‘far. Namun ternyata Isma‘il meninggal saat ayahnya masih hidup. Akhirnya, imâmah diwasiatkan kepada adiknya, yaitu Musa bin Ja‘far. Tentunya, keputusan ini dengan sendirinya membongkar kepercayaan awal, bahwa wasiat hanya bisa diberikan kepada putra tertua. Di sini mereka mencari solusi agar bisa keluar dari masalah yang tengah dihadapi. Akhirnya mereka membuat

hadits Badâ’ yang dinisbatkan kepada Imam Ja‘far ash-Shadiq  sebagai berikut:

Tidak ada pengubahan rencana Allah yang lebih besar daripada pengubahan rencananya dari Isma’il anakku... sebab Dia telah mengambilnya lebih dahulu sebelum aku, itu semua agar Dia memberitahu bahwa Isma‘il tidak akan menjadi Imam sepeniggalku. Dan perlu diketahui bahwa Bada’ tidak sama dengan NâsikhMansûkh. Sebab ada sebagian orang yang menyamakan antara keduanya. Mansûkh merupakan hukum sementara yang dibatasi masa berlakunya oleh Allah  , yang apabila waktu tersebut telah habis, maka akan segera diganti dengan hukum lain yang telah dipersiapkan sebelumnya (Nâsikh). Naskh akan sangat bertolak belakang dengan Badâ’ manakala ditinjau dari kenyataan bahwa Ismail bin Ja‘far saat itu masih belum menjadi Imam. Andai saja Ismail meninggal setelah ia sempat menjadi Imam, barangkali masih ada peluang untuk menyamakan Badâ’ dengan Naskh, karena pemberlakuan hukum sementara masih akan kelihatan, namun nyatanya sejarah menyuguhkan cerita yang berbeda kepada kita. Selain itu, jika kita melihat riwayat Badâ’ yang termaktub dalam kitab alKâfî sangat tampak sekali jika kedua konsep ini sangat bertolak belakang. Riwayat tersebut adalah:

“Benar wahai Abu Hasyim, tampak pada Allah dalam diri Abu Muhammad setelah kematian Abu Ja‘far  sesuatu yang belum diketahui-Nya. BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

9


Kata Mereka Kami Front Pembela Islam menolak kedatangan Obama karena Obama masih mendukung penjajahan Israel atas Palestina. Ketua DPP Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menolak kedatangan Presiden AS Barack Obama pada KTT ASEAN, 17-18 November 2011, di Bali. Beliau menyampaikannya usai berceramah pada acara tabligh akbar di Lapangan Gasibu Bandung, 15/11. (antaranews. com)

Ada pejabat yang memiliki sikap ingin dihormati berlebihan. Kalau enggak dijemput ramai-ramai merasa tersinggung. Maunya, harus dijemput pakai sirene biar ramai. Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD menyindir para pejabat yang dinilainya melakukan “korupsi non-konvensional”. Korupsi tersebut, kata Mahfud, terkait adanya pemanfaatan jabatan untuk kepentingan pribadi. Salah satunya, pejabat yang gila hormat jika berada di tengah masyarakat. “Korupsi-korupsi seperti itu yang bisa menjadi bibit-bibit korupsi konvensional seperti mengambil uang negara,” tegas tokoh asal Madura itu di gedung MK, Ahad, 13/11. (kompas.com)

Yang jelas mereka sangat perlente, mobil dinas Crown Royal Saloon yang jauh lebih mewah dari mobil perdana menteri negeri tetangga. Mereka lebih mencerminkan politisi yang pragmatis-hedonis. Pada saat menyampaikan pidato kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2011 di Taman Ismail Marzuki, Kamis (10/11) malam, Ketua KPK Busyro Muqoddas menyindir pejabat negara dan anggota dewan yang kerap kali bergaya perlente. Ia menilai lembaga negara dihuni pemberhala nafsu dan syahwat politik kekuasaan dengan moralitas rendah. Meski banyak yang mendukung dan menilai positif, namun kritik tersebut membuat beberapa pimpinan dan anggota DPR kebakaran jenggot. (detik.com; tempointeraktif.com; jpnn.com)

Jakarta (Pemerintah-red) berhasil meng-Indonesiakan emas Papua, hutan Papua, laut Papua; tapi belum meng-Indonesiakan orang Papua. Menurut Thaha Muhammad Alhamid, sekjen Presidium Papua, dalam diskusi Mencari Solusi untuk Papua, Selasa (8/11) di Jakarta, persoalan mendasar di Papua bukan hanya masalah kesejahteraan atau uang. Ia menilai pemerintah selalu memandang orang Papua bukan bagian dari Indonesia. (republika.co.id; kompas.com; antaranews.com)

10

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


Editorial

Menghabisi Israel!

U

NTUK saat ini, menghabisi Israel tampaknya sudah menjadi suatu kewajiban bagi seluruh umat manusia. Tentu saja mereka yang pro terhadap Israel, mesti juga dihabisi. Bagaimana tidak? Di belakang setiap bencana nyaris pasti ada Israel. Satu-satunya bangsa yang terus dibiarkan berbuat zalim kepada bangsa lain adalah Israel. Tapi bagaimana cara menghabisi Israel? Israel kini lebih berkuasa dari negara adikuasa apapun. Jadi untuk saat ini, menghabisi Israel tampaknya juga menjadi sesuatu yang hampir mustahil. Israel memiliki proyek pengembangan senjata nuklir terbesar di dunia, mendapatkan perlindungan dan pendanaan kuat dari negara adikuasa, dan bisa menyetir veto dari pihak berkuasa yang memiliki veto itu sendiri. Betapa berkuasanya.

Tampaknya, bangsa Israel, alias Bani Israel, memang tercipta sebagai pemeran antagonis dalam pentas kehidupan di dunia ini. Tampaknya, bangsa Israel, alias Bani Israel, memang tercipta sebagai pemeran antagonis dalam pentas kehidupan di dunia ini. Karena itu dalam perjalanan kehidupan mereka yang membentang sejak ribuan tahun yang silam, kita melihat betapa Bani Israel tidak pernah letih untuk berbuat kerusakan di muka bumi, sekalipun mereka telah mendapatkan pelajaran yang luar biasa dahsyat dari Tuhan. Fakta bahwa al-Qur’an bercerita banyak tentang Bani Israel, menunjukkan betapa peranan mereka dalam pentas kehidupan ini sangat penting, yang BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

11


Momen kehancuran Israel harus disambut dengan perjuangan menghabisi mereka: menghabisi Israel! tempaknya memerankan tokoh antagonis. Fakta tersebut juga memberikan sinyal kuat terhadap umat Islam, bahwa mereka mesti memberikan perhatian lebih terhadap Bani Israel, sebagai pelajaran agar umat Islam tidak meniru perilaku Bani Israel yang bejat, yang membunuh nabi-nabi mereka, mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka, dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dalam al-Qur’an ditegaskan: “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (QS. Al-Isra’ [17]: 4). Merurut sebagian ahli tafsir, yang dimaksud dengan membuat kerusakan dua kali di sini ialah, pertama menentang hukum Taurat, membunuh Nabi Syu’ya dan memenjarakan Armia, dan yang kedua membunuh Nabi Zakaria dan bermaksud untuk membunuh Nabi Isa . Akibat dari perbuatan itu, Yerusalem dihancurkan. Jika ayat-ayat Allah , baik yang berupa mukjizat kasat mata maupun yang berupa kitab suci, diacuhkan begitu saja oleh Bani Israel, bagaimana saat ini mereka tidak mengacuhkan hukum-hukum ciptaan manusia, bahkan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa sekalipun? Jika nabi-nabi yang diutus langsung

12

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

oleh Allah  dibunuh oleh orangorang Bani Israel, bagaimana kini mereka tidak membunuh para pengikut nabi yang diutus Allah ? Jika pada periode terutusnya nabi-nabi mereka berbuat kerusakan secara terang-terangan, bagaimana kini mereka tidak akan membuat kerusakan yang lebih besar, pada zaman ketika nabinabi sudah tak ada lagi? Memang, untuk saat ini, perjuangan untuk menghabisi Yahudi sangatlah berat, terutama pada zaman ketika kini kebanyakan umat Islam sedang terbawa oleh arus Yahudi dan Kristen, bahkan – seperti dikemukakan dalam sebuah Hadis – ketika Yahudi dan Kristen masuk ke lubang biawak sekalipun, umat Islam akan mengikutinya. Akan tetapi perjuangan harus terus dilanjutkan. Ya! Perjuangan melawan Yahudi atau Bani Israel harus terus dilanjutkan, karena memang peperangan antara Islam dan Yahudi adalah peperangan terakhir yang terjadi di pentas kehidupan dunia ini, sebagaimana diisyaratkan dalam sejumlah Hadis Nabi . Dan, kini, peperangan itu telah berlangsung, bahkan sejak lama sudah berlangsung, saat Bani Israel berhasil mencaplok tanah Palestina pada tahun 1948. Momentum kehancuran Yahudi, sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadis, itu tidak untuk ditunggu dengan santai. Momen kehancuran Israel harus disambut dengan perjuangan menghabisi mereka: menghabisi Israel!  BS


Topik Utama

Banyak Anak Banyak Rezeki

UMAT Islam tidak diharamkan mengikuti program Keluarga Berencana (KB), asalkan program KB yang diikuti tidak menyalahi syariat Islam, seperti KB yang tidak memungkinkan untuk memiliki anak. Mengikuti program KB boleh-boleh saja, asalkan ditujukan agar bisa mengurusi anak dengan lebih baik, mulai dari kesehatan jasmani, psikologis, hingga pendidikannya dan merencanakan masa depannya. Akan tetapi, yang perlu diwaspadai oleh setiap umat Islam adalah, jangan sampai terpancing oleh kata-kata busuk yang melatar-belakangi program KB. Sebab umat sering ditakut-takuti, jika mereka punya anak banyak, rezeki mereka akan seret. Mereka tidak bisa menyekolahkan anak. Mereka tidak bisa memberi makan anak. Dan anak-anak mereka akan terlantar. Jika umat Islam mempercayai kata-kata busuk itu begitu saja, maka telah terjadi ancaman yang hebat terhadap akidah dan keyakinan mereka. Umat Islam harus terus berpegang pada akidah yang benar: “Banyak anak banyak rezeki!â€?, karena rezeki setiap makhluk dijamin oleh Tuhan Pencipta makhluk itu sendiri.  BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

13


Benang Kusut Program KB Menolak KB adalah harga mati, karena itu bertentangan dengan program Nabi  dalam Hadis beliau, yang justru memerintahkan untuk memperbanyak anak.

14

S

ELAMA ini, setiap kali program Keluarga Berencana (KB) digulirkan oleh pemerintah, selalu saja terjadi kontroversi, terutama sekali antara kubu pemerintah dan agamawan. Bagi kubu pemerintah, menjalankan program KB adalah harga mati, karena mereka berpegang pada data-data yang tak bisa disangkal kebenarannya. Sedangkan bagi kubu agamawan, menolak KB adalah harga mati, karena itu bertentangan dengan program Nabi  dalam Hadis beliau, yang justru memerintahkan untuk memperbanyak anak. Jika kita sepakat bahwa perdebatan ini hanya akan menghambat program masingmasing, yang sama-sama memiliki dasarnya sendiri, maka tentu

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

diperlukan reposisi pemahaman, setidaknya untuk membawa kedua kubu yang ada pada kalimatin sawâ’ (kata satu), yang bisa diterima oleh masing-masing kubu. Dalil-Dalil Pro-Kontra Pemerintah, yang sangat bersemangat menyerukan program KB sejak zaman Orde Baru, mengandalkan data-data empiris, yang menunjukkan bahwa ledakan penduduk adalah malapetaka bagi bangsa dan negara. Biasanya, pandangan ini hampir selalu merujuk pada teori “Ledakan Penduduk” (Over population) yang dicetuskan pertama kali oleh Thomas Malthus pada tahun 1798, melalui tulisannya yang berjudul Essay on the Principle of Population. Di sini, Malthus menyatakan


bahwa kelangkaan barang akan menyebabkan masalah, karena penduduk bertambah sesuai deret ukur (2,4,8,16,32). Sedangkan sumber-sumber daya seperti makanan, bertambah sesuai dengan deret hitung (2,4,6,8,10). Selain itu, sampai saat ini, indeks pembangunan manusia Indonesia (Human Development Index/HDI), masih kurang bagus. Indeks pembangunan manusia Indonesia kualitasnya masih rendah. Dari 187 negara yang disurvey, Indonesia hanya berada di urutan 111. Jadi, jika pada tahun 2010 saja jumlah penduduk Indonesia telah mencapai angka 237,6 juta jiwa, lantas bagaimana dengan tahun 2045 mendatang. Salah seorang pakar memprediksi, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2045 mencapai angka 450 juta jiwa. Pada saat itu, jumlah penduduk dunia mencapai angka 7 miliar jiwa. Artinya, satu dari 20 penduduk dunia adalah orang Indonesia. Pertanyaannya sekarang adalah, mampukah negara memberikan kesejahteraan pada masyarakat Indonesia pada tahun 2045, yang jumlah penduduknya diperkirakan dua kali lipat lebih banyak daripada yang ada dari sekarang? Padahal dengan jumlah yang ada sekarang, 50% penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan? Maka, hingga detik ini, satusatunya jawaban yang ditemukan oleh pemerintah adalah KB, yakni dua anak cuku, laki-laki atau perempuan sama saja. Dan, jika KB tidak segera diambil

sebagai solusi, maka setumpuk permasalahan sudah menunggu di ujung jalan, mulai dari persaingan lapangan pekerjaan, persaingan untuk mendapat pemukiman, kesempatan pendidikan, layanan umum yang tidak akan kondusif, seperti problem kemacetan jalan raya, dan problem sosiallingkungan, seperti penumpukan sampah dan semacamnya. Sedangkan para agamawan tentu saja akan merujuk kepada dalil-dalil agama. Akan tetapi yang paling populer di sini adalah dalil Hadis, bahwa Rasulullah ď Ľ akan berbangga dengan umat yang banyak di hari kiamat. Alasan ini juga terkait dengan gerakan dakwah Islam. Jika umat Islam semakin banyak, maka penyebaran dakwah akan semakin mudah dan cepat meluas, yang pada gilirannya membawa Islam pada jalur kejayaan dan kemenangan.

Ledakan penduduk didengungkan sebagai penyebab kehancuran ekonomi tidaklah benar. Sebab kemerosotan ekonomi sesungguhnya diakibatkan karena ketidakadilan

Mengurai Benang Kusut Sebetulnya, KB bukan harga mati. Bagaimanapun, ledakan penduduk didengungkan sebagai penyebab kehancuran ekonomi tidaklah benar. Sebab kemerosotan ekonomi sesungguhnya diakibatkan karena ketidakadilan dan keserakahan segelintir manusia seperti penyelewengan distribusi pangan atau penimbunan yang dilakukan dengan skala besar. Sebagai bukti, 80 % barang dan jasa dunia dinikmati oleh negara-negara kapitalis yang jumlah penduduknya hanya sekitar 25% penduduk dunia. Merosotnya ekonomi tidak berkaitan dengan populasi manusia. Bumi akan selalu mencukupi kebutuhan BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

15


Mengikuti program KB ataupun tidak bukanlah perkara yang teramat penting. Yang paling penting bagi umat Islam adalah bagaimana mereka membangun bibit-bibit unggul untuk kejayaan Islam di masa depan.

16

penduduknya, berapapun jumlahnya. Akan tetapi seluruh isi kandungan bumi tidak akan pernah cukup untuk segelintir orang yang tamak dan rakus. Dari sini kita harus mengerti bahwa KB bukanlah satu-satunya jaminan. Sedangkan di sisi lain, memperbanyak keturunan juga bukan kewajiban yang mutlak dalam pandangan Islam, sehingga tidak perlu ditonjolkan seakanakan ia adalah harga mati. Islam tentu tidak menginginkan umatnya memiliki generasi-generasi yang lemah dalam segala aspeknya, sehingga malah membebani orang lain. Tentu saja hal ini malah tidak membuat Islam bangga. Dalam al-Qur’an disebutkan (QS an-Nisa [4] :9): “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.� Jadi jika pun KB dilaksanakan oleh umat Islam, tentu itu dalam konteks untuk memberikan hakhak anak secara penuh, terutama sekali dalam hal pendidikan mereka, baik pendidikan jasmani, rohani, dan keilmuan. Hal demikian adalah untuk membangun generasi-generasi muslim yang unggul dan berkualitas. Jadi kalaupun KB harus diikuti oleh umat Islam, maka ia dilakukan bukan untuk urusan rezeki, karena bagaimanapun, bagi umat Islam urusan rezeki bukan akar masalahnya. Sebab rezeki setiap

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

mahluk sudah dijamin oleh Sang Pencipta makhluk itu sendiri. Umat Islam mesti memahami bahwa rezeki sama sekali tidak ekuivalen dengan uang atau kekayaan. Kadang orang banyak uang dan kaya, akan tetapi rezekinya sedikit. Kadang pula terjadi yang sebaliknya. Semisal ada orang kaya yang bisa makan apapun, akan tetapi dia terserang komplikasi penyakit, yang membuat ia tak bebas memilih menu yang ia suka. Sementara orang miskin yang tak sanggup membeli, justru bisa makan makanan apapun yang diberikan kepadanya. Itulah rezeki. Sebagai catatan berikutnya untuk pemerintah, adalah jika memang pemerintah mengkampanyekan program KB, maka pada saat yang sama pemerintah juga harus menyiapkan sejumlah program untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Jika program KB tidak diiringi dengan kebijakan program meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam segenap aspeknya, maka itu akan membuat kondisi bangsa ini semakin parah. Jumlah penduduknya sedikit, sumber daya manusianya juga rendah. Alhasil, mengikuti program KB ataupun tidak bukanlah perkara yang teramat penting. Yang paling penting bagi umat Islam adalah bagaimana mereka membangun bibit-bibit unggul untuk kejayaan Islam di masa depan. Jika generasigenerasi yang unggul justru sangat mungkin untuk diproduksi dalam jumlah besar, why not?! Moh. Achyat Ahmad/BS


Syiar Agama dan Politik Populasi

K

ONON, Firaunlah yang mula-mula menerapkan kebijakan politik berupa tahdĂŽdun-nasl, atau pembatasan populasi, dalam sejarah umat manusia. Sebagaimana telah maklum, Firaun menghabisi bayi-bayi lelaki Bani Israil dan membiarkan bayi perempuan mereka hidup, sebagai strategi politik untuk melanggengkan kekuasaannya. Kalau dilihat dari sudut pandang agama, kebijakan

Firaun menghabisi bayi-bayi lelaki Bani Israil dan membiarkan bayi perempuan mereka hidup, sebagai strategi politik untuk melanggengkan kekuasaannya. pembatasan keturunan memang kurang pas dengan beberapa nilai ajaran. Dalam Islam, terdapat banyak anjuran agar seseorang memperbanyak keturunan. Jumlah yang besar memiliki sisi penting sebagai syiar atau simbol BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

17


kekuatan. Islam memiliki perhatian yang cukup besar terhadap kesan ini, misalnya melalui syariat salat jemaah, salat Jumat, salat Id, dan wuquf di Arafah. Momen-momen ibadah tersebut, memiliki sisi pengesanan kuantitas yang kuat, besar, kokoh dan bersatu. Perhatian utama Islam tentu saja pada kualitas. Namun demikian, Islam juga memiliki perhatian yang sangat besar terhadap kuantitas. Hal itu tergambar dengan sangat jelas dalam sabda Rasulullah , “Sesungguhnya aku membanggakan jumlah banyak kalian terhadap umat-umat yang lain di hari kiamat.” (HR Ibnu Hibban).

mengeluarkan sperma di luar rahim). Mengenai penggunaan terapi atau obat-obatan pencegah kehamilan, Syekh Izzuddin bin Abdissalam menyatakan, “Tidak boleh bagi perempuan ( juga lelaki) menggunakan obat-obatan untuk mencegah kehamilan.” Namun demikian, menurut Imam Syihabuddin ar-Ramli dalam Nihâyatul-Muhtâj, ada ulama lain yang menyatakan bahwa hukum tindakan tersebut sama halnya dengan azl (makruh). Ar-Ramli juga memberi catatan bahwa pendapat yang tidak memperbolehkan tindakan tersebut seharusnya diarahkan

Perhatian utama Islam tentu saja pada kualitas. Namun demikian, Islam juga memiliki perhatian yang sangat besar terhadap kuantitas. Hal itu tergambar dengan sangat jelas dalam sabda Rasulullah , “Sesungguhnya aku membanggakan jumlah banyak kalian terhadap umat-umat yang lain di hari kiamat.” (HR Ibnu Hibban). Imam Ibnu Hajar alAsqalani dalam Fathul-Bâri dan Imam asy-Syathibi dalam alMuwâfaqât menyatakan bahwa memperbanyak keturunan kaum Muslimin merupakan salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad . Hal ini termasuk bagian dari maqashidus-syarîah yang berupa hifzhun-nafs (menjaga keberlangsungan hidup). Oleh karena itu, Islam mensyariatkan pernikahan, melarang perzinahan, pengebirian (kasim), aborsi dan kehidupan membujang ala biarawan. Termasuk juga, memakruhkan bagi suami melakukan tindakan azl (mencabut zakar sebelum ejakulasi/

18

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

pada obat pencegah kehamilan yang bersifat permanen. Sedangkan yang bersifat sementara, lebih tepatnya disamakan dengan ‘azl (berhukum makruh). Inilah hukum aslinya secara fikih. Dalam kondisi-kondisi tertentu hukum tersebut bisa berubah sesuai tuntutan kondisi, misalnya bila tindakan pencegahan kehamilan tersebut diperlukan untuk keselamatan ibu atau anak, serta faktor medis yang serupa. Lalu, bagaimana jika misalnya pencegahan kehamilan atau pembatasan keturunan dilakukan karena faktor ekonomi, pendidikan atau menjadi kebijakan penguasa


yang diterapkan secara umum untuk menekan laju populasi penduduk yang meningkat dengan cepat?. Masalah ini termasuk persoalan masa kini yang tidak muncul pada masa hidup para ulama salaf dahulu. Maka, jelas melahirkan perdebatan dengan sudut pandang yang amat beragam. Syekh Abdul Majid Salim, mufti Diyar Mishriyah, pada tahun 1355 H mengeluarkan fatwa memperbolehkan pencegahan kehamilan karena alasan-alasan tersebut. Hal itu, apabila suami-istri sudah sepakat dan pencegahannya hanya bersifat sementara. Jika pencegahan itu bersifat permanen, maka haram, baik untuk istri atau suami. Syaikhul Azhâr, Syekh Mahmud Syaltut, menyatakan bahwa pemerintah tidak boleh membuat kebijakan membatasi keturunan, karena hal itu bertentangan dengan fitrah manusia dan sunnatullah. Namun, jika hal itu dilakukan oleh perorangan dalam bentuk pengaturan kelahiran karena faktor kesehatan, ekonomi, pendidikan dan semacamnya, maka hal itu tidak bertentangan dengan syariat dan fitrah manusia. Menurut beliau, itu boleh-boleh saja, atau bahkan bisa dianggap baik. Syekh Abdullah al-Qalqili, Mufti Yordania, menyatakan bahwa Islam memang menganjurkan pemeluknya untuk memperbanyak anak. Namun, hal itu terkait erat dengan kondisi di masa lampau, di mana Islam saat itu sangat membutuhkan kuantitas pemeluk sebagai syiar dan tiang kekuatan

Masalah ini termasuk persoalan masa kini yang tidak muncul pada masa hidup para ulama salaf dahulu. Maka, jelas melahirkan perdebatan dengan sudut pandang yang amat beragam.

politik-militer. Sementara, kondisi saat ini justru sebaliknya. Menurut beliau, persoalan ekonomi, kepadatan penduduk, juga kualitas pendidikan yang dihadapi umat Islam saat ini menyebabkan perlunya pengaturan kelahiran atau pembatasan keturunan. Nalarnya, menurut al-Qalqili, berangkat dari Hadis bahwa Rasulullah ď ˛ menganjurkan nikah bagi pemuda yang memiliki kemampuan ekonomi. Sedangkan, untuk pemuda yang tidak mampu, beliau menganjurkan puasa, menahan nafsu. Jika persoalan ekonomi menyebabkan seorang lelaki boleh membujang, maka pembatasan anak lebih boleh lagi. Pendapat al-Qalqili ini bertentangan dengan Syekh Yusuf az-Zawawi, mufti Trengganu Malaysia. Beliau menyatakan, kebijakan pembatasan anak karena alasan ekonomi tidak dapat diterima dalam pandangan syariat. Sebab, Islam sangat menganjurkan kepada pemerintah dan masyarakat agar memperbanyak keturunan supaya kaum Muslimin terlihat kuat di hadapan umatumat yang lain. Pandangan senada dengan az-Zawawi banyak muncul dari kalangan ulama Wahabi. Rata-rata mereka menolak pembatasan anak karena faktor ekonomi, sebab sudah dengan BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

19


kebijakan penekanan angka kelahiran di berbagai negara Islam sejak 1950-an merupakan strategi yang dihembuskan oleh orangorang Yahudi dan musuh-musuh Islam untuk melemahkan kekuatan kaum Muslimin. sangat jelas dinyatakan dalam alQur’an, bahwa urusan ekonomi ditanggung oleh Allah . Abdul Aziz bin Baz, ulama Wahabi yang sangat masyhur, secara khusus menanggapi pernyataan alQalqili sebagai argumentasi dan nalar yang aneh. Nalar tersebut bertentangan dengan dalil-dalil yang sharîh mengenai anjuran memperbanyak anak dan bahwa rezeki mereka ditanggung Allah. Lebih dari itu, ulama Wahabi yang lain, Muhammad Jamil Zainu, menyatakan bahwa ketakutan dalam masalah ekonomi merupakan bisikan yang sering didengungkan oleh setan, sebagaimana telah dijelaskan dalam QS al-Baqarah: 268. Bahkan, beberapa ulama Wahabi menengarai bahwa meluasnya kebijakan penekanan angka kelahiran di berbagai negara Islam sejak 1950-an merupakan strategi yang dihembuskan oleh orang-orang Yahudi dan musuhmusuh Islam untuk melemahkan kekuatan kaum Muslimin. Populasi

umat Islam yang terus meningkat menggoreskan kengerian di hati mereka. Pada tanggal 21 Juli 1969, Henri Kissinger, penasehat keamanan Amerika Serikat di era pemerintahan Nixon menyatakan di hadapan Senat, “Pesatnya populasi di Dunia Ketiga merupakan ancaman bagi keamanan bangsa Amerika.” Selanjutnya, pernyataan tersebut dipertajam oleh stafnya, Brent Scow Croft, sampai-sampai dia melontarkan wacana agar Amerika Serikat berupaya mengurangi populasi di Dunia Ketiga dengan cara perang dan penyebaran virus epidemik. (Jaridah al-Khalij edisi 6/9/1995). ***** Menyikapi pro kontra tersebut, sebaiknya kita mempertimbangkan keadaan nyata yang sedang dialami, dengan disertai keyakinan yang benar, niat yang baik dan landasan yang kuat. Sebab, berbagai sudut pandang di atas sama-sama memiliki nalar rasional dan layak dijadikan pertimbangan. Oleh karena itu, keputusan selanjutnya terserah Anda… “Li kulli unâsin fî ba’îrihim khubrah; Masing-masing orang lebih tahu tentang ciri khas untanya.” Demikian kata pepatah Arab. Ahmad Dairobi/BS

“Punya ilmu tapi tak punya harta, ibarat punya kaki tapi tak punya sandal. Punya harta tapi tak punya ilmu, ibarat punya sandal tapi tak punya kaki..” ~ Abdurrahman al-Muqatili

20

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


KH Nurul Huda (Ketua MUI Kab. Pasuruan)

Tambah Anak Tambah Rezeki BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

21


SEJAK dicanangkannya pada tahun 1957, program KB mendapat sambutan yang beragam dari ulama. Ada yang menerima dengan catatan. Ada yang menolak dengan tegas. Ada pula yang no comment. Di luar perbedaan itu, saat ini umat Islam banyak yang mengikuti KB. Umumnya, mereka ikut serta dalam program kontrol populasi ini karena mencemaskan soal ekonomi. Mereka punya anggapan, “menambah anak berarti menambah beban keluarga.” Sama persis dengan slogan KB. Nah, bagaimana Islam membincang masalah tersebut? Berikut penjelasan dari KH Nurul Huda, Ketua MUI Kab. Pasuruan, saat ditemui oleh Muntahal Hadi dan Moh. Achyat Ahmad dari Buletin SIDOGIRI di kediamannya, beberapa waktu yang lalu. Bagaimana Islam berbicara tentang keturunan? Islam memiliki perhatian yang besar terhadap masalah keturunan. Dalam Islam masalah keturunan memang harus dijaga betul dengan melalui pernikahan, dan berhati-hati dalam melaksanakannya. Seperti disebutkan dalam khutbah nikah, bahwa pernikahan merupakan sebab bagi kelestarian keturunan. Jadi, memang harus dijaga betul. Di samping itu, memperbanyak keturunan memang dianjurkan. Rasulullah  bersabda, “Tanâkahû tanâsalû,” (Menikahlah kalian dan buatlah keturunan), dan “Tazawwajû al-walûd,” (Menikahlah kalian dengan wanita yang subur). Kenapa Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memperbanyak keturunan? Ya untuk memperbanyak umat Islam, sehingga agama Islam menjadi kuat. Nanti kalau sudah berhasil, maka Rasulullah bisa mubâhin bikum al-umam yaumal-qiyâmah, (Membanggakan umatnya kepada umat-umat yang lain di hari kiamat). Tujuannya adalah agar umat Islam menjadi

22

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

umat yang dibanggakan. Jadi bukan hanya untuk memperbanyak anak saja, tapi tentunya juga merawatnya dengan baik dan maksimal, sehingga menjadi khaira ummah; umat yang paling bagus dan berkualitas. Bagaimana komentar Anda tentang program population control melalui Keluarga Berencana (KB) di Indonesia? Dalam masalah KB itu, saya melihat ada beberapa pemerincian. Kalau memang tujuannya untuk tanzhîmun-nasli, untuk mengatur jarak kelahiran agar perawatan dan pendidikan anak tidak terbengkalai, itu hukumnya sunah. Di dalam fikih, itu dihukumi sunah agar supaya perawatan dan pendidikan anak bisa maksimal dan sempurna. Tapi untuk alasan melakukan seperti itu ukurannya relatif. Kalau seorang ibu dimungkinkan tiap tahun melahirkan dan anaknya bisa terawat dan terdidik dengan baik, ya bisa (dia tidak perlu mengatur jarak kelahiran). Kalau tidak memungkinkan, ya standarnya dua tahun. Yang penting anak bisa terawat


dan terdidik dengan baik dan maksimal. Jadi, ini berkaitan dengan masalah penjarangan. Tapi kalau tujuannya tidak seperti itu, misalnya pada saat dia seharusnya punya keturunan lagi dan anaknya sudah waktunya punya adik, tapi ternyata dia menunda lagi, maka penundaan itu hukumnya makruh, karena termasuk kategori ‘azl. ‘Azl itu artinya mengeluarkan air mani di luar kemaluan istrinya. Praktik ini juga sering dilakukan oleh para Sahabat dan tidak dilarang oleh Rasulullah . Tapi meskipun tidak dilarang, ‘azl hukumnya makruh berdasarkan Hadis-hadis yang lain. Jadi yang tadi itu hukumnya sama dengan ‘azl. Begitu juga dengan pemakaian kondom dan spiral. Tapi kalau melakukan KB Steril untuk memutus keturunan, itu hukumnya haram. Kecuali karena ada darurat. Umpanya, kalau melahirkan lagi akan menyebabkan kematian atau bahaya. Dan pemasangan alat-alat itu pada alat vital harus sesuai aturan. Syaratnya yang memasang harus yang ahli, dan tidak boleh dari lawan jenis. Peserta program KB banyak yang menjadikan masalah ekonomi sebagai pertimbangan. Apakah demikian itu bisa dibenarkan? Nah... itu yang tidak boleh. Bahkan bisa mengganggu dan membahayakan akidah. Dengan begitu, berarti dia tidak percaya pada rezeki. Dalam Sullam atTaufîq dijelaskan, orang mukmin

itu diwajibkan tsiqah bir-rizqi. Harus percaya bahwa rejeki itu ditanggung dan dijamin oleh Allah . Sesuai dengan ayat, "Wamâ min dâbbatin fil-ardhi illâ ‘alal-Lâhi rizquhâ,” (Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya). Selain itu, ada ayat, “Walâ taqtulû awlâdakum khasy-yata imlâq, nahnu narzuquhum wa iyyâkum. Inna qatlahum kâna khith‘ân kabîrân.” (Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa besar). Jadi kekhawatiran seperti itu merusak akidah. Membuat orang tidak percaya bahwa yang mengatur rezeki adalah Allah . Dan masalah ini perlu dijelaskan.

Nah... itu yang tidak boleh. Bahkan bisa mengganggu dan membahayakan akidah. Dengan begitu, berarti dia tidak percaya pada rezeki.

Bagaimana cara menjelaskannya? Caranya sederhana saja. Pertama; menerangkan Hadis “Iltamisûr-rizqa bin-nikâh.” (Carilah rezeki dengan menikah). Kemudian contohkan realitas hidup. Orang yang sebelum menikah kerjanya mulai jam 7 sampai jam 4 sore, ya hasilnya begitu. Cukup dimakan satu orang. Kemudian dia menikah dan kerjanya tetap mulai jam 7 sampai jam 4 sore. Hasilnya ya cukup. Rezekinya bertambah. Karena memang jatahnya dari Allah  untuk dua orang. Padahal jalan yang dilewati tetap. Ya, mulai jam 7 sampai jam 4 tadi. Bersambung ke Hlm. 27 BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

23


Prof. Dr. Nur Syam, Mhi. Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya

Dikontrol Agar Seimbang Terlepas dari pro-kontra pandangan terhadap program Keluarga Berencana (KB), adanya population control tampaknya perlu dilakukan karena ada banyak faktor, utamanya faktor ekonomi, ketersediaan sumber daya alam, sumber daya pangan dan lain sebagainya. Hampir semua negara di dunia melakukan control population dengan membatasi angka kelahiran. Bagaimana dengan Indonesia? Sudahkah sesuai harapan? Berikut pemaparan Prof. Dr. Nur Syam. MHi. Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya, saat di wawancarai Alil Wafa dan Abdurrohman Wahid dari Buletin SIDOGIRI, di kantor Rektorat IAIN Sunan Ampel Surabaya.

24

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


Sebagai sosiolog, bagaimana Anda memandang keturunan? Kita berpegangan saja pada ajaran Islam, bahwa menjaga keturunan itu termasuk bagian dari maqâshidusy-syari’ah, hifzhunnafs. Artinya, bahwa Islam sangat menghargai segala hal yang terkait dengan pelestarian, pembinaan, dan perlindungan terhadap anak. Itu saya rasa penting dan merupakan sesuatu yang mendasar. Oleh karena itu, karena Islam menganjurkan seperti itu, maka sudah tepat jika kita sebagai umat Islam melaksanakannya. Bagaimana Anda melihat anjuran pembatasan keturunan oleh pemerintah, ketika dibenturkan pada anjuran memperbanyak keturunan oleh Syariat? Memperbanyak keturunan itu memang boleh (dianjurkan, red). Tetapi harus diperhitungkan juga bahwa, kita tidak boleh meninggalkan keturunan kita dalam keadaan tidak terawat dan tidak terurus. Menurut saya, jangan kita menggunakan satu prinsip kemudian meninggalkan prinsip yang lain. Jadi di dalam Hadis itu memang dinyatakan bahwa kita diperkenankan oleh Nabi, bukan keharusan saya rasa, untuk memperbanyak keturuan. Tapi di sisi yang lain, al-Qur’an juga menyatakan bahwa kita tidak boleh meninggalkan anakanak kita dalam keadaan yang tidak terurus, dalam keadaan tidak terawat, dalam keadaan tidak berpendidikan, dan lain sebagainya. Makanya dua hal ini harus dikompromikan.

bagi keluarga tertentu yang secara ekonomi sudah serba kekurangan, miskin, dan lain sebagainya, jangan hanya berpegangan pada Hadis itu. Dia harus berpengan bahwa dia harus memperbaiki keturunannya.

Maksud dikompromikan? Maksud dikompromikan sepeti ini: bagi masyarakat atau keluarga yang sudah memenuhi persyaratan-persyaratan untuk tidak meninggalkan keturunanketurunannya dalam keadaan seperti tadi, maka tidak ada larangan bagi dirinya untuk memperbanyak anak. Tapi bagi keluarga tertentu yang secara ekonomi sudah serba kekurangan, miskin, dan lain sebagainya, jangan hanya berpegangan pada Hadis itu. Dia harus berpengan bahwa dia harus memperbaiki keturunannya. Satu hal lagi, tadi itu dari dalil agama. Kemudian dari dalil ekonomi atau teori ekonomi bahwa, penduduk yang banyak itu menjadi beban bagi negara dan beban bagi masyarakat. Oleh karena itu, maka perlu dikontrol supaya ada perimbangan antara ketersediaan sumber daya pangan, ketersediaana sumber daya lahan, dan ketersediaan sumber daya alam untuk menampung jumlah manusia itu, sebab kalau orang dilepas begitu saja tanpa adanya kontrol kelahiran, bisa tidak seimbang nantinya. Jadi keseimbangan itu perlu dijaga. Sebenarnya kalau saya boleh menyatakan, kontrol terhadap kelahiran itu bukan untuk BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

25


Jadi sekali lagi keluarga berencana itu bukan untuk membatasi secara rigid seseorang itu boleh punya anak berapa dan berapa, tapi keluarga berencana itu untuk mengatur jumlah populasi agar menjadi seimbang dengan sumber daya alam, mematikan, tapi menurut saya untuk menyeimbangkan agar tidak terjadi over-population yang nantinya berbanding terbalik dengan ketersediaan sumber daya alam, sumbera daya pangan, dan seterusnya. Itu dari ekonomi yang bisa dijadikan penguat bahwa pengontrolan jumlah anak itu penting. Apakah ekonomi jadi pertimbangan utama adanya population control? Saya rasa ini pertimbangan utama dan hampir seluruh negara menetapkan perkembangan jumlah penduduk mengikuti irama seperti itu. Sebab kalau tidak, bisa jadi besar beban pemerintah ke depan dengan membludaknya jumlah populasi penduduk. Ada satu hal yang menarik saya rasa, di beberapa negara seperti di Australia, Singapur, dan beberapa negara Eropa justru sekarang orang diminta untuk punya anak, karena di sana terjadi yang namanya zero population trust, perkembangan penduduk nol. Kalau ini terjadi, maka pada suatu kesempatan akan ada negara yang penduduknya itu tua-tua semua, sedangkan generasi mudanya tidak ada. Ada juga perkembangan yang menarik bahwa, sekarang

26

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

eropa itu menjadi semakin tua penduduknya. Kenapa menjadi semakin tua? Karena tidak ada perkembangan populasi baru, kalaupun ada itu sangat sedikit. Di negara-negara seperti itu yang punya anak malah dikasih insentif. Itu artinya apa, bahwa perkembangan penduduk itu ternyata ada korelasinya dengan sumber daya alam, sumber daya makanan, ekonomi dls. Jadi harus dilakukan kontrol agar terjadi keseimbangan. Untuk di Indonesia sendiri, population control melalui program KB apakah sudah berjalan sesuai harapan? Saya rasa Indonesia cukup bagus dan cukup berhasil dari sisi control kelahiran, karena Indonesia bisa menyeimbangkan jumlah penduduk yang tua, dewasa, muda, dan yang masih anakanak. Sehingga ketika yang tua hilang, yang dewasa menjadi tua, muda menjadi dewasa, dan anakanak menjadi muda, ini berjalan seimbang. Ini termasuk salah satu keberhasilan pemerintah dalam menjalankan program keluarga berencana. Jadi sekali lagi keluarga berencana itu bukan untuk membatasi secara rigid seseorang itu boleh punya anak berapa dan berapa, tapi keluarga berencana itu untuk mengatur jumlah populasi agar menjadi seimbang dengan sumber daya alam, sumber daya pangan, dan sumber daya lain yang tersedia. Tapi di satu sisi sebenarnya besarnya populasi penduduk merupakan potensi?


Iya, kalau besarnya penduduk itu seimbang. Sebab kalau besarnya penduduk itu tidak seimbang, maka menjadi masalah. Penduduk terlalu tua semua malah membebani Negara, penduduk terlalu muda semua, membebani Negara, karena mereka harus dihidupi oleh Negara. Maka keseimbangan itu penting. Seimbang antara yang tua, yang muda, yang anak-anak, dan yang masih dalam usia produktif. India itu contoh yang bagus, karena meskipun jumlah penduduknya 1,2 milyar, tapi komposisinya muda, penduduk mudanya jauh lebih banyak, sehingga tidak membebani Negara, bahkan Negara beruntung, karena dengan berusia muda mereka menjadi tenaga kerja produktif. Ditengarai ada kepentingan agama lain di balik program KB? Saya rasa tidak, adalah personal judgement (penghakiman sepihak, red.) Menurut saya lebih sebagai prejudice (prasangka, red) yang bukan pada tempatnya, karena kepentingan negara itu jauh lebih penting. Jadi mengatur jumlah penduduk itu memang murni milik pemerintah, kewenangan pemerintah. Hampir di seluruh dunia ada program pengaturan penduduk, di satu saat dibatasi, di satu saat kadang digalakkan, di Australia pemerintah memberikan insentif kepada warga negaranya yang punya anak, di Eropa juga seperti itu, jadi tidak ada prejudice yang mengkhawatirkan, itu murni kepentingan pemerintah. BS

Sambungan dari Hlm. 23 Kalau sudah punya anak, berarti tiga orang yang harus dinafkahi. Meskipun kerjanya tetap saja, tidak berubah, tapi kenyataannya dia bisa mencukupi hidupnya. Sampai punya anak lima atau sepuluh, dan waktu kerjanya tidak bertambah, kenyataannya rezekinya ada dan cukup. Dan lagi, Allah  berfirman, "In yakûnû fuqarâ’ yughnîhimulLâhu min fadhlihî,” (Kalau mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunianya). Jadi jangan sampai kita takut tidak makan karena menikah atau punya anak banyak. Apa Kiai melihat adanya kepentingan agama selain Islam dalam program KB? Itu yang harus kita curigai. Memang adanya program KB seperti pada saat Orde Baru tidak Islami. Bahkan orangorang ditakut-takuti, kalau terlalu banyak anak nanti akan kelaparan; tidak bisa memenuhi nafkah keluarganya. Kemudian mereka menyebarkan slogan, “dua anak cukup,” dan menyalahkan “tambah anak tambah rezeki.” Itu jelas kata-katanya orang kafir. Mestinya “tambah anak tambah rezeki” itu yang betul. Tapi disalahkan dan disebarkan ke mana-mana waktu itu. Itu adalah kata-kata orang kafir yang tidak percaya tadi itu, bahwa rezeki itu dari Allah . Ini perlu diwaspadai! BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

27


Buletin SIDOGIRI menerima konsultasi masalah keagamaan. Kirim melalui SMS ketik: bm#namaAnda#kotaAnda# pertanyaanAnda (contoh: BM#Ahmad Mujib#Pasuruan#isi pertanyaan), ke 081330440000, email: buletinsidogiri@ yahoo.co.id atau surat ke alamat redaksi

Musafir yang Boleh tidak Berpuasa

Bagaimana kriteria orang bepergian yang boleh tidak berpuasa? Bayan, Surabaya, 08785695xxx

Orang yang bepergian boleh-boleh saja tidak berpuasa asalkan memenuhi kriteria berikut:  Jarak tempuh perjalanannya mencapai 2 marhalah atau masâfatulqashri ( jarak tempuh boleh mengqashar shalat) yaitu 81 km.  Perjalanannya bukan perjalanan maksiat  Memulai perjalan sebelum subuh

28

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Bahtsul Masail Masail dijawab oleh Lajnah Murajaah Fiqhiyah (LMF)Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri dan dikoordinir oleh Ust. H. Ahmad Baihaqi

menurut pendapat yang kuat. Orang yang memulai perjalan setelah subuh pada hari itu tidak diperbolehkan ifthâr.  Orang yang selalu melakukan perjalanan karena tuntutan profesi, seperti sopir, nelayan tidak diperbolehkan ifthâr kecuali dia mempunyai waktu kosong di hari-hari yang lain untuk meng-qadha’i puasa yang ditinggalkannya.  Perjalanan yang sudah memenuhi kriteria di atas apabila jarak tempuhnya tidak mencapai 3 marhalah (+ 134 km) jika tidak mengalami masyaqqah lebih baik jangan berhenti . Lihat: Fathul Mu’în, bab Puasa


Muhakkam dalam Perwalian Nikah

Bagaimana sebenarnya yang dimaksud tahkîm (mengangkat muhakkam) dalam perwalian nikah?

Hulailah Masrurah, Pamekasan, 085264738xxx

Yang dimaksud tahkîm dalam pernikahan adalah dua orang calon suami istri menyerahkan urusan akad nikahnya pada orang yang sudah memenuhi syarat menjadi qâdhî dalam berbagai macam kasus. Yang dijadikan muhakkam tidak cukup dari orang yang hanya mempunyai sifat adil, tapi tidak memenuhi syarat menjadi qâdhî. Akan tetapi menurut keterangan yang ada dalam kitab Asnâl-Mathâlib disebutkan dalam Bab Qadhâ’, orang yang dijadikan muhakkam tidak disyaratkan orang yang memenuhi syarat menjadi qâdhî, bahkan cukup dari orang yang hanya mempunyai sifat adil. Pendapat ini juga pernah disampaikan oleh Imam Abu Zar’ah. Bentuk kata pengangkatan muhakkam dalam bahasa Arab adalah sebagai berikut: “Kami (suami dan istri) menjadikan Anda sebagai hakim agar meng-akad nikah kami, dan kami rela terhadap keputusan Anda.” Lihat: Al-Baijûrî, II/106, TarsyîkhulMustafîdîn, 313

Puasanya Orang yang Keluar Mani sebab Melihat

Bagaimana hukum puasanya orang yang keluar mani disebabkan melihat sesuatu yang menggairahkan?

Ajib Ahmad, Sidoarjo, 087847567xxx

Pertanyaan ini sudah dijawab pada

edisi yang lalu, bahwa keluar mani yang menyebabkan batalnya puasa adalah keluar mani yang disebabkan bersentuhan kulit secara langsung (tanpa ada penghalang). Jadi keluar mani yang disebabkan penglihatan tidak sampai membatalkan puasa. Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa keluar mani yang disebabkan melihat juga dapat membatalkan puasa namun khusus bagi orang yang terbiasa keluar mani jika melihat sesuatu yang menimbulkan syahwat. Hukum tidak batal di atas hubungannya dengan pekerjaan puasa secara lahir saja, adapun pahala puasanya dinyatakan batal dan hangus, sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis riwayat Imam ad-Dailami dari sahabat Anas:

“Lima hal dapat membatalkan (pahala) orang yang berpuasa dan (pahala) wudhu: dusta, ngerumpi, adu domba, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu.” (HR Ad-Dailami) Lihat: Mughnîl-Muhtâj, I/428, Jâmi’ul-Ahâdîts no: 11993, FaidhulQadîr no: 3969.

Cara Wudhunya Orang yang Diamputasi

Bagaimana cara wudhunya orang yang diamputasi tangannya? Hariri, Sampang Cara wudhunya orang yang diamputasi baik tangan maupun kakinya terdapat pemilahan hukum sebagaimana berikut: BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

29


Jika yang terpotong hanya sebagian tangan atau kaki dan masih dalam batas wajib dibasuh dalam wudhu maka ia wajib membasuh sebagian anggota yang masih tersisa. Jika tangan yang diamputasi melampaui batas yang wajib dibasuh, seperti sampai pada siku, maka orang tersebut sunah membasuh anggota yang di atas siku, begitu pula seterusnya, begitu juga dengan kaki. Lihat: ‘Umdatus-Sâlik, 5

(Isrâf) padahal ketika berhutang ia sudah dapat memperkirakan tidak akan dapat melunasinya, atau karena bermain judi, dan lain-lain maka ia tidak berhak menerima zakat

Ghârimîn yang Berhak Mendapat Zakat

Setahu saya orang yang mempunyai hutang itu berhak mendapatkan zakat, apakah benar dan bagaimana gambarannya?

Muqri, Pasuruan

Memang benar bahwa orang yang mempunyai hutang berhak mendapatkan bagian zakat dengan ketentuan sebagaimana berikut: 1. Berhutang untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah atau mengerjakan sesuatu urusan yang diperbolehkan menurut ketentuan hukum Islam. Sedangkan apabila ia mempunyai hutang karena satu kemaksiatan atau pekerjaan yang diharamkan, seperti berhutang untuk dipergunakan secara berlebihan/boros

2. Ia mempunyai hutang yang sudah jatuh tempo, atau tidak menyebutkan waktu pembayaran hutang. 3. Orang yang berhutang untuk memenuhi kebutuhannya, maka disyaratkan tidak mempunyai kelebihan harta di luar kebutuhan hidupnya dan orang yang menjadi tanggungannya. BS

“Tak sedikit jurang kematian yang tertutup oleh emas permata. Jadi, jauhi sifat rakus dan kendalikan nafsumu, maka kau benar-benar merdeka.” ~ Abu al-Atahiyah

30

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


Kajian

Menyelami Keindahan

al-Qur’an

PARA ulama, ilmuan, dan atau siapapun, yang melakukan kajian seksama terhadap al-Qur’an, pasti akan sampai pada kesimpulan serupa: sempurna! Malah, kesempurnaan al-Qur’an, bagi siapapun, tidaklah berhingga. Mereka akan melihat ada dimensi-dimensi yang tak terhingga, yang masing-masing dimensi itu memancarkan keindahan yang tak terhingga pula; keindahan di atas keindahan, dan pada akhirnya: keindahan yang tak terkatakan. Di sini, tentu saja kami tidak mungkin untuk mengklaim telah mampu merengkuh sebutir keindahan dari kandungan al-Qur’an itu secara utuh. Di sini, kami hanya berupaya menuangkan setetes keindahan dari samudera keindahan al-Qur’an yang tak berhingga itu. Barangkali akan ada setitik dari setetes keindahan itu yang memercik ke relung jiwa kita yang sedang gersang. Amin. Tim Kajian Buletin SIDOGIRI BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

31


CAKRAWALA

ARTIKEL

“Dan tidaklah mudah untuk memahami bahwa masyarakat Arab kala itu telah menyanggah al-Qur’an, menentangnya, dan mendebat Nabi  mengenainya, kecuali jika mereka memahami sepenuhnya terhadap kandungan isi dan rahasia-rahasia yang terpendam di dalamnya.”

Al-Qur’an dan Karakter Jahiliah

B

ERHENTILAH berpersepsi tidak tepat tentang bangsa Arab Jahiliah. Bahwa bangsa Arab Jahiliah adalah komunitas masyarakat pagan yang bodohnya minta ampun, dekil, lugu, norak dan kampungan banget. Mereka tidak berpendidikan, tidak berbudaya, tidak berperadaban, barbar, dan seterusnya-dan seterusnya. Bagaimanapun, ini adalah asumsi yang tidak akurat, sebagai implikasi logis dari stigma “jahil” yang disematkan untuk

32

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

mereka. Tentu saja tidak ada hal positif apapun dalam stempel “kebodohan” itu. Hanya, marilah kita berpikir tentang pertanyaan berikut: mungkinkah al-Qur’an akan berbicara kepada komunitas yang bodohnya bukan kepalang, sehingga mereka tidak memahami hal apapun dari isi kandungan alQur’an? No! Tentu saja tidak. Tentu saja, al-Qur’an, dengan racikan kata dan kandungan isi yang sempurna, hanya akan dipahami oleh komunitas yang memiliki karakter berbahasa


yang kuat, cita rasa tinggi, dan kecerdasan di atas rata-rata. Jika al-Qur’an diturunkan kepada masyarakat yang bodohnya setengah mati, tentu tidak akan terjadi komunikasi yang hidup antara al-Qur’an dengan masyarakt itu. Namun faktanya, masyarakat Jahiliah reaktif terhadap sindiran dan kecaman al-Qur’an yang menohok, yang membuktikan betapa mereka memahami maksud al-Qur’an sepenuhnya. Jika demikian, masihkah akan ada asumsi jika masyarakat Arab Jahiliah itu bodoh sebodohbodohnya, atau bodoh tujuh turunan? Simaklah apa yang dikatakan Dr. Thaha Husain, seperti dikutip Dr. Abdul Halim Mahmud dalam at-Tafkîr al-Falsafî fil-Islâm: “Tidaklah mudah untuk memahami bahwa suatu komunitas masyarakat begitu takjub dengan al-Qur’an ketika ayat-ayatnya dibacakan, kecuali jika ada koneksi dan keterhubungan antara alQur’an dan masyarakat itu. Keterhubungan ini bisa dijumpai di antara fragmentasi karya-karya sastra yang indah, dan di antara mereka yang terkagum-kagum ketika menyimak dan memikirkan kandungan isinya.” “Dan tidaklah mudah untuk memahami bahwa masyarakat Arab kala itu telah menyanggah al-Qur’an, menentangnya, dan mendebat Nabi  mengenainya, kecuali jika mereka memahami sepenuhnya terhadap kandungan isi dan rahasia-rahasia yang terpendam di dalamnya.”

“Dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam...” (QS. Al-Ahzab [33]: 19).

“Padahal di dalam al-Qur’an terdapat kecaman terhadap kaum Pagan dan keyakinan mereka, kecaman terhadap Yahudi, Kristen, dan Zoroaster. Dan pastinya, al-Qur’an saat itu tidak sedang berbicara kepada komunitas Yahudi di Palestina, Kristen Romawi, Zoroasterian Persia, namun sedang berbicara kepada komunitas Arab yang memperesentasikan keyakinankeyakinan tersebut secara sempurna.” Dan, yang perlu diperhatikan, tesis Dr. Thaha Husain ini bukanlah sekadar asumsi tanpa bukti. AlJahizh (163 H – 255 H), seorang pemuka sastra Arab, misalnya, menuturkan kepada kita perihal para intelektual Quraisy dalam hal kesempurnaan tutur-kata, tingginya fantasi, dan kejernihan pemikiran mereka, yang disitir dalam sejumlah ayat al-Qur’an. Al-Jahizh juga menuturkan perihal para jenius Quraisy dalam kesempurnaan bahasa dan kepandaian bersilat lidah, seperti dikemukakan dalam al-Qur’an, sebagai berikut: “Dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam...” (QS. Al-Ahzab [33]: 19). Pernyataan lugas dari al-Qur’an ini menunjukkan betapa katakata orang-orang kafir pada saat itu demikian tajam, setajam silet, BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

33


CAKRAWALA

ARTIKEL

Telah banyak upaya dilakukan oleh orangorang kafir, para sastrawan kawakan, itu untuk menyaingi al-Qur’an, seperti dilakukan oleh nabi palsu, Musailimah sang pembual besar, ketika ingin menyaingi surah al-Fil. Namun sayang, semua hanya berakhir dengan kegelian belaka. menghujam ke lubuk hati Nabi  pada saat mereka mencaci beliau. Tentu, hujatan yang menukik seperti itu merupakan buah dari kepandaian mereka dalam meracik kata dan bersilat lidah. Bahkan lebih dari sekadar itu, al-Qur’an juga menggambarkan betapa kata-kata orang kafir Arab itu begitu memikat, menyihir, dan mampu menarik perhatian siapa saja yang mendengarkannya. Sang pendengar pun menjadi terkagumkagum karenanya. “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 4). Dan pernyatakaan lugas al-Qur’an yang lain tentang tutur kata mereka: “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu.” (QS. AlBaqarah [2]: 204). So, siapapun mesti angkat topi untuk keunggulan masyarakat

Jahiliah di bidang ini, karena bagaimanapun, al-Qur’an mengakui keunggulan itu ada pada mereka. Namun, apapun itu, mereka tidak akan mampu untuk menandingi al-Qur’an dalam berbagai aspeknya, karena al-Qur’an bukanlah kata-kata manusia. Maka, sejak awal dan sampai kapanpun, tantangan al-Qur’an untuk “membuat semacamnya” tidak akan pernah terjawab oleh siapapun. Dalam term Ushul Fikih, tantangan al-Qur’an itu masuk dalam kategori “pembebanan yang tak mungkin tertangani” (taklîf bimâ lâ yuthâq). Telah banyak upaya dilakukan oleh orang-orang kafir, para sastrawan kawakan, itu untuk menyaingi alQur’an, seperti dilakukan oleh nabi palsu, Musailimah sang pembual besar, ketika ingin menyaingi surah al-Fil. Namun sayang, semua hanya berakhir dengan kegelian belaka. Simaklah ayat-ayat kitab Musailimah berikut: “Gajah (1) Apakah gajah itu? (2) Dan tahukah kamu apa gajah itu? (3) Gajah memiliki ekor yang panjang (4) Dan kekuatan yang dahsyat...” Menggelikan sekali, bukan? Moh. Achyat Ahmad/BS

“Betapa banyak ilmu yang berbuah harta dan takhta. Dan, betapa banyak harta (dan takhta) yang berbuah perang terbuka..” ~ Nashif al-Yaziji, Penyair Lebanon Abad 19 M

34

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


Menikmati Sastra al-Qur’an “... itulah kitab Allah yang keajaibannya tak akan sirna ...” (HR. Ahmad & ad-Daraquthni)

A

L-QUR’AN adalah mukjizat Allah  yang terbesar. Sisi kemukjizatan al-Qur’an sungguh tak terbilang. Sejak masa awal turunnya al-Qur’an hingga saat ini, berbagai macam penelitian terhadap al-Qur’an selalu berakhir dengan decak kagum dan ketakjuban terhadap kitab suci tersebut, ketakjuban yang membuat orang mengaku kalah dan berkata, mustahil kitab

ini dikarang oleh manusia. Tentu saja, kecuali bagi orang-orang yang tertutup mata hatinya. Masa di mana al-Qur’an diturunkan adalah masa di mana orang-orang Arab terkenal akan kehebatan dan kepeduliannya terhadap sastra. Hingga saat itu, para penyair memiliki kedudukan penting di masyarakat, bak seorang tokoh atau artis. Kemudian al-Qur’an datang, BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

35


CAKRAWALA

ARTIKEL

tidak ada satu pun yang bisa mengungkapkan keindahan sastra al-Qur’an secara sempurna dan menyeluruh. menantang para penyair itu dan juga orang-orang yang masih meragukannya, lalu mengalahkan mereka. Tentang keindahan sastra alQur’an–atau yang juga disebut balâghatul-qur’ân, Muhammad Abdul Adzim az-Zarqani, salah satu pakar ilmu al-Qur’an asal Mesir, berkomentar: tidak ada satu pun yang bisa mengungkapkan keindahan sastra al-Qur’an secara sempurna dan menyeluruh. Para ulama hanya bisa menyebutkan keindahan sastra al-Qur’an di satu sisi, sedangkan yang lain menyebutkannya di sisi yang berbeda. Hal itu karena keindahan bahasa al-Qur’an hanya bisa diketahui dengan perasaan, sedang perasaan masing-masing orang berbeda-beda. Meski begitu, secara global keindahan bahasa al-Qur’an dapat digolongkan dalam beberapa kategori. Berikut kami sebut beberapa contoh: Keindahan dari Sisi Lafal Yang dimaksud keindahan sisi lafal adalah keindahan penggunaan kata saat diucapkan atau dibaca, meski tanpa memahami maknanya sekalipun. Di antaranya adalah sajak. Dalam al-Qur’an ada begitu banyak ayat yang memiliki kesamaan bunyi qâfiyah (sajak), misalnya surah An-Nas. Kesamaan qâfiyah itu menunjukkan kekayaan mufrâdât dan kelihaian al-Qur’an dalam

36

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

memilih kata. Lebih hebatnya lagi, dalam beberapa surah yang memiliki banyak ayat, pergantian qâfiyah terkadang juga menunjukkan pergantian tema (seperti halnya pergantian paragraf). Tak hanya itu, keseimbangan panjang ayat dalam al-Qur’an juga seimbang, sehingga terasa nikmat bagi pembaca. Ada yang panjangnya sama persis dan menerapkan perubahan pararelisme, misalnya surah alZalzalah ayat 7 dan 8. Ada juga yang panjangnya berkurang secara bertahap, seperti surah al-Insyirah ayat 1-4. Atau juga bertambah secara bertahap, seperti adhDhuha 1-4. Kenikmatan dalam membaca al-Qur’an juga didapat dari repetisi (pengulangan) kata dan kalimat. Repetisi pada kata ada yang terjadi dalam satu kalimat, misalnya pengulangan kata naz’ dalam surah an-Naziat ayat 1. Ada pula yang terjadi dalam beberapa kalimat, seperti pengulangan kata al-qâri’ah dalam surah al-Qari’ah. Ada pula repetisi kalimat, seperti pada at-Takatsur ayat 3 dan 4. Pengulangan-pengulangan itu terasa indah saat membacanya, bahkan bagi yang tidak paham maknanya sekalipun. Kecermatan Diksi Salah satu ketelitian sastra bahasa Arab adalah metafora dan cara pengkiyasan yang begitu beragam. Kecermatan dalam memilih metafora menunjukkan tingkat kehebatan sang penyampai kalimat, hingga bisa dikatakan bahwa sastra Arab adalah


kecermatan metafora. Metafora yang diterapkan alQur’an memiliki penggambaran yang luar biasa indah. Misalnya dalam surah al-An’am 125, alQur’an menggambarkan betapa sesaknya hati orang yang disesatkan dari jalan Allah . “... dan barangsiapa yang Dia kehendaki akan kesesatannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit...” dengan metafora orang yang sedang naik ke langit, gambaran betapa sesaknya dada mereka begitu terasa, hingga seolah-olah mereka begitu kesulitan untuk bernafas. Pemanfaatan Bunyi Huruf Setiap huruf memiliki karakter bunyi tersendiri. Ada yang dominan dalam desis seperti sîn, ada yang kuat menyentak seperti qâf, dan lain sebagainya. Al-Qur’an menggunakan hal tersebut untuk lebih menguatkan gambaran suasana yang diceritakan. Misalnya surah alQiyamah 26-30:

Ayat ini menceritakan betapa gentingnya saat-saat sakaratul maut. Pemanfaatan bunyi qalqalah huruf qâf yang tertahan di kerongkongan memperkuat penggambaran suasana tersebut. Contoh lain, surah al-Lail ayat 14: Bunyi desis huruf zhâ’ yang kuat dan tertahan dalam mulut, memperkuat gambaran api neraka yang menyala-nyala. Selain itu, tempo cepat lambatnya hukum tajwid juga kian membuat makna menjadi kuat, misalnya al-Fajr 27-30:

dengan metafora orang yang sedang naik ke langit, gambaran betapa sesaknya dada mereka begitu terasa, hingga seolah-olah mereka begitu kesulitan untuk bernafas

Tempo lambat ghunnah (nun dan mim tasydid) dan mad thabi’i membuat psikologi pembaca dapat merasakan betapa tenangnya jiwa yang disebut dalam ayat itu. Luar biasa. Itulah sekilas gambaran betapa sempurnanya keindahan sastra al-Quran. Sastra yang tak hanya sekadar indah, tapi itulah sastra yang berupa mukjizat. Wallahu a’lam. Ahmad Biyadi/BS

“Pintu istana itu tak ubahnya sebuah samudera. Saat menyeberang, gelisahlah batinmu, karena tenggelam bisa terjadi setiap waktu.” ~ Usamah bin Munqidz, Panglima Muslim dalam Perang Salib

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

37


CAKRAWALA

ARTIKEL

Balaghah dan Keindahan al-Qur’an

P

EMBICARAAN tentang keindahan bahasa al-Qur’an tidak pernah bisa terlepas dari ilmu Balaghah, yaitu ilmu yang salah satu fungsinya untuk mengukur tingkat ke-balîghan dan ke-fashîh-an kata. Ilmu inilah yang dipakai oleh bangsa Arab terdahulu untuk mengukur kehebatan sebuah karya sastra termasuk dalam menilai al-Qur’an. Jadi, jika al-Qur’an diibaratkan sebuah karya sastra maka ilmu

38

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Balaghah adalah perangkat utama untuk mengapresiasinya. Memang, ketika al-Qur’an diturunkan, ilmu Balaghah belum menjadi sebuah disiplin ilmu pengetahuan seperti saat ini. Karena ilmu Balagah sendiri baru mulai dibicarakan pada masa dinasti Umayyah, dan kemudian terus mengalami perkembangan seiring perjalanan waktu. Namun demikian, esensi balaghah sebenarnya telah ada dan dimiliki


oleh orang-orang Arab sejak jaman Jahiliah. Bahkan balagah telah mendarah daging ditubuh masyarakat Arab yang memiliki tradisi sastra begitu kuat. Untuk melihat pertalian alQur’an dengan ilmu Balaghah, berikut ini adalah beberapa konsep dalam ilmu Balaghah serta contohnya dalam al-Qur’an: Majaz, yakni penggunaan suatu lafadz yang tidak pada makna aslinya karena ada qarînah (indikasi) dan ‘alaqah (pertalian) dengan makna yang dikehendaki. Contoh surat al-Mukminun [40]: 13, “Dan Allah menurunkan rizki dari langit untuk kalian”. Sepintas, ayat ini bermakna: dan Dia-lah yang menurunkan untukmu rezki dari langit. Namun kenyataannya, Allah  tidak menurunkan rizki-Nya langsung dari langit. Melainkan, Dia menurunkan hujan ke bumi yang darinya kemudian tumbuh bermacam-macam jenis tumbuhan sebagai rizki untuk hamba-hambaNya. Jadi jelas bahwa makna yang dikehendaki dari kata rizq dalam ayat ini adalah “hujan”, yang merupakan penyebab tumbuhnya rizki, bukan rizki itu sendiri. ‘Alaqah (pertalian) dalam majaz seperti ini disebut al-Musabbabiyah (akibat dari sebuah sebab). Contoh lain terdapat pada surat Nuh [71]: 07, an-Nisa’ [04]: 02, al-‘Alaq [96]: 18, al-Muthaffifin [83]: 22. Tasybih, yakni perumpamaan sesuatu dengan dengan sesuatu yang lain karena keserupaan yang ada pada keduanya. Contoh: “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.

Namun kenyataannya, Allah  tidak menurunkan rizki-Nya langsung dari langit. Melainkan, Dia menurunkan hujan ke bumi yang darinya kemudian tumbuh bermacammacam jenis tumbuhan sebagai rizki untuk hamba-hamba-Nya.

Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berbarakah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampirhampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaanperumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. an-Nur [24]: 35). Contoh lain terdapat pada surat ar-Rahman [55]: 24. al-Haqqah [69]: 07, Ibrahim [14]: 24-26, AshShaffat [37]: 49. Isti’arah, adalah tasybîh yang tidak menyebut salah satu unsurnya, baik musyabbah atau musyabbah bih. Contoh dalam surat Maryam [19]: 04, al-A’raf [07]: 154, al-Baqarah [02]: 16, alHaqqah [69]: 11, al-Kahfi [18]: 99. Kinayah, yaitu lafadz yang diucapkan di mana yang dikehendaki adalah kelaziman BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

39


CAKRAWALA

Mengerti ilmu Balagah adalah syarat mutlak bagi siapapun yang ingin menyingkap i’jâzul-qur’ân

ARTIKEL

maknanya, padahal tidak ada penghalang untuk menggunakan makna aslinya. Contoh surat alKahfi [18]: 42, dan az-Zukhruf [43]: 18. Ijaz, yakni merangkum makna yang panjang kedalam ungkapan yang ringkas. Contoh surat alQashash [28]: 24-25, Qaf [50]: 01-02, al-Fajr [89]: 22, al-A’raf [07]: 54, ar-Ra’du [13]: 31, Ali Imran [03]: 106, An-Nazi’at [79]: 31, Yusuf [12]: 85. Ithnab, kebalikan dari Ijaz: pengungkapan yang panjang untuk makna yang ringkas karena menghendaki suatu faidah. Contoh surat al-A’raf [07]: 97-99, alAmbiya’ [21]: 34-35, Nuh [71]: 28, al-Qadr [97]: 04, al-Hijr [15]: 66. Urgensitas Ilmu balagah Mengerti ilmu Balagah adalah syarat mutlak bagi siapapun yang ingin menyingkap i’jâzulqur’ân. Tanpa bekal ilmu ini, seseorang tidak mungkin dapat menangkap ke-i’jâz-an kitabullah dari sisinya yang paling istimewa. Seperti keindahan dan kefasihan susunannya, kandungan ijaz dan badi’, ikhtishar, serta keindahankeindahan lainnya yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia. Kalaupun dia tahu bahwa alQur’an memiliki daya i’jâz, hal

itu hanya karena dirinya pernah mendengar bahwa para pakar sastra Arab jaman dahulu bertekuk lutut di hadapan kehebatan sastra al-Qur’an. Bukan karena ia dapat melihat dan merasakan sendiri aura dahsyat tersebut. Selain itu, ilmu Balagah juga sangat dibutuhkan dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an. Orang yang tidak mengerti ilmu ini berkemungkinan besar akan keliru dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an. Sebab, terkadang dalam menyampaikan sebuah maksud, alQur’an menggunakan ungkapanungkapan yang “tidak sederhana”, yang jika dipahami sekilas justru akan menghasilkan pemahaman berbeda dengan maksud yang dikehendaki al-Qur’an. Karena begitu pentingnya ilmu Balagah ini, Abu Hilal al-Hasan bin Abdillah bin Sahl bahkan memposisikannya sebagai ilmu yang harus dipelajari setelah makrifat billah. Suatu ketika ia berkata kepada murid-muridnya: “Ketahuilah bahwa ilmu yang paling penting dipelajari dan lebih utama untuk diperhatikan setelah makrifat billah adalah ilmu balagah dan fasahah, yang dengannya i’jâzul-qur’ân dapat diketahui.” Badrus Sholeh SH/BS

“Seindah apapun daya tarik penguasa yang kau dekati, kau tetaplah seperti anai-anai yang terpukau oleh cahaya api.” ~ Usamah bin Munqidz, Panglima Muslim dalam Perang Salib

40

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


Membaca al-Qur’an dengan Rasa:

Telaah Sastra Surah al-Kautsar

L

AIN orang, lain rasa. Saat membaca al-Qur’an, apa yang dirasakan dan dipahami adalah searah dengan seberapa besar keilmuan dan kepekaan rasa, plus–tentu saja–keimanan dalam hati. Itulah kenapa, saat ayat azab turun, sebagian sahabat langsung pingsan tak sadarkan diri, akibat rasa takut yang luar biasa. Rasulullah  sendiri pun mulai beruban saat surah Hûd dan beberapa surah lain turun, di mana surah-surah itu adalah surah tentang kedahsyatan kiamat.

searah dengan seberapa besar keilmuan dan kepekaan rasa, plus–tentu saja–keimanan dalam hati. Itulah kenapa, saat ayat azab turun, sebagian sahabat langsung pingsan tak sadarkan diri, akibat rasa takut yang luar biasa Entah rasa takut macam apa yang menimpa beliau dan para sahabat saat itu. Maka, pengetahuan tentang balâghah, sastra, dan kepekaan rasa adalah hal mutlak dalam memamahi keindahan sastra BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

41


CAKRAWALA

ARTIKEL

Surah al-Kautsar turun saat Rasulullah  berada dalam tekanan ejekan orang-orang kafir. Saat itu, al-’Ash bin Wail (dalam riwayat lain Ka’b bin al-Asyraf) mengejek Nabi  dengan julukan abtar yang artinya adalah orang yang habis riwayatnya, karena tak memiliki keturunan, sehingga dia akan dilupakan oleh sejarah. al-Qur’an. Berikut adalah telaah sastra surah al-Kautsar sebagai sekelumit contoh. Surah al-Kautsar turun saat Rasulullah  berada dalam tekanan ejekan orang-orang kafir. Saat itu, al-'Ash bin Wail (dalam riwayat lain Ka'b bin al-Asyraf) mengejek Nabi  dengan julukan abtar yang artinya adalah orang yang habis riwayatnya, karena tak memiliki keturunan, sehingga dia akan dilupakan oleh sejarah. Memang, kala itu Rasulullah  ditinggal wafat oleh para putranya, yaitu Sayid al-Qasim meninggal di Makkah dan Sayid Ibrahim di Madinah. Maka turunlah surah al-Kautsar, surah terpendek di dalam al-Qur’an dengan hanya berisikan 3 ayat, namun menjelaskan begitu banyak hal, tak hanya menolak ejekan dari al-'Ash yang menyakitkan hati, tapi juga berisikan kabar gembira bagi Nabi , perintah ikhlas dan pensyariatan hukum, serta prediksi bahwa ejekan itu justru akan terjadi kepada al-'Ash sendiri dan musuh-musuh Nabi yang lain. Ketiga ayat itupun juga seimbang kuantitas hurufnya, yakni berjumlah 10 huruf per ayat. Huruf yang tidak terulang dalam tiga ayat tersebut jumlahnya juga 10.

42

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Ayat tengah (kedua) menjelaskan tentang hukum berkurban yang dilakukan pada tanggal 10 Dzul Hijah. Kemudian sajak akhiran ra’ juga membuat ayat-ayat ini kian indah dirasakan. Ayat pertama adalah kabar gembira tentang janji Allah  pada Nabi , di mana Allah  akan memberinya sebuah telaga bernama al-Kautsar di akhirat nanti. Penggunaan kata inna yang merupakan kata taukîd (pengukuhan) yang memperkuat makna ayat tersebut. Plus penggunaan kalimat fi’il madhi (kata kerja lampau) yang memiliki fungsi tahaqququl-wuqû’ (benarbenar akan terjadi seolah memang sudah terjadi) kian mempertegas janji tersebut. Ayat ini tidak hanya memberi kabar gembira bagi Sang Nabi , tapi juga bagi umatnya yang mengkhawatirkan beliau karena tidak memiliki keturunan laki-laki. Mereka khawatir riwayat Nabi akan tamat dan umatnya akan habis karena tak ada keturuan yang melanjutkan perjuangan beliau. Maka ayat ini pun turun sebagai kabar gembira. Tak heran, bila setelah surah ini diwahyukan, Nabi terlihat tersenyum gembira. Ayat kedua menjelaskan perintah ikhlas, bahwa ibadah umat Islam haruslah semata-mata untuk Allah . Kita tak perlu menghiraukan apa yang orangorang kafir lakukan, karena Allah  telah menjanjikan kebaikan untuk kita di akhirat nanti. Selain itu ayat kedua ini juga menjelaskan syariat disunahkannya berkurban. Pada ayat terakhir di surah alKautsar, terdapat beberapa bentuk


pengukuhan, di antaranya kata inna, bentuk kalimat ismiyah yang maknanya sangat kuat karena tidak terpengaruh oleh waktu, dan dhamir fashl (kata hubung yang berfungsi sebagai pemisah), sehingga ayat itu sangat-sangat menegaskan bahwa yang akan habis riwayatnya adalah justru orang kafir itu, orang yang telah mengejek kamu itu, musuh-musuh kamulah yang akan kalah dan kau beserta umatmu akan menang. Selain bermakna telaga (sebagaimana penjelasan Nabi ), kata al-Kautsar diambil dari suku kata katsara yang artinya adalah ‘banyak’. Sehingga alKautsar juga memiliki arti kebaikan yang banyak. Hal itu menambah keseimbangan surah tersebut, di mana ayat pertama menjelaskan kebaikan yang melimpah bagi Nabi  dan ayat terakhir menjelaskan tak ada kebaikan bagi musuh-musuh Nabi . Ayat pertama dan ayat kedua sama-sama dikukuhkan dengan beberapa bentuk pengukuhan, sedangkan ayat kedua yang berada di tengah sama sekali tidak ditaukidi. Maka seolah yang kita pahami adalah kita benar-benar tak perlu menghiraukan apa yang telah mereka katakan. Kita hanya

perlu fokus pada diri kita sendiri untuk selalu ikhlas kepada Allah . Kesemua penjelasan itu dijelaskan hanya dengan tiga kalimat (baca: ayat), di mana keseimbangan kata, akhir ayat, pengukuhan, dan bahkan jumlah hurufnya begitu sempurna. Isinya pun tak hanya menjelaskan tentang penolakan terhadap ejekan orang-orang kafir, tapi juga kabar gembira dan pensyariatan hukum. Kepadatan makna dalam surah itu menolak tuduhan bahwa al-Qur’an hanyalah syair. Karena karakteristik al-Quran jauh berbeda dari syair saat itu. Karena prosa singkat (uslûb îjâzi) sangat susah untuk berbicara tentang sesuatu yang bermakna luas. Selain itu syair dalam jumlah besar akan susah menghindar dari kebohongan-kebohongan. Sedangkan al-Quran yang terkadang menggunakan prosa singkat, terkadang pula prosa panjang (uslûb ithnâbi), sama sekali tidak berisikan kebohongan. Jumlah tiga ayat pada surah tersebut kian memperkuat bahwa al-Qur’an bukanlah syair, karena syair saat itu tidak pernah terdiri dari bilangan ganjil.

Kepadatan makna dalam surah itu menolak tuduhan bahwa al-Qur’an hanyalah syair. Karena karakteristik al-Quran jauh berbeda dari syair saat itu.

Ahmad Biyadi/BS

“Jika yang rela mengorbankan harta, kau sebut dermawan... Maka, yang rela mengorbankan diri, dia adalah pahlawan.” ~ Abu Firas al-Hamadani

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

43


CAKRAWALA

WAWANCARA

Prof. Dr. Husen Aziz Staf Pengajar MMU Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri

Kata Kuncinya adalah “Keindahan”! SIAPA yang tidak ingin “mabuk” dan “tak sadarkan diri” saat membaca al-Qur’an, karena tenggelam dalam keindahannya. Namun faktanya, tidak sembarang orang yang dapat menangkap keindahan al-Qur’an dengan sempurna, dan tidak satupun yang mampu mencapai puncak keindahannya. Lalu seperti apakah sebenarnya keindahan al-Qur’an itu? Sipa yang mampu mengungkap rahasia-rahasia dan keunikan-keunikan yang berada di dalamnya? Dan di manakah letak keindahan itu? Untuk memperoleh kejelasan mengenainya, simaklah dengan seksama paparan Prof. Dr. Husen Aziz, Staf Pengajar MMU Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri, yang diwawancarai oleh Ali Wafa Yasin bersama Badrus Sholeh SH dari Buletin SIDOGIRI beberapa waktu yang lalu, pada hari Jumat pagi, tepat pukul 07:00 WIB.

44

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


Bisa dijelaskan korelasi sastra dengan al-Qur’an? “Keindahan!”. Segala sesuatu itu pasti memiliki keindahan, karena keindahan adalah potensi. Di dalam diri manusia juga ada keindahan, jadi tidak hanya sekadar hidup. Makanan tidak hanya mengenyangkan, tapi juga ada keindahannya. Kue, misalnya, itukan juga ada seninya, ada yang berbentuk bunga-bunga dan lainnya. Baju, itu kan tidak hanya untuk menutup aurat, juga ada keindahannya. Kalau hanya menutupi aurat, beli saja kain dua meter, lalu dibungkuskan saja!. Alam begitu, tidak hanya sekadar bisa ditempati, tapi ditata dengan sedemikian indah; langit dicat biru, daun-daun diwarnai hijau, itulah keindahannya. Jadi al-Quran itu juga demikian. Tidak hanya sekadar memberi pemahaman, tidak hanya sekadar memberi pelajaran dan tatacara, tetapi juga memiliki keindahan. Kira-kira mengapa “keindahan” yang menjadi kata kuncinya? Karena semuanya diciptakan oleh Dzat Yang Maha Indah “Allâhu jamîl yuhibbul-jamâl”. Mengapa manusia senang keindahan? Karena diciptakan oleh Dzat yang senang keindahan, dan kalaupun manusia punya potensi keindahan, maka hal itu tidak lain karena “faidzâ sawwaituhû fanafakhtu fîhi min rûhî”. Itu artinya bahwa manusia berasal dari Dzat Yang Maha Indah, makanya potensi keindahan jelas ada di dalamnya. Jadi apa saja, termasuk al-Qur’an, punya sisi kognitif dan

dari dulu hingga sekarang keindahannya itu sudah diakui. Orang-orang kafir juga banyak yang mengakui akan hal itu. Salah satu ciriciri keindahannya adalah bahwa bahasabahasa keindahan yang disampaikan oleh al-Qur’an itu dapat dilihat, diraba, dirasa, dan didengar punya sisi keindahan. Keindahan adalah sesuatu yang dominan dalam al-Qur’an. Bisa dijelaskan aspek keindahan al-Qur’an dalam kaca mata sastra? Yang jelas dari dulu hingga sekarang keindahannya itu sudah diakui. Orang-orang kafir juga banyak yang mengakui akan hal itu. Salah satu ciri-ciri keindahannya adalah bahwa bahasa-bahasa keindahan yang disampaikan oleh al-Qur’an itu dapat dilihat, diraba, dirasa, dan didengar. Sedangkan cara menangkap keindahan bahasanya itu adalah bisa dengan ilmu gaya bahasa (Ilmu bayan). Ilmu bayan itu kan ilmu untuk dapat melukiskan gagasan-gagasan yang akan disampaikan, sehingga dapat dilihat, didengar, dan dirasakan. Misalnya ingin menyampaikan gagasan pahala banyak. Pahala itu kan tidak bisa dikenal, tidak bisa dijangkau akal, akhirnya dilukiskan dengan “matsalul-ladzîna yunfiqûna amwâlahum fî sabîlillâhi kamatsali habbatin anbatat sab’a sanâbila fî kulli sunbulatin miatu habbah”. Ini kan merupakan sebuah lukisan. Gagasannya adalah bahwa sedekah itu pahalanya BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

45


CAKRAWALA

lmu teori sastra membantu manusia menangkap di mana sebenarnya letak keindahan itu. Sayangnya, ilmu balaghah di mana-mana itu mati,

WAWANCARA

banyak, lalu dilukis, digambar, dikonkritkan. Kalau sedekah itu banyak pahalanya kan gak bisa dilihat, tapi kalau benih yang menumbuhkan tangkai, di setiap satu tangkainya terdapat seratus biji, itu kan bisa dilihat oleh semua orang. Cara selanjutnya adalah dengan gaya nada (Ilmu badî’). Coba anda lihat semua ayatayat al-Qur’an memiliki nada yang sama, misalnya, “wailun likullihumazati al-lumazah, alladzî jama’a mâlan wa’addadah, yahsabu anna mâ lahû akhladah, kalla layunbadzanna fil khuthamah“. Khuthamah itu artinya Jahannam, tapi kalau diganti dengan “layunbadzanna fi jahannam” ya gak cocok, soalnya di depan itu ada humazah, setelahnya lumazah, dan akhladah lalu khuthamah. Kalau begitu pas. Apa kira-kira tips-tips untuk dapat merasakan keindahan alQur’an pada saat membacanya? Harus mengetahui teori ilmu Balaghah, karena yang dapat membantu kita menangkap keindahan itu di antaranya adalah dengan ilmu Balaghah, yang merupakan teori sastra al-Quran. Sama dengan ilmu tajwid. Tajwid itukan untuk mengatur nada, sedangkan nada itukan keindahan. Kalau ilmu bayan membantu untuk menangkap keindahan penyampaian kalimat al-Qur’an, maka ilmu badi’ dapat membantu menangkap keindahan dari keserasian nada kalimat-kalimat al-Quran. Nada itu adalah keindahan. Orang bisa tertarik itu saat mereka

46

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

mendengarakan nada yang bagus. Contohnya surat al-Alaq dari ayat satu sampai ayat dua, “iqra’ bismi rabbikalladzî khalaq, khalaqal insâna min ‘alaq”. Itu kan dalam konteks penciptaan, yang nadanya demikian. Kemudian ayat tiga sampai lima, “iqra’ warabbukal akram, alladzî ‘allama bil-qalam, ‘allamal-insâna mâ lam ya’lam”. Itu dalam kontek pendidikan, maka nadanya lain. Jadi diciptakan, dididik, lalu membangkang. Karena gagasannya berbeda, maka nadanya juga berbeda. Sekarang kalau yang digagas sulit, misalnya, maka nadanya juga sulit, “kaannamâ yashsha’adu ilas-samâi”. Kalau gagasannya cepat, nadanya juga cepat, “idzasysyamsu kuwwirat, wa idzannujûmu-nkadarat“. Sampai akhir itu cepat, karena kiamat berjalannya memang cepat. Hancurnya dunia itu cepat. Kalau gagasannya tenang, maka nadanya juga tenang, misalnya, “yâ ayyatuhan -nafsul muthmainnah, irji’î ilâ rabbiki râdhiatan-mardhiyyah, fadkhulî fî ‘ibâdî wadkhulî jannatî”. Semua itu dari segi lagunya. Kemudian dari segi tatanannya, kita membutuhkan ilmu ma’ani dalam segi menata pemikiran. Jadi orang yang tidak mengerti Ilmu Balaghah tidak dapat meresakan keindahan al-Qur’an? Ya! Soalnya tidak ada alatnya untuk bisa mengerti, dan sangat kecil sekali peluangnya. Ilmu teori sastra membantu manusia menangkap di mana sebenarnya letak keindahan itu. Sayangnya, ilmu Balaghah di mana-mana itu mati, karena tidak diaplikatifkan,


tidak seperti halnya ilmu Nahwu yang diaplikatifkan setiap hari dengan dibentuk makna Jawa (utawi, iku). Kenapa orang-orang banyak yang jauh dari al-Qur’an? Jawabannya karena mereka tidak bisa menangkap sisi keindahan alQur’an. Seandainya mereka tahu, maka membaca al-Qur’an adalah hal yang paling menarik. Sebelum ada Ilmu Balaghah, dengan apa orang-orang menangkap keindahan alQur’an? Melihat keindahan lukisan dari gagasan yang disampaikan al-Qur’an, seperti halnya para waliyullah yang melihat dalam al-Qur’an ada lukisan yang membicarakan tentang hubungan antara kita dengan Allah , dan tentang tauhid, yang semua itu sulit sekali untuk disampaikan dan digambarkan, tapi al-Qur’an menyampaikannya dengan lukisan yang indah dan mudah, seperti “Aw kadzhulumâtin fi bahrin lujjiyyin yagsyâhu maujun...” Ini intinya sesat kan?, tapi lukisannya kok... wah...! Kegelapan dalam lautan yang dalam, ditutupi oleh gelombang ombak, di atasnya awan gemawan. Sehingga ketika orang mengeluarkan tangan, bagaimana cara orang melihat dan melukis tangan dalam kegelapan, tidak bisa dipotret itu, tapi bisa dilukis oleh huruf. Para sastrawan bilang “al-Qur’an merupakan puncak dari segala sastra”. Sejauh mana kehebatan sastra itu? Sebenarnya berbahasa itu seperti menari. Menari itu dengan

Kenapa orang-orang banyak yang jauh dari al-Qur’an? Jawabannya karena mereka tidak bisa menangkap sisi keindahan al-Qur’an.

bergerak. semua orang bisa bergerak, tapi belum tentu mereka bisa menari, karena tergantung pada kepiawayannya menata gerakan itu. Berbahasa itu seperti melukis, melukis itu asalnya dari mencoret. Semua orang bisa mencoret, anak kecil bisa mencoret, tetapi berbeda-beda hasil coretannya. Al-Qur’an juga begitu. AlQur’an terdiri dari huruf, namun kesulitannya adalah ketika menata huruf-hurufnya itu. Makannya al-Qur’an kalau memulai pembicaranannya adalah dengan huruf, misalnya alif lâm mîm, ha mîm, yâsîn. Maksudnya bahwa al-Qur’an berasal dari huruf awalnya, namun ternyata tersusun dengan sangat sempurna. Ayo coba! Anda tahu alif kan? Anda tahu ba’ kan? Coba Anda susun itu semuanya seperti al-Qur’an. Sulit sekali kan!? Oleh karena itulah menatanya yang sulit. Lagi pula siapa orang Arab yang tidak tahu tantang huruf-huruf hijaiyah? Semuanya tahu kok. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang mampu menyusun sehebat susunan alQur’an sampai sekarang. Nah! Disitulah segi kehebatannya. Mengapa al-Qur’an harus berbahasa Arab? Karena saat al-Qur’an muncul di daerah Arab, kesastraan bahasa Arab tepat pada puncaknya, dan BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

47


CAKRAWALA

WAWANCARA

kitab-kitab tafsir yang ada terdapat perbedaan dalam mengartikan ayat-ayat Allah , karena perbedaan cara mereka dalam melihat sisi-sisi al-Qur’an. lagi, Arab menjadi tempat lalu lintas bagi seluruh orang di dunia. Secara letak geografis, Arab juga merupakan pusat dunia. Kemudian al-Qur’an turun, dan akhirnya dipilihlah bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an. Walaupun pada dasarnya bahasa-bahasa itu sedikit perbedaanya. Setiap bahasa memiliki sastra masing-masing. Apa prebedaan antara sastra Arab dalam alQur’an dengan sastra lainnya? Perbedaannya dalam segi keunikannya. Jadi masing-masing bahasa mempunyai keunikan, termasuk bahasa Indonesia dan Inggris. Sedangkan keunikan itu ada hubungannya dengan rasa. Rasa itu berhubungan dengan individu dan masyarakat, sedangkan dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya memiliki rasa yang berbeda. Katakan saja umpamanya orang-orang pada masa ini suka dengan bahasa Inggris, maka dengan menggunakan bahasa yang ia

suka itu akan terasa lebih bangga. Makanya di situlah rasa. Apakah sastra juga bisa menjadi salah satu faktor perbedaan para ulama dalam menafsiri alQur’an ? Ya, di antaranya. Karena begini, al-Qur’an itu sama dengan alam, atau lebih mudahnya sama dengan manusia. Orang melihat manusia memiliki kemampuan sendirisendiri. Ada yang melihat dari sisi matanya, tangannya, kakinya. Sama dengan ketika orangorang melihat al-Qur’an. Mereka melihatnya dengan kemampuan pengetahuannya tentang alQur’an. Contohnya, “wa anzalnâ minassamâi mâa fasâlat audiyatun biqadarihâ”. Artinya kita turunkan dari langit hujan, lalu jurang dan lembah-lembah mengambil sesuai dengan kadarnya, sama dengan kita turunkan al-Qur’an dari langit, lalu manusia mengambil sesuai dengan kapasitasnya. Jadi dunia itu dilihat sesuai dengan daya tangkapnya, dari kemampuan dia. Oleh sebab itulah kitab-kitab tafsir yang ada terdapat perbedaan dalam mengartikan ayat-ayat Allah , karena perbedaan cara mereka dalam melihat sisi-sisi al-Qur’an. BS

“Seribu satu cara orang dalam berhias... Tapi yang paling menawan adalah hiasan harga diri.” ~Muhammad al-Akkaf

48

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


CAKRAWALA BEDAH KITAB

Mengungkap Kedahsyatan al-Qur’an Judul Penulis Penerbit Cetakan Tebal Peresensi

K

EBENARAN sebuah agama amat bergantung kepada kebenaran pembawanya. Demikian halnya Islam. Kebenarannya sebagai agama yang datang dari Allah  sangat bergantung pada kebenaran Nabi Muhammad  sebagai pembawa agama ini. Karena itu, untuk membuktikan bahwa agama ini benar-benar datang dari Allah , maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa Nabi Muhammad  benarbenar seorang utusan yang diberi tugas resmi oleh Allah  sebagai pembawa agamaNya. Setelah kenabian itu dinyatakan benar, barulah agama yang dibawanya dapat dinyatakan haq. Untuk membuktikan kebenaran

: I’jâzul-Qur’ân : Al-Qadi Abu Bakar al-Baqillani : ‘Alam al-Kutub : Pertama, 1408 H/1988 M : 335 hlm. : Badrus Sholeh SH

pengakuan seorang nabi, Allah  akan menganugerahinya mukjizat. Dalam Islam, bukti terbesar atas kebenaran nubuwwah Nabi  adalah mukjizatnya yang berupa al-Qur’an. Karena di antara mukjizat-mukjizat Nabi , alQur’an adalah satu-satunya mukjizat yang tetap memiliki daya i’jâz hingga hari ini. Adapun mukjizatnya yang lain telah sirna seiring dengan berlalunya waktu. Dari premis-premis di atas, maka dapat ditarik sebuah natîjah bahwa keberadaan al-Qur’an sebagai sebuah mukjizat adalah bukti terkuat kebenaran agama ini. Dan di sinilah kemudian diketahui mengapa memahami i’jâzulQur’ân merupakan hal yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan. BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

49


CAKRAWALA

BEDAH KITAB

Berangkat dari kenyataan inilah buku yang berjudul I’jâzul-Qur’ân ini ditulis. Hal itu diungkapkan al-Qadi Abi Bakar al-Baqillani, penulis buku ini, di awal-awal kajiaannya. Ia berkata, “Alasan mendasar mengapa i’jâzul-qur’ân sangat penting untuk diperhatikan adalah bahwa kebenaran akan nubuwwah Nabi kita dibangun di atas dasar mukjizat ini. Sekalipun sebenarnya mukjizat-mukjizat yang lain juga mendukung akan pembenaran nubuwwah Beliau.

mengapa i’jâzul-qur’ân sangat penting untuk diperhatikan adalah bahwa kebenaran akan nubuwwah Nabi kita dibangun di atas dasar mukjizat ini.

Namun demikian, efek mukjizatmukjizat tersebut hanya terbatas pada waktu, kondisi, dan orangorang tertentu.” (hlm. 23). Selanjutnya, al-Baqillani mengulas berbagai macam dalil yang menunjukkan bahwa alQur’an benar-benar merupakan sebuah mukjizat. Menurutnya, penentangan masyarakat Arab (yang terkenal memiliki keunggulan berbahasa) terhadap al-Qur’an yang berakhir dengan ketidakmampuan mereka membuat semisal al-Qur’an, adalah bukti nyata bahwa alQur’an merupakan Kalamullâh yang tidak mungkin ditandingi oleh manusia manapun. Untuk hal ini, al-Baqilani menampilakan ayatayat yang berisi tantangan Allah  terhadap orang-orang kafir untuk menciptakan karya sekelas al-

50

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah yang artinya: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal alQur’an itu dan ajaklah penolongpenolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. AlBaqarah [02]: 23-24). Di sini, penulis juga tidak luput menjelaskan berbagai macam sisi i’jâz yang dimiliki alQur’an. Menurutnya, al-Qur’an memiliki tiga macam sisi i’jâz. Pertama, kebenaran berita al-Qur’an tentang peristiwaperistiwa yang akan terjadi pada masa mendatang. Salah satu contohnya adalah surat Ar-Ruum [30]: 1-4, yang memberitakan tentang kekalahan bangsa Romawi dan kemenangannya kembali setelah beberapa tahun. Ayat ini diturunkan jauh sebelum kejadian tersebut terjadi. Kedua, kemampuan al-Qur’an menceritakan peristiwa-peristiwa masa lalu. Seperti kisah-kisah tentang para nabi terdahulu yang hidup jauh sebelum al-Qur’an diturunkan. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa al-Qur’an bukanlah karangan nabi. Karena masyarakat Arab ketika itu tahu betul bahwa nabi adalah seorang ummi yang tidak bias baca tulis. Beliau juga dikenal tidak pernah mempelajari kitab-kitab


peninggalan orang terdahulu dan kisah-kisah tentang mereka. Namun kemudian beliau justru mampu menceritakan peristiwaperistiwa penting yang terjadi sejak penciptaan Nabi Adam  sampai masa beliau diutus. Semua ini tentu saja hanya terjadi karena ada bantuan wahyu dari Allah . Allah  berfirman yang artinya: “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (al-Qur’an) suatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 48). Ketiga, keindahan rangkaian ayat-ayat al-Qur’an serta ketinggian balaghahnya yang tidak mungkin tertandingi oleh siapapun. Namun demikian, bukan berarti al-Qur’an adalah syair sebagaimana tuduhan orang kafir Quraisy. Al-Qur’an juga bukan kalam sajak seperti dugaan beberapa tokoh agama lain. Sebab susunan ayat-ayat al-Qur’an benar-benar berbeda dengan berbagai macam bentuk susunan (nadzam) yang dikenal dalam

bukan berarti al-Qur’an adalah syair sebagaimana tuduhan orang kafir Quraisy. AlQur’an juga bukan kalam sajak seperti dugaan beberapa tokoh agama lain. Sebab susunan ayat-ayat al-Qur’an benar-benar berbeda dengan berbagai macam bentuk susunan (nadzam) yang dikenal dalam bahasa manusia. bahasa manusia. Allah  sendiri yang menegaskan hal ini dalam alQur’an. Dia berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.” (QS. Yasin [36]: 69). Sebagaimana judulnya, buku ini memang dikarang khusus untuk mengungkap banyak hal tentang kehebatan al-Qur’an. Selain apa yang diungkapkan dalam tulisan ini, tentu masih banyak sisisisi lain tentang i’jâzul-Qur’ân yang juga dikaji dalam buku ini. Dengan membaca buku ini, Anda akan melihat secara langsung kehebatan-kehebatan al-Qur’an dari berbagai sudut pandang. BS

“Jangan terkesima dengan nama besar orang-orang yang duduk di atas... Kenaikan dia kadangkala seperti mayat yang mengapung di air atau naik ke tiang salib, hanya untuk mempertontonkan kebusukan dirinya.” ~ Abu Hilal al-Askari

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

51


KHANIQAH SUFI

Ketika Terjadi Pergulatan antara Fikih dan Tasawuf (3)

Satu Perbedaan dalam Sejuta Persamaan Tasawuf dan fikih harus dipahami sebagai hasil ijtihad para ulama yang kompeten di bidangnya, dan hasil ijtihad tersebut samasama tidak maksum.

52

M

ANIPULASI hukum (hîlah), perdebatan yang arogan, logika hukum yang nyeleneh, serta perilaku sebagian ahli fikih yang tidak mencerminkan prinsip wara’ dan zuhud merupakan serangkaian fakta yang paling sering menjadi bahan kritik tasawuf terhadap fikih. Sedangkan kritik kubu fikih terhadap kubu tasawuf, umumnya, menyangkut dalil-dalil yang lemah dalam amaliah ibadah mereka, kultus individu, pernyataanpernyataan nyeleneh dalam filsafat tasawuf, serta keyakinan-keyakinan yang tidak memiliki landasan kuat dari al-Qur’an dan Hadis. Beberapa perbedaan ini kerapkali memunculkan friksi yang tajam antara kedua kubu. Bahkan, ulama sufi semisal Imam

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

al-Ghazali pun, tidak secara mutlak diamini oleh ulama-ulama fikih, padahal tidak satu orangpun di dunia ini yang meragukan kepakaran beliau dalam bidang fikih dan usul fikih. Tidak sedikit ditemukan catatan, kritik, bahkan juga kecaman yang datang dari ulama fikih dan Hadis terhadap karya monumental beliau, Ihyâ’ Ulumiddîn, terutama menyangkut kesahihan dalil-dalil yang beliau ambil dari Hadis Rasulullah . Misalnya, kritik dari Imam anNawawi mengenai dalil beberapa salat sunah yang disebutkan dalam Ihyâ’. Juga, kritik keras Abu Bakar Ibnul Arabi, pentolan fikih mazhab Maliki, dan al-Hafidz al-Iraqi (pakar Hadis) terhadap dalil-dalil Hadis dalam Ihyâ’ yang dinilai lemah dari segi sanad, atau bahkan dinilai


maudhû’. Setelah ada yang mengkritik, maka selanjutnya ada yang membela. Itu sudah lumrah terjadi. Dan, orang yang mengkaji tasawuf serta fikih, tidak boleh tidak, dia pasti berpapasan dengan itu. Ia juga akan berpapasan dengan berbagai komentar keras yang terjadi di antara dua kubu. Jika fakta tersebut tidak disikapi dengan jernih dan dewasa, sangat mungkin dalam dirinya akan muncul keberpihakan membabi buta yang cenderung fanatik, mengabaikan secara mutlak substansi dan tujuan mulia dari masing-masing kubu. Ini yang kemudian menyebabkan adanya jurang pemisah yang lebar serta tersumbatnya kran dialog untuk membangun kesepahaman antara kedua belah pihak. Lalu, menyemaikan bibit-bibit kebencian yang akan tumbuh subur apabila terus dipupuk dan disiram. Maka oleh karena itu, terdapat beberapa prinsip yang mesti dipegang agar perbedaan tersebut bisa disikapi dengan wajar dan tidak melahirkan fanatisme yang merugikan. Pertama, tasawuf dan fikih harus dipahami sebagai hasil ijtihad para ulama yang kompeten di bidangnya, dan hasil ijtihad tersebut sama-sama tidak maksum. Pandangan yang masih diperdebatkan di antara kedua pihak, sama-sama memiliki kemungkinan untuk benar atau salah. Boleh jadi, salah satu pihak, dalilnya lebih kuat, tapi bukan berarti pihak yang lain mengadaada, tanpa memiliki pijakan apapun.

Khilafiyah yang terjadi antara tasawuf dan fikih, bisa dibaca sebagai perbedaan furû’ yang masih bisa ditoleransi, atau perbedaan pendapat yang sudah lumrah terjadi dalam semua bidang keilmuan. Kedua, memiliki semangat untuk mendahulukan sisi persamaannya, dan jika memungkinkan, perbedaanperbedaan yang terjadi diupayakan untuk dikompromikan, misalnya dengan cara mengarahkan masing-masing pendapat pada kondisi, arah atau penekanan tertentu. Jika tidak mungkin, maka perlu senantiasa ditanamkan dalam hati bahwa perbedaan tersebut sangatlah kecil dan tidak seberapa dibanding berjuta-juta persamaan yang disepakati oleh kedua belah pihak. Ketiga, pemetaan yang obyektif antara perbedaan furû’iyah dan ushûliyah. Umumnya, khilafiyah yang terjadi antara tasawuf dan fikih, bisa dibaca sebagai perbedaan furû’ yang masih bisa ditoleransi, atau perbedaan pendapat yang sudah lumrah terjadi dalam semua bidang keilmuan. Jangankan antara tasawuf dan fikih, antara mazhab-mazhab fikih-pun terjadi banyak sekali perbedaan pendapat yang kadang diurai dan diungkapkan dengan komentarkomentar pedas di antara mereka. Jangankan antara satu mazhab dengan mazhab lain, antara sesama ulama satu mazhab pun, masih banyak terjadi perdebatanperdebatan. Keempat, tidak terpaku kepada perorangan, apalagi BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

53


Tanpa diperlukan pemikiran yang panjang, sudah sangat jelas bahwa tujuan tasawuf dan fikih sama-sama baik dan mulia. Keduanya berangkat dari satu sumber, dan berjalan menuju pada titik yang sama.

kalau dia hanyalah oknum. Perbedaan antara tasawuf dan fikih lebih sering terjadi karena kecenderungan pribadi yang tidak mewakili pandangan tasawuf atau fikih secara menyeluruh. Perbedaan antara Imam alGhazali dengan Imam an-Nawawi, misalnya, tidak serta merta bisa dipandang sebagai perbedaan antara fikih dan tasawuf. Akan tetapi, akan lebih bijak jika dianggap sebagai perbedaan pendapat antara dua ulama yang memiliki pijakan dalil berbeda. Oleh karena itu, kalau terjadi perbedaan non-furû’iyah yang tidak mungkin dikompromikan dan tidak bisa ditoleransi, maka hal pertama yang harus dijauhi adalah generalisasi yang terburu-buru dan serba hitam putih. Jangan sampai menuduh seribu orang hanya berdasarkan pernyataan satu orang. Kelima, niat yang tulus dan pandangan yang obyektif. Niat tulus sangat penting dalam menyikapi perbedaan yang terjadi. Kadangkala, ada saja orang yang terlampau “genit” dalam membela satu pihak dan menyudutkan pihak lain. Ia mengurai bermacam-macam kritik hanya untuk menarik perhatian, atau sekadar menunjukkan kehebatan “silatnya” dengan cara mencari-

54

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

cari kesalahan pihak tertentu. Orang jenis ini biasanya suka menyalahkan, atau mendobrak sesuatu yang sudah mapan. Keenam, menghargai tujuan masing-masing. Tanpa diperlukan pemikiran yang panjang, sudah sangat jelas bahwa tujuan tasawuf dan fikih sama-sama baik dan mulia. Keduanya berangkat dari satu sumber, dan berjalan menuju pada titik yang sama. Namun demikian, masih terdapat beberapa perbedaan cara pendekatan, sarana, proses, dan jalan yang dilalui oleh masingmasing. Mengenai perbedaan pendekatan dan proses yang tidak menyentuh nilai substantif, maka bisa diterapkan prinsip, “Yughtafaru fil-wasâ’il mâ lâ yughtafaru fil-maqâshid” (Kesalahan cara/sarana masih bisa ditoleransi, sedangkan kesalahan tujuan tidak bisa ditoleransi). Prinsip tersebut perlu digabung dengan prinsip lain, bahwa sesuatu yang baik harus dilalui dengan cara yang juga baik. Jika berbagai prinsip di atas dipegang dan disemaikan dengan baik, maka ketidaksetujuan terhadap pandangan pihak tertentu akan tumbuh sebagai benih tawâshau bil-haq (memberi saran yang baik), bukan menjadi bara kebencian yang mengobarkan permusuhan. Prinsip-prinsip itulah yang dipegang oleh para ulama kita, sehingga mereka pada umumnya merupakan figur faqîh yang sufi atau figur sufi yang faqîh. Kalaupun ada yang tidak seperti itu, hanyalah satu titik kecil dalam belanga yang besar. Ahmad Dairobi/BS


KOLOM FUQAHA

Perkawinan Wanita Hamil di Luar Nikah

P

ADA bulan Dzul Qadah kemarin, penulis mengikuti pengajian IASS di Banyuwangi. Di pengajian rutin setiap bulan tersebut pada sesi halaqah ada alumni PPS yang menanyakan hukum perkawinan wanita hamil di luar nikah. Menurut penanya, pernikahan model demikian marak terjadi, karena mungkin akibat pergaulan bebas di tengah masyarakat. Juga ia menanyakan bagaimana status anak yang telah dikandung sebelum pernikahan tersebut. Pernikahan setelah hamil di luar nikah akhir-akhir ini memang sering terjadi di tengah-tengah

masyarakat. Pernikahan sepertinya telah dijadikan solusi akhir untuk menutupi aib keluarga, dan itu sepertinya telah menjadi kesepakatan antar masyarakat. Setelah pernikahan, persoalan menjadi selesai, tanpa ada koreksi kenapa itu mesti terjadi. Apakah setelah pernikahan setelah hamil menutup semua persoalan? Ternyata masih menyisakan pertanyaan, seperti yang ditanyakan oleh salah satu alumni tersebut, khususnya dalam masalah hukum dan status anak. Setidaknya, ada tiga peninjauan berkenaan dengan pernikahan wanita hamil sebab

Pernikahan sepertinya telah dijadikan solusi akhir untuk menutupi aib keluarga, dan itu sepertinya telah menjadi kesepakatan antar masyarakat.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

55


Adapun ulama yang mengesahkan pernikahan wanita hamil di luar nikah karena perempuan tersebut tidak dalam ikatan pernikahan atau iddah dengan laki-laki lain. zina: hukum pernikahan yang dilakukan, hukum me-wathi’ setelah menikah dan status anak yang dikandung. Meskipun hukum berkenaan dengan persoalan ini tidak terbatas pada tiga persoalan tersebut, tapi tiga persoalan inilah yang sering menjadi topik diskusi di beberapa tempat. Dari itu, hanya tiga persoalan ini yang akan dibicarakan dalam tulisan ini. Menyinggung pernikahan wanita hamil di luar nikah, Imam Nawawi alam kitab Raudhah-nya, menghukumi sah pernikahan wanita hamil di luar nikah (zina), tanpa ada khilaf ulama. Khilaf baru berlaku setelah pernikahan, yaitu boleh dan tidaknya menjimak istri hamil karena zina sebelum melahirkan anak yang dikandung. Akan tetapi, Ibn Hajar dalam fatwanya mengemukakan perbedaan ulama mengenai pernikahan wanita hamil di luar nikah. Hanya saja, kata Ibn Hajar, menurut pendapat yang benar (shahih)—demikian pula pendapat Abu Hanifah—pernikahan tersebut dihukumi sah. Adapun ulama yang mengesahkan pernikahan wanita hamil di luar nikah karena perempuan tersebut tidak dalam ikatan pernikahan atau iddah dengan laki-laki lain.

56

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Jadi, tidak alasan untuk tidak mengesahkannya. Mengenai kehamilan yang ada pada dirinya tidak mengharuskan untuk melakukkan iddah, karena iddah dengan menunggu kelahiran hanya diberlakukan ketika sperma yang ditanamkan melalui jalan yang benar (muhtaram). Maksud dari muhtaram adalah seperma yang dikeluarkan oleh pihak laki-laki dibenarkan oleh syara’, seperti melalui pernikahan atau terjadinya wathi’ syubhat (keliru pasangan). Ketika perempuan yang dibuahi sperma melalui dua cara tersebut ternyata hamil maka ia harus menjalani iddah sampai melahirkan. Adapun wanita yang hamil karena perzinahan tidak dihukumi muhtaram sehingga ia tidak perlu menjalani iddah karena kehamilannya. Sekarang, jika mengikuti pendapat yang menghukumi sah, bagaimana hukum menggauli (wathi’) isteri yang sedang hamil sebelum melahirkan? Menurut pendapat yang shahih, sebagaimana Imam Nawawi dan Rafi’i, me-wathi’ istri yang hamil sebelum nikah adalah boleh. Imam Rafi’i mengatakan, kehamilan sebab zina tidaklah mulia (hurmah), sehingga jika wathi’ dilarang tentunya pernikahannya pun juga dilarang sebagaimana kasus dalam wathi’ syubhat. Pendapat lainnya, seperti Ibn al-Haddad dari kalangan madzhab Syafi’i tidak memperbolehkan menggauli istri yang hamil sebab zina. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Dawud adz-


Dzahiri. Landasan mereka adalah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya (seperma) ke ladang (perempuan) orang lain.” Pendapat yang moderat, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Anwar, hukum me-wathi’ perempuan hamil di luar nikah adalah makruh. Alasanya, untuk keluar dari khilaf ulama yang mengharamkannya (khurujan min khilaf man harramahu). Keterangan hukum makruh juga terdapat dalam kitab BughyatulMustarsyidin, di samping penjelasan kebolehan menikahi wanita hamil sebab zina, baik oleh laki-laki yang menghamili atau orang lain. Lantas, bagaimana dengan status anak yang lahir? Apakah masih ada hubungan nasab dengan suami yang telah menikahinya? Sebelumnya telah dijelaskan, bahwa sperma yang ditanamkan ke benam rahim wanita yang tidak muhtaram tidak menyebabkan nasab bagi pemilik sperma. Jadi, perincian berikut tidak meninjau laki-laki yang menikahi wanita tersebut. Dalam yurisprudensi fikih, status anak zina tidak memiliki hubungan nasab dengan sang ayah, sehingga sang ayah pun tidak memiliki hak untuk menikahkan anak tersebut jika ternyata perempuan. Nasab hanya berhubungan dengan sang ibu. Bahkan, dalam beberapa keterangan, hukum menikahi anak hasil zina hanya dihukumi makruh. Akan tetapi, ada sisi pandang

lain terkait dengan kasus perzinahan yang dilanjutkan dengan perkawinan. Ternyata, ulama memilah status hukumnya; bisa berhubungan nasab bisa juga tidak. Berikut penjelasanya: Untuk yang berhubungan nasab, jika kelahiran sang anak tidak kurang dari masa enam bulan setelah terjadinya hubungan badan pasca perkawinan. Hukum ini berlaku karena masih dimungkinkannya anak yang lahir merupakan hasil hubungan setelah akad, sedangkan wujud kandungan di dalam tidak dianggap dengan alasan menjaga hubungan perkawinan (ri’ayatan li l-firasy). Sebaliknya, jika kelahiran sang bayi terjadi sebelum usia pernikahan mencapai enam bulan maka intisab tertutup bagi laki-laki yang menikahi sang ibu, meskipun laki-laki tersebut adalah orang yang menzinahi sang wanita. Sebab, pada usia demikian tidak ada kemungkinan bahwa bayi yang lahir merupakan hasil dari hubungan badan setelah pernikahan. Meskipun demikian, ketentuan hukum ini bukan berarti lepas dari khilaf. Sebab, sebelum perkawinan dan hubungan badan setelah pernikahan, telah diketahui secara nyata bahwa dalam perut sang ibu sudah tertanam janin asal pokok manusia. Terlebih dalam penelitian ilmu embriologi ditemukan bahwa ketika sel telur sudah terbuahi, tidak mungkin dibuahi oleh sperma lain, sehingga tidak ada istilah anak keroyokan. Wallahu a’lam. M. Masyhuri Mochtar/BS

Bahwa seperma yang ditanamkan ke benam rahim wanita yang tidak muhtaram tidak menyebabkan nasab bagi pemilik seperma. Jadi, perincian berikut tidak meninjau laki-laki yang menikahi wanita tersebut.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

57


Madrasah Miftahul Ulum

Sistem Virus vs Anti Virus

`

Ada saja murid indisipliner atau bahkan cenderung nakal. Penanganannya perlu intens dan sedini mungkin.

K

EDISIPLINAN amat diperlukan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif. Para penanggung jawab pendidikan wajib membangun kedisiplinan di lembaga yang ia kelola. Di MMU, kedisiplinan termasuk hal yang sangat diperhatikan, mengingat terlaksananya program secara optimal serta tercapainya target KBM tidak bisa lepas dari kedisiplinan pihak-pihak terkait. Ditambah lagi, dari sekian banyak murid atau siswa, dapat dipastikan ada saja yang tidak disiplin atau bahkan cenderung nakal. Sebagaimana upaya menciptakan kedisiplinan yang tercantum dalam ilmu pendidikan, upaya yang dilakukan di MMU

58

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

juga dapat dibagi menjadi tiga: preventif, represif, dan kuratif; walaupun istilah ini tidak tersirat secara jelas dalam tata aturan di MMU. Upaya preventif adalah usaha memberikan pemahaman dan kesadaran terhadap murid untuk melaksanakan tata tertib madrasah. Memberi pemahaman bahwa tata tertib itu baik untuk perkembangan dan keberhasilan pendidikannya di madrasah. Langkah ini dilaksanakan utamanya oleh wali kelas dan pimpinan madrasah. Upaya represif berkaitan dengan murid yang sudah melanggar tata tertib, seperti absen masuk kelas atau musyawarah, datang terlambat, tidak memakai lencana, berambut


atau berkuku panjang, dan lainnya. Murid-murid ini ditolong agar tidak melanggar lebih jauh lagi, dengan jalan diberi nasihat, peringatan, atau sanksi disiplin. Langkah ini dilaksanakan utamanya oleh wali kelas, guru fan, dan tim kelas visit. Jika ketidakdisiplinan murid dianggap parah, seperti absen masuk sekolah lebih dari tiga hari, maka langkah represif ditempuh secara bertingkat. Kali pertama oleh wali kelas. Ketika upaya dari wali kelas tidak membuahkan hasil, dilanjutkan oleh pimpinan madrasah, lalu Batartama, dan terakhir Ketua I PPS. Upaya kuratif adalah pembinaan dan pendampingan murid yang melanggar tata tertib dan sudah diberi sanksi disiplin. Upaya tersebut merupakan langkah pemulihan, memperbaiki, dan menyembuhkan perilaku yang tidak baik. Langkah ini dimotori oleh wali kelas. Dari sekian upaya ini, upaya preventif lebih mendominasi sistem membangun kedisiplinan di MMU. Sebab bagaimanapun, upaya pencegahan lebih baik daripada mengobati. Di kepengurusan pendidikan madrasiyah ini bahkan telah berjalan komunikasi rutin yang melibatkan beberapa pihak dalam menangani persoalanpersoalan madrasah termasuk kedisiplinan murid. Di antaranya adalah rapat komunikasi antara wali kelas dengan pimpinan MMU yang dilakukan tiap bulan sekali dan komunikasi antara pimpinan MMU, Labsoma, Batartama, dan Ketua I yang dilakukan tiap pekan sekali.

Ada pula rapat lintas sektoral yang juga melibatkan pengurus daerah dan perangkat Tibkam (ketertiban dan keamanan). Komunikasi dengan wali santri juga menjadi bagian dari upaya ini, meski saat ini masih ditempuh dengan selebaran yang berisi penjelasan dari PPS dan MMU serta buku rapor. Dalam rapat komunikasi ini sudah termasuk upaya preventif guna mencegah ketidakdisiplinan murid sedini mungkin. Setiap kali ditemukan indikasi yang mengarah pada ketidakdisiplinan, maka akan dicarikan solusi penanganannya. Mirip seperti sistem virus-anti virus. Anti virus terus melakukan scanning dan updating untuk menanggulangi tersebarnya virus. Di samping upaya lahir, ada pula upaya batin. Tiap bulan sekali, semua staf pengajar MMU dan LPBAA, anggota Labsoma dan Batartama, serta Ketua I melaksanakan gerak batin (istigasah) bersama mendoakan murid-murid MMU yang menjadi tanggung jawab bersama mereka. Gerak batin ini dilaksanakan tiap malam Jumat Pon di Masjid Jamik PPS. Untuk ke depan, PPS menargetkan sistem database santri—juga murid MMU—yang dapat diakses secara online. Dengan sistem ini, para wali santri/ murid dapat melihat data perilaku keseharian, nilai ujian, dan data putranya yang lain. Sehingga wali santri/murid juga dapat berperan aktif dalam membangun kepribadian putranya serta meningkatkan kedisiplinan mereka. A. Fadoil Khalik/BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

59


Salurkan Zakat Produktif secara Kolektif

S

EBAGAI lembaga sosial yang memfasilitasi masyarakat yang ingin menyalurkan hartanya kepada mustahiq, Laziswa Sidogiri melalui program KUNFAYAKUN (Kucuran Dana Fakir Biaya Kemajuan)-nya mendistribusikan bantuan untuk meningkatkan penghasilan modal kecil. Hal ini sebagaimana diungkapkan Kadiv Distribusi Laziswa Sidogiri, H. Utsman Shobari, saat penyerahan dana zakat produktif, Selasa (19/12) lalu di desa Argotirto Sumbermanjing Malang. Laziswa Sidogiri kala itu mendistribusikan zakat produktif sedikitnya Rp 63.846.000. Dana yang sumbernya diperoleh dari Kopontren Sidogiri, BMT UGT, dan BMT MMU itu kemudian ditasarrufkan kepada 20 duafa alumni santri Sidogiri wilayah Malang. Untuk zakat produktif, Laziswa setiap tahunnya menjatah 60 mustahiq dari 3 kabupaten. Bantuan ini, lanjut H Utsman,

60

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

diharapkan dapat mengubah nasib para duafa. “Semoga dengan bantuan ini, nyuwun sewu, Anda yang semula bersetatus mustahiq, ke depan akan menjadi muzakki.� Pengurus Laziswa mengimbau para mustahiq untuk mengembangkan dana yang diperolehnya secara kolektif. Sebab, bantuan produktif sebelumsebelumnya yang didistribusikan kepada perseorangan, oleh para mustahiq tidak dikembangkan. Berkaca dari pengalaman itu, sebelum zakat produktif diserah-terimakan, Pengurus Laziswa meminta kesepakatan para mustahiq untuk mengembangkannya secara kolektif. Sedang mekanisme pengembangannya diserahkan atas persetujuan mereka bersama. Maka pada saat itu pula ke-20 mustahiq sepakat dana yang diperolehnya dikembangkan dengan membuka toko di pasar Sumbermanjing. M. Husni Mubarok/BS


Beginilah Peringatan Tahun Baru Islam

N

AMANYA saja Islam. Maka tentu, peringatan tahun baru Islam dilakukan dengan cara yang islami. Model peringatan tahun baru semacam ini jamak dilaksanakan oleh umat Islam terutama masyarakat pesantren atau santri. Dalam rangka menyambut tahun baru Islam, Sidogiri melaksanakan beberapa kegiatan. Menjelang Magrib tanggal 01 Muharam 1433 H, Bagian Ubudiyah PPS, membimbing santri untuk membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Jamik Sidogiri dan semua daerah. Lalu pada malam harinya, Sabtu malam (01/01), di Gelora PPS dihelat Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Tahun Baru 1433 H dan diikuti oleh seluruh santri PPS. Acara yang kepanitiaannya dipasrahkan kepada PK-ISS Jember dan Bondowoso ini menghadirkan KH. Muzakki Birrul Alim (Staf Pengajar MMU Aliyah) dari Tampung Pasuruan sebagai

penceramah. Disusul keesokan harinya, di MMU An-Nawawi lantai II, Taklimiyah wa Tahfidzu al-Qur’an (TTQ) menghelat ijazah Dzakhîratun Nafîsah, dengan menghadirkan Ust. Hamdani (Staf Pengajar MMU Aliyah) sebagai mujiz-nya. TTQ juga membuka pengajian kitab Tafsir Surat al-Wâqi’ah di MMU An-Nawawi, dibacakan oleh Ust. Musyaffak Bisri (Staf Pengajar MMU Aliyah); dan Karamâtus Syeikh Abdil Qâdir, karangan KH Ahmad Yasin Asmuni di mushola Daerah I, dibacakan oleh Ust. Nafik Halim. Selain itu, ada pula kegiatan khatmul Qur’an di seluruh daerah PPS yang dilaksanakan sehari penuh tanggal 01 Muharam. Begitulah semarak peringatan tahun baru Hijriyah di PPS. Dilaksanakan secara islami dan penuh makna. Cara serupa sebetulnya juga dapat dilaksanakan pada gerbang tahun 2012 mendatang. Semoga. M. Husni Mubarok/BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

61


Jumat dan Sabtu sore (08,09/12) dapur umum PPS tampak ramai. Para santri yang puasa sunah Tarwiyah dan Arafah rata-rata berbuka puasa di sana. Saking padatnya, ada yang menempati Gelora MMU. Suasana serupa terjadi di hari-hari puasa sunah lainnya. Misalnya puasa Tasu’a, Asyura’, dan Rajab.

Pelaksanaan salat Idul Adha 1433 H berlangsung tertib meski cuaca saat itu dalam keadaan mendung. Hadir ditunjuk sebagai Imam salat, Ust. H. Yasin Abd Karim. Usai melaksanakan salat Id, para santri saling bersalam-salaman. Dilanjut kemudian mereka sowan kepada Mas d. Nawawy Sadoellah selaku Katib Majelis Keluarga PPS.

Bagian Ubudiyah kembali mengadakan Diklat salat kepada seluruh santri baru PPS. Kegiatan ini dilaksanakan empat kali pertemuan; 16-20/12. Ust. Nahdlor Tsana’i (staf pengajar MMU Aliyah) diundang sebagai pembina. Didakannya kegiatan ini agar salatnya santri menjadi lebih baik sesuai ajaran Islam.

Perpustakaan Sidogiri mengadakan kegiatan Konsultan Non-Regular, Jumat (23/12). Pada kegiatan perdana kali ini menghadirkan Ust. Muchibul Aman Aly (Katib PCNU Pasuruan) sebagai konsultan. Tema yang dikaji kali ini adalah Qaidah Fikih. Acara yang bertempat di Ruang Fikih ini diikuti oleh sekitar 300 pemustaka.

Penandatanganan MoU antar-PP IASS dan Fakultas Ekonomi Universitas Widyagama Malang, Jumat (23/12) di Gedung Pelatihan Kesehatan Masyarakat Lawang Malang. Selain itu, PP IASS juga menjalin kerjasama dengan Kopontren Sidogiri, BMT-MMU, BMT-UGT, dan Koperasi Agro. Kerjasama ini untuk memberdayakan alumni PPS.

Kepala MMU Aliyah Ust. H. Abdul Qodir Ghufran menginisiasikan anggota OMIM MMU Aliyah, Sabtu (23/12). Hadir pada acara itu Ketua I PPS HM Aminulloh Bq dan Wakil Kepala MMU Aliyah Moh. Achyat Ahmad. Dalam sambutannya, Ketua I PPS menjelaskan bahwa kegiatan OMIM merupakan pelajaran tambahan di luar sekolah.

62

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


Forum Konsultasi Pondok Pesantren (FKPP) Kulon Progo DI Yogjakarta berkunjung ke PPS, Sabtu (23/12) guna melakukan studi komparatif tentang manajemen pesantren. Rombongan yang berjumlah sekitar 50 orang itu ditemui oleh Ketua III PPS HM Masykuri Abdurahman. Sebelumnya mereka sempat berkunjung ke PP Nurul Jadid Probolinggo.

AGENDA KEGIATAN PONDOK PESANTREN SIDOGIRI

SHAFAR 1433 H

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

63


KH. M. Basori Alwi

Al-Qur’an Telah Menjadi Darah dan Ruh

T

IBA-TIBA saja, ketika menyebut nama Kiai Basori, lantunan syahdu ayat-ayat alQur’an terngiang meski tak nyata terdengar. Sebagaimana ketika menyebut rindang dedaunan, sekonyong-konyong terbayang sejuk hijauan nan segar. Statemen ini barangkali tidak berlebihan. Bagaimana tidak, sepanjang

64

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

usianya yang panjang, beliau nyaris tidak lepas dari al-Qur’an. Lebih tepatnya, beliau tak pernah lepas dari ta’lîm wat-ta’allum al-Qur’an. Ta’allum al-Qur’an Mula-mula beliau belajar al-Qur’an kepada ayahandanya sendiri, KH Alwi Murtadho. Ia pun karib dengan al-Qur’an sejak masih


Nama Lengkap: Muhammad Basori Alwi Alamat: Jl. Raya Singosari No. 107 Singosari Malang Jatim 65153 Ayah: KH Alwi Murtadho Ibu: Nyai Riwati Istri: Dewi Asiyah, Qomariyah PutraPutri: A. Faried Basori, Ratna Saidah Basori, M. Anis Basori (alm.), M. Anas Basori, Hanik Lutfiati Basori, Ummu Salamah Basori, M. Rif’at Basori, M. Nu’man Basori, Luthfi Basori, Ahmad Faiz Basori, dan Khalidah Basori Cucu: 34 orang Cicit: 7 orang

belia. Apalagi Kiai Alwi adalah seorang Hadi bersuara merdu. ‘Hadi’ adalah sebutan bagi seorang pemimpin kelompok penabuh rebana atau terbang. Beliau lalu nyantri ke Pondok Pesantren Sidogiri (1939/1940) di bawah asuhan Hadratussyekh KH. Abd. Djalil bin Fadlil (w. 1947). Waktu itu usia beliau kira-kira 12/13 tahun. Di Sidogiri, beliau belajar mengaji kepada KH Muqith bin Yasin, kakek Ust Abd. Wahab Misbah (59) dan Ust Abd. Halim Misbah (46), guru senior MMU PPS. Beliau belajar mengaji bersama almarhum al-Maghfurlah KH Hasani Nawawie (w. 2001) yang waktu itu kira-kira masih berusia 14/15 tahun. Beliau duduk sekelas dengan Kiai Hasani. Boyong dari Sidogiri, beliau melanjutkan pendidikan al-Qur’annya kepada kakak kandungnya sendiri, Kiai Abdus Salam. Beliau lalu belajar kepada Kiai Yasin Thoyyib (Singosari), Kiai Dasuqi (Singosari), KH Ihsan (Singosari), KH Barmawi (Singosari), Kiai Raden Salimin (Solo), KH Dimyati al-Karim (Solo), KH Abdillah Nuh (Bogor), KH Damanhuri (Jagalan Malang), Kiai Abdul Rosyid (Palembang), dan KH Abdul Karim Mustofa (Gresik). Sementara guru tilawah beliau yang di luar Indonesia adalah Sayid Alwi al-Maliki dan Syekh Mahmud Khalil al-Khushori Mesir.

Sanad qiraah beliau dapatkan dari KH Abdul Karim Mustofa dari KHM. Adlan Ali (Jombang) dari KHM. Said bin Ismail (Sampang) hingga bersambung ke Sayidina Utsman bin Affan  dan Nabi Muhammad . Jumlah guru al-Qur’an yang sedemikian banyak ini cukup menunjukkan bahwa proses ta’allum beliau sangatlah panjang. Meskipun dalam artikel ini tidak disebutkan bagaimana proses belajar yang beliau tempuh, sudah tentu dalam perjalannya ada banyak lika-liku, pahit getir dari seorang thâlibul-ilmi. Seluruh hasil belajarnya ini kemudian beliau salurkan secara deras dan dalam waktu yang panjang pula. Ta’lîm al-Qur’an Secara garis besar, murid-murid beliau dalam tiwalah al-Qur’an dapat dikelompokkan menjadi dua: santri pondok pesantren dan masyarakat umum. Untuk para santri, beliau tidak mendatangi pesantren terkait karena fisik beliau yang semakin melemah. Para santrilah yang datang dan mengaji di pesantren beliau. Pesantren-pesantren yang dimaksud antara lain, PP. Sidogiri, PP. Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus Situbondo, dan PP. Miftahul Ulum, Banyuputih Jatiroto Lumajang. Sementara untuk masyarakat BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

65


“likulli syai’in zakâtun, wazakâtulilmi atta’lîm...” (segala sesuatu pasti ada zakatnya, sedangkan zakatnya ilmu adalah dengan mengajarkannya)

66

umum, beliaulah yang mendatangi mereka. Masyarakat umum yang dimaksud berada di berbagai tempat, seperti di Probolinggo kota, Leces, Pacet (Mojokerto), Blitar, Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Banyuwangi, Kepanjen (Malang), perumahan River Side di Arjosari, dan Malang kota. Semua ini adalah kegiatan ta’lîm rutin beliau selain di Pesantren Ilmu al-Qur’an (PIQ) yang beliau asuh. Selain itu masih ada banyak kegiatan ta’lîm yang bersifat insidentil, seperti undangan-undangan untuk mengajarkan tilawah al-Qur’an baik untuk masyarakat umum maupun santri pondok pesantren. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, beliau lalu membuat rekaman video pembelajaran tilawah alQur’an. Kenyataan ta’lîm di atas menunjukkan betapa gigihnya beliau dalam mengajarkan tilawah al-Qur’an. Meski usianya sudah sepuh (84 tahun atau 87 dalam hitungan Qomariyah), beliau masih terus melakukan aktivitas ini yang belum tentu sanggup dilaksanakan oleh orang lain yang lebih muda. Kegiatan ta’lîm al-Qur’an seolah menjadi tirakat beliau, meski sebetulnya, ta’lîm beliau tidak sebatas al-Qur’an. Beliau juga mengajarkan ilmu agama yang lain. Mengenai hal ini, beliau memiliki prinsip, “likulli syai’in zakâtun, wazakâtul-ilmi at-ta’lîm...” (segala sesuatu pasti ada zakatnya, sedangkan zakatnya ilmu adalah dengan mengajarkannya), sebuah prinsip yang beliau dapat dari KH Dimyati, gurunya.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Karier al-Qur’an Beliau termasuk salah satu pendiri organisasi para qari’ dan penghafal al-Qur’an, Jam’iyatul Qura’ wal-Huffadz (JQH), sekaligus salah satu pencetus ide Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat internasional pada Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) tahun 1964. Beliau juga termasuk penggagas MTQ tingkat nasional. Tak jarang beliau menjadi juri MTQ baik di tingkat propinsi, tingkat nasional maupun di tingkat internasional. Terakhir beliau menjadi juri MTQ tingkat internasional yang dilaksanakan di Jakarta 2003 lalu. Sebelumnya beliau juga dipercaya menjadi juri MTQ tingkat internasional di Mesir (1998) dan Brunei Darussalam (1985). 1965, bersama dua qari’ nasional lainnya, Ustadz Abdul Aziz Muslim dan Fuad Zain, beliau pernah diundang untuk membaca al-Qur’an di 11 negara Asia Afrika (Arab Saudi, Pakistan, Irak, Iran, Siria, Lebanon, Mesir, Palestina, Aljazair, dan Libya). Demikianlah biografi singkat dari Kiai Basori, sang kiblat tilawah Indonesia khususnya di Jawa Timur. *** Saat ditanyai tentang siapa yang akan menjadi penggantinya di PIQ seandainya beliau meninggal dunia, beliau menjawab, “Saya urut dari yang tertua ya…: Anas Basori, Rif’at Basori, Lutfi Basori, dan Abdullah Murtado.” Yang disebutkan terakhir adalah cucu Kiai Basori dari putrinya yang bernama Hani’. A. Fadoil Khalik/BS


PP. Salafiyah Pasuruan

Saat Waktu Begitu Berarti

Nama: PP. Salafiyah Alamat: Jl. KH Abdul Chamid VIII/14 Kebonsari Pasuruan Jawa Timur Tahun berdiri: 1366 H/1953 M Pendiri: Kiai Arsyad bin Abror Pengasuh sekarang: KH Idris Hamid KH Achmad Taufiq Aqib Telp: 0343 - 421474 Fax: 0343 - 411772 Email: salafiyah.pasuruan@ gmail.com Website: www.salafiyah.org

Aktivitas padat, disiplin ketat, dan rutinitas yang terjadwal mewarnai hari-hari para santri.

S

AAT itu, para santri berkumpul di mushola pesantren yang kami kunjungi. Mereka semua berseragam putih. Khusyuk. Nyaris tak bergerak. Bahkan tempat duduknya pun tak boleh berpindah-pindah. Tetap setiap harinya. Bergantian, satu per satu dari mereka membaca kitab Riyâdush-Shâlihîn karangan Imam an-Nawawi. Perlahan, tanpa terjemah tanpa keterangan, hanya membaca Hadisnya saja. Satu-tiga Hadis untuk tiap santri. Konon, siapa pun yang bisa rutin mengikuti kegiatan ini selama

40 hari, dijamin kelak akan menjadi pemuka agama. Tentu saja meski mudah dikata, tapi realitanya hal itu sangat sulit untuk dilakukan. “Ada saja halangan yang menghadang.” Begitu kata beberapa santri berkesan. Kegiatan rutin tersebut disebut Râhah, kata dalam bahasa Arab yang berarti rehat. Entah mengapa kegiatan ini disebut demikian. Yang jelas, kegiatan yang dilaksanakan tiap sore hari mulai pukul 05.30 sampai azan Magrib ini diikuti oleh seluruh santri PP Salafiyah tanpa terkecuali, seperti halnya kegiatan-kegiatan yang BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

67


KH Idris Hamid

lain, serentak diikuti oleh semua santri tanpa terkecuali. Asal muasal kegiatan Râhah ini adalah anjuran dari Habib Jakfar bin Syaikhan Assegaf kepada Kiai Hamid saat beliau menjadi pengasuh PP Salafiyah. *** Di pagi hari, pada pukul 07.30 tet… tet… bel berbunyi. Bel persiapan. Begitu para santri menyebutnya. Mereka bersiap-siap untuk berangkat ke madrasah. Di mana semenjak salat subuh dan wiridnya yang baru selesai pukul 06.00 hingga pukul 07.30 ini adalah waktu kosong bagi para santri. Biasanya mereka mengisinya dengan sarapan, mandi, dan lainlain. Pada pukul 08.00 barulah mereka masuk ke kelas madrasah. Di Pesantren Salafiyah jenjang pendidikannya terbagi menjadi 4 tingkatan; I’dadiyah, Ula, Wustho, dan Ulya. I’dadiyah adalah jenjang persiapan atau pembekalan santri baru agar memiliki kemampuan

68

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

KH Achmad Taufiq Aqib

disiplin ilmu dasar, sehingga tak tertinggal jauh dengan santri yang telah belajar sebelumnya. Karena fenomena yang ada, santri yang baru masuk ke pesantren memiliki kemampuan yang berbedabeda. Ada yang sudah memiliki pengetahuan tentang ilmu-ilmu dasar seperti nahwu dan saraf. Ada pula yang kemampuan ilmunya masih minim, tetapi umurnya telah dewasa, disebabkan saat ini anak yang tidak belajar di pesantren atau madrasah sangat sulit – kalau enggan berkata mustahil – memiliki pengetahuan agama, meski yang dasar-dasar saja. Hal itu adalah akibat dari minimnya porsi waktu belajar ilmu agama di sekolah formal, yaitu antara 2-4 jam pelajaran dalam satu minggu. Dan biasanya waktu pelajaran agama itu hanya digunakan untuk belajar membaca al-Qur’an atau akhlak. Maka jenjang I’dadiyah ini berguna untuk memberikan pengetahuan dasar secara kilat plus pengelompokan santri


baru agar terlatih untuk terbiasa dengan kegiatan padat di Pesantren Salafiyah. Jenjang I’dadiyah ini memiliki tiga kelas. Di mana penentuan kelas tersebut ditentukan melalui tes kemampuan. Setelah beberapa waktu, mereka bisa mengikuti tes untuk masuk di tingkat Ula atau Wushto atau bahkan Ulya, sesuai dengan kemampuan mereka. Bisa saja mereka langsung masuk ke tingkat Wustho tanpa masuk di kelas tingkat Ula. Atau juga bila kemampuan mereka memungkinkan mereka juga bisa langsung naik ke kelas di tingkat Ulya. Jenjang pendidikan selanjutnya adalah Ula yang ditempuh selama tiga tahun. Rencananya di tahuntahun mendatang jenjang Ula ini akan dipersingkat menjadi satu tahun saja. Kemudian tingkat Wustho dan tingkat Ula yang juga ditempuh selama tiga tahun. Berbeda dengan Pesantren Salafiyah putra, di Pesantren Salafiyah Putri tingkat I’dadiyah tidak hanya berfungsi sebagai jenjang pembekalan bagi santriwati baru, tapi juga berfungsi sebagai kelas khusus bagi murid yang tidak mencapai target nilai minimal sebelum masuk pada jenjang berikutnya. Artinya bila nilai seorang murid di kelas 3 Ula tidak mencapai target minimal, maka dia harus masuk ke kelas I’dadiyah Wustho agar dapat mengejar ketertinggalan kemampuan dari murid yang lain. Begitu pula murid yang akan masuk ke tingkat Ulya, bila nilainya tidak sampai pada nilai minimum, dia harus masuk ke kelas I’dadiyah

Pembacaan Aurod menjelang sholat

Kursus Terbang Al-Banjari

Ulya. Tentu saja, kelas I’dadiyah Wustho dan I’dadiyah Ulya ini telah diatur sebagai kelas percepatan dengan beberapa kegiatan tambahan. *** Mushola di Pesantren Salafiyah lumayan besar. Cukup menampung santri sekitar 320 hingga 350 orang. Memang jumlah santri di Pesantren Salafiyah ini berkisar di antara 330-an orang, kalaupun berkurang atau bertambah tak akan jauh dari itu. Tentang ini Kiai Hamid pernah dawuh, “Jumlah santri pondok ini BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

69


Suasana Perpustakaan PP Salafiyah

Kursus bahasa Arab di Labotarium Bahasa

Kursus Komputer

70

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

(Pesantren Salafiyah) tidak akan melebihi (kapasitas) mushola.” Hampir semua kegiatan-selain sekolah di madrasah-dilaksanakan di mushola ini, kecuali kegiatan mingguan yang dilaksanakan di tiap kamar. Kegiatan harian itu dimulai sejak pukul 04.30-06.00 pagi untuk salat subuh dan wiridnya. Dilanjutkan dengan sekolah di madrasah pada 08.00-12.30. Setelah itu para santri harus tidur qailûlah selama 1 jam. Pada jam 2 siang salat dhuhur dilaksanakan selama setengah jam. Dilanjutkan dengan Madrasah Diniyah yang diisi dengan mengaji sorogan pelajaran madrasah atau mengaji kitab di mushola hingga pukul 03.00. Rehat sejenak. Nah, pada pukul 04.00 inilah kegiatan beruntun di mushola dimulai hingga pukul 07.30 malam, yaitu salat Ashar, râhah, salat Magrib, membaca Râtib al-Haddâd, membaca nadzam Aqîdatul-Awâm, dan salat Isya. Masih tinggal satu kegiatan lagi, yaitu belajar selama 1 jam mulai pukul 09.00 hingga 10.00 malam. Dan pukul 10.30 malam para santri diharuskan untuk istirahat guna mempersiapkan diri untuk kegiatan pada keesokan harinya. Begitulah kegiatan padat di Pesantren Salafiyah yang mayoritas berupa kegiatan salat berjamaah dan ubudiyah. Dalam hal ini Kiai Taufiq menuturkan, “Kalo di sini memang yang ditekankan adalah wiridan dan jamaah.” Dan kegiatan-kegiatan ini memang telah menjadi ciri khas Pesantren Salafiyah sejak dulu. Ahmad Biyadi/BS


BELANDA

PALESTINA ARAB SAUDI AMERIKA SERIKAT MALAYSIA INDONESIA

INDONESIA Mesra dengan PKB, Syuriah PBNU Tegur Said Aqil

KETUA PBNU, DR M Salim Al-Jufri menegaskan bahwa NU secara organisatoris NU tidak boleh berpolitik praktis atau menjaga jarak yang sama dengan parpol. ”Karena itu seluruh lembaga di NU harus menjaga jarak dengan parpol manapun, bahkan dengan PKB sekalipun,” katanya saat melantik Pengurus Wilayah NU Provinsi Gorontalo, Kamis malam 24/11/2011. Sikap itu diambil NU setelah organisasi yang didirikan KH Hasyim Asy’ari itu kembali ke Khittah 1926 sebagai organisasi sosial keagamaan. Sebagai bentuk ketegasan sikap itu, Rais Aam Syuriah PBNU KH Sahal Mahfudz memberikan teguran tertulis kepada Ketua Umum Tanfidziyah PBNU Said Aqil Siradj yang dinilai telah condong kepada PKB. “Pemilik NU adalah Dewan Syuriah, Tanfidziyah hanya pelaksana semua kebijakan yang

telah digariskan Syuriah yang harus dipertanggungjawabkan secara berkala kepada Syuriah,” katanya. Sebagaimana telah diketahui, Dewan Syuriah PBNU membuat teguran tertulis untuk mengingatkan Ketua Umum Tanfidziyah, Said Aqil Siradj, akhir September kemarin. Teguran itu dipicu manuver Said Aqil yang dinilai telah menyeret NU ke salah satu partai politik, PKB. Beberapa waktu terakhir, Said Aqil memang dekat dengan Ketua Umum PKB BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

71


Muhaimin Iskandar. Bahkan Said juga menyatakan NU itu PKB dan PKB itu NU. Sikap tersebut menimbulkan keresahan di kalangan pengurus NU, baik tingkat pusat, wilayah, cabang, sampai ranting. Ada sejumlah poin teguran yang dirumuskan dan ditandatangani langsung oleh Rais Am KH DR M. Ahmad Sahal Mahfudz dan Katib Am KH Dr Malik Madaniy. Yang paling mendapat perhatian adalah agar “ketua umum tidak melibatkan diri dalam politik praktis yang berkaitan dengan politik kekuasaan seperti mendukung calon tertentu dalam pemilu/ kada karena hal ini jelas-jelas bertentangan dengan jati diri NU sebagai organisasi sosial keagamaan.” Teguran juga berisi peringatan agar ketua umum tidak membuat rekomendasi untuk kepentingan birokrasi dan sebagainya di luar kepentingan NU. Ketua juga harus selalu berhati-hati dalam menyampaikan penyataaan kepada publik agar tidak mengundang kontroversi yang dapat membingungkan warga NU. (antaranews.com; indopos.com)

PALESTINA Hari Anak Sedunia, 1 dari 4 Anak Palestina Hidup dalam Kemiskinan

BERTEPATAN dengan Hari Anak Sedunia atau Universal Children’s Day pada 20 Nopember kemarin, sebuah kenyataan getir kembali terdengar dari Palestina, negeri jajahan Israel.

72

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS) melaporkan, lebih dari 25% populasi anak di Tepi Barat dan Gaza hidup dalam kemiskinan. Menurut data yang dikumpulkan PCBS, sedikitnya 26,9% anak-anak Palestina hidup dalam kemiskinan pada kurun waktu 2010. Dari jumlah tersebut, tingkat kemiskinan tertinggi berada di Gaza (38,4%) dan Tepi Barat (19%). Laporan PCBS juga menyebutkan, hampir separuh dari total populasi penduduk Palestina pada tahun 2011 adalah anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Selain itu, sekitar 65 ribu anakanak dalam rentang usia 5-14 tahun terpaksa sudah bekerja. Dan tidak semuanya menerima upah yang layak. Para pekerja anak di bawah umur ini kebanyakan lakilaki sementara anak-anak perempuannya lebih banyak dinikahkan. Menurut data PCBS, sekitar 1,6% anak-anak perempuan Palestina dan 0,2% anak lakilakinya menikah dalam rentang usia 12-17 tahun. Hampir separuh anak-anak Palestina juga tercatat sebagai pengungsi. Hampir setengah dari anakanak Palestina adalah pengungsi (45%), atau lebih dari dua pertiga (68,8%), anak-anak di Jalur Gaza, kata laporan PCBS. Hari Anak-Anak Sedunia (Universal Children’s Day) diprakarsi oleh PBB pada tahun 1954 untuk menyoroti kesejahteraan anak-anak di seluruh dunia. (sahabatalaqsha.com; eramuslim.com)


ARAB SAUDI Pembangunan Kota Makkah Kebarat-Baratan

TATA ruang Kota Suci Makkah berevolusi secara drastis dalam beberapa dekade terakhir. Yang membuat khawatir, Masjidil Haram bakal tenggelam dalam mewahnya pencakar langit yang bertebaran di Makkah. Namun, Walikota Makkah membantah pembangunan yang kian pesat tanpa perhitungan. “Proyek masa depan akan jauh dari Masjidil Haram, sekitar 300 meter. Bangunan sendiri akan memiliki ketinggian wajar antara 8 hingga 10 lantai,” ungkap Walikota Makkah, Osama Al-Bar, seperti dikutip Reuters, Rabu (9/11). Dalam enam tahun, lanjut dia, otoritas Makkah berharap infrastruktur kota Makkah akan bertambah sehingga mempermudah umat Islam dari seluruh dunia menuju Masjidil Haram. Al-Bar juga memastikan proyek jangka panjang di sekitar masjid akan meliputi hotel, mal dan kafe. Pembangunan wilayah pinggiran kota, termasuk perumahan dan taman bagi warga, telah diselesaikan. “Makkah dikenal sebagai sebuah kota tua, memiliki beberapa bangunan tua yang tidak tertata rapi. Proyek pembangunan akan mengubah dan meningkatkan kapasitas dan layanan kota Makkah,” kata Bar. Pada tahun 2020, lanjut AlBar, penduduk Makkah dan para jamaah haji bakal melihat dampak dari pembangunan. Meski bermaksud menata

ulang tata ruang kota, sejumlah pihak melihat pembangunan itu meniadakan keaslian kota Makkah. Yang terjadi, nuansa kota ala peradaban barat lebih menonjol ketimbang kekhasan kota Makkah. Sebagai contoh, Menara jam Raja Abdulaziz. Bangunan ini dimaksudkan untuk menjadi patokan waktu dunia Islam. Namun, arsitekturnya tidak mencerminkan selayaknya peradaban Islam. Bahkan ada kecenderungan pembangunan ini lebih bernuansa

kebarat-baratan. “Apa yang tidak menyenangkan adalah desain luar tidak mengikuti tradisional Arab. Bangunan ini tampak seperti bangunan di Australia, tidak memberikan nuansa Arab dan Makkah,” kata Wafa Abbet, jamaah haji asal Australia. (republika.co.id)

MALAYSIA Di Pahang dan Malaka, Gay Diancam Hukuman Penjara

BERBEDA dengan Indonesia yang beberapa waktu lalu “sukses” menggelar festival film gay terbesar se Asia, dua negara bagian BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

73


Malaysia akan mengeluarkan aturan yang akan menghukum kaum gay beragama Islam dan pendukungnya. Mereka yang ketahuan, akan dipenjara. “Homoseksual bertentangan dengan Islam. Laki-laki harus berpasangan dengan wanita, begitu pula sebaliknya. Yang bertentangan dengan aturan ini, dia mengikut hukum Barat,� kata Menteri Besar Malaka, Mohamad Ali Rustam. Politisi asal partai United Malays National Organisation ini, menyatakan banyak yang keliru menerjemahkan HAM. “Orang bicara tentang HAM, tapi ini bukan hak. Adalah kewajiban kita untuk menghentikannya. Selama ini, kita bertindak tapi tak ada payung hukumnya,� katanya. Homoseksual tabu bagi Malaysia. Pelaku tindak sodomi jika terbukti bersalah bisa dihukum hingga 20 tahun penjara. Dengan aturan baru nanti, setiap kegiatan yang mendukung homoseksualitas bakal dilarang. Di negara bagian Pahang, aturan ini juga bakal ditegakkan. Ulama setempat yang sangat disegani, Abdul Rahman Osman, pada harian The Star menyatakan perlunya melakukan tindakan bagi mereka yang berorientasi seksual menyimpang. Baru-baru ini, Human Rights Watch mendesak Malaysia untuk melindungi hak-hak kaum lestian, homoseksual, dan transgender. Dalam suratnya yang dikirim kepada Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, mereka menekankan negara untuk turut campur memberi perlindungan. Surat ini terkait pembubaran paksa acara

74

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

tahunan festival gay di negeri ini. (republika.co.id)

BELANDA Alhamdulillah, 6 dari 10 Muslimah Belanda Berjilbab

ENAM dari sepuluh wanita Muslim Belanda berusia 15 s.d 35 tahun, atau sekitar 80 ribu orang, kini mengenakan jilbab. Alasan mereka mengenakan busana bertutup kepala itu bukan karena penindasan, melainkan sebagai bagian dari identitas mereka. Demikian hasil survei perusahaan riset Motivaction di Belanda. Sebanyak 93% dari perempuan yang disurvei mengatakan mengenakan jilbab membuat mereka merasa lebih dari seorang Muslim. Sampai dengan 66 % mengatakan mereka menutupi rambut mereka karena melaksanakan ajaran Islam. Sekitar 70% mengatakan bahwa mereka merasa diterima di pekerjaan mereka meskipun mengenakan jilbab. Namun, 62% berpikir beberapa perusahaan lebih suka tidak mempekerjakan wanita yang memakainya. Dari wanita yang telah melepaskan jilbabnya, 41% melakukannya untuk meningkatkan kesempatan mereka mendapatkan pekerjaan dan 20% berharap mereka tak akan akan mengalami diskriminasi. Survei dilakukan untuk menandai penerbitan majalah Hoofdboek, yang dikhususkan bagi pengguna jilbab. Diperkirakan satu juta Muslim tinggal di Belanda yang memiliki penduduk sekitar 17 juta. (republika.co.id)


WS Rendra (1936-2009), Budayawan

Mengenal Daun-Daun Hidayah di Amerika Apa pun, termasuk bersyair, harus menjadi ruang ibadah. Harus mengaitkan dengan kehendak Allah.

7

NOVEMBER 1936 di Solo, Jawa Tengah, lahir bayi lakilaki dari seorang ayah yang berprofesi sebagai pengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, dan ibu yang menjadi penari serimpi di keraton Surakarta. Mereka adalah R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Dari ibunya darah seni mengalir dalam tubuh si bayi sehingga kelak ia menjadi seorang budayawan terkenal Indonesia. Bayi itu bernama Willibrordus Surendra Broto Rendra atau biasa disingkat dengan WS Rendra. Seniman sejak Kecil Sejak kecil Rendra telah mengasah bakat seni yang dimiliki dan baru berani tampil ketika ia duduk di bangku SMP. Ia tunjukkan

Dari ibunya darah seni mengalir dalam tubuh si bayi sehingga kelak ia menjadi seorang budayawan terkenal Indonesia. Bayi itu bernama Willibrordus Surendra Broto Rendra kemampuannya dengan menjadi seorang penyair, dramawan dan cerpenis. Tidak hanya hebat menulis puisi dan drama di atas panggung, pun Rendra piawai mementaskan drama. Melalui majalah Siasat Rendra petama kali memperkenalkan puisinya di media massa pada tahun 1952. Kemudian, karya puisinya terus mengalir memenuhi berbagai majalah pada saat itu. Dan pada pada tahun 60-an hingga 70-an, karya Rendra sering terpampang di berbagai majalah. Untuk mengasah ketajamannya BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

75


Pada suatu kesempatan ia pernah membaca kalimat, Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian (QS al-‘Ashr [103]: 1-2). Seketika hati Rendra bergetar dan imannya berguncang. Ia terkesan dan terhipnotis

76

di bidang seni, ia meneruskan sekolahnya ke Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dengan mengambil Jurusan Sastra Inggris. Dan untuk memenuhi rasa dahaganya akan sastra dan seni ia akhirnya menuju American Academy of Dramatic Arts, New York, Amerika Serikat (1964-67). Sepulang dari AS, Rendra mendirikan semacam perkumpulan atau organisani bagi para seniman Indonesia di Yogyakarta yang akhirnya dipindahkan ke Citayam, Cipayung, Depok, Jawa Barat. Melalui organisasi ini ia ingin membudayakan seni untuk masyarakat bawah. Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India. Rendra adalah tipe penyair pemberani yang mengekpresikan kritikan, protes dan sindiran yang ditujukan kepada pemerintahan Indonesia, kala itu masa Presiden Suharto. Ia tidak takut akan ancaman apapun. Bahkan Pemerintah Indonesia pernah melarang karyanya untuk dipertunjukkan pada tahun 1978. Rendra juga pernah dijebloskan ke penjara gara-gara kritik pedasnya. Selain itu, sajak dan puisinya juga sering menyebabkan telinga pemerintah gatal, lebih-lebih dramanya yang terkenal dengan judul Sekda,Mastodon dan Burung Kondor. Meskipun begitu, karya-karya Rendra tetap diminati oleh banyak kalangan, bahkan oleh Pemerintah

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Indonesia. Buktinya laki-laki yang lebih akrab dipanggil Willy itu tidak sedikit memperoleh penghargaan dari berbagai instansi, semisal dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957), Pemerintah RI (1969), Akademi Jakarta (1975), dan pada tahun 2007 ia memperoleh gelar doctor honoris causa (HC) dari UGM Yogyakarta untuk bidang sastra. Di samping karya berbau protes, sastrawan berjuluk Burung Merak ini juga sering menulis karya sastra yang menyuarakan kehidupan kelas bawah, seperti puisinya yang berjudul Pesan Pencopet kepada Pacarnya. Dedaunan Hidayah di AS Kehidupan di Amerika Serikat yang saat itu sedang marak dengan filsafat eksistensialisme, rupanya menjadi jalan bagi keislaman lelaki yang memiliki nama mualaf Wahyu Sulaiman Rendra ini. Pada suatu kesempatan ia pernah membaca kalimat, Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian (QS al-‘Ashr [103]: 1-2). Seketika hati Rendra bergetar dan imannya berguncang. Ia terkesan dan terhipnotis oleh kandungan ayat al-Qur’an itu, dan sadar bahwa apa pun bisa dibudayakan, termasuk ruang. Ia juga berkesimpulan bahwa seseorang tidak bisa membudayakan waktu. Seseorang tidak bisa menghentikan hari. Dengan teknologi setinggi apa pun, magic setinggi apapun, tidak akan bisa mengubah hari. Pengalaman lain Rendra bersama al-Qur’an ketika belum beragama Islam juga ketika masih kuliah di AS adalah ketika


membaca surah al-Ikhlas. Hati Rendra bergetar dan seketika meragukan agama yang sedang dianutnya. Kegelisahannya memuncak saat membaca surah al-Ma’un. Dalam surat ini ia temukan perihal hubungan manusia dengan Tuhannya yang diekspresikan dengan ibadah salat. Juga berbicara mengenai pentingnya memerhatikan anak-anak yatim dan orang miskin. Dengan perasaan yang tidak menentu, dengan kekosongan spiritual, Rendra menyempatkan diri mempelajari ajaran agama Hindu, Buddha, serta mencoba mempelajari kembali agama awalnya (Katolik), tetapi batin yang dirasakannya tetap resah dan gejolak batinnya tidak mampu terjawabkan. Rendra pulang ke Indonesia dengan membawa perasaan yang bercampur-aduk tidak kunjung ketemu pangkalnya itu pada tahun 1967. Akhirnya dua kalimat syahadat diucapkannya 4 tahun kemudian setelah melalui perjalanan spiritual panjang pada hari perkawinannya, 12 Agustus 1970. Begitu mantap dan puas dengan pengembaraan intelektual dan spiritual yang berbuah keislamannya, Rendra mengekspresikan dalam sebuah puisi yang berjudul Suto Mencari Bapa, yang merupakan sebuah puisi tentang biografi Rendra. Pada larik penutup puisi tersebut Rendra mencantumkan kalimat Lailahaillah berulang kali. Meski Rendra telah menjadi Muslim, kebiasaannya meminum

pengembaraan intelektual dan spiritual yang berbuah keislamannya, Rendra mengekspresikan dalam sebuah puisi yang berjudul “Suto Mencari Bapa�. minuman keras tidak bisa dihindari. Dan kebiasaan tersebut akhirnya hilang setelah ia menjalani rukun Islam yang kelima. Apapun yang diminum Rendra ketika di Makkah terasa seperti Chevas Regal, semacam minuman keras, termasuk air zamzam. Saat itu Rendra merasa takut juga cemas. Ia pun berjanji dan memohon ampun kepada Allah untuk tidak meminum minuman keras lagi, Rendra baru bisa bersyukur karena bisa merasakan minuman sebagaimana mestinya ketika dalam perjalanan pulang dari Makkah. *** Kamis, 6 Agustus 2009 di RS Mitra Keluarga, Depok, pria yang pernah memperoleh penghargaan The S.E.A. Write Award (1996) dan Penghargaan Achmad Bakri (2006) ini wafat pada usia yang ke 73 tahun dan dimakamkan selepas salat Jumat di TPU Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Citayam, Depok. Abdurrahman Wahid/BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

77


HADHARAH

Jerusalem, Kota Suci yang Terluka (2/2)

Toleransi ala Islam; Antara Kekejaman Pasukan Salib dan Penjajahan Zionis Israel Nubuat Penaklukan Jerusalem oleh Umar dalam Injil EKUASAAN Bizantium (Romawi Timur) atas Jerusalem dan bahkan seluruh wilayah Syam terus berlanjut hingga masa-masa akhir kehidupan Rasulullah ď ˛, di mana genderang perang melawan Romawi mulai ditabuh. Pada masa khalifah pertama,

K 78

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Abu Bakar ash-Shiddiq (11-13 H/632-634 M), ekspansi besarbesaran digalakkan di wilayah Syam. Sebuah pertempuran akbar terjadi di Yarmuk, berakhir dengan kemenangan heroik di tangan umat Islam–suatu hal yang menandai ancaman serius pasukan Islam atas dominasi Romawi di tanah Syam. Khalifah kedua, Umar bin al-


HADHARAH Khaththab, memberi lampu hijau bagi pasukan Islam di Syam untuk melanjutkan ekspansi mereka ke Baitul Maqdis. Tahun 16 H/637 M, setelah melalui pengepungan selama empat bulan, penduduk Aelia–sebutan Romawi untuk Baitul Maqdis–menyerah. Namun mereka menetapkan syarat khusus: Khalifah Umar harus datang dari Madinah untuk menandatangani perjanjian damai tersebut. Syarat ini diajukan karena menurut para pemuka agama Kristen, di dalam Injil, terdapat sebuah nubuat bahwa Baitul Maqdis akan ditaklukkan oleh seorang pemimpin yang namanya terdiri atas tiga huruf. Dan mereka yakin bahwa orang itu adalah Umar. Versi ini berbeda dengan riwayat al-Waqidi dalam Futûhusy-Syâm. Menurutnya, para pendeta Kristen di Aelia memang menemukan nama Umar disebut secara jelas dalam Injil sebagai penakluk Baitul Maqdis. Pemerintahan Islam di bawah Khalifah Umar memulai babak baru dalam sejarah Jerusalem. Khalifah Umar mengijinkan pemeluk Yahudi untuk kembali dan tinggal di Baitul Maqdis, setelah sekitar lima abad mereka terusir. Fase perdamaian dan toleransi ala Islam pun dimulai, di mana para pemeluk Islam, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan dengan damai. Di Bawah Pemerintah Islam Pemerintahan Islam atas Jerusalem berlangsung seiring silih-bergantinya dinasti pasca al-Khulafa’ ar-Rasyidun: Dinasti Umayyah, berkuasa 661-750 M;

ADIL: Surat perjanjian khalifah umar dengan penduduk jerussalem

Pemerintahan Islam di bawah Khalifah Umar memulai babak baru dalam sejarah Jerusalem. Khalifah Umar mengijinkan pemeluk Yahudi untuk kembali dan tinggal di Baitul Maqdis, setelah sekitar lima abad mereka terusir. Fase perdamaian dan toleransi ala Islam pun dimulai, lalu Abbasiyah 750-969 M. Tahun 878, Ahmad bin Thulun, penguasa Mesir merebut Jerusalem dan melepaskan diri dari Abbasiyah. Ia mendirikan Dinasti Tuluniyah, yang merebut kontrol atas Jerusalem dari tangan Abbasiyah hingga tahun 904 M. Meski berhasil merebut kembali Jerusalem pada tahun 904 M, namun Abbasiyah tidak memegang kendali sepenuhnya atas Jerusalem saat Muhammad bin Tughj al-Ikhsyidi, gubernur Abbasiyah di Mesir dan Jerusalem, BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

79


BERAGAM: Pemerintah yang pernah menguasai Jerussalem

diberi kontrol independen atas Jerusalem sejak 939 M. Dinasti yang dibangun Muhammad bin Tughj, yaitu alIkhsyidiyah terus berkuasa hingga tahun 969 M, saat dinasti itu runtuh dan Jerusalem direbut oleh Dinasti Fathimiyah melalui jenderal pembangun al-Azhar, Jauhar ashShiqilli. Fathimiyah terus mengendalikan Jerusalem hingga 1073 M. Di tahun itu, Jalalud Daulah, Malik Syah I, khalifah ketiga Dinasti Sunni Seljuk merebut Jerusalem dari tangan Fathimiyah. Dinasti ini berkuasa atas Jerusalem hingga 1098, saat Fathimiyah sempat merebut kembali Kota Suci. Berselang satu tahun, 1099, Pasukan Salib dari Eropa merebut Jerusalem dan membantai puluhan ribu umat Islam dan pemeluk Yahudi. Kristen Eropa menguasai Jerusalem selama 88 tahun (10991187 M), sebelum Shalahuddin al-Ayyubi merebutnya kembali.

80

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Dinasti yang dibina Shalahuddin, Ayyubiyah, mengontrol Jerusalem hingga 1260. Meski pada 1250, Aibak mengambil alih kekuasaan Ayyubiyah dan membunuh raja terakhirnya, Turansyah–hingga kekuasaan mereka terbatas di wilayah Syria, namun Ayyubiyah secara formal tetap dianggap penguasa Jerusalem hingga 1260, saat Jerusalem takluk ke tangan tentara Mongol. Dan setelah kekalahan Mongol di Ain Jalut pada tahun itu juga, seluruh wilayah Syria berada di bawah kendali dinasti yang menumbangkan Ayyubiyah, Mamluk. 1260-1517 adalah masa pemerintahan Dinasti Mamluk atas Jerusalem. Pada tahun 1516, Sultan Salim I dari Turki Utsmani mengalahkan raja terakhir Mamluk, al-Asyraf Qanshuh alGhauri di Palestina dan setahun kemudian (1517), ia memasuki Jerusalem dan memproklamirkan diri menjadi penguasa tunggal


dunia Islam. Selama empat abad (15171917) Turki Utsmani menguasai Jerusalem. Kekalahan pada Perang Jerusalem di Perang Dunia I, menyebabkan Jerusalem lepas ke tangan Britania Raya. Deklarasi Balfour, Mandat Britania Raya, dan Negara Zionis Israel Satu hal penting dalam kaitannya dengan sejarah panjang Jerusalem adalah Deklarasi Balfour, sebuah surat tertanggal 2 Nopember 1917 dari Menteri Luar Negeri Britania Raya (Inggris), Arthur James Balfour, kepada Walter Rothschild (pemimpin klan Rotschild), pemimpin komunitas Yahudi Inggris, untuk dikirimkan kepada Organisasi Zionis. Surat itu menyatakan posisi yang disetujui pada rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917, bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana Zionis untuk membangun pemukiman Yahudi di Palestina. Perang Jerusalem (17 Nopember s.d 30 Desember 1917) seakan merespons deklarasi tersebut, di mana pada waktu itu, Britania berhasil merebut Palestina dari Turki Utsmani, dan sejak saat itulah gerakan Zionis mulai membawa orang-orang Yahudi (Eropa!) ke tanah Palestina secara bertahap hingga 1948. Tahun 1948, atau 51 tahun setelah deklarasi gerakan Zionis, negara Israel diresmikan di wilayah Palestina. Kontrol atas Palestina dibagi antara pemerintahan penjajah Israel dan Jordania hingga tahun 1967. Di tahun tersebut, meletus Perang Enam

Suasana damai dan persaudaraan dapat dirasakan selama Islam berkuasa di Jerusalem. Sejarah dengan jelas menggambarkan bagaimana pada tahun 637 M, penaklukan yang dilakukan Khalifah Umar menghapus nuansa penindasan, diskriminasi, dan kekejaman yang mewarnai pemerintahan bangsa Romawi selama ratusan tahun

Hari Arab-Israel, yang berakibat lepasnya kontrol Jordania atas Jerusalem. Sejak tahun itulah, Israel semakin merajalela dengan mencaplok sedikit demi sedikit wilayah Palestina. Saat ini, penduduk Palestina hanya menempati sekitar 10% saja tanah yang seharusnya menjadi hak mereka窶電i Jalur Gaza dan Tepi Barat. Toleransi ala Islam; Antara Kekejaman Pasukan Salib dan Penjajahan Zionis Israel Sejarah panjang Jerusalem menyajikan dua hal berbeda dan bertolak belakang, terkait ajaran damai dan kasih sayang yang seharusnya diusung oleh tiga agama Samawi: Islam, Kristen, dan Yahudi. Suasana damai dan persaudaraan dapat dirasakan selama Islam berkuasa di Jerusalem. Sejarah dengan jelas menggambarkan bagaimana pada tahun 637 M, penaklukan yang dilakukan Khalifah Umar menghapus nuansa penindasan, diskriminasi, dan kekejaman yang mewarnai pemerintahan bangsa Romawi selama ratusan tahun. Sebaliknya, upaya merebut BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

81


Opini masyarakat dunia digiring oleh media massa yang mereka kontrol, sehingga orang-orang selalu berpikir bahwa setiap hal yang terjadi di Palestina tak lebih dari sekadar “konflik antara Palestina-Israel”

Jerusalem oleh Pasukan Salib pada 1099 hanya menggoreskan luka yang pedih bagi umat Islam. Misi Pembebasan Tanah Suci yang mereka usung diterjemahkan dalam bentuk pembantaian puluhan ribu umat Islam dan Yahudi. Namun saat Shalahuddin alAyyubi (Saladin) merebut kembali Tanah Suci tersebut (1087), tak ada amarah, tak ada dendam. Sikap toleransi ala Islam jelas tergambar dalam sosok dan tindakan Saladin nan agung. Saladin tidak menyentuh seorang Kristen pun di kota tersebut. Ia hanya memerintahkan pemeluk Kristen Latin (Katolik) untuk meninggalkan Jerusalem. Sedang umat Kristen Ortodoks yang tidak terlibat dalam Pasukan Salib, dibiarkan tinggal dan beribadah. Periode pemerintahan Turki Utsmani juga demikian. Selama 400 tahun mereka memerintah di tanah Palestina dengan keadilam menurut agama Islam. Para pemeluk agama Samawi yang lain menemukan toleransi, keamanan, dan kebebasan di tanah Jerusalem. Masa pemerintahan Turki Utsmani adalah masa stabilitas terpanjang dalam sejarah Tanah Suci Tiga Agama itu.

82

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

*** Apa yang terjadi di masa modern ini tak kalah mengerikan daripada pembantaian yang dilakukan Pasukan Salib, atau penghancuran besar-besaran yang dilakukan Nebukadnezar + 2600 tahun silam. Penjajah Israel, dengan posisi strategis mereka sebagai penguasa ekonomi dan politik dunia, berhasil menjalankan penjajahan di tanah Palestina dengan rapi, teratur, dan bertahap. Selama puluhan tahun, penduduk Palestina mereka bawa ke dalam penindasan tiada henti. Mereka terus mencaplok tanah Palestina, memprovokasi penduduk negeri itu, dan melakukan penggalian-penggalian di kawasan al-Haram asy-Syarif, demi tujuan merebut kawasan tersebut. Satu-satunya penjajahan yang masih tersisa di abad ke-21 itu, berlangsung tanpa mendapat perlawanan ataupun protes berarti dari dunia internasional. Dunia Arab yang sebelumnya merespons dengan keras beberapa dekade silam, kini tak berkutik. Opini masyarakat dunia digiring oleh media massa yang mereka kontrol, sehingga orangorang selalu berpikir bahwa setiap hal yang terjadi di Palestina tak lebih dari sekadar “konflik antara Palestina-Israel” Tapi bagaimanapun juga, satu hal perlu terus ditanamkan dalam benak kita sebagai umat Islam; bahwa krisis dan carut-marut yang terjadi di Palestina bukanlah konflik Palestina-Israel, melainkan penjajahan! Wallahu A’lam. Moh. Yasir/BS


RIHLAH

Jerusalem, Kota Suci Ketiga Umat Islam (2/2) Denah al-Haram asy-Syarif

Keterangan: 1. Pintu Ganda (Double Gate) 2. Masjid Putih (White Mosque) 3. Museum Islam (Islamic Museum) 4. Kubah Yusuf (Dome of Yusuf) 5. Bab al-Magharibah (Maroccon’s Gate) 6. Bab as-Silsilah (Pintu Rantai) 7. Kubah Musa (Dome of Moses) 8. Air mancur Qatbay 9. Madrasah 10. Bab al-Mastarak 11. Bab al-Qattanin 12. Bab al-Hadid (Pintu Besi) 13. Bab an-Nazir 14. Air mancur ‘Ala’uddin al-Bashir

15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28.

Bab al-Ghawanimah Minarah (Menara) al-Ghawanimah Madrasah al-Malakiyah Bab al-Atim Air mancur Sultan Sulaiman Bab Hiththah Madrasah al-Qahdariyah Bab al-Asbath Mimbar (Pulpit) Kubah an-Nabi (Tempat Salat Rasulullah) Kubah al-Mikraj Kubah al-Khalil/Hebron Kubah St.George Kubah al-Arwah BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

83


Bab al-Magharibah, pintu terdekat dengan Masjid al-Aqsha. Konon, pintu inilah yang disebut Bab al-Yamani, tempat Rasulullah memasuki al-Aqsha. Pintu ini sekarang dikuasai oleh Israel dan tengah berada dalam tahap penghancuran.

Kubah Nabi (Dome of The Prophet). Lokasinya berada di sisi barat laut Kubah Shakrah. Diyakini sebagai tempat Rasulullah mendirikan shalat sesaat sebelum bermikraj.

Bab adz-Dzhabi atau Golden Gate. Salah satu situs kuno di sisi timur pelataran al-Quds. Pada perode Dinasti Umayyah, pintu ini memiliki dua ruangan yang dinaungi kubah. Yaitu Bab arRahmah dan Bab at-Taubah. Menurut sejarawan, di lokasi inilah al-Imam al-Ghazali menyelesakan Ihya’ ‘Ulumuddin, di sela-sela mengajar akidah dan fikih di al-Quds saat itu. Sedangkan umat Kristen percaya bahwa Nabi Isa akan melewati pintu ini saat kedatangan beliau untuk kedua kalinya

Kubah Mikraj. Kemungkinan situs ini dibuat untuk mengenang dan memperngati Isra Mikraj. Atau, lokasi ini memang tempat turunnya Rasulullah setelah bermirkaj, sebelum kembali ke Makkah.

84

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


Kubah Shakhrah Di tengah-tengah Qubbah ashShakhrah (Dome of the Rock), terdapat sebuah batu gunung berukuran kurang lebih 13,8 x 17 meter dengan bentuk yang tidak simetris. Batu ini adalah kiblat pertama umat Islam, sekaligus kiblat bagi pemeluk Yahudi zaman dahulu. Batu ini merupakan tempat berpijak Rasulullah ď Ľ sebelum melesat ke Sidratul Muntaha. Batu Shakhrah merupakan inti dari Masjid al-Aqsha. Namun saat ini sering disalahpahami karena bangunan Shakhrah terpisah dari masjid tersebut. Di bawahnya terdapat gua berbentuk kubus berukuran 4,5 x 4,5 x 1,5 meter, Kubah Shakrah tampak dari luar sehingga mengesankan batu Shakhrah tersebut seolah-olah tergantung di udara. Di bagian atas terdapat lubang besar berdiameter 1 meter. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah mimbar dan orang dapat masuk ke dalamnya melalui sebuah pintu dengan menuruni sebuah tangga. Sebagian ulama menganggap kesucian Shakhrah sama dengan kesucian Hajar Aswad di Ka’bah yang selalu dicium oleh jamaah haji/umrah saat tawaf; kedua batu itu sama-sama berasal dari surga. Sesaat setelah penaklukan Jerusalem melalui perjanjian damai, Khalifah Umar bin al-Khaththab mengunjungi batu tersebut. Saat itu Shakhrah dalam Bagian dalam Kubah Shakrah keadaan kotor karena dijadikan tempat pembuangan kotoran oleh orang-orang Kristen Romawi. Khalifah Umar lah yang pertama kali membersihkan kotorankotoran tersebut. Khalifah Abdul Malik bin Marwan (65-85), lantas memerintahkan pembangunan sebuah kubah yang melindungi Shakhrah dan para pengunjungnya dari terik dan dingin. Uang sebanyak 10,000 dinar emas kemudian dilebur untuk melapisi bagian luar kubah tersebut. Pembangunan selesai tahun 70 H. Bangunan Kubah Shakhrah merupakan bangunan Islam tertua di Bagian bawah Kubah Shakrah dunia yang masih bertahan hingga saat ini. BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

85


Masjid al-Aqsha Ada tiga pendapat ulama mengenai siapa yang membangun masjid ini. Pendapat terkuat menyatakan bahwa Nabi Adam lah yang membangunnya, sebagaimana beliau juga membangun Ka’bah di Makkah. Melakukan shalat di masjid ini mendapat keutamaan 500 kali lipat daripada shalat di masjid-masjid lain, selain Masjidil Haram dan Majid Nabawi. Saat ini, Masjid al-Aqsha menjadi sasaran penghancuran Zionis Israel. Sepanjang tahun 1970-an, beberapa penggalian intensif dilakukan di bawah masjid pada sisi selatan dan barat. Penggalian terowongan juga digali pada akhir dekade tersebut. Pada 1985, Sekelompok ekstrimis Yahudi pernah merencanakan akan meledakkan al-Aqsha suci umat Islam itu, namun terbongkar dan dapat digagalkan. Di samping itu, menurut Marwan Saeed Saleh, kaum Zionis Yahudi secara sistematis melakukan kampanye penyesatan terhadap umat Islam. Mereka sengaja lebih menonjolkan pemberitaan dan foto-foto Masjid Kubah Shakhrah untuk mengalihkan perhatian umat Islam dari Masjid al-Aqsha, Harapan mereka, suatu saat nanti umat Islam akan menganggap Masjid Kubah Shakhrah itulah Masjid al-Aqsha, sehingga kaum Zionis Yahudi merasa akan lebih leluasa untuk melenyapkan Masjid al-Aqsha dari muka bumi.

86

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Mimbar Salahudin al-Ayyubi, foto diambil awal 1900-an.

Penyusutuan wilayah Palestina periode 1946-2007 M. Peta Wilayah Palestina Gambar di atas menunjukkan pengurangan wilayah Palestina sejak tahun 1946, dua tahun sebelum berdirinya negara Israel; rancangan pembagian wilayah oleh PBB/UN (United Nation); peta wilayah hingga Perang Arab-Israel tahun 1967; dan gambaran wilayah terbaru pada tahun 2007. Dari hari ke hari wilayah Palestina terus menyusut karena dicaplok penjajah Israel. Moh. Yasir/BS


RIJALUDDIN Al-Imam an-Nasâ’i (215-303 H.)

Kitabnya Paling Shahih setelah BukhariMuslim

A

BAD ke-3 Hijriyah adalah sebuah masa di mana pembukuan Hadis sedang semarak. Dan Ishaq bin Rahawaih (161-238 H) adalah salah satu salah satu motor penggeraknya. Usaha Ishaq ini dilanjutkan dan ditingkatkan oleh murid-muridnya, termasuk juga dilanjutkan oleh anNasâ’i dengan kitab sunannya. Rihlah hingga Perbatasan Romawi Dalam kehidupan sehari-hari beliau lebih sering dipanggil dengan nama kun-yahnya, Abu Abdirrahman. Sedangkan nama lengkapnya adalah Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr. Lahir pada tahun 215 H di sebuah desa yang bernama Nasa,

“Siapa yang menelaah dan mengkaji kitab Sunan al-Nasa’i, ia akan terpesona dengan keindahan dan kebagusan kata-katanya.” (Al-Hakim Abu Abdillah) wilayah Khurasan yang sekarang berada di Turkmenistan. Abu Abdirrahman menjalani masa kecilnya hingga usia remaja di Nasa. Dan di masa inilah beliau menimba ilmu di salah satu madrasah Nasa. Dalam menuntut ilmu Abu Abdirrahman terkenal dengan ketekunan dan kegigihannya. Ketekunan dan kegigihan tersebut dibuktikannya dengan berhasil menghafal alQur’an sejak kecil. Karena ilmu adalah cahaya, BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

87


Dengan disertai kehati-hatian dan hati tulus untuk mencari ilmu dan ridha guru, an-Nasâ’i tetap mendengarkan apa yang akan disampaikan sang guru dalam majlis tersebut. Untuk bisa mendengarkan, beliau rela mengambil posisi di balik pintu atau tembok. maka ketika usia Abu Abdirrahman belum genap 15 tahun, beliau membulatkan niat untuk meninggalkan tempat kelahiran dengan melakukan rihlah ke berbagai daerah guna mencari cahaya ilmu yang tersebar di pusat-pusat keilmuan Islam. Dengan demikian hati beliau terus mengalami tambahan cahaya keilmuan seiring dengan bertambahnya guru dan semakin jauh rihlah yang beliau tempuh. Dalam lawatan ilmiah beliau pernah singgah di daerah Baghlan. Di sana Abu Abdirrahman berguru kepada Qutaibah bin Sa’id, salah satu guru al-Imam Muslim. Ini terjadi pada tahun 230 H. Bersama sang guru beliau lalui selama 14 bulan, sehingga di akhir perjumpaannya dengan Qutaibah bin Sa’id beliau telah menguasai berbagai disiplin ilmu, termasuk Hadis. Cakupan daerah atau kota yang pernah disinggahi Abu Abdirrahman begitu luas. Sehingga beliau bisa mempelajari dan mendengarkan berbagai macam disiplin ilmu dan membuat keilmuan beliau tidak diragukan lagi. Di antara tempat yang pernah beliau singgahi dalam rangka mencari ilmu adalah Khurasan; Irak yang mencakup Baghdad, Kufah, Bashrah, dan Mosul; Syam; Hijaz;

88

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Mesir dan perbatasan wilayah Islam dengan kekuasaan Ramawi. Demi Ridha Guru Selain populer dengan nama Abu Abdirrahman, beliau juga sering disebut dengan nama an-Nasâ’i, sebuah nama yang dinisbatkan kepada tempat kelahiran beliau. Bahkan nama inilah yang akhir-akhir ini disematkan kepada guru dari Ja’far ath-Thahawi ini. Imam an-Nasa’i adalah potret seorang murid yang gigih, dan semangat yang tertancap dalam dirinya seakan enggan untuk luntur. Terbukti orang yang pernah menjadi guru an-Nasâ’i begitu banyak. Bahkan beliau menulis satu kitab yang menceritakan siapa saja yang pernah mengajar juga meriwayatkan Hadis kepada an-Nasâ’i. Kitab tersebut berjudul Tasmiyatu Masyâyikhi Abi ‘Abdirrahmân an-Nasâ’i. Semisal Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, alHarits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud, dan Imam alTirmidzi. Pernah pada suatu kesempatan, ketika an-Nasâ’i di Mesir, beliau menghadiri pengajian yang diadakan al-Harits bin Miskin. Dalam pengajian tersebut anNasâ’i kebetulan mengenakan pakaian yang cukup mewah. Mengetahui pakaian seperti itu, al-Harits salah paham khawatir pakaian yang dikenakan an-Nasâ’i adalah pakaian yang berbau pemerintahan. Al-Harits khawatir hal itu menjadi aib bagi dirinya. Al-Harits pun melarang an-Nasâ’i memasuki majlis untuk berkumpul


bersama santri-santri yang lain. Namun keingintahuan anNasâ’i begitu kuat. Dengan disertai kehati-hatian dan hati tulus untuk mencari ilmu dan ridha guru, an-Nasâ’i tetap mendengarkan apa yang akan disampaikan sang guru dalam majlis tersebut. Untuk bisa mendengarkan, beliau rela mengambil posisi di balik pintu atau tembok. Usaha an-Nasâ’i tidak hanya sampai di situ. Dalam catatan kitab yang beliau karang, ketika terdapat Hadis yang periwayatannya dari al-Harits bin Miskin, an-Nasâ’i tidak menggunakan redaksi “Aku mendengarkan dari al-Harits…” tapi beliau menggunakan redaksi “Hadis ini dibacakan kapadaku” atau yang searti, sekiranya Hadis yang ditulis tersebut tidak terkesan diterima dari al-Harits bin Miskin. Dari as-Sunan al-Kubra hingga as-Sunan an-Nasâ’i Al-Imam an-Nasâ’i mewariskan banyak karya berharga yang sulit dilupakan dunia. Terbukti tidak sedikit karya beliau yang menjadi rujukan dan referensi generasi setelah beliau. Di antara karya beliau yang begitu banyak, salah satunya masuk dalam kategori al-kutub as-sittah, yaitu as-Sunan an-Nasâ’i. As-Sunan an-Nasâ’i adalah kitab hasil perampingan dari kitab karangan beliau sebelumnya, asSunan al-Kubrâ. Ketika rampung menulis as-Sunan al-Kubrâ, beliau menawarkannya kepada walikota Ramalah. Lantas walikota bertanya, “Apakah seluruhnya berupa Hadis shahih?” Beliau menjawab, “Ada yang

shahih, hasan, adapula yang hampir serupa dengannya.” “Kalau begitu, pisahkan Hadis yang shahih-shahih saja.” Melalui permintaan inilah beliau menyeleksi semua Hadis yang telah tertuang dalam asSunan al-Kubrâ dengan ketat. Dan akhirnya beliau berhasil melakukan perampingan terhadap kitab yang berjumlah ± 12.000 Hadis ini hingga menjadi as-Sunan ashShughrâ. As-Sunan ash-Shughrâ juga dikenal dengan nama al-Mujtabâ atau al-Mujtanâ, tapi kemudian lebih populer dengan nama asSunan an-Nasâ’i. Menurut sebuah keterangan yang tercantum dalam kitab Jâmi‘ul-Ushûl, kitab ini disusun berdasarkan pandanganpandangan fikih mazhab Syafi’i, karena memang mazhab inilah yang beliau anut. Jika dibandingkan dengan kitab Bukhâri dan Muslim, kitab ini berada dalam urutan ketiga dari segi otentisitas. Hal itu karena seleksi Hadis yang dilakukan anNasâ’i dalam mencantumkan Hadis masih dibawah standard Bukhâri dan Muslim, meskipun, di kitab ini sulit ditemukan Hadis dhaif. *** Pada tahun 302 H, kala itu an-Nasâ’i berada di Damaskus. Di sana ia mengalami sakit, lantas beliau meminta agar dipindah ke Makkah. Tidak lama kemudian beliau wafat dalam usia 88 tahun, pada Sya’ban 303 H (915 M). Beliau dimakamkan di suatu tempat antara bukit Shafa dan Marwa. Abdurrahman Wahid/BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

89


KLINIK PESANTREN

Mengatasi Sakit Kepala “Demam dan sakit kepala apabila menimpa seorang Muslim, sedangkan dia memiliki kesalahan yang melebihi besarnya gunung Uhud, maka ketika demam dan sakit kepala itu hilang dan sembuh, kesalahannya ikut hilang tak tersisa meski seukuran biji sawi pun.”

S

AKIT kepala adalah rasa sakit yang muncul pada satu bagian atau seluruh kepala. Jika sakit kepala menyerang satu sisi kepala, maka dinamakan Syaqiqah atau dalam bahasa Indonesia disebut migrain. Jika yang sakit seluruh bagian kepala, maka disebut Baidhah atau sakit kepala.

90

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Sakit kepala merupakan jenis penyakit yang paling sering dialami oleh seseorang. Bagi orang yang beriman, penyakit ini menjadi sebuah berkah karena sakit kepala yang menimpanya dapat menghapus dosa-dosa kecil yang pernah dia lakukan. Disebutkan dalam Hadis dari Abid Dardâ’ bahwa Rasulullah bersabda, “Demam dan sakit kepala apabila menimpa seorang Muslim, sedangkan dia memiliki kesalahan yang melebihi besarnya gunung Uhud, maka ketika demam dan sakit kepala itu hilang dan sembuh, kesalahannya ikut hilang tak tersisa meski seukuran


biji sawi pun.” Abdullah bin Umar juga meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa sakit kepala di jalan Allah (berjihad, haji, dll.) lalu dia mengharapkan pahala dengan sakit itu, maka dosadosanya yang lalu akan diampuni.” Maka tidak heran jika penyakit ini menjadi “langganannya” para Nabi. Dan Rasulullah sendiri juga sering mengalaminya. Bahkan, kalau sakitnya parah, kadang satu sampai dua hari beliau tidak keluar rumah. Penyebab dan Pengobatannya Sakit kepala muncul akibat panas yang menguap dan tertahan di kepala karena salurannya tersumbat. Ada banyak hal yang menjadi penyebab datangnya penyakit ini, di antaranya adalah beban pikiran yang terlalu berat, adanya masalah dalam lambung, perut terlalu kenyang atau sangat lapar, tidak tidur malam, kurang tidur, dan cemas yang berlebihan. Cara pengobatannya tergantung dari penyebab sakitnya. Pengobatan itu bisa dilakukan dengan cara tidur dan istirahat, mengosongkan perut, mengisi perut, dan tindakan lain sesuai dengan penyebabnya. Pengobatan ini sebisa mungkin menghindari obat sakit kepala yang banyak disediakan di tokotoko obat. Sebab penggunaan obat-obatan itu mengandung efek samping yang dalam jangka panjang beresiko buruk pada kesehatan. Oleh karenanya, ada baiknya kembali pada pengobatan yang dilakukan oleh Rasulullah maupun

pengobatan tradisional lainnya. Pengobatan alami non-obat yang dapat membantu mengobati dan mengatasi sakit kepala. Berikut adalah beberapa pengobatan yang dilakukan oleh Rasulullah untuk meredakan dan mengatasi sakit kepala; 1. Mengikatkan kain di kepala Cara ini sering dilakukan oleh Rasulullah untuk meredakan sakit kepalanya. Dalam beberapa kesempatan Rasulullah tampak memakai kain yang diikatkan di kepalanya. Pada waktu menderita sakit menjelang wafatnya, Rasulullah mengeluhkan sakit yang luar biasa di kepalanya. Di depan Sayidah Aisyah beliau berkata, “Betapa sakit kepalaku,” dan beliau mengikatkan selembar kain di kepalanya. Dalam kitab ath-ThibbunNabawi, diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Pernah Rasulullah menyampaikan khutbah sementara selembar kain diikatkan di kepalanya.” Memang mengikatkan kain di kepala terbukti dapat membantu meredakan sakit kepala dan migrain. 2. Ihtijâm atau berbekam Bekam merupakan pengobatan yang dicontohkan oleh Rasulullah. Beliau sering menjelaskan khasiat dan manfaat dari terapi yang juga disebut dengan cantuk ini. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Kesembuhan (obat) itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijâmah (bekam), dan dengan besi panas. Dan aku melarang ummatku dengan besi panas.” (HR. Bukhari)

penggunaan obat-obatan itu mengandung efek samping yang dalam jangka panjang beresiko buruk pada kesehatan.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

91


saat sakit kepala Rasulullah membaur kepalanya dengan hinnâ’. Dan beliau pasti sakit kepala setiap menerima wahyu dari Allah.

Rasulullah juga bersabda, “Berbekam di kepala merupakan obat dari segala penyakit; gila, judzam, ‘asyâ’, barash, dan sakit kepala.” Di samping itu, Rasulullah sendiri sering melakukannya. Seperti yang dijelaskan di dalam beberapa Hadis bahwa ketika Rasulullah merasakan sakit di kepalanya beliau melakukan bekam. Hal itu bahkan pernah beliau lakukan saat sedang ihrâm. Selain melakukannya sendiri, Rasulullah juga menganjurkan para Sahabatnya untuk berbekam setiap kali mereka mengeluhkan sakit kepala kepada beliau. Dalam terapi bekam ini, agar hasilnya maksimal, disarankan untuk tidak makan makanan berat 2-3 jam sebelumnya. Sebagaimana pendapat Ibnu Umar yang ditukil oleh Imam asSuyuthi, bahwa berbekam saat perut kosong adalah yang paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan. 3. Memakai daun inai atau pacar Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Rasulullah bila merasakan pening, beliau membalut kepalanya dengan inai (pacar) dan beliau bersabda , “Sesungguhnya inai (hinnâ’) ini bermanfaat untuk

menyembuhkan sakit kepala dengan izin Allah.” Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa saat sakit kepala Rasulullah meluluri kepalanya dengan hinnâ’. Dan beliau pasti sakit kepala setiap menerima wahyu dari Allah. Pengobatan dengan inai ini hanya untuk beberapa jenis sakit kepala. Bukan untuk seluruh sakit kepala. Jika sakit kepala disebabkan oleh demam tinggi, bukan karena adanya zat buruk yang perlu dibuang, inai dapat membantu meredakannya. Caranya adalah inai dihancurkan kemudian dicampur cuka dan dilumurkan di dahi. Cara ini dapat dapat meredakan sakit kepala. Jika digunakan sebagai pembalut, inai atau pacar ini dapat menenangkan syaraf. *** Selain tiga terapi di atas, ada beberapa hal lain yang juga dilakukan dan dianjurkan oleh Rasulullah untuk mengatasi sakit kepala, di antaranya adalah: mengoleskan minyak rambut ke bulu alis sebelum mengoleskannya ke rambut kepala, membiasakan menyisir rambut dan jenggot sambil dibasahi minimal 2 kali sehari. Muntahal Hadi/BS

“Banyak orang dari kita yang lebih siap dibohongi dengan kalimat indah, daripada mendengarkan kejujuran dengan kalimat ‘telanjang’” ~ Jamil Shidqi az-Zahawi

92

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


TIPS PESANTREN

Sukses dengan Manajemen Diri

K

ERAP suatu saat kita mengeluh susah, gundah, dan tidak semangat dalam menjalani hidup ini. Semuanya terasa hambar dan serba membosankan. Anehnya, kadang kita sendiri bingung terhadap apa penyebab dari semua itu. Yang pasti adalah, ketika kondisi diri sudah labil, maka kita jadi malas beraktivitas sehingga hidup ini menjadi tidak teratur. Di antara penyebab terbesar dari datangnya kondisi ini adalah tidak adanya pengaturan hidup

penyebab terbesar dari datangnya kondisi ini adalah tidak adanya pengaturan hidup secara baik. Yakni, aktivitas keseharian kita semuanya berjalan dengan datar tanpa ada target dan tujuan yang jelas. secara baik. Yakni, aktivitas keseharian kita semuanya berjalan dengan datar tanpa ada target dan tujuan yang jelas. Sehingga kita sendiri bingung, mau kemana, untuk apa, dan bagaimana hidup ini. Untuk itu, kami paparkan kiat mendefinisikan tujuan hidup yang BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

93


Jangan sedikitpun terlintas dalam pikiran kita untuk merencanakan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Semuanya itu tidak berguna dan hanya mendapat murka Allah . kami ringkas dari kitab Hattâ Lâ Takûna Kallan ‘Alân-Nâs Tharîquka ilât-Tafawwuqi wan Najâh karya Dr Audhin Al-Qarni. Pertama, jangan membiasakan diri melakukan aktivitas yang tidak didasari oleh tujuan. Semua aktivitas ini harus ada muara yang dituju. Buatlah tujuan secara sistematis dengan mendahulukan aktivitas yang lebih penting. Hasan al-Bashri pernah berkata tentang Umar bin Abdul Aziz , “Saya tidak pernah menyangka bahwa saat Umar melakukan sesuatu pasti ada tujuan yang menyertainya.” Bila kita telah membiasakan diri dengan cara ini, niscaya kehidupan ini akan berjalan dengan teratur dan terencana secara spontanitas.

94

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Kehidupan yang menolak kesemrawutan, tidak dikuasai oleh kekosongan, dan tidak menghilangkan waktu secara percuma. Kedua, memperhatikan fasilitas yang tersedia di saat menentukan tujuan. Setelah itu rumuskan tujuan sesuai dengan fasilitas yang tersedia. Misalnya, saat akan terjun dalam dunia bisnis, maka kita harus memperhatikan jumlah modal yang harus diinvestasikan. Kemudian tentukan jenis bisnis yang akan dijalani sesuai dengan jumlah modal investasi yang disiapkan. Ketiga, menyesuaikan dengan waktu yang tersedia. Jangan sampai tujuan yang semestinya bisa diraih dengan waktu singkat kita raih dengan waktu yang sangat lama. Misalnya, mahasiswa yang dapat menyelesaikan pendidikan dalam waktu empat tahun. Namun karena ia santai, maka baru bisa selesai hingga delapan tahun. Tidak ada kerugian yang lebih besar dari hilangnya waktu, karena ia takkan tergantikan oleh waktu lainnya. Keempat, target yang ingin dicapai harus berlandaskan syariat. Jangan sedikitpun terlintas dalam pikiran kita untuk merencanakan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Semuanya itu tidak berguna dan hanya mendapat murka Allah . Kelima, tujuan yang direncanakan terdefinisikan dengan jelas, tidak kabur dan samar-samar. Tujuan yang tidak dirumuskan dengan jelas membuat apa yang dikehendaki sulit tercapai.


Keenam, membuat program kerja. Setiap tujuan pasti ada peluang untuk mencapainya. Namun jika tidak menjelaskan jalan yang dilalui untuk meraihnya, maka ia tak lebih dari sebuah rencana dan angan-angan belaka. Jadi untuk merealisasikan tujuan besar harus disertai dengan program kerja sebagai jalan untuk meraihnya. Ketujuh, setelah tahapan di atas sudah terpenuhi semua, langkah selanjutnya adalah menentukan arah pelaksanaan dan pengawasan, serta membuat standar kemajuan atas setiap yang diraih. Setiap kita berusaha untuk mencapai tujuan pasti bertemu dengan banyak rintangan. Dalam keadaan demikian, kita didorong untuk memodifikasi beberapa program yang telah direncanakan dan meninjau ulang tahapantahapan tujuannya. Kita harus yakin bahwa usaha yang kita kerjakan akan berhasil. Kedelapan, langkah selanjutnya adalah membagi sasaran umum ke dalam sasaran yang lebih khusus. Setiap capaian pada sasaran khusus akan mendekatkan kita ke arah pencapaian umum. Sehingga sasaran umum itu dapat terealisasi

Jangan sampai kita terjebak pada pemuasan nafsu belaka dengan mendahulukan apa yang seharusnya ditunda dan menunda apa yang seharusnya didahulukan.

dengan tercapainya sasaran khusus. Kesembilan, sasaran yang ingin dicapai hendaknya merupakan kebutuhan dan menjadi prioritas utama dari aktivitas lain yang dilakukan. Jangan sampai kita terjebak pada pemuasan nafsu belaka dengan mendahulukan apa yang seharusnya ditunda dan menunda apa yang seharusnya didahulukan. Ketika kita terbiasa dengan rutinitas yang seperti ini, maka hanya kesulitan yang akan diperoleh, hingga menghabiskan waktu yang tersedia pada aktivitas yang sia-sia dan remeh. Padahal kita punya potensi untuk menjalani aktivitas yang lebih berguna baik di dunia maupun di akhirat. Demikian sedikit cara yang bisa dijadikan patokan di dalam merumuskan tujuan hidup. Zainuddin Rusdy/BS

Ada orang yang ucapannya seperti permata. Saat keluar, orang-orang berebut memungutnya. Ada yang seperti kerikil tak berharga. Saat keluar, tak ada yang memperdulikannya. ~ al-Ma’arri

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

95


SAKINAH

Hiasilah Jiwamu dengan Sifat Malu (Bagian III-Habis) Oleh : Muhairil Yusuf

P

ADA kesempatan kali ini, penulis ingin mencoba mengantarkan para pembaca untuk berlayar di tepi pulau guna menikmati sebuah pemandangan yang berhiaskan sifat malu. Kalau edisi sebelumsebelumnya kita telah banyak mempelajari sifat malu dari berbagai aspek, maka untuk kali ini penulis ingin mencoba lebih objektif menilai keutamaan dan indahnya rasa malu. Yaitu penulis akan mencoba melengkapi tulisan-tulisan sebelumnya dengan memaparkan klasifikasi malu sesuai objeknya. Jika ditinjau dari objeknya, maka malu itu dibagi menjadi empat bagian. Pertama, Malu kepada Diri Sendiri Di antara obyek yang

96

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

hendaknya manusia mensikapinya dengan malu adalah Allah, malaikat, sesama manusia, dan diri sendiri. Siapa saja merasa malu kepada sesama manusia dan tidak malu kepada dirinya sendiri, berarti dirinya sendiri lebih rendah menurutnya daripada orang lain. Karena dia merasa dirinya berada dalam keadaan yang lebih hina daripada orang lain. Karena dia merasa dirinya berada dalam keadaan yang lebih hina daripada jika harus malu kepadanya. Siapa saja yang merasa malu kepada dirinya sendiri tapi tidak malu kepada Allah, maka dia tidak mengenali Tuhannya. Oleh karena itu, Rasulullah ď Ľ pernah memberikan nasihat kepada seseorang, “Aku nasihatkan kepadamu agar malu kepada Allah, seperti halnya kamu merasa malu kepada orang saleh dari kaummu.â€? Secara fitrah, manusia akan


merasa malu kepada orang yang menurut dia lebih mulia dan besar. Oleh karena itu, dia tidak akan malu kepada binatang, anak kecil, dan orang yang belum mencapai usia balig. Rasa malu yang dia miliki terhadap orang pandai lebih tinggi daripada terhadap orang bodoh. Dia akan lebih merasa malu kepada suatu kelompok daripada terhadap perseorangan. Seyogianya, jika seseorang menilai bahwa suatu objek memiliki kedudukan yang lebih tinggi menurutnya, maka rasa malu yang dimiliki terhadapnya akan lebih besar daripada obyek yang lain. Oleh karena itu, beberapa ulama salaf berpesan, bahwa siapa saja yang secara sembunyi-sembunyi melakukan amal yang jika dilakukan secara terang-terangan menjadikan dia malu, berarti dia tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Salah satu ulama salaf ditanya tentang hakikat sifat muru’ah (harga diri). Dia menjawab bahwa muru’ah adalah suatu sifat yang apabila dalam kondisi tersembunyi kamu tidak berani melakukan sesuatu dan kamu pun merasa malu untuk melakukannya di depan umum. Rasa malu seseorang terhadap dirinya sendiri merupakan sifat malu yang dimiliki oleh jiwajiwa mulia, terhormat, dan tinggi derajatnya. Mereka rela memiliki kekurangan dan bisa menerima segala hal yang tidak dimiliki. Dengan begitu, dia akan merasakan malu pada dirinya sendiri. Seakan-akan manusia memiliki dua jiwa, salah satu di antaranya malu kepada yang lain.

Ini merupakan derajat malu yang paling sempurna. Jika seorang hamba bisa malu kepada dirinya sendiri, maka sudah pasti rasa malunya terhadap orang lain akan lebih besar. Kedua, Malu kepada Malaikat Malu adalah salah satu sifat malaikat, seperti yang telah disebutkan dalam Hadis riwayat Sayidah Aisyah  yang berbunyi, “Bagaimana aku tidak malu kepada seseorang, padahal malaikat sendiri merasa malu kepadanya.” Sayidah Aisyah meriwayatkan bahwa sesungguhnya malaikat Jibril tidak mau masuk ke rumah Nabi  karena malu kepada Sayidah Aisyah. Kemudian, Jibril memanggil Nabi  dengan suara lirih. Nabi pun menjawabnya dengan suara lirih pula. Rasul berkata, “Jibril tidak jadi masuk, karena kamu (Aisyah) telah menanggalkan bajumu. Aku kira kamu telah tertidur, jadi aku tidak tega bila harus membangunkanmu.” (HR. Muslim dan an-Nasa’i) Ibnu Qayyim al-Jauziyah meriwayatkan sebagian pesan para Sahabat yang berbunyi, “Sesungguhnya ada sesuatu yang selalu bersama kalian dan dia tak pernah berpisah dari kalian. Malulah kalian terhadap mereka dan hormatilah mereka. Aku tidak suka orang yang tidak merasa malu kepada malaikat yang memiliki kemuliaan dan kesabaran. Sehingga dia tidak menghormati dan tidak mengagungkannya. Allah telah memperingatkan hal ini dalam firman-Nya:

“Bagaimana aku tidak malu kepada seseorang, padahal malaikat sendiri merasa malu kepadanya.”

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

97


“Padahal sesungguhnya bagi Muliakan dan kalian ada (malaikathormatilah mereka, malaikat) yang karena mereka mengawasi (pekerjaan mengetahui segala kalian, yang mulia [di hal yang bisa sisi Allah] dan yang membuat kalian malu mencatat pekerjaanjika dilihat oleh pekerjaan kalian itu). sesama manusia. Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (al-Infithâr [82]: 10-12) Maksudnya, hendaklah kalian malu dari para penjaga yang mulia itu. Muliakan dan hormatilah mereka, karena mereka mengetahui segala hal yang bisa membuat kalian malu jika dilihat oleh sesama manusia. Malaikat juga merasa sakit dari sesuatu yang menjadikan manusia merasa sakit. Jika ada seseorang yang merasa sakit hati saat melihat orang lain berbuat kejahatan dan maksiat di hadapannya, meskipun sebenarnya dia juga melakukan hal yang sama, maka bagaimana dengan rasa sakit malaikat yang bertugas mencatat amal itu? Hanya kepada Allah sajalah kita meminta pertolongan. Ketiga, Malu kepada Sesama Manusia Malu kepada sesama manusia merupakan perilaku yang baik. Dengannya, manusia bisa menjauhkan diri dari aib, bisa menebarkan kebaikan, dan bisa menjaga dirinya, serta membiasakan diri untuk melakukan perbuatan yang terpuji. Ibnu Hibban berpendapat bahwa yang diwajibkan atas orang berakal adalah membiasakan dirinya untuk selalu bersikap malu

98

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

kepada sesama manusia. Manfaat terbesar yang bisa diambil dari perilaku tersebut adalah agar seseorang membiasakan diri untuk melakukan perbuatan yang terpuji dan menjauhkan diri dari perbuatan yang buruk. Nabi  menjadikan rasa malu sebagai sebuah pertanda dari amalan seseorang. Beliau menjadikannya sebagai sebuah acuan dan timbangan amal. Nuwass bin Sam’an pernah bertanya kepada Rasulullah tentang perbedaan kebaikan dan dosa. Rasulullah  menjawab, “Kebaikan adalah akhlak terpuji. Dosa adalah segala sesuatu yang membuat hati kita tidak tenang dan gelisah. Dosa adalah sesuatu yang kamu merasa malu jika memperlihatkannya kepada orang lain.” Usamah bin Syuraik meriwayatkan sabda Rasulullah , “Segala hal yang kamu merasa khawatir jika diketahui oleh orang lain, maka jangan kamu lakukan secara sembunyi-sembunyi.” Hudzaifah bin al-Yaman berkata, “Orang yang tidak memiliki rasa malu kepada orang lain, maka dia tak akan mendapatkan kebaikan sedikit pun dalam dirinya.” Ibnu Mas’ud bepesan, “Siapa yang tidak malu kepada sesama manusia, maka dia tidak akan malu kepada Allah.” Sebagian ulama memberikan nasihat, “Peliharalah rasa malumu dengan cara mempergauli orang yang pantas untuk dihormati.” Mujahid berkata, “Jika seorang Muslim tidak memiliki suatu apa pun terhadap saudaranya,


kecuali hanya rasa malu yang bisa mencegah dirinya dari perbuatan maksiat, maka hal itu sudah cukup baginya.” Sebagian ulama salaf menasihati anaknya dengan berkata, “Jika hawa nafsu mengajakmu untuk berbuat dosa, maka palingkanlah pandanganmu ke langit dan malulah kamu kepada Zat yang ada di sana. Jika kamu tidak bisa melakukannya, maka palingkanlah pandanganmu ke bumi dan malulah kamu terhadap orang yang ada di atasnya. Jika kamu tidak takut dari Zat yang ada di langit dan tidak malu dari manusia yang hidup di atas bumi, maka anggaplah nafsumu itu sebagai nafsu hewan.” Keempat, Malu kepada Allah  Secara umum, malu adalah satu sifat yang baik. Malu tidak akan datang kecuali dengan membawa dampak yang positif. Karena orang yang malu kepada sesama manusia, dia tidak akan melakukan perbuatan yang bisa membuatnya malu saat orang lain mengetahui perbuatannya. Salah satu dampak terbesar dari rasa malu kepada sesama manusia adalah pembiasaan diri untuk selalu melakukan perbuatan yang baik, terpuji, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tercela. Siapa yang merasa malu kepada sesama manusia dari perbuatan yang dianggap tercela, maka hal itu akan mendorong dirinya untuk lebih memiliki rasa malu kepada Allah . Sehingga dia tidak akan menyia-nyiakan kewajiban dan tidak melakukan kesalahan. Karena seorang

mukmin yakin bahwa Allah  senantiasa mengetahui apa yang dia lakukan. Hal ini mewajibkan dirinya untuk merasa malu kepada Allah, karena Allah  mengetahui segala sesuatu yang dikerjakannya. Selain itu, keyakinan seorang mukmin akan balasan amal pada Hari Kiamat, bisa mendorong dia untuk meninggalkan dosa yang menyebabkan dirinya malu. Inilah yang disebut dengan “malu hakiki”. Oleh karenanya, malu tidak akan datang kecuali dengan membawa dampak yang positif. Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda kepada para Sahabatnya, “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya.” Mereka bertanya, “Sesungguhnya kami merasa malu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Bukanlah rasa malu yang seperti kalian sangka. Akan tetapi, siapa saja yang merasa malu kepada Allah dengan rasa malu yang sebenar-benarnya, maka hendaklah ia menjaga kepala dan seluruh inderanya, baik luar maupun dalam untuk tidak digunakan kecuali dalam hal yang halal. Hendaklah ia menjaga perut dan seluruh anggota tubuh yang dekat dengannya, yaitu hati, farji, tangan, dan kaki, sehingga tidak dipergunakan untuk berbuat maksiat kepada Allah. Hendaklah dia mengingat mati dan kehancuran. Siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang melakukan hal tersebut, maka dia telah malu kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.” *Santri Sidogiri asal Bangkalan BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

99


KASYKUL cintanya pada pemuda Muslim itu. Dalam hatinya dia berkata, “Pemuda itu sangat mencintaiku, tapi sayang dia mati sebelum hidup bersama denganku di dunia. Aku khawatir apabila aku mati dalam keadaan beragama Nashrani di akhirat nanti tidak hidup bersama dengannya. Aku harus mati dalam keadaan beragama Islam.” Akhirnya wanita Nashrani ini mati dalam keadaan Islam tanpa disadari bahwa kekasihnya mati dalam keadaan beragama Nashrani. Al-Jawâhir al-Lu’lu’iyah, hal 66.

Teguran bagi Orang Sombong

Logika Cinta yang Terbalik

Diceritakan oleh Muhammad bin Abdullah al-Jaradani bahwa ada pemuda Muslim sangat mencintai wanita yang beragama Nashrani. Saking cintanya dia jatuh sakit berharihari hingga menyebabkannya wafat. Sebelum wafat pemuda ini berkata, “Sungguh aku sangat mencintainya, tapi sayang aku tidak bisa hidup bersama dengannya di dunia, kalau aku mati dalam keadaan Islam tentu di akhirat nanti tidak bisa hidup bersamanya, kalau begitu aku harus mati dalam keadaan beragama Nashrani.” Tidak berselang lama pemuda ini benarbenar mati dalam keadaan murtad. Na’ûdzu bil-Lâhi min dzâlik. Di waktu yang sama, si wanita Nasrani juga sakit sebab perasaan

100

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Diceritakan bahwa di masanya Malik bin Dinar ada anak saudagar kaya raya yang selalu berpenampilan mewah dan modis. Suatu ketika, dia lewat di depan Malik bin Dinar dengan lagak sombong sebab penampilannya yang mewah. Melihat hal itu Malik bin Dinar menegurnya, “Wahai pemuda, seandainya kamu tidak berlagak sombong tentu itu lebih baik bagimu.” Mendengar tegurannya, si pemuda menjawab, “Apa urusannya? Kamu kan tidak mengenal saya?” Malik bin Dinar menjawab, “Demi Allah, saya sungguh mengenal siapa kamu, kamu adalah makhluk yang awalnya hanya tercipta dari air mani yang menjijikkan, akhir hidupmu adalah bangkai yang busuk dan di antara keduanya kamu hanya pembawa kotoran.” Mendengar tegurannya, pemuda itu jadi malu menundukkan kepala dan menyesali sikap sombongnya. Al-Jawâhir al-Lu’lu’iyah, hal 62.


Sombong Akibat Makanan Raja

Alkisah, ada seorang laki-laki hendak berkunjung ke rumahnya seorang waliyullah. Sesampainya di rumah sang wali laki-laki ini melihat seorang pemuda keluar dari rumah sang waliyullah dengan lagak sombong. Dia mengucapkan salam namun pemuda itu tidak menjawabnya. Dia heran dan bertanya kepada masyarakat sekitar tentang pemuda sombong ini. Laki-laki ini tambah heran sebab si pemuda adalah anak dari sang waliyullah yang justru terkenal dengan sifat rendah hati dan akhlak mulianya. Dalam hatinya dia berkata, “Bagaimana mungkin syekh itu punya anak seperti ini?” Sebab penasaran, laki-

laki itu bertanya langsung kepada waliyullah yang sekaligus bapak dari pemuda sombong ini. Syekh itu berkata, “Wahai pemuda, kamu jangan heran dengan tingkah anakku. Sebab, suatu hari aku sangat lapar, tidak ada sedikitpun makanan yang kumiliki aku minta pada pembantu untuk mencarikan makanan untukku. Akhirnya dia mendapatkannya dari rumah seorang raja. Aku memakannya hingga nafsuku bangkit dan anak ini adalah hasil dari air mani makanan itu.” Al-Jawâhir al-Lu’lu’iyah, hal 116.

Kekasih yang Selalu Dijaga

Suatu malam di saat Rabi’ah al-Adawiyah tidur lelap di rumahnya. Ada pencuri yang berhasil masuk rumahnya dan membawa semua barang-barang berharga milik Rabi’ah. Kejadian ini terus berulang-ulang tanpa ada yang mengetahui termasuk si pemilik rumah sendiri. Hingga akhirnya pada suatu malam, di saat si pencuri hendak mengulangi pekerjaannya tiba-tiba ada suara menegur, “Ketika kekasihKu sedang tidur, sesungguhnya Aku tidak tidur. Letakkanlah barang-barang itu dan keluarlah dari rumah ini. Sungguh Aku menjaganya dan tidak akan meninggalkannya, meski ia sedang tidur.” Mendengar suara teguran itu dia gemetar dan seketika meletakkan semua barang curiannya kemudian bertobat. Al-Jawâhir al-Lu’lu’iyah, hal 181. Zainuddin Rusdy/BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

101


SYAIR Dian Hartati, lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Intens menulis puisi, sesekali cerpen, dan terkadang menulis esai juga. Beberapa puisinya telah dibukukan antara lain: Mencari Rumah: Antologi Puisi Hysteria 2004-2007 (mbuh press!, 2008), Kenduri Puisi: Buah Hati untuk Diah Hadaning (Ombak, 2008), IBUMI Kisah-kisah dari Tanah di Bawah Pelangi (I:boekoe, 2008), Komposisi Sunyi (Ripos, Sagang, 2007), Kemayaan dan Kenyataan (fordisastra, 2007), Nyanyian Para Kelana (KSSBASAS, 2007), Herbarium (Pustaka Pujangga, 2007), 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2006), Kolaborasi Nusantara dari Banjarbaru (Gama Media, 2006), Jogya 5,9 skala Richter (Bentang, 2006), Anthologi Empati Yogya (Pustaka Jamil, 2006), Ode Kampung (Rumah Dunia, 2006), Sebuah Kado Pernikahan (BABADpress, 2005), Untuk Ibu (Selasar, 2005), Pagi di Buntiris (Selasar, 2005), ROH, Kumpulan Puisi Penyair Bali-Jawa Barat (buku pop, 2005), Dian Sastro for President! # 2 Reloaded (AKY, 2003). Kumpulan puisi tunggalnya berjudul Nyalindung (2005) dan Cerita Tentang Daun (2007).

//kejadian pagi

baru saja aku duduk tenang di kursi diam menghikmati jejak pembicaraan semalam tersadar ada sesuatu yang salah semisal pembicaraan tentang hati perjalanan kasih ambigu pesan darimu datang juga dikirimkan dan terbaca melalui layar ponsel tentang samar peristiwa ketika aku memaksamu untuk sebuah pertemuan ketika rinduku tak dapat lagi kupendam dan aku hanya ingin bercakap denganmu sebuah pesan tumbuh menjadi gundah di hati tibatiba kau ingin pergi meninggalkan semua yang masih samar ingatkah kau, kita belum sempat menikmati malam bersama kita belum sempat memandang bulan dari tempat yang berbeda kau di kotamu dan aku di kota lahirku betapa waktu semakin memanjang memperjelas perbedaan

//kejadian sore

aku ingin mencarimu di sudutsudut mall barangkali etalase yang kujumpai menghadirkan bayang dirimu menyusuri koridor yang berbeda memaku angkuh pada setiap cakrawala kau tak ada, yang tersisa hanya kenangan tak kuduga, cakrawala anggun di ujung menara memunculkan dirimu sebagai lelaki hujan datang hanya di waktuwaktu tertentu meninggalkan jejak di singgung temu

//kejadian luar biasa

sudahlah, aku tak ingin menyimpan luka yang ada hanya kecewa dan diamdiam aku menemukan sosok lain ia sedang menatap tubuh layuku di beranda ketika angin tak lagi merindu aku tengah mencermati seseorang terduduk tangannya lincah menggoreskan siluet tubuh apakah dia dikirimkan langit untukku matanya masih saja jalang menembus cakrawala senja bercampur biru bercampur merah sumba SudutBumi, Desember 2007

102

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


Ah, Alhamdulillah To: Bunda Senon

Ah… Senon… apa kabarmu yang telah menyadarkanku dalam tidur panjang ; dengan sebuah layang-layang menembus awan Sedang tangan takut terluka dengan tali senar Nanar melamar di setiap waktu Mampu melumpuhkan tubuh Menjadi abu yang hanya menjadi tugu Di alun-alun kota Dengan merasakan bau knalpot Alias polusi Menumbuhkan imaji tak berarti Ah… mati aku Senon… Lewat kaca jendela kau datang Menerobos tanpa pamit Mencubitku yang hanya komat-kamit Duduk tegap Melupa asa Ah… basah aku Dalam susah Dalam sisa-sisa mimpi Tanpa berkobar api Ah… Alhamdulillah, Senon Aku terbangun lagi Dan kan kukayuh ontel Melewati dingin pagi: mengelilingi dunia ini Afief Aqil, PPS B-04

Jejak Titah Seamsal katamu Mengundang rintik hujan Setelah mata bulan menyatu Lalu kau menyalaminya Melewati senyum purba Memang kau mengundang awan Tapi bulan tak menyuratimu Sebelum alismu berdebu Di sini, kita merengkuh jejak Walau kadang sesaat sesat Kemudian pergi Dan tak kembali Aku ingin tetap di sini Seumpama titahmu Mengintip mewangian surgawi Sidogiri, 3-12-1432 H Faiqul Azman

TILAWAH SUNYI aku ingin mengaji pada lekuk-lekuk sungai di kedalaman hati manusia saat hutan gundul tak terbaca ku ‘kan murottalkan denyut firman pada ruh keagungan semesta Saynodine Bangetz poteran, 2006 BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

103


Tuhan Baru bernama bola Sepak bola Sepak bola Sepak bola Se….pak Booo la Pak bola Se…. Pak….. Bo… La… la la la la la la …………… Yang di kota Yang di desa Yang di mana-mana Suka Bermain bola Yang di gunung Yang di panggung Yang di mana-mana Bertengkar karena bola Yang di toko Yang di warung Yang di mana-mana Mengobrol tentang bola Yang di sekolah Yang di pondok Yang di mana-mana Mempelajari ilmu bola Yang di lapangan Yang di jalanan Yang di mana-mana Hidup karena bola Yang di hutan Yang di pantai Yang di mana-mana Mati karena bola Yang di masjid Yang di tempat pengajian Yang yasinan Yang tahlilan Berdoa demi bola

104

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Yang di sana Yang di sini Yang di mana-mana Bola Bola Bola Bola…….. La la la la la la………….. Sepak bola Sepak bola Sepak bola Se….pak Booo la Pak bola Se…. Pak….. Bo… La… la la la la la la …………… Yang guru Yang murid Yang siapa-siapa Saling mencaci karena bola Yang kaya Yang melarat Yang maling Yang polisi Tawuran karena bola Yang waras Yang gila Yang dokter Yang pasien Berobat-obat bola Yang hitam Yang putih Yang warna warni Mencorat-coret bola Yang besar Yang kecil Yang sedang-sedang Menendang bola Yang pria Yang wanita


Yang waria Bergoyang bola Yang kiai Yang santri Yang ulama Yang umat Berdebat bola Yang manusia Yang hewan Yang apa-apa Muter-muter bola Sepak bola Sepak bola Sepak bola Se….pak Booo la Pak bola Se…. Pak….. Bo… La… la la la la la la …………… Rela berkorban demi bola Rela membunuh saudara demi bola Rela korupsi demi bola Suap menyuap demi bola Hanya karena bola Kau rela tak pejam mata Hingga subuh tiba Tanpa sholat sunnah Hanya karena bola Kau beli tiket mahal harganya Kau lupa belanja keluarga Kau lupakan biaya anak sekolah Hanya karena bola Kau tertawa bersama setan-setan karena gol tim pujaan Kau menangis karena tim pujaanmu kalah Dan kau sendiri telah kalah dari setan durjana

Sepak bola Sepak bola Sepak bola Se….pak Booo la Pak bola Se…. Pak….. Bo… La… la la la la la la …………… Yang apapun Yang siapapun Yang di manapun Yang Menuhankan bola Yang apapun Yang siapapun Yang di manapun Yang Bertuhankan bola Yang apapun Yang siapapun Yang di manapun Bertuhankan bola Sepak bola Sepak bola Sepak bola Se….pak Booo la Pak bola Se…. Pak….. Bo… La… la la la la la la …………… Tak ingatkah kalian Dunia juga bola Matahari juga bola Rembulan, bintang, planet-planet juga bola Yang kan ditendang sang pencipta Qiamat Pasti tiba 2010 Abdul Faqih M.R. BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

105


Penyesalan Masjidku terkatung di alunan hati Pintu-pintunya tertutup rapat Hanya terbuka bagi sepi Hatiku selama ini adalah Kuda liar tak terkendali Bagai katongging ia telah menyengat Selusin hati Malam ini ia dating lelah sekali Tak ada buah tangan Selain luka dan duri pada kaki Tak ada penyambutan selain sesal Sesal bagai jelita kematian kekasih Jatuh ke lantai Menjarit jauh sekali M. Mochlis, H-23

Si Baduwi Ini aku si baduwi bukan Umar Ali atau bahkan Abu Bakar bukan pula Kalijogo atau mungkin para murid Walisongo setitik tahi ayam ini bukan mereka raja-raja Kiai‌ Ini aku si baduwi, Kiai tak lebih Ale Odin, Malang E-06

Inilah Asaqu Kecipak asa menerpa dada Seluet rindu menggebu dalam qalbu Rindu ter in-pirasi setiap waktu Mengastetik setiap kedipan maya beradu Setetes embun Menjuntai malam kelabu Dalam pekatnya yang hitam legam Mencermin hari-hari Yang tak menentu jiwaqu Mekarnya mawar merah dalam mayamu Menjadi peraduanqu Dalam detik waktu Nuries AR, Sampang B-19

KAU Ah! Aku bingung Tak tahu KAU tak terdeskripsi Rasioku tak mampu menjangkau Kadang ragu Gamang Tapi tidak! KAU nyata Begitu dekat Slalu awas Di tiap nafas Allahu Akbar Anta Azh-Zhahir afaW lilA, Pasuruan K-03

106

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


PENGAJIAN

KH. Muzakki Birrul Alim

Teladani Rasulullah dengan Semangat Hijrah

D

I tahun baru hijriyah ini ada tonggak sejarah yang harus kita perhatikan dan pertahankan. Yaitu hijrahnya Nabi dan para Sahabat dari Makkah menuju Madinah sejauh 480 km. Di situlah tampak sifat kepemimpinan Rasulullah dan di situlah pula kita harus mengikuti jejaknya. Di saat hijrah itu kita melihat betapa beratnya para Sahabat di dalam mempertahankan Islam. Di sebutkan dalam al-Qur’an bahwa apabila anakmu, istrimu, dan hartamu lebih dicintai daripada Allah, Rasul, dan berjihad, sungguh Allah akan menimpakan azab kepada mereka. Alangkah beratnya para Sahabat waktu itu. Demi agama mereka rela meninggalkan keluarga, harta, dan kampung halamannya. Di situlah tampak kehebatan

Rasulullah  di dalam memimpin, para Sahabat disuruh berangkat tidak bergerombol karena khawatir terhadap gangguan orang kafir. Banyak sahabat yang mau berangkat bersamanya, tapi Nabi menolak. Sebab kalau Sahabat berangkat bersamanya mereka juga ikut dikejar-kejar oleh orang kafir. Rasulullah hanya berangkat berdua bersama sahabat Abu Bakar. Demikian ini Nabi memberikan contoh di dalam memimpin. Sebab Saudara juga calon pemimpin, minimal pemimpin bagi diri sendiri. Kalian mondok tujuannya adalah untuk menghukumi diri kalian sendiri, kalau mampu untuk keluarga, tetangga, dan semua orang. Itulah cita-cita santri. Jadi kita mencari ilmu di pondok ini tidak semata-mata ingin menjadi

mencari ilmu di pondok ini tidak sematamata ingin menjadi kiai, tapi untuk menjadi khairun-nâs anfa‘uhum lin-nâs, manusia yang memberikan manfaat kepada semua umat.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

107


kalau kita melihat kondisi seperti di pondok ini tidak begitu merasa, tapi masyarakat di luar sudah enggan mempelajari ilmu agama.

108

kiai, tapi untuk menjadi khairunnâs anfa‘uhum lin-nâs, manusia yang memberikan manfaat kepada semua umat. Adapun oleh Allah kita diberi pangkat kiai, ustadz, dan gelar lainnya itu terserah Allah. Pangkat di dunia tidak menjamin kebahagiaan di akhirat. Yang penting kita sudah berusaha menjadi manusia yang paling bermanfaat. Untuk bisa begini, bagaimana caranya? Kita belajar pada kesulitan para Sahabat, baik yang berupa fisik ataupun batin. Sesampainya di Madinah mereka tidak punya harta dan menjadi ahlush-shuffah, yakni penghuni emperan masjid. Padahal sebelumnya mereka kaya raya. Alangkah beratnya perjuangan para Sahabat waktu itu. Itulah yang harus kita teladani. Untuk menghibur mereka, Rasulullah mengadakan mu’âkhât, yaitu mengikat tali persaudaraan antara Sahabat Anshar dan Muhajirin yang dibaiat langsung oleh Nabi. Ada kejadian unik yang terjadi di antara Sahabat Anshar dan Muhajirin setelah Rasulullah mengikat mereka dalam tali persaudaraan. Ada Sahabat Anshar yang memiliki dua kebun dan dua istri, kamudian ditawarkan kepada Abdurrahman bin Auf untuk diambil mana yang dikehendaki dari keduanya. Ini menjadi tanda tingginya rasa persaudaraan di antara mereka. Sampai pada harta yang paling berharga sekalipun rela ditawarkan kepada orang lain. Pada waktu yang lain, ada Sahabat Anshar yang mendatangi Sahabat Muhajirin dengan membawa kepala kambing untuk disadaqahkan kepada Ashab

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

Suffah. Mereka menemukan Ashab Shuffah yang berpenampilan lusuh dan lemah, lalu ditawarkan kepala kambing itu untuk dimakan. Namun apa jawabannya, “Jangan berikan kepada saya, kepada yang lain saja.” Kemudian dipindah pada Sahabat yang lain, namun Sahabat ini mendapatkan jawaban yang sama seperti yang pertama. Kemudian ditawarkan kepada Sahabat yang lain dan begitu seterusnya, sampai Sahabat yang pertama tadi pingsan sebab menahan rasa lapar. Herannya adalah, kenapa mereka mengalah padahal mereka sendiri sedang lapar? Inilah hasil pembinaan yang dilakukan oleh Rasulullah yang menekankan mereka untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat. Contohcontoh seperti inilah yang harus kita teladani pada masa sekarang. Bagaimana caranya? Tentu tidak harus berupa masyaqah seperti dulu. Tapi dengan cara memasarkan ilmu-ilmu agama. Mungkin kalau kita melihat kondisi seperti di pondok ini tidak begitu merasa, tapi masyarakat di luar sudah enggan mempelajari ilmu agama. Para orang tua beralasan, karena anaknya sudah tidak mau sekolah. Setelah anak mereka lulus pendidikan SD kemudian melanjutkan pada sekolah SMP, sekolah agamanya ditinggal. Ini adalah fakta yang benarbenar terjadi. Jadi, kita harus memperjuangkan tegaknya ilmu agama, sebab semakin hari ilmu agama makin ditinggalkan. Ada dua Hadis yang cukup untuk kita jadikan pegangan dalam hal ini.


Pertama, Ilmu agama adalah kehidupan Islam dan sebagai tiang penyangga iman. Ilmu agamanya kurang, ya tidak sempurna dan imannya tidak kuat. Apa mau dibiarkan apabila iman umat ini tidak kuat? Padahal sekarang banyak faham-faham menyimpang yang tersebar. Seperti, Syi`i, prularisme, liberalisme, dan yang lain. Kedua, Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan diberi pemahaman dalam agama. Dari sini jelas, bahwa untuk menjadi orang baik adalah dengan melalui ilmu agama tidak dengan ilmu yang lain. Mengapa demikian? Sebab ilmu agama berhubungan langsung dengan iman dan ibadah. Dengan ini kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Tapi bagaimana dengan orang kafir yang kehidupannya kaya dan bahagia? Itu dikhawatirkan sebagai istidraj dari Allah. Tidak seperti kebahagiaan yang diperoleh sebab ilmu agama, kebahagiaan yang diperoleh dengan cara ini akan kekal. Buktinya adalah derajatnya ulama. Masih muda mereka dihormati semakin tua mereka semakin dihormati dan begitu seterusnya. Jadi, kalau kita sudah menjadi orang yang beriman dan beramal baik insya Allah akan tergolong pada golongan yang fîd-dunyâ hasanah wa fîl-âkhirati hasanah. Di dunia akan mendapatkan barakah

dari ibadah yang dilakukan, sedangkan di akhirat akan mendapatkan pahala. Disebutkan dalam al-Qur’an, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” Itu yang dinamakan kehidupan barakah. Dan ini bekalnya ilmu agama. Dan perlu diingat bahwa ilmu agama berbeda dengan ilmu yang lain. Cara mencarinya itu susah dan memang ini telah dicontohkan oleh Malaikat Jibril di saat memberikan wahyu pertama kepada Rasulullah. Nabi tidak bisa membaca namun oleh Malaikat Jibril tidak dibiarkan. Nabi langsung dirangkul dengan sekuat tenaga dan ini terus berulang, hingga ketiga kalinya Nabi bisa membaca. Ini menandakan bahwa belajar ilmu agama itu sulit, melalui proses dan harus tirakat. Untuk mendapatkan ilmu Nabi harus bertirakat di gua Hira selama 40 hari. Begitu beratnya Nabi untuk mendapatkan derajat nubuwwah dan wahyu. Imam Ghazali untuk mendapatkan derajat tasawuf dan alim fikih juga harus bertirakat di dalam masjid berbulan-bulan. Semuanya harus melalui tirakat. Karenanya, dengan semangat tahun baru hijrah ini, kita tambah semangat dalam mencari ilmu seperti yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kita.

perlu diingat bahwa ilmu agama berbeda dengan ilmu yang lain. Cara mencarinya itu susah

*) Ditranskip dari ceramah agama pada acara Peringatan Tahun Baru Hijriyah 1432 Zainuddin Rusdy/BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

109


ISTIJABAH

Perisai dalam Keadaan Genting

Ya Allah selamatkanlah hamba dari (perbuatan zalim) mereka dengan sesuatu yang Engkau kehendaki Diceritakan, ada seorang raja hendak membunuh seorang pemuda yang bersikeras tidak mau mengikuti agama sesat yang dianut raja. Raja hendak membunuh pemuda dengan cara dilempar dari gunung juga ditenggelamkan ke dasar laut. Tapi malah orang yang menjadi suruhan raja itu yang jatuh dari gunung juga yang tenggelam ke dasar laut. Ketika si pemuda membaca doa ini gunung gemetar menjatuhkan orang suruhan raja juga ketika berada di tengah laut ombak besar menyambar dan menenggelamkan perahu dan tentara raja, sementara si pemuda selamat. Referensi: Al-jam’u bainash-Shahihain al-Bukhâri, Shahih Muslim, Musnad Ahmad, Sunan An-Nasâ’i. Abdurrahman Wahid/BS

“Kalau kau ingin hidup selamanya, maka jadilah orang mulia yang meninggalkan jasa-jasa besar.” ~Syauqi

110

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


PASURUAN: BMT-MMU Pusat Abd.Hamid Sanusi, Jl.Raya Sidogiri No 09 Sidogiri Kraton 419273. Luqman Hakim, Tidu Pasuruan Pohjentrek 03437783502/085648157125 M.Nasrullah Suham, Watestani Nguling 085755611443 H.Abdullah Faqih Pasrepan 081515115054 A.Bazzar PP.Al Yasini SIDOARJO: Syamsul Hidayat, PP.Al-Hidayah Ketegan Tanggulangin 03172133963. Abd. Hakim Bulang Permai B.5 Klopolo Sukodono 61258 085931110750 H.Abdullah Ahmad 03170106799 SURABAYA: A.Zaini Alwi, Jl.Banowati No 35 03170768090/08175096090 M A L A N G : A b d . H a l i m , Banyulegi Gg I RT 33 RW 04 Ketawang Gondanglegi 03415458637/081233479965. Zubairi, Maron Sebaluh Pandesari Pujon 03417679146 B L I TA R : H. A b d u l l a h M u k t i , P P A s ySyukur Satriyan Sembon Kanigoro 085736627949/0342441569 BANGKALAN: Nur Hasyim S.Anam, Sumur Nangka Modung 081803237654. Yazid Busthomi Blega 087780031741 Nurul Anam Durbuk Batangan Tanah Merah 087754373788 PAMEKASAN: Al-Farisi Musleh, Panempan 0818377466. SUMENEP: M. Utsman AM, Manding Timur, Manding 081803111817. PROBOLINGGO: Solihan, PP. Al-Islahiyah RT 03 RW 01 Polotan Jorongan Leces 085257973224 Ahmad Fauzi, Alas Sumur Kulon RT 02 RW 01 Kraksan 081336265017. Ach.Taufiq, PP. Nurul Jadid Paiton 085230103115. LUMAJANG: M.Thomar Sakwan, Krajan I RT 06 RW 01 Pandanwangi Tempeh 081937425675/085321219922 A.Choiri Abd. Salam Krajan (Buntoh) Jatiroto Lor RT 02 RW 05 081515155844 SITUBONDO: Agus Salim Sufyan, PP. Darul Ulum Jl Cermee 12 Kapongan 0338675161/081358052780. BONDOWOSO: Moh.Kakbatullah Chafidz, Petung Curadami Bondowoso 085233587878 H.Abdulloh Barsid, Bataan Jebung Kidul Tlogosari 085236629565 A.Rofiq Zakariya Jl Balai Desa Wonosuko Tamanan 082139550245 JEMBER: Rasul Baidha’ie, Jl Tegalsari Lembengan 04 Krajan Ledokombo 08179671713. Moch. Fadhil Azizi, Jl.Imam Bonjol 29 Kaliwates 085232323699. Zainal, Kalisat 081946691983 Nur Cholid Jl Metro 50 RT 01 RW 03 Sumbersari Kemuningsarilor Panti 087757643401 BANYUWANGI: Zainal Arifin, Genteng 087852419797. Khoiril Anwar, Jl.Raya Situbondo

No.16 Wongsorejo 081336147964 GRESIK: A.Zabidi Junaidi, BMT-UGT Cab. Bawean Jl. Umar Mas’ud 82 Sangkapura 081332846684/0325422748. LAMONGAN:Taufiqurrahman PP.Matholi’ul Anwar Sungelebak Karanggeneng 62254 087753271400 MOJOKERTO: A.Safi’uddin Jl:Raya Pohjejer No 11-A Gondang 0321512947/085648909360 KEDIRI: Dwy Andryanto, JL.Karang Anyar I RT 05 RW 01 no 39 Ngronggo Kota Kediri 081335150036 JAWA TENGAH: Abd.Malik, Jl.Kiai Mojo Pasar Besi Tua (Dabag Sari) RT/RW 02/06 Semanggi Pasar Kliwon Solo 08170449559 JAKARTA: Ad.Muiz Ali, Yayasan Darul Ma’arif IKAMA Jl.Kebantenan No.14 Semper Timur Cilincing Jakarta Utara 087885813249. BEKASI:H.Andrian Aziz, (Ihram Agency) Jl.Niaga 1 F/1 Rawalumbu Bekasi 17114 02193356040/08121076840 BANTEN: Rahmatullah, UD Jaya Makmur Abadi RT 18/07, Jalan Raya Serang KM. 20 C i b a d a k C i k u p a Ta n g g e r a n g 1 5 7 1 0 087852182449/081288679369 BALI: H. Musleh, Jl. Gunung Batu Karu X no. 16 A Denpasar 085237616509. Noer Djalil Hasan, Jl.A.Yani RT 03 Wanasari No 25 Denpasar, 80111 081237937281. M.Saliman, Jl.Pantai Selatan no. 4A Cupel Negara Jembrana 085238908938. A.Marzuki MM, PP.Thariqul Mahfudz Sumbersari 081236133799 M.Fuadi Melaya Jembrana Jl.A.Yani Gg 01 No 20 RT 04 Wanasari Denpasar 03619243233/087861360331 BATAM: Moh.Maktub, Kantor BAZ Kota Batam Graha Kadin Blok F-05 Batam Centre 081364534447. K A L I M A N TA N T E N G A H : M . S l a m e t Arsyadi Kel.Madurejo RT 16 Pangkalan Bun 085249173689/085246618483 KALIMANTAN TIMUR: Abd.Rohim Kholil, Jl.Pandansari RT 23 RW 08 No 87 Margasari Balikpapan Barat 085553000011. M. Muksin, Jl. APT Pranoto No. 30 RT 39 Gunung Sari Ilir Balikpapan Tengah 087812272299 KALIMANTAN SELATAN: Mansur Subahri, Batu Tanam Sambung Makmur Banjarmasin 085651061122 KALIMANTAN BARAT: Musawwir (IASS KalBar) Jl Gusti Situt Machmud Siantan Pontianak 78242 081257200555 SULAWESI BARAT:Yanto Wijaya PP.Salafiyah Parappe Campalagian Polewali Mandar 91353 081332440779 BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

111


KUIS PENDIDIKAN Rebut hadiah

Bagaimana hukum salat di atas pesawat menurut pendapat yang kuat?

Rp 250.000 + T-shirt untuk 5 orang pemenang

a. Sah b. Tidak sah c. Makruh Temukan jawabannya pada Buletin SIDOGIRI edisi sebelumnya (BS edisi 65)

Kirimkan jawaban Anda disertai kupon KUIS PENDIDIKAN ke redaksi Buletin SIDOGIRI, PO. Box 22 Pasuruan 67101 paling lambat tanggal 10 Shafar 1433 H. Jawaban yang benar akan diundi dan pemenangnya akan diumumkan di edisi berikutnya.

Jawaban Kuis Pendidikan Buletin SIDOGIRI Edisi 65 Muharram 1432 H A. Abu Bakar ash-Shiddiq

Hadiah bisa diambil di Kantor Buletin SIDOGIRI, Gedung MMU An-Nawawie Lantai I Pondok Pesantren Sidogiri dengan membawa kartu tanda pengenal pada Jam Kerja (Pagi: 09.00-12.00 Wis; Malam: 07.00-09.00 Wis). Untuk pemenang dari luar, Hadiah akan dikirimkan.

112

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

PEMENANG EDISI 65 1. Didik Sulaiman, B-02 Surabaya 2. Khozinul Asroril Fawaid, PP. Sabilul Muttaqin Asrama: D-02 Karanganyar Kraton Pasuruan 3. Fauzan, A-19, Burnehmadulang Omben Sampang 4. M. Saruji, D-18, Surabaya 5. Nur Hidayatullah, Jangkang Kr Sono Wonorejo Pasuruan


BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433

113


114

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 66.SHAFAR.1433


Buletin Sidogiri Edisi 66