Issuu on Google+

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Komunikasi antar persona telah menjadi istilah untuk mendiskripsikan sejumlah proses komunikasi insani yang berbeda-beda. Sekarang ia tidak mempunyai makna seragam atau tepat diantara pakar komunikasi. Sebagian orang semata-mata menandainya sebagai salah satu tingkatan komunikasi insani : intrapersona (dalam diri satu orang); antarpersona (antara dua orang); kelompok kecil (antara tiga sampai sembilan orang); resmi ( satu orang kepada khalayak ramai); dan media massa. Dean Barnlund menjabarkan komunikasai antar persona sebagai orang-orang pada pertemuan tatap muka dalam situasi sosial informal yang melakukan interaksi terfokus lewat pertukaran isyarat verbal dan nonverbal yang saling berbalasan. Gerald Miller dan kawankawanya membedakan antara komunikasi non-antarpersona dan komunikasi antarpersona. Dalam komunikasi non-antarpersona, informasi yang diketahui diantara partisipan tentang satu sama lainnya, terutama bersifat kultural atau sosiologis (kenggotaan kelompok). Sebaliknya, partisipan dalam komunikasi antar persona melandaskan persepsi dan reaksi mereka pada karakteritik psikologis yang unik dari personalitas individu masing-masing. John Stewart dan Gary D’Angelo melihat esensi komikasi antar persona berpusat pada kualitas komunikasi antarpartisipan. Partisipan berhubungan antara satu sama lain lebih sebagai person (unik, mampu memilih, mempunyai perasaan, bermanfaat, dan merefleksikan diri sendiri) daripada sebagai objek atau benda (dapat dipertukarkan, terukur, secara otomatis merespon rangsangan, dan kurang kesadaran diri).

1   


BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian komunikasi Personal Komunikasi personal adalah komunikasi antara dua orang dan dapat berlangsung dengan dua cara yaitu : 1. komunikasi tatap muka (face to face comunication ) 2. komunikasi bermedia ( mediated comunication ) komunikasi personal tatap muka berlangsung secara dialogis sambil saling menatap hingga terjadi kontak pribadi ( personal contact). Ini disebut komunikasi antar persona (interpersonal comunication). Sedangkan komunikasi personal bermedia adalah komunikasi dengan menggunakan alat, misalnya telepon atau memorandum. Karena melalui alat, maka antara kedau orang tersebut tidak terdapat kontak pribadi. Komunikasi anatar personal, karena situasinya tatap muka, seperti telah diterangkan, oleh para ahli komunikasi dianggap sebagai jenis komunikasi efektif untuk mengubah sikap, pendapat, dan perilaku (attitude, opinion, and behaviour change) seseorang. Efektifnya komunikasi persuasif dalam situasi komunikasi seperti itu ialah terjadinya personal contact yang memungkinkan komunikator mengetahui, memahami, dan menguasai : 1. frame of reference komunikan selengkapnya 2. kondisi fisik dan mental komunikan sepenuhnya 3. suasana lingkungan pada saaat terjadinya komunikaasi 4. tanggapan komunikan secara langsung Dengan mengetahui, memahami, dan menguasai hal-hal tersebut, pimpinan organisasi sebagai komunikator dapat melakukan kegiatan-kegiatan seperti berikut : 1. mengontrol setiap kata dan kalimat yang diucaokan 2. mengulangi kata-kata yang penting disertai penjelasan 3. memantapkan pengucapan dengan bantuan mimik dan gerak tangan 4. mengatur intonasi sebaik-baiknya 5. mengatur rasio dan perasaan

2   


berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam situasi komunikasi antar personal tatap muka : 1. bersikaplah empatik dan simpatik 2. tunjukkanlah sebagai komunikator terpecaya 3. bertindaklah sebagai pembimbing, bukan pendorong 4. kemukakanlah fakta dan kebenaran 5. bercakapalah dengan gaya mengajak, bukan menyuruh 6. jangan bersikap super 7. jangan mengentengkan hal-hal yang mengkhawatirkan 8. jangan mengkritik 9. jangan emosional 10. bicaralah secara menyakinkan demikianlah beberapa hal yang dapat dijadiakn pegangan dalam melakukan komunikasi antarpersona secara tatap muka.

B. Komunikasi Antar personal Dalam Lingkungan Bisnis Yang Efektif Suatu analisis khusus ( Pace & Boren, 1973) tentang komunikasi antar pesonal dalam lingkungan bisnis, menyatakan bahwa anda akan berhasil bila anda melakukan hal-hal berikut : 1. menjaga kontak pribadi yang akrab tanpa menumbuhkan perasaan bermusuhan dengan rekan bisnis anda dan bawahan anda. 2. menetapkan dan menegaskan identitas anda dalam hubungan dengan orang lain tanpa membesar-besarkan ketidaksepakatan 3. menyampaikan informasi kepada orang lain tanpa menimbulkan kebingungan, kesalahpahaman, penyimpangan, atau perubahan lainnya yang disengaja. 4. terlibat dalam pemecahan masalah yang terbuka tanpa menimbulkan sikap bertahan tau menghentikan proses 5. membantu orang-orang lainnya untuk mengembangkan gaya hubungan persona dan antar persona yang efektif 6. ikut serta dalam interaksi sosial informal tanpa terlibat dalam muslihat atau gurauan atau hal-hal lainnya yang mengganggu komunikasi yang menyenangkan.

3   


Meskipun kita dapat memikirkan tujuan-tujuan umum lainnya yang ingin dicapai melalui komunikasi antar personal yang efektif, hal-hal tersebut diatas cukup untuk menggambarkan arah pemikiran kita mengenai hubungan antar personal tersebut. Komunikasi antar personal cenderung menjadi lebih baik bila kedua belah pihak melakukan hal-hal berikut : 1. Menyampaikan perasaan secara langsung dan dengan cara yang hangat dan ekspresif 2. menyampaikan apa yang terjadi dalam lingkungan pribadi mereka melalui penyingkapan diri (self disclosure) 3. menyampaikan pemahaman yang positif, hangat kepada satu sam lainnya dengan memberikan respon-respon yang relevan dan penuh pengertian 4. bersikap tulus kepada satu sama lainnya dengan menunjukan sikap menerima secara verbal maupun nonvearbal 5. selalu menyampaikan pandangan positif tanpa syarat terhadap satu sama lainnya melalui respon-respon yang tidak menghakimi dan ramah 6. berterus terang mengapa menjadi sulit atau bahkan mustahil untuk sepakat satu sama lainnya dalam perbincangan yang tidak menghakimi, cermat, jujur, dan membangun Jelas, komunikasi antar persona memiliki pemgaruh yang besar dalam lingkungan bisnis. Bila kondisi untuk hubungan antar persona yang baik hadir, kita juga cenderung menemukan respon-respon positif terhadap penyelia, sikap tanggap atas kebutuhan-kebutuhan pribadi dan organisasi, kepekaan terhadap perasaan pegawai, dan kesediaan untuk berbagai informasi. semua ini adalah prasyarat untuk komunikasi ke atas dan ke bawah yang efektif.kadang-kadang terjadi pula peningkata produktivitas. Lingkaran kualitas merupakan contoh cara pemanfaatan hubungan antarpersona yang disempurnakan untuk memperlancar peningkatan produktivitas, tetapai keberhasilan program itu bergantung pada suatu iklim organisasi yang pada umumnya sulit diperoleh.

4   


C. Peranan Pemimpin Dalam Komunikasi Antar Persona Dalam Lingkungan Bisnis Wewenang yang formal dari seorang pemimpin dalam lingkunag bisnis secara langsung akan menimbulkan tiga peranan yang meliputi hubungan persona yang mendasar. Ketiga peranan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Peranan Tokoh ( figurehead role) Disebabkan oleh kedudukannya sebagai kepala suatu unit organisasi, seorang pemimpin melakukan tugas yang bersifat keupacaraan (ceremonial nature). Karena ia seorang tokoh, maka selain memimpin berbagai upacara dikantornya sendiri, ia juga diundang oleh pihak luar untuk menghadiri bebgai upacara, misalnya upacaara peringatan hari besar nasional, pembukkaan sebuah proyek, ulang tahun suatu instansi, pernikahan rekan pemimpin, dan peristiwa-peristiwa lainnya yang begitu banyak. Jelas bahwa diakntornya sendiri seorang manaje akan tampil menjadi seorang komunikator, dan pada kesempatan itu ia memberikan penerangan, penjelasan, imbauan, ajakan, dan lain-lain, tetapi pada upacara diluarpun bukan tidak mungkin ia diminta tampil untuk memberikan sambutan. Kesempatan itu dapat dipergunakannya untuk menyampaikan pesan-pesan yang bermanfaat bagi para hadirin. 2. Peranan Pemimpin ( leader role) Sebagai pemimpin, seorang pemimpin bertanggung jawab atas lancar tidaknya pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya. Beberapa kegiatan bersangkutan langsung dengan kepemimpinannya pada semua tahap manajemen : penentuan kebijaksanaan, perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan, dan penilaian. Ada juga kegiatan-kegiatan yang tidak langsung berkaitan dengan kepemimpinanya, antara lian memotivasi para karyawan agar giat bekerja, yang tidak perlu dilaksanakan pemimpin sendiri. “ Effective leadership means effective comunication,� demikian kata Henry Clay Lindgren dalam bukunya, Effective Leadership in Human Comunication. Kalau seoarang pemimpin ingin menjadi seorang pemimpin yang benar-benar pemimpin, ia harus dapat melaksanakan kepemimpinannyasecara efektif. Dalam konteks kepemimpinan, serang pemimpin berkomunikasi efektif bila ia mampu membuat para karyawannya melakukan kegiatan tertentu dengankesadaran, kegairahan, dan kegembiraan. Dengan suasan kerja seperti itu akan dapat diharapkan hasil yang memuaskan. 5   


3. Peranan Penghubung ( liason role) Dalam peranabbya sebagai penghubung, seorang pemimpin melakukan komunikasi dengan orang-orang diluar jalur komando vertikal, baik secara formal maupun secara tidak formal. Menurut Henry Mintzberg, hasil beberapa penelitian mengenai pekerjaan pemimpinial menunjukkan bahwa para pemimpin menghabiskan waktunya untuk berhubungan dengan orangorang diluar organisasinya, sama dengan waktu yang dipergunakan untuk berhubungan dengan bawahannya. Yang cukup mengejutkan adalah bahwa waktu yang dipergunakan untuk berhububungan dengan atasannya sendiri amat sedikit. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rosemary stewart terhadap 160 orang pemimpin puncak dan pemimpin menengah di Inggris menunjukkan bahwa mereka menunjukkan waktunya 47% dengan teman sejawatnya, 41 % dengsn orsng-orsng di luar unit kerjanya, dan hanya 11 % dengan atasannya. Penelitian-penelitiaan lainnya juga menunjukkan distribusi waktu yang sama. Para pemimpin melakukan komunikasi seperti itu terutama untuk mencari informasi. Demikianlalh tiga jenis peranan yang termasuk kedalam peranan antarpersona. Komunikasi yang dilakukan

oleh

si

pemimpin

berlangsung

secara

antarpersona

(

interpersonal

comunication).dalam melaksanakan peranannya itu, meskipun seringkali tidak formal, banyak informasi yang dapat diperoleh, yang banyak manfaatnya bagi pengembangan organisasinya dan pembinaan perilaku organisasinya dan pembinaan perilaku organisasional para karyawannya. Informasi mengenai kebijaksanaan pemerintah atau pengaruh politik mngkin dapat diperoleh dengan lebih cepat dengan kontak pribadi seperti itu daripada melalui pengumuman secara resmi. Bagi pengambilan keputusan, kecepatan informasi seperti itu amat penting artinya.

D. Etika Komunikasi Antar Persona Dalam lingkungan Bisnis a. Etika Komunikasi Antar persona Condon John condon mengkaji sejumlah besar isu etika yang secara khas muncul dalam suasana komunikasi antarpersona: keterusterangan, keharmonisan sosial, ketepatan, kecurangan, konsistensi kata dan tindakan, menjaga kepercayaan, dan menghalangi komunikasi. Dalam membahas tema-tema etika ini, Condon menekankan, tema tertentu manapun mungkin bertentanagan dengan kata lain dan kita mungkin harus memilih satu dari lainnya dalam situasi tertentu. Walaupun Condon tidak merumuskan kriteria etika spesifik, mungkin kita dapat 6   


mengemukakan kembalai beberapa pandangannya dalam bentuk pedoman potensila yang mungikn penulis dapat mengemukakan kembali beberpa pengalamannya dalam bentuk pedoman potensial yang mungkin ingin kipenulis pertimbangkan 1. Jujur dan terus terang dalam keyakinan dan perasaan pribadi yang sama-sam dimilikinya. Layaknya,� kita ingin kata tidak berarti tidak; kita ingin orang yang tidak mengerti mengatakan

tidak

mengerti.

Dan

orang

yang

tidak

setuju

mengungkapkan

ketidaksetujuannya itu secara langsung.� 2. dalm setiap kelompok dan budaya di mana saling kebergantungan dinilai lebih baik dari individualisme, menjaga keharmonisan hubungan sosial mungkin lebih etis daripada menyatakan pikiran kita. 3. informasi harus disampaikan dengan tepat, dengan kehilangan atau penyimpanagan minimum dari makna yang dimaksudkan. 4. kecurangan yang disengaja umumnya tidak etis. 5. petunjuk verbal dan nonverbal, kata-kata dan tindakan, harus konsisten dalam makna yang disampaikan. 6. biasanya tidak etis bila disengaja menghalangi proses komunikasi, seperti memotong pembicaraan seseorang sebelum ia selesai mengungkapkan masalahnya, mengganti subjek ketika orang lain benar-benar masih mempunyai banyak hal ynag harus dikatakan, atau secara nonverbal mengalihkan orang lain dari subjek yang dimaksudkan.

b. Etika Komunikasi Antarpersona Kontektual Dalam mengembangkan pendekatan kontekstual dalam etika komunikasi antarpersona, Ronald Arnett berpendapat bahwa walaupun beberapa peadoman konkret diperlukan dalam keputusan etika, kita secara simultan harus tetap fleksibel terhadap tuntutan waktu yang kontekstual. Sistem etika kita telah mapan, tetapi ia pergi harus terbuka terhadap perubahan dalam lingkungan yang dihadapi. Ia menyarankan agar kita, tidak boleh mengambil sikap mutlak atau dogmatis, tidak pula terlalu relativistis, yang bergantung kepada situasi. Berdasarkan pandangan ini, Arnett menawarkan tiga dalil sebagai standaar etika komunikasi antar persona. Dalil satu: kita harus terbuka terhadap informasi yang merefleksikan perubahan konsep diri sendiri atau oarang lain. Tetapi bukan berarti setuju dengan perubahan tersebut, keterbukaan seperti itu hanya berusaha memahami alam pemahan orang lain. Kita juga harus peka terhadap 7   


tanggung jawab peran kita dan peran orang lain dalam situasi yang konkret. Dalil dua: aktualisasi diri atau pemenuhan diri partisipan harus didukung jika semuanya memungkinkan; tetapi keputusan yang baik mungkin membutuhkan pengorbanan dari sesuatu yang penting untuk satu atau lebih partisipan. Dalail tiga: kita harus memperhitungkan emosi dan perasaan kita sendiri, tetapi emosi tidak dapat dijadika tuntunan perilaku satu-satunya. Pada waktunya tanggapan atau tindakan yang baik memerlukan pengerjaan atas apa yang secara emosional tidak dirasakan baik. Arnett menyimpulkan dengan menekankan kepada,� etika kontekstual tidak mengenal ‘aktualisasikan’ dan ‘berhubungan dengan perasaan seseoarang sebagai fungsi utama komunikasi antarpersona�. Setiap individu dalam suatu organisasi baik bisnis maupun non bisnis dalam kehidupan sehariharinya tidak dapat dilepaskan dengan dunia komunikasi, salh satu jenis komunikasinya adlah komunikasi antar personal (antar pribadi), pengertian lebih lanjutnya adlah komunikasi yang dilakukan antara seseorang dengan orang lain dalam organisasi bisnis atau non bisnis. Komunikasi personal dalam lingkungan bisnis dilakukan oleh dua orang atau lebih, menggunakan media tertentu, bahasa yang digunakan bersifat formal dan tujuan yang dicapai bersifat personal atau pribadi. Berdasarkan artikel international web at northern virginia community college akan penulis jelaskan sebagai berikut: 1. pada mulanya atau pada awalnya ada sebuah cultural context atau tata aturan yang telah berlaku pada suatu organisasi atau perusahaan tertentu, bagian ini merupakan wadah utama atau tempat bergabungnya orang-orang dalam suatu lembaga atau organisasi. 2. Selain ada cultural context adapula self concept yang maksudnya adalah merupakan konsep tentang kepribadian atau personal dari seseorang sebagai anggota dari suatu organisasi pada dasarnya konsep pribadi ini dapat ditunjukkan dengan teori Abraham Maslow yang membagi kebutuhan kedalam 5 tahapan yaitu kebutuhan fisioogis, keamanan, sosial, status dan aktualisasi diri. 3. kemudian komunikasi disini berperan sebagai proses atau media dalam komunikasi antar pribadi dan personal di dalam suatau organisasi, yang biasanya bertujuan untuk menyampaikan informasi berbagai pengalaman, menumbuhkan simpati, melakukan kerja sama, menceritakan kekecewaan atau kekesalan, menumbuhkan motivasi, yang kesemunaya terkait dengan komunikasi antar pribadi atau personal. Dengan adanya 8   


komunikasi tersebut maka dimungkinkan adanya relasi atau keterkaitan antara saatu personal dalam organisasi yang terwujud karena keseringan atau intensitas yang terus menerus dalam berkomunikasi antar personal tersebut. 4. adnya komunikasi yang terjadi adlah komunikasi verbal dan komunikasi non verbal, yang penjelasannya: komunikasi verbal yaitu bentuk komunikasi yang lazim digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan bisnis pada pihak lain dalam bentuk lisan maupun tulisan , sedangkan komunikasi non verbal lebih mengarah pada bahasa tubuh, dan gerakan tubuh sbagai bahasa komunikasinya. 5. dengan adanya dua jenis komunikasi diatas personal-personal yang juga merupakan bagian atau komponen dari perusahaan memiliki suatu kemempuan atau daya tangkap yang biasanya diperoleh dari mendengarkan atau listening, dan setelah mencenarnya personal ini akan memiliki suatu persepsi yang nantinya akan mengkomunikasikannya lagi kepada personal lainnya dalam bentuk komunikasi seperti diatas yaitu komunikasi nonverbal yang terkait dengan gerak tubuh maupun komunikasi verbal yang terkait komunikasi melalui pesan-pesan bisnis pad pihak atau personal lainnya.

c. Etika Komunikasi Bagi Kepercayaan AntarPersona Hal yang pokok bagi komunikasi antarpersona dalam lingkungan bisnis adalah kepercayaan kepada timgkat terendah diantara partisipan komunikasi. Kim Griffin dan Richard Barnes menawarkan suatu etika kepercayaan antarpersona yang berdasarkan pada pandangan khusus sifat manusia. Mereka mengasumsikan bahwa walaupun pada dasarnya manusia baik, terdapat batasan realistis dan keadaan mendesak yang sering membatasi pencapaian potensi manusia ideal. Suatu etika yang meningkatkan kepercayaan satu sama lain

adalah

menyenangkan, karena kepercayaan kita terhadap orang lain cenderung merangsang kepercayaan mereka pada kita, karena citra pribadi kita dapat diperbaiki, dan kesehatan psikologis kita terpelihara. Mereka tentu mengetahui bahaya mempercayai masyarakat. Orang lain dapat menggunakan kepercayaan kita untuk menipu kita dan pengalaman yang berlanjut akan kepercayaan yang dirusak, menimbulkan keterasingan dari orang lain dan kepercayaan diri yang melemah. Griffin dan Barnes menyajikan tiga pedoman etika untuk memupuk kepercayaan dalam komunikasi antarpersona. Pertama, kita harus berusaha aktif memperluas kepercayaan kita 9   


terhadap apa yang terjadi disekeliling kita. Hal ini pada sebagian orang membutuhkan banyak waktu. Kedua,” kepercayaan kita terhadap orang lain haruslah bersifat sementara.” Kepercayaan yang kita berikan kepada orang lain haruslah bersifat sedikit demi sedikit dan kita harus menjelaskan kepada mereka “ apa yang kita khawatirkan, apa yang kita harap mereka lakukan, dan apa yang kita ingin capai”. Ketiga, kepercayaan tidak hanya harus diberikan tetapi juga harus diperoleh.” Satu tindakan kepercayaan adalah tidak etis, kecuali orang yang dipercaya memang dapat dipercaya-perlu dua hal untuk satu mempercayai seseorang.”

10   


BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Komunikasi personal tatap muka berlangsung secara dialogis sambil saling menatap hingga terjadi kontak pribadi ( personal contact). Sedangkan komunikasi personal bermedia adalah komunikasi dengan menggunakan alat, misalnya telepon atau memorandum. Karena melalui alat, maka antara kedau orang tersebut tidak terdapat kontak pribadi. Komunikasi antar persona memiliki pemgaruh yang besar dalam lingkungan bisnis. Bila kondisi untuk hubungan antar persona yang baik hadir, kita juga cenderung menemukan responrespon positif terhadap penyelia, sikap tanggap atas kebutuhan-kebutuhan pribadi dan organisasi, kepekaan terhadap perasaan pegawai, dan kesediaan untuk berbagai informasi. semua ini adalah prasyarat untuk komunikasi ke atas dan ke bawah yang efektif.kadang-kadang terjadi pula peningkata produktivitas.

B. Saran Diharapkan dengan diselesaikannya makalah ini, baik pembaca maupun penyusun dapat mengetahui dan memahami mengenai komunikasi antar personal dalam lingkungan bisnis. Makalah ini semaoga bermanfaat bagi pembaca dalam menambah ilmu.

11   


DAFTAR PUSTAKA 1. Effendy,Onong Uchjana. 2005. Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek. Bandung : PT. REMAJA ROSDAKARYA. 2. Mulyana, Deddy. 2003. Etika Komunikasi. Bandung : PT. ROSDAKARYA. 3. Mulyana, Deddy. 2003. Komunikasi Organisasi. Bandung : PT. ROSDAKARYA. 4. Effendy,Onong Uchjana. 2003. Dimensi-Dimensi Komunikasi : Teori dan Praktek. Bandung : PT. REMAJA ROSDAKARYA.

12   


Bab i ulfa