POJOK PKM No. 155 XIX Bulanan | Edisi Mei 2019
11
Ekspresi Pelestari saStra
Sang Bumi Ruwa Jurai Oleh: Silviana
M
asih terkenang jelas dalam ingatan Farida Ariyani memori 22 tahun silam. Saat mendapat panggilan dari Sjahroedin, Gubernur Lampung masa itu, untuk mengadakan Seminar Nasional Bahasa Lampung di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. “Waktu itu saya mengundang pakar Prof. Asim Gunarwan yang mempunyai anggapan bahwa kepunahan Bahasa Lampung dimulai tahun 1994,” tuturnya. Mulai dari itulah, putri keempat dari sepuluh bersaudara ini, memiliki semangat yang tinggi dalam memperjuangkan Bahasa Lampung agar tidak punah. Kecintaannya terhadap Bahasa Lampung kian mendalam, saat ia dipersunting oleh pria bersuku Lampung pada 1986. Akhirnya, wanita asal Pringsewu ini pun mengikuti prosesi adat Lampung yakni, angkon atau pengangkatan saudara bagi masyarakat yang bukan keturunan asli suku Lampung. Ia pun mendapat gelar Pangeran Susunan Ratu. “Pada prosesi itu saya merasa terpanggil, betapa sangat di agung-agungkannya budaya Lampung. Kok, mau hilang begitu saja. Kalau bukan kita, tidak ada yang meneruskan,” kenang Farida melanjutkan cerita. Perjalanan Farida memperjuangkan Bahasa Lampung dimulai pada tahun 1998. Saat itu, ia bersama tiga orang merumuskan pembentukan Diploma (D3) Jurusan Bahasa Daerah Lampung di Universitas Lampung (Unila). Selaku ketua tim, Farida mempresentasikan proposal pengajuan jurusan tersebut kepada Prof. Muhajir Utomo, Rektor Unila kala itu. Kerja keras dan kobaran semangat Farida bersama timnya pun berhasil hingga mendapat respon yang baik dari kalangan mahasiswa. “Saat itu luar biasa animo mahasiswa untuk masuk jurusan ini,” ungkapnya haru. Namun pada tahun 2005, Farida harus mendengar kabar yang cukup membuatnya tersentak. Pasalnya, jurusan yang ia ajukan bersama timnya sempat ditutup. Lantaran, pemerintah kabupaten/kota tidak bersedia menerima guru Bahasa Lampung lagi. “Inikan prodi daerah. Kalau bukan daerah setempat yang mengadakan, yah
siapa lagi?” ujar Farida jengkel. Semangatnya tidak pupus hanya karena penutupan jurusan. Farida tetap melakukan koordinasi dengan beberapa guru honorer alumni D3 Bahasa Lampung. Hingga membentuk tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Lampung, sebagai wadah para guru berbagi pengalaman. Berbagai pelatihan, kerjasama, beberapa kegiatan seperti lomba bahasa daerah terus digencarkan bersama dengan Dinas Pendidikan dan Kantor Bahasa. Alasannya tak lain, agar bahasa daerah Lampung tetap ada. Saat ini Farida menjabat sebagai Ketua jurusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. Kecintaannya terhadap “bahasa ibu bumi ruwai jurai” ini, bukan semata karena sang suami. Sebenarnya sejak sekolah tingkat dasar hingga duduk di bangku kuliah, Farida sudah banyak belajar tentang bahasa dan budaya Lampung. Besar di lingkungan pesantren yang dikelilingi banyak suku Lampung, membuat Farida terbiasa dengan adat dan kebudayaan Lampung. Ketertarikannya dengan dunia bahasa yang begitu besar, mengantarkan dirinya untuk melanjutkan studinya ke jenjang strata satu, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Unila. Kemudian, ia pun melanjutkan program studi S2 di
Fakultas Budaya Universitas Padjajaran, Malang. Kota Malang jugalah yang menggerakkan hatinya untuk terus mempelajari bahasa daerah. Terlebih ketika melihat bahasa daerah di pulau Jawa yang terasa begitu hidup. “Mengapa saya melihat bahasa daerah menjadi penting? Karena, dia (red. bahasa daerah) sebagai lambang kebanggaan daerah. Budaya lampung harus dipertahankan melalui bahasa yang digunakan,” tutur Farida dengan memberi penekanan suara. Kesibukannya di bidang akademik tidak mengurangi kegiatanya dalam berorganisasi dan menyosialisasikan budaya Lampung. Di Way Kanan, Farida membina masyarakat khususnya para ibuibu untuk mengembangkan budaya Lampung. Ia juga merupakan Koordinator Bidang Bahasa dan Aksara Majelis Penyimbang Adat Lampung, Pembina MGMP Bahasa Lampung, Koordinator Pembina dan Pengembangan Bahasa Lampung, Staf Ahli Kapolda Bidang Budaya, Dewan pakar Lampung Sai, Wakil Ketua Dewan kerajinan nasional daerah Way Kanan, dan Ketua Dharma Wanita Persatuan Way Kanan. Meski bukan asli orang Lampung, Farida tetap memupuk semangatnya untuk melestarikan bahasa Lampung. Salah satunya dengan mendirikan jurusan itu kembali. Awal tahun 2019, akhirnya program studi (S1) jurusan Bahasa Daerah Lampung tengah kembali diusulkan. “Insyaallah tolong doa dan kerja samanya. Tahun ini, Unila khususnya FKIP akan mengajukan usulan pendirian S1 pendidikan bahasa Lampung. Semua harus bekerja secara terintegrasi. Baik dari pemerintah daerah maupun Unila,” harap Farida= Foto : Silviana
Tuti Nurkhomariyah
Pemimpin Redaksi
Jangan Menghakimi Charles Bukowksi dulunya dalah seorang pecandu alkohal, senang main perempuan, pejudi kronis, kasar, kikir, tukang utang, dan hari-harinya penuh keburukan. Akan tetapi, ternyata Ia punya keinginan seorang penulis. Seluruh media menolak tulisan stresnya. Anehnya ada satu media yang mengontraknya untuk menulis. Akhirnya, si pecundang itu menulis sebuah novel Post Office yang membuatnya tenar. Keberhasilan bukan hasil kegigihanya untuk menjadi seorang pemenang. Namun, dari kenyataan bahwa ia tahu kalau dirinya seorang pecundang. Lalu, mengkisahkan hal-hal paling buruk yang ada pada dirinya dan membagikannya melalui tulisan secara jujur tentangnya. Tentu ada peran orang atau pemilik media yang mau mengontrak paling buruk perilakunya. Sebab, orang yang mengontraknya untuk menulis berpikiran positif ke orang macam Bukowski karena melihat sebuah nilai berharga, yaitu kejujuran. Itulah kisah motivasi dari buku “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” karya Mark Manson. Memang terdengar janggal dari kebanyakan buku motivasi lainnya yang mengajarkan hal-hal pikirin positif, menjadi pemenang, bergaul dengan orang berpengalaman, dan sukses tentunya. Memang buku motivasi pada umumnya tersebut membuat kita positif pada diri sendiri. Buruknya, diri sendiri selalu berpikirin negatif mengganggap rendah ke orang lain seperti Bukowski dan mahasiswa yang nakal, malas karena kerjaanya tukang tidur di kelas, menggoda wanita, tidak mau cari uang, bahkan jarang beribadah. Ihwal negatif itulah yang membuat menghakimi orangorang tersebut di kepala kita bahwasannya mahasiswa tersebut masa depannya suram, tidak bakal sukses, memprihatinkan, dan penuh keburukan lainnya. Diperparah lagi sampai-sampai mengambil pekerjaan Tuhan memvonis orang tersebut kafir, bakal dapat adzab dan masuk nereka. Padahal, itu semua masih penuh kerahasian tentang kehidupan dunia dan akhirat. Jadi, pikiran negatif itu tidak sama sekali dapat menerawang masa depan sesorang yang palik buruk sekali pun tingkahnya di bumi ini. Sudah semestinya, tetap memanusiakan manusia. Sehingga, lebih baik terus berpikiran positif ke manusia seburuk apapun tingkahnya karena dengan begitu kita dapat membantunya keluar dari zona buruknya = Tetap Berpikir Merdeka!