Page 1

Dimana Olahraga dan Iman Saling Berkaitan

Marcos Senna 10 10

2

Fabio Maciel Fábio

4

José Luís Vidigal Jacob Mulenga Portugal

6

Alexander Samedov

Jun Marques Davidson

12 14


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: ARAB KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: BAHASA MELAYU

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: VIETNAM KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: URDU

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: BANGLADESHI

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: TAMIL

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: Birma

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: TAGALOG

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: BELANDA

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: SPANISH

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN:

INGGRIS (BRITISH)

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: RUSIA

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN:

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: PORTUGIS

INGGRIS(USA)

(EUROPEAN)

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: PERANCIS

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: PORTUGIS

(BRAZILIAN)

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: JERMAN

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: POLISH

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: YUNANI

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: NEPAL

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: INDONESIA KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: JEPANG KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: KOREA

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: MANDARIN KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: MALAGASI

Untuk lebih lagi bisa baca di:

SSGOMAG.COM


ISI

02

10

Marcos Senna:

Marcos Senna (Spanyol) menyadari bahwa Kristuslah, bukan situasi kehidupan, yang memberikan sukacita dan damai

Fรกbio Maciel:

FotoArena/Getty Images

Jasper Juinen/Getty Images

Kiper Brasil Fabio mengalami berbagai percobaan, tetapi kesulitan membawanya kepada Kristus

04

14 Jacob Mulenga:

Jun Marques Davidson (Jepang) memulai karirnya dengan egois mengejar ketenaran, tetapi ia justru menemukan bahwa tujuan hidupnya jauh lebih besar daripada semua itu

Francisco Leong /Getty Images

Meski tidak bermain sepak bola sejak kecil, dan baru bermain saat ia berada di sekolah tinggi, kenaikan cepat Jacob Mulenga telah menyebabkan dia bergantung pada Allah

Jun Marques Davidson:

06

Alexander Samedov:

Derek Leung/Getty Images

Francois Nel/Getty Images

Alexander Samedov (Rusia) bergumul dengan berbagai pertanyaan tentang kehidupan dan karirnya, sampai ia menemukan sesuatu yang memberinya jawaban yang telah ia cari-cari sepanjang hidupnya

Kevin C. Cox/Getty Images

1


2

FotoArena/Getty Images


Fábio Maciel Kiper Brasil Fabio mengalami berbagai percobaan, tetapi kesulitan membawanya kepada Kristus

LatinContent/STR / Getty Images

P

ara penggemar menyebut Fábio “dinding biru”, dinding yang tidak dapat ditembus oleh bola manapun, dan mereka menganggap dia pahlawan. Tapi untuk kiper Brasil Fábio Deivson Lopes Maciel, yang telah memenangkan banyak gelar dan berada di tim nasional Brasil pada setiap tingkat, jalan menuju gelar-gelar itulah yang paling penting. Pada tahun 2007, karirnya terganggu ketika ligamen lutut kirinya robek dalam pertandingan kunci bagi klubnya, Cruzeiro. Beberapa pihak berpikir ia tidak akan pernah kembali.

Para pria dan wanita melayani dalam tim olahraga sebagai mentor dan konselor bagi kehidupan dan iman. “Ini adalah waktu yang sulit namun penting bagi saya untuk merevisi cara hidup saya dan itu penting sehingga Allah bisa bekerja dalam hidup saya dengan cara yang saya tidak pernah izinkan sebelumnya,” katanya. “Tuhan adalah dasar dari hidup saya.” Yang lebih rumit adalah, orang-orang meragukan bahwa ia cedera, karena lutut kanannya-lah yang membentur tiang gawang, tapi justru lutut kirinya yang cedera. “Orang-orang meragukan karakter saya, mereka berkata bahwa saya berbohong, bahwa saya sebenarnya sedang dicabut dari tim,” katanya.

“Rasa sakit itu membawa saya lebih dekat kepada Tuhan Rasa sakit dari cedera, kehilangan gelar, melihat dunia meragukan karakter saya membuat saya mengambil keputusan terbesar dan terbaik dalam hidup saya: menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Saya memberikan seluruh hidup saya kepadaNya.” Meskipun dokter mengatakan Fábio akan kembali pulih dalam enam bulan, nyatanya ia kembali ke lapangan dalam waktu setengahnya saja. Musim berikutnya, Cruzeiro masuk final sekali lagi, dan kali ini timnya menang. “Banyak orang mengatakan saya tidak akan bermain sepak bola lagi dan saya tidak kembali ke Cruzeiro,” kata Fábio, “tapi Tuhan memulihkan saya dengan memberikan saya kesempatan untuk berjalan denganNya. Ia menempatkan saya di mana saya berada hari ini. Allah itu menakjubkan. Tepat satu tahun setelah masa-masa sulit yang saya lalui, Ia mengembalikan saya. Rasa sakit yang saya alami berubah menjadi kemenangan besar. Saya bermain di 200 pertandingan untuk Cruzeiro, saya juara dan dinobatkan sebagai kiper terbaik dari seluruh turnamen besar.” Gelar lain diraihnya pada tahun 2013, saat Fábio dinobatkan sebagai kiper terbaik dari kejuaraan Brazil. Pengalaman ini membawanya ke pemahaman bahwa Allah itu nyata dan mengarahkan segala sesuatu. “Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya direncanakan oleh Tuhan,” katanya, “Ia menentukan segalanya... Dasar kehidupan saya adalah Tuhan. Ia menunggu untuk menempatkan saya di posisi yeng tepat dan Ia memberi saya hal-hal yang tidak pernah saya bayangkan. Saya tidak pernah memimpikan sama sekali sebelumnya, bahwa saya bisa memiliki keluarga dan diberkati seperti saat ini... Ia adalah Allah yang nyata yang telah membuat semua itu terjadi.” 3


SCAN HERE to watch a video of Jacob Mulenga

4

Francisco Leong/AFP//Getty Images


Jacob Mulenga Meski tidak bermain sepak bola sejak kecil, dan baru bermain saat ia berada di sekolah tinggi, kenaikan cepat Jacob Mulenga telah menyebabkan dia bergantung pada Allah

VI Images via Getty Images

S

epak bola tidak termasuk olahraga favorit pemain tim nasional sepak bola Zambia Jacob Mulenga. Ketika ia masih muda, ia berkomitmen untuk olahraga balap motor. Hari biasa dihabiskannya untuk sekolah, tapi akhir pekannya dipenuhi dengan olahraga balap motor. Sepak bola tidak menjadi bagian dari hidupnya sampai akhir sekolahnya. Bahkan juga sesaat setelah lulus sekolah. Ia berkata bahwa dirinya “hanya menonton” sepak bola. Baginya, sepak bola hanyalah untuk bersenangsenang. “Saya tidak bermain untuk tim junior atau kampus saya – saya hanya bermain untuk bersenang-senang di sekolah,” kenangnya. “Saya belajar banyak dari menonton dasarnya. Saya belajar banyak dari menonton di televisi.” Tapi setelah selesai sekolah, ia memutuskan untuk serius bermain sepak bola. “Saya pikir, ‘OK, sekarang sebelum memutuskan apa yang ingin kamu lakukan dengan hidupmu, bermain sepak bola saja dulu untuk sementara dan lihat saja apa yang terjadi’. Mantan pemain dan pelatih Zambia, Kalusha (Bwalya), melihat saya bermain dan berkata, ‘Kau tahu kau bisa jadi hebat dalam bidang itu.’ Bagi saya, itu masih mimpi. Saya bercanda tentang hal itu dengan teman-teman saya, ‘Suatu hari saya akan bermain sepak bola profesional.’” Meski tidak bermain sepak bola sejak usia dini, ia naik dengan cepat ke tingkat elit. Jacob membentuk tim nasional Zambia ketika ia berusia 20 tahun, dan ia mencetak gol di pertandingan pertamanya - kemenangan 1-0 melawan Togo di babak kualifikasi Piala Dunia. Dari sana ia maju ke dua pertandingan kualifikasi Piala Dunia berikutnya di Senegal dan Mali dan menjadi pemain tetap di tim nasional. Tetapi keberhasilan yang cepat itu tidak berubah menjadi keyakinan. “Itu menakutkan. Saya merasa gugup. Itu adalah dunia baru bagi saya,” katanya. “Saya belum pernah tampil di hadapan publik yang besar sebelumnya. saya tidak tahu apaapa tentang bermain untuk tim nasional. Anda mendengar tentang hal itu; Anda membaca tentang hal itu. Sekarang Anda menempatkan diri dalam posisi di mana Anda siap untuk dikritik. Segala sesuatu yang Anda lakukan - baik atau buruk - akan dikritik dan selalu ada seseorang yang mengatakan suatu komentar tentang Anda.” Namun Jacob secara bertahap menjadi nyaman, dan pada tahun 2010 ia mencetak dua gol dalam dua pertandingan di Piala Afrika. Sayangnya, pada dua kali Piala Afrika, tahun

2012 dan 2013, terjadi kekecewaan. Ia tidak bermain di kedua tahun itu, termasuk pada tahun 2012 ketika Zambia meraih gelar juara. “Bagi saya itu benar-benar keras, Anda tahu pada tahun 2010 Anda memainkan peran besar di Piala Afrika dan sekarang Anda tidak bisa menjadi bagian dari itu,” katanya. “Itu merupakan pukulan besar bagi saya... Anda senang tapi setiap kali seseorang berbicara tentang hal itu, Anda seperti diingatkan bahwa Anda bukanlah bagian dari semua itu.” “Jadi saya berdoa kepada Tuhan berkali-kali, ‘Mengapa ini terjadi pada saya ketika saya datang kepadaMu, berdoa kepadaMu... padahal orang lain tidak melakukannya? Apa yang saya lakukan hingga saya harus menanggung semua ini? Bagi saya itu selalu ‘mengapa’. Mengapa begini? Mengapa begitu? Berhenti dengan mengapa. Pertamatama, saya belajar... bahwa saya tidak memegang kendali. Tidak peduli seberapa keras saya berusaha, saya tidak bisa mengontrol hal-hal yang terjadi... Jika saya tidak memiliki Yesus, betapa saya akan benar-benar tersesat…” “Saya tahu bahwa saya sangat diberkati. Saya seseorang yang bisa melakukan apa saja dalam sepak bola. Saya tahu kekuatan saya tidak datang dari saya. Ini datang dari atas... Allah tidak akan membawa Anda ke tingkat berikutnya jika Anda tidak tahu bagaimana menangani tekanannya... Semakin tinggi Anda naik, semakin besar pula tekanannya.”

Para atlet di seluruh dunia saling menolong dan mendorong satu sama lain dengan cara yang holistik, saling membantu untuk memahami bahwa nilai diri mereka didasarkan pada siapa diri mereka, bukan pada apa yang mereka lakukan. “Segala sesuatu yang dibangun tanpa Allah tidak layak untuk dibangun. Saya tidak akan duduk di sini dan berbohong dan mengatakan, ‘Saya hidup sempurna, saya hidup takut akan Allah.’ Saya masih memiliki masalah. Kadang-kadang iman saya diuji... Anda mengalami begitu banyak tantangan. Begitu banyak hal datang kepada Anda. Anda membutuhkan seseorang untuk diajak bicara. Saya pikir ketika Anda membawa seseorang untuk beriman dalam Kristus, Anda benar-benar harus membantu mereka memahami, ‘Dengar, Allah akan menjadi pusat kehidupanmu… Hal ini bukan berarti kau tidak akan mengalami tantangan. Kau akan mengalami tantangan sebagai seorang Kristen dan kau akan mengalami kesulitan... Tapi kau tahu, melalui semua itu, kau akan menang.’” 5


Alexander Samedov (Rusia) bergumul dengan berbagai pertanyaan tentang kehidupan dan karirnya, sampai ia menemukan sesuatu yang memberinya jawaban yang telah ia cari-cari sepanjang hidupnya

W E B S I T E : w w w. S p o r t s S p e c t r u m . c o m

Francois Nel/ S P O RGetty T S S P EImages CTRUM

00 7


Epsilon/Getty Images / Getty Images

ertumbuh di dalam sebuah keluarga yang berbeda dalam keyakinan agama, Alexander Samedov memutuskan bahwa ia akan menjalani hidupnya dengan cara dan aturannya sendiri. Sampai akhirnya masalah datang dan ia harus mencari jawaban sendirian. Alexander, yang telah mewakili Rusia di kejuaraan internasional U-21, tim sepak bola nasional senior dan juga bermain di beberapa klub papan atas Rusia, mulai mengalami kesulitan dalam karir sepak bola dan dalam hidupnya. Saat itulah pertanyaan dimulai, awalnya di pikiran, dan kemudian secara lisan. “Pada awalnya, saya menjalani hidup saya dengan cara saya sendiri. Tapi kali itu, saatnya datang ketika saya mulai memiliki masalah dalam karir saya, dalam hidup saya. Saya sudah mencapai usia untuk berpikir tentang hal-hal ini. Dan kemudian saya bertemu dengan wanita yang saat ini

menjadi istri saya, Yulia. Ia adalah seorang percaya; ia pergi ke gereja. Melihat masalah saya, ia hanya berkata kepada saya, “Sasha (nama panggilan Alexander), ini-itu, ini-itu...” Kemudian saya datang ke gereja sekali, dua kali, dan saya mengerti. Hidup saya mulai berubah. “ Meskipun Samedov mengakui bahwa “membaca bukanlah hal yang paling penting” baginya karena ia bertumbuh dalam pendidikan di sekolah olahraga dan ia “lebih mementingkan olahraga” daripada pelajaran akademis, namun ternyata ia menjadi mencintai membaca Alkitab sejak berkomitmen kepada Kristus.

“Kami melayani gereja lokal.” Membaca Alkitab itu berbeda. Membaca Alkitab adalah perubahan dari membaca kata-kata sulit yang tak bernyawa dari halaman-halaman buku teks sekolah atau buku apa pun.


“Bagi saya membaca Alkitab tidaklah sama seperti membaca buku-buku lain, karena Alkitab adalah sesuatu yang spiritual; ini tentang iman,” katanya. “Alkitab mengajar kita. Alkitab memberikan arahan bagi hidup kita.” Sebagian dari arah itu telah membimbingnya dalam karirnya. Alexander mulai bermain dengan klub Spartak Moscow ketika ia berusia 16 tahun. Lima tahun kemudian ia pindah

ke FC Lokomotiv Moscow selama empat tahun sebelum bergabung dengan FC Moscow selama dua musim. Setelah berhasil di sana, ia melompat ke klub yang lebih besar, Dynamo Moscow, selama tiga musim sambil juga memberikan penampilan pertamanya dalam tim nasional senior pada tahun 2011 dalam kemenangan melawan Slovakia selama babak kualifikasi Piala Eropa 2012. Keberhasilan itu membawanya kembali bergabung di FC Lokomotiv pada musim berikutnya, dan ia mulai bermain dengan lebih baik lagi hingga selalu menjadi pemain starter dan menjadi favorit penggemar. Pertanyaan-pertanyaannya tentang kehidupan telah terjawab, dan cara Alexander menangani keberhasilan dan kegagalan sekarang telah berubah. Ia kini selalu memandang kepada Allah, yang berbicara kepadanya dan membimbing dia seiring dengan perjalanannya membaca Alkitab. Allah telah menggunakan istri Alexander untuk menunjukkan kepadanya jalan yang benar. “Memang beginilah jalannya,” katanya. “Melalui dia, saya berhasil.”

EuroFootball/Getty Images

Alexander menemukan arah ketika membaca Alkitab. Dalam Gerakan Olahraga, ketaatan pada Alkitab adalah nilai inti yang mendasari segala sesuatu yang dilakukan di dalam dan di luar lapangan olahraga.

9


Marcos Senna (Spanyol) menyadari bahwa Kristuslah, bukan situasi kehidupan, yang memberikan sukacita dan damai engan empat cedera lutut di sepanjang karirnya, tentu dapat dimengerti jika Marcos Senna merasa lelah, putus asa atau kecewa dengan sepak bola. Tapi yang terjadi pada bintang sepak bola Spanyol itu justru sebaliknya. “Saya mengalami empat kali cedera lutut, tetapi dengan pertolngan Tuhan, saya pikir saya telah berespon dengan baik dan bahkan mengalami sukacita selama masa-masa cedera,” ia berbagi. “Saya tidak tahu apakah ada pemain lain dengan cedera serupa yang tetap bermain di tingkat yang sama seperti yang saya telah lakukan. Saya berterima kasih, saya memberikan kehormatan dan kemuliaan bagi Allah untuk kekuatan yang Ia telah berikan pada saya.” “Saya merasa damai. Saya tahu Tuhan memiliki tujuan dalam hidup kita. Jika saya terluka, tentu ada alasan yang baik untuk itu, dan saya mengerti bahwa saya akan membaik seiring dengan waktu. Saya mengerti bahwa Tuhan... akan terus menjaga saya. Dan karena alasan itu, saya sangat tenang.” 10


Senna, yang dilahirkan dalam kemiskinan di Brazil dan mulai bermain sepak bola di jalanan pada usia 6 tahun, menjadi warga negara Spanyol setelah Luis Aragonés, pelatih Villarreal CF Senna, memintanya untuk bermain untuk tim nasional Spanyol. “Saya tidak akan membuang kewarganegaraan yang saya sandang karena kelahiran – saya orang Brasil,” kata Senna. “Saat itu, saya pikir itu adalah langkah terbaik dan hak istimewa jika saya memiliki kewarganegaraan ganda, dan kesempatan untuk bermain untuk Spanyol, salah satu tim terbaik di dunia. Bahkan sebenarnya, hal itu telah mengubah hidup saya. Itu luar biasa.” Senna, yang bermain dua kali di ajang Piala Dunia, membantu Spanyol memenangkan Piala Eropa 2008, mengalahkan Jerman 1-0, sehingga Spanyol merebut gelar juara Piala Eropa untuk pertama kalinya sejak tahun 1964. Beberapa media menyebut Senna pemain terbaik di sepanjang turnamen itu setelah ia membantu Spanyol menjadi tim pertama yang sama sekali tidak terkalahkan di sepanjang Piala Eropa sejak Jerman meraih predikat itu pada tahun 1996. Dari November 2006 sampai dengan Juni 2009, ia juga membantu Spanyol menang atau seri pada 35 pertandingan berturut-turut, mengikat rekor yang dipegang oleh Brasil, dan membantu Spanyol memecahkan rekor menang langsung dalam 15 pertandingan berturut-turut, sementara juga membantu Spanyol menjadi nomor 1 di Peringkat Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa itu. Rekor ini terpatahkan di semifinal Piala Konfederasi dengan kekalahan yang mengecewakan dari tim Amerika Serikat dengan skor 2-0. “Memenangkan Piala Eropa pada tahun 2008 adalah puncak karir saya dan perayaan yang indah,” katanya. “Kami akhirnya menang adu penalti. Saya tahu bahwa saya akan menjadi salah satu dari pemain yang akan melakukan tendangan penalti. Kami berlatih penalti sehari sebelumnya, tetapi pada hari pertandingan itu kami telah bermain selama 90 menit ditambah 30 menit di babak tambahan. Saya sangat lelah dan mengalami kram di mana-mana. Namun, ketika saatnya tiba, saya tenang dan merasa Roh Allah menguasai diri saya, memberi saya kedamaian dan kejelasan. Dengan pertolonganNya, saya bisa menembak dengan 11


Emmanuel Dunand/AFP/Getty Images

percaya diri, mencetak gol, dan membantu Spanyol meraih kemenangan. Saya tahu Allah menguasai situasi itu dan Ia memiliki rencana bagi saya untuk memuliakan Dia dengan prestasi ini. “Pada hari final, saya benar-benar terfokus pada pertandingan. Itu adalah hari yang besar, terutama karena seluruh Spanyol berbagi keriaan dalam perayaan. Ketika kami menang, itu adalah saat sukacita besar bagi semua pemain. Hidup kita tidak akan pernah sama setelah menjadi bagian dari memenangkan kejuaraan. Namun yang lebih penting lagi, hidup saya tidak akan pernah sama lagi setelah hubungan saya dengan Yesus.” Hubungan Senna dengan Yesus dimulai selama ia bertugas singkat dengan São Caetano di Brasil dan itu telah membuat semua perbedaan dalam hidupnya. “Mereka mengundang saya ke sebuah pertemuan dan saya pergi menghadirinya,” kenang Senna. “Pada waktu itu dalam hidup saya, saya tidak tahu banyak tentang Alkitab. Saya dulunya ke gereja dengan ibu saya, tapi setelah bertumbuh dewasa saya berhenti menghadiri acara kebaktian di gereja karena beberapa alasan. Saya tidak dibaptis atau apa, tapi saya tahu beberapa hal dari ibu dan nenek saya... saya

12

berusia 25 tahun - hampir 26 - dan mereka mengundang saya ke pertemuan itu. Saya menyukainya dan saya terus mengikutinya. Kemudian delapan bulan setelah saya menjadi percaya pada Kristus, klub sepak bola Villarreal menandatangani kontrak untuk saya bergabung dengan mereka, sekaligus saya bergabung dengan sebuah gereja di kota Villarreal di mana saya dibaptis.” Senna mengatakan bahwa ketenaran, uang dan hal-hal material lainnya tidak cukup untuk memuaskan siapa pun. “Jika Anda khawatir tentang apa pun, saya pikir uang bukanlah jawabannya,” kata Senna. “Tapi Roh Allah adalah di atas segala sesuatu. Allah dapat memberikan kebahagiaan, kedamaian dan sukacita. Membicarakannya saja sudah membuat saya tersenyum. Hal ini telah membuat saya sangat bahagia dan mengubah hidup saya dalam segala hal. Ini adalah keputusan terbaik yang dapat dibuat oleh siapa pun dalam hidup mereka.” “Sekarang saya benar-benar merasa damai karena saya yakin Tuhan memiliki tujuan untuk hidup saya. Jika saya cedera, itu karena Ia memiliki suatu alasan. Allah senantiasa menjaga saya, dan karena itu, saya bisa tenang dan percaya diri, dan mengalami sukacita yang besar.”


Charlie Crowhurst/Getty Images

13


Ketika Sepak bola Menjadi sebuah Jalan Jun Marques Davidson (Jepang) memulai karirnya dengan egois mengejar ketenaran, tetapi ia justru menemukan bahwa tujuan hidupnya jauh lebih besar daripada semua itu

Derek Leung/Getty Images

15


ntuk pemain sepak bola Jepang Jun Marques Davidson, agama selalu tampak terlalu rumit. Aturan. Pembatasan. Struktur. Dibesarkan di Tokyo, Jepang, Jun hanya memiliki sedikit ketertarikan kepada Kristus, meskipun ibunya adalah seorang percaya. Sebaliknya, pandangannya hanya terfokus pada satu hal: sepak bola. Ada tanda-tanda bahwa ia bisa menjadi pemain hebat sejak masa kecilnya, dan pada usia 15 tahun ia meninggalkan Jepang untuk bermain sepak bola di sebuah sekolah internasional di Inggris. Sukses, uang, dan ketenaran menjadi pendorong utama dalam hidupnya. Mencapai status superstar di bidang sepak bola menjadi tujuannya.

Melayani melalui olahraga, di setiap negara dan di setiap kota. Tapi justru di Inggris itulah, sementara ia sendirian di negara asing, nyaris tak bisa berkomunikasi, hampir tidak mengenal siapa pun, akhirnya ia menyadari bahwa mungkin ada hal yang lebih besar daripada sepak bola dalam kehidupan. “Hidup sendirian di negara asing itu sulit,” kata Jun. “Tapi di sanalah saya mulai mengerti kebutuhan saya akan Tuhan. Saya mulai menghadiri gereja saya sendiri dan belajar lebih banyak tentang apa artinya menjadi orang yang percaya Kristus. Saya mengkomitmenkan hidup saya kepadaNya dan menemukan kedamaian dan keyakinan yang saya tidak rasakan sebelumnya. Tujuan saya untuk pergi ke Inggris awalnya adalah untuk sepak bola, tapi tujuanNya adalah untuk mempersiapkan saya untuk masa depan saya.” Setelah Inggris, Jun dan keluarganya pindah ke California untuk tinggal bersama-sama sementara ia bermain sepak bola sambil berkuliah. Ia dikelilingi oleh orang-orang percaya yang kuat dalam timnya, seolah-olah Tuhan membawa ia untuk pematangan yang lebih lanjut setelah kebangkitan imannya di Inggris. “Sekali lagi Tuhan membentuk saya dengan memberikan persekutuan Kristen dan dorongan,” kata Jun.

Setelah pendidikan menengah, Jun kembali ke Jepang untuk bermain sepak bola secara profesional. Kembali ke negara asal ini seperti bentrokan dua cita-cita. Ketika ia meninggalkan Jepang empat tahun sebelumnya, hati dan pikirannya benar-benar berbeda. Tadinya dia didorong oleh egoisme, bertekad membuat dampak pada permainan sepak bola untuk mencapai uang dan ketenaran. Ketika ia kembali empat tahun kemudian, ia menjadi orang yang semakin menanggalkan egonya, dan ia ingin menggunakan sepak bola sebagai jalan untuk membawa dampak bagi orang lain di negaranya, bagi Injil.

Gerakan Olahraga membantu atlet untuk menghidupi, menunjukkan dan membagikan iman mereka di dunia olahraga. “Saya pikir Tuhan menciptakan saya sebagai pemain sepak bola untuk melakukan sesuatu yang lebih besar, untuk melayani Tuhan,” kata Jun. “Tidak banyak orang Kristen di Jepang, sehingga sangat sulit untuk mengikuti, belajar dan memiliki iman yang bertumbuh dalam Kristus.” Etsuo Hara/Getty Images


“Saya percaya Tuhan membawa saya ke Inggris dan California untuk menempatkan saya dalam situasi di mana saya melihat banyak orang percaya dan orang-orang dengan iman yang besar. Dan itu membantu saya untuk tumbuh dan belajar lebih banyak tentang Allah.” Kembali ke Jepang membuat Jun sadar betapa dia telah berubah, betapa banyak pekerjaan yang telah dilakukan Allah di dalam dia, dan betapa Tuhan ingin melakukan sesuatu melalui dia untuk membawa pengaruh bagi orang lain. “Sejak memberikan hidup saya kepada Tuhan, perspektif saya telah berubah,” kata Jun. “Saya mulai berpikir tentang bagaimana saya bisa berperan untuk membagikan Injil. Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa karir saya bukanlah tentang saya dan bahwa semuanya adalah tentang Dia.” Sejak pindah kembali ke Jepang, performa gelandang bertahan itu stabil. Ia menghabiskan tiga musim pertamanya di divisi kedua Liga Jepang dan membantu timnya mendapatkan promosi ke divisi pertama di Jepang pada tahun 2004. Enam musim berikutnya dihabiskan di Divisi I Liga Jepang dan dilanjutkan dengan dua musim di divisi yang lebih rendah, termasuk bermain dengan klub Carolina RailHawks di Amerika Serikat. Ia menghabiskan seluruh tahun 2012 dan 2013 bermain untuk klub Vancouver Whitecaps di Sepak Bola Liga Utama. Ia dianugerahi penghargaan “Pahlawan tanpa Tanda Jasa – versi

Jock MacDonald” oleh klub itu pada tahun 2012 untuk kehadirannya yang konsisten di lapangan. “Melayani Tuhan melalui olahraga adalah penting bagi saya,” kata Jun. “Saya mencoba untuk berbagi Injil, melayani orang lain, dan menjadi teladan. Ini tidak selalu mudah ketika kompetisi menjadi sulit, tetapi bahkan kemudian saya memohon ampun kepadaNya dan berdoa agar Tuhan memakai saya. Karier saya adalah di tanganNya dan saya berusaha untuk mengikutiNya ke mana pun Ia memimpin saya, bahkan jika itu tidak ada kaitannya dengan sepak bola, karena tujuan saya adalah untuk melayaniNya.” Di luar musim tanding, Jun melakukan pekerjaan misionaris melalui kelompok kementerian olahraga dan sekarang hati dan pikirannya berada di tempat yang berbeda jauh daripada 15 tahun yang lalu. Hidupnya bukan lagi miliknya sendiri; hidupnya kini milik Tuhan. Sepak bola juga bukan lagi tentang dirinya sendiri; sepak bola juga adalah milik Allah, yang telah membuatnya menyerahkan diri dan memperoleh damai sejahtera. “Yusuf dalam Perjanjian Lama di Alkitab adalah anak yang biasa saja, namun Allah membentuknya menjadi orang besar,” kata Jun. “Bahkan ketika saudarasaudaranya menjual dia ke perbudakan dan masa depannya kelihatannya sudah tamat, Yusuf berusaha untuk hidup bagi Tuhannya. Kemudian, ketika ia diberkati dengan kekuasaan besar dan pengaruh, ia menggunakan perannya untuk membantu orang lain dan melakukan pekerjaan Tuhan.” 17


SS GoMag Indonesian III  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you