Page 1

Dimana Olahraga dan Iman Saling Berkaitan

Radamel Falcão 108

2

Lúcio

4

José Luís Vidigal José Luis Vidigal Portugal

6

Cyrille Domoraud

Clint Dempsey

12


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: ARAB KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: BAHASA MELAYU

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: VIETNAM KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: URDU

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: BANGLADESHI

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: TAMIL

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: Birma

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: TAGALOG

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: BELANDA

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: SPANISH

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN:

INGGRIS (BRITISH)

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: RUSIA

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN:

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: PORTUGIS

INGGRIS(USA)

(EUROPEAN)

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: PERANCIS

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: PORTUGIS

(BRAZILIAN)

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: JERMAN

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: POLISH

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: YUNANI

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: NEPAL

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: INDONESIA KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: JEPANG KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: KOREA

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: MANDARIN KLIK DISINI UNTUK MEMBACA MAJALAH IN: MALAGASI

TO READ MORE GO TO:

SSGOMAG.COM

SPORTS SPECTRUM


ISI

02

Radamel Falcão:

Meski harus jatuh-bangun, bintang sepakbola Radamel Falcão asal Kolombia tetap setia di dalam imannya

Lúcio:

Federico Lopez Claro/STR/Getty Images

AFP/Getty Images

Ketenaran dan kekayaan tidak membuat Lúcio dari Brasil untuk kehilangan tujuan utama hidupnya, yakni untuk memuliakan Allah

04

12 José Luis Vidigal:

Clint Dempsey:

Meski terhempas tragedi di masa lalu, bukannya menjauh, Clint Dempsey justru semakin mendekat kepada Allah

Popperfoto/Getty Images

José Luis Vidigal asal Portugal mengalami kemenangan melalui derita kekalahan pada salah satu pertandingan terbesar dalam karirnya

Cyrille Domoraud:

Cyrille Domoraud asal Pantai Gading memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang baik daripada yang buruk, dan pada akhirnya dapat mengungkapkan ‘syukur kepada Allah untuk kesempatan menjadi bagian dari Kerajaan-Nya’

Issouf Sanogo/Getty Images

06

08

Kevin C. Cox/Getty Images

1


2

Federico Lopez Claro/STR/Getty Images


Lúcio Ketenaran dan kekayaan tidak membuat Lúcio dari Brasil untuk kehilangan tujuan utama hidupnya, yakni untuk memuliakan Allah

K

etika mantan kapten Brasil Lucimar Ferreira da Silva, atau lebih dikenal di dunia sepakbola dengan nama Lúcio, sedang mengingat-ingat kejayaan Brasil di Piala Dunia 2002 di Jepang, pikirannya membayangkan perasaan yang dialaminya saat ia membawa bangsanya yang gila bola itu meraih gelar yang paling diidam-idamkan dalam dunia olahraga. Hal itu membuatnya berpikir tentang apa yang terpenting dalam hidupnya. “Di Brasil, semua orang memimpikan ini,” ujarnya tentang memenangi Piala Dunia. “Aku telah mengambil bagian dalam impian yang luar biasa itu. Kami adalah tim yang hebat dan itulah momen yang sangat penting dalam hidupku dan keluargaku. Sekali lagi, kami mendapat kesempatan untuk bersyukur kepada Allah di depan mata seluruh dunia. Tentu saja itu lebih penting daripada gelar juara yang kami raih.” Para pemain Brasil menunjukkan kecintaan mereka bagi Allah ke hadapan dunia dengan cara menanggalkan kostum mereka dan memperlihatkan tulisan-tulisan yang berbicara tentang Yesus dan kasih mereka kepada-Nya pada kaus dalam yang mereka kenakan. Dalam suatu perbincangan singkat, bukan hal yang aneh mendengar Lúcio berulang kali menyatakan rasa syukurnya kepada Allah atas setiap aspek hidupnya—tentang penghidupannya sebagai pemain sepakbola, istri dan anak-anak yang dimilikinya, dan berbagai hal-hal sederhana dalam hidup. Lúcio telah bermain dalam lebih dari 100 pertandingan internasional bagi tim nasional Brasil, termasuk sebuah pertandingan akbar pada Juni 2009 ketika ia mencetak gol pamungkas yang membawa Brasil berbalik unggul 3-2 melawan tim Amerika Serikat dalam kejuaraan Piala Konfederasi di Afrika Selatan. “Aku pikir keyakinan diri yang kami punya sepanjang Piala Konfederasi itu sangat penting,” kata Lúcio. “Tapi di atas semuanya, kita menyadari kuasa Allah sedang bekerja dalam hidup kami.” Fokusnya dari dulu hingga sekarang tetap pada Allah, kebaikanNya, berkat Tuhan yang melimpah dalam hidupnya, dan kebutuhannya akan Tuhan meski ia sepertinya telah mencapai segalanya. “Aku percaya ketika aku bermain untuk klub yang hebat, bermain di tim nasional, bahwa aku mempunyai seorang istri dan keluarga yang mendukungku, semua itu justru menunjukkan bahwa aku sangat membutuhkan Allah,” kata Lúcio. “Aku yakin hari ini aku dapat berkata bahwa Allah telah melaukan banyak hal dalam hidupku yang tidak pernah aku bayangkan. Sebagai pemain profesional, bermain untuk klub-klub yang hebat, memenangi gelar juara, mempunyai istri dan anak-anak yang sehat dan berjalan dalam iman yang sama kepada Yesus, dan memahami apa yang telah Tuhan lakukan bagi kita, kasih yang Dia nyatakan kepada kita setiap hari, dan belas kasihan-Nya atas kelemahan kita dan keadaan kita sebagai manusia berdosa. Aku percaya Allah menunjukkan kasihNya yang sejati ketika kita gagal, dan Dia mengasihi kita sekaligus memelihara kita. Aku percaya inilah yang membawa kita semakin dekat kepada-Nya tiap-tiap hari.”

3


4

Popperfoto / Getty Images


José Luis Vidigal José Luis Vidigal asal Portugal mengalami kemenangan melalui derita kekalahan pada salah satu pertandingan terbesar dalam karirnya

Popperfoto / Getty Images

S

ebagai anak kedua dari 12 bersaudara, termasuk empat saudara yang juga bermain sepakbola, José Luis Vidigal memahami apa artinya berjuang untuk mendapatkan perhatian. Sepanjang 18 tahun bermain sebagai pemain profesional, Vidigal menghabiskan sebagian besar karirnya di Italia dan Portugal. Di sepanjang masa itu ia mewakili negaranya dalam 28 pertandingan, termasuk 7 dalam tim U-21, 6 dalam Olimpiade dimana Portugal meraih posisi keempat, dan 15 dalam tim nasional. Empat dari pertandingannya di tim nasional dijalani dalam kejuaraan Piala Eropa UEFA, termasuk kekalahan dari Perancis di semifinal. Namun yang paling memberi kenangan manis dan keseruan tersendiri adalah kemenangan 3-2 atas Inggris. Setelah ketinggalan 2-0, Portugal berhasil mencetak tiga gol berturut-turut, lalu menjuarai Grup mereka dengan rekor 3 kali kemenangan. Di babak-babak selanjutnya, Portugal memenangi pertandingan pertamanya, 2-0 melawan Turki, sebelum akhirnya tunduk pada Perancis di semifinal dengan skor 2-1. “Aku takkan lupa pertandingan itu (melawan Inggris) karena kami berada dalam situasi yang kurang beruntung,” cerita Vidigal. “Namun aku ingat bagaimana Allah meyakinkanku bahwa kami akan menjalani kejuaraan itu dengan baik. Meski kami kalah 2-1 (dari Perancis di semifinal), aku masih percaya bahwa ada kebaikan yang muncul dari kekalahan itu. Aku yakin, Yesus Kristus-lah yang mengubah kekalahan di atas lapangan hijau menjadi hasil yang luar biasa—Yesus telah mengubah hidupku. Awalnya aku berpikir aku bisa melakukan semuanya seorang diri, dalam relasiku dengan keluargaku, dan dalam kehidupan profesional dan pergaulanku. Aku pernah percaya hanya pada kemampuanku sendiri, tetapi semua itu siasia.” “Ketika aku menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku, semuanya menjadi lebih indah. Aku belajar untuk mengampuni dan menolong sesama. Hidupku berubah.” Vidigal masih bermain dalam sembilan musim setelah Piala Eropa itu, tetapi sepakbola tidak lagi menjadi nomor 1 dalam hidupnya. “Aku percaya pada Yesus karena aku tahu bahwa hidupku tidak berakhir di dunia ini,” kata Vidigal. “Aku punya tempat yang khusus di sisi Yesus, dan Dia menerimaku. Aku ingin semakin banyak orang yang mempunyai iman dan menyadari bahwa mereka harus menerima Dia, karena jika tidak, mereka akan menghadapi masa-masa yang sulit pada akhir hidup mereka di dunia.” “Motivasiku dalam segalanya datang dari Tuhan, karena aku hidup dan bekerja bagi Dia. Aku mau menjadi teladan dari Allah di atas bumi. Jika aku tidak melakukannya, dan jika aku tidak didorong oleh Allah, pasti sulit untuk memberitakan tentang Dia kepada orang lain.” “Ayat Alkitab favoritku adalah: ‘Dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.’ (Roma 8:37) dan ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal’ (Yohanes 3:16).” “Ayat pertama itu berkaitan erat dengan profesiku. Aku percaya bahwa aku dapat menikmati kemenangan dalam hidupku sehari-hari. Maksudku bukanlah menang dalam sepakbola atau olahraga lainnya, tetapi di dalam hidup. Ayat Yohanes 3:16 adalah dasar bagi imanku.”

5


6

Issouf Sanogo/Getty Images


Cyrille Domoraud Cyrille Domoraud asal Pantai Gading memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang baik daripada yang buruk, dan pada akhirnya dapat mengungkapkan ‘syukur kepada Allah untuk kesempatan menjadi bagian dari Kerajaan-Nya’

B

agi Cyrille Domoraud, Piala Dunia 2006 di Jerman memberikan pengalaman yang terhebat sekaligus tantangan tersulit yang pernah dialaminya dalam karir di lapangan hijau. Pada akhir 2005, Domoraud, seorang pemain belakang dan kapten dari tim nasional Pantai Gading, berhasil membawa tim yang dijuluki Les Éléphants (Para Gajah) menuju ke Piala Dunia mereka yang pertama, suatu peristiwa bersejarah yang mendorong terjadinya gencatan senjata dalam perang bersaudara yang telah berlangsung enam tahun di negaranya. Namun Domoraud tidak dimainkan dalam dua pertandingan pertama—dua kekalahan tipis dari Argentina dan Belanda—lalu harus menerima kartu merah dalam pertandingan grup mereka yang terakhir, sebuah kemenangan atas Serbia dan Montenegro. “Benar-benar suatu pukulan telak, ketika sepertinya semua kerja kerasku tidak menghasilkan apa-apa,” ujar Domoraud. “Tapi itulah bagian dari kehidupan di lapangan hijau.” Terlahir di Pantai Gading, Domoraud besar di tengah budaya perdukunan yang sangat pekat. Saat ia muda, ia sering bertanding dengan mengenakan cincin sebagai jimat keberuntungan— satu dari banyak jimat yang dimilikinya—dengan harapan bisa memberinya perlindungan bagi jiwanya dan mengusir roh-roh jahat. Namun lewat kesaksian dari saudara perempuannya, Domoraud menjadi seorang pengikut Kristus dan melepaskan diri dari masa lalunya yang penuh takhyul. Pada saat itu karirnya di lapangan hijau sedang menanjak. Setelah bermain bagi beberapa klub di Perancis, ia kemudian menghabiskan satu musim bersama raksasa Serie A Italia, Inter Milan, sebelum bermain bagi beberapa klub lain di Perancis, Spanyol, Turki, dan akhirnya kembali ke Pantai Gading. Musim profesionalnya yang terakhir dihabiskan bersama klub Africa Sports Abidjan. Kini ia memberikan waktu yang lebih banyak kepada Pusat Pelatihan Cyrille Domoraud di Abidjan, yang telah menghasilkan banyak pesepakbola andal, salah satunya penyerang Wilfried Bony (Swansea City, Liga Primer Inggris). Namun Domoraud akan selalu diingat oleh warga Pantai Gading sebagai bagian dari tim hebat yang pernah bertanding dalam Piala Dunia di Jerman, sekalipun kejadian yang dialaminya pernah membuatnya frustrasi untuk sementara waktu. “Aku bahagia bisa bermain di Piala Dunia dan bersyukur pada Allah yang telah mengizinkanku mengambil bagian dalam perhelatan itu, karena Dialah yang memampukan aku untuk bermain di sana,” kata Domoraud. “Sungguh ajaib—suatu moment luar biasa yang diberikan-Nya dalam hidupku dan karirku. Aku tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang pemain sepakbola profesional, dan ini semua karena pimpinan-Nya saja. Jadi daripada mempertanyakan segala hal negatif yang telah terjadi, aku mau mengucap syukur kepada Allah untuk kesempatan menjadi bagian dari Kerajaan-Nya dan bermain di Piala Dunia.” 7


Pengalaman Berharga AFP/GettyImages

Meski harus jatuh-bangun, bintang sepakbola Radamel Falc達o asal Kolombia tetap setia di dalam imannya 8


John Thys / Getty Images

intang sepakbola Kolombia, Radamel Falcão baru saja melewati tahun yang berat. Falcão, salah seorang penyerang terbaik di dunia, direkrut oleh Monaco pada Mei 2013 dengan nilai transfer fantastis dari Atletico Madrid. Kemudian, hidup Falcão menjadi makin semarak. Tiga bulan setelah kontraknya, Falcão dan istrinya, penyanyi asal Argentina Lorelei Taron, mendapatkan buah hati mereka yang pertama, Dominique Garcia Taron. Kontrak baru. Anak pertama. Sungguh tahun yang indah bagi Falcão, pemain berusia 28 tahun yang telah menjadi simbol bagi tim nasional Kolombia. Namun demikian, pada 22 Januari 2014, saat bertanding bersama Monaco dalam pertandingan Piala Perancis, lutut kiri Falcão cedera setelah terkena jegalan yang keras. Akibatnya, ia harus menjalani operasi pada ligamen anterior tiga hari kemudian. Saat itu impiannya bermain bersama tim nasional runtuh seketika. Piala Dunia adalah kesempatan yang datang empat tahun sekali, dan cedera yang dideritanya seakan membawa petaka bagi tim nasional Kolombia. Akan tetapi apa yang telah membuatnya teguh di masa-masa gemilang juga telah

9


menguatkannya di tengah masa-masa yang sulit itu. Meski cedera, Falcão—yang dikenal “El Tigre” atau “Sang Harimau”—masih mempunyai sebuah keluarga yang bahagia. Para penggila sepakbola berdecak kagum menyaksikan keterampilan dan kemampuannya mencetak gol. Para pengagum dan pebisnis menyukai penampilannya yang unik—wajah yang ramah dengan rambut hitam yang panjang dan kentara. Tim-tim sepakbola menyanjung reputasinya yang tak bercela di luar lapangan; Falcão mencintai keluarganya, seorang Kristen yang saleh, dan pemimpin dari suatu pelayanan olahraga. Secara profesional, finansial dan kepribadian, Falcão seakan sudah punya segalanya.

10

Michael Regan / Getty Images

Falcão pertama kali dikenal publik ketika ia berusia 13 tahun dan bermain untuk klub Lanceros Boyaca di Kolombia. Sejak saat itu ia terus membuat orang mengagumi permainannya di atas lapangan. Ketenarannya mulai memuncak ketika ia bermain bagi Atletico Madrid pada tahun 2011-2013, saat ia berhasil mencetak lebih dari 100 gol. Pada tahun 2012, harian The Guardian menempatkan Falcão pada posisi nomor 6 dalam peringkat 100 pesepakbola terbaik di dunia. Pelatih top Fábio Capello menganggap Falcão dapat disejajarkan dengan bintangbintang internasional seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Namun prestasinya itu juga membawa tekanan dan godaan— tekanan untuk selalu tampil prima dan

godaan untuk menerima sanjungan orang yang memuji penampilannya. “Saya merasa diberkati dapat bermain sebagai penyerang dan mencetak gol,” ujar Falcão. “Itulah puncak sukacita yang bisa dirasakan dalam suatu pertandingan dan suatu momen spesial bagi para pemain dan penggemar. Namun dengan sanjungan dan tanggung jawab untuk mencetak gol, aku juga merasakan banyak tekanan. Aku bergantung pada Allah di dalam tekanan tersebut, karena aku sadar Dia selalu ada bersamaku untuk menolongku. Imanku di dalam Dia telah menolongku menguasai diri dan tetap teguh dalam keyakinanku di sepanjang karir—dan juga sepanjang hidupku.” Itulah yang membuat Falcão begitu unik—cara pandangnya di tengah ketenaran dan kekayaan yang


pengakuan dunia dan uang yang banyak,” komentar Falcão. “Tetapi banyak orang merasa hampa dan hatinya kosong meskipun mereka terkenal dan kaya-raya. Aku percaya hanya Allah yang dapat memuaskan dahaga jiwa kita. Yesus Kristus memberikan nyawa-Nya untuk

memuaskan dahaga itu. Bersama Dia, kita dapat merasa yakin bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Aku meyakini betul hal ini karena aku telah sering mengalami bukti kesetiaan dan kasih-Nya dalam hidupku sendiri.” Orang yang belum pernah menikmati kesenangan dunia ini mungkin pantas mengatakan bahwa dunia ini tidak berarti, tetapi alangkah luar biasanya apabila itu keluar dari seseorang yang telah mencapai puncak kesuksesan, seperti Falcão. Orang yang tidak mempunyai uang bisa saja berkata kalau kekayaan itu tak berarti; tetapi alangkah dahsyatnya apabila pengejaran akan uang itu diabaikan seseorang yang telah benar-benar menikmati kekayaan. Pengalaman Falcão yang unik di tengah dunia ini, ketika disandingkan dengan pandangannya terhadap pengalaman itu, membuat orang dapat melihat dunia sebagaimana adanya. Seorang teolog bernama Henri Nouwen pernah menulis dalam bukunya Life of the Beloved, “Anda harus terus membongkar pandangan dunia tentang diri Anda apa adanya: pandangan yang penuh tipu daya, berhasrat menguasai, gila kuasa, dan pada akhirnya, membawa kehancuran.” Agustinus pernah berkata, “Engkau telah mencipta kami bagi diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami takkan tenteram sebelum menemukan perteduhannya di dalam Engkau.” Ada yang menyebutnya sebagai “kehampaan seukuran Allah” di dalam hati kita yang akan menganga selamanya, tak peduli betapa hebatnya prestasi atau banyaknya uang yang ada di rekening kita. Iman Falcão adalah hal yang terpenting baginya ketika ia bermain baik. Iman itu jugalah yang menjaganya untuk bergantung pada Allah di dalam kegagalannya. Iman Falcão menjadi penopang hidupnya di tengah berbagai keadaan yang tidak menentu.

Philippe Merle/ Getty Images

diterimanya, serta kesanggupannya untuk tetap berdiri teguh dalam keyakinannya sekalipun nampaknya ia telah mendapatkan segala-galanya yang diingini di dunia. “Ada yang berkata bahwa semua yang dapat memberikan kepuasan sejati adalah prestasi di lapangan,

11


Meski terhempas tragedi di masa lalu, bukannya menjauh, Clint Dempsey justru semakin mendekat kepada Allah 12

Christian Petersen/Getty Images


13


lint Dempsey menyadari kecintaannya pada sepakbola sejak masa sekolah. Luapan kegembiraan setelah mencetak gol telah mendorongnya semakin mendalami kecintaannya pada olahraga yang telah membawanya hingga ke berbagai tempat di dunia dan bermain dalam level tertinggi di Eropa dan Amerika Serikat. “Awalnya orangtuaku membawaku belajar sepakbola supaya aku mempelajari cara bergaul yang baik dengan orang lain,” kata Dempsey. “Aku tidak pernah tahu bahwa olahraga yang kusukai dan keterampilan yang kupelajari itu kemudian berperan besar dalam hubunganku dengan Allah.”

Dempsey masih berusia 21 tahun ketika ia menjadi pemain profesional, dan pada tahun itu juga ia berhasil masuk dalam tim nasional Amerika Serikat serta meraih gelar Pemain Baru Terbaik di Liga Utama Sepakbola AS (MLS). Setahun kemudian ia membawa klubnya New England Revolution memenangi

trofi juara MLS yang diraih dua kali berturut-turut. Selanjutnya ia bermain di Inggris untuk Fulham dan Tottenham Hotspur, membantu tim nasional menjuarai Piala Emas CONCACAF, mewakili negaranya dalam kejuaraan Piala Dunia dan beberapa kali digelari Atlet Sepakbola Terbaik di AS. Meskipun sepakbola telah memberi pengaruh yang besar bagi hidup Dempsey, ketika ia berusia 12 tahun terjadilah sebuah tragedi yang mengubah hidupnya selamanya.


bertahun-tahun, aku bergumul dan menjauh dari hubungan dengan Allah. Namun Dia setia dan sabar, dengan perlahan-lahan memberikan pemulihan dan kekuatan yang baru.” Meskipun Dempsey telah mengenal Allah, ia tidak sungguh-sungguh mencari Allah. Namun pada saat itu ada satu kelompok PA di Universitas Furman di Greenville, South Carolina yang mendukungnya untuk mengenal Allah lebih jauh dan memahami arti dari iman yang aktif. “Di universitas, aku bergabung dengan sebuah kelompok PA. Firman Tuhan memberiku damai sejahtera dan suatu kerinduan untuk berhubungan dengan Dia,” jelas Dempsey. “Aku mendapati bahwa mempertanyakan Dia dan mencari jawaban melalui Kitab Suci telah menolongku bertumbuh dan memberiku arah yang jelas. Kini imanku di dalam Kristus telah memberiku keyakinan akan masa depan. Aku tahu, di tengah pengalaman yang baik atau buruk, Dia tetap setia dan akan terus menjagaku.” Ia mengenang kembali masa-masa kuliahnya dan bersyukur kepada Allah karena keterlibatannya dalam kelompok PA. Selain itu, ia juga mengenang masa itu dan bersyukur untuk hidup yang diterimanya. Suatu hari, dua rekan setimnya mengajaknya pergi ke suatu konser. Karena tidak punya banyak uang, Dempsey pun menolak ajakan itu. Sikap itu telah menyelamatkan hidupnya. Dalam perjalanan ke konser itu, mobil yang ditumpangi kedua rekan Dempsey terkena kecelakaan hingga jungkir balik. Sebuah truk 18 roda menghantam mobil itu dan membunuh salah seorang dari mereka, sedangkan

yang satu lagi mengalami luka-luka parah yang membuatnya tidak bisa lagi bermain sepakbola. Meskipun ada sejumlah tragedi di masa lalu, hal itu tidak mendorong Dempsey untuk semakin sering memohon keamanan bagi dirinya. Yang terjadi, pandangannya terhadap hidup menjadi semakin mendalam— menyadari bahwa hidup dapat berakhir kapan saja dan tidak ada banyak waktu untuk memberi pengaruh yang baik dalam hidup sesama—serta kerinduannya untuk menyenangkan Allah pun semakin besar. “Sekarang, aku berdoa untuk dikuatkan dalam menjalani jalan hidup di depanku,” kata Dempsey. “Aku bermain sebaik yang kubisa dan bersyukur untuk banyaknya kesempatan dan keberhasilan yang telah diberikan-Nya padaku. Dalam semua itu, aku mau melakukan yang benar, tidak salah jalan, dan menjalani jalan hidup yang menyenangkan Dia.” Ia menerapkan tekadnya itu dengan membaca Alkitab yang telah memberinya pencerahan dan arahan. “Allah memberikan kekuatan, bahkan di tengah keadaan yang tampaknya mustahil,” kata Dempsey. “Dari kitab Kejadian dalam Alkitab, Allah menjanjikan Abraham bahwa ia akan menjadi bapa dengan banyak keturunan, tetapi selama bertahun-tahun, Sara istrinya tidak dapat mempunyai anak. Bahkan ketika ia hampir berusia 100 tahun, Abraham ‘tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah’ (Roma 4:20). Iman Abraham pun berbuah manis ketika Allah menepati janji-Nya dan Sara pada usia 90 tahun melahirkan anak mereka, Ishak.”

“Aku bertumbuh di dalam keluarga yang taat beragama dan biasa pergi ke gereja bersama Nenek setiap Minggu. Melalui Nenek, aku menyadari arti penting dari iman,” kata Dempsey. “Saat aku berusia 12 tahun, hidupku berbalik 180 derajat selamanya. Jennifer, saudara perempuanku, meninggal dunia (karena aneurisma otak) dan aku banyak mempertanyakan mengapa semua itu terjadi dan bagaimana campir tangan Allah di dalam semua itu. Selama 15


SS GoMag Indonesian II  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you