Page 1

MEMETIK HIKMAH ISRA' MI'RAJ Banu Muhammad

Dosen FEUI, Pembina Salam UI

T

idak semua Nabi diberikan Allah SWT mu’jizat yang menakjubkan; melawan hukum alam yang dapat dilihat langsung oleh ummatnya dengan mata telanjang. Ada Nabi Musa yang dengan tongkatnya bisa membelah lautan, atau Nabi Isa yang bisa menghidupkan orang mati, dan lain-lain. Namun, ada juga Nabi yang tidak banyak dikaruniakan mu’jizat yang mencengangkan. Di antaranya adalah Nabi Muhammad SAW yang justru mu’jizat utamanya adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an menakjubkan, tapi tidak dengan cara yang sama dengan mu’jizat Nabi Musa atau Isa. Selain Al-Qur’an, mu’jizat Nabi yang lain adalah berupa diperjalanankannya Nabi Muhammad dari Masjdil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina, hingga kemudian diperjalankan ke Sidratul Muntaha. Tentunya ini diluar nalar orang pada waktu itu. Namun, itulah yang namanya mu’jizat.

Diterbitkan oleh: Biro Media Center, Salam UI 16 Penanggung Jawab: Arief Aditya | Pemimpin Umum: Dika Handika | Pemimpin Redaksi: Dini Riyani | Wakil Pemimpin Redaksi: Putri Intan Adella | Editor: Khodijah Salimah | Desain Tata Letak: Mohammad Ganesha | Distribusi dan Sirkulasi: Abu Dzar Al Ghifary

Edisi III Tahun VIII Juni 2013 | Rajab 1434 H

Saudara Selamanya!


Berawal dari Permintaan Kaum Quraisy kepada Nabi SAW Sebenarnya, sebelum peristiwa itu terjadi, orang-orang kafir Quraisy pernah meminta kepada Rasulullah untuk menunjukkan hal-hal yang aneh karena mereka tidak percaya kalau Muhammad SAW itu adalah nabi. Hal ini direkam oleh Allah dalam Al Qur'an sebagai berikut: "Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca". (QS. Bani Israil : 90 - 93) Muhammad SAW adalah sosok yang sebenarnya sangat memesona. Akan tetapi, kekafiran membutakan mata hati mereka dan mereka mengajukan permintaan yang bisa dilihat mata telanjang. Rasulullah SAW sendiri menjawabnya dengan bijaksana, "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" (QS. Bani Israil: 93). Allah Yang

Maha Suci tentu Maha Kuasa untuk melakukan semua itu, tetapi Rasulullah mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia biasa yang diangkat menjadi seorang Rasul sehingga tidak mungkin melakukan semua itu.

Isra' Mi'raj sebagai Hiburan untuk Nabi Di Tahun ke 10 Kenabian, Rasulullah mengalami keadaan duka cita yang sangat mendalam karena beliau ditinggal oleh istrinya tercinta, Khadijah dan juga ditinggal oleh pamannya sendiri, Abu Thalib. Keduanya adalah sosok pendukung da’wah Nabi yang luar biasa. Dalam keadaan yang duka cita tersebut, Allah "menghibur" Nabi dengan memperjalankan beliau, sampai kepada langit dan menerima perintah sholat secara langsung dari Allah. Peristiwa ini lah yang dikenal dengan peristiwa Isra' Mi'raj.

Mengapa Masjidil Aqsa? Mungkin ada yang bertanya, mengapa dalam peristiwa itu Rasul diperjalankan ke Masjidil Aqsa? Kenapa tidak langsung saja ke langit? Paling tidak ada beberapa hal hikmahnya, antara lain: 1. Bahwa Nabi Muhammad adalah satu-satunya Nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan Nabi lainnya adalah berasal dari Ishaq AS. Inilah yang menyebab-


kan Yahudi dan Kristen menolak Nabi Muhammad, karena mereka melihat asal usul keturunannya (nasab). Alasan mereka itu sangat tidak ilmiah, dan kalau memang benar, mereka berarti rasialis, karena melihat orang itu dari keturunannya. Hikmah lainnya adalah, bahwa Nabi Muhammad berda'wah di Makkah, sedangkan Nabi yang lain berda'wah di sekitar Palestina. Kalau dibiarkan saja, orang lain akan menuduh Muhammad SAW sebagai orang yang tidak ada hubungannya dengan "golongan" Ibrahim dan merupakan sempalan. 2. Hikmah berikutnya adalah, Allah dengan segala ilmu-Nya mengetahui bahwa Masjidil Aqsa adalah akan menjadi sumber sengketa sepanjang zaman setelah itu. Mungkin Allah ingin menjadikan tempat ini sebagai "pembangkit" ruhul jihad kaum muslimin.

lah)”. Sebenarnya masih banyak kata pujian yang bisa digunakan, namun kalimat ‘Subhaana’ ini telah menunjukkan bahwa Dzat yang akan memjalankan hamba-Nya di waktu malam tersebut adalah ‘Dzat yang Maha Suci’. Maka ‘Perjalanan Suci’ atau perjalanan Ilahiyah ini akan diberikan kepada jiwa yang suci pula. Beliaulah baginda Rasulullah SAW.

Memahami Isra’ Mi’raj Dalam memahami peristiwa Isra’ dan mi’raj, para ahli akal dan logika harus berpikir dengan logika keimanan di mana meyakini bahwa untuk Allah tak ada yang mustahil, bahkan otak mereka saja adalah ciptaan Allah. Keimanan kita sebagai Muslim benar-benar dituntut terhadap kebenaran peristiwa ini karena memang peristiwa tersebut sangat berat untuk diterima oleh akal. Hanya melalui keimanan yang teguh peristiwa ini bisa diterima. Karena Isra’ Mi’raj adalah satu perjalanan Ilahiyah (perjalanan yang didasari pada kemauan dan kehendak Allah SWT) dalam sejarah peradaban manusia yang menjadi mu’jizat dan lambang kebesaran dan kemuliaan Rasulullah SAW dan hal serupa tidak akan pernah terjadi lagi setelah Rasullah SAW. Logika keimanan inilah yang dicontohkan oleh Abu Bakar as-Shiddiq. Abu Bakar tetap memiliki keutuhan keyakinan meskipun peristiwa tersebut terjadi di luar batas logika manusia. Redaksi ayat Allah pada QS. al-Israa ayat 1, Allah SWT telah mengawali dengan kalimat ‘Subhaana’ (bahasa arab) artinya “Maha Suci (Al-

Masjidil Aqsa Seterusnya ayat tersebut dilanjutkan dengan kalimat ‘Asraa’ (bahasa Arab) yang artinya ‘men-jalan-kan’. Kata ‘men-jalan-kan’ membuktikan bahwa dalam peristiwa tersebut ada yang sifatnya ‘aktif’ dan ada yang bersifat ‘pasif’. Dalam peristiwa ini Allah SWT bersifat aktif, sedangkan Rasulullah SAW. bersifat pasif. Karena Allah SWT bersifat aktif, maka apapun yang diinginkan dan dikehendaki oleh Allah SWT termasuk dalam perkara ‘men-jalan-kan’ hamba-Nya (Muhammad SAW) secara ruh dan jasad, itu semua bisa saja terjadi atas izin-Nya, dan kita tidak perlu lagi untuk mengingkarinya. Sedangkan Rasulullah sendiri yang sifatnya pasif tidak pernah berencana untuk melakukan Isra’ dan Mi’raj tersebut. Allah SWT yang punya kehendak. Kalau Allah SWT yang punya kehendak, maka tidak ada yang mustahil di sisi-Nya.


Kubah Shakhrah | bangu8nan yang sering media gambarkan sebagai Masjidil Aqsa

Penutup Setiap tahun, kebanyakan ummat Islam di Indonesia memperingati peristiwa agung ini dengan berbagai macam aktifitas. Akan tetapi adalah sia-sia jika kita umat Islam mengadakan peringatan Isra' dan Mi'raj setiap tahunnya, jika kemudian tidak mampu mengambil hikmah dari kisah ini. Adalah sia-sia jika memperingati tapi melalaikan keagungan Allah SWT. Adalah sia-sia jika pesan sholat yang Nabi Muhammad SAW terima secara langsung dalam peristiwa agung tersebut, tidak lakukan dengan berkualitas, khusyu’ dan tuma’ninah. Mari menyelami dalamnya lautan hikmah dari setiap mu’jizat Allah kepada para Nabi-Nya. Wallahua’lam.

Selembar Madani III 2013  

Selembar Madani edisi III tahun VIII: "Memetik HIkmah Isra' Mi'raj"

Advertisement