Page 1

INTERLUDE Edisi Perdana / Juni 2014 www.interlude.com

GILANG AR: “BISA KARENA TERBIASA” REVIEW ALBUM: XSCAPE Gajah YURA Ghost Stories EVENT UPDATE:

JAZZ GUNUNG 2014 MEGADEATH WORLD TOUR ONE DIRECTION CONCERT 2015

MARSHA VERGA: “JANGAN BANGGA KALAU MASIH BELI BAJAKAN”

Pembajakan musik tanah air

BERTO: EKSOTISME SASANDO FELIX WYBER: WUJUDKAN IMPIAN BERMODAL PASSION


EDITOR'S NOTE

INTERLUDE M

usik adalah seni yang keberadaannya lekat dengan masyarakat karena mampu mewakili kegiatan maupun peristiwa yang terjadi di kehidupan. Baik sebagai sarana pencaharian, pendidikan, maupun hiburan. Melihat peta perkembangan industri musik di Indonesia, harus diakui bahwa industri musik adalah penyumbang terbesar di antara 14 subsektor lainnya dalam pengembangan ekonomi kreatif. truktur industri musik telah melahirkan lapangan usaha mulai dari distribusi rekaman, manajemen-representasi-promosi (agensi) musik, jasa komposer, pencipta lagu, dan penyanyi melengkapi aktivitas industri musik. Salah satu faktor yang membuat perkembangan industri musik pesat adalah kebangkitan industri rekaman independen (label indie) dan pemanfaatan teknologi komunikasi (ICT) sebagai media promosi yang efektif. Seperti perkebangan di tahun 2006, musik tidak hanya dinikmati lewat CD, kaset, atau DVD, melainkan RBT (Ring Back Tone), bundling produk musik, dan unduh lagu melalui situs musik. amun, tanpa kita sadari hal tersebut menjadi duri dalam daging industri musik. Tingginya frekuensi pembajakan, rendahnya penghargaan terhadap musisi, serta sarana dan prasarana pertunjukan yang kurang memadai masih menjadi keprihatinan yang mendalam bagi industri musik Indonesia. Berdasarkan data Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI), rasio produk musik legal dengan produk bajakan yang beredar pada tahun 2000 s.d. 2007 adalah 279.577.604 berbanding 2.770.431.068 unit atau 1:10. Ketimpangan angka tersebut diperparah dengan rendahnya tingkat konsumsi terhadap karya musik dalam negeri dari segi pembelian konten musik maupun tiket pertunjukan musik dibandingkan dengan pemenuhan kebutuhan lainnya. etengah abad sudah masyarakat Indonesia hidup dengan mental yang lemah. Budaya ini kian lama mengekang kreativitas musisi dan secara perlahan menyurutkan aktivitas industri musik. Melalui edisi perdana “Lingkaran Setan Pembajakan Musik Tanah Air”, redaksi INTERLUDE mencoba membawa angin segar dalam ketegangan perkara ini.

S

N S

-SEKAR RARASATI2 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com

REDAKSI

PUBLISHER Universitas Multimedia Nusantara CHAIRMAN Samiaji Bintang MANAGING EDITOR Sekar Rarasati EDITORIAL STAFF Eka Laili, Ferlina Tjengharwidja, Michael SW LAYOUTER Sekar Rarasati ILLUSTRATION Wyanet Falasifa PHOTOGRAPHER Yohanes Oky

apa kata mereka

VOXPOP

?

Maya Novita,

Johanes Agung, penyiar Radio

“Tidak mendukung, kalau ada pem-

bajakan ya gak ada respect dan apresiasi ke musisinya atas karyanya. Kalau ada pembajakan, ya buat apa si musisi berkarya kalau ujung-ujungnya dibajak dan ga diapresiasi”

Mahasiswa

“Tidak

setuju, karena semua barang itu punya hak cipta. Bayangin aja kalo barang yang kita ciptain atau punya kita dibajak sama orang lain, kita juga kesel kok”

Eka Laili Rosidha 11140110141

Anggun Tiara, penyiar Radio

“Mendukung , karena sebenarnya mu-

sisi bisa lebih terkenal juga dari pembajakan. Toh sekarang pendapatan utama musisi bukan dari penjualan albumnya. Terus kalau beli album asli tuh berasa gimana gitu, cd nya Cuma di rip ke laptop terus udah ga dipake lagi. Walaupun misalnya beli versi digital, tetep kurang worthy sih. Kecuali gue bener-bener pengen mengapresiasi musisi tertentu.”

Abinta Virgi,

Fifiani Lugito, Michael Septian W 11140110185

Ferlina Tjenghardwijaja 11140110043

Sekar Rarasati 11140110068

JOURNALISM 2011

Mahasiswa

“Tidak

setuju, sebagai orang yang juga berkecimpung di dunia seni aku tidak setuju dengan pembajakan karya. Soalnya tindakan tersebut tidak menghargai hasil karya dan juga proses berpikir si seniman, entah musik atau apapun. Padahal, kan karya itu sudah menjadi hak milik intelektual yang buat, kalau diambil tanpa izin ya mencuri dong”

pembajakan?!

Music Director UMN radio

“Tidak setuju , karena hal tersebut

akan merugikan pihak label dan bagian produksi lainnya. Di sisi lain memang musisi akan lebih dikenal karena orang mudah mendapatkan lagunya, tetapi hasil penjualan CD akan menurun.”

Ritter Willy Putra, Graphic Designer

“Tidak setuju, karena seniman juga

profesi yang perlu dihargai. Produk seni itu gak terjadi secara gampang dan instant, tapi butuh proses, ide, riset, pengerjaan, bakat. Proses itu yang harus kita hargai”

3 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com


EVENT UPDATE

EVENT UPDATE

Megadeath Worldtour Indonesia Diundur

B

doc. Jazz Gunung

Indahnya Jazz, Merdunya Gunung 2014!

M

enikmati pagelaran musik Jazz dengan komposisi etnik di ketinggian 200 meter di atas permukaan laut, beratapkan langit, dan berlatarkan pemandangan gunung Bromo yang indah tentunya hanya bisa kita dapati dalam annual event “Jazz Gunung 2014”. Untuk keenam kalinya event bertaraf internasional ini digelar di panggung terbuka, Java Banana Bromo Lodge, Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Proboling-

go,

Jawa Timur. Pagelaran musik etnik yang diprakasai oleh Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Sigit Pramono ini diselenggarakan untuk wadah mengapresiasi kearifan seni yang dikolaborasikan dengan eksotisme alam Indonesia. “Mengapa di gunung? Baru kali ini Anda bisa menikmati indahnya jazz dan merdunya gunung, selain itu Bromo ini menjadi salah satu identitas Indonesia. Selamat menikmati merdunya gunung,”

4 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com

jelas Butet dalam official video The fifth Jazz Gunung 2013. Berhasil melahirkan rasa rindu dengan nuansa etnik dan hangat selama lima tahun berturut-turut, tahun ini Jazz gunung akan menghangatkan suasana Bromo dengan menghadirkan performer yang tak kalah segar dengan tahun-tahun sebelumnya. Dalam Jazz Gunung 2014 yang akan diselenggarakan pada 20-21 Juni 2014 ini, para hadirin akan dihibur oleh Nita Aartsen Quatro fea-

oleh Sekar Rarasati

turing Yeppy Romero, Ligo Trio, Ring of Fire Project by Djaduk Ferianto featuring Nicole Johanntgen, The Overtunes, Monita Tahalea & The Nightingales, Syahrani and Queenfireworks, Indro Hardjodikoro The Fingers, Bintang Indrianto Trio, dan Jazz Ngisoringin. Apakah Anda tertarik bergabung untuk menikmati hangatnya Bromo dalam balutan musik jazz khas tanah air? Dapatkan info selengkapnya di www.jazzgunung.com

atal konser di bulan Maret, Dave Mustaine mengumumkan bulan penggantinya. “To our Indonesian & South East Asian fans, we’ve rescheduled in August. Hold onto yer tickets, & we’ll see ya then,” jelas Dave Mustaine melalui akun twitternya. Megadeath world tour yang berhasil mengguncang Jakarta pada tahun 2001 dan 2007 akhirnya akan kembali hadir untuk ketiga kalinya pada Agustus mendatang. Meskipun

belum d i k et a h u i tanggal dan harinya, para Megaf a n s Indonesia merasa tidak keberatan dengan penjadwalan ulang konser. Original Production selaku promotor memastikan bahwa Megadeath world tour akan terselenggara pada bulan Agustus nanti di Tennis Indoor Senayan.

Para Megafans yang sudah membeli tiket pun diharapkan untuk tidak khawatir karena tiket masih berlaku di bulan Agustus. “YES tiket 5 Maret berlaku u AGUSTUS Show, Stay Tuned for New Date in August 2014

tx,” tulis Original Production lewat akun resmi @tporiginal777. Siap hadiri konser megah group metal asal Amerika ini? kunjungi www.tommypratama. com untuk info terkini. Sekar Rarasati

doc. Jazz Gunung

W

Tiket One Direction Dijual Mulai Mei 2014 !

alaup u n baru akan menggelar konser di 2015 mendatang, tapi penjualan tiket konser One Direction sudah mulai dijual secara offline pada Sabtu, 31 Mei 2014. Sementara itu, penjualan tiket secara online baru terlaksana pada 2 Juni lalu. Ismaya Live dan Sound Rhytm selaku promotor memilih The Kasablanka Hall, Mall Kota Kasablanka, Jakarta sebagai venue penjualan tiket offline. Mereka memilih tempat ini untuk memberikan

kenyamanan kepada Directioners (sebutan untuk fans One Direction) dalam mengantri tiket dengan menyediakan kursi-kursi. Penjualan tiket offline dimulai pukul 10.0020.00 WIB. Berbeda dari penjualan tiket konser pada umunya, sebelumnya promotor meminta fans untuk mengisi ‘form order’ terlebih dulu untuk memudahkan serta mempercepat proses transaksi. Formulir tersebut berisi data pembeli, cara pembayaran, pemesanan tiket dan

nama pemegang tiket. Begitu tiba di venue, pembeli akan diberikan wristband yang berisi nomor antrian. Untuk penjualan tiket secara online dimulai pada Senin, 2 Juni lalu di website www.1dindo.com mulai pukul 10.00 WIB. Ada beberapa tingkatan harga tiket yang dijual, yaitu Festival A & B : Rp 1.400.000, Festival C & D : Rp 1.200.000, Festival E & F : Rp 1.000.000, West & East VIP : Rp 1.750.000 Tribune 1 & 3: Rp 750.000, Tribune 2 : Rp

500.000, d a n Hot Seat : Rp 2.750.000 Konser boyband beranggotakan Harry Styles, Zayn Malik, Louis Tomlinson, Liam Payne dan Niall Horan ini bertajuk “One Direction – On The Road Again Tour 2015″. Kelima lelaki tampan tersebut akan menggelar konser pertama mereka di Indonesia pada 25 Maret 2015 mendatang di Gelora Bung Karno. So, Directioners… are you ready for it? oleh Eka Laili

5 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com


TOPIK PERKARA

Lingkaran Setan Pembajakan Musik Tanah Air oleh Eka Laili R ilustrasi: Wyanet Falasifa

M

usik merupakan gabungan dari beberapa suara yang disusun sedemikian rupa hingga menciptakan suatu irama, lagu dan harmonisasi terutama suara yang dihasilkan oleh alatalat yang dapat menghasilkan irama. Musik memiliki berbagai macam fungsi bagi kehidupan manusia. Untuk mengungkapkan perasaan, meningkatkan kecerdasan, ada pula yang menggunakan musik sebagai alat pengobatan, dan fungsi musik yang paling utama ialah sebagai media hiburan. Musik telah ada sejak zaman prasejarah yang digunakan sebagai pengiring upacara-upacara adat kepercayaan. Sementara itu perubahan sejarah musik terbesar terjadi pada abad pertengahan yang disebabkan oleh perubahan keadaan dunia yang semakin berkembang. Pada abad ke-2 dan ke-3 sebelum masehi muncul musik Hibrani yang digunakan sebagai pengring kegiatan Gereja. Musik itu kemudian tumbuh berkembang dan maju pesat di Eropa dengan improvisasi pada alat musik seperti biola dan cello. Memasuki abad ke20, Perancis menjadi pelopor dari musik Impresionistis menjadi Ekspresionistis. Di Indonesia sendiri, musik berkembang sejak sebelum era 70-an. Dimana saat itu lebih banyak mengambil tema perjuangan, keberanian dan semangat kebangsaan. Setelah era 70-an musik pop mulai berkembang di Indonesia. Mulai dari munculnya Koes bersaudara yang dijuluki The Beatlles Indonesia, penyanyi-penyanyi solo hingga grup-grup band serta boyband dan girlband yang

6 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com

TOPIK PERKARA masih hits hingga saat ini. Masyarakat Indonesia secara umum adalah penikmat berbagai jenis musik. Pop, Rock, Jazz, Melayu,

Pembajakan Layaknya Lingkaran Setan Dangdut dan masih banyak lagi. Mereka memahami musik sebagai salah satu kebutuhan hidup yaitu hiburan. Terlebih lagi saat ini musik telah didukung oleh berbagai jenis media yang dapat memutarkan musik dimana dan kapan saja seperti radio, televisi, alat komunikasi (handphone, tablet, laptop), juga internet.

S

ayangnya, keberadaan musik ini ternyata dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Pembajakan. Ya, kata tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Sudah hampir setengah abad kegiatan ilegal ini dilakukan. Musik-musik yang dijual di pasaran dalam bentuk kaset ataupun kepingan CD tersebut di copy kedalam CD kosong kemudian diperjualbelikan kembali di pasaran secara bebas. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab pembajakan ini semakin menjadi di Indonesia. Pertama, persoalan ekonomi. Harga CD asli yang dijual di toko-toko resmi memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan harga CD bajakan yang dijual di pasar bebas sedangkan isi lagu yang disajikan pun sama dan kualitasnya tidak jauh berbeda. Kedua, para pembajak ini dapat meraup keuntungan yang besar tanpa bersusah payah dan melewati proses panjang untuk mendapatkan hak menjual karya orang lain. Selain itu, mereka juga tidak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk membayar musisi, pencipta lagu, iklan serta pajak. Yang mere-

Beragam Jenis Pembajakan di Indonesia ka butuh hanya software untuk mengcopy lagu, CD kosong dan lapak untuk berjualan. Ketiga, kemajuan teknologi yang semakin pesat juga menjadi alamat baru terjadinya pembajakan. Terlebih dengan adanya layanan internet yang semakin memfasilitasi kegiatan pembajakan ini. Kini kita sudah tidak akan kesulitan untuk mencari lagu yang kita inginkan bahkan yang belum pernah kita dengar sekalipun di masa kini. Tingkat pembajakan di industri musik mencapai lebih dari 95%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pembajakan software sebesar 87% sehingga menempatkan Indonesia pada posisi ke-11 pembajakan tertinggi di dunia. Mengingat semakin meningkatnya kemampuan teknologi, aksi pembajakan ini pun turut meningkat melalui media yang beragam, sebagai berikut:

CD

media satu ini sudah bukan hal yang asing dan paling banyak di gunakan untuk memperdagangkan lagu-lagu yang telah dibajak. 7 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com


TOPIK PERKARA

TOPIK PERKARA Tidak butuh waktu lama untuk mencopy lagu dari CD original ke CD kosong yang disiapkan untuk menampung lagu-lagu yang diinginkan. Parahnya lagi, bahkan dalam satu keeping CD dapat menampung lebih dari tiga album maupun artis. Keeping-keping CD yang telah siap dipasarkan, dijual hanya dengan harga kisaran Rp 7000 – Rp 25000 saja. Lebih murah dibandingkan membeli CD asli yang harganya bisa dua atau tiga kali lipatnya.

Internet

inilah media baru dalam aksi pembajakan lagu yang sulit diberantas karena media ini amat sangat memfasilitasi pembajakan sementara keamanannya masih sangat minim. Banyaknya situs yang menyediakan layanan untuk mengunduh (download) lagu-lagu secara gratis. Sekalipun di proteksi, pengguna hanya diminta untuk membuat akun di dalam situs tersebut dan mereka dapat mengakses serta mengunduh lagu-lagu dengan gratis. Di sisi lain, ada pula pengguna yang nakal. Ia membeli CD lagu original lalu meng-copy seluruh seluruh lagunya ke device yang ia miliki kemudian di unggah (upload) ke website atau blog pribadinya sehingga dapat diunduh oleh pengguna lain dengan bebas. Atau dengan sengaja ia perjual belikan ke pihak lain dalam bentuk MP3 yang tentunya mudah di copy kesana kemari. Biasanya kegiatan ini dilakukan di pusat penjualan elektronik dan menawarkan pengisian Ringtone.

Siapakah Korban Pembajakan?

S

ungguh sedih rasanya melihat hasil kerja keras dari memakan waktu lama untuk menghasilkan sebuah lagu bahkan sebuah album musik tidak dihargai dengan baik. Kemudian setelah album tersebut diluncurkan ke khalayak, mereka malah membajaknya dengan memperjualbelikannya secara ilegal. Mereka banyak yang tidak tahu bahwa ada pihak-pihak yang sangat di-

8 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com

rugikan akibat pembajakan ini. Terutama label musik sebagai distributor penjualan kaset atau CD serta Musisi/artis yang telah susah payah membuat sebuah karya tapi dengan seenaknya pihak-pihak tidak bertanggung jawab disana melakukan pembajakan tanpa memberikan keuntungan kepada label maupun artis. Selain merugikan label dan artis yang telah bekerja keras, akibat pembajakan ini juga berdampak pada perekonomian negara.

“Potensi kerugian industri musik Indonesia akibat pembajakan mencapai triliyunan.”

B

erdasarkan keterangan Gumilang Ramadhan, Direktur PT Musica Studio’s “Kami kehilangan triliunan rupiah karena lagu diunduh secara ilegal,” kepada SWA Online, di sela-sela acara Digital & Music Matters 2013, yang diadakan di Singapura. Dan menurut Menteri Perdagangan Indonesia Gita Wirjawan, potensi kerugian industri musik Indonesia akibat pembajakan mencapai triliyunan. Padahal, jika nilai konsumsi musik per orang sebesar Rp 20.000 per tahun, nilai potensi konsumsi musik mencapai Rp 5 triliun per tahun. Gita mengatakan, pendapatan para musikus hanya sepuluh persen dari potensi sebesar Rp 5 triliun dan kondisi tersebut dirasakan tidak adil. Oleh karena itu, pihaknya dan beberapa instansi terkait akan terus memerangi pembajakan yang terjadi di Indonesia. (dikutip dari artikel di Kompasiana.com: Pembajakan Musik di Indonesia dan Solusi Mengatasinya oleh Agus Candra, Juni 2013)

P

embajakan memang masih sulit untuk diberantas, tapi paling tidak masyarakat dapat meminimalisirkan kegiatan tersebut dengan mulai membiasakan diri membeli CD atau kaset original yang dijual di gerai resmi. Atau mengunduh lagu di situs resmi seperti iTunes yang tentunya tidak dapat diperoleh secara gratis. (ELR)

“Bisa Karena Terbiasa” oleh Eka Laili R

R

adio merupakan satu-satunya media yang mengutamakan suara dalam penyajiannya, dalam hal ini 90% bagiannya adalah musik. Oleh karena itulah radio harus memutarkan lagu-lagu yang didapat secara legal dan orisinil dari label musik resmi. Ketua Asosiasi Music Director Indonesia (AMDI), Gilang AR mengungkapkan pembajakan musik di Indonesia ini agaknya sulit

diberantas karena sudah menjadi tradisi. Tapi paling tidak dapat di minimalisir dengan cara membiasakan diri untuk membeli CD asli yang dijual di toko-toko kaset resmi. Gilang yang juga merupakan Music Director dari 88,0 FM Mustang Radio Jakarta selalu membiasakan diri sejak dulu paling tidak membeli satu atau dua CD lagu dalam sebulan. “Bisa karena Terbiasa”, ungkapnya. Walaupun di zaman sekarang fisik (CD, Kaset, dsb) sudah tidak begitu diperhitungkan karena sudah berpindah ke digital, kita harus mulai membiasakan diri.

Jangan Bangga Kalau Masih Beli Bajakan Pembajakan musik di Indonesia memang sudah bersarang hampir dari setengah abad lalu. Label musik termasuk pihak yang paling dirugikan. Perusahaan yang mengelola rekaman suara dan penjualannya, termasuk promosi dan perlindungan hak cipta. Mereka biasanya memiliki kontrak dengan artis-artis dan manajernya. Hal inilah yang dilakukan oleh Marsha Verga sebagai Radio Promotion – Domestic di Universal Music Indonesia. “Membajak sama saja tidak

menghargai musisi yang udah susah payah buat sebuah karya” jelasnya. Sayangnya, pembajakan ini sudah terlanjur menyebar luas karena selain melalui CD, pembajakan pun bisa kita lakukan sendiri via laptop, handphone dan dapat dilakukan dimana saja. Menurutnya, sejauh ini tindakan label untuk mengurangi pembajakan ialah dengan sosialisasi di media sosial atau saat launching album mengatakan untuk selalu membeli CD asli atau mendownload via iTunes. Ia juga berpendapat, akan ada kebanggaan tersendiri ketika kita membeli album atau lagu yang asli. (ELR) 9 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com


SOSOK

SOSOK

Felix Wyber Wujudkan Impian Bermodal Passion

L

elaki berkacamata ini terlihat asik berbagi cerita mengenai kehidupan dengan sekumpulan anak muda. Sesekali tawa riuh terdengar bahkan beberapa orang sampai tergelak mendengar selipan cerita jenaka di antara pengalaman hidupnya. Biar begitu, bola mata tersorot kagum mendalami setiap kata yang masuk ke telinga para pendengar. Malam itu di sebuah ruangan sederhana berbalut cat putih terang, Felix Octavianus Wyber berhasil membawa anak-anak muda memiliki semangat hidup yang baru. “There is none like you.. no one else can touch my heart like you do..” Lantunan lagu bergenre rohani dibawakannya dengan merdu, memberikan first impression yang baik bagi anak-anak muda kala itu. Menyisakan perbincangan hangat dan rindu akan kehadiran sosok Kak Felix lagi untuk memberikan waktunya, sekadar 30 menit hanya untuk

menuangkan pengalaman dan berbagi cerita kembali. 10 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com

Dibalik sosok supel dan mudah bergaulnya, pria kelahiran 13 Oktober 1984 ini memang terbiasa menjadi pembicara dan memotivasi orang di sekitarnya. Biar begitu, menjadi pembicara bukanlah fokus utamanya. Lelaki berkulit putih ini adalah seorang musisi lepas yang berdiri dari atas panggung yang satu ke panggung yang lain. Jauh sebelum dirinya mencapai cita-citanya ini, orangorang pernah meremehkannya.

“Saya punya impian untuk bangun siang hari, kerja di malam hari, tapi penghasilan besar,”

Tetapi remehan orang-orang tersebut berhasil dipatahkan dengan pencapaiannya menjadi musisi. Sejak 2006, pria yang akrab disapa Felix ini telah memasuki dunia musik dan berhasil menciptakan satu lagu bersama temannya. Saat itu, lagu berjudul Pada Waktunya yang dinyanyikan oleh Ivan Handojo ini hanya untuk dijadikan sebagai original soundtrack film rohani saja. Tetapi lagu tersebut laris diputar di radio-radio dan membuatnya menjadi lebih mudah untuk berkarya bersama teman-teman musisi lainnya. Jalan inilah yang ditempuhnya dan akhirnya membuat Felix Wyber berhasil menjadi pemain musik khususnya sebagai keyboardis seperti di Baywalk Mall Pluit, Living World, dan Karnaval Sunter. Di sela kesibukannya dalam bermusik pun, Felix acapkali mengerjakan project membantu Regina Idol atau Sean Idol. Bisa mencapai posisi seperti saat ini tentunya diawali dengan niat dan perjuangan. Apabila keadaan seperti tak mendukung apa yang Felix lakukan, lantas dia teringat akan motivasi dari kakak mentor yang selalu membina dan mengajarinya banyak hal. Lelaki tersebut adalah (alm) David Tuti Salanyamu. Beliau adalah seorang keyboardis juga yang sering mengajaknya jalan-jalan, mengajarinya untuk mengenal dunia rekaman, dan belajar untuk melangkah dalam segala kondisi. “Aku salut sama dia bukan karena kehebatannya, tetapi karena dia bisa mengubah kelemahannya menjadi kehebatan.Dia bukan orang yang mudah menyerah,tetapi orang yang selalu berjuang untuk memberikan yang terbaik, bah-

kan sampai akhir hidupnya dia masih memberikan yang terbaik,” ceritanya penuh semangat, melalui media voice note yang terdapat pada aplikasi whatsapp massanger.

S

ebagai seorang musisi yang juga sudah pernah menciptakan lagu dan bergelut dengan nada-nada setiap harinya, Felix menolak keras jika disinggung masalah pembajakan yang marak terjadi di industri musik. Masih melalui media voice note, suaranya terdengar menggebu-gebu dan semangat menentang pembajakan yang terjadi di industri musik Indonesia. Bagi anak pertama dari dua bersaudara ini, pembajakan bukanlah masalah popularitas dan uang yang terus-terusan masuk ke kantongnya, melainkan apresiasi yang sulit terbayar dengan nominal setinggi apapun. “Bikin lagu itu susah dan tahap berikutnya yang susah adalah compose aransemen, compose lagunya, nadanya, musiknya, trus tiba-tiba nadanya kenapa ke sini, ke sana, itu ga sembarangan,” tuturnya tegas. Menurut Felix sendiri, setiap untaian lagu yang sederhana sekalipun tetap memiliki makna yang kita tidak pernah ketahui. Bahkan sebagai pendengar, kita tidak pernah tahu ada kekuatan apa di balik terciptanya sebuah lagu. Hal itulah yang layak dihargai dan diapresiasi, mengingat banyaknya lagu-lagu yang tercipta berdasarkan pengalaman. Tentu saja hal ini didukung dengan banyaknya musisi yang menciptakan lagu berdasarkan kisah hidupnya atau pengalaman yang didapatnya.

Untuk menanggulangi hal yang sudah mengakar kuat di Indonesia ini, Felix mengaku pembajakan di industri musik dapat dihentikan pertama-tama melalui diri sendiri. “Ya gak usah teriakin orang untuk ga beli bajakan atau bakar-bakarin CD bajakan. Dari kita sendiri dulu aja, jangan beli bajakan,” ucapnya mantap. “ Karena beli karya asli itu memang sedikit mahal, tapi yang kita hargai itu adalah bagaimana proses si musisi memutar otak untuk bikin karya yang menghibur masyarakat,” jelasnya lagi. Penggemar warna hitam ini pun kemudian berpesan bagi generasi muda yang rindu untuk bergabung dalam dunia musik sekuler untuk keep going dan keep fighting, karena menurut Felix, dunia musik adalah dunia yang tidak mudah untuk diselami.

“Buat generasi muda, jangan mudah menyerah karena dunia yang kamu mau masuki adalah dunia yang belum banyak pendukungnya. Tapi kalau passion, buktiin kamu bisa menghasilkan sesuatu,” tuturnya mengakhiri percakapan. oleh Ferlina Tjengharwidjaja

11 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com


“King Michael of Jackson Pop”

“Michael meninggalkan sejumlah performa musikal yang dengan sangat bangga dapat kami tampilkan melalui visi beberapa produser musik yang baik pernah bekerja secara langsung [dengan Jackson] maupun sempat menunjukan hasrat besar untuk bekerja dengannya,” ujar Reid. “Kami amatlah bangga dan merasa terhormat untuk menyajikan musik ini pada dunia.”

B oleh Michael Septian Wahyudi

Judul album Xscape sendiri diambil dari salah satu single yang terdapat dalam album tersebut. Seperti layaknya album – album Michael Jackson sebelumnya, seperti Thriller, Bad, Dangerous dan Invincible. yang mencomot salah satu judul single lagunya untuk dijadikan judul album, Reid pun tidak mau merubah kebiasaan Jackson amun bagi para pencinta musiknya jangan takut tidak tersebut. Lagu “Xscape” sendiri ditulis dan dapat mendengar kreasi – kreasi yang baru dari seodiproduksi oleh Jerkins, sehingga menjadi rang Michael Jackson. Setelah meninggal sejak 5 tahun satu-satunya lagu dalam Xscape yang diyang lalu, MJ meluncurkan sebuah album yang bahkan belum garap kembali oleh produser yang sejatinpernah dirilis sebelumnya oleh produser manapun, berjudul Xsya terlibat dalam pengerjaan versi aslinya.. cape. Album ini dirilis pada tanggal 13 Mei lalu dan langsung mendapat sambutan hangat dari para fans Michael Jackson, Salah satu yang menjadi faktor bahkan penjualan album ini meledak di pasaran yang dapat juga pendukung meledaknya album ini adadibeli melalui media online dan salah satunya melalui iTunes. lah sesosok Justin Timberlake, seorang penyanyi yang tidak perlu diragukan lagi lbum Xscape tersebut memuat 8 lagu Jackson yang kualitasnya, berduet dengan MJ dalam berbeda dengan lagu – lagunya yang sebelumnya. Allagu “Love Never Felt So Good”. Denbum ini juga diproduseri oleh beberapa produser gan sentuhan Timberlake, lagu ini pun yang berbeda dengan sentuhan yang lebih modern dan unmenjadi salah satu single andalan Xscape sur R&B. Proyek Xscape ini berawal dari inisiatif L.A.Redengan sentuhan R&B yang diberikannya. id, yaitu selaku pimpinan Epic Records yang merupakan label rekaman Jackson sejak album “Off The Wall” pada 1979. BeliLove Never Felt So au yang terus mencari – cari isi katalog rekaman Jackson, unGood tuk mengumpulkan materi lagu yang telah diisi bagian vokaChicago lnya, oleh Jackson secara komplet, tapi belum sempat dirilis.

egitulah julukan untuk Michael Jackson, sang legenda musik pop. Seusai kepergiannya dari dunia meninggalkan bekas luka yang mendalam, apalagi terhadap pecinta musik di seluruh dunia. Masih banyak masyarakat yang mendambakan penampilan bintang pop terbesar ini bernyanyi dan menari – nari diatas panggung.

N A

M

elalui inisiatifnya, Reid pun menunjuk beberpa produser musik yang dapat menghidupkan lagu – lagu Jackson dengan suasana yang lebih “fresh” terhadap lagu – lagu yang telah ia seleksi dan pilih untuk dirilis. Timbaland adalah nama utama dibalik kesuksesan Xscape selaku produser utama. Namun bukan hanya Timbaland yang memproduseri album ini melainkan dibantu dengan beberapa produser lainnya seperti Rodney Jenkins, Stargate, Jerome “Jroc” Harmon dan John McClain.

Loving You A Place With No Name Slave to The Rhythm Do You Know Where Your Childern Are Blue Gangsta Xscape

“Michael meninggalkan sejumlah performa musikal yang membanggakan,” 12 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com

13 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com


REVIEW ALBUM

INSTRUMEN

Eksotisme Sasando dalam Berto

S

oleh Michael Septian Wahyudi

elama ini, musik dikatakan sebagai sebuah bahasa yang universal. Hal itu juga mengandung arti bahwa musik dapat mengekspresikan apapun yang ingin disampaikan dalam hati maupun pemikiran setiap manusia. Tidak ada baik – buruk maupun bagus – jelek dalam dunia musik, yang ada hanyalah perbedaan cara kita mengekspresikan bahasa kita melalui nada – nada atau alunan suara yang menciptakan sebuah musik yang indah.Tidak lengkap rasanya bila kita mendengar musik atau suatu lagu tanpa diiringi instrumen atau alat musik, akan lebih indah bila terdapat alat musik yang mengiringi alunan musik. Pada edisi kali ini, tim INTERLUDE akan membahas mengenai sebuah alat musik tradisional dari Nusa Tenggara Timur, tepatnya Rote.

C

oldplay telah merilis album barunya yang berjudul “Ghost Stories” pada tanggal 19 Mei lalu. Album ini merupakan album keenam bagi Coldplay yang digarap bersama Paul Epworth (Produser), Jon Hopkins, Rik Simpson, dan Dan Green. Dalam album ini juga Christ Martin mengajak anaknya, Apple, untuk mengisi salah satu lagunya yang berjudul “A Sky Full of Stars”. Selain itu salah satu single yang cukup meledak adalah “Magic”. Penjualan album Ghost Stories ini pun mencapai hasil yang luar biasa dengan memuncaki penjualan album iTunes di 72 negara, mulai dari Amerika, Inggris, Australia, Afrika Selatan, India, Brazil, sampai Uganda. Setelah album kelimanya (Mylo Xyloto), tahun lalu Coldplay sendiri sempat merilis “Atlas”, soundtrack dari film The Hunger Games: Chasing Fire, dan hanya satu lagu setelah itu (single) yang berjudul “Midnight”. “Midnight” sendiri ternyata masuk dalam album terbarunya (track 5) dan menonjolkan sisi musik yang berbeda dibandingkan lagu – lagu Coldplay sebelumnya dengan mengurangi elemen EDM dan lebih menonjolkan warna vocal sang vokalis, Chris Martin.

M

uhammad Tulus Rusyidi atau pria yang kerap disapa Tulus ini memiliki warna musik yang cukup menyegarkan di kancah musik Indonesia. Setelah sukses melaui album pertamanya, kini Tulus kembali merilis album keduanya yang berjudul Gajah. Album kedua dari pria yang juga berprofesi sebagai seorang arsitek ini, lebih menonjolkan kualitas vocal Tulus sebagai seorang penyanyi papan atas di Indonesia, dengan karakternya yang begitu khas. Karakter vokal yang unik membuat Tulus menjadi penyanyi yang mudah untuk dikenali oleh masyarakat hanya dengan mendengar suaranya saja. Selain itu, dengan lirik lagu yang puitis yang ia ciptakan mampu membuat pendengarnya terbuai, terlebih lagi kaum hawa. Di album ini, Tulus lebih banyak mengeksplor genre musik yang lebih luas dengan memasukan unsur Motown, soul, hingga doo – woop pada lagu “Satu Hari Di Bulan Juni”. Dengan pemilihan tema yang tidak biasa didengar dalam musik – musik pop Indonesia,Tulus mematahkan stereotip yang ada bahwa musik pop Indonesia harus mudah didengar dan memenuhi ekspektasi pasar. Tulus menciptakan pasarnya sendiri bagi pecinta musik, sehingga saat ini Tulus telah menjadi salah satu penyanyi papan atas dan ikon musik baru di Indonesia dengan aliran musik yang tidak Mainstream.

14 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com

Y

ura merupakan penyanyi solo pendatang baru yang membawa angin segar dalam blantika musik tanah air. Dinaungi oleh musikbagus.org. wanita yang bernama asli Yunita Rachman ini merupakan salah satu penyanyi jebolan The Voice Indonesia dengan coach – nya Glenn Fredly. Pertemuan Yura dan Glenn di The Voice Indonesia inilah yang berujung pada album Yura sendiri. Musikbagus.org sendiri merupakan portal musik milik Glenn sehingga Glenn sendirilah yang menjadi executive produser di album perdana YURA ini. Selain Glenn,Ari‘Aru’Renaldi (produser Tulus, Vidi Aldiano, Mocca, dan lainnya) juga ikut bekerjasama dalam produksi album YURA. BALADA SIRKUS menjadi single pertama dara manis asal Bandung kelahiran 9 Juni 1991 ini. Lagu ini merupakan lagu ciptaannya sendiri dengan tema yang tidak lazim seperti kebanyakan lagu pop yang kita dengar di Indonesia, sehingga sempat disebut sebagai Tulus versi wanita. Judul albumnya sendiri diambil dari namanya (self-titled). Menurut mahasiswi FIKOM UNPAD ini, ia ingin memperkenalkan pada dunia tentang dirinya sehingga judul albumnya pun menggunakan namanya, YURA.

Sasando

atau Sasandu (bahasa rote) adalah sebuah alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara memetik dengan jari-jemari tangan seperti gitar. Sasando sendiri merupakan alat musik yang terbuat sebagian besar dari bambu. Bentuk sasando secara umum terlihat mirip dengan alat musik petik lainnya, seperti gitar, biola, atau kecapi. Namun ada beberapa perbedaan pada detilnya yaitu pada bagian utama sasando berbentuk tabung panjang, dan pada bagian tengah melingkar dari atas ke bawah diberi penyangga (senda-bahasa rote) untuk merentangkan dawai atau senar yang bertumpu ke bawah. Penyangga ini diukur sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan nada yang berbeda-beda pada setiap petikan dawai, seperti halnya menyetel suara gitar hingga tidak lagi terdengar fals. Selain itu, ada pula sebuah wadah yang berbentuk seperti sayap yang berfungsi sebagai alat resonansi suara. Wadah atau sayap ini terbuat dari anyaman lontar (haik). Secara harafiah nama sasandu dalam bahasa aslinya, yaitu rote berarti “alat musik yang bergetar atau berbunyi”. Sasando sendiri dapat dikatakan sebagai alat musik yang sangat tua karena konon sasando telah digunakan di kalangan masyarakat rote sejak abad ke-7. Sasando sendiri memiliki beberapa cerita rakyat mengenai asal – usulnya Ceritra ini bermula dari terdamparnya seorang pemuda bernama Sangguana di pulau Ndana yang kemudian dibawa oleh penduduk sekitar ke hadapan Raja Takalaa. Dibawanya Sangguana kehadapan Raja Takalaa membuat Sangguana bertemu pada putri Raja dan jatuh cinta pada sang putri. Namun tidak semudah itu bila Sangguana ingin meminang putri Raja, Raja memberikan sebuah syarat dimana Sangguana harus membuat sebuah alat musik yang lain daripada yang lain bahkan yang belum pernah ada sebelumnya. Singkat cerita Sangguana pun bermimpi memainkan alat musik yang indah bentuknya dan merdu suaranya. Berawal dari mimpinya, Sangguana menciptakan sebuah alat musik yang diberi nama Sasandu. Kemudian sasandu tersebut diberikan kepada putri raja dan putri raja memberi nama Hitu (tujuh) yang berarti 7 (tujuh) dawai sasando bergetar bersamaan saat dipetik. Karena berhasil memenuhi keinginan raja, maka Sangguana akhirnya mempersunting sang putri. Demikianlah asal mula terciptanya alat musik sasando ini.

Profil Berto

Walaupun sasando dapat dikatakan sebagai alat musik tradisional, tapi sudah cukup banyak masyarakat yang mulai mengenal alat musik sasando ini. Salah satu orang yang berhasil memperkenalkan alat musik tradisional sasando adalah Berto Pah. Berto Pah merupakan seorang penyandang tuna daksa asal NTT yang pernah mendalami keterampilan Elekro selama mengikuti rehabilitasi vokasional penyandang cacat di BBRVBD Cibinong, Kementerian

Sosial RI pada tahun 2008. Pemuda 23 tahun ini bangga memperkenalkan alat musik tradisional pulau Rote di Nusa Tenggara Timur ini kepada dunia melalui salah satu ajang pencarian bakat, yaitu Indonesia Mencari Bakat. Dengan suara sasando yang berdenting halus seperti harpa, Berto selalu berhasil seakan - akan ‘menghipnotis’ pendengarnya untuk menikmati permainan jari-jari berto saat memetik senar sasando. Salah satu penampilan terbaiknya adalah saat anak dari Jermias Pah ini memainkan sebuah kolaborasi dengan Gita Gutawa, dengan membawakan lagu ‘Sempurna’ karya Andra and The Backbone. Selain mahir memainkan alat musik khas Rote ini, Berto juga dikenal sebagai seorang pria yang sederhana dan rendah hati. Hal tersebut dapat terlihat dari hari dimana Berto harus tereliminasi dari ajang pencarian bakat tersebut dan dihantarkan dengan airmata oleh Rianty Cartwright. Sebagai juri, Rianty terlihat sangat kehilangan seorang Berto dimana sudah jarang sekali dimasa ini adanya orang yang masih berniat untuk melestarikan alat musik daerah dan tidak malu, seperti Berto.

15 | INTERLUDE | Juni 2014 | www.interlude.com


INTERLUDE  

Music Magazine Indonesia a project by Eka Laili, Ferlina Tjengharwidjaja, Michael Septian W, dan Sekar Rarasati journalism UMN 2011

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you