Issuu on Google+

SAVE OUR (FISHERY) WATER Oleh :

ROMI NOVRIADI

• Pengendali Hama dan Penyakit Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan • Mahasiswa Master in Aquaculture Universiteit Gent- Belgia

Kita tentu sama-sama menyadari bahwa air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan. Tanpa adanya air bisa dipastikan tidak akan ada kehidupan. Namun air juga dapat berperan sebagai sumber bahaya bila kuantitas maupun kualitasnya tidak terjaga. Kondisi sumber air yang ada saat ini seperti sungai, danau, air tanah, mata air, dll sudah mengalami proses penggunaan secara berlebihan, dan bahkan tidak jarang air yang ada tidak mampu untuk mendukung kehidupan, khususnya kehidupan organisme akuatik tertentu. adanya degradasi baik kuantitas maupun kualitas ini semakin ditambah dengan isu perubahan iklim yang semakin meningkat sementara pemerintah saat ini telah mencetuskan untuk memprioritaskan ikan sebagai salah satu sumber pakan utama yang notabene sangat membutuhkan air untuk tumbuh dan berkembang. Fenomena terjadinya Krisis air terjadi di hampir disemua wilayah P. Jawa dan sebagian Sumatera, terutama kota-kota besar baik akibat pencemaran limbah cair industri, rumah tangga ataupun pertanian. Selain merosotnya kualitas air akibat pencemaran, krisis air juga terjadi karena berkurangnya ketersediaan air dan terjadinya erosi akibat pembabatan hutan di hulu serta perubahan pemanfaatan lahan di hulu dan hilir. Menyusutnya pasokan air juga terjadi pada beberapa sungai besar di Kalimantan. Bahkan sungai-sungai tersebut mengalami pendangkalan akibat minimnya air pada saat kemarau serta ditambah erosi dan sedimentasi. Timbulnya degradasi lingkungan ini tentunya menimbulkan dampak tersendiri bagi masyarakat. Dan anehnya berbagai kasus akibat pencemaran lingkungan ternyata sangat sulit untuk dibuktikan di muka pengadilan. meskipun data maupun fakta telah mendukung terjadinya pencemaran, namun tetap saja masyarakat ditakdirkan untuk selalu menjadi pihak yang kalah. Salah satu contoh kasus pencemaran lingkungan perikanan dialami oleh masyarakat pembudidaya ikan di batu licin, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Akibat limbah pertambangan, puluhan ribu ekor ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) siap ekspor mati secara massal, sehingga masyarakat mengalami kerugian hingga miliaran rupiah. Pepatah pollution knows no boundaries semakin terlihat dengan semakin meluasnya dampak pencemaran hingga ke wilayah sekitar.


Bila kondisi ini kita kaitkan dengan misi pemerintah untuk menjadikan ikan sebagai protein hewani utama yang aman dan bernutrisi tinggi dimasa yang akan datang, tentu pencemaran yang terjadi akan menjadi faktor penghambat. Karena air sebagai media hidup ikan tentu menjadi prioritas untuk diperhatikan. Terlebih lagi saat ini sektor perikanan tangkap sudah tidak dapat diharapkan lagi. Penangkapan berlebih atau ‘over-fishing’ sudah menjadi kenyataan pada berbagai perikanan tangkap di dunia – Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan 75% dari perikanan laut dunia sudah tereksploitasi penuh, mengalami tangkap lebih atau stok yang tersisa bahkan sudah terkuras – hanya 25% dari sumberdaya masih berada pada kondisi tangkap kurang (FAO, 2002). Solusi untuk tetap memenuhi kebutuhan ikan dimasyarakat tentu adalah sektor budidaya. Namun dikarenakan budidaya merupakan teknologi perikanan yang terkontrol, maka kunci utama untuk keberhasilan produksi adalah kondisi air yang baik.

Provinsi Kepulauan Riau, yang merupakan provinsi kelautan dengan luas wilayah lautan lebih besar daripada luas daratan dengan perbandingan luas laut dan darat adalah 2% daratan atau sekitar 8.201,707 Km2 dan 98% lautan atau sekitar 417.012,969 Km2, memiliki potensi yang kuat untuk pengembangan perikanan. Namun dengan kondisi air yang ada, wilayah yang masih memiliki prospek untuk pengembangan budidaya diantaranya adalah Kabupaten Karimun, Lingga dan Natuna. Untuk kota Batam dan Kabupaten Bintan, limbah yang ada akibat berbagai kegiatan industri dan pertambangan menjadi salah satu faktor penghambat produksi perikanan yang berkelanjutan. dan bahkan untuk Kabupaten Natuna sendiri, saat ini telah menjelma menjadi “idola” baru bagi para pelaku usaha perikanan budidaya, dikarenakan kondisi sumber daya air yang masih jernih dan baik untuk perkembangan ikan. Untuk mengatasi krisis air khususnya bagi pengembangan perikanan di Provinsi Kepri, beberapa hal yang coba ditawarkan oleh penulis diantaranya adalah : 1) Melindungi dan mengembalikan vegetasi buffer arus sungai, lahan basah, hutan daratan dan Hutan bakau (deforestasi) untuk membantu menyaring dan mengurangi masuknya limbah industri, perumahan dan pertambangan. Secara ekologis, Hutan bakau dalam konteks kehidupan organisme akuatik, memiliki fungsi penting karena menjadi tempat berlindung bagi banyak jenis flora maupun fauna. Selain itu juga hutan bakau memiliki fungsi sebagai absorber, yakni dapat menyerap partikel tersuspensi hingga mereduksi konsentrasi logam berat di perairan. hal ini menjadi penting karena ikan sangat membutuhkan air dengan tingkat nutrien yang optimal namun tetap jernih. Untuk budidaya ikan laut dengan tingkat pemberian pakan secara intensif dan adanya akumulasi sisa pakan, feces dan limbah organik yang dihasilkan, menjadikan ketergantungan budidaya ikan laut terhadap ekosistem hutan bakau sangat kuat. Untuk budidaya ikan air tawar, yang banyak dilakukan di lahan basah, perlu dilakukan re-filterisasi agar air yang dihasilkan kualitasnya sangat baik bagi pertumbuhan ikan. Provinsi kepri sangat unik, karena sebagian daratan tersusun atas bauksit dan batuan granit yang menjadi daya tarik tersendiri bagi investor baik luar maupun lokal. Dampak yang ditimbulkan dari eksploitasi ini sangat jelas terlihat khususnya di Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga. Begitu banyak hutan digunduli dan gunung digerus hanya untuk mengejar bahan alam yang terkandung didalam tanah. kerusakan fisik yang ada menimbulkan dampak sosial yang sulit untuk dipecahkan. Diharapkan proses penambangan disertai dengan kajian AMDAL bagi lingkungan, sebab bila proses pertambangan ini terus dilakukan tanpa adanya kajian tersebut,


tentu dapat membahayakan fungsi hutan sebagai paru-paru alam, daerah tangkapan air, serta menjadi cadangan air ketika musim kering melanda. Langkah ke 2) yang dapat dilakukan adalah Penataan Zonasi Perikanan, salah satu cara untuk menghindari tercemarnya lingkungan perairan akibat limbah hasil kegiatan adalah melalui zonasi wilayah yang didahului dengan adanya kajian kelayakan wilayah tersebut untuk mendukung produksi perikanan. Penentuan kelayakan ini harus mencakup hingga ke wilayah sekitar karena kegiatan budidaya juga dapat berpengaruh terhadap lingkungan. Hingga saat ini Tata Ruang Wilayah untuk perikanan telah ditetapkan, namun aplikasinya tidak selalu sama dengan perencanaan. Berbagai kasus kematian ikan yang terjadi di Senggarang-Kabupaten Bintan adalah dampak dari tidak konsistennya pelaksanaan tata ruang ini. Dan yang patut menjadi perhatian adalah dalam penentuan zonasi ini harus terdiri dari dua wilayah, yang pertama adalah wilayah produksi dan yang kedua merupakan wilayah penyangga yang diharapkan dapat meminimalisasi limbah produksi budidaya sebelum masuk ke wilayah perairan sekitarnya. Langkah ke 3) adalah dengan meningkatkan kegiatan pengawasan kesehatan lingkungan. program pengawasan lingkungan ini dapat dimasukkan ke dalam program monitoring dan surveillance yang hendaknya dilakukan secara rutin. Kegiatan pengawasan ini diharapkan selain untuk mengetahui berbagai perubahan yang terjadi baik pada sifat fisik, kimia maupun biologi air. kegiatan ini juga bermanfaat untuk memprediksi kondisi pada spasial yang lebih luas dan kecenderungan yang terjadi pada waktu yang lebih lama. agar kegiatan ini dapat berjalan lebih optimal, masyarakat pembudidaya harus dilibatkan secara aktif, hingga diharapkan bahwa Early warning system dapat diperoleh dari masyarakat pembudidaya. Langkah ke 4) yang dapat dilakukan adalah dengan penerapan teknologi untuk perlindungan dan penyediaan sumber daya air. Saat ini, teknologi pengolahan air sudah banyak tersedia, namun penggunaannya diharapkan harus sesuai dengan skala prioritas. Untuk Provinsi Kepri yang sangat minim ketersediaan air tawar dapat menerapkan proses Desalinasi atau mengembangkan teknologi Reverse osmosis untuk menjaga kesinambungan ketersediaan sumber daya air. Hal ini menjadi penting bagi masyarakat yang ingin membudidayakan ikan air tawar dengan memanfaatkan sisa penambangan untuk dijadikan kolam produksi perikanan. Karena tingkat kebutuhan masyarakat terhadap ikan air tawar juga cukup tinggi. Untuk Kota Batam saja, data menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan 2 ton/hari untuk komoditas ikan lele. Hal ini menjadi peluang yang cukup prospektif secara ekonomi untuk dikembangkan. Langkah ke 5) Minimalisasi Konversi lahan perikanan, hal ini erat kaitannya dengan sumberdaya air yang tersedia. Bila berdasarkan asumsi bahwa ketersediaan lahan dan air adalah tetap, maka pertumbuhan ekonomi yang dicerminkan oleh tumbuhnya beberapa sektor ekonomi akan membutuhkan lahan-lahan baru. Hal ini tentu akan mengganggu stabilitas sumberdaya air dan lahan yang ada. secara statistik, status FTZ (free Trade Zone) di Provinsi Kepri mendorong pembangunan fisik terus berlangsung, namun bila pembangunan ini tidak berlandaskan kepada aspek lingkungan tentu berbagai konversi lahan yang terjadi, terkait dengan poin 1,


akan mengganggu sistem tadah hujan yang ada. sehingga hal ini akan menipiskan sumberdaya air yang ada. Penulis memang memfokuskan wacana ini untuk menyelamatkan sumberdaya air untuk produksi perikanan, namun seluruh poin usulan ini juga berkaitan dan bermanfaat untuk melindungi sumberdaya air bagi manusia. Masalah pemanasan global telah merubah iklim di beberapa belahan dunia. Apa yang terlihat sebagai kenaikan suhu kecil justru mengakibatkan perubahan yang sangat besar. Di beberapa bagian bumi lebih banyak kedatangan banjir dan badai, sementara tempat lainnya kekurangan hujan dan lebih banyak kekeringan. Perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global telah mendatangkan bencana di seluruh dunia, tahun demi tahun, menimbulkan masalah serius bagi kesehatan lingkungan manusia. Oleh karena itu, untuk melindungi sumberdaya air dari dampak pemanasan global dan masalah pencemaran air yang ada dilingkungan kita dapat dimulai dari DIRI KITA SENDIRI. Kita dapat melakukannya dengan berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi produksi sampah (minimize) yang kita hasilkan setiap hari, dan mendisiplinkan diri untuk selalu membuang sampah pada tempatnya, Selain itu, kita juga dapat bersama-sama melakukan daur ulang (Recycle) dan daur pakai (Reuse) sampah yang kita hasilkan agar tidak menjadi beban bagi lingkungan. Kita tentu sangat berharap dengan air dan lingkungan yang sehat maka produksitivitas ikan sebagai bahan pangan hewani bernutrisi tinggi dapat ditingkatkan, sehingga misi Pemerintah untuk meningkatkan produktivitas perikanan hingga 353% pada tahun 2014 sebagai wujud untuk pemenuhan kebutuhan lokal maupun internasional yang mendatangkan devisa bagi pembangunan Indonesia dapat kita wujudkan secara bersama-sama***.


Lingkungan Perikanan