Issuu on Google+

LADA LAMPuNG: YANG KhAS YANG TERANcAM

Majalah Bulanan Pertanian Strategis www.opini-indonesia.com/agro

Edisi 07/November 2013 o PROLOG o IDENTIFIKASI o KOMPARASI o EPILOG

3 6 19 22

LADA INDONESIA

Kejayaan Masa Lalu yang Semakin Terancam

• Siaga Satu Komoditas Lada Indonesia

• Kemitraan dan Penguatan Kelembagaan

• Faktor Produksi dan Produktivitas

• Menengok Vietnam: Komitmen Agroindustri


07/2013 03

PROLOG

Merajut Kembali Kejayaan Lada Nusantara

14

Lada Indonesia yang sudah mempunyai keunggulan dalam hal cita rasa yang khas dan telah dikenal sebelum Perang Dunia II masih berpeluang untuk bersaing dengan produk dari negara lainnya.

04

TABULASI

Status Lada: Siaga Satu!

17

08 11

21

Faktor Produksi dan Produktivitas Lada Indonesia Mendesak, Revitalisasi Lada ANEKA

Varietas Lada

Dalam upaya penyediaan bahan tanam lada yang unggul pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melepas beberapa varietas.

22

Majalah Bulanan Pertanian Strategis www.opini-indonesia.com/agro

Edisi 07/November 2013 o PROLOG o IDENTIFIKASI o KOMPARASI o EPILOG

3 7 17 22

LADA INDONESIA

Kejayaan Masa Lalu yang Semakin Terancam

Í Siaga Satu Komoditas Lada Indonesia

Í Kemitraan dan Penguatan Kelembagaan

Í Faktor Produksi dan Produktivitas

Í Menengok Vietnam: Komitmen Agroindustri

Diterbitkan sebagai majalah pertanian strategis yang berupaya memetakan dan mencari solusi masalah pertanian Indonesia dari berbagai sudut pandang.

Managed By

LAMPUNG

Lada Lampung: Yang Khas Yang Terancam KOMPARASI

Menengok Vietnam: Komitmen Agroindustri

KebijakanPemerintah Vietnam terhadap pembangunan pertanian senantiasa terfokus sehingga pertanian bisa menjadi penyangga perekonomian nasional.

Tak sampai sepuluh tahun, Indonesia masih terengah-engah mencapai produksi di atas 70.000 ton dan Vietnam dengan gemilang menembus angka 100.000. Cukup sepuluh tahun bagi Vietnam menggenjot produksinya menjadi lima kali lipat! IDENTIFIKASI

Mensejahterakan Petani Lada: Kemitraan dan Penguatan Kelembagaan

Rantai tata niaga belum efisien, informasi pasar belum berkembang di sentra produksi, dan harga yang diterima petani masih rendah. Koperasi dan asosiasi petani belum optimal yang mengakibatkan posisi tawar lemah.

19

06

STRATEGI

LADA LAMPUNG: YANG KHAS YANG TERANCAM

AKTIVITAS

Menuju Indonesia Maju 2030: Agri dan Agro Festival 2013

Pemimpin Redaksi Ir. Raymond Rajaurat Dewan Redaksi Ir. Raymond Rajaurat Ir. Anom Wibisono, Hs. Staf Redaksi M. Mutawally Ronald Simarmata Andri Penerbit Yayasan Media Wasantara Anggota SPS No. 358/1986/03/2002 Pendiri Rimson Simanjorang Managing Director Ir. David J. Simanjorang

EPILOG

Mengangkat Kembali Pamor Komoditas Lada

Untuk menyiasati harga bahan mentah lada yang rendah, petani lada Indonesia haruslah diajarkan oleh pemerintah untuk menghasilkan produk turunan dari lada.

Bank Bank Central Asia (BCA) No. Rek. 166 1967 957 a/n. Raymond Rajurat Alamat Redaksi Jl. Yupiter Utama D10/12 Bogor 16914 Telp/Faks: (021) 87716493, 0811 192306 Alamat Iklan/Tata usaha Jl. Purnawirawan Raya 12/424 Bandar Lampung Telp : 0816 4063 04. Website www.opini-indonesia.com/agro Email agro@opini-indonesia.com Percetakan PT. Lampung Visitama Ganda (DavPrinting)

Isi diluar tanggungjawab percetakan


PROLOG

Edisi 07/2013 | AGRO SWAKARSA

3

Lada Indonesia yang sudah mempunyai keunggulan dalam hal cita rasa yang khas dan telah dikenal sebelum Perang Dunia II masih berpeluang untuk bersaing dengan produk dari negara lainnya.

Merajut Kembali

KEJAYAAN LADA

L

ada (Piper nigrum L.) disebut sebagai raja dalam kelompok rempah (king of spices) karena merupakan komoditas yang paling banyak diperdagangkan. Lada merupakan komoditas Indonesia yang sudah diekspor ke Eropa sejak abad ke 12. Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, lada memberikan keuntungan sebesar 2/3 dari total keuntungan yang diperoleh VOC. Sebelum Perang Dunia ke II, Indonesia mampu memenuhi 80% kebutuhan lada dunia. Peran Indonesia mulai menurun sejak penjajahan Jepang, karena banyaknya tanaman yang rusak akibat tidak terpelihara dan terjadinya

serangan hama dan penyakit terutama penyakit busuk pangkal batang (BPB). Lada merupakan salah satu komoditas sektor pertanian yang dapat diandalkan untuk memperlancar pembangunan pertanian karena merupakan salah satu komoditas penghasil devisa. Selama 1983–1992 ratarata nilai ekspor lada Indonesia sebesar US$ 93 juta/tahun . Dan Indonesia merupakan negara exportir terbesar dunia. Namun setelah era tersebut, ekspor lada cenderung menurun. Penurunan nilai ekspor ini disebabkan oleh luas areal yang cenderung terus menurun.

Lada diproduksi oleh 11 negara yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu anggota IPC yang terdiri dari Brazilia, India, Indonesia, Malaysia, Srilanka, Vietnam dan non anggota IPC seperti China, Thailand, Madagaskar, Kamboja dan Equador. Pada tahun 2000 sebelum Vietnam bergabung, kontribusi anggota IPC terhadap kebutuhan lada dunia sebesar Âą77,45%. Dengan bergabungnya Vietnam dalam kelompok IPC pada tahun 2005, menyebabkan peningkatan kontribusi lada kelompok IPC menjadi Âą96,82 %. Produk lada utama dalam perdagangan internasional adalah lada hitam dan lada putih. Prospek lada Indonesia di pasar Internasional masih tetap cerah karena sudah dikenal sejak jaman dahulu sebagai Lampung Black Pepper dan Muntok White Pepper yang mempunyai cita rasa dan aroma yang khas. Namun dalam beberapa tahun terakhir akibat fluktuasi harga yang cenderung menurun, menyebabkan banyak petani lada yang membiarkan tanamannya rusak, beralih ke komoditas lain, atau beralih profesi pada pekerjaan yang lebih menguntungkan. Disamping itu terjadi peningkatan persaingan antar negara produsen seiring dengan munculnya Vietnam sebagai pesaing dalam pasar internasional. Untuk mempertahankan keberadaan lada Indonesia di pasar dunia maka perlu berbagai upaya untuk keberlangsungan agribisnis lada, sehingga memiliki posisi dan daya saing tinggi di pasar internasional. Mengamati situasi perdagangan internasional akhir -akhir ini, nampaknya permintaan lada dunia cenderung meningkat. Lada Indonesia yang sudah mempunyai keunggulan dalam hal cita rasa yang khas dan telah dikenal sebelum Perang Dunia II (Lampung Black Pepper dan Muntok White Pepper) masih berpeluang untuk bersaing dengan produk dari negara lainnya.


4

TABULASI

AGRO SWAKARSA | Edisi 07/2013

Status Lada: Siaga Satu! Tak sampai sepuluh tahun, Indonesia masih terengah-engah mencapai produksi di atas 70.000 ton dan Vietnam dengan gemilang menembus angka 100.000. Cukup sepuluh tahun bagi Vietnam menggenjot produksinya menjadi lima kali lipat!

I

ndonesia dalam kondisi siaga satu dalam urusan komoditas lada. Sebagai negara yang pernah menjadi produsen nomor satu dunia, Indonesia kini tertinggal jauh dari Vietnam. Padahal negara yang satu ini bisa dibilang pemain baru dalam komoditas lada dunia. Tahun 1996. Produksi Vietnam masih di bawah 20.000 ton sementara Indonesia sudah di atas 50.000 ton. Tak sampai sepuluh tahun, Indonesia masih terengah-engah mencapai produksi di atas 70.000 ton dan Vietnam dengan

gemilang menembus angka 100.000. Cukup sepuluh tahun bagi Vietnam menggenjot produksinya menjadi lima kali lipat! Berbagai kondisi memang mempengaruhi pencapaian tersebut. Memang beberapa negara pertanian semisal Brazil dan Inda mengalami penurunan tajam produksi mereka. Hanya saja dengan kondisi iklim yang sama antara Indonesia dan Vietnam tentu saja membuat pertanyaan besar melihat kemunduran kita dan kegemilangan Vietnam.

Data Ditjen Perkebunan nampaknya memberi sedikit gambaran mengenai ketimpangan tersebut. dari 5 provinsi dengan luas lahan terbesar, ternyata hanya Bangka Belitung dan Sumatra Selatan yang relatif konsisten, baik dari sisi produksi maupun produktivitas. Sementara Lampung, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara produktivitasnya dibawah 905 kg/ha. Padahal ketiga provinsi ini memiliki 49% dari total luas lahan perkebunan lada Indonesia. Bandingkan saja dengan produktivitas perkebunan lada Vietnam yang mencapai 2.000 kg/ha. Lebih miris lagi, Lampung dan Sulawesi Tenggara bahkan produktivitasnya tidak mencapai seperempat dari produktvitas Vietnam. Padahal Lampung disebut Tanoh Lado (Tanah Lada). Dalam kasus Lampung, salah satu penyebab turunnya produksi lada hitam Lampung dikarenakan jumlah tanaman saat ini hanya 400 batang per ha, yang semestinya sekitar 1.500 batang per ha. Selain itu luas sebaran tanaman lada juga berkurang dan sementara usia tanaman ini sudah tua. Selain masalah tersebut di atas, sejumlah OPT tanaman lada, baik hama maupun penyakit banyak mengakibatkan kerugian hasil di Indonesia. Dan Lampung menjadi sorotan dimana masalah penyakit yang menyerang pangkal batang belum bisa dikendalikan. Tekanan komoditas ini makin menjadi dengan adanya pengembangan

Vietnam Indonesia India

Brazil China

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011


5

Edisi 07/2013 | AGRO SWAKARSA

ekspansif komoditas perkebunan seperti kelapa sawit dan singkong di sentra atau dekat sentra produksi lada. Diperkirakan hal tersebut berpengaruh terhadap perilaku petani lada tradisional dengan membandingkan keuntungan dari masing-masing komoditas. Namun terlepas dari hal tersebut di atas yang menjadi pertanyaan besar adalah peranan dan perhatian pemerintah baik pusat dan daerah dalam menyelamatkan kehancuran komoditas yang satu ini. Vietnam sudah membuktikan bahwa masalah dapat diatasi tidak hanya dengan wacana namun komitmen membangun pertanian sebagai industri yang menopang perekonomian. Dan itu tidak hanya belaku pada lada, sebagaimana Vietnam kini sudah menjelma menjadi raksasa pertanian dunia bersama-sama dengan Brazil dan Thailand.

#5 #3

#1

#4 #2

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

• Vietnam

104,390

102,570

116,090

128,000

140,000

137,000

146,000

• Indonesia

78,328

77,534

80,420

80,420

82,834

84,218

77,800

• India

73,020

92,900

69,000

47,010

47,400

51,020

52,000

9% 33% 11% 5%

25%

PRODUKSI

LUAS LAHAN

PRODUKTIVITAS

• Babel

29,190

33.1%

• Lampung

63,568

35.6%

• Babel

1,806

• Lampung

22,267

25.3%

• Babel

39,032

21.9%

• Sumsel

1,122

• Sumsel

9,303

10.6%

• Sulra

12,068

6.8%

• Kaltim

1,014

• Kaltim

7,916

9.0%

• Sulsel

11,854

6.6%

• Jateng

990

• Sulsel

4,703

5.3%

• Sumsel

11,466

6.4%

• Kalbar

906

Lainnya

14,781

16.8%

Lainnya

40,634

22.7%

INDONESIA

88,160

100%

178,622

100%

Sumber: Ditjenbun. angka sementara 2012. dalam ton.

INDONESIA

Sumber: Ditjenbun. angka sementara 2012. dalam ha.

• Lainnya

<906

INDONESIA

785

Sumber: Ditjenbun. angka sementara 2012. dalam kg/ha.


6

IDENTIFIKASI

AGRO SWAKARSA | Edisi 07/2013

Faktor Produksi dan Produktivitas

agusfianda.blogspot.com

Lada Indonesia

Penurunan peran lada Indonesia diperkirakan berkaitan erat dengan turunnya luas areal dan produktivitas tanaman yang disebabkan oleh berbagai faktor, terutama gangguan organisme penganggu tanaman dan fluktuasi harga lada.

D

alam waktu 5 tahun terakhir, kontribusi lada Indonesia di pasar dunia terus menurun dan menempati posisi ke 4 setelah Vietnam, India dan Brazil. Padahal tahun 2003, volume ekpor lada Indonesia masih pada urutan kedua. Vietnam, sebagai negara penghasil lada baru, terus memperlihatkan peran yang semakin dominan di pasar lada internasional. Penurunan peran lada Indonesia diperkirakan berkaitan erat dengan turunnya luas areal dan produktivitas tanaman yang disebabkan oleh berbagai faktor, terutama gangguan organisme penganggu tanaman dan fluktuasi harga lada. Hama penggerek batang merupakan hama utama yang dapat ditemukan di seluruh lahan lada. Demikian pula penyakit busuk pangkal batang (BPB) di Lampung, dan penyakit kuning di Babel masih menjadi kendala yang belum dapat diatasi secara tuntas.

Faktor harga lada yang fluktuatif, juga menjadi permasalahan yang menyebabkan usahatani lada kurang diminati petani, terutama ketika harga rendah. Akibatnya, banyak tanaman lada yang rusak atau mati karena perawatannya kurang, sehingga produktivitaspun turun. Bahkan, di provinsi Babel dilaporkan sejumlah petani tidak bertanam lada atau luasannya dikurangi dan beralih ke usahatani lain. Sebagai daerah penghasil lada putih terbesar, Babel dalam waktu belakangan kontribusinya terus turun. Sehubungan dengan hal di atas maka untuk meningkatkan produksi dan produktivitas lada nasional diperlukan langkah-langkah (program) konkrit yang terencana dan terintegrasi secara baik dengan melibatkan berbagai pihak yang tidak hanya menghasilkan inovasi teknologi yang mampu meningkatkan produksi atau produktivitas, tetapi juga


Edisi 07/2013 | AGRO SWAKARSA

teknologi yang harganya terjangkau supaya dapat digunakan. Tidak kalah pentingnya, bahwa teknologi tersebut harus dikawal sampai ke petani, karena disinyalir banyak yang tidak atau belum sampai ke pengguna (petani). Fluktuasi harga dan kurangnya perawatan tanaman Sejak lada merupakan komoditas ekspor, maka terjadinya fluktuasi harga di pasar internasional berpengaruh langsung terhadap harga lada dalam negeri. Ketika harga lada pada tingkat petani demikian rendah, banyak petani tidak mampu merawat tanaman lada mereka secara baik, sehingga produktivitasnya turun. Bahkan, sebagian petani tidak bertanam lada atau luasnya berkurang dan beralih ke usahatani komoditas lain. Pada tahun 1998 harga lada putih sempat mencapai angka tertinggi Rp 56.000/kg, kemudian turun sampai harga terendah Rp. 22.000/kg tahun 2006. Namun, sejak tahun 2007 harga lada mulai meningkat lagi sekitar Rp 20.000 dan Rp 40.000 per kilogram, masingmasing untuk lada hitam dan lada putih, sampai sekarang. Peningkatan harga lada tahun 2007 berkaitan erat dengan produksi lada dunia yang menurun sejak tahun 2004. Pada tahun 2003 total produksi lada dunia mencapai angka tertinggi, 364.000 ton. Kemudian turun 267.000 ton pada tahun 2004, dan turun lagi 263.000 ton pada tahun 2005. Pada tahun 2006, turun lebih jauh sekitar 220.000 ton. Tidak terkecuali Indonesia, yang mengalami penurunan ekspor terbesar, dari 60.896 ton (2003) menjadi 46.260 ton (2004), dan bahkan turun lebih jauh 37.568 ton tahun 2005. Penurunan produksi lada dunia disebabkan oleh produktivitas lada yang rendah di sejumlah negara penghasil lada utama lain seperti India, Brazil, Sri Lanka, dan Malaysia, akibat serangan hama-penyakit, cuaca buruk, dan penurunan luas areal tanaman. Dilain pihak, permintaan lada dunia cenderung naik dari sekitar 271.000 ton tahun 2002 sampai lebih dari 312.000 ton tahun 2006. Gangguan organisme penganggu tanaman (OPT) Sejumlah OPT tanaman lada, baik hama maupun penyakit banyak mengakibatkan kerugian hasil di Indonesia. Hama-hama utama lada adalah penggerek batang, penghisap bunga, dan pengisap buah. Jenis penyakit yang banyak menyerang pertanaman lada

7

adalah penyakit kuning, terutama di Babel dan busuk pangkal batang (BPB). Ekses-penambangan timah di Babel Adanya kerusakan lingkungan wilayah Babel akibat eksploitasi tambang timah yang tidak terkendali. Kegiatan yang menjanjikan pendapatan secara instan menyebabkan banyak petani lada beralih ke usaha penambangan timah. Akibatnya, usahatani lada menjadi usaha sampingan, sehingga produksi dan produktivitas ladanya turun. Ketika harga timah baik, mudah dijumpai anak-anak maupun orang dewasa, tidak terlalu bersusah payah mendapatkan tambahan uang jajan atau pendapatan dengan sedikit usaha, yaitu pergi ke belakang, samping, atau depan rumah menggali tanah untuk menghasilkan satu kaleng susu pasir timah. Pasir timah tersebut lalu ditukar uang Rp 40.000/kg ke penampung, walaupun kegiatan ini ilegal. Kalau kebetulan sempat berkunjung ke Babel, di desa-desa atau kampung, dan memperhatikan tampilan rumah penduduk, maka dapat ditebak siapa

pemiliknya. Kalau dijumpai rumah tampak cerah dan mewah (full keramik), maka pemiliknya diduga kuat adalah orang yang berusaha timah. Sebaliknya, kalau dijumpai rumah besar tetapi tampak tidak terawat baik, maka pemiliknya adalah petani lada yang pernah jaya atau kaya.

Web Hosting www.cnp-webservice.com

SOLUSI ONLINE USAHA ANDA

GRATIS 1 (satu) nama domain selama berlangganan dan Host UNLIMITED domain. Harga mulai: Rp 65.000 per bulan

Nama Domain Daftar klien : t CV. Mandala Agro Swakarsa t Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) t PT. Sarana Pratama Gemilang t PT. Sumber Solusi Selaras t Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) t PT. Limas Karya Utama t Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia t Yayasan Pemantau Hak Anak Indonesia t Yayasan Saint Anna Education Center t Yayasan Media Wasantara t dll.

Pendaftaran berbagai ekstensi nama domain internasional (COM, NET, ORG, BIZ, INFO dll.) Harga mulai: Rp 119.000 per tahun

Sertifikat SSL/TSL Membangun kepercayaan pengunjung web dengan mengaktifkan SSL. Harga mulai: $ 45 per tahun


8

IDENTIFIKASI

AGRO SWAKARSA | Edisi 07/2013

Mendesak,

Revitalisasi Lada Kita Degradasi usahatani lada disebabkan oleh berbagai faktor yang terus terakumulasi. Untuk itu dibutuhkan revitalisasi perkebunan lada yang diarahkan untuk bisa memperbaiki kondisi tersebut.

U

sahatani lada terus mengalami degradasi, baik luas areal, produksi maupun produktivitasnya. Menurut data tahun 2008, areal lada tinggal 60% dari tahun 2000 dan produktivitas menurun dari 990 kg menjadi 870 kg/ha atau penurunan 1,2%/ tahun. Jika pada awal 2000-an luas areal lada mencapai 58 ribu ha dengan produksi 57,60 ribu ton, pada akhir dasawarsa hanya tinggal 35 ribu ha dengan produksi 30,45 ribu ton. Degradasi usahatani lada disebabkan oleh berbagai faktor yang terus

terakumulasi. Untuk itu dibutuhkan revitalisasi perkebunan lada yang diarahkan untuk bisa memperbaiki kondisi tersebut. Benih unggul Benih unggul dari varietas unggul merupakan salah satu inovasi yang paling handal untuk meningkatkan produktivitas lada. Daya tarik utama benih unggul adalah produktivitasnya yang lebih tinggi dari benih yang selama ini digunakan petani. Inisiatif pemerintah sangat diperlukan untuk membangun lembaga perbenihan yang mampu menjamin ketersediaan

sumber benih, produksi benih, dan distribusi benih bersertifikat. Sebenarnya potensi bisnis perbenihan lada sangat besar karena populasi tanaman lada relatif padat sehingga benih yang dibutuhkan pun relatif banyak. Sistem Tanam Lada umumnya ditanam menggunakan tiang panjat berupa kayu mati yang saat ini harganya makin mahal. Oleh karena itu, dalam rangka PPS, tiang panjat mati harus diganti dengan tiang panjat hidup untuk menekan biaya investasi dan menjamin keberlanjutan usaha.


Edisi 07/2013 | AGRO SWAKARSA

Sejalan dengan penggunaan tiang panjat hidup, jumlah tanaman tiap tiang panjat yang selama ini hanya satu tanaman dapat ditambah menjadi 2-5 tanaman, sesuai tingkat kesuburan tanah dan daya dukung tiang panjatnya. Sistem tanam ganda (polyplanting), selain memberi manfaat ekonomi, juga mengurangi risiko serangan hama dan penyakit karena adanya tanaman penyangga. Selain itu sistem tanam lain yang bisa diadopsi agar dapat lebih cepat menghasilkan adalah kombinasi antara lada panjat dan lada perdu. Bahan Organik dan Pupuk Organik Penggunaan bahan organik merupakan keharusan untuk memperbaiki kesuburan dan struktur tanah. Namun, penambahan bahan organik masih sangat terbatas. Padahal, teknologi tanah bakar yang dikembangkan sejak zaman Belanda untuk memperkaya bahan organik sudah ditinggalkan. Akibatnya, pada musim kemarau tanaman banyak yang mati karena daya tahan air tanah terbatas. Tanaman pun menjadi sangat rentan terhadap hama dan penyakit. Upaya menghasilkan pupuk organik secara mandiri pada masing-masing kebun petani perlu dilakukan dengan bahan baku serasah kebun atau limbah organik dari rumah tangga. Kombinasi dengan pupuk kandang akan menghasilkan pupuk organik berkualitas baik. Untuk mendorong pertumbuhan dan produksi, lada memerlukan hara tersedia dalam jumlah dan waktu yang tepat. Hal ini tentu tidak dapat dipenuhi dari tanah dan pupuk organik semata sehingga memerlukan tambahan pupuk buatan sesuai kebutuhan tanaman. Dengan penggunaan pupuk organik, maka akan mengurangi pupuk buatan sekitar 30-50% dari takaran anjuran.

Umumnya, mengolah komoditas menjadi produk bermerek berjalan secara bertahap seiring dengan perkembangan permintaan pasar dan manajemen pemasaran. Dilihat dari perkembangan ekonomi dan pasar di dalam negeri maupun manca negara, potensi pengembangan produk olahan lada sangat besar. Lada bubuk premium atau pasta lada berpeluang mengangkat harga di tingkat petani.

Manajemen Penjualan Mengingat sebagian besar lada dipasarkan sebagai produk curah, petani perlu melaksanakan manajemen stok dengan menunda penjualan saat harga lada rendah. Selama ini, petani tetap menjual lada walaupun harganya rendah karena terdesak kebutuhan. Untuk menanggulanginya, dapat dikembangkan sistem simpan-pinjam dengan jaminan lada. (Agus Wahyudi)

www.opini-indonesia.com - Suara Lampung untuk negeri -

Berita | artikel | kolom | Destinasi | kuliner | Historia | majalah | kurs | games | Downloads Baca format digital majalah: Opini indonesia, the point indonesia, agro Swakarsa, Food & Health

Pengolahan Produk Dalam perdagangan, produk lada dianggap sebagai produk curah (komoditas) sehingga harganya ditentukan pasar. Petani dalam posisi sebagai penerima harga. Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah adalah dengan meningkatkan mutu produk menjadi produk premium, atau mengolah produk menjadi bentuk yang dapat dipasarkan sebagai produk non curah.

9

Satu lagi persembahan:

Kelompok Penerbitan Opini Indonesia


ANEKA

Edisi 07/2013 | AGRO SWAKARSA

Varietas Lada Dalam upaya penyediaan bahan tanam lada yang unggul pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melepas beberapa varietas.

S

elain teknik budidaya yang baik dan benar dalam upaya peningkatan produksi, produktivitas dan mutu lada di Indonesia salah satunya adalah penggunaan bahan tanam unggul. Petaling 1 Umur mulai berbunga ±10 bulan, bentuk buah bulat, warna buah muda hijau, warna buah masak merah jingga, mulai berbunga s/d buah masak ± 9 bulan. Rata-rata buah pertandan ±60 butir. Persentase buah sempurna ±64,8% dengan rata-rata hasil produksi 4,48 ton/ ha (±2,8 kg/pohon) lada putih kering. Agak tahan terhadap penyakit kuning namun agak peka terhadap busuk pangkal batang. Dapat ditanam di tanah yang kurang subur. Pada tanah yang subur di usia tua pertumbuhannya akan lebih baik. Pemakaian tiang panjat mati dan mulsa lebih cocok. Petaling 2 Umur mulai berbunga 11 bulan, bentuk buah bulat besar, warna buah muda hijau, warna buah masak merah jingga, mulai berbunga s/d buah masak ±8 bulan. Rata-rata buah pertandan ±

80 butir. Persentase buah sempurna ±66,1% dengan rata-rata hasil produksi 4,80 ton/ha (±3,0 kg/pohon) lada putih kering. Agak tahan terhadap penyakit kuning namun agak peka terhadap busuk pangkal batang. Dianjurkan ditanam pada tanah yang bebas penyakit busuk pangkal batang dan penyakit kuning serta tingkat kesuburan sedang sampai tinggi. Tiang penegak mati lebih cocok. Lampung Daun Kecil Umur mulai berbunga 7 bulan, bentuk buah lonjong, warna buah muda hijau tua, warna buah masak kuning kemerahan, mulai berbunga s/d buah masak 196 hari. Rata-rata buah pertandan 73,52 butir. Persentase buah sempurna ±48,46% dengan rata-rata hasil produksi 3,86 ton/ ha. Agak tahan terhadap penyakit kuning dan toleran terhadap busuk pangkal batang. Dianjurkan untuk ditanam di daerah yang belum mendapat serangan penyakit kuning. chunuk Umur mulai berbunga 8 bulan, bentuk buah bulat, warna buah muda hijau, warna buah masak kuning kemerahan,

11

mulai berbunga s/d buah masak 225 hari. Rata-rata buah pertandan 66,56 butir. Persentase buah sempurna ±43,39%, dengan rata-rata hasil produksi 1,97 ton/ ha. Peka terhadap penyakit kuning namun toleran terhadap busuk pangkal batang. Dianjurkan ditanam untuk dibudidayakan sebagai lada perdu. Natar 1 Umur mulai berbunga 10 bulan, bentuk buah bulat, warna buah muda hijau, warna buah masak merah jingga, mulai berbunga s/d buah masak 8 bulan. Rata-rata buah pertandan 57,3 butir. Persentase buah sempurna ±66,7% dengan rata-rata hasil produksi 4,00 ton/ha (±2,5 kg/pohon) lada hitam kering. Agak tahan terhadap penyakit kuning serta medium sampai agak tahan terhadap busuk pangkal batang. Dianjurkan ditanam di daerah yang tingkat penularan penyakit busuk pangkal batang belum begitu tinggi. Varietas ini responsif terhadap pupuk dan cahaya. Pemangkasan tiang panjat hidup 1 x 4 bulan, setinggi ± 3 meter diperlukan. Natar 2 Umur mulai berbunga ±10 bulan, bentuk buah bulat hingga lonjong, warna buah muda hijau muda, warna buah masak merah jingga, mulai berbunga s/d buah masak ±7 bulan. Rata-rata buah pertandan 56 butir. Persentase buah sempurna 60% dengan rata-rata hasil produksi 3,53 ton/ha (±2,5 kg/pohon) lada hitam kering. Agak tahan terhadap penyakit kuning serta rendah sampai peka terhadap busuk pangkal batang. Dianjurkan ditanam di daerah yang tingkat kesuburan sedang sampai tinggi, belum ketularan penyakit busuk pangkal batang. Untuk Lampung tidak boleh tiang penegak hidup terlalu rimbun daunnya. Tiang penegak harus dipangkas 1 x 4 bulan, setinggi ± 3 meter. Bengkayang Umur mulai berbunga ±10 bulan, bentuk buah bulat, warna buah muda hijau muda, warna buah masak kuning kemerahan, mulai berbunga s/d buah masak 189 hari. Rata-rata buah pertandan 85,22 butir. Persentase buah sempurna 68,30% dengan rata-rata hasil produksi 4,67 ton/ha. Toleran terhadap penyakit kuning dan busuk pangkal batang. Dianjurkan untuk ditanam di daerah yang kurang subur. Memakai tiang panjat mati dan mulsa lebih baik.

(Ditjenbun Kemtan)


20

AGRO SWAKARSA | Edisi 04/Agustus 2013

ADVETORIAL

Pupuk Organik Cair MASAGRI®

www.masagri.com

S

eiring pertambahan populasi penduduk, kebutuhan akan pangan dan hasil pertanian lainnya meningkat. Guna memenuhinya, dilakukan upaya untuk dapat meningkatkan produktivitas, salah satunya penggunaan pupuk. Namun berdasarkan hasil penelitian, penggunaan pupuk kimia menimbulkan dampak negatif terhadap merosotnya daya dukung lingkungan yaitu meningkatkan kandungan kimia sintetis di perairan dan lapisan tanah (top soil). Tingginya kandungan kimia tersimpan/terakumulasi dalam tanah bersifat toksik terhadap perakaran tanaman, sehingga kesuburan tanah akan terus menurun dan produktivitas menjadi makin rendah. Seringkali penurunan produktivitas karena kesuburan tersebut dijawab dengan penambahan dosis penggunaan pupuk kimia sehingga makin memperparah kondisi lahan. Pada akhirnya mengarah pada proses penggurunan, dimana lahan pertanian memiliki kesuburan sangat rendah. Pemerintah sudah berupaya membantu petani dengan memberikan subsidi pupuk. Namun pertambahan kebutuhan pupuk akan memperbesar subsidi yang pada akhirnya berdampak pada keuangan negara dan program pembangunan yang lain. Karenanya itu, dilakukan pembatasan subsidi pupuk kimia. Dengan keterbatasan subsidi, maka kebutuhan kebutuhan pupuk kimia mau tidak mau harus dipenuhi dengan menggunakan pupuk non subsidi yang harganya lebih mahal sehingga menambah beban produksi petani yang pada akhirnya mengurangi pendapatan petani dari hasil pertanian yang dikelolanya. Faktor biaya ini masih diperparah dengan dengan kelangkaan pupuk kimia, baik karena keterbatasan produksi maupun tata niaga. Hal

Pupuk terdaftar pada Kementerian Pertanian Republik Indonesia

No. L905/ORGANIK/DEPTAN-PPVTPP/VI/2011

ini dapat dilihat dari pemberitaan mengenai kelangkaan pupuk yang melanda hampir seluruh wilayah Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah menggalakkan penggunaan pupuk organik, baik dalam bentuk padat maupun dalam bentuk cair. Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang juga akan lebih melestarikan lingkungan karena pupuk organik merupakan pupuk ramah lingkungan dan mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan dengan berkurangnya kandungan residu bahan kimia sintetis pada hasil pertanian yang dikonsumsi oleh manusia. MENGAPA MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK CAIR MASAGRI®? Pupuk Organik Cair MASAGRI® merupakan produk pupuk yang tidak hanya mengandung unsur hara esensial, namun juga berbagai mikroorganisme bermanfaat yang mampu meningkatkan dan menjaga kesuburan tanah, menekan pertumbuhan bakteri penyakit, sehingga akar, daun, batang dan bunga akan tumbuh dan berkembang secara baik dan optimal. Pada Pupuk Organik Cair MASAGRI® juga terdapat senyawa-senyawa organik yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat, dan senyawa organik lainnya. Nutrisi yang terkandung sebagian besar terdiri atas gugus gula sederhana dan protein dengan reaksi lanjutan berupa asam amino, asam organik, vitamin, hormon pertumbuhan (auxin giberilin) unsur makro-mikro. Unsur tersebut sangat dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan dan kesehatan tanaman yang optimal dan berkelanjutan, hingga dapat meningkatkan hasil panen. Pemakaian Pupuk Organik Cair MASAGRI® dapat membantu memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat pemakaian pupuk kimia yang masif selama bertahun-tahun dan

Demplot D p M

Ujicoba pada tanaman singkong (ubi kayu) di daerah Way Pengubuan dan Kota Gajah (Lampung Tengah). Pertumbuhan vegetatif jauh lebih cepat dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia (penghematan pupuk) sampai 50%.

Ujicoba pada tanaman padi sawah di daerah Jasinga (Bogor), Palas (Lampung Selatan) dan Kota Gajah (Lampung Tengah). Pertumbuhan lebih cepat dan hasil bisa dipertahankan dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia (penghematan pupuk) sampai 50%.

U Uj jic icob oba ba pa pad da ttan da anam aman an ssingkong ingkon in kong g di di d dae era rah h Kot K ota ta G Ujicoba pada tanaman daerah Kota buhan tanaman yang berbeda jauh dengan perlak Ujicoba dilakukan pada hamparan lahan singkong g di lahan seluas 2 hektar. Gambar di atas adalah ko o menggunakan Pupuk Organik Cair MASAGRI® dan n biasa. Tanaman lebih subur dan sehat.


Edisi 04/Agustus 2013 | AGRO SWAKARSA

Perbedaan Pupuk Organik Cair MASAGRI® dengan Pupuk Kimia Perbedaan mendasar antara Pupuk Organik Cair MASAGRI® dan pupuk kimia adalah pada perlakuan terhadap tanah. Pupuk kimia memasok nutrisi langsung ke tanaman dengan memberikan unsur yang dibutuhkan tanaman baik unsur makro maupun mikro. Dengan pasokan langsung, maka tanaman mendapatkan unsur yang dibutuhkan tanpa melalui proses biologis dan kimia dalam tanah. Hal ini menyebabkan

menggemburkan tanah kembali. Selain itu berbagai mikroba yang terdapat dalam pupuk ini akan mampu melarutkan dan mengikat zatzat yang dibutuhkan tanah. Pupuk Organik Cair MASAGRI® sudah melewati berbagai uji mutu yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian RI baik kandungan unsur hara maupun keamanan dari mikroba patogen yang merugikan seperti E Coli dan Salmonella. Juga telah lulus uji terap (efektivitas) yang dilakukan oleh Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Pupuk Organik Cair MASAGRI® terdaftar dan resmi memiliki ijin peredaran yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian RI sehingga merupakan pupuk resmi yang legal untuk diedarkan di seluruh wilayah Republik Indonesia.

tanah hanya menjadi tempat ‘meletakkan’ akar tanaman dan tidak memiliki fungsi lain. Masalah yang akan timbul kemudian adalah pupuk kimia yang diberikan tidak semua akan diserap oleh tanaman, karena sebagian (>70%) akan terikat (terakumulasi) ke dalam liat tanah, sehingga tanah menjadi liat/keras serta dalam jangka panjang akan bersifat toksik memacu berkembangnya penyakit dalam tanah dan sebagian lainnya pupuk kimia akan hilang karena terbawa aliran air atau menguap. Pupuk Organik Cair MASAGRI® adalah pupuk organik dan bio fertilizer yang memberikan pasokan nutrisi kepada tanaman dan juga kepada tanah. Dengan kandungan unsur makro maupun mikro pada Pupuk Organik Cair

MASAGRI®, tanaman dapat menerima pasokan unsur yang dibutuhkan, sementara kandungan mikroorganisme (mikroba) pada Pupuk Organik Cair MASAGRI® berguna sebagai nutrisi tanah guna meningkatkan kesu-buran tanah. Kebutuhan akan pangan menyebabkan penggunaan pupuk kimia menjadi sa-ngat dominan untuk mengejar kuantitas produksi (produktivitas). Namun tanpa disadari tidak adanya perlakuan yang cukup bagi tanah akan menyebabkan tanah menjadi jenuh dan semakin tidak subur. Penggunanaan kombinasi pupuk kimia dan Pupuk Organik Cair MASAGRI® dapat menjadi solusi meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan kesuburan/kesehatan tanah.

fermentasi. Perbedaannya pada bahan baku dan mikroba yang digunakan. Pupuk Organik Cair MASAGRI® menggunakan bahan baku alami non limbah guna meminimalisir potensi kontaminasi mikroba patogen/merugikan seperti E Coli dan Salmonella dari proses awal produksi. Hal ini untuk meminimalisir adanya kemungkinan penyebaran mikroba patogen seiring dengan penyebaran/distribusi produk Pupuk Organik Cair MASAGRI®. Selain itu, Pupuk Organik Cair MASAGRI® menggunakan mikroba alami asli Indonesia. Hal ini ditujukan untuk mempermudah penyesuaian mikroba tersebut dengan kondisi tanah dan iklim Indonesia sehingga efektivitas pupuk akan lebih baik. Dari sisi ekologi (keanekaragaman hayati), penggunaan mikroba alami asli Indonesia akan melestarikan mikroba bermanfaat yang memiliki tempat hidup di Indonesia.

• Tanaman Pangan: Padi, Jagung, Singkong, Kedelai, Kacang-kacangan dll. • Tanaman Perkebunan: Sawit, Tebu, Cokelat, Cengkeh, Kelapa, Karet, Vanili dll. • Tanaman Hortikultura: Sayuran, Buahbuahan, Biofarmaka • Tanaman Hias dan Taman: Anthurium, Adenium, Aglaonema, Sansevieria, Rumput taman dll. • Tanaman Kehutanan: Sengon, Pinus, Jati, Akasia, Angsana, Mahoni, Meranti dll.

PUPUK ORGANIK CAIR MEREK LAIN APLIKASI TANAMAN Secara umum Pupuk Organik Cair MASAGRI® memiliki persamaan dengan pupuk organik cair merek lain yang memproduksi dengan pola

21

Pupuk Organik Cair MASAGRI® dapat diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman:

PEMESANAN

Telp/Faks: 021-87716493 HP/SMS: 0812-7953816 Email: mas@masagri.com

M MASAGRI®

ajjah h ((Lampung Lampun Lamp ung g Teng TTengah) engah h) me menu nunjjukk kkan p ert rtum tum-Gajah G menunjukkan pertumkuan bisa tanpa Pupuk Organik Cair MASAGRI®. g dengan aplikasi Pupuk Organik Cair MASAGRI® o ondisi tanaman pada umur 3 bulan. Di sebelah kiri n di sisi kanan menggunakan pupuk kimia seperti

Ujicoba pada tanaman sawi (caisim) di daerah Tenjolaya (Bogor), Cipanas dan Pacet (Cianjur). Pertumbuhan dan produktivitas (jumlah daun dan berat) tanaman lebih tinggi dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia (penghematan pupuk) sampai 50%.

Ujicoba pada tanaman jagung di daerah Tenjolaya (Bogor). Pertumbuhan lebih cepat, tanaman lebih sehat dan hasil bisa dipertahankan dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia (penghematan pupuk) sampai 50%.


14

STRATEGI

AGRO SWAKARSA | Edisi 07/2013

Mensejahterakan Petani Lada:

Kemitraan dan Penguatan Kelembagaan

Rantai tata niaga belum efisien, informasi pasar belum berkembang di sentra produksi, dan harga yang diterima petani masih rendah. Koperasi dan asosiasi petani belum optimal yang mengakibatkan posisi tawar lemah.

L

ada merupakan salah satu jenis rempah yang paling penting baik ditinjau dari segi perannya dalam menyumbangkan devisa negara, sumber pendapatan petani dan penyerapan tenaga kerja. Apalagi dari segi kegunaannya yang sangat khas dan tidak dapat digantikan dengan rempah lainnya. Indonesia sebagai salah satu negara penghasil utama lada dan mempunyai peranan penting dalam perdagangan lada dunia. Pasokan lada Indonesia dalam perdagangan dunia sebagian besar dipenuhi dari dua Bangka Belitung dan Lampung. Dari provinsi Bangka Belitung yaitu lada putih dengan sebutan Muntok White pepper dan Provinsi Lampung yaitu lada hitam dengan sebutan Lampung Black Pepper yang sudah dikenal sejak sebelum Perang Dunia II . Sejarah mencatat bahwa sebelum Perang Dunia II, Indonesia pernah memiliki peran yang sangat penting. Dalam hal kemampuan, Indonesia mampu memasok sekitar 80% dari kebutuhan lada dunia. Namun saat ini, posisi eksport lada Indonesia menempati urutan ke-3 setelah negara Vietnam dan Brazil. Menurunnya posisi ekspor lada indonesia di tingkat dunia disebabkan melemahnya daya saing akibat rendahnya produktivitas dan mutu lada nasional. Disadari bahwa dalam meningkatkan produktivitas lada masih menghadapi berbagai permasalahan. Masalah tersebut antara lain adalah banyaknya tanaman yang sudah tua, rusak dan adanya serangan hama dan penyakit, belum menggunakan benih unggul dan kurangnya pemeliharaan terhadap tanaman. Masalah tersebut masih ditambah dengan faktor sumber daya manusia dan kelembagaan yang masih lemah. Hal ini berakibat komoditas ini kurang bersinar. Kondisi ini harus menjadi introspeksi yang membuat kita fokus untuk menjadikan lada untuk kembali sebagai komoditas primadona untuk Indonesia bagian barat. Perkembangan areal lada tahun 2011 mencapai 177.490 ha dengan produksi sekitar 87.089 ton yang tersebar di 29 provinsi. Hampir seluruhnya dikelola oleh rakyat (99,90%) dengan melibatkan sekitar 321 ribu KK petani di lapangan. Lada Indonesia di pasar Internasional masih tetap cerah mengingat Lampung Black Pepper dan Muntok White Peper mempunyai cita rasa serta aroma yang khas dan tidak dimiliki oleh jenis lada lainnya. Prospek lada cerah antara lain disebabkan berkembangnya usaha


Edisi 07/2013 | AGRO SWAKARSA

makanan serta animo masyarakat bahwa lada sebagai rempah untuk penyedap masakan; berkembangnya industri jamu farmasi, kosmetika yang menggunakan lada sebagai salah satu bahan baku, meningkatnya konsumsi dunia karena isu food safety terhadap bahan syntesis lain dan tuntutan bahan rempah untuk pangan; konsumsi dalam negeri semakin meningkat dengan bertambahnya produk-produk industri makanan berbasis lada. Diversifikasi produk melalui pengembangan produk hilir seperti tepung lada, minyak lada, oleoresin, green pepper, lada segar dalam kemasan dan meningkatnya kebutuhan industri dan obat-obatan (herbal) dengan kecenderungan masyakat dunia untuk mengkonsumsi produk produk alami. Permasalahan yang dihadapi lada antara lain adalah: rendahnya produktivitas tanaman karena banyaknya

tanaman tua dan rusak, serangan hama penyakit, belum menggunakan benih unggul, kurangnya pemeliharaan tanaman. Mutu produk pada umumnya masih rendah, produk masih berbentuk primer dan pengolahannya masih tradisional. Rantai tata niaga belum efisien, informasi pasar belum berkembang di sentra produksi, dan harga yang diterima petani masih rendah. Koperasi dan asosiasi petani belum optimal yang mengakibatkan posisi tawar lemah. Kemitraan antara petani dengan perusahaan yang bergerak di komoditas ini belum optimal dan terbatasnya permodalan dan fasilitas kredit untuk petani. Berdasarkan kondisi dan permasalahan tersebut maka kebijakan yang ditempuh pemerintah yaitu peningkatan produksi, produktivitas

15

dan mutu tanaman lada melalui: pengembangan komoditi lada, peningkatan kemampuan SDM, pengembangan kelembagaan dan kemitraan, peningkatan investasi usaha dan pengembangan sistem informasi pasar dan manajemen. Strategi yang coba dilakukan adalah melalui cara revitalisasi lahan, revitalisasi perbenihan, revitalisasi infrastruktur dan sarana, revitalisai SDM, revitalisasi pembiyaan petani, revitalisasi kelembagaan petani, dan revitalisasi teknologi dan industri hilir. Implementasi untuk mensejahterakan petani lada salah satunya dengan meningkatkan kemitraan petani lada melalui penguatan kelembagaan petani. Dengan terimplementasinya kemitraan yang baik antara petani dengan pengusha/eksportir diharapkan kesejahteraan petani dapat terwujud. (Ditjenbun Kemtan)

Pasar Lada Dunia Produk yang dikembangkan dari lada dibagi dalam tiga kelompok yakni lada hitam, lada putih dan lada hijau.

S

elama ini lada digunakan masih sebatas untuk industri makanan khususnya untuk pengawet daging, bumbu penyedap masakan, dan campuran obat-obatan. Namun ada juga digunakan untuk industri farmasi sebagai salah satu bahan wewangian. Produk yang dikembangkan dari lada dibagi dalam tiga kelompok yakni lada hitam, lada putih dan lada hijau. Pada umumnya lada hitam dan lada putih digunakan untuk keperluan dapur, bumbu masak, parfum dan obat-obatan. Negara maju mengimpor lada hitam kebanyakan dijadikan bubuk. Amerika Serikat adalah pasar potensial untuk lada hitam dan produk lada hitam. Pengolahan lada hitam secara tradisional, yakni buah lada dipanen dan dipisahkan dari tangkainya dengan cara diinjak-injak sebelum dijemur atau dikeringkan. Untuk meningkatkan efisiensi pengolahan, digunakan alat perontok lada. Sementara pengolahan lada putih

agak berbeda. Biji lada yang sudah matang lantas direndam dalam air mengalir selama tujuh sampai sembilan hari untuk melunakkan kulitnya. Lantas kulit tersebut digosok dan dicuci lalu dikeringkan. Lada putih sering digunakan untuk makanan ringan, kuah dan sup. Eropa Barat adalah pasar potensial untuk lada putih. Pengolahan lada putih secara tradisional dilakukan dengan cara merendam buah lada untuk melunakkan kulitnya. Untuk lada hijau proses pengolahan dimulai dari biji lada mentah yang dikeringkan secara buatan atau dipertahankan dalam bentuk basah dalam air asin, cuka atau cuka rasa jeruk. Lada hijau dengan rasa hijau segar digemari oleh orang-orang Eropa. Pasar potensial untuk lada hijau kalengan adalah Eropa, Amerika Serikat dan Australia, sedang Austria untuk bumbu dan hiasan masakan daging. Warna hijau dari biji lada juga dipengaruhi oleh kadar garam yang ada dalam cairan.


16

AGRO SWAKARSA | Edisi 07/2013


LAMPUNG

Edisi 07/2013 | AGRO SWAKARSA

17

Lada Lampung:

Yang Khas Yang Terancam Tanaman lada di Lampung memang terancam punah. Penyakit busuk pangkal batang sangat mengganggu. Selain itu usia tanaman sudah tua dan kebanyakan peninggalan Belanda.

L

ampung masih menempati urutan nomor satu sebagai wilayah dengan luas areal dan produksi lada tertinggi di Indonesia. Lada yang dihasilkan adalah lada hitam (black pepper) dengan ciri cita rasa dan aroma yang khas. Kejayaan lada Lampung telah berkibar sejak tahun 1942 sampai dengan akhir tahun 1970an dan pada saat itu telah memberikan sumbangan sekitar 50% dari kebutuhan dunia. Namun saat ini lada Lampung mengalami penurunan produksi, produktivitas dan kualitas yang disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut diantaranya adalah teknik budidaya, penggunaan benih yang kurang bermutu, serangan hama dan tanaman yang sudah tua atau rusak. Oleh karena itu demi untuk mengembalikan kejayaan lada Lampung maka kerjasama berbagai pihak sangat diperlukan untuk mengembalikan kejayaan Lampung Black Pepper. Tanaman lada di Lampung memang terancam punah. Penyakit busuk pangkal batang sangat mengganggu. Produksi menurun dan jaraknya makin lebar, hanya 400 batang per ha dari ideal 1.600 batang per ha. Selain itu usia tanaman lada di Lampung memang sudah tua, kebanyakan masih hasil peninggalan Belanda. Hal itu menyebabkan produksinya hanya 466 kg per ha. Ini kalah jauh dengan Vietnam yang mampu memproduksi sekitar 2 ton per ha. Dulu, lada menjadi primadona Indonesia di pasar bumbu internasional. Belanda secara khusus menjaga dan merawat tanaman ini karena harga yang mahal, ketersediaan terbatas, dan aroma yang membangkitkan nafsu makan. Citra rasa lada hitam Lampung sangat digandrungi di berbagai belahan dunia. Sayang, ia belakangan kalah bersaing karena makin banyaknya pasokan lada dari tempat lain di pasaran dengan harga murah sekalipun kualitas rendah. Harga lada hitam Lampung di pasar internasional tak berbeda dengan lada

dari tempat lain. Padahal lada Lampung tak bisa disubstitusi dengan lada karena kekhasan rasanya. Produksi lada hitam Lampung 2011, menurut data Dinas Perkebunan Lampung, sebanyak 24.000 ton dengan luas areal lahan 53.673 ha dan diusahakan oleh 162.000 keluarga petani. Sementara produksi lada secara nasional mencapai 28.241,51 ton. Direktur Eksekutif International Pepper Community (IPC) S Kannan pada tahun 2012 mengatakan bahwa di tahun mendatang harga lada di pasar global akan tetap tinggi. Kenaikan produksi saat

ini masih rendah, sementara permintaan meningkat. Harga lada hitam sekitar Rp 60.000 per kg dan lada putih Rp 80.000 per kg. Meskipun produksi lada hitam Vietnam meningkat namun tidak memengaruhi pasokan lada hitam ke pasar global. Kebutuhan dan kemampuan produksi global yang masih terbuka dapat dimanfaatkan sebagai peluang. Produksi lada hitam Lampung yang tak mencapai 500 kg per hektare memang sangat disayangkan. Padahal secara turun temurun penduduk Lampung hidup dari tanaman tersebut.


Sugar Group Companies

Mengucapkan selamat atas dilantiknya

Kolonel Laut (P) Suharto, S.H. menjadi Komandan Pangkalan TNI AL Lampung

dan terimakasih kepada

Laksamana Pertama TNI Ir. Fery Sidjaja atas kebersamaannya dalam membangun Lampung

Semoga selalu sukses dalam menjalankan tugas di tempat yang baru


KOMPARASI

Edisi 07/2013 | AGRO SWAKARSA

19

Menengok Vietnam:

Komitmen Agroindustri Kebijakan Pemerintah Vietnam terhadap pembangunan pertanian senantiasa terfokus sehingga pertanian bisa menjadi penyangga perekonomian nasional.

parsial, berkutat di teori namun Pemerintah Vietnam lebih terfokus mengatasi berbagai persoalan pertanian di negerinya. Hasilnya, pertanian tumbuh pesat dan Vietnam menjadi salah satu negara yang sangat diperhitungkan dalam dunia perdagangan internasional. Itu sebagai pembanding, bagaimana pemerintah Indonesia bisa mencontoh pola pembangunan pertanian di negara yang sebenarnya terbilang kalah pengalaman dari segala hal dibandingkan Indonesia. Banyak hal yang dilakukan Pemerintah Vietnam patut dicontoh.

Hal lain yang menonjol adalah tingginya etos kerja petani Vietnam. Jelas, simbiosis yang sangat menguntungkan karena kombinasi antara kebijakan pemerintah yang terfokus dan didukung tingginya etos kerja tersebut kian mempermudah Pemerintah Vietnam untuk membangun industri agraris. Wajar, kalau dalam beberapa tahun terakhir ternyata beras Vietnam selain mampu memenuhi kebutuhan domestik juga telah melakukan ekspor bahkan terkesan merajai ataumendominasi ke

chucksforchancho.com

P

engelolaan pertanian di Vietnam sudah menjadi agroindustri. Kebijakan Pemerintah Vietnam terhadap pembangunan pertanian senantiasa terfokus sehingga pertanian bisa menjadi penyangga perekonomian nasional. Mulai dari pengadaan pupuk, pembangunan infrastruktur seperti irigasi, proteksi hasil pertanian hingga memperhatikan nasib petani dan lainnya sangat diperhatikan pemerintah atau singkat katakebijakan dari hulu hingga ke hilir terselenggara secara konsisten. Tidak ada kebijakan yang bersifat


20

AGRO SWAKARSA | Edisi 07/2013

banyak negara termasuk Indonesia. Vietnam juga merupakan salah satu eksportir utama rempah-rempah. Untuk lada hitam, tanaman paling penting di sektor ini, Vietnam telah menjadi eksportir terbesar nomor dua. Sektor lada Vietnam sangat berorientasi ekspor, di mana ekspor mencakup 95% produksi. Pada tahun 2009, Vietnam mengekspor 134.264 ton lada, meraih total pendapatan ekspor sebesar US$ 348 juta, menciptakan rekor baru dalam volume ekspor dan nilai produk lada, melebihi tiga negara pengekspor lada besar yakni Indonesia (40.000 ton), Brazil (32.000 ton) dan India (22.000 ton). Pada tahun 2010, Vietnam mengekspor 116.000 ton (US$ 419.000); tahun 2011

mengekspor 120.000 (US$ 720.000 juta). Menurut data Vietnam Pepper Association (VPA), dalam delapan bulan pertama tahun 2012 total nilai ekspor lada mengalami kenaikan 3,7% menjadi US$ 581 juta, sedangkan volume ekspor lada mengalami penurunan 16,7% menjadi 83.000 ton dibanding periode yang sama tahun lalu. Saat ini Vietnam mampu memasok sekitar 40â&#x20AC;&#x201C;50% dari seluruh ekspor lada global. Tujuan utama lada Vietnam beralih dari negara-negara ASEAN pada tahun 1990-an menjadi AS, UE, dan Timur Tengah pada tahun 2000-an. AS tampil sebagai pembeli terbesar, diikuti oleh India, Negeri Belanda, Jerman, dan Arab Saudi.

Vietnam:

Raksasa Lada Dunia

K

antor Statistik Vietnam melaporkan bahwa negara itu telah mengekspor lada sebesar 85.000 ton pada enam bulan pertama tahun ini. Nilai dari ekspor tersebut tercatat mencapai US$ 554 juta (sekitar Rp.5,54 triliun), yang sekaligus menempatkan Vietnam sebagai eksportir lada terbesar dunia. Volume ekspor lada Vietnam pada semester pertama tahun ini tercatat naik tajam sebesar 22,2 persen, sementara nilai ekspornya tercatat naik 17,3 persen. Sementara laporan lain menyebutkan, harga ekspor rata-rata lada Vietnam turun lebih dari 4 persen dan berada di posisi US$ 6.554 per ton. Amerika Serikat dan Jerman merupakan pembeli terbesar lada Vietnam selama periode tersebut, dengan berkontribusi 33% dari total nilai ekspor lada Vietnam. Permintaan dari AS dan Jerman

tercatat meningkat tajam, dengan mengalami pertumbuhan volume ekspor masing-masing sebesar 93,5% dan 20,4%. Sementara berdasar nilai kedua negara tersebut tercatat mengalami kenaikan masing-masing sebesar 84,1% dan 15,2%. Pihak Asosiasi Lada Vietnam (VPA) memperkirakan, Vietnam tahun ini akan memanen sekitar 90.000 hingga 95.000 ton, dari lahan seluas 60.000 hektar. VPA juga menyatakan bahwa terdapat sekitar 10.000 hingga 15.000 ton lada impor dari negara lain yang akan di re-ekspor, sehingga total jumlah lada yang memenuhi syarat untuk di ekspor menjadi 105.000 hingga 110.000 ton tahun ini. Pada tahun lalu, Vietnam mengekspor 119.000 ton lada senilai US$ 808 juta. Lada Vietnam tercatat terkirim di lebih dari 80 negara dan wilayah di seluruh dunia.


AKTIVITAS

Edisi 07/2013 | AGRO SWAKARSA

21

Menuju Indonesia Maju 2030:

Agri dan Agro Festival 2013 Kegiatan yang didukung oleh 12 Kementerian ini akan menampilkan pemeran, rakernas, bussiness forum and matching, talkshow, workshop, product demo, pertunjukan seni budaya, dan perlombaan.

S

ejumlah asosiasi pemerhati isu pertanian di Indonesia akan mengadakan event agrobisnis terbesar di Indonesia bertajuk Agri dan Agro Festival. Festival ini merupakan Jambore Krida Agribisnis dan Agroindustri Indonesia yang akan berlangsung pada 29 November hingga 1 Desember 2013 di Taman Mini Indonesia Indah. Festival ini mengangkat tema â&#x20AC;&#x153;Bangkit Agribisnis dan Agroindustri yang Berkelanjutan Menuju Indonesia Maju 2030â&#x20AC;? Selama tiga hari, kegiatan yang didukung oleh 12 Kementerian Kabinet Indonesia Bersatu II ini akan menampilkan pemeran, rakernas, bussiness forum and matching, talkshow, workshop, product demo, pertunjukan seni budaya, dan perlombaan. Acara lainnya yang turut memeriahkan festival ini adalah MAI Award yang bersifat bisnis, budaya, kuliner, edukasi dan hiburan yang tersebar di 34 Anjungan Provinsi yang terletak di dalam TMII. Agri dan Agro Festival 2013 juga akan menampilkan wahana khusus yang terletak di Tugu Api TMII yaitu berupa Pematang Sawah Indonesia yang menampilkan kawasan sawah dalam bentuk aslinya, lengkap dengan berbagai unsur pendukung seperti pematang sawah, alat bajak sawah, alat pengolahan panen, irigasi dan lainnya. Selain itu, terdapat wahana lain yaitu Pasar Ikan Indonesia yang menampilkan visualisasi kekayaan laut Indonesia dilengkapi unsur pendukung seperti panorama laut, perahu nelayan, dermaga, jaring penangkap ikan, hasil tangkapan, dan pasar lelang ikan. Wahana tersebut akan disajikan di Danau TMII. Wahana khusus lainnya yakni Sajian Kuliner Indonesia yang terletak di Anjungan Provinsi sebagai elatase kuliner dari seluruh daerah di Indonesia. Agri dan Agro Festival 2013

diselenggarakan hasil kerja sama beberapa pihak, yaitu: Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI), Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI), Asosiasi

Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), Perhimpunan Penyuluhan Pertanian Indonesia (PERHIPTANI), dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI)


22

AGRO SWAKARSA | Edisi 07/2013

EPILOG

Mengangkat Kembali

Pamor Komoditas Lada M Fadjar Ari Dewanto Vibiz Consulting

Untuk menyiasati harga bahan mentah lada yang rendah, petani lada Indonesia haruslah diajarkan oleh pemerintah untuk menghasilkan produk turunan dari lada, yakni produkproduk setengah jadi dan produk siap pakai sehingga dia mempunyai nilai tambah.

asih ingatkah kita alasan utama kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia pada abad ke-16? Dari sumber-sumber sejarah, kita menjadi ingat bahwa mereka dulu datang dengan tujuan utama untuk menguasai sumber rempahrempah Indonesia. Dari penguasaan komoditi tersebut, maka mereka dengan mudah menjualnya dengan harga tinggi ke pasar dunia yang saat itu berpusat di Eropa. Adapun rempah-rempah Indonesia yang dijual dengan harga mahal itu tidak lain adalah lada (merica). Komoditi ini menjadi primadona pada masa itu di Eropa dan dunia karena dia sangat diperlukan untuk mengawetkan daging, sebagai bumbu penyedap masakan, dan campuran obat-obatan (kesehatan), serta bahan yang dikonsumsi untuk menghangatkan badan, khususnya sewaktu musim dingin berlangsung. Di masa sekarang, penggunaan lada semakin meluas sehingga negara seperti Prancis pun sangat membutuhkan lada (lada hijau) untuk bahan dasar bagi industri parfumnya yang sudah tersohor ke seluruh dunia. Lain Dulu, Lain Sekarang Guna melihat kondisi terkini lada Indonesia, kita menelusurinya dari lada putih dan hitam asal Muntok dan Lampung. Dari kedua jenis lada ini, dapat kita lihat dari sisi harga, luas areal tanam dan produksinya. Di pasar internasional, sejak dulu hingga sekarang, lada Indonesia terkenal dengan nama Muntok white pepper untuk lada putih (Provinsi Babel sekarang) dan Lampong black pepper (Provinsi Lampung sekarang) untuk lada hitam. Jika kita dulu berjaya sebagai produsen terbanyak lada, kini kita menjadi urutan ke dua dunia setelah Vietnam. Selain itu, berbedanya kondisi sekarang dengan dulu, tampak misalnya dalam cerminan harga. Ketika harga tinggi, mendorong petani untuk meningkatkan produksi. Kehidupan petani lada Indonesia pada masa itu menjadi makmur. Sebaliknya yang terjadi sekarang, harga yang fluktuatif dan cenderung turun menyebabkan tidak sesuainya dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Selain masalah harga, Indonesia juga menghadapi persoalan semakin menyusutnya luas areal tanam untuk lada, baik lada putih ataupun hitam. Propinsi Babel yang

sejak ratusan tahun silam dikenal dunia internasional sebagai daerah utama penghasil lada putih, luas areal perkebunan lada putihnya terus menyusut sehingga produksi dan volume ekspor lada ini pun ikut merosot. Persoalan yang sama juga terjadi untuk lada hitam dengan daerah sentra produsennya adalah Lampung. Bahkan di Lampung, persoalan ditambah pula dengan banyaknya pohon lada yang mati akibat terserang jamur sehingga hasil produksi lada hitam dari tahun ke tahun semakin rendah. Pemecahan Masalah Untuk menyiasati harga bahan mentah lada yang rendah, petani lada Indonesia haruslah diajarkan oleh pemerintah untuk menghasilkan produk turunan dari lada, yakni produk-produk setengah jadi dan produk siap pakai sehingga dia mempunyai nilai tambah. Oleh karena itu, diperlukan pelatihanpelatihan untuk meningkatkan keterampilan petani lada. Disamping itu, petani lada Indonesia perlu dilatih juga untuk mengolah lada hitam dan lada putih sedemikian rupa agar dia tetap higienis sehingga mampu bersaing di pasar internasional. Terakhir, petani lada Indonesia juga harus diberikan informasi pasar domestik dan internasional lada yang terkini sehingga mereka dapat mengatur pada tingkatan berapa seharusnya jumlah produksi lada dihasilkan. Dalam tahap ini, peran penyuluh pertanian adalah sangat penting sebagai garda terdepan untuk petani lada Indonesia. Untuk mengatasi persoalan semakin menyusutnya luas areal tanam lada sehingga produksinya juga menurun, maka pemerintah seyogianya memberikan bantuan penyediaan modal untuk pembelian input produksi, sekaligus meningkatkan peranan penyuluh dalam hal peningkatan adopsi teknologi untuk komoditi lada. Dari kedua upaya ini, petani akan merasa mendapatkan insentif dan perhatian yang cukup dari pemerintah sehingga mereka bersedia melanjutkan dan meningkatkan produksi lada tidak hanya dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dalam bentuk diversifikasi produk turunannya. Melalui implementasi saran-saran di atas, kita berharap dalam waktu tidak terlalu lama, Indonesia dapat mengangkat kembali pamor komoditi ladanya di pasar dunia. (RR-ed)


Pertumbuhan untuk Masa depan yang lebih baik PGN senantiasa mencapai kinerja pertumbuhan terbaik bagi kepentingan Bangsa dengan selalu memenuhi komitmen kami kepada stakeholder, masyarakat dan lingkungan PGN adalah perusahaan yang bergerak di bidang transmisi dan distribusi gas bumi, yang menghubungkan pasokan gas bumi Indonesia dengan konsumen beberapa daerah Nusantara. Seiring meningkatnya kebutuhan energi yang bersih dan terjangkau, PGN akan terus menggunakan keahlian dan pengalamannya untuk mendapatkan sumber energi baru melalui pemanfaatan berbagai moda transportasi demi memenuhi kebutuhan jangka panjang konsumen.


24

AGRO SWAKARSA | Edisi 07/2013


Agro Swakarsa Edisi 07 / 2013