Page 1

i

MAKALAH PROGRAM PENYULUHAN PEMBERDAYAAN PETERNAK MELALUI PENGEMBANGAN KOPERASI AGRIBISNIS PETERNAKAN AYAM PETELUR KHUSUSNYA DI DESA BUKIT RAYA KECAMATAN TENGGARONG SEBERANG KABUPATEN KUTAI PROPINSI KALIMANTAN TIMUR

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktikum Mata Kuliah Penyuluhan Dosen Pengampu: Eko Nugroho, S.Pt, M.Sc

Disusun oleh: KELOMPOK 8 Reno Nizar Oktabene

105050101111054

Dewanti Sri Muryati

105050101111065

Rizza Muh. Fikriansyah

105050101111076

Rullyyanti Pujut S.

105050101111084

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012


ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulisan “Pemberdayaan Peternak Melalui Pengembangan Koperasi Agribisnis Peternakan Ayam Petelur Khususnya di Desa Bukit Raya Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Propinsi Kalimantan Timur�, dapat diselesaikan dengan baik. Dalam tulisan karya ilmiah ini, penulis mencoba memaparkan tentang keunggulan peternakan ayam ras petelur yang tergabung dalam koperasi yang dapat menguasai subsistem hulu, sub-sistem tengah dan sub-sistem hilir agribisnis sehingga nilai tambah usaha dapat direbut peternak bersama koperasinya. Demikian pula dengan sistem penyuluhan agribisnis yang perlu dipersiapkan agar sistem agribisnis ini dapat berjalan dengan baik. Penulis merasa apabila tulisan ini jauh dari kesempurnaan. Namun demikian, semoga tulisan ini masih tetapbermanfaat dan menambah pengetahuan bagi penulis dan bagi mereka yang memerlukannya.

Malang, 27 Nopember 2012

Penulis


iii

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN MUKA ...................................................................................

i

KATA PENGANTAR ................................................................................

ii

DAFTAR ISI ...............................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................

1

1.1 Latar Belakang ........................................................................................

1

1.2 Tujuan ......................................................................................................

2

1.3 Rumusan Masalah ...................................................................................

3

1.4 Manfaat ....................................................................................................

3

BAB II GAGASAN ....................................................................................

4

2.1 Gambaran Umum Kegiatan Penyuluhan .................................................

4

2.2 Gambaran Umum Masyarakat Sasaran ...................................................

5

2.3 Metode dan Tahapan-Tahapan Pelaksanaan............................................

6

2.4 Jadwal Kegiatan Program ........................................................................

9

BAB III PEMBAHASAN ..........................................................................

11

BAB IV PENUTUP ....................................................................................

13

3.1 Kesimpulan ..............................................................................................

13

3.2 Saran .......................................................................................................

13

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

14


iv

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Konsep Peternakan Ayam Ras Petelur ..................................

iv


BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan

pertanian yang bertujuan untuk menyediakan pangan hewani berupa daging, susu, serta telur yang bernilai gizi tinggi, meningkatkan pendapatan peternak, meningkatkan devisa serta memperluas kesempatan kerja di pedesaan. Hal tersebut yang mendorong pembangunan sub sektor peternakan diperlukan, sehingga pada masa yang akan datang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan bangsa. Pembangunan sub sektor peternakan yang berwawasan agribisnis merupakan upaya sistematis dalam memainkan peranan yang aktif dan positif di dalam pembangunan nasional, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan stabilitasi nasional. Salah satu peran penting dari sub sektor peternakan dalam pembangunan adalah dalam rangka mendorong pertumbuhan dan dinamika ekonomi pedesaan. Terdapat 3 (tiga) pendekatan yang akan mewarnai pembangunan sub sektor peternakan dalam era reformasi yaitu pendekatan agribisnis, pendekatan keterpaduan, dan pendekatan sumberdaya wilayah. Koperasi berasal dari kata co artinya bersama dan operasi artinya kerja. Jadi koperasi adalah suatu bentuk usaha yang dikerjakan

oleh suatu perkumpulan yang

memungkinkan beberapa orang atau badan dengan jalan kerjasama atau dasar sukarela atau hak dan tanggungjawab yang sama dalam menyelenggarakan usaha-usaha produksi, pembelian, dan penjualan barang atau jasa untuk kepentingan anggota. Perilaku agribisnis dapat diukur dari : (1) aspek perilaku teknis produksi, yakni unsur panca usaha pertanian dan peternakan; (2) aspek perilaku manajemen agribisnis, yakni :

perencanaan agribisnis, pemanfaatan sumber daya agribisnis, meningkatkan

efisiensi, meningkatkan produktivitas, senantiasa memperbaiki mutu hasil, melakukan perekayasaan teknis produksi, melakukan fun gsi kelembagaan agribisnis, dan selalu menguta makan ketepatan dan kecepatan pelayanan;(3) aspek perilaku hubungan sistem agribisnis, yakni melakukan hubungan kebersamaan dan saling ketergantungan dengan perusahaan agribisnis lainnya, melakuk an kerja sama secara harmonis, dan aktif melakukan komunikasi informasi agribisnis. Keberhasilan usaha peternakan tidak bisa ditentukan oleh peternak sendirian, tetai merupakan hasil sinergi antara peternak (perusahaan ternak dengan perusahaan yang menghasilkan sarana produksi peternakan dan 1


perusahaan yang akan mengolah atau memasarkan hasilnya serta komponen penunjang agribisnis. Oleh karenanya harus ada kesamaan sikap dan perilaku serta etikabisnis di antara pengusaha para pelaku sistem agribisnis lainnya tentang hakekat sistem agribisnis, yakni membangun sikap mental dan budaya industri pada masyarakat pertanian. Tingkat populasi peternakan ayam petelur di wilayah Propinsi Kalimantan Timur tentunya sangatlah tinggi. Ayam petelur di Kalimantan Timur menjadi salah satu komoditi unggulan sub sektor peternakan. Pada tahun 2009 ayam petelur memiliki potensi yang besar dan penting untuk dikembangkan. Ayam ras petelur memberikan kontribusi sebesar 73,07% dari total produksi telur di Kalimantan Timur. Produksi telur ayam ras periode 2004-2008 menunjukkan kecenderungan peningkatan, dari 4.532,34 ton pada tahun 2004 meningkat menjadi 8.240,79 ton pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pengembangan budidaya ayam petelur di Kalimantan Timur cukup bagus. Usaha ayam ras petelur di Kalimantan Timur belum berkembang secara optimal dan belum mampu memenuhi kebutuhan daerah secara kontinyu karena peternak dihadapkan pada keterbatasan permodalan dan belum terjalinnya kerjasama dengan perusahaan-perusahaan di bidang peternakan khususnya perunggasan dalam hal penyediaan bibit, pakan, maupun obat-obatan. Disamping itu, usaha ayam ras petelur di Kalimantan Timur belum mampu bersaing terhadap masuknya telur-telur dari luar daerah seperti Jawa Timur dan Sulawesi.

1.2

Rumusan Masalah Usulan program penyuluhan dengan judul di atas dalam rangka memecahkan permasalahan: 1. Bagaimana meningkatkan pendapatan para peternak kecil ayam ras petelur Propinsi Kalimantan Timur ? 2. Bagaimana cara mendapatkan tambahan modal untuk usaha kredit peternak kecil usaha ayam ras petelur dengan cicilan bunga yang ringan di Propinsi Kalimantan Timur ? 3. Bagaimana cara mendapatkan suplai pakan ayam ras petelur secara kontinyu di wilayah Kalimantan Timur ? 4. Kurangnya media sosialisasi dan komunikasi yang dekat antara peternak dengan pemerintah setempat.

2


1.3

Tujuan 1. Mampu menyampaikan informasi pentingnya koperasi peternakan ayam ras petelur. 2. Mampu memberikan metode penyuluhan yang efektif tentang pentingnya koperasi peternakan ayam ras petelur. 3. Peternak mampu mengaplikasikan setelah terbentuknya koperasi peternakan ayam ras petelur. 4. Peternak mampu meningkatkan pendapatan dari usaha peternakan ayam ras petelur wilayah Kalimantan Timur.

1.4

Manfaat 1.

Peternak memiliki suatu gambaran yang lebih maju bagaimana mendapatkan keuntungan tambahan dari peternakan ayam ras petelur.

2.

Antar peternak memiliki kemudahan dalam ruang komunikasi yang tertentu untuk memajukan usaha peternakannya.

3.

Peternak memiliki kemudahan dalam modal tambahan untuk mingkatkan usaha ayam ras petelur yang lebih maju.

3


BAB II GAGASAN

2.1

Gambaran Umum Kegiatan Penyuluhan a.

Memberikan gambaran akan pentingnya adanya suatu koperasi dalam upaya sebagai penunjang antar kelompok masyarakat peternak khususnya para peternak ayam ras petelur di wilayah Propinsi Kalimantan Timur. Setelah adanya koperasi yang berlandaskan badan hukum dan legal ini, para peternak kecil bisa mendapatkan fasilitas seperti kemudahan dalam mendapatkan modal dari bank dengan kredit bunga yang rendah dan terciptanya suatu komunikasi sebagai media perantara sosial untuk menyelaraskan berbagai pendapat dari anggota kelompok peternak itu sendiri.

b.

Memberikan gambaran tentang pola usaha ayam ras petelur yang optimal seperti gambar bagan di bawah. USAHA PEMBUATAN PAKAN

USAHA PEMBIBITAN

USAHA PEMELIHARAAN AYAM

Daging Ayam dan Telur Konsumsi Gambar 1. Konsep peternakan ayam ras petelur yang benar mengandung paling tidak tiga komponen yakni pembibitan, pakan, dan pemeliharaan.

Pola konsep seperti ini diharapkan mampu diaplikasikan oleh peternakpeternak wilayah Kalimantan Timur, sehingga antara peternak satu dengan peternak yang lain mudah dalam upaya peningkatan hasil produksi yang lebih efisien dan peningkatan pendapatan yang saling menguntungkan tentunya. Serta kemudahan dalam menyuplai kebutuhan pakan dan bibit antara peternak yang satu dengan peternak lainnya.

4


2.2

Gambaran Umum Masyarakat Sasaran Program penyuluhan ini disampaikan kepada peternak ayam ras petelur yang usahanya masih dalam lingkup usaha kecil. Jika dilihat dari aspek usaha peternak, kondisi peternak sebagain besar ditinjau dari aspek usaha yang memperlihatkan pengusahaan ternak masih dalam skala kecil dan bersifat sambilan, sulit memperoleh informasi, kurang sarana dan lokasi tersebar luas, sehingga manajemen peternak tidak efesien, biaya tinggi, tidak terpola dan kurang memiliki daya saing. Bidang usaha yang digeluti peternak dikaitkan dengan sistem agribisnis umumnya bergerak pada kegiatan budidaya (on-farm) saja. Sementara kegiatan hulu dan hilir ditangani oleh pedagang dan segelintir perusahaan. Peternak kurang mampu menjalin kerjasama atau kemitraan usaha dengan peternak lain, koperasi atau dengan perusahaan. Aspek permodalan peternak juga sangatlah minim. Karena peternak usaha sambilan ini secara umum lemah dalam permodalan dan akses kepada lembaga keuangan juga kurang. Disisi lain sering kita lihat bahwa keberpihakan lembaga keuangan juga rendah terhadap usaha sambilan tersebut. Peternak tidak memiliki agunan untuk perolehan kredit sebagaimana yang dipersyaratkan serta dinilai usaha ternak beresiko tinggi oleh lembaga keuangan. Bagi pihak lembaga keuangan mengurusi peternak – peternak kecil yang tersebar meluas dan kemungkinan kredit kecil-kecilan akan mengakibatkan kebutuhan tenaga pekerja, kerepotan dan biaya administrasi dan operasional lembaga keuangan menjadi tinggi. Di wilayah seperti Kalimantan Timur bisa dimungkinkan banyak sekali keterbasan media sosialiasai ataupun komunikasi yang baik antar peternak khususnya Pulau Kalimantan dengan Pulau Jawa yang banyak sekali penduduknya, sehingga dalam lingkup pemasaran hingga luar pulau juga menjadikan aksesnya terbatas. Untuk itu perlu memiliki suatu media sosialisasi tertentu untuk menerapkan sistem pemasaran seksama. Dan terlebihnya dengan adanya media seperti koperasi ayam ras petelur ini diharapkan mampu untuk mendapatkan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar di Pulau Kalimantan dalam penyediaan bibit, pakan, maupun obat-obatan. Dengan adanya sistem koperasi, diharapkan para petani memperoleh fasilitas KKPA keanggotaan koperasi tersebut. Koperasi yang mengusahakan KKPA harus sudah berbadan hukum dan memiliki kemampuan serta fasilitas yang cukup baik untuk keperluan pengelolaan administrasi pinjaman KKPA para anggotanya. 5


Mampu menerapkan sistem skim Kredit Usaha Kecil (KUK). Koperasi yang mengusahakan kredit ini harus sudah berbadan hukum dan memiliki kemampuan serta fasilitas yang cukup baik untuk keperluan pengelolaan administrasi pinjaman kredit para anggotanya. Metode dan Tahapan – Tahapan Pelaksanaan

2.3

Program penyuluhan ini dapat dilaksanakan dengan pendekatan sistem BIMAS (1963/1964), sistem LAKU (1976 ), sistem INSUS (1979) dan sistem SUPRAINSUS (1986), melalui inovasi tenologi Sapta Usaha Pertanian secara lengkap,

serta

dibangunnya

prasarana

transportasi,

kemajuan

teknologi,

berkembangnya pasar hasil usahatani, profil petani Indonesia telah berubah secara positif, yakni lebih meningkat tingkat pendidikannya, lebih mengenal kemajuan, kebutuhan dan harapan-harapannya lebih baik, dan telah mampu berkomunikasi secara impersonal. Konsep perusahaan dan sistem agribisnis dimunculkan untuk merubah paradigma petani-peternak bahwa mereka bukan ha nya sebagai petani -peternak atau buruh tani ternak atau pengusaha tanitetapi juga sebagai “manajer� atau pengelola perusahaan agribisnis yang berkedudukan setara dengan perusahaan agribisnis lainnya yang berada di subsistem hulu dan subsistem hilir.

Pelaksanaan penyuluhan dibagi dalam beberapa tahap yang meliputi : a Tahapan persiapan: meliputi survei lokasi, perijinan, menyusunan proposal dan seminar proposal. b Tahapan pelaksanaan: 1

Memandu penyusunan Rencana Definitif Kelompok (RDK) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). a

Persiapan melaksanakan musyawarah dengan menghubungi ketua kelompok tani, tokoh masyarakat, pengurus dan mempersiapkan susunan acara.

b

Pelaksanaan musyawarah yang akan dibicarakan berkaitan dengan rencana tanam, komoditas tanaman, kebutuhan sarana dan prasarana produksi.

2

Menyusun Program penyuluhan pertanian sebagai anggota. a

Berkoordinasi dengan BPPK daerah setempat dalam mengumpulkan datadata berkaitan dengan kondisi pertanian, peternakan ditingkat kecamatan.

6


b

Rencana kerja penyuluhan pertanian tingkat kecamatan, didukung kebijakan Pemerintah yang diberikan BPPK sebagai acuan penyusunan programa.

3

Menyusun Rencana Kerja Tahunan Penyuluhan Pertanian. a

Menetapkan masalah-masalah prioritas seperti tujuan, pemecahan masalah, sasaran dan waktu serta lokasi yang ada di desa.

b

Menentukan kegiatan dan metode penyuluhan serta merencanakan biaya, sumber biaya dan pihak yang terkait dalam pelaksanaan.

4

Menyusun materi penyuluhan pertanian dalam bentuk kartu kilat. a

Menyediakan media dan naskah untuk penyuluhan berupa kartu kilat.

b

Menyusun lembar persiapan menyuluh, materi disesuaikan dengan yang ada dikartu kilat.

5

Penyusunan materi penyuluhan pertanian dalam bentuk transparansi. Persiapan dalam membuat transparansi berupa: lembaran mika (plastik), spidol/ pen stabilo, penggaris, naskah atau urutan rangkaian materi penyuluhan. Penulisan dapat dilakukan secara sendiri dengan spidol/ pen stabilo atau membuat dengan komputer , memuat paling banyak 10 baris keterangan dan setiap keterangan tidak lebih dari 8 kata, ukuran huruf 21 point jika jarak sasaran 10 m, warna penulisan huruf dapat menggunakan warna jelas (hijau, biru, atau hitam) dan untuk warna merah berfungsi untuk penonjolan.

6 Menyusun materi penyuluhan dalam bentuk peta singkap. Alat dan bahan antara lain: spidol, crayon, pensil, kertas manila, panggaris, penghapus dan naskah penyuluhan yang disampaikan. Dan hal lain yang diperhatikan seperti : a

Ukuran dan lebar kertas disesuaikan dengan jumlah sasaran.

b Jenis gambar yang digunakan dapat berupa style gambar, coret-coretan, karikatur atau gambar berwarna yang bagus.

7

c

Gambar mempunyai latar belakang yang sederhana.

d

Huruf-huruf dan kalimat harus jelas dan dapat dipahami.

e

Mempertimbangkan kecerdasan dan kemampuan baca sasaran

Melakukan kunjungan tatap muka/anjangsana pada petani perorangan. a

Waktu kunjungan disesuaikan dengan keadaan sasaran.

b

Bertukar informasi secara langsung mengenai masalah yang dihadapi.

c

Dapat

langsung

mengajarkan

ketrampilan,

menampung,

membantu

pemecahan masalah dalam berusaha tani sasaran. 8

Melakukan kunjungan tatap muka/anjangsana pada kelompok tani. 7


a

Melakukan penyuluhan pertanian dengan kelompok sasaran seperti diskusi kelompok, demonstrasi .

b

Dapat menjangkau sasaran dalam jumlah dan mutu yang cukup, tepat sasaran dan waktu, mudah diterima dan menggunakan media secara efektif dan efisien.

c 9

Dapat menjamin keberlanjutan pelaksanaan, partisipatif aktif sasaran.

Melakukan kunjungan tatap muka/anjangsana pada petani secara massal. Melakukan penyuluhan pertanian/ menyampaikan pesan secara langsung kepada sasaran yang jumlahnya banyak seperti pertemuan KTNA atau menggunakan folder yang dibagikan dikhalayak ramai dengan tujuan menumbuhkan minat pada sasaran.

10 Memandu pelaksanaan demontrasi usaha tani dengan cara demontrasi plot. a

Persiapan/perencanaan meliputi penetapan lokasi, menentukan demonstrator, teknologi yang telah terbukti, penanggung jawab, sumber dana, alat dan bahan, membuat jadwal pelaksanaan.

b

Pelaksanaan: persiapan bahan dan peralatan, permulaan demonstrasi disaksikan oleh orang-orang setempat dimonstrasi dilapangan diberi tandatanda yang jelas, membantu petani demonstrasi yang bersangkutan, memberikan penjelasan mengenai demontrasi yang dilakukan, menyusun catatan bukti-bukti dan kesimpulan-kesimpulan tentang demonstrasi itu, umumkan secara luas hasil demonstrasi tersebut dan usahakan adopsi cara baru itu oleh petani-petani lainnya.

c

Evaluasi: apakah sudah sesuai dengan jadwal pelaksanaan, mencatat masalah/kendala dalam melaksanakan teknologi, tindakan yang diperlukan dalam mengatasi masalah dan mencatat dampak yang timbul dikalangan sasaran/petani.

11 Tahap perencanaan dan pelaksanan pendirian koperasi. a

Teknik pelaksanaan pendirian koperasi dalam kegiatan penyuluhan pertanian: diselenggarakan bersamaan dengan peristiwa-peristiwa khusus, mempunyai tema dan menjadi pusat perhatian, dalam skala kecil harus lengkap, materi jelas dan mudah dipahami, susunan sistematis dan berkelanjutan, objek secukupnya.

b

Pelaksanaannya adalah membentuk penyusunan struktur kelompok tani dan pembagian tugasnya. 8


c c

Pendampingan saat melakukan pemasaran telur ayam ras petelur.

Tahapan pengakhiran: mengevaluasi seluruh kinerja para peternak dengan harapan program koperasi ini berjalan lancar. Yang dapat digunakan demi mendukung kelancaran jalannya penyuluhan model

koperasi ayam ras petelur adalah sebagai berikut : 1.

Blangko data yang dibutuhkan dalam pendataan.

2.

Buku-buku panduan penyusunan profile desa, pedoman pembinaan kelembagaan petani.

3.

2.4

Alat tulis, kamera.

Jadwal Kegiatan Program Jadwal kegiatan penyuluhan model koperasi peternak ayam ras petelur.

No. 1.

2.

Waktu

Jenis Kegiatan ●

Persiapan

Koordinasi dengan instansi terkait

Mencari dan menentukan pembimbing eksternal

Koordinasi dengan aparatur desa

Orientasi lapangan

Menyusun jadwal kegiatan

Minggu ke-2

Mencari dan mengumpulkan data di desa

sampai minggu

Memandu

penyusunan

Rencana

Definitif

Kelompok

(RDK)

Rencana

Definitif

Minggu ke-1

ke-3

dan

Kebutuhan Kelompok (RDKK) ●

Menyusun

Programa

penyuluhan

pertanian

sebagai anggota

3.

Minggu ke-4

Konsultasi dengan pembimbing

Merangkum hasil kegiatan

Menyusun Rencana Kerja Tahunan Penyuluh Pertanian

Konsultasi dengan pembimbing

9


4.

Minggu ke-5

Merangkum hasil kegiatan

Menyusun materi penyuluh pertanian dalam

sampai minggu ke-6

bentuk kartu kilat. ●

Menyusun materi penyuluh pertanian dalam bentuk transparansi/bahan tayangan.

5.

Minggu ke-7

Konsultasi dengan pembimbing.

Merangkum hasil kegiatan.

Menyusun materi penyuluh pertanian dalam

sampai minggu ke-8

bentuk flipchart/peta singkap. ●

Melakukan kunjungan tatap muka/anjangsana pada petani perorangan.

6.

Minggu ke-9

Konsultasi dengan pembimbing.

Merangkum hasil kegiatan.

Melakukan kunjungan tatap muka/anjangsana

sampai minggu ke-10

pada kelompok tani. ●

Melakukan kunjungan tatap muka/anjangsana pada petani secara massal.

7.

Minggu ke-11

Konsultasi dengan pembimbing.

Merangkum hasil kegiatan.

Melakukan demonstrasi model koperasi peternak

sampai minggu ke-12

dengan cara demonstrasi plot. ●

Membentuk struktur keanggotaan koperasi

Pendampingan tugas anggota koperasi

Pendampingan pelegalan koperasi ke badan hukum

Pendampingan dalam memasarkan telur dari peternak ayam ras petelur

Evaluasi

10


BAB III PEMBAHASAN

Kegiatan usaha koperasi ayam ras petelur dalam rangka melayani anggotanya meliputi kegiatan seperti pengadaan sarana produksi (konsentrat, obat-obatan ternak, pelayanan kesehatan), kegiatan penyuluhan yang bertujuan untuk mencapai “better farming”, “better business”, “better living”, “better community”, dan

“better

environtment”, dan kegiatan pemasaran hasil produksi telur ke pasar tradisional setempat. Proses

pemberdayaan

(empowerment)

adalah

suatu

kondisi

yang

dapat

menumbuhkan kemandirian petani-peternak melalui pemberian kekuat an atau daya. Menurut Bryant dan White (1982), pemberdayaan adalah pemberian kesempatan untuk secara bebas memilih berbagai alternative dan mengambil keputusan sesuai dengan tingkat kesadaran, kemampuan, dan keinginan. Petani juga diberi kesempatan untuk belajar dari keberhasilan dan kegagalan dalam memberikan respon terhadap perubahan sehingga mampu mengendalikan masa depannya. Mochtar (1993) mengemukakan bahwa bentuk dan cara pemberdayaan sangat beraneka ragam, mengacu pada konsep-konsep pemberdayaan petani ke arah kemandirian dan ketangguhannya dalam berusaha tani. Kondisi tersebut dapat ditumbuhkan melalui pendidikan/penyuluhan dalam membentuk perubahan perilaku, yakni meningkatkan kemampuan petani untuk dapat menentukan sendiri pilihannya, dan memberikan respons yang tepat terhadap berbagai perubahan sehingga mampu mengendalikan masa depannya dan mendorong untuk lebih mandiri. Pemberdayaan petani-peternak ini penting karena dalam proses pembangunan pertanian, petani merupakan sumberdayape mbangunanyang berperan sebagai pelaku utama dalam mengembangkan usaha taninya. Pada proses pemberdayaan para peternak ayam petelur ini memang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani ternak melalui konsep pendirian koperasi ayam ras petelur guna memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan yang mencakup berbagai usaha produksi ayam ras petelur itu sendiri. Dengan pendirian koperasi ini maka aka ada jembatan yang khusus untuk menjalin kerjasama dalam upaya penyuplaian pakan yang kontinyu semisal dari perusahaan pakan atau peternak lain yang khusus menyuplai pakan. Disamping itu koperasi mempunyai langkah terpenting dalam hal pengadaan modal tambahan yang di dukung oleh pihak perbankan. Adapun keuntungan sinergi dari peternak kecil dengan perbankan juga sangat bermanfaat dalam upaya pembangunan sektor peternakan yang lebih maju di wilayah Kalimantan Timur. 11


Bank berdasarkan adanya kelayakan usaha dalam kemitraan antara pihak peternak rakyat dengan perusahaan peternakan dan pengolahan/eksportir sebagai inti, bank kemudian melibatkan diri untuk biaya investasi dan modal kerja pembangunan usaha peternakan khususnya ayam ras petelur ini. Disamping

mengadakan

pengamatan

terhadap

kelayakan

aspek-aspek

budidaya/produksi yang diperlukan, termasuk kelayakan keuangan. Pihak bank di dalam mengadakan evaluasi, juga harus memastikan bagaimana pengelolaan kredit dan persyaratan lainnya yang diperlukan sehingga dapat menunjang keberhasilan proyek. Skim kredit yang akan digunakan untuk pembiayaan ini, bisa dipilih berdasarkan besarnya tingkat bunga yang sesuai dengan bentuk usaha tani ini, sehingga mengarah pada perolehannya pendapatan bersih petani yang paling besar. Dalam pelaksanaanya,bank harus dapat mengatur cara peternak akan mencairkan kredit dan mempergunakannya untuk keperluan operasional lapangan dan bagaimana peternak akan membayar angsuran pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya. Untuk ini, bank agar membuat perjanjian kerjasama dengan pihak perusahaan inti, berdasarkan kesepakatan pihak petani/kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani/Kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani plasma dengan bank. Setelah ada kerjasama antar belah pihak baik peternak rakyat maupun perusahaan tertentu maka diperoleh pemasaran yang mudah di samping peternak menjual produknya di pasar tradisional setempat, peternak juga harus mampu memenuhi permintaan di perusahaan. Dengan didapatkannya mutualisme sinergi antar satu sama lain maka tentunya didapatkan keuntungan yang lebih dan tidak mendapatkan keuntungan yang musiman. Sistem koperasi juga dirasa perlu adanya suatu komunikasi yang lebih nantinya dan sebagai media penengah dalam dibentuknya kegiatan pendukung usaha-usaha peternakan ayam ras petelur di wilayah Kalimantan Timur ini. Koperasi juga mampu mendapatkan anggota baru dalam upaya menambah populasi peternak yang diharapkan adanya peningkatan produksi sehingga wilayah Kalimantan Timur mampu bersaing dengan wilayah wilayah lainnya seperti halnya di Jawa Timur dan Sulawesi. 12


BAB IV PENUTUP 3.1

Kesimpulan a.

Mengingat peternak rakyat kita umumnya serba kecil-lemah, maka secara individu tidak akan mampu merebut nilai tambah tersebut. Oleh sebab itu perlu ada suatu lembaga/organisasi bisnis peternak berupa koperasi agribisnis yang dikelola oleh peternak-peternak wilayah itu sendiri.

b.

Dengan adanya koperasi agribisnis peternakan milik peternakan rakyat (seperti koperasi peternakan ayam ras petelur) maka koperasi ini akan mengembangkan unit-unit usaha pada agribisnis hulu (misalnya industri pakan ternak) dan unitunit usaha pada agribisnis hilir (seperti perdagangan komoditas telur). Bila kondisi demikian dapat terjadi maka nilai tambah yang ada pada agribisnis hulu dan hilir akan dapat direbut oleh peternak rakyat melalui koperasinya.

3.2

Saran Pemerintah setempat diharapkan juga turut mendukung, membantu, dan selalu mengawasi dalam program penyuluhan ini untuk upaya peningkatan baik kinerja, usaha, serta pendapatan peternak rakyat sekitar di Propinsi Kalimantan Timur guna memenuhi kebutuhan konsumsi pangan khususnya telur secara nasional.

13


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Budidaya Ayam Ras Petelur. Bank Indonesia - Direktorat Kredit, BPR dan UMKM. Yusdja, Yusmichad, Nyak Ilham, dan Rosmijati Sayuti. 2004. Tinjauan Penerapan Kebijakan Industri Ayam Ras Antara Tujuan dan Hasil. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Volume 22 No. 1, Juli 2004 Hal. 22 – 36. Zaini, Achmad. 2011. Analisis Prospek Pemasaran Ayam Petelur di Kalimantan Timur. Jurusan/Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman. Samarinda. Jurnal Nasional EPP.Vol. 8. No.1. 2011 Hal. 1 – 8.

14

Profile for Rizza Muh

Pentingnya Koperasi Ayam Ras Petelur  

Pentingnya Koperasi Ayam Ras Petelur Kelompok 8

Pentingnya Koperasi Ayam Ras Petelur  

Pentingnya Koperasi Ayam Ras Petelur Kelompok 8

Advertisement