Issuu on Google+

“Inspiring, both the process and outcome!� -- Sitta Karina

you are LIKEable. attractiveness comes from within

Jed @revolutia Foreword by @pandji Pragiwaksono


“Buku ini adalah refleksi perjalanan batin penulis dari masa remaja sebagai victims sampai masa dewasa sebagai victors. Sebagai victims, ia mengalami semua karakteristik victims: denial, blaming dan excuses. Penulis adalah sebuah contoh kemenangan victims yang berhasil menjadi victors (ownership, responsibility, accountability). Para pembaca diajak menyelami perjalanan kemenangan tersebut, dan belajar dari setiap langkahnya. Saya pribadi mendapat banyak insight yang berguna dalam menjalani peran sebagai ibu. Cinta saja tidak cukup, dibutuhkan pengetahuan dalam membimbing diri, keluarga dan lingkungan untuk menjadi “The Real Victor”, pemenang yang sesungguhnya. CARPE DIEM!” Indira Abidin - @IndiraAbidin Communication and Public Relation Expert Managing Director of Fortune PR “Menarik karena berangkat dari pengalaman pribadi penulis, sehingga banyak orang akan mudah ‘nyambung’ dengan apa yang digambarkan penulis dengan detail dan intensitas emosi yang tinggi, apalagi perjalanan pribadi itupun digambarkan belum selesai oleh penulis. Perlu, untuk siapapun yang sedang mempelajari dirinya sendiri dan ingin lepas dari jebakan-jebakan psikologis yang selama ini menghambat langkah majunya.” Alissa Wahid - @AlissaWahid Psikolog Keluarga Pemilik Fastrack Funschool Jogjakarta, sebuah pusat pendidikan anak usia dini


“Inspiring, both the process and outcome! Yang bikin lebih menarik lagi, Paris Hilton turut berperan dalan perjalanan titik balik si penulis.� Sitta Karina - @SittaKarina sittakarina.com Novelis dan kontributor majalah CosmoGIRL! Indonesia “Dalam buku ini, penulis tidak hanya sedang menceritakan sebuah kisah klise yang sering kita dengar, tetapi ia telah melalui perjalanannya sendiri, ia juga telah mengambil pelajaran dari yang dialaminya, dan memenangkan pergumulan hidupnya, yang lebih menyenangkan adalah dia dengan rendah hati telah membagikannya untuk kita semua melalui buku ini. Saya sangat yakin buku ini dapat merubah setiap pembacanya dan membentuk satu cara pandang baru tentang kehidupan kita. Kehidupan yang harus dimenangkan!� Brilliant Yotenega - @byotenega byotenega.wordpress.com Founder of nulisbuku.com


“Inspiring, both the process and outcome!� -- Sitta Karina

you are LIKEable. attractiveness comes from within

Jed @revolutia Foreword by @pandji Pragiwaksono


You Are LIKEable: attractiveness comes from within Copyright Š 2010 Jed Revolutia All rights reserved First edition (ebook & book) Published by Revolutia Books Website: www.revolutia.info All rights reserved. No part of this publication may be reproduced or transmitted in any form or by any means, electronic or mechanical, including printing, photocopying, recording or any information storage or retrieval system, without prior permission in writing from the publishers. Interior design by Herlina


To Patti LaBelle Your music has blessed my life more than you’ll ever know. Every time you belt out those imposible notes, I say to myself: Man, there is nothing impossible in this world. You can do it!


Our Partners (as of October 2010) ProResensi.Com One Indonesia CityMagz.Net HitmanSystem.Com @KerjaKreatif


Acknowledgement. I am thankful for the many people who have helped shape both the ideas in this book and the way I explain them to others. My wonderful friends who have been faithful for just being there over the years to listen to my moans and grumbles: Yuni Wijaya, Mia Liem, Yuli Soekarna, Anastasia Adelina, Gladies Petra, Ronny Santosa, and Ika Devita. They have challenged me, counseled me, and corrected me over the years and have had a major influence on the ideas in this book. My favorite writers: Chuck Spezzano, Arnold Lazarus, Brennan Manning, Mike Yaconelli, and Henri Nouwen have also helped sharpen my understanding on the topic of self-acceptance. I am grateful for Brilliant Yotenega and Aulia Halimatussadiah of NulisBuku.Com and their wonderful resources to make this e-book-and-book project come into realization. My gratefulness is also for Herlina, my interior designer, who gave this book professional polish by her outstanding design skill. I am totally indebted to her. I also say ‘thank you so much’ for Eduardus Raditya and Devita Harya who have helped me in judging for #fotoPD photo contest. Thank you Lisna Mirna, who has lent her photo to be used in one of the pages of this book.


Additional thanks to Pandji Pragiwaksono, Indira Abidin, Alissa Wahid, and Sitta Karina who have been willing to read and review the first draft of this book. Thank you for Lia Achmadi who has made a wonderful review of this writing on her blog Lianamaku.com. My thanks to the many colleagues who have taken an interest in this book project and offered up their encouragement, support, guidance, and advice over the last several months. My gratitude for everyone who has been willing not only to read the ebook but also to buy the book. Thank you for being my book fans. The success of this book is because of you. Last but foremost, I thank God for allowing me to have one of my dreams come true: being a writer.


Content. Foreword by Pandji Pragiwaksono ............................................ 1 Preface ......................................................................................... 3 One.

You’re The Hero ............................................................ 5

Two. The Journey to Like Myself ........................................... 13 Three. Home at Last ................................................................. 21 Four. Positive Outlook ............................................................ 29 Five. Say Goodbye to The Ghosts .......................................... 35 Six.

It Hurts Like Hell .......................................................... 41

Seven. Hide Not From Me ........................................................ 47 Eight. How Not to be Afraid of People .................................... 55 Nine. If I Could Turn Back Time ............................................ 61 Ten.

Winner in You ............................................................... 67


Klik ke http://buy.revolutia.info untuk beli bukunya.


Di bagian “Home At Last”, penulis bertanya dengan kritis “Apakah Anda merasa nyaman dengan diri anda sendiri dalam kesendirian?” Lalu di bagian “If I Could Turn Back Time”, penulis seakan mewakili banyak orang ketika mengangkat isu “Fear of Rejection” Di bagian “Winner in You”, penulis seperti mengingatkan lagi bahwa adalah diri kita sendiri yang justru bisa mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran kita dengan mengubah cara pandang dan pikir kita. Baca buku ini, dan temukan diri kita kembali :)

September 2010 Pandji Pragiwaksono - @pandji www.pandji.com

Foreword

Buku “you are LIKEable” adalah sebuah pencerahan bahkan untuk saya yang tadinya sama sekali tidak pernah memikirkan masalah ini.

Page 1

Foreword.


Revolutia Books Presents

“you are LIKEable” Book Launching & Signing 20 November 2010 starts at 7 PM at It’s Borneo Cafe Cipete Raya 7 JakSel

Featuring: * Jed Revolutia - the author himself * Lia Achmadi - ProResensi.Com * Blue Summer - BlueSummerMusic.Com

Ticket Reservation: Send an email to kuistwit@revolutia.info Earlybird registration (October) Rp 60k Normal (November 1-15) Rp 75k You’ll get the Book, Food & Drinks, Door prizes, and win an Acer Aspire One D255 netbook.

Sponsored By:


Siapa saya? Saya tidak jauh berbeda dengan Anda, seseorang dengan banyak pergumulan hidup. Saya tidak mengatakan saya sudah mengetahui semua, namun yang bisa saya katakan ialah masih banyak hal yang perlu saya pelajari. Namun catatan-catatan pinggir kehidupan ini ada baiknya dikumpulkan dan dibukukan agar bisa bermanfaat bukan hanya bagi saya pribadi namun juga bagi para pembaca. Saya sendiri adalah contoh orang yang hidupnya ditransformasi setelah membaca banyak buku. Saya percaya hal yang sama juga akan terjadi pada Anda setelah anda selesai membaca buku ini.

Preface

Menulis buku adalah sesuatu indah karena kita bisa berbicara dan menyampaikan pesan kita kepada orang-orang yang tidak bisa kita jangkau dengan tatap muka. Terlebih lagi, menulis buku adalah sarana yang baik untuk refleksi diri sambil melihat sejauh mana kita telah belajar tentang kehidupan. Ini bukan kali pertama saya menulis buku, namun saya amat antusias untuk menulis dan membagikan pesan yang ada dalam buku ini. Mengapa? Karena ini semacam semi-otobiografi saya di sepanjang usia 20-an. Ada banyak pelajaran berharga kehidupan yang saya percaya akan menjadi lampu mercusuar bagi banyak pembaca yang mengalami perjalanan hidup mirip dengan saya.

Page 3

Preface.


Page 4 Preface

Buku “You Are LIKEable” ini adalah seri pertama dari trilogi buku bersambung yang saya rencanakan. Setelah Anda membaca buku ini, pastikan juga Anda akan mengoleksi 2 buku lainnya, yakni “You Are LOVEable” dan “You Are ADOREable” yang akan dirilis tahun 2011. Buku pertama ini akan lebih meletakkan dasar-dasar penting sebelum kita bisa melanjutkan dengan buku kedua dan ketiga. Inti yang ingin saya tekankan ialah kita harus menjadi pribadi yang positif optimis karena mereka yang positif optimis adalah orangorang yang menarik. Saya persilakan Anda untuk mengambil tempat duduk yang nyaman dan mulai membaca sambil merenung tentang hidup anda sendiri. September 2010 Jed Revolutia


One. You’re The Hero

When you feel like hope is gone Look inside you and be strong And you’ll finally see the truth That a hero lies in you Mariah Carey in “Hero”


Page 6 You’re The Hero

Apa yang akan Anda baca berikut ini adalah sesuatu yang telah secara revolusioner mengubah hidup saya. Kebenaran-kebenaran yang saya temukan dari berbagai pengalaman pahit kehidupan tapi pada ujungnya menjadi obat penyembuhan yang membuat saya menjadi orang yang lebih baik lagi. Saya akan mulai dengan sesuatu yang kelihatannya sederhana, namun telah mengubah konsep diri saya selamanya. Saya akan mulai dengan seorang wanita yang saya yakin Anda pasti tahu, Paris Hilton. Beberapa tahun lalu, Paris mencoba terjun membuat rekaman dan cukup sukses dengan penjualan musiknya. Saya terkesima setelah melihat video klip salah satu lagunya yang berjudul “Nothing in this World” karena frasa yang diflash-kan sebagai tema video klip tersebut adalah “Dare to Dream”. (http://youtu.be/32DwYTRmmto).

Image is taken from http://i.ytimg.com/vi/0BiS-AT5v3k/0.jpg

Saya langsung mengenang masa kecil saya dimana suatu ketika saya sedang duduk menonton televisi dan ada sebuah film berjudul “Daredreamers” yang sangat berkesan bagi saya sehingga saya selalu ingat ucapan salah satu aktor di film itu, “you can only make your dream come true, if you dare to dream”. Bagi saya bermimpi adalah sebuah kegemaran. Mungkin bukan hanya kegemaran, itulah satusatunya mainan masa kecil saya. Saya dibesarkan dari keluarga yang sangat tidak ideal. Ayah saya dulunya orang kaya, namun suatu ketika mengalami kebangkrutan dan terkena depresi mendalam sehingga hingga kini harus dirawat dari rehab satu ke rehab lain.


Video klip Paris Hilton yang berjudul “Nothing in this World� menampilkan seorang bocah lakilaki pemimpi sama seperti saya. Dalam keseharian, dia adalah seorang pecundang. Dia diejek dan dijadikan bulan-bulanan oleh siapa saja. Hidup seakan tidak adil baginya dan sebagai pelarian dia pun mulai berkhayal akan seorang gadis cantik yang akan datang dan menyelamatkan hidupnya. Maka keadaan akan berubah drastis, dia tidak akan lagi diremehkan, namun akan mendapat respek dari semua orang di sekitarnya. Gadis itu kemudian datang dalam wujud Paris Hilton, sang tetangga barunya. Pada ujung kisah video klip tersebut, sang bocah menggandeng Paris ke sekolahnya dan keadaan pun mulai berubah 100 persen. Dia bukan lagi pecundang, mimpinya sudah menjadi kenyataan.

You’re The Hero

Saya berkhayal sejauh khayalan saya sanggup berkelana. Saya sering membayangkan bagaimana rasanya jadi orang kaya, sukses, dan disukai banyak orang. Saya berkhayal berkeliling dunia dan memiliki rumah-rumah bak istana dimana-mana. Saya berkhayal memiliki kekasih-kekasih cantik dan pada intinya saya bisa mendapatkan apa saja yang saya ingini. Khayalan adalah pelarian saya karena dunia nyata sungguh sangat amat menyakitkan bagi saya.

Saya termasuk kurang pergaulan karena selalu diawasi dengan ketat oleh ibu, dia tentu tidak ingin kehilangan saya. Saya cukup berprestasi di sekolah walau tidak pernah menjadi ranking satu. Namun, di waktu luang, saya akan kembali lari kepada khayalan saya, dan bermimpi seakan hidup berbeda 180 derajat dengan apa yang saya alami di dunia ini.

Page 7

Ibu saya cuma tamatan SMP hanya mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan standar seperti menjahit, memasak, dan menggunting rambut. Almarhumah ibu adalah seorang pekerja keras yang seorang diri merawat saya dan adik saya, namun penghasilannya hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Saya besar tanpa mainan layaknya anak-anak seusia saya. Ibu saya melarang saya bermain dengan anak-anak lain karena tidak tahan khawatir jika saya ada diluar jangkauannya. Pada ujungnya, berkhayal adalah kegemaran saya.


Page 8 You’re The Hero

Saya rasa ini bukan hanya khayalan saya seorang tapi khayalan banyak orang di dunia ini. Tidak ada seorang pun yang mau menjadi pecundang, diledek dan dilecehkan oleh orang lain. Semua kita bermimpi, suatu saat keadaan akan berubah drastis. Orang-orang akan mulai memasang karpet merah bagi kita dan melakukan apa saja yang kita kehendaki. Kita bermimpi bahwa suatu hari, suatu hari, suatu hari nanti, keajaiban itu akan datang, dan kita akan mendapat giliran untuk berbahagia.

Saya selalu menganggap diri saya kurang beruntung. Kondisi ayah yang mengalami gangguan mental menjadi momok tersendiri buat saya. Saya harus puas dengan ketidakmampuan ekonomi keluarga, belum lagi olok-olok dari teman sebaya yang mengetahui kondisi keluarga saya. Belum lagi, ukuran bibir saya yang agak tebal juga menjadi bahan olok-olokan teman-teman masa kecil saya.

Kekurangmampuan saya dalam olahraga serta ketakutan saya pada ketinggian dan serangga semakin mengurangi rasa percaya diri saya. Akhirnya saya menjadi minder dan percaya kalau saya memang sudah ditakdirkan untuk jadi pecundang. Akhirnya saya percaya kalau saya adalah ‘born loser’ dan mengambil posisi sebagai kekuatan mereka yang tersisih. Saya percaya bahwa yang baik itu penuh kepalsuan dan dalam semua kebahagiaan pasti ada penderitaan yang menyertai. Akibatnya saya menjadi penakut dan tidak berani mengambil resiko dalam berhubungan. Saya menyalahkan diri saya, orang lain, atau keadaan yang membuat keadaan saya jadi menyedihkan. Parahnya, saya jadi tidak percaya bahwa saya juga deserve mendapatkan sesuatu yang baik dari kehidupan ini. Pesimisme adalah nama keluarga saya. Nah seperti sang bocah di cerita video klip Paris Hilton tersebut, saya mengembangkan kebiasaan bermimpi sebagai jalan keluar yang manis dari konflik batin saya.


Dare to dream is not enough. You have to dare to make your dream come true.

Revolusi yang saya alami sekarang ialah pada discovery bahwa impian saya jadi kenyataan atau tidak, bukan tergantung pada orang lain, tetapi pada diri saya sendiri. Dare to dream is not enough. You have to dare to make your dream come true. Kisah fairy tale indah didengar telinga, namun sayangnya kita tidak tinggal di negeri khayalan. Impian jadi kenyataan karena ada upaya dari diri sendiri untuk membuat impian itu terealisasi di dunia nyata. Tidak akan ada pahlawan seperti Paris Hilton di video klip tersebut yang akan datang menyelamatkan anda dari kedunguan anda. Tidak akan ada pangeran tampan yang tibatiba jatuh hati pada anda, jika anda belum mengubah diri anda untuk terlihat seperti seorang puteri cantik yang layak dipikati.

You’re The Hero

Nah, inilah kesalahan terbesar saya selama ini. Mengharapkan keajaiban datang dari luar. Akhirnya saya menggantungkan seluruh konsep diri saya pada keberhasilan saya mendapatkan gadis yang saya impikan jadi kekasih saya.

Pada akhirnya, saya memaksakan impian saya untuk jadi kenyataan pada orang-orang yang tidak memiliki impian yang sama seperti saya. Saya menjadi intoleran, memaksa, dan membahayakan. Perilaku saya telah membuat frustasi baik diri saya maupun diri wanita yang saya harapkan menjadi kekasih saya.

Page 9

Dalam impian saya, suatu keajaiban akan datang pada saat yang tidak ditentukan untuk merubah semua kesengsaraan menjadi kebahagiaan seperti kisah Cinderella. Bagi bocah itu, keajaiban itu bernama Paris Hilton. Bagi saya, itu adalah gadis impian saya. Namun pesimisme yang berlebihan malah membawa saya jadi meragukan apabila mimpi itu akan menjadi kenyataan suatu saat nanti.


Page 10 You’re The Hero

Pahlawan tidak akan datang dari luar sana, namun justru datang dari dalam diri anda sendiri. Seperti lirik yang dinyanyikan oleh Mariah Carey, `and the hero lies in you`. Dan hal itu sangatlah benar,

You’re the hero, My man.


“We are what we think. With our thoughts we make our world� – Buddha

You’re The Hero

Masalah kita selama ini ternyata ada pada diri kita sendiri, bukan orang lain. Kita mengalami banyak hal pahit karena kita sendiri yang memilih memandang segalanya sebagai hal yang pahit. Kita harus berani bangkit dari kegagalan dan kejatuhan serta terus melangkah tanpa pernah meragukan peluang kita untuk meraih setiap kesempatan. Kita tidak butuh orang lain sebagai simbol kemenangan kita seperti Paris Hilton bagi bocah pecundang itu. Yang kita butuhkan hanya optimisme. Optimis bahwa selalu ada harapan di depan. Optimis bahwa kita pasti bisa. Optimis bahwa kita pasti mampu meraih apa yang kita impikan.

Kebodohan kita selama ini ialah dengan mencari keajaiban dari luar, padahal keajaiban itu akan datang dari diri kita sendiri. Ketika kita percaya pada diri kita sendiri, maka keajaiban akan datang dan kita akan terbang dengan bebas. Sadarlah, kita sudah memiliki di dalam diri kita keajaiban untuk mengubah semua kemalangan menjadi kebahagiaan, reruntuhan menjadi bangunan kokoh, dan kematian menjadi kehidupan. Kita harus percaya ada banyak hal yang baik yang akan diberikan masa depan bagi kita.

Page 11

Kita harus melihat diri kita sebagai pribadi yang utuh dan bukan separuh. Kita harus yakin kalau kita bukan born loser. Kita harus percaya bahwa kita juga bisa menang dan mendapatkan apa yang kita impikan sebagaimana juga orang lain. Jangan salahkan nasib karena Anda bisa dan berhak mengubah nasib Anda jika Anda benar-benar serius menginginkannya. Kita harus yakin kalau kebahagiaan adalah berkah kehidupan bagi kita, dan kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain untuk menjadi standar kebahagiaan kita.


Two.

The Journey to Like Myself

I am beautiful no matter what they say Words can’t bring me down I am beautiful in every single way Yes, words can’t bring me down Christina Aguilera in “Beautiful”


atribut

kekayaan

jabatan

pendidikan

karir keturunan ras

Banyak orang tidak menyukai dirinya, termasuk juga saya selama bertahun-tahun. Saya selalu melihat pada apa yang kurang pada diri saya sehingga saya lupa pada kelebihan-kelebihan saya yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Buku yang sedang Anda baca ini adalah tentang bagaimana caranya agar Anda bisa disukai oleh orang lain. Banyak yang berpikir bahwa Anda akan disukai jika Anda orang kaya dari keluarga terhormat dengan segudang prestasi dan tubuh idaman banyak manusia. Anda salah besar. Paris Hilton terlihat memiliki segalanya: kekayaan, karir lintas profesi (model, penyanyi, bintang film) yang sukses, nama besar keluarga, ketenaran, hingga jadi pujaan banyak pria, namun tetap saja ada yang tidak suka padanya. Apakah Anda akan disukai atau tidak tidak ditentukan dari atributatribut yang Anda miliki, tapi dari dalam diri Anda sendiri. Jika Anda menyukai diri Anda, maka ini akan membuka pintu awal untuk orang lain bisa suka dengan Anda.

bentuk fisik

Page 14 The Journey to Like Myself

Apakah Anda menyukai diri Anda sendiri?


Kita menganggap diri kita tidak bernilai dan tidak berharga. Akibatnya ialah kita dengan mudahnya menerima diri kita disalahkan dan bergegas meminta maaf padahal kita tidak melakukan kesalahan sama sekali. Kita takut untuk kehilangan acceptance dari orang lain. Kita pun sering menyalahkan diri kita sendiri ketika orang lain tidak bahagia dan merasa kitalah yang harus bertanggungjawab untuk memenuhi semua tuntutantuntutan emosi dari orang lain. Kita ada di posisi poor karena kita sendiri menempatkan diri kita pada posisi itu.

The Journey to Like Myself

Apa itu poor self-image? Ini adalah sebuah kondisi batin dan mental dimana kita merasa diri kita serba salah dan serba kurang.

Page 15

Suatu ketika beberapa tahun yang lalu sepulang kerja saya mampir ke mal sebentar untuk mengambil uang buat ibu saya di ATM. Sewaktu saya melewati Pizza Hut setelah selesai mengambil uang dan hendak kembali ke parkiran, entah kenapa mood saya secara tiba-tiba berubah jadi jelek. Saya merasa sangat amat bete tanpa tahu sebabnya. Ini adalah awan negatif depresi yang sering tibatiba datang dalam hidup saya. Akar masalah saya sebenarnya ialah saya merasa kesepian. I don’t have friends. Saya bisa saja menyebut beberapa nama yang saya banggakan sebagai teman baik saya dan ada banyak juga orang yang mengaku sebagai teman baik saya, namun tetap saja saya merasa kesepian dan tidak punya teman. Mengapa? Karena saya merasa tidak ada orang yang mau spend time with me karena saya sangat menyebalkan. Kenapa saya bisa merasa demikian? Itu karena selama ini saya juga tidak nyaman dengan diri saya sendiri. Poor self-image. Saya berkutat dengan isu ini selama hidup saya dan karena ketidakpercayaan saya terhadap diri saya sendiri, pada ujungnya saya juga tidak percaya dengan orang lain di sekitar saya. Saya menjadi orang yang bitter atau pahit.


Page 16 The Journey to Like Myself

Perasaan rendah diri pada umumnya bermula dari situasisituasi di masa kecil kita. Ada masalah di dalam keluarga kita dan kita yang masih kecil pada waktu itu merasa tidak berdaya untuk melakukan sesuatu untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Bisa jadi situasinya seperti misalnya ada anggota keluarga yang sakit atau tertekan secara emosi sehingga mereka terkesan tidak lagi sayang kepada kita. Sebagai anak kecil, kita belum memiliki pengalaman yang cukup atau kedewasaan untuk bisa memahami dinamika permasalahan di dalam keluarga, sehingga kita merasa tidak berdaya dan berguna bagi keluarga yang berdampak pada perasaan rendah diri di masa yang akan datang. Jika kita merasa kita telah mengecewakan orang-orang di sekitar kita pada masa kecil kita, terutama orang tua kita, kita cenderung akan mulai menyalahkan diri dan merasa diri seperti ‘cacat’ atau tidak memiliki kemampuan untuk bergaul dan berkompetisi dalam kehidupan layaknya orang-orang lainnya. Seberapa jauh kita merasa diri kita pantas disukai dan dicintai oleh orang lain adalah ukuran nilai penerimaan diri kita.

Pandangan bahwa kita ‘cacat’ dan tidak pantas dicintai sebenarnya hanyalah bayangan yang kita buat atas diri kita sendiri. Semua orang di muka bumi ini akan sampai kepada fase dimana mereka merasa mereka adalah pecundang dan tidak diterima oleh lingkungannya. Ini sebenarnya fase wajar dari pengalaman menjadi seorang manusia. Tidak ada yang spesial sehingga perlu dibesarbesarkan seolah masalah Anda adalah kasus khusus. Oleh karena itu kita harus mulai membangun kekuatan karakter kita dari dalam diri kita agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan. Pertama Anda harus terlebih dahulu menyadari bahwa situasisituasi sulit di keluarga kita pada saat masa kecil kita seharusnya tidak menjadikan patokan untuk kita menilai harga diri kita. Mulailah dengan menyadari fakta bahwa kita dicintai sepenuhnya oleh orang tua dan anggotaanggota keluarga lainnya. Ketika cinta itu tidak diekspresikan dengan baik terhadap kita, ini bukan karena salah kita karena sebenarnya semua orang di sekitar kita masing-masing bergumul dengan masalah emosional masing-masing.


Page 17

Poor self image

Apa yang saya lakukan untuk keluar dari siklus poor self image? Saya berhenti berusaha menghukum diri saya.

The Journey to Like Myself

Saya kemudian menyadari masalah self-image saya selama ini bisa dilacak ke masa kecil saya dimana kejadian-kejadian di keluarga saya pada waktu itu membuat saya menjadi orang yang rapuh secara kejiwaan. Saya merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong ayah saya yang mengalami gangguan mental sejak saya berusia 2 tahun. Terlebih lagi, saya merasa bersalah karena saya tidak bisa menggantikan tanggung jawab bokap karena faktor usia yang masih kecil. Kegagalan saya untuk menjadi ‘cowok’ di rumah mengakibatkan saya membenci dan memiliki pandangan yang tidak sehat pada diri saya sendiri. Pada ujungnya saya memiliki mindset seorang pecundang dan percaya saya dilahirkan untuk menjadi pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa yang berarti. Krisis citra diri ini kemudian membentuk relung-relung kesepian dalam diri saya karena saya merasa saya menyebalkan dan tidak disukai. Kemudian awan negatif depresi akan tiba-tiba datang, saya merasa kepala saya mulai berat, leher saya seperti tercekik, dan tubuh saya lemas. Saya sedang menghukum diri saya sendiri.


Page 18 The Journey to Like Myself

Banyak orang secara tidak sadar gemar untuk disakiti. Perasaan disakiti menjadi semacam candu bagi orang-orang tersebut untuk bisa tetap bertahan hidup. Saya dulu seperti itu. Setiap kali awan energi negatif datang, saya akan menangis tersedu-sedu menyalahkan ketidakmampuan saya. Bagi orang lain, ‘sakau’ awan negatif ini bisa dalam bentuk lain misal dengan menyakiti fisik sendiri atau dengan membanting barang-barang hingga rusak. Awan negatif depresi inilah yang menjadi awal kecanduan akan banyak hal yang lain dalam kehidupan misal alkohol, narkotika, hingga seks yang tidak lazim. Awan negatif akan menyebabkan segalanya terlihat gelap, kita tidak bisa melihat orang lain, Anda hanya bisa melihat diri kita sendiri dan menjadi jijik terhadapnya. Pikirkan lagi apa yang kita dapat dari beragam kecanduan tersebut? Sebuah jembatan untuk membangun masa depan Anda? Tidak sama sekali. Kita seakan terikat dalam siklus setan yang berulang-ulang.

Di dalam benak kita selalu ada mentalitas pecundang yang selalu berkata, “saya akan gagal”, “saya akan ditolak”, dan “mereka tidak menyukai saya” sehingga kita mencoba melakukan banyak hal dalam kehidupan dengan serampangan hanya untuk membuktikan suara dalam benak kita itu benar, bahwa kita benarbenar gagal, bahwa kita benarbenar ditolak, bahwa kita benarbenar tidak disukai. Ujungnya kita sudah tahu, kita akan menghukum diri kita untuk memuaskan rasa bersalah itu, kita menangis, kita menyakiti diri sendiri, kita menyakiti orang lain, kita terjerumus dalam kecanduan, dan kita senang karena kita sudah membuktikan kita seorang pecundang dengan mengatakan I’m totally fucked up so get the fuck off of my life.


The Journey to Like Myself

“A wise man is he who does not grieve for the things which he has not, but rejoices for those which he has.� – Epictetus

Page 19

Kita mungkin berdalih kita adalah somebody, kita bahkan bisa menyombongkan diri dengan semua yang telah kita berhasil raih dan lakukan, namun pertanyaannya apakah kita sudah benar-benar berdamai dengan diri kita sendiri sehingga kita bisa memiliki citra positif atas diri kita. Kita bisa mulai bertanya pada diri kita apakah yang kita lakukan ketika awan negatif depresi itu mulai datang dalam hidup kita mencekik leher kita hingga hampir tidak bisa bernafas? Apakah kita membiarkankannya semakin pekat atau kita akan meng-ignore-nya sehingga awan gelap itu berangsurangsur menghilang? Apakah kita secara tidak sadar masih memiliki kebiasaan menghukum diri sendiri? Pada bab selanjutnya saya akan membahas bagaimana kita bisa keluar dari jebakan-jebakan emosi negatif ini.


Three. Home at Last

So fake cool image should be over ‘Cause I long for a feeling of home Real life, depicted in song, a loving memory After long, home is a place where I yearn to belong Simply Red in “Home”


Page 22 Home at Last

Kebutuhan terbesar manusia ialah untuk dikasihi. Sejak kita lahir hingga meninggal, kita sangat merindukan yang namanya penerimaan, pengakuan, dan perhatian. Seringkali motivasi terdalam kita untuk berbuat sesuatu di luar standar kenormalan ialah agar kita dapat diterima, diakui, dan diperhatikan. Seringkali saat-saat terburuk kehidupan kita, dimana kita menangis dan meratap tiada henti, bukanlah saat kita mengalami suatu musibah atau masalah berat, namun pada saat kita merasa tidak diterima, diperhatikan, atau diakui. Kerinduan terdalam kita ialah agar kita bisa mendapat kasih dari orang-orang yang kita anggap penting bagi kita, entah itu sahabat, kekasih, atau pemimpin. Tapi seringkali luka terdalam dalam hati kita ada ketika kita tidak mendapat kasih yang sepatutnya dari orang tua kita. Hidup kita bagaikan neraka ketika kita merasa tidak diterima, diakui, atau diperhatikan oleh orang tua kita.

Mereka yang besar dengan tidak mendapatkan kasih yang sepatutnya dari orang tua seringkali adalah mereka yang paling nekat dan ambisius dalam kehidupan. Sepanjang hidupnya mereka akan berjuang mati-matian dalam studi, pekerjaan, olahraga, atau apapun juga hanya demi mendapat pengakuan sebagai kebanggaan orang tua mereka. Oleh karena itu, mereka menyusahkan diri mereka dengan segala upaya yang tidak perlu hanya demi sebuah pengakuan dan penerimaan dari orang tua mereka. Di sisi lain, keinginan setiap orang tua ialah agar anak mereka menjadi atau melebihi mereka dalam segala hal. Dan hampir semua orang di dunia ini telah mengeluarkan semua energi yang ada, demi untuk sebuah pengakuan, sebuah kasih sayang, sebuah penerimaan.


Kita lebih nyaman bersama setan yang kita kenal baik dibanding mengambil resiko bertemu malaikat yang tidak kita kenal. Lagipula, pola perasaan bersalah dan menghukum diri sendiri telah menjadi sebuah gaya hidup dimana kita merasa nyaman dengannya. Kita mengatakan kita ingin diterima namun sebenarnya di bawah alam bawah sadar kita malah mengharapkan kita tidak diterima. Kita mengatakan kita ingin disukai namun sebenarnya di alam bawah sadar kita malah mengharapkan yang sebaliknya. Itu sebabnya, ketika penolakan itu terjadi, kita kembali lagi ke pola lama rasa bersalah dan menghukum diri sendiri. Kita lari kepada tempat pelarian dimana kita bisa bersembunyi dengan nyaman.

Home at Last

Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Karena pada dasarnya kita takut pada perubahan.

Page 23

Ketika kita gagal mendapat penerimaan yang kita harapkan maka kita akan terjebak dalam perasaan bersalah yang seringkali berujung pada sikap menghukum diri sendiri. Jika sudah menjadi sebuah pola hidup, maka kita akan merasa diri kita amat buruk dan disinilah asal muasal dari energi negatif dalam kehidupan. Kita tidak menjadi pribadi yang positif optimis yang melihat kehidupan sebagai gelas setengah penuh, tapi kita menjadi orang yang negatif pesimis yang melihat kehidupan sebagai gelas setengah kosong. Kita merasa kita adalah pecundang dan diperlakukan tidak adil oleh dunia ini. Kita gemar menyalahkan, mencari kambing hitam dan alasan-alasan yang dibuat-buat demi kenyamanan status quo emosi kita: kita tidak mau berubah menjadi orang yang lebih baik dari sekarang.


Page 24 Home at Last

Saya dahulu adalah gambaran sempurna pribadi yang seperti itu dengan mentalitas pecundang. Saya melihat dunia dari kacamata negatif pesimis. Saya selalu curiga dan iri hati atas keberhasilan orang lain karena di alam bawah sadar saya, saya membenci keberhasilan. Saya berusaha mencari penerimaan dan pengakuan ketika pada saat yang sama sebenarnya saya malah mengharapkan penolakan. Saya memang tidak akan mengakui bahwa saya berharap penolakan, tapi semua dibuktikan ketika saya ditolak, maka saya akan lari ke kamar saya, mengambil bantal, dan menangis tersedu-sedu. Pola yang sama terus berulang dan saya akan selalu menyalahkan faktor keadaan dan orang lain sebagai sumber masalah saya, tanpa menyadari bahwa saya sendirilah yang perlu dibenahi. Pertanyaan dasarnya, jika benar itu salah orang lain atau keadaan yang tidak mendukung, mengapa saya harus merasa bersalah? Mengapa saya harus menyesali apa yang telah saya lakukan? Itu karena sebenarnya di alam bawah sadar pikiran saya ada perasaan bersalah. Blaming atau menyalahkan orang lain dan keadaan adalah remedy atau obat yang saya coba pakai untuk mengobati perasaan bersalah tersebut.

Namun masalah tidak selesai, karena sebenarnya yang sedang saya lakukan ialah kecanduan pada sikap menghukum diri sendiri. Ketika kita terjebak pada pola penghukuman diri sendiri, kita selalu berusaha mengobati rasa sakit yang kita alami dengan rasa sakit lainnya dengan dosis yang lebih tinggi. Kita akan bertingkah semakin konyol dan aneh karena kita tahu itu akan menyebabkan penolakan yang lebih besar. Kita coba melucu, kita coba membual, kita coba bertingkah ‘preman’, kita coba melakukan hal-hal gila, atau bahkan menyakiti fisik kita, semua karena kita berusaha menjadi seperti gambaran pribadi yang ada di alam benak kita. Karena rasa bersalah yang berujung pada penghukuman diri sendiri dan citra diri negatif, kita pun memprogram diri kita menjadi seperti orang yang jelek, kasar, konyol, dan berbagai karakter negatif lainnya, demi sebuah penolakan yang lebih besar. Kita tahu jika kita memukul tangan kita dengan tongkat di tempat yang sama terus-menerus lama-kelamaan akan menimbulkan kebal rasa dan itulah juga yang sering kita coba gunakan untuk mengatasi rasa bersalah kita.


Home at Last

Kebenaran yang saya dapatkan beberapa tahun lalu ialah bahwa semua pergumulan citra diri pada dasarnya hanya terjadi dalam pikiran kita seorang. Lupakan dulu orang lain, lupakan dulu keadaan, dan bayangkan diri Anda ada seorang diri saja di sebuah pulau terpencil tanpa siapapun juga disana. Apakah Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri dalam kesendirian? Banyak orang begitu takut pada dirinya sendiri sehingga tidak bisa hidup tanpa ditemani. Mereka merasa begitu tergantung pada orangorang di sekitar mereka sehingga menuntut perhatian yang berlebih padahal masalah dasarnya ialah mereka takut pada diri mereka sendiri sehingga butuh kehadiran orang lain untuk membuat pikiran mereka merasa nyaman karena masih merasa diterima. Kembali ke pertanyaan tadi: Apakah Anda nyaman dengan diri anda sendiri? Ketika kita melihat diri kita ke cermin, apakah timbul rasa puas atau malah rasa benci?

Masalah citra diri ini bisa dialami siapapun tanpa peduli dia cantik atau jelek, kaya atau miskin, pintar atau bodoh. Sumbernya kembali ke perasaan tidak nyaman dengan diri kita sendiri yang pada ujungnya kita menggantungkan seluruh citra diri kita pada penerimaan dan pengakuan dari sumber lain. Ingat kisah Snow White ? Sang ratu yang juga ibu tiri sebenarnya sudah memiliki segalanya : kecantikan, kekayaan, kekuasaan. Namun dia masih buang-buang waktu setiap hari untuk menatap ke cermin dan bertanya siapa yang paling cantik. Ketika sang cermin memberikan jawaban yang tidak dia harapkan, dia pun mulai kalap dan berusaha membunuh orang yang sebenarnya tidak perlu dia bunuh. Mengapa pula seorang ratu harus merasa tersaingi oleh seorang anak kecil? Kita juga seringkali melupakan segala kebaikan hidup yang telah kita terima dan bukannya bersyukur kepada Tuhan, kita malah menggantungkan seluruh konsep citra diri kita pada sumber yang lain. Pertanyaan yang lebih penting dalam kehidupan bukanlah apakah kita diterima tetapi apakah kita puas? Kepuasan adalah faktor utama kebahagiaan.

Page 25

Kita berharap suatu ketika rasa sakit itu akan hilang jika kita berhasil berteman dengan rasa sakit pada level yang paling tinggi.


Page 26 Home at Last

Orang yang puas adalah orang yang bahagia dan orang yang bahagia adalah orang yang menarik. Yang ingin saya sampaikan disini ialah kita sebenarnya tidak perlu merasa bersalah. Kita tidak perlu menghukum diri sendiri. Kita tidak perlu memiliki citra diri yang negatif pesimis. Semua hal tersebut sebenarnya adalah semu dan tidak nyata karena hanya berlangsung di pikiran kita saja. Jika kita bisa berpikir negatif, maka kita juga bisa berpikir positif. Jika kita bisa merasa pesimis, maka kita juga bisa merasa optimis. Semua kendali ada pada pikiran kita dan ketika kita memutuskan untuk berubah maka segala sesuatu akan berubah dengan seketika.

Ada pepatah kuno yang mengatakan anda tidak bisa mencegah burung untuk terbang di atas kepala kita namun kita bisa mencegah mereka membuat sarang di kepala kita. Kita tidak bisa mencegah emosiemosi negatif untuk timbul, namun kita bisa menolak untuk tidak mengendapinya sehingga berujung pada rasa bersalah dan pola menghukum diri sendiri. Kita tinggal mengambil remote control dan menyetel channel televisi yang lain. Ketika kita memiliki citra diri yang positif maka kita akan by default memiliki emosi-emosi yang positif optimis. Pikirkan sekali lagi, ketika kita merasa tertolak apakah semua orang akan seheboh kita dalam menanggapinya? Ketika orang lain mengalami masalah yang sama seperti kita, apakah mereka akan se-lebay kita dalam menanggapinya? Itu semua bersumber dari default system di otak kita dan yang perlu kita lakukan sebenarnya hanya mengatur ulang setting pada pola pikir kita. Ketika kita menerima diri kita apa adanya, maka penerimaan dari orang lain pun akan datang. Ketika kita menyukai diri kita, maka kita akan mulai disukai oleh orang lain juga.


We should judge

Page 27

ourselves fairly,

Home at Last

others only confirm.

Fatshionable? I am. You think?

Image Courtesy of Lisna Mirna Kuntari http://fatshionablefatshionista.blogspot.com/


Four. Positive Outlook

I think I can make it now, the pain is gone All of the bad feelings have disappeared Here is the rainbow I’ve been prayin’ for It’s gonna be a bright, bright sun-shiny day Johnny Nash in “I Can See Clearly Now”


Page 30 Positive Outlook

Konon nasib seseorang di masa depan benar-benar dapat diramalkan. Bukan dengan kartu Tarot, bukan dengan rajah telapak tangan, atau dengan bertanya kepada cenayang.

Nasib kita di masa depan dapat diramalkan oleh kita sendiri. Nah lho? Menurut para psikolog, sukses atau tidaknya kita di masa depan ditentukan oleh kondisi hati kita sendiri. Konon semakin kita memiliki sikap yang positif optimis terhadap kehidupan, semakin kita menikmati setiap nafas hidup kita, semakin kita berbahagia, maka dapat dipastikan kita akan memiliki masa depan yang baik. Mereka yang negatif pesimis cenderung untuk memiliki level stress lebih tinggi, gangguan kejiwaan lebih sering, kesehatan yang memburuk, dan sedang mendaftarkan diri untuk mengalami nasib buruk demi nasib buruk.

Ada 2 cara untuk melihat gelas yang diisi hanya setengahnya: kita dapat melihatnya setengah kosong (fokus pada apa yang tidak ada) atau kita dapat melihatnya setengah penuh (fokus pada apa yang sudah ada). Hal ini menunjukkan bahwa kebagiaan kita tidak ditentukan dari keadaan kita namun dari persepsi yang kita kembangkan terhadap keadaan tersebut. Kebahagiaan kita ditentukan dari sikap respons kita terhadap segala hal yang terjadi di dalam hidup kita: entah kita mau berfokus pada apa yang masih kurang atau pada apa yang sudah ada. Kita bisa memilih untuk mengeluhkan apa yang kurang atau bersyukur pada apa yang sudah ada. Kebahagiaan menjadi milik mereka yang melihat hidup sebagai berkat dan masalah sebagai tantangan yang memberi warna bagi kehidupan. Sebaliknya kemalangan menjadi milik mereka yang melihat hidup sebagai kutukan dan melihat masalah sebagai perusak kegembiraan. Kita bahagia bukan karena apa yang kita harapkan jadi kenyataan, tetapi kita bahagia karena sebelumnya kita telah memutuskan untuk bahagia jika apa yang kita harapkan menjadi kenyataan.


Mari kita bayangkan sebuah keadaan dimana kita misalnya harus mendekam di penjara untuk satu malam lamanya. Teman sel yang bagaimana yang akan kita pilih: yang mengeluh akan nasib sialnya atau yang bersemangat menunggu esok pagi karena dia tahu dia akan bebas?

Positive Outlook

Saya sendiri terlahir sebagai seorang yang negatif pesimis dan cenderung untuk murung dan tidak bahagia. Seringkali saya selalu menyalahkan situasi, orangorang lain, dan bahkan juga Tuhan sebagai penyebab kekacauan dalam hidup saya. Saya tidak sadar semua ini justru adalah penghalang utama saya untuk meraih yang terbaik dalam kehidupan. Mereka yang mengeluh dan tidak pernah bersyukur akan selalu mendapati diri mereka berputar-putar di padang gurun kehidupan. Akhirnya moment of truth datang dalam hidup saya dan saya pun pada akhirnya menyadari kalau saya sendiri yang ada di balik semua masalah di hidup saya. Kalau saja saya memiliki pandangan positif optimis atas segala sesuatu, maka saya akan meraih kesuksesan demi kesuksesan dalam hidup saya. Welcome to the promised land.

Page 31

See, kuncinya ada di kata memutuskan.


Page 32 Positive Outlook

Kita bisa tangkap disini tidak ada manfaat yang dapat diraih dengan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang negatif pesimis. Ketika hidup kita dikelilingi oleh orang-orang yang positif optimis, maka hidup kita akan lebih bergairah dan menyenangkan. Nah, sekarang pertanyaannya ialah apakah kita memiliki sukacita di hati kita? Jika kehidupan ini adalah sebuah pesta, apakah kita akan menjadi the man or the woman of the party yang membagibagikan sukacita kepada semua orang yang hadir atau kita akan menjadi para penggerutu party poopers yang mengkritik setiap detail yang salah? Apakah kita akan lebih sering tersenyum atau cemberut? Apakah kehadiran kita akan membuat orang lain betah atau malah membuat orang lain terintimidasi? Saya sendiri masih dalam proses perbaikan demi perbaikan dalam hidup saya. Langkah pertama perbaikan diri saya ialah memutuskan untuk menjadi orang yang bersukacita dalam segala hal dan menolak untuk merenungi kemalangan-kemalangan di hidup saya.

Saya belajar untuk berhenti bertanya “salah siapa?” dan mulai bertanya “apa yang bisa dibuat dari ini?”. Never look back and ask ‘why ?’ but always look to the future and ask ‘why?’ Jalanilah hidup dengan cara “no regret”. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu menyesali masa lalu karena tidak ada seorang pun yang dapat mengubah masa lalunya. Yang lalu biarlah berlalu, namun kita punya kesempatan, yaitu masa kini untuk mengubah masa depan kita. Pertanyaannya sekarang ialah apakah kita akan menghabiskan waktu di masa kini untuk menyesali masa lalu atau untuk mengubah masa depan kita ke arah yang lebih baik? Orang yang selalu melihat ke masa lalu adalah orang stress. Orang yang menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk tidak bisa mengubah masa depan adalah seorang pecundang yang sudah pasti gagal. Orang yang negatif pesimis akan selalu punya banyak alasan untuk tetap tinggal dalam zona status quo mereka demi kenyamanan, sedangkan orang yang positif optimis akan selalu menghindari alasan dan mencari cara untuk memperbaiki segala sesuatu.


Orang yang meraih keberhasilan selalu adalah orang-orang yang sudah siap untuk berhasil. Mereka adalah orang-orang yang

Kita ingin jadi musisi sukses? Giatlah berlatih musik. Kita ingin jadi pengusaha sukses? Mulailah dari usaha kecil-kecilan. Kita ingin jadi bintang film? Ambil kelas drama, berlatih, dan belajar dari yang lebih berpengalaman. Anda ingin jadi atlet hebat? Gunakan waktu anda untuk berlatih secara serius. Saya ingat salah satu legenda Basket NBA, Larry Bird, pernah berkata: ‘Saya sukses karena saya selalu berlatih basket seusai sekolah selama berjamjam. Saya tidak peduli ada teman atau tidak, ada hujan atau apapun, saya harus bermain Basket karena Basket is my life.� Tidak heran dia bisa sukses, karena dia selalu menginvestasikan waktunya untuk menjadi sosok sukses yang dia ingini di masa depan. Sementara anak-anak lain sibuk dengan berbagai urusan lain, dia sibuk merintis karir Basketnya sejak dini, hingga akhirnya bisa menjadi salah satu legenda Basket.

melatih dan mengasah diri mereka siang dan malam, hari demi hari, tahun demi tahun, untuk menjadi pribadi yang mereka impikan dan siap manakala kesempatan untuk sukses tiba. Jangan berpikir bahwa si A atau si B bisa sukses karena mereka dibantu oleh C atau D. Yang sebenarnya terjadi ialah si A atau si B sudah siap dan berada di sana ketika pintu kesempatan itu dibuka oleh C atau D,

Positive Outlook

sedangkan pada saat yang sama, kita masih sibuk berfantasi ria membayangkan kita yang akan mendapatkan kesempatan itu padahal kita tidak melakukan apa pun untuk meraihnya.

Page 33

Oleh karena itu mari lihat ke depan dengan optimisme karena ada banyak yang kita bisa ubah di masa depan kita kalau saja kita memilih respons yang tepat.


Page 34 Positive Outlook

Bagaimana dengan kita? Apa yang ingin kita raih dalam kehidupan? Sudahkah anda menginvestasikan waktu kita untuk mengubah masa depan dan mencapai mimpi-mimpi kita? Atau kita masih tenggelam dalam fantasi semu. Bersembunyi dalam tempat persembunyian yang nyaman karena kita takut untuk berhasil. Kita takut impian kita akan menjadi kenyataan. Mau sampai kapan? Jika kita serius inginkan masa depan yang baik, maka segala sesuatu harus dimulai dari sekarang. ‘Carpe Diem’ adalah bahasa Latin untuk manfaatkanlah waktu kita. Alasan selalu ada jika dibuat-buat, tapi itu tidak akan bawa kita kemana-mana. Yang akan mengubah hidup kita sebenarnya selalu setiap langkah maju ke arah ke mana kita hendak menuju. Bagaimana kita bisa mulai melangkah maju? Kita bisa mulai dengan memanfaatkan apa saja yang sudah kita miliki untuk menggapai apa yang belum kita miliki. Seorang yang positif optimis mengerti jika dia ingin mendapatkan mobil impiannya maka dia harus menggunakan kemampuannya untuk bekerja mencari uang sehingga pada akhirnya dia akan bisa membeli mobil tersebut.

Sedangkan seseorang yang negatif pesimis akan menunggu kebaikan hati orang lain yang tidak dikenalnya untuk memberikan dia mobil impian tersebut. Sounds stupid right? But that’s exactly the way many people live. Kita menunggu dan menunggu dan menunggu untuk sesuatu yang tidak akan pernah datang tanpa pernah melangkahkan kakinya untuk meraihnya. Kita tenggelam dalam fantasi yang semu belaka. Padahal dia punya kemampuan untuk bekerja dan dari kemampuannya tersebut dia akan mendapat penghasilan yang bisa dia pakai untuk mendapatkan mobil tersebut. Ketika kita ingin menjadi pribadi yang berhasil, langkah maju apa yang sudah kita buat?

Apakah kita sudah berhenti mencari-cari alasan untuk menghambat diri kita melangkah maju? Apakah kita sudah menjadi pribadi yang positif optimis dan bukan negatif pesimis? Ketika kita melihat diri kita di cermin esok pagi, apakah kita akan melihat calon orang sukses masa depan atau calon pesakitan rumah sakit jiwa?


Five.

Say Goodbye to The Ghosts

I think too much, I do too much I fall too much, I fail too much I cry too much, I die too much I’m haunted by the ghosts in my machine Annie Lennox in “Ghost in My Machine”


Page 36 Say Goodbye to the Ghosts

Banyak orang hidup dalam perangkap masa lalu. Saya suka menyebutnya dengan istilah “para hantu� karena ini bicara pengalaman traumatik di masa lalu yang menghantui hidup kita hingga sekarang. Hantu adalah sesuatu yang tidak nyata yang hadir di masa kini dalam bentuk ilusi yang datang dari masa lalu seakan menuntut balas akan sesuatu yang belum diselesaikan. Para hantu semestinya sudah mati tapi mereka bisa tetap menghantui bagai mimpi buruk bagi orangorang yang belum mau melepas masa lalunya dan memerdekakan masa depan mereka. Bab ini akan berbicara bagaimana kita bisa mengucapkan selamat tinggal kepada hantu-hantu tersebut dan memulai babak baru kehidupan positif optimis.

Semua orang pasti pernah mengalami pengalaman traumatik masa lalu yang membekas dalam memori sebagai mimpi buruk yang ingin dilupakan, namun hanya sedikit yang mau membereskannya sekali untuk selamanya. Beberapa orang bahkan suka memanggil para hantu itu datang menemani hidup mereka karena kebodohan mereka dan menganggap para hantu tersebut sebagai teman sejati mereka. Dulu saya termasuk salah satu diantaranya, hingga suatu ketika pada saat sedang menunggu pesanan nasi goreng kaki lima saya selesai dimasak, sebuah suara kuat dari batin saya berkata, “if not now, then when?� Saya harus segera mengusir para hantu itu pergi dari kehidupan saya. Jika tidak sekarang, maka mau menunggu sampai kapan lagi? Seperti yang saya katakan tadi, semua orang punya masalah kejiwaan, tapi tidak semua orang mau face-to-face berhadapan langsung dengan hantu masa lalu itu. Setelah mengusir para hantu itu pergi dari hidup saya, saya pun dapat berdamai dengan diri saya dan melihat masa lalu dalam perspektif yang baru:


Mungkin lucu kedengarannya, tapi saya telah mengidentifikasi hantu masa lalu terbesar dalam hidup saya sebagai ketakutan untuk sukses dan ketakutan untuk gagal.

Say Goodbye to the Ghosts

Banyak orang hidup dalam denial.

Mereka menyangkal mereka punya masalah psikologis padahal keyakinan bahwa mereka tidak bermasalah seringkali pertanda kuat mereka sedang memiliki masalah psikologis serius. Para hantu masa lalu tidak akan dapat kita usir tanpa kita terlebih dahulu menyadari bahwa kita bermasalah. Hanya orang yang sadar dirinya sakit yang akan menerima obat dokter dengan senang hati. Jika saya tidak merasa sakit, saya akan menolak obat apapun yang diberikan dokter kepada saya. Oleh karena itu kita harus terlebih dahulu menyadari kita bermasalah, lalu kita akan membereskan pengalaman-pengalaman traumatik masa lalu itu satu per satu. Mungkin pertanyaan dasarnya yang bisa kita tanyakan ialah, “Apakah kita puas dengan diri sendiri?� dan jawaban jujur kita terhadap pertanyaan itu akan menjelaskan berbagai mimpi buruk yang selama ini menghantui hidup kita.

Page 37

bahwa semua pengalaman masa lalu justru memacu saya untuk banyak belajar dan berubah menjadi a better person. Mungkin bisa jadi ini yang disebut peristiwa titik balik dalam hidup seseorang. Beberapa orang menyebut ini dengan istilah titik jenuh, di mana akan ada perubahan signifikan dengan terciptanya kurva. Untuk bisa sampai kesana, memang dibutuhkan pengalaman rock bottom. Disinilah saya akhirnya sadar kalau saya selama ini memiliki banyak kekurangan dan masalah. Akhirnya saya memutuskan untuk berubah dan menghadapi semua ketakutan saya dengan berani.


Page 38 Say Goodbye to the Ghosts

Lucu karena bagaimana mungkin saya bisa takut pada kesuksesan dan kegagalan pada saat yang sama. Tetapi itulah kenyataan yang selama ini melekat pada hidup saya. Ayah saya dulu adalah orang yang sangat sukses secara materi (i still can tell how rich he was) namun pada akhirnya dia mengalami kegagalan usaha yang membuat dia terpuruk dan akhirnya mengalami gangguan kejiwaan yang pada dampaknya membawa banyak kesengsaraan di hidup saya dan anggota keluarga lainnya. Inilah faktor utama mengapa selama ini saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi kaya raya. Saya berusaha merasa cukup dalam segala sesuatu, karena saya takut apa yang akan terjadi jikalau saya punya banyak uang. Saya takut bila saya sukses dan kemudian mengalami kegagalan seperti yang dialami ayah saya, saya akan berakhir pada ending yang sama seperti halnya ayah saya. Bertahuntahun mimpi buruk hantu masa lalu ini menyelimuti kegelapan hidup saya. Sekarang saya sudah tidak mau lagi terhipnotis dengan ketakutan itu. Waktunya untuk saya terbebas dan meraih apa yang sudah seharusnya saya raih.

Hantu masa lalu datang dalam berbagai macam wujud di dalam kehidupan banyak kita.

trauma

masa lalu denial takut gagal


Say Goodbye to the Ghosts

Masih banyak lagi contoh cengkraman hantu masa lalu dalam hidup seseorang. Sering ada kasus dimana anak-anak perempuan yang sempat mengalami pelecehan seksual di masa kecil mereka, bertumbuh menjadi overweight karena mereka berusaha menghindari mendapat perhatian dari kaum lelaki. Alam bawah sadar mereka memprogram supaya tanpa mereka sadari mereka memupuk kebiasaankebiasaan buruk yang mengarah pada kelebihan berat badan supaya pengalaman traumatik pelecehan seksual oleh laki-laki di masa lalu tidak akan terjadi lagi dalam hidup mereka. Ada juga kasus-kasus dimana seseorang memiliki kecenderungan orientasi seksual sesama jenis oleh karena minimnya perhatian yang mereka dapat dari figur ayah/ibu di masa kecil mereka. Hasrat untuk dekat pada figur orang tua berjenis kelamin tertentu dilampiaskan secara tidak sadar pada tindakantindakan mereka. Ada juga orangorang yang takut akan keterbukaan karena trauma masa lalu akibat pernah dipermalukan di depan umum. Mereka akhirnya tumbuh penjadi pribadi yang pemalu dan pendiam.

Page 39

Misalnya ada seorang sahabat saya yang takut berkeluarga karena trauma kejadian dimana ayahnya meninggalkan dia dan ibunya ketika dia masih kanak-kanak. Jauh di bawah kesadarannya. dia juga takut end up the same seperti ayahnya. Itu sebabnya dia tidak pernah berpikir untuk membina sebuah keluarga. Hantu masa lalu ketidakmampuan untuk bertanggungjawab sebagai lelaki sejati telah membuat dia banyak kehilangan berkat kehidupan. Ada juga teman saya yang lain yang dihantui hantu trauma diperhatikan. Oleh karena pengalaman buruknya di masa lalu dimana dia sempat kehilangan perhatian dari anggota keluarganya yang sedang mengalami masalah menyebabkan dia takut jika diberi perhatian khusus oleh orang lain. Sang hantu membuatnya ketakutan sewaktuwaktu perhatian itu akan surut dan tergantikan oleh kebencian. Akibatnya dia selalu curiga pada setiap perhatian orang lain terhadapnya dan memilih untuk menyembunyikan dirinya agar tidak diperhatikan sama sekali.


Page 40 Say Goodbye to the Ghosts

Mungkin ini juga lucu, tetapi menurut seorang psikolog ternama yang bukunya pernah saya baca, kita justru merindukan pasangan yang memenuhi kriteria yang kita benci, bukan yang kita sukai. Teori opposite attraction ini mungkin ada benarnya juga. Karena natur kita sebagai manusia, kita lebih menyukai iblis yang kita kenal baik, dibanding malaikat yang kita tidak kita kenal. Aneh memang, namun itu seringkali jadi kenyataan. Itu sebabnya ada banyak wanita yang katanya menginginkan pasangan yang begini dan begono tapi malah akhirnya jatuh cinta kepada laki-laki yang sama sekali tidak mirip dengan gambaran ideal dia tadi. Pernah ada kasus yang saya saksikan di TV dimana seorang wanita justru memilih seorang pria dingin yang suka menyakiti wanita sebagai suaminya. Mengapa? karena sebenarnya dia takut pada keintiman. Dia lebih merasa nyaman dengan pria tersebut dibanding dengan pria yang ada di mimpinya karena laki-laki itu lebih menyerupai orang tuanya yang dingin dan menjaga jarak dengan dirinya. Justru bersama iblis yang dia benci malah membuat dia merasa nyaman karena telah mengenal hantu tersebut dengan baik dibanding harus bertemu dengan malaikat pria impian dia.

Saya juga belajar bahwa kita bisa jadi membenci orang-orang yang punya kemiripan dengan kita. Kalau kita pernah tanpa alasan tertentu tiba-tiba tidak suka dengan seseorang, besar kemungkinan itu justru karena orang tersebut punya kemiripan dengan kita. Mengapa kita membenci dia? sebenarnya bukan orang itu yang kita benci, tapi bagian diri kita yang kita benci yang kebetulan ada juga pada orang tersebut. Itu sebabnya sumber segala masalah hubungan seringkali bukan ada pada diri orang lain, tapi malah pada diri kita sendiri. Ketika kita belum mengatasi berbagai masalah kejiwaan kita, maka kita terjebak dalam situasi yang terus menerus berulang oleh karena kita belum memutuskan untuk berubah. Kita belum mau mengusir para hantu masa lalu itu sekali untuk selamanya. Pada bab selanjutnya kita akan belajar untuk berani berubah meninggalkan masa lalu kita dan menyambut masa depan baru yang cerah. “The future depends on what we do in the present� – Mahatma Gandhi


Six.

It Hurts Like Hell

Sometimes it hurts to even laugh You feel a thousand miles from happiness Sometimes the pain is just too much, too much And it hurts like hell, that’s the way it feels Aretha Franklin in “Hurts Like Hell”


Page 42 It Hurts Like Hell

Semua manusia sebenarnya adalah pribadi yang rapuh. Tidak peduli jika kerapuhannya dibungkus oleh tampang sangar dan tindakantindakan kejam, di lubuk hatinya dia tetap seseorang yang rapuh yang perlu disayang dan dikasihi. Mengapa ? karena kita semua adalah manusia yang punya hati dan perasaan. Kita dilengkapi bukan hanya intelek untuk berpikir namun juga sanubari untuk bisa merasakan apa yang tidak terlihat. Kita menyebut seseorang sebagai orang gila bukan hanya karena mereka tidak lagi mampu berpikir secara normal, namun juga karena ketidakmampuan mereka untuk merasa. Umumnya kegilaan timbul akibat depresi akut yang sudah diderita begitu lama tanpa ada tindakan penyembuhan. Untuk itu, setiap kita perlu memastikan bahwa diri kita sehat secara jasmaniah dan rohaniah. Pertamatama, kita harus sadar bahwa kita rapuh. Kita perlu disayang dan dikasihi oleh orang lain. Kedua, kita harus menyayangi dan mengasihi diri kita sendiri sehingga pada akhirnya kita bisa menerima cinta kasih dari orang-orang yang berharga bagi kita.

Banyak orang yang terluka justru mengusir semua cinta kasih orang lain terhadapnya. Pintu hatinya ditutup dengan segel No Entry bagi dirinya sendiri apalagi orang lain.

!

Y TR

N

N E O


Ketika kita disakiti oleh seseorang, maka kita pun akan merasakan rasa sakit di hati kita. Sering tidak kita sadari bahwa rasa sakit tersebut adalah akumulasi dari rasa sakit yang pernah kita derita sebelumnya yang belum kita bereskan. Itu sebabnya ketika kita disakiti oleh pasangan kita sekarang, di benak kita sering terulang kembali memori pernah disakiti oleh mereka yang berjenis kelamin sama dengan pasangan kita, entah ayah atau ibu kita atau pasangan-pasangan kita sebelumnya.

It Hurts Like Hell

Luka-luka yang belum kita sembuhkan dari masa lalu kitalah yang mengundang para hantu masa lalu untuk berdatangan menghantui hidup kita. Para hantu ini sebenarnya cuma ilusi belaka. Mereka tidak nyata.

Oleh karena itu kita harus mengusir mereka pergi ketika mereka mulai datang menghampiri. Masa lalu hanyalah masa lalu. Kita harus hidup di masa sekarang untuk mengubah masa depan kita. Para hantu ini datang dengan membawa ketakutan ke dalam hidup kita. Bahasa Inggris untuk ketakutan adalah “FEAR� dan kita harus melihatnya sebagai “False Evidence Appearing Real� atau sesuatu yang kelihatannya meyakinkan bahwa itu nyata, padahal cuma ilusi semata. Demikianlah mekanisme kerja ketakutan dan hantu-hantu masa lalu.

Page 43

Karena kerapuhan kita sebagai manusia, hati kita pun rentan untuk terluka. Saya membandingkannya dengan kondisi bayi mungil yang rentan terhadap penyakit dan kecelakaan sehingga harus selalu dijaga oleh orang tuanya untuk memastikan sang bayi baik-baik saja. Demikianlah juga dengan hati kita sehingga “menjaga hati� adalah sesuatu hal yang sangat penting dalam eksistensi kita sebagai manusia di bumi ini. Ketika kita terluka, kita harus segera cari penyembuhan atas luka-luka kita. Membiarkannya ternganga berlama-lama tanpa tindakan akan membuat luka semakin busuk dan lalat pun mulai berdatangan. Bukannya kesembuhan yang kita dapatkan, yang ada kita menjadi semakin sakit dan sakit. Jika kita ingin memiliki vitalitas hati kembali maka kita harus mulai mengambil langkah kesembuhan terhadapnya.


Page 44 It Hurts Like Hell

Mari kita lihat contoh kasus ini bukan dari menilai siapa yang salah atau siapa yang benar. Yang sebenarnya terjadi ialah pasangan kita telah menekan tombol hot button di hati kita yang menyebabkan kita menjadi emosi, marah, dan berujung pada sakit hati. Dia sedang menyentuh kita tepat dimana luka itu masih menganga. Itu sebabnya seringkali kita marah lebih dari kewajaran sepatutnya kita marah. Hal-hal sepele bisa menjadi pertengkaran luar biasa oleh karena luka yang belum dibereskan tersebut. Itu sebabnya beberapa hari setelah pertengkaran tersebut ketika kita mulai dapat berpikir jernih, justru kita yang akan merasa bersalah dan meminta maaf pada ujungnya. Banyak orang bahkan telah membuat cangkang untuk melindungi kerapuhan hati mereka. Siput memiliki cangkang untuk melindungi tubuh mereka yang lunak.

Banyak dari kita telah melakukan hal yang persis sama, kita memilih untuk mengekang emosi kita, membungkamnya, dan memasukannya ke dalam sebuah cangkang. Kita pun menjadi pribadi yang berubah, terlihat tegar dan galak di luar, padahal jauh di dalam kita tetap pribadi yang rapuh yang takut untuk disakiti lagi. Banyak wanita dan pria yang merubah cara berpakaian mereka untuk menghindari luka di hati mereka. Banyak orang yang berubah dari cerewet jadi pendiam atau sebaliknya demi melindungi luka di hati mereka. Banyak orang yang berpura-pura, hidup dalam kepalsuan, dan memakai topeng demi melindungi kerapuhan hati mereka. Tubuh yang berotot sering dipakai untuk lindungi hati yang penakut. Perhiasan mahal yang dipamerkan berlebihan sering dipakai untuk lindungi hati yang takut dilecehkan. Ada banyak hal yang bisa terjadi tapi inti semuanya ialah kita tidak siap untuk menampilkan ketelanjangan kita, diri kita apa adanya, karena kita tidak mau terluka lagi.


Rasa bersalah bukanlah sesuatu yang sehat karena rasa bersalah datang dari ketakutan kita belum melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Belum lagi banyak orang coba melakukan emotional blackmail atau pemerasan emosi kepada kita. Mereka menuntut kita melakukan ini dan itu beserta dengan ancaman atau tuduhan yang akan membuat kita merasa bersalah jika melalaikannya. Mereka mengeluarkan ucapanucapan seperti “kamu tidak peduli kepadaku� untuk memaksa kita tunduk pada kehendak mereka. Bahkan kadang emotional blackmail disertai drama: dia menangis, dia membanting barang, dia lakukan hal yang bodoh, dia mengumpat, dia tiba-tiba sakit. Semua dilakukan agar kita merasa bersalah. Kita melakukan sesuatu di bawah tekanan emosi dan ini sama sekali tidak sehat. Saya belajar bahwa pertama-tama kita harus utamakan sanity atau kawarasan kita dulu. Jangan mau melakukan sesuatu di bawah tekanan. Buatlah keputusan independen akan apa yang mau kita lakukan.

It Hurts Like Hell

Dengan mengampuni, maka kita melepaskan sebuah belenggu masa lalu yang sering menghantui kita. Kita harus berdamai dengan diri kita dan berdamai dengan masa lalu kita. Kita harus mau menerima diri kita apa adanya. Kita harus mengampuni diri kita sendiri karena tidak bisa melakukan apa yang seharusnya kita pikir kita harus lakukan. Jangan menuntut terlalu berlebih pada diri sendiri, sebaliknya santai saja. Kita harus bisa menerima berbagai kegagalan hidup sebagai bagian normal dari kehidupan. Kegagalan adalah kesempatan untuk kita belajar dan memperbaiki diri dan bukan pembenaran untuk kita larut dalam penyesalan. Salah satu hal penting dalam kehidupan yang saya pelajari ialah: Sometimes the best thing you can do in life is keeping your sanity.

Kesehatan mental kita dulu, baru kita urus yang lainnya. Ampuni diri kita dan berdamai dengannya.

Page 45

Cangkang bukanlah solusi untuk mengobati luka-luka di hati kita. Kuncinya ada pada pengampunan.


Page 46 It Hurts Like Hell

Jika tidak, kita akan selalu terjebak dalam permainan emosi dari dari orang lain dan kita tidak bisa menjadi pribadi yang merdeka dan bahagia.

Hal kedua yang kita perlu lakukan ialah mengampuni orang-orang yang telah melukai kita di masa lampau. Pengampunan ini bukan sebagai bukti bahwa mereka tidak bersalah dan kita yang salah, namun sebagai prasyarat yang kita butuhkan untuk melepaskan diri kita dari segala beban emosional yang harus kita tanggung akibat kebencian. Ketika pengampunan itu mulai mengalir dari hati kita yang paling dalam, maka kita akan mengalami transformasi persepsi. Kita tidak lagi melihat diri kita sebagai korban dari segala peristiwa masa lalu kita, namun kita adalah pribadi yang dahulu telah mengendapi rasa bersalah yang tidak perlu namun sekarang kita sadar bahwa kita berhak untuk bahagia demikian juga orang-orang di sekitar kita.

Setelah kita mengampuni mereka yang pernah melukai kita, kita akan temukan perspektif baru bahwa semua orang, sebagaimana kita, pada dasarnya terluka dan sedang mencoba melindungi diri mereka untuk dilukai lebih lanjut. Kesadaran ini akan membawa pemahaman yang baru bagi diri kita supaya kita tidak lagi mau dilukai oleh siapapun. Kontrol atas diri kita ada pada diri kita sendiri. Kita belumlah menjadi pribadi yang merdeka jika kita masih membiarkan orang lain melukai kita. Jangan mau lagi dilukai dan disakiti oleh siapapun. Caranya ialah dengan melepaskan pengampunan pada diri kita dan orang lain di sekitar kita. Milikilah empati atau kemampuan untuk meletakkan kaki kita di sepatu orang lain. Cobalah kita bayangkan bagaimana rasanya menjadi orang tersebut. Jika kita memiliki empati, maka kita akan lebih muda memahami orang-orang di sekitar kita. Kita bukan lagi menjadi seorang tipe “korban� yang menunggu giliran kapan dia akan dilukai lagi, namun kita menjadi tipe “penyembuh� yang bisa memahami dan menyembuhkan luka-luka hati dari orang lain.


Seven. Hide Not From Me.

She’s so lucky, she’s a star But she cry, cry, cries in her lonely heart Thinking if there’s nothing missing in my life Then why do these tears come at night? Britney Spears in “Lucky”


Page 48 Hide Not From Me

Sering dikatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kita dapat bertahan hidup dalam berbagai kondisi alam, namun sulit untuk bertahan hidup dalam rasa kesepian. Perlu diingat bahwa kesepian amat berbeda dengan kesendirian karena orang yang sendiri belum tentu kesepian dan orang yang ada dalam keramaian belum tentu tidak kesepian. Permasalahan kesepian bukan hanya milik mereka yang hidup sendiri atau menyendiri, namun juga mereka yang selalu lakukan aktivitas bersama orang lain. Para selebritas, meski terkenal dan ingin dikenal oleh banyak orang, sering mengeluh bahwa mereka kesepian. Zaman yang semakin canggih dengan berbagai gadget telekomunikasi pun tidak sembuhkan kesepian. Aneh memang ketika kita hidup di zaman di mana kita lebih terhubung secara teknologi dibanding sebelumnya, justru kita merasa semakin kesepian.

Rasa kesepian datang karena jauh di dalam lubuk hati kita, kita ingin dikenal dan diterima secara otentik dan bukannya artifisial. Kita ingin ada orang yang benar-benar memahami kita sepenuhnya diri kita apa adanya. Kita merindukan saat di mana kita tidak perlu lagi memasang topeng kepalsuan dan menjadi diri kita sendiri tanpa ada yang akan menyalahkan atau menghakimi kita. Itu sebabnya di situs-situs jejaring sosial sering dijadikan tempat curhat oleh banyak jiwa-jiwa yang kesepian. Mereka berharap dengan curhat mereka, pada akhirnya mereka akan menemukan orang yang benar-benar memahami mereka apa adanya diri mereka. Kita semua suka dengan persahabatan. Ketika kita punya sahabat karib, seolah kita memiliki secercah harapan kebahagiaan di dunia ini. Kita tentu lebih suka sahabat kita dibanding orang tua kita yang cenderung ingin memberitahu kita apa yang harus kita lakukan berdasarkan pengalaman hidup mereka dengan melupakan bahwa kita tidak hidup di zaman yang sama dengan mereka.


Anak harus sadar bahwa orang tua mereka bukan superman atau superwoman. Orang tua juga rapuh dan rentan merasa kesepian jika mereka melihat diri mereka dijauhi oleh anak kandung mereka sendiri. Sedang orang tua juga harus sadar bahwa anak mereka sudah besar dan penting bagi mereka untuk ‘eksis’ dan keluar dari bayang-bayang orang tua mereka. Baik orang tua maupun anak tidak perlu menyalahkan diri masing-masing, namun belajar untuk memahami satu sama lain. Kita juga merasa kesepian ketika kita tidak merasa di terima di sebuah kelompok.

Hide Not From Me

Keinginan untuk dipahami bukan hanya milik mereka yang masih muda, namun juga milik mereka yang sudah berumur. Orang tua seringkali merasa kesepian karena merasa tidak dipahami oleh anakanak mereka. Semua orang ingin didengar, termasuk juga orang tua kita. Seringkali kondisi saling tidak memahami antara anak dan orang tua inilah yang menyebabkan konflik dan terkadang rusaknya hubungan.

Solusinya ialah kedua belah pihak harus bisa berempati satu sama lain.

Page 49

Sahabat datang dalam hidup kita seringkali dengan pengalaman hidup yang mirip dengan kita dan kebutuhan emosional yang sama. Sahabat yang baik adalah sahabat yang siap mendengar dengan perhatian ketika kita sedang curhat. Kualitas yang kita cari ialah mendengar dan memahami, bukan mendengar dan menghakimi. Orang tua kita pada sisi lain akan mendengar dan mengarahkan, karena tentunya mereka merasa mereka lebih banyak tahu dibanding kita. Perhatian orang tua tentunya sesuatu yang berharga ketika kita masih kanakkanak, namun seiring dengan kita beranjak dewasa, kita ingin membuat pilihan-pilihan hidup kita sendiri dan untuk itu kita perlu mereka yang bisa memahami kita.


Page 50 Hide Not From Me

Ketika saya masih SD, saya merasa kesepian karena saya tidak bisa bergabung dalam permainan teman-teman sebaya saya. Kemampuan atletik saya kurang sehingga tidak diajak dalam permainan olah raga. Saya pun tidak punya video games sehingga dijauhi oleh kelompok video games yang gemar bertukar permainan. Baru ketika saya SMP, saya mulai menemukan kelompok yang menerima saya, yakni kelompok belajar. Kemampuan akademik saya yang cukup baik membuat saya diajak bergabung di kelompok anak-anak lain yang bermasalah dalam akademik. Saya menjadi semacam “guru pembimbing� bagi teman-teman saya di kelompok tersebut dan saya menikmati peran saya karena pada akhirnya saya diterima apa adanya. Ini mungkin yang membuat saya termotivasi menekuni profesi sebagai guru pada saat sekarang ini. Saya punya kelebihan dalam bidang akademik dan saya melihat kelebihan ini akan membuat saya diterima oleh orang lain. Banyak orang yang terlibat dalam berbagai hal buruk oleh karena pengaruh lingkungan. Motivasi dasar mereka hanyalah ingin diterima dan tidak disalahkan.

Jika dengan melakukan hal-hal buruk mereka bisa diterima oleh sebuah kelompok, mengapa tidak? Bukan hukuman penjara yang mereka takutkan, namun ketika mereka tidak lagi diterima oleh kelompok yang selama ini menerima mereka sepenuhnya. Itu sebabnya kita mengenal istilah gerombolan perampok, organisasi teroris, hingga sekte sesat.

Tidak ada yang lebih indah dari perasaan kita diterima apa adanya di bumi ini dan tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding penolakan, terutama jika kita sudah lakukan banyak hal untuk dapat diterima.


Hide Not From Me

Mereka inilah yang hidup bagai bunglon demi sebuah penerimaan. Ada banyak orang yang seolah religius ketika berada bersama kelompok religius, namun berubah menjadi bejat ketika tidak ada yang lihat atau tahu. Kemunafikan timbul karena kita gemar berpurapura agar dapat diterima. Ada banyak laki-laki yang berusaha terlihat gagah, romantis, tajir, berpendidikan, atau apapun demi mendapat cinta dari perempuan yang dia mau. Berpura-pura tidak akan pernah selesaikan masalah kesepian kita, karena sebenarnya yang kita inginkan ialah penerimaan diri kita apa adanya.

Pertanyaan kuncinya sekarang ialah apakah kita sendiri menerima diri kita apa adanya? Jika kita sendiri tidak mampu menerima diri kita sendiri bagaimana mungkin orang lain akan menerima diri kita. Alasan dasar mengapa kita alami penolakan seringkali ialah karena kita telah menolak diri kita sendiri terlebih dulu. Ketika kita bisa melihat diri kita dengan tatapan cinta maka kita akan membuat orang lain secara tidak langsung melihat dari cara pandang yang sama. Bagi saya, proses transformasi itu datang dari menyadari bahwa saya dicintai oleh Sang Pencipta sepenuhnya. Guru spiritual saya Brennan Manning sering berkata bahwa Tuhan mengasihi kita apa adanya diri kita dan bukan diri kita sebagaimana seharusnya karena tidak ada seorangpun yang hidup sebagaimana seharusnya dia hidup. Kita seringkali tidak merasakan cinta kasih Sang Penebus karena kita telah mengurung diri kita sendiri dalam kebencian akan diri sendiri sehingga kita tidak bisa menerima fakta bahwa kita telah dicintai sepenuhnya.

Page 51

Namun seringkali kita berusaha mengubah diri kita demi dapat penerimaan dari orang lain.


Page 52 Hide Not From Me

Ketika kita menanggalkan semua cangkang-cangkang luka batin kita tersebut dan membiarkan diri kita dibalut dalam kasih-Nya, maka kita akan menjadi sebuah pribadi yang baru yang bisa menerima dirinya sendiri dan bisa menerima kenyataan bahwa dia layak dicintai. Ketika kita membiarkan diri kita dicintai dengan tulus, maka kita akan menjadi pribadi yang disukai yang tidak lagi tenggelam dalam kesepian namun dalam kolam cinta kasih. Alasan utama mengapa kita kesepian seringkali ialah karena kita egois. Kita merasa kesepian karena kita terlalu fokus pada apa yang kosong dalam diri kita tanpa pernah menyadari bahwa orang lain juga kosong dan membutuhkan kita. Masalah utama bukanlah tidak ada orang yang peduli dengan kita namun kita tidak mempedulikan orang lain dan oleh sebab itu kita merasa kesepian. Ketika kita mulai bisa melihat kebutuhan-kebutuhan emosional orang di sekitar kita dan kita melakukan sesuatu upaya penyembuhan, maka kita sedang beralih dari orang yang kesepian menjadi orang yang peduli. Akhirnya ada orang lain yang menempati ruang di hati kita.

Kita tidak lagi hidup seorang diri demi diri kita sendiri, namun kita kini melihat dalam perspektif kasih. Selama kita masih berusaha menarik perhatian orang lain pada kekurangan kita maka selama itulah kita akan tetap merasa kesepian. Bayangkan sejenak kita menjadi orang lain tersebut yang harus mendengar semua sampah yang keluar dari mulut kita dari hati kita yang busuk. Apakah kita akan semakin mendekat atau semakin menjauh? Tentunya semua akan memilih opsi kedua. Kita tidak pernah suka dengan orang yang secara konstan selalu mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Kita tidak pernah suka dengan orang yang selalu berusaha menarik simpati orang lain kepadanya agar dikasihani. Kita tidak pernah suka dengan orang yang selalu negatif dan menjelek-jelekan orang lain seolah dia sendiri yang paling benar. Tidak, kita tidak suka mereka dan akan sebisa mungkin menghindari mereka. Yang kita sukai adalah orang-orang yang positif optimis yang dari dalam hidupnya selalu terpancar energi, semangat, dan inspirasi.


Hide Not From Me

Kesepian atau tidak, semua tergantung pada keputusan Anda hari ini.

“Loneliness is not cured by human company. Loneliness is cured by contact with reality.� – Anthony De Mello

Page 53

Kita suka dengan orang-orang yang peduli dan empatik, mereka yang mengulurkan tangan membantu dan bukan yang mengulurkan tangan untuk mengemis. Kita suka dengan orang-orang yang selalu bisa melihat peluang dan kesempatan. Oleh karena itu, kita harus putuskan kita mau menjadi orang yang seperti apa mulai dari sekarang.


Eight. How Not to be Afraid of People

I’m willing to share my emotions And give you what you need Just don’t turn away if I say That I just want to be me Jamie Foxx & Gladys Knight in “I Wanna Be Loved”


Page 56 How Not to be Afraid of People

It’s a story about an anti-social like me wishing to be more sociable. Suatu malam beberapa tahun lalu saya terbangun dari sebuah mimpi di dini hari. Saya yakin mimpi ini cuma bunga tidur belaka, namun saya percaya setiap mimpi setidaknya adalah sebuah pesan dari alam bawah sadar saya yang akan menyingkapkan kerinduan terdalam yang ada di dalam hati saya yang seringkali tidak disadari oleh alam sadar saya. Simpulan saya ialah mimpi seringkali merupakan cara komunikasi yang dipakai oleh alam bawah sadar kita untuk mengirim pesan kepada kesadaran kita.

Di dalam mimpi tersebut, saya sedang pergi hang out dengan seorang teman SD saya (pria) yang sudah lama sekali tidak bertemu dengan saya. Saya juga tidak pernah memikirkan dia selama ini. Dia mengajak saya bertemu dengan seorang teman SD saya yang lain (wanita) yang saya juga sudah lupa siapa namanya. Singkat cerita kita ada di sebuah kantor (sepertinya kantor wanita tersebut, entahlah) namun yang jelas kantor itu dalam kondisi sepi dan tidak terlihat ada karyawan yang sedang bekerja di situ (Mungkin itu kantor sebuah majalah atau surat kabar). Saya melihat wanita tersebut memegang sebuah kamera dan hendak mengambil foto saya. Kemudian ada seorang bapakbapak yang saya tidak kenali masuk ke dalam ruangan dan mengambilkan foto itu buat dia. Bapak ini sepertinya cukup ahli dalam hal fotografi dan dia menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan fotografi kepada saya. Akhirnya saya mengambil sebuah pose dengan bimbingan si bapak yang akan menjepret saya dengan kamera tersebut. Flash! Si Bapak langsung menyerahkan kembali kameranya ke si wanita dan pamit pergi.


Pertama, saya sudah lama tidak berhubungan dengan teman lama saya itu (baik yang pria maupun yang wanita) dan memang saya tidak berminat untuk berhubungan dengan mereka lagi juga. Namun pesan yang saya tangkap dari mimpi tersebut ialah sudah lama atau bahkan mungkin tidak pernah saya hang out dengan mereka yang bukan teman dekat saya. Saya punya beberapa orang teman dekat, namun sadly to say, mereka juga sama seperti saya, makhluk-makhluk anti sosial. Saya memutuskan untuk tidak hang out dengan mereka yang hanya kenalan saya oleh karena saya tidak merasa nge-fit ke mereka karena saya menyukai hal-hal yang berbeda.

Karena ternyata di dalam diri saya terdapat fear of rejection. Karena seperti yang sudah bilang sebelumnya bahwa FEAR adalah False Evidence Appearing Real maka sebenarnya saya sudah berhalusinasi penolakan bahkan sebelum saya mengalami penolakan tersebut. Akibatnya saya menjadi seseorang yang lebih suka ada di rumah melakukan sesuatu dengan diri saya sendiri dibanding harus keluar rumah dan melakukan sesuatu dengan orang lain.

How Not to be Afraid of People

Saya lantas terbangun sambil merenungkan mimpi itu. Ada beberapa hal yang so not ‘me’ di mimpi tersebut.

Saya lebih memilih untuk tidak bersama mereka dibanding harus menghabiskan saat-saat tidak nyaman dengan mereka. Mengapa?

Page 57

Wanita tersebut memandangi hasil foto di kamera digital itu dengan senyum manis di wajahnya. Pertanyaan timbul dalam pikiran saya, “Does she like me?� Mene ketehe. Yang jelas senyumannya sudah bisa membuat hati saya bahagia pada waktu itu.


Page 58 How Not to be Afraid of People

Jika ada suatu hal yang paling ingin saya kuasai saat ini, maka hal tersebut adalah social skill. Kenyataan hidup mengajarkan saya bahwa social skill adalah hal terpenting yang dibutuhkan setiap kita untuk mencapai sukses. Memiliki social skill tidak serta merta berarti kita bergabung dengan sebuah kelompok dan meniru semua yang dilakukan oleh kelompok itu. Memiliki social skill tidak berarti kita kehilangan jati diri kita, malah kita akan memperkuat kepribadian kita karena elemen paling dasar dari social skill adalah percaya diri. Mereka yang memiliki social skill tidak takut kepada orang lain, siapa pun mereka. Tidak seperti saya dahulu yang pilah-pilih teman karena takut ditolak oleh mereka yang tidak mirip dengan saya. Jika kita mau menjadi sociable, maka pertama-tama yang harus kita miliki adalah self-acceptance. Ketika kita bisa menerima diri kita apa adanya dan memiliki percaya diri yang kuat, maka dengan sendirinya masalah fear of rejection akan lenyap karena penolakan orang lain hanya bisa menyakiti jika kita ketika kita terlebih dahulu menolak diri kita sendiri.

Jikalau kita menerima diri kita apa adanya, hal-hal buruk apakah yang bisa diperbuat oleh orang lain terhadap kita? Memiliki social skill berarti memiliki keberanian untuk berhubungan dan bergaul dengan siapapun termasuk keberanian untuk mengambil resiko untuk ditolak. Kita harus injeksikan ke dalam pikiran kita bahwa adalah normal untuk disukai dan dibenci oleh orang lain. Kita tidak bisa membuat semua orang menerima kita dan pasti ada mereka yang tidak menyukai kita. So What Then? Mengambil resiko ditolak adalah jauh lebih baik dibanding sudah merasa tertolak sebelum kita memulai suatu hubungan. Mereka yang takut akan resiko tidak akan pernah maju sama sekali. Mereka akan tetap ada di tempat yang sama bertahun-tahun sesudahnya.


How Not to be Afraid of People

Saya memutuskan untuk belajar menjadi at present lewat connect dengan manusia-manusia di ada sekitar saya. Saya harus belajar spend more times doing activities dengan orang yang saya suka atau tidak suka. Tujuannya apa? supaya saya bisa meruntuhkan the cloud unknowing yang menyelimuti diri saya selama ini. I must know other people and also let myself to be known at the same time. Saya harus membuka segala akses ke diri saya, agar orang lain bisa mengenal siapa saya dan tidak lagi membuat wrong judgement dan menolak saya. Like I said earlier, banyak kali kita ditolak oleh orang lain karena kita sudah membayangkan di benak kita bahwa kita pasti akan ditolak oleh yang bersangkutan. Hentikan semua permainan ‘they love me, they love me not’ di otak kita dan mulai yakinkan orang lain bahwa kita layak untuk dicintai dan disukai. Robek semua the cloud of unknowing, maka kita akan menjadi manusia baru dengan kebebasan baru.

Kedua, tidak seperti di mimpi tersebut, sebelumnya saya sangat tidak percaya diri dalam berhubungan dengan lawan jenis dan ataupun difoto. Mimpi itu seakan membuat saya tersadar dam “Hey, somebody really likes me and wanna know more of me.” Ada confidence dalam diri saya dalam mimpi tersebut bahwa saya memang likeable dan layak untuk dicintai oleh seseorang. Mungkin ini terdengar lucu bagi orang lain, namun sebelumnya saya memang tidak percaya bahwa saya pantas dicintai. Saya lebih sering dan senang berpikir bahwa si A atau B tidak menyukai saya dibanding kenyataan bahwa si C sangat menyukai saya. Mimpi itu membuat saya terbangun dengan kesan: “Hey, what did I miss so far?” Tanpa sadar mungkin saya sudah mengusir banyak wanita yang menyukai saya untuk pergi dari kehidupan saya oleh tembok pembatas yang saya bangun sendiri.

Page 59

Sekali lagi, kuncinya ada di menjadi comfortable with who you are and what you are.

love me

love me not


Page 60 How Not to be Afraid of People

The point is, I have to remind myself again and again, that I am likeable. Saya layak untuk dimimpikan oleh orang lain. Wanita di dalam mimpi saya tersebut adalah seorang kenalan masa lampau yang tidak pernah akrab dengan saya. She’s really not my type dan saya juga tidak pernah jatuh hati kepadanya. Setelah mimpi itu pun saya tidak berminat untuk mencari tahu keberadaan wanita tersebut. Namun saya percaya wanita itu adalah perlambangan dari banyak orang yang benar-benar menyukai saya.

Terlepas dari apakah saya menyukai mereka balik atau tidak, it’s a matter of preference. Yang lebih penting ialah saya harus membiasakan diri saya untuk percaya bahwa saya layak untuk dicintai dan diinginkan oleh orang lain. Kalau mentalitas anti-loved ini hilang, maka dengan sendirinya confidence saya akan meningkat dan saya bisa menjadi lebih sociable. Yang saya dan anda butuhkan sekarang adalah tindakan. Jika kita tidak mau ada di posisi yang sama puluhan tahun ke depan, maka kita harus berani mengambil resiko. Saya sudah bertemu para anti-social bangkotan yang walaupun sudah tua, tetap tidak bergaul dan saya melihat betapa pathetic hidup mereka. Mereka juga jauh dari sukses karena untuk sukses memang sangat dibutuhkan social skill yang bagus. Saya mau melangkah untuk menjadi pribadi yang dinamis dan sociable. Bagaimana dengan anda ? “We must travel in the direction of our fear.” – John Berryman


Nine.

If I Could Turn Back Time

If I could do it all again My life would be infinitely better than before I wouldn’t waste a moment Make time for laughing with my friends Gloria Estefan in “Always Tomorrow”


Page 62 If I Could Turn Back TIme

Saya gemar mengamati perilaku dari murid-murid saya. FYI, kebanyakan murid saya adalah anak-anak Junior High dan Senior High. Saya amati bagaimana interaksi mereka antar sesama jenis dan dengan lawan jenis. Beberapa hal yang saya pelajari membuat saya berharap kalau saja saya bisa mengulang waktu dan kembali ke masa pubersitas saya dengan pemahaman yang saya punya saat ini. Kalau saja saya bisa menghitung mundur waktu, ada beberapa hal yang saya ingin ubah dari perilaku saya pada waktu itu. Pertama, saya mau menjadi orang yang lebih sociable karena hidup memang berbicara masalah sosialisasi. Saya selama ini terjerat dalam fear of rejection sehingga saya cenderung menjadi pribadi yang tertutup dan dingin. Saya sampai pada kesimpulan bahwa orang yang dingin tidak akan banyak mendapat apaapa dari kehidupan ini. Ketika saya mengamati murid-murid saya, saya perhatikan beberapa anak memang nyaman dalam kerumunan sedang yang lain sibuk dengan diri mereka sendiri.

Mereka yang takut penolakan pada umumnya mengambil 2 sikap, entah dia menjadi pribadi tertutup yang tidak gaul atau dia menjadi bunglon yang mengikuti apa saja yang diingini kelompoknya. Dua-duanya adalah masalah kronis yang semestinya dihindari. Menjadi sociable dimulai dengan kita feel good about ourselves. Ketika kita menerima diri kita sendiri apa adanya maka kita akan juga sanggup menerima diri orang lain apa adanya. Saya dahulu adalah pribadi yang tertutup. Saya lebih memilih bersahabat dengan sedikit orang dibanding bersahabat dengan banyak orang.

A big mistake. Baca lagi: a big mistake.


Jikalau saya bisa mengulang waktu, maka saya akan menghilangkan rasa takut akan akan lawan jenis dari usia dini. Saya mengalami jatuh cinta pertama saya saat kelas 6 SD, namun saya tidak pernah berani menyatakan perasaan cinta saya sampai saat saya telah lulus kuliah. Wanita yang saya sukai silih berganti layaknya musim, namun tetap walaupun saya seorang laki-laki, saya tetap tidak berani untuk maju melakukan langkah pendekatan. Saya sibuk bermain di dalam fantasi saya sendiri dan akhirnya apa yang saya dapat?

If I Could Turn Back Time

Kemudian, saya perhatikan dari murid-murid saya yang sudah mulai berpacaran dari usia muda, mereka memiliki satu hal yang common. Bukan masalah tampang atau status mereka, tapi lebih kepada keberanian. Sementara anak-anak lain masih takut berhubungan dengan lawan jenis, mereka ini tidak mengganggap ada perbedaan antara bersahabat dengan sesama jenis atau dengan lawan jenis. Mereka yang comfortable diantara para lawan jenis yang menarik biasanya akan menjadi mereka yang akan mendapat si tampan atau si cantik sebagai kekasihnya despite the fact that banyak anak lain yang lebih berkualitas dari segi looks, brains, or anything.

Kuncinya ternyata ada pada keberanian untuk mengenal dan dikenal.

Page 63

Saya perhatikan sekarang bahwa orang-orang yang sukses adalah mereka yang tidak takut dengan hubungan-hubungan. Mereka tidak takut untuk ditolak atau diterima. Mereka tahu bahwa mereka itu just fine tidak peduli apa kata orang tentang diri mereka. Kalau saja saya bisa mengulang masa lalu, maka saya akan membuka diri dengan bersahabat dengan lebih banyak orang, baik yang bisa menerima saya atau yang tidak bisa menerima saya sama sekali.


Page 64 If I Could Turn Back Time

Nothing. Saya kehilangan banyak pelajaran berharga kehidupan hanya karena minder. Minder benar-benar adalah penyakit yang mematikan. Minder tidak membawa manfaat apa-apa bagi kehidupan kita sama sekali, selain merusak diri kita. Jika kita bisa percaya diri tanpa menjadi angkuh maka kita bisa mendapatkan pintu dibuka lebar oleh semua orang di sekitar kita. Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah kita bisa membangun kepercayaan diri? Seperti yang sering saya sebut dari awal buku ini pertama kita harus berhenti beralasan dan mencari kambing hitam. Mari mulai melihat bahwa kunci pemecahan masalahnya ada pada diri kita sendiri. Kita sendiri yang memilih untuk tidak percaya diri karena setiap kita sebenarnya mempunyai kemampuan untuk berpikir sebagaimana kita mau berpikir. Jika kita pikir kita percaya diri, maka kita akan menjadi percaya diri. Jika kita pikir kita tidak percaya diri, maka kita pun menjadi pribadi yang minder.

Kita harus berhenti berpikir negatif dan berfokus pada kelemahankelemahan yang kita miliki. Kita pun harus mulai menghentikan sugestisugesti negatif yang seringkali diucapkan bibir kita kepada otak kita, seperti “kamu bodoh”, “kamu jelek”, “kamu pengecut”, “kamu tidak becus”, dan lain sebagainya. Apa yang kita dengar berulangulang akan membentuk keyakinan dalam diri kita dan jika ucapanucapan negatif senantiasa keluar dari bibir kita, maka kita akan berujung menjadi pribadi terkutuk tersebut: yang jelek, yang bodoh, yang pengecut, yang tidak becus, dan lain sebagainya. Kita harus mulai berlatih mengucapkan afirmasi positif kepada diri kita dan harus membentuknya menjadi sebuah kebiasaan. Seperti yang saya katakan tadi bahwa apa yang kita dengar berulang-ulang akan membentuk keyakinan dalam diri kita, oleh karena itu kita bisa mulai misal dengan setiap pagi ketika menatap diri kita di cermin, mulailah mengucapkan sesuatu yang positif pada diri kita sendiri. Ucapkanlah: “kamu menarik”, “kamu pintar”, “kamu berani”, “kamu sukses” dan berbagai ucapan positif lainnya.


Hal penting selanjutnya setelah kita memiliki percaya diri ialah kemauan keras untuk berubah. Kita harus menjadi pribadi yang dinamis maju bukan yang statis kolot.

Titik balik hidup saya dimulai ketika saya memutuskan untuk berhenti menjadi crybaby dan mulai belajar untuk grow up. Langkah pertama yang saya lakukan ialah meruntuhkan semua keangkuhan saya yang sebenarnya adalah benteng pertahanan yang saya bangun agar saya takut untuk terluka lagi.

If I Could Turn Back Time

Percaya diri adalah masalah mental picture.

Jika kita tidak mau berubah maka kita akan selalu ada di kondisi yang sama tidak peduli berapa banyak tahun yang telah berlalu. Oleh karena itu, kita harus tanamkan kesungguhan dalam diri kita untuk tidak pernah takut untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bukalah telinga kita untuk mendengar berbagai masukan dari mereka yang peduli dengan kita. Dalam kehidupan, segala sesuatu harus berubah seiring perubahan zaman, kecuali prinsip hidup. Belajarlah dari orangorang lain yang lebih sukses dari anda, amati, dan aplikasikan apa yang dapat anda terapkan dalam hidup personal anda. Jangan takut untuk belajar hal-hal yang baru, mengubah gaya berpakaian atau penampilan, atau referensi bacaan atau tontonan.

Page 65

Lakukan ini terus menerus berulang-ulang sampai akhirnya terbentuk keyakinan pada diri kita, bahwa kita adalah pribadi yang menarik, pintar, berani, dan sukses. Ketika otak kita sudah terprogram untuk kita bisa percaya diri, maka kita pun akan membentuk aura positif optimis untuk keluar memancar dari diri kita. Orang lain pun bisa melihat dan merasakan bahwa kita adalah orang yang percaya diri, dan rahasianya ialah: orang yang percaya diri adalah orang yang menarik.


Page 66 If I Could Turn Back Time

Saya harus sadar saya bermasalah dan membutuhkan pertolongan segera. Seperti halnya ketika kita sakit parah, kita harus memutuskan untuk dirawat di rumah sakit dan jika perlu dioperasi sampai kondisi kita pulih kembali. Saya pun memutuskan untuk terbuka menyadari saya bermasalah dan saya pun mulai banyak belajar dari banyak orang luar biasa di sekitar saya. Saya harus menghadapi berbagai kenyataan pahit dengan berbagai pengalaman moment of truth yang membuat saya tersadar bahwa saya perlu berubah. Tentunya tidaklah mudah untuk berubah, namun semua akan teratasi jika kita memiliki tekad baja untuk melangkah terus meninggalkan masa lalu dan zona nyaman menuju the promised land. Setelah renungan refleksi dari pengamatan saya akan muridmurid saya tersebut, pada akhirnya saya menyadari bahwa tidak mungkin saya dapat memutar balik waktu. Penyesalan adalah sesuatu yang sia-sia karena yang harus saya lakukan ialah pembelajaran. Jangan sesali kesalahan masa lalu, namun belajarlah dari kesalahan tersebut.

Namun saya selalu punya saat ini untuk dapat mengubah masa depan saya. Motto hidup saya ialah ‘Carpe Diem’ yang adalah bahasa latin untuk ‘manfaatkanlah waktu’. Kita harus menggunakan waktu yang kita punya sekarang untuk berubah dan jangan menundanunda lagi.

Hidup kita hanya bisa berubah jika kita melakukan sesuatu, bukan dengan memikirkannya. That’s why you should start doing something. Change! Semua orang ingin mengubah dunia, tapi banyak yang lupa bahwa perubahan selalu di mulai dari diri kita sendiri. Change! Jadilah orang yang positif optimis. Saya belajar bahwa tidak ada gunanya menjadi negatif dan pesimis. Mereka yang negatif pesimis akan selalu melihat dunia melawan mereka. Be positive and optimistic maka seluruh dunia akan menjadi sahabat kita. Winning or losing is really up to your decision today. Change!


Ten. Winner in You

I’ll have no more of this moping around I’m tired of you putting yourself down But in spite of all you’ve been through I still believe there’s a winner in you Patti LaBelle in “There’s a Winner in You”


Page 68 Winner in You

Banyak orang mengharapkan keajaiban datang dalam hubungannya baik dengan orang tua, saudara, kekasih, atau sahabat yang kini menjauh. Mereka berdoa agar hubungan mereka bisa berjalan mulus sesuai dengan harapan mereka. Kenyataan pahitnya ialah, tidak ada mukjizat yang tersedia buat sebuah hubungan agar berhasil jika tidak diiringi dengan keputusan kita untuk berubah. Seperti yang saya sudah katakan sebelumnya, hidup kita berubah karena kita melakukan sesuatu, bukan karena memikirkannya. You have to work on it. Sedangkan prinsip suatu hubungan yang sukses dengan semua orang ada dalam 2 prinsip dasar ini:

“Do to others what you want them to do for you� dan

“Love others as you love yourself� Tapi melakukannya memang tidak semudah mengatakannya. Kasih adalah lawan kata dari egoisme sebegitu juga dengan kesuksesan yang adalah lawan kata dari keras hati tidak mau berubah.

Ada 3 prinsip utama dari keberhasilan. Pertama, jangan pernah takut untuk gagal, tetapi kita harus berani mencoba dan menanggung resiko. Kedua, kesiapan untuk belajar dari kesalahan dan bertumbuh dari pada itu. Kesalahan adalah mitra belajar kita yang terbaik. Ketiga, jangan pernah tenggelam dalam sikap menyalahkan diri sendiri. Kita harus punya kemampuan memantul alias kembali bangkit setelah setiap kegagalan yang kita alami. Untuk mencapai keberhasilan dalam hubungan, prinsip yang sama juga berlaku. Jangan pernah takut pada kegagalan. Kegagalan dan kesuksesan itu adalah 2 sisi mata uang koin. Setiap kali kita melempar koin ke udara, kita tahu cuma ada 2 kemungkinan, berhasil atau gagal. Orang bodoh akan menolak melemparkan koinnya sehingga dia akan terus-menerus ada pada kondisi kegagalan. Orang bijak mengetahui bahwa untuk berhasil, dia hanya perlu melempar koinnya sebanyak mungkin. Jangan pernah alergi terhadap kegagalan karena kegagalan adalah bagian normal dalam kehidupan.


Winner in You

Hubungan berbicara mengenai mengenal dan dikenal. Seringkali yang kita takutkan justru mengenal dan dikenal yang adalah keintiman itu sendiri. Kita takut akan menghadapi kenyataan bahwa di dalam pengenalan, ternyata orang yang kita kasihi tidak seperti yang kita harapkan sebelumnya. Kita juga takut jika kita benar-benar dikenal maka kita akan menerima resiko penolakan. Padahal sebenarnya, hubungan akan semakin kokoh ketika keintiman mulai dibangun. Keintiman sendiri mulai dibangun ketika kita menolak untuk tetap dalam kondisi bersembunyi dan mulai keluar dalam ketelanjangan jiwa kita, yang juga akan membuat hubungan penuh resiko namun juga penuh kekuatan. Kita jangan pernah takut dengan resiko di depan tapi mulai melangkah maju tanpa peduli apa yang akan terjadi, toh kita akan belajar sesuatu juga dari setiap pengalaman.

Kita bisa belajar dari kesalahankesalahan kita sebelumnya dalam menjalin hubungan. Yang seringkali harus kita lakukan ialah melepaskan kelekatan kita dengan orang-orang di sekitar kita dan mulai membangun keintiman. Kelekatan bukanlah keintiman. Kelekatan adalah hal-hal yang kita harapkan dari orang lain dalam bentuk skenario fantasi dimana orang lain memainkan peran sebagai boneka kita. Kita lantas mengharapkan mereka untuk memenuhi skenario yang kita bangun tersebut, dan hal ini pada ujungnya akan menghasilkan kelekatan. Penting untuk diingat, selama kita masih memaksakan skenario fantasi kita untuk jadi kenyataan, kita tidak akan pernah sampai ke tingkat keintiman dimana kita benar-benar kenal satu sama lain karena kelekatan adalah lawan dari keintiman. Keintiman berbicara mengenai mengenal sebenar-benarnya orang yang kita kasihi sedang kelekatan adalah pura-pura mengenal padahal sebenarnya yang dikenal adalah makhluk bayangan yang adalah ilusi belaka.

Page 69

Dalam hal hubungan pun banyak orang yang tidak berani keluar dan mencoba berhubungan karena khawatir akan apa yang ada di depan mereka. Kita harus maju terus dan jangan pernah berhenti atau berbaliik arah. Hadapilah semua resiko di depan.


Page 70 Winner in You

Untuk bisa belajar dari kesalahankesalahan kita dalam berhubungan di masa lalu, kita bisa mencoba cara berikut: kita lepaskan semua kelekatan kita pada orang lain, yakni semua harapan, impian, fantasi kita tentang dia dan musnahkan semua skenario yang kita punya tentang dia dan mulai melepaskan pengampunan.

Mantranya ada pada “I accept everything but I don’t expect anything.” Karena sakit hati dimulai dari harapan-harapan dalam kelekatan tersebut. Ketika orang lain tersebut tidak memenuhi skenario kita, pada akhirnya kita akan merasa sakit hati. Ketika kita sakit hati, kita sebenarnya sedang mengusir orang lain tersebut untuk pergi dan bukan mendekat. Mengapa? Karena mendekat adalah keintiman dan menjauh adalah kelekatan.

Kita harus mengampuni semua orang yang tidak memenuhi harapan kita dan mulai juga mengampuni diri sendiri karena telah mempunyai harapan tersebut. Maafkanlah semua orang sampat terdapat ada rasa plong di dada. Setelah semuanya dibereskan, sakit hati sudah hilang, kita sudah bisa menerima orang lain apa adanya dan juga menerima diri kita sendiri apa adanya, kita bisa masuk ke tahap selanjutnya. Kita akan memutar kembali rekaman kejadian konflik di dalam hubungan kita, tetapi kali ini kita ada sebagai penonton, bukan peserta. Kita akan melihat bahwa ada banyak hal yang kita bisa pelajari, baik tentang diri kita sendiri atau pun orang lain tersebut. Ingat, bahwa tujuan kita ialah untuk belajar. Artinya setelah kita mendapat poin pembelajarannya, kita akan melanjutkan hidup kita kembali. Jangan malah tenggelam dalam sikap menyalahkan diri sendiri mengapa hal tersebut bisa terjadi. Bangkit dengan kepala tegak, katakan pada dunia, bahwa kita sudah siap untuk mencoba lagi. “Never regret. it’s wonderful, experience.”

If it’s good, it’s bad, it’s – Victoria Holt


Tidak ada sedikit pun manfaat yang bisa kita terima dari sikap melayani perasaan tertekan tersebut. Perasaan palsu itu bisa ada karena adanya ketakutan dalam hidup kita. Ketakutan kita yang paling utama dalam hubungan adalah keintiman dimana kita mengenal dan dikenal. Dasar yang utama tentunya adalah takut akan penolakan. Namun seringkali kita suka berada di dalam kondisi tanpa pengharapan dan tanpa bergerak maju, karena kita lebih suka menghadapi setan yang telah kita kenal baik dibanding berjumpa dengan malaikat yang sedang menunggu kita andai saja kita mau mengambil langkah maju.

Winner in You

Orang sukses tidak akan mau berlama-lama tenggelam dalam rasa bersalah dan sikap menyalahkan diri sendiri. Setiap kali mereka merasa terpuruk, mereka akan mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa perasaan yang mereka alami adalah perasaan yang palsu.

Page 71

Kegagalan sejati terjadi ketika kita membiarkan diri kita termakan oleh perasaan bersalah setiap kali kita mengalami kegagalan. Perasaan bersalah pada ujungnya cuma akan membuat kita berusaha mencari kambing hitam pada setiap kegagalan. Jadi, kegagalan sejati bukanlah ketika mengalami kegagalan, namun ketika kita membiarkan kegagalan tersebut memiliki pengaruh atas hidup kita. Seorang pemenang bukanlah orang yang tidak pernah gagal, namun seseorang yang tidak takut akan kegagalan dan menganggap kegagalan adalah sesuatu yang biasa. Ketika mereka gagal, mereka akan segera memantul kembali layaknya bola bekel. Kegagalan bukan membuat mereka terperosok namun membuat mereka bangkit dengan sebuah pembelajaran bahwa next time it will be better. Mereka mempunyai prinsip jika kita menumpahkan susu, bukan berarti kita kehilangan sapinya. Gagal bukan berarti tidak bisa mencoba dan mengulang dari awal lagi. Sementara para pecundang mengeluh, orang sukses akan mengolah bagaimana caranya membuat kegagalan tidak terulang lagi.


Page 72 Winner in You

Saya sekarang hidup dengan kesadaran bahwa di dalam kasih yang sempurna ketakutan akan lenyap. Penghalang hubungan untuk bisa berhasil dan mencapai keintiman adalah ketakutan akan apa yang ada di depan. Saya harus bangkit dan tidak lagi tenggelam dalam sikap menyalahkan diri sendiri. Saya harus mengatasi ketakutan saya pribadi dan juga ketakutan orang lain terhadap saya. Saya akan terus bergerak maju karena saya layak untuk disukai oleh orang lain. Saya tidak mau menyerah pada kegagalan karena selama saya menolak untuk terus maju dan berubah, saya akan selalu masih menemukan diri saya di kondisi yang sama dari tahun ke tahun.

Oleh karena itu, kita harus berhenti menjadi orang yang negatif pesimis dan mulai menjadi orang yang positif optimis. Kita harus berhenti mengeluh dan mulai mengusahakan sesuatu. Saya sendiri mau menghabiskan sisa waktu hidup saya sebagai orang yang positif optimis supaya bisa memanfaatkan segala sesuatu termasuk kelemahan saya dan mengubahnya menjadi kekuatan. Saya mau berhenti menjadi penggerutu yang cuma bisa melihat sisi negatif dari segala sesuatu. Amin.


you are LOVEable. healthily available for relationships

Jed @revolutia


Attractiveness comes from within… Ketika semua orang berlomba-lomba untuk menggapai impian, Anda mungkin malah termenung dalam kepahitan seorang pecundang. Buku ini adalah kumpulan tulisan motivasi pengembangan diri yang dibuat penulis ketika menyusuri lorong-lorong gelap kehidupannya sendiri sebagai seorang pecundang sejak lahir. Dia pun menemukan cahaya matahari, menjadi pribadi yang positif optimis dan tidak takut lagi menghadapi kehidupan. Pelajaran terpenting yang hendak disajikannya ialah: “Dunia sejatinya tidak menolak Anda, namun Anda sendiri yang menutup diri sehingga tidak membiarkan diri Anda disukai oleh banyak orang.” Buku ini akan berusaha menjawab beberapa pertanyaan penting kehidupan seperti: Bagaimana membuat impian Anda menjadi kenyataan? Bagaimana membangkitkan citra diri positif dalam diri Anda? Bagaimana mengatasi masalah kesepian kronis? Bagaimana mengatasi rasa takut yang diakibatkan trauma masa lalu? Bagaimana membuat diri kita lebih gampang bergaul? Bagaimana membuat diri kita disukai oleh banyak orang? Buku ini adalah seri pertama dari trilogi buku “URAble” yang direncanakan. Buku kedua “You Are Loveable” dan buku ketiga “You Are Adoreable” akan dirilis tahun 2011.

Jed Revolutia adalah penulis muda berbakat yang merintis karir menulisnya di dunia maya sebagai seorang blogger dan forumer. Akun twitter @revolutia miliknya telah mendapatkan lebih dari 8.000 pengikut. Karyanya sebelumnya yang berjudul “ReThink” dan “#CultureShock” sudah diterbitkan dalam bentuk ebook, diunduh dan dibaca ribuan orang. “You Are LIKEable” adalah karyanya yang pertama dibukukan. Blog Twitter Facebook Email

: http://jed.revolutia.info : http://twitter.com/revolutia : http://fb.revolutia.info : jed@revolutia.info

Design: @herlinasaja


You Are LIKEable by Jed Revolutia