Page 1


pujian untuk organic discipleship “Pengajaran dan praktik tentang pemuridan organik yang dijelaskan dalam buku ini telah mentransformasi hidup dan pelayanan anak saya ketika mereka menjadi mahasiswa di Universitas sambil mengambil bagian dalam pelayanan Xenos. Keduanya telah berhasil menjadi murid Kristus yang efektif, pelaku pemuridan dan pemimpin yang dewasa dalam Tuhan. Banyak pekerja dari Xenos yang bergabung di World Team untuk penanaman jemaat lintas budaya ini seringkali memiliki kelebihan yang unik dibandingkan pekerja lain. Hal itu dikarenakan mereka bukan hanya belajar teorinya saja, tetapi sudah mengalami pemuridan itu sendiri. Saya mendorong Anda untuk membaca buku ini dengan merefleksikan pelayanan Anda secara mendalam serta dengan pemikiran yang kritis, sehingga Anda dapat mengaplikasikannya dalam pemuridan di Gereja Anda.” Albert Ehmann, Direktur Eksekutif, World Team “Dennis dan Jessica adalah para pelaku pemuridan yang handal. Dennis telah memuridkan paling banyak orang menuju kepemimpinan dan kedewasaan rohani dibandingkan dengan siapa pun yang saya kenal. Organic Discipleship adalah buku klasik baru mengenai detail dari apa, mengapa dan bagaimana memuridkan orang di abad ke-21 ini. Buku ini Alkitabiah, berdasarkan teologi yang tepat dan praktis. Beli, baca dan praktikkan buku ini.” Dr. Dave Earley, Direktur, Center for Ministry Training, Liberty Theological Seminary “Organic Discipleship adalah buku yang Alkitabiah. Isi buku ini adalah hasil pengalaman dari seseorang dan juga Gereja Xenos secara kolektif. Gereja Xenos adalah saksi dari semua yang Dennis paparkan di buku ini. Saya mengenal Dennis dan Gereja Xenos dan selalu terinspirasi setiap kali saya mengunjunginya. Saya berkali-kali berkomentar bahwa Gereja ini merepresentasikan kekristenan mula-mula yang otentik. Buku ini muncul pada saat yang sangat penting di sejarah Gereja; saat dimana kita menghasilkan orang-orang Kristen tanpa memuridkan mereka. Semoga Tuhan member-


kati buku ini dan memakainya untuk menjangkau ribuan orang dan menghasilkan para pelaku pemuridan. Karena topik dan isi buku ini yang luar biasa, saya memprediksikan buku ini akan menjadi best seller.” Dr. John Perkins, Presiden, John M. Perkins Foundation for Reconciliation & Development “Selama beberapa kurun waktu lamanya, para pemimpin di The Meeting House sadar bahwa kita harus secara sengaja lebih giat dalam mempelajari apa pun yang kita bisa pelajari dari Gereja-gereja seperti Xenos. Organic Discipleship telah membawa semua pelajaran ini ke depan pintu kita. Para penulis buku ini menghidupi ajaran mereka dan bercerita dari pengalaman serta Alkitab. Sebagai pembaca, kita diajak untuk melihat prinsip-prinsip Alkitab dalam bentuk yang nyata dalam konteks komunitas. Saya berharap kesehatan pemuridan di The Meeting House dan banyak gereja lain berkembang melalui pengaruh buku yang sangat bagus ini.” Bruxy Cavey. Pendeta Pengajar dari The Meeting House dan penulis dari The End of Religion “Perintah terakhir Kristus adalah untuk menjadikan semua bangsa muridNya (Mat. 28:18). Namun seperti apa bentuk pemuridan di abad ke-21 ini? Organic Discipleship menawarkan langkah-langkah yang alkitabiah, praktis dan penuh inspirasi. Jangan mengharapkan adanya rumus-rumus di luar Alkitab atau strategi cepat untuk bertumbuh. Pemuridan memerlukan kerja keras dan pengorbanan dan para penulis buku ini dengan jujur membagikan cerita kegagalan mereka dan apa yang bisa dipelajari dari kegagalan itu. Saya sempat mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi rumah para penulis di bulan Juni 2005 lalu. Saya mengalami dan melihat sendiri bagaimana satu grup mahasiswa universitas (Kristen dan non Kristen) berjejal di ruang tamu mereka untuk bertanya tentang iman Kristen dan menjajakinya. Para penulis buku ini, seperti layaknya ribuan orang lain di Gereja Xenos, membuka rumahnya untuk memuridkan orang yang akan memuridkan orang lain lagi. Di Xenos Christian Fellowship, lebih dari dua ribu orang bertemu dengan muridnya setiap minggu. Perhatikan baik-baik apa yang para penulis ini ceritakan tentang pemuridan yang kreatif!” Dr. Joel Comiskey, Penulis dan Presiden, Cell Church Solutions


L iteratur P erkantas J awa T imur


Organic Discipleship (Pemur idan Organik) Membimbing Orang Lain Menuju Kedewasaan & Kepemimpinan Rohani oleh Dennis McCallum & Jessica Lowery Copyright Š 2015 by Dennis McCallum & Jessica Lowery Originally published in English under the title: Organic Discipleship Alih Bahasa:Tyas Utami Editor: Evianna Grace Kurnia, Tim Literatur Perkantas Jatim Penata Letak: Milhan K. Santoso Desain Sampul:Vici Arif Wicaksono Penerbit: Literatur Perkantas Jawa Timur Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Telp. (031) 8413047, 8435582; Faks. (031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com www.literaturperkantas.com Literatur Perkantas Jatim adalah sebuah divisi pelayanan literatur di bawah naungan Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas) Jawa Timur. Perkantas Jawa Timur adalah sebuah kegerakan yang melayani siswa, mahasiswa, dan alumni di sekolah dan universitas di Jawa Timur. Perkantas Jatim adalah bagian dari Perkantas Indonesia. Perkantas sendiri adalah anggota dari pergerakan International Fellowship of Evangelical Students (IFES). Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan yang ada secara lokal maupun regional di Jawa Timur dapat menghubungi melalui e-mail: pktas.jatim@gmail.com, atau mengunjungi Website Perkantas Jatim di www.perkantasjatim.org

ISBN: 978-602-1302-19-4 Cetakan Pertama: Oktober 2015

Hak cipta di tangan penerbit. Seluruh atau sebagian dari isi buku ini tidak boleh diperbanyak, disimpan dalam bentuk yang dapat dikutip, atau ditransmisi dalam bentuk apa pun seperti elektronik, mekanik, fotokopi, rekaman, dlsb. tanpa izin dari penerbit.


DAFTAR ISI

Pendahuluan untuk Edisi Terjemahan..................................... 7 Pendahuluan.......................................................................... 9 Bagian Satu: PEMURIDAN DULU DAN SEKARANG

1. Apakah Pemuridan itu?................................................ 17 2. Gambaran Pemuridan.................................................. 29 3. Memulai Pemuridan.................................................... 39 Bagian Dua: KOMPONEN-KOMPONEN KUNCI DALAM PEMURIDAN

4. Membangun Persahabatan........................................... 59 5. Menjadi Teladan.......................................................... 81 6. Menanamkan Kecintaan akan Firman Tuhan................ 103 7. Doa (Bagian I): Langkah-langkah Awal........................ 119 8. Doa (Bagian II): Pelayanan dan Doa............................ 129 9. Konseling.................................................................... 141 10. Menangani Lambatnya Kemajuan: Mengevaluasi Apa yang Harus Dilakukan..................... 175 11. Menghadapi Kurangnya Kemajuan: Menerapkan Disiplin dalam Kasih................................ 195 Bagian Tiga: PELATIHAN PELAYANAN

12. Perkembangan Awal Pelayanan.................................... 219


6

ORGA N IC DISC I PLE SH I P

13. Bergerak Menuju Kemandirian.................................... 235 14. Melatih Kepemimpinan dalam Kelompok..................... 253 15. Melepaskan Murid: Persiapan...................................... 263 16. Melepas Pergi: Transisi................................................ 277 17. Memimpin Para Pembimbing...................................... 281 Lampiran................................................................................ 294 Catatan Kaki......................................................................... 295


Pendahuluan Untuk Edisi Terjemahan

P

ertama kali saya terpanggil untuk terlibat pelayanan sebagai pemimpin kelompok sel (komsel) sekitar 17 tahun yang lalu, saya hanya menjalani kewajiban memimpin diskusi memakai suatu bahan kurikulum tanpa investasi secara pribadi kepada anggota komsel tersebut satu per satu. Alhasil, setelah 4 tahun dan 2 komsel berlalu, dampak yang saya berikan kepada pertumbuhan rohani anggota komsel saya sangat minim dan hampir nihil. Pada titik itu, saya hampir menyerah dari pelayanan memimpin komsel. Tidak lama kemudian, ada satu saudara seiman yang mendorong saya untuk mencoba sekali lagi. Di situlah pertama kali saya menerapkan konsep pemuridan organik dari Gereja Xenos yang dipaparkan di buku ini. Tuhan bekerja melalui usaha saya yang jauh dari sempurna dalam pemuridan kepada sedikit orang. Satu per satu, orang-orang yang sangat tidak terbayang oleh saya untuk menjadi pemimpin rohani, mulai diubahkan hidupnya oleh Tuhan. Lebih dari 10 tahun kemudian, hampir semua teman-teman anggota komsel tersebut menjadi pemimpin rohani dan pekerja yang masih Tuhan pakai hari ini. Mereka masih memuridkan orang lain dan melipat-gandakan pemuridan yang pernah mereka alami dulu. Sejak saat itu, cara pendekatan saya terhadap pelayanan berubah 180 derajat. Inilah yang memotivasi saya untuk mengajak saudara mempelajari dan mengaplikasikan prinsip-prinsip pemuridan di buku ini. Proyek untuk menerjemahkan buku ini tidak mungkin tanpa adanya dukungan dari banyak sekali saudara seiman yang percaya dan juga mengalami pemuridan yang sama: • Keluarga besar Indonesian Christian Fellowship (ICF Columbus) yang menyediakan dukungan dana untuk terjemahan buku ini dan tim pemimpin yang selama bertahun-tahun berjuang bersama


8

ORGA N IC DISC I PLE SH I P

dalam melakukan pemuridan di persekutuan kita. • Dennis McCallum yang telah mengizinkan saya untuk menerjemahkan buku ini. • Tyas Utami sebagai penerjemah dan Evianna Grace Kurnia sebagai editor utama • Anggota tim editor lainnya: Gerry Chrisagonus, Sadikin Djumin, Zoenaedy Soenjoto, Diana Santoso, Lindawati Tan, Ingrid Lambey, Vincent Tjandra. Buku ini diterjemahkan untuk semua pekerja Kristus yang terpanggil mengikuti jejak Tuhan kita Yesus Kristus, yang memulai pemuridan organik ini kepada dua belas murid-Nya. Dampaknya masih kita rasakan sampai hari ini di hidup saudara dan saya yang diselamatkan. Inilah pelayanan yang tidak diliput berita TV ataupun mendapat sorotan panggung, tapi akan membawa dampak di kekekalan nanti. Semoga terjemahan buku ini bisa berguna sebagai pedoman dan dikembangkan secara kreatif di konteks pelayanan di Indonesia.

Leo Rusli Koordinator Tim Penerjemah


Pendahuluan

or•gan•ic \ or-ga-nik\ kata sifat 1. Dari, terkait dengan, atau berasal dari organisme yang hidup.

K

etika kita memercayakan hidup kita kepada Yesus, Allah menyatukan kita dengan Dia secara organik. Paulus mengatakan, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (1 Kor. 6:17). Ini bukan hanya sebuah ikatan institusional atau legal belaka. Ketika Allah menyatukan kita dengan Kristus, hidup kita terjalin sebegitu eratnya dengan kehidupan-Nya sehingga kaitan di antara kita menjadi sebuah jalinan yang hidup. Begitu pula dengan hubungan kita antara satu dengan lainnya di dalam tubuh Kristus yang juga organik. Di dalam perikop lain, Paulus berkata, “Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain” (Rm. 12:5). Di sini kita belajar bahwa tubuh Kristus bukanlah sebuah institusi melainkan sebuah organisme yang hidup. Ketika kita memahami kesatuan secara ajaib antara kita dengan Yesus dan sesama, kita juga akan segera menemukan implikasi-implikasi turunannya dalam area lain dari kehidupan dan pelayanan kita. Orang-orang Kristen masa kini sedang mengalami kesadaran baru akan kekuatan dari pendekatan organik dalam pelayanan; sebuah pendekatan yang kurang berfokus pada jabatan-jabatan di dalam gereja dan lebih berfokus pada relasi antar sesama. Para pemimpin organik tidak memandang Allah hanya bekerja melalui program-program gereja, melainkan lebih memandang Allah bergerak dari satu pribadi


10

ORGA N IC DISC I PLE SH I P

kepada pribadi lainnya, menciptakan dampak rohani secara langsung melalui kasih secara relasional. Orang-orang Barat modern mungkin melihat gereja sebagai barisan penerima-penerima yang pasif, tetapi Allah memanggil kita untuk suatu komunitas dimana kehidupan-Nya mengalir melalui orang-orang seperti darah yang mengalir dalam tubuh yang hidup (Ef. 4:16; Kol. 2:19).1 Pertumbuhan organik mengambil bentuk sel-sel yang dinamis dan bermultiplikasi, berbeda dengan pendekatan linier yang dibatasi dengan sekolah-sekolah teologi, gelar, iklan dan bangunan. Sama seperti sel yang hidup menduplikasi diri mereka sendiri secara eksponensial, tubuh Kristus berkembang ke segala arah. Ketika berbicara mengenai pelayanan, tidak ada yang lebih organik daripada pemuridan. Pemuridan lebih membutuhkan relasi berkualitas tinggi daripada pelayanan lainnya. Seperti yang akan kita lihat, pemuridan merupakan cara yang paling relasional dan juga alamiah dalam mengembangkan dan memperdalam tubuh Kristus. Sesungguhnya, segala aspirasi kita untuk melihat jemaat Allah menghidupi kesatuan dengan Yesus akan gagal jika pelayanan pemuridan yang kita lakukan gagal. Mengacu pada model Perjanjian Baru, dimana setiap anggota saling melayani Allah, maka menghasilkan murid Kristus yang sejati adalah harapan terbaik kita untuk memaksimalkan pelayanan anggota kepada anggota di dalam gereja masa kini. Dalam kurun waktu 50 tahun, Allah telah mengajarkan kami berdua mengenai pendekatan dinamis ini untuk mengembangkan Kerajaan Allah. Ia memulainya tepat empat puluh tahun yang lalu. Dennis: ketika saya berumur 19 tahun, saya baru saja memulai perjalanan saya bersama dengan Tuhan dan sedang berusaha untuk mencari tahu cara melayani Dia. Saya tidak tahu banyak dan kehidupan saya cukup menyedihkan dalam standar-standar Kristen. Pada waktu itu saya mengikuti sebuah konferensi di mana Dr. Howard Hendricks berbicara mengenai pemuridan pribadi. Saya merasa hati saya benarbenar digerakkan oleh kisah-kisahnya mengenai kehidupan yang berbuah dan bermultiplikasi melalui pemuridan. Saat itu saya mendapatkan kesempatan untuk makan siang bersama Dr. Hendricks. Saya memberitahu dia bahwa saya belum pernah mendengar mengenai konsep pemuridan sebelumnya dan betapa gembiranya saya mende-


PE N DA H U LUA N

11

ngar hal itu. Ia mendekat kepada saya dan berkata, “Dennis, Pertanyaannya adalah, jika saya kembali ke kota ini (Columbus) beberapa tahun lagi, akankah ada Dennis-Dennis kecil di sekitar saya?� Saya dengan malu-malu mengangkat bahu. Setelah berpikir sejenak, saya tersenyum, “Ya, saya pikir hal itu akan terjadi.� Itu adalah hari di mana saya mulai berdoa agar Allah mengizinkan saya menemukan seseorang yang bisa saya muridkan. Sewaktu mendengarkan Dr. Hendricks berbicara, saya merasa sesuatu yang mungkin bisa saya lakukan adalah pemuridan, tidak seperti tipe pelayanan publik lainnya karena saya tidak harus berkhotbah atau melakukan apa pun di hadapan publik. Saya tahu bagaimana cara berteman dan saya bahkan memiliki beberapa teman. Saya dan teman-teman telah memulai kelompok kecil pemahaman Alkitab yang diadakan di rumah yang saat itu sedang bertumbuh, akan tetapi tidak ada seorang pun dari kami yang mengetahui ke mana arahnya secara jangka panjang. Kami seringkali bertanya-tanya apa yang harus dilakukan oleh orang-orang muda seperti kami, yang memiliki hati yang berkobar-kobar untuk melayani Allah. Salah satu kisah Hendricks tentang seorang bernama Walt, yang berhasil mengobarkan imajinasi saya, dimana Walt telah menduplikasi dirinya melalui persekutuan remaja yang kemudian remaja-remaja itu menjadi pemimpinpemimpin Kristen yang terkenal. Pemikiran ini menghentakkan saya: Bagaimana jika saya bisa memuridkan beberapa orang dan mereka juga bisa melakukannya? Mungkin saja proses multiplikasi akan bertumbuh pesat dan akan menarik sejumlah besar orang kepada Kristus. Bukankah itu yang Yesus lakukan? Saya mendekati beberapa orang yang saya kenal, tetapi tampaknya tidak ada yang tertarik. Kemudian saya menemukan seorang bernama Gary yang baru saja percaya Kristus dan memperlihatkan semangatnya terhadap iman barunya. Saya menjelaskan bahwa saya telah mempelajari mengenai pemuridan, dimana Anda bertemu dan belajar dengan seseorang dan saya sedang mencari seseorang yang tertarik untuk mencobanya bersama dengan saya. Lalu ia mengatakan iya. Gary dan saya mulai menghabiskan waktu bersama beberapa kali seminggu dan karena saya tidak memiliki mobil, ia mengantar


12

ORGA N IC DISC I PLE SH I P

saya ke beberapa kelompok pemahaman Alkitab dimana saya akan bersaksi atau mengajar. Pada pertemuan-pertemuan tersebut, kami sering memiliki kesempatan untuk bersaksi atau melakukan konseling pada orang Kristen yang masih muda, yang menurut kami cukup menyenangkan. Kami mulai membaca buku-buku bersama dan mendiskusikan ayat-ayat Alkitab. Kami sering berdoa bersama dan persahabatan kami bertumbuh semakin erat. Pada saat itu saya tidak menyadari bahwa Allah sedang membentuk sebuah kemitraan pelayanan yang akan berlangsung selama puluhan tahun. Kemudian pada tahun itu juga, saya membentuk kelompok pemahaman Alkitab yang pertama untuk anak-anak SMA dan kelompok ini bertumbuh dengan pesat. Gary menolong saya dalam kelompok tersebut dan kami menemukan cara agar Gary mengadakan kelompok pemahaman Alkitabnya sendiri. Kami terus-menerus saling berbagi tentang apa yang kami ajarkan dan saling berkonsultasi mengenai bagaimana seharusnya kami menghadapi situasi-situasi di dalam kelompok kami. Ia belajar untuk mengajar dan memimpin kelompokkelompok selama tahun itu. Tidak ada dari antara kami berdua yang memiliki pelatihan formal atau pengalaman dalam pelayanan Kristen. Allah lebih tertarik pada kesediaan daripada kompetensi dan kami memiliki kesediaan yang sangat banyak. Meski awalnya tidak memiliki kompetensi, Allah perlahan-lahan mentransformasi Gary menjadi salah satu pengajar Alkitab dan pemimpin rohani yang paling dihormati di Ohio. Ia telah memimpin ratusan orang kepada Kristus dan mengajarkan Firman Tuhan kepada ribuan orang. Yang lebih penting lagi, ia telah memuridkan pria-pria lain, dari awal dia menjadi seorang percaya. Pria-pria yang dimuridkan Gary juga mengajar dan memimpin kelompok-kelompok di berbagai daerah sekitar dan juga di luar negeri. Bahkan orang-orang yang telah dimuridkan oleh Gary juga telah memuridkan banyak orang lainnya. Hari ini, banyak kelompok-kelompok yang mencakup ribuan orang yang telah menjadi pengikut Allah karena pelayanan Gary. Persahabatan saya dengan Gary merupakan pengalaman pertama saya dengan pemuridan. Kisah ini mengilustrasikan inti tesis kami di dalam buku ini: Setiap kali seseorang ingin mempersembahkan diri mereka kepada Allah untuk membangun kehidupan orang percaya


PE N DA H U LUA N

13

lainnya, hal-hal menakjubkan dapat terjadi. Sekalipun mungkin pada saat itu tidak terlihat banyak, hari ini saya melihat ke belakang dan menyadari bahwa pada umur sembilan belas tahun dan dengan keahlian yang sedikit, Allah memakai saya untuk melakukan sesuatu yang telah berdampak pada kehidupan ribuan orang sejak itu. Melihat ke depan, saya menyadari bahwa proses ini baru saja dimulai. Lusinan orangorang dalam generasi pemuridan setelah Gary masih tetap sibuk memultiplikasikan diri mereka sendiri dan menjangkau orang-orang non Kristen bagi Allah. Bahkan Gary sedang memuridkan beberapa orang lagi sekarang. Siapa yang menduga bisa sampai ke mana arah proses ini? Gary dan saya sekarang adalah rekan sepelayanan. Saya berhenti memuridkan dia sewaktu ia telah mengetahui sebanyak yang saya ketahui (dan itu tidak membutuhkan waktu lama!). Kemudian kami berdua masuk ke seminari. Saya lanjut memuridkan lusinan orangorang lainnya di tahun-tahun setelah itu dan orang-orang itu beserta orang-orang yang mereka muridkan sebagian besar telah menjadi pekerja-pekerja di dalam gereja kami, gereja lainnya dan usaha-usaha misi kami di seluruh dunia. Pada tahun-tahun itu, tidak semua usaha pemuridan saya dapat sesukses usaha saya dalam memuridkan Gary. Namun dengan anugerah Allah, saya telah dimampukan untuk membangkitkan sejumlah murid lainnya, beberapa diantaranya adalah pemimpin-pemimpin rohani yang menjanjikan. Hanya waktu yang akan mengungkapkan seberapa besar pemimpin-pemimpin muda ini akan berbuah sementara pelayanan-pelayanan mereka terus berkembang. Saya tidak membutuhkan orang lain untuk memberitahu saya sesuatu yang telah dikonfirmasi oleh pengalaman saya pribadi: Pemuridan pribadi benar benar berhasil! Bertahun-tahun sejak saya bersama Gary memulainya, kelompok Pemahaman Alkitab kecil-kecilan kami telah bertumbuh menjadi sebuah komunitas yang cukup besar, yang terdiri dari ratusan gereja rumah di kota kami dan beberapa lagi di kota-kota lainnya. Sekarang ini lebih dari lima ribu orang hadir dan entah bagaimana sebagian besar dari mereka telah memahami makna pemuridan pribadi. Bahkan setiap orang tidak lagi harus berjuang sendiri untuk menemukan cara dalam melakukan tugas yang sangat sulit ini. Kini orang-orang melakukan pemuridan dalam kerangka kerja dari sebuah kelompok


14

ORGA N IC DISC I PLE SH I P

yang dewasa di mana mereka bisa mendapatkan sumber daya dan bimbingan. Dimensi organik dari pemuridan sangat cocok dengan komunitas Allah. Bekerja di dalam komunitas membuka pintu-pintu yang belum pernah kita lihat terbuka jika kita berjalan sendirian. Komunitas gereja diperkaya dengan luar biasa karena orang-orang tidak sedang dihibur, melainkan dimuridkan. Beberapa orang menghindari pendekatan pemuridan dalam pelayanan. Lagipula, menginvestasikan waktu dalam relasi-relasi selama bertahun-tahun mahal harganya. Dan teman-teman bisa mengecewakan Anda, namun kami percaya bahwa pemuridan pribadi adalah alkitabiah dan sangat efektif. Anda akan merasakan hal itu juga jika Anda membaca buku ini dan meluangkan waktu dan bersedia mengambil risiko untuk menginvestasikan kehidupan Anda pada orang lain dalam pemuridan yang memberi hidup.


BAGIAN SATU

S

PEMURIDAN DULU DAN SEKARANG


1 APAKAH PEMURIDAN ITU?

PEMURIDAN DALAM PERJANJIAN BARU Kata “Murid� berasal dari kata Yunani Mathetes yang artinya siswa atau pelajar. Konsep pemuridan telah dikenal luas dalam dunia RomawiYunani kuno. Setiap para sarjana dan filsuf Yunani pada masa itu pasti memiliki murid. Namun konsep pemuridan di Perjanjian Baru mungkin lebih diwarnai oleh pelatihan rabinis Yahudi pada masa itu. Yesus bukanlah rabi pertama yang memiliki murid-murid. Sebelum Yesus memiliki murid, Yohanes Pembaptis sudah terlebih dahulu memiliki murid-murid (Mat. 11:12, 14:12; Mrk. 2:18) dan begitu pula orangorang Farisi (Mat. 22:16). Bahkan Rasul Paulus sendiri dimuridkan oleh Gamaliel, salah seorang rabi yang paling terkenal pada masa itu (Kis. 22:3).2 Para rabi pada zaman itu akan menghabiskan hidupnya bertahuntahun bersama dengan para murid mereka untuk mengajarkan cara hidup dan pemahaman Kitab Suci, serta bagaimana mengajarkan kedua hal tersebut kepada orang-orang lain.3 Sama seperti Yesus, mereka seringkali hidup bersama dengan para murid mereka untuk jangka waktu yang panjang. Proses pemuridan adalah pembentukan seorang rabi baru secara utuh–sang rabi senior membagikan segala sesuatu yang dimilikinya seperti: karakternya, pengetahuannya, nilai-nilainya dan hikmatnya. Pemuridan Yahudi kuno sebenarnya memuat lebih banyak pelajaran dibandingkan konsep pendidikan modern kita. Selain menyalurkan pengetahuan alkitabiah, para rabi juga mewariskan hal-hal yang tidak terdapat dalam buku melalui interaksi dalam kehidupan sehari-hari.


18

ORGA N IC DISC I PLE SH I P

Pendidikan semacam ini bersifat personal, dimana dua orang membentuk relasi yang erat dan saling memercayai sehingga sang rabi dapat merasakan kebutuhan rohani murid yang terdalam dan melayani kebutuhan tersebut. Ia dapat melihat dengan matanya sendiri apakah muridnya menghidupi apa yang telah mereka diskusikan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan orang dengan kepribadian tertentu. Perhatian intensif yang dipakai di dalam gaya pelatihan ini mewajibkan sang rabi hanya dapat berfokus pada beberapa orang murid saja dalam kurun waktu tertentu. Yesus memilih model ini, memakainya, dan mengembangkannya menjadi sebuah norma. Ia hidup dan melakukan perjalanan bersama dengan keduabelas murid-Nya dan bahkan Ia lebih fokus pada tiga sosok utama, seperti: Yakobus, Yohanes, dan Petrus. Meskipun beberapa penulis Perjanjian Baru menyebut semua orang Kristen sebagai murid Yesus (dalam pengertian bahwa mereka semua adalah pengikut Kristus), tetapi sebagian besar Perjanjian Baru menggunakan kata itu untuk mengacu kepada mereka yang dilatih oleh seorang guru yang spesifik.4 Sebelum Yesus naik ke surga, “jadikanlah semua bangsa murid-Ku” dijadikan-Nya sebagai pusat dari amanat agung-Nya. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:19-20). Tentu saja pertobatan itu penting, namun pertobatan saja tidaklah cukup. Ia jelas mengatakan bahwa kita harus membimbing murid-murid dengan baik dan bukan hanya menobatkan orang-orang baru. Pemuridan juga dilakukan oleh Paulus, satu-satunya rasul yang kita ketahui memiliki catatan riwayat hidup yang banyak. Dari awal Paulus telah melakukan pemuridan. Setelah tiga tahun tinggal di Damaskus, ia meloloskan diri dengan cara diturunkan dari atas tembok kota dalam sebuah keranjang. Dan menurut Kisah Para Rasul 9:25, “murid-muridnyalah” yang menurunkan dia dari atas tembok. Setelah itu, Paulus pernah tinggal dan bahkan mengadakan perjalanan dengan sejumlah pemuda dan setidaknya sepasang suami istri. Ia mengajarkan mereka pengetahuannya akan Perjanjian Lama (yang mana ia adalah ahlinya) dan juga pernyataan-pernyataan yang telah ia dapatkan dari Allah. Mereka juga berkesempatan untuk melihat lang-


A pa k a h P e m u r i da n i t u ?

19

sung Paulus melayani di lapangan dan ikut terlibat langsung dalam pelayanan aktual. Praktik lapangan seperti ini dapat mengembangkan keterampilan dan pemahaman yang tidak akan didapatkan oleh para murid di dalam kelas. Paulus dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana para pelayan muda ini melayani dan itu akan menjadi pembinaan dan umpan balik yang paling baik. Dalam surat-suratnya, Paulus menyebutkan lebih dari 30 nama pria dan wanita yang menjadi rekan sekerjanya. Sepertinya orang-orang ini memang dimuridkan oleh Paulus dan mungkin saja masih ada banyak lagi orang-orang lain yang tidak disebutkan. Dalam sebuah pelayanan yang berlangsung kira-kira 30 tahun lamanya, Paulus bisa dengan mudah menghasilkan 30 orang murid atau bahkan lebih.5 Dalam satu ayat yang terkenal, Paulus mengajari Timotius (murid yang paling berhasil dia muridkan) untuk meneruskan tugas pemuridannya: “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2 Tim. 2:2). Perhatikan bahwa Paulus memikirkan penggandaan murid hingga 4 generasi: 1) Dirinya sendiri 2) Timotius 3) “orang-orang yang dapat dipercayai” dan 4) “orang-orang lain.” Dari satu ayat ini, Anda bisa melihat dengan jelas bahwa Paulus memakai pemuridan perorangan sebagai sebuah strategi yang direncanakan untuk mengembangkan kepemimpinan pada gereja mula-mula. Ia juga mendorong para wanita untuk memuridkan wanita lainnya (Tit. 2:3), sebuah praktik yang dianggap asing oleh Yudaisme. Dalam gereja Perjanjian Baru yang tidak memiliki seminari atau sekolah-sekolah teologi, mereka justru membina kepemimpinan gereja melalui proses pemuridan perorangan. Melihat bahwa cara ini seringkali disebutkan dalam Alkitab dan dengan mempertimbangkan tidak adanya penyebutan cara lain untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin, maka kita bisa menganggap bahwa pemuridan bukan hanya sekadar cara utama, melainkan satu-satunya cara untuk menghasilkan pemimpin. Mungkin beberapa orang (seperti Paulus ?) secara spontan dapat menjadi seorang pemimpin tanpa pernah dimuridkan, namun hal semacam itu sangat jarang terjadi. Bukan hanya pemimpin-pemimpin, melainkan juga sebagian besar


20

ORGA N IC DISC I PLE SH I P

orang Kristen pada masa gereja mula-mula ikut dimuridkan pada level tertentu. Paulus mengatakan, “Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus� (Kol. 1:28). Pernyataan strategi pelayanan ini menunjukkan bahwa Paulus tidak puas hanya dengan mengumpulkan sejumlah besar orang yang bertobat. Ia bermaksud untuk membawa setiap orang Kristen pada sebuah level kedewasaan yang signifikan melalui proses pengajaran dan nasihat. Bukti ini memperlihatkan bahwa pembimbingan pribadi (mentoring) sudah dikenal luas di dalam gereja Perjanjian Baru–bukan hanya untuk rabi-rabi elit yang prospektif, seperti di Yudaisme. Gagasan bahwa setiap orang Kristen harus menjadi murid Yesus mungkin berkontribusi pada gerakan pemuridan universal. PEMURIDAN DAN MULTIPLIKASI Periode sejak kematian Yesus hingga akhir abad pertama merupakan periode yang paling sukses dalam sejarah gereja. Selama beberapa dekade ini, orang-orang Kristen tersebar sampai kekaisaran Romawi dan bahkan masuk hingga ke Afrika, kekaisaran Partia dan India. Diperkirakan jumlah orang Kristen pada akhir abad pertama dapat mencapai sekitar satu juta orang.6 Hal ini berarti terjadi peningkatan 2000 kali lipat dari jumlah orang Kristen sebelum Pentakosta yang mungkin hanya sekitar 500 orang. Semua pertumbuhan ini disebabkan oleh pemuridan. Tanpa media massa, tanpa iklan, tanpa bangunan-bangunan gereja, dan tanpa sekolah-sekolah seminari; gereja mula-mula berkembang dalam tingkatan yang bahkan tidak dapat disaingi oleh pertumbuhan gereja sembilan belas abad setelahnya. Jika tingkat pertumbuhan gereja mulamula itu terus berlanjut, maka setiap orang di bumi pasti telah menjadi pengikut Kristus sebelum akhir abad ke dua.7 Para pengamat, baik Kristen maupun sekuler menganggap gereja Perjanjian Baru sebagai contoh sempurna gerakan penanaman gereja.8 Dalam tipe gerakan ini, gereja-gereja rumah saling berjuang untuk mereplikasi diri mereka sendiri dengan menanam gereja-gereja tambahan. Hasilnya bisa menjadi pertumbuhan eksponensial. Untuk memahami kekuatan pertumbuhan eksponensial, bayang-


A pa k a h P e m u r i da n i t u ?

21

kan skenario berikut ini: Tidak seorang pun yang akan memandang buruk sebuah gereja yang dapat memenangkan lima puluh ribu jiwa dalam dua tahun, meskipun realitasnya tidak ada gereja di negara barat yang pernah mencapainya. Jika dua tahun selanjutnya mereka berhasil memenangkan lima puluh ribu jiwa lagi, maka gereja semacam itu bisa memenangkan 1,5 juta jiwa selama periode enam puluh tahun. Bukankah ini sangat luar biasa? Ini pasti akan menjadi sebuah gereja super. Namun di sisi lain, sebuah gereja rumah yang hanya terdiri dari tiga puluh orang tidak akan terlihat luar biasa. Rata-rata anggotanya tidak melakukan hal-hal yang spektakuler dan hanya memenangkan dan memuridkan satu orang selama periode dua tahun. Mereka hanya akan memiliki sekitar enam puluh orang setelah dua tahun dan akan menghasilkan dua gereja rumah setelah itu. Namun jika kelompok gereja rumah lama dan kelompok gereja rumah baru sama-sama melakukan hal yang sama selama dua tahun kemudian, dan proses ini berlangsung selama 60 tahun secara terus menerus maka hasilnya akan jauh lebih luar biasa dibandingkan gereja super tadi. Hal yang paling mengagumkan adalah kelompok gereja rumah yang mengalami duplikasi itu akan memenangkan 16 juta orang! Enam puluh tahun memenangkan 1,5 juta versus 16 juta. Pada titik ini, gerakan pelan tetapi pasti dari gereja yang menduplikasi dirinya ini dapat mengalahkan gereja super lebih dari 10 kali lipat! Tidak hanya itu saja, kelompok yang menduplikasi dirinya akan memenangkan setiap orang di dunia hanya dalam dua puluh lima tahun lagi. Kami tidak mengatakan bahwa angka-angka ini realistis, tetapi angka-angka ini memang bisa mengilustrasikan kekuatan dari pertumbuhan eksponensial. Meskipun demikian, ada dua poin penting yang perlu diperhatikan mengenai kalkulasi ini: untuk mencapai multiplikasi pertumbuhan yang sebenarnya, duplikasi individu-individu dan gerejagereja harus maju terus tanpa adanya penurunan kualitas. Jika kualitas para murid atau gereja-gereja menurun setiap terjadinya duplikasi, maka keseluruhan proses akan runtuh dengan sangat cepat. Kualitas adalah salah satu kunci untuk keberlangsungan duplikasi. Para sejarawan telah memerhatikan bahwa gerakan-gerakan penanaman gereja cenderung melemah setelah beberapa tahun. Mengapa? Mungkin beberapa gerakan penanaman gereja melakukan kompromi terhadap penurunan


22

ORGA N IC DISC I PLE SH I P

kualitas demi kepentingan kuantitas. Selain itu, mungkin saja gereja sangat menekankan kualitas sehingga mereka berhenti menggandakan diri dan bahkan dibebani dengan begitu banyak aturan dan batasan. Dalam model duplikasi, pada awal tahun hasilnya tidaklah terlalu banyak jika dibandingkan dengan gereja yang telah dibahas di atas. Sebagai contoh, setelah sepuluh tahun gereja super akan memiliki seperempat juta anggota, sedangkan kelompok gereja rumah yan menduplikasikan dirinya hanya akan memiliki 480 anggota di dalam enam belas gereja rumah. Bisakah Anda bayangkan kedua kelompok ini saling melihat satu sama lain? Kelompok gereja rumah yang mendupilkasikan dirinya itu akan merasa sangat inferior karena hanya memiliki anggota kurang dari 500 orang untuk sepuluh tahun kerja keras jika dibandingkan dengan sebuah gereja super di samping mereka yang telah mencapai seperempat juta orang selama periode waktu yang sama. Pada tahap ini, gereja super sudah menjadi 500 kali lebih besar daripada kelompok gereja rumah yang menduplikasikan dirinya. Tentu saja kelihatannya berkat Allah tercurah atas kehidupan gereja super itu dan bukan pada gereja yang menduplikasikan dirinya (sekalipun kita mengetahui gereja duplikasi sesungguhnya sedang bekerja 10 kali lebih baik daripada gereja super dan hal itu belum terlihat). Dibutuhkan tindakan iman yang sangat kuat untuk terus memakai pendekatan duplikasi ini. Siapa pun yang tidak sabar untuk mencapai hasil yang instan atau terlalu berfokus pada jumlah, akan mengabaikan pendekatan duplikasi. Pertumbuhan pemuridan multiplikatif itu alkitabiah dan luar biasa. Allah yang bekerja dari kekekalan dan sampai kekekalan cukup sabar untuk memberkati pelayanan yang dibangun dengan pendekatan yang berkualitas dan lebih mendalam, karena memahami bahwa pertumbuhan kuantitas akan ikut berkembang seiring waktu. BAGAIMANA DENGAN KELAS-KELAS? Ketika mendukung pertumbuhan pemuridan multiplikatif, kami tidak berkata bahwa pendekatan pembelajaran dalam bentuk kelas-kelas itu salah. Paulus juga menggunakannya pengajaran dalam bentuk kelaskelas di Efesus (Kis. 19:9; 20:20), dan kami juga memakai pendekatan pembelajaran tersebut di dalam gereja kami. Namun kami memandang pengajaran di dalam kelas sebagai pelengkap yang dapat membantu


A pa k a h P e m u r i da n i t u ?

23

proses pemuridan pribadi, dan bukan pengganti dari praktik pemuridan. Sebagian besar gereja lokal di Perjanjian Baru mungkin tidak memiliki akses untuk mendapatkan pengajaran dalam bentuk kelas-kelas. Namun agar gereja-gereja rumah bisa menggandakan diri, mereka harus mampu mengembangkan kepemimpinan baru dari dalam mereka sendiri. Kami setuju dengan konsep yang bergantung sepenuhnya pada pemuridan pribadi untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin, di mana kelas-kelas juga tersedia untuk menolong para pelajar yang bersemangat untuk dengan cepat menambah pengetahuan mereka mengenai Alkitab, teori pelayanan, dan teologi. Sekali lagi, bukan berarti kami menganggap bahwa seminari-seminari itu berbahaya atau salah. Sebagian besar pemimpin utama kami adalah lulusan seminari, dan gelar yang kami raih dari seminari dapat memperluas pelayanan pengajaran di gereja manapun. Gereja kami bahkan menjadi tuan rumah untuk sebuah kelas ekstensi dari sebuah seminari besar. Sangatlah masuk akal mengirimkan orang-orang penting ke seminari sehingga mereka bisa memperoleh gelar kesarjanaan di sana dan membawanya ke dalam gereja. Namun bagi kebanyakan pemimpin di dalam gereja, pemuridan pribadi (dengan tambahan kelas-kelas periodik di gereja) sangatlah memadai dan bahkan merupakan sarana pelatihan yang terbaik. PEMURIDAN DAN PERGERAKAN Pemuridan dan gerakan penanaman gereja sangat berkaitan erat. Pemuridan adalah sebuah sarana pengembangan kepemimpinan yang dapat menghasilkan multiplikasi karena tidak mengharuskan pemimpin untuk masuk ke dalam sebuah pusat pelatihan seperti seminari atau sekolah Alkitab. Ketika sebagian besar jemaat dalam sebuah gereja lokal tertarik untuk memuridkan orang lain, pertumbuhan rohani akan semakin cepat. Jemaat termotivasi untuk melakukan penjangkauan dengan melakukan penginjilan. Para anggota mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan untuk kepemimpinan yang efektif. Apakah sebuah gereja lokal harus memakai struktur seperti gereja rumah, itu tidaklah penting (meskipun struktur kelompok kecil seperti komsel juga penting). Namun yang terpenting dalam gereja adalah: seluruh jemaat yang mau memiliki relasi yang saling membangun dan Allah sedang mengubahkan jiwa-jiwa me-


24

ORGA N IC DISC I PLE SH I P

lalui kekuatan kasih dan firman-Nya. Kunci gerakan penanaman gereja adalah gereja-gereja akan menduplikasikan diri mereka sendiri, maka kunci duplikasi gereja terletak pada individu-individu yang menduplikasi diri mereka sendiri. Dan duplikasi individual merupakan proses dari pemuridan pribadi. Inilah sebabnya mengapa sebelum gerakan penanaman gereja bisa terjadi, pemuridan harus mendahuluinya. Bahkan di dalam gereja-gereja yang berkomitmen pada bentuk pertumbuhan yang lebih tradisional, pemuridan yang baik akan sangat membantu perkembangan kualitas kehidupan gereja. Gereja-gereja yang memuridkan sejumlah besar anggota tidak akan kekurangan sukarelawan untuk pelayanan. Gereja-gereja semacam itu mempertahankan lebih banyak orang baru dan tingkat komitmen orang baru tersebut akan lebih tinggi. Singkatnya, ketika jemaat di dalam gereja bertumbuh secara rohani, setiap orang menjadi lebih bahagia. dan tidak ada yang lebih baik bagi pertumbuhan rohani selain pemuridan pribadi. SETELAH PERJANJIAN BARU Dalam tahun-tahun setelah penulisan Perjanjian Baru, gagasan mengenai pemuridan pribadi secara perlahan mengalami kemunduran. Pada abad-abad belakangan ini, para pemimpin gereja mulai memposisikan para pendeta sebagai satu-satunya orang yang memiliki hak prerogatif untuk memimpin gereja dan bahkan melayani sebagai perantara antara jemaat dengan Allah. Peralihan ini sebagian terjadi dikarenakan adanya usaha yang tulus untuk mencegah adanya pengajaran palsu yang mengancam gereja selama periode ini. Namun seiring berjalannya waktu otoritas pendeta berkembang menjadi ekstrem-ekstrem yang tak terduga, yang bahkan memutuskan bahwa hanya pendetalah yang memiliki hak untuk membaca dan menafsirkan Alkitab. Menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa lokal sekalipun dianggap ilegal. Ketika para pemimpin gereja menyingkirkan jemaat awam dari pembacaan dan pembelajaran Alkitab, dasar untuk pemuridan perorangan menjadi hancur.9 Perbedaan hak antara pendeta dengan jemaat awam inilah yang menyebabkan pemuridan pribadi itu dirampas dari tangan orang-orang Kristen awam. Sejak orang-orang Kristen awam disingkirkan dari


A pa k a h P e m u r i da n i t u ?

25

pelayanan-pelayanan penting di gereja, pemuridan pribadi menjadi tidak bermakna dan benar- benar dilupakan oleh sebagian besar orang Kristen. Gagasan bahwa hirarki gerejalah yang menciptakan kependetaan melalui fasilitas-fasilitas pelatihan dan ritual-ritual pentahbisan inilah yang menggantikan gagasan Alkitabiah yang menunjukkan bahwa seseorang dapat membantu mengembangkan seorang Kristen awam seperti Timotius menjadi seorang pemimpin yang luar biasa bagi Allah. Reformasi tidak melakukan banyak hal untuk mengubah pemikiran gereja dalam area ini. Mereka bahkan terus mengembangkan pemikiran tersebut, mungkin bukan secara teori, tetapi dalam praktiknya bahwa pendeta memiliki perbedaan (terpisah) dari orang-orang awam.10 Para pendeta membaca dan mempelajari bahasa-bahasa yang ada pada naskah-naskah dari bapa-bapa gereja dan Kitab Suci selama beberapa tahun dalam proses pendidikan yang menyeluruh dan para jemaat awam tidak dilatih untuk mengajar Alkitab ataupun dipercayakan untuk melakukan pelayanan-pelayanan signifikan, seperti konseling atau memimpin kelompok-kelompok. Beberapa pergerakan selama milennium lalu telah mengusahakan agar pemuridan pribadi kembali menjadi metode utama pelayanan dari gerakan mereka. Gerakan-gerakan ini menjadi bahan studi yang menarik, karena beberapa di antara mereka mengalami hasil-hasil yang mengagumkan. Akan tetapi mereka cenderung untuk berbalik lagi ke pendekatan tradisional (pendekatan-pendekatan dimana pelatihan kepemimpinan itu diwajibkan) atau mereka habis ditindas oleh penganiayaan.11 ABAD 20 HINGGA KINI Kemudian dalam abad kedua puluh, pemuridan muncul kembali dengan kekuatan yang signifikan. Dawson Trotman memiliki peran penting dalam membawa gagasan mengenai pemuridan pribadi sehingga menarik perhatian sebagian besar orang Kristen di dunia. Ia adalah pendiri dari Navigators, sebuah pelayanan yang secara utama berlandaskan pada pemuridan pribadi yang telah mengalami keberhasilan yang sangat besar di seluruh dunia. Akan tetapi Navigators memandang dirinya sendiri sebagai sebuah organisasi parachurch, dan oleh karena itu tidak terkait di dalam penanaman gereja di Amerika. Trotman dan


26

ORGA N IC DISC I PLE SH I P

orang-orang yang dalam pengaruhnya telah menghasilkan dampak yang besar bagi kelompok lain juga. Pemimpin Campus Crusade for Christ yang bernama Bill Bright mengadopsi sebuah bentuk pemuridan di bawah pengaruh Trotman dan Henrietta Mears. Namun sekali lagi, Campus Crusade berdiri sebagai sebuah kelompok parachurch dan bukan sebagai penanaman gereja. Begitu pula Trotman dianggap memengaruhi Billy Graham untuk memperkenalkan sebuah tipe pemuridan sederhana dalam pelayanannya. Dan sama seperti lainnya, organisasi milik Graham ini memandang dirinya sendiri sebagai pendukung gereja dan bukan sebagai penanaman gereja. Meskipun tidak ada satu pun dari organisasi-organisasi ini terkait dalam penanaman gereja, mereka mempunyai dampak yang luar biasa dalam kekristenan Barat. Buku-buku yang memajukan gagasan mengenai pemuridan telah dibaca secara luas dalam beberapa tahun belakangan ini. Pada tahun 1960an, penulis bernama Robert Coleman menulis sebuah buku yang sangat berpengaruh, The Master Plan of Evangelism, dimana ia menyarankan untuk kembali kepada pola pemuridan yang alkitabiah.12 Sejumlah pemimpin Injili lainnya mengajukan pendapat yang sama, termasuk Howard Hendricks, Walter Hendrickson, Leroy Eims, Waylon Moore, Bill Hull, Greg Ogden, dan yang lainnya.13 Akan tetapi, pemuridan juga telah mengalami kemunduran selama beberapa abad lalu. Selama tahun 1970-an, gagasan pemuridan telah dicemari di Amerika oleh gerakan yang disebut “Gerakan Penggembalaan.� Gerakan ini menekankan teori pemuridan yang salah, yang melakukan pengendalian secara berlebihan. Mereka berpikir bahwa belajar untuk menaati otoritas manusia adalah sebuah cara yang baik untuk belajar bagaimana menaati Allah. Dalam gerakan ini, pemimpin Anda, atau “gembala,� didorong untuk melakukan pengawasan kepada hampir semuanya, termasuk keuangan pribadi, pilihan pasangan hidup, dan setiap keputusan penting lainnya di dalam hidup muridnya. Dapat diperkirakan, gerakan ini semakin bertumbuh menjadi otoritarian dan terlalu mengendalikan. Pada akhirnya, gereja dan media massa menggempur gerakan tersebut hingga lenyap. Namun seluruh pengalaman tersebut meninggalkan kecurigaan terhadap gagasan mengenai pemuridan. Hingga kini beberapa pemimpin gereja masih memandang pemuridan sebagai semacam bentuk pengkultusan, khusus-


A pa k a h P e m u r i da n i t u ?

27

nya karena hasil buruk yang dilahirkan oleh gerakan ini. Selama abad kedua puluh pemuridan diterima jauh lebih luas di dalam lingkaran-lingkaran misi daripada di dalam gereja Barat. Banyak ladang misi di seluruh dunia mempraktikkan pemuridan pribadi dan menjadikannya sebagai cara utama untuk melatih kepemimpinan di dalam gereja lokal. Sejumlah ladang misi di Amerika Latin, Afrika, dan Asia secara sistematis telah melakukan pemuridan pribadi dan penanaman gereja yang mereplikasi dirinya sendiri, sebagian karena kurangnya seminari-seminari dan sebagian karena adanya suatu kerinduan untuk meniru gereja mula-mula. Dan hasilnya, para ahli misi kini menyadari adanya sejumlah besar gerakan penanaman gereja yang sangat antusias di seluruh dunia pada masa kini.14 Meski demikian, sebagian besar gereja Barat tidak pernah benarbenar sepenuhnya kembali kepada pola pemuridan pribadi Perjanjian Baru. George Barna mencatat fakta yang menyedihkan bahwa gereja di Amerika banyak membicarakan mengenai pemuridan, tetapi tidak terlalu sering mempraktikkannya.15 Hasil dari kelalaian ini adalah bahwa orang-orang Kristen bergereja masa kini seringkali menunjukkan komitmen yang dangkal, ketidaktahuan mengenai Alkitab, dan ketidakmampuan untuk memajukan pelayanan Kristen. Sekalipun konsep mengenai pelayanan kaum awam telah menjadi populer di dalam gereja modern, tanpa pemuridan, konsep itu akan menemui banyak masalah. Bagaimana orang awam bisa dipercayakan untuk melakukan pelayanan-pelayanan kompleks jika mereka hampir benar-benar tidak pernah dilatih? Banyak gereja berusaha menawarkan kelas-kelas pelatihan tetapi kelas ini tidak dapat menghasilkan buah seperti: perubahan karakter dan penguasaan berbagai keterampilan pelayanan hanya dengan kurikulum lima atau sepuluh minggu. Kini, dalam beberapa tahun belakangan, kita melihat tanda-tanda bahwa gereja-gereja Injili Barat akan menekuni pemuridan, tidak seperti sebelumnya. Dalam sebuah survei terbaru, George Barna meminta para pendeta senior untuk menyebutkan prioritas utama mereka dalam pelayanan. Ia melaporkan, “Prioritas yang paling sering disebutkan adalah pemuridan dan pertumbuhan rohani (47%); penginjilan dan penjangkauan (46%); khotbah (35%).� Prioritas-prioritas ini lebih tinggi nilainya daripada prioritas dalam survei sebelumnya, seperti iba-


28

ORGA N IC DISC I PLE SH I P

dah dan pelayanan pastoral.16 Gereja Barat secara keseluruhan mungkin menganut pemuridan sebagai filosofi pelayanannya, tetapi tetap bergumul untuk mempraktikkannya. Beberapa gereja dan orang-orang Kristen telah melakukan pemuridan dengan setia, seperti yang juga didokumentasikan oleh Barna.17 Bahkan, ada semakin banyak gereja yang telah menjadikan pemuridan sebagai pusat pelayanan mereka. Model gereja sel, yang telah menarik perhatian di dalam banyak gereja Amerika, meminta setiap pemimpin kelompok untuk membimbing seorang asisten pemimpin dalam rangka persiapan untuk penanaman sebuah kelompok sel yang baru. Gerejagereja yang terkenal seperti Willow Creek, Redeemer Church, dan Saddleback telah memberikan perhatian yang sangat besar pada kelompokkelompok kecil mereka sebagai sebuah daya dorong misi gereja, dan mereka dengan mantap menarik perhatian anggota jemaat mereka pada pemuridan pribadi. Entah gereja Anda telah menekuni pemuridan sebagai sarana utama untuk melatih orang-orang Kristen atau tidak, tetapi setiap orang dapat memulai melaksanakan praktik pemuridan ini. Dalam studi ini, kami berharap bisa menyediakan sebuah kerangka dan ide-ide praktis mengenai pemuridan yang bahkan bisa membuat para kaum pemula untuk memulai sebuah kehidupan pemuridan yang berbuah.


TENTANG PENULIS

Dennis McCallum adalah pendiri dan pendeta dari Xenos Christian Fellowship di Columbus, Ohio. Pemimpin-pemimpin Xenos “dibesarkan� melalui pemuridan organik. Dennis adalah penulis dari beberapa buku, termasuk Discovering God, Members of One Another dan Satan and His Kingdom.

Jessica Lowery dan suaminya Ryan memimpin sebuah jaringan gereja rumah di Xenos Christian Fellowship. Jessica juga mengajar kelas Pemuridan Kreatif di Xenos dan dia adalah penulis dari buku Spiritual Confidence.


Jesus Christ, Disciplemaker

(Yesus Kristus, Sang Pembuat Murid) Prinsip-Prinsip Kunci Pemuridan Yesus Bill Hull Ketika Yesus memanggil murid-muridNya, dia merangkul para nelayan dan pemungut cukai, lalu mengubah mereka menjadi orang-orang paling berpengaruh di dunia ini yang pernah ada sepanjang masa. Dapatkan pemimpin gereja zaman sekarang memberdayakan orang-orang awam untuk memenuhi potensi mereka sebagai hamba Allah yang sangat efektif bagi Kerajaan-Nya? Buku pegangan standar dalam pemuridan selama lebih dari tiga puluh tahun, Jesus Christ, Disciplemaker menguraikan metode bagaimana Yesus melatih dua belas murid-Nya dan menyajikan pola yang alkitabiah dari strategi Yesus dalam menjangkau mereka yang terhilang. Edisi yang sudah diperbarui ini berisikan berbagai wawasan baru dari penulis selama lebih dari dua puluh tahun menolong gereja dalam membuat murid dari jemaat-jemaat awam menjadi pemimpin-pemimpin gereja. “Buku ini layak untuk mendapatkan perhatian oleh siapa saja yang serius tentang pemuridan Kristen.� —Robert Coleman, Gordon-Conwell Theological Seminary Info lengkapnya kunjungi: www.literaturperkantas.com Literatur Perkantas Jawa Timur Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Tlp. (031) 8435582, 8413047; Faks.(031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com, www.perkantasjatim.org


Memperkuat Jiwa Kepemimpinan Anda Mencari & Menemukan Allah di Tengah Tantangan Kepemimpinan

Ruth Haley Barton “Saya terlalu lelah untuk menolong orang lain menikmati Allah” “Aku hanya ingin menikmati Tuhan untuk diriku sendiri.” Dengan pengakuan yang memilukan ini, Ruth Haley Barton mengajak kita untuk secara jujur mengamati apa yang akan terjadi ketika seorang pemimpin kehilangan jiwanya. Ia menggabungkan uraian dan contoh-contoh kepemimpinan masa kini dengan hikmat dari perjalanan hidup kepemimpinan Musa, sehingga Memperkuat Jiwa Kepemimpinan Anda mampu memberikan panduan bagi kita untuk topik-topik seperti, • merespons dinamika dari panggilan Allah • menghadapi kesepian dalam kepemimpinan • memimpin dari keadalam diri Anda yang sejati • menemukan kehendak Tuhan bersama Setiap bab terdapat praktik rohani untuk memastikan jiwa Anda mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Melatih dan merawat vitalitas hubungan yang segar dengan Tuhan adalah pilihan terbaik yang dapat Anda lakukan bagi diri Anda sendiri dan orang-orang yang Anda pimpin. Info lengkapnya kunjungi: www.literaturperkantas.com Literatur Perkantas Jawa Timur Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Tlp. (031) 8435582, 8413047; Faks.(031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com, www.perkantasjatim.org


Love Does

(Cinta Bertindak) Temukan Kehidupan Luar Biasa yang Tersembunyi dalam Dunia yang Biasa Bob Goff Sebagai seorang mahasiswa, ia menghabiskan 16 hari di Samudera Pasifik dengan lima orang dan sebuah kaleng daging. Sebagai seorang ayah, ia membawa anak-anaknya keliling dunia untuk makan es krim dengan kepala-kepala negara. Dia membuat banyak teman di Uganda dan mereka sangat menyukainya hingga menjadikannya konsul Uganda. Berikut ini adalah pergeseran paradigma, renungan, dan cerita dari salah satu orang paling menyenangkan yang begitu menarik dan menawan di dunia. Apa yang membuat Bob begitu berdampak? Cinta. Tapi itu bukan jenis cinta yang berhenti di pikiran dan perasaan saja. Cinta Bob mengambil tindakan. Bob percaya Cinta Bertindak. Ketika Cinta Bertindak, hidup menjadi menarik. Setiap hari selalu ada hal lucu, aneh, kesempatan bermakna yang membuat iman menjadi nyata dan mengubahkan. Setiap bab adalah cerita yang membentuk sebuah buku, juga sebuah kehidupan. Dan ini adalah salah satu kehidupan yang pasti tidak mau Anda lewatkan. Ringan dan menyenangkan, unik dan mendalam, pelajaran yang diambil dari kehidupan dan sikap Bob pasti menginspirasi Anda untuk menjadi luar biasa secara tersembunyi juga. Info lengkapnya kunjungi: www.literaturperkantas.com Literatur Perkantas Jawa Timur Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Tlp. (031) 8435582, 8413047; Faks.(031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com, www.perkantasjatim.org


Organic Discipleship (Pemuridan Organik)  

Ketika Yesus pergi, Ia berkata kepada para pengikut-Nya “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Namun apa artinya pemuridan pada zaman ini? Bagaima...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you