70 Tahun PDGI

Page 1

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia



70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia Penulis : Kosterman Usri Ahmad Syai Jeanne D’are Franxisca Xaveria Endang Jeniati Robert Hamdani Dharma Messya Rachmani Fredy Ferdiansyah Ali Sundiharja

22 Januari 1950 - 22 Januari 2020


70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia Diterbitkan pertama kali oleh Lembaga Studi Kesehatan Indonesia (LSKI) untuk Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia Bandung Januari 2020 Penulis Desain Grafis Sampul Korektor Pracetak Pencetak Hak Cipta ISBN

Kosterman Usri, Ahmad Syaifi, Jeanne D’are Franxisca Xaveria Endang Jeniati, Robert Hamdani Dharma, Messya Rachmani, Fredy Ferdiansyah, Ali Sundiharja Messya Rachmani James Press Photo Service (Foto), Honesto Faeda (Tipografi) ... Agus Sono Percetakan ... © 2020 Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) 978-979 ... Hak cipta dilindungi Undang-Undang, dilarang mereproduksi sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara serta tujuan apapun tanpa izin tertulis dari penerbit dan pemegang hak cipta Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia / penulis, Kosterman Usri -- Bandung : .................... 2020. xxx + 99 hlm : 20 cm ISBN 978-979-.... 1. Sejarah Indonesia

I. Usri, Kosterman 959.8


Daar Isi v vi vii 1  13 20 25 27 29 32 36 39 42 46 49 53 57 60 63 65 71

Daar Isi Sambutan Pengantar Pendahuluan Rapat Pendirian Kongres Pertama Kongres PDGI dari Masa ke Masa Madjalah PDGI Bagian Kesehatan Gigi Kementerian Kesehatan Pengesahan PDGI Codex Ethik Pendirian IPPROSI di Batu IPPEDI Cikal Bakal IDGAI 1979 IPPERI Berdiri Ikatan Spesialis Penyakit Mulut Indonesia Ikatan Radiologi Kedokteran Gigi Indonesia Ikatan Peminat Kedokteran Gigi Implan Idonesia Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Ikatan Peminat Ilmu Material dan Alat Kedokteran Gigi Indonesia Ikatan Peminatan Gangguan Kraniomandibula Indonesia Ikatan Spesialis Patologi Mulut dan Maksilofasial Ikatan Peminatan Manajemen Perawatan Gigi dan Mulut Indvidu Berkebutuhan Ikatan Peminatan Anestesi Kedokteran Gigi Indonesia

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

v


74 78 81

vi

Kiprah PDGI Kini Daî‚?ar Pustaka Tentang Penulis

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Sambutan

P

uji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan karuniaNya, penulis dan tim dapat menyelesaikan penulisan buku yang mengupas Sejarah Persatuan Dokter Gigi. Saya selaku Ketua Umum PB PDGI Periode 2017-2020, berterima kasih telah diberi kesempatan untuk memberikan sambutan di buku ini. Persatuan Dokter Gigi Indonesia adalah satu-satunya organisasi profesi yang mewadahi seluruh dokter gigi di Indonesia. Diawali dengan pertemuan sederhana para dokter gigi di Bandung, lahirlah perkumpulan yang kemudian berperan aktif dalam perkembangan bangsa mulai dari orde lama, orde baru, era reformasi hingga era milenial saat ini. 70 tahun tentu bukanlah rentang waktu yang singkat. Perkembangan keilmuan dan keprofesian tentu terus terjadi dan dialami oleh para dokter gigi. Lintasan sejarah membuktikan, dokter gigi tidak hanya hadir dipermasalahan pengobatan gigi semata, namun terlibat aktif juga didalam masalah kesehatan secara umum termasuk didalamnya turut serta dalam menentukan kebijakan kesehatan nasional. Tidak sedikit dokter gigi yang saat ini memegang jabatan strategis mulai dari kepala Puskesmas, kepala dinas, direktur rumah sakit, anggota dewan, serta pejabat kementrian. Buku ini mengupas peristiwa-peristiwa penting diseputaran PDGI, mulai dari saat pembentukan organisasi, kejadian-kejadian yang dianggap monumental, serta pro l PDGI saat ini. Ucapan terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada para Tim Penulis yang telah mewujudkan Buku 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia serta kepada para tokoh pelaku sejarah yang telah berkenan membagikan kisah berbagai peristiwa penting . Akhir kata, semoga buku ini dapat bermanfaat untuk masyarakat terutama para dokter gigi untuk dapat selalu menghargai perjuangan para pendahulu, para sejawat dokter gigi yang telah menginisiasi perkembangan organisasi PDGI hingga saat ini.

Sri Hananto Seno Ketua Pengurus Besar PDGI

Dr. Sri Hananto Seno, drg., MM., Sp.BMM(K)

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

vii


Pengantar

Tim Penulis Buku 70 Tahun PDGI

viii

Sepuh, melemah, dan mulai sakit-sakitan adalah kodrat umumnya manusia memasuki usia senja, apalagi hingga menembus angka 70 tahun. Tentu hal itu tidak boleh terjadi pada Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) yang tahun ini genap berusia 70 tahun. Semakin tua organisasi justru dituntut untuk semakin trengginas dalam menghadapi kompleksitas tantangan zaman. Salah satu cara untuk mencapai kondisi demikian adalah dengan sejenak menengok ke belakang. Belajar pada pengalaman masa lalu, menelisik pasang surut organisasi PDGI melalui kisah-kisah para tokoh di belakangnya sejak organisasi ini lahir hingga saat ini. Menggali inspirasi dan meneladani kiprah para pendahulu, untuk kemudian dijadikan tambahan energi saat mengarungi era milenial yang begitu dinamis dan cepat berubah. Untuk tujuan itulah, kemudian buku ini dibuat. Proses penyusunan buku ini tidak lancar dan mudah, penyebab utamanya karena sulit mendapatkan informasi masa lalu PDGI. Arsip dan dokumentasi jauh dari kata memadai, sementara para tokoh pelaku yang sebenarnya bisa diwawancarai sudah lama meninggalkan kita semua. Sebagai contoh perburuan jejak seluruh pendiri PDGI saja, tidak berhasil. Dari 13 pendiri hanya 8 yang berhasil ditelusuri, itupun prosesnya sangat sulit karena harus berkontak dengan para ahli waris yang sebagian besar ternyata bermukim di Belanda. Penulisan buku ini akhirnya banyak mengandalkan pada informasi yang dimuat di Majalah PDGI. Namun sayang banyak edisi yang tidak berhasil tim penulis temukan, dan tradisi memberitakan kegiatan organisasi di Majalah PDGI ini ternyata terhenti setelah majalah berubah menjadi jurnal yang isinya hanya artikel ilmiah. Kekosongan ini sedikit tertutupi oleh berita seputar PDGI yang dimuat di media kedokteran gigi yang diterbitkan pihak diluar PDGI, seperti Dentamedia, Dental Horison, dan Dental & Dental. Alhasil buku ini serupa puzzle dengan banyak kepingan hilang, jauh dari kata 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


sempurna. Namun setidaknya bisa menjadi dasar, jika kelak di kemudian hari ada generasi muda PDGI tergerak untuk menyusun buku tentang PDGI yang lebih lengkap lagi. Banyak pihak telah membuat penyusunan buku ini dapat terselesaikan, untuk itu terima kasih yang sebesarbesarnya kami haturkan terutama kepada para nara sumber, keluarga dari almarhum pengurus PDGI di masa lalu yang telah mengizinkan kami melihat dan membaca aneka dokumen dan foto-foto kuno PDGI. Kepada seluruh pengurus ikatan keahlian dan peminatan juga kami ucapkan terima kasih atas sumbangan tulisan sejarah masing-masing organisasinya. Akhirul kalam, semoga buku ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya dan mohon maaf apabila ada kekeliruan di isi buku ini Penulis

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

ix


Terima kasih kepada narasumber : Bambang Sardjono Trenggono, Eko Djatmiko, Eky Setiawan Soeria Soemantri, Dede Sutardjo, Edi H. Soendoro, Fen Kie Tjen, John S.H. î ˘e, Kirana Lina Gunawan, Monang Panjaitan, Siti Mardewi K. Soerono Akbar, Siti Wuryan Prayitno, Sri Hananto Seno, R. Soendoro Alwi, Tirta Halim, Toha Baedi, Zaura Kriswarina Anggraeni

Penerbitan buku ini dapat terlaksana berkat dukungan dari :

x

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


PENDAHULUAN

1876 Pemberitahuan praktek H.S Pinkhof, dokter gigi kedua di Batavia dalam Koran Java Bode 16 Februari 1884

Java Bode

S

uatu hari di tahun 1876. Sebuah kapal uap merapat perlahan ke bibir pantai Batavia. Bukan di Pelabuhan Tanjung Priok, melainkan Sunda Kelapa. Saat itu Pelabuhan Tanjung Priok memang belum ada. Secara umum tidak ada yang istimewa dari kapal uap tersebut. Tetapi dalam konteks jejak sejarah kedokteran gigi di Indonesia, merapatnya kapal uap itu menjadi penting. Mengapa? Karena salah satu penumpang di dalamnya adalah seorang dokter gigi bernama J. Osbourn Edwards, yang akan menjadi dokter gigi pertama dan satu-satunya di Batavia kala itu. 1 Tidak jelas benar dari mana negara asal J. Osbourn Edward. Diduga pria berperawakan tinggi besar ini berkebangsaan Inggris.1 Yang menarik jika disimak dari bilangan tahun, kehadiran dokter gigi pertama di Hindia Belanda ini, hanya tertaut waktu 16 tahun semenjak Sir John Tomes dari Inggris mencatatkan diri sebagai dokter gigi pertama di dunia pada tahun 1860. 2 Tiga tahun berselang, tahun 1879, datang dokter gigi kedua bernama H.S. Pinkhof. 1 Jejaknya terbaca dalam iklan mini Koran Java Bode terbitan 16 Februari 1884. Ia tercatat praktek di Kebon Sirih Wijk (distrik) 24 No. 13. “Is dagelijks, uitgezonderd zondag, te consulteren’s morgen van 7-11 uur”, demikian tertulis dalam iklannya, yang kurang lebih artinya “setiap hari, kecuali minggu, untuk konsultasi pagi jam 07.0011.00”.3 Jumlah dokter gigi di Hindia Belanda kemudian tidak mengalami perkembangan signi kan. Hingga tahun 1928 hanya terdapat 35 orang dokter gigi lulusan Eropa, yang tersebar pada sembilan kota di Pulau Jawa, terutama Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Mereka umumnya hanya melayani bangsa Eropa, sementara

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

1


School tot Olpeiding voor Indisch Tandartsen (STOVIT) sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Surabaya

untuk masyarakat non-Eropa kebanyakan berobat pada tukang gigi yang banyak menimbulkan masalah. 4 Kondisi ini kemudian memunculkan gagasan untuk mendirikan sekolah dokter gigi dari Direktur Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), F.J.F. Van Zeben. Ia membicarakannya dengan Kepala Dienst der Volksgezondheid, Lonkhuizen pada Bulan April 1928.5 Usulan Zeben untuk mendirikan sekolah kedokteran gigi mendapat sambutan pemerintah, terutama bertujuan untuk mengatasi masalah tukang gigi. Dalam majalah profesi dokter gigi saat itu Tandheelkundig Correspondentieblad Voor Nederlands-Indie, dituliskan “men heffe het toekang gigi kwadd of door althans geschoolde trekkers in hunplaats te stellen die lets van tandheelkunde afweten”. Artinya kurang lebih, “masalah tukang gigi dapat diselesaikan dengan mendidik tenaga cabut gigi yang dibekali sekedarnya dengan pengetahuan tentang kedokteran gigi”.4,5 Dengan tujuan yang kurang mulia inilah pada tanggal 28 September 1928 dibuka School tot Olpeiding voor Indisch Tandartsen (STOVIT). Dr. Schoppe yang sebelumnya ditunjuk pemerintah untuk mempersiapkan STOVIT diangkat menjadi direktur pertamanya. Calon siswa STOVIT hanya lulusan Mulo B (setingkat SMP), biaya yang harus dibayarkan adalah 15 Gulden sebulan sebagai uang sekolah, ditambah 10 Gulden untuk uang material, dan 5 Gulden untuk uang buku. Pendidikannya berlangsung selama lima tahun. Lulusan STOVIT bergelar Indisch Tandarts. Agar bisa dianggap setara dengan dokter gigi Belanda yang disebut Tandarts, lulusan STOVIT harus melanjutkan pendidikan ke Tandheelkundig Instituut di Utrecht, Belanda. 4, 6, 7 2

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Freddy Ferdiansyah

Perkuliahan STOVIT dilakukan bersama dengan NIAS di Viaduct Straat 47 Karang Menjangan Surabaya, yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Saat itu gedung NIAS terdiri dari satu hoofdgebouw (gedung utama) dengan tiga paviliun. Ruang teknik STOVIT ditempatkan di Paviliun Tiga bersama dengan Bagian Faal.1 Kegiatan klinik dilakukan di Oude Centrale Burgerlijke Zienkeninrichting (CBZ) atau dikenal sebagai Rumah Sakit Simpang yang sekarang telah dibongkar dan menjadi Delta Plaza Surabaya. 6, 8 Dokter gigi pertama lulusan Hindia Belanda yang lulus dari STOVIT pada tahun 1933 adalah: Go Yauw Bian, Han Kiem Pwee, Kho Kiem Djiak, Lie Tjien Tjong, Liem Swie Hway, Ng Feng Kioen, R. Soenario, Soenarti Sardjono, Tan Giok An Nio, Sie Tjan Liem Nio, A.J. Agerbeen Zindel, dan Ch MB Robert. Kehadiran lulusan STOVIT menimbulkan masalah baru di lapangan, karena tidak sesuai dengan harapan pemerintah Hindia Belanda. Mereka tidak berpraktek di daerah atau kota kecil, tetapi di kota besar yang sudah ada dokter gigi lulusan Eropa-nya. Dengan tarif 3 gulden, lebih murah 2 gulden dari dokter gigi lulusan Eropa (harga beras 1 kg saat itu 8 sen) menyebabkan terjadinya persaingan tidak sehat. Dalam Majalah STOVIT Orgaan terbitan tahun 1939 seorang alumni mengemukakan pembelaannya, lulusan STOVIT terpaksa pasang tarif lebih murah karena Indische Tandarts dipandang masyarakat sebagai dokter gigi kelas dua. Sedangkan alasan tidak mau praktek di daerah adalah karena tidak akan dapat hidup layak bila hanya mengandalkan praktek partikelir. 4 Di masa penjajahan Jepang STOVIT ditutup, dan baru dibuka kembali dengan nama Ika Daigaku Shika- Igaku70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

3


Koleksi Indonesia Postcard

Oude Centrale Burgerlijke Zienkeninrichting (CBZ) atau dikenal sebagai Rumah Sakit Simpang Surabaya

Bu pada tanggal 1 April 1943. Sekolah tersebut berganti nama menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi setelah Jepang menyerah pada Sekutu, yang kemudian dipindah dari Surabaya ke Malang. Ketika kota Malang diduduki Belanda pada Agresi Militer I tahun 1947, sekolah tersebut dipindah ke Solo, kemudian ke Klaten, sampai akhirnya digabung dengan pendidikan dokter dan apoteker di Universitit Negeri Gadjah Mada yang kelak di tahun 1960 dipisah menjadi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. 6, 9, 10 Sementara itu, pada bulan September 1947, Belanda kembali membuka STOVIT di Surabaya dengan nama baru Tandheelkundig Instituut yang setelah penyerahan kedaulatan menjadi Lembaga Kedokteran Gigi, cikal bakal Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Sampai dengan tahun 1950 hanya di dua tempat itulah terdapat sekolah kedokteran gigi di Indonesia, padahal jumlah dokter gigi sangat sedikit sekali, hanya ada sekitar 90 orang. 6, 9 Pada masa Hindia Belanda --juga masih terbawa sampai setelah Indonesia merdeka-- masyarakat dibagi menjadi tiga golongan yaitu Eropa, Timur Asing, dan Pribumi. Ini merupakan buah dari pemberlakuan Indische Staatsregeling atau Peraturan Ketatanegaraan Hindia Belanda yang termuat dalam Staatsblad Nomor 415 Tahun 1925. Akibatnya masyarakat menjadi tidak membaur, demikian pula ketika bersekolah di STOVIT, organisasi kemahasiswaan terbagi sesuai kebangsaan, misalnya Kao Teng Chuan Men Shiok Siauw Shiok Sing Hwee yang anggotanya khusus mahasiswa Tionghoa dari NIAS dan STOVIT. 11, 12 4

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Organisasi dokter gigi juga tidak menyatu, pada zaman Hindia Belanda ada Maatschappij ter Bevordering der Tandheelkunde in Nederland Indie untuk dokter gigi Eropa, sementara bagi dokter gigi Tionghoa umumnya bergabung dalam Chinese Bond van Artsen, Tandartsen en Apothekers. 13 Kondisi inilah yang kelak kemudian menjadi dasar pendirian Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI). Penggagas berdirinya PDGI, R.G. Soeria Soemantri, bercita-cita untuk mendirikan satu organisasi yang menghimpun seluruh dokter gigi di Indonesia tanpa diskriminasi, tanpa membedakan suku, agama, ras, bangsa, agama dan aliran.13, 14 Perlakuan diskriminatif pada zaman penjajahan Belanda menempatkan kaum pribumi sebagai warga negara kelas tiga, setelah orang Belanda dan Timur Asing.11 Hampir dalam segala hal, termasuk di bidang kedokteran gigi. Saat itu kentara sekali adanya dikriminasi terhadap dokter gigi lulusan sekolah pribumi STOVIT dengan dokter gigi lulusan negeri Belanda. Contohnya mengenai gelar yang disandang. Titel untuk lulusan STOVIT Surabaya adalah Indische Tandarts atau Dokter Gigi Hindia Belanda, sedangkan dokter gigi lulusan Belanda mendapat gelar Tandarts. Ternyata pembedaan gelar itu berpengaruh terhadap tarif layanan dokter gigi. Yang lebih menyakitkan, para dokter gigi lulusan Belanda tidak menghendaki dokter gigi lulusan STOVIT membuka praktek di perkotaan. Merekalah yang praktek di kota besar, sementara dokter gigi lulusan STOVIT dihalau ke desa atau kota-kota kecil.

Ini sama sekali bukan dimaksudkan sebagai upaya pemerataan, tetapi untuk mengurangi kompetisi.4 Perlakuan diskrimatif sejak jaman penjajahan Belanda membuncahkan semangat untuk membangun kebersamaan. Inilah yang kelak menyebabkan pendirian PDGI diterima dengan suka cita oleh seluruh kalangan dokter gigi.13, 14

Aktivitas mahasiswa School tot Olpeiding voor Indisch Tandartsen (STOVIT)

Chineese Indonesian Heritage Center

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

5


Rapat Pendirian

1950 “semua dokter gigi dipersatukan dengan tidak membedabedakan golongan, bangsa, dan aliran� R.G Soeria Soemantri

6

B

andung tempo dulu jauh berbeda dengan hari ini. Di tahun-tahun awal kemerdekaan Republik Indonesia, jumlah penduduk kota bandung hanya 644.475 jiwa. Luas wilayahnya tidak seluas sekarang. Udaranya masih sangat sejuk. Kabut pagi menjadi pemandangan sehari-hari. Namun suasana Kota Bandung di tahun 1950 jauh dari kata sejuk.14 Sejak soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Amsterdam 27 Desember 1949 keadaan menjadi tidak menentu.15 Secara resmi pemerintahan Hindia Belanda telah berakhir, Walikota Besar Bandung telah diserah terimakan dari E. Cores yang orang Belanda kepada R. Enoch orang Indonesia.16 Namun di sisi militer, pengabungan tentara Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL) ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) yang merupakan bekas musuhnya, tidak berjalan mulus. Tentara KNIL masih menempati tangsi-tangsi militer mereka.17 Keadaan di dalam kota sangat tidak aman. Banyak kelompok kriminal bersenjata berkeliaran dimana-mana. Angka kriminalitas begitu tinggi. Komandan Militer Kota Besar Bandung saat itu Letkol Sentot Iskandar Di Nata sampai merasa perlu memberlakukan jam malam pada pukul 24.00 sampai 05.00 untuk hari biasa, dan pukul 02.00 sampai 05.00 untuk malam Minggu. Kehidupan Bandung pada tahun 1950 tegambar dalam lm lama berjudul Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail.18 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Absensi rapat pendirian PDGI, 20 Januari 1950 di Hotel Savoy Homann, Bandung Koleksi R.M. Soelarko

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

7


R. Goermilang Soeria Soemantri

Fredrik Wilhelmus Petrus Karthaus

R.M. Soelarko Soemohatmoko

Siem Kie Liat

Lahir : Ciamis, 18 Mei 1914

Lahir : Ngawi, 28 April 1900

Lahir : Baturetno, 20 Desember1915

1936 : Indische Tandarts dari STOVIT, Surabaya 1950 : Kepala Dinas Pengobatan Gigi Provinsi Jawa Barat 1950-1957 : Ketua Pengurus Besar PDGI 1952 : Kepala Dinas Pengobatan Gigi Kota Besar Bandung 1958 : Master of Public Health, Ann Arbor, Michigan 1959-1982 : Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadaran

1927 : Tandarts dari Subfakulteit Tandheelkunde Rijks Universiteit Utrech 1928 : Praktek Partikelir di Cirebon 1940 : Disangka anggota NBS yang pro Jerman dan ditahan di penjara Ambarawa 1941-1943 : Dipindah ke penjara Bandung 1943-1952 : Praktek Partikelir di Bandung

1939 : Indische Tandarts dari STOVIT, Surabaya 1945-1973 : Tentara Nasional Indonesia pangkat terakhir Brigadir Jenderal 1954-1985 : Ketua Perhimpunan Amatir Fotografer 1958 : Tuî‚?s University School of Dental Medicine, Boston 1959-2005 : Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadaran 1964 : Doktor dari Universitas Padjadjaran, Bandung 1972-1975 : Ketua PB PDGI 1977-1992 : Ketua Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia

Meninggal : Tasikmalaya, 29 Juli 1982

Meninggal : Bandung 1952

Riwayat hidup : Lahir : Purbalingga 18 April 1902 DDS dari University of Dentistry Iowa City 1933 : Adatasi Indische Tandarts di STOVIT, Surabaya Masgister Science Ortodontik dari University of Dentistry Iowa City 1935-1973 Praktek partikelir di Bandung 1950-... Ketua PDGI Cabang Bandung 1950-... Pengurus Besar PDGI Meninggal : Bandung 17 Januari 1973

Meninggal : Bandung 12 Maret 2005

Pada hari Kamis tanggal 5 Januari 1950, Kapten Raymond Westerling bekas Komandan Depot Speciale Troepen KNIL mengirim surat kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS). Isinya : menuntut agar Pemerintah RIS mengakui Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) sebagai tentara Negara Bagian Pasundan. Pemerintah RIS harus memberikan jawaban positif dalam waktu tujuh hari dan apabila ditolak akan timbul perang besar. Tanggal 22 Januari 1950 malam beredar kabar sejumlah anggota pasukan Depot Speciale Troepen 8

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


R. Adang Djajadiredja

R. e Se Hon

Lahir : Majalaya 5 Juni 1914

Lahir : Bangka, 19 November 1916

1937 : Indische Tandarts dari STOVIT, Surabaya 1948-1949 : Dokter gigi Kementerian Kesehatan 1952-1957 : Tentara Nasional Indonesia pangkat terakhir Letnan Kolonel Tituler 1957-1959 : Kepala Dinas Kesehatan Gigi Kota Bandung 1959-1972 : Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadaran

1939 : Indische Tandarts dari STOVIT, Surabaya 1947 : Tandarts dari Subfakulteit Tandheelkunde Rijks Universiteit Utrech 1947-1950 : Dosen Subfakulteit Tandheelkunde Rijks Universiteit Utrech 1955 : Doktor dari University Bonn 1959-1965 : Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadaran 1951-1954 : Ketua PDGI Cabang Bandung 1960 : Master Degree Dentistry dari University of Ann Arbor, Michigan

Meninggal : Bandung 24 September 1973

Meninggal : Belanda, 26 Februari

Tjen A. Pat

Siem Kie Hian

Lahir : Sungailiat 23 November 1911

Lahir : Purbalingga, 20 September 1907

1935 : Indische Tandarts dari STOVIT, Surabaya 1935-1938 : Praktek di Banjarmasin 1938-1946 : Praktek di Yogyakarta 1946-1947 : Praktek di Jakarta 1947-1949 : Praktek di Gulangyu Cina 1950-1964 : Praktek di Bandung 1964-1997 : Praktek di IJmuiden Belanda

1935 : Indische Tandarts dari STOVIT, Surabaya 1935-1961 : Praktek Partikelir di Bandung 1946 : Dokter Gigi Palang Merah 1961-1974 : Pengajar di School dentist Leeuwarden, Del, Haarlem 1966-1982 : Praktek Partikelir di Amstelveen Belanda

Meninggal : IJmuiden Belanda 23 Januari 1997

Meninggal : Hague Belanda 5 Januari 1990

KNIL dengan persenjataan berat telah melakukan desersi dengan meninggalkan tangsi militer di Batujajar. Mereka diduga bergabung dengan Westerling.17 Di malam dengan suasana tidak menentu seperti itu, sekelompok dokter gigi Bandung mengadakan pertemuan di Coffee Shop Lobby Hotel Savoy Homann. Hotel 4 lantai yang didirikan oleh Adolf Homann pada tahun 1871, saat itu memang paling populer dan banyak digunakan sebagai tempat pertemuan. Ada tiga belas 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

9


Kemendikbud

Hotel Savoy Homann Bandung1950

orang dokter gigi yang datang pada rapat malam itu. Mereka adalah : 14.13, 19, 20, 21 1. R.G. Soeria Soemantri Djl. Bungsu 5 Bandoeng 2. Fredrik Wilhelmus Petrus Karthaus Djl. Atheh 1C Bandoeng 3. Kwa Kong Ing Logeweg 14 Pav Bandoeng 4. R. Adang Djajawiredja Djl. Astanaanjar 144 Bandoeng 5. î ˘e Se Hon Oude Hospitaalweg 8 Bandoeng 6. Siem Kie Hian Merdikaweg 44 Bandoeng 7. E. Kaltofen Dagoweg 40 Bandoeng 8. Tjen A. Pat beralamat Frisiastraat 11 Bandoeng 9. Siem Kie Liat Djl. Naripan 47 Bandoeng 10. Tjiook Kiem Tjing Wilhelminaboulevard 1 Bandoeng 11. R.M. Soelarko Sumatrastraat 50 Bandoeng 12. F.H. Li Naripanweg 26 Bandoeng 13. Birkenfeld Heemskerkstraat 14 Bandoeng 10

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Pertemuan tanggal 22 Januari 1950 itu, kelak di kemudian hari menjadi tonggak penting dalam sejarah dokter gigi Indonesia. Pada tanggal itulah awal berdirinya Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI). Adalah R.G. Soeria Soemantri, yang berinisiatif dan mengundang sejumlah dokter gigi ke Hotel Savoy Homman dan menghasilkan kesepakatn pendirian PDGI. R.G. Soeria Soemantri adalah Indisch Tandarts (dokter gigi) lulusan School Tot Opleiding van Indisch Tandartsen (STOVIT) Surabaya, tahun 1937. Sudah sejak kuliah beliau mencitacitakan adanya organisasi yang mempersatukan dokter gigi di Indonesia. 13, 21 Membuka rapat Soeria Soemantri mengemukakan gagasan untuk mendirikan suatu persatuan untuk menghimpun semua dokter gigi di Indonesia.Menurutnya untuk menyusun tenaga dalam pembangunan tanah air di lapangan kedokteran gigi, semua dokter gigi harus dipersatukan dengan tidak membeda-bedakan golongan, bangsa, agama, dan aliran.21 Saat itu di Indonesia telah ada dua organisasi yang menaungi dokter gigi, yaitu Maatschappij ter Bevordering der Tandheelkunde in Nederland Indie dan Chinese Bond van Artsen, Tandartsen en Apothekers; hal ini pula yang menjadikan pertemuan sedikit hangat. Namun akhirnya dengan suara bulat dan penuh antusiasme, menjelang tengah malam, sekitar pukul 22.00 WIB, mereka sepakat mempersatukan seluruh dokter gigi dalam sebuah organisasi bernama Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) .13, 19, 21 Sangat disayangkan pertemuan penting malam itu tidak sempat diabadikan. Tak seorang pun yang membawa kamera untuk mengambil foto. Untungnya di tengah pertemuan, R.M Soelarko berinisiatif membuat presentielijst (daî‚?ar hadir) di atas kertas amenity hotel berlogo Savoy Homann. Selembar kertas yang kemudian dibawa pulang dan disimpan oleh R.M. Soelarko inilah yang kemudian menjadi saksi bisu pendirian Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI).20 Adapun susunan kepengurusan sementara Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) yang disepakati dalam pertemuan tersebut sebagai berikut : Ketua : R. G. Soeria Soemantri Wakil Ketua : F.H. Lie Penulis : R. M. Soelarko Bendahara : Siem Kie Liat Para peserta pertemuan menyepakati PDGI Bandung sebagai cabang dan pemegang inisiatif untuk mengadakan propaganda pendirian cabang-cabang PDGI di kota lain, sedangkan pengurus besar akan ditentukan dalam sebuah kongres yang diusahakan sudah dapat terlaksana pada April 1950 di Jakarta. 13, 21 Disepakati pula untuk membentuk panitia yang akan menyusun konsep anggaran dasar, panitia perpustakaan yang akan membentuk perpustakaan kedokteran gigi, serta panitia istilah yang memikirkan istilah untuk ilmu kesehatan gigi. Selaian itu seluruh peserta rapat diminta untuk memikirkan konsep pendidikan 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

11


mantri gigi. Pertemuan anggota selanjutnya disepakati dilakukan pada minggu pertama awal bulan dengan iuran bulanan Rp. 10 untuk mengusahakan mesin ketik.13, 21 Bergegas pulang menjelang jam malam para peserta pertemuan kembali ke rumahnya masing-masing. Esok harinya 23 Januari 1950, para desersi Koninklijke Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang menamakan dirinya Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling menyerbu Kota Bandung dan menebar teror.

12

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Kongres Pertama

1950 Sampul buku acara Kongres I PDGI

Koleksi Robert H. Dharma

R

estoran Kam Leng, Jakarta, 25 Desember 1950. Kemeriahan menyeruak dari restoran Tionghoa, yang terletak di sebelah Bioskop Chunghua, kawasan Pancoran, Jakarta Barat itu.22 Sesekali terdengar derai tawa peserta mengiringi obrolan dan guyonan lucu-lucu. Ya, malam itu sedang berlangsung penutupan Kongres I Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) yang dipungkasi dengan acara makan malam.23 Acara berlangsung dari pukul tujuh sampai sepuluh malam. Prof R.G. Soeria Soemantri sebagai Ketua PDGI terpilih mengatakan, “bahwa dinner dimaksudkan sebagai penutup kongres jang mendapat hasil2 jang baik”. Kemeriahan malam itu terjadi karena disela menyantap makanan lezat khas Kam Leng yang sangat tersohor di seantero Jakarta, peserta kongres dipersilahkan untuk “menjampaikan speeches jang lutju2”. Suasana hangat penuh keakraban sangat terasa. Apalagi sebagian besar peserta yang hadir adalah alumni School Tot Opleiding van Indisch Tandartsen (STOVIT) Surabaya. Jadilah acara makan malam itu sekaligus ajang reuni. 13, 23 Sebenarnya saat pendirian PDGI di Bandung, tanggal 22 Januari 1950, disepakati bahwa kongres pertama akan dilaksanakan di Jakarta pada April 1950. Namun ternyata banyak hal yang harus dikerjakan Pengurus PDGI, sehingga pelaksanaan kongres terpaksa diundurkan. Pengurus mencita-citakan “All Indonesian Dental Congress”. Upaya pertama dilakukan dengan membuat pertemuan dengan organisasi dokter gigi

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

13


Tropen Museum

Restoran Kam Leng, Jakarta

14

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Koleksi Robert H. Dharma

Surat edaran Kongres Pertama PDGI dari Pengurus Besar Sementara yang berkedudukan di Bandung

yang sudah ada sebelum PDGI yaitu Maatschappij ter Bevordering der Tandheelkunde in Nederland Indie dan Chinese Bond van Artsen, Tandartsen en Apothekers.13 Pertemuan dengan dua organisasi dokter gigi 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

peninggalan zaman Belanda diselenggarakan di Hotel Preanger Bandung pada tanggal 5 Agustus 1950, dari PDGI hadir R.G. Soeria Soemantri, î ˘e Se Hon, R.M. Soelarko, dan Siem Kie Hian, pihak Maatschappij ter Bevordering der Tandheelkunde in Nederland Indie 15


Berita Film

Gedoeng Pergoeroen Tinggi Kedokteran, Jakata

diwakili J. Mulder, sementara dari Chinese Bond van Artsen, Tandartsen en Apothekers hadir Be Wie Tjoen.13 Pertemuan berlangsung selama empat jam dengan perdebatan dan pertukaran pendapat yang cukup seru. Gagasan untuk Penyatuan wadah organisasi dokter gigi Indonesia ternyata tidak disepakati. Kedua organisasi lain tetap ingin mempertahankan keberadaan organisasinya. Meskipun demikian, kedua organisasi tersebut tidak keberatan jika anggotanya bergabung pula dengan PDGI. Bahkan sangat dianjurkan. 13 Sebaliknya, disepakati pula bahwa PDGI terbuka untuk dokter gigi yang berkewarga-negaraan asing, serta dokter gigi yang belum memiliki Acte van Toelating (Surat Izin Praktik). Ini menjadi angin segar dari para tokoh PDGI : kendati gagasan untuk fusi belum disepakati, mereka berkeyakinan suatu saat nanti PDGI bakal menjadi satu-satunya organidsasi dokter gigi di Indonesia.13 16

Sementara itu PDGI Bandung terus mengadakan “propaganda” dengan mengirimkan selebaran tentang PDGI serta anjuran untuk mendirikan cabang PDGI ke kota-kota lain. Sampai dengan menjelang akhir tahun 1950 telah terbentuk tujuh Cabang PDGI, yaitu Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Solo, Malang, Surabaya, dan Semarang.13 Surat edaran perihal Kongres I PDGI akhirnya dibuat pada tanggal 20 Oktober 1950. Pada saat itu sekretariat PDGI beralamat di Jl. Sumbawa 24 Bandung. Menumpang di Kantor Dinas Pengobatan Gigi Kota Besar Bandung, yang merupakan kantor Ketua PDGI, R.G. Soeria Soemantri. Acara kongres pertama dijadwalkan berlangsung di Hotel Des Indes tanggal 2325 Desember 1950, dengan biaya pendaaran Rp. 20. Sekretariat Kongres di DKR Mess Jl. Merdeka Selatan 10, yang sekarang menjadi Gedung Lemhanas. Kongres pertama digelar tanggal 23-25 Desember 1950, tak sampai satu tahun semenjak PDGI resmi didirikan. Tempat berlangsungnya kongres tidak jadi di Hotel Des Indes seperti tertulis di surat edaran, tetapi dipindahkan ke Gedung Pergoeroean Tinggi Kedokteran yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jl. Salemba Raya 4 Jakarta.23 Kongres pertama PDGI dihadiri 37 orang delegasi, terdiri dari 33 anggota dan 4 peninjau. Agenda pertama kongres adalah “Reunie” yang dimulai pukul 19.00 tanggal 23 Desember 1950, dilanjutkan pembukaan. Pada saat pembukaan, RG Soeria Soemantri sebagai ketua sementara menyampaikan pidato yang sangat memukau. Secara tegas dan jelas 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Madjalah PDGI / Koleksi Robert H. dharma

Suasana Kongres I di Jakarta 23-25 Desember 1950

beliau menyampaikan tujuan dan perjuangan pendirian PDGI, yang merupakan usaha untuk mempersatukan dokter gigi Indonesia tanpa memandang bangsa, golongan, dan agama. Sambutan dan reaksi yang semula dingin berubah menjadi hangat setelah diterangkan sifat perkumpulan, maksud dan tujuan, serta cita-cita yang hendak dicapai oleh PDGI. 21, 23 Acara hari kedua kongres adalah “Receptie� yang dihadiri oleh para pembesar sipil maupun militer antara lain : dr. Abdul Kadir mewakili Kementerian Kesehatan, dr. Soedomo Ketua Faculteit Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Prof. M. Knap Ketua Lembaga Kedokteran Gigi Surabaya, dr. Sarwono mewakili Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Letkol Satrijo mewakili Djawatan Kesehatan Tentara. Pada kesempatan itu PDGI diperkenalkan kepada pemerintah, instansi, dan undangan lainnya.23 Beberapa masalah yang mengemuka saat 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

kongres yaitu rasionalisasi dan koordinasi perguruan tinggi, pemberantasan praktek tidak syah dan perlindungan titel dokter gigi, pemeliharaan kesehatan gigi untuk rakyat Indonesia, pengesahan Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga, rencana akan mengeluarkan Majalah PDGI, serta disyahkannya sembilan cabang PDGI yaitu : 23 Cabang Bandung 19 orang anggota Cabang Jakarta 35 orang anggota Cabang Malang 10 orang anggota Cabang Surabaya 18 orang anggota Cabang Semarang 6 orang anggota Cabang Palebang 1 orang anggota Cabang Banjarmasin 1 orang anggota Cabang Yogyakarta 1 orang anggota Cabang Solo 5 orang anggota Pemilihan

Pengurus

Besar

(PB)

PDGI 17


berlangsung secara demokratis. Pemungutan suara bukan hanya dilakukan untuk memilih ketua, tetapi juga memilih wakil ketua dan anggota PB PDGI di Jakarta. Sementara untuk jabatan Penulis, Bendahara, Anggota PB PDGI di Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sumatera terpilih secara “acelamatie”. Susunan PB PDGI yang pertama terdiri dari:23 Ketua Wakil Ketua Penulis Bendahara Anggota di Jakarta Anggota di Yogyakarta Anggota di Jawa Timur Anggota di Sumatera

R.G. Soeria Soemantri M. Knap R.M. Soelarko Siem Kie Liat R.M. Abdukadir Mangkusubroto Be Wie Tjoen Bertha Go R.M. Koemargono M. Knap Barlan Setiadidjaja

Hari terakhir kongres diisi dengan acara ilmiah yang saat itu disebut sebagai “Lezing” dan “Demonstratie”, berturut-turut yang memberikan “chotbah” adalah : Moestopo, Soelarko, Schoenbarum, e She Hon, M. Knap, Soedomo, dan Soemadi. Kemudian diputarkan lm dari Philips mengenai “Electronen Microscoop Setjara Populair Wetenschap-pelijk” serta lm dari USIS tentang “ortodontie”. Acara di Pergoeroen Tinggi Djakarta hari itu berakhir pukul 15.30, malamnya seluruh peserta kongres dan pendampingnya diundang “dinner” di Restoran Kam Leng. 24

18

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


James Press Photo Service

Peringatan Lustrum ke-2 PDGI, Bandung 1960

Kongres PDGI dari Masa ke Masa 1. Kongres I, Jakarta 23-26 Desember 1950 2. Kongres II, Surabaya 11-16 April 1952 3. Kongres III, Yogyakarta 1-6 April 1953 4. Kongres IV, Bandung 6-12 Juni 1954 5. Kongres V, Jakarta 19-25 1955 6. Kongres VI, Lawang 21-26 Juli 1957 7. Konferensi, Kaliurang 18-21 Juni 1958 8. Lustrum II, Bandung 19-23 Juli 1960 9. Kongres IX, Surabaya 1962 10. Kongres Jubileum, Bandung 19-24 Januari 1970 11. Kongres XI, Yogyakarta 27-31 Desember 1972 12. Kongres XII, Bandung 27-30 Desember 1975 13. Kongres XIII, Medan 8-12 Mei 1978 14. Kongres XIV, Jakarta 23-27 September 1980 15. Kongres XV, Surabaya 15-18 Desember 1982 16. Kongres XVI, Denpasar 19-23 Desember 1985 17. Kongres XVII, Ujung Pandang 19-21 Januari 1989 18. Kongres XVIII, Semarang 22-24 Oktober 1992 19. Kongres XIX, Balikpapan 16-19 November 1995 20. Kongres XX, Bandung 8-9 Maret 1999 21. Kongres XXI, Surakarta 7-9 Maret 2002 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

22. Kongres XXII, Makassar 20-23 Maret 2005 23. Kongres XXIII, Surabaya 19-22 Maret 2008 24. Kongres XXIV, Bali 30-31 Maret 2011 25. Kongres XXV, Pontianak 28-31 Mei 2014 26. Kongres XXVI, Medan 4-6 Mei 2017 27. Kongres XXV, Balikpapan 2-5 April 2020

Koleksi PB PDGI

Kongres PDGI XVII, Ujung Pandang 1989

19


Madjalah PDGI

1951 Madjalah PDGI Edisi Pertama

Koleksi Robert H. Dharma

20

J

umlah dokter gigi di Hindia Belanda hingga tahun 30-an hanya ada 35 orang. Namun untuk urusan media komunikasi, mereka telah memiliki Tandheelkundig correspondentieblad van Nederlandsch-Indië yang sudah bergaya jurnal ilmiah masa kini. Untuk kalangan internal kampus STOVIT ada majalah lain lagi, yaitu STOVIT Orgaan yang selain memuat artikel para dosen dan mahasiswa juga tulisan kiriman para alumninya.4 Maka tak heran bila salah satu amanat hasil Kongres I PDGI di tahun 1950 adalah segera menerbitkan majalah. Bahkan saat kongres, telah diumumkan susunan “Panitia Redactie” –nya yang terdiri dari Abdul Kadir, Marcus Knap, Ouw Eng Liang, R. Moestopo, J. Mulder, dan e She Hon. Tentu bukan tanpa alasan kenapa mereka yang dipilih untuk mempersiapkan penerbitan majalah.23 Utamanya Marcus Knap dosen Lembaga Kedokteran Gigi Surabaya adalah Hoofdredacteur Tandheelkundig correspondentieblad van Nederlandsch-Indië yang telah terbit sejak masa Hindia Belanda.25 Madjalah Persatuan Dokter Gigi Indonesia Nomor 1 akhirnya terbit di Bulan Agustus 1951, redaksinya terdiri dari : Kepala Redaksi : Kolonel R. Moestopo Anggota Redaksi : R. M. Abdulkadir Prof. Marcus Knap 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Dr Ouw Eng Liang Dr J. Mulder e Se Hon Redaksinya beralamat di Jl. Gereja eresia 62 Jakarta, majalah dicetak di NV Joh M Grenzenberg yang beralamat di Jl. Hayam Wuruk 6 Jakarta. Tim ini menerbitkan Madjalah Persatuan Dokter Gigi Indonesia setiap bulan dari tahun 1951 sampai dengan tahun 1953. 23 Tahun 1953 pengelolaan majalah dipindahkan ke Yogyakarta di bawah pimpinan Soedomo yang saat itu menjadi Dekan Fakultas Kedokteran Gigi UGM, maka alamat redaksinya-pun menggunakan alamat kampus yang saat itu berlokasi di Ngasem. Soedomo sebagai Pemimpin Redaksi dibantu oleh Soemadie (Kepala Administratie), Tjoa Som Gwan (Keuangan), Koermargono (penerbitan), K. Pranowo (Anggota), Lupini (Anggota), Marcus Knap (Pembantu Tetap), Ouw Eng Liang (Pembantu Tetap), e Se Hon (Pembantu Tetap), dan Schombaun (Pembantu Tetap). Penerbitan Madjalah Persatuan Dokter Gigi Indonesia dari Yogyakarta bertahan selama tujuh tahun, dari 1953 sampai 1960.26 Setelah itu penerbitan Madjalah Persatuan Dokter Gigi Indonesia dipindahkan ke Surabaya dengan pimpinan Soedarmadi. Majalah terbit tiga bulan sekali, biaya menjadi persoalan sehingga penerbitan majalah sering tersendat.13 Tahun 1961 pengelolaan majalah dipindahkan ke Jakarta dipimpin Geri Panjaitan. Berkat dukungan dana dari MIPI majalah terbit teratur tiap kuwartal dengan kualitas cukup baik. Sesuai dengan peraturan pada masa itu yang mewajibkan majalah harus berizin, 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

Jodeninnederlandsindie

Tandheelkundig correspondentieblad van Nederlandsch-Indië 1936 21


Madjalah PDGI-pun mendapat Surat Tanda Terdaftar (SIT) Nomor 96/SK/UPPG/SIT/1963 dari Menteri Penerangan. Sayangnya tahun 1964 pembiyaan dari MIPI dihentikan sehingga Madjalah Persatuan Dokter Gigi Indonesia juga berhenti terbit. 13 Penghentian ini seiring dengan melemahnya organisasi PDGI di zaman pancaroba, peralihan orde lama ke orde baru. Sesepuh PDGI di Bandung Soeria Soemantri kemudian berinisiatif menerbitkan Bulletin PDGI, sekaligus mengajak para dokter gigi untuk menyelenggarakan konferensi darurat. Usulan ini kemudian diwujudkan dalam bentuk Musyawarah Kerja PDGI di Jakarta pada tanggal 29 Agustus – 1 September 1966. Pada musyawarah tersebut Tampinongkol ditugaskan untuk menerbitkan kembali Madjalah Persatuan Dokter Gigi Indonesia, namun gagal dan baru bisa terbit lagi setelah ditunjuk pengelola baru yaitu R.M. Soelarko pada saat Kongres Peringatan 20 Tahun PDGI di Bandung pada tahun 1970. Madjalah Persatuan Dokter Gigi Indonesia di bawah pengelolaan RM Soelarko kembali terbit teratur sampai tahun 1975.13 Ter-

Koleksi Robert H. Dharma

22

Notulensi rapat rencana penerbitan Madjalah PDGI

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Koleksi Robert H. Dharma, Dentamedia, PB PDGI

Sampul Majalah/Jurnal PDGI dari masa ke masa

bitnya majalah secara teratur pada masa ini tak lepas dari sumbangsih percetakan milik sejawat Erlien di Bandung yang selain memberi harga murah juga mengizinkan cetak majalah dahulu baru membayar setelah majalah habis dijual.29 Ishak Sadrach kemudian memimpin penerbitan Majalah PDGI di Jakarta sejak tahun 1976 sampai dengan 1989.27 Ia duduk sebagai Pemimpin Redaksi, sementara anggotanya terdiri dari R. Soendoro Alwi, Joseph Sudjono, Hendro Kusnoto, Harun Honggowidjojo, dan Haryono A. Gunadi. Pada masa itu majalah terbit teratur dan diedarkan gratis ke seluruh Indonesia. Kualitas cetaknya cukup baik, dengan iklan yang berlimpah. Rubrikasi Majalah PDGI yang pada masa itu sangat memberi informasi memadai bagi para anggota PDGI, terdiri dari29 : - Editorial - Warta PB - Sabang sampai Merauke - Kedokteran Gigi Internasional - Berita Sana-Sini - Ikatan Keahlian - Ilmiah - Sudahkan Anda Tahu ? 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

- Antara Kita - Sarana Saran Tahun 1977 Majalah PDGI mendapat International Sandard Serial Number (ISSN) 0024-9548 dari Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).30 Pengurus majalah kemudian beralih kepada Moeryono Aladin sebagai Pemimpin Redaksi dengan anggota Bambang S. Trenggono, Julia Maria, Armasastra Bahar, Anton Rahardjo, Winoto Suhartono, dan Tribudi. Untuk pertama kalinya dalam kepengurusan, ada yang ditugaskan khusus sebagai Pemimpin Usaha yaitu Ismaun Notosutardjo. Didampingi bendahara Bea Awiati. Estafet pengelolaan majalah kemudian dialihkan kepada Haryanto A. Gunadi sebagai Pemimpin Umum merangkap Pemimpin Redaksi mulai tahun 1989.13 Pengurus lainnya adalah Boedi Oetomo Ruslan sebagai Redaktur Pelaksana, Wikarna Karma sebagai Sekretaris Redaksi, kemudian Staf Redaksi terdiri dari Bambang H.S., Didi Nugroho, Iwan N. Tanuwidjaja, Bulan Rachmadi, Melanie S. Erawan, dan Maya Himawati. Sementara Pemimpin Usaha dipegang oleh Rita U. Supandji. Saat Majalah PDGI dipimpin oleh Haryanto 23


inilah terjadi banyak perubahan. Diantaranya adalah perubahan nama menjadi Jurnal PDGI pada tahun 1990. Jurnal ini terbit secara berkala tiap Bulan April, Agustus, dan Desember, bertiras 4.000 eksemplar, serta banyak memuat iklan dari perusahaan terkait.27, 28 Ukuran majalahpun diubah dari 16 X 23 cm menjadi 21 X 29, ukuran standar untuk sebuah jurnal ilmiah saat itu. Mulai tahun itu sesuai dengan kebijakan pemerintah yang menghendaki agar jurnal ilmiah hanya berisi artikel ilmiah, maka Jurnal PDGI hanya menerima artikel ilmiah untuk dimuat, sementara berita organisasi diakomondasi dalam bentuk sisipan.28 Kondisi baik ini sayangnya hanya berlangsung sampai tahun 1996. Tahun 1997 pengelolaan Majalah PDGI yang telah berubah nama menjadi Jurnal PDGI beralih ke Bambang S. Trenggono sebagai Pemimpin Umum, sementara Pemimpin Redaksi dipegang oleh Boedi Oetomo Roeslan dengan anggota Gus Permana Subita, Denada Tumbelaka, Suherwin Mangundjaja,

24

Yuke Yulianingsih, dan Dewi Priandini. Sementara Sekretaris Redaksi dipegang Mita Juliawati, dengan Pemimpin Usaha Suzan Elias. Kemudian tahun 2006 terjadi perubahan pengelola Jurnal PDGI lagi, Darmawan Setijanto menjadi Pemimpin Redaksi, Wakilnya Priyawan Rachmadi, Sekretaris Ketut Suardita, Redaksi Pelasana Udijanto Tedjosasongko dan Elly Munadziroh. Mulai Jurnal Nomor 2 Volume 57, Mei 2007, pengelolanya berubah lagi. Bertindak sebagai Ketua Dewan Penyunting Elly Munadziroh, dengan anggota M. Rubianto, Ismet Danial Nasution, Burhanuddin Daeng Pasiga, Wiedowati, E.H. Sundoro, Harum Sasanti, Rosje Rosita Oewen, Adang Bachtiar, Agus Purwadianto, Eky S. Soeria Soemantri, dan Setyo Hernowo. Pada periode inilah untuk pertama kalinya Jurnal PDGI Nomor 2 Volume 58 Tahun 2009 dan selanjutnya tersedia dalam format online di aplikasi Open Journal System (OJS), sehingga dapat terikdeks dan tersitasi dalam komunitas jurnal dunia.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Bagian Kesehatan Gigi Kementerian Kesehatan

1951 P

dr. R. M. Abdoelkadir Mangkoesoebroto Kabag Kesehatan Gigi Kemenkes Pertama

Buku Acara Lustrum I PDGI

ada saat Pemerintahan Hindia Belanda bercokol di Indonesia urusan kesehatan menjadi tanggung jawab Dienst der Volksgezondheid1, namun di instansi ini tak ada unit kerja yang secara khusus mengurus kesehatan gigi. Demikian pula yang terjadi saat Indonesia dijajah Jepang. Oleh karena itu salah satu resoluties dalam Kongres PDGI I yang berlangsung di Jakarta 23-25 Desember 1950 adalah mengenai pemeliharaan kesehatan gigi untuk rakyat yang perlu diperhatikan pemerintah, untuk keperluan tersebut PDGI mengusulkan pembentukan bagian kesehatan gigi di Kementerian Kesehatan yang akan mengelola dan mengembangkan usaha-usaha kesehatan gigi rakyat.13 Usul itu ternyata disetujui pemerintah, maka dibentuklah Bagian Kesehatan Gigi Kementerian Kesehatan yang dipimpin oleh seorang stomatolog dr. R.M. Abdoelkadir Mangkoesoebroto sebagai Kepala Bagian. Sebenarnya PDGI ingin bagian itu dipimpin oleh seorang dokter gigi namun ternyata dokter gigi belum dipercaya untuk menjadi pimpinan.13 Baru setelah 15 tahun dr. R.M. Abdoelkadir Mangkoesoebroto digantikan oleh seorang dokter gigi yaitu drg. Rizali Noor. 31 Bagian Kesehatan Gigi terus berkembang menjadi Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut, kemudian mengecil lagi menjadi Sub Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Departemen Kesehatan . Sayangnya instansi yang dibentuk sebagai hasil perjuangan pada sesepuh PDGI ini hanya berumur 50 tahun.31

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

25


Setelah Megawati Sukarnoputri dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia pada tahun 2001, reorganisasi dilakukan di Departemen Kesehatan. Di dalam struktur baru Departemen Kesehatan sebagaimana diputuskan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1277/Menkes/SK/XI/2001 tanggal 27 November 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan tidak terdapat lagi Sub Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut.31 Untuk terakhir kalinya yang duduk sebagai Kepala Sub Direktorat adalah drg. Andreas Adyatmaka, MSc.

Program kerja Sub Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut, saat masih berdiri 26

Koleksi Scribd

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Pengesahan PDGI

1952 Anggaran Dasar dan Rumah Tangga PDGI yang pertama

Koleksi Robert H. Dharma

S

oeria Soemantri pengagas PDGI selain terampil sebagai dokter gigi ternyata tahu benar cara berorganisasi, beliau paham bahwa agar PDGI disyahkan dan diakui pemerintah harus memiliki akta notaris terlebih dahulu. Namun mencari notaris di tahun 50-an bukanlah pekerjaan mudah, orang dengan profesi itu masih menjadi mahluk langka karena hengkangnya para notaris Belanda dan asing lainnya saat pengakuan kedaulatan di tahun 1949. Se-Pulau Jawa hanya ada empat notaris pribumi yaitu Raden Soewandi, Raden Wiranto, Raden Kadiman dan Raden Soedja.32 Pilihan akhirnya jatuh pada Notaris Mr. Rd. Soedja yang membuka kantor di Bandung. Berbekal akta notaris dari Mr. Rd. Soedja yang berisi Anggaran Dasar PDGI, pada tanggal 14 Januari 1952 Soeria Soemantri mengajukan pengesahan pada Menteri Kehakiman Republik Indonesia yang saat itu dijabat oleh Mr. Mohammad Nasrun. Satu bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 11 Februari 1952 keluarlah Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor J.A. 5/21/11 yang isinya mengesahkan Anggaran Dasar “Perkumpulan Persatuan Dokter Gigi Indonesia� berkedudukan di Bandung, dan oleh karena itu mengakui perkumpulan tersebut sebagai badan hukum. Keputusan ini kemudian dimuat pada Tambahan Berita Negara RI Tanggal 1 / 4 – 1952 Nr. 25. Naskah pertama Anggaran Dasar PDGI, yang ternyata kemudian dicetak dan

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

27


Koleksi Robert H. Dharma

28

djilid rapih ini ditemukan diantara tumpukan berkas milik drg. Oei Hong Kian di bekas rumah dan tempat prakteknya Jl. Serang 12 Jakarta. Dokter gigi Oei yang dikemudian hari terkenal karena menulis buku biogra berjudul “Oei Hong Kian Dokter Gigi Soekarno” saat tergesa pindah ke Belanda rupanya tidak membawa berkas PDGI yang banyak disimpannya. Ada beberapa hal menarik dari Anggaran Dasar versi pertama tersebut. Nama resmi PDGI sejak awal ternyata memang diawali dengan kata “perkumpulan”, agaknya hal ini dalam rangka menyesuaikan dengan Staatsblad Nomor 64 Tahun 1870 tentang Perkumpulan-Perkumpulan Berbadan Hukum yang bahkan sampai saat ini masih berlaku. Kemudian tempat kedudukan PDGI ternyata ditetapkan di Bandung bukan di Jakarta, sementara tujuan didirikannya PDGI cukup unik bila dilihat dari cara berbahasa sekarang yaitu “perkumpulan ini bertjita-tjita memadjukan ilmu ketabiban gigi di Indonesia, di dalam arti kata jang seluas-luasnja, serta menjumbangkan keachlianja untuk kesehatan rakjat di Indonesia”.33 Kemudian yang cukup mengejutkan, dalam Akta Notaris Mr.Rd. Soedja, Pasal 24 Anggaran Dasar ternayta menyebutkan PDGI didirikan hanya untuk masa 29 tahun terhitung sejak 21 Januari 1950, “sebelum waktu itu berachir harus sudah ditentukan tentang diteruskan tidaknja perkumpulan ini pada rapat umum tahunan jang diadakan sebelum achir waktu ini”. Apakah amanat ini pada tahun 1979 dilakukan? Tidak ada catatan maupun keterangan tentang hal itu, tapi faktanya sampai hari ini PDGI masih berdiri. 33

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Codex Ethik

1953

Bukalapak

W

alaupun baru seumur jagung tapi urusan etik sudah menjadi perhatian PDGI, tak lain dan tak bukan karena dokter gigi yang dianggap tidak sesuai etik sudah menjadi cerita dari sejak Indonesia belum merdeka, bahkan masalah etik yang muncul saat ini sebagian besar telah terjadi pula di masa lalu. Memasang iklan misalnya, yang saat ini marak dan tak terbendung PDGI terutama di media sosial ternyata telah menjadi masalah di tahun 1939. Akibat para Indische Tandarts yang sebenarnya diharapkan praktek di daerah tapi ternyata malah praktek di kota besar, maka persainganpun terjadi karena jumlah pasien yang mampu membayar tidaklah bertambah, padahal jumlah dokter gigi terus meningkat. Maka mulai munculah reklame praktek dokter gigi dan diskon tarif yang semua dianggap melanggar codex ethik saat itu.4 Di tahun yang sama ada kasus seorang dokter gigi Belanda yang menambahkan predikat ahli prostetik pada papan namanya namun masih menerima pasien umum, padahal berdasarkan codex ethik saat itu bila sudah menamakan diri ahli tertentu maka hanya boleh praktek sesuai bidang keahliannya.4 Saat PDGI baru berdiri masalah etik kembali muncul. Rapat Pengurus Besar PDGI tanggal 3-4 Agustus 1951 membahas kasus “Castelly� yang cukup menghebohkan karena banyak melibatkan para dokter gigi senior, akhirnya diputuskan untuk membentuk Commissie van Onderzoek untuk menyelesaikannya.34 Castelly adalah

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

29


seorang tekniker gigi asal Italia yang telah bekerja sejak zaman Belanda, bila malam kadang dia berprofesi sebagai pemusik. Pangkal masalahnya adalah beberapa dokter gigi senior mengizinkan yang bersangkutan mengerjakan pekerjaan di mulut pasien, dan puncaknya adalah ketika yang bersangkutan secara istimewa bisa diterima kuliah di Lembaga Kedokteran Gigi Surabaya langsung di Tingkat III.35 Codex Ethik PDGI akhirnya selesai di tahun 1953, padalah IDI saja baru membuatnya di tahun 1959. Untuk mengetahui tujuan pembuatan kode etik ini, berikut kutipan dari Pendahuluannya:36 Didalam mendjalankan praktek kedokteran gigi, dokter gigi itu sering kali menghadapi rupa-rupa pertanjaan, bagaimanakah ia harus bertindak terhadap sisakit, terhadap teman sedjawat, dan terhadap masyarakat. Undang-undang kedokteran gigi kadang-kadang tidak (kurang) tjukup memberikan djaminan untuk memdjawab pertanjaan-pertanjaan tersebut diatas. 30

Mengigat bahwa pekerjaan kedokteran gigi itu bukan hanja semata-mata suatu djalan untuk mentjari naah hidup sadja, akan tetapi teristimewa seharusnja didukung oleh suatu kepertjajaan dari semua orang jang minta pengobatan, ja’ni kepertjajaan kepada ketulusannja, kepada kesetiannja, dan kepada keachliannja. Kejakinan tentang hal ini dengan sendirinja memberi kewadjiban kepada pada dokter gigi untuk mendjalankan pekerdjaannja dengan tjara jang dihormati oleh umum. Kehormatan keduduan kedokteran gigi itu hanja dapat didjamin oleh kelakuan-kelakuan dan tindakan-tindakan jang baik dan sopan dari dokter gigi masing-masing. Djadi masing-masing dokter gigi memikul pertanggung djawab untuk menghormati kedudukan kedokteran gigi umumnja. Oleh karena itu maka terasa betul keperluanja untuk menjimpulkan dan merumuskan beberapa kebiasaan dalam mendjalakan praktek kedokteran gigi, jang dipandang oleh kita sebagai kebiasaan-kebiasaan 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


jang baik dan sopan. Kode etik dokter gigi selalu diperbaharui, bahkan pernah menjadi salah kaprah ketika oleh pemerintah dijadikan produk hukum yaitu Kepmenkes No 80/ DPK/I/K/69 tertanggal 23 Oktober 1969. Untuk lebih memantapkan pemahaman kode etik dalam Simposium Kode Etik Kedokteran Gigi yang diselenggarakan di Semarang tanggal 2-3 Desember 1978 memutuskan untuk meminta fakultas kedokteran gigi di seluruh Indonesia menjadikan etik kedokteran gigi sebagai salah satu mata kuliah yang diajarkan.37

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

Berbagai perubahan kerap dilakukan pada Kode Etik Kedokteran Gigi, biasanya saat kongres nasional berlangsung. Perubahan cukup besar dilakukan pada saat Kongres XVIII PDGI yang diselenggarakan di Semarang tanggal 22-24 Oktober 1992. Lafal sumpah/janji dokter gigi dijadikan bagian dari kode etik dan dinyatakan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan, di bagian akhir sumpah/janji termuat kalimat “saya akan mentaati Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia�. 37

31


Pendirian IPPROSI di Batu

1975

32

K

awasan kota Malang di Jawa Timur, tepatnya di kota Lawang, menjadi saksi bisu sejarah lahirnya Ikatan Prostodonsia Indonesia (IPROSI). Di kota yang terletak di lereng pegunungan, memiliki udara sejuk dan banyak terdapat kebun apel itu, untuk pertama kalinya diselenggarakan rapat pengampu bidang ilmu protodonsi dari beberapa perguruan tinggi : FKG Universitas Airlangga Surabaya, FKG Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, FKG Universitas Padjadjaran Bandung, FKG Universitas Indonesia, FKG UPDM (Beragama) dan FKG Trisakti Jakarta. Pertemuan yang diprakarsai oleh beberapa dosen Bagian Prostodonsi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, September 1975, mendiskusikan pentingnya dibentuk satu wadah khusus untuk bidang prostodonssi. Awalnya memang sebatas untuk menjadi wadah bagi para dosen pengampu prostodonsi di beberapa perguruan tinggi tersebut. Namun dalam rapat di kota Lawang, akhirnya disepakati secara bulat memperluas tujuan dibentuknya IPROSI. Yakni untuk menampung para dokter gigi, bukan hanya dosen, yang berminat mengembangkan pendidikan, pelayanan maupun pengembangan ilmu prostodonsi di Indonesia Soal pemilihan nama organisasi, tidak semudah yang dibayangkan. Barbagai usulan nama dikemukakan dan didiskusikan panjang. Untuk pertama kalinya, disepakati nama IPPROSI. Singkatan dari Ikatan Peminat Prostodonsi Indonesia. Dengan mencantumkan kata peminat, maka wadah IPPROSI diharapkan lebih longgar untuk menampung para peminat dan bukan hanya para dokter spesialis prostodonsi sebagaimana sekarang setelah namanya berganti menjadi IPROSI (Ikatan Prostodonsia Indonesia). Saat itu IPPROSI merupakan ikatan keahlian yang kedua, setelah ikatan keahlian bedah mulut PABMI. Pada awalnya IPPROSI baru 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


mempunyai 3 (tiga) cabang yaitu IPPROSI cabang Jakarta, cabang Bandung dan cabang Jogyakarta. Kemudian dalam perjalanan perkembangannya IPPROSI cabang bertambah menjadi 6 (enam) cabang yaitu Cabang Jakarta, Cabang Bandung, Cabang Yogyakarta, Cabang Surabaya, Cabang Medan dan Cabang Makassar.Pada Kongres di Yogyakarta tahun 1987, telah disepakati untuk mengganti nama IPPROSI menjadi IPROSI (Ikatan Prostodonsia Indonesia). Saat itu IPPROSI merupakan ikatan keahlian yang kedua, setelah ikatan keahlian bedah mulut PABMI. Pada awalnya IPPROSI baru mempunyai 3 (tiga) cabang yaitu IPPROSI cabang Jakarta, cabang Bandung dan cabang Jogyakarta. Kemudian dalam perjalanan perkembangannya IPPROSI cabang bertambah menjadi 6 (enam) cabang yaitu Cabang Jakarta, Cabang Bandung, Cabang Yogyakarta, Cabang Surabaya, Cabang Medan dan Cabang Makassar. Pada Kongres di Yogyakarta tahun 1987, telah disepakati untuk mengganti nama IPPROSI menjadi IPROSI (Ikatan Prostodonsia Indonesia). Hal ini tentunya disesuaikan dengan sistem spesialisasi yang berlaku di Indonesia sebagaimana sekarang ada 7 cabang spesialisasi di bidang Kedokteran Gigi di Indonesia yang salah satunya adalah Spesialisasi Prostodonsia yang saat itu 4 (empat) Fakultas Kedokteran Gigi yaitu Universitas Airlangga, Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia dan Universitas Pajajaran sudah melaksanakan Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis bidang Prostodonsia dan telah menghasilkan para dokter gigi spesialis prostodonsia sehingga tidak ada lagi kepeminatan. Dengan terbentuknya IPPROSI maka menjadi tuntutan untuk memenuhi kebutuhan tenaga spesialis prostodonsia di Indonesia sesuai dengan sistem spesialisasi dokter gigi di Indonesia, maka pada tahun 1984 Suasana Rapat IPROSI 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

33


diadakan pendidikan spesialisasi prostodonsia pertama kali oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dan selanjutnya diikuti oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gajah Mada, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Pajajaran, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanudin dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Seiring dengan tuntutan perkembangan bidang kedokteran gigi, setiap ikatan keahlian harus mempunyai Kolegium dan pada tahun 2002 ditetapkanlah Kolegium Prostodonsia yang bertugas sebagai pengampu keilmuan dan ikut berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan bersama Institusi Pendidikan. Bahkan dalam perkembangannya Kolegium mempunyai peran sebagai penghubung antara Ikatan Keahlian dan KKI (Konsil Kedokteran Indonesia). Sebagai pengampu keilmuan, Kolegium juga mempunyai tugas memonitor dan mengevaluasi kompetensi para dokter gigi spesialis prostodonsia (anggota IPROSI). Dengan semakin bertambahnya lulusan Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia, maka pada tanggal 23 September 2011 telah dikukuhkan dan ditetapkan pelantikan Pengurus IPROSI Cabang Solo, sehingga sampai dengan saat ini ada 7 (tujuh) IPROSI Cabang di Indonesia yaitu : 1. IPROSI Cabang Medan 2. IPROSI Cabang Jakarta 3. IPROSI Cabang Bandung 4. IPROSI Cabang Jogyakarta 5. IPROSI Cabang Surabaya

34

6. IPROSI Cabang Makasar 7. IPROSI Cabang Solo Semua IPROSI Cabang tetap berada dibawah koordinasi Pengurus Pusat IPROSI (PP IPROSI) dan Program Kerja serta kegiatan semua IPROSI Cabang mengacu kepada Program Kerja PP IPROSI sebagaimana diatur di dalam AD/ART IPROSI.

Pengurus IPROSI masa lalu 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Ketua Pengurus Pusat IPROSI Prof. R. Hartono, drg, Sp.Pros (K) Periode Kepengurusan dari tahun 1975 sampai dengan tahun 1988

Prof. Daruwati Mardjono, drg, MSD, Sp.Pros (K) Periode Kepengurusan dari tahun 1988 sampai dengan tahun 1992

Prof. R. Iskandar, drg, Sp.Pros (K) Periode Kepengurusan dari tahun 1992 sampai dengan tahun 1999

Dr. drg. Muslich, Sp.Pros (K)

Periode Kepengurusan dari tahun 1988 sampai dengan tahun 1992

Drg. Bambang Kusnandir, Sp.Pros Periode Kepengurusan dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 kemudian terpilih kembali untuk periode kepengurusan dari tahun 2007 sampai dengan 2011.

Drg. Doddy S Soemawinata, Sp.Pros

Periode Kepengurusan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 kemudian terpilih kembali untuk periode kepengurusan tahun 2015 sampai dengan tahun 2019.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

35


IPPEDI Cikal Bakal IDGAI

1979

36

I

katan Dokter Gigi Anak Indonesia (IDGAI) atau Indonesian Pediatric Dentist Association (IPDA) adalah ikatan keahlian yang mewadahi seluruh dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak di Indonesia yang bernaung di bawah Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI). Anggota IDGAI meliputi seluruh dokter gigi yang telah mendapat ijazah dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak yang dan mendapatkan pengakuan kompetensi dari Kolegium Ilmu Kedokteran Gigi Anak Indonesia. Ikatan Keahlian ini didirikan 26 September 1979 dengan nama Ikatan Peminat Pedodonsia Indonesia (IPPEDI). Pada 25 Februari 1986 diadakan musyawarah nasional IPPEDI pertama di Jakarta, dan berubah nama menjadi Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (IDGAI). Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (IDGAI) memiliki visi untuk mewujudkan kehidupan anak Indonesia yang berkualitas melalui peningkatan kesehatan dento-oro-kraniofasial pada semua anak dan individu berkebutuhan khusus. Adapun misi IDGAI adalah meningkatkan kualitas pelayanan Spesialistik Kedokteran Gigi Anak melalui penggunaan hasil riset dan teknologi terkini untuk hasil perawatan yang paripurna, dan membantu pemerintah dalam pengentasan masalah sosial yang berhubungan dengan bidang kesehatan dento-oro-kraniofasial pada semua anak dan individu berkebutuhan khusus. Lambang IDGAI berbentuk tulisan dan gambar berwarna ungu dengan dasar lambang berwarna putih berbentuk sebuah gigi molar yang memiliki wajah sepasang anak yang tersenyum. Di bagian dasar terdapat tulisan IDGAI dengan huruf kecil. Dua lingkaran kecil di tengah bila dilihat tersendiri adalah kepala sepasang anak dis70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Pengukuhan Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak, pertama kali diadakan di Jakarta 23 Januari 1990 ertai badannya yang seolah sedang bergandengan sambil mengangkat kedua tangannya. Posisi kedua anak itu membentuk formasi seperti segitiga dengan puncak segitiga berada di atas. Lambang tersebut memiliki makna warna ungu menunjukkan warna profesi kedokteran gigi yang secara universal diberi warna tersebut. Wajah tersenyum yang terpancar dari gambar serta bergandengannya sepasang anak mengangkat tangan menunjukkan harapan kesehatan rongga mulut anak Indonesia yang memberi keceriaan, buah dari tercapainya kesehatan pada umumnya dan kesehatan rongga mulut khususnya. Tulisan IDGAI dalam huruf kecil serta formasi segitiga merupakan identitas Spesialis Kedokteran Gigi Anak yang mengandung misi meningkatkan kualitas anak Indonesia dengan profesionalismenya yang memperhatikan dasar perawatan, berupa segitiga perawatan gigi anak yang menjalin kerjasama antara Spesialis Ke70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

dokteran Gigi Anak, orang tua/keluarga serta anak sebagai fokus yang ditempatkan di puncak segitiga tersebut. Saat ini kedokteran gigi anak telah berkembang pesat seiring dengan berbagai penelitian di bidang yang terbagi menjadi 3 fragmentasi keilmuan, yaitu : (1) Tumbuh kembang kraniofacial anak; (2) Jaringan keras dan jaringan lunak gigi anak; serta (3) Individu berkebutuhan khusus. IDGAI melalui Kolegium Kedokteran Gigi Anak yang merupakan badan pengampu ilmu kedokteran gigi anak di Indonesia bertanggungjawab antara lain menangani kurikulum pendidikan dokter gigi spesialis, menetapkan standar kompetensi dan kewenangan klinis dokter gigi spesialis. IDGAI bersama PDGI turut mendukung program pemerintah mewujudkan Indonesia bebas karies gigi 2030, antara lain dengan mengadakan program pencegahan karies gigi secara massal dan berkesinambungan. 37


Pengurus IDGAI bersama Ketua PB PDGI Susunan Pengurus pertama di tahun 1986, terdiri dari : Ketua Prof. Dr. Ismu Suharsono Suwelo, drg, SpKGA(K); Wakil Ketua I Prof. Dr. Retno Hayati Sugiarto, drg., SpKGA(K); Wakil Ketua II drg. Hendrarlin Soenawan, SpKGA(K); Sekretaris Prof. Dr. Margaretha Suharsini, drg., SpKGA(K); Wakil Sekretaris drg. R. Soebroto Djoko Poernomo, SpKGA; Bendahara drg Nancy Chitrayana, SpKGA; Wakil Bendahara drg. Lianne Andayani, SpKGA. Adapun badan keahlian saat itu diketuai oleh Prof. Sutatmi Suryo drg SpKGA; Drg Sri Harini Soemartono SpKGA sebagai sekretaris merangkap anggota; dan Prof. Dr. I Gusti Ngurah Rai drg SpKGA(K) sebagai anggota.

38

Musyawarah Besar IDGAI diadakan di Jakarta 25 Mei 1989. Setelah periode kepengurusan pertama, diikuti oleh kepengurusan selanjutnya yang diketuai oleh Prof. Heriandi Sutadi, drg, PhD, SpKGA(K), dilanjutnya Prof. Seno Pradopo, drg, SU, PhD, SpKGA(K), dan drg. Syarief Hidajat, SpKGA(K). Di tahun 2016-2021, Udijanto Tedjosasongko., drg., Ph.D., Sp.KGA (K) menjadi ketua Pengurus Pusat IDGAI dengan 7 (tujuh) pengurus daerah (pengda) yaitu Pengda DKI Jakarta, Pengda Jawa Barat, Pengda Jawa Tengah & Yogyakarta, Pengda Jawa Timur, Pengda Bali, Pengda Sulawesi Selatan dan Pengda Sumatera Utara dengan jumlah total anggota nasional hingga saat ini sebesar 567 orang.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


1979 IPPERI Berdiri

1979

P

endidikan ilmu kedokteran gigi di Indonesia dimulai sejak tahun 1928. Lembaga pendidikan kedokteran gigi yang ada adalah STOVIT (School tot Opleiding voor indische Tandarts). Kurikulum STOVIT baru meliputi eksodonsia, orthodonsia, prostodonsia dan konservasi gigi. Karena perkembangan ilmu bidang eksodonsia, namanya diubah menjadi bidang bedah mulut dimana periodontologi masuk di dalamnya. Pencetus gagasan pengembangan periodontologi adalah Prof. drg. Soedarmadi seorang ahli bedah mulut dari Universitas Airlangga. Pada awal tahun 1960 beliau kembali dari Amerika Serikat setelah mendalami bidang bedah mulut, akan tetapi beliau sangat terkesan mengenai bidang periodontologi di Amerika Serikat karena ada tindakan bedah mulut dengan tujuan perawatan untuk penyakit periodontal. Dalam kuliah-kuliah yang diberikannya, beliau mulai memperkenalkan periodontologi. Pada tahun 1962 drg. Soedarmadi merelakan dua staf perempuannya --drg. S.W. Prayitno dan drg. Sintadewi Tjandra-- mulai mendalami periodontologi dan diminta mendirikan bagian periodontologi terpisah dari bidang bedah mulut. Lokasinya di RS Dr. Soetomo, Surabaya, berdekatan dengan bedah mulut karena beberapa stafnya masih merangkap jabatan. Pada tahun 1965 Prof. S.W. Prayitno, drg, Sp.Perio,(K) pindah ke FKG Universitas Indonesia, dan bersama Prof. Prijantojo, drg, Sp. Perio(K) mengembangkan bidang periodontologi. Bagian periodontologi FKG Universitas Airlangga dipercayakan kepada drg. Sintadewi, drg. Chandri dan drg. Budihardjo. Seiring perkembangan periodontologi yang terjadi , seorang ahli prostodonsia di FKG Universitas Padjajaran yang baru saja kembali dari Amerika, yaitu Prof. Dr.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

39


R.M Soelarko merasa periodontologi perlu dikembangkan karena banyak berhubungan dengan prostodonsia. Beliau mengirim stafnya yaitu Prof. Dr. Soertini Lambri, drg, MS untuk belajar periodontologi selama tiga tahun di Amerika Serikat. Sementara di FKG Universitas Gajah Mada peran drg. Sutomo Nawawi, Sp. Perio (K) sangat besar dalam mengembangkan bidang periodontologi sepulang menempuh pendidikan lanjutan di Australia. Di luar universitas, Lembaga Kedokteran Gigi TNI AL juga mengirimkan beberapa dokter gigi ke luar negeri untuk mengembangkan periodontologi, antara lain drg. Soesiyanto, drg. Wasito, drg. Achiyat, dll. Pada tahun 1979 dibentuk IPPERI (Ikatan Peminat 40

Periodontologi Indonesia) telah dikukuhkan menjadi Dokter Gigi Spesialis Periodontologi. Sejalan perkembangan IPPERI yang anggotanya sudah banyak menyandang predikat spesialis, nama organisasi IPPERI diubah menjadi IPERI (Ikatan Periodontologi Indonesia). Anggota IPERI telah banyak ikut berpartisipasi ilmiah ke luar negeri, diantaranya adalah Prof. S.W Prayitno, drg, Sp.Perio; Prof. Prijantojo, drg,Sp.Perio, dan drg. Irene Sukardi Sp. Perio (K) yang berpartisipasi dalam kegiatan ilmiah BSP (British Society of Periodontology) dan telah tercatat sebagai anggota. Pada tahun 1993 lingkup Asia Pasi c Region menetapkan pendirian Asian Paci c Society of Periodontology (APSP), dimana 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Prof. Dr. S.W Prayitno, drg, Sp.Perio ditunjuk sebagai Councillors mewakili Indonesia. Dr. drg. Yuniarti Soeroso, Sp. Perio (K) juga ditunjuk menjadi Councillors APSP 2005 dan mendapat tugas untuk presentasi di Euro Perio Congress 2006. Saat ini perkembangan periodontologi menjadi begitu luas, seiring dengan berbagai macam penelitian di bidang periodontal yang terbukti sifatnya sangat luas mulai dari mikrobiologi, imunologi sampai biomolekuler. Periodontologi juga dirasakan penting khususnya di bidang prostodonsia, orthodonsia dan konservasi, demikian juga dental implant. Bidang ini sangat luas dan rumit sehingga diperlukan pendalaman guna penegakan diagnosis dan terapi dibidang periodontologi. Melalui kolegium periodonsia, ditetapkan fragmentasi di bidang periodontologi, meliputi: Periodontal Medicine, Bedah Periodontal Rekonstruksi, dan Dental Implant.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

Perkembangan IPERI berjalan sangat pesat, saat ini Hari Sunarto, drg., Sp.Perio(K) sebagai ketua IPERI mengayomi 7 Komisariat Daerah (Komda) dengan 390 anggota yang tersebar di Indonesia. KomdaKomda tersebut terdiri dari : Komda Surabaya Dr. Sha raKurnia.S.,drg.,SpPero(K) 104 anggota Komda Yogyakarta Dr. Dahlia Herawati,drg,SU,Sp.Perio (K) 39 anggota Komda Jakarta drg Maya Lawerisa,Sp.Perio(K) 134 anggota Komda Bandung Dr.Ira Komara ,Sp.Perio (K) 38 anggota Komda Medan drg.Aini Hariyani Nasution ,Sp.Perio(K) 35 anggota Komda Makassar Prof.Dr. Hasanudin,drg.Sp.Perio(K) 31 anggota Komda Bali drg.Agus Gede Sutamaya ,Sp.Perio 13 anggota

41


1981 I

21 Februari 1981 wadah organisasi Ikatan Peminat Oral Medicine Indonesia (IPOMI) terbentuk dan disahkan dalam kongres pertama, tahun 1982 di Jakarta

lmu Penyakit Mulut merupakan salah satu cabang ilmu di bidang kedokteran gigi yang mempelajari kelainan dalam rongga mulut, terutama jaringan lunak yang disebabkan oleh faktor lokal maupun sistemik dan tatalaksananya. Di Indonesia percabangan ilmu ini baru mulai dirintis sejak tahun 1980-an, berawal dari sekumpulan dokter gigi yang mempunyai minat sama mengenai pengembangan ilmu penyakit mulut di Indonesia. Kumpulan beberapa orang ini selanjutnya membentuk wadah organisasi Ikatan Peminat Oral Medicine Indonesia (IPOMI) pada tanggal 21 Februari 1981 dan disahkan dalam kongres pertama, tahun 1982 di Jakarta. Perkembangan lebih lanjut, Ikatan Peminat Oral Medicine Indonesia (IPOMI) mensosialisasikan diri menjadi Ikatan Oral Medicine Indonesia (IKOMI) pada Kongres ke-2 tahun 1983. Kemudian sebutan Oral Medicine disesuaikan menjadi Penyakit Mulut, dan pada Kongres V-1997 Ikatan Oral Medicine Indonesia (IKOMI) diubah dan disahkan sebagai Ikatan Penyakit Mulut Indonesia (IPMI). Untuk memudahkan komunikasi dan administrasi anggota di seluruh Indonesia, maka selain Pengurus Pusat, kepengurusan IPMI dibagi ke dalam 3 wilayah yaitu; Pengurus Wilayah 1 meliputi Jabodetabek dan Sumatera Wilayah II meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kalimantan; Wilayah III meliputi Jawa Timur, Sulawesi, Bali, NTT, NTB, Maluku dan Papua. Selanjutnya melalui tahapan prosedur yang ditentukan dan memperhatikan pendapat dari Pengurus Pusat serta

42

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Rapat Kerja Ikatan Penyakit Mulut Indonesia (IPMI) di Aula Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta. 1 Maret 2014

Pengurus Cabang, perubahan AD/ART IPMI yang merupakan amanat Kongres V IPMI tanggal 24 Oktober 1997, maka untuk pertama kali disahkan Anggaran Dasar Ikatan Penyakit Mulut Indonesia dalam Kongres VI yang diadakan tanggal 24 November 2000 di Jakarta. Pada Kongres XI IPMI tanggal 24 September 2017 di Surabaya, disepakati bersama nama organisasi diubah menjadi Ikatan Spesialis Penyakit Mulut Indonesia (ISPMI). Ketua terpilih saat itu adalah Prof. drg. Rahmi Amtha, MDS, Sp.PM, Ph.D untuk masa bakti 2017-2020 dan Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Mulut terpilih adalah Prof. Dr. drg. Diah Savitri Ernawati, MSi, Sp. PM(K). ISPMI memiliki beberapa tujuan, yaitu menyumbangkan dharma baktinya dengan meningkatkan derajat kesehatan mulut dan kesehatan umum dalam rangka menunjang kesejahteraan rakyat Indonesia, memajukan ilmu kedokteran gigi dalam arti yang seluas-luasnya, serta meningkatkan kesejahteraan anggota.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

43


Visi ISPMI

menjadi organisasi profesi di bidang Ilmu Penyakit Mulut yang terpandang dan berwawasan global yang mengayomi seluruh anggota organisasi profesi, berorientasi kepada peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara profesional berlandaskan Pancasila.

Misi ISPMI • • • • • • • • • • •

44

Membangun dan meningkatkan mekanisme konsolidasi, koordinasi pusat sampai dengan cabang. Menetapkan standar profesi (standar etika, pendidikan, pelayanan dan kompetensi) di bidang spesialisasi Penyakit Mulut. Meningkatkan sistem dan pelaksanaan pendidikan profesi spesialis penyakit mulut berkelanjutan. Mensosialiasikan Ilmu Penyakit Mulut kepada masyarakat sebagai bagian integral dari kesehatan umum. Menjalin kerjasama keilmuan secara profesional dalam skala nasional dan internasional. Mengayomi dan membina anggota organisasi di bidang keprofesian.

Pemberian gelar Konsultan (K) pada tanggal 29 Juni 2019 telah dilakukan di Surabaya untuk 18 orang anggota ISPMI dengan harapan dapat menjadi penggerak pertama pembentukan pendidikan jenjang Spesialis 2 sesuai rekomendasi Konsil Kedokteran Indonesia dan sesuai dengan jenjang pendidikan KKNI yang telah diatur dalam Undang-Undang. Adapun fragmentasi Sub-Spesialis Ilmu Penyakit Mulut dibagi menjadi Penyakit Infeksi Oral dan Penyakit Oral Non Infeksi. ISPMI berkembang cukup pesat dari tahun ke tahun. Saat ini Spesialis Penyakit Mulut telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai salah satu spesialis yang harus dimiliki oleh setiap Rumah Sakit tipe A. Hal ini berdampak pada kemajuan jumlah anggota ISPMI yang saat ini berjumlah ± 158 orang anggota terdiri dari 141 dokter gigi Spesialis Penyakit Mulut dan 17 orang dokter gigi anggota peminatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Berbagai peningkatan kompetensi IPM dilakukan dengan aktif oleh para anggota dengan mengikuti kegiatan ilmiah berkelanjutan, guna terus menyamakan kompetensi tiap anggota di seluruh Indonesia.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Ketua Ikatan Penyakit Mulut Indonesia drg. eresia Agus Tarmidi drg. Harum Sasanti drg. F.X. Srie Rahayu Kustini

(1982 – 1983) (1983 – 1986) (1990 – 1993) (1986 – 1989) drg. Satria Boedi, Sp.PM (alm) (1997 – 2000) drg. Gus Permana Subita, Sp.PM(K), Ph.D (2006 – 2009) Prof. Dr. drg. Hadi Soenartyo, MSc, Sp. PM (2009 – 2011) (2011 – 2014) Prof. Dr. drg. Diah Savitri Ernawati, MSi, Sp. PM(K) (2014 – 2017) Dalam periode yang sama dengan Prof Diah Savitri, Ketua Kolegium IPMI dijabat oleh Dr. Drg. Harum Sasanti, Sp.PM(K) 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

45


1997 P

Terbentuk Ikatan Radiologi Kedokteran Gigi Indonesia (IKARGI), dengan ketua pertama Prof.Dr. drg. Hanna B. Iskandar Sp.RKG(K)

ada tahun 1993, Prof.Dr. drg. Hanna B. Iskandar Sp.RKG (K) yang pada saat itu belum bergelar doktor, mendapat kesempatan belajar ilmu radiologi kedokteran gigi ke Jepang. Terkejut dan minder, itulah yang dirasakan saat melihat perbedaan ilmu radiologi kedokteran gigi yang begitu maju di negeri Sakura dibandingkan dengan di Indonesia. Masih membekas dalam ingatan ingatan Prof Hanna, ketika disampaikan pidato ilmiah dalam Upacara Dies Natalis Universitas Indonesia ke 44, tidak disinggung perkembangan radiologi kedokteran gigi secara umum, apalagi di Indonesia. Hal yang sama juga mulai dirasakan oleh beberapa pengampu mata kuliah radiologi kedokteran gigi di beberapa universitas. Saat itu radiologi kedokteran gigi masih bergabung ke bagian atau departemen lain, seperti Oral Diagnostik, Oral Medicine atau Bedah Mulut. Keprihatinan dan keinginan untuk memajukan ilmu RKG mendorong mulainya penjajakan dan pertemuan pertemuan pengampu mata kuliah antar universitas. Barulah pada KPPIKG (Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Gigi) FKG Universitas Indonesia tahun 1994, untuk pertama kalinya, staf pengajar radiologi dari semua Fakultas Kedokteran Gigi di Indonesia mengadakan pertemuan dalam rangka merintis pembentukan ikatan profesi. Dorongan untuk membentuk ikatan profesi ini sejalan dengan pengembangan bidang Radiologi Kedokteran Gigi dalam rancangan kurikulum tahun 1994.

46

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Pertemuan makin diintensiî‚›an, di kampus UI Jakarta, Unpad Bandung, Trisakti Jakarta untuk menyepakati dibentuknya Ikatan Peminatan serta langkah-langkah kongkrit yang diperlukan. Akhirnya pada tahun 1997 dengan dukungan berbagai pihak, terbentuklah Ikatan Radiologi Kedokteran Gigi Indonesia (IKARGI), dengan ketua pertama Prof. Dr. drg. Hanna B. Iskandar Sp.RKG(K) yang selanjutnya dijabat oleh Prof. Dr. drg. Suhardjo S., MS., Sp.RKG (K), Prof Dr. drg. Munakhir M., SU., Sp.RKG (K) dan saat ini oleh Dr. drg Haris N, M.Kes., Sp.RKG (K). Sekitar tahun 2000 terbentuklah Kolegium Radiologi Kedokteran Gigi, sebagai Ketua Kolegium Radiologi Kedokteran Gigi pertama kali dijabat oleh Prof. Dr. drg. Suhardjo S., MS., Sp.RKG (K), selanjutnya dijabat oleh Prof. Dr. drg. Munakhir M., SU., Sp.RKG (K), dan saat ini oleh Prof.Dr. drg. Hanna B. Iskandar Sp.RKG (K) Melalui perjuangan dan penantian yang panjang, akhirnya IKARGI mendapat pengesahan dari Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) pada September 2002. Komunikasi secara intens terus dilakukan dengan PB PDGI serta Majelis Kolegium Kedokteran Gigi. Dua tahun kemudian, yaitu pada tanggal 28 September 2004 di Hotel Inna Garuda Yogyakarta, Majelis Kolegium Kedokteran Gigi Indonesia mengukuhkan 18 orang staf pengajar Radiologi Kedokteran Gigi yang dianggap mewakili seluruh Fakultas Kedokteran Gigi di Indonesia, sebagai Spesialis Radiologi Kedokteran Gigi (Sp. drg. Gunawan Margono RKG). 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

Spesialis Radiologi Kedokteran Gigi Pertama yang Dikukuhkan MKKGI Prof. Dr. drg. Munakhir Mudjosemedi, S.U. (Universitas Gajah Mada) Prof. Dr. drg. H. Suhardjo, MS. (Universitas Padjadjaran) Prof. Dr. drg. Hanna B. Iskandar (Universitas Indonesia) Dr. Drg. Menik Priaminiarti (Universitas Indonesia) Drg. Achmad Alhamid (Universitas Indonesia) Drg. Heru Suryonegoro (Universitas Indonesia) Dr. Eha Renwi Astuti, drg.M.Kes. (Univeristas Airlangga) R.P.Bambang Noerjanto drg., MS. (Universitas Airlangga) Drg. Kiemas A. Dong (Universitas Airlangga) Drg. Hutoyo (Universitas Airlangga) drg. Ria N. Firman, M.HKes. (Universitas Padjadjaran) Dr. drg. H. Azhari., MS, (Universitas Padjadjaran) Dr. Trelia Boel, drg., M.Kes. (Universitas Sumatera Utara) drg. Asfan Bahri (Universitas Sumatera Utara) Dr. drg. Haris Nasutianto, M.Kes., M.Biomed. (Universitas Mahasaraswati) Prof. Dr. Barunawati Yunus, drg.,M.Kes. (Universitas Hasanuddin) drg. Diah Indriastuti (Universitas Prof. Dr. Moestopo) drg. Gunawan Margono (Universitas Trisakti)

47


Saat ini beberapa anggota IKARGI telah mendapat kepercayaan menduduki kepengurusan organisasi internasional, di antaranya adalah Dr. drg. Menik Priaminiarti, Sp.RKG sebagai direktur IADMFR (î‚ťe International Association of Dento Maxillo Facial Radiology) untuk wilayah Asia. Pada tahun 2014 Indonesia dipercaya sebagai tuan Rumah 10th Asian Congress of Oral and Maxillo-Facial Radiology (ACOMFR) sebagai ketua ditunjuk Prof. Dr. drg. Suhardjo, M.S., Sp.RKG (K), yang saat itu juga sebagai Presiden AAOMFR (Asian Academy of Oral and Maxillo-Facial Radiology). Program IKARGI yang secara rutin sudah berjalan yaitu Simposium Nasional RKG yang diselenggarakan setiap tahun. Masih banyak tugas yang diemban IKARGI bersama dengan Kolegium RKG dalam mengembangkan ilmu radiologi kedokteran gigi. Pada saat ini hampir semua Institusi Pendidikan Dokter Gigi sudah mempunyai Departemen atau Bagian Radiologi Kedokteran Gigi. Dengan adanya Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM), maka ketersediaan Spesialis Radiologi Kedokteran Gigi akan semakin dibutuhkan.

48

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


2004 S

16 Maret 2004 Kelompok Studi Dental Implant didaftarkan secara legal dan berganti nama menjadi Ikatan Peminat Kedokteran Gigi Implan Indonesia atau Indonesian Society of Implant Dentistry

ekitar tahun 1990 beberapa dokter gigi di Indonesia mulai melakukan pembuatan gigi tiruan dengan penyangga implan. Prof. Hartono dan beberapa koleganya membentuk Kelompok Studi Dental Implant Indonesia di Surabaya, yang kemudian dilanjutkan oleh drg. Hendra Hidayat di Jakarta pada tahun 2000 dengan anggota sekitar 30-40 orang. Atas prakarsa drg. Hendra Hidayat dan drg. Nieke Karim (alm) staf pengajar di FKG UPDM(B), pada tahun 2002 dimulai pendidikan dental implant sebagai salah satu kegiatan pendidikan berkelanjutan di FKG UPDM(B). Pada tanggal 12-13 Desember 2003, IPKGII/ISID dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan ilmiah internasional; 19th Asian Oral Implant Academy (AOIA) di Jakarta. Kelompok Studi Dental Implant didaî‚?arkan secara legal dengan akta notaris pada tanggal 16 Maret 2004 oleh drg. Hendra Hidayat dan drg. Hananto Seno sehingga berganti nama menjadi Ikatan Peminat Kedokteran Gigi Implan Indonesia atau Indonesian Society of Implant Dentistry. Di bidang penelitian dental implant, beberapa hasil penelitian oleh dokter gigi Indonesia juga telah mampu mendapatkan paten, dan telah mampu memproduksi serta memasarkan bone graî„— buatan Indonesia.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

49


Pertemuan Ilmiah Rutin IPKGII

Ikatan Peminat Kedokteran Gigi Implan Indonesia menjadi tuan rumah 19th Asian Oral Implant Academy (AOIA) di Jakarta

https://www.instagram.com/isid.ipkgii

IPKGII dikukuhkan menjadi organisasi dibawah PB PDGI pada tahun 2008 dalam Kongres ke-XXIIII PB PDGI di Surabaya. Pada tanggal 11 Desember 2007, di Bandung disepakati percabangan keilmuan dan pembentukan ikatan-ikatan kepeminatan interdisiplin. Pada awal tahun 2019, tercatat jumlah anggota IPKGII sebanyak 870 orang. Dalam menjalankan fungsi menjaga kualitas mutu anggotanya telah dilakukan kegiatan pertemuan ilmiah rutin dalam bentuk Indonesian Symphosium of Implant Dentistry (ISID) yang diselenggarakan setiap 2 tahun dimulai pada tahun 2009. Pada tahun 2019 ini dilakukan pertemuan yang ke enam. Hingga sekarang pertemuan ilmiah ini adalah satu-satunya di Indonesia yang fokus dibidang dental implant.

50

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Organisasi profesi terus memperjuangkan regulasi penataan pendidikan dan pelatihan implan serta pengawasan bagi para dokter gigi yang melakukan pemasangan gigi tiruan dengan penyangga implan. Selain itu, juga perlu diantisipasi tentang perkembangan teknologi dan bahan implan yang sangat pesat, agar dokter gigi Indonesia mampu bersaing di era pasar bebas. Pada bulan Maret 2019, menandai lima belas tahun berdirinya IPKGII, dilakukan deklarasi mengenai perlunya penataan pendidikan, pembinaan dan peningkatan kualitas layanan, pemberian kuali kasi tambahan implan yang telah memenuhi syarat tertentu, dilakukan oleh wakil organisasi profesi, institusi pendidikan serta praktisi dan peneliti implan di Indonesia. PB PDGI juga telah dilibatkan oleh Bapenas, BPPT dan LIPI untuk bersama-sama membuat peta jalan lima tahun kedepan Indonesia sudah harus mampu membuat dental implant sendiri.

Kongres LUSTRUM Ikatan Peminat Kedokteran Gigi Implan Indonesia, 17 Maret 2019 http://ipkgii-isid.com/news

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

51


http://ipkgii-isid.com/news http://ipkgii-isid.com/news

Pelantikan Pengurus Ikatan Peminat Kedokteran Gigi Implan Indonesia

Fellow of Indonesia Society of Implant Dentistry (FISID) FISID bertujuan untuk menata jenjang keanggotaan berdasarkan pengalaman klinik dan akti tas ilmiahnya. Fellow diberikan kepada anggota aktif yang memenuhi persyaratan minimal telah melakukan variasi 20 kasus yang dicatat dengan lengkap sesuai pedoman IPKGII, telah mempresentasikan minimal dari kasus yang pernah dikerjakan sendiri di forum ilmiah nasional dan internasional serta membuat empat buah laporan kasus lengkap untuk diajukan kepada tim penguji. Seleksi ellow telah dilakukan sejak tahun 2003. Hingga tahun 2018 telah dilakukan 9 kali seleksi berupa ujian untuk para kandidat dengan total fellowship aktif tercatat 97 anggota fellow yang otomatis menjadi jejaring untuk rujukan.

52

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


2004 E 3 Oktober 2004 AFDOKGI menginisiasi pembentukan ARSGMPI di Bandung

ra baru munculnya Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) sebagai wahana pendidikan calon dokter gigi, tidak lepas dari peran besar para dekan yang tegabung dalam Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi se-Indonesia (AFDOKGI). Gagasan untuk membentuk institusi RSGM mulai digulirkan sekitar tahun 1993. Dasar pemikirannya adalah; bahwa pendidikan keterampilan atau pengalaman belajar klinik dokter gigi, dokter gigi spesislis, dokter gigi spesialis konsultan tidak dapat dicapai dengan sempurna (holistik) dan bermutu jika hanya melalui sarana dan prasarana sebuah poliklinik atau sebuah balai pengobatan. Pada saat itu semua poliklinik gigi yang digunakan untuk pendidikan profesi memiliki ijin sebagai balai pengobatan. Kewenangan pelayanan kesehatan yang berijin sebagai balai pengobatan, hanya diperbolehkan memberikan pelayanan primer. Sedangkan pada program pendidikan spesialis di beberapa Fakultas Kedokteran Gigi saat itu sudah memberikan pelayanan sekunder dan tersier. Pemikiran ini didasari adanya kejelasan legal aspek dari sarana -prasarana penunjang pendidikan kedokteran gigi dan kebutuhan untuk mengantisipasi perkembangan jaman di era globalisasi dan perdagangan bebas yang memungkinkan tenaga kesehatan asing akan masuk dan dapat bekerja di Indonesia.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

53


Kebutuhan akan rumah sakit pendidikan sangat disadari dan diperlukan sebagai pusat pembelajaran dan pendidikan yang terintegrasi, holistik, sainti k dan kolaboratif guna mengajarkan pengetahuan dan keterampilan klinis tenaga kesehatan bidang kedokteran gigi. Bentuk rumah sakit yang dibutuhkan adalah Rumah Sakit khusus Gigi dan Mulut (RSGM). RSGM ini akan menjadi wahana untuk tempat pembelajaran klinik dokter gigi, dokter gigi spesialis, dokter gigi spesialis konsultan. Berangkat dari pemikiran diatas, para dekan yang tergabung dalam AFDOKGI melakukan advokasi ke Menteri Kesehatan, yang saat itu dijabat oleh Dr. Achmad Sujudi untuk diperbolehkan mendirikan Rumah Sakit Gigi dan Mulut di Indonesia. Di tahun 2002, Departemen Kesehatan mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesa (Kepmenkes RI) No HK. 00.06.1.4.4803 tahun 2002 tentang pemberian ijin sementara pendirian Rumah Sakit Gigi dan Mulut sebagai wahana pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi. Saat itu, ada 13 (tiga belas) institusi pendidikan Kedokteran Gigi di Indonesia yang mendapat ijin mendirikan RSGM, yaitu RSGM Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Baiturahman (UNBRAH), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Hang Tuah (UHT), Universitas Hasanuddin (UNHAS), Universitas Indonesia (UI), Universitas Jember (UNEJ), Universitas Mahasaraswati (UNMAS), Universitas Muhammadyah (UMY), Universitas Padjajaran (UNPAD), Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama (UPDM-B), Universitas Sumatra Utara (USU), dan Universitas Trisakti (USAKTI). Tahun 2004, Departemen Kesehatan mengeluarkan peraturan menteri kesehatan (PERMENKES) No. 1173/ Menkes/Per/X/2004 tentang rumah sakit gigi dan mulut (RSGM) yang semakin memperkuat keberadaan Rumah Sakit Gigi dan Mulut di Indonesia. Surat keputusan terkait ijin penyelenggaraan RSGM ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1625/Menkes/SK/XII/2005 tertanggal 2 Desember 2005 tentang pemberian izin tetap penyelenggaraan Rumah Sakit Gigi dan Mulut sebagai tempat pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Dengan semakin diakuinya keberadaan RSGM di Indonesia, maka AFDOKGI lalu menginisiasi pembentukan Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia yang disingkat ARSGMPI di Bandung pada tanggal 3 Oktober 2004 agar dapat mewadahi berbagai masalah dan isu terkait perubahan status dari poliklinik ke Rumah Sakit. Dalam rangka memperkuat keberadaan RSGM sebagai rumah sakit pendidikan, pada tahun 2007 Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI) bergabung dengan Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (ARSPI) dan tahun 2011 bergabung dengan Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI).

54

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP) pada dasarnya merupakan rumah sakit yang mempunyai fungsi sebagai tempat pelayanan, pendidikan, penelitian, dan penelitian secara terpadu dalam bidang pendidikan kedokteran gigi, pendidikan berkelanjutan, dan pendidikan kesehatan lainnya secara multiprofesi. RSGMP sebagai Rumah Sakit Pendidikan dalam menjalankan fungsi pelayanan bertugas menyelenggarakan pelayanan kesehatan terintegrasi dengan mengutamakan tata kelola klinis yang baik, perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran gigi, dan kesehatan lain berbasis bukti dengan memperhatikan aspek etika profesi dan hukum kesehatan. ARSGMPI saat ini merupakan wadah bagi para anggota untuk mencapai tujuan dalam memberikan pelayanan, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. Tujuan organisasi ini adalah menghimpun semua RSGMP dan RSGM dalam satu wadah perkumpulan di Indonesia, mengembangkan, meningkatkan mutu pelayanan, pendidikan, penelitian bidang kesehatan gigi dan mulut bagi kepentingan masyarakat, memberikan advokasi hukum kesehatan kepada anggotanya, membina anggota agar menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sesuai dengan perundangan yang berlaku serta standar perumahsakitan di Indonesia, membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan gigi dan mulut, dan turut memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran gigi terkini.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

perkumpulan yang Visi menjadi mandiri dan profesional di tingkat nasional dan ARSGMPI internasional.

Misi ARSGMPI Membina peningkatan kemampuan RSGMP sesuai dengan potensi masing-masing anggota untuk menjadi unggulan yang mandiri. Meningkatkan kerjasama antar anggota. Mendorong anggota agar menjadi pusat rujukan kesehatan gigi dan mulut di wilayahnya. Memfasilitasi anggota untuk menjalin kerjasama nasional maupun internasional dalam bidang pelayanan, pendidikan, dan penelitian kesehatan/kedokteran gigi memfasilitasi kerjasama dengan Lembaga Pemerintah dan non Pemerintah. Menjalin kerjasama dengan Ikatan Profesi dan Perkumpulan Kesehatan lainnya.

55


Ketua ARSGMPI Dr.drg. Yuniarti Soeroso, Sp.Perio (K) (2004 – 2007) Prof. Dr. drg. Tri Erri Astoeti, M.Kes (2007 – 2009) drg. Grace Gumuruh, MM, Sp.KG (K) drg. Marta Juslily, MBA

56

(2009 – 2011) (2011 – 2014) (2014 – 2017) (2017 – 2020)

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


2005 R

IPAMAGI dikukuhkan sebagai organisasi di bawah PDGI pada tanggal 25-26 Maret 2005 di Makassar

intisan ke arah pembentukan organisasi peminat Ilmu Material dan alat Kedokteran gigi telah dimulai sejak tahun 1993, yaitu pada saat Kongres Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) di Semarang. Kemudian pembicaraan berlanjut pada saat Kongres PDGI XXI di Surakarta. Karena berbagai kendala, keinginan mendirikan organisasi peminat material dan alat kedokteran gigi baru bisa terwujud pada tanggal 5 Maret 2005 di Kampus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta. Peminat ilmu material dan alat kedokteran gigi yang datang dari Bandung, Yogyakarta, Surabaya, serta Jakarta sendiri pada saat itu sepakat untuk mendirikan organisasi profesi bernama Ikatan Peminat Ilmu Material dan alat Kedokteran Gigi Indonesia (IPAMAGI). IPAMAGI didirikan sebagai forum tempat pertukaran informasi mengenai kemajuan ilmu material dan alat kedokteran gigi, menginformasikan hasil-hasil riset terbaru, mendorong kerjasama antar institusi, penapisan produk impor, pengembangan material kedokteran gigi tradisional serta peralatan kedokteran gigi produksi lokal. Organisasi ini terbuka untuk seluruh dokter gigi maupun bukan dokter gigi peminat ilmu material dan alat kedokteran gigi, baik dari lingkungan institusi pendidikan, pelayanan kesehatan, maupun sektor swasta.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

57


IPAMAGI telah dikukuhkan sebagai organisasi di bawah Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) pada saat Kongres Nasional PDGI di Makassar pada tanggal 23-26 Maret 2005, dengan Ketua Pertama pada saat itu yaitu Prof. Bambang Irawan, drg., Ph.D. Kegiatan yang sudah rutin dilaksanakan sejak setahun setelah pengukuhannya yaitu kegiatan Temu Ilmiah dan Pameran yang dinamakan TIP-IPAMAGI (Temu Ilmiah dan Pameran Ikatan Peminat Ilmu Material dan Alat Kedokteran Gigi Indonesia) yaitu kegiatan ilmiah rutin yang dilaksanakan oleh IPAMAGI dalam rangka membangun komunikasi ilmiah antar pemangku kepentingan di bidang material dan alat kedokteran gigi. Sampai saat ini, sudah 5 kali dilaksanakan TIP IPAMAGI dengan urutan sebagai berikut : TIP-IPAMAGI I Hotel Jayakarta Bandung 14-15 Juli 2006 Tema: “Perkembangan Terkini Bahan dan Alat Kedokteran Gigi” TIP-IPAMAGI II Hotel Aston Primera Pasteur Bandung 9-10 November 2012 Tema: “Perkembangan Terkini Bahan dan Alat Kedokteran Gigi” TIP-IPAMAGI III Hotel Bumi Surabaya 25-26 April 2014 Tema: “Smarts Material in Dentistry”

58

TIP IPAMAGI I

TIP-IPAMAGI IV Yogyakarta 3-4 Februari 2017 Tema: “Peran Biomaterial dalam Pelayanan Kesehatan di Indonesia” TIP-IPAMAGI V Jakarta 1-2 Desember 2018 Tema: “Innovation in Dental Materials and Devices” Melalui perjalanan yang panjang menuju kegiatan kongres IPAMAGI ke 1 (pertama) dengan dilakukan pertemuan-pertemuan sebelumnya yaitu di Bandung (2006 dan 2012), Rakernas di Surabaya (2014), rapat konsolidasi Jakarta (2016) dan rapat Pra Kongres di Bandung (2017). Kongres IPAMAGI pertama dilakukan di Yogyakarta tanggal 3 -4 Februari 2017, bersamaan dengan penyelenggaraan TIP IPAMAGI ke 4. Sampai saat ini sudah mengalami 4 periode kepengurusan, yaitu periode 2005 – 2009, periode 2009 – 2013, periode 2013 – 2017 dan periode 2017 – 2021. 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Kepengurusan IPAMAGI Periode 2017-2021 Ketua : Yosi Kusuma Eriwati, Dr., drg., M.Si. Sekretaris : Elin Karlina, drg., M.Kes. Bendahara : RosalinaTjandrawinata, drg., MSi.,Ph.D. Seksi Kurikulum : Ellyza Herda, Dr. drg, Msi. Siti Triaminingsih, drg., MT. Asti Meizarini, Dr.drg, MS. Sie Jurnal : Kosterman Usri, Dr.drg., MM. Astrid Yudith, drg., M.Si. Sie Pengembangan Material : Widowati Siswomihardjo, Prof. Dr.drg., MS. Siti Sunarintyas, Dr.drg., M.Kes. Arief Cahyanto., drg., MT., Ph,D 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

Sie Serti kasi & Penapisan : Dyah Irnawati, Dr. drg. MKes Nina Djustiana, Dr.drg., MKes. Drg Dedi Sumantri, MKes Sie Dana Usaha : Lisbeth Aswan, drg. Ferry Jaya, drg., MKes Irsan Ibrahim, drg., MKes Sie Organisasi : Elly Munadziroh, Dr. drg, MS. Purwanto Agustiono, drg., SU. Puguh Bayu Prabowo, drg., MKes Dewan Pengawas: Anita Yuliati, Prof.Dr.drg., M.Kes. Bambang Irawan, Prof, drg., Ph.D Widjijono, Prof. Dr. drg., SU. Zulia Hasratiningsih, drg., MDSc 59


2008 M

Beberapa dokter gigi yang berminat dalam bidang Temporo-Mandibular Disorder di Jakarta pada tanggal 7 Maret 2008

eningkatnya jumlah pasien dengan gangguan sendi rahang yang datang mencari pengobatan, menuntut respons yang memadai dari kalangan dokter gigi. Para dokter gigi diharapkan mampu melakukan pemeriksaan secara lengkap, mampu melakukan diagnosis dan melakukan perawatan secara komprehensif. Untuk ini diperlukan suatu wadah yang dapat memberikan pelatihan dan pendidikan berkelanjutan agar para dokter gigi mampu meningkatkan pelayanannya. Hal ini sejalan dengan himbauan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dengan adanya Keputusan Konsil Kedokteran Gigi Indonesia Nomor 51/KKI/KEP/XII/2007 tanggal 19 Desember 2007 tentang Pedoman Penerapan Cabang Ilmu Kedokteran Gigi dan anjuran dari Asian Academy of Craniomandibular Disorders (AACMD) untuk membentuk Ikatan Gangguan Kraniomandibula Indonesia / Indonesian Academy of Craniomandibular Disorders (IPGAKI / IACMD) di Indonesia sebagai a liasi AACMD di Asia. Pada awalnya di tahun 2007 muncul keinginan dari salah seorang dokter gigi, drg. Laura S.Himawan, untuk menjadi anggota dari AACMD, namun hal tersebut ditolak karena di Indonesia belum ada asosiasi atau akademi atau perkumpulan serupa yang menaungi bidang tersebut. Mereka menganjurkan agar Indonesia mempunyai asosiasi atau akademi dahulu, sehingga dapat diterima menjadi anggota AACMD.

60

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Sejalan dengan ini, Konsil Kedokteran Gigi Indonesia (KKGI) juga sudah mulai menghimpun beberapa pakar untuk dapat dilakukan pendidikan terstruktur sebagai penambah kuali kasi dokter gigi. Pada tanggal 11 Desember 2007, di Bandung disepakati pencabangan keilmuan dan dibentuknya ikatan-ikatan kepeminatan interdisiplin. Melalui serangkaian rapat kerja dan perumusan naskah akademik dari masing-masing bidang interdisiplin maka terbitlah Perkonsil Nomor 51/KKI/ KEP/XII/2007 tentang Pedoman Penerapan Cabang ilmu Kedokteran Gigi di Indonesia. Selanjutnya KKGI memberikan tugas kepada masingmasing Ikatan Kepeminatan untuk mempersiapkan pendidikan terstruktur bagi dokter gigi yang berminat pada bidang interdisiplin masing-masing. Pengaturan bagi dokter gigi yang selesai mengikuti pendidikan interdisiplin diberikan Kuali kasi Tambahan melalui Perkonsil No 6 Tahun 2011 pasal 18. Mengenai nama perkumpulan, berdasarkan beberapa nama yang dikenal di dunia serta mengikuti perkembangan perubahan nama dari waktu ke waktu, nama yang dipilih adalah: Indonesian Academy of Craniomandibular Disorders (IACMD) atau Ikatan Peminatan Gangguan Kraniomandibula Indonesia (IPGAKI) Sebenarnya IPGAKI sudah didirikan di Jakarta pada tanggal 7 Maret 2008. Ikatan ini didirikan oleh beberapa dokter gigi yang berminat dalam bidang TMD untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Sekarang Ika-

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

tan ini telah diresmikan keberadaannya pada Kongres PDGI XXV yang dilangsungkan pada tanggal 28-31 Mei 2014 di Pontianak. Kegiatan IACMD yang pertama dilangsungkan pada tanggal 16 September 2016 di Solo bersamaan dengan Seminar Ikatan Prostodonsia Indonesia (IPROSI). Kegiatan sekaligus peresmian IACMD ini dihadiri juga oleh Presiden dari AACMD yaitu Prof. Koichi Wajima. Setelah itu IACMD dipercaya untuk melangsungkan 17th AACMD meeting bersamaan dengan 2nd IACMD yang diadakan di Jakarta, pada tanggal 21-22 Oktober 2017. 3rd IACMD meeting dilangsungkan pada tanggal 4 Agustus 2018 di Jakarta dengan kehadiran peminat yang semakin banyak. Jumlah anggota IACMD sudah mencapai lebih dari 150 dokter gigi dari seluruh Indonesia. Tujuan umum dari pendirian IPGAKI/IACMD adalah meningkatkan pengetahuan bagi para peminat gangguan temporomandibula dan nyeri orofasial melalui pertukaran informasi sainti k dan komunikasi antar anggota serta menstimulasi profesi tersebut menuju peningkatan kesadaran akan adanya gangguan tersebut beserta perawatannya. Selain itu juga antara lain untuk menentukan kompetensi profesional bagi para dokter gigi yang melayani masyarakat yang berpraktik dalam bidang ini, dan mengeluarkan serti kat fellowship bagi anggota ikatan ini yang berhasil memenuhi kriteria tanpa memandang usia, suku bangsa, jenis kelamin, warna atau kewarganegaraan.

61


Susunan Pengurus IPGAKI 2017-2020 Dewan Pengawas : drg. Doddy Soemawinata, Sp.Pros Prof. Dr. drg. Faroek Hoesin, Sp.Ort(K) Prof. Dr. drg. Safrida Sirie, Sp.KG (K) Ketua : Prof. drg. Laura S. Himawan, Sp.Pros(K) Wakil Ketua : Dr. drg. Ira Tanti, Sp.Pros(K) Sekretaris : drg. Carolina Marpaung, Sp.Pros Bendahara: drg. Pinta Marito, Sp.Pros Bidang Pendidikan/Ilmiah : Dr. drg. Rasmi, Sp.Pros(K) Dr. drg. Maria Purbiati, Sp.Ort(K) Bidang Keanggotaan : Drg. Ade Amahorseya Bidang Kegiatan : Dr. drg. Ratna Sari Dewi, Sp.Pros(K) drg. Saraventi, Sp.Pros(K) Bidang Pengembangan & Kerja sama : drg. Nina Ariani, Sp.Pros(K), Ph.D drg. Yulianti Kemal, Sp.Perio(K) drg. Roselani W. Odang, MDSc, Sp.Pros(K) Dr. drg. Miesje Karmiati, Sp.Ort(K) drg. Susi Puspitawati, SpPros 62

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


2008 I

Jerih payah Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD dan dibantu oleh teman-teman dokter gigi akhirnya berhasil dengan dikukuhkannya ISPaMMI pada bulan Maret 2008 di Surabaya

katan Spesialis Patologi Mulut dan Maksilofasial Indonesia yang disingkat dengan ISPaMMI adalah salah satu percabangan ilmu di bidang Kedokteran gigi yang baru di Indonesia. Keilmuannya masuk ke dalam Rumpun Ilmu Para klinik yaitu ilmu yang menjembatani antara ilmu Kedokteran dasar, Ilmu Kedokteran Gigi dasar di tingkat Pendidikan Sarjana Kedokteran Gigi (SKG) dengan Pendidikan Profesi Kedokteran Gigi (kepaniteraan klinik/DRG). Ikatan ini berdiri melewati sejarah yang cukup panjang yaitu di mulai dari Bandung pada saat itu seorang Dokter Gigi bernama Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD, merasa bahwa Ilmu Patologi Mulut dan Maksolofasial harus berdiri sendiri karena ilmu ini sangat berperan didalam mendeteksi dan menegakkan diagnosis de nitif penyakit-penyakit di rongga mulut dan maksilofasial. Selama ini ilmu ini diampu dan diajarkan oleh dokter-dokter Patologi Anatomi dari Fakultas Kedokteran pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi. Pengakuan Ilmu Patologi Mulut dan Maksolofasial menjadi cabang ilmu tersendiri di Pendidikan Kedokteran Gigi, tidak akan bisa terjadi jika ilmu tersebut belum bisa masuk ke dalam cabang-cabang keilmuan di Kedokteran Gigi. Maka upaya-upaya pendekatan (personal approach) dilakukan oleh Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD dengan ketua dan anggota Ikatan Ahli Patologi Indonesia (IAPI). Perjuangan pengakuan keilmuan Ilmu Patologi Mulut dan Maksilofasial di Kedokteran Gigi mulai tampak pada tahun 2007 dengan diadakannya pertemuan tentang pengaturan

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

63


perkembangan ilmu kedokteran gigi yang antara lain dihadiri oleh Prof. Dr. drg. Retno Hayati, Prof. Dr. drg. Siti Mardewi S. Akbar, Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD. Pada tahun 2008, dibuat naskah akademik Ilmu Patologi Mulut dan Maksiofasial oleh Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD untuk dimasukkan dalam buku Pedoman Penerapan Cabang Ilmu Kedokteran Gigi yang akan diterbitkan oleh KKI, dan pada tahun yang sama beliau juga membuat konsep pendirian Ikatan Spesialis Patologi Mulut dan Maksilofasial. Nama organisasi ini awalnya mendapat kritikan-kritikan dari Ketua Ikatan keilmuan lainnya di Kedokteran Gigi karena menggunakan kata “spesialis� yang pada saat itu diketahui belum ada satu orangpun yang bergelar Spesialis Patologi Mulut di Indonesia, walaupun sebenarnya pada saat itu sudah ada beberapa dokter gigi yang mendapat pendidikan Patologi Mulut dan bergelar Sp.Opath (Spesialis Oral Pathology) dan bekerja di LADOKGI TNI AL., seperti drg. M. Suhel, Sp.Opath., drg. Tjandra Darmatin., dan drg. drg. Goeno Subagyo, Sp.OPath (UGM), tetapi karena percabangan ilmunya belum ada di Kedokteran Gigi, maka keilmuan Patologi Mulut tidak dapat berkembang dan dan dokter gigi yang bergelar Sp.Opath tidak dapat berkontribusi banyak dalam perkembangan keilmuan ini pada saat itu Konsep pendirian Ikatan Spesialis Patologi Mulut dan Maksilofasial, konsep Logo ISPaMMI berikut artinya dan konsep pendirian bagian/departemen Patologi

64

Workshop ISPaMMI di FKG UNAIR, Surabaya bersamaan dengan dilakukannya pengukuhan 6 anggota ISPaMMI bergelar Spesialis Patologi Mulut dan Maksilofasial (Sp.PMM) oleh Ketua PB PDGI

Mulut dan Maksilofasial disetiap FKG/Prodi Kedokteran Gigi dibuat oleh Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD. Konsep naskah Pendidikan dan kurikulum tersebut didiskusikan dengan Ketua dan Staf Pengurus Pusat Ikatan Spesialis Patologi Anatomi (IAPI) di Ruang Sutomo Tjokronegoro Departemen Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta yang dihadiri oleh: Prof. Dr. drg. Retno Hayati., Prof. Dr. drg. Siti Mardewi S. Akbar., Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD., Prof. dr. Mpu Kanoko, PhD., SpPA(AK) yang menjabat Ketua PP IAPI dan dr. Nurjati C. Siregar, MS, PhD, SpPA(K) sebagai Sekretaris PP IAPI

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Konsep naskah akademik, AD/ART dan draî‚? kepengurusan ISPaMMI tersebut dimajukan ke dalam KONGRES PB PDGI Surabaya, 19-22 Maret 2008 oleh drg. Janti Soediono., MDSc, dan drg. Mei Syafriadi, MDSc., PhD untuk dapat dikukuhkan sebagai salah satu organisasi ikatan keahlian dalam naungan PB PDGI. Perjuangan dan jerih payah Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD dan dibantu oleh teman-teman dokter gigi yang ikut membantu penyempurnaan dokumen ISPaMMI akhirnya berhasil, dengan dikukuhkannya ISPaMMI sebagai salah satu ikatan keahlian dalam naungan PDGI dengan Surat Keputusan Presidium Kongres Nasional PDGI XXIII 2008 No. 03b/KPDGIXXIII/III/08. Perjuangan pendirian ISpaMMI dan Pengakuan keilmuannya menjadi salah satu cabang Keilmuan yang berdiri sendiri di Kedokteran Gigi juga berhasil dengan dikeluarkannya/diterbitkan buku Pedoman Penerapan Cabang Ilmu Kedokteran Gigi oleh KKI Tahun 2009 dimana Ilmu Patologi Mulut dan Maksilofasial diakui sebagai Cabang ilmu paraklinik yang harus diterapkan dalam Pendidikan Kedokteran Gigi. Namun, pada tahun 2008-2011 organisasi ini yang pada saat itu dipimpin oleh Prof. Dr. drg. Achmad Syawqie YM, MS dan wakil ketua Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD., berjalan lambat karena anggota perwakilan dari masing-masing FKG di Indonesia sangat terbatas, jarak yang berjauhan dan waktu yang terbatas karena kesibukan masing-masing.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

Surat Keputusan Pengukuhan Ikatan Spesialis Patologi Mulut dan Maksilofasial Indonesia menjadi salah satu ikatan keahlian yang resmi dibawah naungan PB PDGI

65


Pada Tahun 2011, terjadi pergantian pengurus dimana ISPaMMI dipimpin oleh Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD sebagai ketua dan drg. Mei Syafriadi, MDSc., PhD sebagai Wakil Ketua, organisasi ISPaMMI mulai bangkit kembali menunjukkan eksistensinya dengan mengadakan seminar dan RAKERNAS-I ISPaMMI tanggal 11-13 Oktober 2012 di Jakarta. Untuk menunjukkan eksistensi ISPaMMI di nasional dan internasional maka telah diadakan pertemuan dengan ahli-ahli Patologi Mulut dari Jepang di FKG Universitas Padjadjaran, Bandung tahun 2013 dan seminar-seminar Nasional dan pelatihan-pelatihan dengan pembicara dari dalam negeri dan luar negeri di Jakarta, Jember, Medan dan Surabaya. Agenda yang terbesar pada periode kepengurusan 2011-2014 dilakukan pembentukan tim penilaian dalam rangka pemutihan anggota ISPaMMI untuk mendapakan Gelar Pakar Patologi Mulut dan Maksilofasial dibawah program Badan Kolegium Patologi Mulut dan Maksilofasial ISPAMMI terhadap anggota ISPaMMI yang layak untuk diajukan mendapat gelar pakar pada Kongres XXV PB PDGI tahun 2014. Pada Tahun 2014, tepatnya pada Kongres PDGI XXV di Pontianak tanggal 4-6 Oktober 2014, perjuangan Tim Pemutihan ISPaMMI untuk memutihkan anggotanya untuk mendapat gelar Pakar Patologi Mulut dan Maksilofasial berhasil dengan diputihkan 6 orang anggota ISPaMMI menjadi Pakar Patologi Mulut dan Maksilofasial yaitu: Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD., Sp.PMM (K) (Universitas Padjadjaran) Prof. drg. Janti Sudiono, MDSc., Sp.PMM (K) (Universitas Trisakti) drg. M. Suhel, Sp.Opath. Sp.PMM (K) (Univeristas Prof. Dr. Moestopo) drg. Silvi Kintawati, MS., Sp.PMM (K) (Universitas Padjadjaran) drg. Agoeng Tjahajani., MS., Sp.PMM (K) (Universitas Indonesia) Prof. Dr. drg. Istiati, SU., Sp.PMM (K) (Universitas Airlangga) Ke enam orang Pakar Patologi Mulut dan Maksilofasial ini kemudian menjadi pioneer pendirian Kolegium Patologi Mulut dan Maksilofasial Indonesia dan kelak dikukuhkan mendapat gelar Spesialis Patologi Mulut dan maksilofasial (Sp.PMM) yang pertama di Indonesia. 66

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Pada periode kepengurusan ISPaMMI 2016-2019 Pengurus ISPaMMI melakukan Workshop di FKG UNAIR, Surabaya dengan agenda seminar Internasional dengan narasumber dari Ketua Internasional Association Oral Patologist (IAOP) Prof. Takashi dari Hiroshima University, Jepang serta dilakukan pengukuhan 6 anggota ISPaMMI yang bergelar pakar Patologi Mulut dan Maksilofasial menjadi Spesialis Patologi Mulut dan Maksilofasial (Sp. PMM) oleh Ketua PB PDGI di dampingi wakil-wakil kolegium kedokteran gigi lainnya. Agenda kegiatan ISPaMMI makin berjalan baik dengan berhasilnya badan kolegium yang diketua oleh Prof. Dr. drg. Istiati, SU., Sp.PMM. dan Sekretaris Prof. drg. S. Sunardhi Widyaputra, MS, PhD., Sp.PMM melakukan penilaian dan seleksi seluruh anggota ISPaMMI melalui CV dan dokumen lainnya, badan kolegium ISPaMMI melakukan penilaian dan seleksi seluruh anggota untuk pemutihan ke-2 mendapat gelar Spesialis. Hasil seleksi yang dilakukan oleh tim Kolegium didapatkan 9 orang dokter gigi anggota yang layak mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan gelar Sp.PMM dan dikukuhkan pada bulan April 2019 oleh Ketua PB PDGI Dr. drg. RM Sri Hananto Seno, Sp.BM (K) didampingi ketua MKKGI Prof. Dr. Drg. Chiquita Prahasanti, Sp.Perio. Sembilan orang tersebut adalah : Prof. drg. Mei Syafriadi., MDSc., PhD., Prof. Dr. drg. Achmad Syawqie YM, MS., drg. Tjandra Darmatin., drg. Murnisari Darjan, MS., Dr. Drg. Retno Pudji Rahayu, M.Kes., Dr. Drg. î‚ťeresia Indah Budhy., M.Kes., Dr. Drg. Ameta Primasari, MDSc., Dr. Drg. Adi Prayitno, M.Kes., drg. Firstine Kelsi Hartanto,M.ClinDent.

Pengukuhan 6 anggota ISPaMMI bergelar Sp.PMM (K) tanggal 28 April 2019 oleh Ketua MKKGI Prof. Dr. Drg. Chiquita Prahasanti, Sp.Perio (K) (no 3 dari kanan) di dampingi Ketua Kolegium Patologi Mulut dan Maksilofasial Prof. Dr. drg. Istiati, SU., Sp.PMM (K) (No 3 dari kiri)

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

67


2012 I

katan Peminatan Manajemen Perawatan Gigi dan Mulut Individu Berkebutuhan Khusus Indonesia atau Indonesian Society of Special Care Dentistry (ISSCD) berdiri tanggal 9 Februari 2012 di Bandung, Jawa Barat. Pada tahun 1991, bidang kedokteran gigi pada individu berkebutuhan khusus (Special Care Dentistry) 9 Februari 2012 diperkenalkan ke Departemen Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi UniIndonesian Society of versitas Padjadjaran, Bandung oleh Dr. Marcel F. Van Grunsven, Ms.Marie Cornips, Special Care dan Dr. J.Advokaat. Ketiganya merupakan pakar di bidang tersebut dari Belanda. Pada Dentistry (ISSCD) saat itu Universitas Padjadjaran sudah menjalin kerjasama dengan beberapa Univerberdiri di Bandung, sitas di Belanda. Jawa Barat Dr. Marcel F. Van Grunsven memulai suatu program atau ‘pilot project’ Kedokteran Gigi pada Individu Berkebutuhan Khusus (Special Care Dentistry) kerjasama antara Persatuan Dokter Gigi Indonesia dan Dutch Dental Association. Drg. Siti Adiningrum ditunjuk sebagai perwakilan dari PDGI dan Kementerian Kesehatan untuk dilatih Dr. Marcel F. Van Grunsven dan menjalankan program tersebut di Yayasan Penderita Anak Cacat (YPAC) Jakarta

68

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Prof. Dr. drg. Roosje Rosita Oewen, Sp.KGA telah mengikuti pelatihan di Fakultas Kedokteran Gigi bagian penderita cacat (handicapped) Universitas Yokohama, Jepang pada tahun 1980 dan Universitas Nijmege, Belanda pada tahun 1986, kemudian mendirikan Departemen Kedokteran Gigi Anak di FKG Universitas Padjadjaran. Dalam jangka waktu 3 tahun, Prof. Dr. drg. Roosje Rosita Oewen, Sp.KGA and drg. Siti Adiningrum berhasil mengupayakan adanya kerjasama antara Departemen Kedokteran Gigi Anak FKG Universitas Padjadjaran dengan ‘Dutch Society of Special Care Dentistry’ untuk melaksanakan pelatihan staf-staf dokter gigi Departemen Kedokteran Gigi Anak FKG Universitas Padjadjaran, Bandung Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi serta pelatihan Kedokteran Gigi pada Individu Berkebutuhan Khusus dilakukan dengan Seminar dan Workshop setiap tahun oleh Departemen Kedokteran Gigi Anak di FKG Universitas Padjadjaran dan ahli dari Belanda untuk Staf Pengajar Universitas lain dan dokter-dokter gigi yang tertarik pada Kedokteran Gigi pada Individu Berkebutuhan Khusus (Special Care Dentistry). Pada tahun 2002, drg. Siti Adiningrum diundang oleh Dr. Clive Friedman dari Kanada untuk menghadiri Pertemuan IADH di Athena, Yunani. Dr. P.C.Makkes, Dr. Elionor Bouvy, Dr. H. Hijboom, Dr. Tjiok, and Dr. Henk Sulker direkomendasikan untuk menjadi anggota IADH dengan dukungan ‘Tim Sahabat Bandung’. Pada tahun 2004, perjanjian kerjasama antara Departemen Kedokteran Gigi Anak FKG Unpad dengan ‘Dutch Society of Special Care Dentistry’ diperpanjang kembali selama 4 tahun. Pada tahun 2009, Konsil Kedokteran Indonesia meresmikan Ikatan Peminatan Manajemen Perawatan Gigi dan Mulut Individu Berkebutuhan Khusus Indonesia sebagai cabang disiplin ilmu kedokteran gigi.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

69


Pendiri ISSCD Prof. Dr. drg. Roosje Rosita Oewen, Sp.KGA(K) - University Padjadjaran Prof. Dr. drg. Seno Pradopo, Sp.KGA(K) - University Airlangga Prof. Dr. drg. Retno Hayati, Sp.KGA(K) - University Indonesia drg. Siti Adiningrum, - Dinas Kesehatan Kota Jakarta Dr. drg. Hj. Yetty Herdiyati, Sp.KGA(K), University Padjadjaran Prof. Dr. drg. Willyanti S. Syarief, Sp.KGA (K), University Padjadjaran

Susunan Pengurus ISSCD 2015-2019 Ketua Umum : Prof. Dr. drg. Roosje Rosita Oewen, Sp.KGA(K) Wakil Ketua : drg. Ida Ayu Astuti, Sp.BM Sekretaris Jenderal : drg. Siti Adiningrum Bendahara : drg. Hizromaita, Sp.KGA 70

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


2009 I

Pada Desember 2009 di hotel Topaz Bandung, dalam rapat KKG bersama dengan KDGI dan AFDOKGI, dikukuhkan beberapa cabang ilmu Kedokteran Gigi Interdisipliner oleh KKI

lmu Anestesi Kedokteran Gigi (AKG) bukan merupakan ilmu dasar dalam Kedokteran Gigi, sehingga hampir diseluruh Fakultas Kedokteran Gigi di Indonesia, tidak mempunyai bagian yang mempunyai staf pengajar khusus dibidang AKG. Mata kuliah AKG digabung dengan pengajar ilmu Bedah mulut dalam hal pencabutan gigi. Di negara lain, AKG mempunyai departemen khusus karena dokter gigi disana tidak hanya melakukan anestesi lokal tetapi juga dapat menjadi anesthesiologist dengan mengikuti pendidikan spesialistik. Di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran sejak tahun 1970-an Ilmu Anestesi Kedokteran Gigi sudah diampu oleh 3 orang staf pengajar khusus dibidang AKG yang telah mendapatkan pendidikan tambahan dibidang “Dental Anesthesiology in Dentistry� di Tokyo Medical and Dental University Jepang, yaitu Prof. Dr. Drg. Lieke Kartono (Alm); drg. Harry A. Kaiin, MH.Kes; dan drg. Kirana Lina Gunawan, Mkes. Sub bagian AKG berada dibawah Departemen Bedah Mulut. Selain mengajar, juga memberikan pelayanan sedasi inhalasi dengan N2O-O2, dan sampai saat ini banyak pasien yang dilakukan perawatan gigi dengan sedasi inhalasi N2O-O2, khususnya kasus-kasus dibidang bedah mulut. Kongres pertama International Federation of Dental Anesthesia Societies (IFDAS) dis-

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

71


elenggarakan pada tahun 1976, di Monaco. Sedangkan Kongres pertama Federation of Asian Dental Anesthesia Societies (FADAS) diselenggarakan di Cina, tahun 2007. Indonesia belum memiliki organisasi anestesi kedokteran gigi, namun anggota IPAKGI tetap selalu mengikuti acara acara ditingkat internasional mewakili dokter gigi Indonesia . Pada Desember 2009 di hotel Topaz Bandung, dalam rapat KKG bersama dengan KDGI dan AFDOKGI, dikukuhkan beberapa cabang ilmu Kedokteran Gigi Interdisipliner oleh KKI, dimana AKG sebagai salah satunya dan tercantum dalam buku Pedoman Penerapan Cabang Ilmu Kedokteran Gigi Interdisipliner . Momentum tersebut menguatkan kami bahwa AKG layak dijadikan salah satu bagian keilmuan khusus di Kedokteran Gigi dan perlu dikembangkan di Indonesia. Dan saat itu KKG menyarankan untuk dibentuknya ikatan ikatan peminatan ilmu Kedokteran gigi interdisipliner dimaksud.

72

Karena FKG Universitas Padjadjaran selama ini telah mempunyai staf khusus dibidang AKG, maka pembentukan ikatan ilmu AKG diserahkan kepada staf dosen FKG Universitas Padjadjaran, dan pada tanggal 5 Juli 2012 dibentuklah pengurus IPAKGI dengan susunan sebagai berikut: Ketua : drg. Harry A. Kaiin , MHKes Sekretaris : drg. Kirana Kina Gunawan Bendahara : drg. Daisy Wulansari Sie Ilmiah : drg. Ida Ayu Astuti, Sp.BM Anggota : drg. Tis Kara S, Sp.BM Dr. drg. Grita Sudjana, Mkes drg. Tantri M, Mkes, PhD

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Ikatan peminatan pada waktu itu ditetapkan berada dibawah PB PDGI. Oleh karena itu, dalam Rakernas PDGI tanggal 14-15 Maret 2013 di Makasar, disusun prosedur, alur dan persyaratan pembentukan Ikatan Peminatan baru cabang ilmu Kedokteran Gigi Interdisipliner. Akhirnya IPAKGI bersama dengan beberapa ikatan peminatan lainnya dikukuhkan pada Kongres PDGI XXV di Pontianak pada bulan Mei 2014 melalui SK PB PDGI nomor :SKEP/023/PB PDGI/V/2014 tertanggal 29 Mei 2014. Kegitan didalam dan luar negeri yang telah dilaksanakan antara lain; sebagai pembicara di 20th Japanesse Ascosiation of Dental Anesthesiology (JADA), di Jepang, tahun 1992; sebagai pembicara di 7th International Federation of Dental Anesthesiology Societies (IFDAS) di Jepang, tahun 2006. Tahun 2013 wakil dari IPAKGI menghadiri 10th Federation of Asian Dental Anesthesiology Societies (FADAS) di Seoul Korea Selatan, lalu berturut-turut menghadiri 11th FADAS di Nigata Jepang (2014), 12th FADAS di Taipe (2015), dan 13th FADAS di Shanghai (2016). Tahun 2018 mengirimkan wakil sebagai pembicara pada 15th FADAS di Nara Jepang. Sebagai wadah peminatan yang baru dan belum banyak dikenal di Indonesia, IPAKGI berusaha agar bidang ini tersosialisasi dengan baik, dan agar ilmu anestesi kedokteran gigi dapat berkembang di lingkungan dokter gigi Indonesia.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

73


Kiprah PDGI Kini

2020

74

A

wal tahun 2020. Kagaduhan dan riuh suara pekerja bangunan di lahan sebelah, tak mampu diredam oleh tebalnya tembok dinding Sekretariat Pengurus Besar PDGI. Namun baik pengurus maupun pegawai tidak ada yang merasa terganggu. Maklum saja proyek bangunan tersebut adalah proyek perluasan Sekretariat Pengurus Besar PDGI. Sekretariat PB PDGI di Jalan Utan Kayu 46 Jakarta Timur berupa Ruko 4 lantai, telah lama dirasa kurang memadai untuk menampung seluruh aktivitas organisasi. Oleh karena itu ketika lahan bengkel di sebelah hendak dijual oleh pemiliknya pada masa Ketua PB PDGI dijabat Farichah Hanum, maka dengan segala daya upaya akhirnya lahan tersebut dapat dibeli. Pembangunan Grha PDGI –nama yang akan digunakan untuk Gedung Sekretariat PB PDGI-- baru dimulai sehari sebelum peringatan HUT RI ke-74, pada tanggal 16 Agustus 2019. Pada kesempatan tersebut Ketua PB PDGI Sri Hananto Seno menyerahkan secara simbolis Surat Perintah Kerja kepada PT Bangun Multi Saranajaya selaku kontraktor. Seolah mengulang apa yang terjadi saat pembelian sekretariat lama di Maisonette Kramat Jaya Baru Jakarta Pusat, sekitar 30 tahun yang lalu, biaya untuk pembangunan gedung terkumpul dari hasil gotong royong urunan seluruh anggota. Hanya dengan menyumbang Rp. 100.000 per orang, bangunan di atas lahan seluas 289 meter persegi itu diharapkan akan selesai dalam waktu 180 hari. Pembangunan gedung baru hanya salah satu capaian PDGI saat ini, yang telah berkembang dari organisasi dengan 1 cabang dan 13 anggota di tahun 1950 menjadi 273 cabang dengan 34.567 anggota di tahun 2020 di usianya yang ke-70 tahun. Jumlah anggota se70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


banyak itu terdiri dari 30.810 dokter gigi dan 3.757 dokter gigi spesialis Adanya data seperti tampilan di atas yang selalu terbarukan melalui sistem e-PDGI merupakan wujud lain kemajuan PDGI saat ini. e-PDGI yang terdiri dari e-Serti kasi, e-P3KGB, e-Jurnal, dan e-UKDGI telah menjadi pangkalan data yang dapat dimanfaatkan untuk mengambil kebijakan organisasi serta memberi kemudahan kepada anggota PDGI. Hal ini diperkuat dengan interoperabilitas data bersama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Dengan fasilitas e-pdgi tersebut, input anggota PDGI saat ini berjalan otomatis berupa kiriman data lulusan dari Ditjen Dikti. Kemudian proses didalam PDGI seperti pengumpulan Satuan Kredit Profesi (SKP), pencatatan iuran anggota, uji kompetensi, pembuatan Serti kat Kompetensi, serta penayangan jurnal ilmiah semuanya telah

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

tersistemasi dalam sistem teknologi informasi. Demikian pula proses pengurusan Surat Tanda Registrasi (STR) telah banyak terbantu dengan aplikasi dalam jaringan. Layanan terbaru dari PDGI yang memanfaatkan teknologi informasi adalah Program Pendidikan Profesionalisme Kedokteran Gigi Berkelanjutan (P3KGB) jarak jauh yang memungkinkan anggota PDGI mengikuti seminar ber-SKP secara online tanpa harus beranjak dari tempatnya bertugas. Bidang pendidikan lain yang menjadi perhatian PDGI yaitu pendalaman kompetensi dokter gigi. Jika dahulu hanya terselenggara dalam Kegiatan Ilmiah Singkat (KIS), kini tersedia pula dalam bentuk Kegiatan Ilmiah Terstruktur (KIT), dengan durasi lebih lama dan hanya dapat diselenggarakan oleh Institusi Pendidikan Dokter Gigi. Ini semua dilakukan agar selalu ada kesesuaian kompetensi para dokter gigi dengan kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran gigi. Menunjang pengembangan kompetensi anggota dari sisi organisasi saat ini PDGI membawahi 10 ikatan ke-

75


ahlian beranggotakan para dokter gigi spesialis, yang terdiri dari : 1. Ikatan Ahli Bedah Mulut dan Masilofasial (PABMI) 2. Ikatan Ortodontia Indonesia (IKORTI) 3. Ikatan Prostodontia Indonesia (IPROSI) 4. Ikatan Konservasi Gigi Indonesia (IKORGI) 5. Ikatan Penyakit Mulut Indonesia (ISPMI) 6. Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (IDGAI) 7. Ikatan Periodontologi Indonesia (IPERI) 8. Ikatan Radiologi Kedokteran Indonesia (IKARGI) 9. Ikatan Odontologi Forensik Indonesia (IOFI) 10. Ikatan Spesialisasi Patologi Mulut dan Maksilofasial Indonesia (ISPaMMI) Selain ikatan keahlian sebagai buah dari Peraturan Konsil Kedokteran Gigi Nomor 51/KKI/KEP/XII/2007 tentang Pedoman Penerapan Cabang ilmu Kedokteran Gigi di Indonesia, PDGI juga membawahi 11 ikatan peminatan, yang terdiri dari : 1. Ikatan Peminatan Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan (IPKESGIMI) 2. Ikatan Peminatan Kedokteran Gigi Implan Indonesia (IPKGII) 3. Ikatan Perhimpunan Biologi Oral Indonesia (PBOI) 4. Ikatan Kedokteran Gigi Estetik (IKGEI) 5. Ikatan Peminat Ilmu Material dan Alat Kedokteran Gigi Indonesia (IPAMAGI) 6. Ikatan Peminatan Dokter Gigi Keluarga Indonesia (IPDGKI) 7. Ikatan Peminatan Gerodontologi Indonesia (IPGI) 8. Ikatan Peminatan Kraniomandibula Indonesia (IPKI) 9. Ikatan Peminatan Anestesi Kedokteran Gigi Indonesia (IPAKGI) 10. Ikatan Peminatan Kedokteran Gigi Militer Indonesia (IPKGMI) 11. Ikatan Peminatan Manajemen Perawatan Gigi dan Mulut Individu Berkebutuhan Khusus Indonesia(IPMPGMIBKI) PDGI juga kerap terlibat dalam pembahasan aneka regulasi pemerintah serta proses realisasnya. Mulai dari produk Undang-Undang, peraturan pemerintah, hingga peraturan daerah. PDGI secara kontinyu memiliki keterwakilan di Konsil Kedokteran Indonesia (KK)) serta Komite Kesehatan Gigi dan Mulut Kementerian Kesehatan. Selain itu PDGI juga aktif dalam kelompok kerja, panitia ad-hoc, serta berbagai kegiatan dalam rangka pembuatan regulasi ataupun realisasi pelaksanaan regulasi. Di balik berbagai kemajuan yang telah dicapai PDGI ada beberapa pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, seperti nilai kapitasi JKN-KIS BPJS Kesehatan yang terlampau rendah untuk praktek dokter gigi sampai saat ini belum bisa

76

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


ditingkatkan. Selain itu masalah adanya oknum bukan dokter gigi yang melakukan pekerjaan serupa dokter gigi yang kerap merugikan masyarakat juga, masih subur menjamur di mana-mana.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

Jalan panjang 70 tahun yang telah terlampaui tentu dapat dijadikan bekal menghadapi tantangan zaman millenial yang cenderung menuntut bercirikan cepat dan mudah. Mau tidak mau, suka tidak suka, PDGI harus mampu mengimbangi perkembangan yang terjadi agar tidak tergerus jaman.

77


Daî‚?ar Pustaka 1. Loedin, A. Sejarah Kedokteran di Bumi Indonesia. Jakarta : PT Pustaka Utama Gra ti. 2005. 2. Elliot, J. When Blacksmiths were Dentists. Dalam https://www.bbc.com/news/ health-10552644. Edisi 17 Juli 2010. 3. Java Bode Edisi 16 Februari 1884. Dalam https://www.delpher.nl/nl/kranten/ view?coll= ddd&identi er=ddd%3A010507785%3Ampeg21%3Aa0026. Diakses 6 April 2019. 4. Tomasowa, R. Nostalgia dalam Rangka Menyambut Kongres XV Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Jakarta: Zendium Information Service. 1982. 5. Usri, K. 70 Tahun Pendidikan Dokter Gigi di Indonesia. Dentamedia. Nomor 4 Volume 2, Oktober 1998. 6. Moestopo, R. Riwajat Dunia Kedokteran Gigi di Indonesia. Madjalah PDGI. Nomor 3 Volume 1, Oktober 1951. 7. Chinese Indonesian Heritahe Center. De Stovit (School Tot Opleiding van Indische Tandartsen). Dalam http://cihc.nl/stovit-school-tot-opleiding-indische-tandartsen/. Diakses 4 Februari 2019. 8. Setyawan. A. Rumah Sakit Simpang / Oude CBZ. Dalam http://www.roodebrugsoerabaia. com/2011/01/rumah-sakit-simpang-oude-cbz/?v=b718adec73e0. Diakses 5 Maret 2019. 9. Usri, K. 2009. 50 Tahun Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Bandung : Unpad Press. 10. Syaify, A., Ika D.A, Munakhir M. Dari Ngasem ke Sekip Pro l Dekan FKG UGM Periode 1960-2008. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada 2007.

78

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


11. Hendri. Pengolongan Penduduk Indonesia pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda. Dalam https://butew. com/2018/01/22/penggolongan-penduduk-indonesia-pada-masa-pemerintahan-kolonial-belanda/. Diakses 6 April 2019. 12. Kian, O. Oei Hong Kian Dokter Gigi Soekarno. Jakarta : PT Intisari Mediatama. 2001. 13. Soemantri, E., dkk. Buku Peringatan Ulang Tahun Emas Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Jakarta : Persatuan Dokter Gigi Indonesia. 2000. 14. Wijanarko, Y. Berapa Sebenarnya Penduduk Kota Bandung. Pikiran Rakyat. 31 Mei 2017. 15. Wahyudi. M. 17 Agustus Bukan Hari Kemerdekaan Indonesia? Kompasiana. Dalam https://www.kompasiana. com/mokh.wahyudi/552e48526ea83409398b457c/17-agustus-bukanlah-hai-kemerdekaan-indonesia-. Diakses 22 Februari 2019. 16. Ahmad, T. Mengenal para Pemimpin Kota Bandung. Dalam http://www.infobdg.com/v2/ mengenal-para-pemimpin-kota-bandung-2/. Diakses 5 Maret 2019. 17. Fathoni, R.S. Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) 1950. Wawasan Sejarah. Dalam https://wawasansejarah.com/angkatan-perang-ratu-adil-apra/. Diakses 5 April 1950. 18. Sjafari, I. Reinkarnasi Sebuah Kota : Bandung 1950 (2). Kompasiana. Dalam https://www.kompasiana.com/jurnalg emini/550ba56f8133115d22b1e1d7/reinkarnasi-sebuah-kota-bandung-1950-2. Diakses 25 Februari 2019. 19. Usri, K. 22 Januari Lima Puluh Tahun yang Lalu Tonggak Penting Sejarah Dokter Gigi Indonesia. Majalah Dental Horison. Nomor 1 Volume 2, Maret 2000. 20. Mahmud, M., Rasmi R., dan Opik T.H. Kisah Seorang Dokter Gigi Prajurit yang Scientist Fotografer dan Pelukis. Bandung : Keluarga Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. 2002. 21. Soemantri, R. dan Soelarko. Beberapa Peristiwa Penting dalam Riwajat Persatuan Dokter Gigi Indonesia 19501955. Buku Acara Muktamar PDGI V, 19-25 Juni 1955. 22. Mijarto, P. Bernostalgia di Bekas Pertokoan Gloria. Kompas. 21Agustus 2009 23. Soelarko, R. Notulen Kongres PDGI Pertama. Madjalah Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Nomor 1 Tahun I, Agustus 1951 24. Buku Acara Kongres Pertama Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Jakarta 23-25 Desember 1950. 25. Marcus Knap Profesor, dalam http://www.jodeninnederlandsindie.nl/nl/page/648/marcus-knap--professor. Diakses 25 Juli 2019. 26. Madjalah Persatuan Dokter Gigi Indonesia. No 2 Tahun ke III. Mei 1953. 27. Haryanto, A. Suatu Kilas Balik Penerbitan Media Cetak Kedokteran Gigi di Indonesia. Dalam Buku Peringatan Ulang Tahun Emas Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Jakarta : Persatuan Dokter Gigi Indonesia. 2000. 28. Pro l Penerbitan Jurnal PDGI. Jakarta. Persatuan Dokter Gigi Indonesia. 1996. 29. Sanrach, I. Editorial. Majalah PDGI. Nomor 11, 1976. 30. Sanrach, I. Editorial. Majalah PDGI. Nomor 14, 1977. 31. Usri, K. Direktorat Pelayanan Kesehatan Gigi Dihapuskan. Dentamedia. Nomor 1 Volume 6, Januari 2002. 70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

79


32. Harahap, A.M. Sejarah Notaris di Indonesia; Hasan Soetan Pane Paroehoem, Satu dari Tujuh Notaris Pertama Indonesia. Dalam http://poestahadepok.blogspot.com/2018/06/sejarah-jakarta-28-sejarah-notariat-di. html. Diakses 7 Desember 2019. 33. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Dokter Gigi Indonesia. 1952. 34. Notulen Rapat Pengurus PDGI 4 Agustus 1951. Madjalah Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Nomor 2 Tahun I, September 1951 35. Notulen Rapat Pengurus PDGI 3 Agustus 1951. Madjalah Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Nomor 2 Tahun I, September 1951 36. Codex Ethik Kedokteran Gigi Indonesia. Dalam Buku Acara Muktamar Peringatan PDGI ke XX. Bandung 19-23 Januari 1970. 37. Suwelo, I. Kode Etik Profesi Sebagai Tuntunan Moral. Dalam Buku Peringatan Ulang Tahun Emas Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Jakarta : Persatuan Dokter Gigi Indonesia. 2000.

80

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Tentang Penulis KOSTERMAN USRI Lahir di Bandung, Jawa Barat, 16 Januari 1972, bekerja sebagai Kepala Departemen Ilmu dan Teknologi Material Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Sebelumnya pernah menjadi Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Padjadjaran. Sejak mahasiswa sampai kini aktif menulis di berbagai media cetak maupun online, menjadi Pemimpin Redaksi Dentamedia dari tahun 1997 sampai sekarang, serta Ketua Dewan Penyunting Jurnal Material Kedokteran Gigi (JMKG) dari tahun 2012 sampai sekarang. Di organisasi profesi saat ini menjadi Sekretaris Kolegium Dokter Gigi Indonesia (KDGI) serta Staf di Divisi Informatika dan Pusat Data Strategis Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI). Buku yang pernah ditulisnya antara lain: Diagnosis dan Terapi Penyakit Gigi dan Mulut (2006), Manajemen Rumah Sakit Teori dan Aplikasi (2007), Lima Puluh Tahun Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (2009). AHMAD SYAIFY Lahir di Jember, Jawa Timur, 10 Juni 1961, saat ini menjadi Dekan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Departemen Periodonsia di kampus tersebut, sebagai Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) UGM Prof. Soedomo, dan Ketua Senat Fakultas. Sejak masa mahasiswa sudah menjadi wartawan profesional, antara lain di Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Berita Buana, Republika, dan pernah menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Politik ADIL. Selain itu sering menulis kolom di Jawa Pos dan Radar Jogja. Aktif juga di organisasi profesi, pernah menjadi Wakil Ketua Ikatan Peri70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

81


odonsia Indonesia (IPERI) Pusat, pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Daerah Istimewa Yogyakarta, anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Wakil Ketua PMI Yogyakarta, Ketua PDGI Cabang Sleman, hingga saat ini. Buku yang pernah ditulisnya antara lain: Dari Ngasep ke Sekip (2007), Yogya Bercerita (2017) JEANNE D’ARE FRANXISCA ENDANG JENIATI Lahir di Magelang, Jawa Tengah, 29 Juli 1945, saat ini aktif di Centre for Family and Ageing Studies. Pada tahun 1971, setelah pensiun dari Kementerian Kesehatan kemudian menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) sampai menjadi Dekan di tahun 2001, kemudian menjadi Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Saat mahasiswa aktif di Dewan Mahasiswa dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Di Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) mulai aktif sebagai Pengurus Cabang Jakarta Selatan pada tahun 1980, kemudian duduk di Biro Umum Pengurus Besar PDGI sejak 2004 sampai sekarang. ROBERT HAMDANI DHARMA Lahir di Jakarta, 23 Juni 1959, sejak 1998 menjadi dokter gigi patikelir di Jakarta setelah selama 14 tahun menjadi Pegawai Negeri Sipil. Turut mendirikan cikal bakal ikatan peminatan kedokteran gigi estetik serta pernah menjadi Presiden Asian Academy of Aesthetic Dentistry. Di Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) pernah menjadi Pengurus Besar dari tahun 1998-….. Di dunia penulisan pernah menjadi kontributor Majalah Dental Horison di tahun 2000-an, serta menulis beberapa judul buku, yaitu: Veneer Go For It (2001), Dental Whitening (….), serta Re ection (2019). MESSYA RACHMANI Lahir di Jakarta, 29 Januari 1991, saat ini menjadi dokter gigi partikelir di Jakarta sambil melanjutkan pendidikan di Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak Universitas Indonesia sejak 2017. Pernah aktif sebagai pengelola Majalah Stomatognatic pada tahun 2012-2013, kemudian menjadi Redaktur Pelaksana Dentamedia sampai sekarang. FREDDY FERDIANSYAH WAHYUDIONO Lahir di Malang, Jawa Timur, 19 Februari 1980, saat ini menjadi dokter gigi di RS Hasanah Graha A ah. Sebelumnya bekerja di HPEQ Project Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dari tahun 2010 sampai 2014. Aktif di Pengurus Besar Pesatuan Dokter Gigi (PDGI) sejak tahun 2011, saat ini menjadi Kepala Divisi Informatika dan Pusat Data Strategis. Selain itu aktif sebagai Dewan Pengawas di Indonesian Young Health Professionals Society. ALI SUNDIHARJA Lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 23 April 1971, saat ini bekerja praktek dan mengelolan Klinik Gigi Halus di Sukabumi. Sebelumnya menjadi Product Manager di PT Kiang Multi Corporation tahun 1995-1997, Promotion Manager PT Multi

82

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia


Eka Karna tahun 2000-2001, kemudian menjadi dokter gigi di Smile Dental Clinic tahun 2001. Pernah menjadi Peminpin Redaksi Majalah Dental Horison pada Tahun 1999-2001. Saat ini aktif menjadi Pengurus Ikatan Kedokteran Gigi Estetik Indonesia serta menjadi Staf di Divisi Informatika dan Pusat Data Strategis Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI). Tahun 2019 terpilih sebagai pemenang BPJS Kesehatan Award untuk katagori Dokter Gigi Praktek Mandiri. Menjadi pemegang Rekor MURI untuk pemasang gigi tiruan lepasan lansia terbanyak pada satu hari di tahun 2006, serta Rekor Muri untuk pemutihan gigi tercepat pada tahun 2008.

70 Tahun Persatuan Dokter Gigi Indonesia

83