Issuu on Google+

SENI Seni

CERPEN

Sudi, Sang Tetangga Cerpen Harris Effendi Thahar

Ilustrasi rolly fardinan

S

EJAK sebulan belakangan ini, setiap mau pulang ke rumah sore hari, Zainal siap untuk berkelahi dengan tetangganya Sudi Sudina. Pasti ada pengaduan baru salah seorang dari dua putrinya yang masing-masing punya bayi tentang kekesalan mereka terhadap gangguan yang datang dari rumah sebelah, rumah Sudi yang kini berubah jadi lapo tuak. Seperti kemarin dulu, sore-sore ada saja pemuda mabuk habis minum tuak, lalu menghidupkan mesin motornya yang berknalpot kompong keras-keras tanpa mengendarainya. Dua orang bayi, cucu Zainal tidak bisa tidur. Tanpa lapor dulu pada RT, Zainal langsung melempari rumah Sudi yang kini jadi lapo tuak itu dengan batu sejadi-jadinya. Maka, terjadilah perang batu hingga polisi sektor datang mendamaikan. “Ini pemukiman penduduk yang 42

/September 2012

tenang, tiba-tiba siang malam berubah jadi gaduh. Anak-anakku dari Jawa pulang melahirkan ke sini agar bisa tentram di dekat orangtua. Coba Pak Polisi bayangkan, baru saja saya mau tidur, suara-suara ketawa ngakak, petikan gitar irama Entah Berantah, dan bau panggang jengkol menusuk-nusuk kamar tidur saya. Siapa yang tak akan mencarut-carut bungkang Pak Polisi? Tiap malam, tiap hari, tak pagi tak sore!” Polisi sektor hanya manggut-manggut sambil menyabarkan Zainal yang tampangnya memang sangar karena kumis tebalnya yang sudah separuh putih. “Sebagai anggota masyarakat bertetangga, Bapak harus menyelesaikannya secara baik-baik, melalui prosedur, misalnya melalui Ketua RT,” kata komandan yang segera naik mobil Kijang warna kelabu kusam.

Polisi itu benar. Sebelumnya, begitu memasuki masa pensiun, Sudi Sudina yang rumahnya di pojok dan pinggir jalan utama kompleks, langsung membuat kolam-kolam ikan plastik, mepet di pinggir-pinggir pagar rumahnya yang cukup luas. Dia beternak lele dan belut. Zainal pernah tanya dia. “Usaha menambah tunjangan pensiun,” kata Sudi. “Kalau Pak Zainal masih bagus, kerja di perusahaan besar, gak pakai pensiun kayak saya. Anak saya masih ada yang sekolah, tiga orang.” Seminggu kemudian, radius tiga ratus meter dari rumah Sudi, menyebar semerbak bau busuk seperti bau tinja yang bersumber dari pakan ikan lele. Konon, ikan lele juga doyan bangkai ayam, bahkan kotoran manusia. Siapa tahu, Sudi Sudina berak di kolamnya. Warga protes, melalui ketua RT memang. Akhirnya,

usaha ternak ikan lele rumahan Sudi dibongkar warga beramai-ramai. Sudi tampaknya pasrah. Sepertinya lingkungan kompleks itu bakal aman dari gangguan. Sudah lebih sepuluh tahun Zainal bertetangga dengan Sudi Sudina. Hubungan mereka memang tidak mesra. Meski menurut Zainal Sudi orangnya cukup baik, tapi keluarga Sudi paling berisik. Mungkin karena rumahnya paling pojok, pinggir jalan utama dan punya kelebihan tanah yang cukup luas, tamutamunya datang silih berganti seolah tak putus-putus, membuat kenyamanan keluarga yang tinggal di sebelahnya lenyap. Belum lagi hampir tiap Sabtu malam ada pesta sampai pagi di rumah Sudi dengan tamu-tamu yang berkendaraan macam-macam. Ada yang datang pakai mobil, truk, becak motor, terutama sepeda motor yang parkirannya hampir selalu menutup jalan keluar masuk kompleks perumahan. “Manusia tidak berperasaan. Dia kira dia di kampung nenek moyangnya, kali,” keluh istri Zainal yang guru Bahasa Inggris di SMP tempat Tiurma, putri bungsu Sudi bersekolah. “Bilanglah pada si Tiur itu, kalau pesta setiap Minggu itu jangan sampai larut malam,” usul Zainal suaminya. “Sudah berkali-kali. Dia juga risi, katanya. Cuma, itu kemauan bapaknya.” * Sore itu Zainal mempercepat jam pulang kerjanya. Zainal ingin menemui ketua RT, mengusulkan pelarangan mendirikan lapo tuak di kompleks perumahan yang hanya berjarak 500 meter dari pantai itu. Sebagai direktur pemasaran, mestinya sore itu ia harus menyelesaikan banyak hal, berkenaan dengan penjualan dan kredit mobil di perusahaan dealer mobil yang sudah digelutinya dua puluh tahun itu. Tanpa meninggalkan pesan, ia langsung mengeluarkan mobilnya dari parkiran kantor, menuju rumah Ketua RT dan selanjutnya terus pulang. Ingin segera bercanda dengan kedua cucunya. Sebelum sampai di lampu merah, dirasakannya mobilnya tak stabil, seperti bocor ban. Ia meminggirkan mobilnya, tapi malah terbanting-banting. Suara menderu, gemuruh, datang dari segala penjuru, entah dari mana. Dilihatnya orang-orang berlarian. Cepat memarkir, turun dan berpegang erat pada tiang telepon yang juga terguncang hebat. Gempa! Menderu lebih hebat, lalu berderam-deram. Beberapa gedung bertingkat di jalan Khatib Sulaiman tempatnya terperangkap, rubuh, mengeluarkan suara menggelegar. Kiamatkah ini? Langit kelabu oleh debu yang berasal dari gedung-gedung yang rubuh. Zainal, lelaki yang kini merasa mulai tua, kakek dari dua orang cucu, menggigil

ketakutan sambil menyebut kalimatkalimat doa. Apa yang bisa diucapkannya dalam bentuk doa dilafazkannya, terputusputus di sela parau suara. Seorang istri, dua orang anak dan dua orang cucu yang masih bayi, entah bagaimana kini di rumahnya, menjadi buah pikirnya. “Tsunami, tsunami, “ berpendar kata itu di benaknya karena kompleks perumahan tempat tinggal Zainal tak cukup sekilo dari garis pantai. Semua orang yang sedang panik berlarian di jalan-jalan kota, tentu juga berpikir begitu.Tak terbayangkan kalau gelombang laut berkecepatan 200 kilometer perjam setinggi rumah bertingkat menghantam dan meluluhlantakkan kota Padang. Tamat. Tamat riwayat kota ini dan penduduknya. Ini akan dibaca sejarahnya seratus tahun kemudian oleh generasi baru. Tiba-tiba Zainal tersadar. Jalan Khatib Sulaiman penuh kendaraan dan orang berlarian menuju tempat yang lebih tinggi. Di depan gedung BPS berlantai tiga yang rubuh, Zainal menyaksikan dua orang lelaki tergeletak berlumuran darah, tak ada yang menolong. Di jalan, seorang perempuan dengan kepala berlumur darah, berlari, seperti mengejar seseorang. Seorang lelaki mengendarai sebuah mobil

Di depan gedung BPS berlantai tiga yang rubuh, Zainal menyaksikan dua orang lelaki tergeletak berlumuran darah, tak ada yang menolong.

kijang butut tanpa baju dan berwajah panik menyerempet mobil sedan di depannya. Entah datang dari mana manusia-manusia itu, bagaikan laron sehabis hujan beterbangan mencari bohlam lampu jalanan. Langit mendung kelabu menjelang magrib. Mobil Zainal terjepit, ia harus pulang meskipun melawan arus. Dua bayi, cucu Zainal, Imam lima bulan, putra Ening dan Habib delapan bulan putra Tika yang sedang lucu-lucunya, obat lelah Zainal setiap pulang kerja, pelanjut keturunannya, menjadi ingatan yang tak bisa terhapuskan di benaknya, memanggil-manggil, terngiang-ngiang. Meleleh air mata Zainal, ketika dilihatnya seorang anak perempuan kecil berbaju seragam SD tanpa sepatu menangis tanpa suara, berjalan terhuyunghuyung mengikuti arus air bah manusia. Zainal membunyikan tuter terus menerus, melawan arus kendaraan yang hampir tak berjarak menuju rumahnya di komplek Rayuan Pulau Kelapa Permai. Mobilnya tersumbat di mulut jembatan yang telah miring. Semua hubungan telepon terputus. Tak ada sinyal. Tak ada pesan. Tak ada harapan. Berpacu dengan waktu. Sepuluh menit. Sebelas, sebelas setengah menuju lima belas. Konon cuma ada waktu lima belas menit sehabis gempa besar, tsunami bakal mengisi seluruh sudut dan ruang. Maut mengintai di mana-mana. Mayat bergelimpangan, tersangkut di pohon, terjepit, tertimbun lumpur. Bayangan tsunami Aceh membayang di setiap benak orang yang sedang tumpah ruah seperti laron itu. Hampir saja Zainal menabrak tembok jembatan miring itu ketika tibatiba sesosok mayat yang agaknya baru saja terlindas mobil menghadangnya. Tak ada pertolongan, tak ada waktu untuk menolong. Jembatan bergoyang, bergesekan di balik hotmix, nyaris putus sambungannya. Zainal ingat radio di mobilnya. Terdengar suara walikota, “Ibu-ibu, Bapak-bapak, saya Tomi Bakarudin, di studio RRI Padang memberi khabar bahwa menurut BMG, tidak terjadi tsunami.” Alhamdulillah. Puji Tuhan. Zainal meneteskan air mata di atas jok mobilnya yang tidak dapat bergerak karena terperangkap macet total. Nginjak gas lebih dalam, ia berhasil melompati bagian jembatan yang nyaris putus itu, setelah berusaha menghela napas yang juga tanpa disadarinya terengah-engah. Magrib turun tanpa suara adzan karena aliran listrik mati. Gelap mulai menyungkup kota. Hanya lampu-lampu kendaraan bermotor. Radio-radio mobil yang dominan terdengar di Jalan Khatib Sulaiman itu sekarang. Gerimis turun menyiram bumi kota Padang yang sedang terluka, berdarah, dan ngilu. Jalan raya terlihat begitu sempit karena jalan-jalan yang dirancang untuk jalur evakuasi gempa tak kunjung diperlebar. Baru pukul 20.12, Zainal berhasil mencapai rumah. Gelap. Sunyi. Tak ada /September 2012

43


Seni

Hujan masih, bensin semakin menipis, pelahan-lahan Zainal kembali malam itu pulang ke perumahan Rayuan Pulau Kelapa Permai.

44

/September 2012

tanda-tanda kehidupan. Tak ada harapan. Menghidupkan mesin mobil dan lampu besar menyoroti rumahnya di gerbang pagar yang telah porak poranda. Dengan debar yang menggunung berusaha memasuki rumah yang pintu-pintunya tak terkunci dan tak berbentuk. Ruang demi ruang yang jungkir balik oleh rebahan almari, pecahan keramik pajangan dan foto-foto di dinding, serta lantai keramik yang terbongkar dan terbelah-belah, melalui sinar lampu senter kecil, disigi Zainal. Kosong. Tak ada mayat atau anggota keluarga yang terjepit tertimpa balok beton. Sekali lagi dicermatinya dengan senter redup itu untuk meyakinkan dirinya. “ Semoga mereka semua selamat, istriku, putri-putriku dan cucu-cucuku,” doanya. Sekilas, melalui lampu mobil dilihatnya rumah Sudi kurang lebih sama dengan keadaan rumahnya. Tampak beton slof terasnya terjungkal dan lapo tuaknya yang merupakan bangunan seadanya dekat garase juga seperti bersimpuh. Sunyi. Kompleks perumahan itu senyap, gelap seperti Jalur Gaza sehabis dibombardir musuhnya Israel selama sebulan lebih. Zainal menembus hujan yang mulai lebat menuju lingkar jalan Padang bypass yang berada di ketinggian 20 meter dari permukaan laut, sekitar lima kilo dari rumahnya. Pada gempa agak besar sebelumnya, September, awal Ramadhan 2007, Zainal dan keluarga serta orang-orang yang tinggal di pinggir laut pada mengungsi ke sana. Jadi, tak ada pilihan lain untuk mencari keluarganya selain menuju ke sana. Lalu lintas telah sepi dari kemacetan yang tak berampun, melintasi kota mati. Tak sampai lima menit, Zainal sampai ke tujuan. Memang benar, di sepanjang kedua sisi jalan Padang bypass, berjejeran tenda-tenda seadanya dan rumah-rumah rusak penduduk di sekitar itu penuh orang di halaman. Zainal menyusuri pinggir jalan itu berjalan kaki di bawah siraman hujan karena tidak mungkin mencari keluarganya dengan berkendara mobil. “Pak Jainal, kami di sini,” sorak suara yang cukup dikenalnya dari sebuah warung pinggir jalan. Teryata suara itu adalah suara istri Sudi. Suara istri tetangganya. Yang paling penting, di situ ada istri dan kedua putri serta kedua cucunya. Selamat. Bertumpuk-tumpuk di ruang yang sempit, di warung yang reyot. Zainal menangis. Istrinya tergugu. Kedua putrinya dan kedua cucunya memeluk Zainal. Mereka bertangisan. “Kami diselamatkan saudara Pak Sudi yang kebetulan datang membawa mobil,” kata putri sulungnya, Tika. “Terima kasih Bu Sudi. Mana Pak Sudi?” “Kita selamat, Pak. Kita selamat. Puji Tuhan. Tapi, suamiku belum nyampe-nyampe juga di sini. Tolong Pak, carikan dia.” “Memangnya ke mana dia? Kok belum nongol di sini?” “Itulah yang aku khawatirkan. Tadinya ia akan menyusul pakai motor. Sampai sekarang...,” istri Sudi tak dapat meneruskan kata-katanya karena sesenggukan menangis. Tiga orang putri Sudi tersedu, berpelukan. Zainal mengusap kepala Tiurma, putri Sudi. “Sabar, Bu. Sabarlah Tiur. Saya cari dia. Ibu tenang-tenang saja di sini.” “Sekarang, Bapak.” “Sekarang!”

* Hujan masih, bensin semakin menipis, pelahan-lahan Zainal kembali malam itu pulang ke perumahan Rayuan Pulau Kelapa Permai. Ia menyesal, mengapa tidak disempatkannya masuk ke rumah Sudi tadi sore. Tapi memang, sebelumnya Zainal ingin berkelahi dengannya. Sekarang, jika ia menemukan Sudi malam ini, ia akan merangkulnya. Kalau perlu menciumnya karena telah menyelamatkan keluarga Zainal melalui pertolongan saudaranya. “Tuhan, di mana Engkau? Tolong aku!” teriak batinnya di perjalanan menuju rumahnya dan rumah tetangganya yang berhati mulia itu. Dengan debaran di dada, di kesunyian yang gulita, Zainal menghidupkan lampu mobilnya, menyoroti teras rumah Sudi. Atap beton teras depan rumah itu telah rubuh sebelah, membentuk diagonal. Sekilas, dilihatnya kepala Sudi, menjulur di ujung balok beton yang rubuh, persis menindih pinggangnya. Sudi tertelungkup di atas sepedamotornya yang kelihatan remuk. Tengkuk Sudi masih terasa panas. Terasa denyut nadinya. Ia mengerang. Zainal mencoba mengangkat balok itu. Tak sedikitpun bergeser. Di raba-rabanya tubuh Sudi di sela himpitan beton itu. Tangan Zainal menyentuh darah. Melalui cahaya senter kecil, terlihat darah kental menggenang hingga ke dada dan terus ke pipi Sudi yang tercecah ke lantai. “Bertahanlah Sudi. Aku datang. Tunggu di sini. Aku cari pertolongan,” ujar Zainal penuh rasa sesal. Ia menyesal, mengapa tidak mengajak beberapa orang. Kini, kompleks perumahan itu kosong. Hanya suitan angin laut yang tajam menusuk. Zainal bagaikan melakukan ritual Safa-Marwa, mencari pertolongan dalam gelap. Tak ada sahutan. Kembali lagi setelah lebih setengah jam tanpa dapat pertolongan. Sudah hampir pukul 10 malam di arloji Zainal. Ia sempoyongan, kakinya serasa hendak lepas, mencoba mengungkit sendiri balok beton itu. Tak berhasil juga. Tak ada lagi erangan Sudi. Tubuhnya telah dingin. Pipinya tercecah ke lantai teras yang digenangi darah. Zainal merasa tertekan beban seperti Hutabakau tertindih balok beton. Apa kata yang akan dikatakannya pada istri Sudi nanti? Ia berteriak sejadinya. Tak ada yang mendengar.*** Padang, 20 Oktober 2009 (Catatan sejarah Gempa Padang untuk Kamel, Arsyan, dan Affan)

Harris Effendi Thahar, guru besar Universitas Negeri Padang. Menulis cerita pendek, puisi, esai. Harian Kompas menggelarinya doktor cerpen.

FILM

“Di Bawah Lindungan Ka'bah” Cerkan Ta'limi, Imajinasi Berakidah

Skh. Haluan menurunkan novel “Di Bawah Lindungan Ka'bah” sebagai cerbung setiap hari mulai selasa ini, patut diberi apresiasi. Setidaknya ada tiga hal yang paling mendasar. Pertama penting bagi penikmat sastra di kalangan muda. Fakta ilmiah, Tim Universitas Insaniah Kedah kerjasama Puslit IAIN Imam Bonjol, meneliti Hamka 2010, ditemukan anak muda Malaysia dan Indonesia nyaris tak kenal lagi Hamka sebagai seorang sastrawan, karena di sekolah tidak muncul lagi ada kajian karya sastranya, guru dan pelajaran bahasa Indonesia tidak berpihak lagi kepada sastra lama, Bahasa Indonesia hanya untuk UN saja. Kedua penting bagi sastrawan muda. Secara faktual dewasa ini, hampir karya sastra termasuk yang disinetronkan di tv terkesan tidak at home di negeri sendiri, konflik panjang-panjang menghilangkan kesan natural dan tak berakar pada budaya sebagai roh dan identitas bangsa sendiri. Ketiga, penting bagi ulama sekarang. Hamka sebagai seorang ulama memandang sastra, sangat intens dan fenomenal. Beda dengan ulama sekarang nyaris meninggalkan sastra dan dunia imajinasi, padahal sastra tak lepas dari kehidupan umat dan sering menyulut akidah. Hamka seperti juga ulama

legendaries Minangkabau sampai abad ke20, justru mereka sudah menciptakan tradisi menulis sastra sekaligus menemukan sistem sastra klasik meminjam istilah Braginsky (1998) sebagai sistem antropomorfik untuk membentuk manusia menjadi makhluk rohani. Hamka dengan novelnya ”Di Bawah Lindungan Ka'bah” mengesankan betapa seorang ulama mentradisikan menulis sastra untuk mengikat kuat pertalian imajinasi dengan akidah dan membuat orang punya nurani, halus dan santun. Sepertinya tidak mau terulang fenomena Panjikusmin dalam berimajinasi menyulut akidah dan membuat heboh umat. Hamka dalam novel agungnya ini dan sudah difilmkam, mampu mempertautkan imajinasi dengan basis akidah yang kuat, tanpa disadari novel ditulisnya untuk aghradh (misi tema) meminjam istilah Emil Ya'qub (1987) sebagai al-adab al-ta'limiy (sastra didaktik) mentransformasikan fakta pengetahuan empiris dengan teknik bersastra dan ”ta'lim” (pengajaran) serta karakter prilaku akhlak Islam yang kukuh akidah dan syari'ahnya. Kepiawaian Hamka dalam menjalin unsur sasta Islami: pengajaran yang indah, hikmah dan irsyadah (panduan ke jalan yang benar) plus unsur estetika,

erotika yang tidak terlepas dari kontrol etika, tidak kurang membuat cerita dua kekasih Hamid – Zainab ini dapat yuhadhid sami' (membuai penikmat sastra), terempati, hanyut berlinang air mata dalam alur cerita. Pasalnya Hamka pandai benar menceritakan bagaimana Hamid – Zainab terhalang menyatukan kasihnya bukan karena norm adat, tetapi terkekang prilaku orang/ mamak minang dalam sistem penjodohan. Zainab sakit-sakitan menahan rindu sampai mati dalam pingitan. Hamid sedih dan sakit, karena sayup, kekasihnya duluan wafat, saat ia sudah bertekad dari Mekah pulang menemui kekasihnya ini. Konvensasi Hamid teguh pada sikap muslimnya menyempurnakan ibadah haji di Baitullah. Namun juga tak tercapai oleh nafasnya, sehabis wuquf di Arafah besama temannya Saleh suami dari Rosna teman akrab Zainab, menjelang ke Mina ia terjatuh, digendong seorang Badui ke Ka'bah. Dalam lidahnya bermunajat kepada Allah yang maha pengasih maha penyayang, suaranya tertelan, ia wafat saat memegang kain kiswah penutup ka'bah. Novel ini imajinatif antara dimensi cinta – prilaku tokoh adat – akidah, yang mengajarkan berimajinasi perlu kuat akidah dalam prilaku.Saga1 /September 2012

45


Seni

SAJAK

Muhammad Nasir

Emral Jamal Dt. Rajo Mudo

Tan: Sebuah Episode Kelahiran

Kuli dan Sutra Antara, kasih dan sayang, garak dan garik, detak dan denting, resah dan risihNya kutenun sulaman sutra kulindan sumur tua suara orang-orang taqwa corak sebuah tatakala jiwa dalam ukur jangka patut dan mungkinnya, kata mengata kehidupan jiwa kostum budaya, berbusana.

Rumah gadang tempat lahir dan jelang menjelang jadi museum persembahan dan kebanggaan surau di tengah sawah tempat azan dikumandangkan jadi rumpun ilalang dan pematang panjang rumah gadang dan surau di tengah sawah episode kelahiran anak lembah suliki di lihat di masa sekarang Tan, rumah gadang dan surau di tengah sawah di mana saga ijuk rumah gadang; di mana pula surau tempat bang dan dikie tempat ranah dan rantau bermula

Namun, fatamorgana menggelapi batas nyata langit dan bumi di kebingaran negeri ini, antara sosok pribadi dengan sok manusiawi sasok jerami, dengan sosok pertiwi, sasok Tuhan, dengan Tuhan yang disok-sokkan. Lalu, kubiarkan hari berlalu sudah kubiarkan kata mengalir resah kubiarkan diri bersimbah gerah kubiarkan zaman menjarah punah namun ketika, kerisihanku menjalang diri kulindan sutra ini menyulam kata sendiri. Tuhanpun menolong seketika daratan terhampar sediakala bagaikan pulau telur berbukit-bukit emas renjana menghias cakrawala, hasanah dunia titian utama menuju akhirNya kutegakkan timbangan batu katian guna penguji akal budi dan rasa

2011 Muhammad Nasir

Lelaki yang Membawa Hujan ke Perantauan

di sasaran ini, tindak laku dan perbuatan mengurak langkah demi langkah hari mengurai masa demi masa, kata demi kata bakti sembahan bagiNya

ironi kampung dan perantauankita menyebutnya persemendaan meski sebenarnya perantauan mari kita melihat kabut di puncak bukit tempat kampung di baliknya kerap membuat perapian di sana anak lelaki kita yang dijemput untuk sumando menuahkan ikan, jawi jantan dalam juadah persembahan adat apalagi yang mesti dipersengketakan jika petuah-petuah sudah dimanterakan selepas arak penjemputan kita, di sini atau di balik bukit menurut orang sana hanya dapat melihat asap yang kadang disebut kabut kenapa pula semenjak hujan turun kita menuding awan padahal lelaki itulah yang membawa hujan ke perantauan

Nyata. 2007

Emral Jamal Dt. Rajo Mudo

Emral Jamal Dt. Rajo Mudo

magistraindonesia18/01/2010

Muhammad Nasir Kelahiran 1977, lebih senang disebut sebagai penikmat sastra, pemilik blog http://rasakatahati.blogspot.com dan http://nasirsalo.blogspot.com. Bergiat di Majelis Sinergi Islam dan Tradisi Indonesia (Magistra Indonesia) Padang. Nominator Lomba Cerpen kerjasama Creative Writing Institute (CWI) 2006 yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga.

46

/September 2012

Lahir 22 Maret 1944 di Koto Berapak, Bayang, Pesisir Selatan. Jebolan FMIPA Universitas Andalas ini menulis puisi dan aktif berteater. Kumpulan puisi berduanya “Rindu dan Bayang Bayang Putih� (bersama almarhum A. Chaniago Hr, 1992), dan kumpulan tunggalnya “LayangLayang Darek� diterbitkan Dewan Kesenian Sumatra Barat tahun 1997. Emral juga pernah menjadi pengurus IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) Pengurus Daerah Sumatera Barat, Dewan Kesenian Padang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat. Sebagai peneliti, pengamat, wasit/juri dan pelaku silat, anak sulung dari sepuluh bersaudara ini mendirikan sebuah perguruan pencak silat Salimbado.

Air Nur Seperti Nur Air kehidupan yang panjang kepadanya segala tindak kegiatan mengurak langkah diri membasuh daki membilas hati sendiri di kerapuhan hari. hikmahnya para Wali di tanah asal negeri ini mengalir sendiri ketika kudapatkan air pelepas dahaga di tepian tempat bercengkerama taman permedanan bangsa penyubur wacana Ia membubung terus ke atas ke puncak yang selalu bertambah tinggi atau, terjun ke kedalaman telaga di bawah gunung ini aku kehilangan cangkirNya hikmahnya para Wali tetesan langit tinggi Sang Pemberi Kilauan Abadi akhirnya, kuangkat lidah kuteguk resah 2006

/September 2012

47


Seni

CERITA ANAK NAGARI

Oleh Arjuna Nusantara

48

/September 2012

/September 2012

49


FOTOGRAFI

Foto dan Teks: Fatris M

Seni

Ritual bagi anak sasian (murid baru). Anak sasian adalah satu dari ritual untuk masuk sebuah perguruan silat tradisi Kumango.�

KEPALA T

BUAT SANG GURU piring yang dialas kain batik ditambah sebilah belati yang

silat Singo Barantai yang tak begitu jauh dari rumahnya di

tersarung . Dan tak lupa: seekor ayam jantan yang masih muda.

Lubuk Lintah Padang. Di tempat itu ia dipanggil guru oleh

Semuanya telah dipersiapkan, semuanya syarat masuk

anak-anak muda yang belajar silat dan kesenian tradisi. Malam

perguruan telah ada di sisi lelaki muda itu. Gerimis yang turun

itu adalah malam dimana ritual bagi anak sasian (murid baru).

malam itu membuat udara kian lembab. Setelah kemenyan

Anak sasian adalah satu dari ritual untuk masuk sebuah perguruan

dibakar, dan Sang Guru memeriksa 'bawaan� dari si murid,

silat tradisi Kumango.

Foto dan Teks: Fatris M

beras, buah pinang, gambir). Siriah langkok ditata di atas

elah lewat Isya, Syamsuir mendatangi sasaran perguruan

Seorang remaja tiga belas tahun telah sedari tadi menunggu,

murid lainnya yang telah lama belajar silat di perguruan itu berdiri bersisian di belakang sang guru untuk menyaksikan

duduk di antara beberapa murid yang berpakaian hitam dan

ritual. Hingga ayam disemblih dan si murid diajarkan menitah

destar. Di depannya telah disiapkan beberapa helai daun sirih,

langkah di tanah yang berbaur darah. Hingga malam kian larut,

sadah, butir pinang yang masih hijau, beras, gambir, setumpuk

dan akhirnya sang Guru menerima kepala dari ayam yang

kecilkemenyan, yang kesemuanya disebut siriah langkok

disemblih. “Kepala adalah cerminan,� katanya setelah

(susunan beberapa lembar daun sirih,

memeriksa kepala ayam tersebut.

/September 2012

51


SENI Opini OPINI

MAJALAH MINANGKABAU DITERBITKAN (KEMBALI) Oleh H. Sutan Zaili Asril (Wartawan Senior) Reproduksi dari Rubrikasi Cucu Magek Dirih Padang Ekspres, Minggu, 12 Agustus 2012

ADALAH bos Rida K. Liamsi selalu menggugah dan mendorong Cucu Magek Dirih untuk mengakses dan memfasilitasi pemikiran dari kalangan intelektual, cendekiawan, dan ulama di Sumatera Barat. Hal itu, bagi Cucu Magek Dirih, sesungguhnya adalah kesan positif dan apresiasinya terhadap Provinsi Sumatera Barat — termasuk peran kesejarahan ketokohan dari ulama/intelektual/cendekiawan/bu dayawan/seniman dari Ranah Minangkabau yang berkembang dan bahkan menyebar ke Nusantara sehingga pemikiran dan keulamaan serta karya sastra dari putra terbaik daerah ini mewarnai pentas Nusantara. Kesan baik dan apresiasi dari Rida K. Liamsi yang secara geografi muncul dari kasihan ombak kepulauan Lingga dan berkembang di bumi Tanjungpinang yang pernah menjadi pusat mobilitas perdagangan yang amat sibuk dan kemudian menjadi pusat pemerintahah ketika berdiri keresidenan Riau atau “kerajaan Melayu” kontemporer.

52

/September 2012

Semangat dan dorongan dari Rida K. Liamsi itu, dalam pemahaman Cucu Magek Dirih, sesungguhnya sudah menjadi romantisme dan masa lalu. Sebab, dalam kenyataannya sudah pupus, dan upaya untuk kembali mewujudkannya dapat dikatakan sebuah utopia? Kesan yang ada di kalangan dalam (ranah Minang) sendiri adalah bentuk beronani. Memuji masa lalu tentang kehebatan tokoh/ulama/cendekiawan/budayawan/seniman sampai tidak tersisa energi melangkah ke depan dan atau karena ketidakberdayaan dan atau ketidakmampuan dan atau karena memang tidak punya apa-apa lagi untuk ditunjukkan!? Sama sekali tidak terlihat ada kecenderungan dan perkembangan–bahkan dari lingkungan kampus/perguruan tinggi. Meneliti dan menulis buku pula tidak muncul apa pula akan bergairah. University Pres beberapa kampus seperti Universitas Andalan/Universitas Negeri (sebelumnya Institut Keguruan dan Ilmu Kependidikan/IKIP—CMD)/Institut Agama Islam Negeri/IAIN Imam Bonjol, misalnya, tidak muncul/berkembang menjadi pusat tradisi ilmiah yang signifikan apalagi dalam percaturan nasional. Banyak lulusan pasca dan profesor hanya bisa menjadi guru di depan kelas mahasiswa. Kendati pun demikian, semangat dari Rida K. Liamsi tersebut membuat Cucu Magek Dirih malu. Ia bukan tidak tahu realitas obyektif/kondisi/perkembangan yang menjadi kerisauan/kegelisahan Cucu Magek Dirih tersebut, sebab ia sesungguhnya berbicara sebagai sahabat sesama wartawan — Cucu Magek Dirih pernah bertugas sebagai wartawan/koresponden Kompas

Jakarta di provinsi Riau (pada masa sebelum Riau dibelah menjadi dua provinsi) selama empat tahun. Dalam dimensi lain, Rida juga memunculkan diri sebagai pimpinan Riau Pos Group (RPG/Jawa Pos Group JPG) untuk wilayah Sumatera bagian utara. Bukankah ada Harian Pagi Padang Ekspres yang bagi Rida K. Liamsi juga sebagai kampus bagi ikut serta mewujudkan Sumatera Barat kontemporer yang mengacu pada peran kesejarahannya di masa lalu. “Apa lagi, Zai, untuk Sumatera Barat, menurut Aku, yang pemikiranlah. Aku kira, engkau bisa melakukannya. Kalau di Riau, aku pilihan kesenian/kebudyaan atau sastera (Riau Pos, melalui Yayasan Sagang, memberikan penghargaan tahunan bernama Anugerah Sagang—CMD).” Begitulah, dalam membangun Harian Pagi Padang Ekspres pada periode satu/awal, Cucu Magek Dirih juga sekaligus dibelit kegelisahan yang ditularkan pimpinannya, Rida K. Liamsi, untuk ikut menggugah/berperan melakukan apa saja yang mungkin untuk menggairahkan pemikiran di Sumatera Barat — termasuk memfasilitasi dan menjadi outlet pemikiran. Karena sumberdya manusia (SDM) Padang Ekspres baru dalam tahap dibangun/dibentuk — kecuali beberapa tenaga dari redaksi yang secara relatif sudah dapat memainkan peran teknis keredaksian dan sebagian besar tenaga redaksi juga generasi yang sedang dibangun/dibentuk, maka formula pengembangan peran mendorong intelektualitas di Sumatera Barat dilakukan sendiri oleh Cucu Magek Dirih. Di antara yang dilakukan (atas izin/dukungan Rida K. Liamsi) Cucu Magek Dirih adalah berkegiatan sendiri/bekerja sama dengan berbagai pihak lainnya. menyelengarakan panel/diskusi, mendirikan Yayasan Alam Takambang Jadi Guru, dan menerbitkan majalah semi analisis bulanan SAGA — setidaknya akan ganti majalah semi analisis bulanan Madani yang diterbitkan Cucu Magek Dirih di Pekanbaru.

Menerbitkan sebuah majalah semi analisis bulaan SAGA — sayang hanya sampai edisi keempat — di atas berbagai keterbatasan dan kesulitan, terutama karena investor Cucu Magek Dirih sendiri yang kemampuannya masih tersedot membangun/mengembangkan Harian Pagi Padang Ekspres. Penerbitan majalah semi analisis bulanan yang mendapat dukungan bergairah dari kalangan tokoh/ulama/intelektual/cendekiawan/budayawan Sumatera Barat di Ranah dan di rantau itu terpaksa dihentikan dulu. Kendati pun demikian, majalah semianalisis SAGA sudah sampai menampilkan pilihan bentuk konsep isi dan proses pengumpulan muatan — termasuk menyelenggarakan dua panel ahli kecil yang materinya ditranskrip dan para panelisnya diperkenalkan minimal sebagai tokoh/peristiwa dengan foto kepala serta ulasan panel oleh salah seorang tenaga redaksi yang berkemampuan. Panel kecil yang sama dilakukan untuk kalangan intelektual muda yang di antaranya menampilkan para aktivis kampus/pengurus badan eksekutif mahasiswa. Selengkapnya, secara idealistik, konsep isi majalah seminalisis SAGA antara lain adalah perhatian terhadap adat/budaya/filosofi Minangkabau dan nagari, perhatian terhadap penyelenggaraan otonomi daearah (provinsi, kabupaten/kota, dan nagari) dalam berbagai aspek dan sektor, perhatian terhadap perkembangan pendidikan — termasuk pelaksanaan penelitian dan percikan pemikiran dari kaum intelektual di perguruan tinggi, perhatian terhadap kebudayaan/kesenian kreatif dalam berbagai bentuk, perhatian terhadap beberapa pilihan peristiwa luar negeri atau menulis tentang satu negara atau bangsa/bagian dari satu negara atau bangsa, perhatian terhadap ketokohan dengan pemikirannya atau intelektual dengan bukubuku yang ditulisnya, dan menjadi outlet atau majalah SAGA akan memuat tulisan/kolom dari tokoh/ulama/intelektual/cendekiawan untuk menuliskan pemikirannnya, dan muatan lainnya yang diperhitungkan melengkapi isimajalah. Setelah beberapa tahun “tertidur”, majalah semi analisis SAGA diterbitkan kembali dengan lokomotif Yulizal Yunus dengan beberapa kawan (ada beberapa dosen, dosen muda, dan para penulis) — Cucu Magek Dirih lebih sebagai “investor” dan secara formal menjadi pimpinan umum. Yang menjadi penerbit dari majalah tetap PT Minang Alammedia Nusantara.

Yulizal Yunus adalah aktivis pers kampus yang di antaranya memimpin penerbitan surat kabar kampus Suara Kampus yang pernah berubah menjadi majalah akademik kampus. Ia pernah jadi Dekan Fakultas Adab dan Kepala Pusat Penelitian (Puslit) IAIN Imam Bonjol Padang. Lebih dari itu, sejak mahasiswa ia adalah seorang penulis sampai sekarang. Tulisanya dimuat di penerbitan lokal dan nasional. Untuk penerbitan (kembali) majalah semi analisis bulanan SAGA, ia pula mengusulkan memberikan label “majalah Minangkabau” dan dengan konsep isi tetap sebagai majalah semi analisis bulanan. Mungkin perlu kembali disegarkan, nama saga untuk majalah semi analisis bulanan yang pertama kali akan diterbitkan diusulkan oleh Prof. Dr. H. Syafruddin Karimi MA — ia sendiri mengelola sebuah institut bersama SAGA dan ia rela kata saga untuk digunakan majalah yang akan diterbitkan. Gelar akan menerbitkan sebuah majalah semi analisis itu dilakukan, dihadiri sekitar 60-an tokoh/ulama/intelektual/cendekiawan. Mereka yang hadir dalam pertemuan tersebut bersemangat/bergairah/mendorong Yayasan Alam Takambang Jadi Guru (ATJG) berusaha menerbitkan majalah semi analisis dimaksud. Sebagian mereka menyebut majalah Al-Manar yang diterbitkan Dr. Abulllah Ahmad dkk. yang antara lain pula dicatat sebagai ikut serta menyemangati pembaharuan pemikiran (Islam) di Tanah Air atau Nusantara.Kata saga dalam kosakata Minangkabau adalah nama dari pohon dan atau sebuah buah berbentuk seperti buah jengkol yang masih berkulit yang berukuran sangat kecil dan berwarna merah. Karena itu, nama saga digunakan sebagai sampiran dalam mamang: nan kuriak kundi/nan merah sago yang dilanjutkan dengan isi mamang nan baiak adolah budi/nan indah aolah baso. Dalam kamus Inggeris-Indonesia (An English Indonesia Sictionary) John M. Echols dan Hassan Shadily, kata saga yang berarti hikayat/kisah keberanian, sagacious(kata sifat) berarti bijaksana/cerdas/cerik, dan sagacity (kata bentukan) berarti kecerdasan,kecerdidikan, dan kebjaksanaan. Jadi, pimilihan kata saga dalam perspektif Minangkabau dalam konotasi keindahan dan dalam perspektif kosakata Inggris yang lebih kaya aspek/dimensi (bijaksana, cerdas, dan cerdik). Selain secara teknis, bagi Cucu Magek Dirih — akhirnya, menerbitkan (kembali) majalah semi analisis SAGA juga lebih daam perspektif rohaniah. Kesatu, karena semangat dan dorongan dari Rida K. Liamsi yang dalam perasaan Cucu Magek Dirih lebih memiliki perhatian terhadap

perkembangan/pengembangan pemikiran di daerah Sumatera Barat. Kedua, Cucu Magek Dirih sendiri mengidap perasaan/dorongan ingin memberikan kontribusi kepada masyarakat Sumatera Barat dengan pilihan wilayah perkembangan/pengembangan pemikiran. Banyak hal yang menjadi perhatian dari Cucu Magek Dirih kemungkinan dapat diujudkan melalui tim kerja majalah semianalisis SAGA tersebut. Kalau keberadaan/peranan Cucu Magek Dirih di Padang Ekspres Group (Harian Pagi Padang Ekspres, koran Posmetro Padang, Harian Umum Rakyat Sumbar, Padang-TV, TriargaTV, Dharmasraya TV, lalu Padang Today/tabloid Offline/majalah SAGA yang masih dalam incubasi Cucu Magek Dirih, serta ada sejumlah perusahaan lainnya: percetakan, event organizer, dan beberapa peruahaan lainnya). Insya Allah, kerja baik dari tim kerja penerbitan (kembali) majalah semianalisis bulanan SAGA dapat diterima baik masyarakat. Selain dalam edisi cetak, majalah semianalisis bulanan SAGA akan muncul dalam edisi elektronik di Padang Today sehingga keterbatasan edisi cetak dapat dilengkapi oleh edisi online/epaper — pada akhirnya juga akan beredar edisi cetak di Rantau.***

/September 2012

53


Opini

Seribu Wajah Pakiah Oleh Muhammad Nasir Peneliti di Magistra Indonesia

Ketek banamo gadang bagala, begitu kata orang Minangkabau. Si Fulan yang sudah dewasa kelak diberi gelar Pakiah, begitu pulalah adatnya. Pakiah adalah persona Minangkabau yang terkait dengan jabatan keagamaan. Secara langsung ia menjadi gelar bagi elit keagamaan. Periksalah ke kampungkampung Minangkabau yang menerapkan pemberian gelar bagi pria dewasa di antara mereka, terutama bagi yang telah berumah tangga, pasti ditemukan banyak gelar pakiah. Gozali Saydam dalam Kamus Bahasa Minang (2004:272) juga memuat tema Pakiah. Pakiah menurutnya adalah nomina yang berarti fakir: orang yang selalu berkekurangan. Ia mencontohkan, Tiok ari Juma'aik pakiah tu manjapuik bareh kamari (Tiap hari Jumat, fakir itu menjemput beras ke sini). Co pakiah di ateh bendi (Bagai fakir di atas bendi). Saya berpendapat, kalau lema ini dimuat juga, sebaiknya harus menghilangkan huruf (h) di akhirnya. Pakia = Fakir. Entahlah kalau ini terkait dengan dialek/lahjah si penutur kata. Fakir dalam terma Arab justru bermakna lain. Fakir secara bahasa berarti orang yang berhajat atau orang yang tak berharta, serba berkekurangan. Dalam istilah fikih, fakir berarti orang yang mempunyai harta namun tak mencapai satu nisab. Jadi ia tak dikenai wajib zakat. Ada lagi yang memuat kata Pakiah yang merupakan berasal dari kata Faqih (Arab). Faqih terkait dengan kata Fiqh/ Fikih (Indonesia), yang secara bahasa berarti tahu atau paham. Fiqh terutama dalam definisi ahli hukum Islam (fuqaha) juga dikenal sebagai ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara'. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pakiah itu adalah orang yang mengetahui hukum syara' yang menjadi ojek ilmu fikih. Pakiah tentu harus tahu hukum syara' mengenai perbuatan manusia mukallaf, tahu yang wajib, sunnat, haram, halal, makruh, mubah, sah, batal dan sebagainya. Dengan demikian, Pakiah adalah sosok yang punya banyak wajah di Minangkabau. Namun, yang paling dikenal adalah istilah Pakiah yang terkait gelar yang berkelindan dengan nuansa keagamaan, yaitu Pakiah yang berkonotasi Faqih. Jadi pakiah jenis inilah yang akan dibahas. Standar Kompetensi Pakiah Ada ratusan bahkan ribuan orang bergelar Pakiah di Minangkabau. Namun nyaris tak ada tokoh besar Minangkabau yang terkenal dengan gelar Pakiah-nya. Entahlah, kalau kita periksa lagi baik-baik

54

/September 2012

gelar adat yang disandang oleh tokoh-tokoh kita itu. Barangkali saja ada yang menyembunyikan gelar Pakiah di balik gelar Profesor, Doktor, Insinyur, Doktorandus, S.Ag dan sebagainya. Setelah ditanya-tanya, ternyata gelar Pakiah itu memang cendrung berkonotasi agama, setara dengan gelar Kati, Malin dan Labai. Ia diberi gelar pakiah karena sedikit banyaknya paham dengan hukum-hukum syara'. Tetapi dalam prakteknya, tidak sedikit juga di antara Pakiah itu yang berperangai jauh dari kompetensi KePakiah-an. Ada juga Pakiah yang tak tahu mengaji, tak dapat berdoa, tak sigap berpituah (berfatwa). Ada yang dapat dipahami dan ada yang patut dikaji ulang dibalik fenomena Pakiah ini. Yang dapat dipahami misalnya, seseorang diberi gelar Pakiah karena ia pernah sekolah agama. Tak peduli sedikit atau banyak ilmunya, namun garis pakiah telah tertulis di telapak tangannya. Selain itu, pakiah juga terkait dengan ketersediaan sumberdaya. Meski seseorang tak tamat mengaji namun dapat memimpin sepatah dua patah do'a, iapun sessaat setelah berbini layak mendapat gelar Pakiah. Di balik itu ada juga Pakiah sabana Pakiah. Ilmu, perangai dan amaliahnya terintegrasi secara utuh. Tentu saja ini tak perlu dipermasalahkan, karena kata orang Minangkabau “bak jangguik pulang ka daguak�. Namun yang akan dipersoalkan, alangkah malangnya nasib Pakiah di Minangkabau. Coba Simak! Seorang remaja tanggung datang ke rumah-rumah membawa buntia bareh (karung beras). Ba'da salam, tergopoh-gopoh tuan rumah mengantar setekong beras untuk remaja tersebut. Bahkan tak jarang tuan rumah tak kalah sigapnya mengucapkan kata “maaf dulu kiah..!� menjawab salam remaja tersebut. Remaja tersebut sering disebut sebagai Pakiah. Upayanya tersebut disebut mamakiah. Berdasarkan cerita seorang mantan Pakiah, tak jarang Pakiah ini kelak menjadi orang besar yang kelak disebut Tuangku. Yang patut dikaji ulang antara lain bagaimana seharusnya posisi Pakiah dalam konstelasi kepemimpinan adat berbasis agama Minangkabau. Pakiah jika ia berasal dari kata Faqih semestinya didudukkan dalam posisinya yang tepat. Pakiah sekarang ini benar-benar malang nasibnya

dihantam besarnya apresiasi terhadap Tuanku/Tuangku. Banyak elit agama Minangkabau yang terkenal dalam sejarah bergelar Tuanku. Sebut saja Tuanku Nan Renceh, Tuanku Tuo, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Kuniang dan para Tuanku lainnya. Padahal gelar tersebut tak sedikitpun terkait dengan kata Arab. Konon dalam pemahaman keagamaan masyarakat Minangkabau saat ini, semakin Arab istilahnya semakin dekat dengan ketakwaan. Sampai-sampai generasi muda Minangkabau hari ini merasa wajib memanggil saudaranya/ temannya dengan akhi atau ukhti. Begitu pula dengan sebutan terhadap ahli agama. Panggilan ustadz dirasa lebih afdhal dari panggilan buya atau pakiah. Memang ada perbedaan status sosial antara Pakiah dengan Tuanku. Pakiah setiap saat bisa naik pangkat jadi Tuanku. Namun jarang terjadi seorang Tuanku diturunkan pangkat dan gelarnya menjadi Pakiah. Pakiah hanyalah gelar orang Minangkabau. Lain halnya dengan Tuanku yang meskipun hanya gelar, tetapi terkait dengan jabatan dan kepangkatan dalam kepemimpinan adat. Oleh sebab itu, menaikkan gelar Pakiah ke dalam daftar jabatan dan kepangkatan kepemimpinan adat Minagkabau memang terasa mengadaada. Namun patut juga mempertimbangkan asas kompetensi dalam melekatkan gelar Pakiah kepada seseorang. Dalam upaya menegakkan semangat Adat Basandi Syara', Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), tak ada salahnya melakukan perbaikan kompetensi personal penyandang gelar adat di Minangkabau. Tujuannya agar kualitas manusia Minangkabau semakin baik, terutama dalam mengurus hal-hal yang terkait dengan urusan agama dalam keluarga. Kalau ada pintak ka buliah, kandak ka balaku, hendaknya gelar Pakiah benarbenar diberikan kepada orang yang tahu hukum syara' mengenai perbuatan manusia mukallaf, tahu yang wajib, sunnat, haram, halal, makruh, mubah, sah, batal dan sebagainya. Kalau tak ada, tak usah dilekatkan pula gelar pakiah kepada anak kemenakan kita.

/September 2012

55


SENI Saga Khusus

Penyelamatan Tanah Ulayat PengalamanTalu

Inginnya sejengkal tanah ulayat pun tak boleh lepas dari pemangkunya di Talu

Banyak kasus terjadi di Minang. Tanah ulayat pasca HGU dikuasai negara, rakyat gigit jari tidak ada kekuatan lagi. Sialnya tanah ulayat itu dibagi-bagi pula kepada/ oleh oknum pejabat negara. Rakyat pemiliknya melihat tak berdaya, dengan mata berkaca, pasrah hanya bisa melihat tanahnya dibagibagikan kepada orang.

T

uanku Bosa XIV pucuak adat/ Ketua KAN Talu senantiasa berfikir keras menyelamatkan tanah ulayat. Inginnya sejengkal tanah ulayat pun tak boleh lepas dari pemangkunya di Talu. Ia membuat sistem penggunaannya. Pucuk adat Talu ini ingin memanfaatkan ulayat raja menjadi aset peningkatan kesejahteraan Talu. Untuk meningkatkan k e s e j a h t e r a a n Ta l u d i m u l a i d a r i pemberdayaan pemangku adat dan kesejahteraan mereka (Datuk dan Penghulu). Ia membuka kawasan Tobek Gadang dengan dua danau menjadi kawasan pengembangan ekonomi dan agroturism, membuka kebun gaharu ninik mamak diresmikan bersamaan dengan peresmian Rumah Gadang Talu di Kampung Kotodalam Talu, 23 Juni 2012 dihadiri raja-raja dan sultan-sultan se Nusantara. Selain pembukaan secara langsung kawasan dan kebun gaharu ninik mamak, Tuanku Bosa membuat sistem pengalihan hak pakai atas tanah ulayat di Talu. Ia sadar benar, tanah ulayat milik komunal tidak dapat dijual dan digadaikan, tetapi harus didayagunakan untuk kemaslahatan anak nagari. Kalau harus dilepas hak atas tanah ulayat, hanya terbatas, dimungkinkan untuk kepentingan dan kemaslahatan anak nagari. a. Ancaman terhadap tanah ulayat Fadlan Maalip Tuanku Bosa XIV sebagai salah seorang pengurus inti LKAAM Sumatera Barat sadar benar, tanah ulayat di Minangkabau ini pernah dalam banyak kasus menghadapi ancaman. Fenomena ancaman ini sudah terkesan sejak diberlakukan UndangUndang No. 5/1960 tentang UUPA. Kamardi Rais Dt. P.Simulie (alm) ketika itu Ketua Umum LKAAM di tingkat Provinsi Sumatera Barat dalam banyak event dan forum sering mengemukakan kritik terhadap UU N0. 5 Tahun 1960 ini, yang pada intinya pemerintahan pusat harus merevisinya. Alasannya banyak fasal-fasalnya

56

/September 2012

bertentangan dengan hukum kepemilikan tanah di Minangkabau. Di antara yang merugikan hukum kepemilikan tanah ulayat di Minangkabau adalah fasal 28 UU N0. 5 Tahun 1960 tentang UUPA mengenai HGU (Hak Guna Usaha). Ditegaskan adanya hak mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara guna keperluan pertanian, perikanan dan peternakan dengan luas menimal 5 Ha. HGU, dapat menjadikan jaminan hutang guna memperoleh modal perusahaan para investor.

Perda No.6/ 2008 ini mengukuhkan asas utama tanah ulayat bersifat tetap berdasarkan filosofi adapt Minangkabau seperti dalam norma adapt tadi: jua ndak dimakan beli dan gadai ndak dimakan sando. Berarti Perda ini berpihak kepada ninik mamak yang hendak mengukuhkan dan memelihara tanah ulayat dari ancaman terjual dan tergadai. Dengan sendirinya pula pelaksanaan Perda ini sekaligus penguatan terhadap peranan ninik mamak karenanya ninik mamak diharapkan pula berperan dalam peaksanaannya.

Ninik mamak dapat disebut berperan setidaknya dari perspektif sosiologis, ada aktifitas (kegiatan) dalam pemeliharaan ulayat sesuai status (kedudukannya) sebagai ninik mamak. Kegiatan yang dilakukan ninik mamak sesuai statusnya itu akan menambah Di Minangkabau tanah ulayat disebut wibawanya (kharisma) sebagai ninik mamak. pusako tinggi, menurut hukum adat Minangkabau ulayat itu salingka kaum, hak Dalam pelaksanaan Perda No.6/2008 ini milik kumunal kaum/ suku di nagari seperti ninik mamak dapat berperan mulai dari proses juga ulayat mamak nagari. Tanah ini sosialisasi dan mobilisasi kearah terbentuknya diwariskan secara utuh dari nenek moyang budaya hukum. Artinya anak kepenakan ninik kepada anak cucunya (generasi sekarang). mamak merasa terpanggil melaksanakan Pusako tinggi itu, tidak dapat dijual dan Perda ini, sehingga menjadi budaya (prilaku) digadaikan. Dalam norma adat Minang taat hukum. disebutkan: kok dijual tak dimakan beli. kok Dalam proses sosialisasi Perda No.6/2008 digadai tak dimakan sando (sandera). Kok murah tidak dapat diminta/ kok mahal tidak ini ninik mamak dapat berperan dengan dua dapat dibeli. Namun untuk kepentingan mekanisme, (1) diperankan, artinya bersama (kesejahteraan umum), ibarat diikutsertakan oleh pemerintah dalam tanaman, buah manisnya boleh dimakan, mensosialisasikannya, (2) berperan, artinya batangnya tidak boleh dijual. Ibarat mata air, s e c a r a s a d a r n i n i k m a m a k airnya boleh diminum, batang airnya tidak mensosialisasikannya kepada anak kepenakan sekaligus memberikan contoh dalam boleh dijual. pelaksanaanya mempertahankan tanah ulayat Dalam prakteknya kalau investor dari ancaman tergadai dan terjual saat mempunyai HGU, setelah masa HGU-nya pemanfaatan dan penggunaanya. habis tanah ulayat itu harus dikembalikan langsung kepada pemilik tanah ulayat (kaum, b.Pemikiran Tuanku Bosa Ciptakan suku atau nagari atau rajo). Artinya tanah itu Ketahanan Tanah Ulayat tidak dijual, tapi modal bagi pemiliknya Berfikir untuk menciptakan ketahanan sharing saham bagi hasil dengan investor. tanah ulayat dari ancaman terjual dan tergadai Kalau begitu, tidak akan terjadi seperti dan atau lepas dari pemangku tanah ulayat itu prakteknya sekarang yang seharusnya tidak beralih menjadi milik Negara, Tuanku Bosa boleh terjadi dalam hukum kepemilikan di menciptakan sistem penggunaan tanah ulayat, Minang, setelah HGU habis tanah itu dimiliki mulai dari milik kamu sampai milik rajo. langsung oleh negara. Kalau praktek tanah Sistem yang diciptakannya memberikan arah ulayat ini terjual sebelum/ pasca HGU dan penggunaan tanah ulayat itu, dengan ikatan jadi milik negara maka rakyat akan kehilangan tertentu penggunaan tanak ulayat (di haknya. antaranya sistem sewa dan sharing modal) dan

pemangku tanah ulayat tidak kehilangan ulayat – pusaka tingginya. Bentuk ikatan yang dimungkinkan, Tuanku menginginkan: (1) sewa, melalui surat perjanjian sewa dengan nilai sewa tahunan dan jangka waktu yang disepakati, (2) kerja sama (sharing), (2) Pucuak Adat Nagari Talu sebagai pemegang saham perusahaan pengelola, (3) Besaran saham berdasar kesepakatan, (3) pengalihan sebagai Hak Guna Usaha (HGU) untuk jangka tertentu, (4) pengalihan hak milik berjangka, dalam akta jual beli notaris diterakan pengalihan hak milik untuk jangka waktu tertentu di mana pada akhir jangka kepemilikan beralih kepada Pucuak Adat Nagari Talu. Tuanku mencontohkan, PT. Talu Energy dalam membuat pembangkit tenaga listrik. Ada tiga system yang ditawarkan: pertama: sewa diatur dengan ketentuan (1) pembebasan dari penggarap Rp10.000 permeter, (2) sewa Rp. 48 Juta pertahun. Kedua sistem sharing diatur dengan ketentuan: (1) pembebasan dari penggarap Rp 10.000 permeter, dan (2) tanah dinilai 10 % saham nagari Talu atas nama Pucuak Adat Nagari Talu. Demikian pula (3) dalam bentuk HGU diatur dengan ketentuan (1) pembebasan dari penggarap Rp 10.000 permeter dan (2) Kompensasi HGU Rp.500.000.000 per 25 tahun. Ada catatan penting Tuanku dalam penggunaan tanah ulayat, yakni “angkaangka yang dieksplisitkannya tadi adalah contoh berdasar perhitungan hasil pengolahan tanah yang subur. Kesepakatanlah yang memutuskan guna suksesnya pembangunan sumber daya listrik di Talu Pasaman Barat”. c.Pedoman pendayagunaan tanah ulayat oleh investor Tuanku Bosa XIV lebih lanjut membuat pedoman penggunaan tanah ulayat bagi investor. Ia memulai dengan penyadaran bahwa seluruh tanah yang diterima turun temurun terdiri dari tanah perumahan{kampung), sawah, tegalan, sungai, danau, bukit , lurah dan gunung, secara adatdisebut harta pusaka tinggi. Saaat ini sebagian dari tanah ulayat sudah dikonversi menjadi menjadi pusako randah antara lain tanah perumahan, perkampungan sawah dll. Adat Minangkabau sudah punya sumber hukum sebelum terbentuknya pemerintahan formal sebuah negara mengatur kedudukan, pengelolaan, dan pengawasan tanah ulayat. Untuk kasus Talu Pasaman Barat, tuanku menunjukkan beberapa klasifikasi tanah ulayat menurut kepemilikannya: (1) Tanah ulayat kaum, milik satu kaum dibawah ninik mamak/datuk, (2) Tanah ulayat suku, milik satu suku, dibawah datuk/pangulu suku, (3) Tanah ulayat nagari, milik nagari dibawah pucuak adat atau LAN, (4) Tanah ulayat rajo, tanah milik keluarga kerajaan dibawah pewaris raja.

Adat menetapkan bahwa: (1) Tidak ada sejengkal tanahpun di alam Minangkabau yang tidak ada pemiliknya, (2) Tanah Ulayat merupakan baitul maal alam Minangkabau, sumber kesejahteraan masyarakat Minangkabau yang matrilineal, (3) Tanah Ulayat harus diolah dan didayagunakan untuk mendapat hasil bagi kesejahteraan masyarakat sekarang dan yang akan dilahirkan dan(4) Tanah ulayat tidak boleh dijual atau digadaikan sehingga tidak boleh berkurang luasnya. Pepatah adat mengatakan: “dijua indak dimakan boli. digadai indak dimakan sando”. Taunku berpandangan, untuk mendapat manfaat dari tanah ulayat perlu diolah dan dikelola dengan baik. Memerlukan dana yang sudah pasti para pemilik tidak memilikinya. Di balik itu banyak pemodal yang membutuhkan tanah untuk membuat perkebunan, pertambangan, perumahan, pusat perdagangan dll. Ada dua pihak: (1) para pemangku adat penguasa tanah ulayat dan (2) para pemodal dapat bekerjasama untuk mengolah tanah ulayat agar mendapat sharing manfaat bagi: (1) masyarakat hukum adat , (2) para pemodal/ investor dan (3) pemerintah.Pengalaman selama ini sudah sangat banyak tanah ulayat diserahkan kepada para pemodal apakah untuk perkebunan, pertambangan dll dalam bentuk HGU yang dalam prakteknya menyengsarakan masyarakat setempat dan para pemangku adat. Setelah HGU berakhir tanah menjadi milik negara, berarti tanah ulayat berkurang. Baitulmaal masyarakat hukum adat menjadi habis. Malah pemerintah sering menyalahkan para pemangku adat yang kaku sulit melepaskan tanah ulayat untuk pembangunan bangsa, seolah-olah tidak memahami tanggung jawab pemangku adat atas tanah ulayat. Tuanku mengingat, tanggal 6 Agustus 2011, DYD RA Pagaruyuang, H. Sutan MohTaufiq Thaib SH Tuanku Muda Mahkota Alam dan Drs M Sayuti Datuk Rajo Pangulu menandatangani Nota Kesepahaman (MOU) tentang upaya menyusun petunjuk pelaksanaan penyerahan tanah ulayat kepada investor agar bermanfaat bagi masyarakat tanpa harus berpindah hak milik.H. Taufiq Thaib SH bertindak untuk dan atas nama Limbago Pucuak Adat Alam Minangkabau sebagai pengejawantahan Kesulthanan Minangkabau Pagaruyuang Darul Quorar, sedangkan Drs M Sayuti MPd bertindak untuk dan atas nama Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau.Kedua lembaga sepakat untuk bersama-sama berjuang untuk: (1) Menyusun prosedur tatalaksana pengolahan tanah ulayat oleh investor tanpa melanggar ketentuan adat. Bermanfaat bagi masyarakat tanpa mengganggu kelestarian tanah ulayat, dan (2) Mengembalikan tanah ulayat eks HGU kepada kepemilkan adat sebelumnya. Masyarakat hukum adat berharap banyak kepada pemerintah pusat dan propinsi untuk merealisir dua buti tadi. Harapan ini terlihat

dari dua upaya yaitu, penyusunan RUU Pengakuan hak konstitusional masyarakat hukum adat dan penyusunan perbaikan UU pemanfaat tanah untuk pembangunan denga DPD, serta lahirnya Perda No.6/2008 yang juga punya nafas pengembalian tanah eks HGU kepada pemilik sebelumnya. Masyarakat menunggu implementasi peraturan daerah itu. Pedoman pendayagunaan tanah ulayat oleh investor oleh Tuanku Bosa disertai dengan prosedur penyerahan tanah ulayat kepada investor. Ia membuat berberapa alternatif yang mungkin adalah: 1) Sewa menyewa , Investor mendapat hak penguasaan dan pengelolaan dengan sistem sewa. Investor membayar sewa sesuai denga kesepakata untuk jangka waktu yang ditentukan, dengan mendapat legalisasi dari pemerintah. 2) Kerjasama dalam bentuk perusahaan dimana pemangku adat ikut sebagai pemegang saham berupa tanah ulayat sehingga dari hasil sahamnya pembangunan wilayah adat dan kesejahteraan masyarakat terjamin. 3) Bagi hasil, Investor mengolah dan memanfaatkan tanah ulayat, pemangku adat dan masyarakat mendapat bagian dari hasil tanah ulayat sehingga terjamin kemaslahatan masyarakat. 4) Kerjasama pengolahan, pemangku adat bersama masyarakat ikut terlibat dalam pengolahan sesuai dengan kemampuan masing-masing dibantu sepenuhnya oleh perusahaan, sedangkan perusahaan diwajibkan membantu pembangunan masyarakat hukum adat. 5) Hak pakai atau Hak Guna Usaha (HGU) Masyarakat melalui pemangku adat membuat perjanjian pemberian HGU langsung dari Pemangku adat disaksikan atau dilegalisir oleh pemerintah dengan ketentuan: (1) Masyarakat diprioritaskan ikut sebagai petani anggota termasuk pemangku adat, (2) Pemerintahan nagari mendapat dana kompensasi yang memadai untuk mendanai pembangunan masyakat menuju kesejahteraan, dan (3) Tanah kembali kepada pemangku adat sebagai tanah ulayat apabila jangka waktu HGU habis. Fenomena ancaman lepasanya tanah ulayat ini dari pemiliknya, lebih luas sudah pernah dipaparkan Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo Ketua V LKAAM Provinsi Sumatera Barat dalam makalahnya: Peranan Ninik Mamak dalam Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No. 6 Tahun 2008 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, dalam acara pemberdayaan ninik mamak Pasaman Barat dalam memelihara tanah ulayat dan sosialisasi UU dan Perda Tanah Ulayat, diselenggarakan Pememerintahan Kabupaten Pasaman Barat di Simpang Empat, 25 Maret 2009.

/September 2012

57


Saga Khusus

KELEMBAGAAN NAGARI

/September 2012

59


KOLOM

60

/September 2012

/September 2012

61


Selingan

62

/September 2012

HALAL BI HALAL

/September 2012

63


Bukittinggi, salah satu Kota di Sumatera Barat yang masih melestarikan Bendi, alat transportasi tradisional Minangkabau. Dengan menghadirkan Bendi di sekitar objek wisata Kota Bukittinggi, setidaknya pengunjung bisa tahu dan terkenang dengan Minangkabau tempo dulu. [Foto: Arjuna Nusantara]

64

/September 2012

/September 2012

65


KOLOM

Realitas kehidupan beragama, sosial dan kemasyarakat bangsa Indonesia, akhir-akhir ini dicemaskan dengan tindakan dan gerakan radikalisme. Radikalisme menebar maut dan korban tidak berdosa harus dicegah sampai ke akar-akarnya. Analisis pemikiran di bawah ini bahagian dari alternatif penyadaran untuk mencegah merebaknya radikalisme. Mengingat, Rasulullah Saw sangat mewanti-wanti umat Islam untuk tidak terjebak pada tindakan ekstremisme (at-tatharuf aldiniy), berlebihan (ghuluw), berpaham sempit (dhayyiq), kaku (tanathu'/rigid), dan keras (tasyaddud). Akar Sejarah. Buku sejarah Islam standar, seperti Tarikh al-Rasul wa al-Muluk karya AlThabari, atau The Crisis of Muslim History karya Mahmoud Ayoub, dapat dibaca bahwa sejak hari pertama Nabi Muhammad wafat, persaingan dan perselisihan politik di kalangan parah sahabatnya telah dimulai. Itulah salah satu alasan mengapa Abu Bakar tergesa dibaiat tanpa kehadiran Ali, keluarga terdekat Nabi. Demi menghindari pertikaian yang kian kentara, Abu Bakar menunjuk Umar ibn al-Khattab sebagai penggantinya. Sementara itu, Umar merasa perlu membentuk dewan formatur buat memilih penerusnya kelak akibat munculnya kubu-kubu politik yang seimbang dan saling berselisih. Adapun Ali diangkat sebagai khalifah di tengah penolakan pelbagai kelompok, termasuk kaum Khawarij dan kubu Aisah, istri Nabi, yang kemudian memuncak dalam perang Jamal dan Siffin. Pasca khulafa al-rashidun, terjadi perubahan yang sangat mendasar dalam sistem kekuasaan. Bani Umayyah dan Bani Abbashiyah mengembangkan sistem dinasti, dimana kekuasaan diwariskan menurut garis keluarga, secara turun-temurun dalam lingkaran dinasti. Malah kadang disertai pertumpahan darah di antara sesama saudara sendiri, seperti kasus AlMa'mun dan Al-Amin, para ahli waris Sultan Harun al-Rasyid. Tradisi yang dikembangkan oleh generasi Sahabat sama sekali ditinggalkannya.Periode dinasti Islam, terutama dinasti Umayyah

66

/September 2012

TOKOH AGAMA MENGHADAPI RADIKALISME Oleh Duski Samad

dan Abbasiyyah –dengan keberhasilan ekspansi wilayah dunia Islam yang amat dramatis dengan segala capaian peradaban yang gemilang–, seringkali dirujuk oleh para pendukung sistem khilafah sebagai puncak dari sistem khilafah Islam. Bersamaan dengan berkecambahnya gerakan khilafah yang muncul dalam bentuk gerakan, perang pemikiran dan dihubungkaitkan dengan politik, lalu keadaan diperunyam pula oleh stigma fundamentalisme. Ide fundamentalisme Islam oleh beberapa penulis sejarah dikaitkan dengan kelompok yang sangat radikal yaitu khawarij. Kelompok ini disebut sebagai cikal bakal fundamentalisme Islam. Bahkan, kelahiran Khawarij sendiri disebut sebagai fitnatul qubro (fitnah besar). Khawarij adalah gerakan yang begitu angker dan menakutkan. Cara berfikirnya dalam menerjemahkan pesan ke-Tuhan-an begitu kaku, tertutup, dan hitam-putih. Sikap-lakunya dalam menegakkan Islam pun garang dan sulit menerima Segala sesuatu yang berbeda dari diri mereka dianggap salah. Klaim, labelisasi, stigmatisasi pun kerap dilotarkan untuk kelompok yang tidak sejalan dengan mereka. Lihat saja bagimana gampangnya mereka mencap kafir pada kelompok Muawiyah (pendukung Utsman) dan juga kelompok Ali. Kedua kelompok dianggap keluar dari ajaran Islam dan harus dimusuhi. Bahkan, ekstrimitas itu tidak hanya terjadi pada level epistemologi dan pemikiran tapi sampai pada level praksis dan fisik. Mereka tak segan-segan membunuh siapa saja yang dinilai kafir. Ali termasuk salah satu korban pembunuhan yang mereka lakukan. Berkembangnya Radikalisme. Pemikiran. (Liberalis, Fanatis dan Simplikasi) Merebaknya dua trend paham yang ada dalam masyarakat Islam, yang pertama menganggap bahwa agama merupakan penyebab kemunduran ummat Islam. Sehingga jika ummat ingin unggul dalam mengejar ketertinggalannya maka ia harus melepaskan baju agama yang ia miliki saat ini. Pemikiran ini merupakan produk sekularisme yang secara filosofi anti terhadap agama. Pemikiran kedua adalah merefleksikan penentangannya

terhadap alam realitas yang dianggapnya sudah tidak dapat ditolerir lagi, dunia saat ini dipandangnya tidak lagi akan mendatangkan keberkahan dari Allah Swt, penuh dengan kenistaan, sehingga satu-satunya jalan selamat hanyalah kembali kepada agama. Namun jalan menuju kepada agama itu dilakukan dengan cara-cara yang sempit, keras, kaku dan memusuhi segala hal yang berbau modernitas. Kedua corak pemikiran inilah yang jika tumbuh subur dimasyarakat akan melahirkan tindakan-tindakan yang kontra produktif bagi bangsa bahkan agama yang dianutnya. Kedua trend pemikiran yang satunya menolak agama dan yang kedua mengajak kepada paham agama yang keras, justru akan melahirkan reaksi yang bertentangan dengan misi diciptakannya manusia oleh Allah Swt di semesta ini sebagai mahluk yang seharusnya mendatangkan kemakmuran dunia. Di samping itu, banyaknya sekelompok orang yang lebih memilih memperdalami agama, namun tidak berdasarkan sumber yang otentik, ataupun ulama yang benar-benar memiliki pemahaman agama yang luas dan benar (rusukh). Terkadang sumber bacaannya adalah buku-buku terjemahan yang kurang dapat dipertangung jawabkan, menerima ilmu dari orang yang pemahaman agamanya sangat dangkal. Ahli kimia berbicara al-Qur'an, ahli kedokteran berbicara tafsir, ahli teknik bom berbicara fiqh jihad. Apa jadinya kesimpulan yang mereka keluarkan. Padahal al-Quran, tafsir, dan fiqh jihad memiliki karakteristik dan syarat-syarat yang sangat teliti dan khusus dan harus tepat sesuai fungsi dan kegunaannya. Hal itu sama saja, dengan apa jadinya jika seorang ahli agama berbicara kedokteran, berbicara pertanian, teknik mesin dan lainlain.Maka memahami sesuatu ilmu termasuk agama harus berdasarkan dari sumber dan ahlinya yang otentik, jika tidak penyelewengan-penyelewengan kesimpulan yang dijelmakan melalui aksi akan berakibat fatal bagi manusia itu sendiri. Faktor Ekonomi. (Kesenjangan, kemiskinan dan ketidakberdayaan). William Nock pengarang buku

“Perwajahan Dunia Baru” mengatakan: Terorisme yang belakangan ini marak muncul merupakan reaksi dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di dunia”. Liberalisme ekonomi yang mengakibatkan perputaran modal hanya bergulir dan dirasakan bagi yang kaya saja, mengakibatkan jurang yang sangat tajam kepada yang miskin. Jika pola ekonomi seperti itu terus berlangsung pada tingkat global, maka yang terjadi reaksinya adalah terorisme internasional. Namun jika pola ekonomi seperti ini diterapkan pada tingkat Negara tertentu, maka akan memicu tindakan terorisme nasional. Problem kemiskinan, pengangguran dan keterjepitan ekonomi dapat mengubah pola pikir seseorang dari yang sebelumnya baik, menjadi orang yang sangat kejam dan dapat melakukan apa saja, termasuk melakukan teror. Sangat tepat jika kita renungkan hadits nabi yang mengatakan, “Kaada al-Faqru an yakuuna Kufran”. Hampir-hampir saja suatu kefakiran dapat meyeret orangnya kepda tindakan kekufuran”. Bukankan tindakan membunuh, melukai, meledakkan diri, meneror suatu tindakan yang dekat dengan kekufuran.? Faktor Politik.(Prilaku Politisi dan Pemimpin Dzalim). Stabilitas politik yang diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan bagi rakyat adalah cita-cita semua Negara. Kehadiran para pemimpin yang adil, berpihak pada rakyat, tidak semata hobi bertengkar dan menjamin kebebasan dan hak-hak rakyat, tentu akan melahirkan kebanggaan dari ada anak negeri untuk selalu membela dan memperjuangkan negaranya. Mereka akan sayang dan menjaga kehormatan negaranya baik dari dalam maupun dar luar. Namun sebaliknya jika politik yang dijalankan adalah politik kotor, politik yang hanya berpihak pada pemilik modal, kekuatan-kekuatan asing, bahkan politik pembodohan rakyat, maka kondisi ini lambat laun akan melahirkan tindakan skeptis masyarakat. Akan mudah muncul kelompok-kelompok atas nama yang berbeda baik politik, agama ataupun sosial yang mudah saling menghancurkan satu sama lainnya. Sejarah lahirnya garakan khawarij pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA. yang merupakan mascot gerakan terorisme masa lalu yang juga disebabkan oleh munculnya stigma ketidakstabilan dan ketidakadilan politik pada waktu itu. Sehingga munculah kelompok-kelompok yang saling mengklaim paling benar, bahkan saling mengkafirkan satu sama lainnya. Faktor Sosial.(Ekses Media dan Salah Urus). Diantara faktor munculnya pemahaman yang menyimpang adalah adanya kondisi konflik yang sering

terjadi di dalam masyarakat. Banyaknya perkara-perkara yang menyedot perhatian massa yang berhujung pada tindakan-tindakan anarkis, pada akhirnya melahirkan antipati sekelompok orang untuk bersikap bercerai dengan masyarakat. Pada awalnya sikap berpisah dengan masyarakat ini diniatkan untuk menghindari kekacauan yang terjadi. Namun lama kelamaan sikap ini berubah menjadi sikap antipati dan memusuhi masyarakat itu sendiri. Jika sekolompok orang ini berkumpul menjadi satu atau sengaja dikumpulkan, maka akan sangat mudah dimanfaatkan untuk kepentingankepentingan tertentu. Dalam gerakan agama sempalan, biasanya mereka lebih memilih menjadikan pandangan tokoh atau ulama yang keras dan kritis terhadap pemerintah. Karena mereka beranggapan, kelompok ulama yang memiliki pandangan moderat telah terkooptasi dan bersekongkol dengan penguasa. Sehingga ajaran Islam yang moderat dan rahmatan lil alamin itu tidak mereka ambil bahkan dijauhkan dan mereka lebih memilih pemahaman yang keras dari ulama yang yang kritis tersebut. Dari sinilah lalu, maka pemikiran garis keras Islam sesungguhnya sangat kecil, dan tidak mencerminkan wajah Islam yang sebenarnya. Namun gerakan dan tindakannya yang nekat dan tidak terkontrol, menjadikan wajah Islam yang moderat dan mayoriats itu seolah tertutup dan hilang. Mengembalikan fungsi ulama sebagai pengawal masyarakat dari penyimpangan-penyimpangan pemahanan dan akidah, serta mengembalikan lagi kepercayaan ummat yang putus asa dengan kondisi sosial yang ada, untuk tidak lebih tergelincir jauh kepada kelompok yang cenderung menghalalkan segala cara untuk melakukan proses perubahan sosial yang berlandaskan pada ajaran agama. Kalangan moderat Islam harus lebih disuport dan dibantu, ketimbang energi hanya dikuras untuk menghabisi kelompok-kelompok radikal saja. Faktor Psikologis.(Alineasi Modernitas). Faktor ini sangat terkait dengan pengalaman hidup individual seseorang. Pengalamannya dengan kepahitan hidupnya, linkungannya, kegaggalan dalam karir dan kerjanya, dapat saja mendorong sesorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dan anarkis. Perasaan yang menggunung akibat kegagalan hidup yang dideranya, mengakibatkan perasaan diri terisolasi dari masyarakat. Jika hal ini terus berlangsung tanpa adanya pembinaan dan bimbingan yang tepat. Orang tersebut akan melakukan perbuatan yang mengejutkan sebagai reaksi untuk sekedar menampakkan eksistensi

Rasulullah Saw sangat mewantiwanti umat Islam untuk tidak terjebak pada tindakan ekstremisme (at-tatharuf al-diniy), berlebihan (ghuluw), berpaham sempit (dhayyiq), kaku (tanathu'/rigid), dan keras

dir inya. Dr. Abdurrahma n al-Mathrudi pernah menulis, bahwa sebagian besar orang yang bergabung kepada kelompok garis keras adalah mereka yang secara pribadi mengalami kegagalan dalam hidup dan pendidikannya. Mereka inilah yang harus kita bina, dan kita perhatikan. Maka hendaknnya kita tidak selalu meremehkan mereka yang secara ekonomi dan nasib kurang beruntung. Sebab mereka ini sangat rentan dimanfaatkan dan dibrain washing oleh kelompok yang memiliki target terorisme tertentu. Faktor Pendidikan.(Salah Asuh dan Ghazwul Fikri) Sekalipun pendidikan bukanlah faktor langsung yang dapat menyebabkan munculnya gerakan terorisme, akan tetapi dampak yang dihasilkan dari suatu pendidikan yang keliru juga sangat berbahaya. Pendidikan agama khususnya yang harus lebih diperhatikan. Ajaran agama yang mengajarkan toleransi, kesantunan, keramahan, membenci pengrusakan, dan menganjurkan persatuan tidak sering didengungkan. Retorika pendidikan yang disuguhkan kepada ummat lebih sering bersambung ke hal,..

/September 2012

67


Wisata Nagari

Wisata Dermaga Danau Diateh Antara Pesona dan Derita Otonomi Daerah

D

Tradisi Bakajang Nagari Gunung Malintang N

AGARI Gunung Malintang, Kec. Pangkalan Koto Baru, Kab. Lima Puluh Kota, terdapat suatu tradisi yang terbilang unik dan dilaksanakan sekali dalam setahun yaitu bakajang. Bakajang biasanya terus dilakukan secara turun temurun hingga saat ini . Kata Bakajang merupakan asal nama desa di nagari Gunung Malintang yaitu �Batu Kajang�. Bakajang dilaksanakan dalam rangka mufakat niniak mamak di surau-surau sekaligus mempererat silaturrahmi penghulu suku dan masyarakat. Terdapat empat macam suku Minang di kenagarian Gunung Malintang ini, yaitu suku Domo dengan rumah gadang di Jorong Koto Lamo dipimpin oleh Datuak Bandaro. Suku Melayu dengan rumah gadang di Jorong Batu Balah dipimpin oleh Datuak Sati, suku Piconcang di Jorong Baliak Bukik dipimpin oleh Datuak Paduko Rajo dan suku Piliang di Jorong Koto Masajik dipimpin oleh datuak Bagindo Simarajo. Acara bakajang menampilkan perahu yang telah dihias oleh setiap anak nagari di jorongnya masing-masing, sehingga menjadi sebuah bentuk lain yang disebut dengan kajang. Kajang terbuat dari kayu, papan, papan triplet, dihias sedemikan rupa sehingga menyerupai kapal pesiar. Selain itu juga menampilkan pacu sampan yang diwakili oleh pemuda pilihan di setiap jorong yang berada di kenagarian Gunung Malintang. Ini membuat suasana makin meriah.

68

/September 2012

Pembuatan kajang dimulai pada harihari terakhir bulan Ramadhan dan dilaksanakan selama enam hari enam malam pada awal bulan Syawal terhitung sejak tanggal lima Syawal sampai sepuluh Syawal setelah hari raya Idul Fitri, masih dalam suasana lebaran dan liburan. Banyak pengunjung datang untuk melihat langsung acara bakajang. Pengunjung tidak hanya berasal dari sekitar nagari Gunung Malintang melainkan ada yang berasal dari Payakumbuh, Pekanbaru, Bukittinggi, Padang dan sekitarnya. Setiap kajang dilaksanakan terus dihadiri oleh pajabat daerah setempat seperti Bupati, Wakil Bupati, dan anggota DPRD Lima Puluh Kota. Setiap jorong di nagari Gunung Malintang terdapat surau yang menjadi tempat perkumpulan niniak mamak, bundo kanduang, dan cadiak pandai. Pada alek kajang Surau dihiasi sedemikian rupa agar menjadi tempat yang indah dilihat. Di dalam surau terdapat baleghong yang khusus untuk bundo kanduang. Dalam acara inilah seluruh niniak mamak serta bundo kanduang berkumpul dalam suatu tempat yaitu surau. Sebelum memasuki surau, niniak mamak dan bundo kanduang terlebih dahulu diarak sekitar satu kilometer dari surau. Setelah sampai di depan surau, mereka disambut dengan tari pasambahan dan barulah kemudian mereka memasuki surau yang di dalamnya telah tersedia tempat masingmasing bagi mereka. Pada enam hari itu, setiap remaja

perempuan atau pemudi akan memakai baju kurung dan menjujung jamba yang berisi makanan. Jamba tersebut diletakkan di dalam surau yang isinya akan dimakan oleh niniak mamak dan bundo kanduang yang berada di dalamnya. Yang bertugas menyambut dan menyusun Jamba di dalam surau adalah remaja laki-laki atau pemuda dari masing-masing jorong. Pemuda itu harus mamakai baju kemeja berlengan panjang, peci, dan kain sarung. Sedangkan pemuda yang lain bertugas membawa kajang dari jorongnya masingmasing ke jorong tuan rumah di mana acara dilaksanakan pada hari itu. kajang dibuat oleh setiap jorong yang berada dipinggiran sungai, ada lima kajang yang dibuat yaitu dari kajang koto lamo, kajang batu balah, kajang koto masajik, kajang balik bukik, dan kajang boncah lumpua. Sedangkan jorong yang tidak berada di tepian sungai seperti jorong Bukit Talao, jorong Sungai Pimpiang, jorong Cempuniak, membantu jorong yang letaknya berdekatan dengan wilayahnya. Indah nian kiranya tradisi bakajang itu, Rino salah seorang ketua pemuda di Nagari Gunung Malintang mengatakan bahwa kajang dilaksanakan dengan dana iuran yang diambil secara suka rela kepada setiap pemuda nagari Gunung Malintang dengan datang ke rumah-rumah masyarakat. Sebuah kerjasama yang selalu diharapkan menjari penyemarak kehidupan bernagari. Ahmad Masrur Firosad

ermaga Danau Di Ateh yang berada di nagari Simpang Tanjuang nan Ampek, Kecamatan Danau Kembar, Solok ini pada mulanya dibangun atas inisiatif Dinas Perhubungan, sekitar 1980-an. Dermaga ini untuk memudahkan transportasi masyarakat yang tinggal di Seberang Danau. Ketika itu belum ada jalan melingkari danau. Akses paling mudah ke seberang hanya dengan sarana penyeberangan seperti sampan. Demikian diakui Syahrial (45) warga setempat. Keberadaan Dermaga menambah keelokan pemandangan sekitarnya. Sehingga, lokasi ini, selain menjadi dermaga penyeberangan ke kampung seberang, pun telah menjadi tujuan kunjungan wisata. Potensi ini tidak disiasiakan dinas pariwisata setempat. Maka dibangunlah sarana dan prasarana pendukung yang layak dimiliki sebuah lokasi wisata. Mulai dari gerbang masuk, loket penjualan tiket, sarana pendukung kebersihan, area parkir sekaligus petugas yang ditunjuk menjadi pengelola. Sakali aia gadang, sakali tapian baraliah, begitu falsafah mianang menggambarkan perubahan. Ini pun terjadi di Dermaga Danau Diateh. Ketika Otonomi Daerah bergulir,

kembali ke nagari digalakkan, berdampak langsung kepada cara pengelolaan objek Wisata Dermaga ini. Kecamatan danau Kembar dimekarkan, wali nagari dipilih. Otomatis,

manajemen pengelolaan wisata pun beralih tangan. “Kalau dibanding-bandingkan, pengelolaan dulu dan sekarang, mungkin lebih bagus dulu. Sekarang, serba tidak jelas. Kami hanya mendengar kabar, akan turn dana pembugaran objek wisata danau Di ateh ini. Entah untuk lokasi mana, kapan turunnya, bagaimana pengelolaannya, sampai saat ini kami belum tahu persis,� tambah Syahrial ketika ditemui Saga saat berjualan di Dermaga selama seminggu setelah hari raya Idul Fitri 1433 H kemarin. Diceritakannya, masyarakat tentu ingin sekali kampung mereka jadi kunjungan wisata. Ini jelas akan berdampak pada perbaikan ekonomi mereka. Akan tetapi, belum juga ditemukan cara pengelolaan yang tepat. Sehingga sering pula ditiupkan kabar mengenai buruknya pelayanan masyarakat di Dermaga Danau Diateh. Adanya pungutan liar dan segala macamnya. Menurut Syahrial sebagaimana juga sering disampaikan Wali Nagari Simpang, Syamsir K, tidak tepat menyalahkan masyarakat dalam hal pengelolaan objek wisata Dermaga ini. Kesimpangsiuran itu terbit di hulu, yakni pada sistem pemerintahan yang telah dimekarkan. Kembali bernagari, diakuinya, bukan membuat permasalahan baru. Seharusnya, membuat tata kelola kehidupan menjadi lebih baru pula. Inilah barangkali pekerjaan rumah yang masih menunggu tangan dingin Pemkab Solok[]zw.

/September 2012

69


SENI Selingan

P

adangpanjang adalah kota yang berbahagia. Di sana ada batu kapur yang memberi hidup, ada sawah, ada sungai yang memberi hidup, ada rel kereta yang memberi hidup walau kadang orang mati juga dilindasnya. Padangpanjang memang berbeda dengan kota-kota lain. Di kota kecil di kaki Gunung Singgalang ini, tak seorang pun hidup dengan mati-matian. Mereka hidup seenaknya. Berjalan boleh lenggang kangkung. Setiap hari, dari pagi sampai tengah malam, orang dapat dudukduduk atau bermain kartu di kedai kopi sambil menghutang segelas kopi, tanpa dapat muka masam dari si empunya kedai. Di kota kecil ini, air berlebihan. Hingga ke mana pun kita bertandang, perempuan atau gadisgadis cepat-cepat menyediakan minuman bagi kita. Walau sekarang kereta api dan dan bukit kapur tidak lagi menghidupi, setidaknya begitu A A Navis mengenang kota kelahirannya di salah satu buku cerita--walau terkesan agak berlebihan. Kota kecil di kaki gunung, kota hujan, tapi dengan riwayat yang jauh terentang ke masalalu. Pada abad ke-19, kota ini pernah menjadi kota transito dagang, pusat perlawanan kaum padri. Di awal abad ke-20, Padangpanjang menjadi pusat komunis. Para komunis lokal biasa datang ke Padangpanjang untuk mengadakan rapatrapat umum. Setiba di Padangpanjang, cuaca terasa sejuk. Tak salah bila Taufik Ismail membuat rumah puisi di daerah ini, Rifai Apin, Syahrir, Huriah Adam, memilih tempat lahir di daerah

70

/September 2012

ini. Seorang penulis Belanda pernah menilai Sumatera Barat ketika melewati Padangpanjang: "Saya tak habis pikir," katanya suatu ketika, "kenapa dari negeri seindah ini justru yang banyak lahir pemberontak." Seseorang menawarkan ojek, dan saya meminta diantar ke Bancah Laweh. Mobil dengan merek yang beragam semua seperti menuju arah yang sama: Bancah Laweh. Sebuah dusun kecil di bawah Bukit Tui, bukit kapur yang pernah menenggelamkan beberapa kampung di bawahnya. Sekarang saya tak melihat para penambang kapur seperti yang pernah saya lihat dalam potret hitam putih yang dipajang di sebuah kantor pemerintah. Saya hanya melihat gerombolan orangorang dengan baju warna-warni. Masyarakat dari beberapa daerah dan dengan beragam warna baju berbondongbondong masuk. Dengan mudah bondongan orang itu bisa dibedakan; dengar saja mereka bertutur. Ada dari Riau, itu dikarenakan ada kuda dari Riau yang berani untuk ikut dalam ajang pacuan, mereka biasa berkata dengan intonasi singkat dan sedikit tersendatsendat, dan kadang mendongakkan kepala. Bila kata-kata mereka disampaikan dengan suara yang panjang melambailambai seperti daun enau ditiup angin, pastikan itu kelompok dari luhak Lima Puluh Kota, daerah utara Sumatera Barat. Orang-orang Luah Lima Puluh terdengar lebih panjang suaranya ketika berbicara dibanding mereka bernyanyi. Jika suara

agak keras dan bibir dikatup ke bawah jika berbicara, nada cemooh di tiap ujung kalimat, yakinlah itu orang dari pesisir pantai, bagi orang pegunungan mereka adalah orang-orang keras, orang-orang yang setiap berkata terdengar seperti berolokolok. Jika berbicara seperti menggigit ujung lidah, dan pelafasan huruf “t” seperti dialeg orang Bali dan Aceh, yakinlah mereka adalah rombongan pernonton yang datang dari Solok, yang di tanahnya tumbuh padi dengan kualitas nomor satu dan harganya melangit hingga penduduknya jarang makan dari hasil buminya sendiri. Selain beras, tak ada yang enak di daerah itu. Semua searah menuju jalan masuk ke gelanggang pacuan kuda. Beberapa joki dan kudanya tampak sibuk melakukan pemanasan. Semua joki menunggang kuda tanpa pelana, begitu aturan pacu kuda tradisional. Gelanggang hiruk oleh penonton. Dengan buku jadwal pacuan, satu pena, dan topi seperti cowboy di tanah Amerika, terkadang melilitkan sarung di leher. Mereka berkelompok mengelilingi kuda yang mereka jagokan memberi semangat. Di tempat kandangan atau boxstart, kuda sangat susah dimasukkan. Kuda kadang menyepak, mengeluarkan ringkik yang panjang, walau akhirnya bisa dimasukkan. Setelah pintu pacuan dibuka, kuda menyepak lari. Penonton ribut. Seseorang dengan bersemangat berada di samping saya: kamu menjagokan yang mana? Jangan motret saja, pilih jagoanmu. Lihat, kuda-kuda itu diberi nama yang cantik dan unik. Lady Johana, Histori,

penonton tolong jauh dari lintasan, saudarasaudara!” pengeras suara itu berbunyi lagi, kali ini tidak dengan nada geram, melainkan penuh tawa yang ditahan. Begini rasanya hiburan rakyat hinga orang yang dilindas kuda juga jadi bahan tertawaan. Setelah korban yang luka diangkut ambulan, penonton kembali meringsek ke arah lintasan. Seperti sedia kala.Pengeras suara kembali mengeluarkan teguran yang sama. Kuda-kuda kembali masuk ke arena pacuan, dan siap untuk diadu larinya. “Pantat! Nomor empat tumbuang. Memang pantas kau bernomor empat! Empat!” seorang tua menyobek kertas pacuan yang dari tadi ia tandai dengan tekun. Kemudian membenarkan letak topi, dan berpindah entah ke tempat mana. Beberapa orang tua lainnya tertawa memamerkan gigi yang telah tiada, melihat seorang tua yang mengumpat. Mereka satu gerombolan sepertinya. “Kuda manja yang kau pilih. Ei, kenapa kuda manja itu dibawa juga ke gelanggang..,” umpat seorang tua lainnya yang sepertinya sama menjagokan nomor empat."Oi, bawa saja kudamu pulang. Sembelih saja, biar dimakan orang-orang di kampungmu," orang tua itu semakin menjadijadi. Orang tua lainnya tertawa-tawa, semakin menjadi-jadi. Padahal kuda nomor empat banyak yang menjagokan. Di beberapa lintasan, ia sempat menjuarai. Tapi kenapa sekarang ia tak sanggup berlari kencang, hingga tertinggal jauh. Tentara dan Polisi yang mengamankan tempat itu hanya bisa melihat dengan tatapan tak mengerti. Penonton kian bersorak-sorai meneriaki nomor punggung joki, atau kuda. Ada juga yang menyebut warna baju joki, kuning, merah hijau, dengan semangat penuh. Sebagian lain memanggil nama kuda; Derbi, Lady, Princes. Nama-nama itu mewakili keturunan dari kuda-kuda yang dibawa orangorang Belanda pada masa kolonial. Matahari telah turun ke arah barat. Tapi gelanggang semakin ramai. Kerumunankerumunan itu mendirikan tenda-tenda, seperti titik warna-warni jika dilihat dari atas Bukit Tui. Lebih dari separuh penonton memakai baju dengan warna terang, penutup kepala berwarna terang, hijau terang, merah menyala, kuning muda, entah warna apalagi. Matahari kian condong ke barat. Tapi suara dari penonton yang sesak kian membahana. Mengalahkan bahana sorak pertandingan PSP Padang dan Semen Padang (dua klub sepak bola yang berasal dari sumbar) yang dianggap “perang saudara”. Saya berjalan ke arah lain, ke arah yang lebih dekat dengan garis start. Kali ini adalah "boko", pengeras suara besorak lagi. Ini pertandingan yang

menentukan se-kaliber apa seekor kuda, sehebat mana seorang jokinya. Jarak tempuh 1600-2400 meter. Kira-kira dua kali lebih mengeliling arena. Kuda yang masuk sasaran boxstart tidak sebanyak yang sebelumsebelumnya. Ya, karna "boko" bisa diartikan final pacu. Hanya enam kuda besar dan liar yang ikut dalam pertandingan ini. Pengeras suara riuh rendah mengalahkan komentator sepakbola. Sebagaimana juga penonton mengeluarkan teriakan yang memekakkan telinga. Kuda berlari sudah, menyibakkan pasir ke arah penonton yang garang memberi semangat. Suara membahana, seakan menggetarkan Bukit Tui yang berada di hadapan mereka. Inilah pesta rakyat yang diselenggarakan sekali tiap tahunnya. Benarbenar pesta yang berbahagia. Pertandingan usai. Mereka yang menang telah membopong hadiah dan piala. Tapi tidak serta merta membuat penonton pulang, sebab pasar malam menanti. Penjual-penjual gulali berjejeran di pinggir jalan, jagung rebus mengeluarkan asap, dan minta disantap. Juga ada sate “hibrida”: sate Madura dengan cita rasa Padangpanjang. Saya berjalan ke luar. Tapi tidak sesesak memauski arena. Melintasi rumah-rumah. Gelap telah membaur dengan jingga dan dendang magrib dari perngeras suara dan menara-menara mesjid. Hampir sejam saya berdiri di pinggir jalan, berharap mobil ke Padang. Tapi saya bukan satu-satunya. Saya satu di antara ratusan orang yang hendak ke Padang, saya harus memilih arah lain. Bukittinggi lebih dekat. Saya menumpang satu angkutan ke Bukittinggi. Dalam mobil orang masih mempertengkarkan tentang pertandingan tadi, tentang hadiah, tentang pemberi hadiah yang hampir kehilangan jari karena hampir digigit kuda. Ada yang menyangsikan. Perlahan kelopak mata saya memberat. Angin gunung memaksa masuk lewat sela-sela jendela mobil solar yang meraung-raung di tanjakan.

Fatris MF

Kuda-kuda Meringkik di Padangpanjang

Lenggogeni, Mahligai, Princes Diamon (dibaca sebagaimana tertulis), semua bernomor punggung seperti pemain bola. Kali ini adalah kelas B, kelas bergengsi, berarti kuda yang akan bertanding adalah kuda dengan tinggi 153 cm atau lebih. Sebelumnya kelas C kuda yang tingginya 148cm s/d 152,9 cm. Sebelumnya lagi kelas D dan E yang kudanya hampir susah dibedakan dengan keledai yaitu dengan tinggi 142,9 cm atau kurang. “Ayo..sembilan! Jangan cuma beringsut seperti keledai...” seorang ibu muda berteriak sambil meggendong anak. "Iya..nomor sembilan," saya juga tak mau kalah seperti penonton lainnya. “Sembilan itu kuda sial! Kakinya saja hampir bengkok. Jangan itu. Nomor tiga aja. Sama seperti saya,” katanya setengah memaksa dan saya setengah tertawa. Lalu ia merogoh kantong mengeluarkan buku dan memberi beberapa tanda di buku dan daftar pacuan. “Basah saya kali ini,” kata lelaki itu dengan mata berbinar. Basah maksudnya barangkali menang taruhan, dan duitnya banyak. “Ini, kau hisaplah rokok itu sepuasmu,” katanya. Ini cara sopan yang umum pada teman asing: memberi rokok. Telah lima pertandingan hari ini. Kuda yang menang langsung digiring dan dihadapkan ke panggung panitia untukpenyerahan hadiah pada kuda dan jokinya. Joki mendapatkan piala dan kuda dipasangi pita oleh pejabatpejabat kabupaten, dan tak ketinggalan caloncalon gubernur yang akan ikut pemilu kada dalam waktu dekat. Ada juga pemberi hadiah yang disepak oleh kuda. Ada yang hampir digigit. Namanya juga kuda. Empat orang pengamen lengkap dengan alat musik dan kekurangan secara fisik, melintas di depan penonton yang berjongkok atau berdiri atau menghenyakkan pantat duduk di atas rumput. Pengamen itu mendendangkan lagu-lagu ciptaan sendiri, dengan bahasa dan logat sendiri. Beberapa orang mengisi kotak simpati dengan uang, kemudian terus berteriak ke arah gelanggang. Suara teriakan itu telah banyak yang parau, karena sejak tadi tak henti meneriaki kuda, atau tertawa terbahak-bahak karena menang, atau juga mengumpati joki yang kudanya lamban. Pengeras susara tak henti-henti mengeluarkan kata larangan untuk ribuan penonton supaya tidak mendekat ke sasana tempat kuda berlari. Baru saja pengeras suara mengalih pembicaraan, dua orang telah diinjak kuda. Kuda setinggi 1,6 meter lebih itu masuk ke area penonton. Ia dengan semenamena melunyah-lindas penonton. Dua penonton segera dilarikan ke ambulan yang telah disediakan panitita. “Apa saya bilang,

/September 2012

71


Mahasiswa dan Dosen

Pelembagaan Ajaran Agama Intoleran Dosen Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang Oleh Sefriyono

D

alam terminologi agama, kesalehan seorang penganut agama dapat diukur dengan kesetiaan mereka 24 jam pada nilai-nilai agama yang dimilikinya (Elizabeth K. Notingham, 1985:146). Problematika muncul ketika penganut agama tersebut berusaha menafsirkan kesalehan tersebut dalam kontek sosial. Kata kunci manifestasi agama yang diharapkan ada dalam realitas sosial adalah agama melalui penganutnya mampu menjadi penyebar kebaikan bagi kemanusiaan. Dalam berbagai ajaran agama disebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Terkait dengan hal ini, pada prinsipnya sikap mental umat yang direstui oleh agamanya adalah sikap mental positif. Refleksi sikap mental positif terlihat dari keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat yang memang menyejukan bagi orang lain. Kata-katanya enak didengar, laku perangainya bebas dari hasutan dan mengadu domba, sikap dan perilaku sosialnya refleksi dari nilai-nilai kemanusiaan universal dengan bingkai spritualitas yang dalam. Sebaliknya sikap mental negatif yang terlihat dari kesombongan religius dalam bentuk sikap menyatakan keyakinan yang dimiliki paling benar dan karena itu harus jadi referensi bagi orang lain, prasangka religius yang menganggap penganut keyakinan lain lebih rendah derajatnya dari keyakinan yang dimiliki dan intoleransi merupakan sikapsikap mental beragama yang tidak diharapkan keberadaannya dalam agama. Apalagi menggunakan kalimat-kalimat suci yang bersumber dari ajaran agama yang luhur bagi mobilisasi masa untuk memaksa dan menghancurkan kelompok keyakinan yang berbeda dengan yang dimiliki. Kalau memang perilaku yang diharapkan oleh agama adalah prilaku baik dan ramah, mengapa masih banyak tindakan anarkhi yang pelakunya dari kalangan penganut agama? Peristiwa Parung, Cikesik, dan Temanggung misalnya tidak saja telah mengakibatkan korban harta tetapi juga telah merenggut nyawa, pelakunya adalah mereka yang mengaku beragama. Buktinya simbol-simbol suci agama seperti takbir menjadi pengiring bagi tindakan pengrusakan, pembakaran, bahkan pembunuhan. Pola sosialisasi ajaran agama truth claim yang menumbuh suburkan sikap

72

/September 2012

beragama yang bernuansa diktator mayoritas dan teror minoritas dan pembiaran anakhis dengan dalih agama oleh lembaga pengendali sosial seperti polisi mungkin perlu menjadi renungan anak bangsa sebagai faktor penyebab semua ini. Sepertinya pasca Orde Baru pola-pola sosialisasi agama seperti ini mengemuka di negara ini. Sosialisasi Truth Claim Pasca Orde Baru, pola-pola truth claim dalam sosialisasi ajaran agama marak terjadi seiring dengan euphoria kebebasan sebagai bentuk dampak negatif dari reformasi bangsa. Pola-pola ini berlahan tapi pasti pada akhirnya akan melembagakan sikap beragama fundamentalis, intoleran dan jauh dari keramahan. Pola sosialisasi ajaran agama trutth claim selalu diawali dengan indoktrinasi bahwa keyakinan agama yang dimiliki merupakan keyakinan agama yang paling benar sementara keyakinan agama lain tidak benar. Sikap beragama lebih lanjut yang hadir sebagai konsekwensi dari hal ini adalah penegasian terhadap keyakinan agama lain dan usaha menjadikan keyakinan agama yang dimiliki menjadi referensi bagi kelompok penganut keyakinan lain. Sosialisasi ajaran agama oleh tokoh-tokoh agama dengan pola-pola ini akan berujug pada penghalan sikap diktator mayoritas dan teror minoritas dalam beragama. Sikap beragama semacam ini prahara bagi negara dengan heterogenitas keyakinan beragama. Diktator mayoritas merupakan sikap beragama yang berusaha membatasi segala gerak-gerik minoritas dengan kekuasaannya karena memiliki mayoritas kekuasaan. Keberadaan minoritas selalu dianggap sebagai ancaman bagi keberlangsungan eksistensi mereka. Segala macam cara akan digunakan untuk membatasi aktivitas minoritas. Pada level ini tindakan represif dalam betuk kekerasan atau bahkan pembunuhan merupakan tindakan yang berlimpah pahala dan jaminannya adalah sorga. Simbol-simbol suci agama sering dijadikan alat memobilisasi masa untuk menghancurkan orang yang memiliki ideologi dan sikap keagamaan yang berbeda dari mereka. Teriakan kalimat-kalimat suci menjadi penggiring berkobarnya api pembakaran, jeritan tangis dan erangan karena meregang nyawa. Pertanyaan yang

terlitas dari pemikiran sederhana kita adalah apakah Sang Maha Pencipta juga bahagia menyaksikan semua ini sebagaiman disangka oleh mereka yang berbuat, atau Sang Maha Pencipta malah gerah melihat sikap-sikap mereka. Karena telah mempolitisi kesucian-Nya untuk sesuatu yang tidak suci, dan mencederai diri-Nya sebagai sang Pengasih lagi Penyayang. Disamping bahaya pola-pola sosialisasi ajaran agma yang bersifat truth calaim sebagaimana diungkap sebelumnya, polapola sosialisasi ajaran agama seperti ini dipersubur oleh menjamurnya kelompokkelompok keagamaan dengan pola-pola sosialisasi indoktrinasi dalam beragama di negara ini pasca Orde Baru. Dalam polapola beragama kelompok ini ,beragama yang benar tersebut adalah pola-pola beragama yang sesuai dengan apa yang dinyatakan guru dan kode etik kelompok keagamaannya. Karena kalau untuk masuk kelompok agama tersebut, suatu prosesi yang tidak mesti dilupakan adalah baiat atau sumpah setia tanpa reserve terhadap guru dan kelompoknya. Derasionalisasi sangat berkembang dalam pola-pola beragama semacam ini, karena ketaatan terhdap guru dan kode etik kelompok lebih utama dari petimbangan-pertimbangan rasional. Perintah guru meskipin tidak rasional juga mesti diikuti, karena hal tersebut merupakan bentuk loyalitas keagamaan kelompok. Pola-pola beragama seperti ini mungkin bisa disebut pola-pola beragama brain washing. Sepertinya hal ini harus menjadi renungan semua elemen bangsa, terutama bagi mereka yang tega menggunakan simbol-simbol suci agama untuk sesuatu tindakan yang tidak suci. Karena hal ini telah merubah wajah ramah agama menjadi seram, sadis, menakutkan dan jauh dari kedamian. Agama pada akhirnya tidak lagi menjadi rahmat, tetapi malah menjadi petaka bagi kemanusiaan. Dalam dialektikannya pola-pola beragama diktator mayoritas ini akan selalu diiringi dengan pola-pola beragama teror minoritas dalam bentuk keberagamaan militasi dalam mengejawantahkan keyakinan yang dimiliki. Hal ini akan selalu berdialektika sampai akhir zaman dalam bentuk basmimembasmi, kalah-mengalahkan.yang dimiliki. Hal ini akan selalu berdialektika sampai akhir zaman dalam bentuk basmimembasmi, kalah-mengalahkan.Pola-pola beragama semacam ini tentu tidak diharapkan semua penganut agama.

Karenanya perlu ada pola sosialisasi ajaran agama yang ramah, toleran dan cinta kedamaian. Proses ini bukan hal yang mudah, membutuhkan pendekatan budaya dalam bentuk pembudayaan ajaran agama yang ramah dan toleran dalam jangka waktu panjang dan regulasi yang jelas terkait dengan penyiaran agama dan jangka pendek. Untuk jangka panjang lembaga pendidikan seperti sekolah atau perguruan tinggi sepertinya merupakan lembaga yang tepat bagi transmisi budaya agama yang toleran ini. Karenanya perlu ada pendidikan multikultural atau pendidikan Perbandingan Agama sebagai bagian dari kurikulum pendidikan sekolah, kalau memungkin sampai ke tingkat perguruan tinggi. Pada taraf minimal, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama harus mampu memformat kurikulum pendidikan agama dengan nuansa multikultural atau nuansa Pebandingan Agama. Dalam penelitian singkat yang saya lakukan terhadap kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah menengah atas (SMA), sebenarnya pola-pola beragama yang toleran tersebut bisa dibangun melalui pendidikan gama karena materi kerukunan hidup beragama telah terintegrasi dengan kurikulum Pendidikan Agama Islam, terutama pada satuan pendidikan sekolah menegah atas (SMA). Akan tetapi sepertinya materi tersebut di samping sekelumit saja dari kurikulum pendidikan agama, karena hanya merupakan satu kompetensi dasar saja dari 14 kompetensi dasar pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diajarkan di semester II pada kelas XII, juga kelihatannya materi tersebut tidak begitu menjadi perhatian serius oleh guru. Terkait dengan materi ini, sebagain siswa dari hasil wawancara yang saya lakukan malah mengatakan materi tersebut tidak dibelajarkan secara khusus, guru tidak memberikan penekanan khusus bahwa materi sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh sisiwa, hanya merupakan materi pengetahuan saja sehingga siswa hanya diberi tugas baca saja. Pada hal materi ini merupakan materi yang sangat penting dalam rangka menumbuhkembangkan atau membina sikap beragama yang ramah dan toleran di negara dengan heterogenitas agama. Terkait dengan hal ini, relatif sedikit lebih maju, materi kerukunan hidup beragama diajarkan pada dua semester pada kelas XII dalam kurikulum Pendidikan Agama Katolik. Pelembagaan nilai-nilai agama yang ramah dan toleran juga sangat efektif terejawantah melalui lembaga-lembaga keagamaan. Tokoh agama dalam semua agama diharapkan mampu menjadi penyebar nilai-nilai keagamaan yang ramah dan toleran. Tokoh agama diharapkan

mampu menjadi penyebar nilai-nilai agama yang tidak saja emosional tetapi juga nilainilai agama yang memupuk rasionalitas. Pasca Orde Baru, apapun faktor yang melatarbelakanginya peran-peran tokoh agama semacam telah mengalami krisis. Tokoh agama dalam cermah agamanya sebaigan besar lebih banyak mensosialisasikan nilai-nilai agama yang lebih banyak mempertajam perbedaan keyakinan ketimbang mencari titik persamaan. Implikasi dari pola-pola sosialisasi ajaran agama semacam ini adalah berkembang atau terlembaganya pola-pola beragama yang ekslusif di mana seorang penganut suatu keyakinan sulit menerima keberadaan orang yang berbeda dengan keyakinan yang mereka miliki. Lebih jauh lagi seorang penganut agama kalau tidak merasa muak, jijik ketika mendengar orang yang berbeda keyakinan dengan mereka, dalam interaksi sosial mereka sering bermuka masam terhadap orang yang berbeda keyakinan itu, keberbedaannya dianggap sebagai musuh, kalau musuh, maka kata kunci terhadap musuh adalah pembasmian agar mereka tidak menjadi penghalang bagi kelangsungan keyakinan yang dimiliki. Sudah saatnya tokoh agama melaui ceramah, khotbah di tempat-temapat ibadah mereka masing berusaha secara berangsuransur meninggalkan pola-pola sosialisasi ajaran agama yang bersifat menghujat dan menghasut atau dalam bahasa populernya, mensosialisasikan ajaran agama yang sifatnya provokatif. Tokoh agama pada masing-masing agama diharapkan mampu merubah paradigma beragama mereka yang bersifat ekslusifis kepada paradigama beragama inklusif dengan penekananpenekanan pada sosialisasi ajaran agama yang mengakomodasi sikap-sikap ramah, toleran, dan penuh dengan peradaban. Secara evolusi, pola-pola sosialisasi ajaran agama semacam ini akan melestarikan atau melembagakan keberagamaan umat yang rasional, beradap, toleran, menganggap perbedaan sebagai kekayaan hidup, tidak bermuka masam, saling hormat menghormati. Pada akhirnya keberadaan agama di tengah heterogenitas keyakinan agama tidak lagi menjadi momok yang menakutkan untuk sebagian orang, tetapi malah diharapkan dan dinanti-nanti kehadirannya. Sudah saatnya tokoh agama dalam semua agama di negara ini berusaha meninggalkan pola-pola beragama dengan pendekatan standar ganda (double standar) dalam beragama. Pola ini tidak saja berpotensi merusak hubungan sosial antar umat beragama, tetapi juga merusak wajah agama yang ramah menjadi brutal, sadis dan jauh dari suasana damai dan tentram. Hugh Goddard (dalam Kahmad, 2000: 176) mengungkapkan, pedekatan standar ganda

dalam beragama selalu mengetangahkan nilai-nilai seperti agama sendiri yang paling benar karena berasal dari Tuhan sedangkan agama lain hanyalah konstruksi manusia. Dalam sejarah, standar ganda ini biasanya dipakai untuk menghakimi agama lain dalam derajat keabsahan teologis di bawah agamanya sendiri. Melalui standar ganda inilah terjadinya perang dan klaim-klaim kebenaran dari satu agama atas agama lain. Ketegasan Hukum Pola-pola beragama main hakim sendiri ini tumbuh subur di negeri ini sebih banyak disebabkan oleh tidak terangkatnya supremasi hukum. Lembaga-lembaga pengendali sosial seperti polisi dan lainnya seperti juga turut berperan bagi tumbuh suburnya perilaku agama yang anarkhis ini, karena lembaga-lembaga ini sering melakukan pembiaran terhadap anarkhisme. Berbagai macam alasan muncul tehadap hal ini termasuk tidak berimbangnya kuantitas personil lembaga pengendali sosial dengan rasionalitas masa. Pola-pola pembiaran ini lambat laun akan melembagakan sikap anarkhis, termasuk anarkhis dengan dalih agama dalam mamsyarakat. Karena anarkhi yang dibiarkan akan menjadi habit atau kebiasaan. Pada akhirnya dengan mudahnya sekelompok orang akan memaksakan kehendaknya pada kelompok lain manakala mereka mempunyai kekuasaan untuk itu. Kondisi ini diperparah dengan munculnya lembaga-lembaga pengendali sosial terorganisir dengan embel-embel agama di negara ini yang kadang otoritasnya kadang melebihi lembagalembaga pengendali sosial resmi. Dalam realitas sosial, kadang kala sekempok orang lebih percaya dan patuh kepada pmpinanpimpinan informal tersebut ketimbang aparat keamanan. Ketegasan aparat keamanan dikalahkan oleh ketegasan pimpinan informal. Ini mungkin merupakan bentuk krisis lembaga pengendali sosial yang membutuhkan perbaikan yang intensif. Sudah saatnya pemerintah melalui lembaga pengendali sosial resmi tegas terhadap lembaga pengendali sosial tidak resmi ini agar tidak berlanjut anarkhisme dengan dalih apapun di negara ini. Lembaga pengendali sosial sudah sangat mendesak untuk menkonritkan sinyal presiden dalam pidatonya terkait dengan organisasi keagamaan yang suka anrkhis. Kalau pembubaran terhadap organisasi ini merupakan jalan terbaik, demi masa depan agama dan bangsa ke depan, kebijakkan tersebut bukan kebijakan yang mesti dibenci oleh seluruh anak bangsa ini. Tokoh agama dalam semua agama diharapkan mampu menjadi penyebar nilainilai keagamaan yang ramah dan toleran.

/September 2012

73


Nasional

Leha ANALISIS NASKAH KLASIK

By. R. Fardinan

Buku Sendi Aman Tiang Selamat Dr. Haka

NASEHAT UNTUK GURU DAN MURID

A

da 37 buku Dr. HAKA (Haji Abdul Karim Amarullah) termasuk naskah klasik. Populer juga dipanggil Inyiak Rasul, Inyiak Deer (DR) dan nama juaga sering diberi ujung alDanawiy, hidup antara tahun 18791945. Ia ayah dari Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Satu di antara bukunya Sendi Aman Tiang Selamat, dua jilid (1924). Buku ini pernah dilakukan content analysis (analisa isi) olek Sanusi Latief (Rektor IAIN Imam Bonjol dan Direktur Islamic Centre Sumatera Barat, 1998) bersama team peneliti selama satu tahun terhadap karya ayah Buya HAMKA itu (1 Desember 1987 hingga 30 Nopember 1988). Penelitian disponsori The Toyota Foundation. Sanusi, dkk. di antara buku yang dianalisis adalah Sendi Aman Tiang Selamat jilid II. Dijelaskan, buku ini awal mula memberikan perbedaan pengertian antara adat dengan limbago. Kata adat, berasal dari bahasa Arab yang artinya kebiasaan yang dapat berobah dan diubah. Sedangkan limbago berasal dari kata lembaga, adalah adat yang telah ditetapkan menjadi suri teladan, tahu beradat, dan memegang agama yang berlandaskan iman dan Islam. Pada dasarnya menurut DR.HAKA adat dan limbago berpangkal dari “tolong menolong” yang telah melembaga dalam setiap pergaulan hidup. Hal yang menarik, dalam buku ini HAKA mengisyaratkan, bahwa adat itu harus diperbaiki agar kehidupan umat menjadi aman dan selamat dalam setiap pergaulan hidup itu yang terbentuk dalam rumah tangga: antara ayah dan anak, suami dan istri, berkampung bernagari, dan antara pemerintah dengan rakyat. Akhirnya DR.HAKA menjelaskan bahwa buku ini disusun untuk memperlihatkan cinta tanah air dan cinta bangsa, dan kasih sayang sesama manusia diredhai Allah. Buku II ini DR.HAKA membicarakan mengenai lembaga guru dan murid, hak dan kewajibannya serta lembaga mempergunakan agama dan kepercayaan dalam pergaulan nyata dalam masyarakat. Khusus tentang guru dan murid, menarik untuk dianalisa dikaitkan dengan masalah-masalah guru dan murid sekarang di era reformasi ini. DR.HAKA menulis rpendapatnya bahwa pekerjaan guru itu berhubungan 74

/September 2012

dengan keamanan negeri dan keselamatan manusia yang menjadi tujuan lembaga guru dan murid. Pekerjaan menjadi guru merupakan suatu pekerjaan besar dan diamanatkan Allah dan rasul-Nya. Ada empat puluh empat (44) macam syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi untuk menjadi guru yang sempurna. Seseorang baru dikatakan guru, bila ia dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan yang ada padanya untuk kepentingan orang banyak. Keseluruhan sifat yang baik itu dituntut untuk dilaksanakan semuanya, agar jangan menimbulkan kerusakan; merusak keamanan dan hilangnya keselamatan hidup, karena martabat seorang guru, dan orang berpengetahuan bertujuan untuk meningkatkan derajat orang jahil. Karena itu guru harus mempunyai sifat-sifat yang lembut, mempunyai rasa kasih sayang, ramahtamah, santun dan lapang hati tanpa membedakan derajat murid. Untuk mencapai tujuan itu, hubungan guru dengan murid atau sesama murid, maupun sesama guru, haruslah terjalin dalam pergaulan yang baik. Guru harus memandang muridnya dengan ramah dan menghargai mereka. Pada dasarnya seorang dianggap menjadi guru apabila ilmu pengetahuan yang ada padanya bermanfaat dan disebabkan karena adanya murid. Guru akan menjadi panutan atau imam bagi muridnya dunia dan akhirat. Sehubungan dengan hal itu pengajaran yang akan diberikan kepada murid harus jelas tujuannya dan disesuaikan dengan tingkat kecerdasan murid yang menerima. Secara metodologis, pengajaran itu harus diberikan secara berangsur-angsur dan guru tidak bosan-bosannya mengulangulangi, dan diberikan dengan bahasa yang jelas, sederhana dan mudah dimengerti tanpa dipaksakan. Sifat guru yang baik ialah, apabila ia selalu mempunyai keinginan untuk menjaga keamanan dan keselamatan hidup orang banyak, karena dengan pengetahuan yang ada padanya ia berkewajiban meningkatkan derajat orang jahil (bodoh). Sebagai pewaris nabi, ia harus mempunyai sifat syaja'ah (pemberani) berkata benar dan tidak menyembunyikan ilmu yang ada padanya. Pada prinsipnya ilmu-ilmu yang datang dari Allah dan rasul-Nya tidak boleh diubah-ubah. Tetapi pada kenyataannya, ada beberapa hal yang

Ilustrasi Rolly Fardinan

memerlukan penjelasan-penjelasan, sehingga para ulama mujtahid dalam hal ini melakukan ijtihad, membandingkan dengan masalah-masalah sejenis, di mana hukumnya telah ditetapkan di dalam al-Quran. Artinya secara tegas jangan bertaqlid saja. Bila terjadi perbedaan pendapat antara para ulama perlu diadakan kesamaan pandangan, dan perestujuan pendapat. Selain itu hendaklah para ulama selalu menambah ilmu pengetahuannya. Artinya tidak bosanbosannya berusaha untuk belajar. Dalam pengertian lain, ia harus menganut prinsip “long life education”. Sehubungan prinsip-prinsip tadi DR.HAKA membagi derajat dan martabat guru itu menjadi tiga tingkatan, yaitu (1) mudarris, (2) wa'izh dan (3) mufti.

Sasaran seorang mudaris adalah anak-anak mengaji, murid-murid sekolah agama, atau sekelompok murid yang belajar tentang dasar-dasar iman dan Islam. Pelajaran diberikan dengan menyusun jadwal membaca dan menghafal. Pelajaran yang diberikan itu diatur menurut jangka waktu dan masanya, sekaligus seorang mudaris berusaha membuat rencana pelajaran, sehingga murid-murid mudah mendapatkan dan memahami pengetahuan itu. Mudaris memberikan ilmu secara berangsur-angsur menurut tingkatan umur dan kemampuan anakanak tersebut didasarkan kepada prinsip bahwa ilmu makanan akal. Adapun wa'izh tugasnya ialah membimbing masyarakat umum ke jalan kebaikan dan menghentikan larangan Allah dan rasul-Nya. Wa'izh harus seorang orator menguasai

retorika, karena sasaran pengajarannya masyarakat ramai dan juga menyampaikan nasehat-nasehat berdasarkan al-Quran. Selain itu wa'izh harus pandai memilih bahan-bahan yang harus disampaikan dan dengan tutur kata yang mudah dipahami orang. Para wa'izh harus orang yang sesuai antara tutur dengan perbuatannya, sehingga dalam hal ini ia dapat menjadi uswatun hasanah (panutan). Artinya kalau ia menyuruh orang berbuat sesuatu, ia harus mampu memulai lebih dari pada dirinya, sesuai dengan prinsip ibda' bi nafsi. Selain itu wa'izh harus bertingkah laku sebagai orang yang jujur terhadap dirinya. Adapun mufti ialah derajat guru agama yang berwewenang memberikan fatwa, nasihat dalam hukum agama atau menjawab pertanyaan tentang hukumhukum itu dan mampu menjawab pertanyaan tentang hukum-hukum itu dan mampu pula menguraikan masalah agama yang pelik, serta tahu pula pendapat yang mu'tamad dan dha'if. Ini merupakan derajat guru yang tertinggi, hanya dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan yang sempurna, baik dalam ilmu ushul dan furu', fiqih, maupun dalil-dalil syarak yang enam: al-Quran, sunnah, ijma', qiyas, istishaf, dan mashalihul mursalah. Jalan untuk mencapai derajat mufti itu menurut HAKA ialah dengan banyak menelaah kitab-kitab ushul, tafsir, dan hadis, sekaligus mengenal perawi hadis yang diakuis sah riwayatnya. Dalam mempelajari fiqih, seorang mufti hendaklah objektif, mengambil pendapat yang paling kuat tanpa terikat pada pendapat seorang imam atau satu mazhab. Artinya, ia tidak boleh ta'ashub. Selain itu pula ia harus menguasai ilmu alat yakni bahasa Arab yang merupakan kunci utama dalam memahami al-Quran, sunnah, ushul dan furu' fiqih, tafsir, hadis dan sebagainya. Dalam beberapa keterangan DR.HAKA dapat dilihat bahwa ia adalah seorang yang anti co-edukasi (pendidikan campuran). Alasannya ialah akan lebih banyak mudharatnya apabila laki-laki dan perempuan dalam suatu ruangan. Karena itu pula HAKA menegaskan antara laki dengan wanita harus berpisah dalam belajar. Bahkan ia pernah berfatwa bahwa seorang wanita haram memberi ceramah di depan laki-

laki atau di depan khalayak ramai. Namun demikian HAKA mengatakan, guru sejati mempunyai i'tikad yang memancar dari iman dan Islam, mempergunakan pikiran yang waras, bijak dalam mengambil keputusan yang sah dan adil. Mengenai murid HAKA berpandangan supaya berhasil menuntut ilmu, ada 10 macam peraturan yang harus ditaati murid-murid yang belajar agama: Pertama, bahwa ia harus suci badan jasmaniahnya dari segala najis dan kotoran dan suci hatinya dari segala sifat-sifat yang jelek. Oleh sebab itu setiap murid harus berusaha membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan perangai yang buruk, karena “ilmu adalah ibadah hati”. Segala macam perbuatan maksiat akan menjadi penghalang masuknya dan mantapnya ilmu pengetahuan itu dalam pikirannya. Kedua, murid haruslah menjaga jangan ada urusan-urusan lain yang turut menyibukkan pikirannya sehingga waktu, tenaga dan pikiran dapat diarahkan sepenuhnya kepada pelajaran. Ketiga, murid-murid haruslah menghargai ilmu pengetahuan, baik yang sudah dipelajari maupun yang belum. Dengan demikian ilmu yang telah dipelajari hendaklah diamalkan dan yang belum dipelajari haruslah dituntut dengan penuh kesungguhan. Demikian pula dengan segala macam sarana dan alat-alat dalam menuntut ilmu, seperti buku-buku dan lain-lainnya haruslah dipelihara dengan baik dan ditempatkan pada tempat yang mulia. Selain itu murid-murid harus lebih mengutamakan penggunaan keuangan untuk membeli buku-buku atau alat pelajarannya dari pada berbelanja untuk keperluan lain yang diingini hawa nafsu. Juga ia harus mendahulukan penunaian kewajiban yang berhubungan dengan ilmu demi untuk kelancaran pendidikan dan pengajarannya. Demikian pula murid-murid tidak boleh takabur dalam menuntut ilmu dan harus selalu hormat serta taat kepada guru serta mendengar nasehatnya. Tidak ada bedanya dengan kewajibannya dalam menghormati kedua orang tuanya. HAKA berprinsip bahwa hidup tanpa ilmu pengetahuan lebih melarat dari pada hidup tanpa harta sama sekali[] Saga01. /September 2012

75


Nasional

Leha RESENSI By. R. Fardinan

Sebab itu murid-murid harus bersifat tawadhu' (rendah hati) dan berkhidmat (berbakti) kepada guru (hal. 49). Mengenai kesopanan murid-murid kepada guru DR.HAKA mengemukakan bahwa murid jangan sekali-kali mencari-cari pertanyaan lalu diajukan kepada guru dengan maksud agar guru tu terpojok dan tidak dapat menjawab pertanyaannya dengan baik, sehingga berarti ia dipermalukan di hadapan murid-muridnya yang lain. Murid jangan pula mencari-cari kesalahan guru dan membukakan aibnya. Sungguhpun demikian DR.HAKA mencegah murid-murid memberikan penghormatan berlebih-lebihan kepada guru melewati batas-batas yang ditentukan agama. juga murid-murid tidak dibolehkan menurut perintah dan tingkah laku yang nyata-nyata menyimpang dari agama. 4. Bahwa dalam mempelajari ilmu, murid-murid harus mendahulukan ilmu yang amat penting menurut urutan prioritasnya, untuk mempelajari ilmu agama, harus mempelajari ilmu alat lebih dahulu, karena ia merupakan kunci utama untuk mempelajari dan memperdalam ilmu agama yang sebagian besar dalam bahasa Arab. Dan mempelajari ibadat-ibadat yang wajib harus didahulukan dari ibadat-ibadat sunat atau membicarakan masalah kilafiyah (hal. 55-56) HAKA juga mencela orang-orang yang telah menyediakan dirinya untuk menjadi guru, tetapi ia belum mempunyai alat-alat yang lengkap dan pengetahuan yang sempurna dalam memecahkan pengetahuan agama, karena hal itu akan menyesatkan murid-murid dari pada memberikan bimbingan dan petunjuk kepada mereka (hal. 57). Sebab itu HAKA menegaskan bahwa orang hanya mampu bertaqlid buta belumlah pantas menjadi guru. 5. Murid-murid jangan memadakan satu macam ilmu saja, karena ilmu pengetahuan itu bertujuan untuk menuntun manusia ke jalan Allah dan memberikan pertolongan kepadanya dalam menuju Allah. Karena itu setiap murid dalam mempelajari ilmu harus mempelajari dasar-dasar ilmu itu, faedahnya, hukum mempelajari menurut agama dan mengetahui kekuatan dalildalilnya. 6 – 7. Murid-murid dalam mempelajari ilmu menurut HAKA memerlukan perhatian dan kesabaran yang tinggi karena ilmu melahirkan kebenaran. 8. Murid dalam mempelajari ilmu pengetahuan harus meluruskan niat. Artinya orientasinya tidak boleh cendrung kepada hal-hal lain, tetapi semata-mata demi ilmu, karena ilmu itu akan membimbing manusia dalam meningkatkan derajat dan taraf kehidupannya. 9. Seorang murid dalam mempelajari ilmu pengetahuan harus mampu mengendalikan diri, menggunakan perbelanjaannya untuk kepentingan belajar, tidak mempergunakannya untuk kepentingan lain yang akan melahirkan tingkah laku yang buruk dan terjerumus kepada hal-hal yang tidak bermanfaat dan maksiat. Selain itu

76

/September 2012

menurut HAKA murid harus menunda perkawinannya. Artinya ia baru boleh kawin setelah usianya matang dan sudah berilmu yang dalam. Biarkan lebih dahulu ilmu itu lebih dahulu berurat berakar, berpohon dan bercabang, rimbun rampak di dalam dada. Karena menurut prinsipnya menurut HAKA selagi sehat dan kuat dan mempunyai harta serta waktu yang lapang sebaiknya dipergunakan untuk menuntut ilmu dan berbuat kebajikan. Prinsip ini sejalan dengan pepatah “sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. 10. Untuk menambah pemahaman murid-murid kepada pelajaran hendaklah diperbanyak belajar bersama teman-teman seperti bermuzakarah dan berdiskusi. Dalam bermuzakarah itu mereka saling mengemukakan pendapat dan pemahaman terhadap pelajaran yang telah diterima dan dalam mencari kebenaran sehingga terdapat saling kasih sayang dan saling menambah ilmu pengetahuan serta saling memperdalam pemahaman. Hal ini akan menimbulkan sikap saling harga menghargai pendapat orang lain, suka menerima dan bersedia memberi. Sebaliknya, bila murid tiada membiasakan belajar bersama-sama, akan timbul persaingan yang tidak sehat dan pada gilirannya membawa persaingan dalam pergaulan, mengganggu hubungan baik dan ketentraman. Memberi imbalan kepada guru berupa materi dalam hal ini HAKA mengemukakan dua pendapat. Pertama, ia berpendapat seorang guru tidak selayaknya menerima imbalan materi atas pekerjaan atau jerih payahnya mengajarkan pengetahuan agama. Pendapat ini antara lain dianut oleh al-Hafiz dalam kitabnya Fathul Bariy, sedangkan pendapat kedua mengatakan tidak ada halangan bagi seorang guru menerima imbalan materi dari murid-muridnya atas jerih payahnya. Imbalan itu sekarang kita kenal dengan nama uang sekolah atau uang kuliah. Pendapat ini dikukuhkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya I'lamul Muwaqi'in (h. 78). Setelah DR.HAKA membicarakan hak kewajiban guru dan murid, selanjutnya ia membicarakan bagaimana seharusnya ia dipakai, setelah seseorang berhasil memperoleh ilmu pengetahuan agama. uraian tersebut dimulainya dengan menjelaskan apa arti agama, orang beragama dan memakaikan agama. Menurut DR.HAKA agama adalah peraturanperaturan yang terdiri dari perintah-perintah dan larangan-larangan yang datang dari Allah yang disampaikan rasul-rasul-Nya untuk hambanya. Sedang orang beragama adalah orang yang meyakini adanya peraturan-peraturan itu. Adapun orang yang memakaikan agama ialah orang yang menjalankan peraturan-peraturan itu dengan mengetahui segala perintah dan menjauhi segala larangannya. Banyak lagi pemikiran Dr. HAKA dalam buku Senidi Aman Tiang Selamat, ditawarkan tim Sanusi Latief dan dapat dirujuk kembali ke buku itu.***

Jendela Minangkabau Hari Ini Judul Buku Penulis Tebal Penerbit Tahun Terbit Resensiator

K

: Direktori Minangkabau 2012 : (Tim Redaksi) Badan Pekerja Pucuak Adat Alam Minangkabau (BP-PAAM) : x1+1600 halaman : BP-PAAM bekerjasama dengan LKAAM Sumbar : 2012 : Zelfeni Wimra

ajian mengenai adat alam Minangkabau telah terbentang seperti terbentangnya alam takambang yang secara filosofis adalah guru orang Minang itu sendiri. Aspek-aspek fenomena yang mengemuka sangat kompleks. Namun, ada hal yang pada beberapa diskusi menuai kritik, yakni tradisi menuliskan apa yang terjadi pada perjalanan Minangkabau tersebut. Terdapat anggapan, sejarah Minangkabau tidak dapat diukur secara akurat disebabkan tidak ditemukannya sumber tertulis yang memadai. Selain itu, selalu banyak pertanyaan tentang Minangkabau. Dimano latak salai palito/di baliak telong nan batali/ dari mano asa niniak kito/dari puncak gunuang Marapi. Tanya dan jawab dalam pantun ini masih menyisakan persoalan baru. Mengapa digunakan kata salai palito dan telong nan batali? Mengapa harus puncak gunuang marapi? Bukankah marapi itu gunung aktif yang tidak memungkinkan bagi manusia untuk bermukim di puncaknya. Barangkali makna “puncak gunuang marapi” pada pantun ini mengandung arti lain. Begitulah seterusnya. Sehingga muncul pula kelakar kreatif yang satir: Minangkabau adalah gagasan yang penuh konflik. Apa pun itu, bukan berarti Minangkabau telah dicurigai eksistensinya lantas telah ditinggalkan masyarakatnya. Bukan. Pada tingkat kesadaran masyarakat Minang secara umum, dikatakan tidak beradat masih menjadi hal yang menyakitkan. Artinya, sensitifitas “keberadatan” di Minangkabau masih hidup di tengah masyarakat. Hanya saja, ketika masih tersisa pertanyaan: bagaimanakah Minangkabau secara filosofis dan kelembagaan dari zaman ke zaman; Minangkabau secara normatif maupun kerajaan; atau Minangkabau sebagai sebuah ide kolektif masyarakat modern? Agar Tanya berjawabgayung bersambut, dibutuhkan sebuah

referensi tertulis yang mengandung informasi penjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Inilah salah satu di antara sejumlah landasan pikir atas kehadiran sebuah buku bertajuk Direktori Minangkabau 2012. Agar terang, bahwa menjadi Minangkabau tidak hanya sebatas lingkup persepsi nilai Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABSSBK). Minangkabau rupanya terus berdialektika bersama beragam persoalan yang semakin hari, tidak bisa dipandang sederhana. Tersirat pada untaian pengantar buku ini: Dr. Fadlan Maalip SKM Tuanku Bosa XIV (Kanjeng Raden haryo Husododiningrat), Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Daulat Yang Dipertuan M. Taufiq SH Tuanku Muda Mahkota Alam, dan Ketua Umum LKAAM Sumbar, Drs. Sayuti Dt. Rajo Pangulu, M.Pd. Mereka sepikiran, bahwa harmonisasi adat dan alam, bumi sanang, padi manjadi, merupakan prinsip nilai tertinggi dari hakikat keberadaan Minangkabau. Serta begitu banyak landasan filosofis yang bijak untuk dipakaikan dalam menata kehidupan berbudi. Minangkabau dulu hingga kini semakin terpaparkan, ketika membuka isi buku ini. Ibarat sebuah jendela yang menginformasikan kepada mata dan pikiran penghuni rumah bentangan pemandangan di seberang halaman. Bagian Pertama mengungkai Sejarah dan Tambo Adat Minangkabau. Bagian Kedua: Kekuasaan yang Mempengaruhi Minangkabau. Bagian Ketiga: Undang Adat Minangkabau. Bagian Keempat: ABS-SBK. Bagian Kelima: Kesultanan Minangkabau Darur Qarar dan Kerajaan Kerabat. Bagian Keenam:

Monografi Ranah dan Rantau Minangkabau. Bagian Ketujuh: Bunga Rampai Minangkabau. Setidaknya, membaca buku ini, adalah juga membaca Minangkabau dari konsep hingga ke praktik. Minangkabau normatif bahkan Minangkabau ideologis. Apakah itu yang tersurat; yang tersirat, tersuruk, bahkan yang disurukkan dari Minangkabau. Sederhananya, buku ini adalah bacaan siapa saja yang secara terbuka memandang Minangkabau sebagai sebuah budaya yang juga tengah bergolak di Indonesia. Bergolak menemukan bentuk, inti ajaran, hingga nilai gunanya sebagai sebuah tatanan adat dan budaya. Selamat Membaca[] /September 2012

77


Adat Mamakai Leha RESENSI PERTUNJUKAN By. R. Fardinan

Kampung yang Hilang dari Ingatan Catatan Sutradara: Muhammad Fadhli Tukang Cukur tampil 29 Juli 2012 di Gedung Teater Arena Jurusan Teater ISI Padangpanjang. Produksi perdana Rumah Kreatif Serunai Laut bekerjasama dengan Teater Rumah Teduh. Pementasan sekaligus sebagai ujian penyutradaraan realisme bagi saya. Yang Terjadi di Belakang Panggung Tukang Cukur yang merupakan adaptasi dari Naskah Kampung Hilang yang ditulis Zelfeni Wimra bukanlah naskah popular yang banyak menjadi pilihan para sutradara teater muda saat ini. Namun, naskah tersebut menjadi pilihan saya untuk diangkat ke atas pentas. Sebab, ada inti naskah yang mempunyai koneksi langsung ke persoalan sosial-politik di Sumatera Barat, bercerita tentang sebuah kampung yang hilang. Saya mencurigai, jangan-jangan Kampung Hilang itu adalah ranah yang sekarang saya diami. Hilang dari ingatan kolektif sejarah bangsanya sendiri. Sepanjang melakukan studi terhadap naskah ini, imajinasi saya selalu diusik rekaman ingatan mengenai sejarah Padri, PDRI, dan PRRI, bahkan PKI. Sebuah tantangan bagi saya untuk mencerna, ada tidak, hal-hal yang belum terungkap dari rentetan peristiwa tersebut? Jika ada, apa bentuknya dan mampukah panggung saya menjelaskannya? Yang Terjadi di Atas Panggung Lampu fade in perlahan meyibak gelap yang sebelumnya menyelimuti panggung. Suara musik tradisional minang (ditata Bustanul Arifin) ikut mengiringi hadirnya pemandangan berupa sebuah tempat pangkas.Tataan artistic tampak menganut gaya realis sugestif, dimana bagian dinding depan dibuat imajiner dengan keberadaan kusen sebagai penegas batas. Sementara, tiga dinding menandakan bentuk ruangan persegi dengan satu titik tarik yang makin ke depan, makin terbuka.Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah meja pangkas, yang di atasnya ditempatkan pula sebuah bingkai dengan kaca imajiner.Di atas meja tersebut terdapat beberapa alat pangkas yang kemudian baru diketahui setelah digunakan. Di belakang meja itu (dilihat dari arah penonton) terdapat sebuah kursi pangkas yang dapat ditandai dengan ukurannya yang lebih tinggi dan menonjolkan pijakan pada bagian depannya.Pada dinding paling belakang, terdapat sebuah kursi panjang, khas kedai kampung. Dua orang lelaki kemudian muncul dari sisi kiri penonton. Satu lelaki (Santiang, diperankan Andre) mengenakan stelan kemeja rapi, dengan celana span dan topi ala “putuwijaya”.Sementara dengan tangan kirinya ia menjepit sebuah tas laptop. Ia juga mengenakan kacamata tebal. Lelaki yang besertanya tampak hanya 78

/September 2012

sebagai figuran yang berperan sebagai penunjuk jalan.Mereka berbincang dengan suara rendah. Lalu tiba-tiba si figuran menunjuk ke arah plang, dan Santiang mengangguk tanda ia telah menemukan tempat yang ia cari. Setelah si penunjuk jalan pergi, santiang menerima telepon. Sibuk sekali. Ia mendapat telepon dari seseorang yang berhubungan dengan pekerjaannya sebagai peneliti sekaligus panitia pembangunan tugu PDRI. Dialog ini berjalan lancar. Beberapa penekanan untuk beberapa kasus yang dibicarakan dalam telepon baru terdengar setelah karakter Ikia (diperankan Hendra) memasuki panggung.Mengenakan kemeja hitam terbuka dan celana hitam, berikut peci nasional menandakan bahwa Ikia adalah orang kampung. Penandaan ini kemudian terjelaskan lewat dialog yang terjadi antara Ikia dan Santiang. Ikia rupa-rupanya tidak begitu senang dengan kedatangan Santiang yang notabene adalah orang kota berpendidikan tinggi. Disini, sifat introfert masyarakat kampong muncul perlahan dari dialog dan acting Ikia.Cerita berjalan seiring masuknya karakter Rajo (diperankan Dito). Kepada Rajo, Santiang menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang peneliti yang ingin merekam apa saja pembicaraan orang di tempat cukur. Sebelumnya, Ikia telah mendengar desas-desus tentang adanya kampung yang disebut “Kampung Hilang”, tak berapa jauh dari lokasi berdirinya tempat pangkas Rajo. Tokoh ekstras Manih (diperankan Nia) juga menambah kelenturan cerita yang sejak awal berjalan agak tegang. Manih membawakan kopi. Hanya secangkir kopi yang dia letakkan di antara Ikia dan Santiang. Namun, sebelum benar-benar pergi, Manih memperdekat letak kopi itu kearah Santiang. Hal ini membuat Ikia semakin merasa tidak nyaman akan kedatangan Santiang. Seperti yang diharapkan Santiang, cerita Kampung Hilang kemudian mengalir dengan lancer dari mulut Ikia. “Pangkas rambut saya seperti tentara, sebab saya tidak ingin disamakan dengan

penduduk Kampung Hilang!” begitu permintaan Ikia kepada Rajo. Mendegar kalimat Kampung Hilang, Rajo kemudian tertarik. Ia menggali-gali keterangan dari mulut Ikia. Namun, pada beberapa bagian, Rajo seperti berusaha menghentikan cerita Ikia dengan gerakan menekan kepala Ikia dengan kuat, sembari menaruh gunting pada leher lelaki itu. Rajo sepertinya ingin Ikia bercerita semaunya, tetapi tidak untuk halhal yang terlalu prinsipil dan mendalam. Kadang, interaksi Ikia dan Rajo, menampakkan semacam kesepakatan bahwa ada cerita yang boleh didengar Santiang, dan ada yang tidak. Di sela cerita, kadang sindiran Santiang tentang betapa tidak logisnya cerita Ikia membuat suasana menjadi tegang. Yang Terjadi dalam Ingatan Saya memilih Tukang Cukur karena di situ terdapat unsur sureal dan eksistensial yang justru jadi sangat realis dalam paradigma orang Minang. Ada semangat pemberontakan. Yang terpenting, naskah ini otentik dan faktual. Bukan naskah kamar yang tidak sanggup menjadi pengakomodir kegelisahan realitas masyarakat. Selain itu juga sebagai apresiasi terhadap penulisan naskah realis oleh penulis muda Sumatera Barat. Saya berpikir, realisme orang Minang memiliki beban kenyataan yang unik. Perbincangan di lapau-lapau kopi atau di tempat cukur rambut, tidak seluruhnya mempersoalkan apa yang dapat direspon panca indera. Melainkan menyibak, apa kira-kira yang “mengada’ di seberang panca indera. Bahkan, indera manusia barangkali tidak hanya lima. Ada indera ke enam atau ke tujuh. Realitas atau paradigma ini yang secara konsep pertunjukan sepertinya akan terus mengganggu saya, menyisa dalam ingatan saya setelah pertunjukkan ini usai[] /September 2012

79


Mahasiswa Menulis

Selingan

Berhati Telaga

Jika datang satu persoalan di kenyataan hidupmu yang kau rasakan pahit, maka segeralah kau letakkan ia di dadamu yang lapang.

80

/September 2012

Seorang Pemuda merasa hidupnya sudah sedemikian berat. Masalah demi masalah yang tak diingininya beruntun datang begitu saja. Berbagai cobaan seakan tak henti mendera hari-harinya. Semakin lama derita itu ia rasakan semakin perih. Beban yang dipikul pundaknya serasa tak kuat lagi ia tahankan. Langkah kakinya tertatih-tatih dan terseok-seok, bagai berjalan di kubangan lumpur. Dadanya penuh sesak dan sangat kering. Nafasnya terengah-engah laksana berpacu melawan lara yang meliliti hatinya. Akhirnya sang Pemuda mengadukan derita hidupnya itu kepada Pak Tua. Demikian lelaki bijak yang sudah setengah renta di kampungnya itu biasa dipanggil. Seringkali Pak Tua didatangi orang untuk meminta nasehat, menemukan jalan keluar dari kebuntuan persoalan, ataupun hanya sekedar berbagi keluh dan kesah kehidupan. “Pak Tua, begitulah ceritanya...”, kata Pemuda itu sambil menarik nafas panjang. Ia pun lalu menghembuskannya seakan menyemburkan bergumpalgumpal hawa panas. Seiring hembusan itu terasa ada sedikit beban di pundaknya menjadi berkurang. Mungkin karena semua keluh kesahnya itu telah tertumpah pada Pak Tua. Ia merunduk, menunggu untaian kalimat nasehat. Syukursyukur ada sebait dua mantra yang serta merta bisa menghapus derita berkepanjangannya ini, pikirnya. Pak Tua menganggukangguk kecil dan ringan. Sehabis satu tarikan nafas, ia mengangguk sekali lagi. Kali ini pendek dan agak keras. “Mari” katanya pelan. Lelaki tua itu beranjak dari duduknya, bangkit dan melangkah ke bagian dapur rumah sederhananya. Sang Pemuda mengikut begitu saja. Ada heran dan seribu pertanyaan menggelayut di benaknya. “Lihat ini”, kata Pak Tua sembari mengambil segenggam serbuk ramuan pahit yang biasa ia jadikan penawar linu di badannya. Ia

masukkan segenggam serbuk pahit itu ke dalam gelas kaca berisi air. Ramuan itu diaduknya dengan perlahan. “Minumlah!”, kata Pak Tua. Tentu saja si Pemuda merasakan pahit yang amat sangat. “Puih...pahit sekali, pahit luar biasa...minuman apa ini?” kata si Pemuda sambil tak sanggup menelan air yang sehirup itu. Kerongkongannya rasa tercekik, lidahnya hampirhampir mati rasa. Pak Tua diam tak menjawab. Ia lalu kembali mengambil segenggam ramuan pahit yang sama. “Mari, ke sini...” katanya sambil menuju ke belakang rumah. Ada sebuah telaga jernih di sana. Airnya bening dan berkilau. Tanpa berkata-kata, Pak Tua melemparkan genggaman serbuk pahit itu ke tengahtengah telaga. Serbuk bertaburan dan sekejap kemudian lenyap tak berbekas. Pak Tua menyeduk air telaga dengan telapak tangannya. “Minumlah. Terasa pahitkah?” tanya Pak Tua. “Tentu tidak Pak Tua...air ini segar..!” jawab si Pemuda sambil menelan air di telapak tengannya. Pak Tua mengangguk kecil dan tersenyum. Meski belum sepenuhnya paham, tetapi si Pemuda mulai merasakan ada setitik embun dingin menetes di sanubarinya. Pak Tua menatap tajam bola mata si Pemuda. Tatapannya menusuk hingga jauh ke relung hati terdalam. Ada perasaan galau, malu bercampur sendu di dadanya. “Anak muda, dengarkan baikbaik ...”, kata Pak Tua sambil duduk di tepi telaga. “Ketahuilah, seribu satu masalah adalah resiko kehidupan. Tak ada hidup yang tak bermasalah. Hanya kematianlah yang mengakhiri masalah di kehidupan dunia ini”, sambung Pak Tua. Setetes lagi embun dingin itu jatuh di kegersangan hati si Pemuda. “Tahukah engkau bahwa pahitnya kehidupan adalah bagaikan segenggam serbuk pahit tadi. Tak lebih dan tak kurang. Tingkat kepahitan dan banyak genggamannya juga sama dan tetap akan sama, antara permasalahan yang kau

F. Katik Batuah derita dengan yang diderita orang lain. Anak muda, ketahuilah bahwa yang berbeda itu adalah “rasanya” dan rasa itu tergantung dimana engkau meletakkan kepahitan itu dalam dadamu. Jika kau letakkan ia di hatimu yang sempit, maka rasanya akan sangat-sangat pahit, sepahit air dalam gelas tadi. Tetapi jika kepahitan hidup itu kau letakkan di hatimu yang lapang, maka kepahitan itu akan sirna, menjadi segar sesegar air telaga tadi”. “Karena itu, anak muda..”, lanjut pak Tua, “Jika datang satu persoalan di kenyataan hidupmu yang kau rasakan pahit, maka segeralah kau letakkan ia di dadamu yang lapang. Tampunglah ia dengan keluasan hatimu. Itulah yang bisa kau lakukan untuk merubahnya menjadi kesegaran. Hatimu adalah wadah menampung segala pahit getir perjalanan hidup ini. Jangan kau jadikan hatimu sesempit gelas. Jangan, sekalikali jangan. Tetapi luaskan ia seluas telaga. Niscaya hidup ini menjadi ringan, anak muda”, kata Pak Tua sambil tersenyum. Si Pemuda merasa ada embun dingin meresapi sekujur tubuhnya. Matanya berbinar, dan ia kembali menatap telaga. Ia mulai merasa dirinya sesejuk air telaga itu. Perlahan-lahan kesegaran itu ia rasakan mengaliri setiap nadi di sekujur tubuhnya.

/September 2012

81


Dari/ ke Nagari

1

NAGARI LIMA KAUM Nagari Lima Kaum Tanah Datar berbenah. Wali Nagarinya Meriyaldi ingin jaringan jalan mendukung usaha petani. Ke depan ia ingin petani tidak lagi memikul sendiri hasil tani, tapi sudah bias diangkut dengan gerobak atau sepeda motor. Untuk memelihara jaln itu nagari itu membuat peraturan Nagari tentang retributsi pemakaian jalan Nagari untuk biaya perawatan, kata sumber www.tanahdatar.go.id. Di Nagari Lima Kaum ini, baru saja Bupati Tanah Datar M Shadiq Pasadigoe meresmikan pembangunan jalan tani yang dikerjakan oleh Kelompok Tani Jorong Batu. Hadiri Penanggung Jawab Operasional PNPM MP Provinsi Sumatera Barat Zakirwan Chan, Kepala Badan Taskim dan PPMKB dan Camat Lima kaum Hernita.S.sos.

3

2

NAGARI RAO-RAO LEWAKAN 7 PENGHULU

Minggu pertama September, Nagari Rao-Rao< Sungai Tarab, Tanah Datar, melewakan 7 orang penghulu dihadiri Bupati Shadiq Pasadigoe, demikian sumber www.tanahdatar.go.id. Pengukuhan dilakukan Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Rao-Rao M.Dt.Pangulu Basa, dan pembacaan sumpah oleh Wali nagari Rao-Rao F.Dt.Sinaro Sati. Para penghulu itu: (1) Rio Putra Dt.Permato Alam, (2) Suhatril Dt.Marajo Basa, (3) Fajri Dt.Milik Dirajo, (4) Reza Dt.Bagindo Cumano, (4) Yunir Dt.Bandaro, (5) H.Mukhlis Dt.Mangkuto Basa, (6) dan Yazid Fahmi Dt.Mustafa, (7) Asman Abas Pegawai Rajo Tan Pahlawan. ****

NAGARI DI SUMBAR Nagari di Sumatera Barat sebelum dimekarkan 543 (di Kabupaten/ Kota), setelah diemekarkan menjadi 600 lebih untuk 11 kabupaten saja yaitu: (1) Pesisir Selatan, (2) Solok, (3) Solok Selatan,(4) Sijunjung, (5) Dharmasraya, (6) Padang Pariaman, (7) Tanah Datar, (8) Agam, (9) Limapuluh Kota, (10) Pasaman dan (11)Pasaman Barat. Nagari di Kota tetap eksis tetapi tidak menjadi nomenklatur pemerintahan terendah dalam system NKRI, meskipun ada amanat perda untuk nomenklatur nagari. Pemerintahan terendah di Kota adalah Kelurahan. Nagari setelah dimekarkan di antaranya Wikipedia mencatat 648, (dipastikan masih ada yang belum tercatat) ****

/September 2012

83


KOLOM

84

/September 2012

/September 2012

85


Bintang di Langik Minang

Almarhum Allahuyarham Mohammad Natsir adalah putera Minang “Kita tidak boleh yang menjadi salah hidup seperti ramaseorang tokoh dengan rama yang hidup kredibilitas nasional dan hanya untuk sehari. internasional. Kebesaran Akan tetapi dalam Natsir di dunia Islam kehidupan itu kita harus merasakan dibuktikan oleh posisi bahwa kita pentingnya di berbagai merupakan satu mata organisasi Islam tingkat rantai dari rantai yang dunia. Sewaktu rezim panjang, yang Orde Baru mencekalnya bernama sejarah, ke luar negeri, para hidup dalam apa yang pemimpin dunia Islam disebut “perspektif sering bertanya kepada sejarah” sehingga kita mampu menilai suatu utusan Indonesia dalam peristiwa atau event Internasional keadaan dari tentang kondisi Natsir. perspektif sejarah itu” Konon, sejumlah (M. Natsir, Dari Masa universitas luar negeri ke Masa,) akan menerima calon mahasiswa dari Indonesia jika ada rekomendasi dari Mantan Perdana Menteri dan Menteri Penerangan RI ini. Bahkan kabarnya funding negara-negara kaya Arab segera meloloskan proposal bantuan untuk lembaga keagamaan Islam di tanah air manakala ada “tanda tangan” putera Alahan Panjang, Solok, ini. Itulah kebesaran dan penghargaan Natsir di dunia internasional. Sebuah apresiasi yang jauh dari yang diberikan oleh negeri dan kampung halamannya sendiri. Memang pernah mengapung nama beliau diusulkan untuk nama bandara internasional kebanggaan Ranah Minang. Tetapi ternyata cuma sebatas wacana belaka. Nama BIM (Bandara Internasional Minangkabau) dipandang lebih tepat oleh pembuat kebijakan. Universitas Islam Internasional Mohammad Natsir hingga kini juga hanya sebatas wacana. Baru ada Pesantren Mohammad Natsir di kampung halamannya Alahan Panjang Solok dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir di Jakarta. Gelar Pahlawan Nasional pun diberikan pada 10 November 2008, sekitar 15 tahun setelah negarawan besar ini tiada. Tak ada yang menyangsikan kebesaran Natsir. Ia menjadi icon dunia Islam, meski ia sendiri tidak mau dibesar-besarkan. Ia ulama-cendekiawan, cendekiawan-ulama, pemimpin Islam tulen, dan patriot sejati. Kecendekiawanan Natsir juga terletak pada prestasi intelektualnya. Ia menguasai “idiom” intelektual seperti penguasaan

86

/September 2012

filsafat, penghayatan terhadap seni, budaya, sejarah, dan sebagainya. “Ia tampil prima dalam pelbagai kesempatan, dengan fasih menguasai 7 bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Perancis, Jerman, Latin, dan Esperanto”, tulis Ridwan Saidi dalam buku Islam dan Nasionalisme Indonesia (1995: 46). Meski demikian, di balik kebesaran dan reputasi internasionalnya Natsir tetap seorang sosok ulama yang rendah hati dan istiqomah mengurus kepentingan umat. Tak jarang ia didatangi dari berbagai pelosok tanah air hanya untuk mengadukan nasib musholla, madrasah kecil, atau kesulitan membiayai guru-guru pengajian. Tetapi baginya persoalan seperti itu adalah masalah serius. Tak ada yang sepele jika menyangkut umat. Natsir pun membantu dengan maksimal. Sungguh Natsir prototype ulama sejati yang sulit dicari saat ini. Natsir Kecil, dari Alahan Panjang ke Maninjau, Padang, dan Solok Pada awal abad ke-20, Minangkabau melahirkan putera-putera terbaik seperti Agus Salim, Muhammad Hatta dan Sutan Syahrir. Salah satunya adalah Mohammad Natsir, yang lahir hari Jum'at 17 Jumadil Akhir 1326 H/ 17 Juli 1908 di Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat. Ia wafat di Jakarta 6 Februari 1993/14 Sha'ban 1413 H. Ibunya bernama Khadijah dan ayahnya Mohammad Idris Sutan Saripado, pegawai juru tulis kontrolir di kampungnya. Sang ayah sering berpindah tugas, bahkan pernah menjadi sipir penjara di Ujung Pandang. Natsir kecil melewati hari-harinya dengan kekecewaan, karena ia tidak boleh menjadi murid HIS (Holland Inlandse School), sekolah rendah berbahasa Belanda. Lembaga pendidikan formal ini hanya diperuntukkan bagi anak-anak pejabat pemerintah seperti demang dan pejabat lainnya. Ia hanya bisa masuk sekolah Gubernemen yang berbahasa Melayu di Maninjau. Kehadiran HIS Adabiyah Padang yang didirikan Syarikat Oesaha pimpinan H. Abdullah Ahmad, membawa berkah bagi anak-anak kalangan biasa untuk bisa bersekolah, tidak terkecuali bagi Natsir kecil. Semasa di perguruan Adabiyah ini ia juga mengikuti sekolah sore. Pengalaman di Padang ini menumbuhkan kemandirian dan semangat hidup untuk tidak mudah putus asa dan percaya akan kekuatan diri sendiri. Ia harus mencuci dan memasak nasi sendiri, bahkan mencari kayu bakar ke pantai.

Keing inan Natsir untuk masuk HIS Pemerint ah akhirnya terlaksan a dengan melanjutkan pendidikan di HIS Solok, sambil sekolah sore di Diniyah. Malam hari, Natsir mengaji al-Qur'an, belajar bahasa Arab dan Fiqh dari Haji Musa, bapak “kost” Natsir yang sehari-hari saudagar di pasar Solok. Di samping belajar formal, ia juga menyempatkan diri berlatih keterampilan dan organisasi di Jong Islamieten Bond (JIB). Setamat HIS, Natsir berhasil melanjutkan studi ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang (semacam SMP berbahasa Belanda). Ini berkat prestasi istimewa yang dicapainya sehingga mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda. Di MULO ia belajar bersama dalam satu kelas dengan muridmurid keturunan Belanda. Perlu dicatat bahwa selama periode di Solok dan Padang, sambil menempuh pendidikan formal, Natsir remaja juga secara informal telah mulai memperoleh transformasi ide pembaharuan pemikiran Islam dari para ulama pembaharu di Minangkabau. Antara lain di Solok dari Tuanku Mudo Amin, seorang murid dan kawan tokoh pembaharu Haji Rasul, serta dari Haji Abdullah Ahmad di MULO Padang. Di Bandung, Menjadi Aktivis Pergerakan Prestasi memuaskan kembali diraihnya di MULO Padang, sehingga untuk kedua kalinya ia mendapat beasiswa pemerintah Belanda untuk melanjutkan pendidikan ke AMS (Algemeene Midel School) Afdeling A di Bandung, pendidikan setara SMU jurusan Sastra Barat Klasik. Di usia belianya itu ia tinggal di rumah Latifah, eteknya di Bandung. Di samping belajar Bahasa Belanda ia juga belajar Bahasa Latin dan Kebudayaan Yunani. Sebuah prestasi membanggakan ketika kelas 2 AMS ia sudah sanggup meneliti dan menganalisa “Pengaruh Penanaman Tebu dan Pabrik Gula Bagi Rakyat di Pulau Jawa” dan berani memaparkannya. Penelitian dan pemaparan ini mendapat pujian di kelasnya. Tidak semata sekolah, Natsir kembali

aktif di JIB. Lewat JIB Bandung ia memiliki kesempatan banyak belajar politik dari tokoh-tokoh nasional saat itu. Natsir muda dipercaya sebagai ketua JIB Bandung pada tahun 1928-1932. Setamat AMS, Natsir tidak melanjutkan kuliah, meski ia mendapat beasiswa untuk Fakultas Hukum di Jakarta dan Fakultas Ekonomi di Rotterdam. Natsir muda justru memilih mengabdikan diri sebagai guru pada salah satu MULO di Bandung. Ia sadar betapa minimnya pendidikan agama di lembagalembaga pendidikan formal pada waktu itu.meski ia mendapat beasiswa untuk Fakultas Hukum di Jakarta dan Fakultas Ekonomi di Rotterdam. Natsir muda justru memilih mengabdikan diri sebagai guru pada salah satu MULO di Bandung. Ia sadar betapa minimnya pendidikan agama di lembaga-lembaga pendidikan formal pada waktu itu. Natsir muda sangat beruntung mendapat pengkaderan langsung dari A. Hassan, ulama besar yang memiliki pengetahuan luas dalam bidang agama dan politik di awal abad ke-19. Tukar fikiran dengan Hassan memaksanya belajar kembali berbagai ilmuilmu keagamaan. Hassan mengajari Natsir bahasa Arab di samping soal-soal agama, politik dan gerakan kemerdekaan. Ia dibekali tafsir al-Qur'an berbahasa Inggris karya tokoh pembaharu Islam India Muhammad Ali. Selama di Bandung, Natsir kembali memperoleh transformasi pembaharuan Islam untuk kedua kalinya baik secara langsung dari Hassan maupun tidak langsung dari Muhammad Ali serta Muhammad Abduh dan Rasyid Ridlo lewat Tafsir al-Manar yang ditelaah Natsir bersama Hassan pada malam hari. Ketika itulah terbit publikasi pertama Natsir soal Islam, yakni pandangannya tentang agama Kristen. Di bawah bimbingan Hassan yang memberinya literatur yang relevan, Natsir menulis bantahan atas khotbah pendeta Ds. Christoffel yang dimuat di surat kabar “AID” (Algemeen Indisch Dagblad) berjudul “Quran en Evangelie” (perbandingan antara al-Qur'an dengan ajaran Nabi Isa) dan “Muhammad als Profeet” (Muhammad sebagai Rasul). Tokoh lain yang membentuk pola pemikiran Natsir muda pada periode ini adalah Agus Salim yang ia kenal sejak aktif dalam JIB Bandung tahun 1928-1932. Sebagai leader, Salim merupakan bapak intelektual yang banyak berperan membina generasi muda Muslim melalui organisasi pergerakan pemuda. Kelak kemudian hari, para pemuda itulah yang menjadi tokohtokoh politik Islam modernis. Keberuntungan besar bagi Natsir yang memperoleh warisan intelektualitas Salim, serta warisan pemahaman Islam dari Hassan.

Sosok Pembela Umat Salah satu dari sekian banyak persoalan umat yang menjadi concern Natsir hampir sepanjang hayatnya adalah membela dan menyelamatkan umat dari ancaman pemurtadan. Sejak zaman Kolonial, ancaman Kerstening Politiek yang dilancarkan misionaris dan petugas zending Kristen yang didukung pemerintah Kolonial Belanda, terus menerus menjadi momok umat Islam. Sebagai redaksi Majalah Pembela Islam saat itu, Natsir mengkritik kebijakan pemerintah Kolonial yang terangterangan berpihak kepada umat Kristiani serta bertindak diskriminatif terhadap umat Islam. Saat itu umat Islam menghadapi dua rival sekaligus yakni Zending Kristen dan pemerintah Kolonial Belanda. Meski Natsir sangat kritis tentang soal Kristenisasi, tetapi ia melihat persoalan dengan jernih dan tidak menggeneralisir. Dalam memandang pemeluk agama di luar Islam terutama Kristiani, Natsir mengkategorisasikan ke dalam tiga kelompok. Pertama, pemeluk yang taat dan tidak memiliki maksud tertentu dan pretensi untuk mencampuri urusan beragama kaum Muslimin, kedua, mereka yang memiliki maksud jahat dan menganggap adanya permusuhan terhadap kaum Muslimin, serta ketiga, mereka yang berperilaku munafiq dalam beragama. Pandangan ini tampaknya didasarkan pada pendapat Ibnu al-Qayyim yang dimuat al-Manâr. Prinsip itu dipegang Natsir dalam aktifitas sosial dan politik sehari-hari. Baginya, penghalang untuk mengadakan hubungan baik dengan pihak non Muslim adalah ketika mereka memperlihatkan gejala atau tindakan permusuhan terhadap Islam dan umat Islam. Selama hal itu tidak terbukti, tidak ada larangan untuk bekerjasama dengan mereka. Prinsip ini dibuktikan Natsir ketika ia menjadi Perdana Menteri dengan mengangkat beberapa orang menteri dalam kabinetnya dari non-Muslim. Kepedulian Natsir dalam soal pemurtadan umat Islam ini berlanjut di era kemerdekaan, masa Orde Lama dan Orde Baru. Ketegangan antar umat beragama waktu itu meningkat tajam. Berbagai insiden kekerasan antar umat beragama terjadi. Menanggapi insideninsiden tersebut, menurut Natsir yang diperlukan bukanlah symptomatyc approach, dengan sekedar menyelesaikan gejala yang kelihatan. Ibarat orang sakit malaria, kepalanya panas lalu diberi kompres es. Ini tidak akan menghilangkan penyakit malaria itu. Harus dicari sebab hakiki dari penyakit itu, karena panas kepala hanya suatu gejala orang sakit malaria. Demikian pula konflik antar umat beragama, harus dicari dan diselesaikan akar persoalannya.

Politikus dan Negarawan Ulung Pada periode akhir pemerintahan kolonial Belanda, muncul dualisme pandangan politik yaitu “Nasionalis Islami” di satu pihak dan “Nasionalis Sekuler” di pihak lain yang berbuntut polemik panjang dan meruncing. Natsir bersama Hassan menyuarakan paham nasionalis Islami dan melakukan kritik terhadap nasionalis sekuler. Polemik terutama dipicu pemikiran Soekarno yang mengadopsi pemikiran sekuler Kemal Attaturk, ketika paradigma kebangsaan Indonesia mencari bentuk. Islam sebagai dasar negara pada akhirnya menjadi simpul perjuangan politik Natsir di kemudian hari. Pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, Natsir sedang di Bandung, sehingga ia amat menyesal tidak ikut dalam peristiwa monumental tersebut. Namun Natsir –atas jasa Kahar Muzakkir– ikut menjadi anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), sebuah komite yang terdiri dari para tokoh politik terkemuka saat itu. Kiprah politiknya semakin menanjak ketika tampil menjadi anggota Komite ini. Tahun 1946-1949 ia menjadi Menteri Penerangan RI untuk tiga kabinet. Soekarno yang sejak lama menjadi lawan polemiknya dalam politik, sama sekali tidak keberatan ketika Syahrir mengajukan Natsir sebagai Menteri Penerangan. “Hij is de man” (dialah orangnya), kata Soekarno. Hatta bersaksi, bahwa Bung Karno tidak mau menandatangani keterangan pemerintah jika bukan Natsir yang menyusunnya. Prestasi spektakuler dan sosok kenegarawanan luar biasa Natsir terekam dalam sejarah yang dikenal sebagai “Mosi Integral Natsir”. Ketika Indonesia menjadi negara serikat sebagai produk dari KMB (Konperensi Meja Bundar), dalam sidang DPR RIS tahun 1950, Natsir sebagai ketua fraksi Masyumi di parlemen melontarkan statemennya yang dikenal sebagai “Mosi Integral Natsir” itu. Implikasi dari mosi yang disetujui secara aklamasi tersebut adalah, bersatunya kembali wilayah Indonesia yang saat itu sudah terpecah menjadi 17 buah negara bagian ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu tidak berlebihan jika Natsir disebut sebagai penyelamat NKRI. Atas jasa luar biasa ini, Soekarno mengangkat Natsir sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia. Inilah karier politik tertinggi Natsir yang dicapainya ketika usianya baru 42 tahun. Selama masa jabatan sebagai Perdana Menteri, Natsir menghadapi banyak persoalan. Berbagai kelompok sisa-sisa sukarelawan bersenjata pasca perjuangan fisik masih belum terselesaikan. Mereka antara lain Darul Islam, PKI, gerombolan MMC (Merapi Merbabu Compleks), dan Laskar Harimau Liar. Demikian pula soal

/September 2012

87


“ “

otonomi Aceh. Dalam pemerintahan sendiri, sikap PNI yang tidak bersahabat Hubungan kedua tokoh besar itupun semakin berjarak. Konflik kembali memuncak ketika Soekarno

memberlakukan Demokrasi Terpimpin.Menyikapi hal itu Natsir bersikap oposisi dan akhirnya bergabung dalam PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang berpusat di Sumatera Barat bersama Syafroeddin Prawiranegara dan tokoh-tokoh yang didominasi kalangan Masyumi. Karena alasan itu, maka pada 17 Agustus 1959, Soekarno secara sepihak membubarkan Masyumi dan memaklumkan pengampunan pada Natsir dan kawan-kawan. Maklumat ini dipandang sebagai jebakan untuk menangkap Natsir dan kawan-kawan atas tuduhan makar terhadap negara dengan melakukan pemberontakan. Natsir baru kembali setelah pemerintah RI mengeluarkan amnesti dan abolisi pada tahun 1961. Natsir diasingkan ke Batu Malang, Jawa Timur hingga tahun 1964 dan menjadi “tahanan politik” di Rumah Tahanan Militer (RTM) Keagungan Jakarta hingga tahun 1966. Tumbangnya Orde Lama membawa perubahan peta politik tanah air. Natsir dibebaskan tanpa pengadilan pada tanggal 1 Juli 1966. Karena itu tuduhan makar terhadapnya tidak pernah dapat dibuktikan secara hukum. Meski demikian, pergantian pemerintahan tidak memberi makna yang banyak secara politis bagi Natsir. Pemerintah Orde Baru tidak melibatkannya dalam politik. Partai Masyumi sebagai wadah perjuangan politik beliau tidak dapat direhabilitasi. Keengganan pemerintah untuk melibatkan Natsir, ditengarai sebagai dampak ketakutan terhadap sepak terjang Natsir yang memperjuangkan Islam sebagai dasar negara pada masa lalu. Meskipun dikucilkan namun kecintaan kepada negara dan sikap kenegarawanan Natsir tidak berkurang. Beliau pernah dimintai tolong Soeharto untuk memulihkan hubungan Indonesia dan Malaysia yang memburuk di era Orde Lama. Ketika itu, beliau menulis surat khusus kepada Perdana Menteri Malaysia YAB Tengku Abdul Rahman. Surat yang dibawa Ali Moertopo tersebut membuahkan hasil dengan mencairnya kembali hubungan kedua negara. Ketika Soeharto kesulitan meminta bantuan modal asing, Natsir berkontribusi

88

/September 2012

memuluskan bantuan Jepang serta beberapa negara Timur Tengah. Natsir akhirnya beralih dari perjuangan politik praktis ke perjuangan dakwah. Pada Pebruari 1967, bersama para ulama dan zuama beliau membentuk Yayasan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia bertempat di Masjid Al-Munawarah Tanah Abang Jakarta. Sejak tahun itu Natsir diangkat menjadi ketua organisasi yang berkiprah di bidang dakwah dan dijabat beliau sampai akhir hayatnya. Meski bergerak lewat jalur dakwah, bukan berarti Natsir tidak peduli politik. Keberaniannya mengoreksi Orde Baru seperti ikut menjadi penandatangan Petisi 50 bersama tokoh-tokoh nasional lain menjadi bukti kepedulian beliau yang tinggi terhadap nasib bangsa ini. Ulama-Intelektual dan Intelektual-Ulama Deliar Noer menyebut Natsir sebagai intelektual-ulama sekaligus ulamaintelektual. Intelektualitas beliau tampak dari karya-karya monumental beliau yang menunjukkan penguasaannya yang luas terhadap banyak bidang ilmu. Karyanya menyangkut masalah agama, sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Semuanya memiliki mata rantai yang menampilkan Islam sebagai trend utamanya. Tidak kurang dari 52 judul buku beliau tulis serta ratusan buah artikel tulisan berbagai bahasa. Beliau juga mengembangkan dunia penerbitan di samping dunia pendidikan dan dakwah. Ia seorang yang haus ilmu dan haus mengembangkan keilmuan. Kecintaan Natsir di bidang keilmuan dan pendidikan tampak dari upayanya mendirikan sejumlah perguruan tinggi Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang ia berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, dan Universitas Ibn Khaldun Bogor. Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Icon Dunia Islam Seperti yang diungkapkan di atas, bahwa dunia Islam merasa kehilangan ketika Natsir dicekal Orde Baru ke luar negeri, yang menyebabkan ia absen di sejumlah pertemuan tingkat dunia. Karena memang Natsir sudah bukan milik kampung halaman dan negaranya, tetapi menjadi milik dunia Islam. Sejak awal tahun 50-an, Natsir telah melakukan kunjungan ke berbagai negara Muslim. Tahun 1956 ia memimpin Sidang Muktamar 'Alam Islami di Damascus Syria untuk membahas agresi Israel ke Palestina, bersama Syekh Maulana Abul A'la al-Maududi (Lahore) dan Hasan al-Nadawi (Lucknow). Pada tahun itu juga mengerahkan solidaritas masyarakat Indonesia untuk membantu perjuangan

kemerdekaan di Afrika Utara. Atas upayanya ini, pada Januari 1957 ia menerima bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey. Tahun 1967 ia menjadi Vice President (Wakil Presiden) World Muslim Congress (Muktamar 'Alam Islami) yang bermarkas di Karachi Pakistan. Waktu itu beliau menggerakkan solidaritas dunia Islam untuk pembebasan Masjidil Aqsha dan Muslim Palestina. Natsir juga menjadi anggota Liga Muslim Dunia yang bermarkas di Makkah. Pada tahun 1972, ia diangkat menjadi anggota Kehormatan Majelis Ta'sisi Rabithah al-Alam Islami yang berkedudukan di Mekah Saudi Arabia. Tahun 1976 ia menjadi Anggota Majlis A'la Al-Alamy lil Masajid (Dewan Mesjid Sedunia) yang bermarkas di Makkah bersama-sama dengan Sheikh Ali Harakan dan Sheikh Abdullah bin Baz. Berbagai penghargaan tingkat dunia diberikan kepada putera Alahan Panjang Solok ini. Pada bulan Februari 1980 ia menerima Jaa-izatul Malik Faishal alAlamiyah (Faisal Award) di bidang pengkhidmatan kepada Islam selama tahun 1400 Hijriyah dari “King Feisal Foundation”, Riyadh. Pada tahun 1986 ia menjadi anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable Foundation, Kuwait. Tahun 1987 sebagai Anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic Studies, London, Inggris, serta Anggota Majelis Umana' International Islamic University Islamabad, Pakistan. Dalam bidang akademik, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Politik Islam dari Universitas Islam Libanon (1967) dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Saint dan Teknologi Malaysia (1991). Meski usia Natsir telah semakin tua –disamping beberapa penyakit yang menggerogoti tubuhnya – namun karena kebesaran dan kedekatannya dengan umat, ia terus dikunjungi para tamu hingga akhir hayatnya di usia 85 tahun. Ia meninggalkan isteri, Nurnahar, mantan aktifis JIB Bandung (menikah 20 Oktober 1934), serta enam orang anak; Siti Muchlisah, Abu Hanifah, Asma Farida, Hasnah Faizah, Asyatul Asryah, dam Ahmad Fauzi. Mantan Perdana Menteri Jepang yang diwakili Nakajima menyebut bahwa berita wafatnya Natsir pada 6 Februari 1993/14 Sha'ban 1413 H itu terasa lebih dahsyat dari bom atom Hirosima. Ini merupakan ungkapan yang mestinya membuat kita sebagai bangsa merasa malu karena telah memperlakukan tokoh besar yang disegani di tingkat dunia itu tidak sepadan dengan kebesaran dan jasanya terhadap negeri ini (Dihimpun dari berbagai sumber dan dibahasakan kembali oleh Faisal Zaini Dahlan).

sambungan hal... IRMAN GUSMAN Kekayaan pengalaman dan pemikiran ekonomi yang dimiliki Irman tidak terlepas dari jauhnya jam terbang dan merantau dalam menjalankan bisnis. Perjalananya sebagai ekonom di samping menjadi dewan pakar dan penasihat Majelis Ekonomi Muhammadiyah, juga memimpin banyak usaha, antara laini Direktur Utama PT Prinavin Prakarsa yang membidangi perdagangan dan investasi, komisaris utama di sejumlah perusahaan, yakni PT Khage Lestari Timber (pengelolaan dan ekspor kayu olahan), PT Padang Industrial Park (menggagas dan mengelola kawasan industri Padang), PT Guthri Pasaman Nusantara (pengelolaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Pasaman, Sumbar), PT Kopitime DotCom Tbk., PT Sumatera Kore Motor, pemilik dan pengelola Akademi Manajemen dan Ilmu Komputer (AMIK) di Padang, memimpin World Islamic Economic Forum / Forum Ekonomi Negara-Negara Islam di Dunia Internasional dll. Mengutip Yurnaldi, pengalaman merantau membuat Irman matang dalam menghadapi tantangan hidup. Perantauan geografis dari Padang (Sumbar) ke Jakarta (Jawa) telah memperluas pandangannya tentang Sumbar sebagai aset nasional. Perantauan "etno-nasionalis" dari daerah (kedaerahan) menuju pusat (kebangsaan) telah memperkuat aksesibilitas ketokohannya di tingkat pusat, menjadi tokoh nasional yang memiliki kepedulian memajukan Sumbar. Perantauan "sekto-pluralis" dari lingkungan sektor keagamaan (agama Islam) menuju lingkungan multiagama yang pluralistik telah memerkaya pemahamannya tentang konsep Islam sebagai rahmatan lilalamin dan membuatnya inklusif dan lebih terbuka, tetapi kaya dengan dimensi religiositas dalam berbisnis. (SAGA-01)*** sambungan hal... “RUU DESA” vs “NAGARI ISTIMEWA” Meski begitu, kearifan semua pihak mutlak diperlukan agar kebaikan bersama bisa diwujudkan dan mudarat yang lebih besar tidak terjadi. Sejarah Sumatera Barat sudah cukup kenyang dengan pertentangan pusat-daerah ini. Ranah Minang pernah menjadi poros pemberontakan melawan kesewenang-wenangan pemerintah pusat di masa Orde Lama. Sejarah membuktikan, jika konflik terjadi sesungguhnya tidak ada pemenang maupun yang kalah. Kedua belah pihak hanya membangun sebuah peradaban yang penuh permusuhan dan dendam kesumat yang pada saatnya akan meletus menjadi tragedi kemanusiaan. Karena itu, baik dalam upaya menolak RUU Desa, maupun memperjuangkan alternatif tuntutan Nagari Istimewa, yang perlu dibangun adalah semangat musyawarah untuk mufakat demi kebaikan bersama. Pepatah mengajari kita cara bijak menyelesaian masalah. Bak maelo rambuik dalam tapuang, rambuik jan putuih nan tapuang ndak taserak.Ending yang dituju pun sesuai dengan prinsip lamak di awak, katuju di urang. Bukankahindak ado kusuik nan indak salasai?Begitu nenek moyang mengajari kita.Wallahu a'lam.(fzd) sambungan hal,... TOKOH AGAMA MENGHADAPI RADIKALISME menghardik daripada mendidik. Maka lahirnya generasi umat yang merasa dirinya dan kelompoknyalah yang paling benar sementara yang lain salah maka harus diperangi, adalah akibat dari sistem pendidikan kita yang salah. Sekolah-sekolah agama dipaksa untuk memasukkan kurikulum-kurikulum umum, sementara sekolah umum alergi memasukan kurikulum agama. Dan tidak sedikit orang-orang yang terlibat dalam aksi terorisme justru dari kalangan yang berlatar pendidikan umum, seperti dokter, insinyur, ahli teknik, ahli sains, namun hanya mempelajari agama sedikit dari luar sekolah, yang kebenaran pemahamananya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Atau dididik oleh kelompok Islam yang keras dan memiliki pemahaman agama yang serabutan. Ulama Pencerah, Muakhah dan Muslih. Surat al-hujurat ayat 10, yang memuat dua konsep kunci ikhwatun dan fa aslihu patut diperhatikan bagaimana menjaga hubungan keseimbangan dalam perbedaan. Kalimat “ “ berkaitan dengan upaya mendamaikan dua kelompok mukmin yang berperang.

Ukhuwah berarti tidak membiarkan pertentangan, tetapi mengembalikan umat yang bertikai kepada syariat Islam yang mempersatukan mereka. Ukhuwah Islamiyah tidak akan tercapai tanpa kesediaan pihak-pihak yang bertentangan kepada Allah. Artinya : “ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, ( QS.Ali Imran : 103). Maksud ayat ini adalah, bila takwa sudah tegak dalam jiwa, ia akan mendorong orang untuk berpegang teguh pada tali-Nya. Ini terjadi bila orang mengenal hukum Allah-perintah dan laranganNya–beramal sesuai dengan aturanNya, tunduk dan patuh kepadaNya, meninggalkan selain itu dan beramal untuk menyebarkannya. Tali Allah adalah al-Qur'an al-Karim yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Al-Qur'an adalah petunjuk Allah yang dengan itu Nabi dibangkitkan, dan ditutupnya semua risalah. Ia disebut tali, karena tali Allah adalah alat untuk mengikat dan memelihara-untuk menunjukkan bahwa alkitab dengan seluruh ajaran dan hukum-hukumnya mengikat orang yang mengamalkannya, mengikat mereka seluruhnya kepada Tuhan mereka, sehingga mereka terpelihara dari tergelincir kepada hawa nafsu. Kesimpulan. Tugas ke depan tentu sangat berat, maka diperlukan kerjasama yang sinergis antara semua elemen bangsa, baik ulama, pemerintah, dan masyarakat untuk mengikis tindakan terorisme sampai ke akarakarnya. Paling tidak langkah itu dapat dimulai dengan cara meluruskan paham-paham keagamaan yang menyimpang oleh ulama, menciptakan keadilan dan stabilitas ekonomi dan politik oleh pemerintah. Serta menciptakan suasana kondusif bagi tumbuhnya tatanan masyarakat yang damai, toleran, aman, merdeka, religius, bertaqwa dan memiliki semangat kecintaan tanah air yang kuat. Program aksi yang dapat dilakukan antara lain, memberdayakan ulama dengan memberikan ruang, biaya dan kesempatan yang cukup untuk berkiprah mendidik umatnya. Memperkuat institusi keumatan, memberikan penguatan (capasitas building) ulama, mubaligh, dan memperbanyak media dan wahana untuk meluruskan sentiment sempit. Menghimbau pimpinan organisasi sosial keumatan untuk terus mendewasakan diri dengan mengevaluasi sistim, doktrin dan ideology pengkaderan yang menekankan pada Islam yang rahmatan lil alamin, tasamuh, ukhuwah, dan mencegah adanya ta'ashub dan fanatisme kelompok sempit. Mendorong agar pemerintah serius dalam melibatkan ulama dan tokoh umat dalam membina, mencegah dan mengadvokasi masyarakat agar sadar akan bahaya radikalisme. (DS. Ambon I/4,29082012.) sambungan hal,. Penyelamatan Tanah Ulayat PengalamanTalu sesuai dengan kesepakatan untuk jangka waktu yang ditentukan, dengan mendapat legalisasi dari pemerintah. 2) Kerjasama dalam bentuk perusahaan dimana pemangku adat ikut sebagai pemegang saham berupa tanah ulayat sehingga dari hasil sahamnya pembangunan wilayah adat dan kesejahteraan masyarakat terjamin. 3) Bagi hasil, Investor mengolah dan memanfaatkan tanah ulayat, pemangku adat dan masyarakat mendapat bagian dari hasil tanah ulayat sehingga terjamin kemaslahatan masyarakat. 4) Kerjasama pengolahan, pemangku adat bersama masyarakat ikut terlibat dalam pengolahan sesuai dengan kemampuan masing-masing dibantu sepenuhnya oleh perusahaan, sedangkan perusahaan diwajibkan membantu pembangunan masyarakat hukum adat. 5) Hak pakai atau Hak Guna Usaha (HGU)Masyarakat melalui pemangku adat membuat perjanjian pemberian HGU langsung dari Pemangku adat disaksikan atau dilegalisir oleh pemerintah dengan ketentuan: (1) Masyarakat diprioritaskan ikut sebagai petani anggota termasuk pemangku adat, (2) Pemerintahan nagari mendapat dana kompensasi yang memadai untuk mendanai pembangunan masyakat menuju kesejahteraan, dan (3) Tanah kembali kepada pemangku adat sebagai tanah ulayat apabila jangka waktu HGU habis.

/September 2012

89


Penelitian

Sh

90

/September 2012

/September 2012

91


92

/September 2012

/September 2012

93


94

/September 2012

/September 2012

95


Nasional

Masyarakat Islam, Sarjana, Enterpreneur dan Peluang Kerja

Sebuah Experience Orang Besar Minang dan Dunia, Maju ke Depan

M

Oleh: H. Irman Gusman, SE, MBA

asyarakat Islam dengan iman dan ilmunya derjat dan martabatnya akan terangkat tinggi, meski masih ada suara miring menyebut komunitas ini terkebelang pada tingkat kesejahteraan dan ekonomi. Sarjana jebolan perguruan tinggi Islam menjadi harapan besar masyarakat Islam, meskipun pada kenyataannya masih banyak yang belum mendapatkan hak pekerjaan yang layak baik sebagai pegawai negara, mau menjadi wiraswastawan sukses dan legislatif terpandang. Sebenarnya masyarakat dan sarjana Islam memerlukan sikap enterpresneurship didukung penguasaan ilmu, teknologi dan keterampilan (skill) yang dimiliki untuk mengakses peluang kerja. Semangat enterpreneur di dalamnya terkandung keberanian dan kecerdasan berbuat mengubah tantangan menjadi peluang kerja, sedangkan ilmu yang mencerdaskan akan membebaskan diri dari kebodohan, sedangkan kebodohan dekat dengan kemiskinan. Artinya dengan kecerdasan masyarakat dan sarjana Islam yang enterpreneur dan berilmu serta punya keterampilan tidak akan pernah miskin. Fenomena ini bagian dari pengalaman orang besar Minang dan dunia, menjadi tokoh terkemuka dan terpandang, baik dalam bidang pemerintahan, politik , ekonomi dan sistim budaya lainnya. Masyarakat Islam dan sistim ekonominya Secara empiris, di dalam masyarakat, seseorang meraih kepemilikan individunya tinggi, maka kemampuannya semakin tinggi pula untuk mensejahterakan pribadinya dan mempunyai peluang besar melakukan kegiatan amal membantu dan melakukan pemberdayaan orang/ kelompok lain. Kuncinya SDM. Karenanya peningkatan kualitas SDM masyarakat amat diperlukan, melalui pendidikan formal atau pendidikan in/non formal (pelatihan serta mengeksplisitkan pengalaman besar). Namun juga tak dapat dipungkiri kebijakan ekonomi yang adil amat diperlukan untuk memacu kegiatan ekonomi masyarakat terutama di daerah. Kesadaran ini sebenarnya mendorong saya dalam DPD RI pada setiap forum nasional dan internasional,

96

/September 2012

menyuarakan dan memperkuat komitmen peningkatan investasi di daerah, mengajak dunia menanamkan modalnya di Indonesia, seperti yang pernah saya suarakan di WIFE (Word Islamic Economic Faorum/ AlMuntada Al-Iqtishadiyah Islamic Al-Duali) ketika saya mewakili Presiden SBY pada WIEF ke-4 di Kuwait April 2008, diikuti dengan menggagas IRIF (The Indeonesiean Regional Investment Forum) sebagai forum perjuangan menarik gerbong investasi bagi akselerasi pembangunan di daerah. Diyakini, dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dalam masyarakat terutama di daerah, dipastikan lapangan kerja terbuka, kegiatan ekonomi ikutan juga tumbuh, tenaga kerja yang semakin meningkat punya peluang mengakses lapangan kerja dan meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan. Issue penting masyarakat Islam dewasa ini sering didekatkan dengan image, tingkat penghasilan dan kesejahteraan mereka rendah di tengah-tengah penemuan/ aplikasi sistim ekonomi Islam yang banyak dilirik non Islam. Elemen penting kesejahteraan pokok masyarakat di antaranya tercukupi pangan, perumahan yang memenuhi standar kehidupan layak bagi keluarga muslim diserta penerangan, air bersih dan telekomunikasi, sandang yang sarat nilai etika, medika dan estetika, terjaga kesehatan anggota keluarga, terpenuhi kebutuhan pendidikan Islami, kebutuhan transportasi terjangkau dll. Semua itu adalah hak masyarakat yang harus diraih. Kemampuan seseorang meraih jaminan hak-hak itu di samping hak sosial dan politik sebagai warga Negara akan mendukung kemampuan dalam menyerap nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Harapan yang sangat mendasar, tingkat produktifitas dan kesejahteraan masyarakat Islam harus lebih baik. Ada tantangan sebenarnya yang di dalamnya ada peluang, yakni orang non Islam melirik sistim ekonomi Islam/ ekonomi syari'ah. Sebenarnya keunggulan sistim itu perlu digali dan diaplikasikan, untuk mengangkat ekonomi masyarakat Islam sebagai upaya mengangkat martabat masyarakat Islam itu terutama di daerah.

Setidaknya dapat dikenali bahwa sistem ekonomi Islam itu berbeda dari sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Perbedaan ini di samping sudah diketahui secara subtantif, juga kenyataannya secara empiris sudah saya saksikan langsung ketika berkunjung ke bebera Negara maju di Eropa dan Barat umumnya pasca saya sekolah di Amerika. Secara kategoris sistem ekonomi Islam menata hubungan antara individu kearah saling membantu dan kerja sama, memberi pendidikan moral dan latihan yang dapat memotivasi masyarakat merasa bertanggung jawab untuk membantu saudaranya rekan-rekan sekerja. Artinya tidak matikan daya saing, tetapi daya saing tidak mengarah permusuhan dan tidak menghalangi hak hidup rekan-rekannya. Ingin cerah usahanya, upayanya adalah menyalakan lebih terang lampunnya dengan tidak mematikan lampu orang lain. Sistem ekonomi Islam menunjukkan perinsipprinsip keadilan dan seksama. Ada jaminan bahwa kekayaan tidak tertumpuk hanya pada individu dan satu kelompok saja, tetapi tersebar merata ke seluruh umat/ masyarakat Islam dan berfungsi sosial membantu yang miskin dan yang terlantar. Amanat ini ada dalam perintah Islam di antaranya: “….supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu...” (QS. Al-Hasyr 59:7) Identitas dan sistim ekonomi syari'ah di dunia Islam sudah menandai terjadi revivalis dalam ekonomi Islam itu sendiri. Konsep ekonomi ini sudah diperkenalakan di forum-forum Islam se-dunia dan dilirik oleh non Islam. Kenyataan ini saya saksikan di forum internasional WIFE ke4 28 April – 1 Mei 2008 di Kuwait seperti tadi disebut ketika saya menghadirinya diutus Presiden SBY mewakilinya dan memimpin delegasi Indonesia beranggotakan 70 orang di antaranya Meneg BUMN Sofyan Djalil bersama sejumlah direksinya dan perusahaan swasta nasional lainnya, Utusan Khusus Pemerintah Bidang Timur Tengah Alwi Shihab, Sekjen DPD Siti Nurbaya, Tantri Abeng sebagai salah seorang penasehat WIEF. Forum yang dihadiri sejumlah tokoh penting dunia seperti Emir Kuwait, Sheikh Sabah dan PM-nya Sheikh Nasser, PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Sinegal Abdoulaye Wade, Presiden IDB Ahmed Muhammad Ali, membicara topiktopik penting termasuk pengolahan sumber daya ekonomi. Ternyata dunia Islam sudah memiliki konsep sistim ekonomi yang kuat dan besar keinginan menerapkannya. Ada gerakan penerapan sistim syaria'h dalam ekonomi masyarakat Islam, di samping terjadi pula Islamisasi dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Haneef (2005) dalam bukunya A Critical Survey of Islamization of Knowledge, menyebutkan dampaknya melahirkan Organisasi

Konferensi Islam (OKI) tahun 1969 dan dirancang sistim terpadu dalam penyelesaian masalah-masalah ekonomi di negara Muslim. OKI pun bergerak ketika itu menggagas berdirinya Islamic Development Bank (IDB) tahun 1973. dan tiga tahun kemudian menyelenggarakan Conference of Islamic Economic di Makkah (1976) disusul Conference on Muslim Education (1977). Ironis sebenarnya (bahkan tak boleh terjadi), kalau masyarakat Islam di Indonesia mayoritas Islam dan para sarjananya masih terjebak dalam kemiskinan, pengangguran, apalagi terkebelakang, di tengah-tengah dunia Islam yang sudah menawarkan konsep ekonomi Islam dan sudah dilirik non Islam ingin lebih maju. Adanya konsep dan pengalaman aplikasi dunia Islam dalam sistim ekonomi yang dilirik non Islam itu, merupakan fenomena tantangan yang harus dirubah menjadi peluang oleh para sarjana Islam menciptakan iklim dan mengangkat citra masyarakat Islam bebas dari isu ketertinggalan dan keterbelakangan di negerinya, dengan menciptakan kegiatan-kegiatan ekonomi dalam sistim syari'ah itu. Kunci utama adalah mengembangkan semangat entrepreneurship, tidak hanya menunggu, tetapi harus bekerja dan bekerja dengan mendayagunakan SDM kuatnya yang sarjana Islam yang sebenar membawa angina segar bagi masyarakat kita. Sarjana Islam Di kalangan para sarjana kita ada halhal yang ironis dan seharusnyalah keluar dari iklim ini. Hal yang ironis itu di antaranya situasional, banyak sarjana ekonomi tetapi menganggur di tengahtengah masyarakat yang membutuhkan tenaga yang diharapkan mampu mengembangkan ekonomi kerakyatan. Banyak sarjana pertanian, tetapi menganggur di tengah-tengah luasnya tanah pertanian yang tidak tergarap dan masih terjebak sistim budaya tani tradisional. Bahkan banyak sarjana kedokteran menganggur di tengah-tengah masyarakat yang sedang didera banyak penyakit aneh-aneh. Demikian pula banyak sarjana agama (Islam) banyak menganggur, sementara masyarakatnya masih memerlukan pelajaran agama, mulai dari masyarakat di kampungnya sampai masyarakat kota dalam berbagai profesi. Dari fenomena ini banyak orang menyalahkan iklim pendidikan di perguruan tinggi, tetapi sebenarnya juga tidak terlepas dari diri pribadi sarjana. Artinya yang bobot perguruan tinggi ya juga SDM sajananya. Saya belajar dari pengalaman di perguruan tinggi dan dari pengalaman para pemimpin perguruan tinggi termasuk pengalaman ayah saya Gusman Gaus yang pernah menjadi Rektor UNIM Sumbar di samping seorang entrepreneur di Padang, ternyata

Perguruan tinggi tidak hanya mengejar mahasiswa banyak, tetapi kualitas pelaksanaan tridharmanya, dan mahasiswa tidak hanya rajin ke kampus tetapi membuat budaya tiada hari tanpa belajar mengembangkan ilmu dan membangun semangat entrepreneur. Kalau tidak begitu, dimungkinkan terjadi situasional ironis sarjana tadi disebut, belajar pertanian, peternakan, perkebunan, perdagangan, ekonomi, pendidikan, agama, tetapi ilmunya belum efektif menjadi budaya (perilaku) yang pada gilirannya sulit mengakses lapangan bekerja di bidangnya. Karena dimungkinkan pula sebab kualitas potensi diri output yang masuk dan mahasiswa yang belajar di bangku kuliah masih dalam persoalan kualitas pengetahuan yang didapat, cara belajar dan serta salah motivasi “ijazah dulu belajar kemudian”, rasa percaya diri yang belum terbangun, belum ditanam budaya entrepreneur, etos kerja belum muncul karena belum punya budaya kuat “memulai” dibanding budaya “menunggu”. Yang ditunggu itu tidak datang dan pasrah, pada gilirannya terlempar ke iklim yang menyakitkan sarjana yakni pengangguran sarjana yang katanya tak enak didengar “pengangguran tingkat tinggi”. Dari statistik dan Depnaker RI 2005, pengangguran lulusan perguruan tinggi ada 708.254 jiwa, terdiri dari lulusan Diploma/ Akademisi 322.836 jiwa (pria 138.749 dan wanita 184.087), sarjana 385.418 jiwa (pria 184.497 dan wanita 200.921). Jelas-jelas kita tidak ingin sarjana menganggur, di pundaknya berat tugas mencerdaskan masyarakat Islam dan mengangkat martabatnya dimulai dari dirinya sebagai sarjana Islam. Enterpreneur ciptakan peluang Kerja Diketahui ada fenomena baru, penyebab terjadinya pengangguran di kalangan sarjana di antaranya lemahnya daya saing yang sudah barang tentu satu di antara penyabab lemahnya semangat enterpreneur. Di lingkungan strategis nasional dalam era globalisasi sekarang, ada fakta sarjana Indonesia kurang mampu bersaing dengan sarjana negara tetangga Indonesia di Asia pada khususnya. Di antara faktanya terlihat dari laporan UNDP-2000, bahwa Human Development Index (HDI) Indonesia berada di posisi 109, sedangkan Filipina posisi 77, Thailand posisi 76, Malaysia posisi 61, Brunei Darussalam posisi 32, Korea Selatan posisi 30, Singapura posisi 24. Bahkan terjadi penurunan HDI Indonesia ke posisi 112 dari 175 negara tahun 2003. Sebenarnya fenomena ini satu sisi sebenarnya merisaukan namun di sisi lain tantangan. Tidak ada cara lain sarjana lulusan perguruan tinggi, selain memacu diri meningkatkan daya saing, membudayakan “budaya memulai menciptakan lapangan pekerjaan” bagi yang belum mendapatkan pekerjaan. Antisipasi iklim lahirnya sarjana sebagai

/September 2012

97


Nasional

bertambahnya pengangguran, tapi sederat nama dalam berbagai fungsi tadi, lahirnya sarjana bertambah pencipta sebutlah misalnya Hatta, Agussalim, peluang kerja. Tananam dan bangun jiwa Syahrir, Tan Malaka, Natsir, Iljas Ya'cub dan prilaku entrepreneur atau seorang ulama dan pahlawan Nasional dari kewirausahaan mahasiswa sejak di Bayang Pesisir Selatan, juga Hamka dan banguku kuliah meskipun peluang kerja segudang ulama segenerasinya dan sebagai PNS dan Legislatif terbuka sebagai segenerasi ayah Hamka (Dr. Haka, civil efek mendapatkan ijazah sarjana pemimpin ulama modernis radikal dalam Indonesia. Upaya ini adalah untuk rapat 1000 ulama di Padang) dan guru mempersiapkan diri mahasiswa menjadi ayah Hamka itu seperti Syeikh Yunus di sarjana yang menciptakan peluang Padang Panjang melahirkan Rahma mendapatkan pekerjaan dan mampu Elyunusiyah dan Zainuddin Labay menghadapi tantangan dunia kerja di Elyunusiy pendiri Diniyah Putri dan masyarakat dan mampu menciptakan Tahwalib Padang Panjang, termasuk lapangan kerja bagi pencari kerja di mulai tersebut nama besar Syeikh Muhammad dari diri sarjana Islam. Tidak saja harapan Dalil bin Muhammad Fatawi yang lahir di masyarakat dan Negara, tetapi sebenarnya kaki bukit barisan Pancuang Taba membangun jiwa dan perilaku wirausaha (Bayang) Pesisir Selatan yang dalam atau “kad-ha” (kerja keras) seperti di referensi Belanda disebut ia penulis buku antaranya yang diamanatkan Islam (QS Alagama kepustakaan pejuang abad ke-20 di Insyiqaaq 84:6) memberikan motivasi dan antaranya “taraghub ila rahmatillah” dan optimisme untuk bekerja keras dalam pimpinan ulama tradisional moderat dalam redha Allah, dipastikan akan mendapatkan rapat 1000 ulama tanggal 19 Juli 1919 di hasilnya. Nabi saw pun mengamanatkan Padang membahas 40 masalah kehidupan dalam sabdanya untuk bekerja keras seolah beragama di Minangkabau ketika itu, akan hidup selamanya sebanding dengan bahkan disebut juga Syekh Buyung Muda perintah beribadat seolah akan mati besok di Puluik-puluik (Bayang) seangkatan pasi. Syeikh Burhanuddin di Ulakan pelopor pengembangan Islam di pantai barat Berusaha termasuk menjadi wiraswasta Sumatera abad ke-17 sampai ke Indonesia dan wirasusaha. Wiraswasta dari “wira” bagian timur. Demikian pula ada sederet berarti “pahlawan” dan “swasta” berarti para pedagang/ pengusaha sukses yang “partikelir”. Istilah lain “Enterpreneur” lahir di Minang termasuk lahir di Pesisir (Perancis) bermakna “seorang yang Selatan ini dan kaya sudah ada sejak dulu berusaha”, atau “pengusaha”. Enterpreneur sampai sekarang yang tidak dapat dapat dilihat dari sikap pemberani disebutkan namanya satu persatu. Di simak seseorang mengambil segala resiko dalam dari perjalanan hidup mereka orang besar mencapai cita-cita. Kalau ia berbakat Minang itu, ternyata sejak usia muda pengusaha, entrepreneur berani mereka sudah memiliki semangat membangun usaha dengan modal sendiri enterpreneurship bahkan sebagai dari sekecil apapun (mungkin dari nol) enterpreneur seperti saudagar kenamaan. atau dengan modal orang yang dalam berusaha ia aktif dan tekun mengolah Siapa yang tidak kenal Suku Minang usahanya itu. Ada beberapa nilai (value) yang akar budaynya saudaar/ pedagang. menjadi entrepreneur yang berhasil, di Mereka memacu diri untuk terus maju dan antaranya (1) punya semangat kuat maju. Networking (jaringan) diperkuat berusaha keras meraih sukses,(2) menjiwai seperti China overseas. Kata Basrizal Koto usahanya dan tekun sehingga bekerja enjoy seorang pedagang sukses asal Minang, tapi serius, (3) tahan banting, tak orang Minanglah penyebar cepat pasrah dan putus asa semangat entrepreneurship ke kalau terpaksa ngotot tapi kalangan generasi muda Betapa banyak tetap sebatas control akal Indonesia bahkan dunia. sebenarnya orang besar sehat pembelajaran dan Di kalang tokoh agama yang lahir di Minang pembinaan, (4) ada dahulu mana ada yang menjadi besar. Ada kemauan keras hendak mau jadi pegawai, ekonom dan pengusaha/ berubah dan ada meski itu baik dan pedagang sukses, ada innovative hak warga negara. politisi/ negarawan/ (pembaharuan). Sekarang dalam pejabat/ legislatif/ senator, Artinya ada dorong sebuah survey ada ada pendidik dan kuat pada diri 74 % generasi muda pimpinan lembaga entrepreneur untuk Sumbar ingin pendidikan tinggi (Rektor/ maju kedepan dan menjadi PNS Direktur/ Dekan dsb.), ada berhasil. Semangat dibanding menjadi tokoh agama/ budayawan/ seperti itu sebenarnya saudagar/ pengusaha sastrawan dsb. yang dimiliki tokoh besar (wirausaha) atau dunia termasuk orang entrepreneur. Minang sendiri. Demikian juga pengalaman orang besar dunia, yang sejak usia mudahnya punya semangat Pengalaman Orang Besar Minang dan Dunia enterpreneurship ini, dalam usia matang Betapa banyak sebenarnya orang besar mereka cepat sekali maju, terkemuka dan yang lahir di Minang menjadi besar. Ada menjadi orang besar. Dari pengalaman ekonom dan pengusaha/ pedagang sukses, orang besar dunia yang kita baca terkesan, ada politisi/ negarawan/ pejabat/ legislatif/ meskipun menjadi pegawai itu baik dan senator, ada pendidik dan pimpinan hak setiap warga negara sesuai ijazah yang lembaga pendidikan tinggi (Rektor/ diperolehnya, namun menjadi enterpreneur Direktur/ Dekan dsb.), ada tokoh agama/ misalnya menjadi saudagar seperti budayawan/ sastrawan dsb. Tersebut pengalaman saudagar Minang juga 98

/September 2012

pengalaman dunia “ternyata lebih baik”. Semangat enterpreneur seperti tadi disebutkan, berani memulai dari nol menggunakan segala aset dan investasi SDM yang dimilikinya, tekun dan segera maju dan besar. Beberapa pengalaman di Amerika, banyak pengusaha kecil yang kemudian jadi besar. Liriklah Google. Kapitalisasinya di atas Coca Cola (US$ 137 milyar). Jaringan ritel Wal-Mart yang dimulai Sam Walton dari nol, sekarang kapitalisasi pasarnya hampir US$ 200 milyar. Hal yang sangat fenomenal adalah Microsoft dengan kapitalisasi hampir US$ 300 milyar. Tentang yang terakhir ini, Microsoft, pendirinya ialah William Henry Gates III dikenal sebagi Bill Gates (lahir di Seattle, Washington, 28 Oktober 1955; umur 53 tahun). Ia (mendirikan Microsoft bersama Paul Allen) ketua umum perusahaan perangkat lunak computer AS yakni Microsoft. Ternyata sekarang pendiri Microsoft ini menjadi terkemuka dan menempati posisi pertama dalam daftar orang terkaya di dunia versi majalah Forbes selama 13 tahun (1995 hingga 2007). Di antara resep hidupnya Bill yang berayah pengacara beribu seorang guru itu, sejak usia sekolah giat mengembangkan kemampuannya sebagai anak cerdas, punya semangat entrepreneurship yang tinggi yang kadang di sekolah sering mendapatkan kesulitan. Sekarang buahnya ia muncul sebagai orang terkaya dan memepunyai peluang untuk aktif dalam berbagai kegiatan amal. Pada akhirnya ia dikenal pula sebagai seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda Gates. Seperti Bill ini, cukup banyak orang-orang terkaya di Amerika yang memulai usahanya dari nol karena karena semangat enterpreneurshipnya ia sukses di samping didukung iklim budaya di negaranya. Pada akhirnya, ingin dikatakan para sarjana muslim amat strategis dan enterpreneurshipnya dibutuhkan masyarakat Islam mengangkat citra dan martabatnya. Pengalaman orang besar di dunia termasuk di Minang menunjukkan tampil menjadi orang terkemuka di samping ditentukan kesarjanaan tak kalah pentingnya semangat entrepreneur sarjana. Karenanya perguruan tinggi Islam teruslah mengembangkan kualitas tridharmanya dan kaji terus kehandalan kurikulum/ silabus setiap bidang studi. Dalam merekrut output upayakan yang memang berminat dan berbakat menjadi sarjana. Mahasiswa di perguruan tinggi ketika belajar di bangku kembangkan cara belajar yang baik, tiada hari tanpa belajar, buang jauh-jauh motivasi “ijazah dulu belajar kemudian”, kembangkan rasa percaya diri, ditanam budaya entrepreneur, kembangkan etos kerja, tumbuhkembangkan budaya kuat “memulai” dibanding budaya “menunggu”, kembangkan network, kembangkan kemauan berkomunikasi sebagai kunci inivasi, insya Allah nanti sarjana Islam seperti sarjana bidang lainnya menjadi maju dan tidak akan pernah menganggur.*** Jakarta, 15 Maret 2009

WAWASAN KEBANGSAAN

d

/September 2012

99


101

/September 2012

/September 2012

101


SAGA n Mata Pena

Chairul Saleh : "Entah di Mana Ia Dicatat" Oleh Muhammad Ilham, S.Ag., S.Sos., M.Hum Ketika Tembok Cina selesai berdiri, kemanakah para budak di (ter)sembunyikan, mengapa justru Shih Huang Ti yang direkam sejarah ? .......... ketika Piramida selesai dibangun, kemanakah para budak dihilangkan, mengapa justru Firaun yang dicatat dalam sejarah ? (Ernst Bloch)

Ada satu "event" yang paling implikatif dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia, yaitu peristiwa Rengasdengklok. Ketika membicarakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, maka Rengasdengklok akan selalu disinggung. Rengasdengklok seumpama "Bukik Marapalam" ketika membicarakan sejarah konflik dan asimilasi adat dan agama (Islam) di Minangkabau, seperti daerah Dien Bhin Pu ketika membahas ketokohan Ho Chi Minh di Vietnam atau seperti daerah Semanggi ketika mengupas seputar lahirnya era reformasi di Indonesia. Rengasdengklok dijadikan salah satu titik terpenting dalam merangkai narasi sejarah proklamasi Indonesia karena daerah ini menjadi tempat penculikan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda yang dipimpin oleh Chairul Saleh dari Menteng 31 terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa atau lebih tepatnya diamankan ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi. Dalam catatan sejarah dijelaskan bahwa Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis, 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong. Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka. Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta. Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya "diambil") dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor Laut Dr. Kandeler. Dan ..... sejarah menukilkan : Proklamasi Indonesia bersumbu pada Soekarno Hatta, Pemuda, Menteng 31 dan Rengasdengklok. Sejarah tidak "lupa" atau "melupakan diri" terhadap figur Soekarno-Hatta (walau untuk kasus Soekarno, 102

/September 2012

terajadi reduksi ketokohan pada era Soeharto), demikian juga dengan daerah yang bernama Rengasdengklok dan Menteng 31. Setidaknya bukubuku sejarah yang diajarkan selalu mengekspose fakta-fakta di atas. Namun ada satu yang terkesan ambigue, yaitu Pemuda. Sejarah hanya mencatat bahwa Pemuda-lah yang memiliki kontribusi "menculik" dan memaksa Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Sejarah (terutama yang diajarkan dan "dipaksakan" oleh rezim Orde Baru) tidak berani mengelaboreasi lebih detail, siapa-siapa saja "pemimpin" pemuda dan yang menjadi inspirator "penculikan" SoekarnoHatta. Jadi jangan heran, apabila banyak orang Indonesia yang hanya berkutat pada kesimpulan, hanya pemuda yang memiliki kontribusi tersebut tanpa memiliki kemampuan elaboratif untuk menerangkan dan memahami siapa tokoh dari kelompok sosial yang bernama "pemuda" itu. Hal ini tidak bisa dipungkiri, memang telah terjadi "peminggiran" sejarah terhadap figur-figur sentral peristiwa Rengasdengklok tersebut. Peminggiran ini terjadi secara signifikan dan massif ketika Orde Baru memegang kekuasaan politik Indonesia. Sebagai rezim yang "alergi" dengan komunisme dan sosialisme serta Soekarnoisme, maka figur-figur yang berada dalam "konsorsium" ini, sebetapapun kontributifnya mereka, maka rezim akan "meminggirkan" mereka, bahkan terkadang menghilangkan mereka dalam catatan sejarah, salah satunya Chairul Saleh. Chairul Saleh, pemuda pintar yang memimpin kawan-kawan muda lainnya menculik Soekarno dan memaksa memproklamirkan kemerdekaan RI, tidak disebut-sebut dalam catatan sejarah. Ia dilebur dalam sebuah konsep yang bernama "pemuda". Nama lengkapnya Chairul Saleh Datuk Paduko Rajo, lahir 13 September 1916 di Sawahlunto (Sumatera Barat). Sebagai anak dokter, dia mendapatkan pendidikan terbaik, siswa sekolah dasar ELS Bukittinggi kemudian melanjutkan di HBS Medan. Menurut kesaksian BM Diah, "Di Medan, hampir setiap hari saya berpapasan dengan orang muda yang bersepeda. Pemuda itu tampan, badannya berisi dan caranya mengayuh sepeda seperti atlet terlatih. "Saya mengenal Chairul waktu saya jadi mahasiswa RHS. Pada waktu itu dia Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia," kata Subadio Sastrosatomo sambil melanjutkan, "Kesan saya, dia selalu memonopoli semangat nasionalisme, sebab dia menilai mahasiswa yang tidak menjadi anggota PPPI bukan nasionalis. Sebagai mahasiswa RHS, jalannya, gayanya selalu menunjukan, ini lho nasionalis." Sementara SKTrimurti, tokoh wanita

pejuang melukiskan, "...penilaian saya, Chairul selalu kurang ajar" (Tempo, Agustus 2007). Maklum, dia tokoh pemuda dan selalu berjiwa muda. Bahwa Chairul tokoh pemuda yang konsisten dalam kata dan tindakannya, nampak menjelang runtuhnya kekuasaan Jepang. Ia mengajak teman-temannya menentang kaum tua yang masih percaya kepada ketulusan sikap Jepang, membantu persiapan kemerdekaan Indonesia. Ia menolak ikut keanggotaan Badan Persiapan Usaha Pencarian Kemerdekaan Indonesia. Ia juga berada di balik aksi penculikan Soekarno-Hatta sehari menjelang proklamasi kemerdekaan. Sumbangan terbesar Chairul mungkin pada keberaniannya mempertahankan pendapat saat perumusan Naskah Proklamasi. Bung Karno, yang (mungkin) mengacu kepada penyusunan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, meminta semua hadirin bertanggung jawab, karena itu mereka harus mencantumkan tanda tangan. Sebaliknya, Chairul dengan tegas menentang. Ia berpendapat, sebagian dari hadirin adalah pegawai Jepang. Bagaimana mungkin, mereka ikut menandatangani proklamasi? Apa sumbangan mereka kepada perjuangan kemerdekaan. Chairul ngotot mempertahankan pendapatnya. Ia tidak mau berkompromi. Kenekatannya saat itu dalam mempertahankan keyakinan mungkin malahan bisa menggagalkan pembacaan proklamasi. Akhirnya, Bung Karno menyerah. Naskah proklamasi, atas nama bangsa Indonesia, (hanya) ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta. Pada sisi lain, selaku penentang Konferensi Meja Bundar, Chairul kembali masuk hutan, begitu kedaulatan Indonesia diserahkan. Ia memimpin laskar rakyat dan berjuang melawan Republik Indonesia Serikat. Tahun 1950 Chairul ditangkap Kolonel Nasution,

dipenjarakan dan kemudian dibuang ke luar negeri. Dia muncul kembali di Tanah Air, persis ketika Bung Karno sedang menata pemerintahan dengan prinsip Demokrasi Terpimpin. Kali ini, Chairul dengan sadar menjadi pendukung gigih Presiden Soekarno. Sebaliknya, Bung Karno yang saat itu sedang memperluas basis dukungan politik, memerlukan dukungan massa pemuda yang dikuasai Chairul. Bintang Chairul melesat. Diangkat jadi Menteri Veteran, lalu Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan sampai akhirnya, Wakil Perdana Menteri III. Kecuali itu, jabatan politiknya melonjak, dari Ketua Angkatan 45 diangkat selaku Ketua MPRS. Dari sekian jejaknya, masyarakat masa kini mungkin tak tahu tekad Chairul membela prinsip negara kepulauan. Konsepsinya mengenai Wawasan Nusantara, di mana batas teritorial secara sepihak ditentukan 12 mil laut (agar semua laut yang ada di antara pulau-pulau jadi wilayah teritorial) langsung diberlakukan pemerintah Indonesia tanggal 13 Desember 1957. Pemikiran Chairul ini baru bisa disahkan tahun 1982 dalam konvensi internasional tentang Hukum Laut di Montego Bay, Jamaika. "Perjuangan tersebut memakan waktu 25 tahun. Saya beruntung mendapat dorongan dari Uda Chairul Saleh. Dari tidak ada sampai tercipta dan diterimanya konsepsi Wawasan Nusantara, sekaligus diterimanya konsepsi baru kita ini," kata Prof Dr Mochtar Kusuma Atmadja mengenang keteladanan Chairul. Tapi, sejarah sering menyeret seseorang ke arah lain. Pada masa Orde Lama, massa komunis dengan gegap gempita menuding Chairul gembong kapitalis birokrat yang harus dilenyapkan. Namun, dalam masa pancaroba kebangkitan

Orde Baru, dia malahan masuk tahanan karena dianggap pendukung Soekarno. Meskipun telanjur mati dalam tahanan (8 Februari 1967) dan tidak sempat diajukan ke depan sidang pengadilan, "...yang dapat saya beritahukan, Bung Chairul tidak terlibat G30S/PKI," begitu pernyataan Panglima TNI-AD Jenderal Soeharto, ketika secara pribadi mengirimkan ucapan bela sungkawa kepada istri Chairul Saleh. Pertanyaannya kini, sebagai politikus ulung yang pasti membaca tanda-tanda zaman, mengapa dia tidak mau pindah posisi ketika fajar kebangkitan Orde Baru muncul di cakrawala? Mengapa dia tidak sebagaimana Adam Malik, rekannya sesama tokoh Murba, melakukannya? Mengapa Chairul tidak menjadi tikus-tikus yang berebut meninggalkan kapal karam, seperti kelakuan rekan-rekannya semasa regim Soekarno mulai nampak menyurut? Analisis tentang ini dengan indah dilukiskan oleh Mochtar Lubis. "...tak ubahnya seperti pahlawan Yunani kuno, melakukan apa yang mereka yakini harus mereka lakukan, karena itulah suratan hidup yang ditentukan para dewata. Mereka tahu yang menanti adalah nista dan maut. Namun, dalam tragedi yang mereka masuki dengan kesadaran, mereka mencapai kebesaran yang tidak sempat diraih semasa (mereka) masih hidup." "... di mata saya, sebagai seorang sahabat, dia tampil sebagai tokoh pahlawan tragis," kenang Mochtar Lubis (Tempo, Agustus 2007). Chairul Saleh dengan penuh kesadaran melangkah menjalani nasib yang dipilihnya, karena itulah kewajiban yang harus dilaksanakan. Inilah puncak tragedi seorang pejuang kemerdekaan yang sangat memilukan. Referensi : Tempo, Agustus 2007/Foto : hispanically.com

Pertanyaannya kini, sebagai politikus ulung yang pasti membaca tandatanda zaman, mengapa dia tidak mau pindah posisi ketika fajar kebangkitan Orde Baru muncul di cakrawala?

/September 2012

103


Selingan

TRADISI PEMUDA

KEBERSAMAAN

“ Apa yang kamu ketahui tentang Batagak gala, fungsi Nianiak Mamak dan Suku.? ”

?

saja yaitu, Koto Piliang dan Bodi Chaniago.

PEMUDA SUMBAR

Shinta N. Novelani

Tapi kini ada pecahannya.

kami pulang ke rumah bako. Kadang ada juga perasaan bentrok adat. Adat maksudnya

(Mahasiswa UNP)

K

ebersamaan pemuda Sumbar senior dan yunior penting dikembangkan. Justru kebesamaan

Sebab hubungan sudah deekat. Kalau hubungan dekat, tak akan

Kalau di Alahan

Rakel Masuta

disini: watak/karakter. Waktu kecil jarang

nada “dzu' dzan”, baru saja kawan muncul, yang lain berkata:

panjang, batagak itu

Isman

bergaul erat dengan sepupu, lebih senang di

“sianu muncul, a lo koa nan katajadi”. Tetapi kalau hubungan

diadakan pas acara

(Mahasiswa

rumah, dididik orang tua yang punya budaya

sudah akrab sebaliknya akan melahirkan husnuzdan, dan

baralek malatak

Unand)

hubungan dekat itu akan memupuk emosional kebersamaan dalam

tando. Gelar itu

Batagak Gala

mengembangkan idealism pemuda dalam berperan sebagai

diberikan kepada

partisipan utama pembangunan. Karenanya Rusdi berkeyakinan alumi dan pengurus KNPI

marapulai. Biasanya dalam acara itu

berbeda. Ayah yang keras layaknya lelaki dil minang kebanyakan, umi yang halus

aksanakan waktu

layaknya orang sunda kebanyakan. Jadi,

menikah.

kadang dalam pergaulan perbakoan

membantai kambing.

Marapulai diberi

(menciptakan istilah sendiri), tersinggung

gelar oleh mamaknya. Pada umumnya ada

dengan gurau urang minang yang lepas

memperkuat silaturrahmi dan menumbuhkan

sebuah potensi besar. KNPI akan kuat kalau kebersamaan kuat,

Kalau fungsi niniak mamak yangsaya

kegairahan untuk berperan bahkan dapat melihat potensi

sesama pemuda OKP, sesama pengurus dan atau anatara yunior

ketahui adalah untuk mengatur acara.

acara jamuan makan dan diiringi dengan

begitu saja. Tapi mereka punya tempat

pemuda yang patut dikembangkan dalam mendukung

dan senior/ mantan pengurus KNPI dan OKP. Karena dengan rasa

Maksudnya kelangsungan dan kesuksesan

berbalas pantun.

tersendiri di hati kami. Induak bako yang

pembangunan di daerah. Pendapat ini, inti percakapan pemuda

kebersamaan ini akan terbangun tali silaturrahmi kuat. Silaturahmi

acara baralek sekalian batagak gala itu.

Niniak mamak bertugas membina dan

simpatik, membantu dan berlaku layaknya

Sumbar dalam sebuah pertemuan silaturrahmi senior – yunior

kuat itu ditopang oleh hubungan emosinal pernah sepayung KNPI.

Kalau suku setahu saya sesuatu yang

mensejaterahkan kaum. Jika suatu keluarga

ibu.

mengambil momentum event berbuka bersama di Pangerans

Silaturahmi kuat dengan hubungan emosional kuat, membuat ide

diperoleh dari keturunan ibu. Dalam

bermasalah, maka diselesaikan secara

Kalau suku sayatidak punya, karena ayah

Beach Hotel Padang Minggu, 12 Agustus 2012.

bersama akan mudah dirumuskan menjadi program besar dan menyentuh semua kepentingan masyarakat terutama kebutuhan

bersuku, mereka hidup berdampingan, saling bersama oleh niniak mamak. Bagi saya sendiri, niniak mamak merupakan tempat menghormati, menghargai dan saling

anak muda. Lebih dari itu, apa saja yang diperjuangkan akan

membutuhkan.

Dalam temu kangen itu hadir cukup banyak alumni KNPI, di antaranya Ketua KNPI Sumbar Adib Alfikri, Ketua Alumni Rusdi Lubis, manatan ketua KNPI Sumbar Hendra

menjadi mudah. Tokoh KNPI ingin menjadi gubernur, bupati/ wali

Irawan Rahim, Asnawi Bahar, Kandris, Rizaldi Algamar serta

kota, caleg, calon Anggota DPD, dengan kebersamaan ini akan

Minang, ibu orang Sunda. Tapi sepengetahuan saya tentang suku selama

bertanya jika pulang kampung. Setiap kali

saya hidup di Minang ini, merupakan sebuah

pulang kampung, saya akan mendapat

tempat dimana semua orang saparuik

Jefrian Rahmad

arahan dan solusi dari masalah yang sedang

memiliki alasan untuk menjadi sama dan

saya hadapi.

sepenanggungan. Satu keluarga meski dari

mantan pengurus inti lainnya di KNPI: Aristo Munandar, OS

mudah diperjuangkan. Ayo siapa mau, mari kita perjuangkan,

Putra (Mahasiswa

Yarli Asir, Rudi Mulawarman, Yan, Yulizal Yunus, Kijal

kami yang tua siap diganggu, kata Rusdi mengundang gemuruh

UPI YPTK)

tawa riang, dan teman-teman pemuda melirik Hendra Irawan

Batagak gala seperti

Yulmaida Al

bagi orang Minang, suku tidak terlalu jadi

Rahim, Asnawi Bahar, Kandris para mantan Ketua KNPI Sumbar

malewakan gala

Manthani

sesuatu yang membanggakan seperti marga

itu. (miel)***

sebuah

batagak gala

di Sumut. Tidak dilekatkan ke nama, kecuali

penuh akrab. Pembicaraan Rusdi tidak saja seperti memberi

kaum/kampung yang

semacam

satu atau dua orang saja. Namun suku jadi

laporan perjalanan alumni dan memberikan arah temu kangen

memberikan gala

Tanjung, Mirwan Pulungan, Bas, Ketua KNPI dsb. Dalam pertemuan itu, Rusdi Lubis Ketua Alumni memegang pengeras suara piawai betul bicara mengisi suasana

104

dalam adat. Jadi kalau pulang kampung,

kampung yang berbeda sekalian. Namun

pelekatan

sesuatu yang membatasi beberapa hal.

gelar/peresmian

Misalnya perkwinan. Sampai ada istilah

komunitas KNPI ini, lebih dari itu, Rusdi pamong senior/

kepada tokoh. Gala itu sebnarnya sudah

mantan sekdaprov sumbar ini memperlihatkan kepiwaiannya

disediakan. Tapi gala yang diberikan tidak

gelar adat. Tapi,

ideal dalam perkawinan: eksogami suku

memberi tausiah jalinan pengalaman sebagai birokrat, aktifis

bisa dibawa mati.

sepertinya batagak

endogami nagari. Kalau mau juga yang

pemuda dengan ceramah agama menjelang berbuka itu.

Niniak mamak sama dengan tungku tigo

gala sekarang ada unsur politisnya.Orang-

sesuku cari dari daeah yang jauh.

Sebanyak dalil politik keluar sebanyak itu pula ayat dan hadist

sajarangan. Mamak bertugas menjaga harta

orang yang mungkin akan dicalonkan untuk

terpapar bagaikan muballigh kondang yang bercermah sarat isi

pusaka tinggi dan pusaka rendah. Selain itu,

menjadi pemimpin, diberilah gelar adat

tapi tak kurang color dan kelakar yang mengundang tawa

mamak bertugas membina kamanakan

sesuai suku yang dimiliki.

gembira para pemuda yuniornya.

supaya tidak jauh dari adat dan agama.

Niniak mamak, bak kayu gadang di tangah

Rusdi mengisahkan banyak cerita menarik pertemuan sesama

Dalam memperlakukan kamanakan, harus

koto, daunnyo tampek banauang, batangnyo

alumni KNPI se Sumatera Barat. Misalnya mantan KNPI di

sama seperti memperlakukan anak.

tampek basanda, akanyo tampek baselo. Tapi

Birokrat bertemu mantan KNPI di Legislatif (DPRD), persaan

Di Sungai Sariak, ada tiga suku. Suku

saya tak punya mamak, karena bapak orang

menjadi longgar, sebab tak mungkin kawan kita di legis latif

tersebut adalah, Koto, Piliang dan Tanjuang.

Minang dan ibu non-minang. Jadi, kami

ini akan menyerang kawannya habis-habisan yang di Birokrat.

Awalnya minangkabau terdiri dari dua suku

hanya punya bako sebagai famili terdekat

/September 2012

/September 2012

105


MAJALAH ANALISIS DAN PEMIKIRAN MAJALAH ANALISIS DAN PEMIKIRAN

Mengucapkan Selamat Kepada BNI atas Peresmian Gedung

Komisaris, Direksi, Staf dan Karyawan

PT. Grafika Jaya Sumbar

KANTOR CABANG UTAMA PADANG Jl. Proklamasi No. 45 Padang

MANARA RINUSIA PT.

CV. LIMAU KUNCI

RUDI MULAWARMAN

KANDRIS ISRIN

President Direktor

Direktur Utama


Cari..


Majalah saga edisi 1 (halaman 42 108)