Page 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Usaha Kecil Menengah (UKM) Usaha Kecil Menengah atau yang sering disingkat UKM merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara maupun daerah, begitu juga dengan negara Indonesia. UKM ini sangat memiliki peranan penting dalam lajunya perekonomian masyarakat, juga sangat membantu negara atau pemerintah dalam hal penciptaan lapangan kerja baru, dan lewat UKM juga banyak tercipta unit-unit kerja baru yang menggunakan tenaga-tenaga baru yang dapat mendukung pendapatan rumah tangga. Selain itu, UKM memiliki fleksibilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan usaha yang berkapasitas lebih besar. UKM ini perlu perhatian yang khusus dan didukung oleh informasi yang akurat, agar terjadi link bisnis yang terarah antara pelaku usaha kecil dan menengah dengan elemen daya saing usaha, yaitu jaringan pasar. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat. Usaha kecil menengah yang cukup berkembang pesat saat ini adalah usaha/industri pangan. Hal ini disebabkan adanya pertambahan penduduk dan tuntutan kebiasaan makan masyarakat. Industri pangan yang dimaksud adalah suatu sistem industri yang melibatkan perusahaan di bidang produksi pangan secara langsung meupun perusahaan-perusahaan lain yang menunjang industri tersebut. Pengembangan industri pangan sangat perlu, mengingat potensi hasilhasil pertanian yang ada, sekaligus dalam rangka menuju industri yang kuat dan pertanian yang tangguh sesuai tujuan pembangunan nasional (Thamrin, 1999).

1


2.2 Defenisi Studi Kelayakan Usaha Menurut Suryana (2006), Studi kelayakan usaha/ bisnis atau disebut juga analisis proyek bisnis ialah suatu penelitian tentang layak tidaknya suatu bisnis dilaksanakan dengan mengutungkan secara kontinyu. Menurut Umar (2003), mengemukakan Studi kelayakan bisnis/ usaha merupakan penelitian terhadap rencana bisnis / usaha yang tidak hanya menganalisis

layak

atau

tidaknya

bisnis

dibangun,

tetapi

juga

saat

dioperasionalkan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang maksimal untuk waktu yang tidak ditentukan misalnya peluncuran produk baru. Menurut Kasmir dan Jakfar (2003) Studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang akan dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan. Mempelajari secara mendalam artinya meneliti secara sungguhsungguh data dan informasi yang ada, kemudian diukur, dihitung, dan dianalisis hasil penelitian tersebut dengan menggunakan metode-metode tertentu. Kelayakan pada hakikatnya adalah untuk menetapkan layak atau tidaknya suatu usaha, dengan kata lain kelayakan harus dapat memutuskan apakah suatu usaha perlu diteruskan atau tidak Studi kelayakan merupakan suatu kegiatan pengkajian secara sistematis dari suatu proyek atau rencana, baik baru maupun rencana pengembangan usaha yang sudah ada. Studi kelayakan usaha dilakukan bertujuan untuk membantu para pengusaha, pemilik modal dan lain-lain untuk menentukan apakah usaha layak dilaksanakan atau tidak. Kegunaan studi kelayakan antara lain adalah untuk mengetahui apakah usaha mempunyai manfaat (benefit) dan keuntungan (profit) dan sebagai pedoman/standar kerja serta instrumen pengawasan ketika usaha berjalan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kedalaman studi kelayakan antara lain: (a). Jumlah dana yang ditanam, (b). Ketidakpastian estimasi usaha pada masa yang akan datang, (c). Kompleksitas elemen-elemen yang mempengaruhi usaha. Studi kelayakan pada akhir-akhir ini telah banyak dikenal oleh masyarakat, terutama masyarakat yang bergerak dalam bidang dunia usaha, telah 2


menuntut perlu adanya penilaian sejauh mana kegiatan/kesempatan tersebut dapat memberikan manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha, disebut dengan Studi Kelayakan Bisnis (Ibrahim, 2009). Menurut Ibrahim (2009), Dengan demikian Studi Kelayakan yang juga sering disebut Feasibility Studi merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan usaha yang direncanakan. Pengertian layak dalam penilaian ini adalah kemungkinan dari gagasan usaha yang akan dilaksanakan memberikan manfaat (benefit), baik dalam arti financial benefit maupun dalam arti social benefit. Layaknya suatu usaha dalam arti social benefit tidak selalu menggambarkan layak dalam arti finansial benefit, hal ini tergantung dari segi penilaian yang dilakukan. Studi kelayakan berfungsi sebagai laporan, pedoman dan sebagai bahan pertimbangan untuk merintis usaha, untuk mengembangkan usaha atau untuk melakukan investasi baru, sehingga bisnis yang akan dilakukan meyakinkan baik wirausaha itu sendiri maupun semua pihak yang berkepentingan. Studi ini pada dasarnya membahas konsep dasar yang berkaitan dengan keputusan dan proses pemilihan proyek bisnis agar mampu memberikan manfaat ekonomis dan sosial sepanjang waktu. Dalam studi ini, pertimbanganpertimbangan ekonomis dan teknis sangat penting karena akan dijadikan dasar implementasi kegiatan usaha. Menurut Husnan (1997), hasil studi kelayakan bisnis pada prinsipnya dapat digunakan antara lain : 1. Untuk merintis usaha baru, misalnya untuk membuka toko, membangun pabrik membuka usaha dagang dan lain sebagainya. 2. Untuk mengembangkan usaha yang sudah ada, misalnya untuk menambah kapasitas pabrik, untuk memperluas skala usaha, untuk mengganti peralatan/ mesin, untuk menambah mesin baru, untuk memperluas cakupan usaha, dan lain sebagainya. 3. Untuk memilih jenis usaha atau investasi/proyek yang paling mengutungkan, mislanya pilihan usaha dagang, pilihan usaha barang atau jasa, pabrikasi atau asemblasi, proyek A atau B, dan lain sebagainya. 3


2.3 Lembaga – Lembaga Yang Memerlukan Studi Kelayakan Hasil penilaian melalui studi kelayakan ini sangat diperlukan dan dibutuhkan oleh berbagai pihak, terutama pihak – pihak yang berkepentingan terhadap usaha atau proyek yang akan dijalankan. Perusahaan yang melakukan studi kelayakan akan bertanggung jawab terhadap hasil yang mereka katakan layak, sehingga pihak – pihak yang berkepentingan merasa yakin dan sangat percaya dengan hasil studi kelayakan uang telah dilakukan (Kasmir, 2003). Adapun pihak – pihak yang berkepentingan terhadap hasil studi kelayakan tersebut antara lain : 1. Pemilik Usaha Para pemilik perusahaan sangat berkepentingan terhadap hasil dari analisis studi kelayakan yang telah dibuat, hal ini disebabkan para pemilik tidak mau jika sampai dana yang ditanamkan akan mengalami kerugian. Oleh sebab itu, hasil studi kelayakan yang sudah dibuat benar – benar dipelajari oleh para pemilik, apakah akan memberikan keuntungan atau tidak. 2. Kreditor Jika uang tersebut dibiayai oleh dana pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya, maka pihak mereka pun sangat berkepentingan terhadap hasil studi kelayakan yang telah dibuat. Bank atau lembaga keuangan lainnya tidak mau sampai kreditnya atau pinjaman yang diberikan akan macet, akibat usaha atau proyek tersebut sebenarnya tidak layak untuk dijalankan. Oleh karen itu, untuk usaha – usaha tertentu pihak perbankan akan melakukan studi kelayakan terlebih dahulu secara mendalam sebelum pinjaman dikucurkan kepada pihak peminjam. 3. Pemerintah Bagi pemerintah pentingnya studi kelayakan adalah untuk meyakinkan apakah bisnis yang akan dijalankan akan memberikan manfaat baik bagi perekonomian secara umum. Kemudian bisnis juga harus memberikan manfaat kepada masyarakat luas, seperti penyediaan lapangan pekerjaan. Pemerintah juga berharap bahwa bisnis yang akan dijalankan tidak merusak lingkungan sekitarnya, baik terhadap manusia, binatang maupun tumbuh – tumbuhan. 4


4. Masyarakat Luas Bagi masyarakat luas dengan adanya bisnis, terutama bagi masyarakat sekitarnya akan memberikan manfaat seperti tersedia lapangan kerja, baik bagi pekerja di sekitar lokasi proyek maupun bagi masyarakat lainnya. Dengan adanya bisnis juga akan menyediakan sarana dan prasarana seperti tersedianya fasilitas umum seperti jalan, jembatan, listrik, telepon, rumah sakit,sekolah, sarana ibadah, sarana olahraga, taman, dan fasilitas lainnya. 5. Manajemen Hasil studi kelayakan bisnis merupakan ukuran kinerja bagi pihak manajemen perusahaan untuk menjalankan apa – apa yang sudah ditugaskan. Kinerja tersebut dapat dilihat dari hasil yang telah dicapai, sehingga terlihat prestasi kerja pihak manajemen yang menjalankan usaha.

2.4 Manfaat Studi Kelayakan Bisnis Sudah pasti bahwa pendirian suatu bisnis atau proyek akan memberikan berbagai manfaat atau keuntungan terutama bagi pemilik usaha. Disamping itu, keuntungan dan manfaat lain dapat pula diptik oleh berbagai pihak dengan kehadiran suatu usaha. Misalnya bagi masyarakat luas, baik yang telibat langsung dalam proyek maupun yang tinggal disekitar usaha, termasuk bagi pemerintah (Kasmir,2003). Berikut keuntungan dengan adanya kegiatan bisnis baik bagi perusahaan, pemerintah, maupun masyarakat, antar lain : 1.

Memperoleh Keuntungan Apabila suatu usaha dikatakan layak untuk dijalankan akan memberikan

keuntungan keuangan, terutama keuntungan bagi pemilik bisnis. Keuntungan ini biasanya diukur dari nilai uang yang akan diperoleh dari hasil usaha yang dijalankannya.

5


2.

Membuka Peluang Pekerjaan Dengan adanya usaha jelas akan membuka peluang pekerjaan kepada

masyarakat, baik bagi masyarakat yang terlibat langsung dengan usaha atau masyarakat yang tinggal sekitar lokasi usaha. Adanya peluang pekerjaan ini akan memberikan pendapatan bagi masyarakat yang bekerja pada usaha tersebut. Begitu pula bagi masyarakat yang tinggal sekitar lokasi usaha dapat membuka berbagai macam usaha, sehingga masyarakat yang tadinya pengangguran dapat meningkatkan kesejahteraan. 3. Manfaat Ekonomi Secara umum manfaat secara ekonomi antara lain : a. Menambah jumlah barang dan jasa. Untuk usaha tertentu misalnya pendirian pabrik tertentu pada akhirnya akan memproduksi barang atau jasa. Dengan tersedia jumlah barang dan jasa yang lebih banyak, masyarakat punya banyak pilihan, sehingga pada akhirnya yang akan berdampak kepada harga yang cenderung turun dan kualitas barang sejenis akan lebih meningkat. b. Meningkatkan mutu produk. Hal ini disebabkan dengan adanya barang dari usaha sejenis dapat memacu produsen untuk meningkatkan kualitas produknya. c. Meningkatkan devisa. Khusus untuk barang yang tujuan ekspor akan dapat menambah devisa atau akan dapat memberikan pemasukan devisa bagi negara dari barang yang kita ekspor. d. Menghemat devisa, artinya apabila semula barang tersebut kita impor dan sekarang bisa diproduksi di dalam negeri, maka jelas tindakan ini dapat menghemat devisa negara.

6


2.5 Tahap – Tahap Kelayakan Usaha Menurut Suryana (2006), hasil Kelayakan usaha dapat dilakukan melalui tahap – tahap berikut 1. Tahap Penemuan Ide atau Perumusan Gagasan Tahap penemuan ide adalah tahap di mana wirausaha memiliki ide untuk merintis usaha barunya. Ide tersebut kemudian dirumuskan dan diidentifikasi, misalnya kemungkinan – kemungkinan bisnis yang paling memberikan peluang untuk dilakukan dan menguntungkan dalam jangka waktu yang panjang. 2. Tahap Formulasi Tujuan Tahap ini adalah tahap perumusan visi dan misi bisnis, seperti visi dan misi bisnis yang hendak diemban setelah bisnis tersebut diidentifikasi apakah misinya untuk menciptakan barang dan jasa yang sangat diperlukan masyarakat sepanjang waktu ataukah untuk menciptakan keuntungan, atau apakah visi dan misi bisnis yang akan dikembangkan. 3. Tahap Analisis Tahap penelitian yaitu proses sistematis yang dilakukan untuk membuat suatu keputusan apakah bisnis tersebut layak dilaksanakan atau tidak. Tahapan ini dilakukan seprti prosedur proses penelitian ilmiah lainnya, yaitu dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah, menganalisis, dan menarik kesimpulan.

7


2.6 Aspek – Aspek Studi Kelayakan Bisnis Menurut Kasmir (2003), aspek – aspek yang perlu dilakukan studi kelayakan adalah sebagai berikut 1. Aspek Hukum Dalam aspek ini yang akan dibahas adalah masalah kelengkapan dan keabsahan dokumen perusahaan, mulai dari bentuk badan usaha sampai izin – izin yang dimiliki. Kelengkapan dan keabsahan dokumen sangat penting, karena hal ini merupakan dasar hukum yang harus di pegang apabila dikemudian hari timbul masalah. Keabsahan dan kesempurnaan dokumen dapat diperoleh dari pihak pihak yang menerbitkan atau mengeluarkan dokumen tersebut. 2. Aspek Pasar Salah satu rencana bisnis yang perlu dikaji kelayakannya adalah aspek pasar dan pemasaran. Jika pasar yang akan dituju tidak jelas, prospek bisnis kedepan pun tidak jelas maka resiko kegagalan bisnis menjadi besar. Analisis dilakukan pula pada lingkungan internal perusahaan yang akan di analisis adalah kelayakan dari aspek pemasaran seperti program pemasaran dan perkiraan penjualan yang bisa dicapai perusahaan. Pasar pada dasarnya dapat diartikan sebagai tempat pertemuan antara penjual dan pembeli atau tempat dimana kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran saling bertemu untuk membentuk suatu harga. 3. Aspek Keuangan Dalam aspek ini dilakukan untuk menilai biaya- biaya apa saja yang akan dikeluarkan dan seberapa besar biaya – biaya yang akan dikeluarkan. Kemudian juga meneliti seberapa besar pendapatan yang akan diterima jika proyek jadi dijalankan. Penelitian ini meliputi seberapa lama investasi yang ditanamkan akan kembali. 4. Aspek Teknis Dan Operasi Untuk menentukan lokasi yang tepat, baik untuk lokasi pabrik, gudang, cabang ataupun kantor pusat selain itu agar perusahaan dapat menentukan layout yang sesuai dengan proses produksi yang dipilih sehingga dapat memberikan 8


efisiensi. Agar perusahaan bisa menentukan teknologi yang paling tepat dalam menjalankan produksinya. 5. Aspek Manajemen / Organisasi Proyek yang dijalankan akan berhasil apabila dijalankan oleh orang – orang yang profesional, mulai dari merencanakan, melaksanakan sampai dengan mengendalikan apabila terjadi penyimpangan. Demikian pula dengan stuktur organisasi yang dipilih harus sesuai dengan bentuk dan tujuan usahanya. 6. Aspek Ekonomi Sosial Aspek ekonomi bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan jika proyek tersebut dijalankan terutama ekonomi secara luas serta dampak sosialnya terhadap masyarakat secara keseluruhan. 7. Aspek Dampak Lingkungan Aspek ini bertujuan untuk menentukan apakah layak atau tidak bisnis tersebut dilihat dari lingkungan sekitar, baik terhadap darat, air, dan udara yang pada akhirnya berdampak terhadap kehidupan manusia, binatang, dan tumbuh – tumbuhan yang ada disekitarnya.

2.7 Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Kegagalan Usaha Secara umum faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan terhadap hasil yang dicapai sekalipun telah dilakukan studi kelayakan bisnis secara benar dan sempurna adalah sebagai berikut : 1. Data dan informasi tidak lengkap Pada saat melakukan penelitian data dan informasi yang disajikan kurang lengkap, sehingga hal-hal yang seharusnya menjadi penilaian tidak ada. Kemudian, dapat pula data yang disediakan tidak dapat dipercaya atau palsu. Karena itu, sebelum melakukan studi sebaiknya kumpulkan data dan informasi selengkap mungkin, melalui berbagai sumber yang ada dan tentunya dapat dipertanggung jawabkan kebenaran datanya.

9


2. Tidak Teliti Kegagalan dapat pula disebabkan si penstudi (orang yang melakukan studi) kurang teliti dalam meneliti dokumen-dokumen yang ada. Oleh karena itu, dalam hal ini tim studi kelayakan bisnis perlu melatih atau mencari tenaga yang benar-benar ahli di bidangnya, sehingga faktor ketelitian ini menjadi jaminan. Kecerobohan sekecil apa pun akan sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian. 3. Salah Perhitungan Kesalahan dapat pula diakibatkan si penstudi salah dalam melakukan perhitungan. Misalnya, dalam hal penggunaan rumus atau cara menghitung, sehingga hasil yang dikeluarkan tidak akurat. Dalam hal ini juga perlu disikapi untuk menyediakan tenaga ahli yang andal dibidangnya. 4. Pelaksanaan Pekerjaan Salah Para pelaksana bisnis sangat memegang peranan penting dalam keberhasilan menjalankan bisnis tersebut. Apabila para pelaksana di lapangan tidak mengerjakan proyek secara benar atau tidak sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan , maka kemungkinan bisnis tersebut gagal sangat besar. 5. Kondisi Lingkungan Kegagalan lainnya adalah adanya unsur-unsur yang terjadi yang memang tidak dapat kita kendalikan. Artinya, pada saat melakukan penelitian dan pengukuran semuanya sudah selesai dengan tepat dan benar, namun dalam perjalanan akibat terjadinya perubahan lingkungan pada akhirnya berimbas kepada hasil penelitian dalam studi kelayakan bisnis. Perubahan lingkungan seperti ekonomi, politik, hukum, sosial dan perubahan perilaku masyarakat, atau karena bencana alam. 6. Unsur Sengaja Kesalahan yang sangat fatal adalah adanya faktor kesengajaan untuk berbuat kesalahan. Artinya peneliti sengaja membuat kesalahan yang tidak sesuai dengan kondisi yang sebernarnya dengan berbagai sebab. Atau para pelaksanaan di lapangan juga melakukan perbuatan yang tercela, sehingga menyebabkan gagalnya suatu proyek atau usaha.

10


2.8 Industri 2.8.1

Defenisi Industri Menurut UU RI No 5 tahun 1984 menyebutkan bahwa Industri adalah

suatu kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah

jadi dan barang

menjadi

barang dengan nilai lebih tinggi

penggunaanya termasuk kegiatan rancangan bangun dan perekayasaan industri. Menurut Hunger Dan Wheelen (2003) Industri adalah kelompok perusahaan yang memproduksi produk barang atau jasa yang serupa, seperti jasa keuangan atau minuman ringan. Setiap industri membutuhkan bahan baku yang berbeda, tergantung pada apa yang akan dihasilkan dari proses industri tersebut. Menurut Muliawan (2008), Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi. Barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Disamping itu istilah industri bukan hanya berarti pengolahan barang berbentuk konkrit, tetapi juga dapat berwujud pelayanan atau jasa. Industri pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi/setengah jadi, dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir (BadanPusat Statistik, 2011)

11


2.8.2

Jenis-Jenis Industri Adapun jenis-jenis industri bahan baku menurut Tarigan (2010),

berdasarkan bahan baku yang digunakan, industri dapat dibedakan menjadi tiga yaitu : 1. Industri ekstraktif adalah industri yang bahan baku diambil langsung dari alam sekitar. 2. Industri nonekstaktif adalah industri yang bahan baku didapat dari tempat lain selain alam sekitar. 3. Industri fasilitatif adalah industri yang produk utamanya adalah berbentuk jasa yang dijual kepada para konsumennya. Adapun jenis-jenis industri bahan baku menurut Tarigan (2010) berdasarkan jumlah tenaga kerja industri dapat dibedakan menjadi empat yaitu : 1. Industri rumah tangga adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 1-4 orang. 2. Industri kecil adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 5-19 orang. 3. Industri sedang atau industri menengah adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 20-99 orang. 4. Industri besar adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 100 orang atau lebih.

2.9 Analisis Kelayakan 2.9.1 Biaya Biaya adalah sejumlah modal yang dikeluarkan dalam proses produksi. Biaya terbagi atas ada 2 yaitu biaya investasi dan biaya operasional dan pemeliharaan. Biaya investasi berupa biaya yang diberikan oleh investor dan pemerintah. Biaya operasional dan pemeliharaan berupa biaya yang dikeluarkan dalam manjalankan usaha misalnya membeli bahan baku dan gaji karyawan.

12


2.9.2 Benefit Benefit adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Dalam menghitung total penerimaan, perlu diperhatikan analisis parsial usaha dan analisis keseluruhan usaha. Dalam menghitung penerimaan, beberapa hal yang harus diperhatikan : 1.

Hati-hati dalam menghitung produksi

2.

Hati-hati dalam menghitung penerimaan, karena : (a) produksi mungkin dijual beberapa kali, sehingga diperlukan data frekuensi penjualan; (b) produksi mungkin dijual beberapa kali pada harga jual yang berbeda-beda. Jadi disamping frekuensi penjualan yang perlu diketahui juga harga jual pada masing-masing penjualan tersebut.

3.

Bila penelitian dilakukan dengan menggunakan responden, maka diperlukan teknik wawancara yang baik untuk membantu responden mengingat kembali produksi dan hasil penjualan yang diperolehnya selama setahun tarakhir. Pemilihan waktu setahun terakhir biasanya sering dipakai para peneliti untuk memudahkan perhitungan.

2.9.3 B/C Ratio B/C Ratio (benefit cost ratio) adalah perbandingan antara manfaat dan biaya. B/C Ratio pada prinsipnya sama saja dengan analisis R/C, hanya saja pada analisis B/C Ratio ini data yang dipentingkan adalah besarnya manfaat. Kriteria yang dipakai adalah suatu usaha dikatakan memberikan manfaat bila B/C >1. Dalam berbagai pastaka dikenal pula istilah Net B/C yaitu menghitung perbandingan nilai selisih biaya manfaat yang positif dan nagatif. Kriteria yang dipakai sama, yaitu nilai Net B/C > 1. 2.9.4 NPV (Net Present Value) NPV adalah selisih antara penerimaan dan pengeluaran yang telah didiskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital sebagai diskon faktor, atau dengan kata lain merupakan arus kas yang diperkirakan pada masa yang akan datang yang didiskonkan pada saat ini. Untuk menghitung NPV diperlukan data tentang perkiraan biaya investasi, biaya operasi, dan pemeliharaan serta perkiraan manfaat benefit dan proyek yang direncanakan. 13


2.9.5 IRR (Internal rate of return) Internal rate of return (IRR) adalah mencari suatu tingkat bunga yang akan menyamakan jumlah nilai sekarang dari penerimaan yang diharapkan diterima (present value of future proeed) dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran untuk investasi. Dengan kata lain,IRR adalah discount rate yang menjadikan NPV sama dengan nol. Kriterianya layak atau tidak layak bagi suatu usaha adalah bila IRR lebih besar dari tingkat bunga yang yang berlaku.

2.10

Penelitian Terdahulu Cholifah (2003) Hasil penelitian tentang usaha agroindustri emping

melinjo

yang

dilakukan

dikabupaten

kulonprogo

menunjukkan

bahwa

agroindustri emping sudah mampu memberikan keuntungan sebesar Rp 388.145,06. Selain itu usaha agroindustri emping melinjo juga sudah efisien, hal ini ditunjukkan dengan R/C Rasio sebesar 1,26. Walaupun menguntungkan, tetapi usaha agroindustri emping melinjo juga mempunyai kemungkinan rugi, hal ini ditunjukkan dengan nilai cv yang lebih besar dari 0,5 dan nilai batas bawah keuntungan yang negatif yaitu (-) 158.717,03. Usnun (2004) Hasil penelitian yang berjudul Analisis usaha pembuatan krupuk

rendeng

puyur

Di

Kecamatan

Tuntang

Kabupaten

Semarang,

menunjukkan bahwa penerimaan yang diperoleh produsen krupuk rendeng puyur selama bulan oktober 2003 sebesar Rp 2.411.913,00 dengan biaya total rata – ratanya sebesar Rp 2.095.115,00 sehingga keuntungan rata- rata yang diperoleh selama bulan oktober 2003 Rp 316.816,00. Profitabilitas dari usaha krupuk rendeng puyur sebesar 15,2 %. Koefisien variasi dari usaha ini adalah 0,65 dengan simpangan baku Rp 204.258,00 dan batas bawah keuntungan sebesar minus Rp 91.700,00. Usaha krupuk rendeng puyur sudah efisien dengan nilai R/C sebesar 1,15 yang berarti setiap 1 rupiah biaya yang dikeluarkan akan didapatkan penerimaan 1,15 kali dari biaya yang dikeluarkan. Mahadewi (2002) Hasil penelitian yang berjudul Analisis usaha agroindustri lanting Di Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen, diketahui 14


bahwa biaya rata – rata yang dikeluarkan dalam satu kali produksi sebesar Rp 280.674,71 dengan rata – rata produksi sebesar 104.31 kilogram. Penerimaan yang diperoleh dalam satu kali produksi sebesar Rp 305.937,50 sehingga diperoleh keuntungan sebesar Rp 25.262,79 dengan profitabilitas sebesar 9 %. Koefisien variasi dari usaha ini sebesar 1,52 dengan batas bawah keuntungan sebesar minus Rp 51.547,51. Walaupun nilai resiko dari usaha ini cukup besar, namun usaha agroindustri lanting di Kecamatan Adimulyo ini sudah efisien, terbukti dengan nilai R/C nya sebesar 1,09. Indri (2005) Hasil penelitian yang dilakukan dengan judul Analisis usaha industri intip di Kota Surakarta diketahui bahwa biaya total rata – rata yang dikeluarkan untuk industri intip di Kota Surakarta dalam satu bulan sebesar Rp 11.306.025,00. Sedangkan penerimaan rata – rata yang diperoleh pengusaha intip selama sebulan sebesar Rp 14.616.452,00 sehingga keuntungan rata – rata yang diperoleh produsen selama satu bulan adalah Rp 3.310.427,00. Profitabilitas dari usaha pembuatan intip di Kota Surakarta adalah 29,3 % yang berarti usaha yang dilakukan menguntungkan. Besarnya resiko yang mungkuin terjadi Rp 2.157.521,00 dan batas bawah keuntungan sebesar minus Rp 1.004.615,00 yang berarti produsen harus berani menaggung kerugian sebesar Rp 1.004.615,00. Sedangkan efisiensi usahanya adalah 1,293. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pembuatan intip di Kota Surakarta sudah efisien.

2.11 Kerangka Pikir UKM Flamboyan adalah salah satu usaha/industri pengolahan pangan yang ada di Kota Gorontalo. Usaha ini bergerak dibidang pengolahan hasil pertanian. produk makanan olahan yang dihasilkan seperti cemilan kecil yang bahan bakunya dari jagung dan pisang seperti stik jagung,emping jagung, abon ikan tengiri, dsb. Selain bergerak dibidang pengolahan hasil pertanian, UKM Flamboyan juga membuat kerajinan tangan diantaranya toples hias dan kerawang. Kota Gorontalo merupakan sentra industri pengolahan pangan berbahan baku pisang menjadi produk makanan olahan adalah UKM Flamboyan, dalam 15


penelitian ini dianalisis kelayakan usaha pada industri rumah tangga keripik pisang yang dapat dianalisis menggunakan persamaan NPV, B/C Ratio, IRR, dan probability ratio. Dari hasil analisis dapat diketahui apakah industri rumah tangga keripik pisang layak atau tidak layak untuk dikembangkan.Secara sedarhana kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar I dibawah ini.

Provinsi/ Kota Gorontalo

Keripik Pisang

Nilai Tambah

Industri RT

Kelayakan Usaha

NPV

B/C Ratio

Layak

IRR

Probability Ratio

Tidak Layak

Gambar 1 : Kerangka Pikir Penelitian UKM Flamboyan

16


2.12 Hipotesis Berdasarkan rumusan masalah, tinjauan pustaka, dan kerangka pikir, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut “ Usaha industri rumah tangga keripik pisang di UKM Flamboyan layak secara finansial untuk dikembangkan�

17

misi sayekti  

ada waktu luang dibaca

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you