Skip to main content

31032013-metroriau

Page 5

Seni Budaya

METRO RIAU MINGGU,, 31 MARET 2013

Tari Rentak Bulian yang Magis

RENTAKK Bulian merupakan ritual adat dalam upacara pengobatan suku Talang Mamak di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau. “Kata Rentak” maksudnya adalah merentak atau melangkah. “Bulian” dimaksudkan sebagai tempat singgah Orang Bunian atau sejenis mahluk halus keyakinan suku bangsa tersebut. Dalam perkembangan seni tari tradisional-modren di Inhu khususnya dan Riau umumnya, tari Rentak Bulian kental dengan nuansa dan unsur magis. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membawakan tari Rentak Bulian ini, yaitu; Pertama, penari terdiri dari delapan orang, tujuh diantaranya perempuan muda berparas cantik, bertubuh bersih, tidak dalam masa haid, nifas atau sedang berhadas besar lainnya. Seorang penari lainnya adalah laki-laki muda yang perkasa dan sudah akil baligh. Kedua, hapal gerak dan laku tarian tersebut. Ketiga, setiap penari tak terkait dengan pertalian darah. Keempat, seluruh penari harus mendapat izin dari ketua adat kampung sebelum membawakan tarian ini. Kelima, penari sudah diasapi dengan Gaharu. Keenam, alat musik pengiring tari terlebih dahulu harus dikeramati. Ketujuh, Mayang Pinang dipilih yang muda dan perapian tak boleh dimanterai. Seluruh persyaratan tersebut harus dicukupi dan dilakukan sebelum pertunjukan Rentak Bulian dipagelarkan. Apabila ritual tari ini tidak di-

indahkan, diyakini penari akan mendapat musibah tertentu. Dalam jalannya tari, tubuh para penari biasanya akan dalam keadaan siap menari dengan catatan sehat dan juga akan menjadi media penolak bala oleh para mahluk gaib. Biasanya pula penari pria akan dalam keadaan setengah sadar pada akhir puncak tari. Pada waktu itu pula penari pria tersebut akan memecahkan mayang pinang sebagai media pengobatan dengan merentak mengelilingi penari perempuan lainnya. Adapun perlengkapan tari Rentak Bulian terdiri dari; “Bulian” yaitu sejenis rumah rumah atau pondok untuk tempat ritual, “Perapian” yang menjadi tempat untuk membakar sesajian, “Kapur Sirih” berfungsi sebagai alat untuk membuat balak atau tanda silang, “Mayang Pinang” yang berasal dari pohon pinang dan diukir motif Melayu, “Baju Adat” sebagai busana/pakaian bagi para penari dan pemusik, dan”Alat Musik” sebagai alat pengiring tari. Tanpa alat musik, Tari Rentak Bulian tidak dapat dipagelarkan/dipertunjukkan. Adapun alat musik pengiring tarian ini

terdiri dari; gong yang terbuat dari besi logam.Gong berfungsi sebagai pengiring ritme langkah kaki penari. Seruling, sejenis alat tiup terbuat dari buluh atau bambu pilihan yang diberi lubang tujuh sampai duabelas sebagai tangga nada. Kemudian, Ketok-ketok yang terbuat dari sebongkah batang kelapa tua yang berdiameter 30-45 cm yang dilubangi menyerupai kentongan pada daerah jawa, Tambur atau gendang besar yang berfungsi sebagai bass, Kerincing yang diletakkan pada kaki penari, danGendang Jalannya Tari Tari diawali dengan musik yang bertalu dengan langkah rentak bulian khas irama daerah setempat. Para penari berturut – turut dari seorang penari laki-laki yang berada di tengah apitan dua orang penari perempuan yang membawa Mayang Pinang dan perapian, serta lima penari perempuan lainnya berjejer berurut di belakang penari laki – laki masuk ke tengah arena tari di mana telah terletak sebuah bulian. Langkah kaki mereka kaku dan tangan menyilang kedada depan. Penari laki- laki yang bertelanjang dada dan bersayap putih adalah pemimpin gerak dengan tatap mata yang tajam di sebut Batin. Dua penari perempuan di kanan dan kiri Batin adalah pengawal yang bertugas membawa kelengkapan upacara yaitu perapian di sebelah kiri,

dan Mayang Pinang di sebelah kanan. Semua penari bergerak dipimpin Batin sampai ke Bulian. Dalam pada itu, sesempai di Bulian, Batin melakukan upacara dibantu dua orang pengawal. Dari mengapikan perapian sampai dengan mengasapi Mayang Pinang serta membalak tubuh atau membuat tanda silang pada tubuh penari laki – laki. Lima penari lain nya bergerak mengikiti ritme musik dalam posisi duduk dan mengambil sikap menyembah Batin. Setelah Batin selesai upacaranya maka ia akan mentilik para penari perempuan di sekitar Bulian. Para penari perempuan termasuk pengawal akan mengantisipasi apabila secara tiba- tiba Batin dalam keadaan setengah sadar. Ketika Batin dalam keadaan setengah sadar, dia akan memecahkan Mayang Pinang sebagai simbolik pengobatan, kemudian kembal d ia mengitari penari perempuan untuk menghilangkan bala. Sang pengawal mengambil sikap menjaga para penari lainnya dari bahaya ketidaksadaran Sang Batin. Pengawal akan merebut Mayang dan Batin kembali terjaga dari keadaan setengah sadar. Berikutnya , para penari akan mengitari Bulian dan mengambil sikap pause atau berhenti sejenak dalam tari lalu kembali bergerak meninggalkan area tari. Dan tarianpun selesai dibawakan. (krm/ net)


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook