Seni Budaya
METRO RIAU MINGGU,, 6 April 2014
Songket Melayu U SONGKET berasal dari kata “sungkit” yang artinya “mencungkil” yang juga memerlukan proses “mengait”. Kedua proses tersebut (mencungkil dan mengait) merupakan proses utama di dalam menenun sebuah kain yang diinginkan. Sebagian orang malah menyebut kata “songket” tersebut berasal dari kata “Songka” yang artinya topi atau kata “songkok” khas Palembang yang dipercaya sebagai daerah. Dimana masyarakatnya merupakan masyarakat yang pertama kali memiliki kebiasaan melakukan kerajinan menenun kain menggunakan tangan yang digunakan pada songkok atau topi, yang selanjutnya berkembang penggunaannya pada pakaian. “Menyongket” dapat diartikan sebagai ‘menenun dengan benang emas dan perak’. Kain Tenun Songket Melayu sendiri merupakan kain dari hasil kerajinan tangan masyarakat Melayu yang dilakukan melalui proses menenun benang yang juga diselingi dengan tenunan benang emas atau benang perak dengan menggunakan ragam motif/ corak tenunan tertentu. Kain hasil tenunan Songket Melayu memiliki banyak keunikan dan kaya dengan nilai keindahan atau estetika sebagai bentuk gabungan dari unsur-unsur budaya yang biasanya melambangkan corak, pandangan dan pemikiran masyarakat Melayu. Ragam dari motif/corak kain tenunan Songket sangatlah erat hubungannya antara manusia dengan alam sekitar, baik hewan maupun tumbuhan. Ragam tersebut sekaligus juga mencerminkan cara dan pandangan hidup umat manusia. ‘’Pada masa dahulu, kain tenunan songket tersebut ditenun dengan memakai benang
sutera yang diselingi dengan motif tertentu menggunakan benang emas ataupun perak. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya para pedagang dari Tiongkok yang kerap membawa benang sutera. Sementara para pedagang asal India biasa membawa benang emas ke tanah Melayu. Dengan mempertimbangkan mahalnya harga benang sutera, maka pada perkembangan songket Melayu selanjutnya, benang sutera tersebut diganti dengan benang kapas. Pada masa kain tenunan dihasilkan dengan menggunakan benang sutera, kain tenun biasanya juga bisa menunjukkan strata kelas masyarakat yang melambangkan kedudukan dan kemegahan,’’ papar pengrajin tenun songket, Sri Yanti saat disambangi Metro Riau ke kediamannya di Perumahan Griya Mayang Asri I Blok M nomor 9 RT 04 RW 5 Kelurahan Sidomulyo Barat Kecamatan Tampan, beberapa
waktu lalu. Menurut penerima anuger-ah UMKM Awards ke-5 Bankk Riau Kepri untuk kategorii Usaha Mikro ini, ada banyakk jenis ragam corak tenun song-ket yang biasa digunakan,, diantaranya Motif Kuntum m Bunga, Motif Siku Keluang,, Motif Siku Awan, Motif Sikuu Tunggal, Motif Pucuk Rebungg Kaluk Pakis, Motif Pucuk Re-bung Bertabur Bunga Ceremai,, Motif Pucuk Rebung Bertali,, Motif Daun Tunggal dan Motiff Mata Panah Motif Tabir Bin-tang. Menurut petuah orang tuaa melayu Riau, makna dan fal-safah di dalam setiap motiff kain tenun tersebut, selain da-pat meningkatkan minat-minatt orang untuk menggunakan kainn tenun juga dapat menyebar-lu-askan nilai-nilai ajaran agamaa Islam yang dianut masyarakatt Melayu. Itu lah sebabnya dahulu pengrajin diajarkan membuat atau meniru corak. Ada banyak ungkapan Melayu yang menunjukkan keistimewaan penggunaan kain songket tersebut. Di rumahnya itu pula, ibu dari Rizki Pratama (8) dan Fatimah Azahra (2) ini bersama sang suami, Sulaeman menyatukan benang demi benang untuk dijadikan selembar kain dengan beragam motif. Di antaranya ada motif pucuk rebung, siku keluang dan siku awan berarak serta motif-matif lain dari hasil kombinasinya. Sebelum dijadikan
selembar kain, benang-benang dirajut menggunakan alat tenun, yakni Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Helai demi helai dipadupadankan warnanya berdasarkan motif yang sudah ada. Untuk memadupadankan benang-benang yang ada pada mesin tenun, Sri Yanti memang mempekerjakan beberapa ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan dirinya juga turut menenun jika motifnya dianggap rumit. ‘’Di kebudayaan Riau, semua motif-motif tenun ada maknanya. Nanti kalau kami bikin inisiatif sendiri seperti motif persache yang kami
pernah buat, itu dibilang orang motif dari China. Karena itu kami takut membuat motif-motif sendiri dan kami mengikuti yang sudah ada saja dulu. Dan untuk membikin motif sendiri belum juga sich. Tapi, dikombinasikan itu yang dilakukan saat ini. D a n
Insya Allah kedepannya ada
rencana untuk menciptakan motif sendiri’’ katanya. (zulmiron)