Page 1


Majalah Puisi: Edisi Februari, 2017 © Beni Setia, dkk. Kawanden Publishing: 003-02-05-0003 Cetakan Pertama, Februari 2017 Penyunting Maulidan Rahman Siregar

Penata Letak Maulidan Rahman Siregar Beni Setia, dkk. Majalah Puisi: Edisi Februari 2017 Padang: Kawanden Publishing, 2017 ISBN: Keterangan Gambar Sampul  Lukisan karya Basuki Abdullah ―Gadis Sunda‖. Dicetak oleh Kawanden Publishing. Isi di luar tanggungjawab percetakan.

Hak cipta dilindungi Undang-undang boleh mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh majalah ini asal dilakukan dengan kaidah yang benar dan atas persetujuan penulis bersangkutan


BENI SETIA, lahir di Soreang, Bandung Selatan, 1 Januari 1954. Setamat dari SPMA, 1974, dia menempuh kehidupan ganjil dengan belajar mengarang secara otodidak. Dia juga menulis puisi, esai, dan artikel tentang masalah sosialbudaya. Karyanya tersebar di beberapa media massa cetak, Nasional dan daerah. Di samping menulis dalalam bahasa Indonesia, juga menulis puisi dalam bahasa Sunda.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 01


Beni Setia CATATAN HARIAN 1 soreang rembang bukit meremang. panen memanggil pulang 2 aroma merang jemuran gabah. kersang berbulan kerja 3 langit kelabu, uar bakaran jerami --desar kolecer 4 hamparan sawah lenguhan kerbau. pembajak membalik tanah 5 leleh keringat dibasuh gerimis. dan tanah bergaram 6 di cekung datar lumpur diendapkan air pematang kekar 7 selentik pucuk padi dibelai angin --membecak lagi 8 kembali lagi: pergi. memeram bulir gabah--impian 1/6/2016 Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 02


Beni Setia EMPAT VARIASI 1. selepas shubuh merendam cucian, dan menjelang dhuhur : listriknya belum juga menyala --apa menunggu magrib? 2. dan pemadaman terulang lagi : apa sampai di ashar lagi? padahal harus: printing dokumen dari _eactor_ 3. di warung nasi: tak lagi ada nasi—tak sempat lagi : menanak nasi. tak ada dandang nasi—mungred magic jar 4. bravo pln! jangan tergantung pada air dan bendungan coba reaktor nuklir, atau jin putar turbin. spiritual 2015 _________________________________ *)Beni Setia.Pengarang.Email: benisetia54@yahoo.com

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 03


TJAHJONO WIDARMANTO. Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, saat ini melanjutkan studi di program doktoral Unesa. Buku puisi terbarunya Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi para Pemuja Sajak (2016) menerima anugerah buku hari puisi Indonesia tahun 2016. Bukunya yang terbit terdahulu : PENGANTAR JURNALISTIK;Panduan Penulis dan Jurnalis (2016), MARXISME DAN SUMBANGANNYA TERHADAP TEORI SASTRA: Menuju Pengantar Sosiologi Sastra (2014) dan SEJARAH YANG MERAMBAT DI TEMBOKTEMBOK SEKOLAH (2014), MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013) dan MASA DEPAN SASTRA: Mozaik Telaah dan Pengajaran Sastra (2013), DI PUSAT PUSARAN ANGIN (buku puisi, 1997), KUBUR PENYAIR (buku puisi:2002), KITAB KELAHIRAN (buku puisI, 2003), NASIONALISME SASTRA (bunga rampai esai, 2011),dan DRAMA: Pengantar & Penyutradaraannya (2012), UMAYI (buku puisi, 2012). Selain menulis juga bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di beberapa SMA Sekarang beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi. Telp.(0351)746225 atau 085643653271. E-Mail: cahyont@yahoo.co.id, No.rekening BCA Cabang Ngawi 7790121109.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 04


Tjahjono Widarmanto MENJADI ABU sama dengan bangkai ia sekejap akan sirna mungkin melesak dalam kerak paling palung di tanah paling liat dan hitam atau melesat ke angkasa, menabrak dan mengguncang pepohonan sebelum lenyap jadi butir-butir molekul seperti gerimis tipis seperti juga sama dengan semua mayat yang tak pernah tahu dalamnya neraka ia tak akan lagi merapal ayat-ayat. segenap mantra dan jampi-jampi kidung suci berubah menjadi serabut-serabut yang ringkih seperti putik merambat menuju layu “hai, tak perlu kau menoleh ke belakang untuk mengingat-ingat apapun.campakkan ingatan Bergegaslah, kau telah di tunggu kereta dihela delapan lembu melenguh tanpa henti!� maka, engkau pun berjalan sendiri dengan berdebar-debar mendengar lenguh itu. cemas sendiri tanpa siapa-siapa, bahkan tanpa nama : engkau jadi anonim

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 05


Tjahjono Widarmanto TAN (10) Tjokro,telah kau wariskan kerajaan tanpa mahkota itu maka aku pun belajar bagaimana menyerap teka-teki! aku tak ingin seperti soewirdjo menjadi puntadewa sang ratu adil meminta khalifah dengan pasukan surga tak pula ingin seperti kusno bermimpi jadi arjuna inginkan begitu banyak cinta dan puja biarlah aku jadi bagian gelap paling rahasia menjadi pulau paling berkabut hingga tak semua mualim dan kura-kura bisa menyinggahinya aku tahu kelak seseorang bisa saja binasa oleh hiruk pikuk atau sunyi namun dalam teka-teki paling rumit kematian tak berarti apa-apa hanya seperti sebatang korek api dihabiskan nyala sendiri! cuma tinggal satu pertanyaan untukmu Tjokro: bagaimana cara mereka pahami sejarah?

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 06


Tjahjono Widarmanto SEBUAH TAMAN akan kutunjukkan pada kalian sebuah taman tak hanya untuk meneguk aroma kembang atau indahnya warna sayap kupu-kupu tak hanya kalian bisa menangkap getar sayap burung atau menatap senyum langit yang menggoda akan kutunjukkan pada kalian sebuah taman tempat seribu puisi berbiak dalam hati wanginya meresap di palung jiwa. ya, sebuah taman untuk kalian.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 07


Tjahjono Widarmanto PEREMPUAN-PEREMPUAN HANTU siapa bisa menafsirnya? legenda-legenda itu kekal mencatatnya menjadi semacam sajak atau mantra rimba gaib lahirkan perempuan-perempuan hantu yang sembunyi di kulit pohon dan akar belukar pentilnya terbuka. lonjong. bergoyang-goyang menari hingga keringat leleh jadi sungai menyeret perahu-perahu –bukan milik nuh— di dalamnya ada ranjang pengantin kembang tujuh aroma : ayo bercumbu, perempuan-perempuan hantu sodorkan pentil lonjongmu. bukankah kita pecumbu abadi!

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 08


Tjahjono Widarmanto SERAT ARI-ARI ari-ari tak berhenti pada serat mengerak jadi sebutir telur merengkahkan daging : bersama ketuban aku akan muncrat tumbuh jadi para ksatria mencatat legenda baru dunia para penakluk kelak para rahil menakwil sebuah dinasti baru legenda anyar yang melibas kematian menyamaknya jadi kaus kaki kecilku dari tempat lunak dan hangat ini kurangkai api aroma tubuhku memanggili segenap kupu-kupu sejak dari rahim ibu telah kupintal sebuah sejarah

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 09


Tjahjono Widarmanto RIWAYAT KOTA (2) singgahlah! dan tulis di buku harianmu : tiap sejarah adalah tuba sepenggal kenangan adalah taufan di kota itu, engkau akan lihat wajahmu di antara berhala dan totem yang terpahat di museum atau tergantung di gapura-gapura depan rumah mengucap selamat kepada yang datang mencibir tiap serpih kenangan yang pergi di kota ini engkau rasakan kembali rindu dan hiruk-pikuk sepimu. bertahanlah di sini! disediakan sebuah ranjang pengantin engkau bisa menghitung waktu dan tetes peluhmu seorang gadis akan segera menyapamu : itulah pengantinmu! perempuan yang berkali-kali patah hati liurnya lelehkan matahari dan dengusnya adalah api membakarmu!

_________________________________ *) Tjahjono Widarmanto.Penyair yg tinggal di Ngawi. Buku puisinya Percakapan Tentang Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak, merupakan salah satu pemenang buku puisi 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 10


FADHILLAH MUHAMMAD RIFA. Lahir di Bukittinggi, 19 April. Menulis puisi dan cerpen. Berdomisili di Padang, Sumatra Barat. Selain membaca buku, dia suka bertanya dan ditanyatanya.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 11


Fadillah Muhammad Rifa ADIK KETIGA Lihat. Adik sakit, ia kami tiduri diatas meja kaca. Ia menanggung beban. Tentu saja kaca kami bikin retak. Biar ia tahu bila salah dalam berkeputusan, roboh samua segala tempat persemayangan. Kami haram bersedih hati, karena adik adalah segalanya bagi Ayah. Padang, 9 Juni 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 12


Fadhillah Muhammad Rifa TOA 2 Adzan adalah alarm kematian. Muadzim yang pasrah menyeru maut, dan kau takkan tau bagaimana alur senyawa sangkakala sebagaimana setan bernyanyi-nyanyi mengnyihir kantuk mata. Didalam lipatan rahasia. Aku terdiam di sudut kasur yang karam. Selayaknya sebuah lelap, tidur bagaikan bentuk terindah mempersingkat umur. Di anjungan yang maghfirah inilah, tubuh ingin ku kembalikan meski rubuh merupakan jawaban dari sengau do'a. Ketika aku pulang.Ketika aku benar-benar pulang. Kumandang adzan berdenging beserta huru-hara mantra bagi mereka yang jahil. Dirumah. Adik-adik ku biarkan bernyanyi menyimpan makna. Padang, 18 Januari 2016

_________________________________ *) Fadhillah Muhammad Rifa.Lahir di Bukittinggi, 19 April. Penyair yang tinggal di Padang.Mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Negeri Padang.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 13


SYAIFUL KASMAN, lahir di Padang. Menetap dan bekerja di kota kelahirannya. Menyelesaikan pendidikan di Universitas Andalas.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 14


Syaiful Kasman Gejolak Kegelisahan ku adalah rindu yang menusuk dalam ke paru Membuat nafas mengalir begitu sendu Ketenangan ku adalah riuh dedaunan rimba di sepoi angin Mengalirkan darah ke muara ketenangan Januari 2017

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 15


Syaiful Kasman Sajak Pagi Sehabis Hujan Angin membuka tirai yang menutupi teater langit Sepasang burung kecil bercumbu di balik dedaunan yang masih basah Mereka berkicau, nyanyian pagi Kuncup-kuncup bunga melati merekah setelah hujan pagi itu Menebarkan aroma wangi untuk sang pagi Di tanah yang basah serdadu semut berbaris rapi, menyambut pagi Suara dan wangi suasana pagi menembus khayalku tentangmu Teringat wajahmu yang teduh laksana telaga Matamu bening, sebening air di telaga Dua garis bibirmu merekah indah bagai bunga terindah di tepian telaga Hidungmu kokoh bak gunung, penyeimbang antara mata dan bibirmu Tawamu Nona, bagai gemericik air di sungai yang jernih Senyummu Nona, ahhhh, tak mampu terlukis oleh rangkaian kata dari ribuan pujangga Aku mengingatmu saat matahari purba menindih senja di kaki langit Aku tetap mengingatmu hingga rembulan redup diam-diam meninggalkan malam yang liar Aku mengingatmu seiring ribuan angin yang membawa barisan riak ke tepian telaga Aku masih mengingatmu saat burung pertama berkicau menyadari pagi Kini, sang waktu tak kuasa menghentikan fajar mengecup pagi Dan garis wajahmu semakin jelas menghias pagi Riang suaramu terngiang di lingkar mimpi, membawa khayalku akanmu Kau datang dengan senyum termanis di bibir indahmu Tangan lembutmu membawa segelas kopi untukku Pagi ini bulir embun tampak berkilau seperti berlian Pagi ini kupu-kupu menari lebih anggun di atas mekar bunga Pagi ini di suatu tempat di pinggir hutan, kopi ini terasa lebih nikmat dari biasa! Pagi ini ratusan jarak terpintas oleh khayal, dan kutulis sajak saat aku mengingatmu Nona! Sebuah Desa Di Pinggir Hutan, 2014

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 16


Syaiful Kasman Pujangga Roda Dua dan Hutan Aku adalah pujangga roda dua Aku mengolah dan, memanipulasi kata di atas laju sepeda motorku Bait-bait dalam sajakku adalah semesta Aku berpuisi di antara desir angin dan deru mesin Di antara gemeratak gesekan gigi tarik Apa kabar kasih seperjalanan, BA 5847 BW, letihkah engkau? Raunganmu membawa jasadku ke pelosok negri Maaf, aku sampai lupa membayar pajakmu tepat pada waktunya Kasih, sudah banyak masyarakat dan hutan yang kita lalui Kekasih,tahukah kau, dahulu ketika hutan dan masyarakat itu satu, maka menjelmakeharmonisan. Beberapa tahun belakang hutan dan masyarakat tidak lagi satu, maka menjelma kerusakan. Kasih, skema PHBM mencoba untuk mengembalikan keadaan dimana masyarakat dengan hutannya kembali satu,hingga menjelma keharmonisan Untuk itulah pujangga roda dua berpuisi Di antara desir angin dan deru mesin Di perjalanan, masih kami temui masyarakat yang satu dengan hutan, Mitos dan cerita lainnya menjelmakan kesatuan itu, sisa-sisa keharmonisan Jangan kau berkata dusta terhadap cerita ku, Nona! Setiap debu dan pasir yang melekat pada sepeda motorku akan berkata lantang Menyatakan ―Iya‖ pada setiap cerita yang kuceritakan Kami berjalan melintasi panas, menikmati basah hujan Dibawah malam kami tuliskan semua siang dan semua hujan Akhir bulan, kuceritakan pada kawan tentang siang dalam panas dan hujan Padang, 1 Oktober 2016 _________________________________ *) Syaiful Kasman. Menyelesaikan pendidikan di Universitas Andalas. Bekerja dan menetap di Padang.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 17


Ahmad Zainuri. Lahir di Wonogiri,21 Oktober 2000. Alamat sekarang di Semagar,Girimarto,Wonogiri,Jawa Tengah. Hoby baca novel, sepak bola, bulu tangkis, dan main game.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 18


Ahmad Zainuri Bagaikan Hujan Bagaikan hujan Dirimu begitu menyejukan Bagaikan hujan Hatimu begitu meneduhkan Cintamu kau alirkan lewat tangisan awan Jatuh dipikiran dan bermuara di hati yg dalam Hadirmu begitu membuat perubahan Hati yang dulu kering kerontang Berubah jadi hati yang enak untuk dipandang Bagai sehektar tanah Yang penuh bunga lagi bermekaran

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 19


Ahmad Zainuri Kisah dan Kenangan Jauh sudah ku berjalan Melahkah jauh dari dirimu Yang dulu pernah dihatiku Hati yang sekarang kau lukai Dengan janji-janji manismu Faktanya palsu untuk ku Yang tinggalkan hal ganjil Pada diriku ketika kau pergi Hal itu tentang rasa cintaku Yang tak ingin pergi darimu Mungkin?ini yang namanya Cinta sejati yang tulus dari hati Walau tersakiti dan tak harus memiliki Yang kini kita hanyalah Sebatis kain tipis antara kisah dan kenangan

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 20


Ahmad Zainuri Lelaki Malam Kau mulai langkahmu Dengan penuh keyakinan Kala suasana malam mulai datang Yang ada dipikiran Hanyalah sebuah kesenangan Kau mulai malamu dengan asap tebal Dengan sebotol minuman kehangatan Sadarkah engkau tuan-tuan Hidupmu bukan hanya sekarang Kala kesenangan perlu batasan Disaat suasana jalanan malam Semakin membuat kegairahan meningkat Lelaki malam janganlah engkau Kehilangan jalan kebenaran Tetap jaga pegangan Agar tetap jadi Lelaki penuh dengan kewibawaan

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 21


Ahmad Zainuri Kemanakah Dirimu Saat identitas bangsa di pertanyakan Di masa baktimu untk negara Dimanakah moralmu pemudaku? Kemanakah akhlakmu pemudaku? Akhlak suci pendiri bangsa ini Kau jauh berbeda dengan pahlawanmu Kau telah melenceng dari ajaranmu Tinggal kesenangan saja yang kau cari Masa mudamu habis untuk sebuah hiburan Kesenangan yang membuat lali dari masa depan Seakan kau telah merdeka sendiri Tanpa kau fikir nasib bangsa ini Wahai pemuda Indoesia Sadarkan dirimu,untuk bangsamu Untuk negaramu,Untuk harga dirimu Jangan kau permalukan dihadapan mereka Tunjukan!!!kalau kita itu beda Kita sebuah kumpulan Kumpulan pemuda Pancasila

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 22


Ahmad Zainuri Senyum dan Tawamu Bagai hamparan bunga yang bermekaran Mekar disore hari tepat dimusim semi Senyummu penuh dengan keikhlasan Keikhlasan hati bagai pasang mata yang memandang Bagai sunset diujung barat Tawamu begitu memikat Membuat mata tak berhenti menatap Bagaikan karet ikat Senyum tawamu begitu mengikat Senyum tawamu benar mempesona Dan tak ingin berpaling darinya Apalagi pergi meninggalkannya Sejuta puisi pun tak bisa Berhenti menceritakan keindahannya _________________________________ *) Ahmad Zainuri. Lahir di Wonogiri, 21 Oktober 2000. Suka membaca buku, main bola, dan bulutangkis. Bercita-cita menjadi seorang polisi.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 23


Imam Budiman, dilahirkan di Loa Bakung, Samarinda, Kalimantan Timur. Kini ia bergiat di Komunitas Kajian Sastra Rusabesi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 24


Imam Budiman Matakopi Tuan Penyair ; upaya mencintai kopi dan kretek

kutulis matakopi-maknakopi di kedalaman palung gelas paling pekat dan duduk larik kita saling dekat. kopimu yang penuh cinta berulang-ulang diseduh sendok kata. kopiku fana; tandas sebelum bermakna. begitulah, kopi kita alpa bergula, kepala kita penuh ide gila. : sudah tunaikah syarat kita menjadi penyair yang mesra menyetubuhi kata? sebatang kretek –yang semula tak ingin ikut campur urusan pengarang puisi, buru-buru menyanggah, “tanpa aku, segelas kopimu serupa tanpa libido. mencintai kopi sama saja menyerahkan separuh kepurnaan bibir embun menghitam untuk berbatang-batang kretek.� Ciputat, 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 25


Imam Budiman Perihal Fasal Kopi Kopi, 1 semua orang tahu, secangkir kopi tidaklah pandai bicara terlebih hingga duduk bersama memilin-sulam cerita sebalik aroma, ia menjadi tokoh yang tak hitung pusara pagi ini kuseduh lagi dan namamu memanggil-manggil di dalamnya Kopi, 2 hubungan apa yang terjadi antara kau dan warna kopi? tengah resah sejumlah kata dan titik keinginan debu kota tentang hidup yang senantiasa diperbincangkan; ladang-warung kaukah yang mencemari udara dengan derai suasana? Kopi, 3 tak seperti cuaca di dalam kopi kita yang hilang di balik rerimbun toska seperti hujan yang berdebar antara mereka potongan kuku jarimu tersisa di dedak paling usia Ciputat, 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 26


Imam Budiman Kopi Aceh Tanpa Gula pahit sudutnya seperti kiamatmu menepis kepala-kepala hantu akhir tubuh usai subuh pagi tak menjadi datang tak jua jatuh sepandang sebilah kretek riuh dalam kertap ada sunyi manusia yang senantiasa bersitatap Ciputat, 2016 _________________________________ *) Imam Budiman. Lahir di Loa Bakung, Samarinda, Kalimantan Timur. Kini bergiat di Komunitas Kajian Sastra Rusabesi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 27


Nur Ahmad Fauzi FM (nama pena dari Ahmad Fauzi), lahir di Banjarmasin pada 28 Juni 1999. Bersekolah di SMA Negeri 1 Banjarmasin.Penggemar lagu-lagu Man with a Mission dan Fear, and Loathing in Las Vegas. Dapat dihubungi via facebook: Nur Ahmadfauzifm.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 28


Ahmad Fauzi Dari Celah Gerimis tangismu mengerang di kedalaman kabut, saat gerimis menitikkan nyeri badai. dan ketika pohon-pohon tumbang itu mendesaukan tembang pedih, daun-daun turut terserak ke dasar kabut; larut di arus airmatamu sambil menebak-nebak petir mana gerangan yang tadi menyambar pohon-pohon hingga roboh menimpa doa. barangkali perlu kau dengar bisik daun-daun itu, yang kini tengah menafsir bahasa airmatamu yang menyimpan sejarah luka langit. barangkali perlu kau curigai langit bergemuruh itu, sambil menebaknebak petir mana gerangan yang kini tengah mengintaimu dari celah gerimis. Banjarmasin, 4 Juni 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 29


Ahmad Fauzi Banjarmasin kita tak lagi peduli perihal dahagakukah yang menitikkan peluh pada gurat tubuhmu atau payau airmatamukah yang menjelma darah dalam jantungku kala jukung yang kita kayuh karam di sungai yang keseribu Banjarmasin, 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 30


Ahmad Fauzi Risalah Kemarau ―siapa yang menanam api?‖ katamu, sambil melihat anak-anak matahari tumbuh di pekarangan. tampak jua taman yang asri itu kini kerontang, dan tanah yang subur itu kian mendebu. wangi kenanga yang biasanya tercium ketika pagi pun tergantikan dengan bau hangus (angin kemarau yang menghembuskannya ke dalam kamarmu). jendela yang kau sibak tak lagi menyuguhkan panorama; yang terlihat hanya tangan-tangan tanaman kering yang terengah meraba-raba tanah mencari air sembari merayapi dahaganya yang begitu berliku-liku (namun juga buntu) –selembar daun yang mereka gugurkan pun terlanjur mengabu sebelum menyentuh kening tanah. ―siapa yang menanam api!?‖ katamu lagi (kali ini suaramu meninggi), sambil menggali-gali peluh atau airmata yang barangkali masih tersisa di gurun hati. Banjarmasin, 7 April 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 31


Ahmad Fauzi Risalah Ikan dan akhirnya kita luput lagi dari mata kail; berpulang pada gelisah ombak sambil menjauhi isyarat tuba. di sirip kita kehidupan masih berdenyut. di atas pasir ganggang cinta masih lestari. namun mengapa kita begitu senang cari maut ke permukaan, sedang ketentraman telah tertanam di rindang karang? Banjarmasin, 15 April 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 32


Ahmad Fauzi Sketsa Saputangan

Ah air itu merekah di r e d u p matamu, d a n saputangan p u n koyak dibuatnya. Dulu kau pernah berkata bahwa duka ialah sahabat paling setia di sepanjang jalan. Aku tak setuju, karena Tuhan juga menciptakan kebahagiaan Kini kau jahit saputangan itu sambil menangisi duka yang jatuh cinta padamu. Namun kau lupa bahwa Tuhan mampu menepisnya. Dan jarum itu pun menusuk jemari hatimu, dan koyak saputanganmu masih menganga, dan tak kuasa menghapus merah darahmu dari pedih perihmu.

Banjarmasin, 12-13 April 2015

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 33


Ahmad Fauzi Risalah Sungai I sungai-sungai telah kulipat dan kusimpan ke dalam saku untuk sebuah perjalanan pulang ―maka tak usah kau tanya darimana asal suara ricik air yang pecah di sela bebatu. maka tak usah kau tanya mengapa dalam mimpiku ada ikan-ikan yang berenang membaca lumut yang merimbun dalam mimpimu.‖

II suatu saat jika kita tiba di rumah, akan kugelar sungai-sungai di pekarangan agar kita dapat berperahu menyusuri arus dangkal yang pernah kita renangi semasa kanak-kanak, juga menyusuri riak-riak yang entah sampai kapan berhenti berkecipak . . . Banjarmasin, 15 April 2016 _________________________________ *) Ahmad Fauzi. Lahir di Banjarmasin, 28 Juni 1999. Bersekolah di SMA Negeri 1 Banjarmasin.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 34


AHMAD RADHITYA ALAM, lahir di Blitar, pada tanggal 2 Maret 2001.Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron.Penulis bergiat di Teater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di Majalah MPA, Buletin Jejak, Radar Surabaya, Flores Sastra, RiauRealita.com, Radar Mojokerto, Harian Amanah, Read Zone, dan Malang Post.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 35


Ahmad Radhitya Alam LIBURAN TIBA Liburan telah tiba Wajah berseri-seri Tanda hati nan gembira Seakan hari milik sendiri Langkah-langkah kaki berdegap pelan Membayang sebuah asa pengharapan Tentang hari-hari bersamanya Indah bak intan permata Kunikmati hari yang indah Hangat sapa keluarga Walau gedung ini tak megah Tapi tetap tersirat canda dan tawa Keinginam hati telah tercapai Terdiam santun merasa lelah Hari-hari nan indah telah menanti Belajar bersama kawan sekolah Blitar, 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 36


Ahmad Radhitya Alam BEBAS Aku sekarang bebas Merdeka dari segala Terbebas dari yang menjerat Juga kau Sekarang aku bukan milik siapa siapa Dan untuk apa apa Aku merdeka Tak terikat Tak terjerat Blitar, 31 Januari 2016

_________________________________ *) Ahmad Radhitya Alam. Lahir di Blitar, 2 Maret 2001. Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron.Penulis bergiat di Teater Bara SMANTA.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 37


VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964. Bernama lengkap: VICTORIO PRASETYO W. Bertempat tinggal di Malang. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983.Karya-karyanya pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Pikiran Rakyat, Harian Suara Merdeka,Harian Pedoman Rakyat,Harian Suara Karya, Harian Jawa Pos Radar Malang, Harian Solopos,Harian Sumut Pos,Harian Duta Masyarakat,Harian Malang Post,Harian Digital Nusantara News.co dan Harian Buanakata.Com. Buku Antologi Puisi ―Jejak Kenangan‖ terbitan Rose Book (2015)),―Tinta Langit‖ terbitan Rose Book (2015) -―2 September‖ terbitan Rose Book (2015), Jurnal SM II (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016. Kumpulan Cerpen ―Wanita-wanita, Menuju Ridho Allah‖ (2014 – 2015) Sedang membuat Buku Antologi Puisi ―Biarkanlah Langit Berbicara‖ (2016 – 2017)

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 38


Vito Prasetyo Aksara Jiwa berkacalah sejenak sesungguhnya jiwa kita telanjang kenapa harus menutupnya dengan pintu malu dan lihatlah di atas sana di bingkai langit menggantung aksara bersih jiwa itu, kadang ingin menyelimuti dirinya agar (ia) bisa memberi makna pada jasad apakah masih ada mata kita tidur dalam pembaringan mimpi saat jiwa berkelana mencari surga hingga kadang lupa kembali pada tubuh-tubuh penuh kotor jika malam ini jiwaku masih melekat aksara bersih itu kutumpahkan kedalam bejana waktu lalu kunyanyikan sajak kehidupan dan kukatakan pada semua orang aku bukan penyair juga bukan pujangga tapi sajakku membuatmu mengerti tentang makna terpendam kadang terbelenggu hitam penuh jelagah kuambil dari bingkai langit saat jiwaku menyelinap kemarin, hari ini dan esok camar angkasa tetap terbang mengepakkan sayap membelah langit memancarkan garis cinta apakah itu pertanda sebuah isyarat tentang aksara yang belum kita tulis atau karena jiwa kita telah terperangkap keranda kematian berkacalah sekali lagi cermin hanya menyombongkan diri kita tak pernah bisa menggapai langit seperti camar-camar di atas sana hidup dengan nalurinya tapi tak pernah meneteskan tubuhnya dengan percikan dosa

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 39

goreslah pada dinding putih selagi kita mampu menorehkan kata biarkanlah jiwa menulisnya – dengan aksara bathin agar kita bisa bicara dengan kasat jiwa bukan dengan kasat pikiran (2016)


Vito Prasetyo Camar Aksara tak lagi (kau) kepakkan sayap-sayapmu napasmu mungkin telah terkapar tak ada lagi goresan pena kasat jiwamu telah bertemu putih sementara kami, masih di persimpangan hitam masih saja mengais bumi dengan lentera kecil di bawah kolong langit bermatahari begitu tajam sinar cahayanya hingga mata kami menjadi kasat dan nanar --engkau bagai camar-camar angkasa membelah langit biru jalan berarak seperti mengeja makna mengembara di semua sudut waktu hingga hitam tanah merenggut jasadmu menyimpan karya-karyamu dalam jutaan aksara tertulis kekuatan penamu setajam mata langit berlari membedah pertukaran zaman kadang hanyut di aliran sungai begitu deras menembus sucinya kertas --tak pernah bening mata mengeja hembusan angin ilalang hanya memandang di satu sisi dunia di antara mata dan nalar kami tak sedikitpun berbicara dengan doa walau sesungguhnya (engkau) menunggunya di batas lintasan waktu mungkin dengan tangis, yang tak kami dengar hingga Sang Ilahi menggetarkan hati kami lewat makna isyarat aksara dan engkau‌‌ betul-betul telah pergi //WS Rendra, Chairil Anwar, Ramadhan KH, AA Navis, Ajip Rosidi, dkk berbaringlah dalam untaian makna seperti camar yang meninggalkan jejak di angkasa --Malang – 2016 Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 40


Vito Prasetyo Dealova Aksara Kenapa engkau menolak ketika aku mengatakan cinta bukankah engkau seringkali menulisnya bukan untuk melukis rasa rindumu atau menyatakan rasa cintamu bahkan seringkali engkau terjeratnya Saat engkau menulis semua cinta engkau luruhkan bagai gerimis mengalir membasahi tanah dan itu seperti tintamu mendapat makna Tembuslah kegelapan malam di balik tirai tidurmu, yang hanya sesaat sesungguhnya keraguan itu telah menyangga pikiran menyangkal semua kebodohan lewat pena Mari kita beningkan wajah betapa banyak jelagah jatuh di hamparan tanah seikat tulang tanpa kehidupan telah membungkus ketakutan manusia entah, apakah kita mampu berpaling meluruskan jalan di atas kitab bersih atau kita semakin bangga karena zaman ini tak sanggup lagi membeli moral Berulang kali kita menyebut nama Tuhan saat kita mulai jengah dengan dosa tetapi selalu saja rasa takut itu menghantui dikala aturan manusia menunjukkan jemarinya nyali itu berlindung di atas ketidakberdayaan kaum-kaum kecil bukankah mereka itu jauh lebih dekat dengan Tuhan, ataukah tulisan-tulisan kita harus terpasung zaman! Kawanku penulis! Sahabatku jurnalis! mari kita lihat tumpukan kertas diatas meja tidakkah disitu tersimpan banyak kebenaran kenapa kita harus membelenggunya bukankah jiwaku dan jiwamu terpaku disitu!?

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017

Saat judul ini kutulis ada keraguan menyelinap di antara ketulusan biduk penuh aksara harus mengarungi ombak mungkin akan karam jika kita mengayuh melawan arus tapi keyakinanku, di balik ombak itu ada kebenaran sebuah kebenaran tentang cinta lalu kita namakan dealova aksara dan berdiri tegak di antara pandangan kaum-kaum kecil ‗tuk selalu bersamanya // tak sedikit pun berpaling Malang – 2016

Halaman 41


Vito Prasetyo Deja vu Luka lama itu, kenapa harus hidup lagi apakah kita sudah kehilangan perasaan atau mungkin jeritan itu telah gagal untuk menebus luka lama dan menaburnya dengan luka baru Déjà vu deru napas tak lagi beringas seperti saat kita merobek impian bangsa kata sahabatku, bambu-bambu sekarang telah tidur nyenyak tak lagi runcing beraroma darah pucuknya pun diam termenung Ah… itu desis kawanku seorang jurnalis di era kini katanya begitu lirih ―hak kami telah dikebiri‖ kembalikan masaku, seperti pahlawan kala berjuang kini kekuatan penaku tak lagi setajam mata langit bingkai kata seakan berada di dalam jeruji Déjà vu sementara kaum proletar duduk pesimis bersama bunga seroja seperti bangkai hidup karena hidup itu: ―bagai pungguk merindukan bulan‖ Malang – 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 42


Vito Prasetyo Granida (1615) Para pendosa mulai menulis sajak suci apakah karena zaman telah berlari menggelapkan mata-mata bersih dan para pendosa itu dalam sekejap mimpi bisa membutakan mata atau mungkin karena mata kita terlalu sarat tumbuh birahi nafsu Ah, kawanku otakku tak pernah tercipta oleh sebuah idealisme siapapun bisa bicara tentang kesucian dan pikiranku pun selalu kotor tetapi tak sekotor ucapanmu masih sering aku menginjak kesucian zaman mencacinya, bahkan meludahinya sementara aku tak pernah menghitung waktu membiarkannya menjadi gersang Kawan, engkau mungkin tak pernah tahu saat bapakku tidur dipeluk ibuku mereka telah mengajarkan dosa padaku dan itu, tak pernah tertulis dalam catatan bumi karena napas-napas mereka menggulir hilang lenyap ditelan perjalanan waktu entah kapan, (dia) datang lagi melekat pada jiwaku membuat pikiran jadi tersentak merekatkannya kembali lewat tangan, serta sajak-sajak tertuang hingga itu seakan hidup kembali Saat mimpi mengitari tidur kita kecamuk pikiran melintasi ke seluruh jagat dan kita tak pernah tahu betapa banyak zaman kita lalui kita semua menjadi orang-orang suci menulisnya dalam bejana waktu hingga (mimpi itu) membawaku hidup empatratus tahun silam membawakan peran: Granida (1615) (2016)

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 43


Vito Prasetyo Langit Sudah Bisu Tidakkah kau dengarkan lengkingan suara terngiang di ubun-ubunku rentang waktu mengisahkan isak tangisku mendengar doamu merindingkan jasadku Bayanganmu seakan tak lepas tak pupus disiram hujan tak lekang dimakan panas ketika bumi berguncang engkau kumandangkan sajak kematian dan ribuan orang menengadahkan kepala seakan kami semua turut bicara membuka aib hati kami penuh dengan kekotoran dan kekosongan jiwa Terlalu sombong ketika diriku memutar waktu tetapi di pelupuk mataku masih membekas dan senyummu teduh berjuta makna saat bait cintamu mengalun merdu menyapu keraguan dan kehampaan hatiku Walau cobaan dan gunjingan menjadi kendaraan hidupmu engkau tegar memantikkan napas kehidupan karena engkau adalah engkau makhluk Tuhan yang tidak luput salah dan semua sudah dihitung Sang Ilahi Hamparan langit biru itu membuka tabir engkau duduk disana menunggu pergulatan dunia, yang belum terjawab dan dalam masa itu tak seorang pun mampu menolak ajalnya ketika kebersamaan masih dirindukan jutaan manusia disela canda yang hanya hiasan dunia Langit biru, begitu orang memanggilmu kau bukan nuansa figur bumi sosokmu tanpa kultus membiarkan diri orang menggapaimu tanpa harus memilikimu bahkan lebih dari itu semua sorot mata ingin memandangmu Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 ketika engkau bentangkan sayap karena engkau batas jagat Halaman 44 Aku bukan bagian darimu tetapi selalu membuatku terkesima saat nanti tiba, mungkin aku duduk di tubuhmu walaupun tempat kita berbeda Kawanku, seandainya engkau masih disini laraku tersaput mega di langit yang turun bersama tangisan langit dan kukabarkan pada orang lain engkau pernah memberikan sepotong munajat cinta padaku di antara lentik jiwa-jiwa begitu letih Hari demi hari lewat tanpa terhitung ruang waktu menyekat semua perbedaan alam pun pada kedudukannya masing-masing pasti Tuhan telah menghitungnya Kawanku, di langit biru itu engkau tersenyum


engkau sahabatku terbaik tatkala tangisku jatuh pada ibu-bapakku atau kepada yang lain tapi itu semua bagian dari perjalanan kita mungkin sebagai bekalku nanti Jika esok tiba, ingin kuisi hari-hariku dengan memutar semua kenangan bersamamu karena hanya itu yang bisa kudapatkan darimu juga membiarkan orang lain memilikimu walaupun dengan mimpi yang berbeda Sejengkal dan sepotong doaku tak mampu membeli kehendak ilahi kedangkalan nalarku menghalangi itu mungkin anak-anakmu yang pantas mendapatkannya Apa yang tersisa hanya sebuah catatan panjang tanah hanya tempat menyimpan jasad bunga-bunga yang ditaburi hanyalah isyarat pusara pada saatnya akan mengering tak pernah akan tumbuh lagi punah dimakan tembok waktu hanya menyisakan misteri tidur panjang Langit pun bisu tanpa suara meninggalkan jejak sesat saat bait-bait ini kuakhiri terus kutulis sejuta sajak untukmu agar bisa melapangkan jalanku kelak dan harapanku menyatukan diriku dan dirimu nanti hingga aku betul-betul tak pernah lagi menulis sajak kematian selain menulis sajak cinta tentang wajah langit (2016)

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 45


Vito Prasetyo Sajak Jiwa Ibu Aku heran, kenapa aku harus terlahir jika akhirnya engkau harus pergi dariku tak pernah lagi berada di sisiku Oh, Ibu! Pertanyaanku itu terlalu bodoh sementara engkau menyulam rahimmu dengan buah ketulusan cinta hingga akhirnya melekat pada jiwaku Ibu, engkau padamkan sengsaramu membungkus duka lewat senyum tetap saja tak berkurang bathinmu cintamu tak pernah ingkar walaupun kadang kukotori dengan nista kutumpukkan kubangan hidup bersama air-air dosa tetapi engkau mengurasnya hingga kubangan itu terasa bersih lewat doa-doamu, siang dan malam Kini, semua makna ingin kurekatkan membangunkan kata-kata karena telah lama tertidur mungkin hanya sejumput kudapatkan kususun lewat bait-bait kata bercerita tentang dirimu, ibu – yang belum sempat kutulis saat napas-napasmu masih menderu dan itu menjadi bagian dari hidupku Saat kueja tulisan – ibu kata-kata itu seakan hidup kembali sempat kutatap pembaringanmu, pusara itu sebuah isyarat menyesatkan mataku aku yakin, jiwamu tak lagi disitu Mungkin melekat pada tintaku, saat kutulis dirimu (ubun-ubunku terasa merinding) Akhirnya aku rebah jatuh dalam penat panjang (2016) Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 46


Vito Prasetyo Tanpa Makna Gemuruh badai itu berlalu tanpa langkah tapak jejaknya seakan tanpa napas semua yang melekat telah terkelupas bagai bumi kehilangan tanah Masih adakah lembayung di ufuk duduk terbenam ketika awan berarak melintasi wajahnya mengejar impian ke sisi dunia lain Malam hanya sebuah pertanda tentang hidup dan matinya roda waktu – dan disitu makhluk bersandar melepas lelah untuk memulai napas baru Kuhitung perjalanan waktu dengan kebodohan nalarku semua itu tak akan pernah kembali selain memulai untuk: // mengayuh langkah // memikul beban // merengkuh angan // membuang mimpi – dan menyusun makna yang belum tergapai Di belahan ruang hampa lain mungkin bulan dan gemintang bersama penghuni jagad akan tertawa melihat goresan tintaku Apakah masih ada hari esok, ketika hidup belum mengungkap makna!? Berjuta barel beban belum terlalui‌ Malang – 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 47


Vito Prasetyo Terpasung Berita retak dedaunan retak ingatan pada tangkai malam kawan, engkau sahabatku benar-benar dirimu dekat aku di dinding itu suaramu terpantul angin tak sanggup mengantarkannya agar kebebasanmu bisa menghirup napas kini, aku juga diam terkapar ingatanmu terpasung nalarmu esok, berita menjadi basi // (: untuk kawanku, di meja jurnalistik) Malang – 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 48


Vito Prasetyo Zaman engkau bicara tentang luka bukan bicara tentang anak-cucu kita saat kulit mereka belum tersentuh terik matahari dan saat zaman belum memberikan arti bagi mereka tetapi ‗kau hanya melihat dengan kasat matamu (yang mungkin) terbuai oleh hidupmu mungkin juga mimpimu ataukah kita harus memecah bumi ini agar tempat berpijak senantiasa bisa memilih jalan menuju zamannya Malang – 2016

_________________________________ *) Vito Prasetyo. Lahir di Makassar 24 Februari 1964. Tinggal di Malang, Jawa Timur. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 49


Nastain Achmad, Mahasiswa Program StudiPendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI BOJONEGORO. Alumni Pondok Pesantren Sunan Drajat Paciran Lamongan. Puisi-puisinya pernah dimuat diRadar Mojokerto, Radar Surabaya, Duta Masyarakat, Buletin Kanal, Buletin Jejak dan memiliki puluhan antologi bersama, salah satunya adalahTifa Nusantara 3 (Marabahan, 2016), Antologi Puisi Hari Puisi Indonesia 2016 ―Matahari Cinta Samudra Kata‖, Antologi Puisi Qurani 2016 (Parmusi) dan Antologi Ta‘aruf Penyair Muda Indonesia 2017. Facebook: Nasta‘in Achmad. IG: @nastain.achmad. Nomor kontak/WA: 085607509119.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 50


Nastain Achmad Ketika Aturan Telah Dilanggar : Abdul Ghoni Asror dan Nur Alfin Di sini kursi dan papan tulis meringkus jawaban kardus yang belum sempat dibaca Atas kajian yang lelah dan rasa gula tiba-tiba tawar Kabar mitos bintang yang kemarin kueja Menjadi kambing hitam Terpekik saat aturan telah kulanggar Bukan bermaksud menuang kopi di wajahmu Hatiku terbelenggu atas runyam di mata lembaran itu Dan tanganmu Meremah remuk jiwaku ringkuk Tanpa batas jarak temu yang suntuk Tanpa ujung aku yang rusuk Di awan gelap Mata rabun hujan merayap Semoga kau menimang pinta maaf Semoga kau masih menganggap Aku yang telah terendap noda tanpa atap Bojonegoro, 2017

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 51


Nastain Achmad Kota Tua kota tua kataku sebab jalan tempuh masihtanpa bertimbun gunung karang,koma! rumah tanpa kamar, noda! signal di ambang kematian, buta! kota tua katamu sebab musim kemarau air mata menulis mata air sumur tua menopang para hamba gabuk gubuk padi dibacakandoa sunyi kota tua kata mereka sebab budaya lebih mengenal pulas di halaman belakang bahasa lebih tepatnya hujan abu: merdu wasiat lawas nenek moyang dituangkananak susu, buntu! Kotaku kota tua! Tuban, 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 52


Nastain Achmad Empat Hari Yang Lalu :LKMM menaruh tubuh tabah tanpa asuh barangkali inilah lajur tempuh antara sunyi, sepi dan dentuman nadi, rapuh bukan peserta tapi menemui sabda yang tak kunjung tiba di pangkuan hamba\ atau sekedar melintas di jendela kaca di jalan bebatuan tanpa tuan di setiap perkataan pembicara masih tak kutemui ujung dari cerita ini sedang hari telah memasuki babak hati ke hati antara adik dan kakak antara teman dan lawan antara aku dan dia butuh waktu jeda pagi di sudut mata siang memoles peluh tanpa koma senja yang katanya merah, biasa saja! sebatas baying tera malam.. malam yang lebih pedih dari sambal teri sunyi mengkuliti masih belum tuntas cerita ini menyulam salin tanggal, tempat dan pembicaraan senyuman, diam, candaan riwayat kisah, renungan hingga perempuan-perempuan berkaki empat masih belum bisa meniadakan lembaran usang empat hari yang lalu hanya pelangi mekar sebab dilihat bukan dirasakan Tuban, 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 53


Nastain Achmad Reduplikasi Waktu Tersedak: diam Memandang bayang Di depan Bukan keindahan Namun, Jejakjanggal yang geming Hujan saat itu, lebih sabar Hujan saat ini, lebih sabar Kabut, gemuruh, suara berisik angin Sepertinya alfa Bukan aku Tapi Tuhan lebih bijaksana Ulangi masa Sebelum dan sesudahnya Tuban, 2017

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 54


Nastain Achmad Di Sudut Kacamata pernah melihat senja di kacamatamu namun masih buram runyam direnggut suara suram pernah pula menatap mata kacamatamu membias antara jarak dan gumpalan rindu bukan goresan duka kurasa sebatas percikan rinai saat menemuimu dalam tanduk sunyi tanpa hujan atau dentuman jam di dinding dan detak nadimu yang redam pernah di sudut kacamata itu menulis cerita alibi remah lalu pergi bukan aku tapi jejak yang kau tanam di beranda bunga dan warna hijau stomata bernapas sesat menghirup aroma sayu nan gelap pernah serat niat kujejalkan di sudut kacamatamu biar raib tanpa aku Tuban, 2017

_________________________________ *) Nastain Achmad.Mahasiswa Program StudiPendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI BOJONEGORO.Alumni Pondok Pesantren Sunan Drajat Paciran Lamongan.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 55


RIDUAN HAMSYAH, puisi-puisi telah dipublikasikan sejak tahun 2003 di Majalah Sabili, Harian Lampung Post, Radar Banjarmasin, Harian Media Kalimantan, Harian Satelit News, Dinamika News, Majalah Suluh, Mutiara banten, Cahaya Banten, dll. Dimuat juga dalam sejumlah buku antologi: TANAH PILIH (TSI I JAMBI 2008), 142 PENYAIR NUSANTARA ―MENUJU BULAN‖ (KSSB KALSEL 2007), HUJAN DI SURIANEUN (2007), MEMBACA KARTINI (komunitas Joebawi dan Q Pubhliser 2016), IJE JELA (TIFA NUSANTARA 3 BatolaKalimantan Selatan 2016), CIMANUK, KINI BURUNG BURUNG TELAH PERGI (Dewan Kesenian Indramayu 2016), DARI NEGERI POCI (DNP) Buku antologi puisinya yang baru saja terbit SEPASANG PUISI (PERAHU LITERA November 2016).saat ini membina sekaligus mendirikan KOMUNITAS SASTRA SILATURAHMI MASYARAKAT LAMPUNG BARAT (KOMSAS SIMALABA). Bekerja sebagai PNS di Dinkes PandeglangBanten. Sedang mempersiapkan buku puisi tunggal berbahasa SemendeSumatera Selatan KITAB TUNGGU TUBANG

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 56


Riduan Hamsyah EMBUN PAGI LERENG PESAGI Ada embun pagi itu. Membias warna Pesagi engkau melumatnya di kejauhan dengan bola mata yang setiap sudutnya tumbuh kangen juga pancuran bambu bening merantau ke celah batu. Di tepi tepi daun menarasikan tarian ajaib tetiba saja sunyi ini menjadi damai. Wahai adik, yang separuh jiwanya adalah kebun kopi, lengkapi pengelanaan ini ke cerug tebing mengirim raut pesagi ke dalam piring dan secangkir puisi beling kita menepi dari kalam orang orang yang rusuh di kota maka, kaitkan namamu di embun itu, biar berayun tarian daun mengikuti arah angin. Engkau pernah bilang padaku : kita ini lamunan yang membinasakan rasa dingin atau berdamai dengannya sejak lama. Tetapi cukupkan bait bait retak biar sesak, berserak oleh cinta dan rasa ganjenmu persenyawa-an kita dengan kabut, dengan hasrat hasrat ganjil tentang remah udara tentang hasrat pulang yang masih bertualang tentang sejarah para moyang membeku di pekon tuha tentang gelinjang tubuh membahana mencari muara atas kegelisahan semua manusia yang serupa. Embun pagi, lereng Pesagi kita akan mendaki lebih jauh ke dalam bahasa pikiran dan embun. Yang lamun! Hai, adik, di pelaminan pagi mari kita bersanding menjadi pengantin yang ditikam segala sudut pandang. Riduan Hamsyah, 02 Oktober 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 57


Riduan Hamsyah BANJARBARU Aku baru tiba kemarin bersama cemas nyangkut di baling-baling. Disambut tanah basah dan kangen yang genit, mendesah. Simpang empat malam hari: terimakasih abu, sebuah petuah tentang pentingnya manusia ini memperbaiki hubungan dengan tuhan. Dan, malam letih, kami bercakap cakap sedikit saja sebelum isyarat matanya memadamkan segala cahaya deru sungai, hanyut yang indah, dan tenggelam berulang kota ini benar benar sebuah sahaja meski aku jarang pulang. Komplek Beringin, Kalsel, 15 Desember 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 58


Riduan Hamsyah DUNIA KANTOR PAGI HARI Ia pamit. Menemui kantor tempat menyimpan banyak file agak ganjil pagi ini, sikapnya seperti orang hendak pergi jauh ke sebuah pulau yang sebenarnya akan menguasai kami dengan banyak peristiwa dan semak rencana. Sebenarnya pula aku sedang menjemputnya memeriksa kemungkinan lain tetapi ada saja sendat mestinya diurai lembut agar raut segala yang melepas tak nanar berspekulasi itu dan ini. Kita akan menjawab itu pada kemudian hari bahwa ruangan ini ditumbuhi banyak meja saling bersautan satu sama lain di sini ada jam dinding berdetak. Biji-biji kalender dan sejumlah rapat yang jadikan kita retak atau terluka di kedalaman. Kisah kisah ini sejatinya disembunyikan hingga kita menukarnya dengan hari yang lain. Komplek Bering, Banjarbaru-Kalsel, 15 Desember 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 59


Riduan Hamsyah DI PUNGGUNG PEREMPUAN Di punggungnya itu aku menitip gambar lekakiku cerita tentang sunyi dan silsilah yang sembunyi. Sebuah sesal tentunya, ketika kemudian ia Mengalirkan hujan melunturkan ingatan tentang masa silam yang lebam dan langit berkaca kaca. Sebab di sini kami belum tuntas merumuskan tentang narasi cinta. Juga isyarat cuaca. Pandeglang, 23 November 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 60


Riduan Hamsyah PEREMPUAN DAN KALIMAT GAIB Maka ia berbisik, malam yang rintik di bumbungan hingga waktu menyapu biji-biji kalender. Sungguh gaib, kalimat cintamu itu hingga aku mendayung semakin ke hulu. Pandeglang, 23 November 2016

_________________________________ *)Riduan Hamsyah.Berdomisili di Pandeglang, Banten. Puisipuisi telah dipublikasikan sejak tahun 2003 di Majalah Sabili, Harian Lampung Post, Radar Banjarmasin, Harian Media Kalimantan, Harian Satelit News, Dinamika News, Majalah Suluh, Mutiara banten, Cahaya Banten, dll.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 61


RIYON FIDWAR. Penyair. Tinggal di Padang. Karyakarya berupa puisi, esai, pernah dimuat di beberapa koran daerah, seperti: Singgalang, Rakyat Sumbar, dan lain-lain.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 62


Riyon Fidwar Kamila, Lukaku Terluka Kamila, lukaku terluka disayat mata kekasih darah yang menggumpal dalam rabuku tumpah bagai kotoran hewan. Mata kekasih semerah bara mengeram dalam dukaku. Seribu kutuk dan sumpah mungkin telah pula beranak-anak menyesak pada rongga dadaku. Kamila, seperti lilin air mataku meleleh dibakar api dendam. Tapi, keinginanku untuk mencintaimu tidak cepat kandas di tengah jalan, walau dalam dagingku rasa lebam terus menghunjam. Kamila, seperti birahi yang mengelupas dari kulitku, tumbuh pada mataku pohon berbuah pada dadamu. Semisal ini musim panen aku telah menyiangi jilatang dan rumput gajah. Kamila, jangan kaupaksa rinduku kandas pada persimpangan yang rabun, sebab dalam dadaku sakit masih menjerit. Padang, 16012017

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 63


Riyon Fidwar Kamila, dalam Mimpiku Kamila, dalam mimpiku engkau datang dengan sebuah buku di tanganmu. Lalu kauberikan kepadaku. Aku sangat heran melihat wajahmu yang pucat. Tak seperti biasa. Engkau tak ceria. Cahaya matamu tak lagi nyala pipimu cekung hingga tulang rahangmu terlihat lantang. "Kamila, engkau baik-baik saja?" Tapi engkau enggan menjawab. Engkau pergi tanpa ucapan selamat tinggal. Padang, 2017 _________________________________ *)Riyon Fidwar. Penyair. Tinggal di Padang, Sumatra Barat.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 64


RIFKI SYARANI FACHRI. Penyair kelahiran Ciamis, 29 Desember 1994. Kini sedang menempuh pendidikan di Universitas Padjadjaran, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 65


Rifki Syarani Fachry Rasta Untuk: Vildra Is Fajar Vida, sejak aku tandai selangkanganmu dengan ceri lagu sebotol anggur di telinga hanya balada bocah ingusan. Dua bara mariyuana yang terecap hidung hanya asap arang. Tak ada lagi yang rasanya lebih hilang dari lenguhanmu, pandangan memicing mengintai ranum ujung mata susumu yang meronce lagu Bob Marley1 Saat jurang pangkal paha kita saling beradu Vida, awakmu menjelma ganja dari helai purnama ahmar. Seketika itu ruhku menyusut bersama sayup reff adzan shalat yang lupa, dan hutang khafalan surah

Dzikir eranganmu mengekalkan doa-doa gontai ayat-ayat puisi kau catat di tiap baris nafasku. Bab cinta, kasih sayang dan surga dijilid menjadi kitab maha sastra rasta. 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 66

1

Robert Nesta Marley "Bob" Marley (6 Februari 1945 - 11 Mei 1981) adalah seorang penyanyi, pencipta lagu, dan musisi reggae berkebangsaan Jamaika.


Rifki Syarani Fachry Madah Samudra Waktu itu, saat kita melarung gelisah ke denyut laut yang pasang Husna. Gelombang keemasan saat purnama putih menampar kita berdua yang telanjang. Ombak menekan bahuku: kita yang berpelukanpun tenggelam. Mengelebukan tubuh yang lekap ke palung lamur, semakin dalam kita kehilangan bulan badar, semakin dalam pula kita mengeja kematian. Husna. Di Marianas2 ribuan lambung hiu

Lahat terbaik untuk cinta yang karam Untuk pelukan yang larut jadi garam. 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 67

2 Palung Marianas adalah palung yang paling dalam yang diketahui, dan lokasi terdalamnya berada di kerak Bumi. Palung ini terletak di dasar barat laut Samudra Pasifik, sebelah timur Kepualauan Mariana di 11° 21' Lintang Utara dan 142° 12' Bujur Timur, dekat juga dengan negara Jepang.


Rifki Syarani Fachry Untuk Menjadi Diriku Untuk menjadi diriku, Zihan Kau tau perlu datang diam-diam Menyusup kebalik selimut, mendekapku pelan-pelan Berusaha menghangatkan hati yang kedinginan. Atau meniru Mark Hofmann3 menghipnotis dirinya sendiri agar ia berfikir bahwa dirinya dan seseorang itu adalah dirinya sendiri. Mungkin juga mulai menulis tentang dirimu sendiri hingga berangsur-angsur kau kenaliku manakala kau menuliskan kisahmu. Bahkan mungkin tidak sesederhana itu Zihan lebih rumit lagi di Pencarian Averroes45, Borges6 menjebakmu pada sebuah labirin yang pintunya selaluku sembunyikan. Zihan, Untuk menjadi diriku Kau tak perlu terus menerus memelukku Tak usah pula mencucup cium, mencuri-curi nafasku yang irit. Apa lagi sengaja menghambakan diri membiarkanmu tersesat di selasar-selasar otakku. Membawa kunci dan mencobanya keribuan daun pintu Untuk menjadi diriku, Zihan Mulailah melupakanku. 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 68

3

Mark Hofmann lahir tahun 1954, dikenal sebagai seorang penjahat dunia yang tenar karena memalsukan puisi karya Emily Dickinson pada tahun 1997. ‗Pencarian Averroes‘, dalam judul aslinya ‗Averroes's Search’ adalah salah satu cerpen karya penulis Argentina Jorge Luis Borges. Averroes adalah nama lain Ibnu Rusyd dalam bahasa Latin, dalam bahasa Arab ‫( ابن رشد‬Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid, 1126 - Marrakesh, Maroko, 10 Desember 1198), adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia). 6 Jorge Luis Borges (1899 – 1986) adalah seorang penulis Argentina yang dianggap salah satu tokoh sastra terbesar dari abad 20. 4 5


Rifki Syarani Fachry Cucup Yang mendidihkan keningku tiap malam setelah sepotong purnama dibingkai dasar kolam adalah kala dimana kita berciuman di antar nanar lilin-lilin yang sekarat. Waktu itu Shafiyah7 bibirmu mencucupkan cinta yang kasam lalu pergi begitu saja bersama sisa api di sumbu-sumbu tutung, memasapkan nyala yang dipelintir angin. Sebelum sempat kusisipkan 64 bait puisi di ruas-ruas gigimu, dan 35 ayat jampi di langit-langit mulutmu. Shafiyah Kau harus tau retakan jejak lipstik: kenangan yang dididihkan hulu poci telah genap meringkai 30 juz kitab suci. Yang kulafalkan sampai hafal Sampai basah hingga kuyup kelesah 2017

_________________________________ *) Rifki Syarani Fachry.Penyair kelahiran Ciamis, 29 Desember 1994. Kini sedang menempuh pendidikan di Universitas Padjadjaran, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 69

7 Shafiyah binti Huyay (Bahasa Arab ‫صفية بنت حيي‬‎, Shafiya/ Shafya/ Safiyya/ Sofiya) (sekitar 610 M - 670 M) adalah salah satu istri ke-11 Muhammad yang berasal dari suku Bani Nadhir.


Moh. Ghufron Cholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I, lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Karya-karyanya tersebar di berbagai media seperti Mingguan Malaysia, New Sabah Times, Mingguan Wanita Malaysia, Mingguan WartaPerdana, Utusan Borneo, Tunas Cipta, Daily Ekspres dll juga terkumpul dalam berbagai antologi baik cetak maupun online, terbit di dalam maupun luar negeri seperti Mengasah Alief, Epitaf Arau, Akar Jejak,Jejak Sajak, Menyirat Cinta Haqiqi, Sinar Siddiq, Ketika Gaza Penyair Membantah, Unggun Kebahagiaan, Anjung Serindai, Poetrypoetry 120 Indonesian Poet, Flows into the Sink into the Gutter, Indonesian Poems Among the Continents, dll. Beberapa puisinya pernah dibacakan di Japan Foundation Jakarta (10 Agustus 2011), di UPSI Perak Malaysia (25 Februari 2012), di Rumah PENA Kuala Lumpur Malaysia(2 Maret 2012) dan di Rumah Makan Biyung Jemursari Surabaya dalam acara buka bersama Pipiet Senja (30 Juli 2012), di Jogja dalam Save Palestina (2012), di Sragen dalam Temu 127 Penyair Dari Sragen Memandang Indonesia (20 Desember 2012), di Pekalongan dalam Indonesia di Titik 13 (Maret 2013), di Sastra Reboan dalam Temu Sastra IndonesiaMalaysia (Agustus 2013), di P.O.RT AmanJaya, Mydin Mall dan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam Kongres Penyair Sedunia ke 33 (21,23, 26 Oktober 2013), di Brunei ketika menikmati indah kampoeng air (7 November 2013) di Al-Izzah Islamic Boarding School Batu Jawa Timur dalam safari menulis bersama Pipiet Senja dkk (Juli, 2014), di RRI Sumenep (5 Januari 2015), di Pondok Pesantren Putri dan Putra Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan (27&28 Juni 2015), di Bandung dalam Temu Sastra Indonesia Malaysia (2015), di Janati Park dalam Temu Mahasiswa Madura selepas shalat Idul Adha (24/09/2015), di Kampung Toga Sumedang (2015), di Teater Gunung Kunci Sumedang (26/09/2015), di Pesantren Al-Amien PRENDUAN dalam acara Bhineka Tunggal Ika (26/10/2015). Penerima Anugerah Kedua Hescom2015 (5 Desember 2015) di Malaysia, juara 2 esastera kritikan cereka Sumpahan karya Prof Irwan Abu Bakar (Malaysia, 2016), juara 2 esastera kritikan deklamasi puisi (Malaysia, 2016).Alamat Rumah Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura. HP 087850742323

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 70


Moh. Ghufron Cholid MENCARI BENTUK KEMANUSIAAN Di manakah letak kemanusiaan Saat segala membusungkan dada Suara lantang menegaskan Kebenaran adalah kami Di manakah letak kemanusiaan Saat memuliakan alqur'an Menegaskan keadilan ditegakkan Bagi penista agama Hanya pandangan sebelah mata Yang digalakkan sebagai cinderamata Kami yang bergerak Kami yang mengepalkan bijak Takkan pernah lagi teriak Jika keadilan tegak Jika keadilan tak bengkok Torjunan, 25 Januari 2017

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 71


Moh. Ghufron Cholid Mengantarmu ke Surga :Anis Surahman kuantar kau ke surga sebelum waktu purna menukar siang pada petang sebelum yakin mengambang selalu ada liku tawa dan airmata ridha dan setia, kuatkan segala kuantar kau ke surga dan perih duka tak lagi bertapa di kedalaman sukma Madura, 11 Februari 2017

_________________________________ *) Moh. Ghufron Cholid. Lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Karya-karyanya tersebar di berbagai media baik cetak maupun online.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 72


Ferry Fansuri, kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya "Roman Picisan" (2000) termuat.Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 73


Ferry Fansuri Mantra Cinta Dalam Nyanyian Tidur Kamar ini, ruangan itu ada kenangan tertinggal Nyala berisik televisi tak segaduh apa yang kau buat Tak ingatkan kau Kau selalu ucapkan mantra cinta dalam nyanyian tidurmu Tak ingatkan kau Desahmu mengiringi dinginya malam itu Tak ingatkan kau Sewaktu kumasukan lingga itu ke yoni mu Bisa kurasakan airmatamu di dalam kepalaku Dan aku nyakin kau akan mengingat semua itu Terus mengingatnya Tapi semua itu semu Bukittinggi,Februari 2017

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 74


Ferry Fansuri Ulurkan Tanganmu

Mengapa tidak abadi seketika Segala rasa cinta Kesejukan yang menyertai cerita kita Mengapa tidak abadi seketika Hati tempat berlabuh Tali yang mengikat janji-janji Jangan pernah usai kita inginkan Namun pil pahit yang harus kita telan Inilah puisi jalan kita kasih Segala prahara mendera Segenap dusta menyerta Tiba saatnya prahara membiru warnanya Namun kita harus tetap waspada Ulurkan tanganmu kasih, tetaplah ulurkan Agar kita senantiasa dapat bergandangen Berjalan bersama menuju satu tujuan Sebuah jalan terang

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 75


Ferry Fansuri Jalan di Tengah Samudera Cakrawala yang kita tuju Nyatanya masih jauh Namun percayalah kepada angin Yang senantiasa menuntun Maka jagalah perahu ini Jangan sampai pecah di tengah samudera Dan tegakkan tonggak layar Mengapa harus berkecil hati? Sedangkan rembulan dan mentari Masih tetap setia mengirimkan cahaya Meskipun harus melewati jalan yang tak mudah Di sela-sela mendung dan mega Mestinya kita selalu terjaga Menahan ombak dengan kekuatan jiwa raya Mengingat kita harus bertahan Maka jangan terhenti di tengah cerita Jika disini masih ada jalan Untuk menuju keabadian

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 76


Ferry Fansuri Yang Terindah

Yang terindah kuberikan untukmu Terlahir dalam dekapan jiwaku Yang mencari. Tertatihku coba berdiri Terhempas ku disana menantimu Mendambakan kau yang terindah Persembahan dariku tercipta dalam Alunan langkahku yang terhenti Menatap jejakku sendiri Tertinggal ku disana menantimu Mendambakan dirimu Semua yang tersisa Hanya persembahanku yang terakhir Kau yang terindah Jangan biarkan diriku Terhempas keraguan

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 77


Ferry Fansuri Cinta Cinta serupa dengan laut Selalu ia terikat pada arus Setiap kali ombaknya bertarung Seperti tutur kata dalam hatimu Sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya Angin datang dari jiwa Air berpusar dan gelombang naik Memukul hati kita yang telanjang Dan menyelimutinya dengan kegelapan Sebab keinginan begitu kuat Untuk menangkap cahaya Maka kesunyian pun pecah Dan yang tersembunyi menjelma Kau disampingku Aku disampingmu Kata-kata adalah jembatan Waktu adalah jembatan Tapi yang mempertemukan Adalah kalbu yang saling memandang

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 78


Ferry Fansuri Tak Lekang oleh Waktu Telah lama kutunggu Hadirmu disini Namun hanya ruang semu Yang nampak padaku Meski sulit haarus kudapatkan Sambutlah tangan ini terima janjiku Rasakan cinta yang tulus Lewat aliran darahmu Menyatu seiring dalam kasih Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina Sepenuhnya terimalah pengertian adanya dua beda menyatu Masilah panjang, jalan hidup merki ditempuh Semoga tak lekang oleh waktu

Surabaya, Desember 2016

_________________________________ *) Ferry Fansuri.Lahir di Surabaya. Lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 79


Denni Meilizon, lahir di Silaping, Pasaman Barat, 6 Mei 1983. Aktif sebagai Koordinator FAM Sumatra Barat. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esai, dan resensi, dimuat diberbagai koran, seperti, Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, dan juga tergabung dalam beberapa antologi bersama. Buku-bukunya yang telah terbit, antara lain: Libur Orang Laut, Sungai dalam Kepala, Rembang Dendang, Siluet Tarian Indang. Sekarang, bekerja sebagai editor di penerbit Rumah Kayu dan sebagai redaktur salah satu koran di Sumatra Barat. Tinggal di pinggiran Kota Padang.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 80


Denni Meilizon GENESIS Melalui jalan yang kelak akan disebut sebagai puisi itulah aku telah Mengajakmu dengan paksaan yang tak mungkin dijarak oleh kesedihan ruah airmata. Setidaknya kita bisa menjahiti jarak itu tanpa membuka mata agar bila pada suatu hari dalam keseluruhan kerja bersahaja menjadi manusia ini, A sampai Z, tak ada pembicaraan diselingi airmata dan darah tumpah lagi. Kelak jalan yang kemudian disebut sebagai puisi itu akan disebut lagi seperti bahagia dan gembira. Atau sesuatu kosakata baru atau bahasa atau apapun yang ke luar dari perut kebudayaan yang tidak pernah kita pahami benar sesungguhnya apa. Kita raba ia dengan kerendahatian Ilahi, misteri yang pada labirin, tabir dan zat terkecilnya menyimpul ujung jalan itu, jalan puisi kau sudah tahu kelak disebut apa. Mari sayangku. Terlalu omong kosong perbincangan ini. Waktu kian tajam mengiris tipis. Kita kembali ke pangkal jalan, di sana tubuh fana kita dijerang berabad-abad melintasi peradaban satu dan ke lainnya. Ingatlah ini selalu, jalan itu puisi. Kelak akan menjadi bahagia dan gembira. Ingatlah itu saat kau terbangun dan andai kau terjaga lebih awal daripada aku, bisiki aku dengan pengetahuan yang kau ketahui tetapi kautahu tak kuketahui senoktahpun jua itu. 2017

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 81


Denni Meilizon BENIH PERCINTAAN PALING PURBA Sebagai kekasih anggur dan piala Terkecap jua kemanisan mabuk yang panjang ini Pesta kita ialah percintaan semesta raya Kepada api membara perjalanan bintang-bintang Di rumah cahaya di tali busur tiap galaksi Kau ajak aku menampang benih dalam tarian paling purba Kita kekasih yang menyerah kepada Madu penghambaan luruh menuju kekosongan Menunduk bersujud di atas hamparan kegelapan nasib kemeriahan panen hingga terbenam sukacita perjumpaan Orang - orang terkasih menanam kebun di halaman depan rumah kita Rumah dari cahaya pancar terang bara percintaan Mereka rindukan kedatangan kita Sepasang kekasih anggur dan piala Dalam gaung suara yang merambat dinding dan dedaun bunga-bungaan tersimpan rahasia irama pengiring tarian purba kita Kau akan tahu kelak jika dalam setangkup tanah, air dan angin terpetakan dentum kosmos Merayakan kehidupan masa mendatang Merajah namamu dan namaku sejak ujung hingga ke pangkal akar Bulir dari kecambah tua yang menyaru dari garis imajiner perjalanan bintang-bintang Menyatukan cinta kita yang manis sisa anggur yang terus melekat di bibir piala Sedangkan kita ya kekasih Telah menjadi mitos dan dongeng Bagi kanak-kanak orang-orang yang kita cintai dari masa lalu Mengantar malam turun ke atas ranjang Mimpi menari di dalam surga. Padang, 2017

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 82


Denni Meilizon Kepada Pohon di Halaman Depan tak ada angin lalu pagi ini apabila keberangkatan di lepas dengan kata anyir udara dan gigil matamu menguar tanya tak ada dendang di ranting pohon itu pagi ini pernah liuk tubuhmu dulu mengisyaratkan cinta maka ketika itu sesayup sampai terdengar jua nyanyian merdu dari dedaunan dan gesekan ranting membelai bunga di taman meniti kaca jendela dari lubang udara pintu masuk itu membelai daging dinding, tirai yang kaupasang dengan doa dan senyuman paling merekah sepanjang ingatanku berputar kesiur antara engkau dan aku dengan bunyi meninggi seperti nada yang keluar dari senar biola pada grip terdekat ke leher tak sampai kata diucapkan tak sudah napas diembuskan gerimis di halaman perlahan turun pada sentuhan pertama jemariku jemarimu dipelukanku di dadamu melenyapkan semua dendang dan nyanyian atau, apapun itu yang mengikatkan engkau kepadaku gerimis telah menjadi hujan, sayangku sebelum pagi ini kau berangkatkan dengan mata gigilmu aku masih yakin kalau cinta jika boleh dikatakan demikian atau kataku dendang atau nyanyian atau bisa sesuatu apa saja yang dulu, pernah memasuki rumah ini ia tidaklah pernah pergi melewati halaman rumah kita tak ada dendang di pohon itu, katamu mata dan anyir udara, angin yang tak lalu jua menyipak kakiku seperti lecut cambuk sais bendi pergilah, katamu dengan kata yang meluncur seperti belati Aku mendengar cinta, sayangku diam-diam pohon itu telah menyimpannya sesekali ia memutar ulang untuk semua yang ada di rumah ini malangnya kau tidak pernah mau bersabar mendengarkannya. Padang, 2017

*) Denni Meilizon.Lahir di Silaping, Pasaman Barat. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, resensi, dimuat disejumlah koran. Buku puisi terbarunya, Libur Orang Laut. Tinggal dan bekerja di Padang, Sumatra Barat.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 83


Muhammad de Putra. Penyair muda Riau yang bersekolah di SMPN 6 Siak Hulu, Kampar. Puisi dan cerpennya tersiar di surat kabar daerah dan Nasional. Buku puisi terbarunya, Hikayat Anakanak Pendosa.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 84


Muhammad de Putra Memberi Makan Laut Agar ayah selalu membawa ikan-ikan sebesar tubuhku setiap hari, akan kuserahkan semua makanan yang dibuat Datok* kepada laut. Kuhidangkan sesajian ini dengan doa-doa berharap Tuhan mengutus malaikat laut menghabisi makanan ini semua. Nanti ketika malaikat laut kenyang dan laut tak lagi merasa kelaparan, setiap hari sebelum senja, pasti akan kulihat ayah membopong ikan-ikan sebesar tubuhku dengan senyuman dan keringatnya, ini semua hanyalah harapan. Bantu aku menyuapi lautan. Dengan Bejamu Laut* kali ini, Hati kita akan sadar bahwa Laut juga memiliki perut. Riau Sastra | 2017

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 85


Muhammad de Putra Rumah Petak Umpet rumah kita adalah batas-batas jangkau bagi permainan anak. bersembunyilah dalam lekak-lekuk rumah, menerima tubuh yang tak tampak. Rumah Sastra | 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 86


Muhammad de Putra Basah yang Tak Kunjung di Jemur bukankah engkau adalah jemuran yang menerima segala kekotoran pada bajuku. jemurlah rasa semangatmu untuk bernafsu bermain air. segala permainan yang membuatmu basah. selalu teriklah matahari yang terang dalam tali-temali jemuran. jangan biarkan gerhana membuat semangatmu bermain gagal. atau silaunya membuat bajumu lembab. maka, jemurlah air mata yang tak kunjung kering. Jemuran Sastra | 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 87


Muhammad de Putra Adalah Api Kepada: PenyairApi Api adalah tubuhmu yang takkan mungkin bisa diketahui oleh sesiapa yang tak memiliki mata merah bara. Aku membasuh telaga api dalam tubuhmu. yang membunuh rasa sepiku menjadi api huuuh! Kebakaran Sastra | 2016

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 88


Muhammad de Putra Celana Kematian : JokoPinurbo takkah kau sedih bila melihat aku mati dalam keadaan telanjang, hanya berbalut oleh malu dan dosa yang terlampau sulit untuk kujahit. sudah malam ketiga aku tak kunjung jua diundang untuk ke akhirat, tak ada satupun malaikat yang menyuruh aku masuk ke dunia: surga atauneraka. lalu kau datang membawakan aku suhuf-suhuf diri untuk menutup kemaluanku yang sangat memalukan: celana. mengenakan celana buatanMu tiba-tiba aku langsung naik ke surga Kamar Sastra | 2016

*) Muhammad de Putra. Penyair muda Riau yang bersekolah di SMPN 6 Siak Hulu, Kampar. Puisi dan cerpennya tersiar di surat kabar daerah dan Nasional. Buku puisi terbarunya, Hikayat Anakanak Pendosa.

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 89


MAKLUMAT KURANG PENTING Majalah Puisi direncanakan terbit setiap bulan pada tanggal 20. Majalah ini lahir ke hadapan pembaca, guna merangsang tumbuh berkembangnya dunia literasi di Indonesia. Untuk yang ingin berkontribusi, sila kirim puisi ke alamat surel: titikrinai@yahoo.com Setiap naskah yang masuk, akan mendapatkan ucapan terima kasih.

(Redaksi Majalah Puisi)

Majalah Puisi, Edisi Februari, 2017 Halaman 90


Majalah Puisi (Februari, 2017)  

Majalah Puisi, Februari 2017

Majalah Puisi (Februari, 2017)  

Majalah Puisi, Februari 2017

Advertisement