“Dari Redaksi Setiap organisasi memiliki struktur birokrasi masing-masing. Struktur birokrasi inilah yang menunjukkan hierarki jabatan serta alur bagaimana suatu organisasi menyelesaikan pekerjaannya. Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro telah melakukan pemilihan Dekan dan Wakil Dekan periode 2019-2024. Pada periode ini, struktur birokrasi dekan mengalami perubahan. Berawal dari terdapat empat Wakil Dekan, kini hanya terdapat dua Wakil Dekan dalam strukturnya. Pada laporan utama satu, kami fokus membahas rancangan kerja serta perubahan yang hendak dibawa oleh Dekan FEB Undip periode 2019-2024. Dalam pembahasan ini, kami tidak hanya menyajikan rancangan kerja saja, melainkan juga membahas mengenai harapan dan target dekan terhadap FEB dalam periode ini.
Setelah itu, pada laporan utama kedua kami membahas mengenai perubahan susunan birokrasi Dekan FEB Undip Periode 2019-2024. Pembahasan terkait topik tersebut mencakup alasan di baliknya hingga bagaimana penggantian peran bagian struktur yang telah dihilangkan. Selain itu, pada Buletin Edents Volume 3 Edisi September 2019 ini kami juga menyajikan berbagai rubrik pendamping yaitu Geliat Usaha, Tea Time, Polling, Resensi Film, Kolom Opini, Kolom Sastra, dan Teka-Teki Silang. Akhir kata, kami dari redaksi memohon maaf apabila ada kesalahan dan kekeliruan dalam penulisan. Kritik dan saran selalu kami harapkan dari para pembaca.
BULETIN ERLANGGA 17 DITERBITKAN OLEH : Lembaga Pers Mahasiswa Edents
Pemimpin Umum: Dirga Ardian Nugroho Pemimpin Redaksi:
Julian Karenina Berlianti
Redaktur Pelaksana Buletin: Amadea Arum Diani
Pemimpin Artistik: Rafi' Qurnia Nawandaputra Layouter dan Ilustrator: Dypa Andini
Reporter: Cinka, Fatimah, Bayu, Suci, Sigit, Luthfia, Marsha, Rizqy Dwi, Olivia, Nadia, Cahyani Wulan,
Selamat membaca!
Erlangga 17 | 3Volume 1 Edisi April 2017 Volume Edisi September 2019
dan Yunn
s
“Daftar Isi 1
Tea Time with DONA ELSAFIRA ANASTASYA
3
Suharnomo, Dekan Periode 2019-2024 dan Perubahan yang Akan Dibawa
5
Polling : Perubahan Birokrasi FEB Undip
10
Review Film "TWIVORTIARE: Memperbaiki Hubungan yang Telah Berakhir"
12
Teka-Teki Silang
14
13
Kolom Sastra : Bumiku Hari Ini
Opini : Pemuda Harapan Bangsa
16
Berbisnis Sesuai Passion Saat Kuliah, Kenapa Tidak? Erlangga 17 17 | Volume 11 Edisi Edisi April April 2017 2017 Erlangga Volume |3Volume Edisi September 2019
Tea Time with DONAELSAFIRAANASTASYA Oleh : Cinka Yuniar
Dona merupakan mahasiswa yang aktif mengikuti beberapa organisasi dan perlombaan selama masa perkuliahannya. Sebelumnya, ia pernah masuk Top 10 Business Case Competition dan lolos dalam sebuah konferensi. Selain itu, Dona sempat bergabung dalam beberapa organisasi seperti BEM FEB, Organisasi Daerah Pati dan yang masih digelutinya hingga sekarang yakni EECC FEB sebagai bendahara. Bagaimana cerita awal menemukan lomba ini dan tertarik untuk mengikutinya?
“Kalau lomba aku dari dulu memang selalu mencari. Dapat info tentang lomba ini dari temen sebenarnya. Lalu aku cari ini benar-benar ada atau tidak, eh ternyata bagus dan event-nya cukup diakui di dunia internasional. Memang info lomba harus aktif mencari sih.” Apakah kamu mengikuti perlombaan ini sendiri?
“Sebenarnya tim tapi berhubung temanku ada sedikit masalah, dia tidak bisa berangkat jadi aku berangkat sendiri. Awalnya aku se-tim berdua. Tapi dia menyerah di pertengahan jalan kita melakukan penelitian. Kita sudah sampai pengembangan ide, beli bahanbahan, tapi belum sampai ke penelitian dia menyampaikan kalau tidak bisa berangkat.” Apakah boleh diceritakan, awal persiapan perlombaan hingga bisa
1
dok. Pribadi
Dona Elsafira Anastasya atau biasa disapa Dona adalah mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro jurusan Akuntansi 2017. Pada bulan Juli lalu, Dona berhasil meraih Gold Award Kategori Environment Scientists pada International Young Scientists Innovation Exhibition (IYSIE) yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia.
mendapatkan award? “Awalnya aku hubungi lembaga di Malaysia dan dialihkan ke lembaga di Indonesia. Aku isi link pendaftaran, submit ide, lolos dan langsung disuruh submit abstrak. Ternyata dinyatakan lolos dan aku dikasih LoA. LoA itu untuk mengirim deksripsi produk, future plan produk dan ada prototype atau tidak. Setelah itu kita harus persiapan, bayar registrasi, mengisi paspor, termasuk membuat poster dan prototype. Untuk produknya, aku buat semacam deodoran untuk kulkas atau parfum anti bakteri. Biasanya kalau kita buka kulkas kan baunya kurang enak, dari situ muncul ide membuat parfum untuk kulkas dari bahan-bahan alami, tanpa bahan kimia. Aku buat produknya sendirian tapi untuk cari bahannya aku masih sempat dibantu teman se-timku. Untuk awal pembuatan produk aku meminjam lab Undip. Sempat jadi bahan tertawaan juga karena aku anak ekonomi dan menurut mereka penelitian seperti ini bisa dilakukan di rumah. Ketika mengerjakan, aku juga sambil konsultasi temanku di jurusan kimia, tentang metodenya, uji coba mikroba, karena kan ini lebih ke basic kimia dan teknik kimia. Setelah produknya jadi, penelitan aku lanjutkan di kos karena ya aku baru tahu memang ternyata nggak perlu pakai lab. Waktu perlombaan, aku kan
Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2019
ikut exhibition jadi jurinya datang ke stand dan menanyai silih berganti. Di sana aku tidak hanya menjelaskan tentang manfaat dan penelitiannya tapi juga menjelaskan tentang peluang pasar dan HPP karena ada salah satu juri dari Indonesia yang sadar kalau aku dari ekonomi, setelah itu aku dicecer pertanyaan mengenai produknya lebih ke sisi kewirausahaan.” Apa manfaat yang diperoleh dengan mengikuti lomba ini?
“Pertama kali dalam hidup, aku pergi jauh dari orang tua sendirian tanpa dibekali pengalaman apapun. Benar-benar modal nekat. Aku belajar cara berkomunikasi, menghadapi budaya yang berbeda, manajemen waktu yang harus cepat dan berhati-hati. Selain itu, dapat teman dari negara lain yang baik dan ramah. Mereka nolong aku ketika aku kesusahan set up poster sendirian. Aku jadi bisa menantang dan memaksa diri untuk melampaui keterbatasan, biaya, kemampuan. Aku harus belajar Bahasa Inggris, belajar penelitian yang sebenarnya bukan bidangku tapi aku mampu menguasai itu dalam waktu singkat. Selain itu untuk cari sponsorship, nah itu latihan kesabaran. Yang membuat aku berkesan tuh pengalaman mencari dana. Aku berusaha nemuin orang sendirian. Alhamdulillahnya aku bisa di back-up sponsor. Aku tidak bisa menemukan pengalaman ini kalau aku tidak menantang diriku.” Apakah ada tantangan yang membuat kamu merasa sangat kesulitan ketika perlombaan?
“So far tidak ada. Secara komunikasi juga bisa sedikit-sedikit. Malah baik-baik juga mereka. Kebetulan aku sekamar dengan sesama anak Undip tapi beda fakultas dan suasana di sana masih seperti di Indonesia sih. Mungkin kemarin susahnya cari provider di sana. Aku tidak pernah ke luar negeri, baru tahu ternyata harus daftar data room-nya”. Jika ada, mungkin boleh diceritakan pengalaman unik yang terjadi ketika berada di Malaysia?
“Pengalaman bukan cuma lucu ya, konyol juga. Pertama aku datang ke Malaysia aku nggak tahu kalau bagasi itu dapat charge. Aku langsung drop-in aja, kan aku nggak beli bagasi, jadi aku kena
charge Rp400.000 untuk 7 kg. Padahal sebenernya bisa aku bawa ke kabin, nah tapi aku tidak tahu. Bukan cuma itu, kan sebenernya bisa dijemput, ternyata batas penjemputannya sampai jam 12 malam. Akhirnya aku naik taksi Rp400.000. Kalau kejadian yang buat aku senang itu ada temanku dari Thailand, waktu malam pertukaran budaya aku minta foto sama dia dan waktu mau pulang dia kasih aku kenang-kenangan lagi. Aku juga dapat teman dari Vietnam, Filipina, Guam juga. Ada orang Thailand, fanboy gitu. Dia nari lagunya Blackpink, Twice dan narinya lentur banget. Oh ya, ternyata lagu Gemu Fa Mi Re itu terkenal banget di Malaysia sampai orang Malaysia benar-benar bisa nyanyi lagu itu.” Bagaimana cara membagi waktu antara kuliah, lomba dan kegiatan organisasi?
“Sebenarnya selain itu, aku juga ada sampingan mengajar part-time dan jualan. Aku orangnya memang tidak bisa diam. Aku taruh banyak note di kamar yang isinya aku harus ngapain aja. Ya ngalir aja, diutamain dulu apa yang penting, punya janji sama siapa dulu, ada agenda apa dulu. Kalau saat ini Minggu, kamu harus sudah isi jadwal untuk hari Senin-Kamis. Memang rasanya capek tapi masa muda kenapa harus dihabiskan dengan banyak tidur. Manfaatkan waktu semaksimal mungkin daripada cuma diisi dengan main-main aja.” Apa pesan-pesan supaya anak-anak FEB bisa termotivasi untuk mengejar prestasi?
“Aku sendiri motivasiku cuma satu, ingin jadi berguna untuk orang lain dan ingin sebisa mungkin mengimplementasikan apa yang kita pikirkan. Kalau kita punya ide, digerakin aja. Kalau susah, minta tolong teman semaksimal mungkin. Kita harus berusaha baik sama teman. Lalu walaupun basic kita ekonomi, yang dalam hal penelitian memang sedikit ketinggalan dari fakultas lain, tapi kamu juga bisa mengejar itu. Keluar dari zona nyamanmu, jangan hanya puas di bidang ekonomi saja tapi kamu harus punya wawasan global tentang politik, teknologi, sains dan lainnya. Harus memaksa menantang diri itu penting.” (jl)
Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2019
2
LIPUTAN UTAMA
Suharnomo, Dekan Periode 2019-2024 dan Perubahan yang Akan Dibawa
dok. Web Undip
Oleh : Fatimah dan Bayu
FEB Undip dan Perkembangannya
Sejarah
Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Diponegoro Semarang telah berdiri pada tanggal 14 Maret 1960. Terhitung mulai dari tanggal 21 Juni 2011, fakultas ini berganti nama menjadi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip). Program studi yang ada di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip ini antara lain Akuntansi, Manajemen, Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP), dan Ekonomi Islam. Jenjang pendidikan yang ada di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip antara lain Diploma, Sarjana, Magister dan Doktor. Program Magister yang ada di FEB Undip ini terdiri dari Magister Manajemen, Magister Akuntansi, dan Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP). FEB Undip terletak di Jalan H. Prof. Soedarto, SH., Tembalang, Semarang, dan memiliki berbagai fasilitas fakultas seperti Laboratorium Kewirausahaan, galeri investasi Bursa Efek Indonesia, BI Corner, perpustakaan, lapangan olah raga, Unit Pengembangan Komputer
3
(UPK) dan fasilitas lainnya yang menunjang kegiatan mahasiswa di sana. Dekan Dua Periode Beserta Visi dan Misi yang Diusungnya
Tahun 2019 ini, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro telah melakukan pemilihan dekan untuk periode tahun 2019–2024. Terpilihnya Suharnomo dalam pemilihan Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis periode 2019– 2024 menjadikan ia sebagai dekan FEB untuk kedua kalinya setelah menjadi dekan pada periode 2015–2019. Motivasi Suharnomo mengajukan diri untuk menjadi dekan untuk kedua kalinya adalah karena masih banyak agenda yang harus beliau selesaikan. Terutama menjadikan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip ini sebagai pionir untuk kelas internasional dan semakin maju. Saat ini FEB sendiri memiliki enam mitra luar negeri, double degree, dan puluhan untuk credit transfer system. Atmosfer yang akan tercipta yaitu bahwa Bahasa Inggris, pengalaman internasional,
Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2019
soft skill, dan komunikasi yang baik itu penting untuk lulusan.
Adapun visi, misi dari Suharnomo dalam menjadi dekan FEB sendiri adalah menyiapkan lulusanlulusan yang kompeten agar bisa menang dalam dunia kerja dan apabila mahasiswa FEB ingin membuka usaha maka mereka memiliki kemampuan untuk mengelola bisnisnya. Adapun perubahan yang ingin dicapai oleh Suharnomo sendiri salah satunya yaitu menguatkan pada internasionalisasi. “We are going global dan kita akan memperkuat mahasiswa kita untuk melakukan international exposure,” ujar Suharnomo. Langkah awal yang akan ia lakukan adalah melakukan re-akreditasi ABEST 21 yang berpusat di Tokyo dan berusaha mendapatkan akreditasi internasional yang berpusat di Amerika. Menurut Suharnomo, saat ini Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip berada di level global dan mahasiswa harus memiliki kualitas yang sama dengan kampus lain dengan standar yang sama, mulai dari konten pembelajaran audit, mutu akademik, mutu view dan perspective. Suharnomo juga mengatakan bahwa dengan ABEST 21, FEB Undip ini bisa dikenal dengan universitas luar negeri ketika bekerja sama dengan universitas lain. Target dan Perubahan pada FEB Periode 2019-2024
Suharnomo mengungkapkan harapan-harapannya untuk FEB Undip ke depannya. Harapan pertama ialah meningkatkan Bloomberg. “Kampus lain juga datang ke kita untuk meminta kerja sama. Dan hanya satu-satunya di Indonesia,” ucap Suharnomo saat berbicara mengenai Bloomberg. Suharnomo juga menambahkan bahwa dekan dan dosen-dosen di FEB Undip sudah menggunakan fasilitas Bloomberg ini dan tinggal mahasiswa-mahasiswa FEB Undip ikut menggunakan fasilitas Bloomberg. Suharnomo bahkan meminta ketua AFEBI dan
dari departemen yang menjabat di ikatan-ikatan profesi untuk membuat mahasiswa-mahasiwanya turut menggunakan fasilitas Bloomberg agar tidak minder karena FEB Undip itu sendiri sudah bisa dikatakan sejajaran dengan universitas yang lebih tua dari Undip, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan sebagainya. Suharnomo bahkan sudah meminta semua dosen FEB Undip untuk melanjutkan S3 terutama dosen yang masih muda-muda. FEB juga akan membuka les Bahasa Inggris untuk dosen dengan harapan mereka harus melanjutkan studinya dan diharapkan dosen yang sudah S3 bisa mencapai 90%.
Harapan Suharnomo yang kedua adalah meningkatkan international exposure. “Untuk international exposure sendiri juga banyak. Dan ingat, tidak hanya IUP saja yang bisa double degree dan CTS, tetapi regular juga bisa asal memenuhi kriteria,” jelas Suharnomo. Salah satu kriteria yang disebutkan oleh Suharnomo adalah mencapai IELTS 6. Ia juga menembahkan bahwa mahasiswa harus outworld looking, harus berpikiran keluar, berpikir besar dan jangan sampai berpikiran yang kecil-kecil saja karena waktu yang dibutuhkan untuk berpikir besar dan kecil itu sama saja.
Ada beberapa faktor yang membedakan periode sekarang dengan periode sebelumnya. Suharnomo mengatakan bahwa pada periode pertama ia hanya berpikir masalah efisiensi, belum masalah kualitas. Pada periode ini, ia berpikir untuk menjadikan kampus Fakultas Ekonomika dan Bisnis ini menjadi kampus yang mandiri. Suharnomo menambahkan untuk periode sebelumnya banyak pengeluaran dalam bidang infrastruktur dan efisiensi. Untuk periode kedua ini, Suharnomo lebih berfokus pada SDM atau sumber daya manusianya. Ia ingin sumber daya manusianya bisa berpikiran outworld looking. (jl)
Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2019
4
Polling
5
Erlangga Erlangga 17 | Volume3 17 | Volume Edisi3 Oktober Edisi Oktober 2017 2017
5
Erlangga 17 | Volume3 Edisi Oktober 2017
6
LIPUTAN UTAMA
Wajah Baru FEB Undip: Aman, Nyaman, dan Instagramable
dok. Edents
Oleh: Karima Suci dan Igi
7
Keberjalanan organisasi dipengaruhi oleh struktur kepemimpinan yang diterapkan dalam sebuah organisasi. Kebijakan pemimpin yang berwenang dalam struktur organisasi turut ambil andil menentukan arah kepemerintahan yang akan dijalankan selama periode kepimimpinan. Apabila struktur organisai berubah, maka suasana kepemimpinan juga akan berubah mengikuti pemberi kebijakan. Tidak berbeda dengan birokrasi Fakultas Ekonomika dan Bisinis (FEB) Universitas Diponegoro yang telah melakukan perubahan struktur dekanat berupa perampingan posisi wakil dekan. Empat Wakil Dekan Dimerger
Menjadi Dua Wakil Dekan Sebelumnya, susunan birokrasi FEB Universitas Diponegoro (Undip) memiliki struktur kepemimpinan berupa dekan dengan empat wakil dekan (WD), yaitu Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, dan Wakil Dekan Bidang Kerjasama. Pada periode jabatan baru berdasarkan Peraturan Rektor Nomor 2 Tahun 2019, dilakukan perampingan posisi Wakil Dekan menjadi WD I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan dan WD II Bidang Sumber Daya. Perubahan struktur dekanat dilakukan sebagai bentuk peningkatan kontrol
Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2019
dan eksekusi kinerja yang lebih efektif dan efisien. Perubahan ini juga sudah direncanakan semenjak tahun 2018. Selama masa perencanaan, pihak rektorat sudah mengkaji lebih jauh mengenai hal-hal dasar yeng berkenaan dengan perampingan struktur baru fakultas. “Sudah direncanakan semenjak tahun 2018, rektorat mengkaji perubahan sambil menunggu masa habis kerja jabatan,” ucap Warsito Kawedar selaku WD II Bidang Sumber Daya. Pengalihan Beban Kerja pada WD yang Identik Perampingan struktur dekanat FEB Undip membuat empat WD dimerger menjadi dua WD yang berakibat pada beban kerja dua WD yang dihapuskan dialihkan kepada wakil yang bidangnya sesuai. Seperti Wakil Dekan Bidang Penelitian karena identik dengan akademik, maka diamanahi pada Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Kemudian, untuk Wakil Dekan Bidang Kerjasama, akan dibagi menjadi akademik dan non akademik, seterusnya kerjasama akademik ditangani Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan dan kerjasama non akademik akan diambil oleh WD II, yaitu Bidang Sumber Daya. Selain perampingan wakil dekan, sejauh ini tidak ada perubahan yang dilakukan oleh FEB Undip. Meskipun terjadi perampingan pada struktur kepemimpinan, keberjalanan operasional fakultas kuning ini tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Pengambil alih beban kerja WD sebelumnya juga tidak mejadi masalah bagi FEB. Hanya saja, perlu penyesuaian
Standar Operasional Prosedur (SOP). Seperti yang dijelaskan Warsito, “Kalau dulu dalam bekerja garis matriknya mungkin ke WD 3 atau WD 2, sekarang sudah berbeda. Sehingga SOP-nya harus diubah dan disesuaikan, itu wajib.” Tidak Ada Sosialisasi Langsung pada Mahasiswa Warsito menyampaikan jika Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Kerjasama yang ditiadakan bukanlah bidang yang berhubungan langsung dengan mahasiwa, sehingga untuk sosialisasi kepada mahasiswa mengenai perubahan struktur dekanat tidak terlalu diprioritaskan. Sebagai gambarannya, ia menjelaskan, pertama bidang penelitian, mahasiswa selama ini tidak ada keterkaitan dengan penelitian juga kerjasama yang dilakukan fakultas tidak berkaitan dekat dengan mahasiswa sehingga jika dilakukan perubahan, sosialisasi yang rinci kepada mahasiswa dirasa tidak terlalu tepat sasaran. Tetapi, pemahaman perlu diberikan kepada birokrasi internal fakultas. Memang, staf bekerja seperti hari-hari biasa namun sekarang mereka memiliki pimpinan yang baru. Kondisi ini diganbarkan seperti Teori Organisasi oleh Warsito, “Ada orang baru masuk ke sebuah insitusi, orang ini akan mengubah gaya dan gaya leadership itu personal, juga mengubah kultur. Artinya, kalau kultur berubah, otomatis perilaku dalam lingkungan kerja turut berubah.” Sepasang Lebih Efisien dan Efektif
Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2019
8
9
Sebuah perubahan yang dilakukan tentu diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih baik. Tidak terkecuali perampingan struktur dekanat FEB Undip. Berpedoman dengan salah satu alasan penghapusan dua WD, yaitu memudahkan kontrol dan eksekusi kinerja, diharapkan perubahan ini lebih efektif dan efisien yang tentu akan meningkatkan kinerja dekanat. Sejauh ini, keberjalanan struktur organisasi baru FEB dinilai semakin baik. Koordinasi antar WD semakin mudah dan mendukung kinerja yang lebih efisien karena koordinasi hanya dilakukan oleh dua pihak saja. Jika dulu terdiri dari empat wakil, maka harus menyatukan gagasan dari empat kepala yang berbeda, memang baik akan tetapi lebih membutuhkan waktu dan dapat mengurangi keefisienan. “Dua itu berarti sepasang. Kalau yang satu tidak bisa, yang satunya lagi akan menggantikan, saling melengkapi. Kalau berempat, harus ketemu yang lain, ketemu yang lain lagi, bisa resiko jalan sendiri,” jelas Warsito. Target Perpustakaan Digital dan Wajah Baru Fakultas Kuning M e n y o n g s o n g kepimimpinan baru, tentu ada target-target yang ingin dicapai oleh periode kepemimpinan baru fakultas. Target yang ingin dicapai tentu hal yang akan meningkatkan kualitas sumber daya FEB dan mengutamakan mahasiswa selaku wajah dari fakultas. Banyak cara dan kebijakan yang dilakukan oleh dekanat untuk meningkatkan keunggulan, kualitas, serta kemudahan mahasiswa dalam
mengeyam proses pembelajaran, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Seperti menargetkan adanya perpustakaan digital yang akan memberikan layanan perpustakaan berbasis pengelolaan data. “Mahasiswa tidak perlu masuk ke ruang perpustakaan. Cukup masuk ke datanya perpustakaan. Sehingga mahasiswa mau duduk di manapun, asal masih di FEB Undip, mereka bisa belajar. Itu target Pak Dekan,” terang Warsito. Target lain yang ingin diusahakan oleh dekanat adalah pemberian layanan yang lebih baik. Perbaikan lingkungan juga sedang digencarkan untuk membangun suasana belajar yang kondusif, sehingga mahasiswa sebagai pelajar semakin semangat untuk menimba ilmu. Dalam lingkungan dan pelayanan fakultas, secara garis besar dekanat melalui Wakil Dekan Bidang Sumber Daya berfokus pada tiga poin pencapaian, yaitu lingkungan perkuliahan yang aman, nyaman, dan instagramable. Rasa aman ketika berada di kampus diyakini akan meningkatkan kualitas belajar warga kampus. Kemudian, ketika setiap orang sudah nyaman berada di sekeliling lingkungan kampus, tentu semua orang akan enjoy. Terakhir, instagramable diharapkan dapat me-refresh semangat mahasiswa ketika belajar. “Aman, tidak akan khawatir dirampok ataupun tidak ada kesempatan untuk merampok. Nyaman seperti di rumah, dan instagramable, belum ada toh? Kalau bahasa anak sekarang, refresh tidak perlu jauh-jauh. Bisa senyum di rumah sendiri sudah sangat bagus, saya ingin seperti itu,” tutup Warsito. (jl)
Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2019
RESENSI FILM
dok. Pribadi
Judul Tanggal Rilis Sutradara Pemeran Skenario Rumah Produksi Genre Peresensi
Twivortiare, film adaptasi novel karya Ika Natassa, merupakan novel ketiga yang diangkat ke layar lebar setelah Critical Eleven (2017) dan Antologi Rasa (2019). Film ini berkisah tentang pasangan yang menikah kembali setelah keduanya berpisah. Berawal dari perkenalan di tempat pesta, Alex (Raihaanun) yang sedang sakit dirawat oleh Beno (Reza Rahadian). Perkenalan singkat yang kemudian menumbuhkan rasa diantara mereka. Kejadian-kejadian kecil seperti makan nasi goreng di pinggir jalan atau menemani belanja yang membuat Alex menyukai Beno. Perkenalan yang cukup singkat tidak membuat Alex dan Beno ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Kehidupan setelah pernikahan
Setelah menikah, banyak permasalahan yang lalu lalang. Kesibukan Beno sebagai dokter bedah dan Alex yang juga sibuk dengan karirnya sebagai banker yang sukses membuat komunikasi diantara mereka sangat minim. Beno yang selalu pulang larut malam serta Alex yang ingin membahas sesuatu hal tentang pernikahan keduanya merasa jika Beno mengabaikan Alex, sebab Beno selalu mengulur waktu untuk membahasnya. Dua tahun bertahan dengan kondisi tidak nyaman, Alex memutuskan untuk bercerai dengan Beno. Awalnya Beno tak menyetujui keinginan sang istri, namun karena Alex yang terus menerus meminta bercerai akhirnya Beno menyetujui perceraian tersebut. Setelah perceraiannya dengan Beno, Alex
: TWIVORTIARE: Memperbaiki Hubungan yang Telah Berakhir : 29 Agustus 2019 (Indonesia) : Benni Setiawan : Reza Rahardian, Raihaanun, Anggika Bolster, Denny Sumargo, Dimas Aditya : Alim Sudio : MD Pictures : Romantis : Luthfia
kemudian berpacaran dengan Denny, seorang pemain basket yang berusaha untuk menaklukan hati Alexandra Rhea. Denny seorang pria romantis, pengertian, juga perhatian kepada Alex. Setiap harinya Alex selalu mendapat karangan bunga di kantor kiriman dari sang kekasih. Alex juga sering menemani Denny bermain basket bersama Riza (Dimas Aditya).
Meskipun telah bercerai, Alex dan Beno masih berkomunikasi dengan cukup baik walau Alex berusaha menghindari Beno. Beberapa kali bertemu dalam berbagai kesempatan tak membuat kecanggungan antara mereka hilang. Beno yang masih mencintai Alex terus berusaha mendekat, namun Alex selalu memasang tembok besar untuk Beno. Keduanya sama-sama saling membutuhkan dan ingin bersama, tetapi ego mereka tak kunjung padam. Wina (Anggika Bolster) sebagai sahabat dekat Alex terus menasehati Alex agar kembali bersama sebab Wina yakin jika Alex dan Beno memang pasangan yang tak bisa dipisahkan. Alex selama ini berpacaran dengan Denny, namun hati dan pikirannya terpaku pada mantan suaminya, Beno. Hingga suatu hari ibunda Alex sakit dan meminta Beno datang ke rumah untuk pengecekan kesehatan rutin. Saat itu pula Alex ada acara dengan Denny, sehingga tidak bisa menemani Beno dan ibunya. Sebelum pergi, ibunda Alexa yang diperankan oleh Lydia Kandao mengatakan bahwa Beno sempat meminta izin kepadanya dan ayah
Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2019
10
RESENSI FILM Alex untuk meminang Alex kembali. Orang tua Alex tentu sangat senang dan bahagia tentang niat Beno itu karena dari awal mereka tidak setuju adanya perceraian. Mendengar hal itu, Alex merasa bimbang sebab dihadapkan dengan dua orang lelaki yang mencintainya dan dicintainya. Dengan pertimbangan yang matang, Alex akhirnya memilih untuk menyudahi hubungannya dengan Denny dan kembali bersama dengan Beno. Pernikahan Kedua
Beno kemudian melamar Alex dengan cara yang sederhana, hanya memberikan cincin kepada Alex saat pesta pernikahan Wina dan Riza. Alex dan Beno bertekad untuk memperbaiki hubungan pernikahan mereka dengan sikap lebih dewasa, saling mengerti, dan mau mengalah. Namun, kenyataan tak melulu sesuai dengan ekspektasi. Beno tetap menjadi lelaki cuek namun mampu menunjukkan rasa perhatiannya dengan cara yang berbeda. Meskipun terkesan “bossy� namun hal itulah yang membuat Alexa mencintai Beno. Sedangkan Alex tetaplah seorang istri yang haus kasih sayang seorang suami tetapi tak pernah bisa menunjukkan perasaannya pada Beno.
Suatu waktu Beno mendapat undangan seminar di New York dan menginginkan Alexa ikut bersamanya dalam jangka waktu tiga sampai empat minggu. Alex yang berprofesi sebagai banker handal sangat sulit baginya untuk mendapatkan cuti. Pak Randy yang diperankan oleh Ferry Salim memberikan izin cuti pergi ke New York dengan syarat Alex dapat memenangkan kontrak kerjasama dengan perusahaan pimpinan Adrian (Arifin Putra). Adrian sosok yang perfeksionis dan memegang teguh suatu komitmen. Hal ini sempat membuat Alex dilema saat ia dihadapkan pada situasi yang mana ia harus pergi rapat dengan Adrian atau merawat suaminya yang tengah sakit. Keinginan untuk memperbaiki hubungan suami istri menjadikan Alex memilih untuk merawat Beno saja dan karena inilah Alex gagal memenangkan kontrak kerjasama. Itu
11
artinya ia pun gagal mendapatkan izin cuti kerja. Saat ia berputus asa dan berpikir akan mengecewakan suaminya karena gagal ikut ke New York, Adrian datang ke kantor dan mengubah keputusannya untuk menyetujui kontrak kerjasama dengan perusahaan tempat Alex bekerja. Seusai janjinya, Pak Randy mengizinkan Alex cuti kerja dan pergi bersama Beno ke New York. Akhir dari kisah Alex dan Beno ialah keduanya mulai menyadari kesalahankesalahan sikap mereka yang masih kekanakan. Alex yang selalu menghindar dari masalah dan Beno yang belum mampu memahami seorang Alexandra.
Twivortiare ini merupakan novel lanjutan dari novel yang berjudul Dwivortiare. Di buku Dwivortiare ini menceritakan tentang kehidupan Alex dan Beno saat mereka berpisah. Bagaimana menderitanya Beno tanpa Alex dan betapa sepinya Alex tanpa Beno. Dari kedua novel ini memberi edukasi pada pasangan yang hendak dan telah menikah. Memberikan pandangan kepada pasangan sejoli bagaimana hidup bersama dengan orang lain, bagaimana cara mencintai dan memberi perhatian satu sama lain. Bagaimana pentingnya sebuah komunikasi dalam sebuah hubungan. Sebab jika hubungan tanpa komunikasi akan terjadi konflik yang tidak terhindari. Film ini juga memberikan pandangan bahwa ego dalam hubungan suami istri harus diredam. Masalah akan terus menjadi-jadi saat keduanya mementingkan ego masing-masing. Sebaiknya, sebelum menonton film ini kalian sudah membaca buku Dwivortiare. Sebab banyak kejadian yang lebih greget terjadi di buku tersebut. Twivortiare lebih banyak menceritakan tentang bagaimana kehidupan Alex dan Beno setelah menikah yang tidak jauh beda dengan pernikahan pertamanya. Film Twivortiare ini dikemas dengan apik. Meskipun sederhana namun mampu membuat para penonton terpukau dan berkesan dengan para aktor. Terkhusus Reza Rahadian dan Raihaanun yang berhasil memerankan sosok Beno Alex. (jl)
Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2019
Erlangga 17 | Volume3 Edisi Oktober 2017
12
KOLOM SASTRA PUISI
Bumiku Hari Ini Oleh: Yunn
dok. Pinterest
Mari berbincang sejenak di beranda rumahku Menatap senja bertemankan kepulan asap di cangkir tua itu Menerka apa yang esok mungkin terjadi Sementara sampai hari ini, kita adalah manusia tak tahu diri Coba lihat hari ini Pohon-pohon tergantikan beton Laut menjadi daratan sampah Dan manusia hanya berkoar tanpa berbenah Berapa lama lagi bumi ini mampu
13
bertahan? Deru jalanan menyumbang polutan Api dan tangan-tangan berkepentingan merambah hutan Dan mungkin, selanjutnya gunung-gunung es hanya tinggal kenangan
Lantas bagaimana dengan suatu hari nanti? Renta tubuh ini begitu pula bumiku Di balik awan bintang masih bersinar Sementara di bawah pijakkan kaki, bumi ini kian meredup
Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2019 Erlangga 17 | Volume 3 Edisi Oktober 2017
Opini Opini
Pemuda Harapan Bangsa Oleh: Nadia Shafira Wijaya*
dok. Pinterest
Pemuda Indonesia. Siapa yang pantas disebut dengan pemuda Indonesia? Apakah murid bangku sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, atau mahasiswa? Sebenarnya bukan hanya mereka yang pantas disebut sebagai pemuda Indonesia, mengingat anak-anak yang tidak bisa mengenyam pendidikan dikarenakan keterbatasan biaya maupun keterbatasan mental pun juga termasuk pemuda Indonesia karena mereka juga memiliki cita cita serta harapan besar untuk memajukan bangsa ini. Lalu, definisi mengenai pemuda itu sendiri merujuk pada Undang-Undang nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaaan, pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 tahun. Secara usia, UNESCO juga membatasi yang dapat disebut sebagai pemuda adalah mereka yang berusia antara 15-24 tahun1. Berdasarkan kedua definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan yang dikatakan sebagai pemuda bangsa Indonesia adalah warga negara Indonesia yang sudah
1 http://jurnal.selasar.com/ politik/siapa-itu-pemuda
dewasa, memiliki pemikiran cukup kritis terhadap lingkungan sekitar maupun masyarakat, serta berani menggunakan haknya untuk bersuara. Mereka yang seperti ini setidaknya dapat kita temukan pada jenjang mahasiswa. Sejak di bangku sekolah menengah atas pun telah muncul bibit-bibit pemuda yang akan mengubah bangsa Indonesia hanya saja aspirasi dari mereka kurang didengar, mungkin cuitan dari pikiran mereka hanya tertuang sebatas pada media sosial pribadi karena masyarakat masih menganggap mereka hanya anak sekolah yang belum ada potensi untuk mengubah suatu bangsa, mereka hanya terus dilatih untuk fokus dalam menuntut ilmu. Tidak hanya itu, masyarakat juga menganggap mereka, anak-anak SMA, bisa berkata ingin memajukan bangsa itu hanya mimpi karena untuk realisasinya dianggap tidak ada dan juga wadah yang dapat menampung hal tersebut hanya sedikit. Hal tersebut membuat mereka tidak memiliki tempat untuk bernaung, untuk beraspirasi, serta mengekspresikan diri sehingga harapan serta semangat dapat redam seiring berjalannya waktu. Lain halnya dengan mahasiswa. Di kampus, mereka dengan
Erlangga 17 | Volume 32 Edisi September Mei 2018 2019
14
Opini
15
mudah menuangkan apa yang terpikirkan karena mereka dapat merealisasikannya dengan cara berkontribusi menjadi salah satu anggota pada organisasi kampus. Wadah untuk mahasiswa bernaung bermacam-macam. Mereka dapat memilih organisasi mana yang sesuai dengan minat serta potensi. Dengan mengikuti suatu organisasi, bakat yang mungkin belum terasah akan dengan mudah dikembangkan. Tidak hanya itu, mereka juga secara tidak langsung akan mendapat pelatihan soft skill yang ke depannya akan sangat dibutuhkan seperti, kemampuan beradaptasi, sikap disiplin, berkomunikasi dengan lancar, sopan santun, bertanggung jawab, percaya diri, kerjasama, dapat berpikir kritis dan menganalisis suatu masalah serta hal lainnya. Dalam dunia kerja, pintar (hard skill) saja tidak cukup karena yang akan kita hadapi nantinya jauh lebih kompleks, sehingga sangat penting untuk memiliki soft skill yang terasah dengan pengalaman. Tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat orang tua yang lebih mementingkan angka atau yang biasa disebut dengan IPK (indeks prestasi kumulatif), sehingga terkadang anak dibatasi untuk memiliki kesempatan berorganisasi. Tak hanya itu, disadari atau tidak, terdapat beberapa orang tua yang tidak segan untuk mendikte anaknya agar tidak boleh memecah fokus dari belajar. Menurut pendapat pribadi, IPK tidak menjadi patokan untuk mengetahui kesuksesan seseorang nantinya. IPK tinggi tetapi tidak bertanggung jawab serta tidak percaya diri sama saja, bukan? Seseorang yang berilmu sewajarnya juga diimbangi dengan seseorang yang berkarakter. Terkadang orang tua seperti ini hanya ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa anaknya pintar karena IPK yang dicapai memuaskan padahal bukan tidak mungkin jika anak terus mengurung diri untuk belajar, belajar, dan belajar hanya karena takut dengan perintah orang tua bahkan sampai tidak sempat untuk beradaptasi hingga bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini justru dapat menimbulkan dampak negatif
seperti, anak menjadi introvert, mudah untuk berbohong, dapat menimbulkan rasa jenuh, stres, dan sebagainya. Memang benar, IPK memuaskan pun juga diperlukan karena menjadi salah satu syarat untuk melamar kerja, tetapi anak juga butuh untuk diberi kesempatan menggali serta mengeksplorasi potensi diri. Maka dari itu, tidak ada salahnya mengikuti organisasi karena dapat mengubah seseorang dari yang tadinya tertutup menjadi dapat beradaptasi dengan orang lain, dari yang tadinya takut berbicara di depan umum menjadi lebih berani berekspresi, dan juga dari yang tadinya tidak terpikirkan atau bahkan tidak mungkin menjadi pemimpin menjadi mungkin. Segala sesuatunya dapat menjadi mungkin ketika sesuatu yang ingin kita capai mendapat dukungan dari lingkungan sekitar serta potensi dari dalam diri sendiri ikut mendukung. Jika mahasiswa memiliki soft skill yang baik, maka bangsa ini akan terjamin karena para pemudanya berkualitas. Suatu bangsa akan menjadi lebih baik dan lebih maju jika memiliki penerus yang berkualitas. Tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa mahasiswa adalah agent of change. Semboyan penuh makna itu sebaiknya dapat direalisasikan, bukan hanya menjadi semboyan belaka. Tentu saja dalam proses untuk merealisasikannya perlu dukungan yang besar dari lingkungan sekitar, terutama orang tua. Sehingga, untuk para orang tua, berilah anak kalian kesempatan untuk beradaptasi dan mengeksplorasi diri. Mereka sudah dewasa dan pasti mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, cukup berikan mereka penjelasan dan biarkan mereka mencari sendiri mana arah yang ingin mereka lewati. Nantinya mereka akan hidup mandiri dan memiliki kehidupan sendiri. Beri mereka kesempatan, dukungan, serta kepercayaan bahwa mereka memang pantas menjadi agent of change bagi bangsa Indonesia. (jl) *) Penulis merupakan pemimpin HR / RD LPM Edents Periode 2018-2019
Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2019 Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Mei 2018
Geliat Usaha
Berbisnis Sesuai Passion Saat Kuliah, Kenapa Tidak? Oleh: Rizky Dwi dan Marsha
dok. Pribadi
Bintang Mega Pratiwi atau yang akrab disapa Binmeg, adalah mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) Departemen Manajemen tahun 2017 yang memulai usahanya berdasarkan passion yang ia miliki yaitu di bidang kuliner, dengan Dapoer Centhong yang ia pilih untuk menjadi merk dagangannya. Awal Mula Berdiri dan Motivasi Mendirikan Dapoer Centhong
Dapoer Centhong adalah merk yang diberikan oleh Binmeg untuk semua produk yang ia jual. Usaha ini didirikan pada bulan Februari, satu tahun yang lalu yaitu pada tahun 2018. Awalnya, Binmeg hanya menjual makanannya secara eceran dan dijual tanpa embelembel merk. Karena ia tidak hanya menjual satu produk makanan saja dan ingin memulai catering, maka terpikirkan untuk memberikan sebuah merk kepada produk makanannya, yaitu Dapoer Centhong. Nama Dapoer Centhong ia pilih karena Dapoer dan Centhong identik dengan masakan dan makanan, dan dirasa nama itu sesaui untuk produk-produk yang akan ia
jual.
Motivasi ia memulai usaha ini karena keinginannya saat menyelesaikan studi di FEB Undip ia harus sudah memiliki sesuatu. Ia tidak ingin terlalu bergantung pada kuliah dan ingin mencoba untuk hidup mandiri. Saat lulus, keinginannya adalah harus sudah menjadi atau memiliki sesuatu, karena ia tidak tahu masa depannya akan menjadi seperti apa. Bidang Kuliner adalah Passion
“Kuliner dari dulu adalah passion saya. Saya berpikir bahwa orang tidak akan pernah berhenti makan dan akan selalu mencari makanan yang baru dan unik,� ujar Binmeg saat menjelaskan alasan ia memilih usaha di bidang kuliner.
Menu yang ditawarkan Dapoer Centhong ada berbagai jenis, antara lain silky pudding, roti maryam, rice box, makaroni, makanan catering, dan royal dessert. Akan tetapi, untuk saat ini Binmeg lebih berfokus pada royal dessert karena lebih banyak diminati oleh pembeli. Untuk menu royal dessert sendiri terdiri dari tiga rasa, yaitu banana regal, chocolate oreo, dan strawberry oat choco. Roti maryam dapat dipilih dengan rasa green tea, chocolate, dan tiramisu. Tak hanya itu, pembeli juga dapat memilih untuk menggunakan topping keju atau oreo. Selanjutnya macaroni, yang terdiri dari banyak pilihan rasa, seperti original, hot, balado, jagung, keju, keju asin, asin, sapi panggang, ayam panggang,
Erlangga 17 || Volume3 Volume 3Edisi Edisi September 2019 Erlangga Erlangga 17 17 | Volume 2 Oktober Edisi Mei2017 2018
16
Geliat Usaha dan BBQ. Yang terakhir yaitu rice box, Dapoer Centhong menggunakan ayam pom-pom sebagai lauk isian rice box dengan banyak pilihan rasa, yaitu cream cheese, lada hitam, teriyaki, dan BBQ. Kiat Strategi Pemasaran Dapoer Centhong
Target utama dalam memasarkan Dapoer Centhong adalah mahasiswa, namun hal ini tidak menutup kemungkinan masyarakat umum dapat meng-order produknya. Dalam memasarkan produknya, Binmeg memulai dari teman-teman dekatnya dan para kenalan. Berkat pihak kedua ini, usaha makanannya dapat dikenal oleh banyak orang. Selain promosi dari mulut ke mulut, Binmeg juga menggencarkan pemasaran usahanya melalui media sosial, seperti instagram dengan nama akun “dapoercenthong”. Sering kali ia mengikuti paid promote dan membayar endorsement sebagai media promosi, yang anggarannya sudah disisihkan dari jumlah keuntungan yang ia dapat dari penjualan. “Kuncinya adalah kita harus rajin upload produk-produk kita setiap beberapa kali sehari,” ucapnya. Selain itu, yang terpenting adalah menyesuaikan kondisi pasar dengan mengeluarkan produk-produk baru agar pembeli tidak merasa jenuh dan menu Dapoer Centhong dapat lebih bervariasi.
Kendala yang Dihadapi dan Target untuk Kedepannya
Semakin berkembang usaha yang dimiliki seseorang pasti akan ada banyak kendala yang mengikuti. Begitu pula Dapoer Centhong. Pada awalnya usaha tersebut belum memiliki banyak saingan. Namun untuk saat ini sudah banyak sekali saingan produk serupa. Untuk mengatasinya, Dapoer Centhong selalu berinovasi dan akan memperkenalkan produk baru tersebut pada awal semester.
Kedepannya Dapoer Centhong memiliki beberapa target, diantaranya adalah produk-produk mereka bisa dikenal oleh semua warga Semarang. Tidak hanya itu target lainnya adalah Dapoer Centhong tidak hanya ada di Semarang namun juga di Purwokerto, Yogyakarta, dan kota-kota besar lain yang ada di Jawa Tengah. (jl)
Membagi Waktu Antara Berbisnis dan Kuliah Bukan Masalah
17
Erlangga Erlangga 17 | Volume 17 | Volume 23 Edisi 3 Edisi Mei 2018 Oktober 2017 September 2019
dok. Pribadi
Dalam hal sistem penjualan, Dapoer Centhong membuka sistem PO (Pre Order) dan siap stock (ready stock). Untuk pemesanan sistem PO, Binmeg menerapkan minimal pembelian. Sedangkan untuk ready stock, Binmeg tidak memberikan patokan berapa minimal produk yang harus dibeli. Untuk sistem ini juga, produk akan selalu ada setiap hari, namun pemesanannya harus dilakukan H-1. Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah produk yang dipesan ada atau tidak.
Di samping mengurus usahanya ini, Binmeg juga harus bisa membagi waktunya untuk urusan kuliah. Menurut Binmeg, masih banyak orang yang takut untuk memulai berwirausaha sambil kuliah, dapat dikatakan jika mereka takut kehabisan waktu. Namun menurutnya, yang menciptakan waktu adalah diri kita sendiri. “Waktu bukan masalah karena kita yang menciptakan waktu, kewajiban kuliah tetap nomor satu dan bisnis harus bisa berada di tengahtengah itu,” tutur Binmeg.