Page 1

Edisi 31. Tahun ke-3. Dzulhijjah 1434 - Muharram 1435 H / Nopember 2013

Pindai QR CODE ini untuk mendapat info terbaru kami

KORAN MINI BULANAN

www.yayasantazakka.com

SEMARAK IDUL ADHA DI TAZAKKA

K

eluarga Besar Pondok Modern Tazakka­ menyambut dengan penuh­antu­ sias datangnya Hari Raya Idul­Adha 1434 H yang jatuh pada hari Selasa­(15/10). Semarak kegiatan Idul Adha di Tazakka,­selain Shalat Ied dan qurban, juga dimeriahkan den­ gan berbagai kegiatan santri,­seperti lomba vokal grup antar kamar (Folk Song) dan lomba kebersihan serta keindahan kamar. Pelaksanaan Shalat Idul Adha di Pondok Modern Tazakka­digelar di lapangan futsal yang terletak di samping Gedung Gontor, yang diikuti oleh santri dan asatidz PM Tazakka­ serta beberapa wali santri dan warga sekitar pondok. Bertindak sebagai imam dan khotib adalah Ustadz H. Anizar Masyhadi, Lc. Dalam khutbahnya, Wakil Pimpinan Bidang Amal Usaha PM Tazakka ini membahas tentang­pe­ ngorbanan Nabi Ibrahim AS beserta keluarga­ nya sebagai bukti ketakwaan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Usai pelaksanaan shalat, para santri me­ ngi­­­kuti kegiatan Folk Song antar kamar. “Selain menyembelih hewan qurban, kami berusaha menyelenggarakan acara yang mendidik se­ ka­­­ligus menghibur santri, yaitu Folk Song dan lomba kebersihan dan keindahan antar kamar, karena dari situlah santri dapat belajar dan berkreasi,” ujar Ustadz Oky selaku Ketua Panitia­ Lomba Folk Song.

“Kalau lomba kebersihan, kerapihan dan keindahan kamar, itu tujuannya untuk memu­ puk kebersamaan dan untuk menjalin rasa ukhuwah antar anggota kamar“ lanjutnya. Hal senada dikatakan pula oleh Ustadz Edi Buana selaku Ketua Rayon, “Kamar tidak hanya ber­ fungsi sebagai tempat tidur saja, tetapi juga sebagai miniatur masyarakat kecil,” paparnya.­ Pada esok harinya, Rabu (16/10) tepat 07.00 pagi dilaksanakan pemotongan hewan­ qurban. Pada kesempatan ini, Pimpinan Pondok­juga bersyukur atas segala rezeki ber­ limpah lagi penuh berkah dari Allah SWT di Hari Raya Qurban ini, sehingga pondok masih bisa menyembelih hewan-hewan qurban un­ tuk­­­ dibagikan kepada masyarakat. Menurut Ketua Panitia Qurban, Ustadz Haris Adam, jumlah hewan qurban tahun ini­naik dua kali lipat dibanding tahun lalu. “Tahun­lalu kita qurban empat sapi dan empat kam­bing, sedangkan tahun 1434 H ini 7 ekor sapi dan 9 kambing, berasal dari 47 shohibul qurban, atau setara dengan nominal uang Rp. 114.900.000,“ terangnya. “Para shohibul qurban tidak hanya dari daerah Batang dan Pekalongan saja, namun ada yang berasal dari luar kota, diantaranya dari Jakarta, Serang dan Bekasi” imbuhnya. Dengan bertambahnya jumlah binatang qur­ ban, jumlah distribusi dagingnya pun ikut ber­

tambah dan penyebaran dagingnya semakin luas, khususnya para mustahik yang berada di sekitar Pondok Modern Tazakka. Wilayah distribusi daging diprioritaskan di­wilayah Kecamatan Bandar sekitar Pondok,­ meli­puti;­Bandar, Sidayu, Sogo, Bledo, Pahlawan,­ Karetan, Sipare, Cendono, Bina­ngun, Cepoko, dan lain-lainnya. “Penerima daging qurban ta­ hun ini mencapai 868 kepala keluarga,­sedang­ kan tahun lalu hanya 542 kepala ke­luarga,”­ujar Haris. Dalam pendistribusian daging, Tazakka meng­gunakan sistem door to door, yaitu daging­­­qurban diantarkan ke tempat para mustahik­dengan melibatkan para Anshar Tazakka.­“Rata-rata setiap anshar mengkoor­ dinir 30-40 kepala keluarga. Ada juga yang mencapai 90 orang” tutur H. Mutatohhirin se­ laku panitia. “Pimpinan Pondok sedang di Tanah Suci dan menyampaikan terima kasih kepada para Anshar Tazakka teriring doa semoga men­dapat pahala dan keberkahan,” ujar Ustadz Richi se­ laku penanggung jawab distribusi. (@kamal)

Penerima dag ing q urban tahun ini mencapai 868 kepala keluarga dengan sistem door to door , yaitu dag ing q urban diantarkan ke tempat para mustahik dengan melibatkan para Anshar Tazakka (Ustadz Haris Adam Ishlahi, Ketua Panitia Qurban)


2

MA’HADUNA

3

RO’YUKUM

QURBAN TANDA TAQWA Jutaan umat Islam setiap tahun melaksanakan ibadah qurban. Namun selama itu pula, kehidupan umat sekitarnya tidak ada yang berubah. Semangat dan spirit qurban belum mampu menjalar dalam tindakan sehari-hari umat Islam. Apa yang sesungguhnya terjadi? Apakah qurban hanya sekedar ritual yang tidak mampu memberikan dampak apa-apa bagi perubahan bangsa ini? Berikut adalah petikan Wawancara Tim Redaksi Koran Mini Tazakka Haris Adam dengan beberapa Shohibul Qurban.

KAKANMENAG BATANG KUNJUNGI TAZAKKA

K

epala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Batang, Drs. H. Moch. Bisri, M.Ag., berkunjung ke Pondok Modern Tazakka (17/10). Kunjungan tersebut dalam rangka silaturahim dan memberikan Kuliah Umum di hadapan santri-santri PM Tazakka. Beliau disambut oleh Wakil Pimpinan PM Tazakka, Ustadz H. Anizar Masyhadi­ dan Direktur KMI, Ustadz M. Bisri, SHI, M.Si. dan jajaran asatidz serta seluruh santri. Saat datang, Kakanmenag langsung menuju Masjid AzZaky untuk menunaikan shalat Dzuhur berjamaah bersama para asatidz dan santri. Usai shalat, acara dilanjutkan de­ ngan pidato sambutan selamat datang berbahasa Arab yang disampaikan oleh santri, Hisyam Al-Faruq, santri kelas 1 In­ tensif B. Kemudian sambutan dari Wakil Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Ustadz H. Anizar Masyhadi. Kuliah Umum bertajuk “Hari ini saya jadi santri, besok saya jadi pemimpin umat.” Disampaikan Kakanmenag Drs. H. Moch. Bisri, M.Ag di Masjid Az-Zaky. Menurutnya, pilihan belajar di pondok pesantren adalah pilihan tepat. “Fakta membuktikan bahwa pemimpin-pemimpin umat dan bangsa ini banyak yang lahir dari pendidikan di pondok pesantren. Oleh karena itu, anak-anak sekalian tidak boleh ragu lagi, harus semangat, harus yakin bahwa dari tempat inilah anakanak sekalian besok akan jadi pemimpin umat, pemimpin bangsa, dan pemimpin negara ini, yakinlah itu,” tegasnya yang disambut ucapan “aamiin” para santri.­ Beliau juga menerangkan tentang nilai-nilai yang diajar­ kan di pondok pesantren. “Pendidikan di pondok pesantren akan menumbuhkan nilai-nilai yang nilai-nilai itu tidak tum­ buh di sekolah-sekolah umum,” jelasnya. Menurutnya, Nilainilai tersebut diantaranya, yang pertama adalah hikmah, dan hanya bisa muncul karena ada interaksi selama 24 jam antara santri-santri dengan kiai dan asatidz,” lanjutnya. Menurutnya hal itu tidak mungkin dilakukan di sekolahan,­ karena sekolahan paling banter dimulai jam 7 pagi hingga jam 2 siang. “Di pondok pesantren, santri-santri akan terus berkomunikasi seperti saat ini, baru saja kita melakukan shalat Dzuhur berjamaah, nanti Ashar juga berjamaah, sebe­ Edisi 31. Tahun ke-3. Dzulhijjah 1434 - Muharram 1435 H / Nopember 2013

lum Maghrib membaca Al-Quran, malam hari kita lanjutkan dengan belajar bersama dan seterusnya.” lanjutnya. Beberapa santri menanyakan program-program Kemen­ terian Agama khususnya yang terkait dengan pengembang­ an pesantren. Bisri menyatakan bahwa Kementerian Agama di era reformasi ini dalam mengangkat harkat dan derajat pondok pasantren demikian besar. Di antaranya adalah bah­ wa pemerintah telah menyetarakan ijazah tamatan pondok pesantren dengan sekolah-sekolah umum. “Anak-anak sekalian yang sekarang belajar di Pondok Modern Tazakka ini nanti seandainya tamat dari pondok, ijazah kalian akan disetarakan persis dengan anak-anak yang lulus SMA/MA, dan anak-anak pesan­tren bisa melan­ jutkan ke perguruan tinggi umum misal­nya ke UNDIP, UGM, UI, dan seterusnya” tegasnya. “Jadi, ini bagian dari komitmen dan perjuangan dari Ke­ menterian Agama. Di seluruh Indonesia terdaftar­sekitar 78 pesantren, tetapi memang tidak bisa seluruh pondok pesantren bisa disetarakan, karena harus meme­nuhi syaratsyarat tertentu yang telah ditetapkan, hanya pondok pesan­ tren yang memang sudah memiliki kualifikasi saja yang bisa disetarakan ijazahnya” pungkasnya. Dalam kesempatan itu, Pimpinan Pondok, KH. Anang Rikza Masyhadi yang tengah berada di Madinah menyem­ patkan diri menelpon secara live dan didengarkan seluruh hadirin di Masjid Az-Zaky. Beliau menyampaikan terimakasih atas kunjungan Kakanmenag. (@fauzi)

“Anak-anak sekalian yang sekarang belajar di Pondok Modern Tazakka ini nanti seandainya tamat dari pondok, ijazah kalian akan disetarakan persis dengan anak-anak yang lulus SMA/MA, dan anakanak pesantren bisa melanjutkan ke perguruan tinggi umum misalnya ke UNDIP, UGM, UI, dan seterusnya.” — Drs. H. Moch. Bisri, M.Ag. (Kakanmenag Batang) —

M. Arifin, SE (Pekalongan) Menurut saya, selain makna qurban tanda taqwa, saya juga berpendapat bahwa berqurban adalah ciri keislaman seseorang, seperti yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ra­ sulullah SAW bersabda: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” [HR. Ahmad dan Ibnu Ma­ jah]. Selain itu berqurban juga membawa misi kepedulian pada sesama, menggembirakan kaum dhuafa seperti sabda Rasulullah SAW: “Hari Raya Qurban adalah hari untuk makan, minum dan dzikir kepada Allah” [HR. Muslim]. Saya sa­ ngat setuju dengan adanya Lazis Tazakka,­lembaga ini sa­ngat membantu bagi shohibul qurban­untuk berqurban. Hj. Anisah (Jakarta) Makna qurban dalam kaitan hablu minnallah adalah kepasrahan, keikhlasan dan pengabdian total kepada Allah. Makna tersebut disertai juga dalam konteks hablu minannas dengan pengorbanan yang bermanfaat bagi sesama. Manfaat qurban adalah meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT serta menambah kesolehan terhadap sesama. LIlik Andrianto (Limpung) Ibadah qurban merupakan media menahan diri dari kesera­kah­an serta mengendalikan nafsu untuk menumpuk keka­ yaan, juga untuk menunjukkan kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap sesama. Dari sisi yang berqurban, manfaatnya adalah untuk melatih keikhklasan dan keimanan kami. Qurban juga merupakan syiar agama kepada anakanak kami agar mereka selalu ingat untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, dan sebisa mungkin selalu membantu orang lain yang mungkin kurang beruntung. Tapi belakangan ini saya melihat tidak sedikit pula orang mampu tetapi mengkondisikan diri seolah-olah tidak mampu —demi memperoleh sedikit daging dari hewan qurban itu. Ini yang membuat prihatin dan harus dicari cara agar daging tersebut disalurkan kepada yang sungguh-sungguh berhak. Hikmah­ nya adalah bahwa pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia adalah makhluk sosial dan agar dapat hidup dengan sesama secara baik, maka perlu adanya sifat em­ pati khususnya dengan kaum yang kurang mampu (dhuafa).

Momen berqurban ini bisa digunakan untuk berbagi dengan sesama sebagai wujud kepedulian & keshalihan sosial. Yoyok (Tulis, Batang) Ibadah qurban adalah ibadah keikhlasan, ibadah yang memaknai bahwa apa yang kita miliki tidak sepenuhnya mi­ lik kita sendiri, jika kita merujuk bagaimana Nabi Ibrahim rela mengorbankan putra yang ditunggu puluhan tahun, demi melaksanakan perintah Allah, beliau rela mengorbankan anaknnya, untuk itu kita akan merasa enteng melaksanakan jika kita menganggap sebagian harta milik kita adalah hak orang lain yang kita tidak tahu berapa jumlahnya yang harus kita salurkan kepada mereka yang berhak, karena Allah ha­ nya menjadikan kita sebagai penyalur atas rezeki orang lain, disitu ada makna solidaritas dan kepedulian kepada sesama. H. Mutatohhirin (Panitia Qurban) Alhamdulillah, qurban di tazakka berjalan dengan lancar dan sukses. Persiapan untuk kegiatan qurban ini persis­hanya dua minggu karena sebelumnya ada beberapa acara­besar di Tazakka. Tapi saya sangat puas dengan kerja tim yang kompak sehingga acara bisa berjalan dengan yang diharapkan. Ridwan (Kluwih, Batang) Saya tahu Lazis Tazakka dari kegiatan pengajian Ahad Pagi di masjid Az-Zaky yang saya ikuti setiap dua minggu sekali, Alhamdulillah tahun ini saya bisa ikut berkurban lewat Lazis Tazakka, saya lebih senang ikut berqurban lewat Lazis Tazakka­ karena pembagiannya merata, dan saya sangat setuju de­ngan adanya lembaga-lembaga seperti Lazis Tazakka ini. Saya mo­ hon doanya agar tahun depan bisa berqurban lagi lewat Lazis Tazakka. H. Amir Aziz (Tersono, Batang) Salah satu makna mendalam dari perintah menyembe­ lih hewan qurban adalah sebagai simbol menyembelih atau melawan nafsu hewani. Manusia jelas berbeda dengan he­ wan. Manusia bisa berfikir, tersenyum dan memiliki rasa malu, sedangkan hewan tidak. Maka perilaku yang tidak mengguna­ kan akal pikiran, tidak murah senyum apalagi tidak tahu malu, merupakan perilaku hewani yang harus dibuang jauh-jauh.

MAHFUZHAT

ُ َ َ َ َ َ َّ َ ُ ِّ َ ُ َ ْ َ ُ َ َ َْ ََ َ ْ َ ‫اب تزيننا ِإن اجلمال مجال ال ِعل ِم واألد ِب‬ ٍ ‫ليس اجلمال بِأثو‬ “Bukanlah kecantikan itu dengan pakaian yang menghias kita, sesungguhnya kecantikan itu ialah kecantikan dengan ilmu dan moral.” www.yayasantazakka.com


4

KEPONDOKMODERNAN

MENUMBUHKAN PRODUKTIFITAS SANTRI

5

KEUTAMAAN ILMU DAN KEMULIAAN PEMILIKNYA

Oleh: Ustadz Hakim As-Shidqi, M.Pd.I — Guru Pondok Modern Tazakka

Seorang pemimpin harus mempunyai produktifi­ tas tinggi dan berkualitas dalam segala hal. Ini dapat ditum­buhkan dengan banyak berbuat, bersungguhsungguh dan ikhlas. Ia harus menganggap bahwa segala tugas adalah kewajiban dan amanah; jika ini sudah tertanam, maka segala tugas di pondok akan di­ kerjakannya dengan penuh kesadaran dan tanggung­ jawab penuh optimisme. Agar selalu produktif seorang pemimpin harus se­ lalu tama’ kepada kebaikan, artinya ia merasa tidak nyaman jika belum mengerjakan kebaikan. Demikian­ lah, salah satu sifat pemimpin yang ingin ditanamkan Pondok Modern Tazakka kepada para santrinya. Oleh karenanya, calon pemimpin harus memiliki produkti­ fitas tinggi. Untuk mendorong produktifitas yang tinggi, maka perlu dibuat banyak aktifitas untuk santri di Pondok Modern. Totalitas kehidupan pesantren merupakan sebuah miliu yang tepat untuk menumbuhkan produk­ tifitas santri. Dalam kehidupan di PM Tazakka, santri dihadapkan kepada permasalahan-permasalahan kehidupan, mulai dari bangun tidur, antri berwudhu, mandi, makan, disiplin beribadah, belajar dan lain se­ bagainya. Santri dididik untuk menyelesaian masalahmasalah tersebut dengan tujuan menumbuhkan produktifitas kerja dan budaya disiplin sebagai calon pemimpin umat. Di PM Tazakka, minimal dalam sehari santri did­ idik harus menyelesaikan 25 permasalahannya, baik secara pribadi maupun organisasi. Dalam rangka meningkatkan produktifitas sebagai calon pemimpin, setiap santri dituntut harus banyak mengambil inisi­ atif, memberi dan mengerjakan tugas, mengontrol, menganalisa, terjun langsung, memanggil dan banyak mengarahkan. Di PM Tazakka, kesemuanya dilatih dari tahapan awal, dengan semboyan “mau memimpin dan siap di­pim­pin” yang merupakan sebuah bentuk untuk me­numbuhkan produktifitas. Ketika masih belum di­ berikan tanggungjawab keorganisasian, seorang santri dapat menganalisa jalannya organisasi santri dengan menjadi anggota yang baik, dan ketika sudah menda­ patkan tanggungjawab tersebut, dia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Sehingga dapat mempraktekkannya dalam menghadapi dinamika ke­ hidupan pesantren.

Pemberian tugas, kewenangan dan kebijakan di PM Tazakka selalu dikontrol untuk mengetahui permasalah­ an secara detail, problem solving, dan mendapatkan feedback yang berupa kepekaan ter­ hadap masalah dan kekuatan serta keberanian dalam menyelesaikan permasalahan. Pengambilan inisiatif adalah wujud tanggungjawab yang terbaik. Untuk menumbuhkan dan meningkatkan pro­dukti­ fitas­perlu adanya pemberdayaan kualitas dan pe­ning­ katan kemampuan seseorang, sehingga tidak menjadi sosok yang sekedar “menjalankan rutinitas” semata, atau menjadi manusia “ala kadarnya” atau lebih rendah lagi. Dalam berbuat tidak boleh hanya bermotif untuk kepentingan pribadinya saja. ­

ُ ْ ُ ُ ْ َ‫َ ْ َ َ َّ ُ ُ َ ْ َ ْ َ ُ ُ َ خ‬ ‫من اكن ِهمته بِلط ِن ِه ف ِقيمته ما يرج ِمنه‬

“Barang siapa yang segala usahanya untuk kepen­ting­ an­perutnya, maka harganya sama dengan apa yang dikeluar­kan oleh perutnya”

Calon pemimpin tidak boleh takut dengan resiko seperti; capek, banyak tamu, banyak urusan dan lain-lain. Tetapi, seorang pemimpin harus tampil mengambil inisiatif, memberi tugas, mengontrol, menganalisa, terjun langsung, memanggil, mengarahkan dan mengevalu­ asinya. Itulah diantara pendidikan kepemimpinan yang diterapkan kepada santri PM Tazakka.

KorMin Tazakka edisi ini dicetak atas wakaf dari P.T. AMRINA ROSYADA & CV. KHOLAM Printing Jakarta Jazakumullahu Ahsanal Jazaa’

Edisi 31. Tahun ke-3. Dzulhijjah 1434 - Muharram 1435 H / Nopember 2013

KOLOM

Oleh: Ustadz Alam Mahardika, S.H.I — Guru Pondok Modern Tazakka

ْ‫َ ْ اَ ْ ْ ُ َ اَ َ َّ ُ كاَ ب‬ َ َ ‫لول ال ِعلم لكن انلاس لهائِ ِم‬

“Jikalau tidak berilmu, maka manusia laksana binatang”

B

egitulah sebuah hikmah yang menggambarkan betapa pentingnya ilmu bagi manusia. Karena kita tahu bahwa yang membedakan manusia dengan hewan adalah karena akalnya, yaitu akal yang beril­ mu tentunya. Ilmu, telah menjadi perbincangan dari waktu ke waktu, bahkan ilmu telah menjadi simbol kemajuan dan kejayaan suatu bangsa. Hampir tak ada suatu bangsa dinilai maju kecuali disana ada ketinggian ilmu. Hingga hampir menjadi kesepakatan setiap jawara bangsa, bila ingin maju harus berkiblat kepada negeri yang tinggi ilmunya. Maka dari itu, kita diwajibkan untuk selalu menuntut ilmu sedari kita dilahirkan sampai dengan kita mati nanti. Karena manusia memang tidak digiring kepada arah kebo­ dohan, tetapi diarahkan menjadi manusia yang maju, se­ hingga masyarakatnya menjadi maju dan bangsanya juga menjadi maju. Ilmu juga telah menjadi syarat bagi kelang­ sungan hidup dan kebahagiaan manusia di dunia maupun di akhirat. Imam Syafi’i mengatakan: Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia hendaknya ia dengan ilmu, barangsiapa yang mengingin­ kan (kebahagiaan) akhirat, hendaknya ia dengan ilmu dan barangsiapa yang menginginkah kebahagiaan keduanya, hendak ia dengan ilmu. Sekarang, akankah kita membekali diri kita bagaikan si buta di tengah rimba belantara tak tahu apa yang akan menimpanya. Padahal bahaya itu sebuah kepastian yang telah tersedia. Akankah kita bergelimang dalam kebodoh­ an, padahal kebodohan adalah lambang kejumudan. Lalu, tidakkah kita ingin sukses dan jaya di negeri akhirat nanti. Lalu apa yang menghalangi kita untuk segera meraup ilmu terutama ilmu dien (ilmu agama), sebagaimana kita beram­ bisi meraup ketinggian ilmu dunia karena tergambar suk­ sesnya masa depan kita? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitab­ nya­ “Kitab Al-’Ilmi” mengumpulkan keutamaan ilmu bagi manusia itu dalam beberapa point penting yaitu: 1. Bahwa ilmu dien adalah warisan para Nabi, warisan yang lebih mulia dan berharga dari segala warisannya para nabi. Rasulullah SAW telah bersabda: “Keutamaan seorang ‘alim (berilmu) atas seorang ‘abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi. Sesungguh­ nya para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya (warisan ilmu) maka dia telah mengambil keuntungan yang banyak.” (HR. Tirmidzi). 2. Ilmu itu tetap akan kekal sekalipun pemiliknya telah mati, tetapi harta yang jadi rebutan manusia itu pasti akan sirna. 3. Ilmu, sebanyak apapun tak menyusahkan pemiliknya untuk menyimpan, tak perlu gedung yang tinggi dan

4.

5.

6.

7.

besar untuk meletakkannya, cukup disimpan dalam dada dan kepalanya, bahkan ilmu itu yang akan menjaga pemiliknya sehingga memberi rasa nyaman dan aman, lain halnya dengan harta yang semakin bertumpuk, se­ makin susah pula untuk mencari tempat menyimpan­ nya, belum lagi harus menjaganya dengan susah payah bahkan bisa menggelisahkan pemiliknya. Para ulama (Ahli ilmu syari’at), termasuk golongan pe­ tinggi kehidupan yang Allah perintahkan supaya orang mentaatinya, tentunya selama tidak menganjurkan durhaka kepada Allah dan RasulNya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu.” (An-Nisaa’[4]: 59). Ulil Amri, menurut ulama adalah Umara’ dan Hukama’ (Ahli Hik­ mah/Ahli Ilmu/Ulama). Ulama berfungsi menjelaskan dengan gamblang syariat Allah dan mengajak manusia ke jalan Allah. Umara’ berfungsi mengoperasionalkan jalannya syariat Allah dan mengharuskan manusia un­ tuk menegakkannya. Ilmu adalah jalan menuju Surga, tiada jalan pintas men­ uju Surga kecuali ilmu. Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga.” (HR. Muslim). Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan ham­ ba sehingga dia tahu bagaimana beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan para hamba Allah. Orang ‘alim (berilmu) adalah cahaya bagi manusia lain­ nya. De­ngan dirinyalah manusia dapat tertunjuki jalan hidup­nya. Perlu diingat kisah seorang pembunuh yang menghabisi 100 nyawa. Dia bunuh seorang ahli ibadah sebagai korban yang ke-100 karena jawab­an bodoh dari si ahli ibadah yang menjawab bahwa sudah tak ada lagi pintu taubat bagi pembunuh nyawa manusia. Akhirnya dia datang kepada seorang ‘alim, dan disana ia ditun­ jukkan jalan taubat, maka diapun mendapatkan penera­ ngan bagi jalan hidupnya. Allah akan mengangkat derajat Ahli Ilmu (orang ‘alim) di dunia dan akhirat. Di dunia Allah angkat derajatnya di tengah-tengah umat manusia sesuai dengan tingkat amal yang dia tegakkan. Dan di akhirat akan Allah ang­ kat derajat mereka di Surga sesuai dengan derajat ilmu yang telah diamalkan dan didakwahkannya. Allah SWT dalam surat Mujadilah ayat 11 telah berfirman: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Itulah point-point penting yang bisa kita nukilkan, se­ moga­menjadi pendorong semangat bagi orang yang ber­ cita-cita menuntut ilmu guna mencapai kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. www.yayasantazakka.com


Dunia Santri DUNIA SANTRI LOMBA MTQ Salah satu upaya untuk menjaring bibit-bibit qori’ dan penghafal Al-Quran di Pondok Modern Tazakka, Bagian Jam’iyyatu-l-Qurro (JMQ) PM Tazakka mengadakan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) pada hari Senin (14/10). MTQ ini juga bertujuan untuk mendalami arti, makna, kandung­ an dan keindahan Al-Quran sekaligus meningkatkan ketaq­ waan kepada Allah SWT. MTQ ini melombakan tiga cabang, yaitu menghafal AlQuran (juz ‘amma), lomba membaca (tilawah) Al-Quran dan lomba adzan. MTQ merupakan perhelatan tahunan di Pon­ dok Modern Tazakka. Pada cabang hifdzil (hafalan) Quran juara pertama diraih Ibrohim Hanif Qowamun (1 Int B), dan juara dua diraih oleh Faiz Adel Farkhan (1B). Sedangkan untuk cabang tila­wah, juara pertama diraih oleh Alvinda Yunas (1 Int B), juara kedua­ oleh Ghufron Kamal (1E). Sementara untuk cabang adzan, juara pertama diraih oleh Badrul Jamal (1 Int B), dan juara 2 diraih oleh M. Zain Zaidane Rizqi (1B). (@dedi)

6

7

SEKIL AS INFO TAZAKKA TERIMA WAKAF MESIN FOTOKOPI

Menjelang mid semester, Pondok Modern Tazakka me­ nerima wakaf mesin fotokopi dari salah seorang ustadz (AF) yang mengabdi di Pondok Modern Tazakka (21/10). Meskipun rekondisi, kebe­radaan mesin fotokopi seharga 7 juta tersebut sangatlah membantu dan mendukung operasional kegiatan di Pondok Modern­Tazakka, karena intensitas penggandaan dokumen di pondok semakin meningkat, khususnya ketika masa ujian.­“Dengan adan­ ya mesin fotokopi ini, sekarang pondok­tidak perlu repot menggandakan soal-soal ujian di luar,” ungkap Ustadz Hakim, Ketua Panitia Mid Semester. “Atas nama Pimpinan Pondok Modern Tazakka kami meng­ucapkan terima kasih, teriring doa semoga seluruh kebaikan ini mendapat pa­ hala berlipat dari Allah SWT dan membawa keberkahan dalam hidup keluarga wakif,” ujar Ustadz Anang Rikza Masyhadi. (@henri)

SANTRI TAZAKKA RIHLAH KE GONTOR

Pada hari Kamis hingga Sabtu (3-5/10) lalu, Santri Pon­ dok Modern Tazakka melaksanakan Rihlah Tarbawiyyah (study tour) ke Pondok Modern Gontor. Kegiatan ini bertu­ juan untuk memperkenalkan kegiatan-kegiatan santri Pon­ dok Modern Gontor khususnya kegiatan Panggung Gembira kepada santri Tazakka. “Hakekat tujuan kegiatan ini bukan­ lah sekedar jalan-jalan, tetapi untuk mendidik santri-santri dengan melihat langsung santri-santri Gontor dalam mem­ persiapkan sebuah acara besar”, tutur Ustadz Edi Buana, S.Pd.I., salah satu guru pembimbing kegiatan ini. Kegiatan Rihlah ini diikuti oleh seluruh santri PM Tazakka yang ber­ jumlah 150 orang peserta dengan didampingi oleh asatidz pembimbing.­ (@syair)

VOCAL GROUP ANTAR KAMAR

Idul Adha di Pondok Modern Tazakka dimeriahkan oleh Lomba Folk Song Antar Kamar. Perlombaan Vocal Group Antarkamar ini membuat decak kagum para penonton yang terdiri dari santri, asatidz hingga tamu dari wali santri. Acara yang diselenggarakan setelah selesai Shalat Idul Adha ini dibuka oleh Al-Ustadz H. Anizar Masyhadi. Penon­ ton langsung dibuat terhibur oleh pembukaan yang berupa musik kolaborasi antara angklung, drum dan kulintang. Seluruh santri dari tiap-tiap kamar pun turut serta mem­ berikan kontribusi dalam acara ini. Dari mulai vokal, musik, dekorasi, hingga pernak-pernik yang digunakan pun se­ luruhnya merupakan hasil karya mereka, sehingga Vocal Group Antarkamar ini lebih meriah. Acara juga dimeriahkan oleh penampilan band dari para asatidz. Di akhir acara langsung diumumkan hasil perlombaan. Juara satu diraih oleh kamar 209, disusul oleh kamar 208 sebagai juara dua dan kamar 202 menjadi juara 3. Sedang­ kan predikat juara umum diraih oleh kamar 209. Selain itu juga ada pengumuman hasil perlombaan ke­ bersihan dan keindahan antar kamat. Kamar 202 menjadi kamar terbersih dan terindah, disusul kamar 203 sebagai juara dua dan kamar 201 meraih juara tiga. (@oky)

Edisi 31. Tahun ke-3. Dzulhijjah 1434 - Muharram 1435 H / Nopember 2013

AIR MINUM UNUK SANTRI

Santri Pondok Modern Tazakka kini bisa menikmati air minum produk sendiri. Sejak bulan September lalu, Bagian Dapur telah memasang alat penampung air dari mesin Reverse Osmosis. Sumber air minum itu berasal dari mata air yang merupakan wakaf salah seorang warga sekitar Pondok Modern Tazakka. Secara matematis kebutuhan air minum di PM Tazakka­per hari sekitar 400 liter dengan asumsi dua liter dikalikan dengan jumlah santri dan asatidz yang berjumlah kurang lebih 200 orang. Mesin Reverse Osmosis yang dimiliki Pondok Modern Tazakka ini mampu memproduksi hingga 1330 liter air murni per hari dengan TDS hanya 1-2 ppm, sehingga layak untuk dikonsumsi dan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum seluruh penghuni pondok. Dengan adanya mesin ini mudah-mudahan PM Tazakka bisa mendapatkan manfaat dari air yang sehat dan menyehatkan itu. (@tri)

Pondok Modern Tazakka mengadakan kegiatan ujian mid se­ mester atau dikenal dengan istilah “Al-Ikhtibaar al-‘Aam li al-Fashli al-Dirasy al-Awwal” pada Sabtu hingga­Rabu (19-23/10). Menghadapi kegiatan tersebut segenap guru dan siswa KMI Pondok Modern Tazakka memusatkan diri sepenuhnya untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin. Ujian ini bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan belajar mengajar yang telah berlangsung selama ini. Tujuan lainnya adalah untuk menciptakan miliu belajar di pondok. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari. Setiap hari para siswa dihadapkan pada tiga materi ujian yang diselingi dua kali waktu istirahat. Sementara itu, setiap materi yang diujikan diberi alokasi waktu selama satu jam penuh untuk diselesaikan para siswa. Jawa­ ban siswa langsung dikoreksi oleh pengawas dan nilai dari ujian tersebut langsung diumumkan pada hari itu juga. (@mi’dan)

UJIAN MID SEMESTER

www.yayasantazakka.com


8

IHWAL ANSHAR

9

RESENSI

JANGAN SALAT SENDIRIAN

SEBAIK-BAIK TEMAN DUDUK ADALAH BUKU

H. Pandu Sugiyanto

Ironis, jika kita lihat membaca belum menjadi tradisi yang membudaya di masyarakat Indonesia. Padahal, dunia telah mengakui bahwa budaya membaca merupakan tolak ukur yang paling nyata untuk menyebut bahwa sebuah bangsa itu merupakan bangsa yang maju dan beradab. Keprihatinan inilah yang mendorong H. Pandu Sugiyanto (76 tahun) untuk mendi­ rikan Perpustakaan Masyarakat dengan nama “Pandu Pustaka” pada tahun 2007, dengan tujuan untuk membantu masyarakat agar gemar membaca. Awal rintisan Pandu Pustaka ini juga tidak lepas dari hobi membaca pendirinya. Sebagai staf pen­ gajar di SMA Muhammadiyah 01 Pekajangan (1963-2004), beliau selalu menyisih­ kan sebagian rejekinya untuk membeli buku. Awalnya hanya sekedar untuk bacaan di kala senggang dan tambahan ilmu untuk bekal mengajar. Satu persatu koleksi bukunya semakin bertambah, hingga akhirnya beliau berinisia­tif untuk membuat semacam perpustakaan pribadi di rumah. Bagi salah seorang Anshar Tazakka yang aktif mendistribusikan Koran Mini Tazakka­ di wilayah Pekalongan ini, mengajar dan mendidik adalah sebuah amanah yang tak kenal pensiun dan ibadah terindah yang senantiasa dilakukan sepanjang hayatnya. Hingga masa purna ‘mengajar’ beliau, buku selalu menjadi teman setia setiap saat. Teman yang tak pernah marah walau dicaci, teman yang tak pernah menangis di saat sedih dan teman yang selalu membangun suasana pendampingnya. “Sebaik-baik te­ man duduk, adalah buku.” Katanya. Berkat ketekunan dan keikhlasan kakek 8 cucu itu, perpustakaannya berkembang dan manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat. Berbagai prestasi dan penghargaan telah diraihnya. Terbaru adalah Juara 1 Lomba Perpustakaan Masyarakat se-Kota Pekalongan dan Juara 1 Manajemen Perpustakaan. Dalam mengelola perpustakaannya itu, beliau menerapkan prinsip kejujuran. Mu­ lai dari proses meminjam, membayar biaya perawatan, dan mengembalikan buku, di­ lakukan sendiri oleh masyarakat tanpa diawasi oleh pengelola Pandu Pustaka. Oleh karena itu perpustakaan ini sering disebut sebagai ‘Perpustakaan Kejujuran’. “Ini un­ tuk melatih masyarakat berlaku jujur,” tegas Pak Pandu. (@henri)

Edisi 31. Tahun ke-3. Dzulhijjah 1434 - Muharram 1435 H / Nopember 2013

pentingnya salat berjamaah. Padahal salat berjamaah termasuk­sunah Rasulullah SAW dan bobot pahalanya 27 kali lipat daripada salat sendirian, bisa dikatakan orangorang yang salat sendirian tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya 1 derajat. Keutamaan lain dari salat berjamaah adalah pahala­ nya sesuai dengan jumlah makmum, makin banyak mak­ mumnya makin banyak pula pahala dan keutamaannya.

oleh: Ustadz Amin Khairul Abidin, S.Fil.I Guru Pondok Modern Tazakka Menegakkan salat lima waktu berjamaah di masjid merupakan ibadah mulia. Salat berjamaah ini termasuk sunnah Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang tidak pernah ditinggalkannya, kecuali jika ada uzur yang syar’i. Bahkan, ketika beliau sakit pun tetap melaksanakan salat berjamaah di masjid. Ketika sakitnya makin parah, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami sa­ habatnya. Para sahabat pun, bahkan ada yang dipapah oleh dua orang karena sakit untuk melaksanakan salat di masjid. Rasulullah SAW mewajibkan kepada Ibnu Ummi Mak­ tum RA yang sudah tua, buta, tidak ada penuntun, dan rumahnya pun jauh dari masjid serta banyak binatang buas untuk menghadiri salat berjamaah di masjid. Betapa agungnya ibadah salat berjamaah di masjid ini. Salah satu fungsi dibangunnya masjid adalah untuk menegakkan salat berjamaah di dalamnya. Namun kenya­ taannya sekarang, apabila kita menengok kondisi masjidmasjid yang ada, terlihat shaf makmum makin sedikit. Bahkan, ada beberapa masjid, yang tidak menegakkan salat berjamaah lima waktu secara penuh. Bagaimana mungkin mereka yang tinggal di sekitar masjid terse­ but dapat meraih seluruh keutamaan yang telah dijan­ jikan Allah SWT. dalam menegakkan salat berjamaah ini berupa­kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dan kelak dihari kiamat?

TEGAS BUKAN BERARTI KERAS Bagi santri-santri Pondok Modern Tazakka, nama Ustadz Ines rasanya sudah tidak asing lagi. Guru Pondok Modern Tazakka ini mendapat amanah dari Pimpinan Pondok untuk menjadi ketua Bagian Keamanan Pusat di PM Tazakka. Bagian Keamanan adalah bagian yang terdepan dalam mengawal tegaknya disiplin santri di PM Tazakka. Dalam menegakkan disiplin santri, ustadz kelahiran Ponorogo, 5 April 1993 ini berprinsip bahwa disiplin harus tegas, namun de­ mikian tidak berarti keras. Ustadz yang bercita-cita jadi seorang pakar hukum tata ne­ gara ini mengungkapkan bahwa tugas bagian keamanan sebagai penegak disiplin ini acapkali tidak disukai oleh para santri, karena terkesan sering menghukum santri-santri yang melanggar pera­ turan. Namun pemilih nama lengkap Ines Nur Afdhullah ini tetap ikhlas, karena tujuannya adalah untuk kebaikan seluruh penghuni pondok, yaitu terwujudnya ketertiban umum di PM Tazakka. Selama 24 jam penuh, para santri dididik dengan disiplin tinggi dalam berbagai kegiatan yang telah diprogram secara in­ tegral. Bagi Pondok Modern Tazakka, seluruh aktivitas yang ada di pondok merupakan pendidikan. Oleh sebab itu, pondok ini me­ nerapkan disiplin yang sangat tinggi dalam mendidik para santri. (@david)

Karya: Fahrur Mu’is

Ines Nur Afdhullah

Sungguh kondisi yang sangat memperihatinkan tat­ kala masjid-masjid megah dan mewah telah banyak dibangun, sementara penghuninya sangat sedikit. Orangorang malah lebih memilih untuk salat wajib lima waktu di rumahnya masing-masing. Apakah mereka tidak atau belum mengetahui bahwa orang-orang yang enggan melangkahkan kaki mereka ke masjid untuk menunaikan salat berjamaah termasuk kategori golongan orang-orang munafik? Mengapa mereka enggan menyeru panggilan muazin ketika waktu salat tiba? Tidak ada alasan syar’i yang dapat menghalangi mereka mendatangi masjid. Pa­ dahal, kecintaan dan rahmat Allah SWT telah lama me­ nanti di masjid andai mereka mendanginya. Salat berjamaah memiliki banyak keutamaan, tapi sa­ yang­ nya banyak kaum muslimin yang meremehkan

Orang-orang yang pergi ke masjid dan menunggu salat didirikan, mendapat dua keutamaan. Pertama, mereka akan memperoleh pahala sebagaimana orang yang se­ dang salat. Kedua, mereka akan didoakan para malaikat agar dosanya diampuni dan dirahmati. Aneka keutamaan yang diberikan Allah SWT tidak ternilai lagi harganya bagi mereka yang melaksanakan ibadah ini secara istiqamah. Selain mengupas secara tuntas keutamaan-keutamaan­ salat berjamaah di masjid, buku ini juga memaparkan kisah-kisah para sahabat yang senantiasa menjaga salat berjamaah yang bisa dijadikan teladan agar tetap is­ tiqamah dalam menjalankan salat berjamaah, dan anca­ man bagi orang-orang yang terbiasa melaksanakan salat wajib di rumah, serta balasan yang pantas akan diterima mereka di akhirat. Penulis juga mengupas tentang keutamaan salat dalam salat lima waktu. Diantara keutamaan salat subuh­dan isya’, yakni pahala salat satu malam penuh bagi yang me­ laksanakannya dengan berjamaah. Sebagaimana sabda­ Nabi SAW: “Barangsiapa mengerjakan salat Isya’ secara berjamaah, maka seolah-olah dia mengerjakan salat sete­ ngah malam. Dan barangsiapa mengerjakan salat Subuh secara berjamaah, seolah-olah dia melakukan salat satu malam penuh.” (HR. Muslim). Keutamaan kedua adalah, berada dalam jaminan Allah­. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengerjakan salat Subuh secara berjamaah, maka dia berada dalam jaminan Allah. Barangsiapa melanggar jaminan Allah, nis­ caya Allah menyungkurkan wajahnya di dalam neraka.” (HR. Thabrani) Keutamaan terakhir salat Subuh berjamaah adalah mendapatkan pahala haji dan umrah. Ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa mengerjakan salat Subuh secara berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian dia berdiri untuk melaksanakan salat dua rakaat, niscaya dia mendapatkan pahala haji dan umrah.” (HR. Thabrani) Untuk membantu para pembaca, buku ini juga me­ nyajikan panduan agar mudah dan sempurna menjalan­ kan salat berjamaah di masjid. Buku “Jangan Salat Sendirian” karya Fahrur Mu’is yang diterbitkan Tinta Media (2011) layak dijadikan rujukan­ bagi kaum muslimin. Karena dalam buku ini penulis­mem­ berikan banyak argumen mengenai pentingnya salat ber­ jamaah.

www.yayasantazakka.com


10

PROFIL

11

PROFIL

H. Soetadi, SH. MM.

“JUJUR ITU MUJUR” Kejujuran merupakan satu kata yang amat sederhana namun di zaman sekarang menjadi sesuatu yang langka dan sangat tinggi harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit, namun pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang bertolak belakang dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah akan tetap berpegang teguh, atau membiarkan tergilas oleh suatu keadaan. Banyak manfaat yang dapat dipetik ketika seseorang memegang prinsip kejujuran tersebut dengan konsisten. Sebagaimana yang dirasakan oleh wakil bupati Batang, Bapak H. Soetadi, SH.MM. (2012-2017). Beliau mengatakan, “Jujur itu pasti mujur, saya sudah membuktikannya”. Demikian salah satu petikan wawancara Redaktur Koran Mini Tazakka Edi Buana dan Henry Nur Rahmad dengan H. Soetadi, SH., MM. untuk mengetahui lebih lanjut, berikut wawancara lengkapnya:

Bagaimana pandangan Bapak terhadap profesi sebagai birokrat (pejabat publik)? Pejabat atau tidak sebenarnya sama, manusia kan se­ muanya sama dihadapan Allah. Jabatan bukanlah sebuah kekuatan untuk menguasai orang lain, tetapi lebih merupa­ kan tanggungjawab dan amanah dalam rangka mengabdi pada masyarakat, apapun kedudukan yang kita pangku, se­ harusnya dilandasi dengan kesadaran bahwa semua itu ada­ lah untuk pengabdian dan memberikan mafaat kepada orang banyak dan bukan mengejar kekuasaan dan ambisi pribadi. Saya mempunyai pengalaman pribadi yang menunjuk­ kan bahwa kita semua sama di hadapan Allah. Ketika saya masih berdinas di kecamatan Limpung, saya mendam­pingi Pak Bupati dan rombongan ibu-ibu PKK provinsi Jateng un­ tuk menilai kegiatan ibu-ibu PKK di Limpung. Hal tersebut membuat saya dan Pak Bupati terlambat sholat Jumat. Karena terlambat, kami tidak mendapatkan tempat di dalam masjid, akhir­nya kami harus menggelar sapu tangan di atas sandal untuk ikut Shalat Jum’at. Peristiwa tersebut sangat berkesan bagi saya, hikmah yang saya ambil bahwa semua manusia itu sama, lha wong Pak Bupati saja kalau ketinggal­an sholat di masjid harus rela shalat di shaf belakang, menggelar sapu tangan diatas sandal. Bagaimana sosok pejabat publik yang bersih? Pejabat yang bersih adalah yang bekerja dengan sung­ guh-sungguh, jujur dan ikhlas mengabdi kepada masyarakat. Hanya mengambil haknya, bukan yang meng­ambil hak orang lain. Barometernya adalah kemakmuran rakyatnya. Ada ung­ kapan yang keliru di kalangan masyarakat, bahwa “orang jujur akan hancur”. Saya sudah membuktikan bahwa jujur itu mu­ jur. Pada saat menjabat sebagai camat, kalau ada pemilihan kepala desa biasanya dapat amplop dari para calon kepala desa, itu tidak saya ambil, saya terima tapi saya kembalikan lagi, karena itu bukan hak saya, dana tersebut akan lebih ber­ manfaat kalau digunakan untuk biaya calon tersebut maju pilkades. Namun, ketika saya berkunjung ke desa-desa, atau ketika panen, alhamdulillah banyak yang kirim-kirim hasil panen, atau kebun yang kalau dihitung lebih banyak dari amplop tadi. Jadi pejabat yang baik itu bukan yang banyak kemauannya, minta ini itu, sok memerintah, keras, tetapi yang mampu berkomunikasi dan mampu bekerjasama dengan masyarakat untuk kemajuan dan kemakmuran bersama. Bagaimana mewujudkan birokrasi bersih di Batang? Keteladanan adalah kuncinya. Kami memberi contoh yang riil, kami tidak menerima dana sogokan perizinan apapun, Edisi 31. Tahun ke-3. Dzulhijjah 1434 - Muharram 1435 H / Nopember 2013

kalaupun ada yang izin ya ke kantor perizinan, kami hanya menyetujui bila sudah sesuai dengan prosedur, dan kami tidak menerima upeti-upeti untuk memuluskan perizinan. Selain itu kami berusaha menerapkan sistem clean goverment, metode kontrol, cek lapangan juga memanggil rekanan proyek untuk evaluasi. Anggaran yang keluar harus sesuai dengan kualitas bangunan yang dibagun. Sehingga saya ber­ harap, dapat meninggalkan sistem dan metode birokrasi yang bersih, selain meninggalkan hal-hal yang bersifat monumen. Apa pedoman dalam menjalankan tugas? Saya mengerjakan tugas dengan sekuat tenaga, semaksi­ mal mungkin, namun jika tidak mampu tidak perlu dipaksa. Bukan berarti menyerah, namun kita berkonsultasi, merang­ kul dan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk dapat ter­ laksananya tugas tersebut. Saya ini bukan orang pintar yang bisa menyelesaikan masalah sendirian, tapi dengan bersamasama, dengan itikad baik dan kesungguhan maka sinergi itu akan menyelesaikan permasalahan. Saya tidak berfikir, keun­ tungan apa yang bisa saya ambil, tapi yang saya utamakan adalah apa yang dapat saya lakukan untuk masyarakat. Prinsip hidup yang Bapak jalani? Prinsip hidup saya itu mengalir bagaikan air, tenang dan pasti terus mengalir. Bila ada yang menghadang, air kan tetap mengalir, misal dihadang tembok, air akan naik dan kemudian terus mengalir. Jadi ikutilah iramanya. Saya ini bukan orang pintar, bukan orang yang memiliki banyak harta, perlu diketa­ hui saya ini sampai sekarang belum memiliki rumah sendiri, rumah yang saya tempati itu rumah mertua saya. Tapi alhamdulillah, saya ini ba­nyak bejonya. Ini yang saya syukuri. Bagaimana pandangan Bapak tentang pendidikan di kabupaten Batang? Pendidikan di Batang harus maju, untuk wajar dikdas,­dan wajib belajar 12 tahun, sudah bagus, namun meskipun de­ mikian tetap harus ditingkatkan. yang menjadi keprihatinan adalah belum adanya wadah perguruan­tinggi yang menam­ pung lulusan-lulusan SMA dan Madrasah­Aliyah kita, mereka harus keluar daerah untuk mengenyam pendidikan pergu­ ruan tinggi. Oleh karena itu di Batang ini sedang kita rintis sebuah pendidikan paska SMA/MA yang kita harapkan dapat menjadi perguruan tinggi di Batang. Mohon doanya semoga hal ini cepat terealisasi secepatnya. Bagaimana tentang pendidikan di pondok pesantren? Pesantren bagaikan oase dalam kekeringan, di Batang ini sudah ada banyak pesantren, ada yang modern, meskipun

Kami memberi contoh yang riil, kami tidak menerima dana sogokan perizinan apapun, kalaupun ada yang izin ya ke kantor perizinan, kami hanya menyetujui bila sudah sesuai dengan prosedur, dan kami tidak menerima upeti-upeti untuk memuluskan perizinan

lebih banyak yang tradisional. Tetapi, sudah banyak pesa­n­ tren di Batang yang bangkit, yang tidak hanya mengajar men­ gaji, namun sudah mendirikan sekolah, sehingga santri-santri tidak hanya cakap mengaji, tapi juga bisa belajar pelajaran umum. Tentang Pondok Modern Tazakka, bagaimana kesan Bapak?­ Pondok Modern Tazakka merupakan sesuatu yang baru bagi kami, dikelola oleh anak-anak muda yang memiliki citacita dan etos kerja yang tinggi. Yang sangat berkesan bagi kami, Tazakka ini terbuka untuk semua golongan dan bukan hanya untuk golongan tertentu. Sehingga dapat merangkul berbagai pihak dan bersatu membangun sumber daya ma­ nusia bangsa Indonesia yang maju. Hal yang sangat berke­ san adalah, komitmen dalam memajukan bangsa ini dengan membangun SDM yang bukan hanya berakhlak karimah/ berkarakter tetapi juga cakap keilmuan. Sekarang ini banyak sekolah yang hanya mementingkan prestasi akademis tetapi menyampingkan pendidikan karakter ini. Tazakka­berbeda, disini ditekankan kepada pendidikan karakter, bukan sekedar pengajaran.

Harapan Bapak dengan adanya Pondok Modern Tazakka­di Batang? Harapan saya, Pondok Modern Tazakka terus maju dan berkembang dan dapat mencetak generasi muslim yang mampu untuk menjadi pemimpin pada masa yang akan da­ tang. Memiliki wawasan yang luas dan juga memiliki nasional­ isme yang tinggi sehingga dapat membangun Bangsa ini, khususnya Batang, Batang bisa bangkit.

BIODATA: Nama : H. Soetadi, SH. MM Tempat Lahir : Boyolali, 02 Agustus 1953 Alamat : Jl A. Yani No. 02 Kauman, Batang Istri : Hj. Hasti Widayati, S.IP Anak: 1. Noveka Dihasmara, SE 2. Dwi Angga Dihasmara 3. Ajeng Triana Dihasmara Pendidikan Formal 1. SD Negeri Solo (1965) 2. SMP Negeri 6 Solo (1968) 3. SMA Negeri 1 Solo (1971) 4. APDN Semarang (1975) 5. Fakultas Hukum Universitas Pekalongan (1998) 6. S2 Management, Universitas Trianandra Jakarta (2004) Karir: Mantri Polisi Pamong Praja Kec. Limpung (1977) Camat Warungasem (1983) Camat Subah (1987) Camat Limpung (1993) Kepala Bagian Pemerintahan Desa (1997) Asisten Administrasi (1999) Kepala Bappeda (2001) Sekretaris Daerah (2004-2009) Wakil Bupati Batang (2012-2017)

www.yayasantazakka.com


12

KISAH

Muhammad Maftuh Basyuni, SH.

DIPLOMAT ULUNG JEBOLAN PESANTREN Muhammad Maftuh Basyuni lahir di Rembang, Jawa Tengah, 4 November 1939. Ia merupakan anak kedua dari pasangan KH. Basyuni Masykur dan Hj. Siti Mardiyah. Pendidikan Maftuh penuh di dunia pesantren. Setelah lulus SMP 1 Rembang, ia melanjutkan Pondok Modern­ Gontor, Ponorogo, kemudian ke Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Usai dari pesantren, Maftuh melanjut­ kan pendidikan kesarjanaannya di Madinah, Saudi Arabia. Berbagai posisi birokrasi pernah ditempati Maftuh. Rupa­­­nya, darah birokrat ayah kandungnya, Basyuni Masy­ kur­yang pernah menjabat sebagai Kabag Kesra Pem­da Rem­bang mengalir dalam dirinya. Maftuh pernah men­jabat Kepala Rumah Tangga Kepresidenan sepanjang peme­ rintahan Presiden Soeharto hingga BJ Habibie. Kemudian menjadi Duta Besar di Kuwait dan Oman. Karier diplomasinya sangat cemerlang, dan karena itu­­lah Presiden Abdurrahman Wahid meliriknya lalu menariknya­ menjadi Menteri Sekretaris Negara. Saat Megawati Soe­ karnoputri menggantikan Gus Dur, dia diserahi tugas baru sebagai Duta Besar di Arab Saudi. Ketika ditanya tentang latar belakang yang mendorong dirinya meniti karir di birokrat dan diplomat, padahal ia lahir dan dibesarkan dari keluarga santri, Maftuh hanya menjawab, “Jadi, begini, dulu di daerah saya itu sudah biasa kalau sekolah itu dua kali: pagi sekolah umum dan siangnya madrasah dan itu saya lakukan sampai dengan SMP. Pada saat SMP selesai saya tidak boleh melanjutkan karena santri kok tidak bisa membaca kitab. Oleh uwak (paman) saya tidak boleh melanjutkan sekolah kecuali ke Pondok Pesantren. Mulai saya cari dari Nganjuk, Jombang, akhirnya sampai di Gontor. Nah, waktu itu saya tertarik ke Gontor karena malam harinya ada pelajaran muhadlarah (pidato) dalam bahasa Arab,” ujarnya. “Waktu itu zamannya Hafidz Dasuki (almarhum), orang­ nya kecil tapi ngomongnya enak. Pokoknya saya tertarik. Terus hari berikutnya ada muhadlarah pakai bahasa Ing­ gris, wah lebih tertarik lagi. Akhirnya saya masuk Gontor tahun 1957. Dan di Gontor itu karena disebutnya Pesan­ tren Modern ada satu kewajiban bicara hanya pakai bahasa Arab dan Inggris, itu yang membuat saya tertarik dan akhir­ nya­memutuskan nyantri di situ” lanjutnya. Setelah dari Gontor ia melanjutkan pendidikannya ke­ Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta. Tidak lama di Krapyak, ia pun hijrah ke Jakarta; tujuh bulan­ter­ catat sebagai mahasiswa Fakultas Sastra UI, Maftuh ber­ tolak ke Arab Saudi untuk belajar di Madinah. Sebelum Edisi 31. Tahun ke-3. Dzulhijjah 1434 - Muharram 1435 H / Nopember 2013

berangkat ke Arab Saudi, ia pernah bekerja sebagai guru di Departeman Agama sejak 1960. Setelah dua tahun mengajar, Maftuh memperoleh beasiswa untuk belajar di Universitas Madinah, Arab Saudi, dengan status cuti di luar tanggungan. Setelah lulus dari Madinah pada tahun 1968, ia lalu menjadi staf Kedutaan Besar di KBRI Arab Saudi. Sempat pula bekerja di KBRI Jordania dan KBRI Maroko, karier diplomatiknya mulai terlihat saat dipercaya sebagai Wakil Komandan Garuda VIII pada 1969. Saat itu ia terkena pro­ gram wajib militer dengan pangkat letnan satu. Ia baru kembali ke Jakarta pada 1972. Sekembalinya ke tanah air dari Arab Saudi ia sempat ka­ get. Nama dan NIP-nya di Departemen Agama sudah tidak ada lagi. Padahal ia ke luar negeri waktu itu masih seba­ gai pegawai Depag dengan status cuti. Namun pada waktu yang hampir bersamaan ada tamu dari luar negeri yaitu Wakil Presiden Irak, Saddam Husein (waktu itu masih Wakil Presiden), maka, karena kepiawaiannya dalam bahasa Arab dan Inggris, Maftuh pun ditunjuk menjadi penerjemah dan di situ ia memperoleh banyak informasi kalau dirinya bisa masuk ke Departemen Luar Negeri. Akhirnya ia mendaftar di Deplu dan diterima. “Jadi saya di Deplu itu setelah gagal lagi di Depag. Karena nama saya sebagai pegawai di Depag itu nggak ada, padahal suratsurat saya lengkap semua. Saya ikut ujian masuk diplomat, bisa masuk dan kemudian ditempatkan di Saudi lagi seba­ gai Sekretaris Pribadi (Sespri) Duta Besar” kenangnya. Dari situlah Maftuh mulai meniti karier diplomatiknya. Pos diplomatik terakhir yang diembannya adalah sebagai Duta Besar Indonesia di Arab Saudi. Peralihan jabatan ini berkebalikan dengan mertuanya, KH. Muhammad Ilyas, yang lebih dulu menjabat Menteri Agama baru kemudian ditugaskan menjadi Duta Besar di Arab Saudi. Sedangkan dirinya, Duta Besar RI untuk Arab Saudi kemudian menjadi Menteri Agama. Maftuh mengakui bahwa ia menemukan jodohnya Maftuh ketika belajar di Arab Saudi. Gadis yang disun­ tingnya, Wiwik Zakiah adalah putri KH. Muhammad Ilyas yang saat itu adalah sebagai Duta Besar. Pasangan MaftuhWiwik itu kini dikaruniai empat anak, yaitu Eko Ahmad Is­ mail Basyuni, SH. LLM, Mouna Fakhriani Basyuni, SPd, MA, Nabil Basyuni, SH, dan Irfan Fakhrianto Basyuni. Jabatan struktural terakhir Maftuh adalah menjadi Men­ teri Agama. “Memang waktu itu banyak orang yang mau mencalonkan saya jadi menteri, tapi saya selalu menjawab

13

KISAH

tidak mau, alasannya takut dijualbelikan. Presiden terpilih­ lah yang nanti akan menilai saya: kapabilitas saya itu beliau yang harus menilai. Caranya bagaimana? Tentunya beliau akan cari tahu. Dan memang sebelumnya saya sudah ke­ nal karena sering ketemu. Karena orang umrah itu banyak apalagi saya sebagai Duta Besar, paling tidak mereka itu kita bantu.” lanjutnya. “Saya pernah bicara, ketika sudah dipilih sebagai salah satu calon untuk menteri, saya hanya titip pesan saja un­ tuk masalah-masalah TKI ini, karena sepanjang pemerintah Indonesia tidak bisa menguasai para PJTKI selama itu pula tidak mungkin dapat diselesaikan persoalan-persoalan yang ada di mancanegara itu, khususnya di Saudi Arabia.” pesannya. Ia menambahkan bahwa persoalan TKI akan se­ lalu timbul kalau PJTKI ini tidak patuh kepada pemerintah. Artinya, memenuhi tuntutan-tuntutan yang digariskan di dalam peraturan-peraturan pemerintah. Untuk haji, selama itu tidak seperti yang digariskan, jangan harap haji akan beres. Pesan tersebut ia sampaikan kepada presiden SBY. Setelah diangkat oleh Presiden SBY sebagai Menteri Agama pada 2004, berbagai gebrakan langsung dilakukan Maftuh. Mantan Duta Besar RI untuk Arab Saudi ini menga­ takan, Departemen Agama harus menjadi contoh bagi de­ partemen lainnya. Menurutnya, Depag sangat lekat de­ngan kata agama yang berarti mengajak orang untuk berbuat kebaikan. Karena itu, Depag harus jadi contoh bagi depar­ temen lainnya. Sebab, ia mendengar dari pemberitaan me­ dia massa, banyak terjadi korupsi di departemen tersebut. Menurut Maftuh, untuk merapikan berbagai permasalahan yang ada di Departemen Agama, memang tidak gampang dan ia tidak boleh grusa-grusu. “Oleh karena itu saya per­ nah kumpulkan para mantan Menteri Agama; Mantan-­ mantan kan, nothing to lose. Sebab dalam mengambil kebi­ jakan saya tidak boleh gegabah.” ujar Maftuh. Diantara kebijakannya antara lain ia tak lagi memberi fasilitas haji bagi para menteri, pejabat, dan anggota DPR.

© www.yayasantazakka.com

‘’Cukup besar penghematan dana yang kita peroleh de­ ngan mengurangi fasilitas bagi para pejabat itu,’’ katanya dalam wawancara dengan salah satu tabloid. “Saya putus­ kan Menteri Agama dan jajarannya tidak boleh lagi ikut naik haji. Saya sebagai Menteri Agama, Dirjen, dan Direktur yang biasanya musim haji ‘bedhol’ desa ke sana, sekarang tidak ada lagi. Pejabat negara silakan ke sana tetapi kita tidak memberikan fasilitas,” tambahnya. Ia juga membuat gebrakan baru mengenai ONH-Plus yang selama ini kurang terkontrol. Ia kumpulkan seluruh operator yang jumlahnya mencapai 400, dan menetapkan standar biaya ONH-Plus. Sebagai Menag, Maftuh ingin memastikan supaya pelak­ sanaan haji betul-betul diteliti dengan baik. Setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) periode 2004-2009, dia banyak aktif dan mengurusi umat di Masjid Agung At-Tin, Jakarta Timur, dan sesekali menengok pondok pesantrennya di Desa Cigelis, Pandenglang, Banten. Pada tahun 2011, Maftuh Basyuni juga kembali mendapat ke­ percayaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menjadi Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan WNI di Luar Negeri yang Terancam Hukuman Mati melalui Keppres pada Juli 2011 (dimana salah seorang anggotanya adalah KH. Anang Rikza Masyhadi, MA). Bersama Tim Ang­ gota Satgas, Maftuh bekerja selama kurang lebih enam bu­ lan sejak Keppres diterbitkan. Dia didampingi wakil, yaitu mantan Kapolri (Purn) Jenderal Bambang Hendarso Da­ nuri, mantan Jaksa Agung Hendarman Supandji dan man­ tan Utusan Khusus Presiden di Timur Tengah, Prof. Dr. Alwi Sihab. Di akhir masa tugas Satgas, Maftuh dipuji oleh Presi­ den karena prestasinya membebaskan WNI dari masalah hukum di LN. Oleh banyak kalangan di negeri ini, Maftuh diakui sebagai kenal sebagai diplomat ulung dan ahli lobi. Ya, diplomat ulung yang jebolan pesantren.

© www.foto.okezone.com

Memang wak tu itu banyak orang yang mau mencalonkan saya jadi menteri, tapi saya selalu menjawab tidak mau, alasannya tak ut dijualbelikan. Presiden terpilihlah yang nanti akan menilai saya: kapabilitas saya itu beliau yang harus menilai www.yayasantazakka.com


TAUSIYAH

Mauqif

KH. Hasan Abdullah Sahal

KH. Anang Rikza Masyhadi

HINDARI SYIRIK KECIL Saya pernah bertanya kepada seseorang yang saya ke­ nal baik dan kebetulan dia seorang ustadz. Dia bercerita, ada orang yang naik pohon kelapa. Sesampainya di atas, arit yang dibawanya jatuh ke tanah. Lalu orang itu mengu­ capkan “Alhamdulillah”. Lho, artinya jatuh dari pohon kok malah mengucapkan “Alhamdulillah”? Padahal arit itu mau digunakan untuk mengambil buah kelapa atau memotong dahannya. Saya bertanya kepada ustadz tersebut, Ustadz apakah boleh mengucapakan ‘alhamdulillah’ untuk hal itu? Harusnya kan mengucapkan “innalillah wa inna ilaihi raji’un” atau “astagfirullah al a’zhim.” Dengan nada enteng ustadz itu menjawab, “mengatakan ‘Alhamdulillah’ dimana saja boleh.” Saya berpikir kok boleh? Kenapa mengatakan ‘Alhamdulillah’ untuk hal seperti itu boleh? Ternyata sejelek-jelek­ nya nasib orang kalau masih mengatakan “Alhamdulillah” berarti dia masih mempunyai Allah, mempunyai pujaan. Jangan sampai manusia tidak mempunyai pujaan. Penyakit manusia yang tidak memiliki pujaan adalah memuja dirinya sendiri. Memuja dirinya sendiri adalah takabbur (sombong) dan bentuk dari korupsi sifat-sifat Allah ta’ala. Orang yang masih mengharapkan pujaan dari orang lain itu musyrik shaghir, asy-syirkul asghar (syirik kecil) ini bagi orang yang masih butuh dipuji ya, bukan berarti dipuji itu tidak bolehkan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai orang yang berbuat baik lalu dipuji. Apakah pahalanya di akhirat kelak masih ada atau tidak? Jawabnya, itu termasuk pahala muqaddam, pahala yang didahulukan. Dan kelak nanti di akhirat dia masih tetap akan mendapatkan pahalanya. Jadi tidak salah kita beramal shalih dan kita berbuat baik lalu orang lain memuji kita. Itu tidak apa-apa. Kalau kita ber­ buat baik bertujuan untuk dipuji atau ingin dipuji itu syirik asghar namanya. Perbuatan baik seperti ini tidak ada guna­ nya, seperti omong kosong, fatamorgana, sarab, mega, sayap, yang tidak ada apa-apanya. Di dalam al-Quran dikatakan: “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka

Orang yang masih mengharapkan pujaan dari orang lain itu musyrik shaghir, asysyirkul asghar (syirik kecil) ini bagi orang yang masih butuh dipuji ya, bukan berarti dipuji itu tidak bolehkan

Edisi 31. Tahun ke-3. Dzulhijjah 1434 - Muharram 1435 H / Nopember 2013

usahakan (di dunia). yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Ibrahim [14]: 18) “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sa­ngat cepat perhitungan-Nya.” (QS. An-Nuur[24]: 39) Itulah perumpamaan perbuatan orang-orang kafir, ibarat fatamorgana atau bahasa jawanya amun-amun. Fatamorgana itu seperti angin berombak-ombak di tengah padang pasir.

Dengarkan baik-baik, pesantren tidak berada di bawah PBB, UNESCO, ASEAN, Republik Indonesia, Kemendikbud atau kemenag atau gubernur. Di atas kita hanya Allah dan di bawah kita hanya tanah atau bumi, dan kita akan kembali ke tanah. Orang kafir, orang yang tidak percaya kepada Allah, pasti menyesal karena ia dimintai pertanggungjawaban, maka ia berkata ingin menjadi pasir. “Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: Alangkah baiknya Sekiranya dahulu adalah tanah.” (QS. An-Naba[78]: 40) Orang kafir, meski ia memberi beasiswa kepada ribuan orang, meski mengobati ribuan orang sakit sampai sembuh, meski mengaspal jalan ribuan kilometer, dan meski memberi makanan ribuan orang dalam ribuan hari, dia tidak mempu­ nyai jatah sejengkal pun di surga. Ini gunanya Laa Ilahaa Illallah. Harus betul-betul inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil a’lamin. Ini harus dipraktikan, dipa­ kai, dan diwujudkan. Ini bukan nasihat saya. Tapi ini adalah bacaan kamu yang harus kamu pakai untuk dirimu dan kamu praktikan lillahi rabbil a’lamin. Saya makan, berpakaian, berjalan, menghormati guru, menjawab soal-soal dalam ujian, dan sebagainya lillahi rabbil­ a’lamin. Ini tidak ada di luar Islam. Inilah keistimewaan Islam­dan pesantren. Perhatikan baik-baik, pesantren tidak berada di bawah PBB, UNESCO, ASEAN, Republik Indonesia, Kemendikbud atau Kemenag atau gubernur. Di atas kita hanya Allah dan di bawah kita hanya tanah atau bumi, dan kita akan kembali ke tanah.

MEMAKNAI KEMABRURAN HAJI Dalam sebuah Hadis Shahih, haji mabrur, kata Rasul, pahalanya tiada lain adalah surga. Rasulullah SAW bersabda: “Haji Mabrur tiada pahala yang layak kecuali surga.” Para sahabat bertanya: Apakah haji mabrur itu, wahai Nabi? Rasul menjawab: “Memberi makan dan menebar salam” (HR. Ahmad) Pertanyaan para sahabat itu karena mereka ingin mengetahui lebih jelas dan detail mengenai ciri-ciri dan karakteristik haji ma­ brur, atau, barangkali Rasul mau mencontohkan sosok haji mabrur diantara sahabat yang ada. Ternyata, dijawab oleh Nabi dengan singkat padat: memberi makan dan menebar salam. Beberapa sahabat yang hadir sedikit terkejut mendengar jawab­an Nabi itu. Mengapa Nabi tidak menyebut ciri mabrur de­ ngan, misalnya, orang yang sepulang haji lebih rajin shalatnya atau lebih khusyu dzikirnya; yaitu ukuran-ukuran yang sangat individu dan subyektif. Melainkan Nabi justru menyebut dengan menggu­ nakan ukuran-ukuran sosial: memberi makan dan menebar salam. Shalat, puasa, dzikir dan sejenisnya adalah bagian tak terpi­ sahkan dari sistem keimanan dan keislaman seseorang. Seorang muslim, sebelum berhaji pun, dituntut mengerjakan shalat, puasa, zakat, zikir dan ibadah-ibadah formal lainnya, maka sepulangnya dari ibadah haji mestinya secara otomatis kualitas dan kuantitas ibadah-ibadah tadi harus meningkat. Adalah hal aneh dan keliru besar jika seorang haji kualitas ibadahnya malah menurun. Nabi justru ingin mengarahkan kemabruran kepada sesuatu di luar diri kita dan berorientasi sosial kemasyarakatan. “Memberi makan” yang menjadi ciri pertama haji mabrur tidak saja dalam pengertian harfiah menyediakan makanan kepada orang lain, tetapi memiliki makna yang lebih luas, yaitu menyejahterakan. Se­ seorang dikatakan sejahtera hidupnya apabila ia dapat memenuhi kebutuhan makanannya. Artinya, haji mabrur adalah haji yang kepulangannya ke Tanah Air memiliki komitmen tinggi pada kesejahteraan masyarakat, yaitu dengan menunjukkan kepedulian dan sikap empati terhadap pen­ deritaan orang lain. Ia akan menjadi pribadi dermawan yang senan­ tiasa ringan tangan mengulurkan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan. Sementara itu, “menebar salam” yang menjadi ciri kedua dari haji mabrur bermakna pada ketenteraman dan kedamaian sosial. “As-salaam” itu sendiri maknanya adalah kedamaian, maka dalam Al-Quran surga disebut juga dengan “Daarus-Salaam” (Kampung Damai). “As-Salaam” juga merupakan salah satu Nama Suci Allah. Dalam hadis itu, Rasul menggunakan kata “menebar” (ifsyaa’), bukan “mengucapkan” (ilqaa’). “Ifsyaa” (menebar) dan “ilqaa’” (mengucapkan) memiliki makna yang berbeda. Jika dua orang ber­ temu lalu saling mengucapkan salam dan menyapa, maka disebut “ilqaa’us-salaam”. Sedangkan “ifsyaa’” bermakna menebar, mem­ pengaruhi dan mensosialisasikan. Maka, menebar salam artinya menebar ketenteraman dan ke­ damaian di masyarakat. Dengan demikian haji mabrur adalah haji yang kepulangannya ke Tanah Air dituntut mampu membawa ke­ tenteraman dan kedamaian bagi lingkungannya. Pendeknya, ciri haji mabrur seperti yang ditandaskan oleh Ra­ sulullah SAW itu, memberi makan dan menebar salam, adalah sikap

yang menunjukkan kepedulian, empati dan sikap-sikap yang mem­ bawa pada ketenteraman dan kedamaian di masyarakat. Maka, jika sekembalinya dari Tanah Suci seorang haji malah menunjukkan sikap acuh, tak peduli, anti-sosial, dan bahkan keha­ dirannya menyebabkan keresahan dan kegaduhan di masyarakat, maka kemabrurannya perlu dipertanyakan, karena tidak sesuai dengan kriteria kemabruran dari Rasulullah SAW. Bukan termasuk haji mabrur jika menunjukkan sikap semakin pelit, semakin angkuh, dan memposisikan dirinya lebih tinggi di hadapan orang banyak dengan menuntut perlakuan istimewa dari masyarakat. Sikap-sikap anti sosial yang berpotensi menimbulkan keresahan­ dan kegaduhan di masyarakat, sebetulnya telah diajarkan pula ke­ tika seseorang sedang melaksanakan ibadah hajinya. Yaitu larang­ an berkata dan bersikap tak senonoh yang mengandung pornografi dan pornoaksi (rafats), larangan bertindak yang dapat merusak ta­ tanan sosial (fusuq), dan larangan berbantah-bantahan yang dapat menyebabkan perpecahan dan permusuhan di masyarakat (jidal). “Barangsiapa yang mengerjakan haji di Baitullah, maka tidak boleh rafats, fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197) Dalam Hadis ditegaskan lagi: “Barangsiapa yang berhaji dan dia tidak berbuat rafats dan fasik, maka ia akan kembali (bersih dari dosa) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Muttafaq alaih) Jika semuanya itu mampu dipahami, dihayati dan diamalkan oleh setiap haji, maka selain akan mendapatkan kemabruran den­ gan janji pahala surga dari Allah, sudah barang tentu kehadirannya sungguh sangat dinantikan masyarakat. Kata “mabrur” itu sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah mendapat kebaikan. Seperti halnya “birrul-waalidain” bermakna berbuat baik kepada orang tua (birr = mabrur). Dengan demikian, haji mabrur adalah haji yang mendapat kebaikan. Kafilah haji bangsa Indonesia merupakan yang terbesar di du­ nia, yaitu sekitar 220 ribu orang tiap tahunnya. Artinya, setiap ta­ hun bangsa ini akan selalu kedatangan sekitar 220 ribu anggota masyarakat baru yang siap menebar kebaikan melalui sikap keder­ mawanan dan kesantunannya yang diliputi dengan sikap kasih sa­yang kepada sesama. Maka, alangkah sejahtera dan damainya negeri­ini jika mereka semua benar-benar kembali membawa predikat haji mabrur seperti yang diharapkan Rasul itu. Karenanya, haji mabrur adalah aset sekaligus potensi besar yang dimiliki bang­ sa ini. Semoga!­

“Haji Mabrur tiada pahala yang layak kecuali surga.” Para sahabat bertanya: Apakah haji mabrur itu, wahai Nabi? Rasul menjawab: “Memberi makan dan menebar salam” (HR. Ahmad) Alangkah sejahtera dan damainya negeri ini jika mereka semua benar-benar kembali membawa predikat haji mabrur seperti yang diharapkan Rasul itu. Karenanya, haji mabrur adalah aset sekaligus potensi besar yang dimiliki bangsa ini. www.yayasantazakka.com


16

GALERI

17

YAYASAN

Ustadz Anizar Masyhadi dan Bapak Teguh Suhadi, bersama Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono, M.MA dan Wakil Walikota Pekalongan (5/10)

Kakanmenag Batang, Drs. H. Moch. Bisri, M.Ag saat memberikan kuliah umum di depan santri Pondok Modern Tazakka (17/10)

Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy:

‘Generasi Perdana Menatap Masa Depan Bangsa’

Penyambutan kedatangan jamaah haji KBIH Muzdalifah di Masjid Az-Zaky Pondok Modern Tazakka (24/10)

KH. Hanif Hafidz saat membimbing jamaah KBIH Muzdalifah.

Ustadz Anizar sedang berbincang dengan Kakanmenag Batang, Drs. H. Moch. Bisri, M.Ag. dan Kasi Garahajum, Drs. H. Darwanto saat kunjungan pembinaan KBIH Muzdalifah (10/10)

Pondok Modern Tazakka mengadakan Kuliah Umum Khutbatul ‘Arsy, pada Ahad malam (29/9). Khutbatul ‘Arsy ini meru­ pakan kegiatan wajib yang diikuti oleh seluruh santri, asatidz dan anshar Tazakka. Khutbatul ‘Arsy tahun ini mengambil tema “Generasi Perdana Menatap Masa Depan Bangsa.” Dengan tema itu Tazakka bertekad untuk terus mendidik para santri agar dapat menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Rangkaian Khutbatul Arsy dimulai sejak Ahad pagi yaitu dengan menggelar Apel Tahunan. “Khutbatul ‘Arsy adalah khutbah tertinggi di lingkungan Pondok Modern Tazakka; mem­bahas segala pemahaman tentang pondok meliputi visi, misi, nilai-nilai, falsafah hidup, orientasi, strategi, dan seluruh aspek kehidupan yang ada di Pondok Modern Tazakka” ujar Pimpinan Pondok Modern Tazakka, KH. Anang Rikza Masyhadi saat menyampaikan amanat pada Apel Tahunan di halaman Gedung Rabithah. Hal senada disampaikan oleh Ustadz H. Anizar Masyhadi­ bahwa melalui Khutbatul ‘Arsy ini seluruh komponen mende­ ngarkan arahan dari Pimpinan Pondok agar tidak salah langkah dalam memahami, menghayati dan ikut berjuang di dalam­nya. “Jangan sampai ada ustadz, santri dan anshar Tazakka­tidak pa­ ham visi dan misi Tazakka, dan tidak mengerti falsafah hidup serta nilai-nilai yang akan diperjuangkannya” ujarnya. Usai amanat, Pimpinan Pondok melakukan inspeksi ba­ risan didampingi oleh Para Ketua Lembaga di PM Tazakka: Direktur Utama Amal Usaha, Direktur Pengasuhan Santri dan Direktur KMI. Setelah itu dilanjutkan dengan parade barisan

“Khutbatul ‘Arsy adalah khutbah tertinggi di lingkungan Pondok Modern Tazakka; membahas segala pemahaman tentang pondok meliputi visi, misi, nilai-nilai, falsafah hidup, orientasi, strategi, dan seluruh aspek kehidupan yang ada di Pondok Modern Tazakka” (KH. Anang Rikza Masyhadi, Pimpinan Pondok Modern Tazakka) Edisi 31. Tahun ke-3. Dzulhijjah 1434 - Muharram 1435 H / Nopember 2013

yang terdiri dari barisan Persatuan Bela Diri Tazakka (Perbeta), Persatuan Senam Tazakka (Persata), Tazakka Body Building Gymnasium (TBBG), barisan kostum ihram, barisan pakaian ke masjid, barisan seragam muhadharoh, barisan pakaian belajar malam, barisan kaos rayon dan barisan kaos klub olahraga. Kemudian dilanjutkan dengan barisan tiap-tiap konsulat yang meliputi; konsulat Sumatera, Bandung, Bogor, Banten, Bekasi, Cirebon, DKI Jakarta, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Banyumas, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Kalimantan dan Sulawesi-Maluku-Papua (Sumalia). Barisan terakhir adalah barisan mobil dan motor milik PM Tazakka yang dihias. Setiap barisan yang tampil memper­ kenalkan kepada seluruh santri segala hal berkaitan dengan aktivitas mereka di pondok sehari-hari. Demikianlah yang akan mereka temukan dalam totalitas kehidupan di Tazakka. Pada Ahad malam, dalam sesi Kuliah Umum, Kiai Anang menegaskan bahwa Pondok Modern Tazakka adalah pondok wakaf, dan bukan milik pribadi, keluarga, atau golongan ter­ tentu, tetapi merupakan milik umat Islam seluruh dunia, yang mana pengelolaannya diamanahkan kepada Tazakka. “Ini pondok wakaf, bukan milik kiainya, bukan milik ke­ luarga,­juga bukan milik satu golongan tertentu, tetapi meru­ pakan pondok wakaf milik umat Islam seluruh dunia,” jelasnya. “Karena pondok ini milik umat Islam seluruhnya, maka pondok ini terbuka bagi siapapun kaum muslimin yang da­ tang, berdialog merancang masa depan umat, atau yang ingin menyantrikan putra-putranya di sini” lanjut Pak Kiai. Keesokan harinya, Senin pagi, (30/9), seluruh santri diwa­ jibkan membaca buku tentang Kepondokmoderenan di kelas masing-masing dengan dibimbing oleh para asatidz wali kelas agar para santri bisa menghayatinya lebih mendalam. “Inilah tradisi pengenalan kampus yang dijalankan di Tazakka, jadi penekanan lebih kepada spiritual dan intelektual, jadi tidak pake plonco-ploncoan yang tidak mendidik itu” tukas M. Bisri, Direktur KMI. (@alam) www.yayasantazakka.com


Pondok Modern Tazakka

dan Segenap Panitia Qurban 1434 H mengucapkan

TERIMA KASIH Kepada Segenap Shohibul Qurban yang telah berqurban di Pondok Modern Tazakka

“semoga amal ibadah yang telah dilaksanakan menambah ketaqwaan dan menghantarkan kita menuju surga-nya�

DEWAN REDAKSI

Koran Mini Tazakka terbit atas ide, prakarsa dan kreatifitas para kader utama Pondok Modern Tazakka.

Pelindung: Yayasan Tazakka. Penasehat: Anang Rikza Masyhadi. Pemimpin Umum: M. Bisri Musthofa. Pemimpin Redaksi: Edi Buana, Wakil Pemimpin Redaksi: Henri Nur Rahmad. Redaktur Senior: Oyong Shofyan Bahar, Eva Maria Ulfah, Anisia Kumala Masyhadi, Maftuhah Nurbeti. Redaktur: Edi Buana, Rudy Nur Salam. Sekretaris Redaksi: Hakim As-Shidqi. Redaktur Pelaksana: Richi Yuni F., Ahmad Furqon, Ali Ramdhani, Subhi Mahmassani, Agus Suswanto, Fauzi. Tata Usaha: Muhammad Syair. Distribusi: Eko Prapdiyanto, Haris Adam Ishlahi, Afrudin. Desain Grafis: Salman B. Setiawan , Eko Wahyu. Alamat Redaksi: Pondok Modern Tazakka, Jln. Tazakka No.2, Desa Sidayu, Kec. Bandar, Kab. Batang, 51254. Telp. (0285) 689413, HP. 085869290300 (sms). Email redaksi: yayasantazakka@yahoo.com. Website: www.yayasantazakka.com. Rekening Koran Mini Tazakka: Bank Muamalat 0109916033; Kospin Jasa 2011-2000-3434, a.n Yayasan Tazakka


Koran Mini Tazakka Edisi 31  

Koran Mini Tazakka Edisi 31

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you