Issuu on Google+

Un

iver sity

INFO MURIA e tur Cul

Media Komunikasi Antar Sivitas Akademika UMK

www.umk.ac.id

Cerdas dan Santun

ISSN: 2088-2920

Merdeka Sonder Karakter Bangsa

Indonesia merdeka membawa identitas dan karakter bangsa-bangsa di Nusantara. Kini, pertanyaan yang patut dilontarkan menjelang perayaan kemerdekaan adalah, sejauh manakah karakter tersebut mampu dijaga dan menata moral bangsa. konsumen, sehingga Indonesia UMK- Agustus 1945, Jepang runtuh dapat dikata masih “terjajah”. oleh bom atom di kota Hirosima dan “Bukan hanya teknologi, dalam Nagasaki. Bersamaan Jepang takluk hal ekonomi, sosial dan budaya oleh sekutu, Indonesia memerdekakan juga sama,” ujarnya. diri. Sama-sama memulai, kini Jepang disegani, sementara Indonesia Revitalisasi diwarnai korupsi. Krisis karakter bangsa terlihat Perbedaan raihan kemajuan dari banyaknya persoalan dari tersebut menurut Rektor Universitas tingkat masyarakat hingga Muria Kudus (UMK), Prof. Dr. elit yang berperilaku amoral, dr. Sarjadi, Sp. PA, salah satunya baik korupsi, mafia hukum, disebabkan pudarnya karakter bangsa kekerasan dan penyelewengan Indonesia. Bangunan karektar yang lain. Kesadaran akan pudarnya terwujud dalam sikap jujur, ramah, karakter bangsa inilah yang suka senyum, pemaaf, santun, tidak melatarbelakangi munculnya visi egois dan semacamnya, kian tidak tampak bahkan dianggap kuno. “Ya, Ragam warna suku-bangsa membentuk karakter dan budi revitalisasi pendidikan karakter bisa dikatakan ada reduksi nilai dan pekerti bangsa Indonesia. Seperti ketupat yang terangkai sebagaimana digagas oleh indah oleh merah putih di atas. Menteri Pendidikan Nasional, karakter bangsa,” jawabnya saat Muhammad Nuh. ditanya eksistensi karakter bangsa Indonesia. Mengenai pendidikan karekter bangsa, Sarjadi Jepang mampu bangkit, menurut Sarjadi, tidak lepas dari peran besar karakter bangsanya. Di Jepang, kemajuan berpendapat, pentingnya menyatukan budaya dan agama. sebagaimana tuntutan zaman tidak meniadakan karakter Pasalnya, ia melihat antara budaya dan agama, masing-masing bangsa. Misalnya, di hadapan kaisar tetap tunduk sebagai berjalan sendiri-sendiri. Ibadah dan khotbah keagamaan tidak wujud sikap hormat, atau sikap kesatria ketika kalah atau berbanding lurus dengan angka korupsi, kekerasan dan salah ditebus dengan bunuh diri. “Jadi, karakter bangsa masih tindakan amoral lain. melekat, meski pengetahuan telah maju,” ujarnya. Dalam hal ini, Sugeng pun sependapat. Era teknologi, produk teknologi canggih terus dikembangkan. “Bukan Berbeda dengan Indonesia, tuntutan zaman dan perkembangan teknologi informasi menjadikan bangsa ini hanya teknologi saja, karakter dan budaya bangsa juga harus lalai akan karekternya. Maju malah diartikan ketika telah dikembangkan, sehingga seimbang,” ujarnya memberikan meninggalkan kehidupan tradisional yang dinilai kuno. solusi agar teknologi tidak berdampak negatif. “Misalnya, tidak punya laptop dinilai ndeso. Ini kan menilai dari UMK sebagai institusi pendidikan tinggi sadar akan peran alat bukan kualitas atau nilai,” ujar Sarjadi. penting lembaga untuk mengatasi krisis karakter bangsa Sebagai alat, lanjutnya, teknologi seharusnya tidak melalui pendidikan. Tekad untuk menelurkan sarjana “Cerdas berpengaruh pada karakter. Karakter bangsa selayaknya tidak dan Santun” telah bulat dicita-citakan. dipengaruhi oleh perubahan alat berkat kemajuan teknologi. “Cerdas berarti pribadi yang sanggup memilah mana yang Senada mengenai dampak negatif dari perkembangan baik dan pantas atau mana yang buruk dan tidak pantas. produk teknologi, Dekan Fakultas Teknik, Sugeng Slamet, Sementara, santun dimaknai sikap hidup yang dilandasi nilaiST. MT. menilai posisi Indonesia sebatas menjadi pasar dan nilai dalam Pancasila,” ujar Rektor. (Farih/Info Muria) Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011


Fokus

Bahasa Harus Sesuai Konteksnya

UMK- Kemerdekan Bangsa Indonesia selama 66 tahun menjadikan masyarakat bebas untuk menggunakan bahasa, baik menggunakan bahasa formal maupun non formal. “Orang bisa menggunakan bahasa sesukanya, namun harus bisa memahami konteks dan kaidahnya,” terang Mohammad Kanzannudin, M. Pd, dosen Bahasa Indonesia di Universitas Muria Kudus. Kanzanuddin mencontohkan bahwa orang yang berbicara di pasar harus mampu mengikuti konteks pasar, dan begitu pula mahasiswa harus menggunakan bahasa formal di kelas. “Jangan sampai mahasiswa menggunakan bahasa formal di pasar dan menggunakan bahasa pasar di kelas,“ tambahnya. Baiknya bahasa, lanjut Kanzanuddin, bukan semata-mata berpedoman kaidah ejaan yang disempurnakan (EYD) semata, namun baik itu sesuai konteksnya. “Bisa saja menggunakan kosa kata yang tidak ada di kamus dalam penggunaan bahasa dan itu malah yang benar,” terangnya. Bahasa Sort Massage Service (SMS) mendapatkan perhatian tersendiri bagi Kanzunuddin. Menurutnya bahasa

SMS boleh dipergunakan, meski terdapat singkatan dan bahasa gaul lainnya. Bahasa seperti itu menurutnya termasuk dalam bahasa komunitas. “Bahasa SMS akan berbeda di satu tempat dan tempat lain, jadi bahasa SMS itu seperti bahasa pasar,“ jelas Kanzunuddin. Bahasa SMS, tambahnya, tidak boleh dibawa tanpa memakai norma yang berlaku. Bahasa ini hanya boleh diucapkan jika masih dalam konteks yang wajar. “Bahaya, apabila anak memanggil orang tuanya dengan bahasa SMS seperti bokap,“ terang Kanzanuddin. Kanzanuddin juga berpendapat bahwa esensi bahasa adalah untuk berkomunikasi. Sementara esensi komunikasi adalah untuk menyampaikan pesan. “Jadi esensi sesungguhnya, berbahasa adalah menyampaikan pesan,” jelas Kanzanuddin. Terkait bahasa serapan yang diambil dari bahasa asing, menurut Kanzunuddin, tidak menjadi masalah, asalkan sesuai pola kaidah kebahasaan Indonesia. Pasalnya, hal itu menunjukkan sifat bahasa yang dinamis dan berkembang. (Harun/Info Muria)

Menipisnya Semangat Nasionalisme

N

asionalisme harus selalu dikedepankan. Kebersamaan akan muncul sebab diusik oleh bangsa lain. Misalnya, Malaysia yang mengakui Reog Ponorogo sebagai produk budaya miliknya. Sebagai wujud emosional rasa nasionalisme akan muncul karena masyarakat merasa bahwa hak-haknya diambil. Nasionalisme harus disadarkan pada insan di perguruan tinggi, sebab Pancasila telah memudar, menghilang dan ditinggalkan. Bahkan pada kurikulum, Pancasila Sumono, SH sekadar dimasukkan dalam kewarganegaraan. Dosen F. Hukum Untungnya, Universitas Muria Kudus (UMK) masih menggunakan Pancasila dan Hukum Pancasila dalam perkuliahan. Jepang dengan prinsipnya “kokoro norani”, tidak mementingkan haknya tetapi mementingkan kewajiban, karena hak diatur oleh Negara. Nasionalisme seperti inilah hendaknya kita tanamkan pada mahasiswa maupun masyarakat sehingga kedepan menjadi bangsa yang kuat yang satu dan tangguh dalam menghadapi segala macam godaan maupun terpaan yang dihadapi.

S

ebenarnya, nasionalisme masyarakat tetap ada, tetapi kadar nasionalismenya telah mulai luntur atau rendah. Sebab, terlihat sikap tidak percaya dan menganggap tidak baik kepada bangsanya, sehingga berani menghujat pemerintah sebagai wujud tidak cinta Indonesia. Untuk memperbaikinya, dimulai dari Fajar Kawuryan, S.Psi, M.Si diri sendiri terlebih dahulu dan jangan Dosen F. Psikologi sampai terpengaruh pada hal-hal tidak

baik. Kemudian menularkan paham kebangsaan pada orang lain sehingga tidak perlu menunggu perubahan sistem dari atasan lalu ikut berubah, mungkin perubahan akan berjalan dari bawah ke atas. Untuk memulainya dapat dilakukan dari hal kecil, misalnya memakai baju batik sebagai cermin dari cinta produk sendiri. Atau tidak apatis akan perayaan hari kemerdekaan, hari-hari besar kebangsaan. Sebagai mahasiswa, kuliah dengan sungguh-sungguh juga mencerminkan sikap nasionalisme, tidak hanya fisik tetapi dalam diri mencerminkan pribadi baik. Sebab, jika cinta pasti berusaha menjadi yang terbaik. Mahasiswa baik mempunyai karakter, prestasi dan santun bisa dikatakan berjiwa bangsa indonesia.

N

asionalisme merupakan sikap abdi pada negara. Salahsatu caranya bisa dalam bentuk peduli terhadap lingkungan. Sebagai wujud nasionalisme, Meskipun tidak masuk pada organisasi yang bergerak di bidang lingkungan, juga harus ikut melestarikan lingkungan dengan cara menanam pohon atau merawat lingkungan dengan baik. Sebab, hidup di dunia butuh keseimbangan alam. Nasionalisme bisa dibangun melalui peduli Muhammad Syafii lingkungan. Suburnya Korupsi Kolusi dan Ketua Mapala (Mahasiswa Nepotisme mungkin karena menipisnya Pecinta Alam) rasa nasionalisme sehingga kurang power dalam memberantas kejahatan. Oleh karenanya, dalam pendidikan wajib ditanamkan rasa memiliki dan peduli terhadap negara. Ironinya, seringkali tidak ada pembahasan secara detail tentang negara sehingga nasionalisme juga kurang mendalam atau hanya sekedar tahu saja. (Anik/Info Muria)

Susunan Redaksi Info Muria Penanggung Jawab: Rektor UMK, Pengarah: Pembantu Rektor I, Pembantu Rektor II, Pembantu Rektor III, Pimpinan Redaksi: Zamhuri, Redaktur Pelaksana: M Widjanarko, Sekretaris Redaksi: Noor Athiyah, Staf Redaksi: Farih Lidinnillah, Much Harun. Diterbitkan oleh Humas Universitas Muria Kudus. Alamat: Gondangmanis PO. Box 53 Bae Kudus 59352 (0291) 438229. Redaksi Menerima artikel, foto dan tulisan lainnya dilampiri kartu identitas melalui email: muria@umk.ac.id. Info Muria bisa diunduh di www.umk.ac.id



Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011


Fokus

Mencintai Budaya Sendiri

K

udus merupakan kota yang tidak memiliki pantai sehingga jangan harap bisa mendengar deru gelombang air laut. Lalu, apa yang akan kita lakukan jika liburan tiba? Kosong dan ingin mendapat suasana baru yang mencerahkan sekaligus mengenal kota sendiri. Ada rasa terbersit keinginan untuk menelusuri jejak kuno Menara Kudus atau wisata ziarah di makam dua dari walisongo, Sunan Kudus dan Sunan Muria. Jikalau akan mencoba mengisi perut dengan kuliner asli Kudus, banyak variasi yang ada, seperti lentog, soto Kudus, nasi pindang dan sate kerbau. Kemudian, pulang dengan menenteng jajanan, seperti jenang, maduroso dan kacang Kaligelis yang renyah dan enak. Bagi penyuka petualangan, kawasan Kudus sebelah Barat sesekali perlu coba dijelajah. Lokasi sekitar 18 kilometer dari pusat kota terdapat Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog dengan tampilan eksotisme suasana pengunungan Muria. Sebelum memasuki Desa Rahtawu, pengunjung akan disuguhi jalan berkelok-kelok dengan sisi jurang, sehingga harus ekstra hati-hati. Sebelum memasuki pusat Desa sampai ke jalan aspal terakhir di Dukuh Semliro, pengunjung sebaiknya berhenti sejenak, bisa di punden-punden yang bertebaran untuk mencecap aroma “pertautan akulturasi Hindu, Jawa dan Islam�, atau menikmati masakan entog (jawa) goreng atau ditongseng yang terdapat disepanjang jalan menuju Dukuh Semliro. Kalaupun belum puas bisa mencoba turun ke sungai utama di Rahtawu yang bernama Kaligelis. Dinginnya air akan membuat segar. Atau, lebih terasa lagi dengan berkunjung ke air terjun Petung dan merasakan mata air Bunton, sumber air yang alirannya menjadi satu dan lebih dikenal dengan nama Kaligelis. Muaranya sampai membelah Kota Kudus dan dapat dilihat pada saat memasuki Kudus dari Demak atau Semarang atau saat keluar Kudus melewati Jembatan Tanggulangin. Jika fisik memungkinkan, kenapa tidak mencoba mendaki Puncak Songolikur (29). Melongok akulturasi yang ada di Rahtawu dengan artefak kebudayaan dan mitos yang melingkupinya, sebagai tanah kadewan, artinya, tanah yang masih melaksanakan ajaran yang berbau Budha. Meskipun saat ini mayoritas penduduknya beragama Islam, sementara yang beragama Budha mungkin tinggal 10 persen, mereka masih melaksanakan ritual yang berakar Budha. Sampai saat ini masyarakat Rahtawu tak berani

mengadakan pertunjukan wayang. Sebab, kehadiran tokoh-tokoh wayang dianggap menyaingi para leluhur yang dipercaya sebagai guru pewayangan. Kepercayaan setempat meyakini, tayub adalah kesenian tradisi yang boleh ditanggap sedangkan pementasan wayang tidak diperbolehkan. Di Desa Rahtawu, dikenal budaya Sedekah Bumi yang digelar pada Bulan Apit, kalender Jawa. Acara tersebut berada di bulan Zulqaidah jika versi kalender Hijiriyah atau bulan antara bulan Syawal dan Zulhijah. Adapun bulan Apit, diapit oleh dua peristiwa penting, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sedekah Bumi di Desa Rahtawu biasa dilakukan pada Jum’at Wage. Acara Apitan merupakan acara sedekah bumi. Sedekah berasal dari kata shodaqoh yang artinya berbuat amal baik dengan memberikan sebagian nikmat yang kita terima kepada yang membutuhkan. Sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, sebagai makhluk yang telah diberi atau menerima nikmat kita tidak salah dan sudah sewajarnya kalau memanjatkan rasa syukur. Adapun pelaksanaan rasa syukur tersebut dapat diwujudkan melalui beraneka ragam cara yang dapat dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atau terima kasih. Apitan, sebuah acara tradisional yang seringkali banyak dilakukan secara bersama-sama oleh warga dalam satu kelurahan atau desa (Asyiqin, 2007). Acara tradisi ini biasanya turun temurun yang diselenggarakan untuk mengungkapkan rasa syukur yang diberikan Allah kepada manusia berupa bumi, karena bumi atau tanah merupakan sebagian dari salah satu nikmat yang diberikan Yang Kuasa. Bumi sebagai tempat berpijak, berteduh dan sumber dari segala kehidupan kita. Pada malam hari sebelumnya, diadakan kenduri atau tirakatan dengan memanjatkan doa bersama kepada Allah SWT, dengan harapan agar keselamatan dan kesejahteran serta perlindungan terhadap seluruh warga desa dapat terwujud dan diberi keberkahan oleh Yang Maha Kuasa. Kecintaan terhadap negeri bisa dilakukan dengan mencintai budaya sendiri, jika kita tidak pernah mencoba tahu seluk beluk kota sendiri dan mengenalnya, apa yang terjadi dengan diri kita, seperti teraleniasi, ironis ya. (Mochamad Widjanarko/Info Muria) Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011 


Pakar Merdeka Bersama Pemimpin Teladan Oleh Subarkah

S

ecara normatif, kemerdekaan Indonesia telah dicapai sejak 17 Agustus 1945. Namun, adakah pemimpin di negeri merdeka ini? penulis tidak tahu persis apakah Indonesia benarbenar mengalami krisis kepemimpinan. Pakar kepemimpinan dunia, James Mc Gregor Burnspernah berkata, “leader or leaderships is one of the most observed but the least understood phenomena on earth�. Maksudnya adalah dimana-mana terlihat pemimpin atau kepemimpinan secara formal, namun secara substansial masih amat jarang adanya. Banyak orang yang duduk di kursi pemimpin dengan bekal kemampuan manajerial tetapi tiada kemampuan memimpin. Lebih parah lagi, jika tidak punya kemampuan memimpin dan manajerial sama sekali. (Chaerul Saleh, 2004)

Paradigma keliru Banyak kekeliruan pemahaman tentang arti kepemimpinan. Umumnya, orang melihat pemimpin adalah sebuah kedudukan semata sehingga berakibat banyak orang mengejar untuk jadi seorang pemimpin. Segala cara dihalalkan untuk mencapai tujuan tersebut. Akhirnya, lahirlah pemimpin yang tidak dicintai, tidak disegani, tidak ditaati dan bahkan dibenci. Sebenarnya, sadar atau tidak sadar, semua adalah pemimpin yang harus bertanggung jawab (accountable) terhadap pihak lain. Setidaknya, pemimpin atas diri sendiri. Kepemimpinan tidak dapat diajarkan atau diwariskan, melainkan harus dipelajari secara proaktif. Pemimpin tidak sebab keturunan, meskipun orang tuanya adalah pemimpin besar. Seorang pemimpin perlu memiliki idealisme dalam perjuangannya. Alam diciptakan tuhan dengan hukum keseimbangan. Gaya kepemimpinan yang melanggar garis demarkasi Allah (sunatullah) hanya menumbuhsuburkan



anarkisme atau keganasan hewaniah yang dalam istilah Thomas Hobbes, Homo homini lopus; manusia menjadi pemangsa manusia lainnya. Bagi penulis, pemimpin adalah pengaruh. Ketika orang memberikan sebuah nasehat atau cerita kemudian kita mengingatnya, sebenarnya ini adalah sebuah pengaruh. Oleh sebab itu setiap kata yang diucapkan dan tindakan yang dilakukan akan menimbulkan pengaruh pada orang lain disekitar. Sehingga sadar atau tidak hal itu memengaruhi pelakunya akan menjadi pemimpin atau tidak sama sekali.

Pemimpin Teladan Pemimpin teladan dalam konteks masyarakat majemuk adalah pemimpin yang memiliki karakter, sikap, visi dan orientasi yang senantiasa mengedepankan nilai-nilai kebersamaan di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan. Dengan sifat-sifat seperti ini, seorang pemimpin dapat juga disebut sebagai seorang negarawan meskipun tidak mengemban secara formal kenegaraan. Ciri pemimpin demikian ini senantiasa berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara, bahkan kemanusiaan secara universal melalaui bidang pengabdian atau profesi yang ditekuninya (Faisal Ismail, 2004). Fenomena akhir-akhir ini semakin terlihat jelas, bahwa krisis keteladanan telah melanda berbagai aspek kepemimpinan. Rakyat bingung memahami pemimpinnya. Pemimpin yang seharusnya memberikan keteladanan dan ketentraman, dalam kenyataan, di beberapa tempat sangat kentara bahwa pemimpin lebih memperhatikan pada urusan-urusan yang lebih mengamankan kepentingan pribadi atau kelompok dari pada

Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011

berlapang hati bekerja sama berjuang mengatasi berbagai masalah demi ketentraman serta kemajuan bersama. Dalam konteks organisasi kepemimpinan adalah kemampuan mengajak anak buah secara sukarela bekerja sama memperjuangkan tujuan dan cita-cita organisasi. Sebab, kepemimpinan juga merupakan kemampuan memberikan pengaruh konstruktif kepada orang lain untuk melakukan suatu usaha kooperatif hingga tujuan tercapai. Butuh keahlian dalam decision making yang tepat. Kendala paling mencolok agar terwujud kartakter pemimpin adalah power oriented yang obsesif. Tendensi pada sebagian pemimpin adalah cenderung memperluas pengikut dari pada meningkatkan kualitas dan mengakumulasikannya sendiri untuk merebut kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan dari pada mengkonsolidasikannya untuk meningkatkan potensi bagi kepentingan masa depan. Banyak sekali contoh-contoh pemimpin dengan tipikal, gaya dan prinsip-prinsip berbeda. Ada pemimpin yang menonjol prestasi kerja serta integritasnya, tetapi tidak dicintai lingkungannya. Atau sebaliknya, dicintai tetapi prestasi kerja dan integritasnya kurang/lemah. Oleh Ary Ginanjar tangga kepemimpinan tersebut dibagi menjadi lima tingkatan, yaitu pemimpin yang dicintai (pemimpin tingkat pertama), pemimpin yang dipercaya (tingkat kedua), pemimpin yang membimbing (tingkat ketiga), pemimpin yang berkepribadian (tingkat keempat), pemimpin yang abadi (tingkat kelima). Mari merenung kembali untuk mengisi kemerdekaan bangsa ini dengan nurani. Subarkah, SH. M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Muria Kudus


Pakar Betulkah Indonesia Telah Merdeka? ­­­Oleh Ahdi Riyono

E

nam puluh enam tahun lalu, tepatnya 17 Agustus 1945, SoekarnoHatta atas nama bangsa Indonesia mengumandangkan kemerdekaan Indonesia dari kolonialis. Waktu itu, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bebas dan merdeka untuk menentukan nasib dan masa depannya sendiri. Kemerdekaan itu dirayakannya dengan penuh suka cita. Di seantero penjuru tanah air dipasang umbul-umbul dan bendera merah putih. Namun, tak kalah penting dari itu adalah apa yang harus dilakukan setelah kemerdekaan itu? Tentu, tugas pertama adalah mengatur pemerintahan sendiri, meski dalam banyak hal belum siap. Salah satunya adalah perangkat hukum dan perundang-undangan. Bung Karno, mengatakan untuk mengisi kekosongan hukum, sementara dipakai sistem hukum kolonial (KUHP) Belanda, sampai ada sistem hukum yang disusun oleh bangsa Indonesia sendiri. Jadi, sebetulnya sistem barat bersifat sementara. Kenyataan hingga kini, sistem hukum yang digali oleh bangsa Indonesia sendiri belum terwujud. Hal ini terjadi karena pada umumnya penggerak roda pemerintahan adalah orang-orang yang mengenyam pendidikan barat. Sehingga mindset (pola pikir) mereka masih menganggap sistem peninggalan kolonial itu masih relevan. Demikian juga dalam urusan pemerintahan, masih banyak mengadopsi konsep-konsep barat (demokrasi liberal), tentu tidak semuanya sesuai dengan karakter dan jiwa bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara yang digali oleh founding fathers dari nilai-nilai karakter bangsa Indonesia, harusnya dijadikan pedoman dan pijakan dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun sungguh ironis, setelah merdeka selama 66 tahun, bangsa ini masih belum lepas dari sistem yang dibuat bangsa kolonial. Padahal Sistem kolonial tentu

dibuat berdasarkan ideologi feodalisme dan bertujuan untuk melanggengkan kekuasannya. Wajar saja, meski penyelenggara negara saat ini adalah warga pribumi, namun perilaku dan kebijakannya tidak ubahnya dengan bangsa kolonial. Coba lihat, banyak kasus ketidakadilan terjadi dimana-mana. Antara lain di bidang ekonomi, hukum, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial. Sistem yang ada hanya memihak kalangan berkuasa, tuan tanah, pengusaha dan para elit lain saja. Persis terjadi saat Indonesia di era kolonialisme barat, yang abai dengan amanat penderitaan rakyat. Di dunia hanya ada tiga jenis Negara, yaitu Negara utama, Negara satelit, dan Negara pengekor. Negara utama inilah yang saat ini menguasai dan mengatur dunia dengan kehendak dan kebijakan mereka. Indonesia, pada awalnya tumbuh dari bangsa yang mencari jati dirinya, dan dalam prosesnya itu mengalami berbagai macam gejolak serta rintangan dalam membangun bangsanya. Tapi, pada titik tertentu, bangsa ini telah mampu menjadi bangsa pejuang dan bangsa yang besar dan memiliki komitmen ideologis untuk senantiasa menyebarkan prinsipprinsip hidupnya ke negara-negara lain. Misalnya, bangsa Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, dan Rusia. Jenis negara kedua adalah negara satelit, yaitu negara yang memiliki prinsip hidup dari mengadopsi dan mengikuti prinsip-prinsip bernegara dari negara utama, dan diakuinya sebagai sarana agar negara mampu menjadi bangsa maju layaknya bangsa-bangsa barat. Bangsa ini menggunakan konsep modelling, artinya setiap bangsa maju pasti punya pola-pola yang membawa kemajuan. Pola-pola inilah yang dipelajari dan ditiru, termasuk ideologinya, namun disesuaikan dengan budayanya (baca: modifikasi). Contohnya adalah bangsa

Korea, Jepang, Taiwan, dan Singapura. Bangsa-bangsa ini telah mencapai kemajuan dalam segala bidang termasuk dalam etika politik. Bangsabangsa tersebut telah mengalami transformasi luar biasa dalam meraih mimpi bangsanya. Ketiga adalah negara pengekor, negara jenis ini tidak memiliki ideologi yang jelas (pseudo-Ideology). Mereka mengklaim telah memiliki ideologi sendiri yang dikatakan sebagai hasil dari budayanya. Namun pada praktiknya, semua kebijakan negara tersebut hanya mengekor dari negara utama, tanpa tahu arah dan tujuan dalam meniru. Ideologi hanya sebatas papan nama, tanpa nyawa di dalamnya. Bangsa pengekor cenderung tidak memiliki komitmen kuat meraih mimpi-mimpi yang tercantum dalam konstitusi. Bangsa pengekor mudah diombang-ambingkan oleh kebijakan negara utama, karena itu tipe pemimpinnya cenderung menjadi ‘boneka’. Padahal, negara utama adalah penjajah mereka selama ratusan tahun. Apakah Indonesia termasuk jenis negara ini? Bangsa Indonesia memiliki Pancasila, namun Pancasila tidak dijadikan oleh elit penguasa sebagai pedoman dalam membuat undang-undang dan kebijakan strategis. Pancasila telah dicampakkan. Ini terbukti dengan terbitnya undangundang yang justru bertentangan dengan Pancasila. Buktinya, sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan saat ini, jelas berlawanan dengan Pancasila. Dalam bidang hukum, sistem hukum Indonesia masih mengadopsi sistem hukum penajajah yang bertentangan dengan Pancasila. Benarkah bangsa Indonesia sepenuhnya merdeka? Jika kita belum merdeka, lalu apa yang harus kita lakukan? Ahdi Riyono, SS. M.Hum, Dosen Progdi Bahasa Inggris FKIP UMK

Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011 


Rembug Mahasiswa Mundur, Negara Hancur

Kemerdekaan di Tangan Mahasiswa

Oleh Karmila Sari

Oleh Danny Lutvi Hidayat

I

S

ndonesia dinyatakan sebagai negara merdeka sejak enam puluh lima tahun silam. Namun kondisi layaknya negara merdeka, hingga sekarang tak kunjung dirasakan. Kesejahteraan rakyat masih sebatas mimpi. Sekarang ini, negara masih berada pada kondisi masih terjajah. Penjajahan dilakukan secara halus oleh negaranegara maju di semua bidang kehidupan. Mulai dari ekonomi, politik, pendidikan, hingga bidang keolahragaan. “Bendera kemerdekaan” belum sepenuhnya berkibar. Kemerdekaan diperjuangkan kaum muda, mahasiswamahasiswi di era Soekarno-Hatta. Sama-sama mahasiwa, ternyata tak lantas membuat generasi saat ini berpola pikir sama. Mahasiswa yang dikata memiliki kadar intelektualitas tinggi dan kritis akan lingkungan sosial, telah luntur. Mahasiswa merasa sebagai pribadi yang “berisi”, meski sebenarnya masih kosong. Mereka larut dalam kemajuan teknologi. Beberapa faktor penyebab mundurnya gerakan mahasiswa, di antaranya; Pertama, sikap malas. Jika mahasiswa di negara maju banyak yang berusaha membuat penemuan-penemuan baru, lain di Indonesia, mereka disibukkan dunia chatting lewat jejaring sosial. Mereka dibuai dengan kecanggihan teknologi yang diciptakan negara maju. Bagaimana melakukan penemuan serupa tiada pernah terlintas. Mereka terhipnotis dan terlelap menikmati barang-barang ciptaan negara luar dan meninggalkan karya anak bangsa sendiri. Kedua, mahalnya biaya pendidikan di Perguruan Tinggi. Sehingga banyak mahasiswa yang memutuskan untuk ber-part time job. Konsentrasi terpecah untuk pelajaran dan pekerjaan. Tak ada lagi waktu untuk ikut organisasi kampus, apalagi ikut mengkritisi jalannya pemerintahan yang melenceng. Ketiga, sistem kerja yang mengunggulkan kualitas ijasah daripada kemampuan. Akhirnya, banyak mahasiswa kuliah hanya berorientasi pada perolehan nilai, atau “penting punya ijasah”. Jika semua hal tersebut terus dibiarkan, Indonesia akan diisi para sarjana yang miskin kemampuan. Keberlanjutan sikap demikian, tentunya akan mengancam keberadaan Indonesia di kancah internasional. Karmila Sari, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muria Kudus, dan aktif di UKM Pena Kampus.

Tema rubrik Rembug edisi VII “Pahlawan Nasional Konteks Kekinian”



rakyat kala itu.

ejarah kemerdekaan Indonesia memang momen yang indah untuk dikenang. Ratusan tahun rakyat Indonesia berjuang agar terlepas dari penjajah. Akhirnya, 17 Agustus 1945 proklamasi Indonesia sebagai bangsa merdeka disambut gembira oleh

Persatuan dan kesatuan seluruh masyarakat Indonesia tidak hanya indah pada kata-kata, namun pada tindakan nyata untuk melawan penjajah. Perjuangan masa itu tidak lepas dari kontribusi pemuda. Walaupun berbeda suku, agama, adat dan ras, mereka tetap bersatu demi sebuah kebebasan yang dicita-citakan. Kini, umur kemerdekaan telah menginjak tahun yang ke 66. Namun, apakah kemerdekaan yang sesungguhnya sudah didapat. Masih banyak kekerasan, kebodohan, korupsi dan belenggu birokrasi yang menghambat kemajuan anak bangsa menuju kesejahteraan. Lalu, dimanakah pemuda yang bisa merebut kemerdekaan bangsa saat ini. Ya, mahasiswa dapat menjadi gambaran pemuda kala itu. Banyak kejadian penting, seperti jatuhnya rezim orde baru yang syarat dengan korupsi dan banyak hutang luar negeri hingga terwarisi pada generasi selanjutnya. Sebagai intelektual, mahasiswa dituntut memberi pengaruh terhadap kebebasan dan kemajuan Indonesia saat ini. Terlebih di konteks universitas atau perguruan tinggi. Jangan sampai mahasiswa menjadi kaum yang terjajah oleh sistem pendidikan dan organisasi mahasiswa yang tidak jelas. Dewasa ini, organisasi kemahasiswaan sudah kehilangan independensi. Sebagai tanda adalah kurangnya fungsi organisasi mahasiswa dalam mengawal kebijakan-kebijakan perguruan tinggi. Mereka abai akan hal tersebut. Mereka bersikap pragmatis dan tidak mau tahu tenang kebijakankebijakan yang mungkin merugikan minoritas mahasiswa. Semangat kemerdekan harus kita jaga agar mampu mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Dan sebagai mahasiswa, kita dituntut untuk lebih kritis mengawal kebijakan-kebijakan yang diputuskan baik di lingkup negara maupun perguruan tinggi. Tentunya dikuti dengan tindakan nyata yang bertanggung jawab. Danny Lutvi Hidayat, Presiden BEM FKIP UMK

Mahasiswa dapat mengirimkan opini melalui email infomuria@umk.ac.id dengan menyertakan fotocopy KTM yang masih berlaku dan foto close up. Panjang tulisan 2.500 karakter. Naskah diterima paling lambat 30 September 2011. Tulisan yang dimuat akan mendapatkan bingkisan menarik.

Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011


Sosok Tajuk

n Mohammad Khasan

Begitu Lulus, Jadi Staf HRD

Merdeka Minus Kibar Bendera

M

ahasiswa masa kini bisa dengan bebas naik kendaraan bermotor, menenteng laptop, berbusana trendy, dan ber-facebook ria di sudut-sudut kampus yang memiliki fasilitas-fasilitas free hot spot area. Namun, apakah mereka menyadari bahwa teknologi yang memberinya kemudahan tersebut merupakan bagian dari memaknai kata merdeka sesungguhnya? Atau merupakan bagian dari pengibaran “merah-putih” yang sebetulnya? Bendera tak ubahnya simbol, sebagaimana merk dalam suatu produk. Lalu, bendera warna apa yang berkibar di jagat Nusantara melalui pemakaian teknologi dan perilaku kehidupan masyarakatnya? Di jalan raya, kendaraan bermotor yang lalu lalang kebanyakan “berbendera” Jepang. Komputer jinjing (laptop) terdapat bendera Jepang, Amerika atau Taiwan. Busana dan makanan yang dikonsumsi oleh oleh masyarakat, sudah mulai sulit ditemui asli produk “merah-putih”. Bahkan, untuk urusan gaya rambut banyak yang mengkiblat gaya luar negeri. Dalam soal berbicara (berbahasa) bangsa kita sudah bersumpah dengan satu bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia yang diikrarkan pada peristiwa bersejarah sumpah pemuda 1928. Namun, Bahasa Indonesia, apalagi bahasabahasa daerah yang menjadi aset bangsa juga mulai tidak populer. Sementara, lembaga pendidikan dan kursus bahasa asing, semakin menjamur walau dengan tarif mahal. Semakin asing bahasa yang dipakai bangsa kita, semakin percaya diri dan bangga. Bangsa Indonesia semakin meninggalkan identitasnya. Mulai dari teknologi, gaya hidup, karakter dan fikiran hampir semua berbau asing. Kemerdekaan yang dengan susah payah diraih, kini terancam dengan gempuran produkproduk asing, dan kita hanya diam dan berbangga wilayah Indonesia hanya sebatas jadi pasar global. Pasar yang diisi oleh berbagai produk impor, baik teknologi, ekonomi, politik, budaya dan militer. Bahkan, beras yang dulu kita pernah berswasembada, kini juga harus impor. Kemerdekaan sebatas sebagai konsumen. Kemerdekaan seperti itukah yang dulu dicita-cita dan direbut dengan darah dan regangan nyawa? Juga bukan “bendera” itu yang dikibarkan pada saat Proklamasi 17 Agustus 1945. Bendera yang merah seperti darah dan putih seperti tulang yang koyak oleh serangan penjajah. Bendera yang menjadi simbol seluruh jiwa raga dan identitas bangsa melalui pikiran dan karya anak cucu bangsanya. Indonesia berdiri oleh berbagai macam suku bangsa yang memiliki bangunan nilai-nilai karakter dan produk pengetahuan. Karakter yang dibangun melalui filsafat hidup dan produk pengetahuan yang dihasilkan. Karakter sebagai hiasan perilaku diri dan produk pengetahuan berupa karya teknologi untuk membangun dan terkibarnya “bendera” negeri. Indonesia adalah bangsa yang menarikan tari piring atau jaipong bukan mengakrabi tarian disko, bermusik dengan gong dan gendang bukan piawai bergitar, kenyang oleh nasi bukan roti pizza, bermain jatilan bukan mainan Cina, berteater dengan wayang serta tak terhitung produk budaya dan keilmuan lainnya. Bangsa yang bersosok rendah hati, menjunjung tinggi rasa malu dan rela berkorban, bukan bangsa koruptor. Produk dan karya teknologi yang diimbangi dengan karakter manusia berbudaya dan berbudi tinggi. Bukan bangsa yang terlena oleh facebook kemudian lupa diri. Soekarno pernah berujar, beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia. Pemuda generasi penerus bangsa adalah jawabannya. Estafet perubahan digenggam mahasiswa. Tentu kita tidak rela jika Indonesia hanya tinggal nama dan bendera, tanpa eksistensi dan kibaran Sang “Merah-Putih”. Redaksi n

B

ekerja sebagai admin region resourcing, staf HRD pada suatu bank tidak pernah muncul di bayangan Mohammad Khasan. Apalagi, seperti baru April 2011 kemarin, ia menjadi wisudawan Universitas Muria Kudus (UMK) angkatan ke 46. Kini, Mohammad Khasan bergulat dengan rutiniFoto Info Muria/Kholidin tas kerja yang cukup sibuk tanpa harus menganggur, tentunya menjadi prestasi tersendiri. Bukan karena keberuntungan, namun Mohammad Khasan memang sudah menyiapkan diri tatkala masih sebagai mahasiswa. Lulusan Fakultas Psikologi UMK ini terbilang aktif selama menjadi mahasiswa, tidak tanggungtanggung enam organisasi ia sambangi sehingga kini menjadikannya lebih siap dan percaya diri pada pekerjaan. Lelaki dengan motto hidup “Knowing is not enough; we must apply Willing is not enough; we must do” ini, pernah aktif di Radio UMK, BEM Fakultas Psikologi 2008-2009, pendiri Teater Aura Fakultas Psikologi, kemudian mendapat Beasiswa Djarum, Trainer Outbound di Kajian Psikologi Terapan (KPT) Insight Fakultas Psikologi UMK dan magang menjadi peneliti di MRC (Muria Research Center) Indonesia. Bagi Khasan, kuliah dan berorganisasi saja masih kurang. Menurutnya, mahasiswa juga harus lebih banyak melakukan praktek sesuai bidang kerjanya masing-masing, ikut penelitian dosen sehingga tidak canggung ketika memasuki dunia kerja. “Karena konteksnya di HRD, jadi saya banyak melakukan praktik menjadi tester dan testee, yang penting do well, do the best,” terangnya berbagi kiat. Menurutnya, semua yang dilakukan dengan hati dan kesungguhan terbaik pasti ada waktu untuk menuainya. Mengingat kualitas UMK sudah cukup baik, mahasiswanya harus lebih pro-aktif dan tahu akan kebutuhannya ketika masih menjadi mahasiswa dan setelah lulus nanti, serta selalu mengikuti perkembangan yang terjadi. “Secara kemampuan kita itu tidak kalah dengan PT lain, cuma butuh keberanian saja untuk sama-sama bersaing di luar,” tandas pria yang masih bercita-cita menjadi dosen ini. Ia berencana akan menabung untuk studi S2. (Kholidin/Info Muria)

Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011 


Kampus

Perlu Penelitian Untuk Sikapi Anomali Musim UMK- Gejala perubahan yang ditandai dengan anomali musim berdampak daerah kering semakin kering dan daerah basah semakin basah. Hal ini merugikan petani sebab di daerah basah panen digagalkan oleh banjir, sementara di daerah kering tanaman tidak dapat tumbuh. Hal ini serius dibahas dalam seminar bertema “Menyikapi Perubahan Iklim Global di Bidang Pertanian” di Ruang Seminar Lantai 4 Gedung Induk Universitas Muria Kudus (UMK), Kamis (28/07). Seminar yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalies UMK ke-31 tahun ini menghadirkan dua profesor sebagai pembicara. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. H Suntoro Wongso Atmojo, MS dan Prof. Dr. Ir. Djoko Purnomo, MP, staf pengajar Fakultas Pertanian UNS Surakarta. Anomali musim, menurut Djoko Purnomo, berdampak pada tidak berlakunya pranoto mongso yang oleh petani dimanfaatkan sebagai petunjuk melakukan proses tanam. “Antisipasi harus dilakukan sebab pertanian merupakan penyedia bahan pangan kehidupan,” katanya. Ilmuwan atau perguruan tinggi, sambung Djoko, perlu terlibat agar petani tidak terkendala oleh penyimpangan musim. Penyimpangan musim harus disikapi merubah pola tanam dan sistem pertanaman. Akibat musim penghujan dan musim kemarau yang tidak menentu, antisipasi berupa adaptasi dan manipulasi dinilainya penting untuk dilakukan oleh petani. “Di sini peluang akademisi diperlukan untuk melakukan penelitian,” terangnya menjelaskan tidak dimungkinkannya petani merancang adaptasi dan manipulasi. Adaptasi, lanjut Djoko, dilakukan dengan cara budidaya tanaman agar sesuai dan tahan dengan kondisi musim yang

ada. Sementara manipulasi dilakukan melalui rekayasa untuk memodifikasi dan mengubah kondisi atau tanaman. Selain kedua cara tersebut, sambung Djoko, secara sosial kemasyarakatan, petani perlu melakukan pembenahan. “Revitalisasi gotong royong dan organisasi petanian perlu dilakukan,” ujarnya. Menurutnya, reformasi telah menjadikan setiap petani bercocok tanam seenaknya sendiri. Berbeda dengan masa orde baru, petani dalam melakukan proses tanam dilakukan serentak dengan tanaman yang sejenis. Hal ini olehnya dinilai dapat mematikan siklus kehidupan hama penyerang tanaman. Selain kedua solusi yang ditawarkan Djoko, Suntoro menganjurkan agar petani memanfaatkan pupuk organik. Pasalnya, dalam pupuk organik terdapat 16 zat hara yang dibutuhkan tanaman. Sementara saat ini 60 persen lahan pertanian di Indonesia kandungan unsur organiknya kurang dari satu persen. “Padahal normalnya di atas 2 persen, kan ironis,” katanya. Suntoro melalui makalah berjudul “Tantangan Dunia Pertanian pada Perubahan Iklim Global” menerangkan anomali dapat diatasi jika dilakukan secara bersama-sama. Selain Anomali musim, pemanasan global sebagai penyebabnya juga memunculkan beragam hama penyakit dan distribusi air yang tidak merata. Seminar, kata Dekan Fakultas Pertanian UMK, Ir. Hadi Supriyo, MS., diselenggarakan sebagai wujud keprihatinan perguruan tinggi akan nasib petani menghadapi ketidaktentuan musim. “Harapannya ditemukan solusi yang tepat sehingga dapat membantu petani,” ujarnya dalam sambutan. (Farih/Info Muria)

Pendidikan Bahasa Inggris Pelajar Butuh Pembenahan UMK- Pendidikan Bahasa Inggris untuk young learner (baca; pelajar tingkat SD-SMP) masih belum ada kejelasan. Pasalnya, meski telah terdapat kulikulum dari kementrian pendidikan nasional, namun para guru belum mampu menerapkannya Hal itu diungkapkan Itje Chodidjah, MA dari ELT and Education Consultant dalam diskusi pembuka Konferensi Teaching English to Young Learners in Indonesia (Teylin). Untuk itu, lanjut Itje, konferensi seperti ini urgen dilakukan untuk merumuskan bagaimana konstruksi pendidikan Bahasa Inggris kepada young learner secara baik. “Kurikulum Sekolah Dasar (SD) misalnya, tidak ada arah yang jelas mau dibawa kemana pendidikan Bahasa Inggris,“ tambah Itje. Solusinya, menurut Itje, universitas, Dinas Pendidikan dan sekolah seharusnya mengambil langkah cepat dan sistematis untuk mengkoordinasikan mengenai hal ini. Konferensi Nasional di Program Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muria Kudus ini, diikuti sebanyak 33 peserta dari



Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011

berbagai penjuru tanah air. “Mereka ada yang datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Lampung dan Kalimantan,“ ujar Ketua Konferensi nasional, M. Syrafi’i. Syafi’i menjelaskan, konferensi bertema Revitalizing the Practice of Teaching English to Young Learners in Indonesia (TEYLIN) merupakan wujud tanggung jawab perguruan tinggi atas kehidupan yang semakin dinamis. Perubahan kehidupan tersebut menuntut peran strategi pengajaran Bahasa Inggris direvitalisasi dan dikembangkan agar pendidikan Bahasa Inggris untuk anak dapat menjadi lebih baik. Konferensi dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, plenary session (sidang pleno) diisi presentasi materi oleh dua pakar Teylin, Itje Chodidjah, MA dan Prof dr Bambang Budi Cahyono, M.Pd, Ma. Phd. Pada sesi kedua adalah parallel session, 31 peserta dari berbagai universitas swasta/negeri mempresentasikan hasil penelitian masing-masing. (Harun/Info Muria)


Mengenal Adat Suku Sasak

Kampus

dari Jawa, namun banyak kemiripan dengan Jawa, baik dalam upacara adat atau penggunaan bahasa. Desa Sade merupakan salah satu dari Dusun Rempitan yang ada 15 dusun Rempitan satu, Rempitan dua, Rempitan Rembuk dan sebagainya. Yang masih dipertahankan mereka sebagai bentuk kekhasan Sasak yaitu rumah adatnya (Bale Gunung Rapih) yang atapnya terbuat dari jerami atau ilalang dan berdinding anyaman bambu (bedek), dengan lantai terbuat dari tanah liat yang dicampur kotoran kerbau dan abu jerami yang membuat lantai tanah mengeras, sekeras semen. Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah adat Sasak didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang Foto Info Muria/Widjanarko terbuat dari bambu. Rumah adat suku Sasak hanya Seorang warga suku sedang menenun. Tenun menjadi salah satu kekayaan adat budaya Suku memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, Sasak. tidak memiliki jendela. UMK- Indonesia terkenal dengan budaya dan sukunya yang beraneka ragam. Seiring perkembangan dan kemajuan zaman, banyak budaya yang mengalami perubahan dan pergeseran dari bentuk semula dalam suatu daerah khususnya bentuk bangunan rumah adat. Di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat kita dapat menjumpainya. Di sana terdapat sekumpulan suku Sasak yang mempertahankan rumah adat mereka. Rasa penasaran di hati kami telah terjawab ketika melihat keaslian bentuk rumah adat Sasak secara langsung dalam Kunjungan Kuliah Lapangan (KKL) Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus, Senin (11/07). Rumah berjejer dengan atap jerami terlihat asri dan tenang, seolah berada dalam masa purbakala penuh kedamaian. Kordak Selage, sebagai pemangku adat suku Sasak Desa Sade menjelaskan komunitas Sasak diperkirakan telah ada sejak zaman prasejarah, dengan bukti fisik adanya makam nenek moyang yang menghadap ke timur, barat, dan utara. Walaupun banyak yang mengatakan nenek moyang bukan

Agenda UMK • •

Halal Bi Halal Keluarga Besar UMK digelar pada Rabu (07/09) pukul 09.00 WIB di Auditorium. Gladi bersih upacara penerimaan mahasiswa baru pada Rabu (07/09) pukul 14.00 WIB di Auditorium UMK. Masa Pengenalan Akademik bagi Mahasiswa Baru (Sapamaba) akan digelar pada KamisJum’at (8-9/09). Traning ESQ pada 11-20 September 2011.

Sade berasal dari kata sade usada berarti obat dari kalimasada, lima perilaku yang bisa mengobati hati agar tenang yaitu: syukur kepada Tuhan, sabar menghadapi masalah, rendah hati (tawadhu’), senang menerima pemberian Tuhan (qonaah), dan kasih sayang terhadap sesama. Secara umum Sade digunakan nenek moyang berpindah dari tempat ramai ke tempat yang sunyi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan pedoman kalimasada ini mereka mempertahankan rumah adatnya dengan hidup sederhana untuk menjaga kesinambungan atau keberlangsungan mereka. Tidak hanya rumah adat yang berharmoni dengan alam tetapi perilaku dalam membuat tenun juga merupakan hal yang dilakukan oleh Suku Sasak ini, mereka menenun sendiri dari kapas atau benang dengan tidak menggunakan bahan kimia atau alat modern. Pelajaran yang sangat berarti dan menggugah hati para mahasiswa untuk hidup sederhana, apa adanya dan menjaga alam. (Anik/Info Muria)

Suara UMK

Sivitas Akademika yang ingin menyampaikan saran atau usul, dapat mengirim pesan ke 081325401722 atau humas@umk.ac.id, muria@umk.ac.id.

(-) Kepada pengurus UMK, tolong dong fasilitas kampus yang sudah rusak mohon diperbaiki, demi kenyamanan perkuliahan, kenyamanan kan sangat kita perlukan. (085740320XXX) (-) Mahasiswa kalau parkir sepeda motor yang rapi ya. Sekian saran dari saya terima kasih.(085740918xxx) (-) Mahasiswa kalau ke kampus jangan pakai sendal. (08562708XXX) Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011 


Kudusan

T

Meluruskan Hari Jadi Kota Kudus

im Arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM) dan para ahli penulis huruf al-Qur’an (Khat) Masjid Menara Kudus, melakukan pembacaan ulang tulisan yang terdapat pada Prasasti Condro Sengkolo Lombo yang terletak di atas Mihrab Masjid al-Aqsha Menara Kudus. Pembacaan tersebut dilakukan menyusul keraguan atas hasil penelitian Claude dan Ludvik Kalus, ilmuan Perancis, yang memperoleh hasil berbeda dengan penelitian sebelumnya. Pembacaan bukti arkeologi berupa prasasti tersebut dilakukan pada diskusi “Menelusuri Kembali Hari Jadi Kudus” di Menara Kudus, Senin (25/07). Tim Arkeolog dari UGM yang terdiri dari Prof. Inajati Adrisijanti, Drs. Musadad, M.Hum dan Abdul Jawat Nur, S.S., M.Hum. memaparkan temuan berbeda. Hasil sementara pembacaan atas prasasti memperoleh temuan tanggal 19 Rajab. Dengan hasil penemuan ini, maka penetapan hari jadi Kota Kudus yang mengacu pada pendirian Masjid al-Aqsha Menara Kudus menjadi berbeda. Selama ini Hari jadi Kota Kudus ditetapkan tanggal 23 September 1549. Hal ini didasarkan pada Peraturan Daerah (Perda) No. 11 tahun 1990. Tanggal tersebut diperoleh berdasarkan konversi tanggal 1 Ramadhan 956 Hijriyyah (H). Penetapan tanggal 23 September 1549 Tarikh Umum (TU) sebagai hari jadi Kota Kudus sebetulnya juga berbeda dengan hasil rekomendasi tim UGM yang menetapkan hari jadi Kudus tanggal 1 Ramadan 956 H yang kemudian dikonversi menjadi tanggal 2 Oktober 1549 TU. Sementara almarhum KH Turaichan Adjuhri Es-Syarofi (kiai ahli falak) mengkoversi tanggal 3 Oktober 1549 TU. Penelitian terakhir dilakukan Claude Guillot dan Ludvik Kalus (Ilmuwan Perancis) menetapkan tanggal 28 Rajab 956 H.

Bordir Icik Tembus Mancanegara

K

udus dikenal sebagai Kota Kretek sebab banyaknya pabrik Foto menampilkan bordir rokok terdapat di icik pada sebuah kebaya. Foto Info Muria/Anik wilayah ini. Selain kretek, sebenarnya Kudus juga memiliki potensi di bidang fashion, berupa bordir icik khas Kudus. Bordir khas yang halus dan tebal ini sudah ada sejak 50 tahun silam. Kabarnya, kini bordir Kudus kian berkembang dan dikenal hingga mancanegara. Mulanya, bordir icik hanya terdapat di sekitar Menara Kudus. Produksinya dilakukan oleh para gadis pingitan di daerah tersebut. Kemudian masyarakat sekitar ikut serta membuat bordir icik bersama para gadis yang telah dipingit tersebut. Kabar mengenai kerajinan khas Kudus ini menyebar ke pelosok desa. Utamanya di Kecamatan Gebog, Kudus. Pasalnya, sebagian besar yang membantu pembuatan bordir ini berasal dari Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog. Banyaknya pengrajin usaha bordir berperan penting dalam menjaga keberadaan bordir khas ini hingga dapat dijumpai sampai sekarang. Salah satunya, Wisma Bordir Dahlia miliki Hj. Sa’adah. Pada tahun 1988, berbekal ilmu seadanya, ia mengawali usaha bordir di rumah tempatnya tinggal, Desa Karangmalang Kecamatan Gebog. Perkembangan usaha bordir dirasa Sa’adah cukup potensial. Bermula dari jalinan kerja sama dengan penerima jasa pesanan motif

10 Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011

Tanggal 19 Rajab tahun 956 H, dilacak melalui prasasti yang terdapat di atas mihrab Masjid Al-Aqsha Kudus. Batu prasasti Condro Sengkolo Lombo bertulisan kaligrafi arab jenis Khat Tsulust Qadim ini menandakan bahwa Masjid Al-Aqsha didirikan bersamaan berdirinya Kota Kudus. Hal ini dibaca melalui huruf wau yang menjadi penghubung kalimat wa baladil Kudus. Namun, kesimpulan ini pun masih dianggap sementara karena prasasti tersebut telah usang sehingga menyebabkan pembacaan atas teks pada batu tersebut perlu lebih teliti, karena bisa dimungkinkan huruf fi. Hal ini bisa bermakna Masjid al-Aqsha Menara Kudus didirikan di dalam Negara Kudus, yang berarti Kota Kudus sudah ada saat Masjid al-Aqsha didirikan. Dari hitungan Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, K. M. Najib Hasan, secara ilmiah, prasasti tersebut telah diteliti empat kali. “Hasilnya selalu berkembang. Dari yang awalnya hanya menemukan, tahun dan bulan saja hingga kini meluruskan tanggal,” ujar Najib. Najib mengaku belum merasa cukup atas pembacaan yang telah dilakukan. Pasalnya, pihaknya menemukan beberapa kejanggalan. Misalnya hasil pembacaan ahli dari Perancis yang telah dibukukan, kata 28 Rajab dalam Bahasa Arab tidak ditemukan dalam catatan prasasti. Apalagi, tanggal hari jadi yang telah diundangkan pada masa pemerintahan Bupati Kolonel Soedarso tersebut juga semata merujuk tanggal persitiwa kultural, Dandangan. “Jadi, masih terbuka kemungkinan untuk ditemukan kepastian tanggalnya,” ujarnya. Najib menyatakan, pihaknya akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat apabila penelitian dari tim arkeolog UGM telah mencapai final secara ilmiah. (Farih/Info Muria) bordir asal Bandung, usahanya maju pesat. Usahanya berbuah, sejak 2003 ia telah memiliki tempat pemasaran berupa Show Room di lokasi strategis, Jl. Sukun Raya, Peganjaran Bae Kudus. Usaha yang mulanya hanya mempekerjakan seorang karyawan, kini jumlah pekerjanya mencapai sebanyak 70 orang. Bordir khas Kudus patut dilestarikan. Di kota yang terlanjur populer oleh kretek, menurut Sa’adah, sulit menemukan orang yang berminat pada kerajinan dan pekerjaan ini. Pengerjaan bordir icik, lanjut Sa’adah, membutuhkan proses lama, butuh kejelian dan keterampilan dalam membuatnya. Tidak banyak orang yang memiliki jiwa telaten dan sabar. “Butuh waktu setahun untuk menghasilkan bordir yang halus,” tuturnya. Dalam pembuatan satu baju bordir icik, berdasar pengalaman Sa’adah, memerlukan waktu satu minggu sampai 10 hari, bergantung jenis motifnya. Ciri Khas Ciri khas bordir Kudus adalah kerancang kecil-kecil, halus dan tebal. Namun, sekarang ini yang tebal kurang diminati masyarakat. “Icikan bordir menjadi tipis. Namun tetap tidak menghilangkan kekhasannya yang halus serta motifnya yang detail dengan kerancang kecil-kecil,” kata Sa’adah menjelaskan pengaruh tren terhadap bordir icik. Wisma bordir milik Sa’adah pun mengakomodasi hal tersebut. Dengan macam motif berbahan kualitas tinggi sehingga menghasilkan bordir yang halus, Sa’adah memajang macam assesories di tempat usahanya. Ia menawarkan harga terjangkau. Berkat usahanya, Sa’adah juga memperoleh penghargaan dari Bupati Kudus. Beberapa pameran di luar Pulau Jawa pernah diikuti olehnya. Bahkan, hingga ke luar negeri. (Anik/ Info Muria)


Buku

Landasan Yuridis CSR dan Implementasinya Judul : Corporate Social Responsibility Teori dan Praktik Penulis : Dr. H. Suparnyo, SH, MS Penerbit : Badan Penerbit Universitas Diponegoro Cetakan: Pertama, 2011 Tebal : xv + 432 halaman

D

alam kegiatan ekonomi, posisi dan peran perusahaan (corporate) tidak hanya dituntut menghasilkan keuntungan (profit) tetapi juga memiliki tanggung jawab. Di sisi lain, perusahaan bertindak sebagai subyek hukum sehingga memiliki tanggung jawab hukum. Akibatnya, berbagai peristiwa (kasus) gagal produk yang menyebabkan konsumen mengalami kerugian atau kerusakan lingkungan dampak dari pendirian perusahaan tertentu, perusahaan tersebut dituntut tanggung jawab hukumnya. Seperti kasus pencemaran lingkungan pantai di Teluk Buyat akibat eksplorasi Tambang Emas PT Newmont atau misalnya bencana lumpur Lapindo akibat salah aplikasi teknologi pengeboran PT Lapindo Brantas milik Bakrie Group di Sidoardjo. Selain tanggung jawab hukum, perusahaan juga memiliki tanggung jawab sosial. Corporate Social Responsibility (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan/ TJSP) adalah tanggung jawab moral perusahaan terhadap masyarakat. (hal 5). Bagaimana implementasi, faktor-faktor yang mendorong

perusahaan dan landasan yuridis CSR/TJSP di Indonesia dikupas oleh Dr. Suparnyo dalam buku yang berjudul “Corporate Social Responsibility Teori dan Praktik�. Buku yang diterbitkan oleh Badan Penerbit Univeritas Diponegoro (UNDIP) Semarang ini merupakan metamorfosis dari disertasi Suparnyo di Program Doktor Ilmu Hukum UNDIP. Buku ini menganalisis secara yuridi CSR/TJSP dan praktik CSR/TJSP sebanyak 726 perusahaan industri besar, 643.712 perusahaan industri menengah dan kecil di Jawa Tengah (hal. 14). Secara teori masalah CSR/TJSP di kalangan ahli dijumpai perselisihan. Apakah perusahaan memiliki tanggung sosial atau tanggung jawab sosial merupakan kewajiban? Ada empat teori yang dikemukakan oleh Suparnyo. (hal 8-10) Landasan yuridis pelaksanaan CSR/TJSP terdapat dalam Undang-Undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan, Undang-Undang tentang Badan Usaha Milik Negara, Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan dan terakhir pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Menurut Suparnyo, implementasi CSR/TJSP masih merupakan derma, donasi-donasi untuk charity ketika dimintai pihak lain dan sebagian baru mengarah pada to community affairs. Sementara nilai nilai moral yang terkandung dalam regulasi CSR/TJSP adalah keadilan, kepastian, kepedulian, saling menguntungkan, keberlanjutan usaha, dan kesejahteraan. Buku ini layak dibaca bagi pengusaha, praktisi, akademisi, mahasiswa dan masyarakat umum dalam memahami regulasi dan mengimplementasikan CSR/TJSP dengan baik. (Hoery)

Multikulturalisme, Kunci Keberlangsungan Hidup Manusia Judul : Prosiding Seminar Nasional Psikologi Multikulturalisme:Upaya Membumikan Semboyan Bhineka Tunggal Ika Sebagai Salah Satu Pilar Kehidupan Berbangsa dan Negara Penulis : Hamdi Muluk, dkk Penerbit : Badan Penerbit Universitas Muria Kudus Cetakan : Pertama, Juni 2011 Tebal : v + 262 halaman

M

ultikulturalisme, mendengar kata tersebut mungkin tidak asing bagi kita semua. Istilah yang sering digunakan untuk menerjemahkan ragam kehidupan masyarakat atau pandangan tentang realitas keragaman dan berbagai macam budaya (multikultural) yang menyangkut dari berbagai sistem yang saling terkait. Multikulturalisme perlu diapresiasi tinggi karena empat hal. Pertama, buku ini mengungkapkan secara jernih kondisi dilematis multikulturalisme di Indonesia. Penulis sepakat dengan tulisan

Hamdi Muluk yang berpandangan bahwa multikulturalisme merupakan sebuah ideologi yang menggambarkan kesetaraan status pada kelompok-kelompok yang secara demografis dan kultural berbeda. (Hal 5) Kedua, mengangkat dan membicarakan isu baru dalam wacana multikulturalisme di Indonesia secara komprehensif, yakni isu minoritas, khususnya hak-hak minoritas di hadapan isu mayoritas. Ketiga, buku ini membicarakan multikulturalime dari bawah ke atas, yaitu mengangkat realitas empiris masyarakat minoritas di Indonesia. Keempat, isu, tema, dan analisis setiap tulisan menggambarkan penguasaan materi dan pendekatan yang baik sehingga secara keseluruhan buku ini penting dan bermutu untuk memberikan pemahaman kepada kita mengenai minoritas dan multikulturalisme itu baik dari segi konsep maupun model kebijakan kebudayaan. Buku ini sangat penting bagi kita agar berperilaku multikulturalisme dan peduli dengan kaum minoritas. (Imam Khanafi, Mahasiswa UMK)

Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011 11


Ruang Sponsor

Tanggal Hari/Pasaran Rmd Agustus IMSAK SHUBUH TERBIT DHUHA DHUHUR ASHAR MAGHRIB ISYA’ (H) (M) Senin Legi 1 1 4:17 4:27 5:42 6:14 11:48 15:07 17:44 18:56 Selasa Pahing 2 2 4:17 4:27 5:42 6:14 11:48 15:07 17:44 18:56 Rabu Pon 3 3 4:17 4:27 5:42 6:14 11:48 15:07 17:44 18:56 Kamis Wage 4 4 4:17 4:27 5:42 6:13 11:47 15:07 17:44 18:55 Jum’at Kliwon 5 5 4:17 4:27 5:42 6:13 11:47 15:07 17:44 18:55 Sabtu Legi 6 6 4:17 4:27 5:42 6:13 11:47 15:07 17:44 18:55 Ahad Pahing 7 7 4:16 4:26 5:41 6:12 11:47 15:07 17:44 18:55 Senin Pon 8 8 4:16 4:26 5:41 6:12 11:47 15:07 17:44 18:55 Selasa Wage 9 9 4:16 4:26 5:41 6:12 11:47 15:07 17:44 18:55 Rabu Kliwon 10 10 4:16 4:26 5:41 6:12 11:47 15:07 17:44 18:55 Kamis Legi 11 11 4:16 4:26 5:40 6:11 11:46 15:06 17:44 18:55 Jum’at Pahing 12 12 4:16 4:26 5:40 6:11 11:46 15:06 17:44 18:55 Sabtu Pon 13 13 4:16 4:26 5:40 6:11 11:46 15:06 17:44 18:55 Ahad Wage 14 14 4:15 4:25 5:39 6:10 11:46 15:05 17:44 18:54 Senin Kliwon 15 15 4:15 4:25 5:39 6:10 11:46 15:05 17:44 18:54 Selasa Legi 16 16 4:15 4:25 5:39 6:10 11:46 15:05 17:44 18:54 Rabu Pahing 17 17 4:14 4:24 5:38 6:09 11:45 15:04 17:44 18:54 Kamis Pon 18 18 4:14 4:24 5:38 6:09 11:45 15:04 17:44 18:54 Jum’at Wage 19 19 4:14 4:24 5:38 6:09 11:45 15:04 17:44 18:54 Sabtu Kliwon 20 20 4:13 4:23 5:37 6:07 11:45 15:03 17:44 18:54 Ahad Legi 21 21 4:13 4:23 5:37 6:07 11:45 15:03 17:44 18:54 Senin Pahing 22 22 4:13 4:23 5:37 6:07 11:45 15:03 17:44 18:54 Selasa Pon 23 23 4:12 4:22 5:35 6:06 11:44 15:02 17:43 18:53 Rabu Wage 24 24 4:12 4:22 5:35 6:06 11:44 15:02 17:43 18:53 Kamis Kliwon 25 25 4:12 4:22 5:35 6:06 11:44 15:02 17:43 18:53 Jum’at Legi 26 26 4:11 4:21 5:34 6:05 11:43 15:01 17:43 18:53 Sabtu Pahing 27 27 4:11 4:21 5:34 6:05 11:43 15:01 17:43 18:53 Ahad Pon 28 28 4:11 4:21 5:34 6:05 11:43 15:01 17:43 18:53 Senin Wage 29 29 4:10 4:20 5:33 6:03 11:42 15:00 17:43 18:54 Selasa Kliwon 30 30 4:10 4:20 5:33 6:03 11:42 15:00 17:43 18:54 Konversi Waktu : Rembang -2 menit, Pati -1 menit, Cepu -3 menit, Blora -3 menit, Purwodadi 0 menit, Jepara +1 menit, Demak +1 menit, Semarang +2 menit. Keterangan : 1 Syawal 1432 H menunggu hasil sidang Istbat Pemerintah RI

12 Info Muria / Edisi VI/ Agustus-Oktober 2011

Sumber Rujukan: Pondok Pesantren Sirojul Hanan Astronomical Center Kudus Jl. Sewonegoro Gang 2 No. 27-29 Jekulo Kauman Kudus Telp. (0291) 3427429 Mobile : 085225010929


Info Muria Edisi 6