IDFM Magazine 09

Page 1

EDISI KESEMBILAN - MAY 2015

M A G A Z I N E

RONALD KOEMAN

SANG PENYIHIR DARI NEGERI KINCIR ANGIN

FOOTBALL MANAGER 2015 Tactical dan Tracksuit Manager

FOOTBALL PUNDIT Sukses Qatar Juarai AFC U-19

PLAYERS REVIEW

SI WONDERKID MARTIN ODEGAARD

COVER STORY

FC Bayern Munich Antara Hitzfeld, van Gaal, Heynckess, dan Guardiola

9

© IDFM Magazine - www.fm-indo.com


idfm pep talk

Pada setiap jeda antara edisi lama ke edisi baru, IDFM Magazine selalu kembali menjadi putih. Menjadi tanpa warna. Untuk kemudian kami berembuk bersama bagaimana sebaiknya memberikan cahaya dan mewarnai edisi terbaru. Dan, kami akan makin senang, bila ke depannya, komunitaslah yang bercahaya, memberikan sinar dan warna dalam tiap edisi IDFM Magazine. Jika anda tertarik untuk berkontribusi, beritahukanlah. Kami berharap melihat nama-nama baru berkontribusi terhadap majalah dan komunitas. Sesederhana apapun itu, sampaikanlah. Sebuah sentuhan sederhana jari kelingking anda yang bertaut dengan kelingking orang yang anda cintai, berkontribusi terhadap besarnya cinta yang terbangun lewat sebuah sentuhan kecil. Jika anda menikmati apa yang telah kami lakukan sejauh ini, ketahuilah, bahwa, anda, komunitas FM lokal-lah yang selalu menggerakan otak, hati, dan tubuh kami.

H

allo!!! Ada yang tahu sudah berapa lama sampai IDFM Magazine kembali terbit? Ah, beribu maaf kami ucapkan kepada siapapun yang galau menanti edisi selanjutnya IDFM Magazine. Ketika tuntutan untuk bertahan hidup di dunia menjadi alasan terpinggirkannya IDFM Magazine, klise, tapi mau gimana lagi? Jadi, ada yang mau jadi sponsor kelangsungan IDFM Magazine kedepannya? *eh

Salam FM, Tim IDFM

Mari berhenti bersedih dan segera bersorak! IDFM Magazine kembali dengan Edisi ke-9. Iya sembilan!!! Berisi beberapa ulasan yang (kurang) update dan tetap harus kalian baca, karena untuk sementara hanya ini yang kami punya, hiks hiks. Tetapi tenang, beberapa artikel adalah artikel segar yang siap melepas dahaga kalian kok, hehe.

TIM IDFM Gustav Mandigo ( @GustavMandigo ) Muhammad Rizka. J ( @m_rizka ) Dimas Arviaputra ( @dimasArviaputra ) Handy Fernandy ( @handyfernandy ) Eko Putra A. B ( @Rtupoke ) Ryantank ( @ryantank100 )

IDFM 9

www.fm-indo.com Football Manager Indonesia (IDFM) @id_fm

Kontributor Agam Averroes


Daftar Isi COVER STORY

FOOTBALL MANAGER 2015

FC Bayern Munich

Antara Hitzfeld, van Gaal, Heynckess, dan Guardiola

10

Tahun 2013, merupakan tahun terakhir kali Bayern berhasil juara Liga Champions 18 bulan yang lalu). Keberhasilan Bayern menjalani 3 final dalam 4 tahun 2010, 2012, dan 2013.

TACTICAL dan TRACKSUIT MANAGER

16

Salah satu fitur terbaru di FM15 adalah memilih diantara gaya managerial Tracksuit, Tactical atau kombinasi dari keduanya.

other story

06 19 20 23

Ronald Koeman Sang Penyihir dari Negeri Kincir Angin

Players Review Si Wonderkid: Martin Odegaard

24 26

Tips Youth Intake, Regen, Scout Network, dan Seterusnya...

News FMC15 Tablet Dirilis!

Football Pundit Sukses Qatar Juarai AFC U-19

FMSurvey Pemain FMLegend Versimu Siapa?

ASK IDFM Memiliki pertanyaan atau saran? Silakan follow dan mention @id_fm, serta alamat surel di id_fm@yahoo.com.


IDFM Magazine Open Ads !

Ingin bekerjasama? Hubungi kami: E-mail: id_fm@yahoo.com Twitter: @id_fm / @GustavMandigo / @m_rizka


FOOTBALL MANAGER 2015 SYSTEM REQUIREMENTS


S

tories Pelatih berambut pirang yang

kerap disapa Tintin ini mampu mengangkat prestasi Southampton setidaknya hingga pekan kedelapan Premier League, Soton kini berada di peringkat tiga klasemen sementara Premier League.

Koeman berhasil membuat rezim baru di klub yang bermarkas di Saint Mary Stadium ini.

Apakah Koeman berhasil membawa Southampton ke zona Liga Champions yang dari dulu diidamkan oleh seluruh fans Soton? Dan siapa lagi bibit muda yang akan ditemukan Koeman bersama The Saints?

B Youngster

l

Tactical

Determination

l

l

l

Mental

elanda merupakan salah satu Negara yang sekian lama menjadi kiblat sepakbola dunia, Negeri Kincir Angin ini terkenal dengan permainan khas yang terkenal dengan nama Total Football. Tak hanya itu Belanda juga mampu melahirkan pelatih-pelatih kelas dunia, sebagai contoh ada Louis van Gaal dan Frank Rijkaard. Namun ditulisan saya kali ini saya bukan ingin berbicara tentang van Gaal ataupun Rijkaard, melainkan pelatih baru Southampton yang juga asal Belanda yang kini menjelma bak penyihir di Liga Inggris. Ya, siapa lagi kalau bukan Ronald Koeman. Pelatih berambut pirang yang kerap disapa Tintin ini mampu mengangkat prestasi Southampton setidaknya hingga pekan kedelapan Premier League, Soton kini berada di peringkat tiga klasemen sementara Premier League. Koeman berhasil membuat Rezim baru di klub yang bermarkas di Saint Mary Stadium ini. Pada awal musim Southampton sempat digadang-gadang akan sangat terpuruk musim ini sepeninggal Mauricio Pocchetino yang kini menahkodai Tottenham Hotspurs. Tak sampai disitu South-

ampton juga ditinggal bintang-bintang andalan mereka musim lalu yaitu Adam Lallana, Rickie Lambert, Callum Chambers, Dejan Lovren dan Luke Shaw yang semuanya pergi diboyong oleh klub-klub besar Premier League. Tapi berbekal kelebihan di bidang finansial hasil penjualan pemain bintang Koeman tak begitu kesulitan untuk membangun lagi sebuah tim yang lengkap, dan pembelian terbaiknya adalah Graziano Pelle yang dulunya mantan anak asuh Koeman sendiri di Feyenoord, dan Dusan Tadic yang diboyong Koeman dari FC Twente. Tadic dan Pelle pun beradaptasi dengan cepat dengan Premier League dibawah asuhan Koeman. Pelle sudah mengemas enam gol dan satu assist. Sementara Tadic sukses menorehkan tujuh assist dan satu gol. Bukti nyata awal keberhasilan Koeman membuat rezim baru di Southampton adalah terpilihnya Koeman dan Graziano Pelle sebagai Manager of The Month dan Player of The Month Premier League bulan September. Hal ini tak mengejutkan khususnya bagi saya. Koeman berhasil menangatasi Newcastle 4-0, menang


RONALD KOEMAN

SANG PENYIHIR DARI NEGERI KINCIR ANGIN Oleh: Agam Averroes

1-0 atas Swansea, dan kemenangan 1-0 atas QPR di kandang sendiri. Sementara Pelle berhasil mencetak dwi gol ke gawang Newcastle dan gol tunggal sebagai penentu kemangan atas QPR. Secara taktik, Koeman sudah menggenggam ilmu passing cepat dan memainkan garis pertahanan rendah, ini tentu berbeda dengan skema Pocchetino yang diterapkan selama melatih Soton, yaitu menerapkan High Pressing hingga ke jantung pertahanan lawan. Hal ini terbukti karena dua gelandang kunci Soton yaitu Victor Wanyama dan Morgan Schneiderlin menggunakan role Ball Winning Midfielder. Keduanya ditugaskan menjadi petarung untuk merebut bola di depan kotak 16 Soton. Namun hal ini terbukti sukses karena Soton menjadi tim dengan tackle per game tertinggi di Premier League (24,5 tackle per game). Koeman bisa menggunakan pemain ‘seadanya’ untuk mendobrak pertahanan lawan maupun mempertahankan gawangnya dari kebobolan. Seperti yang saya bilang diatas, Koeman menggunakan strategi garis pertahanan rendah, dimana Nathaniel Clyne dan Ryan Bertrand akan menjadipelecut awal serangan Southampton. Selain itu, cepat kompaknya Dusan Tadic dan Graziano Pelle menjadi senjata Koeman musim ini, sementara Wanyama dan Schneiderlin menjadi penyeimbang lini tengah The Saints. Sejauh ini, gawang Fraser Forster sampai pekan kedelapan Premier League baru kemasukan lima gol, jumlah paling sedikit di Premier League.

Sumber: Premierleague Terpilihnya Koeman dan Graziano Pelle sebagai Manager of The Month dan Player of The Month Premier League bulan September.


FORMASI Koeman menggunakan strategi garis pertahanan rendah, dimana Nathaniel Clyne dan Ryan Bertrand akan menjadi pelecut awal serangan Southampton. Selain itu, cepat kompaknya Dusan Tadic dan Graziano Pelle menjadi senjata Koeman musim ini, sementara Wanyama dan Schneiderlin menjadi penyeimbang lini tengah The Saints.

Kredit khusus yang patut diberikan pada Koeman adalah bagaimana ia bisa meramu pemain-pemain Soton yang banyak diisi pemain-pemain belia. Bersama Tintin, nama-nama seperti Nathaniel Clyne, James Ward-Prowse, Jack Cork, dan Victor Wanyama semakin bersinar. Kesuksesan pria kelahiran Zandaam 21 Maret 1963 ini tentunya tak selalu berjalan mulus, sempat menukangi Vitesse dari 1999-2001 Koeman tak mendapatkan gelar apapun. Tapi setelah itu hingga 2005 ia mendapatkan amanat untuk melatih salah satu klub besar Eredivisie, Ajax Amsterdam. Di klub inilah Koeman mengalami pasang surut karirnya. Bersama Ajax Koeman berhasil mendapatkan 2 gelar Eredivisie serta beberapa trofi domestic. Pada tahun 2005 Koeman didepak Ajax dan merantau ke Portugal, kali ini dia bekerja di Benfica. Dan lagi, nasibnya sama saat menukangi Vitesse. Ia tak mendapat gelar apapun bersama Benfica. Hanya setahun melatih Benfica, Koeman kembali ke kampungnya untuk menukangi PSV Eindhoven, dan hasilnya not-bad, ia berhasil mendapatkan satu trofi Eredivisie pada musim 2006-2007 bersama PSV. Selanjutnya, Koeman mendapat tawaran melatih kelelawar Spanyol, Valencia CF. Di negeri Matador ini Koeman berhasil menjuarai satu gelar Copa Del Rey. Di tahun 2009 ia kembali ke Belanda, kali ini AZ Alkmaar yang berniat mendapatkan servis dari Tintin, dan berhasil

mendapatkan trofi Piala Super Belanda dimusim pertamanya. Di AZ Alkmaar Koeman berhasil bertahan hingga tahun 2011 sebelum Feyenoord yang kini berminat menggunakan jasa Koeman, di sinilah Koeman berhasil menghantarkan Feyenoord menjadi runner up Eredivisie dan di sini juga Koeman mengasah Graziano Pelle menjadi striker hebat. Dan kini, bisa kita lihat apakah Koeman berhasil membawa Southampton ke zona Liga Champions yang dari dulu diidamkan oleh seluruh fans Soton? Dan siapa lagi bibit muda yang akan ditemukan Koeman bersama The Saints? Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya..Prestasi akan didapat melalui kerja keras dari seseorang.


READ US AND PLAY! THE 1ST E-MAGAZINE ABOUT FOOTBALL MANAGER STUFF IN BAHASA. GET US FREE! www.fm-indo.com

S! I T A GR

Majalah Digital Football Manager di Indonesia! Kunjungi www.fm-indo.com


BAYERN MUNICH

Oleh: Ryantank

Antara Hitzfeld, van Gaal, Heynckess, dan Guardiola Berbicara soal Bayern berarti berbicara tentang salah satu klub terbesar di dunia. Cerita, sejarah panjang dan pertandingan tak ternilai, serta prestasi objektif membentang panjang. Mulai dari era 70-an, 80-an, sampai 2000-an. Mulai dari masa Udo Lattek, Dettmar Cramer, Giovanni Trapattoni, Ottmar Hitzfeld, Louis van Gaal, Jupp Heynckess, sampai Josep Guardiola.

+Mia san mia Tahun 2013, merupakan tahun terakhir kali Bayern berhasil juara Liga Champions 18 bulan yang lalu. Keberhasilan Bayern menjalani 3 final dalam 4 tahun 2010, 2012, dan 2013, merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Sebuah hal istimewa, yang hanya bisa dilakukan oleh sebuah klub dengan pondasi yang sangat kuat. Kita coba kembali sedikit ke belakang, ke era di mana Bayern mulai membangun hingga sampai seperti saat ini.

T

ahun 1998, Ottmar Hitzfeld didatangkan dari Dortmund. Ini menjadi salah satu transfer terbaik yang pernah dilakukan oleh Bayern. Hitzfeld sendiri mendatangkan 6 pemain baru. 5 di antaranya menarik perhatian publik Jerman, yaitu, Ali Daei, Stefan Effenberg, Jens Jeremies, Thomas Linke, dan Hasan Salihamidzic. 4 nama terakhir, pada akhirnya, membawa pengaruh sangat besar pada kesuksesasn Bayern nantinya. Di musim 1998/1999, Hitzfeld bermain dengan bentuk dasar 3-4-3. Atau, anda juga bisa menyebutnya 1-2-4-3 atau 1-4-2-3. Intinya, 1 Sweeper, 2 bek Tengah, 2 Bek Sayap, 2 Gelandang Tengah, 2 Penyerang Sayap, dan 1 Penyerang

tengah.

Era Ottmar Hitzfeld Formasi FC Bayern 1998/1999. Pemain yang tersebut dalam tiap posisi, bukan “harga mati�. Saya hanya berusaha menggambarkan opsi tugas pemain Bayern, di musim tersebut.


Hitzfeld

terkenal sebagai manajer yang sangat mampu membangun pertahanan yang kokoh. Hitzfeld juga sangat percaya pada“low defensive line” sebagai strategi bertahannya. Kita coba deskripsikan secara singkat bagaimana peran para pemain Bayern era Hitzfeld.

+ + + +

Lothar Matthaeus merupakan Libero yang tidak bertugas sebagai marker, ia lebih difungsikan sebagai organisator yang punya “kebebasan” untuk roam ke depan. Sangat sering terlihat, Matthaeus terlibat dalam transisi menyerang dan ikut naik ke atas. Libero (Attacking) cukup mewakili role Matthaeus di Bayern. Di tengah, duet Stefan Effenberg dan Jens Jeremies merupakan tipe pemain dengan kekuatan menyerang dan bertahan yang baik. Effenberg bisa digambarkan sebagai kreator serangan sebenarnya. Punya teknik, tenaga, keberanian, emosi, dan kharisma. Jeremies merupakan salah satu gelandang tengah Jerman yang memiliki stamina dan kecepatan. Effenberg dibandingkan Jeremies (Ball Winning Midfielder-Defending), difungsikan lebih advanced (Advanced Playmaker-Support). Dua sayap belakang, punya karakter gerak berbeda. Sisi kiri merupakan sisi yang lebih agresif dalam menyerang. Wajar saja, di sana ada salah satu bek kiri terbaik dunia sepanjang masa, Bixente Lizarazu (Defensive Winger). Michael Tarnat menjadi back-up nya. Di kanan, Babbel (Wing Back-Support) yang punya kapasitas sebagai bek tengah, sudah jelas menawarkan kekuatan bertahan yang bagus. Di depan, Hitzfeld meletakan 3 pemain. Memainkan Carsten Jancker atau Giovane Elber, Hitzfeld memainkan taktik berbeda. Sederhananya, Elber bisa disebut sebagai Advanced Forward yag eksplosif, sementara Carsten Jancker merupakan Target Man dengan kekuatan fisik yang mengerikan. Di ke-dua striker sayap, Bayern punya dua pemain dengan karakter berbeda. Di satau sisi, Alexander Zickler merupakan tipe “pemain tim” yang profesional dan selalu “bersedia”, baik sebagai starting line-up atau pun cadangan. Kecepatannya sangat cocok untuk skema serangan balik cepat. Di sisi lain, ada Mario Basler. Si bengal yang paling sering telat datang latihan, perokok berat, suka minum, tapi, punya individual skill yang masuk dalam golongan paling aduhai sepanjang sejarah Jerman. Satu dari sedikit gelandang serang yang punya kemampuan bersaing dalam jajaran top scorer Bundesliga.

“Takdir permainkan kami dengan cara yang mengerikan”. - Effenberg

Pada akhir musim 1998/1999 (musim pertama Hitzfeld), Bayern mengakhiri musim dengan kegetiran yang “tidak terlukiskan”. Effenberg menggambarkan kegetiran dengan mengatakan “takdir permainkan kami dengan cara yang mengerikan”. Kalah oleh MU 1-2, di 2 menit terakhir, di Final UCL, setelah sepanjang pertandingan bermain lebih baik dengan sempat unggul 1-0.

respect Carsten Jancker menangis dalam ketidakpercayaannya terhadap “bencana 2 menit” Tarnat, Kahn, dan Scholl, setelah gol Solksjaer di menit 93


Beberapa hari kemudian Bayern tampil di Final Piala Jerman. Di partai ini, Bayern kembali kalah adu penalti, oleh Bremen, dengan skor 4-5. Sekaligus, mengakhiri musim dengan “hanya” meraih gelar Bundesliga 1999. Dari kemungkinan Treble, Bayern “hanya” meraih 1 gelar. Musim 2000/2001, tibalah apa yang telah dinantikan Bayern, selama lebih dari 2 dekade. Trofi juara Liga Champions diraih. Di musim ini, Hitzfeld masih bermain dengan bentuk yang sama. Bedanya, ada pada SDM pemain. Lothar Matthaeus sudah tidak di Bayern. Posisinya digantikan oleh Patrik Andersson. Konsekuensinya, cara Bayern bermain di belakang, berubah, karena,

ke-duanya beda karakter. Di kanan, Willy Sagnol menjadi pilihan utama. Di depan, Hasan Salihamidzic dan Mehmet Scholl mendapatkan waktu bermain lebih, pada posisi striker sayap. Di Final, Bayern memainkan anak muda berusia 19 tahun bernama Owen Hargreaves menggantikan tempat Jens Jeremies yang cedera panjang. Kualitas penampilannya? Anda tahu sendiri bagaimana kualitas Hargreaves kalau cedera tidak menghancurkan karirnya. Saya yakin, ia akan jadi salah satu deep-creator terbaik dari tanah Inggris. Salah satu starting line-up Bayern 2000/2001

Waktu terus berjalan. Felix Magath (si diktator) dan Jurgen Klinsmann sempat menangani FC Bayern. Magath sempat menangani Bayern 2 musim. Dengan 2 gelar Bundesliga. Di era Klinsmann, beberapa kebijakan menjadi pertanyaan (dan penyesalan), hingga saat ini. Mulai dari dilegonya Mats Hummels, lalu, rumor bahwa Klinsi juga pernah berniat melego Thomas Muller, sampai kekuatan pertahanan yang menjadi titik lemah Bayern selama Klinsi menjabat sebagai juru taktik. Hanya 1 musim, Klinsi cabut dari Bayern.

Stefan Effenberg, kapten tim, mengangkat trofi UCL 2001 sekaligus menghapus kenangan pahit 1999

D

i musim panas 2009, Louis van Gaal ditunjuk menjadi juru taktik. Di era van Gaal, Bayern mendapatkan beberapa kemajuan berarti. Van Gaal yang memiliki background kuat di Ajax, sebagai klub penghasil pemain muda terbaik, membawa DNA ini ke Bayern. Ia promosikan Holger Badstuber dan Thomas Muller. Dari sisi taktik, kebijakan van Gaal memboyong Arjen Robben menjadi salah satu kunci utama sukses Bayern 2009/2010. Banyak eksperimen lain dilakukan van Gaal. Salah satunya, Bastian Schweinsteiger menemukan “tempatnya” di sisi tengah gelandang. Beberapa cerita cedera juga menghantui Bayern selama musim tersebut. Menjelang akhir musim, barulah van Gaal menemukan

kombinasi taktik yang dirasa paling ideal. Line-up Bayern di periode 1/3 akhir musim 2010, menjadi cermin taktik van Gaal.

Era Louis van Gaal 4-4-2 atau 4-2-2-2 atau 4-2-3-1 (anda punya hak menyebutnya apa pun sesuai sudut pandang anda), sebagai salah satu line-up utama van Gaal di musim 2009/2010


Bila Hitzfeld terkenal dengan kekuatan lini pertahanannya, maka, van Gaal, adalah kebalikannya. Eksplosivitas Arjen Robben (Inside Forward), Frank Ribery (Inside Forward), Thomas Muller (DLF-Support), dan Ivica Olic (Advanced Forward) dimanfaatkan dengan maksimal. Van Gaal menyatakan, bahwa, pertahanan tim tidak lebih penting dari penyerangan. Dan, teori serta prinsip van Gaal ini bertemu batunya, kala di Final UCL 2010, Jose Mourinho dengan pertahanannya, menghajar Bayern

dengan skor 2-0. Van Gaal gagal membawa trofi UCL ke Bayern, tapi, apa yang ia lakukan pada Muller, Badstuber, dan Schweinsteiger, pada akhirnya memberikan dampak positif jangka panjang bagi Bayern dan Jerman. Di musim 2009/2010, sisi kanan menjadi salah satu senjata paling mematikan. Kombinasi Robben dan Lahm, membawa sisi kanan Bayern berkontribusi sebanyak 43 gol (gol dan assist) di semua ajang. Perubahan Schweinsteiger dari

sayap menjadi salah satu dari duo pivot (Box to Box Midfielder), juga merupakan putusan brilian. Workrate, passing, creativity, dan dicipline, menjadi kunci Schweini mampu bermain di posisi ini. Singkatnya, bila banyak yang katakan 4-4-2 sudah “mati�, van Gaal membuktikan, 4-4-2 belum mati, melalui berbagai penyesuaian yang ia lakukan ke dalamnya. Brilliant. Simply brilliant.

Para pemain bayern setelah adu penalti menghadapi Chelsea

S Era Jupp Heynckes Salah satu formasi Bayern di musim 2011/2012

2-5. Di Final UCL, Bayern pun gagal. Bayern kalah dari Chelsea melalui adu penalti, di hadapan pendukungnya sendiri, di Allianz Arena. Beyern Treble runner-up. Di Final tersebut, keputusan Heynckes menggantikan Muller, dengan Buyten, tepat setelah Muller membuat gol, untuk kebutuhan taktik bertahan, menjadi pertanyaan dan kritik keras. Juga, banyaknya peluang yang dibuang Mario Gomez dalam pertandingan tersebut, pada akhirnya menjadikan Gomez sebagai salah satu kambing hitam. Dan, yang paling parah, kegagalan Arjen Robben mengeksekusi penalti, di masa OT, dan kengototannya untuk lakukan tembakan langsung, tanpa memberikan umpan, dalam beberapa kesempatan, membuat Robben di-boooooo

etelah era van Gaal, Jupp Heynckes datang kembali. Pemain andalan Heynckes, Toni Kroos (Trequartista/Advanced Playmaker), menjadi salah satu elemen terpenting Bayern. Kemampuannya mengorganisir serangan dan timing-nya untuk muncul dari lini ke-dua, menjadi 2 dari banyak senjata utama Kroos. Mario Gomez (Poach-

pendukung Bayern. Hebatnya, hal ini terjadi sampai beberapa bulan pasca Final. Sepertinya, untuk meraih sebuah sukses, Bayern membutuhkan kegetiran terlebih dahulu. Di musim 2001, Bayern menjadi juara UCL 2001, dengan kenangan pahit 1999 mengikuti tim saat saat itu. Begitu pula dengan kegagalan pahit 2012 (plus kekalahan di Final tahun 2010), membayangi langkah Bayern menapaki Final UCL 2013. Segalanya makin berat, mengingat lawan yang dihadapi adalah Borussia Dortmund, tim yang sering menjadi penghancur Bayern dalam 2 tahun terakhir. Di musim 2012/2013 tersebut, Heycnkes membawa Bayern ke level yang jauh lebih tinggi. Sebuah level di mana sebagian publik Eropa sampai beretorika,

er), sang striker tunggal, juga makin menemukan era-nya. Heynckes sendiri, mengusung formasi 4-2-3-1. Di akhir musim 2011/2012, Heynckess mengalami kegetiran yang sama dengan apa yang dialami Hitzfeld 13 tahun silam. Bahkan lebih pahit. Gagal menjuarai Bundesliga, diikuti kegagalan Bayern di Final Pokal, dihajar Dortmund


bahwa, apakah Bayern merupakan tim terbaik saat itu.

sinilah ke-modern-an sepakbola terlihat nyata.

Heynckes membawa direct-play, tempo cepat, high up pressing (mengacu pada Counter pressing ala Dortmund), duo pivot yang sangat bertenaga sekaligus berteknik, dan dua sayap yang sangat cepat dan ikut berperan dalam pertahanan. Belum lagi, bagaimana Heynckes sukses memberikan peran defensive forward kepada Mario Mandzukic, dengan sempurna. Ada kecepatan, ada pressing, ada power, dan ada permainan keras. Unsur Jerman yang sangat kentara.

Dalam salah 1 artikel saya :

Fleksibilitas taktik dan role juga terlihat pada Bayern era Heynckes. Apa yang Heynckes tampilkan kala mengalahkan Juventus 2-0 dan 2-0 dalam dua leg, menjadi cermin nyata. Perhatikan bagaimana Toni kroos bermain. Dan lihat baik-baik, bagaimana perilaku Mario Mandzukic dalam mem-pressing pertahanan Juve sepanjang waktu. Di

h t t p s : // r y a n t a n k 10 0 . w o r d p r e s s . com/2014/10/12/defensive-pocketas-the-creator-lying-in-the-deep-androaming-to-the-advanced-area/ anda bisa melihat, pentingnya peran deep lying midfielder, sebagai deep-creator. Heynckes menyadari hal ini. Dalam pandangan Heynckes, Pirlo merupakan deep creator yang harus dimatikan. Oleh Heynckes, Toni Kroos merupakan pemain yang ditugaskan mengawasi, menjaga, dan mematikan Pirlo. Ketika kemudian Kroos cedera, Muller lah yang menggantikan peranan Kroos. Dan ke-duanya, Kroos maupun Muller, bermain di satu posisi yang sama, gelandang serang tengah (AM Center). Mari kita sebut role ini, Advanced Defensive Midfielder (theoriginalcoach. com).

Era Josep Guardiola Salah satu tactical set-up Guardiola musim 2013/2014 & Bentuk dasar 4-3-3 Bayern musim 2014/2015

R

evolusi lain kembali terjadi. Bagi Matthias Sammer dan Karl Heinz Rummeniege, Josep Guardiola merupakan orang yang tepat untuk menjamin target jangka panjang Bayern. Rummeniege menyebutnya sebagai jenius bola yang tergila-gila pada sepakbola. Pep mengusung gaya khas-nya ke Bayern. Tiki-taka, dengan penekanan pada penguasaan bola yang ekstrem. Di musim pertama, Pep banyak me-

mainkan pola dasar 4-1-4-1 dengan fleksibilitas formasi menjadi 4-4-11 saat pressing atau 2-1-4-3 saat menyerang. Terjadi perbedaan yang sangat besar dalam permainan Bayern di bawah era Guardiola, 2013/2014. Dari sebuah tim yang direct passing, mejadi tim yang ekstrem possession-based. Pola dasar 4-1-4-1 dan segala fleksibilitasnya, menjadi identitas taktikal Bayern di musim tersebut.

Sama halnya yang dilakukan Mandzukic. Selama musim pertamanya di Bayern, Mandzukic memperlihatkan bahwa ia merupakan salah satu striker modern (yang tidak hanya hebat dalam urusan mencetak gol) terbaik di era sepakbola modern, yang menuntut universalitas peran (di FM kita mengenalnya dengan Fluidity). Sepanjang pertandingan, tidak lelahnya Mandzukic bergerak flank to flank dan seluruh area pertahanan Juve, untuk memberikan pressing penuh, yang mempersulit buil-up play Juve di belakang. Di dalam Football Manager, kita mengenalnya dengan Defensive Forward role. Di dunia nyata, saya lebih nyaman menyebutnya, Advanced Defensive Midfielder.


Di semi final UCL 2014, sebuah kekalahan mengerikan dialami Bayern dari Real Madrid. Bayern diagregat Madrid, dengan skor, 0-5. Ancelotti menemukan penangkal tepat dalam menghentikan permainan Guardiola. Selain bermain deep dan “menunggu”, Ancelotti memanfaatkan kelemahan Bayern dalam duel bola-bola udara. Sebuah ironi, mengingat musim sebelumnya, Bayern termasuk sangat kuat di udara. Kritik mengalir deras. Banyak fans mencibir Guardiola dan tiki takanya.

Untuk musim ini, beberapa bentuk dasar digunakan Guardiola. Salah satu yang paling sering digunakan, adalah, bentuk 4 bek, 3 gelandang tengah, 2 penyerang sayap, dan 1 penyerang tengah. Dua hasil terakhir (saat tulisan dibuat), membelalakan mata pecinta sepakbola Jerman. Kala Bayern mengalahkan Bremen 6-0, tidak sekalipun Bremen mampu lakukan shot on target. Dan yang terbaru, Roma dihancurkan dengan skor 1-7 di Olimpico.

Bentuk dasar 3-3-3-1 Bayern musim 2014/2015

Hitzfeld memulai “pembangunan” dengan mengakhiri puasa gelar CL Bayern. Van Gaal datang dengan filosofi sepakbola yang fluid dan attacking-minded. Heynckess, dengan direct play dan van Gaal-ish di dalamnya, berhasil membawa gelar CL ke Allianz Arena. Saat ini, di era terbaru, Guardiola menjadi komando tertinggi di medan pertandingan. Sebuah era di mana Jerman tidak hanya akan mengandalkan power, kedisiplinan, dan kecepatan, tetapi, juga teknik, keindahan, dan winning with style. Mia san mia.

Di musim 2014/2015 (musim ini), Guardiola menunjukan banyak fleksibilitas taktik, baik makro maupun mikro. Partai menghadapi CSKA Moscow menjadi salah satu saksinya. Memulai pertandingan dengan bentuk 4-2-3-1. Di tengah-tengah pertandingan, Bayern merubah gaya main ke bentuk dasar 3 bek sejajar. Yang unik lagi, Guardiola memberikan 2 role-duty super-hybrid pada Philip Lahm dan (terutama) David Alaba. Salah satu role-duty yang saya maksud, adalah, Box to Box Central

Defender (B2BCD). Apa itu B2BCD? Analisa detailnya, bisa dilihat di halaman lain edisi ini.

Pada era Guardiola, pembelian Gotze dan Lewandowski menjadi 2 hal utama yang banyak diperbincangkan. Dan bukan kebetulan pula, bahwa Gotze merupakan salah satu talenta terbaik Jerman saat ini, yang terkenal dengan teknik, visi, dan key passing-nya. Melalui pembelian Gotze, bisa jadi salah satu patokan bagi anda untuk menilai, ke mana arah Bayern akan dilayarkan Josep Guardiola ke depannya.


Oleh: Eko Putra A. B

Tactical managervs Tracksuit Manager B agi yang sudah menjajal FM15 versi beta, selamat ya. Anda adalah termasuk yang pertama merasakan getirnya mengejar ketertinggalan gol, deg degan saat penalti dilakukan pemain anda, ataupun resahnya mengejar capolista, dengan nuansa baru yang bernama Football Manager 2015. Bila kita berbicara tentang versi beta, harus kita maklumi kalau masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki saat versi final dimulai. Tapi bukan bearti kita tidak bisa merasakan fitur baru di FM15 bukan ? Salah satu fitur terbaru di FM15 adalah memilih diantara gaya managerial Tracksuit, Tactical atau kombinasi dari keduanya. Kesan pertama saya saat merasakan atribut ini adalah : SI kali ini tidak berniat memberikan kemudahan dalam bermain Football Manager ! makin rumiit broo :D. Jika saya pernah mengatakan bahwa pengalaman managerialmu di FM bagaikan jalan kehidupan seseorang, dimana walau bisa di jalan yang sama, tapi pasti cerita yang dialami pasti berbeda. Nah, pemilihan gaya ini makin menasbihkan kata kata tersebut. Di artikel ini, kamu tidak akan menemukan atribut yang mana yang harus kamu pilih untuk membuatmu menjadi manager tersukses di semesta raya. Tetapi tujuannya hanya bersifat membantu, memberikan informasi awal untuk kamu ekplorasi nantinya. Sebelum distribusi poin untuk memilih atribut pilihanmu, kamu akan diberi pilihan yang bernama Coaching badges dan Past Experience. Dimana intinya, pilihan tersebutlah yang menentukan berapa poin maksimal yang bisa kamu distribusikan ke atributmu nanti. Kamu bisa memilih yang paling ekstrim, seperti tidak mempunyai Coaching badges dan pengalamanmu hanya sebagai mantan pemain Sunday league, atau kalau di Indonesia, bisa kita bilang : pemain liga tarkam. Pilihan manapun yang akan kamu pilih akan memberikan perbedaan total poin sekitar 10-12 poin untuk didistribusikan.


Coaching Badges, pilihannya adalah : None (paling bawah) National C License National B License National A License Continental C License Continental B License

Tracksuit Manager Tracksuit Manager

Continental A License Continental Pro License (paling tinggi)

Coaching Atributnya adalah : Attacking Berpengaruh terhadap efektifitas latihan dalam menaikkan atribut attack pemainmu. Defending Berpengaruh terhadap efektifitas latihan dalam menaikkan atribut defend pemainmu. Fitness Berpengaruh terhadap efektifitas latihan dalam menaikkan atribut fisik pemainmu. GoalKeeping Berpengaruh terhadap efektifitas latihan dalam menaikkan atribut Goal Keeper pemainmu. Tactical Berpengaruh terhadap efektifitas latihan dalam menaikkan atribut tactical (anticipation, teamwork, etc) pemainmu. Mental Berpengaruh terhadap efektifitas latihan dalam menaikkan atribut mental pemainmu. Working With Youngster. Berpengaruh terhadap efektifitas latihan untuk pemain usia muda.

Past Playing Experiences yang bisa dipilih adalah : Sunday League Player (paling bawah)

Tactical Manager Tactical Manager

Semi Professional Player. Professional Player (regional level) Professional Player (national level) International Player

Mental Attributes yang bisa dipilih adalah : Adaptability Makin tinggi atribut ini akan membuatmu lebih mudah mendapatkan pekerjaan dari liga di negara yang berbeda. Determination Makin tinggi attribut ini akan membuatmu lebih mudah mendapat persetujuan dari Board saat meminta sesuatu. Player Knowledge Makin tinggi attribut ini akan membuatmu lebih mudah mengetaui attribut dan posisi terbaiknya dari pemain di tim senior. Youngster Knowledge. Makin tinggi attribut ini akan membuatmu lebih mudah mengetahui attribut dan posisi terbaiknya dari pemain tim usia dini (youth) Level Discipline Makin tinggi attribut ini akan membuat pemain di timmu tidak akan sering berbicara atau meributkan hal hal yang kecil. Man Management Akan lebih memudahkanmu dalam mengelola jadwal training tim dan individual. (Happy atau tidak) Motivating Makin tinggi attribut ini akan makin efektif team talk dan moral tim lebih mudah terjaga.


jadi, apa pilihanmu?

M

emang hal ini tergantung pilihan kalian masing masing, tapi selalu perhatikan ini dengan seksama. Karena ini adalah sebagai pijakan awal kalian dalam berkarir di dunia FM. Sebagai contoh, mungkin saat kamu melatih tim kecil, kamu akan lebih memilih tracksuit manager karena dari sisi kemampuan board klubmu dalam membeli pemain sangat terbatas, jadi buat apa untuk meningkatkan determination di awal permainan ? sehingga mungkin kalian memilih lebih fokus untuk meningkatkan attribut trainingmu untuk memudahkanmu meningkatkan kemampuan pemainmu. Tapi meningkatkan kemampuan attribut motivating tidak akan rugi apapun pilihan tipe managerialmu nanti. Sebagai bocoran, Potential Abilitiesmu sudah pasti 200 yang artinya paling tinggi, jadi seiring waktu nanti seiring dengan perjalananmu, meningkatkan semua attribut managerialmu bukan hal yang mustahil (tapi pasti sangat sulit) Saya rasa sudah banyak dari FMLovers yang mulai terbiasa dengan pilihan awalnya. Tetapi apa sudah ada yang membandingkan dengan 2 tipe managerial yang berbeda ? Nah setelah baca artikel ini, kalau sudah mulai bosan menang terus dan ingin mencoba new game, coba deh pilih jalur karir yang berbeda.


PLAYERS REVIEW

Martin Odegaard

Oleh: Muhammad Rizka. J

K

amu mungkin jarang bahkan hampir tidak pernah mendengar tentang pemain yang satu ini. Tetapi ternyata pemain yang masih berumur 15 tahun ini pantas menyandang the next big thing di dunia sepakbola, juga dalam dunia virtual Football Manager.

Ødegaard sukses membuat rekor debut sebagai pemain termuda dalam ajang kualifikasi EURO setelah bermain bagi negaranya Norwegia. Sebelumnya Ødegaard juga sukses menarik puluhan scout untuk datang ke Oslo untuk memantau bakatnya. Belakangan, Louis Van Gaal juga sudah menyatakan minatnya terhadap calon wonderkid ini. Ødegaard sudah promosi untuk berlatih dengan tim senior sejak berumur 13 tahun. Di FM 2014, Ødegaard masih belum terdaftar dalam database pemain. Apakah Ødegaard akan menjadi salah satu must-buy player di FM 2015? Hmmm, asal jangan jadi seperti Freddy Adu aja deh.

Profile 15 Years Old 17 Dec 1998 174 cm / 64 kg AMC - MC - AMR / Adv. Playmaker Either Preferred Foot Contracted to Stromsgodset


Q

atar, Apa yang anda pikirkan tentang negara ini? Negara kaya? Tuan rumah FIFA World Cup 2022? Atau mungkin tulisan Qatar Airways yang sering kita lihat pada bagian depan jersey Barcelona juga mungkin juga nama Nasser Al-Khelaifi dengan Qatar Investment Authority-nya yang mengakuisisi PSG dan kini di sulap menjadi klub raksasa yang haus akan prestasi. Qatar memang di kenal sebagai negara kaya, baru-baru ini CNN melangsirkan laporan negara terkaya di dunia pada tahun 2014 yang di peroleh dari PDB (Produk Domestic Bruto) per kapita. Negara Qatar dengan PDB US$93.352 berada di posisi ke 3 sebagai negara terkaya di dunia setelah Luksemburg dan Norwegia. Ketiganya di nilai oleh bank dunia sukses kelola kekayaan alam negaranya.

Qatar juga di dapuk sebagai tuan rumah Piala Dunia untuk tahun 2022 setelah menang voting yang di lakukan di Zurich pada desember 2010. Meski kini masih menjadi pro dan kontra perihal kemenangan bidding Qatar yang di tenggarai penuh dengan kecurangan sampai dengan masalah cuaca yang kurang cocok bagi orang non-asia Qatar tetap pede untuk lanjutkan pesta akbar sepak bola yang diadakan setiap empat tahun sekali. Bicara soal Piala Dunia negara Qatar tak main-main, jika anda masih masih gagal Move On melihat penampilan U-19 Indonesia yang under performance, hal sebaliknya terjadi pada timnas U-19 Qatar yang sukses lolos ke Piala Dunia U-20 dan sekaligu menjuarai turnamen AFC U-19 di Myanmar setelah menang 1-0 melawan Korea Utara di Final. Kemenangan atas Korea Utara menjadikan Qatar untuk pertama kalinya menjuarai turnamen tersebut setelah 11 kali ikut, prestasi tertinggi sebelumnya hanya menjadi runner up pada tahun 1980. Hebatnya lagi perjalanan timnas U-19 Qatar di AFC kali ini terbilang istiewa karena tak terkalahkan selama babak penyisihan dengan meraih dua kemenangan dan sekali imbang serta tak tak terkalahkan hingga mencapai final.

Di balik Sukses Qatar Juarai AFC U-19 Oleh: Handy Fernady

Qatar, Apa yang anda pikirkan tentang negara ini? Negara kaya? Tuan rumah FIFA World Cup 2022?

Apa Rahasia di Balik kesuksesan Qatar Juarai AFC? “Di balik kesuksesan seorang pria ada seorang wanita hebat di belakangnya� meminjam pepatah tersebut sesungguhnya di balik kesuksesan Qatar menjuarai AFC dan bisa ikut dalam putaran final Piala Dunia U-20 adalah berkat ikut andilnya peran pemerintah dalam membangun budaya olah raga disana. Lewat Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani perdana menteri Qatar sekaligus Keluarga kerajaan Qatar berinisiatif

mendirikan sebuah pusat akademi olahraga bernama Aspire Academy, dengan fasilitas yang super canggih dan super mewah, Aspire Academy tak hanya menampung para putra putri terbaik Qatar namun juga dari seluruh dunia untuk bergabung dalam akademi tersebut. Aspire Academy sendiri fokus pada olahraga tim seperti sepak bola dan bola tangan. Aspire Academy hampir setiap tahunnya mengadakan pencarian bakat ke 14 negara dan tak kurang menyeleksi hingga 600 ribu anak dari negara-negara seperti Afrika, Amerika Latin, dan kawasan asia. Dan 20 pemain terbaik berhak mendapat beasiswa dan di harapkan menjadi pemain profesional nantinya.


Hasil dari Aspire Academy pun nyata, jikalau anda perhatikan nama pemain yang di bawa oleh Felix Sanchez Bas adalah pemain yang bermain di Eropa seperti dari penjaga gawang Youssef Hassan dan pemain tengah Nasser Ibrahim Al Nasr bermain di Virraeal B, lalu Abdulaziz Mahmoud Al-Khalosi, Ahmed Moein Doozandeh, Ahmed Al Saadi dan Fahad Ali masuk dalam tim Reserves Eupen (Belgia), Jasem Omer bermain di Red Bull Salzburg U-19 , Tameem Al Muhaiza (AtlĂŠtico Madrid C), Husam Kamal Hassanin dan Assim Omar (Auxerre C), Abdullah Ali (Real Madrid Juvenil B), Akram Afif (Sevilla U-19), hanya sisa 10 orang yang bermain di liga lokal Qatar.

Nama Indonesia di Aspire Academy Seperti yang di ketahui Aspire Academy mencari bakat dari seluruh penjuru dunia, dari sekian banyak anak yang di jaring oleh pemandu bakat ada 3 nama yang berasal dari Indonesia yakni Farri Agri (Al Khor), Andri Syahputra (Al Gharafah), Khuwailid Mustafa (Lekhwiya SC) ketiganya pernah mencicipi Aspire Academy dan ketiganya berpotensi memperkuat timnas Qatar di masa depan. Aspire Academy juga memiliki proyek untuk menaturalisasi atlit bimbingan mereka karena meski ada peraturan jika ingin menjadi warganegara Qatar harus tinggal di Qatar selama 25 tahun terkecuali atlit. Atlit di Qatar saat ini memiliki posisi yang tinggi dalam kasta masyarakat di Qatar, khusus para pemain sepakbola mereka difasilitasi dengan latihan standar profesional, hotel mahal, supir pribadi dan pakaian bermerk. Qatar menjamin penduduknya dengan standar hidup tertinggi. Siapa yang tidak ingin hal seperti itu?. Diluar akademi Aspire jika anda ingat-ingat dahulu mantan striker Werder Bremen yang asal Brasil Ailton pernah di bujuk untuk memperkuat Qatar, ada juga nama Sebastian Soria dari Uruguay yang sukses di naturalisasi, selain nama Soria ada nama Marconi Amaral Costa dan Fabio Cesar Montezine keduanya asal Brasil, serta gelandang berdarah Ghana Lawrence Quaye juga menjadi langganan timnas Qatar belum lagi yang berasal dari kawasan asia seperti Ibrahim Majid yang berasal dari Kuwait, Abdulgadir Ilyas Bakur dari Arab Saudi.

Mimpi Eropa Selain mengembangkan akademi, Aspire Foundation juga mengakuisisi klub Belgia, sejak bulan juni 2012 lalu Aspire membeli klub K.A.S Eupen, klub ini di proyeksikan untuk menampung pemain berbakat dari Aspire Academy. Pencetak gol terbanyak Qatar sekaligus top skor AFC U-19 dengan 5 gol Ahmed Al Saadi masuk sebagai pemain K.A.S Eupen. Qatar sepertinya amat sangat bernafsu untuk tampil hebat di Piala Dunia 2022 yang bakal di gelar di negara mereka, mereka merencanakan sedemikian matang dan hasil mulai ditanam oleh mereka dengan menjuarai AFC. Indonesia sebenarnya melakukan cara yang nyaris serupa, mengirimkan atlit sepak bola berbakat ke S.A.D Indonesia di Uruguay lalu juga membeli klub C.S Vise dan juga proyek Pelatihan Pusat Hambalang yang di proyeksikan untuk mengembangkan bakat atlit, namun sepertinya masih terjadi banyak kendala yang terjadi seperti S.A.D yang di bubarkan serta C.S Vise yang kini berhenti mengontrak pemain Indonesia karena jauh dari harapan dan Pelatihan Pusat Hambalang yang lebih terkenal kasus korupsinya ketimbang pemgembangan atlitnya.


Sebagai mengisi waktu untuk hiburan juga mengasah prestasi, bermain game kesukaan sambil online dan share dengan teman-teman komunitas sangat mungkin dilakukan. Bisa juga sambil mengabadikan momen foto dan kuliner santai seperti turis asing lainnya agar tetap keren dan membuat permainan kamu tambah ceria. Ceria? Wajib, Bro! Karena koleksi terbaru Brand fashion lokal COFFEESTAR OUTFIT (CSO), baru saja merilis koleksi Tshirt Series bertema Bitter & Sweet Edition dengan mengandalkan tema mix and match casual dengan grafis vintage-typography. Rilisan artikel koleksi Bitter & Sweet Edition antara lain adalah Delight Logo-Red, Bitter Sweet Pocket-White, Billionaire Raglan-Misty/Grey, dll. Nah, buat kamu yang ingin share dengan teman-teman komunitas agar semakin pede saat permainan mu unggul dan tambah ceria ditemani produk CSO, koleksi Bitter & Sweet Edition tersedia di CSO online, pemesanan via SMS/WhatsApp: 0856-9270-7668 dan BlackBerry PIN: 2943CB22. Jangan lupa untuk info update-nya kamu bisa follow Twitter: @COFFEESTARcso dan like FB Page: www.facebook.com/COFFEESTARcso . Mix and Match Yours!


P

ada suatu hari yang membosankan, saya secara sengaja melontarkan sebuah polling ke group Facebook IDFM (yang punya akun FB dan belum join, bisa ke sini ya https://www.facebook.com/ groups/364775096957512/) untuk mengajukan pertanyaan.

Secara garis besar sih memang yang disebut legends di pertanyaan di atas adalah pemain yang paling berkesan buat kalian dari seluruh pengalaman kalian memainkan Football Manager dari seri berapapun.

Oleh: Eko Putra A. B

FMSurvey

Pemain FMLegend versimu siapa? "pemain Lagi pengen buat artikel siapa sih pemain yang menurut kalian itu Legends banget di FM. kriteria bebas, bisa dari segala umur, dari liga manapun, kebangsaan apapun. intinya saat kalian beli (dan jual) pemain itu, kalian dapat kesan tinggi sekali, entah dia rajin nyetak gol, atau berkembang sangat pesat, atau pas dijual harganya tinggi sekali, atau betul betul jadi andalan kalian di tim kalian.

Polling Facebook 25-29 Maret 2015


Tips: Penjelasan Tentang

Oleh: Eko Putra A. B

youth intake, regen, scout network, dst... Apakah Youth Intake itu :

Y

outh Intake itu adalah suatu periode dimana FM akan menggenerate pemain dan staff yang bener bener baru, yang bisa dibilang baru “lahir� di dunia FM ini. Yang akrab kita kenal dengan istilah Regen. Nah waktu regen ini muncul biasanya tak slama sebelum periode klub melakukan proses seleksi / trial apakah regen

tersebut, bisa diberi kontrak untuk bergabung dengan klub atau tidak.

Kalau periode munculnya Regen itu tiap kapan sih?

U S

ntuk tanggal regen muncul ini berbeda-beda. tergantung region dan kompetisi klub itu masing masing. Tapi sekitar February atau Maret

kalau di Eropa. Atau bisa dibilang sekitar 5-6 bulan sebelum kompetisi baru dimulai. Dan ya, setiap musim, tanggalnya berbeda.

Apa parameter yang menentukan kualitas Regen tersebut? etau saya yg mempengaruhinya adalah tingkat kualitas junior coaching sama youth networking. Dan ini cara ningkatinnya setau ane cuma via board request. CMIIW

Sedangkan permintaan pada Youth recruitment, adalah untuk meningkatkan kualitas Potential Abilities (PA) dari regen.

Permintaan meningkatkan Junior coaching adalah untuk meningkatkan kualitas Current Abilities (CA) dari regen yang muncul.

Kalau youth facilities fungsinya apa ?

I

tu berfungsi untuk naikin CA para pemain youth yg ada di tim youth mu. Makin bagus, makin cepet para Regen meningkatkan attributnya (CA). Jadi hampir sama dengan training facilities kalau di tim senior. Makin tinggi kualitas training facilities, maka akan makin mudah pemainmu mengembangkan CA nya. Bahkan secara umum, level fa-

cilitas ini bisa jadi daya tarik atau pertimbangan buat pemain bergabung ke suatu klub.


Scout Network fungsinya apa ?

S

cout Network ini yang berperan besar dengan besarnya database untuk player search kamu (tekan F5).

akurasi data yang diberikan ? untuk keakuratan attribut pemainnya, tentu bergantung dengan level scout knowledge dan kemampuan scoutmu.

Contoh, kalau scout networkmu lebih banyak pemain asia, maka isi databasemu bakal lebih banyak kepemain asia. Itu untuk kuantitas pemain di databasemu ya, bagaimana kalau kualitas

Cara ningkatin Scout Knowledge itu bagaimana ?

Y

ang jelas yang dilakukan pertama kali untuk meningkatkan knowledge, tentu dengan mengirim scoutmu ke negara bersangkutan. Nah kecepatan naiknya tingkat scout knowledge ini tergantung attribut Judging CA dan Judging PA dari scout itu sendiri. Jadi makin tinggi, bearti data yang dihasilkan makin akurat, dan si

scout juga juga akan memerlukan waktu yang lebih sedikit dalam menganalisa pemain sehingga nggak perlu bolak balik untuk meningkatkan scout knowledge kalau dalam waktu singkat, dia sudah bisa memberikan data akurat kan ?

Cara ningkatin Scout Knowledge itu bagaimana ?

K

alau hubungan dengan kualitas regen nggak ngaruh, kalau kualitas youth intake. Mungkin ada pengaruhnya, tapi sedikit :D.

Begini maksudnya, HoYD itu fungsinya sama seperti chief scout atau general manager, jadi lebih ke managementnya. Dan dia khusus menangani tim youth (pemain dan pelatihnya). Nah, maksud ada pengaruh tetapi sedikit seperti yang disebut sebelumnya adalah ketika HoYD diserahkan untuk mengurus dan mengontrak pemain youth baru, bearti dia akan terlibat dalam youth intake. Dalam arti, dia akan memilih dari semua regen yang muncul, mana yang paling sesuai dengan kebutuhan tim.Kembali lagi ke kualitas Junior Coacing dan Youth Recruitment. Kalau dua elemen ini, punya nilai bagus, maka regen yang dihasilkan bakal bagus juga. dan saat youth intake, HoYD akan lebih mudah memilih mana pemain yang terbaik. Begitu juga sebaliknya. Tapi apakah regen tersebut akan sesuai dengan taktikmu ? nah, tipsnya adalah

mencari HoYD yang memiliki favorite taktik yang sama dengan taktik mu dan juga punya personality yang mirip juga. Kenapa ? karena tentu dia akan lebih memilih pemain yang dia sukai dan terbaik menurutnya sendiri. Agar sama sama cocok. Cari personality HoYD yang mirip dengan mu, (Atau bisa pilih yang Model Professional, Professional, Resolute, Determined atauFairly Determined) sehingga pilihannya juga cocok. Gampang kan ?


Oleh: Eko Putra A. B

FMC 15 tablet diriliiis !

A

da kabar gembira dan kabar jelek buat kita semua. Kabar gembiranya, Football Manager Classic 2015 atau yang biasa kita sebut dengan FMC 15 sudah bisa dimainkan di perangkat handheld. Tapi kabar jeleknya, ini hanya buat tablet hi-end saja, jadi yang punya Iphone atau Android yang tidak termasuk list yang sudah compatible dengan FMC 15, untuk saat ini harus puas di FMH dulu. Terus apa bedanya FMH dengan FMC versi Tablet ini ?

D

engan tampilan yang nggak jauh beda dengan FMC versi PC (Daaamn ! Match Engine juga 3D ! jadi pengeeeeen ) di FMC ini kamu juga bisa memainkan FM Challenge seperti versi PC. Dengan Database yang lebih besar dari FMH15, tentu kamu bisa mengharapkan lebih banyak liga yang bisa dimainkan. Total ada 51 negara dengan 117 liga yang bisa kamu pilih. Ditambah ada fitur training dan instant result yang tidak dimiliki oleh FMH15, jadi ini bisa memberi pengalaman baru buat kamu. Silahkan ke App Store atau google Play Store untuk mendapatkannya. Untuk Play store sendiri, harga yang dipasang adalah 229.000,-.

Perlu diingat karena peruntukannya untuk tablet dan harus memenuhi spek tertentu, maka nggak semua tablet sudah compatible. Cek dibawah untuk devices yang sudah kompatibel dengan FMC:

iOS

LTE

iPad Mini (2 and 3)

Samsung Galaxy Tab Pro 12.2

Android

Samsung Galaxy Tab Pro 12.2 LTE

iPad Air (1 and 2)

Acer Iconia Tab 8 A1-840FHD Asus Fonepad 8 FE380CG Asus Memo Pad 8 ME181C Asus Memo Pad 8 ME581CL Asus Transformer Pad TF103C Asus Transformer Pad TF303CL Galaxy Tab S 8.4 LTE HP Pro Slate 10 EE G1 HP Pro Slate 12 HP Slate 17 HTC Nexus 9 Lenovo Tab S8

Samsung Galaxy Tab Pro 10.1 Samsung Galaxy Tab Pro 10.1 LTE Samsung Galaxy Tab Pro 12.2 3G Samsung Galaxy Tab Pro 8.4 Samsung Galaxy Tab Pro 8.4 3G/ LTE Samsung Galaxy Tab S 10.5 Samsung Galaxy Tab S 10.5 LTE Samsung Galaxy Tab S 8.4 Sony Xperia Tablet Z LTE Sony Xperia Tablet Z Wi-Fi Sony Xperia Z2 Tablet LTE Sony Xperia Z2 Tablet Wi-Fi Sony Xperia Z3 Tablet Compact Sony Xperia Z4 Tablet LTE Xiaomi Mi Pad

Lenovo Yoga Tablet 10 HD+ Lenovo Yoga Tablet 2 10.1 Lenovo Yoga Tablet 2 8.0 Lenovo Yoga Tablet 2 Pro LG G Pad 8.3 LG G Pad 8.3 LTE Nokia N1 Nvidia Shield Nvidia Shield LTE Samsung Galaxy Note 10.1 (2014 Edition) Samsung Galaxy Note Pro 12.2 Samsung Galaxy Note Pro 12.2 3G Samsung Galaxy Note Pro 12.2

Coming Soon Asus Memo Pad 10 ME103K Lenovo Tab 2 A10-70


tentang idfm

BOARD & STAFF Chief Editor

Gustav Mandigo

@GustavMandigo

Graphic Designer

Muhammad Rizka Januar

@m_rizka

Web Developer

Dimas Arviaputra

@dimasArviaputra

Editor

Handy Fernandy

@handyfernandy

Eko Putra A. B

@Rtupoke

Ryantank

Contributor

Agam Averroes

@ryantank100

IDFM Magazine is intended for education and entertainment and is not affiliated with Sports Interactive, Football Manager or SEGA. Sports Interactive, the Sports Interactive logo, in-game generated images and any other Football Manager related items are registered trademarks and/or copyright material owned by Sports Interactive, or their respective trademark and copyright holders. SEGA and the SEGA logo are either registered trademarks or trademarks of SEGA Corporation. Football Manager, Sports Interactive and the Sports Interactive logo are either registered trademarks or trademarks of Sports Interactive Limited. All rights reserved.


Majalah Football

Digital Manager

Pecinta Indonesia

Disusun & Didesain oleh Tim IDFM

Š IDFM Magazine - www.fm-indo.com