Page 1

HIKMAH 3 : “KUKUHNYA BENTENG TAKDIR” Ahad, 10 Feb 2013, 3 RaT 1434 H Oleh KH Mustaghfirin Amin Assalamualaikum....alfatehah..... Alhamdulillah kita bisa bertemu kembali, ahad tgl 10 Februari 2013, dalam pengajian Kitab Al Hikam, karya Syech Ibnu Athoillah..... Insya Alloh kita akan mengaji Hikmah ke 3. Topiknya adalah: "KUKUHNYA BENTENG TAKDIR". Semoga bermanfaat bagi semua jamaah surplus..... Selamat pagi mb' Eka, sugeng enjing bu Khom.... Syech Ibnu Athoillah menyampaikan hikmahnya yang ke tiga: "KEKUATAN SEMANGAT, CITA-CITA, IKHTIAR DAN AMBISIMU TIDAK AKAN MAMPU MENJEBOL BENTENG TAKDIR." Hikmah ini adalah kelanjutan hikmah ke 1 dan ke 2. Hikmah ke 3 adalah pembelajaran tentang hati. Bukan pembelajaran tentang takdir. Hikmat ketiga ini kita diajak merenung kepada kekuatan benteng takdir yang memagar segala sesuatu. Jamaah surplus masih ingat bukan, di Hikmah ke 2, kita diwanti wanti dalam meletakkan diri pada MAQOM ASBAB dan MAQOM TAJRID. Kita diajak secara kontinum untuk melakoni diri, berjalan dari MAQOM ASBAB menjadi MAQOM TAJRID. Sebelum itu, dalam hikmah 1 kita diajak hati-hati, agar tidak bersandar kepada amal. Kita telah belajar tentang hakikat amal. Kita akhirnya menjadi tahu adanya AMAL DHOHIR dan AMAL BATIN. Kita diajak memperhatikan bahwa amal batin atau suasana hati itu selalu berhubungan dengan amal dhohir. Alhamdulillah, kedua Hikmah itu telah memberi pendidikan yang halus kepada jiwa. Itu semua adalah pelajaran hati. Semoga kita semakin paham bahwa bersandar kepada amal bukanlah jalan hidup. Kita dinasehati oleh Syech Athoillah untuk menyerah bulat-bulat kepada Allah SWT. Namun, hati-hatilah, sikap menyerah yg tidak ditopang dengan keyakinan rohani, dapat menggoncangkan dan membelokkan iman. Agar orang yang sedang meningkat semangatnya tidak keliru memilih jalan, kita diberi pengertian mengenai kedudukan ASBAB dan TAJRID. Pemahaman tentang MAQOM ASBAB dan MAQOM TAJRID membuat seseorang mendidik jiwanya agar menyerah kepada Allah SWT dengan cara yang betul dan selamat bukan menyerah dengan cara membabi buta. Kita telah belajar bahwa ahli tajrid itu selalu melihat pada kekuasaan Tuhan. Alloh SWT yang menciptakan sebab dan Dia pula yang menciptakan akibat yang lahir dari sebab. SEBAB dan AKIBAT adalah KEJADIAN YANG PARALEL. Ini bermakna semua kejadian dan semua hukum mengenai sesuatu perkara itu berada dalam genggaman Allah SWT. Alloh-lah yang menguasai, mengatur dan mengurus setiap makhluk-Nya. Nah, urusan tentang ketuhanan yang menguasai, mengatur dan mengurus serta penetapan itulah yg dinamakan TAKDIR. Tidak ada sesuatu yang tidak dikuasai, diatur dan diurus oleh Allah SWT. Oleh karena itu tidak ada sesuatu yang tidak tercakup di dalam urusan takdir. Manusia sering terhalang dari cara pandangnya kepada takdir karena kuatnya hukum SEBAB AKIBAT. Jasad dengan segala keinginannya menjadi alat sebab musabab yang paling kuat menghalangi pandangan hati saat melihat kepada takdir. Keinginan, cita-cita, angan-angan, semangat, akal fikiran dan usaha menutupi hati daripada melihat kepada kekuasaan, aturan dan takdir Tuhan. TABIR atau HIJAB itu bisa disebut sebagai HIJAB NAFSU dan HIJAB AKAL. Nafsu yang melahirkan keinginan, cita-cita, angan-angan dan semangat. AKAL MENJADI TENTARA NAFSU, dalam menimbang, merancang dan mengadakan usaha untuk memenangkan semua yang didambakan oleh nafsu. Jika nafsu menginginkan sesuatu yang baik, maka akal bergerak kepada kebaikan. Jika nafsu menginginkan sesuatu yang buruk, maka akal bergerak ke arah keburukan. Dalam banyak urusan, akal selalu tunduk kepada arahan nafsu, akal bukan menjadi konsultan penasihat nafsu. Oleh sebab itu dalam menundukkan nafsu, kita tidak boleh minta tolong pada akal. Dalam proses memperoleh penyerahan total kepada Allah SWT, maka akal dan nafsu harus ditundukkan oleh kekuatan takdir. Akal mesti mengakui HIKMAH 3 : “KUKUHNYA BENTENG TAKDIR” Ahad, 10 Feb 2013, 3 RaT 1434 H

1/6


kelemahannya di dalam membuka simpul takdir. Nafsu mesti menerima hakikat kelemahan akal dalam hal tersebut dan ikut tunduk bersamanya. Bila nafsu dan akal sudah tunduk barulah hati dapat beriman dengan benar kepada takdir. Takdir adalah rukun iman yang ke 6. Kita beriman kepada takdir seharusnya melahirkan penyerahan secara cerdas bukan menyerah dalam kebodohan. Orang yang tidak mengetahui tentang hukum dan perjalanan takdir tidak dapat berserah diri dengan sebenarnya kepada Allah SWT. Karena dibalik kebodohannya itulah nafsu akan menggunakan akal untuk menimbulkan keraguan terhadap Allah SWT. Rohani orang yang kurang paham dengan hakikat takdir kebanyakan masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan biasa. Dia masih memandang bahwa makhluk dapat mendatangkan pengaruh kepada kehidupannya. Tindakan orang lain dan kejadiankejadian di sekelilingnya sering mengacau jiwanya. Keadaan yang demikian menyebabkan dia tidak dapat bertahan untuk kontinyu berserah diri kepada Tuhan. Kita juga sering keliru dalam memandang kepada takdir yang berlaku. Kita dikelirukan oleh istilah-istilah yang biasa kita dengar. Kita cenderung untuk membayangkan dan merasakan seolah-olah Allah SWT hanya menentukan yang dasarnya saja. Sementara yang halus-halus ditentukan kemudian pasca adanya usaha seseorang. Seolah-olah Alloh melihat dulu, mengkajinya dulu, melihat usaha manusia dulu, baru membuat keputusan. Kalau begitu, tuhan kalah dengan telunjuk manusia. Tuhan kalah dengan strategy manusia. Kita membayangkan apabila kita berjuang dengan semangat yang kuat untuk mengubah hal dasar yang telah Allah SWT tetapkan, lalu Dia melihat kegigihan kita, dan bersimpati dengan kita, terus Dia pun membuat ketentuan baru, sehingga lahir takdir baru yang sesuai dengan perjuangan kita. Apa iya? Tentu tidak bukan? Kita 'membayangkan' seolah kehendak dan takdir kita berada di depan sementara kehendak dan takdir Allah SWT mengekor dibelakang. Apa iya? Tentu tidak bukan? Anggapan dan perasaan yang demikian dapat membawa kepada kesesatan dan kedurhakaan yang besar karena kita meletakkan diri kita pada taraf tuhan dan Tuhan kita letakkan pada level hamba yang menurut pada telunjuk kita. Apa iya? Tentu tidak bukan? Untuk menjauhkan diri dari kesesatan dan kedurhakaan besar itu, kita perlu memahami aspek sunnatullah atau ketentuan Allah SWT. Segala kejadian berlaku menurut ketentuan dan kehendak Allah SWT. Tidak ada yang berlaku secara kebetulan. Ilmu Allah SWT meliputi yang awal dan yang akhir, yang azali dan yang abadi. Apa yang didhohirkan dan apa yang terjadi, semuanya telah ada pada Ilmu-Nya. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada diri kita, melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh jauh sebelum Tuhan menciptakan semua kejadian. Lalu apa yang disebut takdir itu? Kata asalnya adalah qodho' dan qodar. Qodho' artinya rencana Alloh sedang qodar adalah ketetapan Alloh. Dalam bahasa Indonesia, qodho' dan qodar ini diringkas menjadi takdir. Qodho' dan qodar mempunyai 4 tingkatan.  Pertama adalah AL 'ILMU atau pengetahuan. Artinya kita mengimani dan meyakini bahwa Allah Yang Maha Tahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, secara umum maupun terperinci, baik itu termasuk perbuatanNya sendiri atau perbuatan makhlukNya. Tak ada sesuatupun yang tersembunyi bagiNya.  Kedua adalah AL KITABAH atau penulisan. Artinya mengimani bahwa Allah SWT telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam Lauhul-Mahfuzh. Kalau semua sudah dituliskan, buat apa ada usaha? Mari kita simak anjuran nabi: “Berusahalah kalian, masing-masing akan dimudahkan menurut takdir yang telah

HIKMAH 3 : “KUKUHNYA BENTENG TAKDIR” Ahad, 10 Feb 2013, 3 RaT 1434 H

2/6


ditentukan baginya”. Oleh karena itu hendaklah anda berusaha, sebagaimana yang dianjurkan nabi Muhammad SAW kepada para shahabat. Anda akan di mudahkan menurut takdir yang telah ditentukan Allah SWT.  Ketiga ALMASYIAH atau kehendak. Maknanya segala sesuatu, yang terjadi atau tidak terjadi, di langit dan di bumi, adalah kehendak Allah. Allah SWT telah menetapkan semua yang diperbuatNya, serta semua yang diperbuat makhlukNya. Oleh karena itu, tidaklah sempurna keimanan seseorang kepada takdir kecuali dengan mengimani bahwa kehendak Allah SWT meliputi segala sesuatu. Tak ada sesuatu yang terjadi atau tidak terjadi, kecuali atas kehendakNya. Tak mungkin ada sesuatu yang terjadi di langit ataupun di bumi tanpa dengan kehendak Allah SWT.  Ke-4 adalah AL-KHALQ atau penciptaan. Artinya kita mengimani bahwa Allah adalah pencipta segalanya. Semua yang ada di langit dan di bumi penciptanya tiada lain adalah Allah Ta’ala. Sampai “ kematian” -pun yang merupakan lawan dari kehidupan juga diciptakan oleh Allah SWT. Kalau begitu, buat apa kita meraung raung menangisi sebuah kematian dan kehilangan? Pantaskah kita terkekeh kekeh membanggakan diri atas kesuksesan yg kita klaim sebagai buah kinerja kita? Jangan begitu. Jangan berlebihan. Yang sewajarnya saja. Karena semua hal itu sudah menjadi Qodho' dan Qodar Alloh SWT. [Santri : Subhanallah, jadi kita semua Syirik apabila terlalu berlebihan mencintai sesuatu didunia ini ya, karena semua hal itu sudah menjadi Qodho' dan Qodar Alloh SWT....] Bukan syirik pak. Kalau kita terlalu mencintai dunia ini, iman kita menjadi kurang sempurna [Santri: Mohon ijin Kyai, bagaimana meletakkan dan membedakan rencana, ijin, dan ridha Allah]. [Santri : Subhanallah.. Berarti semua yg kita miliki itu sdh merupakan takdir Allah ya pak Kyai? Seumpama kita kepingin mendapatkan hidayah dr Allah.. Tp kita ga bisa merasakan apa hidayah itu sdh ada di kita atau belum, .. Apakah kita hrs pasrah? Apakah kepasrahan itu yg dinamakan Takdir?] Berikut ini pendapat para Ulama: Terkait dengan qodho- qodar dengan ikhtiar, para ulama membagi takdir menjadi 2. 

TAKDIR MUA'LLAQ yaitu takdir yang terwujud atas ikhtiar manusia. "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".

TAKDIR MUBROM yaitu takdir yang terjadi pada manusia yang tidak dapat diubah, ditawar-tawar lagi oleh manusia.

Segala sesuatu yang ada di langit ataupun di bumi, semua diciptakan Allah SWT. Kita semua tahu dan yakin bahwa semua hasil perbuatan Allah adalah ciptaan-Nya. Langit, bumi, gunung, sungai, matahari, bulan, bintang, angin, manusia dan hewan kesemua-nya adalah ciptaan Allah. Begitu juga yang terjadi pada makhluk ini, seperti : sifat, perubahan dan keadaan, itupun semua ciptaan Allah SWT. Jadi, betul semua kejadian itu sudah ditentukan oleh Alloh. Usaha kitapun sdh ditentukan olehNya juga. Tugas kita adalah melaksanakan perintah Alloh SWT. Beliau PASTI akan menjawab semua ikhtiar kita. Pasrah, bukan berarti berhenti berusaha. Pasrah, maknanya rela, legowo, ridho dengan setiap kejadian yang hinggap dalam hidup kita. Pasrah juga bermakna, apapun hasilnya, kita terus berprasangka baik kepada Alloh dan terus berusaha memperbaiki kualitas ikhtiar kita. [Santri: Maksudnya pasrah tetapi harus tetap terus berusaha untuk mendapatkan kebaikan dan hidayah itu kan pak Kyai?! Maaf ya pak Kyai nanya hal sepele, menurut saya sepele tetapi kenyataannya, artinya itu luas dan luar biasa. Bahkan kita gak paham betul apa itu takdir yang sebenar2nya. Makanya nanya terus.] [Gus Syam : NgAllah bukan berarti kalah, ngAllah artinya kembalikan ke Allah, seperti kealas, ngalas, mencari rumput ngrumput, dll jadi ngAllah kembalikan ke Allah..., begitu ya Kyai Must@ghfirin]

HIKMAH 3 : “KUKUHNYA BENTENG TAKDIR” Ahad, 10 Feb 2013, 3 RaT 1434 H

3/6


Betul Gus Syam.... Itu pelajaran yg kita terima saat ngaji di Muteh Demak. Masak Lupa Gus. Sepele tapi pelik. Itulah sebabnya, di kitab Al Hikam ini, kalimat hikmahnya singkat, tetapi penjelasannya amat panjang dan dalam. Sungguh, diskusi tentang takdir ini sulit. Banyak orang yang merasa sulit memahami, bahwa bagaimana mungkin perbuatan dan perkataan yang kita lakukan atas kehendak kita, koq dinamakan ciptaan Allah? Jawabnya: Ya, memang! Sebab perbuatan dan perkataan kita ini timbul karena adanya kehendak dan kemampuan. Apabila perbuatan manusia timbul karena kehendak dan kemampuannya, maka yang menciptakan kehendak dan kemampuan manusia adalah Alloh. Dia yang menciptakan sebab, Dia pula yang menciptakan akibatnya. Jadi, argumentasinya adalah bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan manusia. Padahal perbuatan manusia itu timbul karena kehendak dan kemampuan. Andaikata tidak ada kehendak dan kemampuan, tentu manusia tidak akan dapat berbuat. Andaikata manusia menghendaki, tetapi tidak mampu, pasti dia tidak dapat berbuat. Begitu pula andaikata dia mampu, tetapi tidak menghendaki, tentu tidak akan terjadi suatu perbuatan. Dan, Alloh lah yang menciptakan kehendak dan kemampuan manusia. Perjuangan, ikhtiar, doa, karomah, mukjizat, strategi dll, semuanya adalah ketentuan Allah SWT. Semua hal adalah termasuk dalam ketentuan Allah SWT. Pagar takdir mengelilingi segalanya dan tiada benda sekecil apapun yg mampu menembus benteng takdir yang kukuh. Tidak terjadi perjuangan dan ikhtiar melainkan kesemuanya itu telah ada dalam pagar takdir. Apabila sudah dipahami bahwa usaha, ikhtiar, penyerahan diri dan segala-galanya adalah takdir menurut ketentuan Allah SWT, maka seseorang itu tidak lagi merasa bingung antara mau berikhtiar ataupun berserah diri. Ikhtiar dan berserah diri sama-sama berada di dalam pagar takdir. Jika seseorang telah menyadari makomnya asbab atau tajrid, maka dia hanya perlu bertindak sesuai dengan maqomnya. Ahli asbab perlu berusaha dengan gigih menurut keadaan hukum sebab-akibat. Apapun hasil yang didapat dari usahanya akan diterimanya dengan senang hati karena dia tahu hasil itu juga adalah takdir yang ditentukan oleh Allah SWT. Jika hasilnya baik dia akan bersyukur karena dia tahu bahwa kebaikan itu datangnya dari Allah SWT. Jika tidak ada ketentuan baik untuknya maka tidak mungkin dia mendapat kebaikan. Jika hasil buruk yang sampai kepadanya, dia bersabar karena dia tahu, bahwa yang datang kepadanya itu adalah ketentuan Allah bukan dari usaha dan ikhtiarnya. Walaupun hasilnya tak sesuai harapan, semua usaha baik yang dilakukan tetap diberi pahala dan diberkati oleh Allah SWT, jika dia bersabar dan ikhlas dengan takdir itu. Itu perilaku yg benar pada maqom asbab. Mati dan Rizki, waktu dan jumlahnya semua sdh ditentukan oleh Alloh SWT. Kita hanya menjalani perintahNya, agar mengupayakan mati yg khusnul khotimah dan mendapatkan rizki yg halalan toyyibah.. Bagi Ahli tajrid, hendaklah pasrah dengan suasana kehidupannya dan tetap yakin dengan jaminan Allah SWT. Dia tidak akan kecewa jika terjadi kekurangan pada rizkinya atau kesusahan menimpanya. Suasana kehidupannya adalah takdir yang sesuai dengan apa yang Allah SWT tentukan. Rizki yang sampai kepadanya adalah juga ketentuan Allah SWT. Jika terjadi kekurangan atau kesusahan, semuanya masih berada di dalam pagar takdir ketentuan Allah SWT. Jika terjadi keberkahan dan karomah, dia harus sadar bahwa hal itu juga sebagai takdir yang menjadi jatahnya. Takdir erat kaitannya dengan persoalan hakikat. Hakikat membawa pandangan dari yang banyak kepada yang satu atau Esa. Perhatikanlah sebiji benih kacang. Setelah benih itu ditanam akan tumbuh sempurna, dan mengeluarkan beberapa buah kacang. Buah kacang tersebut dijadikan benih untuk menumbuhkan kacang kacang yang lain. Begitulah seterusnya sehingga kacang yang satu biji menjadi jutaan kacang. Kacang ke sejuta itu tidak ada bedanya dg kacang yang pertama. Benih kacang pertama itu bukan saja mampu menjadi sebatang pohon kacang, malah ia mampu mengeluarkan semua generasi kacang hingga kiamat. Ia hanya dapat mengeluarkan kacang, tidak benda lain. Kita yakin bahwa semua kacang mempunyai elemen zat yang sama, yaitu zat kacang. Zat kacang pada benih pertama sama dengan zat kacang pada yang ke sejuta. Zat kacang itu sama dan satu. Zat kacang yang satu itulah „bergerakâ€&#x; pada semua kacang, memastikan kacang yang berikutnya akan menjadi kacang, dan tidak menjadi yang lain.Walaupun diakui kewujudan zat kacang yang mengawali pertumbuhan kacang, namun zat kacang itu tidak mungkin ditemukan pada kacang lainnya. Kacang

HIKMAH 3 : “KUKUHNYA BENTENG TAKDIR� Ahad, 10 Feb 2013, 3 RaT 1434 H

4/6


yang satu tidak serupa dan tidak mendiami kacang lainnya, tetapi ia juga tidak terpisahkan dengan kacang lainnya. Tanpanya tidak mungkin ada kewujudan kacang. [Santri: So, apakah mereka dicipta utk jadi non-muslim utk kemudian dicemplungkan ke neraka abadan abadaa?] Jawabnya tegas : ya! Lho? Apakah adil? Ingatlah, manusia juga diberi kewenangan memilih. Lihatlah penjelasan tentang takdir. Takdir MUA'LLAQ yaitu takdir yang terwujud atas ikhtiar manusia. 2.Takdir MUBROM yaitu takdir yang terjadi pada manusia yang tidak dapat diubah, di tawar-tawar lagi oleh manusia. [Santri: Jadi kacang itu berada pada maqam tajrid Kyai?]

Benar. Kacang, burung, pohon pete, malaikat, lele dan pohon jeruk semuanya adalah tajrid. Gus Syam, mohon ceritera kacang ini jangan ditarik royaltinya ya...Allah SWT telah menciptakan manusia pertama, yaitu Adam menurut Hakikat Insan yang ada pada sisi-Nya. Pada kejadian Adam a.s itu telah disimpan bakat dan kemampuan untuk melahirkan semua keturunan manusia. Manusia akan tetap melahirkan manusia karena hakikat yang menguasainya adalah Hakikat Manusia.Pada Hakikat Manusia itu ada hakikat unik yang terdapat dalam satu individu manusia, sehingga dia sama tapi berbeda. Ceritera kacang ini amat terkenal di pesantren. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Nabi” pasti menjadi nabi. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Wali” pasti akan menjadi wali. Suasana kekuasaan Allah SWT atas hakikat itu, menguasai roh yg erat kaitannya dengan mau jadi "hakikat apa" seorang manusia itu. Roh bekerja menampilkan segala aturan yang ada, dengan hakikat yang menguasainya. Kerja roh adalah menjalankan perintah Allah SWT yaitu merealisir hakikat yang ditentukan Allah SWT. Kekuatan Allah SWT itulah yang menguasai roh dan memaksa roh untuk menampilkan ketentuan-Nya yang ada sejak zaman azali. Allah SWT telah menentukan hakikat sesuatu sejak azali. Tidak ada perubahan pada ketentuan Allah SWT. Segala sesuatu diiringi bersama hakikat yang berasal dari Allah SWT. Kutu tidak dapat meminta menjadi kambing. Kera tidak dapat meminta menjadi manusia. Manusia tidak dapat meminta menjadi malaikat. Segala ketentuan telah diputuskan oleh Allah SWT. Hikmah ini adalah pelajaran tentang hati. Hikmah ini menandaskan, bahwa ambisimu, upaya kerasmu tak akan mampu menjebol tembok takdir yang sudah tentukan oleh Alloh SWT. Kalau begitu, apakah tidak perlu ada usaha? Usaha dan ikhtiar adalah perintah yang harus dijalankan, karena kita adalah makhlukNya. Justru dengan hikmah ini kita diharapkan mampu: 1. 2. 3. 4. 5.

Optimis dan gembira dlm menghadapi persoalan; Bekerja keras, percaya diri dan ikhtiar optimal karena ini adlah titah Yang Maha Kuasa; Pasrah, sabar dan syukur serta tenang jiwanya dlm menerima hasil dari ikhtiar; Menjauhkan sifat sombong dan putus harapan; Memanfaatkan karunia Alloh untuk bebas bertindak bergerak. Karena Allah memberi manusia kekuatan, kebebasan, kekuasaan, yang dengannya kita menjadi produktif.

Di akhir dari dari penguraian hikmah ke tiga ini, mari kita rasakan kegembiraan dari para sahabat, setelah puyeng dan banyak bertanya tentang takdir kepada Rasululloh. Beliau lalu berkata: “Berusahalah kalian, masing-masing akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan baginya”. Kemudian Beliau mensitir firman Allah: “Adapun orang yang suka memberi dan bertakwa, dan membenarkan berita yang benar, maka Kami akan mudahkan baginya jalan terang hidupnya. Barang siapa yang bakhil dan sombong serta mendustakan berita baik, maka Kami akan jadikan hidupnya sukar gelap gulita” Di zaman Umar Al-Khattab ra, seorang lelaki telah ditangkap karena mencuri. Lalu dibawa menghadap khalifah Umar. Khalifah Umar bertanya: "Mengapa kamu mencuri?" Pencuri itu menjawab: "Karena Allah telah mentakdirkan ini atas diri saya." Khalifah Umar r.a amat marah HIKMAH 3 : “KUKUHNYA BENTENG TAKDIR” Ahad, 10 Feb 2013, 3 RaT 1434 H

5/6


dengan lelaki ini lantas berkata: "Pukul lelaki ini 30 pukulan lalu potong tangannya!" Pencuri terkejut dengan hukuman itu dan terus bertanya: "Mengapa hukumannya begitu berat?" Umar Al-Khattab ra: "Kamu dipotong tangannya karena mencuri dan dipukul karena berdusta atas nama Alloh". Alhamdulillah... Bapak, ibu jamaah surplus. Inilah penjelasan tentang Hikmah ke 3:"AMBISI KUATMU TIDAK AKAN MAMPU MENJEBOL BENTENG TAKDIR YANG KUKUH". Dalam pengajian Al Hikam di pesantren, biasanya pesertanya itu terdiri dari 3 kelompok: remaja, profesional dan senior.Nah, apakah pengajian kita di surplus ini mau memilih yg remaja, profesional atau Mulai hikmah ke 3, biasanya sdh ada bentuk arah pengajiannya atau senior ya? Mohon masukan ya.Semoga pengajian kita pagi ini membawa manfaat dalam meningkatkan kualitas keimanan kita. Semoga pengajian ini bermanfaat. Mohon maaf bila ada khilaf. Alfatehah.

HIKMAH 3 : “KUKUHNYA BENTENG TAKDIR� Ahad, 10 Feb 2013, 3 RaT 1434 H

6/6


Hikmah 3  
Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you