Edisi 11 Januari 2016 | Balipost.com

Page 13

Senin Kliwon, 11 Januari 2016

KARANGASEM

13

Usaba Muhu-muhu di Desa Adat Timbrah

”Nyomia” Bhuta Kala agar Warga Hidup Harmonis DESA Adat Timbrah, Pertima, Karangasem menjadi salah satu desa tua di Bali. Setiap ritual adat dan keagamaan di desa ini selalu menyimpan keunikan dan tujuan yang mulia untuk menjaga keutuhan dan kerukunan warganya. Seperti ritual Usaba Muhu-muhu, Sabtu (9/1) lalu, yang dilaksanakan dalam bentuk caru desa untuk nyomia bhuta kala menjadi bhuta hita. Sehingga warga setempat senantiasa hidup harmonis, di antara keharmonisan alam semesta. Pelaksanaan tradisi ini diawali dari ritual nyaga. Tiga hari sebelum Usaba Muhumuhu, warga melaksanakan ritual ini untuk nyomia bhuta kala dalam tingkatan yang lebih kecil, agar tidak mengganggu pekarangan warga. Saat ritual ini juga disebut dengan Matuun Buah. Pada saat Usaba Muhumuhu, ritual nyomia dilakukan dalam tingkatan yang lebih tinggi oleh desa adat dengan sarana caru seekor kerbau. Prosesi undagi saat menyembelih sapi sebagai sarana caru ini selalu menyedot perhatian warga sekitar. Sapi yang diikat di sebuah tiang beton, ketika disembelih undagi berlangsung menegangkan. Sapi yang meronta-ronta saat disembelih membuat warga sekitar tegang. Namun prosesi ini lebih aman ketimbang ritual serupa di Desa

Asak, di mana sapinya dilepas lantas baru dihujani pedang, golok dan sajam lainnya saat Usaba Kaulu di desa itu. Tokoh masyarakat setempat, Nengah Sukada, Minggu (10/1) kemarin, menyampaikan tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sekali, tepatnya setiap Tilem Sasih Kapitu. Krama empat banjar pangarep dan dua banjar sesabu desa tedun ke desa melaksanakan tugas ayah-ayahan banjar, masingmasing untuk mempersiapkan sarana ritual Usaba Muhumuhu ini. Mulai dari mebat, ngarah, ngikih hingga murak sapi. Selain krama, desa adat juga menunjuk saya dan malun saya, tukang banten, tukang base dan undagi untuk menuntaskan beberapa tugas-tugas adat, guna mempersiapkan sarana ritual ini. Jadi, sebelum sapi sarana caru disembelih juga ada ritual khusus. Mulai dari nganteb banten di Pura Dalem Tengah (matur piuning), nganteb banten di depan sapi itu, kembali ke Pura Bale Agung untuk melengkapi daging klakat, nanding banten kemulan, hingga norek sapi tepat di dahinya. “Setelah seluruh ritual ini dilaksanakan, barulah sapinya katebekin (ditusuk red),” tegasnya. Tokoh masyarakat lainnya, Nengah Supartha menambahkan, setelah prosesi ini

SOSOK Susah Bikin Hijau KARANGASEM selama ini dikenal daerah rawan kriminalitas. Banyak kasus-kasus besar terjadi di Karangasem. Bahkan saat pilkada lalu, Karangasem menjadi satu-satunya zona merah pilkada di Bali. Menjaga keamanan Karangasem diakui cukup berat oleh Kapolres Karangasem AKBP I Gedi Adhi Mulyawarman. “Saya hampir tiga tahun menjaga situasi Karangasem. Susah lho, bikin Karangasem ini hijau (aman-red),” kata Adhi Mulyawarman belum lama ini, usai sukses mengawal pilkada hingga berlangsung aman dan lancar. Capaian itu juga sekaligus menepis anggapan tokoh masyarakat bahwa Karangasem bakal ribut pascapilkada digelar. Karena Bali Post/gik AKBP I Gedi Adhi Mulyawarman capaiannya itu, Kapolres Karangasem rencananya akan digeser ke Polda Bali. Sesuai dengan surat telegram Kapolri nomor ST/ 2719/XII/2015 tanggal 31 Desember 2015, ia direncanakan akan memegang jabatan baru sebagai Kabagdalpers Polda Bali. Ia akan menggantikan posisi AKBP I Gede Reseken yang digeser menjadi Pamen Polda Bali. Sedangkan posisi AKBP I Gede Adhi sebagai Kapolres Karangasem akan digantikan oleh AKBP Sugeng Sudarso yang sebelumnya menjabat sebagai Kasubdit I Ditreskrimum Polda Bali. “Saya bersyukur pergi dari Karangasem tanpa meninggalkan masalah pascapilkada. Semoga penerus saya nanti juga bisa menjalankan tugas dengan baik. Karena menjaga situasi Karangasem tetap kondusif tugas cukup berat. Tetapi ini tantangan,” tegasnya. Digesernya Kapolres bersamaan dengan digesernya Dandim 1623/Karangasem Letkol ARM Erdi Eka Widjayanto. Sebelum kapolres yang baru bertugas di Karangasem, bakal digelar kegiatan serah terima antara pejabat kapolres yang lama dengan yang baru di Mapolres Karangasem. (gik)

”Nyepi Luh” di Ababi, Pasar dan Kios Tutup Amlapura (Bali Post) – Nyepi Luh atau brata panyepian yang dilakukan kalangan wanita dilaksanakan di Desa Pakraman Ababi, Minggu (10/1) kemarin. Saat Nyepi Luh kemarin, para wanita tidak bekerja, tapi ngiring Ida Batara yang disungsung di Pura Kedaton di wawengkon desa dengan sembahyang ke sejumlah pura desa setempat. Rangkaian Nyepi Luh dimulai dengan aci di Pura Kedaton dan Ngejaga (menjaga wilayah desa secara spiritual - red) pada Tilem Kapitu, Sabtu (9/1) lalu. Keesokan harinya, yakni Minggu kemarin dimulai Nyepi ditandai dengan bunyi kulkul desa dan para wanita sembahyang di Pura Kedaton. Para wanita sembahyang, matirtayatra di sejumlah pura di desa itu. Para wanita tak bekerja, warung dan pasar semuanya tutup, termasuk aktivitas kios dan pedagang di objek Taman Tirtagangga. Di lain pihak, saat para wanita nyepi, yang bekerja yakni kaum lelaki. Para lelaki tetap bekerja sepeti biasa, termasuk bekerja di sawah dan ladang. Nyepi Luh ini digelar setelah sehari sebelumnya digelar aci di Pura Kedaton. Saat itu, selain digelar pacaruan, pihak desa juga membuat nasi kalesan. Nasi itu dicampur menjadi satu dan akhirnya direbut di bawa pulang. Nasi itu disebarkan di pekarangan rumah, di sawah dan ladang. Makna dari nyambehang nasi itu guna mohon kerahayuan di wilayah desa, terhindar dari marabahaya dan penyakit. Sementara hasil sawah dan ladang di desa yang dikenal memiliki tradisi nanggluk merana lewat palebon jero ketut (ngaben tikusred) itu diharapkan melimpah dan terhindar dari serangan hama dan penyakit. Bulan depan yakni pada Tilem Sasih Kawulu, giliran digelar Nyepi Muani (brata panyepian yang dilakukan kaum pria - red). Nyepi ini sehari usai ngusaba di Pura Dalem desa setempat. Brata penyepian sama dengan Nyepi tahun baru Saka yakni catur brata panyepian. Warga yang nyepi tak boleh bekerja (amati karya), tak boleh bepergian ke luar wilayah desa, tak menyalakan api, termasuk api dalam diri dan tak berfoya-foya. Selain tradisi ngaben tikus, Nyepi Luh dan Nyepi Muani di desa ini termasuk satu-satunya tradisi di Karangasem, bahkan di Bali. (013)

selesai masyarakat melaksanakan persembahyangan di Pura Dalem Tengah. Ritual di pura ini kapuput Buyut dan Dahyang. Buyut muput banten kemulan di atas tepas, sedangkan Dahyang nganteb banten kemulan di bawah tepas. Uniknya, setelah proses persembahyangan bersama, krama setempat mulai dari orangtua hingga anak-anak megibung bersama, dari olahan daging sapi sisa setelah dipakai sarana ritual. Warga duduk bersama di tempat-tempat yang sudah disediakan desa adat, seperti Bale Pauman, Bale Lantang hingga di Bale Sekaa Gong. Selain bermakna nglungsur merta Ida Batara, megibung ini menjadi sarana untuk merekatkan tali persaudaraan di antara krama desa. Sebab, saat itu seluruh krama yang tinggal di desa maupun warga perantauan ikut duduk bersama dalam tradisi khas Karangasem ini. “Tapi, perlu diingat, tujuan utama ritual ini bukan untuk magibung, tetapi adalah caru desa untuk nyomia bhuta kala,” kata Supartha yang pernah menjadi Klian Desa Adat Timbrah tahun 2002 sampai 2007 lalu. Dari beberapa sumber lain di desa setempat, tradisi aci Usaba Muhu-muhu ini juga dipandang sebagai penerapan dari Kitab Shiva Purana, yaitu

ketika Dhurgha melawan Raksasa Mahisasura berwujud sapi atau kerbau. “Pada zaman terkini diperingati sebagai bentuk pengendalian diri, agar manusia terhindar dari sifat hewani,” ujar salah satu warga setempat, Luh Sri Suaryani. Bhuta kala selalu dibayangkan sebagai suatu makhluk berwajah seram. Imajinasi oleh para seniman dan rohaniwan seperti itu memang dianggap wajar. Karena bila manusia tidak harmonis dengan bhuta kala, maka sosok maupun peristiwa menyeramkan seperti di atas bisa menjadi nyata. Namun, perlu diluruskan bahwa bhuta pada intinya dibangun dari lima elemen yang disebut panca maha bhuta, yaitu tanah, air, api, udara dan ether. Kelima unsur inilah yang membangun alam semesta (bhuana agung). Bahkan jasmani manusia juga disebut alam kecil atau bhuana alit. Sehingga dalam istilah macaru untuk nyomia bhuta kala, tujuan utamanya adalah mengubah bhuta kala menjadi bersifat lembut, sehingga tak mengganggu kehidupan manusia. Demikian juga manusianya, untuk terus belajar mengendalikan diri dan mengembangkan perbuatan baik, sehingga terwujudlah keharmonisan. (gik)

PHRI Soroti Sampah Plastik dan Pungli Amlapura (Bali Post) -

dari sedang sampai buruk. Jika ini dibiarkan tentu akan berdampak buruk terhadap pariwisata Karangasem. Ia meminta selama setahun ini, pihak terkait dari pemerintah daerah harus melakukan evaluasi secara menyeluruh. Ia yakin potensi pariwisata Karangasem masih bisa digenjot lebih dari capaian sekarang. Karangasem menurutnya harus bisa memanfaatkan situasi jenuhnya pariwisata di Bali Selatan, agar bisa beralih berwisata ke Bali timur, khususnya Karangasem. Guna menindaklanjuti masalah ini, Kariasa menegaskan, PHRI akan melakukan audiensi dengan bupati yang baru nanti. Menawarkan

rancangan kerja untuk meningkatkan kualitas pariwisata Karangasem. “Kalau terus promosi, sementara masalah lama belum bisa diselesaikan, kan jadi percuma saja,” sorot Kariasa. Dia berharap ada perbaikan pengelolaan objek wisata maupun meningkatkan fasilitas objek wisata itu sendiri. Ia memberikan perhatian khusus kepada Besakih, agar masalah yang membelit objek yang menjadi ikon Karangasem ini segera dapat dituntaskan. Terakhir Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Karangasem, menyampaikan rencana pembentukan Badan Pengelola untuk kawasan Objek dan Daya Tarik Wisata

(ODTW) Besakih, Karangasem makin pelik. Sebab, rencana pembentukan Badan Pengelola tersebut selama ini belum pernah melibatkan Pemprov Bali. Padahal, di antara kawasan Besakih cukup banyak terdapat aset Pemprov Bali. Kondisi ini membuat rencana pembentukan badan pengelola terancam batal. Pasalnya, di pihak lain juga muncul wacana pembentukan Badan Otoritas Besakih oleh Pemprov Bali. Kondisi itu diakui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Karangasem Wayan Purna saat ditemui di ruangannya belum lama ini. Purna menyampaikan, selama ini pembahasan rencana pembentukan badan pengelola ini dilakukan di antara Disbudpar Karangasem dengan pihak Desa Adat Besakih atas mediasi Bagian Tata Pemerintahan (Tapem). Hasil pembahasan sepanjang tahun ini, belum ada kesepakatan apapun di antara keduanya, karena keduanya

perdata yang masuk ke PN Amlapura. Pada 2015 tercatat masing-masing perkara pidana dan perdata yang didaftarkan ke PN kurang dari 100, di mana pidana masuk 71 dan perkara putus 75. Berarti ada tunggakan perkara pidana tahun 2014 yang baru putus awal 2015. Sementara perkara perdata pada 2015 masuk 101 dan putus 108, karena ada tujuh perkara tahun 2014 yang baru diputus awal 2015. Sementara sidang bukti pelanggaran lalu intas tahun 2015 mencapai 2.243 yang semuanya diputus. Dzurkarnain menambahkan, pihaknya memberdayakan enam hakim yang ada dengan membentuk tiga majelis. Tentunya ada tim yang anggota majelisnya ada di dua atau tiga tim tersebut. Sementara ruang sidang ada dua. Dengan hakim yang jumlahnya terbatas, tentunya kerap sidang dengan anggota majelis yang sama di tim berbeda tidak bisa sidang

secara bersamaan. Di mana ketika satu tim majelis sidang kebetulan anggotanya ada di dua tim itu, sidang satu majelis lagi menunggu sampai anggota yang sidang di tim majelis lainnya usai. Dzurkarnain mengatakan pihaknya kini menertibkan

saksi yang bakal ke ruang sidang memberikan kesaksian. Di mana para saksi yang hanya mengenakan celana pendek nantinya disediakan kain atau sarung di pos Satpam. Hal itu guna menghormati tata tertib dan persidangan, sehingga tak terkesan bisa berpakaian

Sepanjang 2015, banyak persoalan yang menjadi sorotan PHRI Karangasem. Beberapa diantaranya adalah masalah ancaman sampah plastik dan pungli di Kawasan Besakih. PHRI mendesak agar tahun ini minimal dua masalah tersebut dapat diatasi untuk menciptakan iklim pariwisata yang lebih baik bagi para wisatawan yang berwisata ke Karangasem. Demikian disampaikan Sekretaris PHRI Karangasem Wayan Kariasa, belum lama ini, setelah PHRI mengundang berbagai pihak terkait dan pelaku pariwisata di Candidasa untuk mengevaluasi pelaksanaan pariwisata di Karangasem selama setahun. Dari berbagai persoalan, Kariasa mengatakan persoalan sampah plastik dan pungli di Besakih paling menjadi sorotan. “Lebih dari 65 persen wisatawan yang berkunjung ke Besakih komplin, karena masih banyak pungutan liar (pungli),” terang Kariasa. Sepanjang 2015, kata Kariasa, lebih dari 50 persen respon wisatawan terhadap pariwisata di Karangasem, mulai

Amlapura (Bali Post) – Pengadilan Negeri (PN) Amlapura sampai kini kekurangan hakim. Saat ini hanya ada enam hakim, termasuk Ketua baru Dzurkarnain, S.H., M.H. dan Wakil Ketua Putu Ayu Sudariasih, S.H., M.H. Soal kekurangan hakim bagi PN yang dipimpinnya, disampaikan Ketua PN Dzurkarnain beberapa hari lalu di PN Amlapura. Dikatakan, untuk PN sekelas PN Amlapura idealnya ada 12 hakim. Namun, saat ini hanya ada enam orang. Berarti kekurangan enam orang hakim lagi. Kendati begitu, mantan Wakil Ketua PN Semarapura ini menegaskan, persidangan baik perdata dan pidana serta tugas lainnya masih bisa berjalan dengan baik. Pria asal Pati, Jateng, yang baru sekitar 27 hari menjabat Ketua PN Amlapura itu mengatakan, kebetulan belakangan ini tak begitu banyak kasus pidana maupun

PN Amlapura Kekurangan Hakim

Telepon Penting kARANGASEM Polres Karangasem Penjagaan Polres Polsektif Karangasem Polsek Kota Polsek Manggis Polsek Rendang Polsek Selat Polsek Abang Polsek Kubu

0363 0363 0363 0363 0363 0363 0363 0363

21220 23222 21167 41768 23082 24187 23330 22988

Bali Post/gik

SARANA CARU - Sebelum sapi ini disembelih menjadi sarana caru, desa adat setempat melakukan ritual khusus terhadap sapi tersebut.

Bali Post/013

SUBUR - Padi di sawah dekat Taman Tirtagangga di Desa Ababi, tampak subur. Usai ngaben atau palebon jero ketut (tikus) beberapa tahun lalu, kini hasil padi di Desa Ababi cukup melimpah dan terhindar dari serangan hama tikus.

masih sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Setelah pembahasan ini selalu berakhir dengan deadlock, pihaknya baru menyadari kalau selama ini Pemprov Bali belum pernah diajak berkoordinasi. Padahal aset Pemprov Bali cukup banyak di kawasan Besakih, diantaranya adalah hektaran halaman parkir, bangunan-bangunan hingga tempat pos informasi di sejumlah titik di kawasan Besakih. Meski sudah menyadari itu, pihaknya mengaku belum juga berkoordinasi dengan Pemprov Bali. Namun rencana ke arah itu diakui sudah dirancang. Kalau wacana pembentukkan Badan Otoritas Besakih itu jadi dibentuk Pemprov Bali, maka rencana pembentukan Badan Pengelola dipastikan batal. Nantinya yang terlibat di dalamnya ada tiga komponen, diantaranya Pemprov Bali, Pemkab Karangasem dan Desa Adat Besakih. (kmb31)

seenaknya. “Kita ini orang timur, dan persidangan yang mulia harus ditegakkan. Saksi tak boleh lagi hanya mengenakan celana pendek. Nanti saksi yang hadir dan hanya mengenakan celana pendek akan diberi pinjaman kain untuk dipakai ke ruang sidang,” ujarnya. (013)


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.