OPINI
6
Selasa Pon, 10 November 2015
Harian untuk Umum
Bali Post
Pengemban Pengamal Pancasila
Terbit Sejak 16 Agustus 1948
Tajuk Rencana
Mencari Makna Kepahlawanan untuk Perjuangan Masa Kini SETIAP tanggal 10 November kita diingatkan dengan makna kepahlawanan. Tanggal itu diperingati sebagai Hari Pahlawan yang mengacu kepada pertempuran mempertahankan kemerdekaan rakyat Surabaya tanggal 10 November 1945. Semangat juang dan heroisitas perjuangan rakyat Surabaya benar-benar memberi inspirasi kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Tidak hanya raga yang disumbangkan untuk itu tetapi juga jiwa. Inilah bentuk pengorbanan maksimal yang sudah sepantasnya menjadi teladan bagi generasi yang lahir di Indonesia. Dari konteks ini kita harus benar-benar memahami apa makna dari kepahlawanan tersebut. Pada hakikatnya, seorang pahlawan jelas tidak mementingkan kepentingannya sendiri, termasuk kelompoknya. Pada konteks pertempuran di Surabaya, pertempuran itu mengandung bermacam makna. Ia merupakan simbol dari perwujudan tekad untuk memerdekakan bangsa yang sudah tergenggam. Tidak sekadar memberikan pesan kepada penjajah tetapi juga janji kepada generasi bahwa “sekali merdeka tetap merdeka”. Karena sudah ditekadkan demikian, maka apa pun yang datang mencoba mengingkari janji tersebut, harus dilawan. Di dalamnya jelas juga ada pesan idealis. Bahwa hanya dengan kemerdekaanlah maka Indonesia dapat bebas menentukan arah perjalanannya kelak demi kesejahteraan rakyat. Ini pun memerlukan perjuangan. Solidaritas dan persatuan, menjadi hal yang sangat melekat dalam perjuangan itu. Tidak akan mungkin musuh dapat diusir apabila dilakukan tanpa solidaritas dan persatuan. Dengan solidaritas, kita menjalin rasa hormat, janji dan keterhubungan dengan pihak lain. Mungkin belum saling kenal, tetapi solidaritaslah yang menghubungkan. Dengan persatuan, solidaritas itu menjadi kekuatan yang dahsyat. Banyak lagi pesan-pesan lain yang bisa digali dari nilai perjuangan dan kepahlawanan Surabaya tersebut. Sesungguhnya tidak hanya pertempuran Surabaya yang mempunyai nilai dan makna demikian, tetapi juga pertempuran lainnya di Indonesia di zaman kolonial. Maka dari pemaknaan itulah kita harus menarik pelajaran Hari Pahlawan untuk kita maknai dan laksanakan hari ini dan di masa mendatang. Tantangan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sekarang luar biasa besarnya. Jelas kita menghadapi tantangan globalisasi, di mana sudah zamannya perbatasan antarnegara itu mulai merenggang. Maka, persaingan hidup bernegara pun menjadi ketat, bukan saja intra masyarakat kita, tetapi juga antarmasyarakat negara. Inilah yang menjadi tantangan sesungguhnya bagi masyarakat Indonesia sekarang. Dengan konteks tersebut, bangsa Indonesia sesungguhnya mempunyai tabungan sejarah yang demikian sarat makna sebagai bekal untuk menghadapi globalisasi dan tantangan ini. Kita harus berpikir, menafsirkan dan menggali makna yang ada di dalam nilai-nilai kepahlawanan Hari Pahlawan. Setiap segmen kehidupan sosial, termasuk di antaranya pekerjaan, profesi, kegiatan dan sebagainya mesti memahami makna perjuangan, semangat dan pengorbanan jiwa raga dari pahlawan yang gugur di medan pertempuran. Dengan cara itulah kita mengisi kemerdekaan untuk berkompetisi dengan negara-negara lain di dunia. Para tokoh mesti memberi teladan kepada masyarakat tentang bagaimana cara menghadapi berbagai hambatan. Sebaliknya, masyarakat pun mesti mendengar apa yang menjadi arahan dari tokoh atau mereka yang memiliki pengetahuan. Seperti juga para pejuang dulu, mereka tunduk dan menjalankan perintah untuk menyerang musuh. Semuanya demi citacita mempertahankan kemerdekaan.
S URAT
Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Made Agung Setelah diperjuangkan selama kurang lebih tujuh tahun sejak 2008 oleh masyarakat dan pemerintah Bali, akhirnya I Gusti Ngurah Made Agung dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden RI menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November 2015. Pemberian gelar Pahlawan Nasional ini menambah jumlah Pahlawan Nasional dari Bali yang sudah ada sebelumnya, yaitu I Gusti Ngurah Rai, I Gusti Ketut Jelantik, dan Ida Anak Agung Gde Agung.
Oleh IDG Windhu Sancaya
P
emberian gelar Pahlawan Nasional kepada I Gusti Ngurah Made Agung merupakan penghargaan pemerintah RI terhadap masyarakat Bali seluruhnya, bukan semata-mata kepada yang bersangkutan dan keluarganya. Penganugerahan gelar tersebut patut kita sambut dengan baik karena dari dulu masyarakat Bali kaya akan tokoh dan nilai-nilai heroik. I Gusti Ngurah Made Agung adalah Raja Kerajaan Badung dari Puri Denpasar yang memerintah dari tahun 19021906. Dia naik tahta sebagai raja tahun 1902 pada usia sekitar 25 tahun ketika itu. Menggantikan saudaranya, Cokorda Alit Ngurah Pemecutan, yang meninggal dunia pada tahun 1902. Karena putra dari Cokorda Alit Ngurah Pemecutan saat itu masih kecil, maka Cokorda Alit Ngurah Pemecutan kemudian digantikan oleh I Gusti Ngurah Made Agung. Cokorda Alit Ngurah Pemecutan dan I Gusti Ngurah Made Agung adalah dua saudara berlainan ibu. Nama I Gusti Ngurah Made Agung
PEMBACA
Persyaratan : Sertakan Fotokopi KTP atau SIM
Menjadi Pahlawan untuk Bali
Pada peringatan 10 November kita bermimpi lagi. Mimpi kehebatan para pahlawan yang gagah berani merebut kemerdekaan dan membela tanah air. Mimpi menjadi teladan karena mampu mentransformasikan semangat pahlawan untuk mengisi pembangunan Indonesia yang 70 tahun sudah merdeka. Ketika hari ini kita terbangun, kita tidak bermimpi. Perlahan tapi pasti, kita semakin sedih melihat tata ruang Bali yang rusak dan orang-orang Bali sendiri bertengkar terus gara-gara Reklamasi Teluk Benoa (RTB). Seperti Rwa Bhineda, masyarakat Bali terbagi dua, ada pihak yang setuju dan ada pihak yang menolak RTB. Meski ada pihak yang diam. Orang luar Bali ketawa melihat
pertengkaran orang-orang Bali. Berhentilah bertengkar, segera cari solusi politik terbaik, yang win-win solution. Belajarlah dari kejadian di Timur Tengah yang sekarang negerinya porak-poranda dilanda perang saudara akibat ego dan ulah para politisinya. Kalau bertengkar terus, kita tidak akan memperingati 10 November 2015 dengan hati yang bersih dan dengan tekad menjadikan diri kita “pahlawan-pahlawan kecil” penjaga tanah kelahiran “Bali yang shanti”. Berindaklah cerdas tetapi bijak (taki taki ning sewaka guna widya).
Saya sangat miris sekali membaca berita di Bali Post bahwa daerah Gianyar satusatunya kabupaten di Bali yang tidak berhutan, seperti data peta hutan di Bali. Mengapa bisa begini? Kata guru saya di sekolah bahwa hutan adalah sumber mata air. Logikanya karena daerah Gianyar tidak berhutan pantas daerahnya banyak yang kering, seperti baru-baru ini pejabat berkenan menyaksikan kekeringan daerahnya dan belum memikirkan hulu air yang makin berkurang. Daerah Gianyar tidak mempunyai lahan hutan, seperti daerah-daerah lain. Mereka berusaha mereboisasi lahan untuk menghutankan daerahnya. Gianyar, karena hebat dan pesatnya perkembangan pariwisata, se-
hingga di daerah hulu (utara) Gianyar lahan hutan “ditanami” vila, hotel dan restoran, serta mereka melakukan pelubangan tanah untuk disedot airnya. Jika reboisasi Gianyar dengan vila, hotel tidak dihambat barangkali kekeringan Gianyar akan makin hebat. Saya mohon perhatian Pemda Gianyar untuk menyelamatkan daerah Mengening Tampaksiring, sumber air Petanu, apeneleng tidak ada “reboiasasi” vila, hotel dan sebagainya, sehingga air masih bisa mengalir di Sungai Petanu/Pakerisan.
A.A. Gde Muninjaya Jl. Kenyeri 87 Denpasar
Gianyar Tidak Berhutan
Nyoman Manda Br. Teges, Gianyar
oleh sebagian masyarakat lebih dikenal dengan nama gelarnya yaitu Cokorda Mantuk ring Rana. Sebetulnya sangat banyak julukan lainnya seperti Gusti Gde Ngurah Denpasar, Cokorda Ngurah Made Pemecutan, Cokorda Made Ngurah Agung, dan sebagainya. Beliaulah yang secara heroik memimpin rakyat Kerajaan Badung melawan intervensi pemerintah kolonial Belanda pada 20 September 1906. Beliau gugur di medan tempur dengan gagah berani sebagai seorang kesatria sejati. Oleh sebab itu diberi gelar Cokorda Mantuk ring Rana atau raja yang gugur di medan tempur. Peristiwa tersebut sampai saat ini dikenang sebagai peristiwa Puputan Badung yang diperingati setiap tahun oleh Pemerintah Kota Denpasar maupun Kabupaten Badung. Kehadirann I Gusti Ngurah Made Agung sebagai raja menurut sejarawan Prof. Dr. I Ketut Ardhana, M.A., merepresentasikan semangat zamannya. Beliau memiliki karakter kepemimpinan yang sangat kuat, yang bersumberkan pada sastra agama, yaitu sastra agama Hindu. Selain itu beliau memiliki pengetahuan kemasyarakatan yang sangat luas serta pengetahuan tentang berbagai aspek kebudayaan Bali. Kekuatan I Gusti Ngurah Made Agung adalah pengetahuannya yang begitu luas tentang tradisi budaya yang berkembang saat itu. Selain sebagai raja, I Gusti Ngurah Made Agung juga dikenal sebagai sastrawan besar yang telah mengarang sejumlah karya sastra, seperti Dharma Sesana, Niti Raja Sesana, I Nengah Jimbaran, Hredaya Sastra dan Purwa Sanghara. Dalam Geguritan Bhuwana Winasa (pupuh 5.14) karya Ida Pedanda Ngurah dari Belayu disebutkan I Gusti Ngurah Made Agung adalah seorang raja yang bijaksana sekaligus seorang sastrawan yang menguasai bahasa dan sastra, serta memiliki pengetahuan luas tentang ajaran agama, filsafat serta sejarah Bali dan Jawa. I Gusti Ngurah Made Agung juga seorang yang sangat terpelajar pada zamannya, karena menguasai dengan baik bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan antaretnik dan antarbangsa yang sangat penting ketika itu. Pemimpin Merakyat Menurut Prof. I Ketut Ardhana, I Gusti Ngurah Made Agung menjalankan pemerintahan berdasarkan nilai-nilai Astabrata, tradisi sosial, dan praktik ritual keagamaan atau budaya yang sangat kuat dalam menjaga kestabilan wilayah kekuasaannya ketika itu. Selain itu beliau adalah pemimpin yang sangat merakyat, dalam arti bahwa beliau sangat memperhatikan segala aspek kemasyarakatan yang memungkinkan rakyat merasa nyaman dan tenteram. Pemikiran I Gusti Ngurah Made Agung tentang tata pemerintahan dan tata kemasyarakatan dituangkan da-
lam karyanya yang berjudul ‘’Niti Raja Sesana dan Dharma Sesana’’. Dalam karyanya itu beliau menginterpretasikan ajaran Astabrata (delapan disiplin) yang kemudian dikembangkan menjadi ajaran nembelas brata. Dalam ajaran nembelas brata tersebut antara lain disebutkan bahwa seorang raja harus memiliki hubungan yang dekat dengan pendeta dan juga dengan rakyatnya. Hal ini mencerminkan suatu sikap kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi vertikal, melainkan juga horizontal. Beliau adalah pemimpin (raja) yang berbakti kepada Tuhan, tetapi juga pada saat yang sama memperhatikan kesejahteraan dan keamanan rakyatnya serta selalu bersikap adil. Beliau menjalankan suatu sistem pemerintahan yang disebut catur pariksa, yaitu sama, beda, dana, danda. Sama adalah upaya yang terus-menerus untuk mendapat kepercayaan rakyat, beda adalah usaha yang terus-menerus menciptakan suasana agar rakyat selalu terjaga dan waspada, kritis, dapat membedakan baik dan buruk; dana adalah usaha yang keras dan terus-menerus dalam menyejahterakan rakyat; dan danda adalah usaha menjaga keamanan negeri serta membuat rakyat merasa tenteram dan tidak berani melakukan kejahatan, menghukum yang bersalah dan memberikan penghargaan pada yang berjasa.
Puputan Badung dan Nilai Kepahlawanan Tahun 1906 adalah tahun sangat bersejarah bagi masyarakat Bali. Pada tahun 1906 itu ditandai oleh beberapa peristiwa penting yang sangat menentukan, yaitu keputusan Raja Badung untuk melaksanakan puputan. Keputusan untuk mengadakan puputan ini didukung oleh seluruh rakyat, sehingga menjadi sebuah gerakan sosial yang menggegerkan kekuatan Belanda, sebagaimana ditulis oleh para wartawan/jurnalis Belanda ketika itu. Dimuatnya berita-berita tentang Puputan Badung di surat kabar Belanda membuat dunia kemudian berpaling dan ingin mengetahui apa sesungguhnya yang sedang terjadi di Bali. Sampai permulaan abad ke-20 Belanda tampak belum berhasil melaksanakan kekuasaannya untuk menaklukkan Kerajaan Badung. Ini karena pengaruh yang sangat kuat dari I Gusti Ngurah Made Agung sebagai raja ketika itu kepada rakyatnya. Raja bisa menanamkan rasa nasionalisme yang sangat kuat pada rakyatnya ketika itu. Setelah peristiwa Puputan Badung itu Belanda pun mulai menjalankan politik etis, atau politik balas budi terhadap negeri-negeri jajahannya. Sering ada pertanyaan yang menggelitik tentang berbagai perang puputan yang terjadi di Bali: mengapa orang Bali memilih puputan sebagai penyelesaian perang? Strategi seperti perang puputan tersebut oleh sementara pihak dianggap tidak rasional, karena pasti akan mengalami kekalahan ketika berhadapan dengan musuh yang menggunakan senjata modern. Barangkali kritik seperti itu benar adanya. Akan tetapi ada suatu nilai luhur yang dijunjung manusia Bali bahwa bagi seorang kesatria sejati, gugur di medan tempur karena membela tanah air dan kehormatan bangsa dan negara adalah suatu jalan utama, yang dihormati baik oleh kawan maupun lawan. Ada adagium menyebutkan: Dalam suatu perang bukan kalah atau menang yang terpenting, akan tetapi untuk alasan apakah suatu perang di-
lakukan. Bila suatu perang dilakukan untuk mempertahankan martabat dan kehormatan bangsa dan masyarakat, maka apa pun risikonya perang harus dilakukan. Kita tidak tahu bagaimana sejarah bangsa ini, sejarah masyarakat Badung dan Denpasar khususnya akan ditulis bila I Gusti Ngurah Made Agung atau Ida Cokorda Mantuk ring Rana, tidak mengambil keputusan yang tepat ketika itu, yaitu bertempur sampai titik darah penghabisan melawan Belanda yang ingin menjajah dan menguasai Kerajaan Badung ketika itu. I Gusti Ngurah Made Agung, baik sebagai pribadi maupun raja, menyadari betul bahwa tiada yang kekal dan abadi di dunia ini. Kalau seseorang harus gugur di medan tempur sebetulnya yang gugur itu hanyalah badan fisiknya. Sementara jiwanya tetap hidup. Jiwa adalah sesuatu yang kekal. Jiwa tidak pernah mati. Itulah sebabnya I Gusti Ngurah Made Agung mengatakan dalam karyanya berjudul Niti Raja Sasana, “mati tan tumut pejah”, kematian yang tidak diikuti oleh kematian, kematian yang tidak sesungguhnya, sebuah kematian semu, karena yang mati itu sesungguhnya hanya badan kasar kita, sementara badan halus yaitu Atman, tetap hidup, kekal dan abadi selamanya. Ini adalah realisasi dari ajaran Samhkya (Samkhya Yoga) yang tampaknya dipahami dengan baik oleh I Gusti Ngurah Made Agung. Karena sikap kesatria itulah kita sekarang sebagai pewarisnya bisa memperoleh rasa bangga dan mendapatkan kehormatan di mata masyarakat, juga di mata dunia. Penulis, peneliti sastra dan budaya Bali
POJOK Tim Sembilan diminta tetap menjadikan Teluk Benoa kawasan suci. - Aneh kalau kawasan suci berubah-ubah. *** Kepala daerah minta naik gaji, Mendagri minta tunjukkan kerja. - Artinya, kerja dulu baru gaji. *** 10 November hari ini, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. - Sekarang lawan korupsi, bukan penjajah.
Perintis : K.Nadha, Pemimpin Umum: ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Wirata Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab: Alit Purnata Sekretaris Redaksi: Sugiartha Redaksi: Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry,Dira Arsana,Mawa, Suana, Sueca, Yudi Winanto, Subrata, Budi Wiriyanto,Diah Dewi Anggota Redaksi Denpasar: Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Sumatika, Asmara Putra,Yudi Karnaedi, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Parwata, Rindra, Agustoni, Ngurah Kertanegara, Komang Suryawan, Made Miasa, Agung Dharmada. Bangli: IA Swasrina, Buleleng: Dewa Kusuma, Mudiarta. Gianyar: Manik Astajaya, Dedy Sumartana. Karangasem: Budana, Bagiarta, Klungkung: Dewa Dedy Farendra, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati,Wira Sanjiwani, . Jakarta: Nikson, Hardianto, Ade Irawan. NTB: Agus Talino, Izzul Khairi, Raka Akriyani. Surabaya: Bambang Wiliarto. Kantor Redaksi: Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257. Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Manajer Percetakan: Mahadita, Marketing/Pengaduan Pelanggan: K. Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Tarif Iklan : Iklan Mini: minimal 2 baris maksimal 10 baris, Minggu s.d. Jumat Rp 49.500,- per baris, Sabtu Rp 64.350,- per baris Iklan Umum: < 100 mmk Rp 50.000 per mmk, >100 mmk Rp 55.000 per mmk. Iklan Keluarga/Duka Cita: Rp 40.000 per mmk. Advertorial Rp 25.000 per mmk. Iklan Warna: 2 warna Rp 55.000, 4 warna Rp 75.000 per mmk. Pembayaran di muka, iklan mendesak untuk dimuat besok dapat diterima sampai pukul 18.00. Alamat Bagian Langganan/Pengaduan Langganan: Jl.Kepundung 67A Denpasar 80232 Tel: 225764, Facsimile: 227418. Harga Langganan: Rp 90.000 sebulan, Pembayaran di muka. Harga eceran Rp 4.000. Terbit 7 kali seminggu. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers: SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit: PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 040-3070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Sumbangan untuk orang sakit Rek. BPD Capem Kamboja, Denpasar No. 037.02.02.00016-8 A/n Simpati Anda,BCA Cabang Denpasar No.040.3555000 A/n Simpati Anda, Dana Punia Pura Rek.BPD Capem Kamboja, Denpasar No. 037.02.02.00017-1 A/n Dana Punia Pura, BCA Cabang Denpasar No. 040.3966000 A/n Dana Punia Pura, BCA Cabang Denpasar No. 040.3277000 A/n Dompet Beasiswa, BCA Cabang Denpasar No. 040.3688000 A/n Dompet Lingkungan. WARTAWAN BALI POST SELALU MEMBAWA TANDA PENGENAL, DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARA SUMBER