Issuu on Google+

NO. 01 - OKTOBER 2013

www.dlajah.com


NO. 01 - OKTOBER 2013

T N E T N O C o

CHIEF EDITOR HIM

DEWAN PENASEHAT

PENGEMBANGAN BISNIS

AKHMAD HADIAN LUKITA DION LUTVAN PRAMUDYO

anggun nugraha SUNARYO KUSUMO

KEMITRAAN

TATA LETAK & DESIGN

MIKHAEL SEBAYANG

abdul aris mustaqin WINDYASARI

SOCIAL MEDIA

FOTOGRAfeR

EKO JUSMAR

MOwELBLACKPACKER

08

Mengembalikan Bandung Sebagai Kota Taman

Bandung Kota Taman

WEBSITE MASTER RIZKI RUSDIWIJAYA NUR KHAFIDL

13

PENULIS ROSALINA WATI NENI IRYANI

andi abdul muhaimin FAUZIAH ANDRI PRIYATNO

MENYAPA PAGI DI TAHURA

ADMINISTRASI DAN KEUANGAN ida siti nuraida

Dlajah

@dlajahmagz

@Dlajah

04

REDAKSI DAN KEMITRAAN JL. KYAI GEDE UTAMA NO. 12 BANDUNG 40132 PHONE. +62.22.2501925 - FAX. +62.22.2516752 www.dlajah.com

03


o

Bandung Kota Taman

Teks: Neni Iryani Photo: MowelBlackpacker

04


K

eberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah mutlak diperlukan bagi masyarakat perkotaan. RTH memiliki fungsi dan peran yang besar, yaitu secara ekologis maupun dan tambahannya. Secara ekologis, fungsi RTH bagi sebuah kota diantaranya adalah: penyerap gas CO2, sebagai kawasan pengendali hidrologi (kawasan resapan air), konservasi air tanah, filter dari partikel padat pencemar udara kota, menyerap gas-gas rumah kaca atau hujan asam, penahan angin, mencegah intrusi air laut, amelorasi iklim, serta meredam kebisingan. Sementara itu, fungsi tambahan terkait arsitektural (estetika), sosial, dan fungsi ekonomi. Secara estetika, keberadaan RTH dapat mendukung keindahan dan lanskap suatu kota. Dalam hal sosial dan ekonomi, RTH juga memiliki manfaat baik langsung maupun tidak langsung, misal sebagai tempat berinteraksi dan area hijau yang menghasilkan buah atau kayu yang bisa dimanfaatkan manusia.

Berbicara tentang RTH, Bandung tempo dulu dikenal sebagai Kota Taman dan memang dirancang untuk memenuhi kriteria tersebut. Pemerintah Hindia Belanda pada 1930-an bahkan meminta planolog terkenal, Karsten, untuk secara khusus merancang kawasan taman kota. Sayangnya, pengelolaan serta jumlah taman atau RTH Kota Bandung saat ini masih jauh dari ideal. Berikut beberapa fakta menarik mengenai RTH dan atau taman kota di Bandung. Pada 1936, Walikota Apeldoorn, Holland Dr. W. Roosmale Nepveu menyebut Bandung tempo dulu sebagai Tuinstad atau Kota Kebun. Hal ini karena memang Bandung awalnya dirancang menggunakan konsep garden city dan karenanya dikenal sebagai kota taman. Julukan lainnya bagi Bandung adalah de Bloem der Indische Bergsteden atau bunga di pegunungan Hindia. Sekitar tahun 1950-an, pemerintah mulai melarang penggunaan Bahasa Belanda dalam kehidupan rakyat sehingga berakibat pada digantinya nama-nama taman yang berbau Belanda. Misalnya Pieterspark diganti menjadi Taman Merdeka, Insulindepark menjadi Taman Nusantara (sekarang Taman Lalu Lintas), dan Ijzermanpark menjadi Taman Ganesha.

05


Tak hanya mengganti nama taman, patung-patung tokoh penting Belanda yang berdiri di beberapa taman juga dibongkar, termasuk di Taman Ganesha, yaitu patung Dr. Ir. Ijzerman seorang pegawai jawatan kereta api yang berjasa besar dalam pendirian Technise Hogeschool (THS) atau sekarang bernama ITB. Satu-satunya patung tokoh Belanda yang masih berdiri di taman kota hingga sekarang adalah Patung Pastor Verbraak di Taman Maluku. Jumlah taman yang tercatat di Bandung kini berjumlah 604 taman, dimana baru 240 taman yang dirawat. Berdasarkan data tahun 2010, Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bandung baru mencapai 1.700 hektare atau 8,8%. Angka itu jauh dari ideal karena luas RTH seharusnya 6.000 hektare, yakni 30% dari luas Kota Bandung 16.729 hektar. Luas ideal RTH 30% dari luas kota sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

06


Pohon pelindung di Bandung tercatat sekira 229.649 pohon. Angka ini juga jauh dari ideal mengingat pohon pelindung setidaknya 40% dari jumlah penduduk.Jika penduduk Bandung berjumlah sekira 2,3 juta orang maka yang dibutuhkan adalah 920.000 pohon. Greenlife Society melansir data yang menyebutkan bahwa setidaknya 90 pusat perbelanjaan di Bandung masih berhutang sekira 85 ribu meter persegi ruang hijau. Menurut data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Bandung 2006, berkurangnya persentase RTH di Bandung juga berakibat pada menyusutnya permukaan air tanah setiap tahunnya, yaitu sekira 42 cm. Dada Rosada, walikota Bandung (2003-2013), dikenal sebagai “Wagiman� atau Walikota Gila Tanaman karena programnya terkait lingkungan, yaitu penanaman sejuta pohon dan perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan mengubah beberapa lokasi pom bensin menjadi taman kota. Pom bensin yang sudah menjadi taman kota diantaranya ada di Jalan Cikapayang, Jalan Sukajadi, Jalan Riau, dan Jalan Cibeunying.

07


Mengembalikan

Bandung Sebagai Kota Taman

�Yang menggairahkan diriku adalah kota ini telah dirancang dengan baik sebagai kota kebun dengan pembangunan taman dan jalan raya yang lebar, juga cita rasa keindahan rumah-rumahnya yang memberi kesan tenang dan nyaman�.

I

tulah pernyataan Mr. Dr. W. Roosmale Nepveu, Walikota Apeldoorn Holand (Belanda) saat menyambangi Bandung tahun 1936. Roosmale begitu mengagumi bagaimana Kota Bandung sejak awal telah dirancang melalui implementasi kebijakan tata ruang yang ideal. Taman kota adalah salah satu unsur penting dalam konsep “kota taman� (garden city), yaitu sebagai ruang publik yang memiliki peranan utama dalam menyelaraskan pola kehidupan masyarakatnya. Dalam sejarahnya, Pemerintah Kota Bandung sejak zaman Hindia Belanda menyadari hal tersebut sehingga mendasari mereka untuk mendesain Bandung sebagai kota taman.

08

Teks: Muhammad Ryzki Wiryawan Photo: MowelBlackpacker

Saat itu, taman-taman kota di Bandung sengaja dibangun untuk mengantisipasi perkembangan pesat Bandung di masa depan yang memang sudah diperkirakan sejak itu. Dalam perkembangannya, konsep kota taman di Bandung telah dilupakan, sehingga saat ini ketika Bandung telah berkembang pesat, banyak masyarakat mulai merasakan kurangnya ketersediaan ruang hijau yang nyaman dan memadai untuk melakukan aktivitas sosial. Di lain pihak, sebagian besar masyarakat serta pemerintah kota cenderung kurang menaruh perhatian terhadap keberadaan taman kota. Padahal unsur taman (lahan hijau) dalam sebuah kota sangat berkaitan dengan kondisi kesehatan masyarakat secara fisik dan psikologis.


Garden City

di Bandung Tempo Dulu Inti dari konsep garden city yang diusung oleh Ebenezer Howard sebagai pencetusnya adalah keseimbangan antara pemukiman dan tempat kerja. Secara tidak langsung, Howard menekankan pentingnya sarana rekreasi dan istirahat untuk warga demi menunjang produktivitas mereka. Selain pengaturan jarak antara rumah dan tempat kerja, taman-taman kota mutlak diperlukan. Rumah-rumah berhalaman luas dengan taman-taman kota sebagai pusat interaksi warganya menjadi pemandangan utama Kota Bandung tempo dulu khususnya di bagian Utara. Begitu terkenalnya Bandung sebagai kota taman sehingga kota ini pernah mendapat julukan Tuinstad atau Kota Kebun dari Walikota Apeldoorn, Holland, Dr. W. Roosmale Nepveu, pada 1936. Istilah kota kebun Tuinstad merupakan adaptasi Belanda terhadap konsep kota taman. Julukan lainnya bagi Bandung adalah de Bloem der Indische Bergsteden atau bunga di pegunungan Hindia. Perkembangan Bandung saat itu memang tidak bisa dipisahkan dari kemunculan konsep garden city di Eropa yang dibawa ke Nusantara oleh Belanda. Saat itu tengah digencarkan konsep Indische Koloniaale Stad atau kota kolonial untuk menjadi kawasan ideal bagi hunian orang-orang Eropa yang tinggal di Nusantara.

09


Jenis Lahan Hijau Keberhasilan konsep kota taman ini mungkin juga dipengaruhi oleh karakter orang Belanda yang memang dikenal sebagai botanis terbaik di kalangan orang Eropa. Saat itu, lahan hijau sendiri memiliki beberapa tipologi yang berbeda sesuai dengan karakteristik dan fungsinya. Tipe-tipe lahan hijau tersebut dikenal dengan istilah-istilah berikut ini.

Park: adalah sebidang tanah yang ditata secara teratur

dan artistik, ditanami pohon lindung, rumput dan berbagai jenis tanaman atau bunga. Selain itu, dilengkapi pula dengan jalur jalan, bangku, dan lampu taman. Beberapa park dilengkapi dengan kolam ikan lengkap dengan teratai, sebuah ‘koepel’, gazebo, kandang binatang, dan saluran air yang teratur. Park adalah taman dalam arti yang sebenarnya. Lahan hijau di Kota Bandung yang didesain sebagai park antara lain: Taman Ganesa (Ijzerman Park), Taman Maluku (Molluken Park), Taman Merdeka (Pieter Sijthoffpark), Taman Lalu Lintas (Insulinde Park), dan Taman Sari/Kebon Binatang

(Jubileum Park).

Plein: adalah lapangan atau pelataran yang tidak terlampau luas dengan satu dua pohon lindung, terletak di sekitar bangunan atau gedung. Pada lahan itu sering dilakukan kegiatan bersifat rekreasi, seperti olah raga, kegiatan pramuka, tempat mengasuh anak, dan lainnya.

Beberapa plein di Bandung: Taman Anggrek (Orchideeplein), Lapangan Ciujung (Houtmanplein), Lapangan Bengawan (Limburg Stirumplein), Taman Pendawa (Pendawa Plein), Lapang Dr. Otten (Rotgansplein), Lapang Sabang (Sabangplein), Taman Citarum (Tjitaroemplein), Taman Pramuka (Oranjeplein), dan lapang alun-alun.

Plantsoen: adalah lahan dalam kota yang digunakan

sebagai tempat pembibitan berbagai jenis pohon tanaman keras. Plantsoen juga berfungsi melestarikan lahan sekitar aliran sungai dari kemungkinan erosi dan pembangunan perumahan liar.

10

Beberapa plantsoen yang pernah dimiliki Bandung antara lain Taman Cibeunying Utara (Tjibeungjingspalntsoen Noord) dan Taman Cibeunying Selatan (Tjibeungjingspalntsoen Zuid). Satu plantsoen lain terdapat di Cibunut namun kini sudah berubah fungsi menjadi perumahan.


Stadstuin:

adalah kebun pembibitan milik pemerintah kota, tempat persemaian berbagai jenis tanaman pohon lindung, tanaman keras, tanaman hias, bunga, dan berbagai jenis rumput.

Di stadstuin, warga Bandung bisa membeli berbagai bibit tanaman untuk ditanam di lahan pribadi. Saat itu stadstuin berada di kawasan Kebon Bibit Tamansari yang kini sudah berubah menjadi kawasan pemukiman dan bisnis.

Boulevard: adalah sederetan pohon lindung sejenis yang

terdapat pada kedua sisi jalan raya. Sedangkan di tengah jalan terdapat taman bunga yang memanjang, membatasi dua jalur terpisah.

Dahulu konsep boulevard ini pernah diterapkan di sepanjang jalur Jalan Dipati Ukur (Beatrix Blvd.), Jalan Ranggagading (Bosscha Blvd.), Jalan Sawunggaling (Dacosta Blvd.), Jalan Surapati (Irene/Juliana Blvd.), Jalan Sulanjana (Multatuli Blvd.), Jalan Pasteur, dan Jalan Diponegoro (Wilhwlmina Blvd.). Pembangunan berbagai lahan hijau dengan berbagai karakteristik dan fungsinya tersebut menjadi ciri khas implementasi konsep garden city yang konsisten. Pemerintah Kota Bandung di tahun 1930-an sengaja menggunakan jasa planolog terkenal bernama Karsten untuk merancang kawasan Tuinstad tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ir. Thomas Nix saat itu, angka standar bagi kebutuhan lahan taman bagi kota-kota di Nusantara adalah 3,5 M² per satu orang penduduk. Khusus untuk Bandung, Thomas Nix bahkan mengajukan angka 6,7 M² per satu orang penduduk. Angka tersebut diambil dari norma ukuran taman yang diajukan oleh Dr. J. Stubber bagi tipe kota tamanseperti Bandung.

Garden City

Bandung Sekarang Sejak naiknya Dada Rosada menjadi walikota Bandung (2003-2013), beliau telah mencanangkan perbaikan lingkungan hidup sebagai salah satu dari 7 program prioritas pembangunan Kota Bandung. Walikota yang dikenal sebagai “Wagiman�atau Walikota Gila Tanaman ini telah meluncurkan berbagai program lingkungan seperti penanaman sejuta pohon hingga perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan mengubah beberapa lokasi pom bensin menjadi taman kota, antara lain di Jalan Cikapayang, Jalan Sukajadi, Jalan Riau, dan Jalan Cibeunying. Perluasan taman juga dilakukan di lokasi Tegalega II, TPA Pasir Impun dan Gedebage. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa selama pengelolaan Bandung di bawah Walikota Dada Rosada tersebut, belum ada perbaikan lingkungan secara signifikan. Berdasarkan data tahun 2010, Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bandung kini baru mencapai 8,8%. Volume itu jauh dari ideal karena luas RTH seharusnya 30% dari luas Kota Bandung 16.729 hektar. Hingga saat ini tengah diusahakan penambahan RTH menjadi 13,14%. Angka ini masih jauh dari amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mengharuskan 30%. Berdasarkan pengamatan di lapangan, tidak ada perkembangan signifikan dari luas area taman kota sejak pertama kali taman-taman tersebut dibangun oleh Belanda padahal pertumbuhan penduduk Bandung berlangsung dengan pesat. Hingga saat ini hanya beberapa taman saja seperti taman Cilaki dan taman Ganesha yang masih ramai dikunjungi masyarakat walau kondisinya tidak terawat.

11


Kini sulit bagi warga Bandung untuk bisa menemukan taman yang nyaman untuk beraktivitas dan bersosialisasi. Akibatnya warga bepergian ke pinggiran Bandung untuk bisa menikmati udara dan lingkungan yang masih asri. Secara ekonomi, masyarakat jadi mengeluarkan dana yang cukup besar untuk beristirahat atau berekreasi. Ditambah lagi, kurangnya lahan hijau ini membuat banyak warga Bandung mengalami “sakit� fisik maupun psikologi yang berakibat pada berkurangnya kualitas kreatifitas, sebaliknya meningkatkan anggaran kesehatan dan pengeluaran pemerintah. Taman kota merupakan sarana kesehatan publik yang sangat terjangkau bagi warga kota dan dapat diakses berbagai golongan masyarakat. Dalam hal ini, sebagian anggaran kesehatan pemerintah kota sepatutnya dialokasikan untuk perbaikan taman kota mengingat perannya yang cukup signifikan dalam menyehatkan warga kota. Untuk itu, taman-taman selayaknya difasilitasi dengan arena berjalan kaki, track jogging, hingga bersepeda.

12

Untuk perawatan, tidak masalah apabila pengelola taman menarik sedikit biaya dari pengguna taman apabila hal tersebut dirasa perlu demi menjaga kenyamanan dan kelayakan taman kota. Saat ini, taman-taman kota tidak lagi hanya dipandang sebagai kontributor bagi pemenuhan kualitas fisik dan estetika lingkungan saja. Berbagai penelitian telah dilakukan dan menyimpulkan bahwa taman kota memiliki aspek yang lebih luas terhadap pemenuhan tujuan-tujuan kebijakan publik lainya, seperti aspek ekonomi masyarakat, perkembangan anak muda perkotaan, kesehatan publik hingga perkembangan komunitas. Dalam pandangan ini, taman kota bisa difungsikan secara lebih luas serta menjadi media utama bagi perkembangan komunitas masyarakat kota. Di Bandung saat ini, telah ada beberapa komunitas yang mulai menyadari pentingnya taman kota sebagai media perkembangan masyarakat, komunitas tersebut antara lain Komunitas Aleut, Komunitas Bandung Berkebun, Komunitas Taman Kota, dan Komunitas Sahabat Kota,serta yang lainnya.

Kegiatan komunitas-komunitas itu difokuskan pada pengembangan pendidikan anak muda, baik melalui program bersifat intelektual, emosional hingga sosial. Perkembangan komunitas yang terlepas dari campur tangan pemerintah ini merupakan suatu potensi positif yang bisa dikembangkan. Untuk itu, pemanfaatan taman-taman kota sebagai park yang bernilai sosial perlu lebih ditingkatkan alih-alih memfokuskan diri pada kuantitas tanaman dalam kota. Selain itu, pembangunan komunitas-komunitas anak muda ini secara tidak langsung juga dapat mengurangi beban pemerintah kota dalam penanganan tindakan kriminalitas dan vandalisme yang kerap dilakukan anak muda. Penulis adalah pegiat Komunitas Aleut (Komunitas Apresiasi Wisata dan Sejarah di Bandung).

@sadnesssystem


MENYAPA PAGI DI TAHURA Teks: Galih Sedayu Photo: Galih Sedayu

b

arangkali Bumi akan bersorak sorai ketika alam beserta penghuninya tak pernah berhenti dikunjungi dan dirawat manusia. Begitupun dengan hutan. Sejatinya ia adalah bagian dari pusaka alam yang menjadikan manusia tetap hidup dan bernapas dengan udara segarnya. Karena Tuhan menciptakan terang di Bumi maka jadilah pagidan rasa-rasaÂŹnya pagi adalah waktu yang tepat untuk menyambangi hutan yang kita miliki. Salah satunya adalah hutan milik warga Kota Bandung yang bernama Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda (Tahura) atau yang sering disebut dengan Hutan Dago Pakar.

Menikmati aroma pagi di hutan ini, pastinya akan selalu membuat hati ceria. Kawasan konservasi ini memang menyimpan berjuta kesegaran bagi tamu yang datang. Dari mulai wanginya pohon pinus, merdunya suara kicau burung kutilang hingga tingkah polah tupai yang berlarian di atas pepohonan. Di area Tahura ini juga Anda dapat memanjakan mata dan hati dengan menikmati berbagai wisata alam seperti Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Dago, Curug Omas, Curug Lalay dan wisata air panas Maribaya.

13


Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda adalah hutan kota yang berjarak sekitar 7 km dari pusat Kota Bandung. Berada di ketinggian 800 sampai 1350 meter di atas permukaan laut. Dulunya kawasan hutan ini dilalui aliran Sungai Cikapundung dan membentang mulai dari Curug Dago, Dago Pakar hingga Maribaya. Tahura sendiri merupakan bagian areal dari kelompok Hutan Lindung Gunung Pulosari yang kemudian diubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam Curug Dago. Bertepatan dengan tanggal kelahiran Bapak Ir. H. Juanda (seorang pahlawan Kota Bandung), pada 14 Januari 1985, secara resmi namanya berubah menjadi Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda. Kawasan ini merupakan Taman Hutan Raya (Tahura) pertama yang ada di Indonesia.

14

Hutan dengan luas sekitar 590 hektar ini merupakan hutan alam sekunder dan hutan tanaman dengan susunan vegetasi campuran yang terdiri dari 2500 jenis pepohonan seperti pohon Mahoni (Switenia Macrophylla), Bungur (Lagerstroemia sp.), Ekaliptus (Eucalyptus Deglupta), Saninten (Castanopsis Argentea), Pasang (Quercus sp.), Damar (Agathis Damara), dan Waru Gunung (Hibiscus Similis) serta tumbuhan bawah seperti Teklan (Eupatorium Odoratum) yang paling dominan. Selain itu, di hutan ini sengaja ditanam berbagai jenis tumbuhan yang berasal dari luar daerah agar kawasan ini dapat berfungsi sebagai laboratorium alam (Arboretum).


Tidak baik memang bila hutan kita selalu merasa kesepian. Tidak baik pula bila kita sebagai manusia selalu kerap berdiam diri di rumah. Karena di hutanlah barangkali kita bisa kembali berdamai dan berikrar dengan alam yang sesungguhnya telah lama disakiti oleh manusia. Pohon yang ditebangi, air yang diracuni dan udara yang dikotori menjadikan alam bak ‘diperkosa’ oleh manusia sendiri. Oleh karena itu, jadikanlah kembali embun yang datang dari langit, udara pagi yang harum semerbak dan tanah-tanah yang gemuk di dalam hutan. Agar kita percaya bahwa hutan selalu menjadi berkat bagi manusia hingga berabad-abad dan menjadi kemah suci yang kekal abadi selamanya. Penulis adalah pendiri Air Foto Network pada 2004, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang agensi, edukasi dan manajemen fotografi. Pada 2009, Galih bergabung bersama Bandung Creative City Forum (BCCF) dan saat ini menjabat direktur program organisasi yang terdiri dari sejumlah komunitas kreatif di Kota Bandung. Follow Twitternya di @galihsedayu.

15



DLAJAH PLANETORI #01