Skip to main content

Banjarmasin Post Minggu, 7 Desember 2014

Page 26

Balairung

26

Banjarmasin Post MINGGU 7 DESEMBER 2014

Buaya Mimpi Buaya Kuning S

anah terbangun dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Tumpahan hujan deras yang bernyanyi di atap rumah menyelamatkannya dari lanjutan mimpi yang selalu datang di setiap tidur malamnya. Aroma basah dari tanah dan pepohonan tercium sangat menenangkan dari jendela ulin yang terbuka entah karena apa. Ingatannya akan gambar demi gambar yang saling bergantian dan terangkai cerita, membuatnya gelisah. Kenapa selalu sama? Sanah tidak mengerti. Hanya saja semua itu terasa dekat, terasa tak asing. Ada nama yang begitu menganggunya. Bahriyah. Mimpi Sanah menyangkut wanita itu. Ya, mimpi Sanah. *** Ia kembali di hari dirinya sariawan yangtidak tahu karena apa.Sanah pedagang buah musiman, bagaimana bisa kekurangan vitamin.Tapi tidak peduli itu, Sanah menyiapkan dagangannya. Bungkalang yang sarat dengan kasturi di jukung kini telah siap dijualnya. Hidup sendiri memang harus berjuang sendiri. Sanah juga telah lupa siapa yang merawatnya. Sanah tidak peduli, wanita mungil itu hanya peduli dengan uangnya. Sebelum hari mulai terang, ia segera mengayuh jukung kebanggaannya ke Pasar Terapung Lok Baintan. Sehabis hujan biasanya langit begitu bersih. Tapi hari ini sesuatu yang lain telah terjadi. Kabut tebal dan angin dingin telah menyeruak menyelimuti tubuhnya. Semakin dingin dan semakin berkabut. Apa hari ingin menangis lagi? sudahi sajalah, Sanah berharap awan tak cair. Kabut tebal yang menghalangi pandangannya telah menipis seperti ingin Sanah. ia juga hampir sampai ke Pasar Terapung. Tapi mata sipitnya telah menemukan pedagang yang agak aneh. Memakai jukung kuning yang ramping namun kokoh. Berbeda sekali dengan jukung-jukung yang memakai warna cerah seperti merah dan biru. Entah apa yang dijualnya. Sanah tidak mau tahu, ia hanya ingin cepat sam-

pai ke Pasar Terapung dan kembali pulang dengan uang banyak. Di cuaca yang masih dingin, bukannya menjauh Sanah malah semakin dekat dengan jukung yang ia lihat tadi. Terlihat jelaslah sekarang. Pemiliknya seorang nenek tua yang mengecipakkan air dengan tangan kanannya. Semakin dekat dan semakin mendekat. Daripada bingung dengan kejadian ini, Sanah ingin menyapa nenek tua itu. Namun, angin kencang berhembus. Menghilangkan kabut, menghilangkan nenek tua yang Sanah lihat di depan matanya. Apa aku berkhayal? pikir Sanah. Hari telah beranjak siang dan Sanah pun mulai merasa lapar. Maklumlah, hari Minggu begini banyak pembeli sesama pedagang, pembeli lokal, maupun dari turis-turis yang berwisata. Sanah jadi lupa makanannya sendiri. Mata sipit Sanah menyapu seluruh pasar terapung, mencari makanan kesukaannya, katupat batumis. Tapi di terang hari begini, pedagang di Pasar Terapung sudah mengosongkan dagangannya. Sanah tak patah semangat. Dengan perut lapar matanya semakin menyipit demi kejelian memperhatikan sekitarnya. Hampir tidak percaya, Sanah melihat jukung kuning yang ia kira khayalannya. Tidak mau penasaran dan perut semakin lapar, Sanah memutuskan mendekati nenek tua itu. “Apa yang nenek jual di sini? Aku begitu lapar sampai-sampai lupa akan makananku, Nek”, tanya Sanah sambil meringis menahan sakitnya sariawan. Berbicara gagu. Semakin perih saja. “Cuma ada samu, ada juga nasinya. Apa cucu mau ?” nenek tua itu menawarkan dengan ramah. Sanah tak berpikir panjang dan mengangguk cepat. Mungkin karena Sanah begitu jujur bahwa sedang lapar, nenek tua itu dengan cepat menyiapkan samu untuk Sanah. Memberikannya dengan keramahtamahan yang dimilikinya. “Enak sekali nek, ini samu yang tak ada duanya” kata Sanah dengan semangat. Tapi tetap saja pada akhirnya meringis kesakitan.

ILUSTRASI/REZA

“Apa kamu sedang sariawan, cu? mau nenek obati? kalau mau kita langsung pulang ke rumah nenek”. Sanah tidak tau kenapa ia mengangguk cepat. Ia mengiyakan saja nenek tua itu. Tak mungkin juga nenek tua ini mencelakaiku bukan? bisa apa dia? pikir Sanah. Sepanjang pulang, nenek tua itu bercerita tentang kehidupannya. Mulai dari tempat tinggal, sampai masa lalu hidupnya.Tapi tidak dengan namanya. Nenek tua itu hanya menceritakan betapa anak asuhnya tega menelantarkan dia sendiri di hutan. “Nenek tinggal di Kampung Alam Ruh dekat air terjun. Nenek ini bisa menambaiorang sakit. Banyak yang meminta pertolongan nenek dulu, walaupun sekarang tidak. Nenek juga punya seorang anak asuh. Sewaktu kecil, dia begitu manis, giat bekerja, dan suka membantu nenek. Tapi setelah tumbuh dewasa, ia mulai membenci nenek. Katanya nenek ini merepotkan, bikin malu dirinya, dan memberikan malu bagi kehidupannya nanti.Masak, punya nenek dukun kampung, anak asuh nenek selalu berkata begitu. Kada tahu di basa. Padahal sudah dianggap

Oleh: Desita Handayani anak sendiri, tapi ya sudahlah. Nanti juga nenek akan memberikannya hukuman. Anak nakal itu perlu diberi hukuman biar jera kan, Sanah?” Sanah bertanya-tanya kenapa “sekarang tidak”. Tapi ia merasakan hal aneh selalu menyertai nenek tua ini, ia mulai membiasakan diri. Sudah berjamjam ia berjalan, tapi tidak ada rasa lelah menghampiri. Jalan yang kiri kanannya hutan ini juga tidak ditemukan rumah dan ujungnya. Namun, tidak disadariia telah sampai di air terjun yang dimaksud. Air terjun Alam Ruh seperti nama kampungnya. Sekitar 20 meter di depan barulah terlihat rumah kecil yang lebih pantas dikatakan gubuk saja. Sanah dipersilahkan masuk dan diminta berbaring di kasur lusuh nenek itu. Nenek tua berambut putih kekuningan itu pergi ke belakang rumah, meninggalkan aroma melati yang kuat bahkan tanpa ada satu pun melati di sana. Tidak lama nenek itu datang dengan membawa benda aneh. Tulang sekecil jari kelingking anak-anak yang runcing seperti taring, warnanya juga putih tulang. Tidak

salah lagi, itu sebuah gigi. “Buka mulutmu” kata nenek tua. “Nenek mau apa? Apa yang akan nenek lakukan dengan tulang aneh itu” Sanah terlihat seperti anak pembangkang. “Sudah percayalah. Buka saja mulutmu.” Kata nenek tua itu dengan nada yang tegas, menakutkan. Sanah tidak bisa berpikir lagi. Ia tidak ingin sariawan berlamalama. Akhirnya Sanah membuka mulut. Nenek itu mengoleskan gigi taring yang dipegangnya di belakang bibir tempat sariawan Sanah. Seperti memakai lipstik. Tidak lama dan Sanah langsung dipersilahkan pulang. Sanah mulai merasakan perbedaan sikap dari nenek tua yang tidak mau menyebutkan namanya itu. Sanah pulang secepat mungkin. Berbeda dengan perjalanan ke rumah nenek, perjalanan Sanah pulang begitu cepat. Sanah menyadari betapa berbedanya itu dan hanya diam, tidak ingin mencari tahu. Ia tidak peduli. *** Seperti biasa, Sanah bangun dan kembali berdagang. Sanah lebih antusias melayani pembeli hari ini. Bagaimana tidak? Sariawan yang menyiksanya kemarin telah hilang

setelah bangun tidur. Sanah ingin mengucapkan terima kasih pada nenek tua kemarin. Meskipun cuaca untuk berdagang hari ini benar-benar buruk,angin bertiup kencang, warna langit buram, dan para pedagang Pasar Terapung sudah banyak yang pulang, Sanah masih mencari dimana nenek tua itu sekarang. Sanah menemukannya. Nenek itu juga menjauh dari kumpulan pedagang Pasar Terapung yang sepi pembeli. Sanah mengayuh jukungnya lebih cepat, ingin mengejar dan mengucapkan terima kasih pada nenek tua tanpa nama itu. Dengan ketangkasan Sanah mengayuh jukung, ia kini telah mendampingkan jukungnya dengan jukung kuning milik nenek tua itu. Baru saja Sanah ingin berterima kasih, tenggorokannya tercekat. Mulutnya tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Wajah nenek tua itu juga berubah, tak berwibawa lagi. Air muka datar tanpa ekspresi dan terkesan menakutkan bagi Sanah. “Sudah cukup! Sekarang giliranmu, Sanah. Kamu harus menjadi penerusku. Jaga peliharaanku dan kamu juga akan dijaga olehnya. Paling tidak, buktikan rasa terima kasihmu dan bayar perlakuanmu padaku dulu itu dengan tindakan. Toh kamu sudah membuangku tanpa penyesalan. Bahkan tidak mengingat siapa pengasuhmu dulu. Sekarang kamu bayar dengan melakukan hal ini untukku.” Sanah hanya menerka apa yang dimaksudkan oleh nenek itu padanya. Apakah ia adalah... “Namaku Bahriyah, Sanah. Semua yang kuceritakan kemarin itu semua tentangmu. Jadi jalani saja takdirmu.” Benar-benar tidak ada yang dapat dikatakan oleh Sanah walaupun pertanyaan kian datang padanya. Langit yang semakin buram dan angin dingin berhembus kencang membuyarkan semuanya. Sungai Martapura yang semula hanya beriak kini bergejolak. Jukung sederhananya kini bergetar, warnanya berubah menjadi kuning terang seperti ju-

kung nenek tua tadi, dan dinginnya angin digantikan hembusan hawa panas. Menghilangkan nenek tua itu dari hadapannya. Nenek Bahriyah ! Sanah terbangun oleh nyanyian dari hujan di atap rumahnya. *** Sanah membuka pintu dan mengangkat bungkalang yang penuh kasturi ke halaman rumah. Ia tetap ingin berdagang meskipun pikirannya masih mengingat mimpi aneh yang datang tadi malam, terasa begitu nyata daripada malam-malam sebelumnya. Hari Jumat begini, Pasar Terapung ramai pembeli. Dagangan Sanah juga telah habis terjual di 4 jam kemudian setelah ia datang. Dan sebelum pulang Sanahtak sabar menghitung pendapatannya hari ini. Ia ambil bakul kecil tempatnya menyimpan uang. Namun, di akhir pengambilan uangnya, tangan Sanah menyentuh sesuatu yang lengket. Kenapa ada ketan di bakul uangku? pikir Sanah. Tangannya yang lengket karena ketan itu ingin dicucinya di sungai sekalian ia membuang ketan itu untuk dimakan ikan-ikan. Tapi betapa terkejutnya Sanah. Cerminan di air sungai Martapura menunjukkan sesuatu yang tidak ingin ia percayai. Tangan yang memegang ketan sudah terendam di sungai tak mau terlepas, Sanah sendiri juga tidak naik jukung. Sesuatu yang akan dipeliharanya kini ia tunggangi dan telah memakan ketan yang ada di tangannya. Mengembalikan gambargambar mimpi yang ingin ia simpan sebagai bunga tidur saja. Hal nyata yang selama ini ia tolak dalam dirinya telah membuat bunga tidur di setiap malamnya. *** *Cerpen Juara 1 Lomba Menulis Cerpen antar-SMA/MA Olimpiade Sastra Pelajar 2014 se-Kalsel di Banjarbaru, 27-29 November 2014 **DesitaHandayani, kelahiran Banjarmasin, Desember 1996. Siswa kelas XII IPS MAN 2 Martapura.

Redaksi menerima kiriman cerita pendek dengan syarat ditulis di dua halaman kuarto, 1,5 spasi dan ukuran font 12. Terima kasih.

Esai

Temukan Emas di Gudang Sendiri TAK banyak pebisnis yang bisa mengoptimalkan data pelanggan untuk mengembangkan usahanya. Padahal data pelanggan itu penting. Masalahnya terletak pada kekurangnya pemahaman pengelolaannya. Masalah ini biasanya menjadi kelemahan khususnya para pengusaha baru. Solusinya, diperlukan solusi tepat agar semua perencanaan bisnis bisa terorganisasi dan dikelola secara baik. Buku berjudul 3D Marketing Menemukan Emas di Gudang Sendiri karya James Gwee TH MBA dan Hendricus Yani menawarkan solusi tersebut. Buku ini cukup mencerahkan dan penuh inspirasi kelas tinggi. Hari Subagya, Motivator Perubahan dan Founder bisnispartner.com berpendapat di buku ini Anda bisa menemukan berbagai ide cemerlang dalam berbisnis yang bisa segera diimplementasikan. “Berpikir, merenung, diskusi memang bisa menghasilkan ide cemerlang, namun dengan membaca buku ini Anda bisa menemukan langkah brilian yang tepat dan teruji yang bisa membuat bisnis Anda mengalami perubahan dan pertumbuhan yang bagus,” komentarnya. Pemaparan yang lugas tentang teknik berbisnis yang diuraikan di sini pun tergolong

sederhana. Bagaimana caranya kita peduli terhadap pelanggan dan menjadikan mereka keluarga kita sendiri, semua ada di buku ini. “Very inspiring. Buku ini wajib dibaca dan dipraktikkan,” Ellen Yuriaan, Senior Vice President Mandiri University turut mengomentari buku setebal 140 halaman ini. Data base sangat diperlukan dalam berbisnis. Itu diakui sebagai air kehidupan. Perusahaan besar atau kecil kerap bermasalah dalam hal ini. Padahal, itu ada di sekeliling kita. Kehadiran buku ini mampu menyadarkan kita kembali tentang harta yang sangat penting ini. Buku ini mengajak kita menyikapi database secara komprehensif. Buku ini penting banget untuk dijadikan pegangan para pelaku bisnis. Cukup membelinya dengan potongan harga 10 persen, Anda sudah bisa memiliki banyak ilmu bermanfaat dalam berbisnis. Caranya, tunjukkan potongan kupon diskon di bawah ini ke Toko Buku Gramedia Veteran, Banjarmasin. (ath/*)

Homepage : http//www.banjarmasinpost.co.id e-mail : redaksi@banjarmasinpost.co.id Banjarmasin Post Group Penerbit SIUPP Sejak Tanggal Direktur Utama Pemimpin Umum Pendiri

: PT Grafika Wangi Kalimantan : SK Menpen No. 004/SK MENPEN/ SIUPP/A.7/1985 tgl 24 Oktober 1985 : 2 Agustus 1971 : Herman Darmo : H Pangeran Rusdi Effendi AR : Drs H J Djok Mentaya (1939-1994) Drs H Yustan Aziddin (1933-1995) HG Rusdi Effendi AR

WARTAWAN “BANJARMASIN POST GROUP” SELALU DIBEKALI TANDA PENGENAL DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARASUMBER.

BANJARMASIN POST GROUP/YAYUK

Judul Penulis Tebal Penerbit Tahun TTerbit erbit

: : : : :

3D Marketing Menemukan Emas di Gudang Sendiri James Gwee TH MBA & Hendricus Yani 140 halaman PT Gramedia Pustaka Utama 2014

Bawin Balian dan Cerpen Koran KEMATIAN ratusan karyawan perkebunan kelapa milik asing di kampung Batu Gua sangat menggemparkan penduduk. Tidak ada luka atau tanda-tanda pengeroyokan atau perkelahian. Hal ini sampai ke telinga Ulaq Bawi, seorang perempuan Dayak, kepala adat di kampung itu. Lalu dilakukanlah upacara adat untuk mengetahui penyebab kematian itu. Sebuah ritual yang sarat dengan suasana magis dimulai. Ada alunan musik Karungut Dayak Ngaju, tarian Mandau, dan pohon kehidupan Batang Garing. Terjadi dialog, lebih tepat monolog yang ketat antara sang Balian Ulaq Bawi dengan makhluk lain yang memasuki tubuhnya. Paparan munculnya kesadaran untuk melawan akan ketidakadilan yang diterima penduduk atas lahan mereka selama ini tampak dalam monologitu. Umpatan kemarahan, kekesalan, dan kesedihan menggumpal liat. Namun, tetap tak bisa menjawab penyebab kematian karyawan tersebut. Demikianlah inti cerpen “Bawin Balian” karya A Setia Bu-

Oleh: Zulfaisal Putera dhi, yang hadir di halaman Balairung Banjarmasin Post edisi Minggu, 8 Juni 2014. Cerpen ini terpilih sebagai cerpen terbaik urutan pertama dari dua puluh cerpen pilihan para redaktur sastra budaya empat media: Banjarmasin Post, Media Kalimantan, Radar Banjarmasin, dan Mata Banua. Pemilihan cerpen terbaik dari media lokal yang memuat cerpen tiap Minggu ini bukanlah sebuah program terencana. Kegiatan ini dadakan untuk memenuhi program Aruh Sastra XI Kalsel di Tapin

yang ‘mengharuskan’ adanya penerbitan antologi cerpen, di samping puisi. Hal ini menjadi menarik karena belum pernah diadakan sebelumnya di koran terbitan Banua. Tradisi pemilihan cerpen terbaik koran semacam ini sudah dimulai Kompas sejak 1992. Setiap berakhir satu tahun penerbitan edisi Minggunya, redaktur sastra Kompassejak 2005 otoritas penilaian diserahkan ke juri luar untuk melakukan pemilihan belasan cerpen terbaik. Selanjutnya, dibukukan dan penulisnya diundang ke Jakarta untuk menerima hadiah. Tradisi semacam ini tentu bagus untuk diikuti. Setiap koran yang mempunyai halaman sastra dan budaya, melakukan pemilihan karya terbaik setiap tahunnya. Dampak bagi penulis, akan makin semangat berkarya, sedangkan bagi medianya, akan makin terpandang dan diakui mempunyai standar kualitas tertent uakan karya sastra besutannya. Kita bisa bayangkan gempitanya penulisan karya sastra, seperti cerpen dan puisi di media massa. ***

INFO PENGASUH BAGI rekan-rekan yang mengirim tulisan berupa puisi atau cerpen, kami meminta untuk melengkapinya dengan data diri/copy kartu identitasi dan nomor rekening bank Anda. Honor tulisan yang dimuat akan kami transfer. Tulisan bisa dikirim lewat pos ke alamat Kantor Banjarmasin Post Gedung HJ Djok Mentaya Jalan AS Musyafa Nomor 16 Banjarmasin. Sudut kiri amplop ditulis Seni dan Budaya. Bisa juga kirim via email ke hamsibpost@yahoo.co.id Pemimpin Redaksi: Yusran Pare | Wakil: Harry Prihanto Redaktur Pelaksana: Dwie Sudarlan | Manajer Peliputan: Elpianur Achmad | Asisten Manajer Peliputan : R Hari Tri Widodo Manajer Produksi: M Taufik | Redaktur Eksekutif: Muhammad Yamani (Banjarmasin Post/Online), Mulyadi Danu Saputra (Metro Banjar), Irhamsyah Safari (Serambi UmmaH) Manajer Redaksi: Irhamsyah Safari | Wakil: Agus Rumpoko Redaktur: Sigit Rahmawan A, Syamsuddin, Alpri Widianjono, Kamardi, Mahmud M Siregar, Aya Sugianto, Sofyar Redhani, M Royan Naimi, Siti Hamsiah | Asisten: Sudarti, Eka Dinayanti, Murhan, Anjar Wulandari, Ernawati,Idda Royani, Mohammad Choiruman, Budi Arif RH. Staf Redaksi: Umi Sriwahyuni, Hanani, Burhani Yunus, AM Ramadhani, Halmien Thaha, Syaiful Anwar, Syaiful Akhyar, Khairil Rahim, Ibrahim Ashabirin, Sutransyah, Faturahman, Irfani Rahman, Jumadi, Edi Nugroho, Doni Usman, Mustain Khaitami (Kabiro), Hari Widodo, Ratino, M Risman Noor, Salmah, Rahmawandi, M Hasby Suhaily, Helriansyah, Didik Triomarsidi (Kabiro), Nia Kurniawan, Mukhtar Wahid, Rendy Nicko Ramandha, Restudia, Yayu Fathilal, Aprianto, Frans, Nurholis Huda, Man Hidayat, Reni Kurnia Wati. Fotografer: Donny Sophandi, Kaspul Anwar. Tim Pracetak: Syuhada Rakhmani (Kepala), M Syahyuni, Aminuddin Yunus, Syaiful Bahri, Edi Susanto, Sri Martini, Kiki Amelia, Rahmadi, Ibnu Zulkarnain, Achmad Sabirin, Rahmadhani, Ahmad Radian, M Trino Rizkiannoor, M Denny Irwan Saputra. Biro Jakarta: Febby Mahendra Putra (Kepala), Domuara Ambarita, Murdjani, Antonius Bramantoro, Budi Prasetyo, Fikar W Eda, FX Ismanto, Johson Simandjuntak, Rahmat Hidayat, Yulis Sulistyawan, Choirul Arifin, Hendra Gunawan, Sugiyarto Penasihat Hukum: DR Masdari Tasmin SH MH

Pemimpin Perusahaan: A Wahyu Indriyanta General Manager Percetakan: A Wahyu Indriyanta | Asisten General Manager Percetakan : Suharyanto Wakil PP (Bidang Humas dan Promosi): M Fachmy Noor Asisten Manajer Iklan : Helda Annatasia (08115803012) z Alamat: Gedung HJ Djok Mentaya, JlAS Musyaffa No 16 Banjarmasin 70111, Telepon (0511) 3354370, Fax 4366123, 3353266, 3366303 z Bagian Redaksi: Ext 402-405 ; z Bagian Iklan: Ext. 113, 114 z Bagian Sirkulasi: Ext.116, 117 z Pengaduan Langganan: 08115000117 (0511) 3352050 z Biro Jakarta-Persda: Redaksi, Jl Pal Merah Selatan No 12 Lantai II Jakarta 10270, Telp (021) 5483008, 5480888 dan 5490666 Fax (021) 5495358 z Perwakilan Surabaya: Jl Raya Jemursari 64 Surabaya, Telp (031) 8471096/ 843428, Fax (031) 8471163 z Biro Banjarbaru: Jl Mister Cokrokusumo Kav 15-17 Widya Chandra Utama, Cempaka, Kota Banjarbaru Telp (0511) 4780355 Fax (0511) 4780356, z Biro Palangka Raya: Jl RTA Milono Km 1,5 Palangka Raya, Telp (0536) 3242922 Tarif Iklan: z Display Umum: Hitam Putih (BW): Rp 22.500/mmk Berwarna (FC): Rp 45.000/mmk z Display Halaman 1: Hitam Putih (BW): Rp 45.000/mmk Berwarna (FC): Rp 90.000/mmk z Iklan kolom/Duka Cita: Hitam Putih (BW): Rp 15.000/mmk Berwarna (FC): Rp 30.000/mmk z Iklan Kuping: (FC) Rp 100.000/mmk lIklan Baris: (FC) Rp 20.000/baris: (BW): Rp 15.000/baris z Iklan Satu Kolom : (FC)Rp 30.000/mmk, (BW): Rp15.000/mmk z Catatan: Harga belum termasuk PPN 10% z Harga Langganan: Rp 75.000/bln Percetakan: PT Grafika Wangi Kalimantan z Alamat: Lianganggang Km 21 Landasan Ulin Selatan Banjarbaru Telepon (0511) 4705900-01 z Isi di luar tanggung jawab percetakan

Setiap artikel/tulisan/foto atau materi apa pun yang telah dimuat di harian “Banjarmasin Post” dapat diumumkan/dialihwujudkan kembali dalam format digital maupun nondigital yang tetap merupakan bagian dari harian “Banjarmasin Post”.


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook