Banjarmasin Post Rabu, 3 Desember 2014

Page 20

20

RABU, 3 DESEMBER 2014

SITI, Pasien Paurutan Rifat Kumis

Cepat Sembuh BEGITU Tim Sapa Warga menuju rumah paurutan Rifat Kumis, seorang ibu bersama seorang anaknya tengah menunggu sang tukang urut. Dia adalah ibu Siti. “Anak saya panas dan tidak bisa berjalan. Mungkin mungkin karena keseleo,” ujarnya. Begitu Rifat muncul, Siti langsung menuju kasur kecil. Kemudian dia merebahkan anaknya yang umur sekitar lima tahun. Rifat pun mengajukan beberapa pertanyaan. Setelah mengetahui apa yang terjadi pada si bocah laki-laki itu, Rifat pun beraksi. Kaki si bocah dilipat dan kemudian digoyang-goyan Rifat. Bersamaan itu, si bocah menangis sambil berteriak kesakitan. Setelah itu, beberapa bagian tubuh anak itu diberi minyak, dan selesai. “Bu, nanti sampai di rumah anak dikasai atau diusap pakai minyak kayu putih ya. Anak ibu akan pulih dalam beberapa hari ke depan,” ucap Rifat, usai memijat anak Siti selama dua menit. Siti pun tersenyum mendengar ucapan Rifat Kumis tersebut. “Mudah- mudahan anakku cepat sembuh,” harap Siti. Warga Antasan Kecil Barat itu mengaku sudah sering minta bantuan Rifat. “Saya sudah sering minta bantuan Pak Rifat, kalau ada apa dengan anggota keluarga saya,” ucapnya. (ogi) HARUN, Pasien Paurutan Ali

Kaki Keseleo HARUN, warga Kelayan B, Banjarmasin, tertatih-tatih masuk ke rumah paurutan Ali. “Kaki saya keseleo saat berkendaraan. Saya ingin menyembuhkan kaki yang sakit ke paurutan Ali,” ucap Harun, datang pukul 08.00 Wita. Menurut Harun, dari informasi yang didapatnya, paurutam Ali bisa menyembuhkan orang yang keseleo. “Ini ikhtiar saya. Mudah kaki saya cepat sembuh,” ujarnya. (ogi) DIAH PRAWASTI, Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin

2015 Tukang Urut Dibina DINAS Kesehatan Kota Banjarmasin berjanji akan membina para tukang urut kawasan di Kelurahan Banua Anyar, Banjarmasin. “2015 ini para tukang urut tradisional akan kami undang. Mereka akan dikumpulkan untuk diberi pengetahuan tentang kesehatan,” kata Kadinkes Kota Banjarmasin, dr Hj Diah Praswati, melalui Kasi Pengendalian Penyakit, Supriani. Menurut Supriani, dalam pembinaan itu nanti akan dibeberkan mana yang boleh dilakukan tukang urut dan mana yang tidak boleh. Secara umum, terapis urut dilarang untuk memberikan obat kimia tanpa resep dokter. “Dikuatirkan obat-obatan tersebut ada efek samping bagi pasien,” ucap Supriani. (ogi)

■ Mendatangi Kampung Paurutan di Banua Anyar PUKUL 06.00 Wita, Tim Sapa Warga Banjarmasin Post Group sudah berkumpul di halaman Tugu Pahlawan 9 November, di Kelurahan Banua Anyar, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Tim Sapa Warga yang dikomandoi Pemimpin Perusahaan Banjarmasin Post Group, Wahyu Indriyanta dan tokoh masyarakat Hesly Junianto, ingin melihat dari dekat aktivitas para paurutan (tukang pijat tradisional) yang ada di tempat tersebut, Rabu (26/11). Kedatangan Tim Sapa Warga disambut hangat tokoh masyarakat RT08 Banua Anyar, Husaini. “Sangat tepat jika kawasannya ini dinamai kampung paurutan,” kata Husaini, saat menyambut Tim Sapa Warga. Menurut Husaini, ada puluhan warga yang menjalani profesi sebagai tukang urut. Mereka mendapat ilmu memijat secara turun temurun. “Kehebatan mereka dalam menyembuhkan patah tulang dan keseleo sudah tidak diragukan lagi. Pasiennya sangat banyak. Selain Kalselteng, pasiennya

ada juga yang berasal dari Jawa, seperti Jakarta dan Bandung,” ujarnya. Untuk membuktikan ucapannya, Husaini mengajak Tim Sapa Warga berjalan menuju rumah Ismail Kumis, yang jaraknya sekitar 300 meter. Rombongan disambut hangat oleh H Ismail Kumis. “Kebisaan maurut ini turun temurun dari abah,” ucap Ismail. Menurut Ismail, dirinya menekuni paurutan ini sudah puluhan tahun. Paling banyak dia urut adalah orang yang keseleo dan patah tulang. “Untuk menyebuhkannya saya hanya menggunakan minyak burung Bubut,” ujarnya. Keyakinan warga kepada tukang urut ini masih besar.

Buktinya dalam seharinya Ismail bisa kedatangan 10 sampai 20 pasien. “Sebagai pengobatan alternatif, saya terdaftar di dinas kesehatan. Namun untuk pembinaan langsung dari dinas kesehatan belum ada,” ujarnya. Ismail mengatakan, dari sekian banyak pasien yang datang, yang paling berkesan adalah dia berhasil menyembuhkan pasien yang menderita patah tulang punggung. “Usai diurut, si pasien sudah bisa beraktivitas kembali. Ya itu berkat kehendak Tuhan juga. Saya cuma bisa mengusahakan,” ucap Ismail. Setelah 15 menit berbincang dengan Ismail Kumis, Tim Sapa Warga pamit dan menuju paurutan lainnya, Ali. Rumah Ali berada tidak jauh dari Tugu 9 November. Di depan rumah Ali, dipasang pelang warna biru bertuliskan warna putih. Isi tulisannya, Hari buka pukul 08.30 Wita hingga 12.30 Wita. Sore buka pukul 16.00 Wita sampai 18.00 Wita. Hari Jumat buka pukul 16.00 Wita. Di bawah jadwal menerima pasien itu ada tulisan, “Yakin dan Sabar,

Yakin Sembuh.” “Setiap hari rata-rata saya maurut 50 pasien. Jika ada pasien yang genting seperti patah tulang, maka akan didahulukan. Karena sifatnya mendesak,” ujarnya. Ali mengatakan tidak semua pasien yang datang dipungut uang jasa. “Saya akan menggratiskan atau tak menerima imbalan bagi warga tak mampu atau yatim piatu. Dalam satu hari pasti ada dari yatim piatu,” ucap Ali. Tidak hanya mengobati pasien patah tulang dan keseleo, Ali juga melayani pasien yang menderita penyakit asma, kencing manis, maag dan lainnya. “Selain ikhtiar urut, usaha medis juga tetap diperlukan. Seperti pasien kencing manis, saya anjurkan juga dia untuk pergi ke dokter,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, komandan Tim Sapa Warga, Wahyu, ingin merasakan langsung bagaimana rasanya pijatan Ali. Begitu kakinya dipegang Ali, Wahyu langsung menjerit kesakitan. “Aaaauuuuuu sakit,” ucap Wahyu saat kakinya dipegang Ali. Setelah puas berbincangbincang dengan Ali, Tim Sapa Warga minta diri. Namun saat bersama pasien Ali mulai berdatangan. Salah satunya Harun. Warga Kelayan B, Banjarmasin ini keseleo. “Saya terjatuh saat mengendarai sepeda motor,” ujarnya.

Oleh Husaini, Tim Sapa Warga diajak ke rumah paurutan lainnya, yakni Rifat Kumis.Dari namanya, sudah bisa ditebak kalau Rifat Kumis ini masih punya pertalian darah dengan Ismail Kumis. “Kami satu kakek. Kakek kami bernama H Kumis,” ujarnya. Rifat ini menempati rumah Banjar . Di tempat tersebut dia bersama dua saudara -yang juga paurutan-- melayani pasien yang datang. “Kami buka sampai malam. Saya kebagian tugas pagi,” ujarnya. Rifat mengatakan, dia hanya melayani pasien yang menderita patah tulang dan keseleo. “Saya hanya melayani pasien manusia, bukan binatang. Sebelum saya melayani bintang. Pasiennya ayam aduan atau kucing yang mengalami patah tulang,” ujarnya. Menurut Rifat, tidak semua pasien patah tulang yang diobati. “Kalau sakit masih bisa saya sembuh, ya akan saya urut. Tapi kalau lukanya sangat parah dan diluar kemampuan saya, saya akan memberikan pertolongan pertama saja. Setelah itu saya anjurkan si pasien pergi ke rumah sakit,” ujarnya. Aktivitas Tim Sapa Warga berakhir di rumah Rifat Kumis. Sekitar pukul 10.00 Wita, Tim Sapa Warga meninggalkan kampung paurutan. (ogi)

HESLY JUNIANTO, Tokoh Masyarakat

Aset Wisata KEBERADAAN para tukang urut di Banua Anyar, Banjarmasin, bisa disebut sebagai aset wisata. “Untuk itu, keberadaannya perlu dibina dan kembangkan,” ucap Hesly Junianto, tokoh masyarakat yang ikut dalam tim Sapa Warga. Menurut Hesly, dinas kesehatan perlu melakukan pembinaan terhadap para terapis urut yang jumlahnya puluhan tersebut. “Pembinaan itu bisa dari dokter tulang. Sehingga pelayanan yang para paurutan aman bagi masyarakarat,” ucap Hesly. (ogi)

FOTO-FOTO: BANJARMASIN POST GROUP/EDI NUGROHO


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.
Banjarmasin Post Rabu, 3 Desember 2014 by Banjarmasin Post - Issuu