18 Etalase
Banjarmasin Post
SENIN 3 DESEMBER 2012
Nanda Langsung Menangis Bahagia 4 Murid Banjarmasin Juara Lukis Nasional
ANTARA/FANNY OCTAVIANUS
MENAFSIR MUNIR - Suciwati, istri mendiang pejuang HAM, Munir (kiri) mengikuti pembukaan acara Menafsir Munir, Melawan Lupa di alun-alun kota Batu, Malang, Jatim, Minggu (1/12). Acara memperingati lahirnya Munir itu selain ikuti banyak aktivis juga seniman dan budayawan seperti Butet Kartaredjasa, Gunawan Mohammad, dan Joko Pekik. Mereka mengingatkan janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menuntaskan kasus pembunuhan Munir,
Djoko Serang Pertamina Sambungan hal 1
Disebutkan Djoko, BPH Migas pernah mendesak Pertamina memasang sistem IT (informasi teknologi) pada 2012. Faktanya, Pertamina baru menguji coba kepada 112 SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) di Kalimantan. “Apabila sistem IT diterapkan, dapat diketahui volume BBM subsidi yang telah disalurkan Pertamina. Ini bisa mengurangi penyalahgunaan BBM bersubsidi,” kata Djoko yang juga menuding Pertamina menjual BBM subsidi ke ‘swasta’. Djoko menegaskan, lembaganya telah melakukan pengawasan dan penyelidikan. Selama Januari-Oktober 2012, BPH Migas menindak 551 kasus pelanggaran BBM bersubsidi, mayoritas di Kalimantan dan Sumatera. Dari 551 kasus itu, BPH Migas menyita 1,7 juta liter BBM sebagai barang bukti. “Kerugian negara mencapai ratusan miliar rupiah. Ini kan seperti gunung es, yang tertangkap saja sebanyak itu,” tegasnya. Dia pun mengatakan berdasarkan Perpres Nomor 15, titik serah BBM bersubsidi di penyalur SPBU, bukan di Depot Pertamina. Harga BBM bersubsidi yang dibeli penyalur adalah Rp 4.500 per liter, bukan Rp 4.300 per liter, seperti yang terjadi saat His-
wana Migas membeli di Depot Pertamina. “Kan tidak semua yang keluar dari Depot Pertamina sampai ke masyarakat. Celakanya, pemerintah membayar subsidinya. Hiswana jangan membeli BBM subsidi di Depot Pertamina dengan harga di bawah harga subsidi. Belilah dengan harga keekonomian. Kalau menjual ke masyarakat dengan harga subsidi, tunjukkan ke negara, tunjukkan kepada BPH siapa konsumennya, berapa volumenya,” tegas Djoko. Menteri Keuangan Agus Martowardojo juga mensinyalir masih beroperasinya kelompok atau pembeli BBM dengan jumlah tak terbatas. Ironisnya, masyarakat yang membutuhkan hanya mendapat ‘botolan’. “Yang betul-betul perlu kita soroti itu bukan hanya harus sesuai kuota, tapi memang betul yang namanya penyalahgunaan itu banyak sekali di daerah. Jadi saya mengimbau kepada pemda dan semua jajaran, mari kita kendalikan penyaluran BBM bersubsidi ini secara baik,” ujar Agus. Benarkah Pertamina sarang mafia BBM? Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir membantah. Menurut dia, dari harga BBM subsidi Rp 4.500 per liter, ada marjin keuntungan Rp 200 per liter ke pengusaha SPBU. Ali mene-
gaskan, tak mungkin Pertamina menjual BBM lebih murah ke pengusaha SPBU, karena itu berarti rugi. Ditegaskan Ali, Pertamina telah menerapkan sistem pengawasan ketat dan berlapis meminimalisasi penyalahgunaan BBM subsidi. “Sejauh ini cukup efektif, baik melalui automation system di terminal BBM, GPS tracking system, fuel sales distribution management system (FSDMS), maupun penerapan zero losses di mana SPBU hanya membayarkan BBM subsidi sesuai volume yang diterima,” kata dia. Apapun alasan pertamina, pemerintah menyatakan ada penyimpangan BBM subsidi sekitar 30 persen. Anggaran subsidi BBM tahun ini mencapai Rp 219 triliun, dan akan membengkak seiring penambahan kuota. “Persoalannya 30 persen BBM subsidi diselewengkan dan dibagikan kepada yang tidak berhak,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Menurut dia, ada berbagai praktik penyelewengan, mulai penyelundupan, penjualan eceran, penimbunan, hingga kapal atau mobil yang mengangkut BBM bersubsidi ‘kencing’ di jalan. “Pertamina harus segera menyediakan teknologi berbasis IT agar pembagian BBM bersubsidi tepat sasaran,” ucap dia. (tribunnews/lau/rif/ kps/sin/dtn)
Kuota 2013 Pun Jebol SENIN (3/12) ini, BPH Migas berencana mengajukan tambahan kuota BBM subsidi sebanyak 1,2 juta kiloliter, senilai Rp 6 triliun. Tambahan kuota kali kedua dalam setahun ini diajukan karena Pertamina mengkhawatirkan kuota BBM bersubsidi tidak cukup sampai akhir 2012. Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir beralasan, permintaan BBM bersubsidi hingga 20 November 2012 selalu melampaui jatah. Krisis BBM subsidi pun melanda Tanah Air. “Artinya telah terjadi over penyaluran terhadap kuota bulan berjalan masingmasing sekitar satu persen untuk premium dan emoat persen untuk solar, dan masih ada potensi terjadi over kuota sampai akhir 2012,” kata dia. Kendati Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan Menkeu Agus Martowardojo mengeluhkan distribusi BBM subsidi tak tepat sasaran akibat mafia BBM, pemerintah dan DPR memberi sinyal menyetujui penambahan itu. Menyikapi kondisi itu, ekonom dari
Econit, Hendri Saparini mendesak pemerintah lebih akurat menetapkan strategi pengendalian kuota untuk tahun depan. “Selain itu juga harus memiliki dan memegang strategi bagaimana mengendalikan,” kata Hendri. Apalagi, kuota BBM subsidi 2013 sudah ditetapkan pemerintah dan DPR sebanyak 46 juta kiloliter. Angka itu lebih banyak dari kuota BBM subsidi tahun ini, yang diperkirakan mencapai 45 juta KL. “Pemerintah dan BPH Migas, harus benar-benar mengelola dan memiliki strategi tepat. Dengan pertumbuhan permintaan dan ekonomi tinggi tahun depan, kalau tak dikelola supply dan demand-nya, ini pasti terulang (kuota BBM jebol),” tegas Hendri. Wakil Menteri ESDM, Rudi Rubiandini juga mengatakan kuota BBM bersubsidi 2013 terancam jebol. Pasalnya, tiap tahun ada tren penambahan kuota BBM bersubsidi dua juta kiloliter. “Paling tidak dibutuhkan sekitar 48,5 juta kiloliter BBM bersubsidi di 2013 nanti,” ucap dia. (tribunnews/lau)
Manukar Radiu Sambungan hal 1
wan buta huruf. Kada lawas tadi sidin bailang sakaligus bamalam sahari-dua di rumah Palui. Lui, aku mainta tulung wan ikam. Ikam isuk dangani aku ka pasar satumat, aku handak manukar radiu, ujar mintuhanya. Kanapa sampiyan handak manukar radiu Bah, maka sampiyan sudah ada baisian tivi di rumah? ujar Palui batakun. Aku munyak malihat tivi karna sabarataan acaranya sinetrun tarus, kada siang kada malam. Kada kawa lagi mandangar barita, ujar mintuha Palui gagarunum. Isuknya tulak ai Palui wan mintuhanya ka pasar. Sampai di tuku urang bajual barang eliktrunik lalu masukkan bubuhannya badua. Napa nang kawa ulun tulungi pakacil? ujar nang ampun tuku manakuni mintuha Palui. Aku handak manukar radiu Suni, ujar mintuhanya
Palui. Kalu nang radiunya haja, kami kada baisian nang mirik Suni. Kalu nang Suni itu langkap radiu, tip wan pisidinya, ujar urang itu pulang. Sabaiknya mirik lain haja bah ai ada nang ukurannya tahalus jadi pian nyaman mambawa bulik, salain itu haraganya tamurah, ujar Palui manyaranakan. Kada, aku handak nang radiu Suni jua. Sual haraga aku kada jadi masalah, nang panting ujar urang bunyinya bagus, ujar mintuha Palui pulang. Cuba ikam tes dahulu, aku handak mandangar bunyinya, ujar mintuha Palui. Kalu radiu Suni ini dijamin bagus pakacil ai. Pian kada cagar manyasal, ujar ampun tuku sambil maungkai ka kutak lalu manyucuk listriknya. Dicubainya mamutar kaset bagus haja, lalu dicubanya pulang pakai pisidi, bagus haja jua. Mintuha Palui kahimungan sambil baanggut-anggut
PRESTASI kembali mengharumkan nama Kalsel di kancah nasional. Empat murid SD di Banjarmasin menjuarai Lomba Melukis Kolektif Pelajar Nasional 2012 yang diadakan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Minggu (2/12). Mereka adalah Nanda Ganang dari SD Muhammadiyah 9, Putri Amalia dari SDN Teluk Dalam 3, Laili Azmi dari SDN Kuripan 2 dan Sayed Muhammad Yusuf dari SDN Sungai Miai 7. Kabar gembira itu diungkapkan pendamping mereka, Elya Sari kepada BPost. Dia mengungkapkan, keempat murid itu benar-benar gembira dan bangga karena mampu menorehkan prestasi di tingkat nasional. Mereka mampu mengalahkan perwakilan dari 24 provinsi lain.
ISTIMEWA
TIM murid SD Kalsel (kanan) seusai menerima hadiah sebagai juara pertama melukis tingkat nasional, Minggu (2/12)
pelukis Kalsel, Rizali Noor. Selain berlatih bersama, mereka juga berlatih di rumah masing-masing. (ath)
JUARA
: 1. Kalsel 2. Sulbar 3. Bengkulu AN : 1. Bali 2. Sumsel HARAPAN HARAP
Tak Marah Dicakar Mulan Sambungan hal 1
bantaian orang utan di Kalimantan. Nah, kemarin, media ternama Inggris Daily Mail, mewartakan hal lain yang unik. Yakni, persahabatan antara manusia dan harimau. Persahabatan antara Abdullah Sholeh (31) dan sang raja hutan bernama Mulan (4) itu tidak terjadi di kebun binatang atau sirkus tetapi pada salah satu permukiman di Malang, Jatim. Persahabatan mereka sangat tulus. Abdullah disebutkan tidak mengeksploitasi harimau Benggala yang semula milik saudaranya itu. Harimau
Benggala adalah subspesies harimau di India, Bangladesh, Nepal, dan Bhutan Setiap hari, Abdullah merawat Mulan di kebun belakang rumah. Di sela-sela waktu, mereka saling berpelukan, berciuman dan bermain termasuk serang-serangan. Meski berkelahi pura-pura, Abdullah beberapa kali mengalami luka. Suatu ketika wajahnya memar dan matanya merah karena terkena cakar dan kaki Mulan. Namun demikian, Abdullah tidak marah dan tetap menyayangi Mulan. Pasangan ini memang tak terpisahkan. Abdullah kerap
meninggalkan tempat tidurnya untuk menghabiskan waktu bersama Mulan di sebuah gubuk reyot. Menurut WWF (World Wildlife Fund) saat ini terdapat sekitar 2.100 harimau Benggala di alam bebas, dengan 1.411 di antaranya berada di India, 200 di Bangladesh, 150 di Nepal, dan 100 di Bhutan. Harimau adalah jenis kucing terbesar dari spesiesnya. Meskipun berasal dari keluarga yang sama, harimau berbeda dengan kucing piaraan. Harimau sangat suka berenang, sedang kucing pada dasarnya takut dengan air. Dari seluruh karnivora, harimau adalah kucing karni-
vora terbesar dan karnivora terbesar ketiga setelah beruang kutub dan beruang cokelat. Harimau biasanya memburu mangsa yang agak besar seperti rusa, kijang, babi, kijang, dan kancil. Tapi jika mangsa tersebut tidak ada, hewan ini akan memburu hewan kecil seperti landak. Jika sudah besar, harimau jantan memiliki berat antara 180 dan 320 kilogram. Sedang betina berbobot antara 120 dan 180 kilogram. Dibandingkan seluruh harimau yang ada, harimau Sumatera adalah harimau terkecil. Sedang harimau terbesar berasal dari Siberia. (dm/arp)
Pemprov Gratiskan Parkir RSUD Ulin Sambungan hal 1
gugatan ke PTUN Banjarmasin. Majelis Hakim memenangkan perusahaan itu. Melihat itu, CV Namerah tidak terima dan mengajukan gugatan ke PTUN Jakarta. Prosesnya hingga kini masih berjalan. Akhirnya, didasarkan pertimbangan pengelolaan parkir tetap berjalan, RSUD Ulin kembali menggandeng CV Namerah. Permasalahan muncul karena di dalam kontrak terdapat kalimat tidak tegas tentang batas akhir kerja sama. Imbasnya, terjadi perbedaan pemahaman. Pengelola RSUD Ulin menilai kontrak berakhir 30 April 2012. Sedangkan CV Namerah merasa masih berhak karena proses hukum sedang berlangsung di PTUN Jakarta. “Mereka beralasan dalam kontrak tertulis hingga 30 April 2012 garis miring hingga ada putusan hukum tetap. Kalimat hingga ada putusan hukum tetap itulah yang menjadi alasan mereka,” kata Kabid Bidang Hukum dan Informasi RSUD Ulin, Firmansyah. Perbedaan itu berlarutlarut hingga terjadi rapat di ruang kerja Arsyadi itu. Putusan penggratisan parkir pun disepakati meskipun menurut Firmansyah, sulit diberlakukan karena memerlukan per-
siapan internal dan sumber daya manusia (SDM). Disepakati pula, selama masa gratis itu, pengelolaan parkir dilakukan ‘pihak lain’, bukan CV Namerah dan CV Aldy. Oknum Tentara Permasalahan kian ruwet ketika pengelola RSUD Ulin hendak memasang spanduk pemberitahuan parkir digratiskan. Upaya pemasangan pada Jumat (30/11), gagal karena kabarnya ada ‘perlawanan’ dari pengelola parkir. Upaya diulang malam harinya. Dan, rumor yang beredar menyebutkan pemasangan berhasil karena ada oknum tentara yang mengawasi. Namun, pengelola parkir menggunakan cara lain. Mereka konon mengadu ke Denpom yang kemudian mengirim personelnya ke RSUD Ulin. Tidak beberapa lama spanduk itu diturunkan. “Spanduk itu hanya terpasang selama satu jam sejak pukul 22.30 Wita,” kata sumber yang mengetahui persis ketegangan tersebut. Benarkah informasi itu? Secara tersirat Firmansyah mengakui adanya pemasangan spanduk. Namun, dia enggan berkomentar mengenai kabar adanya oknum tentara yang terlibat. “Kalau menyangkut itu mohon maaf saya tidak berani berkomentar. Kalau yang
lain apa yang Anda tanyakan akan saya coba jelaskan semampu saya,” ujarnya. Direktur CV Namerah, Fahrulrazi belum bisa dikonfirmasi karena menurut anak buahnya sedang berada di luar kota. Dia pun belum bisa dihubungi. Sedangkan Pasi Lidkrim Denpom VI/2 Banjarmasin, Kapten CPM H Silaen Ketika dikonfirmasi mengaku ada
personelnya yang berpatroli ke RSUD Ulin karena berdasar laporan ada oknun tentara di sana. “Kami terima laporan dan kami tindak lanjuti, ternyata tidak kami temukan anggota TNI. Saya langsung yang ke lapangan. Mengenai permasalahan antara pihak-pihak sipil kami tidak mencampuri. Kami juga tidak menurunkan spanduk itu,” tegas dia. (tim)
Rencanakan Basement Sambungan hal 1
Firmansyah mengakui lahan parkir itu sudah tidak mampu lagi menampung kendaraan bermotor. Kondisi itu dikarenakan RSUD Ulin merupakan rumah sakit rujukan kabupaten/kota di Kalsel, bahkan sebagian Kalteng dan Kaltim. Selain itu, juga merupakan rumah sakit pendidikan yang memiliki status kelas A. Akan tetapi, padatnya pengguna lahan parkir tidak diikuti pemasukan setimpal. “Bayangkan, nilai penawaran (pada lelang pengelolaan pakir) hanya Rp 45 juta. Jadi hanya sebesar itu yang masuk ke RSUD Ulin dalam sebulan. Padahal berdasar perhi-
tungan saya bisa mencapai Rp 75 juta,” katanya, kemarin. Untuk mengatasi terbatasanya lahan, Firmansyah mengatakan ada rencana membikin parkir sistem basement. “Tetapi terlebih dulu akan dilakukan pembenahan lahannya,” ucap dia. Sekdaprov Kalsel HM Arsyadi juga mengamini rencana pembikinan basement untuk parkir kendaraan bermotor. Dia pun berharap pengelola parkir rumah sakit milik pemprov itu adalah pengelola RSUD Ulin, bukan pihak lain. Oleh karena itu, Arsyadi berpendapat, jika kontrak pengelolaan parkir sudah berakhir, tidak perlu diperpanjang. (tim)
Tak Memiliki dan Dimiliki Sambungan hal 1
mandangar suara musik. Cubai radiunya pulang! ujar mintuha Palui manyuruh mamutar radiunya. Pas dibunyiakan kaluar suara: Inilah Radio Republik Indonesia, mengudara pada..., ujar suara di radiu. Hadang dahulu, hadang dahulu, ikam handak mambunguli aku kah? ujar mintuha Palui bakakajutan sarik. Ujar ikam tadi radiu ini radiu Suni, sakalinya imbah diputar katahuan bahwa radiu nang ikam jual ini radiu Republik Indonesia. Pukuknya aku kada handak nang ini, aku minta hurupakan lawan nang bujur-bujur radiu Suni, ujar sidin bamamai. Nang ampun tuku sawat bingung malihat kalakuan mintuha Palui. Tapi imbah mancangangi Palui nang badiri di belakang mintuhanya, hanyar inya lihum karna Palui mahahulut mintuhanya mamadahakan sidin miring alias kada tapi waras. (rep)
“Wah, mereka bahagia sekali. Sampai Nanda dan Putri menangis bahagia. Sedangkan Laili dan Sayed langsung melompat kegirangan,” kata Elya yang berprofesi sebagai guru di SD Muhammadiyah 9 Banjarmasin itu. Diungkapkan dia, para pelukis cilik yang mengikuti lomba itu mendapat tema Bangga dengan Budaya Indonesia dari panitia. Mereka menuangkan kreativitasnya di kertas karton ukuran A3 yang dipotong empat untuk satu tim. “Satu tim berjumlah empat anak. Pemenang mendapat piala Mendikbud, uang pembinaan dan sertifikat,” ucap Elya. Pada lomba itu, perwakilan Kalsel itu memilih menggunakan motif layang-layang. Selama persiapan mereka dilatih
“Syukurlah. Kalau begitu, saya tak perlu khawatir,” kata saya tersenyum. Sebenarnya, saya paham maksud di balik sindiran itu. Dia sesungguhnya ingin mengatakan, percuma jauh-jauh sekolah ke luar negeri, tapi pulangnya tetap melarat. Ke mana-mana masih terkena panas dan hujan, karena masih pakai sepeda motor, yang modelnya sudah ketinggalan zaman pula. Seharusnya, dalam pikiran dia, saya sudah pakai mobil, atau paling kurang, naik sepeda motor model terbaru. Tak ada salahnya berharap, sukses studi akan diikuti sukses materi. Yang jadi masalah adalah anggapan bahwa hubungan antara keduanya merupakan suatu keharusan. Akibatnya, muncullah pandangan soal kepantasan dan gengsi. “Sudah sarjana, kok masih jalan kaki? Sudah Doktor, kok masih naik Honda Jas (sepeda motor Honda pakai jas hujan)?” Begitulah komentar pahit
yang kadang kita dengar. Kita rupanya menilai orang, memantas-mantaskan orang, dengan barang yang dia pakai dan miliki. Seolah nilai diri seseorang akan jatuh, jika ia tidak memiliki benda yang sepantasnya dia miliki. Seolah kehormatan seseorang terletak pada penampilan lahirnya. Akibatnya, kualitas kepribadian seperti kejujuran, ketekunan, kepedulian, dan tanggung jawab, dengan mudah kita abaikan. Lebih buruk lagi, orang tidak mau tahu kalau segala sesuatu harus menjalani proses, tidak bisa sim salabim seperti sulap. Bukan hanya hidup miskin yang perlu kesabaran. Untuk mencapai hidup sejahtera, orang juga harus sabar. Berhasil dalam menjalani pendidikan, belum tentu berhasil saat bekerja, karena masing-masing adalah medan yang berbeda. Keduanya membutuhkan proses. Tetapi manusia modern memang sudah terbiasa dengan jalan pintas, menerabas batasbatas. Tanpa harus mendaki, dengan helikopter, orang bisa
sampai ke puncak gunung yang tinggi. Teknologi telah memudahkan dan mempercepat proses alamiah yang sebelumnya harus dilalui dengan susah payah. Teknologi memang banyak membantu manusia dalam proses mewujudkan berbagai keinginannya. Tetapi rupanya, kemampuan teknologi mempercepat proses alamiah itu akhirnya menimbulkan suatu pola pikir yang tidak sabaran dan serba instan. Orang ingin cepat pintar, kaya, terkenal dan berkuasa, melalui proses yang semudah-mudahnya. Buat apa pula susah-susah, jika masyarakat sendiri hanya akan melihat dan menghargai hasil akhirnya, bukan prosesnya? Demikianlah, materialisme kawin dengan pragmatisme. Semangat menimbun benda berpadu mesra dengan sifat tak sabaran manusia. Inilah pangkal dari pola hidup konsumtif di era kapitalis yang melanda dunia saat ini. Keserakahan itu akhirnya melahirkan penguasa yang korup, pengusaha yang memeras pe-
kerja, atau orang biasa yang hidupnya terlilit hutang, karena besar pasak daripada tiang. Namun apapun kecenderungan umum di masyarakat, sebagai pribadi kita tetap memiliki kebebasan untuk memilih. Anda bisa menjadi orang yang boros atau hemat. Anda bisa membeli barang yang mewah karena gengsi, atau membeli yang sederhana, asal bisa memenuhi kebutuhan Anda. Anda bisa mensyukuri sesuatu yang sekarang Anda miliki, atau mengeluh karena terus merasa kekurangan. Di atas segalanya, orang yang paling hebat adalah, yang hatinya tidak terikat pada apapun yang ia miliki. Ia sadar bahwa segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri, adalah milik Sang Pencipta. Ia merasa tidak memiliki dan dimiliki oleh apapun. Dialah orang yang hatinya paling bebas dan bahagia di dunia ini. Tetapi kita mungkin belum bisa menjadi orang semacam itu. Lantas, kita termasuk jenis yang mana? (*)