2 Banjarmasin Bungas
Banjarmasin Post JUMAT 5 AGUSTUS 2011
Bos Dunfee ‘Menghilang’ Q Polisi Sita 4 Kilogram Sabu Senilai Rp 8 Miliar
Advertorial
BANJARMASIN, BPOST - Tempat hiburan Dunfee kini sedang ditutup garis polisi, setelah anggota gabungan Polres Jakarta Barat, Polda Metro Jaya dan Polda Kalsel, menggagalkan pengiriman empat kilogram sabu senilai Rp 8 miliar, Kamis (4/8). Penutupan tempat hiburan yang terletak di Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin itu berawal dari terbongkarnya pengiriman paket sabu seberat dua kilogram yang dikamuflase handuk dari Jakarta, Rabu (3/8) sore. Saat itu polisi menangkap dua karyawan Dunfee, Jojo dan Yus, yang diduga menerima paket tersebut. Sebelumnya, petugas di Jakarta juga menangkap orang yang diduga sebagai pengirim sabu bernama Budi, yang sebelumnya masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) terkait pengiriman ribuan pil yang diduga ineks ke Dunfee beberapa tahun lalu. Dari pengembangan, polisi juga menemukan paket yang berisi dua kilo sabu yang dicampur dengan handuk dari gudang di lantai lima Dunfee. Pada pembungkus kardus paketan itu tertulis nama pengirim, Anton Wijaya, Jalan Wahidin No.78A, Medan, dan penerima Subroto, Plaza Posindo lantai V, No 19, Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin.
Layani Permintaan Sapi Kalselteng
“Penangkapan ini bermula dari hasil control delivery Polres Jakarta Barat yang mengetahui ada pengiriman dua kilogram sabu ke Banjarmasin” ANDEAN BONAR SITINJAK Dirresnarkoba Polda Kalsel Di dalam gudang itu, polisi juga menemukan 71 dus minuman keras impor berbagai merek. Pascapenangkapan ini, pemilik Dunfee, Beny Buntoso, tak diketahui keberadaannya dan masih dalam pencarian petugas. “Penangkapan ini bermula dari hasil control delivery Polres Jakarta Barat yang mengetahui ada pengiriman dua kilogram sabu ke Banjarmasin melalui jasa pengiriman barang,” kata Direktur Resnarkoba Polda Kalsel, Kombes Pol Andean Bonar Sitinjak. Diceritakan, paket sabu
BANJARMASINPOSTGROUP/BUDI ARIF RH
SABU - Anggota Dirresnarkoba Polda Kalsel, menunjukkan barang bukti sabu yang ditemukan di gudang Dunfee, Kamis (4/8).
tersebut tiba di Dunfee pada Rabu sore yang diterima oleh Jojo dan Yus. Petugas yang melakukan pengintaian pun langsung menangkap keduanya berikut barang bukti. Selain mengamankan Jojo dan Yus, petugas juga mengamankan istri Beny yang berinisial L. “Beny selaku pemilik Dunfee masih belum diketahui dan saat ini masih dalam pencarian petugas,” ujarnya. Fauzan Ramon SH, kuasa
hukum Beny, yang ditemui saat mengikuti penggeledahan mengaku ke lokasi karena ditelepon pihak keluarga Beny. Menurutnya status yang istri Beny masih sebagai saksi. Tapi Fauzan mengaku mengatakan tidak mengetahui dimana Beny berada saat ini. “Katanya diluar kota, kontak terakhir pada pukul 09.00 Wita, setalah itu tidak bisa dikontak lagi,” ujar Fauzan. (ncl/dwi)
Cukup Periksa di RS Ulin
BANJARMASINPOSTGROUP/JUMADI
CEK - Perwakilan Travelindo melihat-lihat ruangan pemeriksaan jemaah calon haji dan umrah di RSUD Ulin Banjarmasin, Kamis (4/8).
BANJARMASIN, BPOST Kabar gembira bagi warga Kalsel yang akan melaksanakan ibadah umrah dan haji. Kini mereka tak perlu lagi memeriksakan kesehatan di Kantor Kesehatan Pelabuhan atau KKP, cukup di RSUD Ulin Banjarmasin. Rumah sakit terbesar di Kalsel itu siap memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan warga yang ingin berangkat umrah dan haji, setelah adanya penandatanganan kerja sama antara KKP Banjarmasin, RSUD Ulin, serta Kepala Dinkes Prov Kalsel, yang disaksikan Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin, Rabu (3/8) pagi. Kini, RSUD Ulin Banjarmasin akan memberikan fasilitasi pengadaan vaksin
0508/B02
meninggitis meniningokus atau MM halal bagi jemaah calon haji dan umrah, serta pelayanan vaksinisasi. Mereka juga melayani standar pelayanan vaksinasi, yakni mulai dari pendaftaran hingga rekomendasi penerbitan sertifikat vaksinasi internasional. Pemeriksaan kesehatan jemaah calon haji dan umrah diserahkan sepenuhnya kepada manajemen RSUD Ulin Banjarmasin, namun mereka tidak melayani pemeriksaan calon perorangan. Kemarin, dilaksanakan pertemuan sosialisasi kepada biro perjalanan yang memberangkatkan jemaah haji dan umrah. Dari 26 perusahaan, hanya delapan perwakilan yang hadir.
Dokter RSUD Ulin Banjarmasin, H Gusti Rifaniansyah, berjanji memberikan pelayanan maksimal kepada calon haji dan umrah. Mereka telah menyiapkan empat dokter ahli, dua dokter umum, serta beberapa tenaga paramedis. Menurutnya, ruangan di lantai lima akan menjadi tempat pemeriksaan kesehatan. Dalam sehari, rumah sakit dapat memeriksa antara 70150 orang. Selain itu, tempat parkir yang luas maupun ruang tunggu ber AC, diharapkan mampu membuat jemaah calon haji dan umrah kerasan menunggu giliran. “Biaya pemeriksaan tidak ada berbeda dengan peme-
riksaan oleh KKP. Beberapa petugas KKP juga dilibatkan di rumah sakit ini agar jemaah calon haji dan umrah mendapat pelayanan terbaik,” ucap Rifaniansyah. Untuk sementara ini, RSUD Ulin Banjarmasin hanya memberi waktu pemeriksaan setiap Sabtu. “Kalau jumlahnya membeludak, waktunya akan ditambah, yakni setiap Rabu dan Sabtu,” katanya. Direktur RSUD Ulin Banjarmasin, H Abimanyu, mengatakan rumah sakit menyediakan 1.000 vaksin menengitis agar mampu melayani jemaah calon haji dan umrah. (jd/*)
KABUPATEN Barito Kuala (Batola) tidak hanya menjadi sentra produksi pertanian, tapi juga menjadi sentra peternakan, khususnya sapi. Bahkan empat tahun terakhir, di bawah kepemimpinan H Hasanuddin Murad, Bumi Ije Jela ini mampu memasok sapi keluar daerah. Setiap tahunnya, khusus menjelang Hari Raya Idul Adha, sapi hasil perternakan di Kabupaten Batola bahkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat luar Kalsel, seperti ke Kapuas dan Pulang Pisau (Kalimantan Tengah). “Sebanyak 900 ekor sapi tiap tahun dipasok dari Batola untuk memenuhi masyarakat menjalankan ibadah kurban,” kata Kepala Dinas Peternakan Batola, Drh Hari Bagyo. Untuk wilayah Batola tiap tahunnya hanya membutuhkan 200 ekor sapi. Tak heran, menjelang Hari Raya Haji sering terlihat hilir mudik kendaraan roda empat mengangkut sapi. Potensi perternakan di Kabupaten Batola meliputi ternak besar, kecil dan unggas. Pengembangan ternak besar dilakukan dengan cara penggemukan dan pembibitan. Komoditas ternak andalan yang sedang dikembangkan adalah ternak sapi dan kambing di Kecamatan Wanaraya dan Barambai. Kabupaten Batola memiliki sumber daya peternakan yang cukup signifikan dan menjanjikan menjadi potensi unggulan daerah. Berdasarkan hasil penelitian dari seorang ahli di IPB Bogor, kata Hari, potensi pakan ternak sapi di Batola mampu menampung ternak sapi sebanyak 173 ribu ekor. Belum lagi, semakin berkembangnya perkebunan kelapa sawit yang notabene
BANJARMASINPOSTGROUP/AM RAMADHANI
Bupati Batola H Hasanuddin Murad memberikan eartag pada seekor sapi.
dari daun sampai tandan buah kelapa sawit dapat dijadikan pakan sapi. Pemerintah Kabupaten Barito Kuala di bawah kepemimpinan H Hasanuddin Murad sangat konsen untuk mengembangkan peternakan besar. Terbukti, sejak 2008 dianggarkan untuk pengadaan sebanyak 184 ekor sapi bali. Pada 2009 sebanyak 130 ekor, dan 2010 sebanyak 100 ekor ditambah 40 ekor penggemukan, serta pada 2011 sebanyak 140 ekor untuk penggemukan. Sapi diserahkan kepada msyarakat untuk dipelihara selama paling lambat lima tahun, dengan menggulirkan anak hasil keturunan kepada peternak lain. Untuk penggemukan, kata Hari, pengembalian dengan pola bagi hasil yakni pemerintah 40 persen dari selisih harga jual dan 60 persen untuk petani penggaduh. Tak heran, populasi sapi dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2008 sebanyak 9.486 ekor, dan meningkat di 2009 menjadi
10.872 ekor. Pada 2010 menjadi 12.484 ekor, menjadi 14.335 pada 2011. Dipridiksi pada 2012 menjadi 16.461 ekor. Sementara populasi kerbau pada 2008 sebanyak 1.130 ekor, menjadi 1.179 ekor pada 2009, dan pada 2010 sebanyak 1.216 ekor,serta 2011 menjadi 1.298 ekor di 2011. Populasi kambing pada 2008 sebanyak 15.923, di 2009 sebanyak 17.026 ekor, pada 2010 sebanyak 18.206 ekor, dan di 2011 terus meningkat menjadi 19.466. Dipridiksi pada 2012 populasinya mencapai 20.817 ekor. Sedangkan populasi ayam buras mengalami kenaikan sangat luar biasa selama empat tahun kepemimpinan H Hasanuddin Murad bersama H Sukardhi. Pada 2008 tercatat sebanyak 1.614.711 ekor, pada 2009 naik menjadi 1.786.194 ekor, di 2010 sebanyak 1.975.887 ekor, dan pada 2011 sudah mencapai 2.185.727 ekor. Dipridiksi pada 2012 menjadi 2.417.851 ekor. (*)