Skip to main content

Banjarmasin Post Edisi Jumat, 25 Februari 2011

Page 26

26 Mimbar Opini

Banjarmasin Post JUMAT 25 FEBRUARI 2011

TAJUK

Ngaca Dulu Bung! GERTAKAN itu datangnya dari Sekretaris Kabinet (Sekab) Dipo Alam. Ketika itu, pikiran dan tenaga insan pers terfokus pada liputan tentang pascapenyerbuan jemaah Ahmadiyah, gonjang-ganjing suksesi di tubuh PSSI, tarik-ulur di Senayan terkait usulan hak angket perpajakan dan terancamnya ratusan jiwa warga Indonesia di Libya. Dia menginstruksikan kepada jajaran pemerintahan untuk memboikot iklan kepada media massa yang dinilai telah menjelek-jelekkan pemerintah. Sungguh lucu gertakan Dipo itu. Di era reformasi ini dia masih main ancam kepada media. Memang media mau tunduk dan takut dengan gertakan tersebut, seperti di era orde? Ya tidak lah. Media tidak selemah dulu lagi. Yang mudah dikontrol, diatur dan dimatikan. Sekarang media sudah kuat. Masyarakat pun sudah sadar bahwa media adalah unjung tombak demokrasi Indonesia dan itu harus dipertahankan. Sekarang, media massa juga bukan ‘pengemis’. Yang merengek-rengek minta iklan kepada pemerintah untuk mempertahankan hidupnya. Di era kini, media sudah bekerja secara profesional, baik wartawan maupun awak bisnisnya. Sebenarnya, pernyataan bahwa iklan menggunakan dana pemerintah juga kurang tepat. Sebab uang yang dikelola pemerintah berkuasa saat ini bukan milik salah satu golongan atau milik pemerintah itu sendiri. Uang itu tetap uang rakyat, yang diambil dari pajak. Nah, media massa salah satu pembayar pajak terbesar di Republik ini. Jadi, dana rakyat itu sudah selayaknya dialokasikan untuk kepentingan publik, antara lain melalui media massa. Pemerintah sendiri tidak bisa melarangnya. Kalau itu terjadi sama saja artinya pemerintah semenamena menggunakan dana rakyat.

Lantas bagaimana sikap media? Meski lucu, ger takan itu harus dilawan. Dilawan tanpa kompromi. Kalau dibiarkan, budaya main ancam dan main bredel terhadap media seperti di era orde baru akan hidup kembali. Karena tidak menutup kemungkinan muncul Dipo-dipo lainnya. Kita salut kepada Petisi 28 yang berani mengadukan Sekab Dipo Alam kepada Dewan Pers atas pernyataannya yang dinilai telah melakukan represi kepada media dan antidemokrasi. Apa yang dilakukan Petisi 28 itu patut diapresiasi. Layak kita acungi jempol. Mudah-mudahan ada lembaga kewartawanan berani dan melakukan hal serupa. Kita tunggu aksinya. Bagaimanapun juga, instruksi Dipo kepada jajaran pemerintahan untuk memboikot iklan kepada media massa yang dinilai telah menjelekjelekkan pemerintah sangat melukai perasaan insan pers dan menghina pers. Selain itu, pernyataan Dipo tersebut telah melanggar UU Pers No 40/1999 karena telah menghalang-halangi informasi dan kebebasan pers. Itu yang membuat kita tidak bisa memahami, mengapa seorang pejabat negara berusaha menekan media demi kepentingan dan alasan yang tidak mendasar. Sebagai pejabat pemerintah, Dipo harusnya lebih cerdas melihat, mempelajari dan menyikapi suatu kasus atau fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Jangan asal lempar perintah hanya untuk menyenangkan hati atasan. Kalau toh keberatan terhadap pemberitaan, Dipo harus memberikan contoh yang baik. Adukan keberatan itu kepada Dewan Pers atau melaporkan ke aparat hukum terkait kalau dianggap memfitnah atau mencemarkan nama baik. Bukan menyerukan kepada instansi pemerintah untuk memboikot iklan. Memangnya media yang ada di Republik ini kehidupannya sangat bergantung kepada iklan pemerintah? Ngaca dulu bung! (*)

Ke Mana Anda Salat BANJARMASIN TIMUR Ar Raudhah Ratu Zaleha H Haderawi HK Darul Arqam KH Dewantara Drs H Umransyah A MH Baiturrahim A Yani Km 3,5 Drs H Syukeriansyah Al Mubarakah Pekapuran Raya H Maulana Hanafi Taufiqurrahman Gg Serumpun M Rofi’i SAg Misbahul Mu’minin Keranat Raya M Syafwani AS Al Haq Banua Anyar Drs H Masykur Nurul Ibadah Gatot Subroto Drs H Syaiful B SH At Taubah A Yani II Drs H Ahmad Nawawi Darul Lu’lu Tanjung Maya Drs H Murdan MAg Al Amanah Bina Brata H Syamsuddin MSi Al Karamah Pengambangan Ahmad Saubani Nurul Fata Pekapuran Raya Kasful Anwar An Noor Pengambangan Drs Mahyuddin Arafah Dharma Praja Prof H Asmaran AS Ash Shabirin Komp Satelit Permai H Zainal Abidin Al Munawwarah Keramat Drs Tamim Udari MH BANJARMASIN BARAT Hidayatut Thalibin Dahlia Drs HM Ilyas MAg Jami Teluk Tiram Darat H Yusuf Hifni SPdI Fathul Jannah Sepakat Teluk Tiram Drs H Gazali Abbas Adz Dzakirin Teluk Tiram H Hamdi Djafri AA

Ahmad Dahlan S Parman H Reza Rahman Lc MA Al Mujahidin Belitung Darat Dr HM Fauzi SH MSc YKS Sentosa Belitung Darat HA Muthalib Gani Al Ashri Jafri Zamzam Suriani Husein SPd Nuruz Zakirin Bandarmasih H Marjuan Syahdan Ihya Ulumuddin Pembangunan I Drs HM Ali Alhamidi MAP Syamsu wal Rahman Belitung Darat H Ady Maskuni Ar Ridha Yos Sudarso Drs HM Zailani Babut Taqwa LP Teluk Dalam M Rojani HT Miftahur Rahman Komp Ar Rahman H Syarkawi Al Muthmainah Belitung Darat HA Khusairi Darul Falah PM Noor Mursyid SPd Al Hijrah Komp Purna Sakti H Abdul Gaffar BANJARMASIN TENGAH Asy Syifa A Yani Km 2 H Abdul Muhdi SSos Syazali Seberang Masjid H Maswan MT BA Raudhatul Jannah Kampung Melayu H Horman Amin Al Jihad Cempaka Besar H Zainal Hajim Lc Al Musamahah Haryono MT Drs HM Musni Tabsier Darul Mu’minin Rawasari Buserani Nahdatus Salam Cempaka Raya H Guzaini Al-Hijrah Komp Tirtasari H Ahmad Nawawi Hasbunallah WW

P Antasari Dr Jalaluddin MHum Al Khairat Batu Benawa HM Kafandi Fadholi Miftahul Ihsan P Antasari Ismail Sani SAg Jami Soetoyo S Sarmiji Asri MHI Miftahul Jannah Sudirman Jam’an HD SAg Al Ihsan Seberang Masjid H Nurdin Azhar Lc Noor Samudera Drs H Muchlis AS BANJARMASIN UTARA Istiqmah Cemara Raya H Ali Furqan Muhammadiyah Sungai Miai HM Mubarak MSi Darussalam Sungai Miai Drs Norman Said At Tanwir Sultan Adam Ahmad Fitri SAg Jami Mesjid H Abdussamad S Lc Darul Hikmah Cemara Raya Ahmad Sahal Qaryah Thayyibah Komp HKSN Permai M Arfan As-Sajadah Jahri Saleh H Husni Nurin Mh Iqra Hassan Basry Dr H Zulkifli Musabba Nurul Ishlah Mandiri IV H Ahmad Bugdadi SAg Al Ikhlas Simpang Gusti Drs H Rajuddin Al Barqah Kayu Tangi II Drs H Tabrani Basri Al Qadar Sultan Adam H Iberahim Najam Al Yaqin Sungai Jingah M Thalhah Baderi Hasanuddin HM Hasan Basri

Homepage: http//www.banjarmasinpost.co.id Penerbit SIUPP

: PT Grafika Wangi Kalimantan : SK Menpen No. 004/SK MENPEN/ SIUPP/A.7/1985 tgl 24 Oktober 1985 Sejak Tanggal : 2 Agustus 1971 Direktur Utama : Herman Darmo

M Fauzi Rahmani Imaduddin Alalak Selatan Husaini Sahlan SHI Ar Rahmah Padat Karya H Zulfakar Ali Lc Al Muhajirin Kuin Utara Zainuddin Lc BANJARMASIN SELATAN Miftahul Ma’arif Kelayan A Khairiansyah Husnul Khatimah Tatah Bangkal Drs H Abu Bakar Al Mukarram Muning Maslansyah SPdI Byna Taqwa Byna Harapan HM Khairani Qamaruddin Prona I Anang Syarhani Al Anshar Banjar Indah Permai Prof H Asmaran AS As-Salam A Yani Km 5 Drs H Ridhani Fidzi As Sa’adah Darmawangsa H Zainuddin Rais Nurul Iman Prona I H Abdul Muthalib Al Faizun Beruntung Jaya Drs H Mawardi Toni Hayatul Ibadah Geriya M Iderus Al Gufran Mantuil Raya Ahmad Rifani Al Amin Kelayan Dalam Hamdi Jafri AA Al Mubarak Bina Karya HM Ali Fahmi Muhammadiyah Kelayan B Drs H Sukarni MAg Ami Abdullah Persada Mas Drs Gazali HB MHum Al Ummah Pemurus Permai Abdul Hadits Nurul Amilin Kelayan Kecil H Abdun Noor

e-mail : redaksi@banjarmasinpost.co.id Pemimpin Umum : HG Rusdi Effendi AR Pendiri : Drs H J Djok Mentaya (1939-1994) Drs H Yustan Aziddin (1933-1995) HG Rusdi Effendi AR

Banjarmasin Post Group Pemimpin Redaksi: Yusran Pare Wakil: Harry Prihanto Redaktur Pelaksana: Dwie Sudarlan Manajer Peliputan: Dade Samsul Rais Wakil: Elpianur Achmad Manajer Produksi: M Taufik Redaktur Eksekutif: Muhammad Yamani (Banjarmasin Post), Mulyadi Danu Saputra (Metro Banjar), Irhamsyah Safari (Serambi UmmaH), Ribut Rahardjo (Online/Radio). Manajer Redaksi: Irhamsyah Safari Wakil: Agus Rumpoko Redaktur: M Royan Naimi, Noor Dachliyanie A, Sigit Rahmawan A, Umi Sriwahyuni, Syamsuddin, Sudarti, Alpri Widianjono, R Hari Tri Widodo, Kamardi, Ernawati, Donny Sophandi, Didik Triomarsidi, Mahmud M Siregar. Asisten: Noorjani Aseran, Halmien Thaha, Edi Nugroho, Eka Dinayanti, Sofyar Redhani. Staf Redaksi: Hanani, Burhani Yunus, AM Ramadhani, Syaiful Anwar, Mohammad Choiruman, Aries Mardiono, Anita Kusuma Wardhani, Syaiful Akhyar, Mahdan Basuki,Khairil Rahim, Idda Royani, Ibrahim Ashabirin, Eko Sutriyanto, Sutransyah, Faturahman, Irfani Rahman, Jumadi, Budi Arif RH, Anjar Wulandari, Doni Usman, Mustain Khaitami, Siti Hamsiah, Hari Widodo, Ratino, M Risman Noor, Salmah, Murhan, George Edward Pah, Rahmawandi, M Hasby Suhaily, Helriansyah, Nia Kurniawan. Fotografer: Kaspul Anwar, Aya Sugianto. Tim Pracetak: Syuhada Rakhmani (Kepala), M Syahyuni, Aminuddin Yunus, Riduansyah, Syaiful Bahri, Edi Susanto, Sri Martini, Kiki Amelia, Rahmadi, Ibnu Zulkarnain, Achmad Sabirin. Design grafis/illustrator: Ivanda Ramadhani, Derry Hasmi. Biro Jakarta: Febby Mahendra Putra (Kepala), Domuara Ambarita, Murdjani, Antonius Bramantoro, Budi Prasetyo, Fikar W Eda, FX Ismanto, Johson Simandjuntak, Rahmat Hidayat, Yulis Sulistyawan, Choirul Arifin, Hendra Gunawan, Sugiyarto

Pemimpin Perusahaan: A Wahyu Indriyanta General Manager Percetakan: D Yusgianto Wakil PP (Bidang Humas): M Fachmy Noor Manajer Iklan & Promosi: Suharyanto (08115002002) Manajer Sirkulasi Fahmi Setiadi (08115003012) Alamat: Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No 16 Banjarmasin 70111, Telepon (0511) 3354370 Fax 4366123, 3353266, 3366303 Bagian Redaksi: Ext 402-405 ; Bagian Iklan: Ext. 113, 114 ; Bagian Sirkulasi: Ext. 116, 117 Pengaduan Langganan: 08115000117 (0511) 3352050 Biro Jakarta-Persda: Redaksi, Jl Pal Merah Selatan No 12 Lantai II Jakarta 10270, Telp (021) 5483008, 5480888 dan 5490666 Fax (021) 5495358 Perwakilan Surabaya: Jl Raya Jemursari 64 Surabaya, Telp (031) 8471096/ 843428, Fax (031) 8471163 Biro Banjarbaru: Jl Wijaya Kusuma No 11 Telp (0511) 4780356, Biro Palangka Raya: Jl Tjilik Riwut Km.2,5 Palangka Raya, Telp (0536) 3242361 Tarif Iklan: zDisplay Umum: Hitam Putih (BW): Rp 22.500/mmk Berwarna (FC): Rp 45.000/mmk zDisplay Halaman 1: Hitam Putih (BW): Rp 45.000/mmk Berwarna (FC): Rp 90.000/mmk zIklan kolom/Duka Cita: Hitam Putih (BW): Rp 15.000/mmk Berwarna (FC): Rp 30.000/mmk zIklan Kuping: (FC) Rp 100.000/mmk zIklan Baris: (FC) Rp 20.000/baris: (BW): Rp 15.000/baris zIklan Satu Kolom : (FC)Rp 30.000/mmk, (BW): Rp15.000/mmk Catatan: Harga belum termasuk PPN 10%. Harga Langganan: Rp 75.000/bln Percetakan: PT Grafika Wangi Kalimantan Alamat: Lianganggang Km 21 Landasan Ulin Selatan Banjarbaru Telepon (0511) 4705900-01 Isi di luar tanggung jawab percetakan Setiap artikel/tulisan/foto atau materi apa pun yang telah dimuat di harian “Banjarmasin Post” dapat diumumkan/dialihwujudkan kembali dalam format digital maupun nondigital yang tetap merupakan bagian dari harian “Banjarmasin Post”. WARTAWAN “BANJARMASIN POST GROUP” SELALU DIBEKALI TANDA PENGENAL DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARASUMBER.

Pluralitas Ciptakan Perdamaian Antarumat Beragama PLURALITAS dalam masyarakat Islam terasa sangat penting dan menemukan momentumnya untuk dibicarakan saat ini, ketika kerukunan antarumat agama mulai memprihatinkan.

D

i beberapa daerah terjadi keributan, bentrokan dan aksi anarkis oknum golongan yang mengatasnamakan

agama. Islam adalah agama tauhid (monoteis) yang terjaga kemurniannya sejak awal penyebarannya beberapa abad silam. Dari konsep tauhid, kita tersadarkan bahwa sesungguhnya selain Allah adalah nisbi dan plural. Hanya Allah Yang Maha Esa (Ahad atau Satu). Seperti ditegaskan dalam awal kalimat syahadat, la ilaha illa Allah. Keyakinan terhadap keesaan Allah itu dapat menumbuhkan kesadaran bahwa kemutlakan hanya milik Allah semata, dan yang lain adalah plural. Dengan demikian, tentang pluralitas dalam kaitannya dengan keesaan Allah dan pluralitas di dalam Alquran adalah makin mempertegas, bahwa mengakui adanya pluralitas di dalam masyarakat berarti penegasan terhadap prinsip utama dalam Islam, Tauhid kepada Allah. Pluralitas manusia adalah sunatullah, karena itu dia tidak bisa dihilangkan sampai kapan pun, sekalipun hingga akhir zaman. Sebenarnya Allah bisa saja menciptakan ummatan wahidah (satu umat), tetapi bukan hal itu yang diinginkan-Nya (QS al-Maidah/5:48 dan QS Hud/11.118).

Adam Parawansa Shahbubakar Di dalam pluralitas mengandung makna adanya perbedaan, persamaan, dan keberanekaragaman yang sangat fitrah, universal dan abadi. Pluralitas tidak cukup sekadar dengan sikap mengakui dan menerima realitas masyarakat yang majemuk, tetapi harus disertai dengan sikap yang tulus untuk menerima kenyataan bahwa pluralitas itu mengandung nilainilai positif yang merupakan rahmat Allah kepada manusia. Sebab, penerimaan positif itu akan memperkaya dan menumbuhkan sikap hidup bersama dan kompetisi yang sehat, yang disebutkan Alquran dengan fastabiqu al khayrat (Berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan). Karena itu, masyarakat plural senantiasa dituntut untuk hidup berdampingan, yang dipenuhi dengan persaingan yang sehat, serta membuahkan rahmat yang penuh cinta kasih di dalam kebhinekaan. Dalam Suasana fastabiqu al khayrat itu, masyarakat plural diajarkan untuk hidup dalam payung kerukunan. Perspektif teologi Islam tentang kerukunan hidup, apalagi antarumat beragama berkaitan erat dengan doktrin Islam mengenai hubungan sesama

manusia. Islam pada esensinya memandang manusia dan kemanusiaan secara positif dan optimistis. Perbedaan di antara umat manusia, dalam pandangan Islam bukanlah karena warna kulit dan bangsa, tetapi hanyalah bergantung pada tingkat ketakwaan masing-masing (QS Al hujarat/49:13). Dengan demikian, perbedaan antarmanusia seharusnya mendatangkan rahmat. Sebagaimana ditegaskan Nabi SAW dalam hadisnya, ikhtilafu ummati rahmatun, yang berarti perbedaan di antara umatku adalah rahmat, bukan menghasilkan tindak kekerasan atau anarkis seperti belakangan yang sering diberitakan. Jelas bahwa ajaran kerukunan dalam doktrin Islam tentang pluralitas adalah suatu keniscayaan. Hidup tanpa sikap yang plural sangat rentan terjadi tindak kekerasan/ tindak anarkis lainnya. Rasa saling menghargai dan menjaga kerukunan antarumat manusia harus dikembangkan. Kebebasan Beragama Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal itu dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila: “KeTuhanan Yang Maha Esa”. Kebebasan beragama di Indonesia sebenarnya sudah memiliki jaminan konstitusional yang cukup kuat. Berbagai produk hukum dan ratifikasi kesepakatan internasional, mulai dari UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia sampai diratifikasinya ICCPR. Secara normatif, negara menjamin kebebasan masyarakatnya untuk

memeluk dan menjalani keyakinannya. Tetapi hal tersebut ternyata tidak diikuti implementasi di lapangan. Penegak hukum terbilang lamban dan lemah dari segi pencegahan dan pembinaan masyarakat. Selalu terjadi aksi kekerasan yang tentu saja mencoreng nama baik Indonesia di mata internasional sebagai negara majemuk. Hal itu harusnya ditanggapi dengan kerja ekstra oleh pemerintah maupun aparat penegak hukum. Banyaknya perbedaan terkait SARA membuat masyarakat rentan berkonflik. Untuk pemerintah beserta jajarannya harus peka dan jeli membaca situasi. Masyarakat tidak dapat disalahkan sepenuhnya terkait tindak kekerasan dan keributan yang terjadi berkaitan dengan konflik antarumat beragama maupun karena perbedaan tafsir. Pemerintah, pihak keamanan dan ulama seharusnya berperan aktif untuk mendialogkan secara komprehensif dan berkelanjutan di semua tingkatan agar tidak terjadi keributan di tingkat bawah. Selesaikan pada tingkat kalangan ulama dan tokoh agama. Pihak keamanan perlu melakukan tindakan preventif untuk mencegah terjadinya gesekan-gesekan antarumat beragama. Semoga tindak kekerasan berbau SARA tidak terulang kembali di negeri ini. Banyak kerugian yang harus ditanggung, baik materi maupun korban jiwa. Harga diri dan kehormatan bangsa pun terkoyak. * Kader HMI Unlam Banjarmasin

Tulisan Opini bisa dikirim ke email: redaksi@banjarmasinpost.co.id (Maksimal 5.000 karakter tanpa spasi). Sertakan nama, alamat lengkap, nomor telepon, nomor rekening dan fotokopi (KTP). Opini yang terbit akan kami berikan imbalan ke nomor rekening penulis. Terima kasih. Artikel yang masuk batas waktu pemuatannya maksimal dua minggu.

Kerusuhan Berbau SARA

Politik Kambing Hitam

Kristianus Lukman Mahasiswa STMIK IndonesiaBanjarmasin

SETIDAKNYA ada 18 insiden bernuansa SARA sejak 2006 sampai awal Februari 2011. Insiden yang baru saja

terjadi adalah penyerangan terhadap Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang (6/2) dan pembakaran tempat ibadah di Temanggung (7/2) serta penyerangan Pondok Pesantren Yapi di Desa Kenep-Pasuruan (15/2). Sebenarnya ada apa dengan kelompok minoritas? Tidak adakah cara diplomasi yang bisa ditempuh untuk mencapai kesepakatan bersama. Atau memang minoritas adalah kambing hitam untuk mencapai hasrat kesucian mayoritas. Saya kira tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan sebagai jalan menuju kesucian. Lepas dari siapa yang mempunyai kepentingan dari berbagai insiden SARA. Harus ada yang bertanggung jawab.

Pemimpin agama seharusnya mengajarkan tentang perdamaian dan cinta kasih. Mengapa aksi kekerasan berbau SARA menjadi tren, adakah yang salah terhadap ajaran agama? Aparat keamanan seharusnya mengamankan dan memberi jaminan keselamatan masyarakat. Banyaknya insiden kekerasan hingga berujung pembunuhan, menunjukkan gagalnya aparat keamanan. Hal itu terjadi karena lemahnya kerja intelijen kepolisian, tidak maksimalnya kepolisian sektor sebagai ujung tombak kepolisian, rendahnya tingkat kepekaan pimpinan wilayah dan faktor kedekatan oknum pejabat kepolisian dengan kelompok tertentu maupun masyarakat.

Jangan Mudah Terpancing PENYERANGAN sekelompok massa terhadap jemaah Ahmadiyah membuat heboh media massa Indonesia. Insiden itu sepertinya tidak spontanitas, melainkan sudah diatur jauh-jauh hari. Tiga jemaah tewas dalam kerusuhan itu dan lainnya luka-luka. Kerusuhan berbau SARA seharusnya tak perlu terjadi, karena adanya kesalahpahaman ataupun tindakan yang sudah terorganisir. Yang patut dipertanyakan adalah kinerja Polri dalam upaya pencegahan kerusuhan itu. Ahmadiyah memang aliran sesat, menyimpang dari nilai agama Islam, sehingga seringkali memicu aksi kekerasan. Banyak pihak yang ingin menghapus Ahmadiyah dari kepercayaan di Indonesia. MUI dan pemerintah hendaknya membubarkan Ahmaditah, bukannya masalah hak asasi manusia dalam memilih keyakinan, tapi itu merupakan pencorengan agama Islam dan tidak bisa dibiarkan. Ahmadiyah tidak menganggap nabi terakhir itu Muhammad SAW, kitab sucinya juga bukan

Muhammad Ery Zulfian FSI Ulul Albab FMIPA Unlam

Alquran. Tentu kedua hal tersebut yang membuat hati masyarakat sensitif. Namun yang terpenting pemerintah harus tegas dalam menyikapi masalah itu. Masyarakat jangan mudah terpancing oleh isu. Perbaiki diri, serahkan semua pada pihak yang berwenang untuk menyelesaikannya. Yang jelas, selama Ahmadiyah memakai atribut Islam, selama itu juga akan terkena pasalpasal yang berkaitan dengan penistaan agama.(*)

Secara hukum, berdasar UU No 8/1985 tentang Ormas, PP No 18/1986 dan UUD 1945 Pasal 28 E ayat (3) sudah jelas bahwa ormas yang melakukan kegiatan, mengganggu keamanan dan ketertiban umum serta bertentangan dengan pancasila bisa dibubarkan. Bukti pelanggaran itu sudah sangat jelas, kenapa pemerintah tidak berani? Atau memang insiden-insiden itu dirancang sebagai pengalihan isu kasus Century atau kasus besar lainnya. Atau memang dirancang untuk mengadu domba antarkelompok. Kalau demikian, itu adalah politik kambing hitam yang membutuhkan korban. Siapa korbannya, masyarakat tentunya. (*)

Lindungi Akidah Umat KONFLIK berbau SARA menunjukkan bahwa Presiden Yudhoyono gagal melindungi akidah umat. Bentrokan terjadi karena pemerintah tidak tegas membubarkan Ahmadiyah. Padahal dasar hukum yang diperlukan sudah lebih dari cukup, baik berupa fatwa MUI, hasil kajian Bakorpakem, SKB tiga menteri maupun tuntutan organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir Indonesia dan lainnya. Mantan Pengurus MUI Pusat sekaligus Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto menyatakan, pemicu utama bentrokan antara warga dengan Ahmadiyah adalah ketidaktegasan pemerintah. Pemerintah hanya bisa mengimbau, mengevaluasi tapi minus solusi dan langkah tegas. Wajar muncul anggapan, pemerintah tidak konsisten dan’sengaja’ melakukan pembiaran atas gesekan-gesekan fisik masyarakat dengan Ahmadiyah. Bahkan, isu Ahmadiyah seakan sengaja dipelihara dan dijadikan komoditas politik dan kepentingan kelompok tertentu. Ahmadiyah harus dibubarkan, karena yang dilakukan Ahmadiyah adalah penodaan agama. Mantan Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi mengatakan, “Penodaan agama itu berbeda dengan kebebasan beragama. Ini kadang orang tidak bisa membedakan”. Sekali lagi, Ahmadiyah harus dibubarkan. (*) Umar Pemilik TB Al Islam Banjarmasin

Tema minggu depan: Gejolak Politik di Timur Tengah SAMPAIKAN komentar Anda maksimal 500 karakter secara santun ke redaksi@banjarmasinpost.co.id, disertai salinan kartu identitas diri dan foto (mohon jangan pasfoto). Komentar terbaik untuk tiap minggunya, mendapat kenang-kenangan manis dari BPost. Jadi, saatnya Anda bicara demi kebaikan bersama.


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Banjarmasin Post Edisi Jumat, 25 Februari 2011 by Banjarmasin Post - Issuu