Skip to main content

Banjarmasin Post Edisi Rabu 13 Oktober 2010

Page 12

12

Warna

Banjarmasin Post

RABU 13 OKTOBER 2010/ 5 ZULKAIDAH 1431 H

www.banjarmasinpost.co.id

NUR Amalia Santang erat menggedong kelapa tumbuh (bertunas). Perempuan ini memeluk erat kelapa itu layaknya menggendong bayi. Di pelaminan tempat Nur Amalia duduk, terhampar aneka penganan khas Banjar, wadai 41 macam di antaranya apam habang (merah) dan putih, cucur habang dan putih, cincin, cangkaruk, lamang, dodol, tapai, kokoleh (putih dan merah), ketupat, nasi ketan lengkap dengan intinya, gagati, satu sisir pisang mahuli, dan lain-lain. Usai pembacaan Yasin oleh ibu-ibu pengajian, Amalia melangkah ke luar rumah didampingi orangtuanya, HM Amin Santang dan Hj Marthasiah. Penuh hati-hati perempuan itu melangkah sambil terus mendekap kelapa yang berbalut kain. Kain pembungkus kelapa, sewarna kain Sasirangan dan selendang yang dikenakannya, kuning. Rangkaian bunga melati menghias rambut dan menutup bagian atas tubuh perempuan yang akrab disapa Lia itu. Sementara di halaman, telah berdiri tempat membentuk ruang persegi empat yang dihias sedemikian rupa. Tamu yang jumlahnya ratusan orang, kebanyakan perempuan, telah berkumpul di sekitarnya. Di dalamnya terdapat aneka perlengkapan, dari bejana kuningan berisi air kembang dan mayang pinang mengurai lengkap dengan centongnya. Sedang daun kambat, disatukan dengan daun halinjuang dan sebuah ranting daun kacapiring, diletakkan pula dalam bejana. Ada pula kelapa muda, mayang pinang dalam saludang (bunting) dan mangkok kecil berisi kasai (bedak lulur). Tidak ketinggalan beberapa tapih (kain) kurung, diletakkan dalam wadah berhias. Tempat yang disebut pagar mayang itulah, yang dituju Lia. Ya, hari itu, usai salat Jumat (8/10) di kediaman orangtuanya Jalan Gatot Subroto Banjarmasin, Lia melaksanakan prosesi mandi-mandi hamil tujuh bulan atau mandi bapagar mayang. Ada juga yang menyebut mandi tian mandaring, karena perutnya yang seperti padaringan. Prosesi yang dipimpin oleh perempuan yang dituakan disertai keluarga dari pihak perempuan dan suami itu, diawali dengan memberi

tapung tawar untuk si ibu hamil yang sudah siap duduk di tempat duduk berlapis kain dan kaki diletakkan di jalinan bamban. Memercikan minyak likat beboreh dengan anyaman daun kelapa, itu dilakukan bergantian oleh para tetuha. Hujan rintik-rintik yang menyiram Kota Banjarmasin, tak menghalangi jalannya upacara. Dilanjutkan mengoleskan kasai. Sebagaimana tapung tawar, kasai juga dioleskan bergantian ke kulit Lia dari wajah hingga kaki. Air di bejana yang dicampur dengan air doa, banyu Yasin, dan banyu Burdah, disiramkan bergantian sebelum kepalanya dipapai(memercikkan air) dengan mayang pinang maurai dan daun-daun lainnya. Kemudian mayang yang telah dibuka dari saludangnya dijadikan sebagai pancuran air kelapa yang disiramkan ke kepala Lia. Pada saat ini, airnya dihirup oleh si ibu hamil. Mandi-mandi diakhiri dengan si ibu berganti kain sarung, dimasukkan dari atas ke bawah dan kainnya kemudian dilempar ke arah para tamu untuk diperebutkan. Hal ini dilakukan dalam hitungan ganjil, sebanyak tujuh kali sesuai jumlah tetuha yang memandikan. Usai berganti pakaian dan berdandan, si ibu hamil kembali duduk di pelaminan di dalam rumah dan mengikuti pembacaan Burdah. Prosesi ditutup dengan membagi-bagikan wadai 41 macam, dan berjualan rujak. Rahmawati Abdullah, pemandu upacara yang juga warga Banjarmasin, mengatakan upacara mandi hamil tujuh bulan atau tian mandaring berlaku bagi perempuan dan biasanya turuntemurun, tidak hanya tutus keluarga bangsawan, atau tutus candi, tetapi juga masyarakat biasa. “Selain tradisi, itu dimaksudkan agar ketika melahirkan mudah, selamat dan bayinya pun sehat,” kata Rahmawati Abdullah. Menurut budayawan Banjar, H Syamsiar Seman, mandi tian mandaring merupakan tradisi sebelum Islam. Namun dengan perpaduan di sana sini, termasuk dengan dibacakan Quran Surah (QS) Yasin, syair Burdah, tetap bisa diterima dan menjadi tradisi orang Banjar. “Di acara tersebut juga dibacakan doa selamat, dengan harapan ketika melahirkan selamat dan bayinya pun sempurna tidak kurang suatu apa pun,” tandasnya. (hay)

Generasi Pelestari Tradisi MESKI zaman sudah modern, ternyata masih ada keluarga dan generasi muda yang mau bersusah-susah melestarikan tradisi. Contohnya, Nur Amalia Santang. Pasangan suami istri yang sama-sama berprofesi dokter ini, mengaku tidak masalah mengikuti keinginan orangtuanya, melakukan prosesi tradisi Banjar di kehamilan pertamanya. Padahal sang suami juga bukan orang Banjar, melainkan dari Yogyakarta. “Tidak ada salahnya mengikuti keinginan orangtua untuk melaksanakan tradisi, apalagi ini juga

GROUP/HAMSIAH JARMASINPOST FOTO-FOTO:BAN

TTuuttuurr H Syamsiar Seman, Budayawan Banjar

Acara Perempuan MANDI tian mandaring tradisi yang perlu dilestarikan. Sebab tidak hanya ada selamatan, penganannya juga tidak dibuang melainkan dinikmati, dan dilaksanakan oleh perempuan karena yang dimandikan perempuan. (hay)

Hj Marthasiah, Penyelenggara Upacara

Doa Orang Banyak TIDAK sekadar melaksanakan tradisi, mandi bapagar mayang saat kehamilan usia tujuh bulan ini juga disertai doa orang banyak. Diharapkan melahirkan tidak sulit, dan bayinya pun selamat. (hay) Hj Kathrin Ambar Sari, Warga Banjarmasin

Turun Matahari KALAU tidak mampu tetapi ingin melaksanakan upacara mandi tian mandaring, bisa dilakukan sederhana tanpa pagar mayang. Yang pasti, dilaksanakan pada waktu turun matahari, sekitar pukul 14.00 Wita dan tidak pernah setelah pukul 16.00 Wita. (hay)

disertai doa orang banyak agar dimudahkan dalam melahirkan dan bayinya nanti juga selamat,” kata Lia diamini suaminya, Wisnu Dipoyono. Apalagi, lanjutnya, pada usia kehamilan memasuki bulan ke-4 juga telah dilakukan selamatan dengan meminta doa dari orang banyak demi keselamatan dia dan bayi yang dikandungnya. “Pada kehamilan memasuki bulan ke4, katanya, saat itu ruh ditiupkan. Makanya jadi momen yang tepat dilakukan selamatan, dan makin lengkap dengan mandi hamil tujuh bulan yang sekaligus melestarikan tradisi,” imbuh orangtua Lia, HM Amin Santang. (hay)


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Banjarmasin Post Edisi Rabu 13 Oktober 2010 by Banjarmasin Post - Issuu