Skip to main content

Banjarmasin Post - 20 Februari 2009

Page 4

4

JUMAT 20 FEBRUARI 2009 / 24 SAFAR 1430 H

SOCIETY

Banjarmasin Post

Tari Tradisional

Tak Lekang Digerus Zaman “Apa? Ikut gabung tari daerah? Gengsi lah, jadul amat. Kenapa nggak dance aja, kan lebih modern dan gaul.” Ya, siapa sih yang berminat belajar Baksa Kembang, Radap Rahayu, Japin, apalagi Bakuda Gepang? Tidak heran, bila kalimat bernada merendahkan itu kerap singgah di gendang telinga Yutmiari, guru SMK Bina Banua tiap kali mengajak murid-muridnya bergabung di sanggar tari sekolah ‘Primitif’.“Sakit rasa hati saya diomongi begitu. Tetapi itulah kenyataannya, minat generasi muda melestarikan tari tradisional masih rendah,” ungkap Yutmiari. Toh, hal itu tidak membuatnya patah semangat, ia tetap berusaha menumbuhkannya. Terbukti, Nabela tanpa disuruh pun langsung bergabung begitu menjadi murid sekolah di Jl Pramuka, Banjarmasin. Ia tidak hanya menguasai tari klasik seperti Radap Rahayu, tetapi juga Japin Kuala, maupun Tirik. “Tari Baksa yang biasa ditarikan untuk menyambut tamu masih dipelajari, badan harus lentur dan gemulai untuk bisa menarikannya. Mungkin karena syarat itu pula membuat orang malas mempelajari tari tradisional,” ujar Nabela. Guna menumbuhkan minat generasi muda pada kesenian daerah terutama tari yang hampir punah, SMK Bina Banua menggelar Festival Karya Tari Tradisi/Garapan tingkat SMP/SMA sederajat se Kalsel. Pelaksanaanya 14 Maret mendatang, memperebutkan piala Wagub Kalsel,” kata ANGGREK GA BUN TARI DOKUMEN SANGGAR Kepala SMK Bina Banua, Busriannoor. Hayatun Purnama Sari, anggota Sanggar Perpekindo (Perintis Peradaban Kebudayaan Indonesia) mengaku cukup sulit menguasai tari tradisional Baksa Kembang atau Radap Rahayu. Tatanan geraknya harus memenuhi aturan tertentu, misalnya gerakan mengangkat tangan tidak boleh ketiak terangkat.

Tari Baksa Kembang

BUSRIANOOR Kepala SMK Bina Banua

“Padahal Baksa Kembang dan Radap Rahayu yang pertama kali diajarkan sebelum tari-tari yang lain,” kata penari yang biasa disapa Gadis. Berkat kepiawaiannya menari itu, Gadis berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri dan berbagai daerah di nusantara. Ia juga menciptakan dua tari garapan Tutus Sang Melur dan Tandik Bukit wan Oloh Masih. Pembina sanggar tari Kembang Barenteng, Zulfansyah Bondan mengakui, belajar tari dimulai dari tari klasik seperti Baksa Kembang. Tarian yang dulu hanya boleh ditarikan oleh putri kraton itu bila sudah dikuasai akan mudah mempelajari tari lainnya. Kesulitan lain, kostumnya mahal demikian pula peralatan musik yang biasa terdiri dari gendang, gong, sarun. Sementara kesempatan tampil minim, hal itu yang mengakibatkan banyak sanggar tari terutama di Banjarmasin, mati suri. “Penari maupun sanggar yang mampu bertahan, lebih karena kemauan hati supaya kekayaan leluhur lestari,” tandas Zulfansyah. (hay)

rlatih menari nteng sedang be Kembang Bare r ga ng Sa a ot Angg

Salurkan Bakat

NABELA Anggota Sanggar Tari Primitif

SEJAK SD sudah belajar tari untuk menyalurkan bakat. Dengan bergabung di sanggar, kemampuan menari lebih terasah, sehingga bila tampil, benarbenar menghayati dan menampilkan yang terbaik. (hay)

DI masa kejayaannya tahun 90-an, sanggar tari yang berdiri 29 November 1974 itu turut mengharumkan nama Kalsel di pentas Internasional. Dalam beberapa even dunia seperti festival bunga di Pasadena, Amerika ikut berpartisipasi. Begitu pula ketika ke Belanda dan Korea, anggotanya turut ambil bagian. Di antara anggotanya, ada yang berhasil sebagai seniman tari yaitu Mumun. Sekarang sebagai penanggung jawab Anjungan Kalsel di TMII Jakarta. Begitu pula Rahimi, bekerja di tempat yang sama. “Kita berupaya agar seni tari Kalsel berpegang pada tari tradisional, selamatkan dan lestarikan. Kalau mau diubah gerak-geraknya, modifikasi menjadi tari garapan baru. Akarnya harus tetap mengacu ke tradisi,” tandas pembina Sanggar Kembang Barenteng, Zulfansyah Bondan. Karenanya, di sanggar mengajarkan tari klasik sebagai pelajaran utama. Sebab di dalamnya terkandung nilai-nilai, etika dan tata krama. “Supaya anak-anak bertata krama, tidak berlaku sekehendak hati,” beber seniman tari yang tetap energik di usia yang sudah tidak muda lagi ini. Tari Sadudu hasil garapannya bahkan menuai prestasi nasional. Hadrah, rudat, juga tak lepas menjadi garapannya. Latihan dilakukan dua kali seminggu, yaitu Kamis dan Minggu di Taman Budaya Banjarmasin. (hay)

Perang Tanding

ZULFANSYAH BONDAN Seniman Tari

KITA berusaha bagaimana agar kekayaan leluhur bisa maju. Sayangnya, meski apresiasi masyarakat bagus, namun kita ini sekarang perang tanding, antara seniman yang mempertahankan tradisi dengan yang modern. (hay)

Menjiwai Tari BPOST/HAY

MENGINGAT tari tradisional adalah sumber kesenian daerah, perlu adanya pengembangan dan pembinaan di kalangan pelajar. Jangan sampai dianggap kuno dan tidak gaul. (hay)

BUNGA ANGGREK

Perkenalkan Kalsel ke Dunia Internasional

BPOST/HAY

BPOST/HAY

Tidak Kuno

DOKUMEN SANGGAR TARI

Sanggar Kembang Barenteng

OST/HAMSIAH BANJARMASINP

BUDAYAWAN Kalsel Mukhlis Maman memaparkan, tari tradisional Kalsel dibagi dalam tiga jenis yaitu klasik (Baksa, Radap Rahayu), rakyat (kuala: japin-japinan, hulu: tirik-tirikan, gandut, rudat, dll), pedalaman (balian: dadas, bawu). Tari klasik adalah tari yang sudah mencapai kesempurnaan, tidak berubah baik musik, gerak, busana termasuk nilai di dalamnya. Namun geraknya bisa diambil sebagai dasar mencipta tari kreasi atau garapan baru. “Belajar tari klasik itu sulit, untuk basic latihan berdiri saja perlu waktu sebulan. Tidak heran bila yang banyak dinikmati generasi muda tari rakyat. Namun seperti halnya Jawa-Bali, tari klasik sulit berkembang,” kata Mukhlis Maman. Hal itu diperparah apresiasi masyarakat terhadap seni juga kurang, dianggap sesuatu yang tidak mendatangkan hasil. Daripada baegal (menari), lebih baik ke pahumaan (sawah). Tempat pertunjukan pun tidak representatif. Bagaimana mau menarik penonton, bila ketika menonton tidak nyaman dan kepanasan. Duduk sudah susah, apalagi untuk bisa mengapresiasi. Untungnya, lanjut lelaki yang lebih dikenal sebagai Julak Larau di salah satu mata acara TVRI Kalsel, Warung Bubuhan, ada perguruan tinggi yang memasukkan tari sebagai jurusan di STKIP PGRI dan Jurusan Sendratasik di FKIP Unlam. “Sementara sanggar tari dan penari, ibarat karakat tumbuh di batu. Bisa eksis, karena naluri seni yang luar biasa saja. Padahal kalau mau berkembang, ciptakan itu sebagai tren untuk berbagai gelaran. Pemerintah dan kalangan perhotelan juga diharapkan turut andil mengembangkan,” tandasnya. (hay)

ISTIMEWA

Ibarat Karakat Tumbuh di Batu

Tari Tirik Lalan

RAHMAH Pelatih Sanggar Kembang Barenteng

MENGGELUTI tari tradisional Banjar sejak kelas I SMP, jadi sudah hampir 24 tahun. Mampu bertahan selain karena bakat juga menjiwai dan meresapi dalam hati. Berkat tari, saya berkesempatan jalan-jalan mengenal daerah lain. (hay)


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook