Society 11
Banjarmasin Post SENIN 14 FEBRUARI 2011
KETIKA sekat yang diletakkan di antara dua akuarium dibuka, dua ikan cupang (dalam bahasa Banjar kalatau, Red) saling berhadapan. Sirip keduanya terbuka seperti burung merak. Gerakannya pun lincah dan agresif. Insangnya kembang kempis seperti jantung yang sedang berpacu. Ekspresi orang yang melihat kedua ikan itupun berseri. Karena dengan reaksi yang ditunjukkan kedua ikan itu, berarti termasuk cupang petarung andal. Untuk memancing reaksi cupang bisa pula dengan cara menempelkan pulpen ke dinding akuarium. Saat melihat ujung pulpen, gelagat yang ditunjukkannya pun seperti merlihat musuh dan ingin bertarung. Namun, tentu saja tak semenggebu ketika berhadapan dengan cupang. Seorang pencinta ikan cupang Banjarmasin, M Rafi’i, mengatakan cara menikmati keindahan dari ikan yang memiliki nama latin betta splendens ini memang harus dipancing dulu. Menurut pencinta cupang lainnya, Chandra, ikan ini memang jenis fighter (petarung). Tak heran sering ada kompetisi adu ikan cupang. “Tapi untuk aduan sudah dihilangkan, karena justru membuat ikan cupang yang kalah mati. Jadi sekarang lebih banyak kompetisi cupang hias,” jelasnya.
Meski mengadu cupang tak diperbolehkan lagi, menurut Chandra, para pencintanya tetap terinspirasi oleh semangat ikan ini. “Semangat petarungnya menjadi motivasi. Ini pula yang menjadi alasan saya menyukai ikan cupang,” katanya. Lain lagi pengalaman Ismayudi, yang mengenal cupang dari anaknya. Begitu melihat anaknya yang bernama Yuda bermain dengan cupang, pria yang biasa disapa Abah Yuda ini langsung mencari tahu mengenai ikan ini. Sejak itu dia makin mengenal sekaligus mencintai ikan laga ini. “Ternyata mencari ikan itu tidak hanya soal warna, tapi diperlukan kejelian mata, dari bentuk untuk menilai bagus tidaknya ikan tersebut,” kata Abah Yuda. Untuk menyalurkan hobi pencinta ikan cupang itu, Minggu (13/2), digelar Kompetisi Nasional Ikan Cupang Hias di Kompleks Persada Mas Jalan A Yani kilometer 9.
KOMENTAR
Perbanyak Kompetisi SALUT terhadap pencinta ikan hias di Kalsel. Semoga ke depannya makin bertambah komunitas pemcinta ikan Cupang, dan lebih diperbanyak lagi kompetisi tingkat regional. (oo) Agus Karim, Sekjen MCHI Jakarta
Publikasikan Cupang TAK kalah semaraknya dengan di Jawa. Perbanyak publikasi mengenai cupang, terutama melalui media, agar pemerintah dan masyarakat luas tahu keberadaan ikan hias ini. (oo) Fuad, Koorwil BMII Jakarta
Kalsel Bersemangat SEMANGAT pencinta ikan cupang di Kalsel bisa disamakan dengan yang di Jawa. Terbukti, bisa mengadakan acara tingkat nasional ini. Peserta regional pun sangat banyak. (oo) Yudi, Koordinator Kaisar United Banten
Fuad, koordinator wilayah Betta Mania Independent Indonesia (BMII), wadah bagi pencinta ikan cupang, mengatakan perawatan ikan cupang cukup mudah dan tidak memerlukan banyak tempat. “Banjarmasin yang masih memiliki banyak ruang publik seharusnya bisa mengembangbiakkan cupang. Apalagi makanan cupang, jentik, juga banyak tersedia di sini,” kata Fuad. Sekretaris Jenderal Masyarakat Cupang Hias Indonesia (MCHI), Agung Karim, mengatakan ikan cupang memiliki usia cukup panjang, sekitar tiga tahun. Sementara, di usia enam bulan cupang sudah bisa diikutkan kompetisi. Dia mengatakan, hadirnya organisasi ini untuk melestarikan cupang cari Indonesia khususnya jenis Serit, yang dinilai paling bagus di dunia. Karena itu, tak menutup kemungkinan, ikan jenis ini akan menjadi salah satu komoditas kebanggaan Indonesia. (oo)
Tak Selalu Cari Kemenangan KOMPETISI yang digelar pencinta ikan Cupang ini memang agak lain. Jika kompetisi pada umumnya untuk mencari pemenang, di komunitas pencinta cupang kompetisi justru lebih ditujukan sebagai ajang silaturahmi. Bahkan lingkup silaturahminya tak hanya provinsi tapi nasional. Seperti diungkapkan pencinta ikan Cupang dari Bandung, Fuad, bahwa kemenangan tidaklah yang utama, yang penting bisa bertemu dengan sesama pencinta ikan Cupang. “Dengan mengikuti kontes ini, bukan masalah menang atau kalah, yang terpenting ajang silaturahminya. Kita bisa saling tukar informasi mengenai hobi tersebut,” ujar Fuad. Jelas silaturahmi dan saling tukar informasi sangat penting bagi pencinta cupang, terutama dari Kalsel. Seperti dikemukakan Ismayudi. “Kan di Kalsel jumlah pencinta cupang masih sedikit. Dengan silaturahmi ini, kita bisa bertemu pencinta cupang dari luar daerah khususnya Jawa yang sudah banyak,” katanya. Apalagi, imbuh Ismayudi, kompetisi ikan cupang di Kalsel sempat vakum. Dengan digelarnya Kompetisi Nasional Ikan Cupang Hias di Banjarmasin ini, diharapkan menggairahkan kembali komunitas pencinta cupang di Banua. “Selama ini pencinta Cupang di Kalsel yang ikut berpartisipasi hanya dari Banjarmasin, Banjarbaru, dan Batola. Rencananya tiap bulan akan saya adakan kompetisi tingkat regional, agar masyarakat semakin tahu mengenai cupang,” terang pria yang akrab disapa Abah Yuda ini. (oo)