Issuu on Google+

TABLOID RUMAH ASPIRASI NOVA IRIANSYAH

EDISI 2 // 17 - 24 FEB 2014

Ir. Nova Iriansyah, MT.

Versi digital: baleejroh.blogspot.com

@niriansyah

www.novairiansyah.com

SATU HATI BERSAMA RAKYAT ”Selalu Ada Pilihan” yang Dipikirkan dan Dilakukan SBY

Highway Number One Lancarnya arus lalu lintas, maka angkutan orang dan barang ikut lancar juga. Perputaran uang di wilayah itu semakin besar.

Itu campur tangan politik. Itu konspirasi

u OPINI // Halaman 14

u BUKU // Halaman 16

Ruas jalan itu merupakan salah satu jalur transportasi darat yang padat dan menjadi urat nadi perekonomian ke kawasan Barat Selatan Aceh.

MENGGAGAS TEROWONGAN

GEURUTEE Sinergi Angka 8 di Pantai Barat u PROFIL // Halaman 10

“Konsultan Lokal Harus Giat Buka Jaringan” u WAWANCARA // Halaman 7

Perempuan Berkualitas dari Kampus u PEREMPUAN // Halaman 15


Balèe Jröh

2

Edisi 2 // 17 - 24 Feb 2014

SURAT PEMBACA

Satu Hati Bersama Rakyat

KUNJUNGAN KERJA ANGGOTA komisi V DPR-RI Ir Nova Iriansyah, MT berkunjung ke Gampong Blang Geulinggang, Kecamatan Sawang, Aceh Selatan, Minggu (9/2/2014). Dalam kunju­ ngan kerja itu, Nova Iriansyah me­ nyampaikan program-program pro rakyat, Nova juga menyampaikan pesan Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono kepada rakyat Aceh. (Foto Nizarli)

Terima Kasih Balee Jroh T

Redaksi yth, erima kasih karena saya dikirimi tabloid Rumah As­ pirasi Balee Jroh. Saya me­ nyampaikan terima kasih lantaran selama ini banyak informasi yang te­ lah dikerjakan wakil rakyat dari Aceh tidak saya dapatkan, dan baru Balee Jroh-lah yang menyampaikan info pembangunan yang bersumber dari anggaran APBN, itu sebuah langkah maju keterbukaan di Aceh. Saya sangat puas membaca isi seluruh berita di dalamnya, termasuk sosok Nova Iriansyah yang ternyata seorang magister teknik, ITB pula.

Balee Jroh harus lebih tegas dan berani dalam membongkar persoalan pembangunan yang ada di Aceh. Betul, ilmu-ilmu khusus seperti itu patut diapresiasi, apalagi bersentuhan langsung dengan kondisi Aceh pasca konflik dan tsunami kala itu. Selain itu juga memuat perihal pembangunan di desa-desa terpencil. Dan saya juga sangat puas karena di edisi pertamanya telah memuat pen­ capaian Presiden Republik Indonesia

saat ini yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Yang tadinya saya tidak tahu jadi mengetahui bahwasanya te­ lah banyak yang diperbuat oleh Presi­ den Indonesia itu untuk Aceh. Sukses selalu buat semua tim di Redaksi Balee Jroh, semoga ke depan tabloid ini bisa menjadi sumber in­ formasi seputar Aceh yang melekat di hati masyarakat Aceh. Pesan saya se­ laku pembaca, Balee Jroh harus lebih tegas dan berani dalam membongkar persoalan pembangunan yang ada di Aceh. Terima Kasih. Aditya Lambaro – Aceh Besar

Perlu Rubrik Khusus

H

adirnya tabloid Balee Jroh memberikan warna baru untuk masyarakat yang haus akan informasi dan pengetahuan. Harapan saya dan mungkin juga masyarakat lainnya agar tabloid Ba­ lee Jroh dapat terus terbit dan mem­ pertahankan kualitas informasi yang disajikan. Saran saya, mungkin bisa dimuat rubrik khusus yang bersifat religi, misalnya motivasi-motivasi is­ lami. Wasallam.[] Muzakir – WASEKUM PAO (Pembinaan Aparatur Organisasi) HMI Banda Aceh.

Mau Kirim Tulisan

S

aya mendapatkan tabloid Balee Jroh dari teman yang tinggal di Abdya, katanya ini median­ ya caleg. Ya, rupanya memang betul Balee Jroh menjembatani pemikiran, kegiatan Nova Iriansyah, Anggota Komisi V DPR-RI dari Dapil Aceh 1, dan tentu sebagai media yang terbu­ ka. Jadi saya pikir inilah cara pa­ling baik membuka informasi dengan masyarakat Aceh. Saya juga punya bakat menulis, mungkin tidak sebaik penulis umum­ nya. Jadi saya mau menanyakan ke­ pada redaksi, apakah media ini bisa mene­ rima tulisan dari masyarakat umum? Kalau bisa kemana kami harus

me­ngirim tulisan kami? Dan soal apa saja yang bisa kami tulis? Demikian, dan terimakasih apabila kami bisa diberi info tentang pengiri­ man, dan tidak liar mengirimkannya ke alamat sembarangan. Akhirnya atas kepeduliannya kami haturkan terima kasih.[] Menjar Abdi Blang Pidie-Abdya Redaksi: silakan mengirimkan ke alamat yang tertera di Box Redaksi. Tema tulisan sebaiknya berkenaan dengan program pro-rakyat, atau gagasan soal pembangunan. Redaksi berhak melakukan edit. Terimakasih.

DEWAN PIMPINAN CABANG PARTAI DEMOKRAT KABUPATEN PIDIE Mengucapkan Selamat & Sukses Atas Terbitnya Tabloid

Semoga menjadi media yang memberi pendidikan politik kepada masyarakat. Tertanda

T. YASMAN SYAHPUTRA, SH, MH KETUA

H. ISKANDAR SIDDIQ SEKRETARIS


DARI REDAKSI

Satu Hati Bersama Rakyat

Kanda Jroh

Edisi 2 // 17-24 Feb2014

Oleh IDRUS BIN HARUN

Balee Jroh dan Informasi Publik

‘T

ak kenal maka tak sayang’, itulah pepatah lama yang tetap update sepanjang jaman. Pepatah yang paling pan­ tas untuk saat ini. Disebut pantas, lantaran seluruh In­ donesia sedang berlangsung persiapan pemilihan calon legislatif pada April 2014 mendatang, dan kepada caleg diberi hak oleh un­ dang-undang untuk memperkenalkan diri secara terbuka. Itulah salah satu sebab semangat pepatah lama tadi tetap update. Penerbitan Edisi perdana Tabloid Rumah Aspirasi Nova Irian­ syah Balee Jroh berjudul “Merajut Program Pro Rakyat” memun­ culkan aneka tafsir di kalangan pembaca. Ada yang mensinyalir media Balee Jroh semata-mata untuk mengantar sosok Ir Nova Iriansyah, MT terpilih kembali pada pemilu 2014 mendatang, namun tidak sedikit pula yang memberi apresiasi. Sebagian besar pemberi apresiasi menilai kehadiran media ini lebih pada pencer­ dasan masyarakat, karena ikut memberitakan realisasi program serta amanat undang-undang tentang keterbukaan informasi pu­ blik. Seperti halnya penyaduran informasi tentang Nova Irian­ syah dan keberpihakannya pada program-program Pro Rakyat ditingkat pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Semua program yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tentunya. Dan betul, informasi Balee Jroh rupanya menjadi salah satu perbandingan dalam pemahaman rakyat tentang program pemba­ ngunan di kabupaten, kecamatan, dan desa—tentu program-pro­ gram yang menyentuh langsung—seperti pembangunan fasilitas desa dan lain-lain. Nova Iriansyah termasuk salah seorang yang memberi pemerataan pembangunan infrastruktur desa di bidang jalan, irigasi, air bersih, jembatan, penanggulangan bencana, dan lain-lain. Inilah bagian kecil konsep dari Komisi V DPR-RI, tempat Nova Iriansyah mengadu argumen pembangunan yang mengarah ke seluruh desa di provinsi Aceh. Informasi tersebut sangat mengambang, sehingga melalui me­

Balèe Jröh

dia “khusus” seperti Balee Jroh ini diharapkan dapat memenuhi hak-hak masyarakat yang ingin memperoleh informasi, terma­ suk informasi kecil tentang penggunaan dana yang bersumber dari uang negara. Sementara informasi program dalam skala be­ sar terkait perhubungan, telekomunikasi, pekerjaan umum, peru­ mahan rakyat, pembangunan pedesaan dan kawasan tertinggal, dan BMKG akan menjadi sasaran media ini, termasuk mengenai pembangunan jalan terowongan geurutee. Jalan tembus gunung Geurutee tersebut diprediksi dapat meningkatkan perekomian seluruh desa tertinggal mulai dari Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat hingga ke Selatan Aceh. Tentu itu tidak terlepas dengan pembangunan yang bersiner­ gi antara jalan, pelabuhan, dan bandara Internasional. Disam­ ping pendukung penguatan ekonomi rakyat desa terus dilakukan melalui program pro rakyat, sebuah program pemerintahan SBY yang dikenal cukup berpihak kepada rakyat. Itulah salah satu alasan pentingnya media informasi, selain un­ tuk capaian kualitas pembangunan, sekaligus sebagai alat kontrol dan kemajuan sebuah wilayah dengan hati dan pikiran yang posi­ tif. Menanggapi masalah dengan emosi tinggi yang kerapkali terja­ di, bukanlah karakter umum orang Aceh, namun merupakan salah satu penyebab putusnya komunikasi yang akhirnya memunculkan praduga tanpa kekuatan fakta. Dari itu tim Balee Jroh berkeya­ kinan, segala praduga keliru menyangkut sosok anggota Komisi V DPR-RI dari Partai Demokrat Nova Iriansyah adalah akibat dari komunikasi terputus tadi, dan lewat media Balee Jroh kami ber­ harap dapat memenuhi kebutuhan informasi masyarakat, supaya ke depan satu dengan lainnya betul-betul saling mengenal, men­ jaga dan saling percaya. Kami yakin pepatah lama ‘tak kenal maka tak sayang’ adalah cerminan semangat kita saling menyapa, dan selalu memaafkan bila terjadi kekhilafan. Terima kasih.[] Redaksi

SATU HATI BERSAMA RAKYAT PEMIMPIN UMUM YUSRIZAL IBRAHIM PEMIMPIN REDAKSI FADHLULLAH TM DAUD REDAKTUR PELAKSANA JOE SAMALANGA REDAKTUR MUJAHID ARRAZI KEUANGAN CUT LINDA SEKRETARIS REDAKSI ZAHRINA AZHAR LAY OUT ZULHAM YUSUF DISTRIBUSI DAN SIRKULASI NIZARLI IRWANTO NP PENERBIT RUMAH ASPIRASI BALEE JROH ALAMAT: BALEE JROH JALAN SERI RATU SAFIATUDDIN NO. 47D - BANDA ACEH T. 0852 600 95523 E. redaksi.baleejroh@gmail.com balee.jroh@gmail.com

3


4

Balèe Jröh

Edisi 2 // 17 - 24 Feb 2014

Satu Hati Bersama Rakyat

CITA-CITA RAKYAT

Menggagas Mimpi Terowongan Geurutee Nova Iriansyah mendorong perlunya pembangunan terowongan di Geurutee. Lintas itu menjadi salah satu jalur transportasi darat yang padat dan menjadi urat nadi perekonomian ke kawasan Barat Selatan Aceh.

H

AMPIR tengah malam ketika lampu rem di ekor truk tronton berbadan besar itu menyala tanpa kedip, akhir Januari 2014. Suara rem angin mendesis dari moncong truk. Dari arah berlawanan, suara klakson bersahutan di balik kelokan patah, pertan­ da ada mobil lewat. Truk tronton ini, yang menuju arah Banda Aceh, terpaksa mene­ pi memberi jalan. Sang supir pelan-pelan mengarahkan ban truk ke tepi jalan. Ia mesti ekstra hati-hati. Lengah sedikit saja, jurang curam di kiri jalan dan hamparan laut di bawahnya siap menyambut. Pemandangan ini kerap terlihat bila kita melintasi jalan di puncak Gunung Geurutee, Lamno, Aceh Jaya. Jalan sempit penuh tikungan dibatasi tebing dan jurang di kedua sisinya menjadi ciri khas lintasan ini. Badan jalan lebarnya hanya empat me­ ter. Jalan ini sebenarnya sebuah landscape sempurna di bahu Geurutee. Lewat jalur ini pengendara bisa menikmati keindahan laut dari puncak Geurutee. Nun di bawah sana terhampar laut biru dan beberapa pu­ lau kecil. Namun, selain menjadi tempat meman­ jakan mata, pengemudi yang melewati jalur ini dituntut ekstra hati-hati. Pasalnya, jalur sempit tersebut juga kerap mengundang maut. Oktober tahun lalu, sebuah Avanza terjungkal ke jurang Geurutee. Untung saja tak ada korban jiwa dalam insiden itu. Untuk mengantisipasi kecelakaan se­ perti itu, pemerintah telah mewacanakan pembuatan terowongan menembus Geuru­ tee. Anggota DPR RI asal Aceh, Ir Nova Iriansyah MT mengatakan, pembangunan terowongan di Geurutee bisa dilakukan. Alasan politisi Demokrat ini, ruas jalan yang melintasi gunung tersebut tidak mung­kin diperlebar lagi karena berdampak pada kerusakan lingkungan. “Harus dibu­ ka kemungkinan untuk pembukaan trase baru,” ujar Anggota Komisi V DPR RI tersebut seperti dikutip Serambi. Nova menjelaskan, ruas jalan itu me­ rupakan salah satu jalur transportasi darat yang padat dan menjadi urat nadi pere­ konomian ke kawasan Barat Selatan Aceh. Ruas Geurutee menghubungkan langsung Kabupaten Aceh Besar dengan Kabupaten Aceh Jaya. “Harus dipikirkan alternatifnya, termasuk membangun terowongan,” kata Nova Iriansyah yang juga seorang arsitek. Sejak beberapa tahun lalu, kajian soal terowongan Geurutee memang sudah ber­ jalan. Komisi V DPR RI yang membidangi pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan pengairan, bahkan pernah

Sumber: Lab Penelitian Terpadu Unsyiah.

FOTO satelit jalan kawasan gunung Geurutee, Aceh Jaya. Garis hitam adalah jalan tembus dari terowongan di sebelah tenggara gunung Geurutee arah menuju Lamno, Calang, dan Meulaboh.

“Juga untuk mengurangi kecelakaan, ke­ rusakan lingkungan akibat emisi kendaraan, dan memangkas waktu tempuh di lintasan Geurutee”

menyetujui anggaran untuk DED (Detail Enginering Design) terowongan. Nilai anggarannya mencapai Rp6 miliar dan dialokasikan dalam APBA 2013. Tak ha­ nya Geurutee, dana ini rencananya digu­ nakan untuk DED terowongan di kawasan Gunung Paro dan Gunung Kulu, Aceh Be­ sar. Karakter lintasan di kedua gunung ini hampir sama dengan Geurutee. Namun, pembangunan terowongan mengalami kendala. Saat pembahasan

Rancangan APBA-P 2013, Anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Demokrat Safwan Yusuf, sempat mempertanyakan dana tersebut kepada Gubernur Aceh Zaini Ab­ dullah. “Sampai saat ini program tersebut belum terlaksana, karena menurut infor­ masi dari dinas terkait dana itu tidak bisa digunakan,” ujar Safwan Yusuf kala itu. Dipertanyakan juga kenapa dana itu ti­ dak bisa digunakan lagi. Ia juga meminta solusi apa yang mesti dilakukan pemerin­ tah untuk mengatasi persoalan tersebut. “Pembangunan terowongan Geurute sangat diperlukan masyarakat kawasan barat untuk mendongkrak ekonomi ka­ wasan itu,” kata anggota DPR Aceh asal pemilihan Aceh Jaya, Aceh Barat, dan Na­ gan Raya Iskandar Dawod, SE kepada Balee Jroh di Banda Aceh. Asisten III Muzakkar A Gani yang me­ wakili Gubernur Zaini saat itu menjawab, penanganan jalan itu kewenangannya ada pada Kementerian Pekerjaan Umum. “Karena itu merupakan ruas jalan nasio­ nal,” ujar Muzakkar. DED yang terdapat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh 2013, kata dia, belum dilakukan karena idealnya itu dilaksanakan oleh Kementerian Peker­ jaan Umum. “Sehingga dana dialihkan un­ tuk melaksanakan peningkatan ruas jalan

Keutapang-Mata Ie yang merupakan jalan provinsi. Saat ini kondisi di beberapa ruas jalan tersebut rusak berat,” terang Muzakkar. Pemerintah Aceh, kata Muzakkar, akan segera mengusulkan kepada Kementerian Pekerjaan Umum agar memprogramkan penyusunan DED pada tahun anggaran 2014. Terowongan Pertama Ahli Struktur dari Teknik Sipil Unsyiah, Dr. Ir. Taufiq Saidi, M.Eng, mengatakan bila proyek itu tembus tunnel Geurutee bakal menjadi terowongan yang pertama dibuat di Indonesia. “Di Indonesia, baru ada te­ rowongan penampungan air seperti yang dilakukan PLTA Aceh Tengah, terowongan untuk jalan belum ada,” ujar Taufiq Saidi kepada Balee Jroh, beberpa waktu lalu. Ia menilai terowongan Geurutee efektif untuk pengguna kendaraan dan menjaga lingkungan. “Dengan isu perubahan iklim seperti sekarang ini, tidak ada lagi pembuatan jalur baru tapi melalui terowongan,” ujarnya. Bila jalan lama dilebarkan, kata dia, jus­ tru berpotensi merusak lingkungan. “Selain itu juga tidak mungkin lagi dilebarkan kare­ na terlalu sempit,” ujar Taufiq. Jalan yang ada sekarang lebarnya sekitar empat meter. Kata Taufiq, ini jauh dari standar yang seha­ rusnya enam hingga sembilan meter.


CITA-CITA RAKYAT Ia yakin, walaupun belum pernah dilakukan studi apa pun, terowongan Geurutee nantinya bakal berdampak pada ekonomi masyarakat karena menjadi peng­ hubung ke ibu kota Provinsi Aceh. “Bah­ kan, jalan lama nantinya bisa dijadikan jalur wisata,” ujarnya. Alasan lain perlu adanya terowongan di Geurutee dikemukakan Dosen Ahli Trans­ portasi dari Fakultas Teknik Sipil Unsyiah, Noerfadhly. Menurut dia, jalan di lintasan Geurutee masih ada yang memiliki tiku­ ngan berpola SS. “Seharusnya FC, VR 80 atau SCS, dan VR 120. Selain itu, tanjakan­ nya ada yang melebihi 10 persen, idealnya enam sampai delapan persen,” kata Noer­ fadhly kepada Balee Jroh. Jumlah tikungan di lintasan Geurutee hingga 33 buah. Noerfadhly menilai, biaya perbaikan jalan yang ada sekarang bakal menelan biaya tinggi. Sementara, kata dia, perbaikan pada jalur tidak mungkin dilakukan lagi karena badan jalan berada pada sisi tebing dan le­ reng yang menjorok ke laut. Pemoto­ngan tebing untuk pelebaran juga mustahil kare­ na dapat mengakibatkan longsor. Jika pun dilakukan, kata Noerfadhly, timbunan dan galian dari perbaikan jalan jumlahnya cu­ kup besar. Selain menghindari longsor akibat perbaikan secara terus menerus, ia meli­ hat manfaat terowongan juga untuk me­ ngurangi biaya perawatan jalan yang besar. “Juga untuk mengurangi kecelakaan, keru­ sakan lingkungan akibat emisi kendaraan, dan memangkas waktu tempuh di lintasan Geurutee,” ujarnya. Selama ini, waktu tempuh sejak tan­ jakan hingga turunan Geuretee sekitar 45 menit. Lintasan itu sekarang saban malam dilalui sekitar 300 kendaraan. Bila terowo­ ngan ada, Noerfadhly yakin waktunya bisa dipangkas menjadi kurang dari 10 menit.

Satu Hati Bersama Rakyat

Edisi 2 // 17-24 Feb2014

Balèe Jröh

5

Alternatif 1, Terowongan 2 Km

Alternatif 2, Terowongan 1,4 Km

Jalur Sekarang

Sumber: Lab Penelitian Terpadu Unsyiah.

RANCANGAN terowongan di gunung Geurutee, garis hitam tebal adalah alternatif 1 dan alternatif 2 (Kiri). Foto terowongan di Pakistan (Kanan).

Lalu, terowongan seperti apa yang bisa dibangun di Geurutee? Baik Noerfadhly maupun Taufiq Saidi memaparkan, ada dua model yang dapat dipilih berdasarkan peta topografi. Pertama, kata Taufiq, terowo­ ngan sepanjang dua kilometer. Terowo­ngan ini dibangun sejak tanjakan ke Geurutee. Model kedua, panjang terowongan 1,4 ki­ lometer. “Ini agak naik sedikit mengikuti jalur ke badan gunung setelah dari tanja­ kan,” ujar Taufiq. Lebar jalan terowongan bakal dibuat mengikuti standar yakni 9 x 2 meter (bo­ lak-balik). Selain itu, juga harus ada jalur evakuasi di kiri kanan selebar 3 x 2 meter.

Tinggi terowongan diperkirakan lima meter. Taufiq memperkirakan biaya terowon­ gan Geurutee mencapai Rp1,8 triliun. Jum­ lah ini tak jauh beda dengan pembangunan terowongan di beberapa negara. Ia mem­ bandingkan dengan pembangunan Smart Tunnel Malaysia sepanjang 9,7 kilometer yang menghabiskan dana US$514.6 Juta atau sekitar Rp6 triliun. “Lalu pembangu­ nan Kohat Tunnel Pakistan sepanjang 1,9 kilometer yang menelan dana ¥ 12.6 miliar atau sekitar Rp 1,3 triliun.” Walaupun dana itu tinggi namun diya­ kini menguntungkan masyarakat Aceh terutama pelintas di jalur tersebut. Nova

Iriansyah yang juga Wakil Ketua Tim Pe­ mantau Otsus Aceh-Papua DPR RI mem­ persilakan Pemerintah Aceh, DPRA, Pe­ merintah Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat dan Aceh Jaya memformulasikan ke­ mungkinan pe­ningkatan ruas jalan sepan­ jang jalur Geurutee berbentuk terowongan. Alasan Nova menyarankan perlunya ke­ sepakatan tiga pemerintahan kabupaten itu demi mensinergikan dana otonomi khusus (Otsus) untuk permulaan, agar bisa merang­ sang APBN. “Kita di Komisi V DPR RI siap merespon hal ini. Tentu dengan dukungan perangkat pemerintahan di Aceh,” ujar Nova Iriansyah.[] Tim Balee Jroh

Existing Jalan Terowongan Gunung Geurutee MASALAH: JALUR EXISTING

Sumber: Lab Penelitian Terpadu Unsyiah.

Jalan existing tidak layak n Lebar jalan: Ada yang tidak sesuai standar dengan lebar 4 meter (standar 6 s/d 9 m) n Tikungan: masih ada tikungan yang berpola SS (seharusnya FC, VR 80 atau SCS, VR 120) n Tanjakan: masih ada yang melebihi 10%, idealnya 6 s/d 8 % Perbaikan pada jalur existing, tidak mung­kin dilakukan perbaikan n Badan jalan berada pada sisi tebing dan lereng yang menjorok ke laut n Tidak memungkinkan untuk memotong tebing, karena dapat mengakibatkan longsor n Timbunan dan galian yang cukup besar

400 m 200 m 0

Alasan tambahan n Rawan kecelakaan -> Terjun bebas n Kerusakan lingkungan akibat emisi kendaraan n Longsor karena pengerjaan terus-menerus n Biaya perawatan yang besar n Waktu di Geuretee dari 45 menit menjadi kurang dari 10 menit

Alternatif 2 Terowongan 1.4 Km Alternatif 1 Terowongan 2 Km

Solusi: Terowongan Geurutee n Desk study (peta topografi Bakosurtanal) n 2 Alternatif - Kaki gunung -> Terowongan 2Km - Naik sedikit mengikuti track -> Terowongan 1.4Km

BIAYA SMART Tunnel Malaysia Panjang: 9.7km Biaya: US$514.6 Juta / Rp 6 Triliun Kohat Tunnel Pakistan Panjang: 1.9km Biaya: ¥ 12.6 Milyar / Rp 1.3 Triliun Note: APBN 2014 Rp. 1842 Triliun


6

Balèe Jröh

Edisi 2 // 17 - 24 Feb 2014

Satu Hati Bersama Rakyat

KATA RAKYAT

Pekerja Cina di Tubir Gunong Geurutee

A

LKISAH jauh sebe­ lum jalan yang melintas Gunong Geurutee seperti yang kita kenal sekarang dibuat, maka rakyat Aceh yang berdiam di Lamno Negeri Daya dan sekitar­nya, ketika hendak pergi ke Banda Aceh harus melewati jalan setapak (foot path) yang disebut Jalan Seuruweung Manok. Jalan setapak tersebut melewati Panton Laksamana di belakang Puncak Gunong Geurutee, dari Meudheun di sebelah Tenggara membentang ke Glee Bruek di sebelah Barat Laut, sepanjang kurang lebih 3 kilometer. Sekitar 200 meter pertama jalan itu mendaki agak terjal, kemudian sekitar 1,9 kilometer di tengah-tengahnya mendatar, kemudian sepanjang kurang lebih 400 me­ ter sangat terjal, baru pada kira-kira 500 meter terakhir menurun agak curam. Para pedagang bersama dengan pengiring dan pemikul barangnya, harus berjalan kaki selama kurang lebih 2-3 jam sambil meng­ giring ternak, membawa hasil pertanian dan hasil hutan lainnya. Pada waktu pulang mereka memikul berkaleng-kaleng min­ yak tanah, berkeranjang-keranjang ikan kayu atau ikan kaleng, atau pun ber­karungkarung gula. Jalan raya di tubir tebing pinggir laut yang ada sekarang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Panjangnya menca­ pai 9 kilometer. Menurut M. Yunus (78 tahun), pensiunan pegawai Kandepdikbud Kecamatan Jaya yang kini tinggal di Ban­ da Aceh, jalan Gunong Geurutee terse­ but selesai diba­ngun pada tahun 1927. M. Yunus ingat be­tul hal itu, karena pada wak­ tu kecil dahulu dia sering mendengar cerita pembangun­an jalan tersebut dari orangorang yang terlibat langsung seperti Chik Prang Cot Dulang, ataupun Ayahwa Sabi Lhok Kruet. Kedua orang yang disebut be­ lakangan ini dahulu pernah bekerja sebagai mandor di jalan lintas Barat Selatan itu. Menurut cerita Chik Prang dan Ayahwa Sabi, jalan itu dibangun oleh Belanda de­ ngan memanfaatkan pekerja-pekerja dari Negeri Cina sebagai tenaga terampil, de­ ngan dibantu oleh orang-orang setempat. Orang-orang setempat ini mendapat porsi kerja yang relatif ringan, seperti mandor, peniup terompet, tukang masak, penyuplai makanan, dan pengangkut barang. Pada waktu mengerjakan proyek itu banyak sekali jatuh korban jiwa dari para pekerja. Mengapa hal itu bisa terjadi? Menurut cerita kedua orang mantan man­ dor jalan tersebut, untuk membuat jalan di tubir tebing yang sangat terjal itu, mulai pagi hari para pekerja Cina yang tubuh­ nya tergantung-gantung pada tali-tali yang diikatkan ke batang-batang pohon atau pun tonggak-tonggak yang ditancapkan di puncak Gunong Geurutee, memahat dan membor tebing-tebing batu cadas tersebut sedalam satu-satu meter, untuk meletakkan dinamit-dinamit bersumbu panjang di da­ lamnya. Kemudian pada sore hari terom­ pet-terompet ditiup sebagai tanda kepada

JALAN peninggalan Belanda di tubir jurang Gunung Geurutee, Aceh Jaya yang hingga kini masih digunakan sebagai jalan utama di kawasan Pantai Barat Selatan. (Insert: Foto M. Yunus, Pensiunan Pegawai Kandepdikbud Kecamatan Jaya).

para pekerja untuk menyingkir. Setelah para pekerja menjauh, sumbu-sumbu dina­ mit disulut dengan api. Terjadilah ledakan beruntun yang nyaris serentak. Pada keesokan pagi harinya, tebing ka­ rang itu dipahat dan dibor kembali oleh para pekerja Cina yang bergantung seperti kemarin untuk menem­patkan dinamit-di­ namit baru. Kadang-kadang ada satu atau dua buah dinamit yang tidak meledak pada waktu sumbunya disulut kemarin. Akibat getaran yang timbul pada waktu dipahat dan dibor kembali, dinamit-dinamit itu meledak. Di situlah terjadi jatuhnya ba­ nyak korban ke laut, terutama para pekerja terampil dari Cina itu. Konon jumlahnya mencapai puluhan orang. Menurut M. Yunus, setelah jalan itu selesai pada tahun 1927, orang pertama yang membawa mobil melewati jalan terse­ but adalah ayahnya yang bernama Keuchik

Sufie dari Desa Cot Dulang, dan Khatib Abdurrahman dari Desa Bak Paoh, Lam­ no, Kecamatan Jaya. (Konon kabarnya, menurut Hj. Asiah AR, pengusaha butik Dewi Mustika di jalan Seri Ratu Safiatuddin Banda Aceh, Khatib Abdurrahman ini ada­ lah kontraktor pembangun jalan gunung Geurutee tersebut, dan jembatan-jembatan di lintasan sepanjang kawasan Pantai Barat itu, beserta lapa­ngan terbang di Lhoknga. Dia adalah ayah dari Bustamam CV Aceh Karya, pengusaha Aceh asal Lamno yang berbasis di Medan dahulu, pemilik peru­ sahaan penerbangan Seulawah Air Ser­ vice, yang melayani rute penerbangan dari Banda Aceh-Me­dan-Penang-Singapore pulang-pergi, pada ak­ hir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an--Red). Pada masa Gubernur Muzakir Walad tahun 1970-an, jalan lintas Gunong Geuru­ tee Itu diaspal dengan sistem aspal siram

pasir kering. Pada masa Gubernur Ibra­ him Hasan tahun 1980-an, jalan tersebut diperlebar dan diaspal dengan sistem hotmix. Pada masa Gubernur Irwandi tahun 2008 sampai tahun 2011, diperlebar dan di-hotmix kembali untuk kedua kalinya. Dan pada masa kini, masa Gubernur Zaini Abdullah, demi kelancaran arus lalu lintas angkutan orang dan barang dari ibu kota Provinsi Aceh, ke kawasan Pantai Barat Selatan dan sebaliknya, maka jalan di tubir Gunong Geurutee itu diwacanakan untuk diperlebar lagi. Namun muncul pro dan kontra ter­ hadap wacana tersebut, karena ditenggarai apabila jalan di tebing Gunong Geurutee itu diperlebar lagi akan merusak lingku­ ngan. Oleh karena itu mulai dipikirkan un­ tuk membuat terowongan di jalur lintasan tebing gunung yang terjal itu. [] Yusrizal Ibrahim

T. Ardiansyah, Aktivis LSM di Banda Aceh

Terowongan Geurutee Perlu Kajian Matang

S

aya dapat menyetujui wacana pem­ buatan terowongan Gunong Geuru­ tee, apabila memang sudah dilaku­ kan kajian yang matang terlebih dahulu. Untuk itu ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Yang pertama, apakah rencana ini sudah sin­kron dengan ren­ cana tata ruang pemerintah yang sudah di disain untuk jang­ ka waktu 20 tahun? Yang kedua, apakah secara transportasi terowongan tersebut memang sudah sangat dibutuh­ kan? Yang ketiga apakah pembangunan terowongan itu akan benar-benar berman­ faat bagi masyarakat di kawasan Pantai

Barat Selatan? Yang keempat, disain trans­ portasinya bagaimana? Kemudian, secara teknologi harus diuji, apakah memang terowongan atau jalan layang? Dan yang terakhir, kenapa ketika ada komitmen dari Pemerintah Amerika untuk membagun jalan lintas Barat Selatan ini dahulu hal tersebut tidak dibi­ carakan? Menurut saya, pemerintah ha­ rus mempertimbangkan penggunaan dana besar yang akan dihabiskan untuk proyek terowongan itu, karena sudah ada alterna­ tif-alternatif yang sudah dikembangkan seperti sudah adanya jalan tembus Jan­

tho-Lamno. Bila memang tidak mendesak sebaiknya jangan dibangun, karena akan timbul banyak masalah, sedangkan man­ faatnya tidak ada. Kalaupun memang hen­ dak dibuat, disain teknologinya harus apli­ katif. Menyangkut soal teknik konstruksi pemba­ ngunannya harus dikaji oleh ahli batu-batuan. Apa saja alternatif yang dapat dikembangkan untuk Gunong Geurutee, mengapa harus terowongan, mangapa ti­ dak jalan layang saja misalnya. Harus ada basis argumentasi akademis, karena dalam memilih konstruksi pembangunan jalan harus ada argumentasi ilmiah dan terukur. Jangan sampai tidak visibel karena penggu­ nanya tidak ada.[] Irwanto NP


WAWANCARA

Satu Hati Bersama Rakyat

Edisi 2 // 17-24 Feb2014

Balèe Jröh

7

NOVA IRIANSYAH, Anggota Komisi V Fraksi Demokrat DPR RI

“Konsultan Lokal Harus Giat Buka Jaringan”

B

aru-baru ini digelar lelang pekerjaan konsultan dan pekerjaan pengawasan proyek Anggaran Pendapatan Belan­ da Negara (APBN) di Balai Wilayah I Sumatera, Medan. Sementara, lokasi proyek APBN di Aceh. Dalam lelang, konsultan Aceh bersaing dengan

konsultan nasional dan Badan Usaha Milik Negara. Walhasil, banyak konsultan Aceh kalah. Dari belasan pengusaha Aceh hanya empat yang lolos prakualifikasi. Sementara ada perusahaan yang lulus PQ (Pra Quali­ fikasi) hingga 17 paket. Selain itu, pemberitahuan PQ tidak dilakukan melalui email tapi via telepon.

“Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat harus lebih banyak menyelenggarakan pelatihanpelatihan tenaga ahli di Aceh dalam semua tingkatan. Tujuannya agar tenaga ahli bersertifikat lebih banyak tersedia di Aceh.” Ditambah lagi dengan limit waktu yang mepet dan pengalaman perusahaan yang tidak menangani dana APBN tak menjadi pertimbangan panitia lelang. Berpijak dari hal itu, berikut wawan­ cara dengan Ir. H. Nova Iriansyah, MT terkait hal itu. Anggota Komisi V Fraksi Demokrat DPR RI ini juga dikenal sebagai seorang konsultan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Inkindo Aceh (2001-2004) dan Ketua LPJKD Aceh (2004-2012). Apa saja komentar Nova Iriansyah terhadap pelelangan proyek? Bagaimana juga ia melihat peran pemerintah dalam mem­ bina pengusaha daerah. Berikut petikan wawancaranya: Inkindo Aceh merasa kecewa dengan lelang di Balai Wilayah I Sumatera. Apa tanggapan Anda? Wajar dan dapat dipahami kekece­ waan insan konsultan Aceh karena tidak berhasil memenangkan lelang. Memang peraturan perundang-undangan tidak membeda-bedakan konsultan “pusat” dan konsultan “lokal”. Semua konsultan na­ sional diperlakukan sama sehingga harus bersaing sesuai parameter dan kriteria yang sama. Inkindo Aceh melihat banyak keganjilan dalam proses lelang di Medan itu. Apa yang harus dilakukan? Apabila dianggap ada kejanggalan da­ lam proses pelaksanaan lelang maka sebaiknya ditempuh mekanisme yang ada seperti ‘hak sanggah’. Atau bahkan menempuh jalur hukum dengan me­ laporkan kepada pihak berwajib apabila dite­ ngarai ada pelanggaran yang bersifat pidana. Bagaimana pembinaan pemerintah terhadap pengusaha lokal. Apakah ini tidak

mematikan kesempatan rekanan lokal untuk bisa bangkit? Memang seharusnya ada pembinaan yang konkrit dan terus menerus oleh Pemerintah Aceh terhadap konsultan yang berdomisili di Aceh. Di lain pihak, Inkin­ do Aceh sebagai Asosiasi Konsultan harus lebih proaktif untuk membina diri sendiri dan berkomunikasi dengan para pihak. Tujuannya, agar dapat terus meningkat­ kan kemampuan untuk bisa bersaing dan memenangkan lelang. Selain itu, peraturan perundang-un­ da­ng­­an tidak membenarkan “bagi-bagi” pekerjaan atau proyek pada segmen-segmen tertentu termasuk konsultan di daerah, selain yang diatur dalam aturan lelang dan peraturan perundang-undangan lainnya. Lalu, apa yang harus dilakukan konsultan lokal agar bisa lebih baik lagi? Konsultan di Aceh harus lebih giat membuka jaringan untuk melakukan ker­ jasama (J.O) dengan konsultan yang lebih ‘kuat’. Dengan demikian konsultan lokal bisa lebih banyak mendapatkan pengala­ man. Apa yang harus dilakukan Pemerintah Aceh dan Pusat? Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat harus lebih banyak menyelengga­ rakan pelatihan-pelatihan tenaga ahli di Aceh dalam semua tingkatan. Tujuannya agar tenaga ahli bersertifikat lebih banyak tersedia di Aceh. Bagaimana seharusnya legislatif, daerah dan pusat bersikap dalam hal ini? Legislatif harus lebih progresif dalam mengalokasikan anggaran bagi pembinaan dan pelatihan insan konsultan di Aceh. Untuk hal itu, saya melalui Komisi V DPR RI telah mengalokasikan anggaran sangat besar untuk LPJK melalui BP Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum. Sebaiknya LPJKD Aceh/Inkindo Aceh mengakses dan berkomunikasi dengan BP Konstruksi Kementerian PU agar dapat memanfaat­ kan anggaran tersebut untuk pembinaan jasa konsultansi di Aceh.[] Tim Balee Jroh/Tabloid Fokus Aceh


8

Edisi 2 // 17 - 24 Feb 2014

Satu Hati Bersama Rakyat

LENSA

ANGGOTA Komisi V DPR-RI Ir. H. Nova Iriansyah, MT bersilaturrahmi dengan masyarakat Desa Labuy, Aceh Besar, Januari 2014. Tampak Nova menyerahkan buah tangan untuk masyarakat setempat. (Foto Nizarli)

SATU dari tujuh unit Box Culvert yang dibangun oleh OMS (Organisasi Masyarakat Setempat) desa Blang Dalam, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya. Box Culvert tersebut merupakan implementasi dari Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) Tahun Anggaran 2013. (Foto Yusrizal Ibrahim)

MASYARAKAT desa Deunong, Aceh Besar mengundang anggota Kom untuk mencari solusi pengairan persawahan desa mereka. (Foto Nizarli


LENSA

misi V DPR-RI Fraksi Demokrat asal Aceh, Ir. H. Nova Iriansyah, MT i)

Satu Hati Bersama Rakyat

Edisi 2 // 17-24 Feb2014

9

NOVA Iriansyah menyerahkan buku “SBY Selalu Ada Pilihan� kepada ketua DPC Demokrat Aceh Barat di Balee Jroh, Peunayong, Banda Aceh, Selasa 10 Februari 2014. (Foto Nizarli)

SALAH satu atraksi peserta lomba sulap di Panggung Apresiasi Seni (PAS) Aceh di Haba Coffee, Lampriet, Banda Aceh, Minggu 2 Februari 2014. Acara tersebut didukung penuh oleh Nova Iriansyah, Anggota Komisi V DPR-RI Fraksi Demokrat. (Foto Nizarli)

SALAH satu saluran air yang dibangun warga desa Pante Cermin, Kecamatan Jaya, Aceh jaya. Pembangunan tersebut merupakan Program Pembangunan Pengembangan dan Perluasan Infrastruktur Sumber Daya Air (P4ISDA) Tahun Anggaran 2013. (Foto Yusrizal Ibrahim)


10

Balèe Jröh

Edisi 2 // 17 - 24 Feb 2014

PROFIL

Satu Hati Bersama Rakyat

T. ISKANDAR DAOD, SE, Ak

Sinergi Angka 8 di Pantai Barat A

nggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Komisi T. Iskandar Daod, SE, Ak sangat mengenal daerah pemilihan (dapil) III. Aceh Jaya, Meulaboh, dan Nagan Raya. Itulah tiga daerah yang telah membesar­ kannya hingga duduk menjadi wakil ketua di komisi A. Cita-cita membangun wilayah Barat belum selesai, masih tersisa catatan-catatan yang harus diteruskan sampai tuntas, karena dalam tempo singkat tidak mungkin cukup untuk menyele­ saikan semua pekerjaan. Kini Iskandar tercatat sebagai calon legislatif dari Partai Demokrat, yakni dapil 10 No Urut 8 (delapan) wilayah Aceh Jaya, Meulaboh, dan Nagan Raya. Iskandar dikenal sebagai sosok yang tegas dan pasti. Bergaul luas dan ramah. Suka menyapa, tidak terkecuali kepada siapapun, dan kerap mendatangi masyarakat di tiga daerah sekedar untuk menyapa saja. “Menyapa itu bisa untuk memperoleh banyak info yang bisa dijadikan bahan masukan di DPR,” kata Iskandar Daod ketika tim Balee Jroh mengunjungi kantornya di Mibo, Banda Aceh, Minggu lalu. Tentu, begitulah gaya sebenarnya Iskandar Daod. Dia terbilang salah seorang sosok ahli di bidang ekonomi, dan sekarangpun cuma tinggal menunggu gelar Magister ekonomi dari Un­ syiah. Gara-gara jiwanya itu, di lapangan dia terkenal tegas, suka bertanya blak-blakan kepada rekanan terkait projek APBA yang bermasalah. Itu pula yang menye­ babkan sebagian rekanan cukup segan padanya. “Kita harus tegas karena

menyang­kut kepentingan orang banyak. Perjuangan untuk rakyat harus betul-betul dijaga, karena konsep utama kita adalah Pro-Rakyat,” tegasnya. Ketegasan Iskandar Daod tentu bukan sekedar basa-basi, ke depan dia akan dihadapkan pada “per­ juangan” berat, karena keinginannya menjadikan jalan bagus Banda Aceh Lamno benar-benar dapat bertahan dan menjadikan Pantai Barat sebagai wilayah modern. Iskandar terobsesi lintasan di Geurutee dipersingkat saja dengan membangun terowongan tembus, karena selain dapat menjaga lingkungan juga memudahkan transportasi yang menghubungkan wilayah Barat dengan Banda Aceh.

“Perjuangan untuk rakyat harus betul-betul dijaga, karena konsep utama kita adalah Pro-Rakyat.” “Soal terowongan Geurute ini memang harus terlaksana, supaya wilayah Barat lebih sempurna baik secara transportasi maupun pertumbuhan ekonomi masyarakatnya,” ujar Ketua Divisi Komunikasi Publik Daerah DPD Partai Demokrat Provinsi Aceh ini. Sementara, katanya, lintasan lama dapat menjadi jalan wisata karena keberadaan perkebunan dan hutan berudara segar. “Saya terobsesi bisa dikaji langsung pada 2014 ini, apalagi DPR pusat sudah mewacanakan pembangunan terowongan Geurute ini,” jelas Iskandar. Iskandar sendiri sekarang aktif melakukan sosia­ lisasi kemana-mana mencari dukungan pembangunan terowongan Geurute tersebut, termasuk mencari dukungan dari masyarakat yang mendiami wilayah pemilihannya yang memang berdampak langsung pada mereka. “Ini perlu dibicarakan sedetil-detilnya, terencana, dan terukur supaya lingkungan tetap terjaga,” begitu hara­ pannya. Tidak mudah memang, namun Iskandar selalu menyimpan keyakinan kalau terowongan Geurute pasti terwujud, tinggal menunggu waktu saja, karena memang kebutuhan orang banyak, dan biasanya, do’a orang ban­ yak lebih ampuh. Begitu ujar Iskandar. [] Joe

DEWAN PIMPINAN CABANG PARTAI DEMOKRAT KABUPATEN ACEH SELATAN

DEWAN PIMPINAN CABANG PARTAI DEMOKRAT KABUPATEN NAGAN RAYA

Mengucapkan Selamat & Sukses Atas Terbitnya Tabloid

Mengucapkan Selamat & Sukses Atas Terbitnya Tabloid

Semoga menjadi media yang memberi pendidikan politik kepada masyarakat.

Semoga menjadi media yang memberi pendidikan politik kepada masyarakat.

Tertanda

Tertanda

SYAHRIL, S.Ag KETUA

ZOELFATA N SEKRETARIS

YUDI KURNIA, SE Plt. KETUA

YUSRIZAL IBRAHIM, SSN Plt. SEKRETARIS


PROFIL

Satu Hati Bersama Rakyat

Edisi 2 // 17-24 Feb2014

Balèe Jröh

11

DALIMI, SE, AK

Tegas dan Tuntas Bekerja untuk Rakyat

P

ERTAMA kali bertemu Dalimi pasti terkesan sosok yang tidak peduli, cuek, dan sulit bergaul. Namun sebenarnya dialah laki-laki sederhana, mu­ dah bergaul, dan apa adanya. Dailimi, SE, AK itulah nama lengkap­ nya. Tapi menyapanya cukup Mimi saja. Gaya dan caranya bicara tidak ada yang menduga kalau Mimi menjabat anggota komisi C DPR Aceh yang membidangi keuangan dan investasi, dan tentu kini Dailimi, SE AK kembali mencalonkan diri untuk kedua kalinya. Daerah pilihannya tetap sama yakni Dapil 2 Pidie dan Pidie Jaya dengan No.Urut 1. Partai yang me­ ngusungnya adalah Demokrat, satu-sa­ tunya partai yang dikenal Pro Rakyat. Begitu pula kesan pertama ketika Balee Jroh mengkonfirmasi Dailimi, spontan dia jawab dan tuntas. Kata-katanya mengalir, sopan dan tenang. “Saya apa adanya saja,”

katanya singkat. Apa adanya tampaknya itulah kebiasaan Dalimi, termasuk kala posisinya sekarang sebagai anggota DPR Aceh, dia tidak mengumbar janji kepada rakyat, katanya, rakyat Aceh itu cerdas, mereka tahu orang bekerja dan tidak bekerja. Namun begitu, Dalimi berharap rakyat harus berprinsip, agar tidak salah kelak, termasuk perihal pemi­ lihan Calon Legislatif (Caleg), jangan sampai memi­ lih kucing dalam karung. “Rakyat harus

tegas memilih, supaya tidak salah,” ujar Dailimi. Permin­ taan itu tentu bukan tak beralasan. Pengalaman membuktikan setiap kali

pemilu digelar rakyat kerap mendapat janji-janji caleg yang sebenarnya tidak perlu. Rakyat butuh wakil pekerja dan berjiwa membangun wilayah pilihannya. Rakyat perlu bukti. “Rakyat tidak boleh terlalu percaya janji-janji,” lanjut Ayah sepasang putra-putri Maghsiratul Iqram dan Febri Rachmatul Iqram hasil buah perkawi­nannya dengan istri tercinta Yusliana, pegawai sebuah perbankan di kota Banda Aceh. Yang paling penting ke depan masya­ rakat di Aceh tidak perlu takut lagi dengan segala bentuk intimidasi, karena ketakutan itu berpotensi merugikan daerah sampai lima tahun. Sebaiknya rakyat mela­ wan bentuk-bentuk politik seperti itu, supaya cita-cita bisa terwujud. “Insya Allah, kalau intimidasi dilawan, rakyat bisa merasakan hasil pembangu­ nan selama lima tahun,” demikian kata Damili meyakinkan, karena rakyat adalah sumber demokrasi, hanya dengan cara-cara bersihlah demokrasi dapat berkualitas. Pasti!! [] Nizarli

RESKY HANDAYANI, SE

Bangkit dengan Konsep Kesejahteraan Meulaboh

O

BSESI Resky Handayani, SE men­ ciptakan masyarakat Aceh Barat “kokoh” dan mandiri tampaknya tidak terbendung lagi. Perempuan asli Dapil Johan Pahlawan itu menyebut orang Aceh Barat harus bekerja dan cerdas, karena kondisi membuktikan, rakyat Aceh Barat itu mampu dan berpeluang menaikkan kesejahteraan serta jauh dari kata miskin. Sebagai pedagang--Kak Ekky—be­ gitu Resky Handayani disapa—sangat memahami kondisi ekonomi masyarakat di Meulaboh, terutama yang mendiami kawasan Johan Pahlawan, kota kecil tem­ pat Ekky dilahirkan dan besar. “Bilang saja Ekky Arab,” katanya singkat kepada Balee Jroh, beberapa waktu lalu. Menyebut Kiky Arab lantaran dia keturunan arab Saudi. Kakeknya (Alm) Muhammad Kasem Almaklani adalah pedagang di kota itu, lalu diteruskan sang anak, yakni ayah Ekky (Alm) Muhammad Hoesaini Mohd, yang kemudian memper­ sunting perempuan asli Kuta Padang, Aceh Barat, (Almh) Yusniati. Dan Ekky sendiri

lahir di Kuta Padang 1 Februari 1977. Usaha Kakek dan Ayahnya kemudian menjadi usaha besar keluarga, dan Ekky sendi­ ri membuka usaha Najwa Fashion di Ujong Kalak, dekat Hotel Meuligoe, Meulaboh sejak tahun 2003. Gara-gara berada di lingku­ ngan pedagang itulah, Ekky punya obsesi untuk membuka lapangan kerja dan menurunkan tingkat kemiskinan wilayah itu. Disamping memang keharu­ san untuk menaikan kualitas sumber Daya Manusia (SDM). “Meulaboh perlu dibuka akses lapangan kerja dan modal usaha,” jelasnya. Ekky bukan tipe orang “asal bicara”, niat itu kemudian dia pastikan dengan maju

menjadi calon legislatif untuk daerah pemili­ han (dapil) 1 Johan Pahlawan nomor urut 2 untuk kursi DPRK. Dia di­ usung langsung oleh partai Pro Rakyat Demokrat. Ala­ san istri

pebisnis Tarmizi Iborda ini cukup logis. Sebagai pedagang yang terus menerus berinteraksi dengan berbagai kalangan di Meulaboh, Ekky paling paham kebutu­ han masyarakat, itulah penggiring utama dia mencalonkan diri menuju parlemen. Hal yang paling disorot dan dijalankan adalah meningkatkan produktifitas kelu­ arga miskin, meningkatkan kelembagaan ekonomi desa, serta meningkatkan modal usaha. Selain itu dia ingin menjadi wakil perempuan yang dapat memajukan Meu­ laboh. Menurut alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Melaboh ini, keberadaan perempuan di parleman dapat menjadi pelopor pemberantasan korupsi, pengu­ atan partisipasi rakyat, dan persamaan peluang bagi seluruh rakyat Aceh Barat. Begitulah Resky Handayani, SE selalu berfikir pencerahan, dan kedepan harapan kita dialah sosok yang akan memperjua­ ngan nasib rakyat dan pembangunan di Meulaboh, karena naluri Ekky kuat untuk itu. Insya Allah. [] Nizarli


12

Balèe Jröh

Edisi 2 // 17 - 24 Feb 2014

ALBUM

Satu Hati Bersama Rakyat

Nova Iriansyah Anjurkan SDM Desa Ditingkatkan K

EBERHASILAN program Pro Rakyat rupanya menjadi motiva­ si baru untuk memulai pemba­ ngunan dari Desa. Setelah desa diberi hak mengelola anggaran Program Nasi­ onal Pemberdayaan Ma­syarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan dan Program Pemba­ ngunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP), kini giliran Desa mengelola dana sendiri, setelah DPR mengesahkan Undang-Un­ dang Desa. “Perangkat desa di Aceh harus be­tulbetul mempersiapkan sumber daya ma­ nusia untuk melaksanakan Undang-Un­ dang Desa karena perangkat desa punya wewenang penuh mengelola dana sendiri,” kata anggota komisi V DPR-RI Ir. H. Nova Iriansyah, MT. kepada masyarakat Gam­ pung Alue, Kecamatan Montasik, Aceh Besar, dalam sebuah silaturahmi Sabtu (01/2/2014) lalu. Penyampaian Nova tersebut dimak­ sudkan supaya pengelolaan anggarannya menjadi tepat sasaran, dan tidak meng­ hambat pembangunan desa. “Ini Program Pro Rakyat yang harus kita syukuri selain Program Pro Rakyat lainnya seperti PNPM dan PPIP yang terbukti dapat meningkat­ kan produksi dan pendapatan masyarakat desa,” kata Nova Iriansyah. Undang-undang Desa merupakan Prog­ ram Pro-Rakyat pemerintahan SBY yang sudah disahkan sejak beberapa bulan lalu. Pada undang-undang tersebut tercan­

NOVA Iriansyah mengunjungi masyarakat Gampong Alue Kecamatan Montasik, Aceh Besar. Dalam kunjungan tersebut anggota Komisi V DPR RI itu menjelaskan soal Undang-undang Desa dan Program Pro Rakyat. (Foto Nizarli)

tum peran desa yang akan mengelola ang­ garan bersumber dari APBN dengan besa­ ran nilai Rp.700 juta hingga Rp.1,4 miliar. “Mempersiapkan SDM desa sangat penting supaya pembangunan desa bisa

optimal,” lanjut Nova. Sebelum UU Desa diteken, program pro-Rakyat lainnya yang sudah dijalan­kan adalah PNPM dan PPIP yaitu program yang berhubungan langsung dengan peningkatan

infrastruktur desa, selain program lainnya. Nova Iriansyah juga menyampaikan hal yang sama kepada masyarakat Tungkop, Aceh Besar pada acara silaturahmi yang di­ gelar Jum’at (31/1/2014). [] Nizarli

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un

Ir. H. Nova Iriansyah, MT.

Ir. H. Nova Iriansyah, MT.

ANGGOTA DPR RI, KOMISI V, FPD KETUA DPD PARTAI DEMOKRAT ACEH PERIODE 2006-2011

ANGGOTA DPR RI, KOMISI V, FPD KETUA DPD PARTAI DEMOKRAT ACEH PERIODE 2006-2011

Turut Berduka Cita Sedalam-dalamnya atas Berpulang ke Rahmatullah

Turut Berduka Cita Sedalam-dalamnya atas Berpulang ke Rahmatullah

Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng.Sc (59 Thn)

Ir. Zahruddin, M.Si (52 Thn)

KETUA DPD PARTAI DEMOKRAT ACEH/WALI KOTA BANDA ACEH

KEPALA DINAS BINA MARGA PROVINSI ACEH

Meninggal pada Sabtu, 8 Februari 2014 pukul 19.40 WIB di RSUZA Banda Aceh dan dikebumikan di Gampong Lamteumen Barat Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh, Minggu 9 Februari 2014

Meninggal pada Jumat, 7 Februari 2014 pukul 19.50 WIB di RSUZA Banda Aceh dan dikebumikan di Gampong Cot Nambak Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar, Sabtu 8 Februari 2014

Semoga arwah almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT. dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan ini. Amin.

Semoga arwah almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT. dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan ini. Amin.


ALBUM

Satu Hati Bersama Rakyat

Edisi 2 // 17-24 Feb2014

Balèe Jröh

13

Tim Pemantau UUPA DPR-RI Catat Keberhasilan Aceh T im  Pemantau  Pelaksanaan Un­ dang-undang  tentang  Pemerintah­ an Aceh  (UU-PA)  DPR  RI yang diketuai Priyo Budi Santoso  berkunjung ke  Aceh  untuk  melihat langsung perkemba­ ngan  penerapan Undang-Undang yang su­ dah berjalan sejak tahun 2006.  Ketua  Tim Priyo  Budi  Santo­ so yang juga Wakil Ketua DPR-RI dalam di­ alog  dengan  jajaran  muspida  melakukan evaluasi  sejumlah persoalan  yang  meng­ hambat  kemajuan. “Kita  mencatat  sejum­ lah  keberhasilan  di Provinsi  Aceh  yang sudah menggunakan dana otonomi  khu­ sus sejak 2008 mencapai Rp26,9 triliun, dan bila ada permasalahan  mari  bersama kita  cari solusi terbaik,” kata Priyo di­dampingi Tim Pemantau UU PA DPR beranggotakan 15 orang termasuk 4 orang Wakil Ketua Tim yaitu Nova Iriansyah (FPD), Marzu­ ki Daud (FPG), Nasir Djamil (FPKS) dan Manuel Kaisiepo (FPDIP).. Priyo menyebutkan, sesuai  UU-PA dana  otsus  difokuskan  untuk  pembangu­ nan dan pemeliharaan sektor  prioritas ya­ itu  infrastruktur, pemberdayaan  ekonomi  rakyat,  pengentasan  kemiskinan, pen­ danaan  pendidikan,  sosial  dan  kese­ hatan,”  katanya  di Pendopo  Gubernur Aceh,  Banda Aceh, Kamis (23/1/14) lalu. Disebutkan pula soal Peraturan  Peme­ rintah  (PP)  dan Peraturan  Presiden  (Per­ pres)  sesuai  amanat  UU-PA yang belum tuntas,  Priyo menyebutkan akan membi­

NOVA Iriansyah berbincang-bincang menjelang penyampaian hasil pantauan DPR RI terhadap UUPA di Meuligoe Gubernur Banda Aceh.

carakannya  dengan  pemerintah. “Dari  9 PP sudah selesai 4, sedangkan 5 lainnya be­ lum selesai,” katanya. Sementara PP lain yang  masih  men­ jadi  hutang  pemerintah  pusat adalah PP tentang Kewenangan  Pemerintah  yang

Bersifat Nasional  di  Aceh, PP  ten­ tang Nama Aceh dan Gelar Pejabat Peme­ rintahan Aceh. Sedangkan Perpres yang be­ lum  ditetapkan  yaitu tentang  Penyerahan Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasio­ nal Aceh dan Kantor Pertanahan Kabupa­

ten/Kota menjadi Perangkat Daerah. Sementara Gubernur didampingi sejum­ lah pejabat diantaranya Ketua DPR Aceh Hasbi Abdullah, Kapolda  Irjen Pol. Herman Effendi dan Pangdam Iskandar Muda May­ jen TNI Pandu Wibowo. [] Fadhlullah

Menjaga Perdamaian dengan Seni Budaya

A

nggota Komisi V DPR-RI dari Par­ tai Demokrat Ir H.Nova Iriansyah begitu indah menyanyikan lagu 30 menit saja milik Band Jamrud dan Sol­ dier of Fortune dari band legendaris Deep Purple. Tidak ada yang menyangka sosok Nova pandai bernyanyi, termasuk ratusan kala­ngan seniman muda yang menghadiri penutupan Panggung Apresiasi Seni (PAS) Aceh di Haba Coffee, Lampriek, Banda Aceh minggu (2/2) lalu, tidak menduga Nova Iriansyah punya suara bagus. Anak-anak muda Banda Aceh seper­ ti sedang menguji kemampuan seni Nova. Bersama ketua DPRK Banda Aceh, Yudi Kurnia SE yang mengiringinya dengan gitar elektrik, Nova cukup lancar bersenandung. Inilah kali pertama Nova Iriansyah tampil bernyanyi di hadapan orang muda, sebuah pembuktian cerdas setelah dia menyampaikan orasi budaya. Pada orasi budaya Nova menyampaikan pentingnya keterlibatan semua pihak di Aceh untuk menjaga budayanya. “Ke depan bu­ daya Aceh harus jaya seperti dulu dan mam­ pu bersaing di pentas dunia,” kata Nova. Nova mengaku cukup terobsesi mem­ bangun budaya Aceh, apalagi setelah me­

nyaksikan langsung potensi orang muda di Banda Aceh yang berkesenian, kompak dan bersatu. “Dalam budaya tidak ada ke­ kerasan,” ujar Nova. Nova menilai seni dan perdamaian yang telah dicapai punya sinergi yang positif, se­ hingga budayalah yang harus menjaga perda­ maian Aceh yang dicetus Presiden Republik Indonesia Dr Susilo Bambang Yudhoyono melalui sebuah MoU pada tahun 2005 lalu. “Budaya harus menjaga perdamaian ini karena dalam budaya tidak ada konflik dan kekerasan,” kata Nova, penekanan yang diu­ capkannya berulang kali. Untuk itu, alumni Magister Teknik Ins­ titut Tehnologi Bandung (ITB) ini akan menempuh sebuah upaya untuk kebu­ dayaan Aceh, yakni melibatkan seluruh pihak dari pusat, provinsi, kabupaten, dan kecamatan untuk mencurahkan perhatian pada seni budaya Aceh. “Kalau sebelumnya perhatian semua ber­ pusat pada pembangunan fisik, maka ke de­ pan harus ada ruang untuk seni-seni di Aceh. Saya akan mengajak semua pihak untuk mem­ perhatikan seni budaya Aceh ini,” katanya. Selain itu, menurut mantan ketua Demokrat Aceh ini kepedulian pada se­

NOVA Iriansyah menyampaikan orasi budaya pada acara Panggung Apresiasi Seni (PAS) di Haba Caffee, Lampriek, Banda Aceh. Minggu (2/2/2014). Pada kesempatan itu Nova sempat menyanyikan dua buah lagu diiringi oleh Ketua DPRK Banda Aceh, Yudi Kurnia, SE. (Foto Nizarli)

ni-budaya Aceh sekaligus untuk melawan klaim atau pemusnahan budaya, dan ber­ tindak mengembangkannya adalah lang­ kah paling tepat. “Pecinta seni harus mem­ bentuk masyarakat Aceh menjadi pecinta seni, terutama untuk seni budaya Aceh yang kaya ini,” pinta Nova. Pada kesempatan itu Nova berjanji

memberikan perhatian khusus pada kese­ nian Aceh kedepan. Salah satunya de­ngan membiayai kegiatan seni orang muda se­ besar Rp25 juta pertahun, tentu itu bantu­ an pribadi, selain mendorong semua pihak di Aceh, agar seni Aceh melaju dan punya regenerasi. Inilah wujud ruang berkesenian baru di Aceh. [] Tim Balee Jroh


14

Balèe Jröh

Oleh: Yusrizal Ibrahim Wakil Sekretaris DPD Partai Demokrat Aceh

Edisi 2 // 17 - 24 Feb 2014

OPINI

Satu Hati Bersama Rakyat

Perdamaian Aceh dan Highway Number One Berkah dari Gempa dan Tsunami yang Harus Kita Syukuri

D

i balik kesusahan pasti ada kemudahan, dan di balik bencana pasti ada keber­ kahan. Yang penting kita harus menyikapinya secara positif, dan bertindak secara rasional. De­ mikianlah kata orang-orang tua kita yang arif dan bijaksana pada zaman dahulu. Hal itu tampaknya masih berlaku juga bagi Aceh pada masa kini. Negeri warisan Sultan Iskandar Muda ini telah berka­ li-kali didera kesulitan secara bertubi-tubi. Namun selalu dapat keluar dengan segala nilai tambahnya yang positif dan rasio­ nal, yang diperoleh pada berbagai sektor kehidupan masyarakatnya. Sebagai contoh, bencana alam gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 silam. Tidak dapat di­ pungkiri oleh siapapun, bahwa impact dari terjadi­nya bencana dahsyat tersebut ber­ bagai rasa simpati dan kebaikan dari mas­ yarakat nasional dan dunia internasional, bagaikan berlomba-lomba menghampiri Aceh. Dua di antaranya adalah penan­ datanganan MoU Helsinky pada tanggal 15 Agustus tahun 2005, yang segera diikuti dengan pengesahan Undang-undang no­ mor 11 tahun 2006 tentang Pemerinta­han Aceh, dan pembentukan Badan Rehabi­ litasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias pada tahun yang sama. Presiden Susilo Bambang Yudho­ yono (SBY) yang waktu itu baru 2 bulan dilantik sebagai Presiden RI, dengan itikad yang sangat baik, tulus dan ikhlas, segera mengambil langkah-langkah strategis yang sangat berani. Di tengah-tengah penolakan keras dari para tokoh nasional yang mera­ sa curiga, tersinggung dan terhina terha­ dap kemungkinan pelanggaran kedaulatan NKRI oleh pihak-pihak asing, beliau malah membuka pintu seluas-luas­nya bagi pasukan dari berbagai negara asing untuk masuk memberikan pertolo­ngan dan menyalurkan bantuan bagi rakyat Aceh dan Nias yang memang sedang sangat menderita, karena tertimpa musibah paling dahsyat sepanjang 2 (dua) mileni­ um sejarah peradaban umat manusia di muka bumi Allah ini. Selanjutnya, yang tidak kalah dramatisnya, di tengah-tengah penentangan dari para jenderal senior garis keras yang anti dengan perdamaian di Aceh, beliau justru mengirim utusan untuk menandatangani perjanjian damai dengan kelompok GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Helsinky, Ibukota Finlandia. Dan kemudian yang paling signifikan adalah beliau dengan serta merta segera menggelar konferensi internasional untuk mengundang para pemerintah dari negara-negara di dunia internasional dan menggalang dana yang diperlukan

WWW.SKYSCRAPERCITY.COM

JALAN USAID berstandar internasional, menghubungkan Banda Aceh - Calang di kawasan Lageun, Aceh Jaya.

Dengan lancarnya arus lalu lintas, maka angkutan orang dan barang ikut lancar juga. Perputaran uang di wilayah itu semakin besar. Masyarakat telah dapat memasarkan produk-produk pertanian yang dihasilkannya dengan lebih mudah. untuk merehabilitasi dan merekonstruksi kembali berbagai kerusakan yang terjadi pasca bencana. Untuk itu dibentuklah sebuah lembaga otonom yang diberi nama Badan Rehabilitasi dan Rekonstruk­ si (BRR) Aceh-Nias yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Hasilnya, semenjak saat itu kurang lebih dana sebe­ sar 122 triliun rupiah mengalir deras ke wilayah ini, baik dari APBN maupun dari bantuan negara-negara dan lembaga-lem­ baga donor internasional. Semua anggaran itu dipakai untuk menata kawasan yang tadinya porak-poranda manjadi kawasan yang layak huni kembali. Salah satu wujud yang paling kelihatan dari hasil kerja besar lembaga setingkat kementrian itu adalah jalan lintas Pantai Barat Selatan dari Banda Aceh ke Calang, yang anggaran pembangunannya berasal dari dana bantuan rakyat Amerika (US­ AID) sepanjang 145 km dengan anggaran 2.5 Triliun. Jalan tersebut selesai pada tahun 2011, masa pemerintahan Gubernur Ir­ wandi Yusuf. Dan lanjutannya dari Calang ke Meulaboh, anggaran pemba­ngunannya berasal dari bantuan Multi Donor Fund (MDF) sepanjang 100 km dengan dana se­ besar 384.95 Miliar Rupiah. Jalan ini selesai dalam tahun 2013, dan diresmikan oleh Gubernur Zaini Abdullah. Dalam pidato peresmiannya di Desa Babah Dua Lamno, Kecamatan Jaya,

Kabupaten Aceh Jaya pada tanggal 29 September 2011, Gubernur Irwandi me­ ngatakan bahwa jalan yang disebut sebagai Highway Number One tersebut jauh lebih baik dari pada jalan Highway Number One asli yang membentang di antara Seattle di Washington State, menuju ke Los Angeles di California, yang sering beliau lewati ketika tinggal di Oregon, Amerika Serikat, dulu. Hal itu dibenarkan oleh Konsul dan para Staf Konsulat Jendral Amerika yang hadir dalam acara peresmian tersebut. Memang, untuk saat ini jalan lintas yang terbentang di antara Banda Aceh dan Meulaboh itu sering ditabalkan sebagai jalan raya yang terbaik di Indonesia. Itulah salah satu hikmah yang terjadi di balik bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami bagi rakyat Aceh di bumi serambi mekkah ini. Di samping tercapainya perdamaian setelah didera konflik panjang selama kurang lebih 30 tahun, wilayah yang baru terbuka dari keterisoliran di masa pemerintahan Gubernur Ibrahim Hasan tahun 1980-an itu, semenjak tahun 2010-an telah men­ jadi lebih terbuka lagi. Dengan lancarnya arus lalu lintas, maka angkutan orang dan barang ikut lancar juga. Perputaran uang di wilayah itu semakin besar. Masyarakat telah dapat memasarkan produk-produk pertanian yang dihasilkannya dengan lebih mudah. Sebaliknya barang-barang kebutu­

han sehari-hari mereka semakin gampang diperoleh. Taraf hidup dan kesejahteraan ekonomi mereka pun semakin meningkat. Wilayah yang pada tahun 1990-an dulu oleh Gubernur Samsudin Mahmud disebut sebagai Aceh masa depan, kini oleh Gubernur Zaini Abdullah telah dija­ dikan sebagai Pusat Agroindustri Zona V (Zona Ekonomi Barat) dan Zona VI (Zona Ekonomi Selatan). Sedangkan dalam Mas­ ter Plan Percepatan dan Perluasan Pem­ bangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang merupakan program dan kebijakan nasional untuk membangun perekonomi­ an Indonesia secara terpadu, wilayah Barat Selatan Aceh ini dimasukkan ke dalam Koridor Ekonomi Sumatera. Sekarang semuanya terpulang kepada kita sendiri, terutama rakyat Aceh yang tinggal dan bekerja di kawasan tersebut. Sebagai hikmah dan berkah dari bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami tahun 2004, berbagai fasilitas dan infra­ struktur kelas dunia telah disumbangkan oleh pemerintah dan masyarakat nasional serta internasional. Tinggal ketulusan dan kemauan kita saja untuk memanfaatkan­ nya bagi sebesar-besarnya kemaslahatan kita bersama. Tidak ada alasan lagi untuk mengeluh, apalagi menghujat. Kita harus menjadi masyarakat yang tahu berteri­ ma kasih. Baik kepada pemerintah dan masyarakat nasional serta internasio­nal, atau pun kepada Presiden SBY pribadi yang dengan gagah telah berani melawan kecurigaan dan keberatan dari berbagai pihak, baik tokoh-tokoh sipil maupun tokoh-tokoh militer di tingkat nasional, untuk membuka pintu bagi dunia interna­ sional memberi pertolongan dan menya­ lurkan bantuan di Aceh, serta menandata­ ngani perjanjian damai dengan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM), demi menolong rakyat Aceh dengan niat­nya yang sangat baik, tulus dan ikhlas. Akhirnya rasa syukur yang sebesar-be­ sarnya tentu saja harus senantiasa kita persembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Taala sebagai pemilik kita beserta seluruh alam semesta ini. Kalau kita memang tahu berterima kasih, bisa berpikir secara positif, dan mampu bertindak rasional, kita tidak akan memuji-muji tokoh-tokoh nasional yang dulu sangat keras menolak keterbu­ kaan Aceh pada waktu penyaluran bantuan bencana. Dan juga kita tidak akan men­ dukung-dukung jenderal-jenderal senior bergaris keras yang dulu sangat gigih menen­ tang perdamaian Aceh. Saya rasa tidak perlu Allah sampai harus menurunkan bencana besar lagi hanya untuk membuat kita insaf dan bersedia membuka mata kita untuk yang kedua kalinya. Saya yakin tidak perlu. Bersama Allah Kita Pasti Bisa.[]


Edisi I - Januari 2014

15

NADIA USMAN

Perempuan Berkualitas dari Kampus

N

amanya Nadia Usman, namun dara ini cukup disapa dengan panggilan Nadia saja. Sebagai mantan penyiar dan wartawan Radio Bai­ turrahman, nama itu tentu dikenal banyak kalangan, tidak terkecuali orang muda, yang mengenalnya karena suaranya kerap mengumandang di radio paling besar di Banda Aceh tersebut. Dia perempuan sibuk namun punya prestasi hebat. Buk­ tinya, kendati banyak bergelut dengan kegiatan sosial, dunia kampuspun terus digeluti. Sekarang dara kelahiran Aceh ini tercatat sebagai salah seorang Dosen Luar biasa Fakultas Dak­ wah dan Komunikasi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Is­ lam Universitas Islam Negeri Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) juga menjadikannya sebagai dosen luar biasa di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan Ilmu Komunikasi. Soal indeks prestasi pun menakjubkan, dua tahun lalu Nadia berhasil lulus pasca sarjana bidang Komunikasi Islam di Fakultas Dakwah IAIN Sumetera Utara, Medan, dengan indeks prestasi 3,7, setingkat di bawah indeks prestasi ketika meraih gelar strata 1 di Fakultas Dakwah UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dengan IPK 3,8. Dunia pendidikan tampaknya tidak bisa jauh darinya. Pada tahun 2005-2007, sebelum bergelut di kampus dara ini adalah supervisor LSM The Habibie Center Banda Aceh,yang berkat pengalaman itu Nadya lantas mengaplikasikan ilmunya menjadi tenaga pengajar bidang Ilmu Komunikasi di UIN Ar-Raniry, Unsyiah, dan beberapa kampus swasta di Aceh. Kini ia aktif di Women Development Center (WDC), sebuah organisasi yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan. Soal pemberdayaan, perempuan kelahiran Aceh 08 Oktober 1984, yang sekarang menetap di Kuta Alam itu punya obsesi khusus, yakni memajukan perempuan di desa. Nadya berkeinginan menyulut prestasi perempuan Aceh. Ca­ ranya, Nadia siap memotivasi dan membimbing perempuan Aceh agar lebih berkualitas dan dapat mengisi pembangunan negeri ini. Untuk itu, mantan Bendahara Umum Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah ini sangat menaruh harapan kepada seluruh elemen masyarakat di Aceh agar konsisten member­ dayakan perempuan. Karena dengan itulah perempuan Aceh dapat bangkit dan memberikan yang terbaik untuk masa depan Aceh. Tanpa semangat itu, maka perempuan tetap termarjinalkan, kecuali dengan kesadaranlah semua dapat terlaksana. Insya Allah. [] Zahrina Azhar

Nadia siap memotivasi dan membimbing perempuan Aceh agar lebih berkualitas agar dapat mengisi pembangunan negeri ini.


16

Satu Hati Bersama Rakyat

BUKU

“Selalu Ada Pilihan” yang Dipikirkan dan Dilakukan

SBY n Oleh: ST Sularto

B

uku setebal 824 halaman itu berjudul utama ‘Selalu Ada Pilihan’. Sub judulnya, ‘Untuk Pencinta Demokrasi dan Para Pemimpin Indonesia Men­ datang’, dicetak dalam format 15,5 x 23 cm. Setelah sekitar satu tahun ditulis dan diproses, Jumat, 17 Januari 2014, buku ini diluncurkan. Ditulis sendiri oleh Susilo Bambang Yudhoyono, dicicil selama satu tahun, sele­ sai 70 persen pada pertengahan Juli 2013. Semula sebelum hurufnya diperkecil, tebalnya 1.084 halaman. Ketika tim penerbitnya, Penerbit Buku Kompas, diundang SBY ke Puri Cikeas, pada 14 Oktober 2013 lalu, dia sampaikan kronologi penulisan, garis besar isi buku, dan beragam kemungkinannya. ”Atas keha­diran buku ini, segala kemungkinan sudah saya pikirkan dan kalkulasikan baik-baik, termasuk respon negatif dan komentar minor, seperti “Presiden, kok menulis buku. Harusnya bekerja” atau “SBY, kan hanya mau curhat,” kata SBY. Dengan iPad, SBY menulis buku itu di tengah tugas kenegaraan, di keheningan malam, di sejumlah kota, dalam perjala­ nan ke luar kota atau ke luar negeri. Setidaknya baru ada lima kepala negara atau kepala pemerintahan yang menulis sendiri bukunya, satu di antara­ nya presiden ke-6 RI ini. Di Indonesia inilah yang pertama kali. Yang lainnya adalah Nelson Mandela, Luiz Inacio Lula da Silva, Ariel Sharon, dan Lee Myungbak. Empat di antaranya dalam bentuk otobiografi, sementara buku SBY bukan­ lah otobiografi. Kata SBY, ”Dalam tiga-lima tahun ke depan, saya akan menulis dua buku lagi. Yang satu semacam memoar politik, lain­

nya otobiografi.” Dengan cover putih, kecua­ li judul berwarna merah, nama penulis, dan subjudul, tidak ada foto kecuali headshot penulis ber­ warna di sampul belakang, buku ini menyi­ratkan kejujuran dan maksud baik penulis SBY. Mau berbagi re­ fleksi dan pengalaman yang semoga bermanfaat bagi masyarakat, terma­ suk mereka yang saat ini siap-siap berlaga dalam Pilpres 2014. SBY berharap kandungan buku ini bisa dijadikan bahan belajar. Capres itu superstar Terdiri atas empat bab dan setiap bab terdiri atas beberapa artikel, isinya mena­ rik karena peristiwanya sedang bergulir dalam masyarakat. Misalnya, artikel “Yang Menentukan Capres (‘Super Star’) Bukan Tim Sukses dan Para Pengurus” (hal 371373) serta artikel “Pers dan Media Massa Biasanya Tidak Berpihak kepada ‘Incumbent’ (hal 440-445). Menurut SBY, penentu kemenangan dalam pilpres adalah calon itu sendiri (60 persen). Faktor infrastruktur partai pengusung 10 persen dan tim sukses 30 persen. Capres disebutnya superstar, yang dirujuk dari kemenangannya pada Pilpres 2004 dengan pengusung Partai Demokrat yang baru berusia tiga tahun. Pada pilpres putaran pertama, SBY hanya memperoleh 33,57 persen, tetapi pada putaran kedua mendapatkan duku­ ngan suara 60 persen lebih. Pada putaran kedua, dari sisi partai politik pendukung, jumlah suara pemilu legislatif dari Partai Demokrat hanya 20,8 persen, sementara perolehan suara SBY tiga kali lipat dari perolehan Partai Demokrat, tulis SBY. “Ini menunjukkan, sekali lagi, bukan partai politik pendukung yang lebih me­ nentukan kemenangan dalam pemilihan

presiden” (hal 373). SBY menyarankan, ”Rajinlah para ca­ pres berkomunikasi di dunia media sosial. Anda tidak khawatir menghadapi tebang pilih versi pers. Anda tidak pusing dengan barriers media tertentu terhadap Anda karena sikap politik dan kebijakan pemilik­ nya. Anda bisa berkomunikasi langsung dengan followers Anda” (hal 441). Tentang korupsi, dia tegaskan, perta­ ma, Partai Demokrat mendukung penuh pemberantasan korupsi, tidak tebang pilih, tidak pandang bulu. Kedua, jika ada kader yang memang terlibat korupsi, partai tak akan melindungi. Jika ada kader yang dija­ dikan tersangka, partai tak akan berteriak dan mengatakan, “Ah, itu pesanan politik. Itu campur tangan politik. Itu konspirasi, partai kami tidak bersalah” (hal 442-443). SBY mengapresiasi netralitas TNI dan Polri. Rakyat Indonesia ingin TNI dan polisinya netral (hal 473-477). Bukan hanya soal pemilu dan pilpres dengan tali-temalinya persoalan nasional dan saran bagi para peserta Pilpres 2014

dalam bab III dan bab IV. Bab I dan bab II berkisah tentang kondisi aktual negeri ini. Dia tunjukkan bagi para calon presiden kalau terpilih siap-siaplah dikecam dan dikritik (hal 121-127), tentang baju batik yang dikenakan dan lain-lainnya, dalam kedua bab di atas. Mengenai kritik pers, pengamat, dan banyak orang, SBY sering menghibur diri. Dia kutipkan kalimat bijak, di antaranya, “A critic is a man who knows the way but can’t drive the car.” (hal 127). Buku ini bukan curhat, bukan pem­ belaan diri, melainkan keinginan SBY berbagi pengalaman dan pengetahuan. Aktualitasnya tinggi menyangkut tahun politik 2014. Penuturan dengan kosakata sederhana dan bukan dengan analisis ilmi­ ah menjadi daya tarik lainnya. Tanpa sen­ gaja menjadi bonus plus untuk legacy SBY: bukan hanya tentara, presiden, melainkan juga penggubah lagu dan penulis buku. Begitu sebuah buku tersaji di ranah publik, terbuka untuk pujian, kajian, kecaman, dan kritik! [] Sumber: KOMPAS.com


Balee jroh edisi 2