Issuu on Google+

Teraju REPUBLIKA

SENIN, 10 OKTOBER 2011

AH SEJAR

FOTO-FOTO CINAHISTORYFORUM.COM

PEMBANTAIAN 1740: Salah satu lukisan pembantaian China tahun 8 dan 9 Oktober 1740 yang masih tersimpan di Belanda.

Gula, Korupsi, dan Pembantaian Cina 1740

Ketika VOC bermain di pasar gula internasional, mereka mendorong orang-orang kaya Cina agar berinvestasi dengan membuka perkebunan tebu di Ommelandan, kawasan selatan Batavia. Oleh Teguh Setiawan

D

alam sebuah tulisan bertajuk Merkwürdigkeiten— yang diterbitkan tahun 1751 di Heilbronn, Jerman—Georg Bernhard Schwarz bertutur, “Saya membunuh satu keluarga Tionghoa di Batavia saat terjadi kerusuhan dan Pembantaian 1740. Keluarga Tionghoa itu tetangga saya dan saya tidak punya masalah pribadi dengan mereka.” Seorang penulis Belanda bertutur, “Terdengar jerit ketakutan di seluruh kota, lalu terlihat pemandangan memilukan. Perampokan dan pembantaian terjadi di sekujur kota. Perempuan hamil dan sedang menyusui tak luput dari tebasan pedang dan moncong senapan. Ratusan orang yang lari dan tertangkap disembelih. Sejumlah orang Cina kaya lari ke rumah pemukim Eropa untuk meminta perlindungan. Orang-orang Eropa merampas barang-barang mereka dan menyerahkan pemiliknya ke tangan pembantai.” Dua cuplikan tersebut telah lebih dari cukup untuk membawa kita ke situasi 8, 9, dan 10 Oktober 1740—ketika VOC di bawah Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier membantai hampir seluruh pemukim Tionghoa di dalam kastil Batavia. Kisah tentang pembantaian itu telah banyak ditulis sejarawan Belanda, Tionghoa, dan Indonesia. Remy Silado pernah mengangkat kisah ini dalam drama. Tahun lalu, sejumlah masyarakat etnis Tionghoa di Glodok menggelar rekonstruksi pembantaian. Bagi pemerhati sejarah, Tragedi Angke—demikian beberapa penulis menamakan peristiwa itu—tetaplah menarik untuk dibaca kembali, dikaji kembali dengan berbagai pendekatan; sosial, ekonomi, politik, dan dijadikan bahan diskusi. Namun, ada satu hal yang tetaplah tak terjawab, yaitu apakah pembantaian itu adalah kejahatan terpaksa akibat evolusi tak terhindarkan? Pertanyaan serupa juga mengemuka ketika sejarawan Filipina dan Spanyol mengkaji Pembantaian Manila 1603, 1640, 1662, dan 1686—dengan jumlah korban mencapai lebih dari 70 ribu. Léonard Blussé, sejarawan Belanda, mengatakan, tidak ada kejahatan terpaksa akibat evolusi, yang ada adalah peristiwa tragis di luar kewajaran.

Korupsi, hilangnya wibawa Banyak sarjana Barat, termasuk Raffles, berusaha menjelaskan penyebab pembantaian dan menarik kesimpulan, tapi pendapat mereka tidak pernah sama. Mereka melakukan tindakan siasia ketika berusaha mencari data hubungan antara komplotan di luar dan dalam kastil Batavia. Blusse menempuh pendekatan lain. Ia melihat ke belakang, jauh sebelum

pembantaian terjadi dan peran kapten Tionghoa dalam mengendalikan masyarakat yang berada di luar benteng. Ia sampai pada kesimpulan pemberontakan yang terjadi akibat merosotnya martabat kapten di depan rakyatnya dan penguasa VOC. Segalanya bermula dari gula. Ketika VOC bermain di pasar gula internasional, mereka mendorong orang-orang kaya Cina agar berinvestasi dengan membuka perkebunan tebu di Ommelandan, kawasan selatan Batavia. Ini bukan perkara mudah, karena kebanyakan pedagang Cina saat itu lebih suka menikmati hidup dari perdagangan. VOC tak kehabisan akal. Mereka menawarkan insentif berupa pembebasan pajak badan, pembelian hasil produksi, dan kebebasan membuka hutan bagi perkebunan. Orang Cina tertarik. Mereka merekrut sebanyak mungkin kuli dari daratan Cina untuk dipekerjakan di perkebunan. Sejak 1637, VOC mulai menjual gula ke Eropa sebanyak 10 ribu pikul per tahun. Namun, semua itu tidak berlangsung lama. Edi Cahyono dalam Industri Gula di Jawa menyebutkan, penetrasi pasar itu tidak didukung oleh kemampuan berkompetisi. Ketika Inggris memasok gula dari perkebunan tebu di India ke Eropa, VOC tak mampu bersaing dan menarik diri dari pasar. Blusse mempunyai pandangan lain. Pekerja Cina mulai mengeluhkan tidak adanya perlindungan keamanan bagi mereka yang bekerja di Ommelanden. Akibatnya, ketika terjadi pecah perang dengan Banten, para buruh meninggalkan perkebunan tebu pada 1656. Tiga tahun kemudian, ketika Formosa jatuh ke tangan Laksamana Cheng Ch’eng Kung, panglima Dinasti Ming yang mendirikan pemerintahan sendiri di Taiwan, industri tebu Ommenlanden mulai hidup lagi. Namun, VOC tidak lagi terlibat. Orang-orang kaya Cina sepenuhnya mengontrol produksi dan memasoknya ke pasar Eropa. VOC hanya tertegun ketika gula Ommelanden kembali Berjaya di Eropa mulai 1710. Saat itu, jumlah penggilingan mencapai 130, dengan produksi rata-rata per penggilingan mencapai 300 pikul. Sebanyak 79 pengusaha Cina terlibat di dalamnya. Belanda hanya empat dan hanya ada satu pribumi. Pejabat VOC jengkel. Ini terlihat dari pernyataan Gubernur Jenderal Van der Lijn pada 1659. “Orang-orang Belanda tidak berminat terjun di perkebunan, mereka hanya memikirkan bagaimana cepat kaya dan pulang ke tanah air untuk menghabiskan harta,” ujarnya. Namun, sejumlah usahawan Belanda menanggapi pernyataan ini dengan positif. Abraham Pittavin, Isaac de St Martin, dan Pieter van Hoorn, misalnya, terjun ke perkebunan. Mereka bahkan mengajukan gagasan Batavia sebagai koloni yang ditopang industri pertanian.

Sukses ketiganya memicu banyaknya orang Belanda yang membuka perkebunan. Terlebih, ketika VOC dan Banten berdamai. Belanda merekrut banyak orang Jawa. Tauke-tauke Cina lebih banyak mendatangkan orang dari negeri mereka. Di dalam kastil Batavia, kekuatan ekonomi orang-orang Cina mulai terasa. Mereka seolah berbagi kekuasaan dengan VOC. Blusse menulis, “Pengangkatan kapten Cina dilakukan bersamaan dengan pelantikan gubernur jenderal. Pengangkatan wijkmeester atau kepala kampung sering dilakukan dengan pelantikan pejabat VOC. Pada 1680, Batavia mengalami kelebihan penduduk (overpopulated). Solusinya adalah mendorong pemukim Cina ke luar Batavia dan mendiami Ommelanden. Namun, tindakan ini tidak disertai pembangunan infrastruktur politik dan hukum yang memadai. Ommelanden tidak ubahnya kawasan liar dengan dua landdrost – sama dengan sheriff di AS . Cornelis Chastelein, tuan tanah yang dikenang sebagai pembangun Depok, mengimbau agar VOC serius mengurus penduduk dan membuat sistem pemerintahan di Ommelanden. Menurutnya, penegakan hukum di wilayah sebesar itu tidak bisa dijalankan oleh dua sheriff. Chastelein mengusulkan sistem lurah Belanda. VOC menampiknya dan lebih suka membentuk komisaris politik yang tugasnya menjalin hubungan dengan pembesar pribumi—Jawa dan Bali, tapi tidak dengan orang Cina. Saat itu, orang Bali dan Jawa sama banyak dengan orang Cina. Sampai 1715, orang Cina tetap terasing dari masyarakat induk dan pemimpinnya di kota. VOC di bawah Gubernur Jenderal Diederik Durven justru melihat masyarakat Cina di Ommelanden sebagai tambang emas. Ia bersama kaki tangannya memeras penduduk Cina di Ommelanden, sampai akhirnya terhenti setelah Heren XVII mengakhiri kekuasaannya pada 1732. Pendepakan Durven tidak serta-merta menghapus kebencian penduduk Cina di Ommelanden terhadap VOC. Di sisi lain, kapten Cina dan letnan-letnannya tidak lagi didengar. Pothia, orang Cina pengusaha gula, harus membayar pajak badan para buruhnya. Mereka tidak menyerahkan pajak itu ke kapten Cina, tapi bermain mata dengan sheriff. Sheriff melaporkan sekehendak hatinya kepada VOC. Berikutnya, kapten dan para letnannya juga terlibat dalam industri dan memanipulasi pembayaran pajak badan para buruhnya. Nie Hoe Kong, kapten Cina yang dituduh menggerakkan pemberontakan, memiliki 14 penggilingan tebu yang disewakan. Situasi ini relatif masih bisa dikendalikan ketika industri gula tidak benar-benar jatuh. Bahkan, sama sekali tidak terasa ketika penggilingan-penggilingan

tebu terus bekerja menghasilkan produksi lebih banyak lagi. Penduduk Cina di Batavia kian makmur dan perkebunan tebu terus meluas. Booming industri gula Ommelanden dan Batavia memicu migrasi besar-besaran para kuli dari Cina daratan pada 1730. VOC merespons dengan menerapkan peraturan 1690, bahwa setiap orang Cina yang masuk harus membawa bukti administrasi. Jika tidak, VOC mempunyai alasan menjebloskan mereka ke penjara.

Migrasi paksa Tidak sulit bagi para orang kaya Cina, terutama yang butuh tenaga di perkebunan, mengatasi hal ini. Mereka tahu pejabat VOC ingin cepat kaya dalam waktu singkat dan bersedia melakukan apa saja. Praktik suap merajalela. Bahkan, orang Cina yang datang sebagai orang bebas pun bisa menyuap jika membawa bekal yang cukup dari tanah kelahiran. Para buruh akan langsung dibawa ke Ommelanden dan dipekerjakan. Mereka tidak terdaftar, sehingga para majikan tidak perlu membayar pajak mereka kepada VOC. Tapi, para sheriff tahu. Terjadi saling tekan. Sheriff menekan majikan agar memberi dana tutup mulut. Para majikan menekan buruh agar bekerja sebaik mungkin dan tidak macam-macam jika tidak ingin dilaporkan ke VOC. Ketika gula kembali menjadi primadona di Eropa. VOC tergiur untuk kembali menjadi pedagang. Mereka mengharuskan produsen menjual hasil produksinya kepada pemerintah. Tidak ingin rugi, VOC menerapkan politik harga. Pothia tidak mempunyai pilihan, selain mengikuti keinginan sang penguasa. Ketika pasaran gula sedang bagus, produsen menikmati harga yang tinggi. Namun, ketika permintaan pasar menurun, VOC memberikan harga seenaknya. Tercatat, gula Batavia menjadi primadona pada kurun waktu 1712 sampai 1716, setelah itu merosot lagi. Gula Bengala memasuki pasar dengan harga jauh

23

lebih murah. Situasi ini semakin sulit ketika terjadi pergantian kekuasaan di Persia. VOC kehilangan pelanggan terbesarnya. Situasi menjadi rumit ketika pengusaha gula Ommelanden saling caplok. Di sisi lain, pabrik-pabrik gula kecil sangat bergantung pada pinjaman para rentenir Cina di Batavia untuk membiayai produksinya. Ketika pasaran gula merosot, mereka tidak mampu membayar pinjaman dan bunganya serta menggaji para buruhnya. VOC, akibat kejatuhan pasar gula, berusaha mencari pendapatan lain. Mereka mengenakan pajak terhadap semua usaha milik orang Cina di Ommelanden, termasuk pajak warung makan. Akibatnya, para buruh yang tak mempunyai pekerjaan harus membayar makanannya lebih mahal dari biasanya. Pertengahan 1740, skandal penjualan izin tinggal yang dilakukan pejabat VOC terbongkar. Pemerintah merespons dengan sangat radikal. Bahwa untuk menuntaskan masalah Cina, haruslah dengan tindakan migrasi paksa. Yaitu, menghafalkan pekerja Cina di Ommelanden dan Kota Batavia ke Sri Lanka. Tidak ada pilihan bagi para buruh Cina yang miskin selain melawan. Terlebih, muncul kabar bahwa mereka yang dibawa ke Sri Lanka tidak pernah sampai ke tujuan, karena diceburkan ke laut. Para bandit—yang terpaksa merampok demi sesuap nasi—buruh lapar dan majikan yang menjadi papa oleh lintah darat bersatu. Mereka merencanakan penyerangan ke Kota Batavia. Mereka yakin, akan mendapat dukungan saudara seetnik yang berada di dalam kastil, saat serangan dilancarkan. Buruh pribumi juga terlibat dalam pemberontakan ini, meski jumlahnya sangat sedikit. Mereka menyerang pasukan VOC di luar kota dan sukses. Baron van Imhoff merespons dengan mengirim pasukan lebih besar dan pasukan bayaran asal Bugis. Van Imhoff sempat kalah, tapi pada 8 Oktober memperoleh kemenangan besar. Malam hari, kota dikepung pemberontak Cina dengan kekuatan luar biasa. Mereka membakar semua kubu dan rumah di luar kota, serta berusaha memasuki gerbang kota. Di dalam kota, Nie Hoe Kong tidak melakukan apa-apa, kecuali panik. Ia tidak mungkin mengatakan tidak tahu akan ada penyerangan, karena pemberontakan diorganisasi di salah satu perkebunan tebu miliknya. Di kalangan orang pemukim Belanda, terjadi ketakutan akan kemungkinan pemukim Cina menahan mereka dari belakang saat pasukan mempertahankan kota. Tidak ingin hal itu terjadi, mereka mendahului dengan menyerang orang Cina di dalam kota. Namun, jumlah mereka terlalu sedikit. Saat itu, penduduk Cina di Batavia mencapai 5.000 lebih. Penduduk kulit putih hanya 1300 orang. VOC tidak kehabisan akal. Mereka memprovokasi pelaut dan permukim lain—mestizo, mardijker, dan orang-orang Asia non-Cina—untuk ikut dalam pembantaian. Pembantaian berlangsung sepekan. Setelah semua Cina di dalam kota bersih. VOC mengejar pemberontak yang masih berada di pinggir kota dan membantainya. Inilah yang menyebabkan banyak sejarawan yakin jumlah korban mencapai 10 ribu orang. Mayat-mayat Cina dibiarkan tergeletak di jalan-jalan atau dibuang ke Kali Besar. Menimbulkan bau busuk tak terperi selama berhari-hari. Tak lama kemudian, wabah kolera menjangkiti penduduk di dalam dan luar kastil Batavia. Satu hal yang menarik adalah Kapten Nie Hoe Kong berhasil lolos dari pembantaian di dalam kota dan memimpin ratusan pasukan dan meneruskan perjuangan sampai ke Jawa Tengah. Ia tertangkap dan tewas dalam penjara di Ambon. ■

PEMBANTAIAN 1740: Gambar pembantaian Tionghoa di Batavia pada 1740. Pembantaian terjadi di sepanjang Kali Besar.


Teraju

REPUBLIKA SENIN, 10 OKTOBER 2011

24

FOTO-FOTO CINAHISTORYFORUM.COM

PEMBANTAIAN DAN PEMBUNUHAN CINA 1603 - MANILA, FILIPINA

1887 - SNAKE RIVER, OREGON, AS

Khawatir akan dominasi Cina, Spanyol membantai 24 ribu Mandarin yang datang ke negeri kepulauan itu pada era Dinasti Ming.

Sebanyak 31 penambang Cina terbantai dalam dua hari pesta kekerasan.

1890-AN - SAN FRANCISCO & SEATTLE, AS 1662 - MANILA, FILIPINA Sebanyak 30 ribu penduduk Cina dihalau keluar Filipina lewat laut. Mereka yang tertangkap di luar Parian, gheto Cina Minila, dipenggal.

Ribuan orang Cina diserang dalam peristiwa yang dikenal sebagai ‘pesta potong taucang’ yang dilakukan penganggur kulit putih sebagai akibat ketakutan akan Bahaya Kuning.

1942 - SINGAPURA (OPERASI SOOK CHING) 1639-1640 - MANILA, FILIPINA

Kekerasan anti-Cina.

Lebih 70 ribu orang Cina disiksa atau terbunuh dalam Operasi Sook Ching yang dilakukan Kampeitai, pimpinan Kolonel Tsuji Masanobu. Operasi Sook Ching adalah tindakan pemurnian atau pembersihan etnis Cina yang mendukung RRT melawan invasi Jepang.

1740 - BATAVIA, HINDIA-BELANDA

1942 - MALAYSIA (OPERASI SOOK CHING)

VOC memaksa orang-orang Cina menaiki kapal untuk dibuang ke Sri Lanka. Muncul isu, mereka yang dibawa ke Sri Lanka ditenggelamkan ke laut. Kapten Nie Hoe Kong memprovokasi pemberontakan Cina di dalam Kota Batavia. VOC merespons dengan keras. Sebanyak 10 ribu orang Cina terbunuh dalam peristiwa itu.

Operasi Sook Ching juga berlangsung di Malaysia. Di negeri ini, Kampeitai membunuh kira-kira 40 ribu etnis Cina.

Sebanyak 20 ribu tewas dalam kerusuhan anti-Cina.

1686 - MANILA, FILIPINA

1763 - MANILA, FILIPINA Kekerasan anti-Cina.

Pada 1890-an, masyarakat AS sempat dihinggapi ketakutan Bahaya Kuning. Oleh Teguh Setiawan ndonesia bukan satu-satunya negara yang memiliki sejarah pembantaian etnis Tionghoa. Catatan Cinahistory Forum menunjukkan, Filipina memiliki sejarah paling kelam dalam hubungannya dengan Hoakiao—atau masyarakat Cina perantauan. Setidaknya, 74 ribu pemukim Cina tewas di Manila sepanjang kurun waktu 1603 sampai 1640. Ribuan lainnya diyakini menemui ajalnya di pertengahan abad ke-18. Namun, setelah kekerasan anti-Cina terakhir pada 1763, relatif tidak ada lagi kerusuhan skala besar di Filipina. Pembantaian, lebih tepatnya kekerasan, terhadap etnis Cina juga terjadi di Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura. Jauh dari Asia Tenggara, AS juga mengalami beberapa tragedi yang melibatkan etnis Cina sebagai korban. Tidak sulit mengidentifikasi berbagai pembantaian ini. Di Filipina, pembantaian kerap dipicu persaingan dagang dan ketakutan kolonialis Spanyol akan dominasi Hoakiao di tanah jajahan mereka. Situasi serupa juga terjadi di Indonesia pada peristiwa 1740 dan perebutan konsesi pertambangan di Kalimantan Selatan tahun 1823.

OPERASI SOOK CHING:Pembersihan etnis yang dilakukan serdadu Jepang di Singapura.

Sedangkan, aksi pembantaian di Thailand dan Vietnam lebih disebabkan konflik politik. Pemberontakan sekelompok Cina di Thailand memberikan legitimasi bagi Raja III melakukan pembantaian untuk menekan populasi Hoakiao. Di Vietnam, keterlibatan etnis Cina dalam politik—dengan memihak ke salah satu penguasa saat itu—memancing penguasa lainnya merasa perlu melakukan pembantaian untuk melemahkan posisi lawannya. Perang Dunia II dan persaingan ideologis yang mewarnai Asia Tenggara sepanjang pertengahan abad ke-20, turut memicu pembantaian etnis Tionghoa. Inggris mempersenjatai kelompok komunis Cina untuk melawan Jepang di Malaysia dan Singapura. Tindakan serupa juga dilakukan AS dengan mempersenjatai Hukbong Bayan Lapan sa Hapon (Hukbalahap)—pasukan rakyat antiJepang yang berideologi komunis—sebelum Jenderal Douglas McArthur meninggalkan Filipina. Komunis di Singapura dan Malaysia serta Hukbalahap di Filipina melancarkan perang gerilya selama pendudukan Jepang. Setelah Jepang hengkang, Inggris memerangi pasukan Cina komunis yang dibentuknya. AS juga melakukan hal serupa di Filipina. Spanyol, Belanda, Inggris, dan AS tidak sendirian melakukan pembantaian terhadap Tionghoa. Mereka memprovokasi pribumi. Pemukim dan prajurit Spanyol yang berjumlah sekian ribu tidak mungkin menghadapi puluhan ribu pendatang Cina. Di Batavia, Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier memprovokasi para kelasi kapal-kapal asing yang sedang berlabuh, penduduk setempat, dan pribumi dari luar benteng untuk bersama melakukan pembantaian terhadap Tionghoa. Ia harus melakukan cara ini karena tidak mungkin kekuatan pasukannya sanggup menghadapi belasan ribu penduduk Cina di dalam kota. Di Sarawak, Raja Brooke menggunakan pasukan Dayak untuk mengalahkan Liu Shanbang. Orde Baru menggunakan Dayak untuk menghancurkan PGRS/Paraku yang didominasi etnis Cina dan memburu sisa-sisa PKI. Ketika perang berlangsung, hampir semua etnis di Kalimantan Barat menjadi sasaran pembunuhan Lasykar Pangsuma—milisi Dayak bentukan Oevaang Oeray. Jamie S Davidson dan Douglas Kammen, dalam Indonesia Unkhown War and Lineages of Violence in West Kalimantan, menulis pembantaian ini juga dipicu motif ekonomi, yaitu pembangunan zona ekonomi Anjungan–Mandor–Menjalin, dengan Dayak sebagai etnis dominan di dalamnya. Di Malaysia, populasi Cina yang signifikan membuat Melayu kesulitan membentuk pemerintahan dominan. Di Kuala Lumpur dan Selangor, partai Cina memenangkan pemilihan umum 1969. Kerusuhan etnis tak terhindarkan. Meski tidak sehebat di Asia Tenggara, AS juga punya sejarah pembantaian etnis Cina. Bahkan, masyarakat kulit putih AS sempat dihinggapi ketakutan akan Bahaya Kuning yang memicu penyerangan terhadap warga bertaucang sepanjang 1890-an. ■

1792 - CHOLON, VIETNAM (HO CHI MINH CITY) Sebanyak 10 ribu orang Cina dibantai saat Gerakan Tay Son mengambil alih Cholon dari kekuasaan Nguyen Anh dan memproklamasikan diri sebagai penguasa baru wilayah selatan Vietnam. Catatan Nguyen menyebutkan, seorang pembantu dekat Nguyen Nhac dibunuh oleh pasukan Nguyen Anh yang kebetulan berasal dari etnis Cina. Nhac marah dan melakukan aksi balas dendam dengan membunuh etnis Cina—anak-anak dan wanita. Spekulasi yang beredar menyebutkan, tindakan itu bertujuan menghancurkan monopoli dagang etnis Cina.

1823 – KALIMANTAN BARAT Sekitar 10 ribu sampai 20 ribu Cina terbunuh ketika penambang Hakka menolak meninggalkan wilayah konsesi pertambangan emas. Para sultan secara sepihak menjual semua wilayah konsesi pertambangan yang dikelola orangorang Hakka ke Belanda.

1824-1851 RAJA RAMA III - THAILAND Sekelompok pemberontak Cina merebut dan menjarah Kota Chachengsao. Penduduk mayoritas Siam meninggalkan kota. Pemerintahan Raja Rama III merespons dengan mengirim pasukan untuk mengambil alih kota. Setelah terjadi beberapa pertempuran, sejumlah pemimpin pemberontak membelot dan memimpin pasukannya mengejar pentolan pemberontak lainnya. Sisa pemberontak melarikan diri dari kota dan terkepung. Penduduk asli Siam kembali dan melakukan aksi balas dendam; membunuh semua etnis Cina yang dijumpai di kota itu. Banyak etnis Cina melarikan diri dengan menyamar sebagai biksu, tapi gagal. Banyak yang gantung diri untuk menghindari penyiksaan sampai mati.

1946 - MALAYSIA Penarikan pasukan Jepang menimbulkan kevakuman kekuasaan di Malaysia. Malayan People’s Anti-Japanese Army (MPAJA)—kelompok perlawanan yang didominasi etnis Cina keluar dari hutan dan menyebut diri sebagai wakil sekutu yang memenangkan perang. Mereka mengaku, mendapat restu dari Inggris untuk memasuki kota dan desa dan memulihkan kekuasaan dan menerapkan undang-undang sebelum kedatangan kembali Inggris. Yang terjadi adalah aksi balas dendam terhadap kolaborator Jepang dan personel polisi yang kebanyakan orang Melayu. Jepang menganakemaskan Melayu dan menyingkirkan Cina. Konflik terpolarisasi antara Cina dan Melayu. Orang Melayu, di bawah pimpinan Kiai Saleh, membentuk Red Band dan mengobarkan perang sabil. Sisa tentara Jepang, yang marah oleh aktivitas MPAJA selama pendudukan, bergabung dengan orang Melayu di Batu Pahat— kawasan negara bagian Johor. Mereka membersihkan kota dari elemen Cina. Pertempuran meluas ke seluruh semenanjung Malaya. Kontak senjata terhebat berlangsung di utara negara bagian Johor dan Perak. Ribuan orang dari kedua pihak tewas dalam pertempuran ini, tapi seluruh kawasan berhasil dibebaskan dari pemukim Cina. Sisa-sisa MPAJA melarikan diri ke kota-kota besar. Sekilas tentang MPAJA, tahun 1941, Inggris membentuk Oriental Mission di Singapura untuk merencanakan dan mengoperasikan aktivitas subversif di wilayah yang akan diduduki Jepang. Inggris melatih 13 ribu penduduk Cina. Ketika Jepang datang, pasukan terlatih ini masuk hutan dan melancarkan perang gerilya. Tahun 1943, kelompok ini menyebut diri MPAJA dan mengadopsi ideologi komunis. Setelah Inggris datang, MPAJA masuk hutan lagi dan melancarkan perang gerilya melawan sang tuan.

1948 - BATANG KALI, MALAYSIA Sebanyak 14 tentara Inggris yang mencari gerilyawan komunis memasuki Batang Kali, desa yang didominasi etnis Cina. Mereka menembak seorang pria tak bersenjata dan membakar desa.

1857 - SARAWAK, KALIMANTAN UTARA Liu Shanbang, pemimpin masyarakat Hakka, mengerahkan 600 penambang bersenjata dari Bau Lama menyerang Kuching, Ibu Kota Sarawak, pada 18 Februari 1857. Ia berhasil menguasai Kuching, tapi gagal membunuh James Brooke—penguasa Sarawak yang biasa disebut Raja Brooke. Shanbang menjadi Rajah of Sarawak, tapi hanya lima hari, yaitu dari 19 sampai 23 Februari. Tuan Muda Charles Brooke, anak James Brooke, mengerahkan kekuatan Dayaknya dari divisi kedua untuk memulihkan kekuasaan. Liu Shanbang mundur. Charles Brooke memerintahkan pengejaran. Liu Shanbang terbunuh di Jugan pada 24 Februari. Seluruh keluarga dan orang-orangnya juga dibunuh atau mati lemas di kawasan Mau San dan Goa Hantu. Lainnya melarikan diri ke wilayah Hindia-Belanda.

1965-1966 - INDONESIA Lebih 500 ribu orang tewas dalam kekerasan antikomunis. Ribuan dari mereka adalah etnis Cina setempat dan lainnya yang tergabung ke dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) hanya karena tertarik dengan program partai. Banyak korban tak berdosa dalam kekerasan ini.

1969 - KUALA LUMPUR, MALAYSIA Kelompok politik Cina memenangkan pemilu di daerah pemilihan Selangor dan Kuala Lumpur yang mengakibatkan sulitnya membentuk pemerintahan negara bagian dengan dominasi Melayu. Koalisi partai-partai Melayu juga gagal menguasai dua pertiga kursi di parlemen yang biasa memicu terjadinya perubahan konstitusi tanpa referendum. Kerusuhan etnis tak terhindarkan. Korbannnya adalah 1500 sampai 2.000 etnis Cina.

1871 - LOS ANGELES, CALIFORNIA, AS Seorang pekerja Cina tanpa sengaja membunuh penduduk kulit putih. Warga kulit putih Los Angeles mengamuk dan membantai 19 orang Cina.

1877 - CHICO, CALIFORNIA, AS Kerusuhan anti-Cina.

1885 - ROCK SPRINGS, WYOMING, AS Kerusuhan anti-Cina.

1998 - JAKARTA, INDONESIA Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak 1997 berubah menjadi krisis multidimensi. Presiden Soeharto gagal mengendalikan keadaan yang berakibat pada aksi kerusuhan pada Mei 1998 di sejumlah kota. Ribuan rumah dan toko milik etnis Tionghoa menjadi sasaran penjarahan dan pembakaran. Terjadi eksodus etnis Tionghoa besar-besaran, yang bertahan mempersenjatai diri untuk melawan. ■


Teraju

REPUBLIKA SENIN, 10 OKTOBER 2011

25

FOTO-FOTO CINAHISTORYFORUM.COM

&

Oleh Teguh Setiawan

K

etika Jan Pieterzoon Coen memutuskan membangun kota baru di atas puing-puing Jayakarta, gubernur jenderal VOC itu merayu Sou Beng Kong— pemimpin komunitas Cina di Banten – untuk pindah dan membawa semua keluarga dan kerabatnya. Coen memukimkan mereka di Batavia, berbaur dengan penduduk Belanda. Tidak cukup hanya mengambil orang-orang Sou Beng Kong, Coen memerintahkan penculikan terhadap orang-orang di desa-desa pantai Cina, memaksa pemukim Tionghoa di sepanjang pantai utara Jawa untuk pindah dan memanjakan mereka dengan berbagai fasilitas. Masih belum cukup, Coen meminta Sou Beng Kong mengarahkan jung-jung dari Tiongkok yang membawa pekerja migran merapat di Batavia. Sebuah kota baru, dengan komunitas Cina sedemikian besar di dalamnya, muncul. Pedagang Cina meramaikan pelabuhan. Kontraktor mendapat pekerjaan membuat kanal dan gedung-gedung, yang seluruhnya dikerjakan buruh migran asal Tiongkok. Penduduk Cina lainnya mendirikan percetakan dan pembakaran batu bata dan genteng tak jauh dari kota. Seluruh biaya pembangunan puri ditanggung Belanda, sedangkan beban pembangunan benteng kota sepenuhnya diserahkan ke orang Cina. Caranya, dengan membayar pajak dan bekerja. Jika pembayaran pajak jauh lebih besar, orang Cina dibebaskan dari pekerjaan pembangunan. Tidak hanya benteng kota, orang Cina juga membayar pajak untuk pembuatan gedung balai kota jauh lebih banyak dari penduduk lainnya. Semula, Coen didesak mendatangkan Burgher Belanda. Burgher adalah kelompok etnis minoritas Eurasia yang berasal dari Sri Lanka. Mereka lahir dari rahim wanita-wanita lokal yang menikah dengan orang-orang Eropa; kebanyakan Portugis, Belanda, Inggris, Jerman. Ada pula Burgher Swedia dan Norwegia. Informasi lain menyebutkan, Coen enggan mendatangkan banyak Burgher Belanda ke koloni barunya. Para Burgher cenderung akan kembali ke tempat asalnya setelah menjadi kaya raya. Mereka bukan pemukim. Kalaupun mereka menikah dengan wanita lokal dan memiliki anak, kelak mereka akan pulang ke kampung halamannya dengan membawa keluarga. Leonard Blusse mengatakan, Coen le-

bih menyukai orang Cina. Imigran Cina lebih bisa diandalkan karena terkenal sebagai pekerja yang rajin dan ulet, serta pedagang yang cerdik. Lebih dari itu, orang Cina lebih mudah dikendalikan. Bagaimana dengan lelaki Belanda, terutama prajurit, yang kali pertama datang dan bermukim. Heren XVII mengusulkan agar dikirim wanita-wanita dari rumah-rumah yatim piatu. Diharapkan, kelak, mereka yang akan menjadi istri-istri lelaki Belanda di Batavia. Pejabat VOC di Batavia tidak setuju. Heren XVII, dewan tertinggi VOC, tetap pada keputusannya. Mereka ingin menjadikan Batavia sebagai koloni Belanda. Artinya, penduduk Belanda harus menjadi bagian terbesar, bukan Cina atau etnis lainnya. Kedatangan para wanita itu disambut ratusan lelaki Belanda di pelabuhan. Mereka, para lelaki Belanda itu, tak ubahnya serigala lapar yang siap menerkam tatkala melihat wanitawanita itu turun dari kapal. Heren XVII mengamati semua itu. Sesuatu terjadi. Seorang wanita muda yang bekerja di rumah Coen diperkosa seorang tentara. Pejabat VOC segera mengambil keputusan. Heren XVII juga memperbaiki keputusannya dengan menginstruksikan para serdadu Belanda menikahi penduduk lokal. Coen tidak melakukan segregasi etnis dengan memisahkan pemukim Belanda dan Cina di dalam kota. Ia lebih suka semua etnis berbaur meski setiap kelompok etnis menjalankan sistem hukum masing-masing. Coen tidak menggunakan cara yang dilakukan Spanyol saat membangun Manila, Ibu Kota Filipina saat ini. Miguel Lopez de Legazpi membangun Manila tidak ubahnya kota benteng (intramuros), tanpa orang asing di dalamnya. Jelasnya, intramuros hanya dihuni sekitar seribu orang Spanyol. Di sekelilingnya adalah perkampungan orang Cina yang disebut Parian. Di Batavia, Coen juga membangun puri—atau rumah benteng—tapi hanya sebagai markas besar tentara. Pemukim Belanda yang bukan tentara berbaur dengan orang-orang Cina. Mereka hidup bertetangga dan saling berniaga. Model yang dikembangkan Coen mungkin lebih menarik meski agak aneh. Setidaknya, VOC dapat dengan mudah menarik pajak dan mengontrol perdagangan yang dilakukan orangorang Cina agar tidak ada penyelewengan dalam setiap transaksi. Di Manila, segregasi menciptakan ketegangan antara penduduk Spanyol dan Cina sejak awal pembentukan kota itu.

Di Manila, politik segregasi berujung pada pembantaian berulang-ulang. Di Batavia, pembantaian 1740 membuat VOC merasa perlu menerapkan politik segregasi.

Pembantaian Tondo Hanya 30 tahun setelah pembangunan Manila, politik segregasi Spanyol memperlihatkan dampak buruknya. Pemukim di Parian terus membengkak, sedangkan program kristenisasi terhadap Sangley—demikian orang Spanyol menyebut orang Cina—tidak berjalan baik. Saat itu, Sangley yang dikristenkan akan ditempatkan di Tondo dan Spanyol mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin. Namun, ketika Parian membengkak, sulit bagi misionaris Katolik menambah jumlah konvertis di Tondo. Tidak ada jaminan Sangley yang telah memeluk Katolik akan taat kepada kolonialis Spanyol. Ini terlihat ketika pemukim Parian yang beragama Katolik menolak permintaan Spanyol untuk memasuki kota, sedangkan di Tondo, saat keadaan mulai memanas, Juan Bautista de Vera—Sangley yang telah menjadi Katolik dan diangkat sebagai pemimpin permukiman itu— mempersiapkan perang. Spanyol juga tidak benar-benar mempercayai Sangley yang telah menjadi Katolik. Ketika De Vera melaporkan situasi yang sedang terjadi di Parian dan Tondo, gubernur jenderal Spanyol saat itu menjebloskannya ke penjara. Pedro de Acuña, gubernur jenderal Spanyol saat itu, yakin De Vera bersekongkol dengan para pemberontak. Secara militer, tindakan Acuna sama sekali tidak keliru. Di sisi lain, ketika De Vera tak kembali, orang Cina mulai meragukan kesetiaan Sangley Katolik. Mereka akhirnya membunuh Juan Untae—anak baptis De Vera yang sempat ditunjuk sebagai pemimpin di Tondo— untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya pengkhianatan. Sangley Katolik menjadi serba salah. Mereka dianggap pengkhianat oleh Spanyol dan Cina, serta menjadi sasaran pembantaian kedua kubu yang bertikai. Spanyol meminta bantuan korps pasukan Jepang. Cina hampir tanpa sekutu. Mereka menang jumlah, tapi minim persenjataan. Mulai 8 sampai 20 Oktober 1603, Spanyol—dengan bantuan penduduk setempat dan Jepang—memburu orang-orang Cina yang lari ke pedalaman Luzon. Mereka membunuh semua orang Cina yang ditemui. Yang selamat dari pembantaian akan mati kelaparan di dalam hutan, sedangkan De Vera dihukum mati. Sejumlah sumber menyebutkan, 20 ribu orang tewas dalam peristiwa ini. Lainnya memperkirakan, jumlah yang tewas mencapai 25 ribu. Sumber-sumber Cina menyebutkan, korban tewas

di Gunung Tallun, pertahanan terakhir Sangley, mencapai 10 ribu. Ribuan lainnya, terutama yang lari ke lembah, mati kelaparan. Saat peristiwa ini berlangsung, Dinasti Ming sedang menikmati pemerintahan stabil. Anehnya, tidak ada respons diplomatik apa pun. Bahkan, kurang enam bulan setelah peristiwa itu, 13 kapal besar Cina tiba di Manila dan kembali berdagang. Spanyol melakukannya lagi tahun 1639, 1662, 1686, 1762, dan 1819. Namun, dibanding peristiwa 1603, lima peristiwa berikutnya dipicu perasaan iri terhadap kemakmuran yang diciptakan masyarakat Cina lewat perdagangan. Pemicu lainnya adalah kekhawatiran masyarakat Cina akan menggusur minoritas Spanyol yang berkuasa.

Kemesraan yang janggal Di Batavia, kemesraan yang janggal antara Belanda dan Cina berlangsung selama lebih 120 tahun. Selama periode itu, petinggi-petinggi VOC seolah berbagi kemakmuran secara adil. Orangorang Cina menikmati kebebasan berdagang, pejabat VOC menarik berbagai pajak dari pemukim Tionghoa. Politik nonsegregasi tidak memperlihatkan dampak buruknya selama lebih satu abad, sampai akhirnya terjadi pemisahan penduduk secara alami yang diakibatkan oleh booming gula dan pembukaan lahan perkebunan tebu di luar kota. Penyebab lain segregasi alami adalah banjir pendatang baru dari Cina. Belanda memukimkan pekerja di kawasan perkebunan. Seiring banyaknya pembukaan lahan baru, kian banyak pula buruh Cina yang harus dimukimkan sedemikian jauh dari kota. Akibatnya, kekuasaan VOC tak mampu menjangkau mereka. Di sisi lain, para buruh amat bergantung pada kegiatan bisnis gula di Batavia yang berfluktuasi. Buruh, perlahan tapi pasti, menjadi kaum proletar, mereka yang hanya punya anak cucu kurang makan. Di sisi lain, para penguasa VOC dan majikan Tionghoa mereka di dalam kota masih menikmati kemakmuran dan rasa aman. Tidak ada jalan lain bagi para buruh selain memberontak dan berupaya mengambil kemakmuran yang dinikmati masyarakat di dalam benteng. Peristiwa Oktober 1740 pun terjadi. VOC, dengan keunggulan senjata dan kekuatan dana untuk membeli prajurit bayaran, berupaya mempertahankan kota. Situasi menjadi pelik ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa di dalam kota terdapat 5.000 lebih penduduk Cina. Tidak ada jaminan penduduk di

dalam kota, yang relatif masih berada di bawah kendali Kapten Nie Hoe Kong dan enam letnannya, tidak membokong dari belakang saat prajurit VOC menahan gempuran pasukan buruh di luar benteng. Menariknya lagi, VOC tahu serangan ke kastil Batavia diorganisasi di salah satu perkebunan milik Nie Hoe Kong. Fakta lain, sebelum penyerbuan, pemimpin pemberontak di Ommelanden—kawasan selatan Batavia— mengirim surat ke Pemerintah VOC. Isinya, mereka yakin penduduk Cina di dalam kota akan membantu upaya mereka menduduki kota. VOC tampaknya tidak ingin mengambil risiko dibokong dari belakang. Ketika serangan malam 8 Oktober mereda, mereka berbalik membantai penduduk Cina di dalam kota. Nie Hoe Kong meloloskan diri dengan sejumlah pendekar kungfu. Pembantaian menjadi tidak terkendali dan berlangsung sampai keesokan hari. Setidaknya sampai 99 persen penduduk Cina terbunuh. Asumsi VOC bahwa mereka khawatir dibokong dari belakang ternyata berlebihan sebab saat itu, tidak ada penduduk Cina—saat serangan berlangsung—mempersenjatai diri, apalagi mengorganisasi diri untuk melakukan perlawanan dari dalam. Yang menarik adalah setelah kerusuhan mereda, VOC menerapkan politik segregasi etnis. Orang Cina dikeluarkan dari kota dan dimukimkan di sekitar Glodok. VOC, belakangan Pemerintah Hindia-Belanda melakukan hal serupa, tetap mengistimewakan Cina dibanding etnis lain. Politik segregasi ini bertahan sampai 150 tahun. Tidak hanya itu, segregasi memungkinkan tidak terjadinya kolaborasi antaretnis yang bisa mengancam kelangsungan kekuasaan Belanda di Batavia. Di Manila, politik segregasi hilang dengan sendirinya ketika terbentuk masyarakat campuran, Spanyol dan Cina (mestizo de sangley), yang mantap beberapa tahun setelah Kerusuhan 1819. Bersamaan dengan itu, kristenisasi di kalangan etnis Cina di Manila relatif sukses. Batavia dan Manila adalah cerminan kota metropolitan yang dibangun kolonial dengan perjalanan sejarahnya yang berlumur darah. Kedua kota ini dibangun oleh visi kolonial yang berbeda; Spanyol yang datang dengan semangat gold, glory, and gospel, dan VOC yang sekadar ingin berdagang, membanjiri pasar Eropa dengan produk tertentu dan menciptakan kemakmuran bagi setiap individu. ■


Teraju - Republika, 10 Oktober 2011