Issuu on Google+

REPUBLIKA

SENIN, 23 APRIL 2012

27

Wahyu Putro A/Antara

Sebelum ada sajak dan tulisan Chairil, bahasa Indonesia itu indah, lemah lembut, namun kurang bertenaga.

Chairil Anwar

LEGENDA PENYAIR BESAR ■ Oleh Muhammad Subarkah

R

ambutnya agak kepirangan, selalu jatuh membuyar ke pelipis kanan, dan selalu dibe nahi dengan cepat dan gesit. Putih matanya yang selalu kemerah-merahan dihi dupi oleh biji mata cokelat muda yang bening. Selalu sayu melihat arah yang kejauhan, tetapi selalu gesit dan cemerlang, disertai gerakgerik kenakalan.“Tidak sejenak pun dia bisa diam, semua pada dirinya bergerak. Chairil bagi teman-temannya memang dikenal ‘gawat’, tetapi dia disa yangi semua teman-temannya itu,” begitulah cerita mendiang sastrawan, Nasyah Djamin, dalam buku berjudul Hari-Hari Akhir Chairil Anwar yang ditulisnya pada dekade awal 1950an. Buku tentang sosok penyair kelahiran Medan, 26 Juli 1922, dan meninggal di Jakarta, pada 28 April 1949, kini tersimpan di pusat dokumentasi sastra karib Chairil, HB Jassin. Nasyah dalam bukunya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum pada sosok Chairil. Sekilas dia memang bisa disebut arogan, angkuh, atau semau gue. Meski begitu, dia tetap disayang banyak orang karena pintar dan ganteng. Bahkan, meski banyak meledek dan memarahi teman, tak ada satu pun yang membencinya. Chairil seolah dimaklumi!Salah satunya adalah cara dia meledek penyair Idrus, pelopor prosa angkatan 1945 yang saat itu selalu rapi. Dia saat itu memperolok nama Idrus yang katanya tak tepat jadi sastrawan atau penyair. “Idrus, hai Idrus, pantasnya kau ini seorang kusir. Namamu itu nama kusir.” Setelah itu, dia melanjutkan kata-katanya, “Chairil Anwar! Begitu mestinya nama. Nama penyair. Nama yang besar!”Tidak hanya suka meledek nama kawan-kawannya, tapi ia juga punya ulah ‘gila’ lainnya. Berbeda dengan masa sekarang di mana banyak sekali ‘penyair kamar’ (penyair yang hanya suka membaca sajaknya di kamar-

nya), Chairil ternyata penyair ‘auditorium’ (penyair yang suka membacakan sajaknya di muka umum kepada khalayak). Chairil setiap kali seusai menulis sajak pasti membacakannya di depan teman-temannya. Chairil bukan tipe ‘penyair alien’ atau menyendiri menulis sajak sembari garuk-garuk bantal dan berpegangan pada tempat tidur. Malahan Chairil suka membacakan sajak dan ulasannya di corong radio RRI Jakarta. Nasyah menuliskan kisah mengenai cara Chairil memperkenalkan sajaknya. Ini dilakukan setelah dia menuliskan sajak heroik, “Persetujuan dengan Bung Karno”. Kali ini yang diledek juga sahabatnya, Idrus. “... Hei, Idrus. Dengar! Kau mau dengar apa tidak! Aku punya sajak baru. Sajakku yang paling hebat…. Dengar!” teriak Chairil. Nah, karena terdengar teriakan dan perintah Chairil yang lantang, semua rekan yang berada di dekat mereka lalu memandang ke arahnya sembari mengulum senyum. Kini, perhatiannya terpusat pada Chairil yang siap beraksi. Semua ingin tahu sajak apa yang akan dideklamasikannya.“Setelah itu, Chairil membaca sajaknya. Semuanya hening sewaktu dia membaca. Dan, tiba-tiba saja semua bertepuk tangan, seperti tersadar dari pesona. Dan, Chairil memandangnya dengan angkuh dan bangga,” kata Nasyah Jamin. ●●● Memang meski meninggal dalam usia sangat muda, yakni 27 tahun, dan masa produktifnya menulis sajak hanya berlangsung sembilan tahun, Chairil kini sudah menjadi legenda sebagai pelopor sastra Indonesia modern. Berkat Chairil cara orang Indonesia dalam berbahasa berubah, tak lagi mendayu-dayu dan terkesan kuno sehingga cocok untuk menyampaikan pikiran bernas dengan berlatar ilmu pengetahuan. Melalui semangat keakuannya, Chairil mampu menyodorkan jalan baru bahwa selayaknya bangsa yang merdeka, setiap individu rakyat Indonesia, bebas

untuk menyatakan sosok pribadinya.Mendiang penyair besar Indonesia lainnya, WS Rendra, menyatakan rasa hormatnya yang begitu dalam pada Chairil Anwar. Rendra dalam pengantar buku Aku yang merupakan buku skenario film Chairil Anwar yang ditulis Sjuman Djaya menyatakan kagum pada kemampuannya mempergunakan bahasa yang sangat dekat dengan percakapan sehari-hari.“Untuk masyarakat kita yang suka basa-basi dan ungkapan tata rias, ungkapan Chairil Anwar mengandung obat kesegaran yang mendekatkan kita kepada aktualitas kehidupan dan kristal perenungan yang jernih dari batin dan pikiran sang penyair,” kata Rendra. Menurut Rendra, sebetulnya Chairil memulai kariernya pada masa penjajahan Jepang yang sumpek dan penuh tekanan. Tetapi, ia bisa meng atasi kesulitan-kesulitan hidup pada saat itu dan menciptakan lingkungan kreatifnya sendiri. Inilah nilai kehadiran kesenian dan kepribadian Chairil di dalam arena kebudayaan bangsa.Rendra menegaskan, panorama dunia seni sastra Indonesia segera berubah setelah Chairil Anwar hadir dalam karya-karyanya. Ia telah membuka kesadaran pada seniman sezamannya dan sesudah zamannya. Orang boleh suka atau tidak suka kepadanya, tetapi terbukti harus diakui bahwa ia adalah salah satu dinamisator bagi kehidupan kebudayaan bangsanya.“Sosok sepert Rosihan Anwar (wartawan), Subadio (politikus), Sudjojono (pelukis), Baharuddin (pelukis dan redaktur), Takdir Alisjahbana (sastrawan, ahli bahasa, redaktur, dan akademikus), Prof Resink (ahli hukum, sastrawan, dan akademikus), dan masih banyak tokoh lain lagi yang sezaman dengan Chairil, semua memberikan kesaksian terhadap peran sang penyair sebagai ilham zamannya,” tegas Rendra.Senada dengan Rendra, penyair terkemuka, Taufik Ismail, juga memberikan rasa hormat yang tulus kepada Chairil Anwar. Menurut dia, jasa Chairil di dalam dunia sastra Indonesia adalah memberikan gaya ekspresi yang dinamis. Bahasa Indo-

nesia tidak lagi mendayu dan kurang bertenaga.“Sebelum ada sajak dan tulisan Chairil, bahasa Indonesia itu indah, lemah lembut, namun kurang bertenaga. Nah, ketika karya Chairil hadir, bahasa Indonesia kemudian berubah menjadi bahasa yang penuh vitalitas dan dinamis. Puisi menjadi sangat bertenaga. Dan, ekspresi yang sama ini juga ditampilkan Chairil pada berbagai tulisan esainya. Jadi, jasa dia memang besar,” kata Taufik.Memang, kata Taufik, dalam beberapa sajak Chairil, “Karawang-Bekasi”, misalnya, terpengaruh sajak penyair Archibald Mclish. “Namun, kita tak bisa bilang Chairil Anwar itu penyadur sebab selain sajak itu, dia juga punya banyak sajak lain yang kuat. Kalau terpengaruh itu bisa saja. Apalagi, dia adalah pembaca buku yang hebat,” katanya.Bila disandingkan, sosok Chairil setara dengan penyair nomor wahid Amerika Serikat, Walt Withman. Uniknya, sosok keduanya adalah sama, yakni sama-sama sebagai orang yang tak berpendidikan tinggi, tapi punya pengetahuan luas karena ‘gila’ membaca. “Chairil dan Withman sama, keduanya hanya sekolah sampai tingkat menengah. Tapi, karya mereka luar biasa. Kalau Withman meng uasai bahasa Inggris dengan sede mikian bagusnya, Chairil pun begitu, mampu menguasai bahasa Indonesia dengan begitu sempurna,” tandas Taufik. ● ● ● Namun, memang di kalangan sastrawan Indonesia dahulu, sajak Chairil Anwar sempat tidak disukai. Ada yang menyatakan sajak Chairil tidak orisinal karena mencuri ide dari penyair lain, misalnya, dalam sajak “Karawang-Bekasi” atau sajak “Cintaku Jauh di Pulau” yang terpengaruh penyair Spanyol, Federico Garcia Lorca, atau sajak “Datang Dara Hilang Dara” yang terpengaruh sajak Cina.Polemik soal sajak Chairil semakin ramai ketika sekelompok sastrawan yang pada dekade 1960an lalu berafiliasi ‘kekiri-kirian’ de-

ngan terbuka menyatakan tak suka pada puisinya. Menurut mereka, cara berpikir Chairil yang tidak mau terikat politik, individualis, serta ingin menjadikan dirinya sebagai manusia bebas adalah penghalang bagi revolusi bangsa. Ketidaksukaan ini se makin lengkap karena ada kalimat di dalam puisi Chairil yang menye rukan agar menjaga Bung Hatta dan Syahrir (Sajak Krawang Bekasi), yang saat itu menjadi ‘musuh besar’ politiknya. Namun, tudingan itu ditolak keras oleh Prof Dr A Johns, ketua Souheast Asian Studies Australian National University Canberra. Pada sebuah seminar di Fakultas Sastra UGM pada 1983, dia mengatakan, puisi-puisi Chairil tidak terdapat puisi-puisi yang ‘dicurinya’ begitu saja. “Ia hanya meminjam dari karyakarya puisi yang ia kagumi dan dianggap bagus,” katanya.Peminjaman ini, kata Prof Johns, adalah hal yang wajar. “Apalagi, patut diketahui, tidak ada penyair yang lahir tanpa pengaruh penyair sebelumnya.” Menurutnya, pengarang besar seperti Shakespeare pun banyak terpengaruh karya pengarang-penga rang drama sebelumnya. Dari karyakarya dramanya banyak sekali terlihat adanya peminjaman itu.“Jadi, peminjaman tidak hanya dilakukan oleh Chairil Anwar saja,” katanya. Lebih lanjut, diungkapkan dari puluhan karya Chairil Anwar, banyak karyanya yang indah dan memesona. Memang, beberapa puisinya mirip dengan karya-karya penyair Marsman atau Slauerhoff. Bahkan, puisi Chairil “Karawang-Bekasi” sangat mirip dengan puisi “Soldjier” karya penyair Inggris. “Namun, puisi Chairil lebih indah dan kompleks,” tandasnya. Alhasil, seperti dikatakan penyair puisi liris terbaik Indonesia, Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar adalah seorang penyair, yakni orang yang urusannya memperhatikan kata, yang memberi gaya baru kepada bahasa Indonesia. Bahkan, bila hasil karya penyair sezaman atau bahkan pendahulunya hanya menjadi sejarah, puisi Chairil Anwar tetap menjadi masa depan penyair Indonesia! ■


28

REPUBLIKA

SENIN, 23 APRIL 2012

Wikipedia

Derai Derai Cemara cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah 1949

Doa Kepada Pemeluk Teguh

Cintaku Jatuh Dipulau

Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namamu

Cintaku jauh di pulau, gadis manis, sekarang iseng sendiri

Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh

Perahu melancar, bulan memancar, di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar. angin membantu, laut terang, tapi terasa aku tidak ‘kan sampai padanya.

cahyaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Di air yang tenang, di angin mendayu, di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertakhta, sambil berkata: “Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Tuhanku

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh! Perahu yang bersama ‘kan merapuh! Mengapa Ajal memanggil dulu Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Tuhanku

aku hilang bentuk remuk

aku mengembara di negeri asing Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling

Manisku jauh di pulau, kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

13 November 1943

1946

Sengat Sajak

1.000 TAHUN ■ Oleh Muhammad Subarkah

Meski terkesan amat tabah dan angkuh, tetapi Chairil tidak pernah menyesali hidup yang sudah ditempuhnya. Bahkan, sampai meninggal pada 27 April 1949, dia tetap yakin akan pilihan hidupnya.

M

eski namanya sudah menjadi legenda sekaligus fondasi sastra Indonesia modern, publik belum banyak tahu mengenai sosok Chairil Anwar yang dilahirkan di Medan itu. Untuk menuliskan kembali mengenai sejarah hidupnya pun kini sudah menjadi hal yang sulit. Apalagi, kebanyakan teman-teman atau generasi yang sebaya serta mengenal dia hampir semuanya sudah meninggal dunia. Sri Ayati, gadis yang “dibuatkan” sajaknya, “Senja Pelabuhan Kecil”, beberapa bulan silam pun sudah wafat.Namun, untuk mengorek kebali sosok Chairil, beruntung ada buku yang ditulis cendekiawan Arief Budiman yang berjudul Pertemuan (diterbitan Pustak Jaya, 1976). Buku yang dulu merupakan karya skripsi Arief ketika kuliah di Universitas Indonesia banyak sekali menginformasikan tentang sosok Chairil sekaligus tinjuan sisi psikologis dari sang penyair ini ketika menuliskan sajaksajaknya yang kini menjadi legendaris itu. “Dia (Chairil) mulai dikenal terutama ketika dia datang ke Jakarta dan menuliskan sajak-sajaknya. Tentang masa kanak-kanaknya, sedikit sekali diketahui orang,” tulis Arief dalam buku tersebut. Menurut Arief, mengutip hasil wawancara dengan salah seorang teman Chairil, Syamsul Ridwan, teka-teki mengenai kehidupan masa kanak-kanak Chairil dapat sedikit terlacak. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanak adalah pantang dikalahkan. “Pantang dikalahkan itulah kirakira kesimpulan yang saya dapat dari kehidupan masa kanak-kanak Chairil semenjak kecilnya hingga dia menginjak usia dewasa, baik pantang kalah dalam suatu persaingan maupun dalam hal mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, boleh dikatakan tidak pernah diam,” ujar Syamsul Ridwan ketika menceri-

takan mengenai masa kanak-kanak Chairil Anwar kepada Arief Budiman. Tentang kehidupan orang tua Chairil Anwar dan situasi rumah tangganya, Syamsul Ridwan menuliskan, “Dan yang menarik hati lagi, althans bagi kami yang mengenal kehidupan rumah tangga mereka ialah cara hidup kedua suami-istri yang penuh percederaan rumah tangga itu. Kadang-kadang kita bertanya-tanya dalam hati: bagaimanakah dua orang suami-istri (orang tua Chairil) dapat hidup sedemikian lamanya, bertahun-tahun dengan pertengkaran terus-menerus, boleh dikatakan tidak mengenal damai sejenak pun?”Bukan hanya itu, lanjut Syamsul Ridwan, keduanya sama-sama galak, samasama keras hati, sama-sama tidak mau mengalah. Seolah-olah pertemuan besi dan api yang menimbulkannya. Ia merah percikan api selalu. Di tengah-tengah api percederaan dan pertengkaran begitulah Chairil Anwar hidup dan dibesarkan. Dapatkah dirasakan, bagaimana pula peng aruh suasana kehidupan demikian terhadap jiwanya. Sedang, di samping itu, dia sangat dimanjakan pula. “Segala-galanya harus diadakan untuk Chairil. Motor-motoran kanakkanak, sepeda kanak-kanak, dan apa lagi permainan atau kegemaran anak-anak yang terbaik. Dan, dari segi makanan, bukanlah hal aneh untuk anak-anak menghabiskan seekor ayam goreng seorang diri saja,” kata Syamsul Ridwan. Begitu pula kalau Chairil berkelahi maka bapaknya selalu membenarkan Chairil. Kalau perlu, bapaknya juga ikut berkelahi. Memang, bapak Chairil juga mempunyai sifat “akulah yang benar!”. Bukan saja kepada orang lain, melainkan juga terhadap istrinya sendiri. Karena itulah, keadaan rumah tidak harmonis.Tentang kehidupan Chairi di luar rumah, Syamsul Ridwan menceritakan, “Kecuali di rumah, maka juga di luar rumah Chairil mendapatkan kedudukan yang boleh dikatakan istimewa pula. Sebab, sebagai anak yang tampan tentulah ia disayang dan

dimanjakan orang sekitarnya, di samping keengganan bapaknya yang mempunyai kedudukan cukup terpandang dalam lingkungan masyarakatnya.”Pendek kata, lanjut Syamsul Ridwan, Chairil merupakan kesayangan orang. Di sekolah juga ia menjadi kesayangan kebanyakan guru dan boleh dikatakan mendapat kedudukan istimewa di kalangan teman-temannya karena otaknya yang tajam dan cerdas serta dia anak yang lincah, terbuka, dan tidak mengenal takut dan malu.Dan, terutama di kalangan para gadis, Chairil digemari pula karena rupanya yang bagus, kulitnya yang putih, dan wajahnya yang menyerupai Belanda-Indo. Demikianlah seolah-olah dunia memanjakan dan menimang-nimangnya. Keuangan tidak pernah kurang, sepedanya termasuk golongan sepeda terbaik, sedang mempunyai sepeda saja saat itu adalah sebuah kebanggaan. ●●● Namun, semua kisah manis Chairil hanya berlangsung selama tinggal di Medan. Beberapa waktu kemudian, karena bapaknya menikah lagi, ibunya berpisah dengan bapaknya. Sejak saat itu, Chairil membenci bapaknya. Ia kemudian gelisah dan menginginkan suasana kehidupan lain. Ia telah lama mendengar tentang Batavia dan ingin pindah ke kota besar itu. Dan, sekali Chairil menginginkan sesuatu, sukarlah merintanginya. Demikianlah Chairil pindah ke Jakarta dengan maksud melanjutkan sekolahnya.Namun, ketika tinggal di Jakarta, gaya hidup Chairil tetap tak berubah seperti di Medan. Dia tetap bergaul dengan semua orang. Mula-mula meneruskan sekolahnya di MULO, tapi karena pengaruh Perang Dunia II ketika itu, sekolahnya sudah tidak teratur lagi. ia lebih banyak berfoya-foya daripada belajar.“Sedangkan di rumah, boleh dikatakan tidak ada lagi yang menghambat sebab satu-satunya pengawas di rumah, ibunya, tidak dapat berdaya apa-apa terhadap dirinya. Malah orang tua itu habis dirongrong perhiasannya untuk membelikan keperluannya, seperti setelan jas, ongkos mentraktir gadis, dan lainlain,” tulis Arief Budiman mengutip cerita Syamsul Ridwan.Luasnya pergaulan Chairil diakui Syamsul Ridwan. Menurut dia, hampir semua

orang dikenalnya. Sebab, walaupun dia angkuh dan merasa dirinya hebat, tetapi Chairil sama sekali tidak sombong. Dia mudah sekali berkenalan dengan siapa saja, laki-laki maupun perempuan. Chairil mudah bertegur dengan berbagai orang di mana saja. Ini tampaknya karena semenjak masa kanak-kanaknya Chairil sudah mempunyai rasa sosial yang tinggi. Satu hal lagi yang perlu dicatat ialah mengenai prestasi sekolahnya. Chairil Anwar menguasai bahasa Belanda dengan baik sekali ketika duduk di kelas MULO hingga menjadi kesayangan guru-guru, termasuk guru bahasa Belanda. Dia bergaul dengan anak-anak HIS tanpa rasa rendah diri. “Semua buku mereka aku sudah baca,” begitu kata Chairil ketika menunjukkan bahwa dirinya tak kalah dengan para murid sekolah HIS itu. Dan, memang seluruh bukubuku pelajaran yang abstrak, seperti sastra, sejarah, ekonomi, dan lainlain yang menjadi bacaan mereka sudah “dilahap” habis Chairil. Keluasaan pemikiran ini masuk akal karena Chairil memang gila baca. Ia makin beruntung mempunyai paman seorang intelektual dan pemimpin pergerakan kondang, Sutan Syahrir. Melalui dialah, kehausannya akan ilmu pengetahuan tercukupi. Chairil memang meminjam buku dari pamannya itu. “Menurut HB Jassin, kalau Chairil sudah membaca buku maka buku itu dibacanya dari malam sampai menjelang pagi. Beberapa bahasa yang dikuasainya menolong banyak sehingga buku-buku yang belum dibaca oleh teman-teman seniman lainnya, Chairil sudah tahu isinya,” tulis Arief lagi. ● ● ● Dari sisi psikologis, menurut Arief Budiman, Chairil memang orang yang tidak mau dikalahan. Tapi, bila dia sudah mendapati kenyataan bahwa dia dikalahkan maka dia menerima kenyataan itu dengan berani, tanpa dihinggapi dengan perasaan yang kompleks psikologis.Melalui cerita Syamsul Ridwan, misalnya, pada suatu kali dia mendapati Chairil yang dikalahkan oleh kadet-kadet di dalam mendapatkan gadis. Menghadapi kenyataan itu, Chairil dengan muka sangat biasa menyatakan, “Terpaksalah aku ting gal di belakang-belakang saja. Gadis itu tentu bergandengan tangan dengan kadet-kadet yang gagah itu.” Dan, Chairil menceritakannya tanpa perubahan air muka.Seorang teman kecil Chairil lainnya, S Soeharto, yang pada 1949 sempat sering ditumpangi menginap Chairil di sebuah rumah milik Miftah bin Haji Jassin di Jl Paseban 3 G, Jakarta, juga menceritakan hal yang sama. Menurut dia, Chairil tidak pernah menyesali hidup yang sudah ditempuhnya. Teman-teman yang dekat

dengannya ketika itu ialah HB Jassin, Rivai Apin, dan kakaknya, Nyonya Ani Halim.Sedangkan, saya merasa bahwa Chairil tidak menganggapnya sebagai teman dekatnya, meskipun dia telah mengenal Chairil sejak kecil dan Chairil selalu menumpang di rumahnya,” tutur Soeharto kepada Areif Budiman. Namun, pada saat yang sama, kesehatan Chairil memburuk karena dia terkena serangan penyakit tifus. Dia sering pusing-pusing, suka muntah-muntah, tampak menjadi malas, tidak mandi-mandi, dan tidur-tiduran saja. Meski begitu, dia masih berke ras untuk menulis sajak dan berusaha menerjemahkan sajak-sajak Walt Whitman. Soeharto yang sering diminta membantunya menerjemahkan sajak itu sering marah kepadanya. Dia mengatakan, terjemahan sajaknya buruk.“Dia marah-marah kepada saya dengan berkata, ‘Mengapa kau, orang yang dulu lebih pintar dari aku di sekolah, menerjemahkan sajak kata per kata seperti ini?’” katanya. Namun, menurut Soeharto, meski terkesan angkuh, yang pasti Chairil tidak pernah menyesali hidup yang sudah ditempuhnya. Bahkan, sampai dia meninggal pada 27 April 1949, dia tetap yakin akan pilihan hidupnya.Dan, benar saja, ketika Chairil meninggal, banyak orang yang menangis di pemakamannya. Dalam memoar Rosihan Anwar, “Belahan Jiwa”, diceritakan suasana pemakaman Chairil di pekuburan Karet, Jakarta. Para tokoh nasional, seperti Syahrir dan Natsir, pun ikut hadir.“Penyair Nuraini Jatim kelak menjadi istri Asrul Sani, tampak sedih di tepi liang lahat. Ida (istri Rosihan), Mien, dan Lily Syahrir menangisi Chairil. Mereka sayang sama Chairil, kendati ulah dan kelakuannya tidak lazim,” tulis Rosihan seraya mengatakan bahwa antara Ida dan Chairil berteman dekat. Selain itu, lanjut Rosihan,semasa hidup Chairil juga sangat suka membantu temannya yang tengah meng alami kesusahan, misalnya, dengan setia ikut mengantarkan rantang makanan untuk Usmal Ismail (Bapak Perfilman Indonesia) yang saat itu ditahan oleh polisi rahasia Belanda (PID Nica) di Penjara Cipinang, Jakarta. “Usmar saat itu dipenjara karena dicurigai sebagi mata-mata. Nah, Ida (istri Rosihan adalah ipar Usmar Ismail) sering kali naik kereta api listrik membawa rantang makanan untuk Usmar Ismail yang ditahan di Cipinang. Chairil Anwar dengan setia menemani Ida,” tulis Roshan Anwar. Ya, itulah jalan hidup Chairil yang terentang singkat meskipun dia ingin hidup panjang selama 1.000 tahun. Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri... Aku mau hidup seribu tahun lagi. ■


REPUBLIKA

29

SENIN, 23 APRIL 2012

Sejak melihat neneknya meninggal, Chairil sadar bahwa hidup adalah sesuatu yang pribadi dan absurd. Tetapi, dia berusaha mencari arti serta memecahkan misteri kehidupan ini.

S ayang beliau sudah meninggal. Tepatnya sekitar setahun silam,” kata wartawan senior Alwi Shahab ketika ditanya mengenai di mana salah seorang gadis pujaan Chairil Anwar yang disebut dalam puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”, Sri Ayati, kini berada. Alwi kemudian mengatakan, dahulu Ibu Sri tinggal di sekitar bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. “Saya beberapa tahun silam memang sempat bertemu untuk wawancara. Tapi, beberapa bulan lalu salah seorang putranya mengabarkan Ibu Sri sudah berpulang. Sayang ya tak bisa ke sana. Padahal, kalau beliau ada pasti dia akan semangat sekali bicara soal Chairil itu,” ujar Alwi. Bagi publik sastra, sajak “Senja di Pelabuhan Kecil” memang menjadi favorit. Ada perasaan cinta yang diungkapkan secara terbuka, tetapi tidak jatuh dalam kecengengan. Di dalamnya juga terasa adanya perasaan ngungun karena cinta tak sampai: bertepuk sebelah tangan. Sajak ini ditulis Chairil pada 1946 dengan latar belakang suasana Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta. Paus sastra Indonesia HB Jassin menilai, sajak ini berisi kerawanan hati, suatu kesedihan mendalam yang tidak terucapkan:

Senja di Pelabuhan Kecil Buat Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap ●●● Kepada Alwi saat itu, Ayati yang lahir di Tegal dan ketika diwawancarai sudah berusia 88 tahun mengaku, ia tidak menyangka dibuatkan sajak oleh Chairil.” Saya tahu dari almarhum Mimiek, anak angkat Sutan Syahrir, bahwa Chairil Anwar membuat sajak untuk saya,” katanya seraya menolak kalau dikatakan bahwa masa mudanya berwajah jelita dan menyebabkan Chairil jatuh cinta sampai membuat sajak untuknya. “Waktu itu Mimiek datang ke rumah saya yang di Serang. Waktu itu saya sudah bersuamikan seorang dok-

ter RH Soeparno dan memiliki seorang anak. Kemudian, kami bermukim di Magelang karena suami saya ditugaskan di sebuah rumah sakit militer di sana. Padahal, ketika itu saya lama tidak bertemu Chairil,” ujarnya. Sri Ayati kemudian mengaku, baru mengenal baik Chairil ketika menjadi penyair radio Jepang di Jakarta. Dan, Chairil memang pernah datang untuk mengobrol di rumahnya yang berada di Jl Kesehatan V, Petojo, Jakarta Pusat. “Saya duduk di kursi rotan dan dia duduk di lantai di sebelah kanan saya. Ia bercerita baru saja mengunjungi seorang teman bernama Sri. Sang gadis yang bernama Sri memakai daster (house cout). Ia bercerita sembari memegang daster yang saya pakai,” cerita Sri kepada Alwi Shahab. Chairil dalam obrolan itu bercerita bahwa daster yang dipakai Sri itu sutra asli.” Kebetulan daster yang saya pakai itu juga dari sutra asli. Kalau itu saya tidak tahu siapa yang dimaksud Chairil dengan gadis yang bernama Sri itu,” kenangnya lagi. Sri Ayati kemudian mengaku heran mengapa Chairil membuatkan sajak untuknya. Padahal, saat itu ada sejumlah teman wanitanya yang lain, seperti gadis Rasyid, Nursamsu, dan Zus Ratulangi. Chairil juga saat itu dekat dengan Rosihan Anwar, HB Jassin, dan Usmar Ismail. Uniknya lagi, Chairil tak pernah sekalipun meng ungkapkan rasa cinta kepadanya. Ketika Ali kemudian menanyakan mengenai sosok Chairil, Sri Ayati menjawab, dia memang kurang mengurus diri. Rambutnya acak-acakan. Matanya merah karena kurang tidur. Di tangan kanan dan kirinya penuh buku-buku. Memang Chairil dikenal sebagai kutu buku. “Tapi, Chairil itu seorang seniman yang jujur. Dia tak tahan dan tak bisa melihat hal-hal yang tidak baik. Kalau saja dia hidup pada zaman Orde Baru, saya kira pasti dia ditahan karena dia berani mengkritik hal-hal yang dianggapnya kurang baik dan kurang benar,” tegas Sri Ayati. Sri Ayati saat itu memang sebaya dengan Chairil. Dia pernah sekolah di Mulo sebelum kuliah di Fakultas Sastra UI. Sama dengan Chairil, dia juga menguasai banyak bahasa asing. Semasa hidup, Sri juga seorang seniwati dan pernah menjadi dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). “Sayangnya, beliau sudah mendahului kita. Padahal, kalau you ke sana, dia pasti akan senang dan bersemangat ketika diminta cerita soal sosok Chairil Anwar,” tandas Alwi Shahab. ●●● Sementara itu, mendiang cerpenis M Balfas dalam sebuah tulisannya di majalah bulanan Kompas, 15 April 1953, menceritakan mengenai harihari terakhir sang penyair itu. Menurut Balfas, sekitar tanggal 25-28 April, dia bersama Rivai Apin rajin mengunjungi Chairil yang dirawat di CBZ atau di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo karena terserang penyakit tifus. Rivai membawa sebongsang jeruk siam sebagai buah tangan.

Sebait Puisi

SEPANJANG KISAH ‘Saat itu memang sakit Chairil sudah akut. Orang yang biasa gesit dan tidak bisa diam, di sini aku lihat rebah dengan kedua kakinya diikatkan pada tempat tidur. Mukanya pucat, suara menggeram, dan baunya badannya menyengat. Kalau matanya lagi tertutup, aku dengar dia menyebut, “Ya Allah .…Ya Allah …. Tuhanku…,” tulis Balfas. Karena adanya suasana mencekam perasaan itu, kemudian Rivai membuka lemari kecil yang berdiri di sebelah tempat tidurnya. Beberapa jeruk kecil menggelinding dari dalam lemari, tetapi kemudian Rivai memasukkan lagi jeruk yang dibawanya itu. Melihat sahabatnya datang, Chairil sempat membuka matanya dan kelihatan mau bicara. Tapi, kemudian diurungkan karena perawat meminta agar dia jangan banyak bicara dulu. “Setelah itu berganti-ganti kami mengupaskan dan menyuruh dia mengisap. Di sini kelihatan nafsu hidupnya masih ada. Dengan bernafsu, bibirnya yang tebal mengisap jeruk, seakan mau ditelannya sama sekali. Ini kami jaga sebab dia hanya boleh makan airnya. Biji-biji jeruk yang kena masuk mulut disembur keluar dari mulutnya,” ungkap Balfas. Namun, tulis Balfas, cerita Chairil menjadi lain ketika memasuki tanggal 28 April 1949. Semula Balfas berencana akan menjenguk Chairil pada pukul 11.00 siang. Tapi, niat ini tak terlaksana karena belum mendapatkan uang untuk membeli jeruk. “Nah, sekitar pukul empat sore ketika jeruk sudah terbeli, saya bersama Rivai pergi menjenguk Chairil. Tapi, belum sampai di sana, berita Chairil meninggal sudah tersebar. Rivai langsung membuang jeruk yang akan dibawanya. Chairil meninggal dunia kira-kira jam satu lewat sedikit,” ungkap Balfas. Balfas dan Rivai lantas menjeng uk Chairil yang saat itu jenazahnya sudah diletakkan di kamar mayat. Tubuh beku Chairil saat itu diselimuti kain berwarna “ganggang” dan memakai nama orang lain.”Ketika Selimut kami buka, terlihat mukanya yang putih, seperti kulitnya habis dibeset dengan paksa. Beberapa lembar jenggot yang jarang dan beberapa lembar kumis ada di sudut wajahnya. Seekor semut kecil leluasa berkeliaran di mukanya,” tuturnya. Melihat tubuh Chairil terbaring kaku, Balfas kemudian terkenang akan sebuah sajak Chairil yang ditulis pada 1943: Aku.

Aku Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu

Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi ● ● ● Cerita yang tak kalah menarik diutarakan mendiang maestro pelukis Indonesia, Affandi. Dalam acara “Malam Chairil Anwar” pada Juni 1984, dia sempat menceritakan hubungannya dengan sang penyair ini. Affandi mengaku, ia menganggap Chairil sebagai “adiknya sendiri”. Dan, pada saat itu Affandi menceritakan saat-saat terakhirnya bersama Chairil setelah menulis sajak “Kepada Affandi”. “Setelah Chairil menulis sajak, ganti saya melukis wajahnya. Saya hubungkan dengan sajaknya yang ada binatang jalang,” kata Affandi. Di latar belakang wajah penyair, dilukis kuda awut-awutan. Melihat itu, Chairil ternyata tidak puas. Ia ingin di latar belakang lukisannya ada gambar yang menarik. Melihat situasi itu, Affandi tak kehilangan akal. “Istri saya, Maryati, saya suruh tiduran dan saya lukis pahanya. Ketika itu istri saya masih montok dan mulus,” kata Affandi, sementara istrinya, Maryati, yang saat itu sudah sama keriputnya dengan si pelukis ini, terkekeh-kekeh. Namun, sialnya, lanjut Affandi, lukisan itu tak jadi-jadi. Malam hari, 28 April 1949, Affandi menerima berita kematian Chairil. “Setelah menerima berita kematian itu, malam itu juga saya selesaikan lukisan itu, semalam suntuk,” ujarnya. Lukisan Affandi tentang sosok Chairil itu kini menjadi keluarga Sutan Syahrir. Inilah salah satu sajak yang ditulis Chairil pada 1946 yang dipersembahkan untuk pelukis yang menjadi favoritnya sekaligus teman akrabnya: Affandi.

Kepada Pelukis Affandi Kalau, ‘ku habis-habis kata, tidak lagi berani memasuki rumah sendiri, berdiri di ambang penuh kupak,

adalah karena kesementaraan segala yang mengecap tiap benda, lagi pula terasa mati kan datang merusak Dan tangan ‘kan kaku, menulis berhenti, kecemasan derita, kecemasan mimpi; berilah aku tempat di menara tinggi di mana kau sendiri meninggi atas keramaian dunia dan cedera, lagak lahir dan kelancungan cipta, kau memaling dan memuja dan gelap-tertutup jadi terbuka! Sedangkan, cendekiawan Arief Budiman memberi perhatian khusus kepada sajak “Nisan” yang ditulis Chairil pada 1942 atau ketika dia berumur 20 tahun untuk mengenangkan kematian neneknya.

Nisan untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertakhta. Oktober 1942 Menurut Arief, Chairil Anwar sejak melihat neneknya meninggal sadar bahwa hidup adalah sesuatu yang pribadi dan absurd. Dia berusaha mencari arti serta memecahkan misteri kehidupan ini. Ahasil, Chairil pun terus-menerus mendapati bahwa hidup adalah kemungkinan yang terbuka yang tidak pernah selesai. Di sinilah Chairil mulai paham bahwa hidup adalah semesta kemungkinan-kemungkinan dan dia melayang di dalamnya. “Hidup adalah berenang di dalam ketidakadaan. Jadi, Chairil tidak sampai ke manamana. Dia hanya jadi mengerti,” tulis Arief Budiman. Nah, seperti itulah beberapa kisah di balik sajak Chairil Anwar! ■

Krawang Bekasi Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi. Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan mendegap hati ? Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami. Kami sudah coba apa yang kami bisa Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa Kami cuma tulang-tulang berserakan Tapi adalah kepunyaanmu Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa, Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang yang berkata

Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Docstoc.com

Kenang, kenanglah kami Teruskan, teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir Kami sekarang mayat Berikan kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Persetujuan dengan Bung Karno Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji Aku sudah cukup lama dengan bicaramu dipanggang diatas apimu, digarami lautmu Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945 Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu Aku sekarang api aku sekarang laut Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

Yang Terampas dan Yang Putus

● Chairil Anwar tengah bersama-temannya di redaksi Majalah

Gelanggang..

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku, menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin, malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu; tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku 1949


30

REPUBLIKA

SENIN, 23 APRIL 2012

Sutardji Calzoum Bachri

“CHAIRIL SUDAH MENJADI MITOS!” S

utardji Calzoum Bachri lahir di Rengat, 24 Juni 1941. Orang lebih mengenalnya sebagai presiden penyair Indonesia yang sampai kini belum tergantikan. Kritikus sastra menyebut kalau Chairil Anwar mata kanannya sastra Indonesia maka Sutardji adalah mata kirinya. Ini karena kalau Chairil ingin membawa ide sastra dengan melihat ke barat maka Sutardji ingin mengembalikan sastra Indonesia kembali ke akarnya, yakni ke timur. Ini diwujudkan Sutardji dengan kredo sajaknya, yakni membebaskan kata dari penjajahan makna dengan cara kembali ke asal mula kata, yakni mantra. Untuk itulah sosok pemikiran Sutardji perlu ditampilkan, terutama ketika hendak mengomentari sosok Chairil Anwar. Apalagi, antara keduanya tampak ada kemiripan sikap, yakni keberaniannya untuk mengabdikan dirinya

Menurut Anda apa jasa Chairil Anwar terhadap bahasa Indonesia? Sebuah bahasa agar lengkap dan sempurna memerlukan sastra atau puisi. Tanpa sastra, bahasa hanya akan menjadi mesin komunikasi atau mesin penyampai pesan yang jadi begitu teknis dan gersang dari masalah yang berkaitan dengan kejiwaan dan ruh kemanusian. Untuk membuktikan diri sebagai bahasa yang ‘berketinggian derajat’ maka dari dirinya sendiri harus bisa menciptakan sastra. Jika ada karya-karya besar dari suatu bahasa maka pasti bahasa yang berangkutan itu memang bahasa yang hebat. Ini karena sastra berperan memperkaya bahasa. Di situlah letaknya atau fungsi dari seorang penyair. Di dalam polemik kebudayaan yang terjadi sekitar 30 tahun (dekade 1930-1960-an) sebagai suatu upaya untuk mengisi Indonesia yang akan merdeka, dan ini hebatnya para budayawan, saat itu mereka sudah memikirkan bagimana cara mengisi kemerdekaan kita itu. Waktu itu, kaum intelektual dan orang-orang yang berada di Pujangga Baru berkumpul, berdialog, dan berdebat mengenai cara mengisi kemerdekaan itu. Nah, di situ ada dua kelompok, yakni pihak yang ingin menjagokan kebudayaan barat dan kelompok yang menjagokan kebudayaan timur. Yang menjagokan kebudayaan dengan tokohnya Sutan Takdir Alisjahbana malah dengan ekstrem mengatakan, “Sudah lupakan saja nilai-nilai yang lama itu, lalu kita bikin Indonesia baru yang berpatokan kepada kebudayaan Barat. Sementara itu, di pihak lain, yakni Sanusi Pane dan kawan-kawan sepa hamnya, menyerukan jangan lupakan kebu-

secara total kepada puisi. Baik Chairil dan Sutardji merupakan penyair dalam arti yang sebenar-benarnya: hidup dan mati untuk katakata! Sutardji mengakui, meski punya banyak kelemahan, pencapaian estetik Chairil Anwar tak bisa diremehkan. Bahkan, jasa Chairil yang paling besar adalah bisa membuktikan bahwa bahasa Indonesia mampu mengekspresikan pikiran yang datang dari barat. “Kalau soal adanya tuduhan penjiplakan kepada Chairil, sebenarnya itu tak masalah. Periode permulaan kreatif seseorang adalah periode peniruan. Chairil atau anak-anak muda lain yang mulai menyair pun lazim meniru penyair yang menjadi idolanya,” tegasnya seraya mengakui Chairil kini sudah menjadi mitos atau legenda penyair. “Pendeknya usia Chairil yang ternyata menguntungkannya,” ujar Sutardji lagi.

dayaan Timur. Di sini kita tahu adanya wacana-wacana menginginkan kebudayaan di satu sisi dan Timur di pihak lain. Namun, wacana kan tak ada gunaya tanpa praktik. Lalu, di mana letaknya praktik bahasa? Jawabnya ya ketika ia menjadi benda. Lalu, kapan bahasa menjadi benda ya ketika menjadi karya. Nah, ketika sudah menjadi karya, lalu apa karya bahasa itu? Ya di antaranya bentuknya adalah buku-buku yang di dalamnya ada kata-kata. Di dalam katakata itu terbagi lagi menjadi kata-kata yang kemudian menjadi bahasa ilmu pengetahuan, bahasa filsafat, bahasa seni atau sastra. Di dalam soal menjadi itulah maka wacana-wacana tadi itu ‘menjadi kering’ atau debat-debat yang hanya menjadi asumsi. Sebab, menjadi Barat atau Timur semuanya bisa baik bergantung pada persepsi masing-masing pihak yang melihatnya. Untuk itu, maka perlu ada pembuktian. Nah, di sini kemudian ada pihak yang mampu membuktikan dan menang. Dan, ternyata yang keluar sebagai pemenang adalah kelompok Sutan Takdir Alisjah bana. Ini dibuktikan kemudian dengan mun culnya Chairil Anwar yang mempraktikkan ide yang dijagokan Sutan Takdir Alisjahbana itu. Maka, Bahasa Indonesia berkat Chairil kemudian menjadi bahasa yang sangat ‘sekuler’, yakni bahasa yang bisa mengekspresikan keinginan-keinginan berpikiran Barat. Nah, di situlah jasa Chairil Anwar. Di sini pihak Sanusi Pane yang menjagokan Timur kalah atau mundur satu tapak di belakang Sutan Takdir Ali Sjahbana. Padahal, sebenarnya pihak Sanusi Pane yang menjagokan Timur itu sudah membuktikan dirinya lewat pencapaian estetik seperti yang dilakukan Amir Hamzah. Namun, meski telah menciptakan suatu ekspresi Indonesia modern, Indonesia dia beda dengan versi Chairil Anwar. Di sini memang terkesan seolah-olah Amir

Hamzah sulit ketika menghadapi sebuah masa datangnya Indonesia modern. Jadi, Chairil Anwar lebih bisa membuktikan kemodernan itu. Misalnya, tampak pada sajaknya, “Aku”. “Aku ini binatang jalang, dari kumpulan terbuang,” dan seterusnya itu. Di sini Chairil mampu membawa jiwa yang cocok dengan individualis Barat pada masa itu. Jadi, di situ Chairil yang membuktikannya? Maksudnya tidak sesederhana itu. Maksud saya, karya Chairil bisa dipakai sebagai sarana untuk membuktikan pikiran ‘berpaling ke Barat’ ala Sutan Takdir tersebut. Sebab, ketika dia berkaya ya tidak memikiran hal-hal itu. Ketika Romeo-Juliet bercinta ya mereka bercinta saja, saat itu dia tidak memikirkan bila kisah cintanya menjadi paling hebat di dunia. Tapi, nanti Shakespeare-lah yang memikirkannya hingga kisah mereka menjadi indah atau luar biasa.

Kalau begitu benar bila ada kritikus sastra mengatakan Chairil Anwar mata kanan sastra Indonesia? Tapi, kan sejarah berjalan terus serta kemudian datang masa 1970-an di mana Barat yang dahulu dieluk-elukan, kini muncul seniman baru, seperti Abdul Hadi WM, Darmanto Jatman, WS Rendra, Putu Wijaya, Sutardi C Bachri, Arifin C Noer (dalam bidang teater), dan banyak lainnya yang semua ini ingin kembali ke akar. Saya, misalnya, malah bikin kredo segala. Nah, di situ terlihat orang pada dekade 1970-an tak lagi menjagokan Barat atau Timur. Mereka tidak peduli itu. Bagi mereka, yang penting itu, Barat dan Timur akrab dengan mereka. Di sini tidak lagi ada masalah dikotomi: Jika engkau akrab dengan Barat ya ambillah, begitu juga bila engkau akrab dengan Timur, juga ambillah. Tak ada masalah! Ini, misalnya, bisa terlihat dalam sajak Darmanto Jatman. Dia akrab dengan Jawa karena dia itu memang orang Jawa. Maka, dalam puisinya muncul kata-kata Jawanya. Tapi, karena dia mendapat pendidikan Barat, nah dia pun menuliskan ekspresinya dalam bahasa Inggris. Begitu juga karena Darmanto orang Indonesia, dia juga menulis kalimat Indonesia dalam sajaknya. Jadi, campur baurlah puisinya itu kayak gado-gado. Begitu juga saya yang akrab dengan Riau maka ya aku angkat akar Riau itu. Rendra pun begitu bagaimana dia mengakrabkan Shakespeare dengan akarnya. Misalnya, dijawakannya Machbet dengan pementasan teater dengan pemain yang mengenakan belangkon. Abdul Hadi, misalnya, mengambil napas kemaduraan dan nilai-nilai sufi yang ada di kebudayaan Islam. Ketika itulah tak ada lagi masalah Timur dan Barat. Kembali ke Chairil Anwar, karena ini menjelang hari wafatnya dia, 28 April. Menurut Anda, sebenarnya apa yang ingin dipesankan Chairil melalui sajak-sajaknya? Dia tak memesankan apa-apa. Dia cuma bilang supaya kita ini menjadi bangsa yang menjaga kebesaran yang telah ada. Ini diwujudkan kalimat sajaknya, “Menjaga Bung Karno, Hatta, dan Syahrir (sajak Krawang Bekasi). Ini maksudnya agar semangat kepeloporan mereka tak hilang. Nah, apakah sekarang semangat itu masih ada? Misalnya, apakah para pemimpin kita yang terpilih dalam pemilu nasional maupun pemilukada telah bersikap seperti mereka itu? Jadi, inilah yang salah satu diingatkan oleh Chairil. Juga, misalnya, ada kalimat dalam sajaknya, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Ini apa yang sebenarnya diinginkan Chairil? Jawabnya dia ingin sebuah otentisitas bahwa manusia itu tidak usah dilihat dari kelompok, asalusul, atau warna kulitnya. Biar dia dari kelompok binatang jalang atau dari kelompok yang terbuang, tapi ia (Chairil) tetap mencoba mencari jati dirinya. Nah, kita tanya sekarang pada pemuda bangsa kita hari ini, di mana jati dirimu? Bagaimana kau bisa hidup 1.000 tahun lagi bila sebentar-sebentar meniru-niru Barat itu? Setelah generasi Chairil dan Anda lewat, apa yang terjadi pada dunia sastra Indonesia hari ini? Sekarang puisi banyak sekali dan semua orang adalah penyair. Dahulu kawan saya ada yang

bilang (pada 1980-an) puisi Indonesia hanya tinggal bertahan 20 tahun lagi, tapi nyatanya setelah tahun 2.000 tiba, dengan munculnya internet, facebook, twitter, di mana-mana muncul orang yang menjadi penyair. Seperti halnya sewaktu di kamar mandi di mana semua orang adalah penyanyi, di facebook kini semua orang adalah penyair. Cuma masalahnya kemudian, bagaimana kita memilah-milah mana penyair yang mau kita dengar. Ya seperti kita mau masuk ke kamar mandi umum itu maka akan menjadi soal mana penyanyi yang akan kita dengar karena saat itu orang semua menjadi penyanyi? Ya memang tidak masalah kalau kita lewat kamar mandinya Titik Puspa, Krisdayanti, atau Julio Iglesias, pasti kita mau dengar nyanyiannya. Tapi, kalau bukan mereka, apa mau kita dengar juga? Nah, di sinilah kemudian kita perlu adanya kritikus sastra yang berguna untuk memilahmilah puisi itu. Dan, sekarang kan kita punya problema banyak penyair, tapi minim kritikus. Kalaupun ada kritikus, mereka itu hanya menjadi ‘penjaga gardu’ bagi kelompok sastranya. Mereka hanya berperan menjadi ‘tukang pukul’ komunitas lain agar tidak mengganggu eksistensi komunitas sastranya. Apakah Anda sudah melihat munculnya estetika baru dalam puisi Indonesia? Kalau ini belum lagi. Yang baru janganjangan malah sudah tak ada lagi. Dahulu malah sempat ada orang yang mencoba memunculkan estetika baru dengan mengusung ide postmodernisme. Tapi, celakanya yang muncul hanya kata-kata gelap atau bahasa gelap yang aneh-aneh. Namun, setelah saya polemikkan soal ‘puisi gelap’ itu, kini keadaannya dunia puisi kita sudah banyak berubah. Sekarang puisi kita sudah lebih sehat. Bahkan, saya melihat puisi masa kini mulai kaya imajinasi, di sana ada ide dari Chairil, tapi juga ada usaha pengambilan ide ujung bunyi seperti yang ada pada ide sajak-sajak terdahulu (pantun). Jadi, saya lihat banyak karya sajak yang berkualitas bagus. Tapi, mengapa puisi masa kini cenderung berpanjang atau boros kata-kata? Saya lihat itu karena penulisnya tak lagi mencari ‘tepat ucap’, tapi hanya mencari efek dari kata-kata. Mungkin mereka ingin mencari kata-kata dengan cara menabur kata-kata, layaknya memancing ikan di laut dengan memasang banyak joran. Ini beda dengan Chairil yang mencari kata-kata sampai berhari-hari sampai ketemu situasi ‘tepat ucap’ itu. Apalagi, untuk mencari kata ‘tepat ucap’ yang panjang itu sangat susah. Maka, lebih mudah mereka memilih kata-kata yang boros dan ini dilandasi alasan ingin mencari efek ‘buai’. Kata pun banyak diulang karena kesusahan mencapai kata yang ‘tepat ucap’ itu. Irit kata-kata bagi mereka menjadi tak penting sebab yang penting adalah suasana. Bagaimana menurut Anda mengenai adanya tuduhan bahwa puisi Chairil Anwar banyak menjiplak sajak orang lain? Memang kalau tak penjiplak, Chairil itu penerjemah puisi yang baik. Tetapi, kita tak punya lagi. Maka, bila kita tak punya hal yang lebih baik, kitalah yang bodoh atau politik sastra kita salah. Maka, di sini aku membela Chairil meski aku pun tahu sebenarnya aku lebih besar dari Chairil! Tapi, mengapa di situasinya begitu? Ini karena tidak ada gantungan maka kemudian segalanya menjadi susah. Nah, di sini kita jangan melupakan mitos, apalagi bila mitos itu memang bisa membuat sehat masyarakat. Mitos ini menjadi penting untuk dijadikan pegangan kriteria walaupun kita tahu itu tidak selalu benar adanya. Nah, Chairil sudah menjadi mitos. Sebab, memang banyak sajak Chairil itu terjemahan. Sedikit sekali sajaknya yang asli. Silakan saja buka dan kaji sajak-sajaknya. Namun, kita juga masih ingat, pada periode kreatif pertama penjiplakan itu biasa. Jepang, misalnya, kan menjiplak Barat pertamanya. Jadi, soal adanya tuduhan penjiplakan kepada Chairil itu tak masalah. Periode permulaan kreatif seseorang adalah periode peniruan. Chairil atau anak-anak muda yang mulai menyair lazim meniru penyair yang menjadi idolanya. Namun, kemudian mereka sadar pelan-pelan mencari dirinya. Kita lihat, misalnya, pada Sapardi Djoko Damono, dia mulamulanya kan menjiplak Goenawan Mohamad. Namun, dia kan lama-lama kemudian menemukan dirinya sendiri. Jadi, kan tidak masalah. Dan, soal ini memang perlu diketahui supaya kita tidak melupakan kebenaran. Namun, di sini jelas tidak semua kebenaran itu adalah bisa menjadi kejahatan. Seandainya Chairil kemudian bisa hidup lebih panjang, menurut Anda apa yang akan dilakukan dia saat itu? Nah, ketika mereka punya umur panjang maka harus punya ‘ucapan’ dan tantangan lain. Sebab, kalau dia penyair yang serius maka dia akan merasa bosan. Contohnya ya lihat aku ini! Sebab, kalau kau diberi usia maka kau harus tumbuh. Tidak bisa kau tetap begitu saja. Dan Chairil pun pasti akan disergap rasa bosan. Jadi, dengan rentang usianya yang pendek maka Chairil lebih gampang menjadi legenda! Dia memang beruntung. ■ muhammad subarkah


Chairil Anwar: Legenda Penyair Besar