Page 1

1IN0DO0NE%SIA

RABU, 30 NOVEMBER 2011

Gagalnya klem pengikat kabel gantung diduga sebagai pemicu runtuhnya jembatan.

Orang Kreatif Cenderung Menipu ming-iming uang sering kali menyilaukan mata. Sebuah penelitian menemukan, uang menjadi penyebab orang-orang kreatif cenderung melakukan penipuan ketimbang mereka yang tidak berpikir kreatif. Pada studi terbaru itu, para peneliti mengukur kecerdasan dan kreativitas 97 mahasiswa universitas lokal di tenggara Amerika Serikat. Mereka diminta menyelesaikan serangkaian tes psikologi. Para peserta kemudian mengambil bagian dalam lima percobaan untuk menentukan apakah orang kreatif cenderung menipu ketika dalam keadaan mereka dapat membenarkan perilaku tidak jujurnya. Dalam satu eksperimen, peserta melihat gambar-gambar dengan titik-titik pada dua sisi dari garis diagonal. Mereka harus mencari tahu sisi mana yang memiliki banyak titik. Namun setengah dari 200 percobaan hampir mustahil dilakukan, jika satu sisi gambar mengandung titik-titik lebih dari yang lain. Peserta diinformasikan bakal menerima 10 kali lipat untuk setiap pengambilan keputusan “sisi kanan” sebagai suatu keputusan “sisi kiri” atau 5 sen versus 0,5 sen. Pencetak skor tertinggi pada kreativitas tes psikologi lebih mungkin memberikan jawaban membayar lebih, meskipun ragu-ragu. Dalam eksperimen lain, peserta menyelesaikan kuis pengetahuan umum dan mentransfer jawabannya pada lembar tes “item-response”, yang dikenal sebagai lembaran “gelembung”. Responden akan dibayar lebih untuk jawaban yang benar. Mereka diyakinkan bahwa, ketika mentransfer jawabannya, mereka dapat melakukan apa pun tanpa diketahui. Namun semua kertas jawaban dapat mengidentifikasi perilaku unik yang mengungkapkan kecurangan. Lagi-lagi individu yang lebih kreatif berpeluang menipu ketimbang mereka yang kurang kreatif. Kreativitas memang membantu individu menyelesaikan tugas yang sulit. “Tapi percikan kreativitas dapat menyebabkan individu mengambil jalur yang tidak etis ketika mencari solusi pada masalah dan tugas,” kata Francesca Gino, peneliti dari Universitas Harvard. Namun peneliti tidak menemukan hubungan antara kecerdasan dan ketidakjujuran.

I

● LIVESCIENCE

BANDUNG — Jembatan megah yang sempat dise but se ba gai Golden Gate dari Tenggarong itu kini terkubur puluhan SIPIL meter di dasar Sungai Mahakam. Dua tiang menara setinggi 53 meter yang berdiri tegak di tepi sungai menjadi penanda bahwa jembatan bernama Mahakam II itu pernah ada. Runtuhnya jembatan itu pada Sabtu lalu sangat mengejutkan. Ambruknya jembatan yang baru berusia 10 tahun itu menarik perhatian sejumlah dosen dan pakar jembatan dari Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung. Ketika petugas tim penyelamat dan kepolisian sibuk mengevakuasi korban yang terjebak di dasar Sungai Mahakam, tim dari ITB sibuk mencari jawaban penyebab runtuhnya jembatan tersebut. Mereka menghimpun informasi dari data tentang jembatan yang dibangun mulai 1995 hingga 2001 itu, keterangan rekan di lapangan, dan makalah. Sejumlah dosen yang tergabung dalam Kelompok Keahlian Rekayasa Struktur Teknik Sipil ITB itu akhirnya menemukan jawaban mengapa jembatan tersebut bisa runtuh. Kuat dugaan pemicu ambruknya jembatan itu adalah kegagalan klem pengikat kabel gantung (hanger). Berdasarkan informasi yang diperoleh tim, tidak ada kabel gantung yang putus alias utuh.“Justru ada kegagalan pada klem yang mengikat hanger,” ujar Iswandi Imran, ketua kelompok dosen itu, di gedung Rektorat ITB kemarin. Untuk memastikan dugaan tersebut, klem harus diperiksa. “Apakah bahannya telah sesuai spesifikasi atau tidak,” ujarnya. Dari data yang diperoleh, klem itu dibuat dari bahan besi cor yang bisa mulur panjang tanpa runtuh atau liat. Dugaan serupa disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Djoko

A12

Akhir Golden Gate dari Tenggarong Kirmanto di Jakarta kemarin. Dia mengatakan jembatan itu runtuh karena penyambung kabel gantung dengan kabel utama lepas. Namun Djoko menolak berkomentar soal penyebab lepasnya kabel gantung tersebut. ”Itu urusan polisi, yang sekarang melakukan investigasi,” katanya. Pakar jembatan dari Teknik Sipil ITB, Bambang Boediono, heran karena masalah terletak pada klem pengait kabel utama dengan kabel gantung. Semestinya sambungan itu lebih kuat. “Hanger tidak putus, tapi baut putus. Itu menyalahi kaidah teknik sipil,” katanya. “Kalaupun putus, seharusnya kabel gantung yang putus, bukan pada sambungan.” Klem memang bi sa mengalami

penurunan kekuatan, yaitu kelelahan bahan karena menanggung beban berulang. Jika memang masalah terdapat pada titik itu, kata perancang jembatan Cisomang di jalan tol Cipularang tersebut, ada kemungkinan klem yang dipakai tidak sesuai dengan spesifikasi atau tidak lolos tes di laboratorium Kementerian Pekerjaan Umum. “Klem harus tahan beban dinamik yang dipicu dari beban kendaraan,” ujar Bambang. Untuk memastikan penyebab

Kabel vertikal

Kabel suspensi

Rentang pusat

Platform

Fondasi pylon AN AT SI B N M JE SPE U S

POLA PENYALURAN BEBAN

MACHFOED GEMBONG (TEMPO)

Rentang pinggir

runtuhnya jembatan, Pusat Mitigasi Bencana ITB membentuk tim kajian yang akan diberangkatkan ke lokasi untuk mencari data primer dan sekunder di lapangan pada Rabu ini. “Kita datang sebagai saintis untuk belajar, dan ke depan supaya kita lebih pintar,” kata Ismunandar, koordinator tim itu. Rencananya ada lima dosen dan pakar yang akan diberangkatkan. Hasil temuan akan dikaji lagi di Bandung oleh dosen dari berbagai ilmu. “Kami juga terbuka kalau ada unsur pemerintah yang masuk,” ujarnya. Kajian jembatan yang akan diteliti meliputi struktur atas, seperti dek, menara, kabel suspensi, dan kabel gantung; struktur bawah jembatan, seperti fondasi; serta penilaian air sungai.

JEMBATAN KUTAI KARTANEGARA Menara 1

Tidak ada kabel hanger yang putus, tapi klemnya gagal. TENGGARONG

15 meter

Sungai Mahakam Angkur 1 Panjang Rentang utama Tinggi jembatan dari air Tinggi ruang kendaraan Tinggi menara

: 710 meter : 270 meter : 15 meter : 5 meter : 53 meter


1IN0DO0NE%SIA Pylon (tiang menara)

Tiang besi pendukung utama dalam struktur

Bambang juga menyoroti prosedur perawatan jembatan yang tidak menutup lalu lintas pada saat perbaikan. Dalam keadaan normal atau tidak ada kerusakan berarti, perawatan jembatan memang bisa dilakukan tanpa menutup jembatan. Namun, jika ada masalah, perawatan tanpa menutup jembatan bisa berakibat fatal. “Itu memacu torsional sehingga dek menjadi terpilin, lalu ambruk,” katanya. Ke depan, Bambang menyaran-

RABU, 30 NOVEMBER 2011

kan jembatan ditutup sementara pada saat perawatan agar tidak menimbulkan bahaya. Pelaksana proyek seharusnya sudah bisa mengantisipasi bahaya itu karena harus membuat rancangan kerja dengan menghitung berbagai kemungkinan dan kondisi yang bakal terjadi dari perawatan jembatan yang akan dilakukan. “Segala macam kombinasi papan catur atau skip loading itu sudah harus diperhitungkan. Jadi kalaupun harus dibuka setengah jalur tidak masalah,” katanya. Walau begitu, Bambang menolak jika tragedi ini disebut sebagai kesalahan manusia, karena cakupan masalahnya luas. Jembatan gantung yang memiliki daya tarik visual memikat sebenarnya memiliki desain khusus yang membutuhkan perawatan yang rumit. Tak aneh bila biaya pembangunannya pun lebih mahal. Namun, sayangnya, pengelola jembatan terbiasa dengan jembatan beton yang lebih sederhana dan nyaris tanpa perawatan. Padahal monitoring jembatan gantung sangat kompleks, mencakup perubahan bentuk jembatan, perhitungan beban, serta keseimbangan dan kestabilan jembatan. Pemeriksaan berkala dan rutin sangat dibutuhkan, misalnya sebulan sekali, karena jembatan gantung sangat sensitif oleh gerakan vertikal dan torsional.“Kalau jembatan itu tertarik oleh beban, akibatnya bisa fatal,” ujarnya.

JEMBATAN GANTUNG embatan Kutai Kartanegara adalah jembatan jenis suspensi atau biasa dikenal sebagai jembatan gantung. Kabel jembatan gantung terbuat dari ribuan kawat baja yang dipilin dan diikat dengan kencang. Baja sengaja dipilih karena materi itu sangat cocok menjadi kabel jembatan mengingat ketahanan terhadap tegangan yang sangat kuat. Seutas kawat baja tunggal setipis 1 inci, misalnya, dapat menahan beban hingga setengah ton tanpa terputus. Jembatan suspensi yang ringan dan kuat ini sangat ideal untuk digunakan di sungai atau selat yang ramai dilalui kapal. Dibandingkan dengan model jembatan lainnya, jembatan gantung dapat terbentang pada jarak yang lebih jauh, sekitar 600-2.100 meter. Namun, dari segi biaya pembangunan, jenis jembatan ini cenderung lebih mahal. Kabel utama yang terentang dari ujung ke ujung tiang menahan berat jembatan dan jalanan di atasnya. Kabel yang berada di puncak menara ini harus ditambatkan ke tepi sungai di ujung jembatan. Menara yang tinggi tersebut memungkinkan kabel utama tergantung dalam jarak yang cukup jauh. Sebagian besar berat atau beban jembatan dipindahkan oleh kabel ke sistem penambat, yang ditanam dalam pelat beton besar. Di dalam pelat beton penambat ini, kabel disebar untuk mendistribusikan beban dengan merata dan mencegah kabel terputus. Pada jembatan suspensi, tegangan terletak pada kabel penggantung atau kabel vertikal. Kabel-kabel ini mampu menahan tegangan tapi tidak resistan terhadap kompresi. Cara kerja jembatan gantung bertolak belakang dengan jembatan lengkung.

J

● ITB | ANWAR SISWADI

● ANWAR SISWADI | MUHAMMAD TAUFIK

Jembatan Barito dan Mamberamo Harus Diperiksa akar jembatan dari Teknik Sipil ITB, Bambang Boediono, mengatakan dua jembatan gantung lain di Indonesia, yaitu jembatan Barito di Kalimantan dan jembatan Mamberamo di Papua, harus segera diperiksa setelah runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara pada Sabtu lalu. Pemeriksaan harus segera dilakukan agar peristiwa serupa tidak terulang. Jembatan Kutai Kartanegara merupakan jembatan gantung dengan bentang terpanjang di Indonesia, yaitu 270 meter. Jembatan gantung Barito memiliki bentang tengah 230 meter, sedangkan jembatan Mamberamo 235 meter. Sayangnya, akibat kurang cermatnya pemeliharaan, usia jembatan terpanjang itu hanya 10 tahun. Menurut Bambang,

P

Menara 2

A13

normalnya usia jembatan gantung bisa mencapai 75 tahun. Bambang mengatakan rancangan jembatan gantung sama kompleksnya dengan perawatan yang harus dilakukan pengelola jembatan. Pemeriksaan jembatan gantung seharusnya dilakukan sebulan sekali, dari hasil penglihatan hingga pengukuran dengan alat, termasuk pemeriksaan bagian-bagian vital, seperti fondasi, dek, kabel gantung, kabel utama, dan sambungannya. “Kita terbiasa dengan jembatan beton yang praktis tanpa perawatan, namun untuk jembatan gantung sangat berbeda,” katanya di gedung Rektorat ITB kemarin. Kabel utama, misalnya, harus dalam posisi tertarik kuat untuk menyalurkan beban ke menara (pylon) jembatan. Meski rancangannya baik, jembatan suspensi sangat sensitif terhadap gerakan vertikal dan torsional.

Jika jembatan tertarik atau tertekan oleh beban, seperti kendaraan dan angin, keadaan fatal bisa terjadi. “Jembatan itu seperti ayunan, kalau terpelintir bisa roboh,” ujar perancang jembatan Cisomang di jalan tol Cipularang itu. Pemeriksaan rutin juga harus memantau penggerusan air sungai terhadap bagian bawah fondasi jembatan, juga dampak beban berulang kabel vertikal (hanger). Kualitas bahan pengganti komponen yang telah rusak juga harus diteliti. “Apakah klem, misalnya, sudah teruji kekuatannya di laboratorium Kementerian Pekerjaan Umum di Cileunyi, Bandung, atau belum,” katanya. Tiga faktor perawatan yang harus diperhatikan meliputi geometri atau bentuk jembatan, beban yang bekerja, serta keseimbangan dan kestabilan jembatan. ● ANWAR SISWADI

SAMARINDA

MACHFOED GEMBONG (TEMPO)

Angkur 2 Kabel Suspensi Jumlah kabel : 2 x 19 Jumlah klem dan hanger : 2 x 44 Panjang kerangka jembatan : 470 meter

Melacak Keaslian Ikan di Restoran NEW YORK — Hati-hati mem-

beli seafood di restoran. Maklum, satu penelitian di New York, Amerika Serikat, menemukan bahwa seperempat ikan yang diuji ternyata bukan jenis menu yang digembar-gemborkan lewat iklan. Ikan yang tidak asli jelas merugikan konsumen. Untuk itu, bakal diterapkan teknologi analisis DNA yang memastikan konsumen memakan fillet ikan atau caviar asli, bukan penggantinya yang lebih murah. Langkah itu sudah dimulai US Food and Drug Administration, yang bulan lalu menyetujui penerapan barcode DNA. Ini seperti jejak sidik jari yang mengidentifikasi suatu spesies. Perangkat ini seperti pemindai di supermarket yang dapat membaca barcode produk. Tujuannya untuk mencegah mislabeling makanan laut dari dalam dan impor. Badan pengawas obat dan makanan di negara lain juga mempertimbangkan untuk mengadopsi barcode DNA. Mereka menilai perangkat ini cepat, andal, dan efektif untuk mengidentifikasi bahan organik. Mislabeling dalam industri seafood biasanya melibatkan jenis ikan murah yang dijual sebagai varietas yang lebih mahal. Dua siswa sekolah menengah di New York menggunakan barcode DNA untuk memeriksa persediaan ikan di dapurnya. Ternyata label caviar pada produk itu sebenarnya adalah ikan Sungai Mississippi. Mereka kemudian melakukan penelitian terhadap ikan-ikan yang dijual di New York. Hasilnya, seperempat dari sampel ikan yang diteliti mislabeling dengan harga yang mahal. Mislabeling ikan, yang menyumbang hampir separuh spesies vertebrata dunia, juga menimbulkan risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Pada 2007, beberapa orang sakit parah setelah memakan ikan buntal beracun yang diimpor secara ilegal dari Cina. Untuk menghindari pembatasan masuk, importir menyebut ikan buntal itu sebagai monkfish. Bentuk lain mislabeling adalah menjual spesies ikan yang terancam punah dengan menyebutnya sebagai varietas ikan biasa. David Schindel, ahli paleontologi dari Smithsonian Institution, mengajak restoran dan pemasok makanan laut memanfaatkan teknologi DNA sebagai sarana sertifikasi keaslian produknya. “Ketika menjual sesuatu yang mahal, mereka ingin konsumen percaya mendapatkan apa yang telah dibayar,” kata Schindel kepada Associated Press. Dia yakin pemilik restoran dan pemasok makanan akan memulai gerakan menjual produk berkualitas. Juru bicara Food Standards Agency Inggris mengakui soal mislabeling produk ikan. Mereka akan bekerja sama dengan Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan. “Untuk memastikan jenis teknologi yang tersedia bagi para petugas perdagangan.” ● DAILYMAIL

Peneliti Belanda Ciptakan Virus Paling Mematikan ROTTERDAM — Peneliti biologi asal Belanda menciptakan virus

paling mematikan sedunia. Virus influenza ini menyebar lebih cepat dan diperkirakan bisa membunuh 60 persen manusia yang terjangkit. Ron Fouchier dari Erasmus Medical Center Rotterdam, Belanda, adalah orang yang menciptakan virus berbahaya ini. Ia melakukan modifikasi genetis terhadap virus flu burung H5N1 yang relatif sulit menular. Lima tahap mutasi sudah cukup membuat strain virus berkembang dengan cepat. Pekerjaan Fouchier sendiri sempat dipresentasikan pada konferensi mengenai influenza, yang diadakan di Malta, September lalu. Ia juga tengah mengajukan penerbitan makalah ilmiah yang menjelaskan proses penciptaan virus ini. Namun makalah ini masih ditelaah ulang oleh National Science Advisory Board for Biosecurity (NSABB) Amerika Serikat. “Tak ada organisme patogen yang lebih mengerikan dari ini. Bahkan antraks kalah berbahaya dibanding virus ini,” ujar Kepala NSABB Paul Keim kemarin. Catatan sejarah menunjukkan, pandemi flu terbesar pernah terjadi pada 1918. Virus yang menyebar ketika itu adalah H1N1 dan membunuh 40-50 juta manusia. Angka kematian akibat infeksi virus tersebut mencapai 2 persen dari pasien terjangkit. Sementara itu, virus baru temuan Fouchier memiliki tingkat kematian mencapai 60 persen, dengan kemampuan penyebaran lebih cepat. ● ANTON WILLIAM | DAILYMAIL

Akhir Golden Gate dari Tenggarong  

Ilmu & Teknologi | Koran Tempo | Rabu, 30 November 2011

Advertisement