BAB LIMA
PELAPUKAN BATUAN DAN TANAH
JAMALAM LUMBANRAJA
tidak diikuti dengan perubahan secara kimia dinamakan pelapukan fisik (mekanik). Pecahan batuan di daerah kering seperti di daerah gurun dimana terjadi perbedaan suhu yang besar antara siang dan malam hari menyebabkan banyak batuan pecah. Di daerah gurun bisa kedengaran bunyi seperti letusan pada malam hari. Hal ini akibat pecahnya batuan karena pada suhu rendah pada malam hari. Pada tempat yang mempunyai salju seperti di puncak gunung yang tinggi, juga dapat terjadi pecahan batuan karena pada siang hari saljunya meleleh yang mengakibatkan volume batuan sedikit mengembang, sedangkan pada malam hari sangat dingin sehingga batuan mengkerut dan terjadi pecahan batuan. Mahluk hidup juga dapat menyebabkan proses pelapukan secara fisik dan kimia. Misalnya akar pohon yang dapat memecahkan batuan bahkan dinding beton yang tebal. Di tepi pantai sering terlihat batuan berlobang yang dibuat oleh hewan tertentu. Pelapukan secara fisik menghasilkan butir yang semakin kecil dengan demikian proses kimia akan dipercepat (Gambar 5-2). Kegiatan manusia yang membuat jalan raya, pertambangan batuan, dan banyak lagi kegiatan, merupakan aktivitas manusia yang dapat mempercepat pelapukan secara fisik.
Satu kubus (luas permukaan 6 unit kuadrat)
Pembagian Pertsama 8 kubus (luas permukaan 12 unit kuadrat )
Pembagian berikut menjadi 64 kubus (luas permukaan 24 unit kuadrat)
pojok kubus terlapuk dari 3 arah
Siku kubus terlapuk dari 2 arah bidang kubus terlapuk dari 1 arah bidang kubus terlapuk dari 1 arah Siku kubus terlapuk dari 2 arah
Gambar 5-2. Skema hubungan pemecahan atau pembagian, luar permukaan, dan kepekaan terhadap pelapukan (bandingkan pelapukan batuan dalam bentuk kubus dengan bentuk bundar).
51