Page 1

Perekat Indonesia

1


2


Perekat Indonesia

3

“Kementerian Keuangan adalah institusi yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk terus menjaga

jahitan kesatuan Republik Indonesia. Anda bersumpah setia untuk menjalankan satu misi (yang sama) yaitu setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.�

SRI

M U LYA N I

I N DR AWATI


4 Pengarah: Hadiyanto

Penanggung Jawab: Dini Kusumawati Kontributor:

Mujiyo, Arif Kurniawan, Ferry Fadillah, Ferry Hidayat, Hanif Gustav, Arif Hermanu, M. Agung Triwijaya,

Budi Waluyo, Undani, Sidiq Gandi Baskoro, Krisna

Bayu Alamsyah, M. Taufan Dharmawan, Fritz Okta Nehemnya, Raficha Fachryna, Satria Adhitama,

Ludovicus Fernando Ginting, Akhyar Gunawan,

Bellisa Gamelia Sembiring, Sahruni, Hafiiz Yusuf,

Azharianto Latief Baroto, Faisal Amin, M. Hisyam Diterbitkan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia Gedung Djuanda I lt. 3, Jl. Dr. Wahidin Raya No. 1, Jakarta Pusat, 10710 www.kemenkeu.go.id

Haikal, Riza Almanfaluthi, A. Govinda Jaharuddin,

Lis Kartika Sari Husana, Haryono Efendi, Lenni Ika Wahyudiasti, Anandita Ramdhani Widigdya, Avviz

Elfarij, Muslikhudin, Pratanto, Made Krisna Aryawan, Cahyo Windu Wibowo, Leonardo Simbolon, M.

Rizky Rahardika Hartono, Siti Mulyanah, Nok Siti Murni Sulistiyoningsih, Oji Saeroji, Andy Prijanto,

Dwi Joko Kristanto, Julhendra H. Saragih, Marihot Pahala Siahaan, Adnan Wimbyarto, Abd Gafur,

Casman, Rahmatullah, Ahmad Iqbal Zakyuddin,

Sobron, Drajad Ulung Rachmanto, Ahmad Dahlan, Teddy Ferdian, M. Try Sutrisno Gaus, Tri Sutopo,

Ayu Widyasari Primanda, Arif Rahman Hakim, Rudi Andika, Penny Febriana, Afif Dodi Saputra Sinaga, Muhkamat Anwar. Editor:

Dodi Purnomo Sidi, Wardjianto, Cecep Hedi

Herdiman, Endi Hazar, Danang Endrayana Syeh Qodir, Arif Musafa, Rifki Patra Ufasah, M. Azka Ahdi, Desmiwarni.

Desain Cover dan Layout: Venggi Obdi Ovisa


Perekat Indonesia

I

P

5

E R E

N

T A K

D

N O

A I S E

Kisah Inspiratif Gerakan Indonesia Bersatu di Kementerian Keuangan Republik Indonesia


6


Perekat Indonesia

7

Sambutan Menteri Keuangan

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua. Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada Kementerian Keuangan sehingga dapat terus menjalankan amanah membantu Presiden dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dalam mengelola dan menjaga keuangan negara. Kementerian Keuangan memiliki pegawai lebih dari 80.000 orang yang bertugas di berbagai unit organisasi, baik di pusat maupun di daerah, yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Dengan cakupannya yang begitu luas, Kementerian Keuangan memiliki potensi besar untuk menjadi perekat Indonesia yang begitu bineka. Buku “Perekat Indonesia: Kisah Inspiratif Gerakan Indonesia Bersatu di Kementerian Keuangan Republik Indonesia� ini disusun dari kisah dan contoh nyata perilaku jajaran Kementerian Keuangan dalam upayanya meningkatkan daya rekat sosial kemajemukan, baik dalam pelaksanaan tugasnya, maupun di luar itu. Petikan-petikan kisah ini diharapkan


8

dapat menjadi inspirasi dalam bersikap dan berperilaku bagi seluruh pejabat/ pegawai Kementerian Keuangan agar kita sebagai warga negara yang sekaligus juga sebagai Aparatur Sipil Negara dapat tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa (baik di dunia nyata maupun dunia maya), tidak ikut terpancing pada aktivitas-aktivitas yang dapat merusak ketahanan NKRI, menjaga netralitas ASN, dan jangan sampai kita terpecah belah atau bahkan termasuk orang-orang yang ikut memecah belah rumah kita, Indonesia. Saya mengharapkan seluruh pejabat/pegawai Kementerian Keuangan membaca, memahami, menumbuhkan, dan mempraktikkan Gerakan Indonesia Bersatu dengan sungguh-sungguh agar kita dapat kembali memaknai persatuan dan kesatuan. Negeri ini berdiri di atas kemajemukan dan kita sepakat untuk bersatu, bergotong royong, dan bahu-membahu membangun Indonesia tercinta. Ucapan terima kasih dan penghargaan saya sampaikan kepada seluruh penulis, editor, dan tim kerja yang telah berhasil menyusun buku ini. Semoga buku ini dapat menjadi energi positif dalam berkarya bagi seluruh pejabat/pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan. Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

S R I M U LYA N I I N D R AWA T I


Perekat Indonesia

9

Daftar Isi

12 - Gerakan Indonesia Bersatu Penguat Persatuan, Perawat Kebinekaan Warna Nusantara 18 - Kemenkeu Telah Menyatukan Kami 26 - Merakit Persatuan di Setiap Zona Waktu 32 - Multikultural 37 - Anak Indonesia Barat-Timur Sama Saja 42 - Kisah dari Timur Timor 47 - Anak Asuh Orang Papua 50 - Mengapa Kita Tidak Tersenyum Saja?

57 - Mengasah Mutiara dari Papua 75 - Magdalena, Sa Pu Nama Negeri Bahari 82 - Badai Pasti Berlalu, Insyaallah 85 - Sinergi Instansi Dedikasi Untuk Pertiwi 89 - Lentera Motivasi 96 - Filosofi Ombak Beragam Dalam Keberagamaan 104 - Coba Saja! Enak Kok! 107 - Surat Terbuka Untuk Gung Tirta 109 - Peran Bintal Dalam


10

Pemulihan Trauma Pasca Bom Surabaya

Masyarakat Setempat Dalam Rangka Tour Of Duty

112 - Tingkatkan Integritas Dengan Bintalnas

176 - Jawaban Tuhan Itu Bernama Kanwil DJPb

Ekualitas Minoritas 120 - Menjadi Bagian dari Tenun Kebangsaan

180 - SIMPONI: Bukan Sekadar Create Billing Setoran PNBP

124 - Menjadi Minoritas

183 - Satu Bumi Satu Saudara

128 - Gegar Lambung di Takengon, Gegar Budaya di Singkawang

186 - Balada Pegawai Dan Nelayan Pantai Fitu

130 - Hidup Normal Bersama Epilepsiku Sahabat Masyarakat 138 - Layanan Filial di Morowali 142 - Integritas di Tapal Batas 147 - Penyintas di Tepian Pasifik 152 - Mitra Kerja 156 - Ketika Hati Menjadi Teguh 159 - PMK dan Perdirjen, Pahlawanku 165 - Buku Saku Istimewa 171 - Sinergi Dengan

191 - Perjalanan Yang Lebih Berarti Bersama Membangun Bangsa 198 - Infrastruktur Sumatra Utara Dan Kesatuan Bangsa Indonesia 202 - Extra Miles Untuk Indonesia 206 - Kolaborasi Tingkat Dewa Satu untuk Semua 211 - Sosialisasi di Ujung Negeri 216 - Patriotisme di Serambi Makkah 221 - Sei Guntung Merajut Nasionalisme Dengan Bangga Membayar Pajak


Perekat Indonesia

11

229 - Rumah Pajak Untuk Anak

292 - Tentang Program Beasiswa LPDP

235 - Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong

296 - Merajut Kesatuan Melalui Pendidikan Kedinasan

239 - Pajak Sebagai National Security Bertaut Melawan Takut 244 - Temankeu Lombok 247 - Berkawan Dengan Rasa Takut 252 - Sebelas Ukhuwah di Atas Tanah Terbelah 257 - Pahlawan 260 - Pengabdian di Tengah Bencana 265 - Jangan Mencari Toleransi di Indonesia

302 - Sekolah Rimba di Taliabu Muda dan Berdaya 308 - Kisah Kami, Kemenkeu Muda Kei 313 - Nyala Kementerian Kegunaan di Pedalaman Kalimantan Timur 317 - Menjadi Ikan Besar di Kolam Kecil 323 - Merawat Kebangsaan Sekaligus Edukasi Keuangan Negara yang Menyenangkan

Kontribusi dalam Demokrasi

330 - Menabur Benih Sedari Dini Untuk Mengakar

272 - Bersama Tak Harus Sama

339 - Tentang Sinergi dan Penempatan di Ujung Negeri

276 - Bergeser Tempat Duduk Sejajar Belajar 282 - Bukan Mengajar, Kami Belajar 287 - Semangat Berbagi, Menebar Inspirasi

346 - Milenial, Kaum Sosial Era Modern


12

Gerakan Indonesia Bersatu Penguat Persatuan, Perawat Kebinekaan

Revolusi Mental dapat dimaknai sebagai suatu pendekatan dalam mengejawantahkan cita-cita luhur para pendiri bangsa, yang tertuang di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memajukan kesejahteraan umum. Semangat Revolusi Mental ada untuk melanjutkan perjuangan besar mengisi janji kemerdekaan yang pertama kali dicetuskan Presiden RI pertama Soekarno dalam pidato kenegaraan memperingati proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1957. Revolusi Mental ala Soekarno adalah semacam Gerakan Hidup baru untuk menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia Baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat Elang Rajawali dan berjiwa Api. Semangat revolusi mental ini juga kemudian menjadi dasar bagi Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1964 untuk memperkenalkan gagasan Trisakti, yaitu: • • •

Indonesia berdaulat dalam politik; Indonesia berdikari dalam ekonomi; Indonesia Berkepribadian dalam kebudayaan.


Perekat Indonesia

Gagasan Revolusi Mental ini kemudian pada tahun 2014 digaungkan kembali oleh Presiden ketujuh Republik Indonesia Joko Widodo. Presiden Joko Widodo menyerukan untuk memulai sebuah Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian. Dalam GNRM ini terdapat 5 (lima) program yaitu: Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri, dan Gerakan Indonesia Bersatu. Gerakan Indonesia Bersatu adalah gerakan para penyelenggara negara dan masyarakat untuk mewujudkan perilaku saling menghargai dan gotong royong untuk memperkuat jati diri dan karakter bangsa berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Fokus program Gerakan Indonesia Bersatu terdiri dari: 1. Peningkatan perilaku yang mendukung kehidupan demokrasi Pancasila. 2. Peningkatan perilaku toleran dan kerukunan inter dan antarumat beragama.

13


14

3. Peningkatan perilaku yang mendukung kesadaran nasionalisme, patriotisme, dan kesetiakawanan sosial. 4. Peningkatan kebijakan yang mendukung persatuan dan kesatuan bangsa. 5. Peningkatan perilaku yang memberikan pengakuan dan perlindungan terhadap kaum minoritas, marginal, dan berkebutuhan khusus. 6. Peningkatan dukungan terhadap inisiatif dan peran masyarakat dalam pembangunan. 7. Peningkatan perilaku kerja sama inter dan antarlembaga, komponen masyarakat, dan lintas sektor. 8. Peningkatan penegakan hukum terhadap pelaku pelanggaran yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. 9. Penyelenggaraan pendidikan agama yang mengajarkan keragaman, toleransi, dan budi pekerti. 10. Peningkatan peran lembaga agama, keluarga, dan media publik dalam persemaian nilai-nilai budi pekerti, toleransi, dan hidup rukun. Terkait Gerakan Indonesia Bersatu, Kementerian Keuangan merupakan unit organisasi yang sangat besar dengan pegawai berjumlah lebih dari 80.000 yang tersebar ke berbagai penjuru Indonesia. Dengan cakupan yang begitu luas, Kementerian Keuangan memiliki potensi yang besar untuk mendukung pelaksanaan Gerakan Indonesia Bersatu dalam upayanya meningkatkan daya rekat sosial dalam kemajemukan. Beberapa contoh kebijakan/kegiatan yang dilaksanakan di Kementerian Keuangan yang sejalan dengan Gerakan Indonesia Bersatu, antara lain: 1. Peningkatan alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur (dengan tetap diimbangi dengan pembangunan SDM). 2. Peningkatan standar pelayanan dan peningkatan edukasi publik untuk membangun kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak (sebagai salah satu bela negara untuk pembangunan bangsa).


Perekat Indonesia

3. Adanya kantor pelayanan/pos bantu/layanan filial di daerah perbatasan atau yang sulit perhubungannya. 4. Optimalisasi desentralisasi fiskal dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan. 5. Upaya merangkul masyarakat dalam pembiayaan infrastruktur (SUKUK Negara). 6. Pemberian materi kuliah Budaya Nusantara (atau materi lain terkait nasionalisme, kebhinnekaan, patriotisme, bela negara) di PKN STAN atau pada diklat (seperti kesamaptaan). 7. Kegiatan sosial di Kemenkeu, seperti: Kemenkeu Mengajar, Kemenkeu Muda, Kemenkeu Peduli Bencana. 8. Pemberian Beasiswa LPDP. 9. Pemberdayaan Bintal, fasilitasi kegiatan keagamaan. 10. Upaya peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap Pemerintah, seperti: membuka ruang dialog publik/persuasif untuk para pengunjuk rasa. 11. Netralitas pegawai dalam Pemilu/Pilkada. 12. Kebijakan Rekrutmen SDM formasi khusus disabilitas/putra putri Papua. 13. Penyediaan sarana dan prasarana untuk pengguna layanan berkebutuhan khusus.

15


W

A

R

16

N

A

NU

TARA N A S


Perekat Indonesia

P e r e k a t I n d o n e s17 ia

“Keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya� Abdurrahman Wahid (Gus Dur)


18

Kemenkeu Telah Menyatukan Kami Mujiyo, KPP Klaten - DJP

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Sebaiknya kita selalu mengikuti kebiasaan dan adat istiadat di manapun kita berada. “Desa mawa cara, Negara mawa tata”. Desa mempunyai adat sendiri, Negara mempunyai hukum sendiri. Dua pepatah itulah modal awal saat aku pertama kali bertugas di Pulau Bali yang lebih dikenal dengan sebutan Pulau Dewata. Selepas lulus STAN tahun 1996, aku ditugaskan di Kantor Pelayanan Pajak Singaraja, tepatnya tanggal 8 Maret 1997. Sebelum berangkat dari kampung halamanku di Bantul (DIY), aku diberi petuah/nasihat oleh ayahku akan pitutur Jawa yang sangat dalam maknanya, yaitu “Desa mawa cara, negara mawa tata”. Ayahku berpesan untuk berpegang teguh akan pitutur tersebut. Untuk perjalanan dari Bantul menuju Bali, aku memilih menggunakan angkutan darat (bus) dengan pertimbangan lebih hemat dan agar saya bisa merasakan dan melihat kondisi daerah Bali di sepanjang perjalanan. Berbekal SK penempatan dengan pangkat IIa, aku menatap masa depan dengan penuh optimis. Mental yang tertanam di dadaku adalah mental transmigran, harus terbiasa hidup dalam kondisi serba terbatas dan berusaha keras hidup mapan. Kebiasaan hidup

-


Perekat Indonesia

19

sehari-hari di Bantul seperti bertani, bercocok tanam, memelihara kambing dan sapi, aku teruskan di Bali agar kelak aku betah tinggal di Bali, karena ayahku adalah seorang petani kecil. Sebenarnya tidak ada mental birokrat dalam diriku. KPP Singaraja terletak di Kabupaten Buleleng, tepatnya di Bali Utara. Kebanyakan orang tidak tahu kota Singaraja. Yang dikenal dari Bali hanya Kuta, Sanur, Nusa Dua, dan Denpasar yang terletak di Bali Selatan. KPP Singaraja terletak di Jalan Udayana No. 10, Singaraja, menempati Gedung Keuangan Negara (GKN) Singaraja. Di GKN tersebut ada 3 kantor di bawah Departemen Keuangan yaitu Kantor Pelayanan Kas Negara (KPKN) Singaraja, Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KPPBB) Singaraja, dan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Singaraja. Sebagai pegawai baru, aku belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dengan kondisi bahasa, suku, budaya, adat istiadat, agama, dan kondisi lingkungan yang berbeda dengan kampung halamanku. Rekan kerjaku hampir 75% beragama Hindu. Dalam pergaulan sehari-hari terkadang mereka memakai bahasa Bali yang tidak kupahami artinya. Tetapi aku berusaha untuk sedikit demi sedikit belajar bahasa Bali agar dalam percakapan sehari-hari bisa nyambung dan ternyata hal ini mempermudah aku dalam melayani Wajib Pajak karena memperlancar komunikasi kami. Dalam hitungan bulan, aku sudah bisa menyesuaikan dengan lingkungan kerja. Dalam kehidupan sehari-hari, aku tinggal di lingkungan Bali. Di sinilah aku berusaha mengetahui adat istiadat dan budaya Bali. Dalam keseharian tidak asing di telinga ini mendengar lantunan doa Puja Trisandya dari pura dekat rumahku yang terdengar tiga kali sehari, yaitu pagi (setelah subuh), siang (tengah hari/zuhur), dan sore (menjelang malam/magrib). Aku merasa tidak terganggu dengan suara tersebut. Seperti halnya saudarasaudara kami umat Hindu mendengar suara azan lima kali yang bersal dari musala di samping rumahku. Kami hidup berdampingan dan saling menghormati satu sama lainnya. Pada bulan Juni 1999 aku mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak dialami oleh PNS di daerah lain. Aku mendapat tugas ikut program ABRI Masuk Desa yaitu membuat jalan tembus/jalan baru di desa Gitgit, Sukasada, dan Buleleng. Bersama TNI, Polri, dan PNS dilingkungan Pemda Buleleng, kami bersama-sama masyarakat sekitar membuat jalan untuk akses warga yang mayoritas berkebun cengkeh, kopi, dan hasil perkebunan lainnya dengan harapan setelah dibukanya jalan tersebut dapat mempermudah mobilisasi warga dalam memasarkan hasil perkebunannya ke kota Singaraja.


20

Kami bergotong royong dengan menggunakan peralatan seperti cangkul, sekop, dll. Tanggal 12 Oktober 1999 adalah hari bersejarah bagi kami keluarga besar Departemen Keuangan, khususnya GKN Singaraja. GKN Singaraja dibakar oleh massa karena tidak puas dengan hasil Pemilu 1999. Pagi itu sehabis aku mengisi presensi pagi, kami didatangi dan diberi tahu oleh aparat keamanan, bahwa sebentar lagi massa akan menyerbu GKN Singaraja. Kami adalah saksi hidup GKN Singaraja dibakar dan dijarah oleh massa. Mereka berpikir GKN (Gedung Keuangan Negara) adalah gedung tempat menyimpan uang. Tiga kantor hangus terbakar tanpa sisa. Semua gedung Pemerintahan di kabupaten Buleleng habis dibakar massa. Kami tidak bisa berkata apa-apa, kami hanya bisa menangis atas perbuatan anarkis massa yang tidak bertanggung jawab. Atas kejadian ini, kami pegawai GKN Singaraja bersatu padu untuk bangkit dan mengatasi masalah yang timbul akibat kami sudah tidak memiliki kantor lagi. Selama 3 bulan (dari bulan Oktober 1999 s.d awal Januari 2000) kami tidak bisa beraktivitas maksimal dalam pelayanan Wajib Pajak. Hal ini disebabkan sarana dan prasarana kantor dalam kondisi yang sangat terbatas. Kami seluruh pegawai KPP Singaraja bersatu tanpa melihat latar belakang suku dan agama. Kami juga tidak pernah berpikir atau berprasangka bahwa pembakar kantor kami adalah etnis tertentu. Yang ada di pikiran kami, perusuh dan pembakar gedung kami adalah orang-orang yang tidak punya jiwa memiliki dan rasa nasionalisme atas aset negara. Untuk meningkatkan keimanan dan kekeluargaan, kami keluarga besar muslim GKN Singaraja mengadakan pengajian rutin bulanan di kantor dan setiap Iduladha kami mengadakan penyembelihan hewan kurban yang dagingnya selain dibagi ke umat muslim juga dibagi ke keluarga besar GKN Singaraja yang beragama Hindu, sebagai bentuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan kita. Bagi umat Hindu di GKN Singaraja, ada pura tempat sembahyang bagi mereka. Setiap hari ada umat Hindu yang sembahyangan dengan mempersembahkan bunga atau canang yang ditaruh di tempat-tempat tertentu. Setiap bulan Purnama dan Tilem ada sembahyangan, demikian juga enam bulan sekali diadakan Odalan dan setiap perayaan umat Hindu seperti Galungan Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, Saraswati, dan hari raya Hindu lainnya. Saudara kami umat Hindu melakukan sembahyangan bersama di pura tersebut. Tuhan memberiku belahan jiwa di GKN Singaraja. Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan istri gadis Bali. Tepatnya tanggal 28 September


Perekat Indonesia

Ayah mertuaku menikah dengan seorang bidan yang beragama Katolik, ibu mertua kami ikut ayah mertua yang beragama Hindu. Ibu mertua dari Blitar dengan latar belakang keluarga besar Muslim dan Katolik. Inilah keluarga kami, keluarga Pancasila.

21

2000, aku yang seorang muslim dan calon istri yang beragama Hindu. Dalam proses pernikahan kami, alhamdulilah aku sangat dimudahkan dan tidak ada halangan yang berarti. Dengan disaksikan oleh Kepala KPP Singaraja, akad nikah dilangsungkan di musala samping rumah kami. Dari keluarga besar istri dengan ikhlas melepaskan kepindahan agama istri untuk menjadi seorang muslimah karena mereka berprinsip wanita harus ikut suami. Ternyata bila ditelusuri sejarah keluarga besar istri, ada kaitan antara Jawa dengan Bali. Kakek dari istri adalah seorang pejuang saat perang gerilya di Yogyakarta pada tahun 1945. Beliau adalah seorang polisi yang mengambil istri dari Trenggalek dan seorang muslim. Ayah mertua lahir di Yogyakarta pada tahun 1948 dan mendapatkan kenangan sebuah nama yang berbau Jawa, yaitu I Gede Guritno dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang pada saat itu Beliau sedang berkunjung ke markas prajurit di Madukismo,


22

Yogyakarta. Setelah itu, kakek kami balik ke Bali. Ayah mertuaku menikah dengan seorang bidan yang beragama Katolik, ibu mertua kami ikut ayah mertua yang beragama Hindu. Ibu mertua dari Blitar dengan latar belakang keluarga besar Muslim dan Katolik. Inilah keluarga kami, keluarga Pancasila. Sebagai bentuk penghormatanku pada keluarga besar Bali yang beragama Hindu, nama istriku tetap memakai nama Bali, yaitu Ni Putu Novy Avianti. Inilah salah satu komitmen kami untuk keluarga Bali. Aku mendapatkan nasihat dari keluarga Bali, “Agama boleh berbeda, tetapi hubungan keluarga dan kekeluargaan tidak boleh putus sampai kapan pun�. Aku harus ingat dengan leluhur keluarga besar Bali sebagai cikal bakal lahirnya istriku. Jika kuhitung, 25% darah yang mengalir di tubuh istri adalah darah Bali. Berarti di tubuh anak-anak kami ada12,5% darah Bali yang mengalir. Kami tinggal di sebuah rumah sederhana dengan ukuran 72 m2. Kami tinggal di perumahan BTN dengan penduduk mayoritas warga Bali asli. Warga muslim lebih kurang 25% dari jumlah penduduk. Perumahan kami ada fasilitas tempat ibadah pura dan musala. Kami hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Kami saling menghormati satu sama lain. Saat perayaan hari raya umat Hindu, saudara Hindu selalu mengirim jaje Bali seperti tape ketan, uli, dodol Bali, dan kue-kue lainnya. Demikian juga saat lebaran aku selalu mengirim opor ayam dan ketupat kepada tetangga kami yang beragama Hindu. Kami berusaha hidup menyama braya (bermasyarakat), membaur tanpa melihat perbedaan agama, suku, dan bahasa. Saat ada kematian, aku pun melayat, demikian juga bila ada upacara kelahiran (3 bulanan) dan perkawinan, pasti kami diundang. Kami dianggap sudah menjadi bagian dari masyarakat Bali (semeton Bali). Kehidupanku sehari-hari dengan semeton Bali ternyata memudahkan dan membantuku dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari sebagai pegawai DJP. Dalam menjalankan tugas sehari-hari kami banyak bersentuhan dengan Wajib Pajak asli Bali. Dengan mempelajari bahasa budaya Bali, sangat memudahkan kami dalam menyelesaikan tugas sehari-hari terutama saat aku bertemu langsung secara tatap muka. Aku biasanya berkenalan, menceritakan asal usulku, juga bercerita bahwa aku mempunyai keluarga besar dari Bali karena aku menikah dengan orang Bali. Hampir seluruh WP sangat respek dan merasa nyaman saat berkonsultasi denganku, tentunya dalam hal ini integritas tetap nomor satu dan harga mati. Aku belajar banyak tentang budaya Bali. Ada hal yang membuatku kagum dan


Perekat Indonesia

23

harus ditularkan ke anak cucu kami atau masyarakat Indonesia pada umumnya, yaitu menjaga alam dan kekeluargaan, serta gotong royong. Masyarakat Bali rajin dan selalu menanam tanaman. Setiap rumah pasti ada tanaman bunga ataupun buah-buahan, sehingga pekarangan ataupun sejengkal tanah yang ada selalu dimanfaatkan agar menghasilkan. Hal inilah yang membuat Bali sangat indah dan hijau. Mental petani yang ada di jiwaku dan lokasi tempat tinggal yang berada di pedesaan menuntutku untuk bercocok tanam di saat hari SabtuMinggu. Sebuah selingan hidup yang menyenangkan di samping rutinitas pekerjaan kantor yang menyita waktu, pikiran, dan jiwa raga . Bermodalkan tanah hibah dari orang tua, aku menanam sayur mayur, pisang, pepaya, mangga, dll. Alhamdulilah hasilnya bisa dibagi-bagi ke tetangga untuk mempererat kekeluargaan kami dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat. Pertengahan tahun 2011 aku pindah tugas ke Kantor Pelayanan Pajak Madya Denpasar. Pindah tugas ini membuatku harus berpisah dengan keluarga. Untuk menjaga psikologis anak-anak yang baru memasuki dunia sekolah, terpaksa kami mengambil keputusan aku tinggal sendiri di Denpasar, sementara anak dan istri tetap tinggal di Singaraja. Tinggal di kota besar Denpasar tentu sangat berbeda dengan kota Singaraja. Di sini sehari-hari aku harus terbiasa dengan padatnya penduduk dan hiruk pikuk kehidupan yang sangat dinamis dibandingkan dengan kota Singaraja. Di kota Denpasar aku mendapatkan tambahan pengalaman hidup berdampingan. Aku tinggal di perumahan di tengah kota Denpasar milik orang tua istri. Di sini tetangganya lebih kompleks. Ada Muslim, Hindu, Kristen, Katolik. Etnis dan sukunya pun beraneka, ada Jawa, Bali, Batak, dan keturunan Tionghoa. Alhamdulilah kami sudah kenal lama sebelumnya, sehingga membuat kehidupan sehari-hariku lebih nyaman. Saat aku pulang ke Singaraja, rumah ku titipkan ke tetangga keturunan Tionghoa karena rumahnya tepat di depan rumahku. Rekan-rekan kantor kami juga sangat menyenangkan. Secara persentase hampir 70 % adalah muslim karena sebagian besar dari luar Bali. Kehidupan di kantor kami pun begitu hangat dalam kekeluargaan. Kami saling bahu membahu dalam mencapai target penerimaan kantor kami. Dalam sehari-hari, kami melaksanakan salat Zuhur dan Asar secara berjamaah, rekanrekan umat Hindu juga sembahyang di pura belakang kantor. Sebulan sekali umat Muslim mengadakan acara SABAR (Sarapan Bareng) yang diisi dengan siraman rohani dengan mengundang ustaz dari luar mulai pukul 07.30 hingga 08.30. Rekan-rekan umat agama lain pun bila berkenan kami undang untuk ikut sarapan bersama sebagi wujud kebersamaan kami.


24

Sebenarnya aku masih betah dan nyaman tugas di Bali, apalagi kami memiliki keluarga besar di Bali dan aku sudah hampir tinggal di Bali selama 18 tahun. Namun ada keinginan juga untuk bisa bertugas di home base agar bisa dekat dengan orang tua dan anak-anak bisa sekolah di Yogyakarta. Alhamdulilah tanggal 12 Juli 2015 keluar SK mutasiku ke KPP Pratama Klaten. Aku harus berkemas dan bergerak cepat untuk mengurus surat pindah sekolah anak-anak kami. Di Yogyakarta kami tinggal di sebuah dusun di pingggiran kota dengan suasana desa yang mayoritas warganya sebagai buruh, petani, peternak sapi, dan penarik andong untuk wisata di Malioboro. Kampungku boleh dibilang kampung Andong Malioboro. Di sinilah kehidupan yang sebenarnya untuk hari tuaku dimulai. Semoga ini terminal terakhirku karena di sini aku dapat mengajarkan kepada anak-anak tentang unggah-ungguh dan tepo seliro sesuai dengan adat Jawa. KPP Pratama Klaten terletak tepat di kota Klaten. Jarak tempuh dari rumah lebih kurang 45 menit dengan mengendarai sepeda motor. Lingkungan dan kondisi kantor sangat berbeda dengan saat aku di Bali. Di sini mayoritas karyawan beragama Islam dan ada masjid yang cukup bagus sebagai salah satu fasilitas kantor. Ada pengalaman yang menarik di Klaten, saat aku sedang bertugas ke luar kantor (kunjungan ke Wajib Pajak), ketika aku memarkir kendaraan, ada yang aneh yang membuatku serasa di Bali. Ternyata tanpa sadar aku parkir kendaraan di depan pura! Aku benar-benar merasa seperti di Bali. Demikian juga saat aku mengunjungi desa-desa di Klaten, banyak ku temui tempat ibadah umat Hindu. Aku sengaja tidak memutasi plat kendaraanku menjadi plat kendaraan Yogyakarta dengan pertimbangan sebagai salah satu kenangan dari Bali. Bila di jalan aku menemukan kendaraan berplat DK, aku merasa berjumpa dengan semeton Bali. Aku sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga besar Kementerian Keuangan. Dengan penempatan yang menjangkau seluruh Indonesia, aku bisa belajar keanekaragaman budaya dari daerah lainnya, dalam hal ini Bali. Aku mendapatkan nilai-nilai luhur budaya Bali yang dapat mempererat rasa nasionalisme dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ternyata, penempatan dan mutasi ke seluruh Indonesia memberikan berkah bagiku dan keluarga. Sudah sepatutnya kebijaksanaan ini bisa dipertahankan. Aku mempunyai utang dengan negeri ini. Mulai dari sekolah gratis di STAN hingga penugasan di Bali. Sebagai anak bangsa, aku merasakan betul atas manfaat nilai- nilai luhur budaya bangsa, dalam hal ini budaya Jawa dan Bali. Dua budaya tersebut telah membentuk


Perekat Indonesia

25

karakter hidup dalam keluarga kami dan diaplikasikan dalam kehidupan seharihari. Sebagai bentuk kecintaanku dengan budaya Jawa dan Bali, pada tahun 2017, dengan modal tabungan dan hibah dari orang tua, kami membangun rumah Jawa (joglo, limasan) dengan konsep budaya Jawa dan Bali. Rumah tersebut kami beri nama “Omah Pitutur Mudji HW�. Di rumah tersebut sengaja kubuat klasik dan zadul dengan ornamen nilai-nilai luhur dan pitutur budaya Jawa. Terdapat lukisan anak-anak yang menggambarkan permainan tempo dulu seperti gobak sodor, bentik, engklek, boy-boy-an, kasti, lompat tali, dll. Kami juga memfasilitasi Omah Pitutur dengan wayang, permainan tradisional gasing, dakon, kelereng, dll. Rumah ini kami gunakan untuk aktivitas sosial nonprofit bagi anak-anak sekolah mulai SD hingga SMA. Sebagai tempat kami berbagi pengalaman hidup dan kebudayaan Jawa. Memotivasi anak-anak untuk mencintai budaya bangsa sendiri, mencintai negeri ini. Konsep kami yaitu anak-anak harus berilmu, beriman, dan berbudaya. Dalam setiap aktivitas motivasi selalu diselipkan tentang kebangsaan dan nasionalisme. Anak-anak harus mencintai budaya Indonesia, mencintai dan memakai produk dalam negeri, dan berwisata di dalam negeri. Kusisipkan juga tentang APBN, pajak, dan keuangan negara. Harapanku generasi muda sadar akan pajak dan paham akan keuangan negara. Selain itu, dengan adanya kebijaksanaan flexi time bagi pegawai Kemenkeu juga merupakan berkah bagiku. Aku bisa pulang lebih cepat 30 menit karena sudah delapan tahun terakhir ini aku membiasakan diri datang lebih awal yaitu pukul 06.30 WIB. Dengan pulang lebih cepat, ternyata memberikan dampak yang baik bagi kehidupan sosialku. Aku bisa salat Magrib berjamaah di masjid kampung dan bertemu tetangga setiap hari. Aku juga bisa menghadiri acara-cara keagamaan, kegiatan sosial, ronda, rapat kampung, dll. Saat bersosialisasi dengan tetangga, aku bisa berbagi pengalaman dan kisah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tidak sedikit teman-teman yang datang mengajak wedangan sembari mengulas tentang dolanan anak-anak masa lalu, gamelan, wayang, omah Jawa, dll. Terima kasih Kementerian Keuangan yang telah mendukung kami untuk dapat berkontribusi dan bermanfaat, baik di kantor maupun di masyarakat. Perbedaan adat-istiadat, budaya, dan agama, terbukti dapat menyatukan kita, agen pemersatu Bangsa.


26

Merakit Persatuan di Setiap Zona Waktu Arif Kurniawan, KPPN Bima - DJPb

Empat kali penempatan tugas membuatku mengenal ragam bahasa, adat, dan budaya dari berbagai suku, ras, dan agama di tiga zona waktu Indonesia. Semuanya adalah keluarga besarku. Selamanya. November 1998, aku menginjakkan kaki di zona waktu Indonesia bagian timur, tepatnya di Tual, Maluku Tenggara, bersama seorang teman satu angkatan. Perjalanan empat hari tiga malam harus kami tempuh dengan kapal PELNI dari Surabaya, karena saat itu pesawat terbang tidak terjangkau harganya. Sebelumnya tidak ada lulusan STAN yang ditugaskan di sana, sehingga kami mesti intens membaur dengan masyarakat setempat. Alhamdulillah, kami disambut dengan baik. Kendala yang ada dalam melayani stakeholders, terutama dari segi bahasa, dapat diatasi dengan seringnya bertanya kepada rekan sekantor. Namun ternyata ada kendala lain menyangkut keberlangsungan hidup. Kami tinggal di rumah dinas darurat yang saluran air PDAM-nya sudah diputus. Status sebagai tenaga honorer dengan upah bulanan yang tidak banyak, sedangkan biaya hidup sangat tinggi, membuat kami harus pintar-pintar untuk dapat terus bertahan. Kami pun memutuskan untuk memasak sendiri. Di situlah kami rasakan rekatnya persaudaraan. Para tetangga berbaik hati menyumbang peralatan memasak, mulai

-


Perekat Indonesia

27

dari kompor, panci, dandang, penggorengan, bahkan ember. Untuk memenuhi kebutuhan air, selain menampung dari air hujan, kami juga mendapatkan sumbangan dari para tetangga saat air PDAM mengalir seminggu sekali setiap hari Rabu pukul 09.00 selama 3 jam. Saat penampungan air mereka sudah penuh, kami menarik selang untuk dialirkan ke penampungan rumah, selain juga menampung di ember-ember. Persaudaraan pun tetap berlangsung erat, walaupun empat bulan setelahnya, ada ujian besar, ketika kami mesti berjibaku dengan nyawa. 1 April 1999, kerusuhan sosial bernuansa agama melanda Maluku Tenggara dan memaksaku menjadi pengungsi. Lebih kurang dua bulan aku berkelana dengan status tersebut dan setelahnya aku kembali ke Tual dalam situasi yang sudah aman tapi mencekam selama sekitar satu tahun. Meskipun demikian, hal tersebut tak menyurutkan langkahku untuk terus merajut persaudaraan dengan masyarakat sekitar. Misalnya, dalam perjalanan pulang pergi dari rumah dinas ke kantor, aku mesti melalui pemukiman penduduk yang umumnya memelihara anjing penjaga yang akan menyalak ketika lewat orang yang tidak dikenal. Oleh pemiliknya, anjing-anjing tersebut “dikenalkan� kepadaku dengan menyuruhnya membaui, sehingga perjalananku pun menjadi aman. Ketika saatnya hari raya Natal tiba, penduduk sekitar yang beragama Nasrani berkeliling untuk saling mengucapkan selamat. Tak ketinggalan rumahku pun ikut disapa. Dengan senang hati aku menyediakan makanan dan minuman ringan, serta camilan kesukaan anak-anak berupa permen dan uang saku sekadarnya. Saat itu, aku bahkan sampai hafal beberapa kidung Natal karena sering mendengarnya ketika rekan-rekan kantor berlatih. Pun saat hari raya Idulfitri, para tetangga juga berkunjung tanpa mengenal agama dan dengan tulus saling memaafkan. Tiba saatnya saat aku dipindahtugaskan ke zona waktu Indonesia bagian tengah, Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan diamanahi sebagai tenaga protokoler Kanwil DJPb. Saat itu, dengan status Kepala Kanwil DJPb adalah Kepala Perwadep (Perwakilan Departemen), membuatku melayani siapa pun yang berkunjung ke Kanwil DJPb, baik dari internal DJPb, maupun dari unit Eselon I lain yang tidak memiliki kantor vertikal di daerah, bahkan dari kementerian/lembaga lain saat ada kegiatan di Mataram, seperti Setwapres. Semuanya kujalani dengan senang hati karena secara personal aku pun mendapatkan banyak saudara baru.


28

Saat itu, Kanwil DJPb dipercaya untuk menjadi penyelenggara pendaftaran calon mahasiswa baru STAN. Dengan melihat antusiasme para pendaftar pada tahun sebelumnya, pada tahun itu kami berinisiatif untuk menyelenggarakan try out ujian masuk STAN agar para pendaftar memiliki persiapan yang lebih baik. Kegiatan tersebut akhirnya terselenggara dengan bahu-membahu bersama rekanrekan alumni STAN dari DJP, DJBC, dan DJKN, dan kabarnya, acara tersebut adalah acara yang pertama kali terselenggara di wilayah NTB. Selain bermanfaat untuk para calon mahasiswa, dengan adanya acara tersebut juga menjadi sarana untuk menjalin keakraban antaralumni, dengan kegiatan makan siang bersama setelah acara, serta kunjungan bersama ke tempat wisata yang ada di kota Mataram. Waktu terus bergerak. Empat tahun berada di zona bagian tengah, aku dialihtugaskan ke zona waktu Indonesia bagian barat, di ibu kota negara, Jakarta. Peran sebagai penggawa perancang dan pengharmonisasi peraturan di bidang perbendaharaan, membuatku berkoordinasi secara intens dengan hampir seluruh unit Eselon II DJPb dan unit Eselon I Kemenkeu, serta banyak kementerian/ lembaga. Dalam penyusunan PP Nomor 45 Tahun 2013 (Tata Acara Pelaksanaan APBN) misalnya, aku berkesempatan untuk turut berkoordinasi dan datang ke Kemenkumham, Kemendagri, Bappenas, Kemensetneg, dan LKPP. Dalam proses pengalihan administrasi belanja PNS, Polri, dan TNI, aku pun turut wira-wiri ke KemenPANRB, BKN, Mabes Polri, Mabes TNI, maupun Kemhan. Banyak hal yang aku dapatkan dari kesempatan ini, paling tidak, setelah aku tidak di Jakarta lagi, sampai dengan saat ini pun aku masih sering berkomunikasi ataupun bertukar informasi dengan para pejabat/pegawai dari kementerian/lembaga tersebut. Setelah sembilan tahun, akhirnya aku kembali lagi ke zona waktu Indonesia bagian tengah, tepatnya di Bima, NTB. Dalam waktu tiga tahun itu, dengan berbagai peristiwa yang kualami, membuatku merasa, inilah nikmatnya berperan sebagai pejuang perbendaharaan di daerah, walaupun sekali lagi, aku kembali menjadi pengungsi. 21 dan 23 Desember 2016, banjir bandang terbesar sepanjang sejarah republik ini berdiri melanda Kota Bima dua kali. Sekitar tujuh puluh persen wilayah kota terendam air bercampur lumpur. Rumah dinas KPPN Bima pun turut terendam setinggi sekitar satu meter, membuat para penghuni harus mengungsi. Beruntung untuk KPPN Bima bangunannya tinggi, sehingga tidak sampai terendam.


Perekat Indonesia

Namun tidak itu saja, dengan lingkungan sekitar yang hampir seratus persen terendam banjir, membuat aula KPPN Bima menjadi tempat penampungan sekitar dua ratus pengungsi dari warga sekitar selama lebih kurang seminggu.

29

Separuh pegawai KPPN Bima pun akhirnya berkumpul di kantor selama hampir dua minggu. Namun tidak itu saja, dengan lingkungan sekitar yang hampir seratus persen terendam banjir, membuat aula KPPN Bima menjadi tempat penampungan sekitar dua ratus pengungsi dari warga sekitar selama lebih kurang seminggu. Saat itu PLN sepenuhnya padam, air PDAM tidak mengalir, jaringan komunikasi terputus, ditambah perdagangan lumpuh, sehingga para pengungsi sepenuhnya mengandalkan pasokan makanan dari BNPB. KPPN Bima menjadi tumpuan dengan adanya generator set (genset) yang menjamin para penghuni kantor termasuk pengungsi untuk mendapatkan pasokan listrik serta aliran air bersih. Para pengungsi pun dapat mandi dan mencuci. Beruntung juga masih ada stok air mineral galon sehingga KPPN Bima dapat menyediakan air minum untuk para pengungsi. Selama ada pengungsi di kantor, aku dan rekan-rekan KPPN Bima berkoordinasi dengan BNPB untuk penyediaan


30

makanan tiga kali sehari, dengan menggunakan handy talky yang disediakan oleh Polres Bima Kota. Peran penting KPPN Bima dalam menangani para pengungsi tersebut diakui oleh pemerintah daerah Kota Bima. Selain itu, meskipun masih dalam masa pengungsian tersebut, KPPN Bima juga masih melayani stakeholders, walaupun dengan pakaian dan makanan seadanya yang merupakan bantuan dari Kanwil DJPb dan para KPPN lingkup Provinsi NTB, karena nyaris semua pakaian ikut terendam lumpur. Ketika datang ke Bima, aku mengaktifkan kembali hobi yang lama sudah tidak kujalani, yaitu naik sepeda. Bulan kedua di Bima, aku mulai menelusuri jalanan setiap Sabtu dan Minggu. Tak ternyana, dengan hobi itu aku bertemu dengan orang-orang yang punya hobi sama dan dimasukkan ke dalam anggota salah satu klub. Anggota klub tersebut berjumlah lebih kurang empat puluh orang yang kemudian secara rutin mengadakan kegiatan bersama pada setiap akhir pekan. Mereka berasal dari PNS daerah, termasuk beberapa dokter, pegawai BUMN dan BUMD, dan wirausahawan. Setiap tahun kami juga mengikuti event besar seperti kegiatan hari ulang tahun Kota Bima maupun acara sepeda wisata Kabupaten Bima. Banyak hal yang kudapat dari hobi tersebut, misal dari sisi materi, aku pernah mendapatkan door prize sepeda gunung. Namun yang lebih dari itu, aku mendapatkan banyak saudara baru yang saling terikat rasa memiliki. Walaupun sebagian dari anggota grup tersebut telah keluar dari Bima - karena mereka berstatus seperti aku yang tugasnya dapat dimutasi ke seluruh pelosok negeri, tapi kami tetap aktif di grup dan saling mengabari. Sebagai Kepala Seksi Bank, sejak datang ke Bima, aku mencoba aktif berkomunikasi dengan pemimpin perbankan, pos, dan pegadaian. Mereka mempertanyakan mengapa tidak ada lagi gebyar Hari Oeang di Bima. Berdasarkan hal tersebut dan juga atas dasar pemikiran untuk lebih saling mempererat persaudaraan di internal Kemenkeu, Kepala KPPN Bima menugasiku untuk menjajaki komunikasi dengan KPP dan KPKNL, agar mulai tahun 2017 Hari Oeang tidak hanya sekadar diperingati dengan upacara saja, tapi juga dengan kegiatan-kegiatan yang lebih meriah. Ternyata sambutan dari KPP dan KPKNL sangat positif, aku pun didaulat untuk menjadi koordinator kegiatan dengan menyelenggarakan berbagai pertandingan dan perlombaan antarinstansi, seperti bola voli, tenis meja, bulu tangkis, catur, domino. Sementara untuk kegiatan kebersamaan dengan stakeholders, dilaksanakan kegiatan jalan santai, senam, pemeriksanaan kesehatan gratis, donor darah, dan bakti sosial


Perekat Indonesia

31

berupa santunan baju bekas layak pakai dan Sembako. Untuk perbankan, pos, dan pegadaian, diselenggarakan kegiatan lomba futsal. Hal yang aku kenang dalam dua tahun penyelenggaraannya adalah para kepala instansi memberikan atensi dan selamat kepada kami karena penyelenggaraan kegiatan berjalan dengan meriah dan kembali mempererat hubungan antarpelaku keuangan di Bima. Bulan Oktober 2018, bersama rekan-rekan gabungan KPPN Bima, KPP Pratama Raba Bima, KPKNL Bima, dan KP2KP Dompu, kami berkesempatan menyelenggarakan Kemenkeu Mengajar untuk pertama kalinya di Bima. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 45 Pane Kota Bima yang walaupun berlokasi di kota, tapi kondisinya cukup memprihatinkan, mengingat bahwa pada saat banjir bandang tahun 2016, gedung sekolah tersebut terendam sedalam lebih dari separuhnya, sehingga hampir seluruh peralatan sekolah mengalami kerusakan. Lokasi sekolah tersebut memang lebih rendah dari jalan raya, terletak di pemukiman kampung di kota, sehingga murid-muridnya sebagian besar berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Betapa trenyuhnya ketika aku di kelas dua yang menjadi tanggunganku, bahwa sebagian murid ditinggalkan orang tuanya merantau menjadi TKI di negara tetangga, bahkah ada yang diasuh oleh kakek neneknya atau paman bibinya, karena kedua orang tuanya sama-sama menjadi TKI. Saat itulah aku merasakan bahwa kehadiran kami sedikit-banyak dapat memberikan arti, mengajak mereka belajar sambil bergembira selama separuh hari, hingga ketika tiba waktu kami berpamitan, beberapa siswa pun ada yang menangis. Dua puluh tahun aku mengabdi di Kementerian Keuangan di Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Memang hanya empat tempat yang kusinggahi untuk bekerja, tapi dari semuanya, selalu meninggalkan rasa persaudaraan ketika harus meninggalkan. Aku berkeyakinan, bahwa di setiap tempat yang kita tempati, semua tugas akan dapat diselesaikan oleh siapa pun orang yang ada di sana pada saat itu. Namun di luar hal tersebut, ada hal yang lebih penting yaitu membina persaudaraan, karena pada saat kita meninggalkan, jejak kitalah yang akan tertinggal dan itulah yang akan dikenang oleh orang.


32

Multikultural Ferry Fadillah, Sekretariat DJBC

Kementerian Keuangan adalah organisasi pemerintah yang besar dan memilki sebelas unit Eselon I. Beberapa unit memiliki satuan kerja vertikal yang tersebar di seluruh Indonesia, seperti pada Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017 memberi isyarat adanya pola mutasi dalam jangka waktu tertentu. Sebagaimana termaktub dalam pasal 190, “(2) setiap PNS dapat dimutasi tugas dan/atau lokasi dalam 1 (satu) Instansi Pusat, antar-Instansi Pusat‌; (3) Mutasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 5 (lima) tahunâ€?, maka perpindahan pegawai dari satu satuan kerja pada sebuah kota/provinsi ke kota/ provinsi lain adalah wajar. Pola mutasi inilah yang menyebabkan komposisi ras, suku, dan agama pada sebuah kantor menjadi heterogen. Walaupun bekerja di daerah dengan mayoritas Islam misalnya, sebuah satker DJBC juga memiliki pegawai yang beragama Hindu dan Kristen. Dalam setiap agenda keagamaan, mereka diberi ruang dan waktu untuk mengekspresikan penghayatan ketuhanan masing-masing. Ini dapat dibuktikan dalam struktur pengurus pembinaan mental di DJBC yang terdiri dari komponen Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Keragaman agama dalam mencapai tujuan bersama organisasi ini benar-benar kurasakan

-


Perekat Indonesia

33

ruhnya saat bekerja di Kantor Wilayah DJBC Bali, NTB, dan NTT. Tak sebatas sebagai pegawai kantoran, tetapi juga anggota masyarakat yang turut merasakan denyut aktivitas Pulau Dewata. *** Akhir 2009, aku mendarat di Bali bersama nenek dan ibu. Itu adalah kedatangan pertamaku ke Bali. Sebelumnya aku hanya mengenal Bali dari cerita para pelancong. Mereka bilang Bali adalah kebebasan, wanita, alkohol, berhala, laut, dan kemewahan. Aku mengaminkan semua itu dan menjadikannya kepercayaan. Sejak kecil, aku biasa bergaul dengan teman yang memiliki kesamaan agama dan etnis. Agama dan kebiasaan yang terbentuk itu secara tidak sadar telah menjadi acuan kebenaran dalam memandang segala sesuatu. Maka timbul kegelisahan di dalam batin saat mengamati setiap sudut kehidupan di Bali. Semuanya hampir berbeda dengan agama dan kebiasaan asalku. Mengapa ada banyak patung? Mengapa ada banyak sajen di jalanan? Mengapa ada dupa di pojok ruangan? Kenapa bar terbuka dan terlihat di jalan? Mengapa indekos tidak memisahkan penghuni pria dan wanita? Dan mengapa-mengapa lain yang menuntut jawaban pasti. Bukannya mencari jawaban dari orang Bali atau membaca buku tentang Bali, aku malah membatasi pergaulan hanya dengan pegawai dan masyarakat dari asal daerah dan agama yang sama. Sehingga diam-diam aku menumpuk kecurigaan. Ide tentang negara teokrasi dengan undang-undang berbasis moral ilahiah sempat menjadi peganganku. Singkat pikir, hanya Islam-lah yang memegang teguh sila pertama dari Pancasila. Agama-agama nonmonoteisme, apalagi yang memanifestasikan tuhan dalam sosok anthropomorphism tidak pantas disebut pengamal Pancasila yang sejati. Aku harus memurnikan Bali dari penyimpangan itu. Hidup sebagai minoritas di Bali dengan kecurigaan seperti itu membuat hatiku sempit. Di mana-mana aku selalu menyalahkan sistem dan masyarakat. Tak hanya kepada mereka yang berbeda agama, kepada sesama pegawai yang seagama yang memiliki praktik ibadah yang berbeda pun aku kerap ribut. Zaman kegelapan itu berlangsung selama satu tahun. Untungnya, identitas itu cair, semua manusia pembelajar selalu dalam proses menjadi.


34

Tahun-tahun berikutnya, aku banyak membaca filsafat. Yang paling berkesan adalah saat mendengar kuliah yang diampu oleh Prof. Bambang Sugiharto tentang filsafat ilmu melalui DVD. Di situ dijelaskan bahwa kepercayaan akan kemurnian adalah konyol. Agama itu murni dari level ilahiah tapi saat ia turun ke bumi melalui para rasul dan disebar melewati ruang dan waktu akan selalu ada interpretasi terbuka yang disesuaikan dengan semangat zaman (zeitgeist). Oleh sebab itu, agama menjadi dinamis dengan tetap memperhatikan hal-hal yang prinsipiil. Pikiranku terbuka dan perkawanan dengan penganut Hindu dimulai. Aku menikmati perbincangan teologis dengan kawan Hindu di kantor. Ketika aku bertanya konsep ketuhanan seperti apakah yang dianut Hindu, mereka dapat menguraikan dengan rinci, sehingga kusimpulkan bahwa mereka pun tidak menyimpang dari sila pertama Pancasila. Tak berhenti sampai di sana, aku beberapa kali mengunjungi pura kantor untuk melihat praktik keberagamaan mereka dan mengunjungi gereja Katolik untuk memperhatikan kegiatan kepemudaan. Kunjungan itu membawaku kepada kesadaran bahwa ada kenyataan lain yang tak terbantahkan di luar praktik agamaku. Dan kenyataan itu bukan untuk ditiadakan tapi dipahami untuk mencari simpul-simpul kesamaan. Dialog antariman dan melihat langsung peribadatan pemeluk agama lain selama bertahun-tahun di Bali telah meningkatkan

Di kantor, tak ada sekat antara dia yang Islam, dia yang Hindu, atau dia yang Kristen. Semua pegawai bekerja saling tolongmenolong sesuai tugas dan fungsinya.


Perekat Indonesia

35

ambang toleransi. Aku tidak lagi risih dengan patung dewa-dewi yang bertebaran di setiap penjuru kota. Sajen (banten) dan dupa di sudut-sudut ruangan juga hal yang biasa. Setiap orang di setiap daerah memiliki cara menghayati pengalaman kebertuhanan mereka. Hal tersebut tidak terbatas antaragama, tapi dalam spektrum satu agama. Praktik ini sangat terlihat dalam ajaran Hindu Bali yang mampu berdamai dengan mazhab Syiwa, Wisnu, dan Buddha sekaligus. Di kantor, tak ada sekat antara dia yang Islam, dia yang Hindu, atau dia yang Kristen. Semua pegawai bekerja saling tolong-menolong sesuai tugas dan fungsinya. Saat umat Hindu merayakan hari raya Galungan dan Kuningan, kawan-kawan Islam dan Kristen dengan ikhlas membantu tugas pengawasan dan administrasi agar proses bisnis kantor tetap berjalan. Begitu juga ketika umat Islam dan Kristen merayakan hari raya, umat Hindu turut membantu tugas mereka di kantor. Keragaman dan kolaborasi yang dinamis inilah miniatur Indonesia dalam ikat semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Kebinekaan ini sebenarnya lebih terasa di luar lingkungan kantor. Bali sebagai daerah eksotis yang terbuka sudah selama berabad-abad menerima perbedaan sebagai kenyataan. Perbedaan itu tidak saja berada dalam sekat-sekat dan batasbatas yang tidak dapat dilampaui, tapi juga mencapai titik akulturasi. Di beberapa daerah seperti Kuta dan Buleleng, dapat ditemukan perkampungan muslimbugis yang ternyata masyarakatnya dapat berbahasa Bali dengan fasih. Di Desa Adat Tuka yang mayoritas Katolik, penduduknya tetap menggunakan pakaian adat Bali saat kebaktian di katedral yang juga berarsitektur Bali. Di Ubud, gaya lukisan batuan yang khas terpengaruh aliran lukis modern yang dibawa oleh Walter Spies dan Rudolf Bonnet. Pelukis batuan dapat memadukan gaya klasik pewayangan dan gaya miniaturis modern sehingga menghasilkan lukisan hybrid yang khas dan berkesan magis. Pada kasus ini, seni tidak berhenti di titik akulturasi, tapi menembus hingga titik asimilasi. Masih banyak contoh kolaborasi antaretnis, agama, atau aliran seni di lingkungan kantor maupun kehidupan masyarakat. Tak hanya di Bali, tetapi juga di seluruh daerah penempatan para pegawai Kementerian Keuangan. Kolaborasi itu secara sporadis diberi label multikulturalisme di dalam pidato para pejabat. Namun, menurut Amartya Sen dalam bukunya “Kekerasan dan Identitas”, dukungan lantang terhadap multikulturalisme akhir-akhir ini sesungguhnya tak sekadar pleidoi terhadap monokulturalisme majemuk. Sen menjelaskan, “Jika seorang gadis dari keluarga imigran konservatif hendak pergi kencan dengan cowoknya


36

yang Inggris, maka jelas ada inisiatif multikultural dalam hal ini. Sebaliknya, upaya orang tua sang gadis untuk mencegah dia berkencan sulit untuk bisa disebut sebagai sikap multikultural, sebab menjaga agar budaya masing-masing tetap terpisah. Multikulturalisme ditandai dengan bauran-bauran yang interaktif antarentitas yang berbeda. Dan dalam hal ini, Kementerian Keuangan berhasil mewujudkannya sehingga dapat menjadi contoh satu padunya Indonesia dalam bingkai multikulturalisme.


Perekat Indonesia

37

Anak Indonesia Ferry Hidayat, KPKNL Tangerang II - DJKN

Oktober 1996, aku “diterjunkan� oleh kantor pusat DJKN (d/h BUPLN) untuk membantu tugas-tugas KPKNL Sorong (d/h KP3N Sorong). Aku termasuk alumni pertama Prodip III PPLN. Dan itulah awal perkenalanku dengan Indonesia Timur.. Sebagai anak muda yang seumur hidupnya tinggal di Jabotabek, hidup di Papua tentu merupakan pengalaman baru yang menakjubkan. Aku belajar tentang keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. Di sana juga belajar tentang toleransi. Kota Sorong adalah kota yang sangat majemuk. Hampir semua suku di Indonesia ada. Para guru banyak berasal dari Toraja, tukang cukur dari Madura, pedagang dari Bugis – Makassar. Dan toleransi agama di sana sangat terjaga. Di kota Sorong, jika harihari besar keagamaan datang, warga pun saling mengunjungi. Aku menikah dengan wanita suku Makassar. Dua anak kami lahir di Sorong dan satu di Tasikmalaya. Setelah tugas di Sorong selama 8 tahun, aku dimutasikan ke Tasikmalaya. Di sini aku belajar tentang bagaimana menjadi manusia yang santun, gaya berbicara yang halus, dan sangat menjaga tata krama. Delapan tahun aku bertugas di Tasikmalaya, memberiku oleholeh berupa penguasaan bahasa Sunda yang baik. Aku bersyukur karena kelak bahasa ini berguna untuk mengakrabkan suasana jika aku bertemu warga Sunda.


38

Selesai bertugas di Tasikmalaya, aku dimutasikan ke pulau Bangka. Di sini aku menemukan, bahwa bukan hanya suku asli Indonesia yang ada di sana, tapi juga suku keturunan Tionghoa. Ini lebih memberi warna dalam hidupku bagaimana selama ini orang menilai suku Tionghoa tidak nasionalis dan eksklusif. Ternyata di Bangka meraka kawin-mawin dengan WNI nonketurunan dan banyak juga yang menjadi PNS. Mengabdi untuk daerahnya. Bahkan Bupati Belitung Timur pada saat aku berdinas adalah warga keturunan. Dan sebagai penutup, aku bersyukur bekerja di Kemenkeu karena aku mendapatkan kesempatan untuk memahami bagaimana luasnya negeri ini, bagaimana beragamnya negeri ini, dan bagaimana kami (pegawai Kemenkeu) menjadi perekat bangsa. Karena bertugas di Kemenkeu, aku menikah dengan suku lain (aku suku Sumatra Selatan). Sehingga anak-anak kami dengan bangga kami katakan sebagai anak Indonesia. Bukan anak Makassar. Bukan anak Sumatra Selatan.


Perekat Indonesia

39


40

“Sebab Indonesia adalah barat, tengah, dan timur, tak boleh ada bagian yang jatuh tersungkur.� Najwa Shihab


BA

Perekat Indonesia

R

JA A S AMA S R U M I T AT

41


42

Kisah dari Timur Timor Hanif Gustav, KPPBC TMP B Atambua - DJBC

“Terdepan terbaik� begitu bunyi jargon Bea Cukai Atambua yang merupakan salah satu unit eselon III di bawah naungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan. Bea Cukai Atambua mungkin satu-satunya unit eselon III di bawah naungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang naik tipe dua grade, dari sebelumnya Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Pratama Atapupu menjadi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Atambua. Lokasi kantor juga sempat berpindahpindah dari bangunan kecil di pelabuhan Atapupu ke rumah toko (ruko) tiga lantai di pusat kota Atambua, hingga terakhir menjadi bangunan permanen dua lantai di daerah Haliwen, dekat bandara A.A. Bere Talo, Atambua. Kami bergabung dengan Bea Cukai pada akhir tahun 2016 sampai dengan saat ini. Kesan pertama ketika berada di Atambua adalah panas dan susah air. Faktanya salah satu iklan perusahaan Air Minum Dalam Kemasan yang pernah terkenal dengan istilah sumber air su dekat melakukan shooting di Atambua. Aku masih ingat hari pertama di Atambua. Kala itu disambut oleh hujan deras, sinyal hilang, listrik padam, dan air dari PDAM tidak mengalir. Hanya di Atambua aku harus mengumpulkan air hujan di ember untuk keperluan mandi dan kakus.


Perekat Indonesia

43

Saat pertama bergabung dengan Bea Cukai Atambua, angkatan kami dibrief oleh Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi mengenai tugas pokok dan fungsi Bea Cukai Atambua dan semua tentang Atambua. Aku juga mendengar cerita-cerita dari senior yang sudah lebih dahulu mengabdi di Bea Cukai Atambua. Mayoritas senior mengatakan bahwa angkatan kami sudah lebih baik daripada angkatan mereka. Senior mengatakan bahwa kehidupan ketika masih bertugas di Bea Cukai Atapupu jauh lebih sulit. Sedikit cerita tentang Bea Cukai Atapupu. Bea Cukai Atapupu merupakan unit Eselon IV (saat ini tipe kantor Pratama dihapuskan) yang berada di pelabuhan Atapupu yang aktif hingga tahun 2015. Saat itu, sinyal telepon genggam masih dalam jangkauan 3G. Senior bercerita kala itu mereka harus merapat ke pohon yang berada di pojok halaman kantor untuk mendapatkan sinyal. Sinyal tersebut juga hanya dalam jangakauan 2G. Saat itu pemadaman listrik lebih intens, sehingga ketika listrik padam, pelayanan dengan terpaksa dilakukan secara manual, ditunda, atau dihentikan. Masih banyak pengalaman senior ketika mengabdi di Bea Cukai Atapupu yang terlalu panjang apabila dituliskan. Kembali ke Bea Cukai Atambua, Bea Cukai Atambua memiliki wilayah kerja meliputi empat kabupaten, yaitu Kabupaten Belu, Malaka, Timor Tengah Utara, dan Alor. Sebelum mengusung jargon terdepan terbaik, Bea Cukai Atambua lebih dahulu menggunakan jargon BATAS (Better Attitude and Service) dikarenakan Bea Cukai Atambua merupakan garda terdepan kepabeanan Indonesia di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Meskipun jargon tersebut sudah diubah, tapi jargon BATAS masih terpampang di Kantor Bea Cukai Atapupu. Berbicara mengenai batas, Bea Cukai Atambua merupakan satu-satunya Kantor Bea Cukai yang memiliki Kantor Bantu Pos Bea dan Cukai (KBPBC) dan Pos Pelayanan Bea dan Cukai (PPBC) terbanyak se-Indonesia. Total KBPBC dan PPBC Bea Cukai Atambua hingga sembilan pos yang tersebar di seluruh perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Lima dari sembilan kantor bantu/ pos tersebut berstatus aktif, sedangkan empat sisanya tidak aktif dikarenakan keterbatasan infrastruktur serta medan tempuh dan intensitas pelintas batas yang tidak terlalu signifikan. Lima kantor bantu/pos bea cukai tersebut antara lain: KBPBC Motaain, PPBC Turiskain, KBPBC Wini, KBPBC Motamasin, dan PPBC Napan. Masing-


44

Tentu pembangunan ini adalah hasil kerja keras seluruh rakyat Indonesia dan sesuai dengan Nawacita Pemerintah, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran.

masing kantor bantu/pos tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Ada pos yang jalanannya mulus, ada juga pos yang jalannya terjal dan berbatu. Ada pos yang bangunannya megah dan modern, ada juga pos yang sudah retak-retak. Ada pos yang intensitas pelintas batas mencapai 300 orang per hari, ada juga pos yang pelintas batasnya hanya 30 orang per minggu. Ada pos yang jarak tempuh dengan menggunakan sepeda motor selama 30 menit, ada juga pos yang jarak tempuh dengan menggunakan sepeda motor mencapai 120 menit. Senior menceritakan pada tahun 2015 sebelum terjadi pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) seperti sekarang, keadaan pos tersebut sangat sederhana. Pos Bea Cukai hanya sebuah bangunan yang tidak terlalu luas, tanpa ada mesin x-ray dan alat-alat pendukung pengawasan lainnya. Keadaan Pos Bea Cukai yang diceritakan oleh senior pada saat itu sama dengan video profil Bea Cukai Atambua yang pernah kami lihat sebelum menginjakkan kaki di Atambua. Pada saat ini, setelah terjadi pembangunan PLBN di daerah perbatasan, keadaan jauh lebih baik. Tiga dari lima kantor bantu/ pos bea cukai memiliki fasilitas yang cukup lengkap dan mendukung fungsi pengawasan. Selain itu, di Atambua sendiri, pembangunan sarana prasarana sangat terasa. Mulai dari pembangunan jalan, fasilitas kesehatan berupa Puskesmas,


Perekat Indonesia

45

hingga pembangunan sarana komunikasi. Saat ini sebagian besar jalanan di wilayah Atambua sudah cukup baik dan yang terbaik tentu kelancaraan komunikasi karena Atambua saat ini telah mendukung jaringan 4G. Tentu pembangunan ini adalah hasil kerja keras seluruh rakyat Indonesia dan sesuai dengan Nawacita Pemerintah, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran. Fokus utama Bea Cukai Atambua adalah wilayah perbatasan. Kami diberikan amanah untuk mengawasi barang yang keluar dan masuk wilayah pabean Indonesia dengan mengutamakan pelayanan untuk kepuasan pemangku kepentingan. Amanah tersebut berhasil kami wujudkan dengan baik. Faktanya pada tahun anggaran 2018, Bea Cukai Atambua berhasil mencapai 200% dari target Bea Masuk yang telah ditetapkan dan sebagai bukti nyata kami mengutamakan kepuasan pemangku kepentingan adalah angka Indeks Kepuasan mencapai 4,58 dari skala 5. Perbatasan bukanlah halangan untuk berkontribusi kepada negeri. Dengan total lebih dari 5.000 Pemberitahuan Ekspor Barang dari 154 eksportir dan 151 Pemberitahuan Impor Barang dari 26 importir merupakan bukti keseriusan kami mengabdi untuk negeri tercinta. Salah satu produk hukum khas Bea Cukai Atambua adalah Surat Permohonan Membawa Kendaraan (SPMK). SPMK diterbitkan oleh aplikasi hasil inovasi Bea Cukai Atambua, yang bernama AMANSA (Aplikasi Mandiri SPMK Atambua). Sedikit bercerita mengenai SPMK. Di pulau Timor ini, masyarakat Indonesia dan masyarakat Timor Leste mayoritas masih bersaudara. Untuk mengunjungi saudara mereka di negeri seberang, pilihan yang dimiliki masyarakat adalah dengan menggunakan jasa agen perjalanan. Seiring waktu, masyarakat meminta Bea Cukai Atambua agar diizinkan membawa kendaraan ke negeri seberang untuk efisiensi biaya dan waktu. Untuk menjawab permintaan masyarakat tersebut maka diterbitkan nota kesepahaman pemerintah Indonesia dan Timor Leste hal membawa kendaraan pribadi. Dan setelah saat itu, SPMK kemudian diterbitkan dan menjadi produk khas Bea Cukai Atambua. SPMK sendiri merupakan dokumen legal sebagai dasar pelintas batas yang membawa kendaraan pribadi ke negeri seberang dengan tempo yang telah ditentukan (maksimal 30 hari setelah diterbitkan SPMK). SPMK ada tiga


46

jenis, yaitu SPMK dari Indonesia ke Timor Leste, SPMK dari Timor Leste ke Indonesia dan SPMK Transit (dari Dilli menuju Oecusse). Kami juga melakukan inovasi kepada masyarakat dengan cara persuasif dan mendidik. Kami senantiasa membaur dengan masyarakat dan mengikuti setiap acara adat dan kedaerahan yang diadakan oleh Pemerintah Daerah Atambua. Di sela-sela acara tersebut, kami memberikan pengertian kepada masyarakat tentang peranan, tugas pokok, dan fungsi Bea Cukai. Metode ini terbukti meningkatkan pemahaman masyarakat tentang peraturan kepabeanan Indonesia dan meminimalkan pelanggaran di bidang kepabeanan. Tentu mengabdi di batas negeri bukanlah hal yang mudah. Komunikasi dengan pengguna jasa tidak selamanya lancar. Ada pengguna jasa yang dapat menggunakan bahasa Indonesia dan ada juga pengguna jasa yang hanya bisa berbahasa asli pulau Timor. Kadang kami meminta jasa penerjemah dari masyarakat sekitar perihal ini. Jika tidak ada masyarakat sekitar ketika ada wawancara maka kami hanya menggunakan bahasa isyarat yang mudah dipahami. Mengabdi di batas negeri harus diakui menguras hati. Terpisah dari keluarga dan kerabat merupakan risiko pekerjaan kami. Kami memberikan yang terbaik karena kami yakin amanah ini adalah titipan dari ibu pertiwi. Kami totalitas di tapal batas meskipun untuk tiket pulang ke rumah, dompet harus terkuras. Kami lakukan pengawasan dan pelayanan terbaik, untuk Bea Cukai makin baik dan untuk kebanggaan menjadi keluarga besar dari Kementerian Keuangan.


Perekat Indonesia

47

Anak Asuh Orang Papua Arif Hermanu, KPPN Balige - DJPb

Tahun 1998, tahun yang genting bagi negeri ini. Ya, tahun reformasi yang sempat menggetarkan hati bangsa ini dengan segala kejadiannya. Tahun politis yang secara langsung maupun tidak telah berpengaruh terhadap nasib bangsa ini, termasuk kami, anak Prodip STAN yang baru lulus. Aku dan teman seangkatan tidak akan pernah melupakan sejarah ini, kami setelah lulus ditempatkan menuju tempat tugas masing-masing. Ketika menerima amplop penempatan dan membukanya, tertulis “KPKN Wamena�. Artinya aku harus melaksanakan tugas ini dengan segenap jiwa dan raga. Dulu tidak seperti sekarang yang begitu penempatan maka dengan mudah dapat kita search di internet dan mengetahui bagaimana kondisi kota tersebut. Yang dulu bisa kami lakukan hanya melihat peta dan mencari di manakah posisi Kota Wamena. Wamena ketika dilihat di peta maka posisinya terletak di tengah antara Kota Jayapura dengan Merauke. Wamena adalah ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Salah satu kota pedalaman yang ada di Bumi Cendrawasih. Kota yang terletak di lembah Baliem dan dikelilingi oleh pegunungan nan menjulang tinggi. Meskipun lembah, tapi termasuk dataran tinggi yang sangat dingin. Moda transportasi yang menjadi penghubung Wamena dengan kota kabupaten lain adalah pesawat. Hampir setiap hari Kota Wamena berkabut. Bahkan pesawat di pagi hari harus berputar mengelilingi Kota Wamena untuk bisa mendarat di bandara.


48

Pertama kali meninggalkan Pulau Jawa menuju Kota Wamena, kami harus mengarungi samudra biru menaiki “Kapal Putih Rinjani”. Setelah tujuh hari tujuh malam, kami berkelana bersama Kapal Rinjani di bawah komando Kapten Dul Khamid dan akhirnya sampailah kami mendarat di Kota Jayapura. Setelah di Jayapura aku melanjutkan perjalanan menuju tempat tugas, yaitu Wamena. Saat itu aku masih lajang. Ketika ada panggilan prajab, aku harus mengikuti kegiatan ini di Jayapura. Akhirnya setelah prajab, aku pun memberanikan diri untuk menggenapkan separuh agamaku, yaitu menikah. Alhamdulillah istriku siap untuk dibawa ke Wamena, meskipun Wamena adalah sebuah kota pedalaman dengan segala keterbatasan fasilitasnya yang tidak sebanding dengan kota asal istriku, Jakarta. Aku bersyukur karena di saat sekarang ini, aku kadang mendengar ada pegawai yang membawa keluarga ke daerah penempatan, tetapi keluarga yang dibawa tidak betah di sana. Padahal dibandingkan dengan dulu, sekarang jelas berbeda dengan segala fasilitas dan kondisi kota yang berbeda pula. Beruntung istriku betah sampai aku mutasi pada tahun 2002. Mungkin salah satu kuncinya adalah senantiasa bersyukur dan bersilaturahmi. Setelah menikah, aku dan istri berikhtiar untuk mengambil anak asuh. Anak asuh Papua yang bisa membantu di rumah dengan tetap kami membantunya, meskipun sekadar biaya sekolah, membelikan baju sekolah, maupun baju seharihari. Kami juga mencoba mendidik mereka dengan budaya yang lebih baik. Sebelum kami mengasuh anak Papua, aku sering diberikan “warning” oleh orang-orang yang sebelumnya juga mengasuh anak Papua. “Hati-hati, mereka suka mencuri”, maka wajar jika banyak anak asuh yang berganti-ganti ketika tinggal bersama orang tua asuh. Bahkan akhirnya ada orang tua yang kapok tidak mengasuh anak lagi. Ya, begitulah kehidupan anak Papua dengan segala keterbatasannya. Budaya yang telah mengubah mereka. Ada juga orang luar Papua yang mengadopsi anak Papua dan mereka membawa ke luar Papua Tak jarang di antara mereka ada yang tidak betah dan kabur, meskipun ada juga yang berhasil. Setelah ditimbang, akhirnya aku dan istri mengambil anak asuh dari asrama muslim Walesi di kompleks Yapis karena aku pernah tinggal di rumah kontrakan bersebelahan dengan tempat tinggal mereka. Haris, begitulah panggilannya. Dialah anak Papua yang kuajak untuk tinggal di rumah. Anak yang pendiam


Perekat Indonesia

49

tetapi rajin. Hari-hari kami lalui dengan kebersamaan, makan pun kami bersama. Ya, begitulah anak Papua, mereka makan dengan lahap dengan porsi yang banyak. Anehnya, kadang makan nasi dengan sayur, sayur dimakan duluan termasuk sambal. Eh, giliran nasi, malah dimakan belakangan. Beberapa tahun kami lalui, meskipun ada asam garamnya tinggal serumah dengan anak Papua. Pernah suatu ketika Haris pergi dan tidak kembali tanpa kabar. Aku sempat khawatir karena Haris telah meninggalkan rumah selama beberapa hari. Aku mencoba mencari informasi tentang keberadaan Haris kepada teman-teman asrama. Informasi yang kudapatkan, Haris sakit. Pernah juga Haris meninggalkan rumah karena kami tidak terima saat kami peringatkan. Meskipun demikian, setelah beberapa lama akhirnya dia kembali ke rumah. Suatu hari Haris dapat kabar bahwa dia masuk kontingen pramuka yang akan diberangkatkan ke Jambore Nasional di Bumi Perkemahan Baturraden Purwokerto. Sampai hari H keberangkatan, aku pun mengantarkan keberangkatannya di bandara menuju Purwokerto karena Purwokerto dekat dengan kampungku di Banjarnegara. Aku pun meminta tolong ibuku untuk menjenguk Haris di Purwokerto. Akhirnya bertemulah ibu dengan Haris, meskipun sebelumnya tidak pernah ketemu. “Haris itu telinganya sakit�, begitu kata ibu. Ya, Haris memang punya penyakit telinga. Aku dan istri pernah mengantarkannya ke rumah sakit untuk berobat. Mungkin ada di antara pasien yang heran melihat aku yang mengantar Haris seperti orang tua Haris sendiri. Ibu Haris orang yang sudah tua dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Karena itu aku berusaha untuk membantu membawanya ke dokter, mencoba alternatif pengobatan untuk kesembuhan telinganya. Lebih kurang dua sampai tiga tahun berlalu bersama Haris. Teringat sepatunya yang sering rusak karena memang bentuk kakinya yang relatif besar dengan ukuran yang tidak standar. Maklum selama ini dia terbiasa tanpa alas kaki kemana pun pergi. Terngiang juga kekuatannya ketika menimba air yang diperlukan untuk kebutuhan keluarga kami. Akhirnya SK mutasiku pun tiba. Aku harus berpindah tugas ke KPKN Cilacap di tahun 2002 dan harus berpisah dengan Haris. Meskipun telah belasan tahun, tapi kenangan bersamanya masih terngiang. Hingga sekarang.


50

Mengapa Kita Tidak Tersenyum Saja? M. Agung Triwijaya, Kanwil DJBC Sumbagtim

Teruntuk semua: aku, kamu, kita. Dan semua manusia yang sedang menenun asa, cita, dan cinta.

Matahari masih berusia kanak saat sebuah notifikasi masuk pada gawaimu. Sebuah pemberitahuan pengumuman yang selama ini kautunggu kedatangannya. Namun bila kabar yang dibawa adalah kabar duka —menurutmu, maka lebih baik kamu tak pernah membaca dan membuka notifikasi itu. Mungkin sebaiknya kamu tetap lelap dalam tidurmu, dimanjakan oleh hangat kasurmu. Tetapi apakah hidup hanya perihal tidur dan mimpi saja? Bukankah hidup berawal dari membuka mata dan membuka hati —untuk semua hal. Setelah mencoba bangkit untuk ke sekian kali dari ranjang empukmu dengan perasaan hati yang berantakan, kamu masih mencoba melakukan berbagai tindakan untuk memastikan bahwa yang terjadi sekarang hanya mimpi belaka. Lalu setelah waktu berlalu selama sepenanakan nasi dengan hasil yang sia-sia kamu mulai menenangkan dan meneguhkan diri untuk mempercayai semua kejadian yang sangat mengguncang pagimu. Ialah sebuah kenyataan. Kamu mulai membuka kembali pengumuman tersebut dan mencari keberadaan namamu. Tertera jelas di sana “Ayun Primadani Penugasan On Job Training di KPPBC TMP C


Perekat Indonesia

51

Jayapura�. Kamu melenguh sambil mengeluh. Ada derai teriak yang senyap yang mencoba ingin keluar dari lubuk hatimu paling dalam. Kamu sandarkan raga fanamu pada dinding rumah yang tak selamanya akan berdiri kokoh. Kamu menyendiri di kamar seperti melakukan nyepi yang dilakukan masyarakat Hindu Bali, tetapi ini bukan tanggal pelaksanaan yang seharusnya. Kamu menghabiskan waktu sangat lama di kamar hingga detik pada jam dindingmu tak berdetak lagi. Keluargamu dan terutama ibumu sangat mencemaskan keadaanmu. Ketika kamu masih sedang asyik menyendiri, tiba-tiba pintu kamar yang tidak kamu kunci seketika terbuka perlahan. “Yun, kamu kenapa? Dari pagi tadi kamu belum makan, Nak. Ibu cemas, kalau ada masalah, cerita aja sama Ibu.� Kamu tidak menjawab barang sepatah kata sekali pun. Kamu hanya menunjukkan pengumuman yang telah membuat keadaanmu sedemikian rupa. Ibumu paham bahwa kamu hanya butuh waktu sendiri saat ini. Keadaan seperti itu berlangsung selama seminggu penuh. Hanya saja, hari demi hari kamu mulai membuka diri. Kamu mulai menikmati sisa waktu sebelum keberangkatanmu ke tanah tabu. Kamu menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-temanmu. Mungkin berkat dukungan mereka, kamu akhirnya memantapkan diri dan membulatkan tekad untuk berangkat ke sana. Namun ada satu hal lagi yang membuatmu dapat menyakinkan ragumu. Ialah senior perempuanmu di sana yang hanya berbeda umur satu tahun. Dia berhasil menjinakkan tingginya keraguannya dulu untuk mengabdikan diri di tanah jauh. Bahkan dia dirundung nasib yang lebih sulit dari kamu. Dia harus menerima bahwa teman perempuannya yang lain yang seharusnya ikut berangkat untuk bekerja di sana, hilang tanpa kabar, dan kemungkinan terbesar ialah mengundurkan diri. Sejak mendengar itu kamu mencoba menguatkan langkah meskipun belum menemukan tempat berpijak. Mungkin kamu tak mau aku panjang lebarkan lagi cerita mengenai seniormu karena hanya membuatmu terlihat lebih lemah. Padahal kamu juga sedang menyiapkan tekad kuat untuk suatu peran nantinya yang mungkin pada halaman ke sekian baru kamu ungkapkan. Akan tetapi sepertinya memang tak mudah membuang pikiran mengenai Papua dengan segala kengerian yang kamu pikirkan tentang tempat itu. Kamu terusmenerus mencari informasi mengenai tempat itu. Kamu ingin mencoba mencari


52

sudut pandang lain tentang tanah itu. Namun sekeras apa pun usahamu, masih saja rentetan hal-hal yang mengerikan tentang Papua muncul. Hingga selama penerbangan menuju tanah itu, kamu tak bisa tidur dengan nyenyak. Padahal kamu telah menaiki burung terbang dengan fasilitas yang memanjakan siapa saja. Pikiran mengerikan tentang tanah itu dan apakah nanti kamu bisa betah, terus berulang seperti roller coster yang saban liburan selalu kamu lewati untuk tidak mencoba permainan tersebut. Sesampainya di tanah Papua, saat kamu bisa merasakan tanah baru untuk tempat berpijak kemudian, ada lega di hati. Pikiran dan perasaan buruk terhadap Papua mulai tergerus. Bersama teman-temanmu yang lain, kalian dijemput senior dan segera menuju ke tempat tinggal. Selama perjalanan menuju tempat tinggal, ada pergulatan yang sengit sedang terjadi di dalam batinmu. Di satu sisi kamu mencoba untuk menerima semua nasib, tetapi di sisi lainnya masih berdiri gagah pikiran dan perasaan buruk tentang tanah ini. Hingga sesampainya di tujuan, masih belum ada yang memenangkan pergulatan tersebut. Jauh perjalanan yang sudah terlewati masih belum mampu membuka jendela mata dan pintu hatimu. Beberapa hari di Papua telah kamu jalani. Mungkin hari itu kamu tidak memiliki firasat terhadap kejadian besar yang akan terjadi hari itu. Suatu kejadian yang akan menjungkirbalikkan pikiran dan sudut pandangmu. Pada hari itu kamu bersama teman-temanmu diajak senior kalian untuk berkeliling melihat pemandangan indah tanah Papua. Pada hari itu, setelah sekian lama matamu tertutup, akhirnya kedua bola mata indah yang kamu warisi dari mata indah ibumu –mata sendu berona cokelat itu, kini berbinar-binar melihat keindahan pulau burung cendrawasih. Pada tatapan itu akhirnya ada rasa syukur masuk perlahan ke dalam jendela matamu. Selama dua puluh tahun hidup, kamu hanya melihat pemandangan tanah Jawa yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Di dalam batinmu tebersit suatu ungkapan, “Mungkin kalau aku tidak merantau ke tanah ini, aku tak akan benar-benar bisa mensyukuri nikmat Tuhan atas indahnya alam negeri ini�. Kamu pun paham bahwa sejauh apa pun mencoba menerima suatu suratan takdir, itu tidak akan bisa terbaca dengan jelas bila tidak benar-benar membuka kedua bola mata. Hari-hari berikutnya kamu mulai membiasakan diri untuk menerima lingkungan baru. Seperti biasa kamu bersama pegawai perempuan lainnya dijemput dengan mobil dinas menuju kantor yang ditempuh dengan waktu sepuluh menit. Pagi


Perekat Indonesia

Kamu paham bahagia itu letaknya di jiwa, bukan sekadar di Jawa.

53

itu ada sesuatu yang menyangkut di jala pikiranmu. Kamu merasa apa yang sedang kamu jalani di sini tidak jauh bedanya sewaktu kamu kuliah dulu di Jakarta. Mulai dari biaya hidup yang mirip seperti metropolitan –dengan semua penyesuaian, makanan yang cocok dengan lidah, hingga lingkungan masyarakatnya yang sangat ramah meskipun kamu seorang pendatang baru. Dan sekarang terhampar luas pada jauh matamu, Papua dengan semua pembangunannya. Bahkan kamu masih bisa terus menekuni hobi menonton film di bioskop. Kamu mulai belajar bahasa Papua, membaur bersama masyarakat lain, menyapa ketika berpapasan di jalan sambil menorehkan senyum manis pada lekuk wajahmu. Pada akhirnya kamu sadar bahwa kamu telah menemukan keluarga baru. Keluarga yang berhasil mengetuk dan membuka pintu hatimu. Keluarga yang saling bantu dan selalu ada saat kaubutuh. Kamu sudah memiliki kembali senyum merekah dan merakah tanpa malu. Kamu menyadari sebagai seorang perempuan Bea Cukai yang ditempatkan di Papua, kamu memiliki sesuatu yang lebih istimewa dan kamu patut mensyukuri semua itu. Kamu paham bahagia itu letaknya di jiwa, bukan sekadar di Jawa. Keberadaanmu di tanah timur membuatmu memiliki banyak pengalaman dan banyak ilmu. Pada suatu waktu kamu ikut melakukan sosialisasi perihal rokok ilegal. Kamu sangat menikmati kegiatan tersebut karena masyarakat menerima kegiatan tersebut dengan sangat


54

terbuka. Mereka mendengarkan dengan saksama penjelasan yang kamu berikan. Ketika kamu memberitahukan bahwa rokok yang dijual tersebut ilegal, mereka tidak marah, tetapi mereka tersenyum lebar dan mengakui kesalahan mereka. Pada kesempatan lain, kamu diajak mengunjungi pos bantu yang menjaga perbatasan antara Papua dengan Papua Nugini. Memakan waktu perjalanan darat lebih kurang dua jam dengan mobil, tak sedikit pun mengurangi gairahmu untuk melihat perbatasan tersebut. Sesampainya di sana, kamu melihat banyak orangorang dari hulu dan hilir melewati pos lintas batas. Pegawai di sana dengan sigap melayani orang-orang. Kamu sangat mengapresiasi kerja seniormu yang rela jauh-jauh dan menghabiskan waktu untuk menjaga perbatasan Indonesia tetap aman. Dan kamu bangga bisa menjadi bagian kantor ini. Kamu sangat bangga bergabung dalam institusi ini. Kamu sangat bangga serta bersyukur bisa menjadi keluarga Kementerian Keuangan yang dengan gigih menjadi perekat bangsa dan bahkan antarnegara. Dalam perjalanan pulang, kamu memikirkan suatu peran yang ingin kamu berikan untuk negeri ini. Kamu sadar pada era kemajuan teknologi informasi saat ini, semuanya sangat mudah untuk menemukan informasi apabila dipublikasikan oleh media. Sebagai pegawai di Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan, kamu sangat ingin memanfaatkan akun media sosial kantor untuk menunjukkan tanah Papua ini. Kamu ingin orang lain tahu, inilah Papua dengan segala keindahan alamnya. Dan Papua bukan lagi perihal perang antarsuku atau masyarakat yang belum mengenal kemajuan dunia. Kamu ingin menunjukkan bahwa Papua telah berkembang dengan segala pembangunannya. Kamu ingin membuat orang lain tak memandang Papua sebelah mata karena Papua sekarang terus berkembang. Dalam benakmu, berharap pegawai Kemenkeu yang lain tidak menjadikan Papua sebagai momok yang mengerikan. Seperti pesan Ibu Sri Mulyani, bahwa marilah membangun Indonesia dari pinggiran maka kamu bertekad untuk dapat merekatkan Indonesia melalui jejaring media sosial. Seyogianya kamu telah paham betul bahwa sebagai abdi negara, kamu adalah perpanjangan tangan pemerintah untuk menjadi perekat dan pemersatu bangsa. Sama seperti halnya jembatan merah yang sebentar lagi rampung. Jembatan merah yang dibangun pemerintah dengan uang kita yang nantinya digunakan untuk memendekkan jalan menuju perbatasan negeri. Pada hari yang cerah ini jembatan merah menjadi saksi bisu tekad muliamu.


Perekat Indonesia

55

Oh ya, ada satu kisah menarik yang kamu ceritakan kepadaku. Sebuah peristiwa yang membuatmu mengerti apa arti dari kemanusiaan, yaitu ketika Sentani diluluhlantakkan oleh banjir bandang. Mungkin hidup memang perihal keseimbangan. Keindahan alam Papua yang barusan kamu elu-elukan, seketika berubah menjadi daerah penuh duka sukma dan derai air mata. Suatu hari yang tenang lagi damai dengan diiringi lebat hujan menari-nari di atap rumah, tibatiba berubah menjadi salah satu peristiwa yang nahas untuk daerah Sentani. Hujan tak bisa dikambinghitamkan dengan sebelah mata, semua juga bersumber dari ulah tak bertanggung jawab tangan-tangan nakal yang menganiaya alam hanya untuk keuntungan semu nan fana. Untuk sekarang kamu tak ambil pusing dulu untuk mencerca semua dalang pelakunya. Ada perihal yang lebih penting, kamu paham bahwa membantu korban dan memberitakan keadaan di sana jauh lebih utama. Hanya berbekal tekad dan kamera di tangan, kamu berani maju untuk menjadi satu-satunya perempuan yang menjadi relawan membantu para korban. Meskipun keadaan Sentani masih belum bisa dikatakan aman karena masih berlangsung banjir bandang dengan volume lebih kecil dan harus menempuh perjalanan dua hingga tiga jam. Tak ada satu pun guncangan yang mampu merontokkan buah tekad muliamu. Sesampainya di lokasi, kamu merasa sangat prihatin terhadap situasi dan kondisinya. Rumah-rumah hancur terkena terjangan banjir, memakan banyak korban, baik yang telah meninggal ataupun luka-luka. Dan kamu tidak mampu menuliskan di sini berapa banyak jumlah korbannya. Cukup media lain saja. Karena kamu tak sanggup menuliskan banyaknya kesedihan di sana atas segala duka nan nestapa, kamu terdiam tanpa suara. Kamu ke posko bantuan di daerah Doyo Baru, Sentani, untuk membantu para pengungsi di sana. Hatimu terasa teriris-iris saat melihat para pengungsi tidak memiliki apa-apa lagi untuk membentengi badan dari serangan dingin atau panasnya cuaca. Dalam senyum yang coba kamu lemparkan kepada mereka untuk menguatkan jiwa mereka, tersembunyi jelas derasnya air mata yang berasal dari mata air nuranimu. Lalu ada anak-anak yang memintamu untuk memotret mereka. Dalam bingkai segi empat itu terlihat jelas mereka masih dapat tersenyum bahagia. Dalam benakmu berkata, “Anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa ini harus ikut menanggung akibat dari orang-orang yang bahkan tak memikirkan nasib mereka. Tetapi anak-anak ini mengajarkan kepadaku, kepada kita semua, bahwa seberat apa pun cobaan yang sedang menguji kita, jangan sampai kita lupa bersyukur atas nikmat hidup yang tak pernah Tuhan pertanyakan mengenai balasan dari kita.�


56

Pada akhirnya kamu paham betapa celaka dan egois dirimu yang hanya ingin dimanja oleh negara, sedangkan jauh di pelupuk mata, ada banyak orang yang tetap bisa mencintai negeri ini tanpa pamrih. Bahkan mereka tidak memiliki waktu untuk mempertanyakan apa yang negara berikan untuk mereka, sebab mereka terlalu sibuk mempertanyakan apa yang telah mereka berikan untuk negara ini.

Pesan kamu untuk mereka, “Penempatan itu hasil dari sebuah penantian dan perjuangan kita selama kuliah. Di mana pun kita ditempatkan, itu adalah bukti dari hasil perjuangan kita dan awal kesuksesan kita untuk mengabdi kepada negara. Jangan pernah takut dengan penempatan, di mana pun itu di seluruh Indonesia, di sanalah rumah kita. Selagi kita masih muda dan masih sanggup, kenapa tidak? Bukankah kita sudah difasilitasi dengan sangat baik oleh negara dan melalui penempatan ini kita harus membalas apa yang telah negara berikan kepada kita? Di mana pun kita bekerja, tetap bisa pulang kok:) Semangat Stanners! Salam dari kota Timur Indonesia.�

Bila derai-derai tangis itu tak bisa menumbuhkan buah penyelesaian, mengapa kita tidak tersenyum saja? Apakah kita terlalu sibuk membaca dan menafsir suratan takdir yang terbalik? Bukankah waktu kita sedikit? Lalu, mengapa kita tidak tersenyum saja?

(Kisah ini merupakan kisah nyata dari teman kelasku sewaktu kuliah dulu, yaitu Ayun Primadani. Sekarang dia sedang bertugas di KPPBC TMP C Jayapura)


Perekat Indonesia

57

Mengasah Mutiara Dari Papua Budi Waluyo, PKN STAN - BPPK

Prolog: Papua Juga Bisa Sepucuk surat dinas tergeletak di meja kerja. Aku bergegas membacanya. “Undangan rapat program pendidikan khusus putra-putri Papua”, begitu judulnya. Aku perhatikan identitas pengirimnya yang tertera di kop surat, Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat, disingkat UP4B. Nama instansi yang baru aku dengar. Entah di bawah naungan kementerian apa. Aku tak mengerti tugas mereka. Lalu apa hubungannya dengan STAN—kampus tempatku bekerja ini? Aku baca instruksi atasan agar aku ikut hadir di rapat itu nanti. Jadwalnya pekan depan. Aku tandai kalender mini di pojok meja, 12 Februari 2013, “Rapat Papua”. Dari surat itu, aku mengerti kalau UP4B akan mengadakan program pendidikan khusus untuk putra-putri asli Papua di berbagai kampus milik pemerintah. Lebih dari tiga puluh kampus negeri dilibatkan sebagai penyelenggara. STAN ditugaskan menjadi penyelenggara pendidikan Diploma I Kebendaharaan Daerah dan Diploma I Pajak Daerah. Sepekan berlalu, aku berangkat bersama beberapa pejabat STAN menuju kantor perwakilan UP4B di kompleks perkantoran LIPI—daerah Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Sampai di sana, kami disambut oleh Professor Ikhwanuddin Mawardi, salah satu Deputi UP4B. Di rapat itu, hadir pula perwakilan dari kampus-kampus tadi. Kemudian, hadir Kepala UP4B yaitu Bambang Darmono, seorang purnawirawan TNI berpangkat Letnan Jenderal. Ia memimpin rapat didampingi oleh Wakil Kepala UP4B dan lima orang Deputi.


58

Kepala UP4B adalah pejebat negara setingkat menteri yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. “Program afirmasi pendidikan ini merupakan amanat presiden”, begitu kalimat pembuka dari pemimpin rapat. Beliau menjelaskan, “UP4B merupakan unit ad hoc yang dibentuk khusus oleh Presiden SBY di tahun 2011 sebagai unit kerja pembantu presiden”. Kantornya menempati bekas gedung Indonesia Joint Development Foundation di Jayapura, sedangkan kantor perwakilannya berlokasi di Jakarta. UP4B bertugas mengoordinasikan program-program untuk percepatan pembangunan di Provinsi Papua dan Papua Barat. Salah satu programnya adalah afirmasi pendidikan. Program ini khusus ditujukan untuk siswa-siswi lulusan SMA yang merupakan orang asli Papua. Tujuannya untuk membantu percepatan pembangunan sumber daya manusia di sana. Lulusan program ini nantinya ditujukan untuk menjadi PNS pada instansi pengirim di pemerintah daerah masing-masing. Mirip dengan model penempatan kerja lulusan IPDN, tapi ini hanya mencakup Papua. Dari Papua untuk Papua. “Peserta pendidikan afirmasi ini tidak boleh dipungut bayaran”, pimpinan rapat melanjutkan penjelasan. Mereka dibebaskan dari segala biaya, bahkan harus disediakan akomodasi gratis dan diberi uang saku untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Semua biaya tersebut ditanggung pemerintah melalui APBN dan APBD. Bagi kampus-kampus PTN yang menjadi penyelenggara program ini akan mendapat transfer dana untuk memenuhi biaya pendidikan. Bagi kampus kedinasan seperti STAN, tak ada kendala terkait dana karena memang STAN tak pernah memungut biaya dari mahasiswa. Tinggal menambah anggaran untuk pembayaran akomodasi dan tunjangan biaya hidup. Selesai rapat, kami istirahat sejenak di lobi kantor UP4B. Di pojok ruangan, aku melihat foto Professor Yohanes Surya menggandeng seorang siswi berseragam SMA sambil memegang medali. Aku paham betul wajah professor itu. Waktu SMA aku sangat mengaguminya. Waktu itu, aku bercita-cita menjadi fisikawan seperti dia. Aku berjalan mendekati foto itu. Dari sepenggal keterangan di bawah foto, aku tahu kalau gadis itu adalah Annike Nelce Bowaire, siswi SMAN 1 Serui peraih medali emas di kompetisi fisika SMA tingkat dunia tahun 2005. Bangga sekali


Perekat Indonesia

59

aku melihat foto itu. Namun seketika, hatiku bertanya-tanya, “Bagimana bisa anak Papua yang umumnya memiliki kecerdasan di bawah rata-rata, dengan fasilitas pendidikan yang seadanya, bisa memenangkan lomba fisika tingkat dunia? Aku saja yang sekolah di Jawa, dengan segala fasilitasnya, tak pernah bisa.” Aku melamun sejenak, teringat waktu kelas 3 SMA. Aku pernah ikut seleksi olimpiade fisika di SMA Taruna Nusantara, Magelang. Dari tiga soal yang diujikan, tak satu pun aku memahaminya, apalagi bisa menjawabnya. “Ayo pulang”, aku kaget, bosku memanggilku dari tempat duduknya. Di perjalanan pulang, aku mencari informasi tentang pendidikan di Papua. Aku buka internet dengan kata kunci “pendidikan Papua”. Muncul gambar-gambar gedung sekolah yang hampir roboh. Anak-anak memakai seragam kumal dan tak bersepatu. Cerita klasik yang sudah terjadi berabad-abad di sana. Di antara kisah-kisah yang menyedihkan, muncul berita tentang medali emas tadi. Ketika ditanya oleh wartawan tentang potensi anak Papua, Professor Yohanes Surya mengatakan, “Anak Papua juga bisa”. Memberi Toleransi Sebagai dasar hukum pelaksanaan program afirmasi ini di STAN, dibuatlah Nota Kesepahaman antara Menteri Keuangan dan UP4B yang ditandatangani pada bulan April 2013. Berdasarkan kesepakatan itu, dibuatlah pengumuman penerimaan mahasiswa baru khusus Papua. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 7 s.d. 14 Juni 2013. Persyaratan administrasi dibuat lebih sederhana, peserta cukup mengisi formulir pendaftaran dan menyertakan satu lembar fotokopi ijazah SMA dan foto. Persyaratan akademik juga dipermudah dengan menurunkan standar nilai ijazah. Jika biasanya standar minimal rata-rata nilai 7,00, maka untuk program ini, cukup 6,00. Kriteria untuk menentukan “keaslian” pendaftar sebagai “orang asli Papua” ditentukan oleh Pemda. Berkas pendaftaran dikirim secara kolektif dari Pemda ke UP4B. Ujian seleksi dilaksanakan tanggal 2 Juli 2013, serentak di tujuh lokasi. Lima lokasi di Papua ( Jayapura, Wamena, Merauke, Biak, Nabire) dan dua lokasi di Papua Barat (Sorong dan Manokwari). Materi yang diujikan hanya Tes Potensi Akademik. Tak ada tes kesehatan maupun wawancara.


60

Aku ditugaskan untuk membawa soal ujian ke Manokwari. Sehari sebelum berangkat, aku menemui dokter Mila di Poliklinik. Dokter memeriksa denyut jantungku, lalu memberiku obat antimalaria. “Jangan lupa diminum obatnya nanti malam”, pesan dokter Mila. Pagi itu, pesawat lepas landas dari Jakarta. Transit di Makassar. Aku turun dari pesawat Boeing 737-800 berbadan besar, kemudian naik ke pesawat kecil jenis ATR 72-600. Pukul 14.30 pesawat mendarat di Bandara Rendani, Manokwari. Inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Papua. Bandara ini berada di tepi laut, menghadap ke Samudra Pasifik. Bangunannya kecil dan sederhana. Dari ruang kedatangan, pandanganku menyapu sekitar. Ada loket Trigana Air dan Wings Air. Di sebelahnya, beberapa kios menjajakan kerajinan tangan khas Manokwari. Ada noken, cincin, dan gelang dari kulit kayu. Tak ada pendingin udara di bandara ini. Hanya mengandalkan embusan angin. Aku menuju ke pangkalan taksi di sebelah kanan pintu keluar. “Mau ke mana Bapak?”, sopir taksi menyapaku. “Kantor Bupati”, aku menjawab singkat. “Mari kopernya”, dia membuka pintu bagasi. “Tidak usah, biar di dalam saja. Ini koper kecil”. Aku tak perlu menjelaskan kalau koper itu berisi dokumen rahasia yang harus aku jaga. Kantor Bupati hanya berjarak sepuluh menit dari bandara. Sampai di sana, aku menuju resepsionis. “Saya dari Kementerian Keuangan, mau bertemu Pak Daniel”, aku menjelaskan. “Sebentar ya, silakan tunggu”, resepsionis mengangkat gagang telepon. Dua menit kemudian, datang pria berseragam cokelat, “Pak Budi, kah?”. “Iya, saya Budi dari STAN”. “Saya Daniel”. Kami berjabat tangan. “Selamat datang di Manokwari. Kenapa tidak telepon saya kalau sudah mendarat? Biar saya jemput ke bandara”.


Perekat Indonesia

61

“Tidak usah repot, Pak Daniel. Saya sudah dikasih ongkos untuk naik taksi”. “Biasanya tamu-tamu dari Jakarta minta dijemput”, Daniel bercerita. Namanya Daniel Hobera, lulusan STPDN, sudah bekerja tiga tahun di situ. Dia mengajakku ke ruangan kantornya. Kami langsung meninjau persiapan ujian, terutama ruangan yang mau dipakai besok. Semua sudah siap. Aku meninggalkan kantor Bupati menuju losmen. Setengah jam di losmen, ada yang mengetuk pintu kamar. Aku buka pintu, resepsionis berdiri di luar, “Ada tamu untuk Bapa”. Aku menuju ruang resepsionis. Terlihat seorang laki-laki tua berdiri bersama anak perempuan berseragam SMA. Aku tak mengenal mereka. “Bapa Budi dari Jakartakah?”, dia mengulurkan tangannya. “Iya, saya”, aku menjabatnya. Kami duduk di kursi kayu, di depan losmen. Tak ada lobi di losmen itu. “Begini, ini anak saya Maria, mau ikut ujian untuk sekolah di kampus… “ “STAN”, aku menyambung. “Ya, itu yang di Jakarta”, dia tersenyum. “Ujiannya besok pagi, Bapak”, aku menjelaskan. “Itu masalahnya, kitorang belum mendaftar”. Aku tertegun sejenak. Aku tak sanggup bertanya, kenapa anaknya belum mendaftar. “Siapa nama Bapak?” aku bertanya. “Okto”. “Pak Okto tunggu sebentar ya”, aku menjauh beberapa langkah dari mereka, ke samping losmen. Kuambil handphone dari saku, telepon ke Jakarta. Aku jelaskan kejadiannya.


62

Singkat cerita, panitia mengizinkan anak itu untuk ikut ujian. Kata panitia, peserta dadakan ini bukan hanya ada di Manokwari, tapi di semua lokasi ujian. “Jadi besok kalau ada peserta dadakan, diterima saja. Minta saja identitas dan dokumen-dokumen syarat pendaftaran. Kalaupun belum lengkap, nanti bisa dikirim lewat pos. Kita harus maklum dengan kondisi mereka”, lanjut seorang panitia di ujung telepon. “Baiklah”, aku mengakhiri pembicaraan. Aku kembali ke depan losmen, lalu duduk di sebelah Maria. Pak Okto duduk di depanku, mukanya cemas menanti jawaban. “Maria boleh ikut ujian besok pagi”, ucapku singkat. Lelaki tua itu langsung menghampiriku, memelukku. “Terima kasih, Bapa”, matanya berlinang. Cukup lama dia tak melepas pelukannya. Aku tak bisa berkata-kata. Lelaki itu mirip ayahku. Dadaku sesak. Akhirnya aku bisa bicara, “Dari mana Pak Okto tau saya di sini?”. Dia menjawab, “Saya dikasih tahu Pa Daniel. Katanya tadi Pa Budi dari sana, tapi sudah pergi ke losmen. Jadi kami menyusul ke sini”. “Oh, begitu”, aku menimpali. “Tolong besok bawa dokumen syarat pendaftaran ya. Sudah tahukah syaratnya apa saja?” “Sudah”, jawab Maria. “Tadi kami dapat ini dari Pa Daniel”, Maria menunjukkan selembar kertas. “Ya, ini persyaratannya”, aku memastikan. “Pak Okto dan Maria tunggu sebentar ya”. Aku kembali ke kamar, mengambil formulir pendaftaran. “Formulir ini diisi, di bagian atas ditempel foto ukuran 4x6. Besok dibawa,


Perekat Indonesia

63

dilengkapi satu lembar fotokopi ijazah SMA dan dua lembar foto ukuran 4x6”. “Iya”, kata Maria. “Kalau begitu, kami pulang dulu”, Pak Okto berpamitan. Ujian seleksi Jam tujuh pagi, aku sudah sampai di kantor Bupati. Belum ada orang. Aku menunggu di lobi. Tiga puluh menit kemudian, Pak Daniel datang bersama dua orang rekan kerjanya. Kami langsung menuju ke ruang ujian. Seorang rekan Pak Daniel duduk di meja registrasi, di depan ruang ujian. Aku duduk di sebelahnya. Dia mendata peserta yang datang, lalu memintanya mengisi daftar hadir. Bagi peserta yang belum mendaftar, diminta mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkan berkas-berkasnya. Maria datang menghampiriku. Mukanya pucat. “Saya tidak bawa fotokopi ijazah. Kemarin sore ayah saya pergi ke tempat fotokopi. Naik motor, dua jam dari rumah, tapi sampai di sana tokonya sudah tutup”, ucap Maria. “Bawa ijazah aslinya”? tanyaku. “Iya, ini ada”, Maria membuka tasnya. “Sebentar ya”, aku menghampiri Pak Daniel di pojok ruangan. “Ada peserta perlu fotokopi ijazah. Ada mesin copy di kantor ini?” “Maaf, mesinnya rusak, sudah satu bulan belum diperbaiki”, dia menjelaskan. “Baiklah”, aku kembali ke meja registrasi. “Maria, saya foto saja ijazahnya pakai handphone. Nanti saya print di Jakarta”. Maria tersenyum lega.


64

Jam 08.30, seharusnya ujian dimulai. Tapi peserta yang hadir baru setengah. Dari 64 orang yang mendaftar, baru 25 yang hadir. Ditambah tujuh peserta dadakan yang mendaftar hari ini. Totalnya menjadi 32 orang. Panitia setempat meminta ujian jangan dimulai dulu. “Mungkin ada yang masih dalam perjalanan, kami akan coba hubungi mereka”, kata Daniel. Aku jawab, “Baiklah, kita beri waktu lima menit”. Dia sibuk memijit HP-nya dan sesekali berteriak, “Hei, di manakah? Ini ujian su dimulai!”. Daniel terdiam sejenak mendengarkan jawaban, lalu berteriak lagi, “Aah, gimana kamorang ini! Ya sudahlah.” Dia menghampiriku, “Mereka tak jadi ikut Pa”. “Ya sudah, kita mulai saja. Ini sudah jam 08.35”. Selesai ujian, Daniel menghampiriku, “Nanti malam kita jalan-jalan keliling kota ya. Sambil makan malam”, dia memberi penawaran. “Terima kasih, tapi saya mau istirahat saja”, aku menjawab. “Oh, begitu”. “Ya. Lagi pula di dekat losmen ada rumah makan”. Aku kembali ke losmen. Aku mendapat SMS dari panitia di Jakarta. Secara total, dari 388 peserta yang mendaftar, hanya 338 orang yang hadir saat ujian. Peserta terbanyak dari Jayapura 112 orang, Nabire hanya diikuti 17 orang. Sebenarnya, UP4B telah menginformasikan ke semua kabupaten di Papua dan Papua Barat agar mengirimkan peserta untuk mengikuti seleksi ini. Ternyata, ada beberapa kabupaten yang tidak mengirimkan peserta. Dari Papua, ada sembilan daerah yang absen: kabupaten Asmat, Deiyai, Dogiyai, Keerom, Memberamo Raya, Memberamo Tengah, Mappi, Nduga, dan Paniai. Sementara dari Papua Barat, kabupaten Tambraw tak mengirimkan wakilnya. Selepas magrib, aku berjalan ke rumah makan di seberang losmen. Seorang nenek


Perekat Indonesia

65

tua menjajakan pinang sirih dan kapur di depan rumah makan itu. Ada pinang segar yang masih utuh, ada pula pinang kering yang telah diiris. Setumpuk buah sirih tertata di sebelahnya, bersama beberapa lembar daun sirih. Dia duduk di trotoar, beralas karung beras. Wajahnya tampak lelah. Mungkin sudah berdagang sejak pagi. Anak seumuran dua tahun, mungkin cucunya, tertidur di sampingnya. Aku masuk ke rumah makan. Angin pantai mengembus kencang. Masa orientasi Sesuai dengan Nota Kesepahaman, biaya pelaksanaan program ini ada yang menjadi tanggung jawab Kementerian Keuangan dan ada pula yang menjadi tanggung jawab Pemda masing-masing di Papua, sesuai asal daerah mahasiswa. Kementerian Keuangan menanggung seluruh biaya pendidikan, buku dan peralatan, akomodasi, bantuan biaya hidup, dan wisuda. Sedangkan Pemda menyediakan dana untuk transportasi ujian seleksi, transportasi ke tempat studi, dan asuransi kesehatan. Ada 210 peserta ujian seleksi yang lulus, 127 dari Papua dan 83 dari Papua Barat. Tapi, hanya 205 yang mendaftar ulang. Mereka datang ke Jakarta. Sebelum mulai pendidikan, mereka mengikuti orientasi selama dua hari di kampus Jurang Mangu. Pagi itu, 28 Agustus 2013, mereka berkumpul di Gedung G. Aku masuk dari pintu timur gedung itu. Ramai sekali. Seorang siswi keluar dari keramaian, mendekatiku. “Selamat pagi, Bapa”, ia menyapa. “Pagi”, aku menjawab. “Saya Maria.” “Oh iya, saya ingat. Dari Manokwari ‘kan?” “Iya.” “Wah, selamat ya. Kamu lulus dan bisa kuliah di sini.” “Terima kasih. Bapa saya itu suruh saya bilang terima kasih ke Pa Budi”


66

“Oh, iya. Bapak sehat ‘kan?”, aku teringat Pak Okto, ayah Maria yang dulu menemuiku di losmen. “Sehat”, Maria menjawab. “Berapa orang dari sana yang lulus?” “Sekitar 20-an”. “Kemarin berangkat ke sini bersama-sama?” “Iya.” “Tiket pesawat dibelikan oleh Pemda?” “Tidak Bapa. Kami beli tiket sendiri, katanya uang dari Pemda belum bisa dicairkan. Tunggu bulan depan.” Aku terdiam. Peluit panjang berbunyi, tanda kegiatan akan dimulai. Orientasi dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kemudian, Direktur STAN menyampaikan sambutan. Selama orientasi, mereka diperkenalkan dengan lingkungan kampus, budaya akademis, dan peraturan yang berlaku, termasuk kedisiplinan. Hadir pula Pak Sudirman Said, Ketua Ikatan Alumni STAN, memberi ceramah dan motivasi. Selepas istirahat siang, mereka menyanyikan lagu “Aku Papua” karya Franky Sahilatua. Hitam kulitku, keriting rambutku, aku Papua… Biar nanti langit terbelah, aku Papua… Setelah selesai orientasi di hari kedua, bagi yang mendapat lokasi pendidikan di luar Jakarta, mereka diberangkatkan ke masing-masing lokasi pendidikan. Ada lima lokasi pendidikan: Jakarta, Cimahi, Palembang, Malang, dan Medan. Di Jakarta ada 85 siswa. Sementara untuk lokasi lain, masing-masing 30 siswa. Pelepasan peserta dilakukan oleh pimpinan UP4B bersama-sama dengan pimpinan STAN.


Perekat Indonesia

67

Berhitung lagi Mahasiswa Papua tinggal di rumah-rumah indekos di sekitar kampus, berbaur dengan mahasiswa lain. Semua biaya indekos dibayar oleh STAN. Mereka juga diberi uang saku untuk biaya hidup yang dibagikan tiap dua minggu. Sejak awal, UP4B mengingatkan agar uang saku jangan diberikan satu bulan sekaligus. Kalau diberikan semua, mereka akan habiskan dalam waktu dua minggu. Perkuliahan dimulai dengan program matrikulasi, agar mereka bisa beradaptasi dengan iklim akademik kampus dan menyesuaikan kemampuan untuk mempelajari materi dari kurikulum inti. Mata kuliah yang diajarkan pada matrikulasi terdiri dari Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Pengenalan Komputer, dan Pengenalan Budaya. Matrikulasi dilaksanakan selama delapan minggu. Dalam seminggu, dua kali tatap muka untuk setiap mata kuliah. Aku dapat tugas mengajar matematika. Ini fondasi yang penting untuk persiapan mata kuliah akuntansi, misalnya menghitung penyusutan berganda. Matrikulasi matematika tidak lagi mengajarkan konsep, semuanya latihan soal dan berhitung. Aku masuk ke ruang kelas, lalu membagikan selembar soal hitungan. Kujelaskan apa isi soalnya, apa yang ditanya, dan bagaimana cara menjawabnya. Ini pekan kedua aku mengajar mahasiswa Papua. “Salo, maju ke depan”, aku menunjuk siswi asal Jayapura itu. Aku ingat nama panggilannya, tapi lupa nama lengkapnya. Kulihat di daftar hadir, namanya Salomina Gobay. Dia maju ke depan kelas dengan penuh semangat. Cepat sekali dia menulis jawaban di papan tulis. Cara menghitungnya tepat, jawabannya akurat. “Benar itu, Salo”, aku menyanjungnya. Di pojok kelas, duduk seorang mahasiswa. Esron Rumbewas, aku hafal nama lengkapnya, putra asli Sorong. Sebenarnya dia anak yang cerdas, tapi malas. Hidupnya seperti tak bersemangat. Duduk menyendiri di bangku belakang, jauh dari teman-temannya di kelas. Pulpennya tergeletak di atas buku tulis. Sepertinya, untuk menulis pun dia berat. Aku berjalan mendekatinya, lalu duduk di bangku sebelahnya. “Esron, kau tau Boaz Solossa?”, aku membuka pembicaraan.


68

Dia menjawab, “Itu idola saya, Bapa. Pemain bola terkenal. Diorang itu adiknya Ortizan Solossa.” “Katanya, tahun ini Boaz pergi dari Persipura Jayapura, pindah ke Persiram Raja Ampat. Benarkah?”, aku terpengaruh logat mereka. “Ya, dia su tak sejalan dengan Jacksen Tiago, pelatih Persipura”, Esron antusias menjelaskan. Aku menimpali, “Boaz dan Ortizan itu dari Sorong ‘kan?“ “Iya Bapa.” “Nah, mereka berdua itu orang hebat. Kau juga bisa jadi seperti mereka.” “Ah, tidak mungkin, bagaimana caranya?”, dia tertawa kecil. “Asalkan kau rajin. Nanti kau bisa mengharumkan nama Sorong. Kau bisa terkenal se-Indonesia, seperti Boaz dan Ortizan itu.” Sekitar sepuluh menit kami mengobrol tentang sepak bola, sementara mahasiswa lain melanjutkan mengerjakan soal matematika. Tanah Papua banyak melahirkan pemain-pemain bola terkemuka. Selain Boaz dan Ortizan, ada Elie Aiboy. Esron bercerita banyak tentang kaki kiri Elie yang menghasilkan banyak gol indah. Berikutnya ada Patrich Wanggai, Titus Bonai dan Oktavianus Maniani yang menjadi “trio Papua” di Timnas Indonesia. Papua menjadi surga talenta bagi dunia sepak bola. Perkuliahan selesai. Buku tulis Esron masih kosong. Inilah akuntansi Selasa, 8 Juli 2014, aku mengajar mata kuliah Akuntansi Pemerintah Daerah di semester II. Aku masuk ke ruang kelas. Lima mahasiswa sudah duduk di kelas. Pagi itu hujan gerimis, banyak mahasiswa tak hadir. Harusnya ada lima belas mahasiswa di kelas. Sebelum memulai kuliah, aku mengajak mereka ngobrol. “Besok kita libur ya”, aku membuka perkuliahan. “Iya, besok Pemilu”, kelas menjadi gaduh.


Perekat Indonesia

69

“Kalian ikut Pemilu?” “Tidak. Kami tak dapat undangan. Padahal kami sudah punya KTP, umur sudah 19 tahun”, kata Martha. “KTP kalian ‘kan alamatnya Papua. Jadi kalian terdaftar di Papua. Kalau mau pindah TPS, harus bawa formulir A5. Kalian harus urus dulu formulir itu di Papua”, aku menjelaskan. “Kalian tahu orang Papua yang jadi menteri?”, aku mengalihkan pertanyaan. Mereka terdiam. “Freddy Numberi”, aku jawab pertanyaanku sendiri. Aku tayangkan foto pria kelahiran Yapen Waropen itu yang pernah menjadi Gubernur Papua dan tiga kali menjadi menteri. Sebagai MenPAN di era Presiden Gus Dur, kemudian Menteri Kelautan dan Perikanan di periode pertama Presiden SBY, dan menjadi Menteri Perhubungan untuk kabinet SBY periode kedua. Kuliah akuntansi dimulai. Aku menjelaskan konsep-konsepnya. Kemudian membahas soal-soal yang ada. Tak perlu memberi banyak materi. Sedikit saja cukup yang penting mereka mengerti. Bioskop pertama Pagi itu hari Jumat, aku masuk kelas jam delapan. Sebelum menyampaikan materi, aku tayangkan video singkat tentang Franklin Ramses Burumi, sprinter asal Serui yang menyabet dua medali emas di cabang lari 100 meter dan 200 meter putra dalam ajang SEA Games tahun 2011 di Palembang. “Kalian juga bisa jadi seperti dia, mengharumkan nama Indonesia”, ucapku setelah video itu selesai. Lalu aku bertanya, “Kalau akhir pekan, kalian ngapain?” “Hari minggu ke gereja”, sahut Yohanes. “Main bola”, Esron bersuara dari belakang kelas.


70

“Kau ini, bola terus”, Paul menyahut. “Baiklah. Gimana kalau besok Sabtu kita nonton film di bioskop. Saya yang bayar tiketnya.” “Hore.. hore.. “, mereka melompat-lompat. Sabtu pukul satu siang, aku menuju Plaza Bintaro. Aku masuk ke lobi bioskop. Mereka sudah berkumpul di sana. Aku beli tiket The Expendables 3, lalu memesan pop corn dan hot chocolate untuk mereka. Kami berjalan menuju pintu Theater 1. “Paul, kenapa kamu diam terus dari tadi?”, aku bertanya. “Ah, tidak Bapa”, dia tersenyum. “Dia baru pernah masuk bioskop”, sahut Derek. “Di Jayawijaya tak ada bioskop”, lanjut Derek. “Diam kau ini!”, gertak Paul. Kami tertawa. Pintu teater dibuka. Setelah pertunjukan film selesai, kami berjalan menyusuri lorong. “Mantap filmnya, Bapa”, ucap Derek. “Iya, seru”, aku menjawab. Keluar dari lorong, kami berhenti sejenak. “Kalian lanjut saja jalan-jalan di sini. Saya ada keperluan di rumah.” Aku buka handphone, baca SMS. Aku terkejut. “Ke sini semua”, aku meminta. “Ada berita duka dari Cimahi. Salah satu teman kalian ada yang meninggal.”


Perekat Indonesia

71

“Kanapa dia?”, Paul bertanya dengan muka serius. “Minuman keras”, aku menjawab singkat. Mereka mengerti maksudku. Kami terdiam. Selesai Periode perkuliahan telah berakhir, dari matrikulasi, semester I, sampai dengan semester II. Saatnya dilaksanakan rapat kelulusan di Jakarta. Di rapat itu, hadir para penyelenggara pendidikan dari Cimahi, Palembang, Malang, dan Medan. Forum rapat memutuskan, 180 mahasiswa dinyatakan lulus. Sedangkan 21 mahasiswa harus mengulang karena tidak memenuhi persyaratan nilai minimum. Mereka diberi kesempatan mengikuti remedial. Sementara itu, ada 3 mahasiswa yang dinyatakan tidak lulus karena melakukan pelanggaran disiplin. Sebagai tahap akhir proses pendidikan, diselenggarakan wisuda di Jakarta pada Kamis, 25 September 2014. Mahasiswa yang kuliah di Medan, Palembang, Cimahi, dan Malang, semua datang ke Jakarta. Mereka menginap di penginapan TMII. Sehari sebelum wisuda, mereka mengikuti yudisium. Di forum wisuda, Direktur STAN menyampaikan harapan, “Setelah melalui tahapan-tahapan pendidikan, akhirnya pada hari ini kita semua berada di ruangan ini untuk melakukan wisuda program studi afirmasi bagi putra-putri Papua. Diharapkan lulusan program ini mampu memberikan kontribusi positif bagi terwujudnya pengelolaan dan pelaporan keuangan daerah yang transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab sehingga bisa memperbaiki capaian opini LKPD”. Sebagian orang tua mahasiswa ada yang hadir. Terpancar wajah-wajah bahagia. Anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi di luar Papua, tanpa biaya. Aku menyalami mereka. Pak Daniel datang di wisuda itu, mewakili Kabupaten Manokwari. Setelah prosesi wisuda selesai, kami mengobrol sambil makan siang. “Saya kasihan sama anak-anak yang ikut program ini”, dia membuka


72

pembicaraan serius. “Kenapa?”, aku bertanya. “Dana untuk membeli tiket pulang belum cair”. Aku tak bertanya apa sebabnya. “Lalu, pengangkatan mereka sebagai PNS di Pemda juga terkendala. Mungkin akan tertunda satu tahun”, Pak Daniel melanjutkan. “Kok bisa? Bukannya sudah ada Surat Pernyataan Bupati, bahwa akan mengangkat mereka menjadi PNS di sana. Itu sudah ditandatangani sebelum program ini berjalan”, aku mengungkapkan. “Bagian Kepegawaian merasa tidak mendapat informasi tentang surat itu. Sehingga mereka belum mengajukan formasinya ke MenPAN. Ini bukan urusan UP4B, apalagi STAN. Ini urusan koordinasi internal kami”, Pak Daniel menjelaskan. Oktober 2014, pemerintahan Presiden SBY berakhir. Masa kerja UP4B pun selesai, karena sesuai dengan Perpres 66 tahun 2011, tugasnya hanya sampai akhir tahun 2014. Pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak menerbitkan Perpres sejenis untuk memperpanjang masa kerja UP4B. Program afirmasi pendidikan untuk Papua tetap dilanjutkan, tapi dikelola langsung oleh Kemristekdikti dan Kemdikbud. UP4B dibubarkan. Epilog: Kemajuan Papua Berawal dari Pendidikan Aku sering mengatakan, “Orang menjadi brutal dan miskin karena bodoh”. Mungkin ada yang menjawab, “Apakah pendidikan yang tinggi menjamin orang berperilaku baik?” atau “Apakah lulusan universitas tidak ada yang jadi penjahat?”, dan “Berapa banyak sarjana yang menganggur dan miskin?”. Waktu kecil, tepatnya kelas tiga SD, aku pernah menyobek uang mainan milik teman sekelas ketika perjalanan pulang sekolah. Temanku menangis, lalu mengadu ke orang tuanya. Apa yang terjadi? Ayahnya datang ke rumahku membawa golok, menggedor pintu dengan amarah memuncak. Saat itu orang tuaku sedang bekerja. Aku ketakutan bukan main di dalam kamar.


Perekat Indonesia

73

Sekarang kalau pulang kampung, aku sering ketemu teman SD itu. Kami bercanda mengenang masa-masa sekolah dulu. “Kasus” penyobekan uang mainan tadi malah jadi bahan tertawaan kami. Namun ada satu hal yang membuatku sedih ketika bertanya, “Kamu sekarang kerja apa?”. “Aku kerja buruh cangkul di sawah”, katanya. Upahnya dua puluh lima ribu rupiah per hari. Setelah lulus SD, dia tidak melanjutkan sekolah. Keluarganya memang tak berpendidikan. Ayahnya tak pernah sekolah sehingga dikenal sangat emosional dan sering menghardik anak kecil yang “bermasalah” dengan anaknya. “Semua ini terkait pendidikan”, itulah pemikiranku. Pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tapi juga membangun kematangan pribadi. Bagi orang tua yang “matang”, kejadian anak yang menangis saat bermain itu bukanlah urusan kritis yang sampai harus dibela dengan golok. Itu cuma “bunga” dalam pergaulan anak. Aku juga berpikir, kalau temanku itu tak hanya lulus SD, maka dia bisa hidup layak. Pendidikan memang tidak menjamin dia menjadi kaya, tapi setidaknya dia tidak jadi orang miskin. Aku teringat pesan Ayah, “Kamu harus sekolah yang tinggi, supaya kamu menjadi orang baik. Kamu harus sekolah yang tinggi, supaya kamu mendapat kehidupan yang layak”. Mendengar kata-kata itu, semangatku meletup untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya dan menjadi dosen di perguruan tinggi. Sehingga, ketika lulus kuliah di STAN, aku memilih untuk tetap di kampus dan langsung mengajar. Bagiku, mengajar adalah passion sehingga sering lupa waktu dan tak merasakan lelah meskipun harus mengajar seharian. Bertemu dengan mahasiswa yang masih polos dan tak terbelit beragam kepentingan, terasa begitu menggembirakan. Berdiskusi dengan mereka, tak akan ada habisnya. Mengajar selalu memiliki banyak tantangan. Aku harus mengerti banyak hal karena mahasiswa sering bertanya hal-hal yang “tak terduga”. Mengajar mahasiswa Papua, menjadi pengalaman tak terlupakan. Aku menjadi seorang guru, bukan dosen. Aku harus ekstra sabar mendidik mereka. Bertemu mereka dua kali dalam seminggu, aku hafal semua nama-nama mereka dan mengerti siapa yang pintar dan siapa yang sering bingung. Aku memahami, betapa jauhnya kesenjangan pendidikan antara Jawa dengan Papua. Di sela-sela mengajarkan materi kuliah, aku sering menyisipkan cerita tentang


74

pentingnya kejujuran, tanggung jawab, dan bagaimana membangun mental yang kuat. Kuberikan contoh-contoh dan kejadian nyata yang aku alami sendiri dan cerita para tokoh-tokoh besar. Aku ingin mendidik mereka menjadi pribadi yang berkarakter karena mereka akan menjadi penggawa pengelola keuangan yang tersebar di seluruh Papua. Mereka harus punya kompetensi dan karakter yang matang. Mereka akan menjadi panutan bagi masyarakat Papua. Mereka harus menjadi generasi cerdas yang berintegritas, birokrat yang beretika, dan pejabat yang matang dalam berpikir dan bertindak. Papua sudah tertinggal sekian lama. Otonomi khusus yang diberlakukan mulai tahun 2001 belum banyak memperluas akses pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Indeks pembangunan manusia untuk Papua hampir selalu menjadi angka terendah dari semua provinsi di Indonesia. Padahal, sudah triliunan rupiah dana otonomi khusus yang digelontorkan. Maka, program afirmasi pendidikan ini menjadi sebuah gerakan perubahan dan aku telah ikut berkontribusi dalam gerakan itu, dari ruang kelas. Meskipun di kelas hanya ada 15 mahasiswa, tetapi mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan Papua. Bagaimana “warna� Papua di masa depan sangat tergantung bagaimana para pendidik “mewarnai� mereka hari ini di bangku sekolah, di ruang kuliah. Aku mengerti, gerakan ini berjalan lambat, banyak kendala dan senyap dari pemberitaan media. Namun aku menguatkan komitmen untuk memberi kontribusi semampuku, meskipun hanya seujung kuku. Aku telah menentukan pilihan, mewakafkan hidupku untuk pendidikan. Aku percaya, suatu hari nanti aku akan melihat cahaya mutiara yang terpancar dari tanah Papua.


Perekat Indonesia

75

Magdalena, Sa Pu Nama Undani, KPPBC TMP C Sorong - DJBC

Hari itu Senin, 25 Juni 2018, mentari menyapa sunyi pada basah embun pagi. Daun-daun matoa bergulung pada tangkai dan dahan yang memeluk, seolah enggan melepas pagi untuk pergi. Ada kegundahan sekaligus kebahagiaan berkelindan dalam ingatan. Hari terasa begitu istimewa, tidak hanya bagi aku dan keluargaku, tetapi juga bagi insan penggawa Nagara Dana Rakรงa di bumi Papua. Ini adalah hari ketika sebuah sumpah jabatan kuikrarkan di hadapan Tuhan yang Maharahman, begitu banyak kebaikannya yang telah dicurahkan. Hari ini aku adalah satu-satunya putri Papua yang diangkat dan diambil sumpah di Aula Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Sorong sebagai Kepala Subseksi Kepatuhan Pelaksanaan Tugas. Aku masih setengah tidak percaya, setelah melewati begitu banyak rangkaian cerita. Seolah semuanya semu dan tidak nyata. Masih terasa bagaimana tanganku bergetar dan dadaku berdebar ketika pertama kali mendapatkan surat keputusan pengangkatan sebagai CPNS pada bulan April 2004, waktu itu usiaku 21 tahun. Berbekal ijazah SMK Sekretaris tahun 2002, aku memberanikan diri mengikuti ujian saringan masuk Kementerian Keuangan jalur khusus rekrutmen Papua dan sekali lagi Tuhan membuktikan keajaibannya. Dari enam ratusan peserta yang mendaftar, hanya empat orang dari wilayah Papua yang diterima, dan aku adalah salah satunya. Ada


76

Satu pernyataan yang ingin sekali kubuktikan bahwa orang Papua juga bisa berkarya, memahatkan karsa bagi bakti bangsa, bahwa kami tidak berbeda.

kebanggaan menjalar di dada. Aku anak Papua dan aku bisa. Oh ya, perkenalkan sa pu* nama Magdalena, umurku 36 tahun. Saat ini aku bekerja di KPPBC Sorong. Aku lahir dan besar di kota Sorong, Papua Barat. Sebagai orang Sorong, rasanya tidak pernah sedikit pun aku pernah bermimpi mengenakan pakaian seragam biru, apalagi sebagai seorang perempuan. Tengok saja sebagian besar teman perempuan SMKku langsung berakhir di pelaminan, menjadi nelayan, memotong ikan tuna di pabrik, menjaga toko kelontong, atau berdagang di pasar Remu. Berkarier di Bea dan Cukai dahulu rasanya satu kemuskilan, tetapi ada satu hal yang selalu menggoda nalar dan akal sehatku. Satu pernyataan yang ingin sekali kubuktikan bahwa orang Papua juga bisa berkarya, memahatkan karsa bagi bakti bangsa, bahwa kami tidak berbeda. Kami ingin berjuang demi harum Indonesia jaya. Aku tidak ingin berhenti di sini, pengalaman memberiku keyakinan bahwa selama kita punya mimpi tidak ada yang tidak dapat diraih. Aku ingin seperti bintang yang meski tersembunyi di gelap malam ia tidak pernah sendirian, ada bintang-bintang lain menemani, mereka bersama-sama memberi arti pada indah gelap malam sunyi. Mereka berkerlipan dari daya dan kekuatan cahaya yang mereka punya. Filosofis itulah yang mendorongku untuk tetap ingin bersinar. Tak hanya bagi diri sendiri, tetapi bagi teman, lingkungan, dan tentu saja bagi negara yang telah memberiku kesempatan. Untuk itulah aku harus terus


Perekat Indonesia

77

berkembang mengasah kompetensi dan kemampuan. Aku harus tetap belajar. Oleh karena itu, saat ini aku sedang menyelesaikan pendidikan di luar kedinasan, mengambil ijazah strata satu di bidang hukum. Meskipun di tengah kesibukan, aku tetap sempatkan untuk belajar di salah satu universtitas swasta terkemuka di kota Sorong. Di KPPBC Sorong tempatku bekerja, aku pun belajar tentang keberagaman, tentang hidup berdampingan. Kami bersama-sama merangkai karsa dan bakti demi nusantara tercinta. Di kantor ini beragam pegawai dengan latar belakang suku dan daerah dipersatukan. Teman satu ruanganku ada yang berasal dari Betawi dengan logatnya yang khas, ada dari Jawa, sebagian dari Makasar, ada juga yang dari Padang, Flores, Sunda, Batak, dan daerah lainnya, serta tentu saja orang asli Papua. Kami bersatu-padu membangun mimpi yang satu. Seperti rasi bintang, kami membentuk formasi di gelap malam, setiap posisi akan memberi arti, tidak ada yang merasa paling berjasa atau paling mulia, karena kita sama. Kita adalah kumpulan kerlip bintang yang bisa memberi petunjuk dan arah bagi nelayan ketika tersesat di lautan. Sebagai seorang perempuan, aku memang dianugerahi kepekaan dalam memaknai keadaan, mungkin ini terkait dengan rasa keibuanku. Sebagai seorang ibu yang telah dikarunia dua orang putra, aku selalu bersyukur bahwa selama ini aku juga bisa menjadi ibu bagi anak-anak muda Bea dan Cukai di Sorong. Ya, mereka adalah generasi milenial, pemuda dan pemudi yang baru saja lulus dengan semangat yang membara dan cita-cita yang menyala. Namun terkadang baranya harus kita arahkan agar menjadi energi bagi kehidupan. Bara yang menghangatkan dan yang tidak melukai hingga bisa menjadi aib bagi diri sendiri dan institusi. Mereka kaum muda yang meninggalkan rumah dan kampung halaman. Sebagian dari mereka berasal dari Jawa–pulau dengan segala kemajuan dan modernisasi, menuju tanah Papua–lahan dengan segala kesederhanaannya. Mereka pergi dengan sebuah cita-cita di dalam hati, menjadi penggawa di Nagara Dana Rakça. Banyak tantangan dan hambatan yang harus mereka hadapi, culture shock, kerinduan pada kampung halaman, tiket mahal yang sulit terjangkau, hingga tingginya living cost di Kota Sorong. Memang dalam beberapa bulan selama tahun 2018 misalnya, inflasi di kota Sorong adalah yang tertinggi di Indonesia, bahkan bisa sampai dua kali lipat dari tingkat inflasi secara nasional, dan salah


78

satu faktor penunjang inflasi itu adalah tingginya tiket pesawat dan harga barangbarang kebutuhan harian. Keadaan memang tidak selalu menggembirakan, di tengah keterbatasan gaji dan tunjangan, sebagian dari kami harus menyisihkan uang demi tabungan untuk bisa membeli tiket pesawat agar pada saat lebaran atau natal bisa kembali mengunjungi kampung halaman, muara bagi segala kerinduan. Aku terpanggil oleh empati, oleh rasa saling memiliki bahwa kita adalah satu jiwa yang saling mengerti. Untuk menyiasati tingginya standar biaya hidup di Kota Sorong, akhirnya aku pun berinisiatif membuka dapur sehat, nikmat, dan murah. Mereka menyebutnya De’Rantanger, mungkin karena menu makanannya yang kusajikan dalam wadah rantang plastik. Dengan harga separuh dari harga di warung makan biasa dan porsi yang sama, kini mereka bisa menikmati sajian bergizi di sore hari tanpa harus khawatir dengan kebersihan dan kenikmatan. Bahkan mereka bisa membayarnya di akhir pekan jika gajian belum juga datang. Selain itu, ternyata katering ini juga membuka lahan pekerjaan bagi tetangga karena mereka dilibatkan agar dapat menikmati pula tambahan penghasilan dari keberadaan kita. Mungkin ini hal yang sederhana, tetapi bagiku, melihat mereka menikmati dengan lahap setiap suap sajian yang dihidangkan sudah memberiku kebahagiaan. Bisa menjadi bagian dari solusi. Mengatasi masalah dengan hati. Ada bahagia yang tercipta di kerlip cahaya bintang di langit jingga. Aku selalu berharap bahwa sebagai seorang Papua, aku bisa mengambil peran bagi kemajuan kedinasan, bagi erat dan akrab persahabatan di tengah keberagaman. Aku ingin tumbuh dan berkembang, memendarkan cahaya bagi kehidupan. Menjadi suluh dan pelita bagi sesama ketika gulita tidak juga sirna. Aku Papua, aku tidak berbeda, maju bersama mengukir karya, memahat karsa di atas cinta pada Indonesia raya, karena Kitorang** Papua.

*Bahasa Papua yang berarti Saya Punya **Bahasa Papua yang berarti Kita Orang


Perekat Indonesia

79


80

“Sudah saatnya Indonesia sadar diri bahwa lautnya lebih kaya dari daratnya yang membutuhkan bantuan kita untuk menjaganya.� Susi Pudjiastuti


Perekat Indonesia

81

I R A H A B I R E G E N


82

Badai Pasti Berlalu, Insyaallah

Sidiq Gandi Baskoro, KPPBC TMP C Ternate - DJBC

Beberapa hari mendatang akan ada ekspor iron ore dari Pulau Taliabu. Kapal berbendera asing akan masuk dan berlabuh untuk mengangkut iron ore tersebut. Sudah menjadi standar internasional, para petugas CIQ (Customs, Immigration, dan Quarantine) akan melakukan pemeriksaan ke atas kapal tersebut pada saat kedatangan dan pada saat dia akan meninggalkan Indonesia. Perjalanan menuju Pulau Taliabu dari Ternate dapat ditempuh dengan tiga cara. Pertama, naik kapal laut dari Ternate ke Pulau Taliabu selama dua hari dua malam. Kedua, naik pesawat dari Ternate ke Sanana, Kepulauan Sula, lalu disambung dengan naik kapal laut selama satu malam perjalanan dari Sanana ke Pulau Taliabu. Namun, pesawat dari Ternate ke Sanana tidak setiap hari ada. Ketiga, naik pesawat dari Ternate ke Makassar. Menginap satu malam di Makassar. Pagi harinya lanjut penerbangan dari Makassar ke Luwuk, Banggai. Lalu dilanjutkan naik kapal laut selama satu malam perjalanan dari Pelabuhan Rakyat Luwuk, Banggai, ke Pulau Taliabu. Pagi tadi Pak Luthfi Sidasi dari Kantor Karantina Kesehatan Ternate meneleponku. Kemarin malam beliau bersama beberapa teman dari Kantor Imigrasi Ternate berangkat ke Pulau Taliabu dari Pelabuhan Luwuk dengan menumpang Kapal Sumber Raya 3. Berangkat dari Luwuk pukul 21.00 WITA.Awalnya lautan masih teduh dan nyaman untuk berlayar. Namun pada


Perekat Indonesia

83

tengah malam kapal kayu besar itu dihantam angin kencang dan gelombang laut dari utara setinggi 2-3 meter. Pintu yang berada di lambung kapal jebol. Banyak air laut masuk. Para penumpang panik. Live jacket (pelampung) pun segera dipakai untuk antisipasi kondisi terburuk yang mungkin saja terjadi. Lima puluh sak semen muatan kapal langsung dibuang ke laut untuk mengurangi muatan. Ada juga yang menambahkan informasi bahwa mesin kapal juga mati sehingga kapal tidak bisa melanjutkan pelayaran malam kemarin. Beruntung di depan ada sebuah pulau kecil, Pulau Sagu namanya. Kapten kapal memutuskan agar kapal menepi dan berlindung di pulau itu sekitar pukul 02.00 WITA, sambil melakukan perbaikan-perbaikan seperlunya. Sekira pukul 07.00 WITA tadi pagi pertolongan datang. Alhamdulillah kapal pun bisa melanjutkan pelayarannya ke Taliabu. Salah seorang pemilik kapal yang malam ini bersamaku juga bercerita bahwa kapal miliknya yang melayani pelayaran dari Manado ke Kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, saat ini dihentikan operasi pelayarannya sampai hari Kamis besok. Penyebabnya karena gelombang laut sedang tinggi-tingginya dan tidak bersahabat bagi kapal-kapal. Mengulas kondisi alam menjelang akhir tahun 2018 kemarin, sampailah beberapa kabar kepada kita. Di antaranya tingginya gelombang di pantai Manado sampai air lautnya tumpah ke jalan raya, meletusnya Gunung Anak Krakatau yang konon menjadi pemicu terjadinya tsunami Selat Sunda, beberapa gempa yang terjadi di Laut Maluku diduga menyebabkan putusnya kabel optik Telkomsel di dasar Laut Ternate hingga putusnya jaringan telekomunikasi Telkomsel se-Maluku Utara selama beberapa hari, dan yang masih hangat adalah terjadinya gempa dengan magnitudo lima sebanyak puluhan kali pada waktu tengah malam di Pulau Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Sedangkan kondisi cuaca pada jalur penerbangan, sempat terlihat gumpalan awan cumulonimbus yang menyerupai gelombang tsunami di atas Bandara Sultan Hasanuddin Makassar hingga banyak pesawat harus berputar-putar dulu di angkasa selama sekitar dua puluh menit karena kondisi tersebut tidak aman untuk pendaratan. Pada penerbanganku dengan Sriwijaya Air SJ-599 kemarin dari Ternate ke Makassar di atas Pulau Sulawesi sempat mengalami guncangan sangat keras beberapa kali, turbulensi, tidak seperti biasanya, dan yang paling dramatis setelah beberapa guncangan keras itu pesawat seperti terayun ke bawah, rasanya seperti ketika kita naik ayunan yang terayun kuat ke bawah.


84

Banyak penumpang histris. Seorang perempuan muda di seberang tempatku duduk sampai berteriak karena ketakutan. Kemudian terdengar banyak orang melafalkan doa-doa dan bacaan-bacaan sesuai tuntunan agama. Aku yakin yang diminta dalam doa adalah sama, yaitu keselamatan. Malam ini aku bersama Hero Triassosi, seorang dokter perempuan dari Jakarta, dan tiga puluhan orang karyawan perusahaan tambang pasir besi, PT Servindo Jaya Utama, menumpang Kapal Gracelia dari Pelabuhan Rakyat Luwuk, Banggai, menuju Pulau Taliabu. Sesuai jadwal kapal diberangkatkan pukul 21.00 WITA dan dijadwalkan tiba dua belas jam ke depan di Pulau Taliabu, tanpa banyak singgah di pulau-pulau yang dilewatinya. Dengan memohon rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kami semua memohon perlindungan dan keselamatan hanya kepada-Nya. Dialah yang telah menundukkan lautan agar kapal-kapal aman berlayar dan manusia mengambil pelajaran. Lautan yang kami seberangi termasuk laut dalam yang dimiliki Indonesia. Namun, kami berlayar bersama para pelaut ulung yang telah berpengalaman menaklukkan ganasnya gelombang. Dari lautan kita banyak belajar. Badai dan gelombang hanyalah penguji untuk menunjukkan jati diri sang nakhoda pilihan. Sebagaimana siang dan malam, setelah gelombang hadirlah keteduhan, bersama kesulitan ada kemudahan. Kalau tiada yang berani melayari lautan maka siapakah yang ‘kan memanen hasil laut kita? Siapakah yang ‘kan hadir bercerita betapa indahnya kepulauan nusantara? Dari laut pula sang nabi pilihan diselamatkan melalui seekor ikan. *** Alhamdulillah hari Kamis, 10 Januari 2019, pukul 08.49 WITA kami tiba di dermaga Pulau Taliabu. Sepanjang perjalanan gelombang laut sangat tinggi. Angin bertiup kencang. Desau suaranya terlalu berisik saat beradu dengan lautan. Kapal berguncang sepanjang waktu. Miring ke kiri, miring ke kanan, kadang mengayun. Berulang-ulang aku terbangun. Tidur tidak nyenyak untuk sekadar tetap waspada kalau terjadi apa-apa. Kondisi itu pun akhirnya sampai terbawa mimpi. Inilah sepenggal kisah yang dapat kami bagikan sebagai bagian pengalaman dalam mengawal keuangan negara untuk masa depan Indonesia Raya tercinta.


Perekat Indonesia

85

Sinergi Instansi Dedikasi Untuk Pertiwi

Krisna Bayu Alamsyah, KPPBC TMP C Pangkalan Bun - DJBC

Lamunan di warung kopi membuat cakrawala terbuka. Ada jeda waktu sembari menunggu pesanan datang. Draf lama sedang ia buka dan entah kapan ia akan menyelesaikan tulisannya. Baginya semua tulisannya sebatas hobi saja tanpa harus terakses oleh media. Laptop usang berbalut microsoft 2007 menemani perjalanan seorang Alam yang selalu mencatat langkah kakinya. Suhu 16°C mendinginkan kepalanya. Ia mengeluarkan buku saku bersampul hitam yang di dalamnya terdapat suatu tulisan, “Goresan pena telahku tuliskan, aku terlalu takut untuk berkarya, terlalu bodoh untuk bergema, terlalu pintar untuk mengada-ada, terlalu sulit untuk mengungkapkannya, hingga rahasia terselimut rapi di database sanubari ini.” Putaran loading laptop usang miliknya telah berganti menjadi lembar putih dengan background dasar berwarna biru, dan ia mulai memainkan jemarinya. “Pusat mana tau kita yang di daerah sini selalu bertaruh dengan nyawa. Ombak dua sampai tiga meter mana ada di pulau Jawa, yang tau kapal sandar saja. Sedangkan kita harus menempuh empat jam perjalanan dari darat menuju tengah laut. Kalau mati, kita hanya dimakamkan dengan balutan bendera merah putih. Lalu? Hilang”, ucap salah seorang pemuda yang berada di geladak kapal (perahu kelotok). “Sudahlah, jangan mengeluh. Masih banyak lagi yang lebih


86

parah dari kita. Letak geografis bukanlah suatu halangan. Bukankah kita merdeka juga harus ada yang diperjuangkan? Tak peduli hidup ataupun mati, yang penting demi pertiwi. Gampangannya catur, sehebat apa pun orang bermain catur, pasti ada yang harus berkorban, bukan?” Dua pemuda paruh baya dari dua instansi yang berbeda masih meneruskan perbincangannya dengan kepulan asap vape yang dihisapnya. Deburan ombak dan bunyi mesin kelotok menjadi backsound pelengkapnya. Alam masih mematung mendengar pembicaraan dua orang abdi negara yang ada di sebelahnya. Hitam putih masih menyelimuti tubuhnya. Ia belum mengenal apa-apa teori yang belum tentu sama dengan dunia kerja. “Jadi, kalau kita checking kapal (boatzoeking), kita berangkat bareng sama karantina dan imigrasi. Nah, karantina yang ikut kita sekarang itu dari kesehatan kapal, bukan karantina hewan/tumbuhan karena kapal yang kita cek bermuatan minyak, jadi yang perlu dicek hanya kesehatan kapal dan awaknya”, ucap senior berseragam biru membuka pembicaraan dengannya. Alam masih tak bergeming dan hanya memicingkan matanya melihat kapal yang terlihat kecil tepat di depan bola matanya. Lantas saja ia terheran-heran dengan suasana di sekelilingnya. Delapan belas tahun adalah usia yang tepat untuk danusan di kampus dan merancang kepanitiaan di dunia perkuliahan, bukan usia yang tepat untuk bekerja. Namun Tuhan berkata lain, “Kamu harus lebih!” Tegas-Nya. “Dalam pengecekan kapal, satu hal yang sangat diperhatikan, yaitu keselamatan. Cara naik tangga monyet, kaki dilarang untuk sejajar bertumpuan di salah satu anak tangga. Hati-hati, kamu pasti bisa!” Tegas senior berkacamata. “Ini bukan hanya layar kaca semata, kitalah pelakunya, centangan di setiap dokumen harus dapat kita pertanggungjawabkan. Berhati-hatilah! Beban berat berada di dada garuda dan buktikanlah bahwasannya foto yang terpampang di samping garuda, tersenyum karena pengorbanan kita.” “Itu bukanlah cerita menarik untuk dibicarakan, tak sebanding dengan cerita teman yang ada di pangkalan sarana operasi di sana. Hanya awalan saja, aku sudah tak tertarik untuk melanjutkannya. Lain waktu saja.” Terpampang jelas di bagian paling bawah tulisan yang ia ketik. Layar monitor masih berkedip seiring dengan pupil yang mulai membesar menginginkan banyak sinar yang masuk ke arah kelopak matanya. Surat elektronik lalu lalang masuk dan mengendap menunggu antrean untuk didisposisikan. Senja tersenyum melihat seorang pemuda yang bersedia menunggunya hingga ia pergi. Sebagai ucapan terima kasih, ia hanya bisa


Perekat Indonesia

87

merangkulnya dengan hangat sinar jingga di tanah nusantara. Sudah lima belas menit lewat dari jam pulang, tetapi pemuda tersebut masih saja meraba papan ketikan, “Pulang, dek.” Kata salah seorang senior wanita yang lewat di depan pandangannya. “Siap, nanggung, mbak”, jawabnya. Tak ada yang menarik lagi untuk dibicarakan hari ini. Alam masih menikmati deburan angin yang menjajaki tubuhnya. Kayuhan sepeda membuat jiwa muda terbakar, seiring berkurangnya ATP (adenosina trifosfat) di dalam tubuhnya. Namun semangat akan selalu bersemayam di dalam sanubarinya. Jam menunjukan pukul 18.45. Alam menyandarkan sepedanya di sebelah tulisan “pecel lamongan” Menunggu makanan datang, ada jeda untuk ia berpikir sejenak sembari meminum teh hangat. “Apakah ini yang aku cari? Hidup dengan segala keseragaman, tak ada waktu untuk berkarya, hanya bisa melihat mentari datang dan pergi dari bilik-bilik sekat yang terlindungi kaca?” Pikiran itu selalu saja menghantui, tetapi masih ada tuan ndoro putri yang harus dibahagiakan. Orang tua bangga dengan pekerjaan anak semata wayangnya. Alam harus lebih bangga karena keluarga dan tanah airmya. Notifikasi muncul di sela-sela perbincangan Alam dengan pegawai di sebelahnya. Terlampir nama seorang yang ada di sebelahnya “pemanggilan diklat kesamaptaan tertanggal 3 minggu depan.” “Lam, mbak kepanggil samapta.” “Haha, penantian akhirnya terpanggil juga ya mbak.” “Berarti nanti kerjaan mbak serahin ke kamu buat sementara”, dengan nada lirih. “Yah, mana saya tau, ‘kan saya OJT, mbak.” “Kamu salah, Alam. Persepsi itu haruslah kamu ubah. Awal kalian menginjakkan kaki di sini, kalian sudah kami anggap sebagai keluarga, keluarga bea cukai. Mbak yakin kamu pasti bisa. Nanti mbak ajarin. Kamu boleh berkarya selagi tidak menyalahi SOP yang ada.” “Kayaknya aku butuh latihan banyak, mbak.” “Ya sudah, khusus Sabtu besok, kita intensif latihan ya.” “Ashiaap.”


88

Dua minggu telah berlalu, membuat Alam terbiasa dengan pekerjaan yang ada. Tahap transisi telah berubah menjadi tradisi, gigi satu telah berubah menjadi gigi lima, tetapi lelah akan tetap menjadi teman yang selalu menghantuinya. Sempat ia berpikir untuk lebih memilih sebagai pekerja lapangan karena dengan di lapangan, ia akan melihat layar kapal, bukan layar kaca yang membosankan. Namun lamunannya seketika menghilang tatkala ia teringat kata-kata salah seorang penyaji di kantor pusat bea cukai yang berkata, “Jangan pernah remehkan supporting unit karena tanpa supporting unit, semua tak bisa berjalan seperti semestinya. Mungkin kerjaan kita tak tampak seperti unit di lapangan, namun peran kita penting dalam satu organisasi ini. Pada intinya adalah sinergi.� Memang sudah selayaknya semua bekerja beriringan membentuk suatu korelasi yang menyebabkan suatu aksi dan reaksi selayaknya lima butir Pancasila, mereka berbeda namun tak dapat berjalan sendiri-sendiri. Satu bintang di langit tak akan dapat menerangi luasnya bumi pertiwi. Namun jika semua bintang bersatu dalam satu langit, gelapnya malam akan berubah menjadi keindahan panorama yang tak terelakkan. Bersatulah demi ibu pertiwi, dimulai dari sinergi dalam organisasi maupun instansi menuju sinergi perekat negeri ini. Jika lelah, ingatlah katakata seorang pertiwi masa kini yang dapat menggetarkan ribuan generasi muda Indonesia, “Jangan pernah lelah mencintai negeri ini�, tegasnya tiga kali. Jika kita membaca tulisan ini dan ada gemuruh dalam hati, itu adalah salah satu wujud nyata yang tak terlihat bahwasanya kita mencintai negeri ini.


Perekat Indonesia

89

Lentera Motivasi M. Taufan Dharmawan, KPPBC TMP C Pangkalpinang - DJBC

Tuhan menakdirkan pemikiran Ibuku yang meminta dengan harap agar aku meninggalkan pendidikan strata satu yang sudah aku jalani selama dua bulan di Pulau Jawa dan beralih ke diploma satu di Palembang. “Biaya bulan ini kemungkinan akan kurang, kalau Ibu minjem uang boleh? Ayah ‘kan udah gak kerja lagi, maaf ya ngerepotin Ifan terus.” Begitu bunyi pesan singkat dari bidadari yang mengandungku. Pesan singkat yang selalu mewarnai dan menyemangati telepon genggam yang selalui kuisi kuotanya agar terhubung dengan mereka yang kukasihi. Pesan singkat yang selalu hadir, lebih tepatnya ketika saat aku melempar topi toga diploma satuku pada bulan Oktober 2015. Kata orang, “Garis pemisah takdir sering kali hanya setipis beberapa kalimat motivasi bagi seseorang yang mentalnya sedang goyah”. Bingung akan nasib dan keadaan yang kadang bisa menjadi begitu kejam. Kalimat itu melintas begitu saja di pikiranku ketika matahari berusaha bersenja gurau denganku (Suatu penggabungan kata yang lumayan bukan? Hehe). Sore itu di tengah laut yang memisahkan Pulau Sumatra, tanah kelahiranku dengan Pulau Bangka, tempat pengabdian pertamaku. Di tengah bunyi mesin yang bersiap mendorong minyak-minyak mentah keluar dari pipa-pipa raksasa dari satu kapal ke kapal lainnya dalam proses pemuatan minyak mentah. Aku selalu membayangkan tugas negara yang berkorelasi


90

dengan tugas rumah tangga, walaupun aku belum berumah tangga. Lamunan pun terhenti tatkala pesan singkat sang bidadari masuk pas tanggal gajianku. Di saat teman-temanku yang lain disambut haru oleh keluarga dan teman-teman, begitu juga dengan diriku yang disambut dengan air mata bangga orang tua dan tepuk tangan meriah teman-teman. Lulus dalam waktu satu tahun adalah hal yang luar biasa, sudah terbayang di depan mata ini tantangan dan pengalaman masuk ke instansi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang selalu aku banggakan. Tapi ternyata, bukan hanya jalur takdir yang mengantarkanku untuk menjadi pegawai DJBC di usiaku yang masih relatif muda–dua puluh tahun. Tapi kenyataan lain dari kesimpulan apa yang ayah dan ibu beritakan ketika aku sudah sampai di rumah. Waktu itu aku sedang menunggu informasi tanggal masuk untuk menjalani program On the Job Training (OJT). Ya, ayah ternyata sudah pensiun setengah tahun sebelum aku wisuda atau lebih cepat tiga setengah tahun dari prediksiku sebelumnya. Titel baru pun segera harus kuemban, mau tak mau, menjadi pegawai bea dan cukai, menjadi anak sekaligus tulang punggung bagi ayah, ibu, dan adik perempuanku yang masih duduk di kelas dua SMP. Meskipun aku anak ketiga dari empat bersaudara, tetapi aku adalah anak lakilaki satu-satunya sehingga kewajiban itu mutlak harus kuemban. Dua kakak perempuanku sudah menikah dan baru memulai hidup mereka masing-masing. Kondisi tersebut membuat mereka masih sulit untuk mendukung penghidupan ayah, ibu, dan adik. Beruntung, selama masa OJT, ayah masih mempunyai Jamsostek sehingga masih bisa mendukung kehidupan kami sekeluarga. Maklum, masa-masa OJT adalah masa-masa ketika gaji yang kami terima baru sebatas uang sebesar delapan ratus ribu rupiah. Itu pun belum termasuk akomodasi seperti biaya indekos, uang bensin, dan lain sebagainya. Beruntungnya lagi, aku masih ditempatkan di Palembang sehingga masih bisa menekan biaya seperti tiket atau akomodasi lainnya. Juli 2016 adalah titik balik dari semuanya ketika UP.9 pengumuman definitif kami keluar. Aku harus menerima diri ini untuk mengabdi ke kota Pangkalpinang, tepatnya di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C (KPPBC TMP C) Pangkalpinang yang terletak persis di samping Pulau Sumatra. Ketika aku pamit kepada ibu dan ayah, ada sedikit perasaan yang begitu menusuk relung hati ini. Bagaimana tidak, ibu sampai harus menjual kuda besi satu-satunya milik keluarga untuk membiayai modal tiket dan kehidupanku di sana. Ingin rasanya aku menangis sambil mengucapkan


Perekat Indonesia

91

maaf yang tidak akan pernah berujung, tapi aku tak ingin membuat Ibu sedih. Akhirnya dengan penuh tekad untuk berbakti dan mengabdi, aku berangkat ke Pulau Bangka. Hidup di tanah rantau dengan segala macam beban dan pikiran yang menurutku sangat berat tentu tidak mudah. Berapa kali aku hanya bisa menangis dalam sujud seraya terus meminta bantuan dari Yang Maha Pencipta agar selalu diberikan kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi hidup yang kadang bisa segetir ini. Tuhan memang selalu mendengarkan doa-doa hamba-Nya. Hanya berselang dua bulan dari penempatanku di Pangkalpinang, uang rapelku keluar. Jumlah yang menurutku sangat banyak sehingga dengan senang hati segera kukirimkan kepada ayah dan ibu di rumah. Mendengar tangisan haru mereka di seberang, membuatku kadang menyesali keluhanku di masa lalu. Tuhan memang mempunyai rencana yang begitu indah dan manis untuk setiap hamba-Nya yang sabar dan percaya. Pikiranku langsung kembali ke atas kapal tanker itu. Di suatu sore di bulan Februari. Ketika temanku–sesama pegawai pemeriksa dari KPBBC TMP C Pangkalpinang, memberitahuku bahwa kapal yang akan menampung minyak mentah untuk selanjutnya diekspor, sudah siap untuk dilakukan proses boatzoeking. Aku pun mengiyakan seraya bersiap-siap. Melakukan boatzoeking atau pemeriksaan terhadap sarana pengangkut berupa kapal laut adalah salah satu tugas Bea dan Cukai untuk menerapkan fungsi pengawasan dan pelayanan terhadap sarana pengangkut yang berasal dari luar negeri dalam rangka impor. Tentunya hal ini dimaksudkan untuk mencegah barang-barang yang tidak diinginkan atau yang dilarang masuk ke Indonesia. Kapal tugboat yang akan membawa kami sudah siap. Sebelum berangkat, diadakan briefing terlebih dahulu mengingat suasana air laut yang memang agak sedikit bergelombang. Sempat sedikit muncul rasa ragu ketika kami sudah berada dalam donut bucket karena bagaimanapun musibah tidak ada yang bisa ditebak oleh penalaran manusia yang terbatas. Namun sesuai dengan ikrar yang telah diucapkan, mars yang selalu dinyanyikan, dan korps yang dibanggakan, tekad kami untuk memberikan pengabdian terbaik tidak boleh goyah hanya karena cuaca yang tidak bersahabat. Dengan mengucapkan bismillah, kami berdua akhirnya berangkat. Di kapal tanker yang akan memuat minyak mentah untuk selanjutnya diekspor,


92

kami disambut oleh kru kapal yang mengarahkan kami untuk menuju ruang kapten. Rata-rata kru kapal tersebut adalah warga kewarganegaraan Filipina, sedangkan kapten kapalnya adalah pria kerwarganegaraan Ukraina bernama Kapten Andy Konstatinov. Suasana awalnya agak sedikit tegang dan canggung mengingat logat orang-orang yang berasal dari Negara Eropa Timur agak sedikit susah untuk dipahami orangorang Asia seperti kami. Tapi bagaimanapun, profesionalisme kami sebagai petugas yang harus memeriksa kelengkapan dokumen dan melakukan pemeriksaan sarana pengangkut harus tetap berjalan sesuai dengan peraturan dan prosedur yang berlaku. Di tengah-tengah pemeriksaan dokumen iseng-iseng aku menanyakan terkait hal-hal yang berkaitan dengan Ukraina kepada Kapten Andy. Ternyata dia adalah penggemar sepak bola, khususnya tim sepak bola Dinamo Kiev, Timnas Ukraina, dan juga Liverpool. Ketika kusinggung mengenai Andriy Shevchenko–seorang

‌tekad kami untuk memberikan pengabdian terbaik tidak boleh goyah hanya karena cuaca yang tidak bersahabat. Dengan mengucapkan bismillah, kami berdua akhirnya berangkat.


Perekat Indonesia

93

legenda sepak bola Ukraina yang juga mantan pemain Dinamo Kiev dan sukses mengantarkan timnas Ukraina sampai ke perempat final Piala Dunia 2006, dia dengan sangat antusias menjelaskan kebanggaannya. Apalagi nama depan mereka hampir sama yaitu Andy dan Andriy. Aku pun menjelaskan bahwa Timnas Indonesia juga mempunyai banyak pemain legenda yang sama perannya seperti Andriy Shevchenko, seperti Kurniawan Dwi Cahyo ataupun Bambang Pamungkas. Kami juga sama-sama sepakat bahwa satu malam penuh keajaiban di Istanbul ketika Liverpool berhasil membalikkan keadaan tertinggal 3-0 dari AC Milan menjadi 3-3 sebelum memenangkan Piala Champions League melalui drama adu penalti, adalah salah satu pertandingan paling mengesankan dalam sejarah. Setelah itu suasana menjadi lebih mencair dan akrab, tanpa mengurangi profesionalitas kami. Kapten Andy banyak bercerita tentang pengalamannya dan beberapa kali menanyakan terkait dengan peraturan-peraturan ataupun kelengkapan dokumen kapalnya. Setelah semua dokumen selesai dan proses checking selesai maka semua persyaratan sarana pengangkut untuk melakukan kegiatan ekspor sudah dapat terpenuhi. Aku bersama dengan pegawai lainnya kemudian bersiap-siap untuk turun lagi ke kapal tugboat. Tiba-tiba Kapten Andy memanggil. Dia hendak menyerahkan satu slop rokok dan satu botol wine khas dari Ukraina yang sengaja dia bawa untuk mengurangi rasa kangen rumah. Melihat hal tersebut, tentu saja aku kaget karena aku tidak mengharapkan akan mendapatkan “oleh-oleh� dari Kapten Andy. Aku percaya ini bukanlah iktikad buruk ataupun suatu cara untuk memperoleh kemudahan terkait pelayanan yang sudah kami berikan. Toh, kelengkapan dokumennya lengkap dan ketika dilaksanakan proses pengecekan sarana pengangkut pun tidak ditemukan indikasi pelanggaran. Kapten Andy murni memberikannya karena sama-sama penggemar sepak bola dan The Kops (sebutan untuk pendukung Liverpool). Tentu, sempat tebersit di pikiranku untuk dapat menerima saja pemberian Kapten Andy karena memang sekali lagi ini murni hadiah, bukan atas hasil kemudahan dari pelayanan yang sudah diberikan. Ditambah lagi, rokok dan wine itu bisa kujual lagi–mengingat aku tidak merokok dan minum. Uangnya pun bisa kukirimkan kepada ibu dan ayah di rumah. Tapi di satu sisi, nuraniku yang lain tetap bertekad menolak pemberian Kapten Andy. Bukan karena tidak menghargai pemberiannya, tetapi semata-mata untuk menjaga kode etik dan martabat dari pegawai bea cukai untuk tidak menerima apa pun ketika melaksanakan tugas dan fungsinya, apa pun alasannya. Di saat


94

mental yang mulai goyah itulah, aku teringat dengan kalimat motivasi yang diucapkan oleh salah satu seniorku ketika mengikuti kegiatan bimbingan mental,“Tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah” (HR. Bukhari: 1472 dan Muslim: 1035). Sebuah kalimat motivasi dari perkataan Rasulullah saw. tersebut terus bergema di telingaku. Akhirnya, meskipun di satu sisi aku sangat butuh tambahan dana untuk ibu dan ayah di rumah, tetapi aku harus berpegang teguh untuk terus menegakkan kode etik dan martabat bea dan cukai, bahwa kami memang sudah berubah, bahwa semboyan “makin baik” yang kami gaungkan terus-menerus bukanlah sekadar kalimat penyemangat belaka. Akhirnya dengan penuh kesopanan serta menjelaskan mengenai kode etik Pegawai Negeri Sipil dan pegawai DJBC, kusampaikan bahwa aku tidak bisa menerima pemberian tersebut, mengingat kontak yang baru saja terjadi antara diriku–sebagai petugas bea dan cukai, dengan Kapten Andy–sebagai Kapten dari sarana pengangkut yang akan melaksanakan kegiatan ekspor. Semua kusampaikan dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaannya. Aku bersyukur Kapten Andy mengerti dan memaklumi. Dia juga mengatakan bahwa apa yang dia lakukan semata-mata sebagai ungkapan perkenalan dan ucapan terima kasih atas keramahan dan kerja kami yang sesuai dengan prosedur. Di akhir sesi, kami pun sempat bertukar email dan mengambil foto bersama. Diakhiri dengan lambaian tangan persahabatan yang baru terjalin, kami pun turun menuju tugboat yang akan membawa kami kembali ke kapal tanker tempat minyak mentah itu ditampung sebelum akhirnya dimuat dan diekspor. Di atas tugboat itulah aku berpikir, bahwa ada benarnya ungkapan yang menyebutkan bahwa takdir seseorang mungkin hanya dibatasi oleh hal-hal tipis semacam antara satu slop rokok dengan beberapa baris kalimat motivasi. Mungkin ketika aku memang benar-benar menerimanya, aku sekarang sudah bisa membantu ibu dan ayah di rumah. Tapi mungkin itu akan memberikan persepsi negatif dari instansi lain yang ikut dalam pengecekan tersebut. Citra bea cukai akan kembali tertarik mundur ke masa beberapa tahun ke belakang, ketika korps pejuang ini dilucuti kewenangannya oleh negara karena kesalahannya sendiri. Apa yang sudah dibangun oleh para senior dan rekan-rekan pejuang integritas akan luntur begitu saja. Sudah selayaknya aku, kami, dan kita sebagai generasi milenial DJBC harus bisa terus memiliki tekad yang kuat untuk menjaga martabat dan kode etik pegawai. Terlepas dari tuntutan ego atau kebutuhan yang kerap kali membuat semua perjuangan itu kadang terasa getir atau tidak adil, di saat godaan-godaan


Perekat Indonesia

95

dari mereka yang tidak bertanggung jawab yang bisa dengan jelinya melihat ego tinggi dari generasi milenial adalah celah yang bisa disusupi untuk mendapat kemudahan secara ilegal, yakinlah dari dalam diri ini bahwa baik buruknya takdir dan masa depan instansi ini kadang bisa sangat tipis, semua bisa berawal dan bergantung dari keputusan atau tindakan yang kita lakukan. Kalimat motivasi tersebut bisa menjadi lentera yang menuntun seseorang ke arah yang lebih baik di tengah gelapnya rasa ragu dan goyahnya mental. Sore itu, di tengah terpaan angin laut yang terus memupuk rasa bersyukurku bisa berbakti pada pertiwi melalui instansi ini, lagi-lagi aku belajar tentang sebuah arti keikhlasan, semangat, dan juga rasa bangga, bahwa tekad dan juga prinsipku untuk membuat bea cukai yang semakin baik, masih terus bisa kupertahankan. Meskipun keadaan kadang membuat mata dan hati ini seakan tertutup dan mengarahkan ke arah jalan pintas, tapi percayalah selama lentera-lentera itu terus menyala maka jalan yang terlihat akan senatiasa indah. Seperti kalimat-kalimat motivasi yang seakan tersenyum di atas cakrawala, yang menyaksikan secara langsung bukti nyata, bahwa kami, sudah berubah. Bea Cukai Makin Baik!


96

Filosofi Ombak Ranu Fatah Wijoyo, Kanwil DJPb Provinsi DKI Jakarta

Bila ada yang tertinggal Biarlah dia rindu

Yang kutitipkan lewat daun-daun Dan deru bus antarkota Bila ada yang dirindu Biarlah dia engkau

Yang kubawa di jiwa

Dari suatu perjalanan (Berangkat – Rahmad Sanjaya)

“Sudah dipesan oto (mobil) untuk berangkat nanti, Pak Masri?” Tanyaku sambil menandatangani dokumen surat. Orang yang kutanya segera beringsut dari mejanya, menghampiri mejaku dengan sopan. “Sudah, Pak. Nanti sore jam tiga datang ke sini”, jawabnya dengan yakin. “Barang-barang yang mau dibawa, disiapkan di bawah ya, Pak.” “Iya, Pak.” Hari Jumat yang sibuk sekali. Sore itu para pejabat Eselon IV KPPN Tobelo akan berangkat ke Ternate untuk mengikuti


Perekat Indonesia

97

Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) lingkup Kanwil Provinsi Maluku Utara di Ternate. Kepala KPPN sudah berada lebih dahulu di sana. Sejumlah bahan harus segera kusiapkan untuk dipresentasikan oleh para Kepala KPPN nanti malam. Sementara para pegawai yang lain berjibaku dengan pekerjaan masing-masing. Sungkan rasanya meminta bantuan mereka. Jumlah personel yang terbatas kerap memaksa mereka melayani tamu Satuan Kerja (Satker) melewati batas waktu layanan. Sambil menyiapkan bahan presentasi Rakor dengan bergesa-gesa, pikiranku membayangkan beratnya perjalanan nanti. Terasa makin berat seperti memanggul karung beras di tanjakan. Perjalanan dari Kota Tobelo ke Kota Ternate berjarak sekitar 220 km yang harus dilalui dengan moda darat dan laut. Sebagian besar menyisiri tebing, sebagian yang lain membelah hutan. Untungnya kualitas jalan sangat bagus. Perjalanan darat biasanya ditempuh dengan kendaraan umum sejenis MPV yang akrab disebut oto. Lama perjalanan sekitar 4-5 jam hingga tiba di Pelabuhan Sofifi. Dari Pelabuhan Sofifi dilanjutkan dengan menumpangi speedboat melintasi Selat Halmahera menuju Pulau Ternate. Perjalanan via laut ditempuh selama 45 menit. Perjalanan lewat laut inilah yang selalu menjadi momok bagi para pendatang seperti kami. Selat Halmahera yang memisahkan antara pulau Ternate dengan Pulau Halmahera memang dikenal dengan ombak yang kurang ramah. Berangkat dari dermaga biasanya permukaan laut tampak tenang, tapi beberapa kilometer berikutnya mulai terasa goncangan ombak. Makin ke tengah makin tinggi. Menumpang speedboat dengan kondisi demikian serasa naik wahana di Dufan. Laju cepat perahu bertemu dengan ayunan ombak menghasilkan gerakan perahu yang luar biasa. Aku teringat waktu awal mulai bertugas di Tobelo. Bersama Pak Fajar (kepala kantor) dan rekan kepala seksi yang lain, kami transit terlebih dahulu di Ternate sekaligus silaturahmi dengan Kepala Kanwil DJPb Maluku Utara. Selepas pamit dari Ternate, rupanya ada dua orang pegawai dari KPPN Tobelo yang telah siap menjemput kami, yaitu Pak Masri (bendahara) dan Olenk (pelaksana Subbagian Umum). Kami berenam pun berangkat menuju Pelabuhan Kota Baru Ternate dan menyewa sebuah speedboat yang berkapasitas sekitar 16 penumpang. Waktu itu


98

hari Minggu sekitar jam sembilan pagi. Memasuki area pelabuhan, kami dibuat takjub dengan indahnya pemandangan laut yang menghampar. Air lautnya sangat jernih sampai bisa terlihat dasar permukaan lautnya dengan warna gradasi hijau dan biru. Jajaran pulau-pulau kecil yang terpisah menambah keeksotisan panorama yang terpampang. “Indahnya ya, Mas”, ujarku mencoba menghibur diri kepada Joko Nurcahyo, rekan yang sama ditugaskan dan kebetulan kami satu angkatan. “Iya. Beda banget sama Ancol”, sambil terkekeh-kekeh. “Di Ancol mah bukan laut. Oli samping tumpeh, hahaha.” “Lebih indah lagi ke sini kalau pakai ST (Surat Tugas) bukan SK (Surat Keputusan)”, Herry tak kalah menimpali. “Prett!” Kami tertawa bersama. Kami melangkah di dermaga dari kayu yang sepertinya sudah lama. Kemudian turun ke perahu motor berbahan fiber dengan berwarna dominasi hitam dengan setrip oranye. Perahu cepat itu didesain dengan kap tertutup dari depan ke belakang dengan hanya menyisakan ruang terbuka di bagian buritan. Di bagian paling depan ruang kemudi yang menyatu dengan penumpang sedangkan di ujung belakang kapal terpasang tiga buah mesin pendorong. Aku langsung masuk ke dalam perahu dan duduk di bagian depan. Menyusul Pak Joko dan Pak Hery. Sedangkan Pak Fajar, Pak Masri dan Olenk justru duduk di bagian paling belakang. Sempat heran, tapi kuabaikan. Setelah mesin perahu dinyalakan, kami pun berangkat. Perahu menderu kencang. Suara bising dari mesin perahu memenuhi udara. Kami sama sekali tak bisa mendengar suara lain. Kami hanya diam atau menggunakan bahasa isyarat bila memang penting. Tak lama perahu bergoyang hebat. Kepalaku nyaris membentur dinding perahu. Aku pun refleks berpegangan. Alamak, ternyata ombak cukup tinggi! Perahu terus bergoyang hebat sepanjang perjalanan. Hatiku mulai waswas. Kulihat wajah-wajah di hadapanku seperti mulai dirasuki


Perekat Indonesia

99

kecemasan. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Kami hanya terdiam sambil sesekali saling memandang. Dalam diriku berkecamuk antara sesal dengan harap. Benakku mulai mengeluh, “Ya Allah, gini amat ya, cari duit. Harus bertarung nyawa. Sedang pegawai yang di daerah lain mungkin hanya sejurus langkah dari rumah ke tempat kerja.” Sementara hati kecilku berupaya memasrahkan diri kepada Yang Mahakuasa. Belajar ikhlas dari sang ombak yang tak jemu mengantarkan air laut mengusap pasir. Tekadku semakin kuat kala teringat pesan almarhum bapak dulu, “Nu, kamu harus lebih baik, lebih berhasil dari bapak. Bapak dulu menjadi satu-satunya sarjana di keluarga besar karena kemauan untuk berubah walaupun dengan perjuangan yang sangat sulit. Pelajaran hidup yang bapak ambil, akhir yang manis hanya bisa diperoleh dari banyaknya kesulitan. Itulah hidup.” Aku hanya mengangguk pelan. Dulu gelar sarjana doktorandus sudah merupakan capaian karier yang terpandang. Akhirnya perahu motor kami mendekati tujuan. Mesin dimatikan kecuali satu. Perahu berjalan pelan untuk bersandar. Kulihat dua manusia di belakang sedang tertawa tertahan. Aku seperti mencium aroma konspirasi. Benar saja, rupanya kami diisengi dengan naik speedboat pada waktu ombak pasang. “Posisi duduk paling stabil di belakang, Pak, tidak terlalu goncang, hehehe”. “Ngomong sana sama kolor ngambang!” Umpatku dalam hati. Sejak saat itu kami cenderung menolak bila ada tugas ke Ternate. Tak masalah tidak melihat peradaban kota daripada menggantung nasib di tengah laut. Namun hal tersebut tak berlangsung lama. Begitulah pernak-pernik transportasi laut di Indonesia Timur. Sering pula kami mendengar berita perahu motor yang tenggelam karena gelombang laut yang tiba-tiba tinggi. Pernah pula terjadi kecelakaan antarperahu motor yang menewaskan penumpang. Pak Joko juga pernah mengalami pengalaman yang traumatis. Saat itu di tengah laut mesin perahu tiba-tiba mati. Beberapa kali awak perahu mencoba memperbaiki mesin tapi tak kunjung berhasil. Alhasil perahu dengan penumpang di dalamnya terombang-ambing. Ombak sudah mulai meninggi sehingga penumpang mulai panik. Sejumlah anak-anak menangis. Begitu pula ada ibu-ibu yang juga menangis larut dalam keputusasaan. Alhamdulillah, datang


100

bantuan dari speedboat lain yang melintas. Perahu mogok tersebut pun dituntun ke daratan terdekat, Pulau Tidore. Aku pun pernah mengalami hal serupa. Waktu itu kembali dari tugas di Ternate berdua dengan kepala kantor, Pak Fajar. Dikarenakan padatnya jadwal, kami baru bisa pamit dari Kantor Kanwil DJPb Maluku Utara sekitar jam satu siang saat laut sedang pasang maksimal. Sewaktu perahu berangkat, air laut tak menampakkan ombak yang mengkhawatirkan. Kami pun memutuskan naik perahu motor agar tak terlalu malam sampai di Tobelo. Namun selepas sekitar dua kilometer dari pelabuhan, kami menemui ombak yang sangat tinggi dari biasanya. Perahu kami tidak hanya bergerak naik turun secara ekstrem tetapi juga melaju zigzag. Kulihat nakhoda sangat sibuk di bangku kemudi agar perahu tak menabrak ombak. Sepanjang perjalanan, aku memperbanyak zikir sambil mengharapkan pertolongan Allah. “Betapa tak berdayanya manusia, Ya Alloh.” Sungguh pengalaman yang mendebarkan. Pengalaman tersebut sempat membuat kami ciut. Namun di satu sisi membuat kami semakin tegar. Menghadapi beban kerja yang tak sebanding dengan jumlah personel, tak membuat kami lebay berkepanjangan. Bahkan di sela-sela pekerjaan, kami sering guyon atau hangout bersama. Ada terselip kebanggaan bertugas di daerah terpencil, timur negeri. Daerah yang tak dikenal, dihindari banyak orang, bahkan sekadar destinasi tugas kedinasan sekalipun. “Kita harus buat perbedaan, Pak Ranu. Kita buat sejarah untuk kantor ini”, ujar Pak Fajar suatu hari. “Kalau kita bekerja biasa saja, sama dengan yang lain, gak ada makna kita di sini. Saya ingin KPPN Tobelo ini dikenal orang. Bukan untuk saya. Tapi supaya KPPN Tobelo selalu diperhatikan dan menjadi contoh bagi KPPN tipe A2.” Sebagai Kepala Subbagian Umum, aku sering diajak berdiskusi dan sharing dengan kepala kantor. Terkadang saling mengutarakan idealisme, kadang juga curhat. Alhamdulillah bekerja dengan Beliau bisa terbangun suasana harmonis dan bisa


Perekat Indonesia

101

saling menerima ide. Kalau kubelajar dari ombak, besar kecilnya ombak didukung oleh sang angin. Angin inilah semangat kita. Makin besar semangat, makin besar pula energi. Ombak juga mengajarkan kita tentang kesabaran dan konsistensi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Ah, aku membuyarkan lamunanku. Pekerjaan sudah selesai dan aku siap berkemas. Dalam perjalanan menuju Rakorwil tdi Ternate ersebut, kami berempat tiba di pelabuhan Sofifi sekitar pukul tujuh malam. Ini pengalaman pertama kalinya naik perahu motor di malam hari. Kami menyewa sebuah speedboat tanpa banyak tawar. Kami sudah ditunggu peserta Rakorwil yang pada saat itu akan dibuka oleh kepala kanwil, Bapak Sulaimansyah. Perahu kami berangkat membelah hamparan kegelapan. Nyaris tak ada cahaya, kecuali lampu perahu yang bekerlip. Untungnya laut sangat tenang. Awak perahu mulai menyalakan rokok sambil menjaga mesin. Sementara di bawahnya terdapat beberapa galon bensin. Aku agak cemas. Kadang miris, security awareness di negeri ini masih jauh dari harapan. Kecelakaan dan musibah kadang tak membuat orang jera. Aku memilih menyibukkan diri dengan pikiranku. aku musafir dan fakir

berjalan antara kerikil satu dambaan ketika ajal

ketika maut menjemput

karena mati adalah tunangan hidup ( Perjalanan Malam – Sahril)

Sesampainya di tempat acara, kami langsung bergegas menuju kamar hotel yang sudah disediakan. Mandi dan berganti baju. Kemudian bergabung dengan peserta lainnya mengikuti kegiatan Rakorwil. Rasa penat dan lelah selama perjalanan seketika hilang saat KPPN Tobelo diputuskan sebagai KPPN Terbaik se-Maluku Utara sekaligus dikabarkan bahwa KPPN Tobelo masuk nominasi dua besar lomba penilaian KPPN Percontohan nasional tahun 2014. Selalu ada langit yang cerah di balik mendung yang sesaat.


102

“Negeri ini, Republik Indonesia, bukanlah milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu kelompok etnis, bukan juga milik suatu adatistiadat tertentu, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!� Soekarno


BE RA GA M

D

Perekat Indonesia

M A AL

103

N A A M AGA R E B E K


104

Coba Saja! Enak Kok! Fritz Okta Nehemnya, Pusdiklat PPSDM - BPPK

Kala itu, Sabtu, 12 September 2015 pagi kami berangkat dari Jakarta Selatan ke Kabupaten Tangerang, Banten, tepatnya di Desa Mauk dengan tujuan yang sangat mulia, yaitu untuk membangun rumah. Yes, literally membangun rumah dengan memecah batu, menyusun batu bata, mengaduk semen, dan sejenisnya. Pokoknya rumah harus berdiri. Target kami adalah membangun enam rumah di desa tersebut. Meskipun bukan hal mudah melakukan perkerjaan ini, tetapi banyak makna yang dapat aku ambil dari pengalaman ini. Kami di sini adalah kelompok kecil di bawah naungan salah satu gereja di wilayah Bintaro yang terdiri dari 20-25 orang. Beberapa program yang dicanangkan saat itu banyak difokuskan pada pekerjaan sosial dengan penggalangan dana mandiri. Pada cerita kali ini, kami bekerja sama dengan “Habitat� sebagai salah satu organisasi internasional yang menjadi sponsor untuk mendirikan rumah di Mauk, Kabupaten Tangerang. Singkat cerita, setelah sampai di lokasi, kami berdoa bersama secara Kristen dan melakukan upacara yang diisi dengan sambutan-sambutan dari panitia dan aparatur setempat. Sampai di situ aku masih berpikir bahwa kegiatan yang kami lakukan semuanya berbau Kristen. Aku belum menyadari bahwa kegiatan mendirikan rumah tersebut juga bekerja sama dengan organisasi non-Kristen.


Perekat Indonesia

105

Tibalah saatnya kepada detik-detik peristiwa yang akan aku ingat seumur hidup. Bagimu mungkin sederhana, tetapi bagiku ini tidak akan lekang dimakan waktu. Satu kalimat respons singkat yang keluar dari mulutku atas pertanyaan satu peserta yaitu, ”Coba saja, enak kok!” Pernyataan itu kumaksudkan untuk menjawab keingintahuan seorang bapak bertopi hitam tentang apakah daging babi itu enak atau tidak. Raut mukanya pun sontak berubah ketika mendengar kalimat, ”Coba saja, enak kok!” Dan kesalahanku saat itu adalah masih menganggap bahwa kami semuanya itu full orang Kristen. Perlahan tapi pasti, aku mulai menyadari perubahan mimik dan gimmick Beliau. Aku bertanya kepada peserta lain, siapakah bapak itu. Mengetahui identitasnya, rasa bersalah menghujamku dengan kuat dan dalam hingga saat ini. Betapa sakitnya apabila mendapatkan jawaban, ”Coba saja, enak kok!” Padahal Beliau tidak mengonsumsi babi karena keyakinannya. Beliau adalah salah satu anggota Pos Keadilan Peduli Umat dan beragama Islam. Aku mau membagikan pembelajaran berharga ini supaya tidak terulang kembali peristiwa “tragis” tersebut. Entah sebagai “aku” atau sebagai “bapak bertopi hitam” tersebut. Aku merasa bahwa jawaban enteng tersebut lahir atas sikap yang merasa diri mayoritas dan banyak supporter sehingga berpikir dapat berlaku seenaknya. Belum tentu juga bahwa sikap merasa mayoritas ini dilakukan oleh semua orang. Mungkin bisa jadi hanya aku saja dan semoga seperti itu adanya. Mental mayoritas yang semena-mena sangat mudah menyakiti perasaan bahkan tanpa diketahui secara sadar oleh pelaku. Sering kali tak terasa perkataan ini menyakiti perasaan sahabat yang berbeda keyakinan. Selain itu, yang lagi happening di media sosial itu sikap suka mencibir, memaksakan kehendak, tidak mau dikritik, tidak menghormati perbedaan, dan main hakim sendiri. Ditarik ke dalam konteks lingkungan kerja yang sarat dengan perbedaan, aku sangat senang dengan kepedulian Ibu Sri Mulyani Indrawati yang mengingatkan kita semua untuk belajar “menjadi minoritas“ supaya kita bisa berempati. Bersyukur sekali bisa memiliki keteladanan pimpinan yang bisa dilihat langsung. Sebagai penutup, kita adalah bangsa yang sejatinya memiliki cara pandang yang luar biasa hebatnya, yaitu Pancasila yang memiliki spirit kesatuan, Bhinneka


106

Tunggal Ika. Spirit inilah yang dijaga dan digunakan sebagai alat untuk merajut benang-benang kesatuan yang mungkin sedang koyak atau sedikit bolong. Spirit yang mengikis kesalahan persepsi atas perbedaan dan mengubah perbedaan itu menjadi intangible asset yang suatu saat memberikan benefit tak ternilai. Jangan ada lagi pengotakan dan istilah-istilah yang bisa ditelikung dalam tafsir guna memecah belah kita. Karena kita satu. Indonesia.


Perekat Indonesia

107

Surat Terbuka untuk Gung Tirta

Raficha Fachryna, KPPBC TMP C Madura - DJBC

(Malam boleh gelap, tapi SK mutasi masih tetap terbit di penghujung malam terakhir pengumpulan).

Tiga muslim, dua hindu, dan satu katolik adalah formasi fresh graduate PKN STAN yang tengah OJT (On The Job Training) di Balai Laoratorium Bea dan Cukai Kelas II Surabaya. Tirta, maaf aku terlalu banyak bertanya tentang bunga kamboja di ujung ikat rambutmu. Jangan lupa juga memaafkanku soal beras di dahimu yang kutiup-tiup sampai hanya tinggal sebutir yang bertahan. Ceritamu kemarin lusa masih basah di telingaku. Bagaimana mungkin di usia sembilan belas tahunmu ini kau masih menangis ketika mengingat tentang kebohongankebohongan kecil pada ibumu. Luar biasa sekali. Lensa matamu sekejap menjadi cermin bahwa aku bukan apa-apa. I Dewa Agung Istri Tirta Dewi adalah wanita yang biasa mengucap “maaf ”, “tolong”, dan “terima kasih” lebih dari lima puluh kali sehari. Seluas itu hatinya. Riwayat panggilannya bisa ditebak, Aji dan Ibu, kedua orang tuanya saja. Lucu sekali saat kaubilang empat tahunmu bersama senior sekolah SMA harus berakhir karena rasa bersalah pada ibumu. Katamu, kau tidak bisa kemana pun tanpa izinnya. Itulah alasan kenapa tak pernah ada kata “iya” untuk ajakan sekadar bertemu dengan senior


108

Aku dengan masjidku dan dirimu dengan puramu. Tapi jangan ada yang berbeda saat reuni nanti. Tetap dengan baikmu itu dan jangan lupa ajari aku menjadi seluas hatimu.

sekolahmu. Kau tak berani pamit pada ibumu di Bangli meskipun beliau mungkin tak akan tahu gerak-gerikmu di Bintaro. Tak akan tahu menu sarapanmu. Serta tak akan tahu akan ke mana langkahmu. Baik sekali. Kata Sherin, kau sering menangis ketika terbangun dari tidur di pagi hari. Saat kutanya langsung padamu, ternyata karena mimpi. Mimpi tentang pertemuan dengan ibumu yang bertanya, “Kenapa kemarin tidak ikut sembahyang?�. Aku tak pernah melihatmu marah. Bahkan ketika Irma terlalu lama mengosongkan isi piringnya di ruang makan ketika sarapan atau makan siang dan membuat kita menunggu setengah jam di sana. Aku yang kesal itu berdiri begitu saja dan pamit duluan dengan kalimat sekadarnya. Padahal aku tahu darahmu juga sudah hampir erupsi ke ubun-ubun karena itu. Namun kau memilih diam saja. Bagaimana bisa kau sesabar itu setiap hari? Kita masih ada dua hari lagi sebelum kopermu kaubawa ke Juanda dan tasku berpindah ke Madura. Kita memang berbeda. Aku dengan hijabku, dan dirimu dengan rambut kucir satumu itu. Aku dengan masjidku dan dirimu dengan puramu. Tapi jangan ada yang berbeda saat reuni nanti. Tetap dengan baikmu itu dan jangan lupa ajari aku menjadi seluas hatimu. Selamat mutasi.


Perekat Indonesia

109

Peran Bintal dalam Pemulihan Trauma Pasca Bom Surabaya Ludovicus Fernando Ginting, KPPBC TMP Tanjung Perak - DJBC

Pagi itu, hari Minggu, tanggal 13 Mei 2018. Aku dan dua orang temanku yang bernama I Putu Hendra Darmawan dan I Komang Gde Deva’na mengikuti kegiatan fun run di Kota Surabaya. Kegiatan fun run tersebut bertajuk kuliner sehingga setelah berlari, kami dapat menikmati beberapa hidangan makanan yang tersedia. Saat aku tengah menikmati salah satu hidangan tersebut, seseorang menunjukkan sebuah rekaman di smartphone-nya seraya memberitahuku bahwa telah terjadi pengeboman di salah satu gereja. Saat itu tak kugubris karena kupikir rekaman itu adalah rekaman lampau. Tak lama berselang, handphone-ku mulai sibuk berbunyi, pertanda chat sedang ramai-ramainya. Betul saja, dalam sekejap semua pembicaraan mengarah pada pengeboman. Setelah membaca beberapa informasi di handphone, aku mulai mencari lokasinya. Pengeboman terjadi di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya. Tak lama berselang, beredar informasi telah terjadi ledakan bom kedua di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro dan bom ketiga di GPPS Jemaat Sawahan. Keduanya berada di Kota Surabaya. Lantas aku berlari menghampiri salah seorang polisi yang bertugas didekatku dan menanyakan perihal pengeboman tersebut. Pihak polisi sendiri masih belum mendapat klarifikasi mengenai informasi tersebut. Tak jauh dari tempatku berdiri, terlihat di depan ada kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi yang mengundang


110

kecurigaanku bahwa asap hitam tersebut berasal dari salah satu gereja yang mengalami pengeboman. Aku segera memberitahu kedua temanku untuk bergerak meninggalkan lokasi fun run dan menghindari keramaian. Terlintas di pikiranku untuk mengecek beberapa lokasi gereja yang dapat kusinggahi selama perjalanan pulang, sekaligus melakukan pengecekan terkait informasi yang tengah beredar bahwa terjadi beberapa ledakan susulan di berbagai lokasi di Surabaya. Dalam perjalanan pulang, aku melihat pihak kepolisian telah tiba di beberapa lokasi gereja. Beberapa di antaranya telah memasang blokade di depan gerbang gereja yang menandakan gereja itu aman dari serangan ledakan bom. Sesampainya di kos, aku terus menerus dihubungi oleh orang tua dan teman-temanku. Puji Tuhan, aku baik-baik saja. Aku merasa bersyukur memiliki orang-orang yang sangat peduli. Aku sangat terharu, banyak sekali teman-teman yang bersimpati kepadaku. Pada saat itu, aku sebagai seorang Katolik merasakan teror dan trauma. Trauma untuk mengunjungi tempat-tempat keramaian seperti mal, maupun tempat ibadah. Seharian aku mengikuti perkembangan berita kejadian ini. Dalam seketika “Surabaya Bombing� menjadi sorotan kalangan internasional. Keesokan paginya, kami yang tergabung dalam Kelompok Bintal Kristiani yang beranggotakan pegawai yang beragama Katolik dan Kristen Protestan, berkumpul untuk berdoa bersama. Dalam pergumulan kami, kami saling menguatkan satu sama lain untuk tidak takut pada aksi teror ini dan tidak takut untuk beribadah ke gereja. Apabila kami memutuskan untuk tidak beribadah pada hari-hari selanjutnya maka kami telah dinyatakan kalah dalam aksi keji ini. Kami berdoa agar diberi keselamatan dan kedamaian di kota ini. Satu per satu dari kami berbagi cerita mengenai apa yang kami alami pada hari Minggu kemarin. Yang paling aku ingat adalah cerita salah satu temanku yang bernama Andri. Pada hari Minggu tersebut, Andri berniat untuk mengikuti ibadat (misa) pagi di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, lokasi ledakan bom pertama. Ia pun bercerita bahwa ia ketiduran dan akhirnya tidak sempat untuk mengikuti ibadat (misa) pagi sampai akhirnya ia mengetahui berita pengeboman tersebut. Ia mengaku beruntung atau bahkan merasa diselamatkan dengan cara yang tidak terduga. Temanku yang lain bercerita bahwa ia sedang melakukan kegiatan bersih-bersih di gerejanya saat terjadi ledakan bom ketiga yang lokasinya berada di dekat gerejanya.


Perekat Indonesia

111

Aku yakin bahwa kami semua diliputi rasa kecemasan, ketakutan, dan menganggap kami adalah target dalam serangkaian serangan teror ini. Aku merasa beruntung, dengan adanya kegiatan Pembinaan Mental (Bintal) ini, kami dapat saling menguatkan satu sama lain. Para pejabat di lingkungan kantor kami terus memberikan semangat, dorongan, dan menguatkan mental kami agar kami tidak takut dan gentar. Program Bintal berperan dalam pemulihan traumaku pasca Peristiwa Bom Surabaya ini. Tak berselang lama setelah kegiatan Bintal, terjadi ledakan bom di Mapolrestabes Surabaya yang lokasinya cukup dekat dengan kantor kami. Seketika itu juga, aku kembali merasakan ketakutan. Namun berkat doa dan penguatan yang diberikan dalam kegiatan Bintal, aku merasa kembali dikuatkan dan berniat untuk mengikuti jaga malam di gerejaku, Gereja Katolik Santo Mikael Tanjung Perak Surabaya. Dengan semangat dan dorongan yang kuterima saat kegiatan Bintal, aku sebagai salah satu Aparatur Sipil Negara merasa ikut bertanggung jawab dan bertekad untuk berkontribusi dalam keamanan gerejaku.

Aku merasa beruntung, dengan adanya kegiatan Pembinaan Mental (Bintal) ini, kami dapat saling menguatkan satu sama lain.


112

Tingkatkan Integritas Dengan Bintalnas Akhyar Gunawan, Sekretariat DJKN

Tergelitik sebuah berita Kamis sore, bakda magrib, tanggal 21 Maret 2019, dalam himpitan di antara sesaknya penumpang commuter line sepulang kerja, kubuka situs Detik Finance. Mataku tergelitik pada sebuah berita dengan judul Ingatkan Lembaga Pengawas, Sri Mulyani: “Uang Bisa Jadi Sumber Celaka”. Berita tersebut menyampaikan bahwa dalam sebuah Rakornas Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP), Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani meminta APIP bisa mengawal keuangan pemerintah dengan baik karena uang memiliki godaan yang tinggi. Beliau juga menegaskan betapa orang mudah tergoda dengan uang. Dan salah satu pernyataan Beliau yang paling menggelitik hati, yaitu, “Banyak orang mudah tergoda uang meskipun salat rajin, naik haji ada, umrah sering, puasa Senin-Kamis, waktu lihat uang lupa semua itu, kayak ngga ada koneksinya.” “Kenapa orang yang rajin ibadah bisa tergoda dengan materi (uang) yang bukan haknya? Apakah dia sadar, dengan melakukan itu akan membawa diri dan instansinya mendapat citra buruk di mata dunia? Dari dimensi religi, di mana letak kesalahannya? Apakah karena faktor dalam diri pegawai tersebut atau pelaksanaan ibadahnya belum sesuai syariat atau faktor eksternal lainnya?”, benakku.


Perekat Indonesia

113

Terus terang, hatiku bertanya-tanya, separah itukah kondisi “keimanan” pegawaipegawai Kemenkeu sampai-sampai Ibu Menteri “menyentil” dengan sindiran, “Tidak ada koneksi antara ibadah yang dilakukan dengan sikap saat menghadapi godaan materi”. Namun pertanyaan berikutnya yaitu, “Apakah pegawai Kemenkeu yang menerima materi yang bukan haknya dikarenakan faktor keimanan atau faktor ketidaktahuan?” Pastinya jawaban ada dalam benak diri masing-masing pegawai yang terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) Penegak Hukum. Awal sebuah Cerita tentang Pengembangan Integritas dan Toleransi Awal tahun 2015, aku mulai bergabung dengan kantor pusat (KP) DJKN, saat itulah aku baru mengetahui di lingkungan KP DJKN telah memiliki unit yang membidangi keagamaan yang ditandai adanya Keputusan Dirjen Kekayaan Negara tentang Pembentukan Pengurus Bintal KP DJKN. Namun, saat itu peran dan gaung Bintal DJKN belum menonjol karena kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan masih terbatas kegiatan yang sifatnya bulanan atau hanya pada saatsaat tertentu semisal Peringatan Hari Besar Islam. Secara makro, penguatan eksistensi Bintal mulai muncul saat Sekretariat Jenderal Kemenkeu mengadakan Launching Bintalnas Kemenkeu pada tanggal 8 Mei 2018. Selain launching, acara tersebut juga menerbitkan Buku Panduan Pembinaan Mental Nasional Kementerian Keuangan. Buku ini menjadi rujukan dan pegangan bagi para pembina grup Bintal dalam pelaksanaan. “Wow, kereeeennnn!” Batinku. Selepas acara launching, Pengurus Bintal DJKN pun mulai melakukan persiapan launching kegiatan Bintal DJKN. Dalam suatu kesempatan rapat persiapan tersebut, perlu adanya pembina-pembina grup Bintal untuk dilatih kemampuannya dalam suatu pelatihan. Pelatihan dimaksud dikemas oleh DJKN dalam suatu kegiatan Training of Trainer (ToT) Bintalnas DJKN yang kemudian dilaksanakan pada tanggal 23 s.d. 25 Oktober 2018 dengan diikuti oleh 61 orang pegawai yang berasal dari lintas agama, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan Hindu. Peserta pelatihan selain dari KP DJKN juga berasal dari perwakilan Kantor Wilayah DJKN. Pegawai DJKN ini dikumpulkan untuk mengikuti pelatihan ToT sehingga dapat penggerak kegiatan Bintal DJKN pada unitnya masing-masing. Harapan ke depannya juga dapat dibentuk Unit Bintal Wilayah/ Unit Bintal KPKNL.


114

Alangkah bahagia dan bersyukur hatiku karena menjadi bagian pelaksanaan ToT Bintal DJKN. Kegiatan ToT Bintal ini sebagai wujud DJKN memperhatikan sisi kerohanian pegawainya juga telah sebagai satu langkah ke depan dalam pembangunan integritas pegawainya. Menjadi Pembina Grup Bintal Bertepatan dengan HUT DJKN dan kedua belas, berbarengan dengan acara Pekan Kekayaan Negara DJKN, Dirjen Kekayaan Negara selaku Pembina Bintal KP DJKN meresmikan kegiatan Bintal DJKN pada tanggal 15 November 2018 dan selanjutnya sebagai tindak lanjut kegiatan launching, dilaksanakan rapat program kerja Bintal oleh pengurus Bintal DJKN. Kegiatan Bintal akan diterapkan lebih dulu kepada seluruh anak-anak OJT (On The Job Training), ke depannya akan diterapkan kepada seluruh pegawai DJKN. Pegawai yang telah mengikuti ToT Bintal DJKN akan menjadi Pembina Grup Bintal, atau penggerak terbentuknya Bintal Daerah, kemudian materi-materi dalam Buku Panduan Bintalnas Kemenkeu menjadi rujukan Pembina Grup; dan metode pembelajaran yang akan digunakan adalah Microteaching/Microlearning (microlearning merupakan pendekatan holistik untuk meningkatkan pembinaan yang efektif dengan membangun hubungan kedekatan yang lebih baik. Metode ini mampu meningkatkan pemahaman kognitif, mengubah perilaku, menanamkan nilai, mengembangkan kecerdasan emosional dan dimensi sosial seseorang, meskipun anggota grup microlearning bervariasi demografinya). Penanaman, Pengembangan, dan Aktualisasi Integritas Berkaca dari beberapa kasus OTT yang pernah terjadi, tentu menjadi tanggung jawab kita untuk membangun integritas yang dapat dilakukan melalui penyebarluasan informasi dan peraturan yang dilakukan secara masif dan berkelanjutan. Penyebarluasan infromasi ini dapat dilakukan secara berkala, dan dilakukan pula monitoring atas sikap/perilaku kerja pegawai secara pekanan atau bulanan. Kami menyebutnya sebagai Gerakan Microteaching (GMt) atau Gerakan Microlearning (GMl) melalui wadah Bintal DJKN. Melalui GMt/GMl, setiap kantor pelayanan dapat membentuk satu atau lebih grup bintal yang berangotakan minimal tiga orang pegawai dan maksimal sepuluh orang pegawai. Pembatasan anggota grup ini bertujuan agar tujuan microlearning/microteaching lebih efektif dan meningkatkan kedekatan untuk


Perekat Indonesia

115

lebih memahami kepribadian anggota grup sehingga penanaman nilai integritas lebih terpantau. Dalam satu grup harus memiliki satu Pembina Grup Bintal. Pembina Grup Bintal bertugas untuk mengooordinasikan pelaksanaan kegiatan Bintal secara berkelanjutan, memastikan materi dalam buku panduan Bintal tersampaikan sepenuhnya, dan melaksanakan monitoring hasil pelaksanaan Bintal. Monitoring hasil pelaksanaan Bintal dapat dibuatkan evaluasi atas pelaksanaan ibadah secara umum atau kegiatan-kegiatan positif terkait integritas secara pekanan. Monitoring atas pelaksanaan ibadah secara umum (untuk yang beragama Islam) contohnya dalam satu pekan berapa kali salat fardu berjamaah, puasa Senin-Kamis, zikir pagi dan sore. Sedangkan monitoring terkait kegiatan-kegiatan positif terkait integritas misalnya dalam satu pekan anggota telah menolak gratifikasi berapa kali atau kegiatan yang berkaitan dengan keluarga (menyempatkan bicara dengan istri/anak dan kegiatan yang bersifat kemasyarakatan). Dari hasil monitoring atas pelaksanaan ibadah dan kegiatan lain inilah pembina grup Bintal dapat menilai peningkatan atas kualitas hidup anggota. Terutama peningkatan atas penerapan nilai-nilai integritas diri. Cerita Saat Menjadi Pembina Grup Bintal Menjadi Pembina Grup Bintal memang sangat berat. Seorang Pembina Grup Bintal harus dapat menjadi contoh bagi anggota, harus menjaga dinamisasi grup sehingga tidak monoton dan yang paling penting adalah update pengetahuan terkait agama dan nilai-nilai Kemenkeu. Menjadi pembina grup bintal juga mengharuskan saya untuk meningkatkan kualitas hidup dan ibadah. Kualitas hidup kerja yang didasarkan pada nilai-nilai Kemenkeu, budaya kerja, dan etos kerja yang berlaku. Namun itulah intisari suatu perubahan, yaitu bagaimana kita bisa mengubah dunia dan orang lain, kalau bukan dari diri kita sendiri? Menjadi Pembina Grup Bintal selalu mengingatkan diri pribadi dan anggota betapa pentingnya nilai integritas dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam dunia kerja. Sering kali dalam kesempatan kegiatan Bintal, kami berdiskusi dan berbagi pengetahuan terkait integritas dalam pandangan Islam, urgensi integritas diri, dan menanyakan apakah kita dalam sepekan ini menghadapi kejadian yang berkaitan dengan integritas. Ya, inilah integritas, sebuah nilai Kemenkeu yang melandasi nilai-nilai lainnya. Apabila seorang pegawai telah memiliki integritas, dia akan melaksanakan


116

pekerjaannya dengan profesional, dia akan bersinergi dengan pegawai lainnya, dia akan memberikan pelayanan kepada pengguna jasa dengan baik dan benar, serta dia akan selalu membuat inovasi-inovasi untuk meraih kesempurnaan. Integritas ibarat hatinya nilai-nilai Kemenkeu. Dalam Islam, dikenal sebuah ajaran, yaitu suatu ibadah tidak akan bernilai kalau hatinya/niatnya sudah tidak benar. “Bukankah segala amal tergantung dari niatnya?� Integritas Dalam Ketentuan Menjadi Pembina Grup Bintal membuatku berusaha menggali pengetahuan integritas, khususnya terkait korupsi dan gratifikasi. Sering kali aku harus membuka ulang tiga paket buku yang kudapatkan dari KPK. Ketiga buku itu adalah Mengenal Gratifikasi, Pengendalian Gratifikasi, dan Panduan Penggunaan Aplikasi Gratifikasi Online. Dari buku tersebut, dapat diketahui bahwa indikator keberhasilan pengendalian gratifikasi, yaitu saat terciptanya budaya antigratifikasi yang tercermin dari tingkat pemahaman dan kepatuhan pegawai terhadap aturan gratifikasi, dengan bentuk nyata berupa sikap menolak gratifikasi yang dilarang, melaporkan penerimaan gratifikasi, mampu memberikan pemahaman aturan gratifikasi kepada orang lain, serta mengapresiasi pelapor gratifikasi di lingkungannya. Rasanya seru banget jadi Pembina Grup Bintal. Kita harus terus menggali pengetahuan kita, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum. Harapan Inilah cerita singkatku sebagai Pembina Grup Bintal. Meski baru membina, tetapi keseruan ini ingin aku sebarkan kepada semua pegawai. Banyak yang harus diperbaiki dalam diri pribadi yang sejalan pula dengan kewajibanku seagai seorang muslim untuk amar makruf nahi mungkar. Melalui kegiatan Bintal DJKN inilah, keinginanku semakin menguat untuk terus mengasah integritas diri. Harapanku, semoga ke depannya kegiatan Bintal dapat menjadikan sebuah alat preventif dan sekaligus menjadi alat kuratif dalam penanganan integritas, khususnya untuk pegawai Kemenkeu. Sebelum terjadi perilaku negatif yang mencoreng integritas, kegiatan Bintal diharapkan dapat menjadi wahana paling efisien dan efektif. Sedangkan dalam hal telah terjadi hal negatif yang mencoreng dunia kerja pun, kegiatan Bintal dapat menjadi salah satu solusi perbaikan diri.


Perekat Indonesia

117


118

“Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan. Dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila, bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan.�

Pramoedya Ananta Toer


Perekat Indonesia

S A T I R O N MI S A T I L A U EK

119


120

Menjadi Bagian dari Tenun Kebangsaan Bellisa Gamelia Sembiring, Kanwil DJKN Kalimantan Timur dan Utara

Jakarta, September 2017 “Penerimaan CPNS 2017 Periode II Resmi Dibuka, Berikut Tahapan Pendaftaran.” Ada bukaan CPNS lagi lho, ayo daftar… :D Kubaca sekilas pesan singkat dari Ibu, kemudian kuletakkan telepon genggam dan melanjutkan kembali pekerjaanku yang cukup bertumpuk. Sambil memeriksa pekerjaan di layar komputer, ingatanku melayang pada beberapa tahun lampau saat aku masih duduk di bangku awal kuliah. “Besok kalau sudah lulus kuliah, aku ingin kerja di perusahaan swasta/asing dulu untuk membentuk mental dan karakterku, baru setelah itu aku mau jadi PNS untuk menularkan kebiasaan dan karakter yang baik di instansi pemerintah, biar tidak kalah pelayanannya dengan perusahaan swasta/asing,” ujarku pada orang tuaku. Bisa dibilang, ini hanyalah impian naif seorang mahasiswi semester awal yang masih penuh dengan gagasan-gagasan idealisme, sementara saat ini, hal tersebut sudah tergerus oleh realita kehidupan yang ternyata tidak seindah mimpinya. Sampai pesan singkat dari Ibu tadi menyadarkanku akan impianku dulu. Masih perlukah aku memperjuangkannya? Atau aku harus bersikap realistis dengan kondisiku saat ini? Memang saat ini aku sudah memiliki pekerjaan di perusahaan


Perekat Indonesia

121

asing dengan posisi yang cukup baik dan lingkungan kerja yang nyaman. Tapi sejujurnya dalam lubuk hatiku, aku ingin berkontribusi lebih bagi negeri ini, dan hal ini belum dapat kuwujudkan dari pekerjaan yang kujalani sekarang. Setelah beberapa pertimbangan dan mencari info lowongan serta persyaratan yang dibutuhkan, aku pun memantapkan diri untuk mengikuti seleksi CPNS 2017 Periode II Kementerian Keuangan. “Kamu yakin mau daftar CPNS Kemenkeu? Saingannya banyak lho.” “Nggak sayang sama posisi kamu sekarang? Nanti kamu ngulang lagi dari awal lho.” Begitu pendapat awal beberapa teman saat kuutarakan niatku untuk mengikuti seleksi CPNS Kemenkeu. Tapi komentar yang paling mengejutkan datang dari salah satu rekan kerjaku. “Emang bisa ya orang seperti kita jadi PNS?” “Orang seperti kita? Maksudnya?” Tanyaku tak mengerti. “Kita ‘kan minoritas. Keturunan Tionghoa,” balasnya pendek. Aku terdiam sebentar. “Memangnya kenapa kalau keturunan? ‘Kan kita warga negara Indonesia, jadi tetap bisa daftar.” “Setahuku sih dari dulu sulit buat keturunan Tionghoa masuk jadi PNS. Tapi kamu coba saja, mungkin sekarang sudah beda zamannya.”

…aku merasa lega karena kelolosanku ini menjadi pembuktian bahwa setiap Warga Negara Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari Kementerian Keuangan;


122

Percakapan singkat itu membuatku berpikir ulang tentang keputusan yang telah kuambil. Kuputuskan untuk mencari tahu lebih dulu kebenaran dari informasi yang dikatakan rekanku tadi. Bagaimanapun melamar pekerjaan adalah salah satu keputusan besar dalam hidup dan aku tidak ingin salah mengambil keputusan karena kurangnya informasi. Aku mencoba mencari tahu tentang isu tersebut, tapi tidak menemukan info yang bisa dipertanggungjawabkan validitasnya. Hanya “katanya si anu, pengalamannya si ini” yang sulit ditelusuri kebenarannya.” Akhirnya kumantapkan hati untuk mencari tahu kebenarannya sendiri dengan mengikuti seleksi CPNS Kemenkeu. Aku hanya berpegang pada pernyataan di pengumuman seleksi CPNS Kemenkeu bahwa seleksi ini sepenuhnya didasarkan pada kemampuan peserta semata. Jadi, tidak ada titipan ataupun unsur SARA yang mempengaruhi proses seleksi. Aku yakin, instansi pemerintah favorit sebesar Kemenkeu akan bersikap profesional, transparan, dan tidak melakukan praktik kecurangan atau hal-hal lain yang berisiko merusak kredibilitas Kemenkeu yang sudah dibangun susah payah selama ini. Aku bertekad membuktikan kepada rekan kerjaku bahwa apa yang ia katakan itu tidak benar. Singkat cerita, tahapan demi tahapan seleksi pun dapat dilalui dengan baik. Hingga pada akhirnya aku dinyatakan lolos seleksi dan masuk menjadi anggota dari keluarga besar Kementerian Keuangan, tepatnya di Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Bahagia tentu saja. Tapi lebih dari itu, aku merasa lega karena kelolosanku ini menjadi pembuktian bahwa setiap Warga Negara Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari Kementerian Keuangan; terlepas dari suku, agama, ras, dan golongan mana pun ia berasal. Aku sampaikan kepada rekanku bahwa aku lolos seleksi CPNS Kemenkeu dan meyakinkan dia untuk tidak ragu mengikuti seleksi CPNS di tahun mendatang jika dia mau. Saat memasuki masa orientasi di Kemenkeu, aku melihat banyak orang dari berbagai latar belakang budaya dan pendidikan. Saat itu aku seperti melihat “miniatur” Indonesia di Kemenkeu. Samarinda, Maret 2019 Waktu terus berjalan, tanpa terasa setahun terakhir telah kulalui sebagai CPNS Kemenkeu. Akhir tahun lalu, aku menerima SK Penempatan pertamaku di Samarinda. Dan sekarang, siapa yang menyangka kalau saat ini aku dapat menyaksikan secara langsung budaya Kalimantan yang dulu hanya bisa kubaca lewat buku saat duduk di bangku sekolah? Memang dari dulu aku percaya bahwa Indonesia kaya akan budaya, tapi kepercayaanku itu hanya berdasarkan buku


Perekat Indonesia

123

dan kata orang-orang. Namun saat ini aku sudah menjadi saksi secara langsung betapa luas dan panjangnya Sungai Mahakam itu, keramahan suku Dayak Kenyah di Desa Pampang, dan juga melihat tiruan prasasti Yupa di Museum Mulawarman yang menandai dimulainya zaman sejarah di Indonesia. Semua ini aku jadikan pengalaman berharga yang menambah wawasanku betapa kayanya negeri ini. Semoga aku dan seluruh pegawai Kemenkeu bisa menjadi bagian yang merajut dan senantiasa merawat tenun kebangsaan negeri ini.


124

Menjadi Minoritas Sahruni, KPP Pratama Jakarta Kramat Jati - DJP

Manusia diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna dengan berbagai karakter, suku, agama, dan budaya masingmasing. Setiap harinya kita dihadapkan pada banyak pilihan. Seperti hari ini kita mau makan apa, ke kantor mau naik apa, mau pakai baju apa, mau bertemu dengan siapa, dan masih banyak lagi tentunya. Aku Sahruni yang biasanya dipanggil Uni, asal dari Sulawesi Selatan, dan aku dari suku Bugis-Makassar, seorang PNS Kementerian Keuangan di Direktorat Jenderal Pajak. Sekarang aku bertugas sebagai pelaksana di Seksi Pelayanan, KPP Pratama Jakarta Kramat Jati. Sebagai petugas front office, setiap harinya aku harus bertemu banyak orang. Tentunya dengan karakter yang berbeda-beda dan dengan kepentingan yang bermacam-macam pula. Terkadang perlakuan atau perkataan dari Wajib Pajak membuatku tersinggung dan rasanya ingin marah. Namun aku di front office membawa nama instansiku, jadi harus kujaga nama baiknya dengan memberikan pelayanan yang terbaik kepada stakeholders atau wajib pajak yang datang. Selanjutnya, ketika aku bekerja di back office, aku harus berinteraksi dengan rekan kerja yang karakternya juga berbedabeda. Menjadi satu-satunya orang yang berasal dari Sulawesi membuatku memiliki banyak ketidaktahuan dengan kebiasaan orang Jawa. Meskipun demikian, aku tetap berusaha untuk menjalin kerja sama atau silaturahmi yang baik dengan orangorang di sekitar.


Perekat Indonesia

125

Aku kuliah di BDK Malang tahun 2015-2016, di situlah pertama kalinya aku merasakan menjadi minoritas di kalangan orang Jawa. Tak mudah bagiku untuk beradaptasi dengan orang yang baru, apalagi dengan budaya atau kebiasaan yang berbeda. Aku tidak memiliki teman yang banyak sewaktu kuliah dan hanya fokus ingin lulus dan bekerja kemudian mendapatkan uang. Ketika pengumuman definitif keluar, aku ditempatkan di ibu kota Jakarta yang terkenal dengan istilah Kota Metropolitan. Di sinilah aku banyak belajar dan menemukan sesuatu yang baru, dan tentu saja aku kembali menjadi minoritas di Jakarta. Aku sangat merasakan perbedaan ketika bertemu dengan teman-temanku yang sama-sama dari Sulawesi dan dengan teman-temanku di kantor yang mayoritas orang Jawa. Keduanya baik dan tidak ada yang salah, hanya saja aku merasa tidak bisa terlalu terbuka dengan teman-temanku yang orang Jawa karena entah kenapa aku merasa memiliki selera humor yang berbeda dengan mereka. Namun ketika aku bersama dengan teman-teman yang sama-sama dari Sulawesi, aku merasa bisa lepas, bahkan tertawa lepas dengan mereka. Terkadang juga kami saling mendukung, menyemangati, dan mengingatkan. Sebenarnya menjadi minoritas bukanlah sesuatu yang salah karena intinya adalah bagaimana kita fokus pada kewajiban dan tanggung jawab masing-masing dengan tidak mengganggu kehidupan orang lain. Satu hal yang perlu kita sadari adalah jangan pernah menjadikan minoritas sebagai alasan untuk tidak belajar, siapa pun kita, dan dari mana pun kita. Karena memang butuh waktu dan kesabaaran untuk bisa merasa nyaman dengan lingkungan atau orang di sekitar yang beragam. Bersyukur adalah obat lelah dari penatnya pekerjaan, obat rindu ketika merasa kesepian, dan semangat yang terus mengalir. Selain itu, untuk menyeimbangkan kehidupanku yang sedari pagi hingga malam terus bekerja untuk dunia, aku mencoba terus belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dengan berpedoman pada kitab agama yang kuyakini, yaitu Alquran. Dan pada akhirnya, menjadi minoritas membuatku banyak belajar tentang kehidupan, kesabaran, kemandirian, dan masih banyak lagi. Aku tak perlu menyalahkan keadaan karena menjadi minoritas memang tak selalu dapat kita hindarkan. Yang penting, fokuslah pada apa yang ada di depan mata dan lakukanlah yang terbaik.


126

Gegar Lambung di Takengon, Gegar Budaya di Singkawang Hafiiz Yusuf, KPPN Banjarmasin - DJPb

Pada tahun 2016 saat aku bekerja di KPPN Surabaya II, aku mendapat surat tugas pendampingan aplikasi ke KPPN Takengon, di Provinsi Aceh, ujung utara Pulau Sumatra. Bersama tim dari Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan, kami berangkat menuju Takengon. Rencana awalnya mendarat di Bandara Kualanamu Medan lalu melanjutkan penerbangan ke Takengon. Namun ketika sampai di Kualanamu, penerbangan menuju Takengon dibatalkan karena cuaca buruk. Apa boleh buat, kami meneruskan penerbangan menuju Aceh, Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh. Sampai di sana sudah menjelang Magrib. Kami segera mencari rumah makan untuk berbuka puasa. Sulit. Rupanya banyak rumah makan yang tutup saat Magrib. Aku memahami ini sebagai bagian dari kebiasaan lokal yang religius. Setelah mencari, kami pun buka puasa di sebuah depot yang bersedia membuka pintunya saat kami datang. Saat itu pemilik depot juga hendak menutup depotnya. Perjalanan pun dilanjutkan melalui darat. Naik travel. Memasuki daerah Takengon, pikiranku bermacam-macam. Kenapa? Karena sebelum berangkat, aku sempat berkomunikasi dengan rekan yang pernah bekerja di Aceh. Dia memberi aneka nasihat, termasuk soal daerah yang rawan keamanannya, hingga penduduk yang tidak suka terhadap pendatang dari Jawa. Aku belum pernah ke Aceh dan aku tidak tahu benar salahnya.


Perekat Indonesia

127

Dan akhirnya, inilah Takengon. Ibu kota Kabupaten Aceh Tengah. Kami menginap di sebuah hotel. Pada suatu malam, aku berjalan kaki ke sebuah warung pinggir jalan. Memesan kopi. Sambil menunggu, aku bercakap-cakap dengan beberapa pengunjung warung. Penduduk setempat. Dan hai! Mereka semua ramah. Kami berkenalan dan aku terbuka mengaku dari Jawa karena dari logat pun sudah jelas. Ternyata tidak ada masalah. Kami berbincang hangat, tertawa, dan saling melempar canda. Bahasa Indonesia menjadi jembatan komunikasi meskipun kadang beberapa kali gagal paham karena terlontar kalimat dengan bahasa daerah. Tapi kami semua tertawa, menganggapnya sebuah kelucuan. Ketika kopi disajikan, seteguk saja cukup membuatku terkejut. Kopinya nikmat sekali. Rasanya berbeda dengan kopi yang biasa kuminum di warung kopi di Surabaya. Penjualnya mengatakan itu kopi dari perkebunan lokal. Namanya Kopi Gayo dan sudah sejak lama dibudidayakan. Aku kembali ke hotel dengan hati yang hangat dan perut yang juga ikut hangat. Hingga akhirnya kusadari, ada yang tidak beres! Perut terasa mual seperti diaduk-aduk. Aku pun muntah beberapa kali. Teman satu timku bertanya kenapa dan kugelengkan kepala. Tidak tahu. “Aku habis minum kopi”, jawabku singkat. “Oh, mungkin karena kopinya”, sahut seorang teman. “Bisa jadi. Selama ini aku terbiasa minum kopi instan sachet. Lalu ketika terisi kopi Gayo, lambungku kaget dan berontak.” Aku cek info dari Google sekilas, ternyata kopi Arabika Gayo memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Aku sempat pula naik ojek, mengantarkan pulang-pergi ke beberapa tempat. Kesan yang kudapatkan sama. Bapak ojeknya ramah dan menyambut baik. Ternyata apa yang disampaikan rekanku di saat awal sebelum berangkat, tidak benar. Setidaknya itu kesimpulan dari interaksiku 2-3 hari dengan masyarakat setempat. Berbincang langsung, bercanda, dan minum kopi bersama. Mungkin saja rekanku dahulu mengalami pengalaman kurang menyenangkan. Tapi tidak bagiku. Takengon memberikan kesan mendalam tentang kopi, masyarakat yang religius, ramah, dan pemandangan alam yang memanjakan mata. Salam rindu untukmu Takengon, Gayo Highlander, dan tentu saja Kopi Arabica Gayo. *********


128

Di tahun yang sama, aku berkesempatan melakukan pendampingan aplikasi ke KPPN Singkawang, Kalimantan Barat. Aku belum pernah ke Pulau Kalimantan sebelumnya, tentu perjalanan kala itu kusambut dengan penuh antusias. Tim kami menginap di sebuah hotel di kawasan Pasar Hongkong, Singkawang. Menurut cerita yang kudengar, dinamakan Pasar Hongkong karena mirip suasana di Hongkong. Banyak penjualnya dari keturunan Tionghoa. Makanan yang dijajakan juga kebanyakan khas Tionghoa. Selepas Subuh aku berbincang dengan manajer hotel. Dia bercerita soal Pasar Hongkong yang buka mulai sore hari hingga tengah malam. Jika siang, kawasan ini layaknya kawasan pertokoan biasa. Bapak manajer ramah ini ternyata perantauan. Aslinya dari Padang. Lalu aku duduk santai di lobi, membaca koran. Pintu hotel terbuka, seseorang masuk dan langsung menuju ke ruang belakang resepsionis. Kembali lagi ke lobi dengan membawa pel dan timba. Dia pun mulai mengepel lantai, tetapi tidak kuperhatian, hingga petugas Cleaning Service ini menyapa dan meminta izin membersihkan lantai di dekat tempatku duduk. Aku tersenyum, mengangguk, dan mempersilakan. Sampai di sini, senyumku tertahan. Aku merasa ada yang aneh, dahi berkerut. Benar, baru pertama kali kulihat pemandangan seperti ini. Antara heran, kaget, aneh, dan merasa takjub. Kira-kira begitu yang ada di benakku. Aku pun sempat tertegun beberapa saat.

Kita semua ini ternyata sama saja. Tidak ada yang lebih super, tidak ada yang lebih tinggi.


Perekat Indonesia

129

Petugas Cleaning Service di hotel ini beretnis Tionghoa. Seharusnya tidak ada yang aneh. Tidak ada yang perlu diherankan dari etnis Tionghoa dan tidak ada masalah dengan pekerjaan petugas kebersihan. Tapi begini, seumur hidup, baru pertama kali itulah aku melihat etnis Tionghoa bekerja sebagai petugas kebersihan hotel. Selama di Surabaya, aku beberapa kali menginap di hotel dan sering bertemu keturunan Tionghoa. Sebagai resepsionis, tamu, supervisor, koki, dan lain-lain. Tapi bukan petugas kebersihan seperti di hadapanku. Koran di tangan jadi tidak menarik. Kuputuskan keluar hotel, berjalan-jalan. Sepanjang jalan aku bertemu penjual sayur, pedagang kali lima, penjaga warung kopi, loper koran, dan pedagang lain yang menggelar barang dagangan di tepi jalan. Mayoritas dari mereka adalah etnis Tionghoa. Aku memandang dengan penuh rasa takjub. Mendapatkan sebuah kesadaran baru. Sesuatu yang tidak biasa di suatu tempat, ternyata bisa menjadi sesuatu yang biasa di tempat lain. Suatu hal yang mengagetkan di daerah lain, bisa jadi merupakan sesuatu yang lumrah di daerah lainnya. Mungkin ada yang pernah mendengar cerita yang sempat viral tentang para Crazy Rich Surabayan di media sosial. Cerita tersebut makin menegaskan stereotip tentang etnis Tionghoa. Ternyata stereotip tersebut salah di sini. Tidak berlaku. Runtuh. Cerita tentang pribumi yang identik dengan warga lokal dan nonpribumi yang diasosiasikan dengan etnis Tionghoa juga salah besar. Tidak ada pribumi dan nonpribumi. Semuanya warga negara. Semuanya warga lokal. Justru ternyata akulah yang aneh. Merasa kaget terhadap suatu hal yang sebenarnya biasa saja. Merasa heran akan suatu fenomena hanya karena hal tersebut tidak ada di tempat asalku. Pengalaman mengunjungi Singkawang begitu membekas dalam ingatan. Aku memperoleh pemahaman baru. Pencerahan atas sebuah anggapan, stigma, dan prasangka. Hancurnya sebuah stereotip yang sebelumnya tertanam begitu kuat dalam benak. Yang selama ini kuanggap begini ternyata begitu. Pengalaman itu benar-benar kurasakan sendiri dengan berinteraksi langsung, melihat dengan mata kepala sendiri, dan berbincang. Kita semua ini ternyata sama saja. Tidak ada yang lebih super, tidak ada yang lebih tinggi.


130

Hidup Normal Bersama Epilepsiku Azharianto Latief Baroto, Sekretariat BKF

Aku lahir di kota Jakarta tanggal 24 Desember 1962 dalam kondisi sempurna tanpa ada kelainan apa pun, sedangkan ayah dari Blitar dan ibu dari Malang, Jawa Timur. Setiap harinya, kami hidup bahagia bersama keluarga tercinta, saudara-saudara, dan teman-teman. Kenikmatan hidup tetap membahagiakan, hingga di awal tahun 1973 saat aku kelas lima SD dan berumur sebelas tahun, terjadilah keanehan tingkah laku yang membuat ibuku kaget dan kebingunan. Ketika berjalan kaki menemani ibu ke pasar, tiba-tiba aku berdiri dengan kondisi kejang, terdiam tak sadar, tangan bergerak-gerak secara aneh, dan tidak mau diajak bicara. Beberapa menit kemudian terlihat kembali normal. Ibu kira saat itu aku kemasukan setan. Setelah kejadian itu, orang tua segera memeriksakan aku ke RSCM Jakarta. Rasanya seperti ada bom jatuh ketika mengetahui hasil pemeriksaan dokter. Aku divonis mengidap penyakit epilepsi (ayan) jenis Epilepsi Lobus Temporal yang menyebabkan sesaat aku akan tampak hilang kesadaran saat kumat (anfal). Kehilangan kesadaran secara bengong ini hanya beberapa menit. Kedua orang tuaku kaget luar bisa karena baru saat itu mendengar nama penyakit tersebut. Terlebih bila melihat kondisi di saat anfal membuat orang tua semakin sedih. Apalagi dokter mengatakan kalau penyakit ini termasuk penyakit menahun yang tidak mudah disembuhkan dan harus mengonsumsi obat tepat waktu.


Perekat Indonesia

131

Melihat kondisi keseharianku yang semakin menurun dalam menghadapi dunia normal, kesigapan orang tuaku bukan semakin sedih, tetapi malah sungguh luar biasa membantu agar aku tetap kuat. Mereka secara rutin dan tekun memberikan obat sebagai konsumsi hidup sehari-hari dan membantu mencari jalan untuk kesembuhan. Orang tuaku selalu berpikir bahwa apa pun penyakit yang diberikan Allah Swt. pasti ada obatnya. “Janganlah takut menghadapi penyakit ini�, kata mereka. Untuk mengembalikan motivasi, orang tuaku segera mengambil tindakan cepat dengan memeriksakan aku ke psikiater. Harapannya dapat memperkuat hatiku. Dan benar. Berkat bantuan psikiater, aku mendapatkan energi tambahan agar semakin kuat dan mendapatkan keseimbangan batin dalam menghadapi dunia normal. Gangguan psikologi memang sangat kuat terhadap penderita epilepsi. Banyak kejadian menyedihkan dan membuat getir. Ada yang bilang epilepsi itu kemasukan setan, penyakit menular, dan sebagainya. Sering kali hal-hal tersebut menusuk ke hati jika dipikirkan dengan perasaan yang sangat mendalam. Hidup terasa semakin tersingkirkan dari dunia normal. Namun, dengan menguatkan hati dan tetap berpegang teguh bahwa semua kejadian negatif yang dirasakan hanyalah cobaan dari Yang Maha Pencipta, dengan menggunakan kekuatan sabar dan ikhlas, pasti dapat menghadapinya. Psikiater selalu membimbing, �Jika ada suara-suara tidak baik, masukkan dari telinga kiri, lalu teruskan saja dikeluarkan melalui telinga kanan. Jangan dibelokkan masuk ke dalam hati. Buang jauh-jauh ke belakang, jangan diingat lagi. Tetapi jika ada suara-suara yang baik, arahkan masuk dari telinga kiri berlanjut ke dalam hati, kemudian diolah dan dilanjutkan keluar menuju keinginan ke depan, ke semua yang diharapkan�. Sebagai Orang Dengan Epilepsi (ODE), aku selalu berpikir jauh apakah mungkin dapat mencapai tingkat kesarjanaan dan berumah tangga? Semua itu memang menjadi beban di hati. Namun, lagi dan lagi, semua coba dijalankan dengan niat hati dan kepercayaan diri yang kuat bahwa seorang ODE tidak kalah dengan manusia normal yang memiliki kemampuan dan energi yang sama. Tahap demi tahap dalam menuntut ilmu pun dijalankan sebaik-baiknya hingga menyelesaikan SMA IPA. Di tahun 1981, tak lama setelah aku kuliah di Universitas Trisakti (S1), ayah yang juga sebagai sumber penanggung biaya konsumsi obat sehari-hari, dipanggil


132

Allah Swt. Kebingungan mulai terjadi. Melihat kondisi keuangan yang semakin sulit ditambah kondisi Ibu yang semakin depresi memikirkan biaya obat dan kuliahku, serta sekolah adik-adikku, maka kuliahku yang sudah masuk Semester III pun diputuskan untuk tidak dilanjutkan. Waktu terus berjalan dan aku hanya dapat termenung saja memikirkan bagaimana kelanjutan untuk mendapatkan obat yang harus dikonsumsi setiap harinya. Aku berdoa kepada Allah Swt. di masjid dekat rumah, juga menjalankan salat Tahajud di keheningan malam. Terpikirkan selalu untuk bisa mendapatkan pekerjaan agar obat epilepsiku dapat dikonsumsi kembali dengan lancar. Aku tak boleh putus asa! Di tahun 1983, dengan diajak dua tetangga wanita, aku ikut melamar pekerjaan di Departemen Keuangan. Setelah mengikuti ujian penerimaan pegawai tingkat SMA Departemen Keuangan di Gelora Senayan (sekarang: Gelora Bung Karno), sungguh tak disangka hasilnya mengejutkan. Aku diterima sebagai pegawai Departemen Keuangan! Sempat malu hati ini karena dua tetanggaku tersebut tidak diterima. Akhirnya, dengan menjadi seorang pegawai negeri sipil, obat dapat kukonsumsi kembali dengan menggunakan kartu Asuransi Kesehatan/ ASKES (sekarang: Badan Penyelenggara Jaminan Sosial/BPJS). Terima kasih Allah telah memberikanku jalan melalui Departemen Keuangan (Kementerian Keuangan) untuk mendapatkan obat yang harus dikonsumsi setiap hari. Sambil melaksanakan pekerjaan di Direktorat Jenderal Moneter Luar Negeri (DJMLN), aku berpikir kembali untuk mendapatkan energi yang semakin kuat sehingga kualitas bekerja pun meningkat. Aku ingin berjuang lagi untuk mencapai tingkat kesarjanaan (S1) yang sempat tertunda dan bahkan terpikirkan ketidakmungkinannya. “Pasti dengan berjuang bisa didapat.� Di tahun 1984 aku mendaftarkan diri di Fakultas Ekonomi Studi Pembangunan di Universitas Terbuka. Memang dalam kuliah terbuka ini berjalan tersendatsendat karena belajar mandiri tanpa adanya dosen pembimbing. Sementara pekerjaan harian harus tetap dilaksanakan. Untungnya ada teman satu ruangan yang sudah mencapai S1 lebih dulu yang dapat diajak bertukar pikiran, belajar menggunakan buku-buku panduan yang diberikan Universitas Terbuka. Setelah DJMLN berubah nama menjadi Badan Analisa Keuangan Negara, Perkreditan dan Neraca Pembayaran (BAKNP&NP) pada tahun 1987, secara tak disangka-sangka aku mendapatkan teman hidup sejati. Padahal dulu kupikir seorang ODE sangat sulit mendapatkan jodoh, tetapi akhirnya Allah


Perekat Indonesia

133

Swt. memberikan seorang wanita yang bekerja juga di Departemen Keuangan. Alhamdulillah, setiap harinya hingga kini terjalinlah keluarga yang berjalan dalam kebersamaan dalam satu payung kehidupan yang aman, nyaman, dan sejahtera. Setelah lima tahun kami menikah, pada tanggal 29 September 1991 kami dikarunai seorang anak. Cobaan kembali terjadi, kebahagiaan mendapatkan anak tercinta hanya diterima sekejap karena anak kami sakit di umur sepuluh bulan dan kembali lagi kepada Sang Pencipta. Subhanallah, Istri terus-menerus berpikir dan merasakan kehilangan. Aku mencoba menguatkan hatinya dengan mengatakan bahwa ini mirip dengan epilepsi, penyakit ini hanya sebagai cobaan belaka, pasti nanti diberikan gantinya. Janganlah sampai dipikirkan terlalu berat, kasihan hati memanggulnya. Istri pun mencoba kuat, meskipun tak dapat ditutupi, raut kesedihan yang terpancar karena ditinggalkan momongan yang sudah lama diharapkan. Luar biasa cobaan hidup ini. Akhirnya lambat laun disadari juga semua ini milik Allah Swt. Ketenangan hati menghadapi cobaan yang berat ini tetap dijalankan dan tetap diperjuangkan untuk mendapatkan momongan baru. Berjuang berobat ke dokter setelah bekerja pun tak pernah ditinggalkan. Alhamdullilah, setelah empat tahun perjuangan, kami diberikan kembali momongan yang uniknya tanggal dan bulan kelahirannya tepat sama seperti kakaknya di tanggal 29 September 1995. Anak kedua ini seperti dikembalikan Allah Swt. Kepada hamba-Nya yang berjuang keras mengharapkan gantinya sebagai penerus keluarga. Dalam kehidupan sebagai ODE, walaupun ada yang mengejek, tetapi banyak sahabat-sahabat dekat di kantor yang selalu mendukung dan memberikan motivasi. Meskipun mempunyai kelemahan tetaplah meneruskan perjuangan hidup ini dan janganlah berkecil hati, takut, kalah, malas, dan lain-lain. Hati mengatakan kembali, “Sesulit-sulitnya jalan itu dan seberat-beratnya membopong beban yang berat ini, pasti ada jalan terbaiknya menuju kesuksesan. Yang penting, janganlah lupa secara vertikal setiap saat berdoa kepada Allah Swt. dan secara horizontal tetaplah hidup dalam kejujuran dan keikhlasan

Epilepsi memang penyakit syaraf (neurologi), tetapi yang sangat berat justru di bagian jiwanya (psikologi).


134

yang ditopang pula dengan kesederhanaan di kota besar yang sangat berat gangguannya�. Akhirnya, di tahun 1996 terselesaikanlah S1 di Universitas Terbuka Fakultas Ekonomi Studi Pembangunan yang selanjutnya dalam perjalanan bekerja setelah S1, karena adanya perubahan struktur organisasi, aku pindah bekerja ke Bagian Moneter di Direktorat Jenderal Anggaran. Aku berusaha bekerja dengan baik meskipun dukungan maupun ketidaksukaan tetap mewarnai. Fokusku bukan mendapatkan jabatan yang baik, tetapi hanya ingin sekali memperlihatkan kepada anak bahwa orang tuanya yang walaupun secara fisik terlihat lemah, tetapi tetap dapat mencapai kesuksesan Akhirnya aku melanjutkan kuliah di Universitas Bhayangkara (UBHARA) Fakultas Manajemen Keuangan untuk mendapatkan gelar S2. Kuliah malam terus dijalankan dan konsekuensinya setiap harinya selama dua tahun baru tiba di rumah sekitar pukul sebelas malam. Alhamdulillah, berkat kemauan yang kuat, S2 yang tadinya terpikirkan tidak mungkin terjadi dalam kehidupan ODE, dapat diselesaikan di tahun 2000. Hanyalah air mata kegembiraan yang berlinang bersama istri tercinta. Setelah melalui S2, dokter yang merawat juga sempat terkaget-kaget sehingga aku pernah diajak wawancara kesehatan melalui Metro TV, DAAI, dan Trans7, juga banyak melalui media sosial online. Pesan yang ingin disampaikan adalah agar memberikan dukungan yang kuat kepada seluruh ODE, agar setiap ODE dapat mulai membuka diri, berjuang tanpa mengenal lelah untuk tujuan yang ingin dicapai karena epilepsi bukanlah batu penghalang untuk maju dalam kehidupan. Pada tahun 2007, dari bagian Moneter Direktorat Jenderal Anggaran, posisi kembali lagi ke Badan Kebijakan Fiskal (BKF) di sana aku mendapatkan amanah untuk menjadi pejabat Eselon IV, Kepala Subbagian Data dan Statistik APBN di Bagian Data dan Informasi, Sekretariat BKF dan saat ini sebagai Kepala Subbagian Informasi Pustaka di Bagian Informasi Komunikasi Publik. Akhirnya terasakan juga, sebagai seorang penderita epilepsi dapat hidup di dunia normal dan mempunyai kepercayaan diri, hingga saat kontrol bulanan ke RSCM, aku melihat banyak sekali teman-teman seperjuangan yang hanya hidup termenung, tidak bersemangat, gundah hatinya, dan lain-lain, terpikirkanlah


Perekat Indonesia

135

untuk membentuk komunitas dengan beberapa teman-teman ODE lainnya yang saat ini berkembang namanya menjadi Komunitas Peduli Epilepsi Jabodetabek (KOMPI Jabodetabek). Epilepsi memang penyakit syaraf (neurologi), tetapi yang sangat berat justru di bagian jiwanya (psikologi). Dengan saling tukar pendapat (sharing) dan hidup dalam kegembiraan, keterbukaan, dan kekeluargaan dalam berkomunitas, diharapkan seluruh anggota yang tadinya hanya dapat hidup dalam kesedihan, dapat timbul kegembiraan dan kemajuan hidup sebagai ODE. Ini semua berkat persatuan ODE yang terbina dengan baik. Sudah 5 tahun, KOMPI Jabodetabek terbentuk dengan tujuan membina kekuatan psikis teman-teman ODE. Misalkan seorang anak yang tervonis epilepsi, jika orang tuanya tidak kuat menahan hatinya dan terus terpikirkan melihat kondisi anaknya, pasti penyakit psikologis juga ikut terjadi pada dirinya. Selain itu, harus mengerti pula teknik merawat anak yang tervonis epilepsi karena banyak juga yang belum mengerti. Ada beberapa teman ODE yang sudah S1, tadinya dia dapat bekerja di perusahaan swasta, tetapi karena tidak kuat mentalnya dalam bekerja, akhirnya mengeluarkan diri dari perusahaan, lalu hidup dalam kesedihan. Setelah orang tuanya mengenal komunitas ini, lambat laun dia dapat hidup kembali dengan ketenangan di hatinya. Kini dia pun dapat hidup dalam kegembiraan. Dan masih banyak model-model ODE lainnya. Dengan adanya komunitas KOMPI Jabodetabek, diharapkan kita semua dapat hidup dalam kebersamaan dan saling menguatkan.


136

T A B A H A S

T A K RA A Y S A M


Perekat Indonesia

137

“Kerjakan dengan bahasa cinta, karena itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan.� Joko Widodo


138

Layanan Filial di Morowali Faisal Amin, KPPN Poso - DJPb

Kondisi geografis Indonesia yang luas serta memiliki ribuan pulau menyebabkan ada beberapa lokasi yang sulit dijangkau. Belum lagi perjalanan yang harus ditempuh dengan waktu yang lama untuk mencapai daerah tertentu. Hal itu dirasakan oleh beberapa petugas satuan kerja yang harus menempuh perjalanan ratusan kilometer ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) untuk mendapatkan layanan pencairan dana APBN. Faktor perjalanan yang jauh ini menjadi penghambat satuan kerja untuk mendapatkan layanan yang diberikan oleh KPPN. Untuk memudahkan para satuan kerja mendapatkan layanan dari KPPN, maka Ditjen Perbendaharaan menciptakan layanan filial. Layanan Filial KPPN atau KPPN Filial adalah layanan front office KPPN yang ditempatkan di daerah yang jauh atau sulit ditempuh dalam rangka mendekatkan pelayanan kepada satuan kerja dan dilaksanakan oleh pegawai yang berasal dari KPPN Induk. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Poso (KPPN Poso) mempunyai tugas untuk menyalurkan dana APBN kepada satuan kerja yang berada di empat kabupaten sekitarnya yaitu Kabupaten Poso, Kabupaten Tojo Una-Una, Kabupaten Morowali, dan Kabupaten Morowali Utara. Kabupaten Morowali menjadi kabupaten yang lokasinya terjauh dari KPPN Poso yaitu berjarak lebih kurang 250 km dari Kabupaten Poso. Selain jarak yang jauh, perjalanan Kabupaten Morowali


Perekat Indonesia

139

menuju KPPN Poso juga harus melewati perbukitan dengan kondisi jalan yang belum seluruhnya beraspal. Dengan melihat kondisi seperti itu, akhirnya dibentuk layanan filial KPPN Poso di Kabupaten Morowali. Layanan Filial KPPN Poso melayani satuan kerja lingkup Kabupaten Morowali dan Kabupaten Morowali Utara. Layanan Filial KPPN Poso mulai beroperasi bulan Oktober 2016 hingga saat ini. Sebelum adanya layanan filial KPPN Poso di Kabupaten Morowali, petugas satuan kerja harus bersusah payah untuk menuju KPPN Poso. Jarak yang jauh serta medan tempuh yang berat mengakibatkan kondisi fisik terkuras selama menempuh perjalanan tersebut. Hampir setiap petugas satuan kerja yang berasal dari Kabupaten Morowali atau Kabupaten Morowali Utara ketika tiba di KPPN Poso mengeluh kepada petugas layanan KPPN Poso mengenai beratnya medan yang ditempuh selama perjalanan. Belum lagi jika musim penghujan datang, jalan yang terputus akibat mengalami longsor akan mengintai setiap waktu. Bahkan dikarenakan medan perjalanan yang ditempuh sangat berat, pernah terdapat petugas satuan kerja yang tengah hamil mengalami keguguran saat menempuh perjalanan Morowali menuju Poso. Adanya layanan filial KPPN Poso di Kabupaten Morowali disambut sangat antusias oleh banyak pihak, mulai dari satuan kerja hingga pemerintah daerah. Hal ini dapat dilihat pada saat proses pembukaan layanan filial KPPN Poso di Kabupaten Morowali, pemerintah daerah Kabupaten Morowali memberikan fasilitas berupa gedung yang dipakai sebagai kantor filial KPPN Poso di Kabupaten Morowali. Gedung tersebut berada di daerah yang strategis karena berada di kompleks perkantoran pemerintah daerah Kabupaten Morowali. Satuan kerja di Kabupaten Morowali dan Kabupaten Morowali Utara pun menyambut dengan baik pembukaan layanan filial karena dapat memudahkan mereka dalam mendapatkan layanan dari KPPN Poso. Layanan filial KPPN Poso di Kabupaten Morowali dijalankan oleh petugas yang berasal dari KPPN Induk yaitu para pegawai KPPN Poso. Layanan filial KPPN Poso di Kabupaten Morowali hanya beroperasi pada dua minggu pertama setiap bulannya. Pegawai yang bertugas ke sana bergiliran selama seminggu sebanyak dua pegawai. Sejak beroperasinya layanan filial, para petugas satuan kerja bersyukur atas adanya layanan tersebut karena mereka tidak perlu lagi bersusah payah menuju ke KPPN Poso.


140

Banyak pengalaman yang dialami para pegawai KPPN Poso yang ditugaskan untuk menjalankan layanan filial di Morowali. Melewati perjalanan yang jauh serta medan jalan yang berat harus dihadapi para pegawai KPPN Poso setiap akan bertugas ke kantor filial. Selama membuka layanan filial di Morowali, para pegawai menghabiskan hari-harinya hanya di kantor filial. Mulai dari bekerja melayani satuan kerja, makan minum, mencuci pakaian, hingga tidur, semua dilakukan di kantor filial. Meskipun layanan filial di Morowali telah berjalan, namun masih ada kendala yang sering dihadapi. Koneksi internet yang lambat di Kabupaten Morowali menjadi salah satu kendala yang dialami. Lambatnya koneksi internet menyebabkan layanan kepada satuan kerja juga menjadi terhambat. Pemrosesan Surat Perintah Membayar (SPM) yang biasanya hanya butuh waktu 5-10 menit menjadi 15-20 menit. Selain koneksi internet yang lambat, pemadaman listrik yang sering terjadi di Morowali juga menjadi hambatan layanan filial. Hampir setiap hari terjadi pemadaman listrik di Morowali, meskipun hal tersebut dapat diatasi dengan penggunaan genset agar peralatan komputer tetap beroperasi. Namun hal ini masih berdampak kepada koneksi internet yang menjadi lambat. Setiap terjadi pemadaman listrik maka dipastikan koneksi internet akan menjadi lambat, bahkan terputus. Kabupaten Morowali yang kaya akan hasil alam berupa nikel mengakibatkan daerah tersebut rentan tersambar petir. Setiap akan turun hujan, daerah Morowali akan tersambar petir yang keras. Dampak dari sambaran petir itu akan menyebabkan rusaknya peralatan elektronik. Peralatan elektronik yang ada di kantor filial juga pernah terdampak dari sambaran petir, yaitu kamera pemantau CCTV dan televisi. Meskipun demikian, kendala-kendala yang dialami dalam layanan filial di Morowali bukan menjadi halangan untuk tidak memberikan layanan prima kepada stakeholders. KPPN Poso tetap mengupayakan yang terbaik demi peningkatan layanan filial di Morowali karena KPPN Poso ingin bertekad menjadikan layanan filial di Morowali garda terdepan penyalur APBN di bumi “Tepe Asa Moroso�.


Perekat Indonesia

Bravo KPPN Poso! Bravo Ditjen Perbendaharaan! Bravo Kementerian Keuangan!

141


142

Integritas di Tapal Batas M. Hisyam Haikal, Sekretariat Itjen

Saat menyimak berita betapa cantiknya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong yang sekarang, aku jadi terkenang tiga tahun lalu saat bertugas ke sana. Dalam dua puluh tahun karierku sebagai auditor, penugasan ke Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Entikong adalah yang paling mengesankan. Betapa tidak? Entikong adalah wajah Republik Indonesia tercinta ini yang langsung berhadapan dengan wajah negara tetangga kita, Malaysia. Saat membuka jendela hotel (jangan bayangkan hotel seperti di kota lain, ini tak lebih dari kamar-kamar yang disewakan), negeri jiran bisa dengan mudah terjangkau oleh pandangan. Malaysia tak hanya mudah dilihat, tetapi juga dirasakan. Mobil-mobil “aneh� dengan plat nomor bukan Indonesia, produk makanan minuman yang tak pernah kami jumpai, beras dengan merek yang lucu, tabung gas LPG, kebiasaan masyarakat berobat ke negeri seberang, hingga dialek sebagian masyarakat Entikong yang tak ada bedanya dengan dialek Malaysia. Seorang kawan Bea Cukai bahkan bercerita, banyak orang Entikong yang hanya sekadar minum kopi pagi di Malaysia untuk kembali lagi ke Indonesia saat siang. Ada juga rumah warga Entikong yang masuk dalam wilayah dua negara. Beranda hingga ruang tamu masuk wilayah NKRI, sementara ruang tengah, kamar tidur, dan dapur masuk Malaysia. Entah benar entah tidak, tapi cerita semacam itu sungguh luar biasa buat kami, “anak Jakarta�.


Perekat Indonesia

143

Berbunga hati ini mendengar Entikong menggeliat dalam pembangunan infrastruktur. Jalan raya dari Pontianak yang dulu kami tempuh dalam penderitaan selama hampir delapan jam, sekarang sudah mulus dan singkat masa tempuhnya. Bangunan PLB yang dulu selalu membuat kita minder menatap ke seberang, sekarang megah, tak kalah. Tak hanya Entikong, pemerintah juga mempercantik PLB lain di Indonesia. Dan itu membuatku teringat Atambua, satu perbatasan lagi yang pernah kusinggahi atas titah negara. Ah sudahlah, mari kita lanjutkan kisah tentang Entikong. Jangan pernah bayangkan penugasan audit ke Entikong seperti audit pada umumnya. Mencari temuan, membandingkan dengan kriteria, memberikan rekomendasi, selesai. Auditor zaman now telah jauh bermetamorfosis dari sekadar itu. Auditor telah menyesuaikan diri dengan paradigma baru dunia audit internal. Menyimak keluh kesah auditee, menampung curhat mereka, penuh dengan empati, dan tentu saja diskusi menemukan solusi. Bukan hit and run model auditor zadul. Maka bertaburanlah curhat kawan-kawan kita para pegawai Bea Cukai. Tentang kerinduan mereka pada kampung halaman, tentang kerinduan tak terperikan pada anak istri, tentang orang tua yang hanya bisa mendoakan, tentang habisnya cuti hanya untuk perjalanan pulang pergi, tentang nyawa yang terancam karena tegaknya peraturan, tentang teror yang kadang bikin gentar, tentang perjalanan reformasi instansi pemerintah yang belum sejalan seirama, tentang masa lalu Bea Cukai Entikong yang kelam, juga tentang betapa merah putihnya jiwa mereka hari ini dan esok. Tentang cinta, tentang semangat, dan tentang bakti pada Ibu Pertiwi. Ah, terharu aku dibuatnya. Hari itu Jumat, sepenggal Jumat yang terik dan rumit di PLB. Terik karena matahari memang tega betul menyengat kepala. Rumit untuk menggambarkan suasana tapal batas yang penuh, ramai, dan cenderung semrawut. Warga Negara Indonesia (WNI) yang hendak menyeberang atau kembali, membawa apa yang bisa dan boleh dibawa. Atau warga negeri jiran yang hendak masuk ke republik tercinta ini, sekadar jalan-jalan atau silaturahmi keluarga. Silaturahmi karena banyak sekali warga dua negara ini bertalian darah atau sekadar ikatan sejarah. Tak semua para pelintas batas ini punya iktikad baik. Satu, dua, tiga, atau entah berapa, ada saja yang mencoba melakukan perbuatan tak terpuji. Membawa barang yang jelas-jelas masuk kategori dilarang dan dibatasi. Dan menjadi tugas mulia para sahabat kita di Bea Cukai, untuk memeriksanya. Mudah mengatasi


144

bila godaan yang dihadapi “cuma” suap. Bagaimana dengan teror, senjata tajam, dan tindak kekerasan? Aku duduk tak jauh dari pos pemeriksaan bea cukai, mencari tempat yang agak teduh. Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji. Sebentar lagi saatnya salat Jumat. Dari tempatku duduk, masjid terlihat belum ramai. “Mas....,” bahuku ditepuk seseorang. “Ya....,” aku menyalaminya dengan hangat. Seorang lelaki muda berseragam bea cukai, bertubuh atletis, dan tentu saja lebih gagah dari aku. “Dari Itjen ‘kan? Boleh ngobrol?” Pasti boleh, kami ‘kan mitra. Mitra yang siap membantu sekaligus mitra yang tetap kritis mengawasi. Ingin panjang lebar kujelaskan betapa berubahnya Itjen sekarang. Tapi tampaknya apa yang hendak ia sampaikan jauh lebih penting. Maka aku menyimaknya dengan menghadapkan tubuhku penuh padanya. Pandangan yang mencerminkan perhatian seratus persen serta sebagaimana Nabi yang mulia mengajarkan. “Mas lihat orang-orang yang antre masuk ke wilayah kita? Semakin mendekati Jumatan, semakin menumpuk. Semakin galau saya. Perhatikan barang-barang yang dibawanya. Kami bisa pastikan ada banyak barang-barang yang termasuk lartas”. Benar juga. Antrean bukannya menyusut menjelang waktu salat Jumat, tetapi makin merapat. Aku mengangguk, penuh empati. “Saya memimpin para petugas memeriksa satu demi satu kendaraan pelintas batas. Saya harus selalu ada di situ karena situasi akhir-akhir ini sangat tak terduga. Saya harus meyakinkan anak buah saya bertindak sesuai ketentuan, apa pun risikonya. Tentu dengan pendekatan yang baik”. Wajah lelaki yang ternyata juniorku di Jurang Mangu itu mulai mengeras. “Tak mungkin saya tinggalkan pos pemeriksaan, bahkan untuk sekadar salat Jumat. Karena PLB tak boleh tutup sekejap pun mulai jam lima pagi hingga jam lima sore”.


Perekat Indonesia

145

tetiba menulari diri ini. Tapi tetap Saat ikamah Kegalauan diam menyimaknya baik-baik. sebagai tanda “Mas tahu yang kami lakukan? Lihat ini…” salat dimulai, Kulihat di bahu bidangnya tersampir sajadah. “Saya menyimak khotbah Jumat di masjid saya gelar itu dari jauh. Saya tetap di pos, melakukan sajadah, pemeriksaan. Saat ikamah sebagai tanda dimulai, saya gelar sajadah, tetap di tetap di pos salat pos pemeriksaan. Salatlah saya sambil was pemeriksaan. was. Sambil berharap imam tak seberapa panjang bacaannya sehingga saya bisa lanjut Salatlah saya bertugas. Sumpah, saya sedih. Orang tua saya mengajarkan ibadah salat Jumat dengan benar. sambil was Duduk khusyuk menyimak khotbah, tak kata pun boleh terucap. Datang segera was. Sambil sepatah dan duduklah di saf terdepan, biar dapat pahala berharap imamsebesar unta katanya. Tapi apa yang kami tak seberapa lakukan di sini...” Dia tertunduk, menahan gemuruh. Saya benarpanjang benar tak tahu mesti berkata apa. bacaannya “Jumat demi Jumat, begitu saya lalui, sambi sehingga saya berharap Gusti Allah tak marah. Karena saya tak pernah berniat mengabaikan perintahbisa lanjut Nya. Demi Allah, tidak pernah”, kata-kata terakhirnya terdengar penuh kesungguhan. bertugas. menepuk bahunya. Menatapnya sambil Sumpah, saya Aku tersenyum. sedih. “Saya bangga punya adik kelas seperti kamu. Bea Cukai beruntung punya pegawai sepertimu. Saya kok yakin betul Bu Menteri dan Pak Dirjen bakal bangga dengan sikapmu. Mari berdoa pada Allah, Ia Maha Penyayang,


146

Maha Pengasih, Maha Pengampun. Perasaan yang kamu ceritakan pada saya itu menegaskan bahwa takwa masih kental mewarnai hatimu. Saya bukan ahli agama, saya tak bisa mengatakan boleh atau tidak atas apa yang kamu lakukan. Saya tak punya kompetensi untuk itu. Tapi saya yakin, Allah juga tahu bahwa yang kamu lakukan juga sejalan dengan perintahnya. Kalian melindungi masyarakat dari barang-barang terlarang, kalian melindungi generasi muda dari kehancuran, kalian menjaga masyarakat dari orang-orang yang tak punya rasa tanggung jawab moral apalagi agama”. Dia menatapku. Seperti biasa, penuh keberanian dan kesungguhan. Kucoba membaca tatap matanya. Aku menafsirkannya sebagai terima kasih, minimal ada kelegaan tebersit di sana. Aku tersenyum. Menepuk bahunya lagi. “Saya ke masjid dulu ya”, kututup pembicaraan. “Makasih, Mas”, katanya. Dari masjid kutatap pos pemeriksaan. Dan apa yang kusaksikan persis seperti apa yang dia ceritakan. Aku tak begitu konsentrasi menyimak khotbah. Fokus pikiran dan pandanganku selalu ke pos. Anak muda berseragam dengan sajadah di bahu. Waspada, berani, gagah, tapi tetap santun. Sorenya, di kantor, ditemani sepiring pisang goreng dan secangkir teh hangat, aku mencoba mengulik tentang lelaki itu. Lelaki yang siang tadi mengajarkan padaku tentang integritas pada wujudnya yang paling nyata. Dan aku tak salah, lelaki muda itu bukan pegawai sembarangan. Keberaniannya melawan para “penyelundup terang-terangan” sudah membuatnya jadi setengah legenda. Foto dirinya, berdiri tegak di antara para pelanggar yang menghunus pedang panjang, membuatku terperagah. Rekaman CCTV menunjukkan nyalinya saat berhadapan dengan kekerasan para peleceh hukum. Aku tersenyum, teringat aku menepuk bahunya tadi siang. Saat kukatakan padanya, aku bangga punya adik kelas seperti kamu. Itu kukatakan dengan sungguh-sungguh.


Perekat Indonesia

147

Penyintas di Tepian Pasifik Riza Almanfaluthi, Direktorat P2Humas - DJP

Ahmad Suwardi masih bekerja sampai tengah malam di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tahuna. Sebagai Kepala Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal, ia bersama timnya menyiapkan segalanya untuk acara besok. Akan banyak pejabat datang ke Tahuna untuk menguji coba jaringan Palapa Ring Paket Tengah. Para pejabat itu antara lain Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati; Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara; dan Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey. Palapa Ring adalah proyek pembangunan jaringan serat optik nasional yang menghubungkan seluruh desa di Indonesia dengan jaringan internet berkecepatan tinggi. Awalnya acara akan dilaksanakan di lapangan, namun untuk mengantisipasi cuaca buruk, Sri Mulyani meminta agenda itu dilaksanakan di gedung milik Kementerian Keuangan. Hanya ada dua kantor Kementerian Keuangan di pulau itu: KPP Pratama Tahuna dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Tahuna. Akhirnya KPP Pratama Tahuna ditunjuk sebagai tuan rumah acara. Direktur Jenderal Pajak, Robert Pakpahan, yang ikut dalam rombongan mengaku terkesan dengan suasana KPP Pratama Tahuna. Dalam sejarah Direktorat Jenderal Pajak, Robert


148

Pakpahan merupakan Direktur Jenderal Pajak yang pertama kali berkunjung ke sana. Robert sempat diajak Ahmad Suwardi melihat bentangan pemandangan belakang kantor: Samudra Pasifik yang biru. “Jadi ingin mancing,” kata Robert. Namun jadwalnya yang padat tidak memungkinkan untuk itu. KPP Pratama Tahuna berdiri sejak 2008 yang merupakan gabungan dari Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan Tahuna dan Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi (KP2KP) Tahuna. Letaknya berada di Tahuna, kota kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Tahuna dilintasi jalur gempa sehingga kejadian gempa merupakan hal biasa yang sering terjadi dan dialami masyarakat di sana. Kepulauan Sangihe sendiri berbatasan langsung dengan negeri jiran, Filipina di sebelah utara, Laut Sulawesi di sebelah barat, Samudra Pasifik di timur, dan Laut Maluku di selatan. Wilayah kerja KPP Pratama Tahuna adalah wilayah kepulauan yang terdiri dari 144 pulau, baik yang berpenghuni maupun yang tidak. Wilayah ini juga dikenal dengan sebutan Wilayah 144 Pulau, meliputi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), dan Kabupaten Kepulauan Talaud. “Ini menjadi tantangan sendiri buat kami. Harusnya ada aset Barang Milik Negara berupa kapal boat untuk melakukan kunjungan kerja,” tutur Kepala KPP Pratama Tahuna, Miftahudin. Secara struktural organisasi KPP Pratama Tahuna di bawah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, dan Maluku Utara (Kanwil DJP Suluttenggomalut). Di bawah KPP Pratama Tahuna terdapat KP2KP Talaud. Dengan jumlah personel terbatas sebanyak 65 pegawai, Miftahudin menjadi komandan lapangan untuk menggali potensi perpajakan yang didominasi oleh sektor bendaharawan dan hasil bumi.


Perekat Indonesia

149

Miftahudin juga harus mengatur komposisi pegawainya dengan cermat untuk melayani 35.636 wajib pajak yang terdaftar pada 2018. Sebanyak 58 pegawai berada di Tahuna dan 7 orang lainnya di Talaud. “Hanya empat orang yang berasal dari Manado, sisanya berasal dari luar Sulawesi Utara,” kata Miftahudin menjelaskan asal daerah para pegawainya. Dari Manado, perjalanan menuju Tahuna dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. Ada jadwal penerbangan dari Bandara Sam Ratulangi, Manado, menuju Bandara Naha, Tahuna, yaitu pada pukul 07.00 WITA dengan waktu tempuh lebih kurang 50 menit. Itu pun tidak setiap hari. Hanya ada empat kali penerbangan dalam seminggu. Apabila menggunakan kapal cepat, maka perjalanan dapat ditempuh lebih kurang 6 jam dari Pelabuhan Manado dengan jam keberangkatan pada pukul 09.00 WITA. Jika menggunakan kapal malam yang diberangkatkan pada pukul 19.00 WITA maka perjalanan membutuhkan waktu 9 jam. Miftahudin harus menyisihkan waktu 20 jam dari rumahnya yang berada di Surabaya menuju Tahuna. “Itu pun harus dengan menginap terlebih dahulu di Manado karena jadwal pesawatnya besok pagi,” ujar Miftahudin. Dengan jarak yang jauh, transportasi yang sulit, dan ongkos yang tinggi itu membuat para pegawai yang berasal dari luar Sulawesi Utara harus berpikir dua kali jika sering-sering pulang ke kampung halaman. Paling cepat mereka bisa pulang sebulan sekali. Maka menjadi suatu keberkahan yang luar biasa ketika pada 26 Desember 2018, Sri Mulyani mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 877/ KMK.01/2018 tentang Unit Kerja Kementerian Keuangan di Tempat yang Sulit Perhubungannya. Beleid itu menempatkan Tahuna termasuk salah satu daerah yang sulit perhubungannya. Artinya, dengan ketentuan cuti yang ada, para pegawai Kementerian Keuangan di Tahuna mendapatkan cuti tambahan paling lama 12 hari kalender. Jarak dan waktu tempuh, jumlah pergantian antarmoda transportasi, dan tingkat kesulitan penggunaan moda transportasi menjadi pertimbangan keputusan tersebut. “Tentunya kami sangat senang sekali. Tambahan cuti itu bisa digunakan sebagai tambahan waktu dalam perjalanan dan membuat pegawai lebih mudah


150

dalam menjalankan nilai-nilai Kementerian Keuangan tanpa banyak alasan,” ujar Miftahudin. Hal senada diungkapkan oleh Ahmad Suwardi yang merasa bungah dengan kebijakan itu. “Kami sudah menggaungkan sejak 2017. Kami di sini nggak butuh flexitime, kami hanya butuh flexiday. Bayangkan kalau kami pulang Jumat malam dan sampai tempat tujuan Sabtu hampir Magrib. Supaya tidak bolos ‘kan Minggu pagi kami sudah harus berangkat supaya Senin pagi sudah bisa kerja lagi,” kata Ahmad Suwardi yang sejak Januari 2017 berada di Tahuna. Dari Banyuwangi, tempat keluarganya berada, Ahmad Suwardi membutuhkan waktu paling cepat 17 jam perjalanan sampai di Tahuna. “Kalau ingin irit karena harga tiket selangit seperti sekarang ini, ya harus naik kapal laut. Bisa 24 jam perjalanan. Belum kalau pesawat dari Surabaya delay,” tambahnya. Dengan segala keterbatasan yang ada, Miftahudin dan seluruh pegawai KPP Pratama Tahuna tetap fokus pada tugas dan target yang diemban. Pendirian Pos Pajak, pengembangan sistem permberkasan, dan pembuatan basis data pemeriksaan menjadi inovasi layanan yang terus dijalankan mereka. Pos Pajak didirikan di Pulau Siau. Siau merupakan ibu kota Kabupaten Kepulauan Sitaro. Miftahudin mengirimkan dua pegawainya menjaga pos itu dalam jangka waktu satu minggu secara bergantian. Mereka memberikan pelayanan dan konsultasi kepada wajib pajak di sana yang lokasinya sangat jauh dari Tahuna. Untuk melaporkan pajak, biasanya wajib pajak dari Pulau Siau naik kapal cepat menuju Tahuna. Tiba di KPP Tahuna pukul 5 sore pada saat jam layanan kantor sudah tutup sehingga tidak jarang mereka harus menginap di Tahuna dan besok paginya pada pukul 09.00 mereka harus segera naik kapal. Walaupun berada di daerah perbatasan dan terpencil, dengan berbagai layanan yang diberikan kepada wajib Pajak, KPP Pratama Tahuna menorehkan berbagai prestasi. Pada 2017, KPP Pratama Tahuna mendapatkan penghargaan atas prestasinya dalam Persentase Tingkat Kepatuhan Formal Wajib Pajak Badan dan Orang Pribadi Nonkaryawan Terbaik se-Kanwil DJP Suluttenggomalut. Selain itu, pada 2018, mendapatkan penghargaan sebagai Wajib Pajak Bayar Terbaik Rakorda II Tahun 2018, Kinerja Keuangan Terbaik Tahun 2018, Terbaik


Perekat Indonesia

151

Ketiga Pencapaian Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran Semester I Tahun 2018 di KPPN Tahuna. Miftahudin tak menampik kalau itu semua berkat kerja sama yang selama ini dibangun timnya. Sebagai pemimpin, ia harus dapat memberikan keteladanan, membangun kebersamaan antarpegawai, dan membimbing terus menerus anggota timnya yang kebanyakan anak muda dan baru ditempatkan di Tahuna yang minim hiburan. “Tetapi di sini itu pemandangannya bagus, bukit dan pantainya indah,� ujar Miftahudin. “Di sini harus bahagia dan jangan sampai sakit,� tambah Ahmad Suwardi. Ia mengatakan demikian karena fasilitas kesehatan di Tahuna belumlah mencukupi. Banyak warga Tahuna yang dirujuk ke rumah sakit besar di Manado. Dan tentu mereka harus berkejaran dengan masa karena transportasi masih menjadi kendala sempurna. Miftahudin, Ahmad Suwardi, dan seluruh pegawai KPP Pratama Tahuna adalah para penyintas yang membuktikan negara hadir di perbatasan. Penugasan mereka di sana sejatinya untuk kelangsungan NKRI.


152

Mitra Kerja A. Govinda Jaharuddin, KPPN Fakfak - DJPb

Namaku Achmad. Aku berasal dari Makassar, tetapi ditempatkan jauh di tanah Papua, tepatnya di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Fakfak untuk mengabdi pada negeri ini. Pengabdianku sebagai insan perbendaharaan kumulai setiap pagi sebelum berangkat ke kantor dengan memastikan aku telah berpakaian kemeja rapi, memakai celana kain, bersepatu pantofel, dan tak lupa kukalungkan nametag identitasku. Aku berangkat dengan mengendarai Honda Win tahun ‘98 yang selalu setia menemani perjalananku ke kantor. Sebagai Front Officer, aku dituntut untuk selalu bersikap ramah pada mitra kerja dan memfasilitasi apa pun yang mereka butuhkan demi kelancaran pencairan dana mereka. Namun ada sesuatu yang membuatku heran, mereka sering melakukan kesalahan dalam pembuatan Surat Perintah Membayar (SPM) dan mengajukan SPM yang sering lewat dari batas waktu layanan. Padahal sudah berkali-kali kuberikan petunjuk dan informasi yang kukira akan berguna bagi mereka saat mengajukan pencairan dana juga agar memudahkanku dalam memprosesnya. Jujur saja, menjadi Front Officer memang sangat bertolak belakang dengan stereotip orang Makassar yang dikenal keras. Karena itu, aku berusaha tidak memunculkan watak tersebut di hadapan mitra kerja demi profesionalisme dalam bekerja, meskipun, terkadang watak itu hampir muncul juga saat melayani mitra kerja yang menguji kesabaran. Hingga


Perekat Indonesia

153

Sesampainya di pelabuhan, hal yang kutakutkan terjadi, kami harus menaiki perahu kecil untuk melakukan perjalanan ke desa Beliau karena tidak ada jadwal kapal untuk minggu ini. suatu hari aku mengalami kejadian yang mengubah pandanganku terhadap mitra kerjaku di sini. Hari itu saat hujan deras mengguyur kota, tibalah seorang mitra kerja yang kuketahui sebagai seorang guru yang juga seorang operator aplikasi keuangan. Ia datang ke depan mejaku pada pukul lima sore, tepat pada saat kantor akan ditutup. Kami sebenarnya tak heran lagi dengan kedatangan Beliau yang terlambat karena kami tahu perjalanan dari kantor Beliau ke Fakfak membutuhkan perjalanan satu hari satu malam menaiki kapal laut yang hanya lewat satu minggu sekali. Sesuai peraturan yang berlaku, batas pengambilan nomor antrean layanan adalah pukul 15.00 waktu setempat, namun kantor kami memiliki kebijakan boleh memberikan layanan hingga waktu tutup kantor, yaitu pukul 17.00. Melihat bapak tersebut, aku langsung bertanya, “Kok datangnya terlambat, Pak?” Beliau menjawab dengan nafas yang masih terengah-engah, “Iya, mas, dompetku hilang waktu di kapal, terus ya saya jalan kaki ke sini.” Mendengar itu aku sontak terkaget. “Lah, terus gimana penginapannya? Apa sudah dipesan, Pak?” “Belum, mas, gimana mau pesan, mas, dompetnya aja udah hilang duluan”, jawab si bapak. Bapak itu terlihat basah kuyup dan hanya membawa sebuah tas kulit yang kemungkinan berisi SPM yang akan diserahkan kepada kami. Hati kecilku tergerak melihat seorang guru yang berjuang keras agar operasional sekolahnya terus berjalan. Aku yang sudah berganti sandal jepit dan siap untuk pulang, langsung mengajak si bapak untuk menginap di rumah dinasku yang tidak jauh dari kantor. Sesampainya di rumah, aku langsung menyiapkan kasur busaku


154

satu-satunya yang sudah tipis untuk dipakai Beliau beristirahat. Beliau terlihat kedinginan dan kudengar nafasnya berat serta pendek, hingga akhirnya aku sadar bahwa bapak itu sedang sakit karena terkena hujan tadi sore. Di malam yang sangat gelap, kunyalakan motorku dan segera kuantar si bapak ke rumah sakit. Aku yang masih bercelana pendek, hanya bermodalkan sarung yang digunakan untuk menjaga keseimbangan si bapak agar tidak jatuh dari motor. Aku masih ingat saat itu pukul dua malam di ruang UGD. Aku masih menunggu hasil pemeriksaan si bapak dan saat itu aku bingung siapa yang harus kuhubungi karena yang kutahu hanyalah Beliau seorang guru di suatu desa yang jauh dari Fakfak. Pagi buta, aku dengan mata yang terlihat sendu karena kurang istirahat langsung berangkat ke kantor dan meminta izin cuti kepada atasan untuk mengantar si bapak kembali ke desanya. Berdasarkan alasan tersebut, kepala kantorku segera memberikan cuti kepadaku. Aku pun segera menyiapkan barang si bapak dan langsung membawa Beliau ke pelabuhan dengan ambulans. Sesampainya di pelabuhan, hal yang kutakutkan terjadi, kami harus menaiki perahu kecil untuk melakukan perjalanan ke desa Beliau karena tidak ada jadwal kapal untuk minggu ini. Aku tahu perjalanan dengan perahu kecil ke desa Beliau itu sangat berbahaya dan harganya pun mahal, tapi waktu itu aku tidak berpikir panjang sehingga aku langsung mengiyakan apa yang pemilik perahu tawarkan. Pada saat itu yang kupikirkan hanyalah bagaimana bapak tersebut bisa segera beristirahat dan operasional sekolahnya tetap berjalan dengan lancar. Hampir dua hari kami di atas perahu dan tiga kali kami singgah di pinggir hutan untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Akhirnya tibalah kami di desa beliau pada pukul 05.00 WIT. Saat itu matahari masih malu untuk menunjukkan dirinya. Beliau yang masih terlihat lemas, langsung ke sekolah dan mempersiapkan dirinya untuk mengajar tanpa memperhatikan kesehatannya sendiri. Aku hanya bisa melihatnya mengajar dari depan kelas sembari menunggu Beliau selesai mengajar. Pelajaran di sekolah Beliau berakhir, Beliau pun langsung mendatangiku dan berterima kasih atas apa yang telah kulakukan kepada Beliau. Setelah beristirahat sebentar dan berbincang dengan Beliau, aku langsung menyiapkan barangku, berpamitan kepada Beliau, dan berangkat ke pelabuhan agar bisa segera kembali ke Fakfak untuk bekerja. Dari kisah itulah mataku semakin terbuka terhadap mitra kerja yang kulayani.


Perekat Indonesia

155

Tidak semua dari mereka itu tidak mampu untuk melakukan apa yang telah diarahkan, akan tetapi mereka juga punya pekerjaan lain yang harus mereka lakukan yang membuat fokus mereka terbagi. Aku tidak seharusnya berkeluh kesah dalam menghadapi mereka yang masih belum mampu untuk melakukan apa yang aku ajarkan atau mereka yang terkadang datang melewati jam layanan. Aku juga harus berusaha lebih bersabar dalam melayani mereka dan berusaha lebih mengerti keadaan mereka. Apalagi sekarang aku tidak menganggap mereka mitra kerja lagi, melainkan mereka adalah keluargaku. 16 September 2017, hari yang tidak kusangka. Hari yang membuatku sangat bahagia dan merasakan sedih bercampur aduk menjadi satu perasaan yang tak dapat kulupakan. SK mutasi yang telah lama kutunggu akhirnya menyebutkan namaku dan akan mengembalikanku ke tempat asalku, yaitu Kota Makassar. Hal yang masih membekas di benakku adalah saat para pegawai mengantarkanku ke pelabuhan. Tak kusangka semua mitra kerjaku yang telah kulayani selama ini telah berkumpul di sana. Mereka semua masih berpakaian dinas masing-masing, bahkan ada yang mengeluarkan air matanya saat mengantarkanku ke kapal tujuan Makassar yang masih menungguku. Yang paling membuatku berat hati ialah si bapak ternyata datang jauh-jauh khusus untuk turut serta mengantarku. Tidak hanya sekantong jeruk yang dibawakannya untukku, akan tetapi Beliau juga membawa serantang makanan yang telah disiapkannya khusus untuk bekalku. Berat rasanya akan meninggalkan kota ini, tapi keluarga baruku juga telah menunggu di tujuanku selanjutnya. Pada hari itu, hanya sebuah kalimat yang dapat mewakili semua yang kurasakan, “Selamat tinggal keluargaku, aku tidak akan melupakan kalian�.


156

Ketika Hati Menjadi Teguh Lis Kartika Sari Husana, Kanwil DJPb Provinsi Bangka Belitung

Dini hari itu aku bangun pukul 01.00, bersiap berangkat ke terminal bus yang akan mengantarkanku ke Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang. Biasanya kami menaiki pesawat pukul 06.10, maskapai “Garuda Merah� yang menyediakan penerbangan paling pagi ke Pangkalpinang. Kenapa pagi sekali? Karena aku tidak ingin melalaikan kewajibanku. Tugasku banyak dan aku berharap tidak terlambat ke kantor. Jarak bandara ke kantor yang dapat ditempuh dalam 20 menit memungkinkan kami untuk tidak terlambat ke kantor kalau maskapai kami tepat waktu. Dalam dinginnya udara dini hari, kueratkan jaket yang kupakai. Turun dari bus, segera ku berlari ke pintu keberangkatan di Terminal 1B. Memasuki ruang tunggu, biasanya aku bertemu dengan teman-teman kantor yang biasanya sedang ngobrol atau tertidur setengah pulas. Kami berbincang, membicarakan keluarga maupun pekerjaan kantor. Tidak terasa, waktu boarding sudah tiba, kami mengantre untuk pengecekan terakhir sebelum masuk pesawat. Yah, itulah yang biasanya kami lakukan. Tiap dua minggu sekali kami pulang menemui keluarga kami. Kami terpaksa meninggalkan anak dan istri kami di rumah karena rasanya terlalu melelahkan bagi anak-anakku jika harus ikut berpindah-pindah kota. Pergi saat anak-anak masih terlelap, menaiki burung besi raksasa, dan kembali menerima rasa sepi. “Tunggu aku anakku, aku akan


Perekat Indonesia

157

pulang dua minggu lagi, saat kau akan tidur di malam itu”. Selalu kutanamkan dalam hati bahwa mereka, keluarga yang kucintai, sedang menunggu di rumah. Sesampainya di bandara, kami berjalan dengan cepat, menuju tempat penjemputan untuk segera menaiki mobil yang menjemput kami. Betapa leganya, kami hanya terlambat lima menit. Syukurlah. Segera kami larut dalam pekerjaan masing-masing. Begitu pula hari-hari selanjutnya. Hari itu sungguh melelahkan, aku harus menyelesaikan revisi anggaran kantor kami. Kusampaikan pada stafku bahwa ingin rasanya aku menangis, lelah menjalani hari ini. Betapa tidak, telah beberapa hari kulewati untuk mengisi aplikasi ini, tapi tiba-tiba semua pekerjaan yang sudah kami susun, hilang tak berjejak. Meskipun demikian, kuteguhkan tekadku. Aku bekerja untuk bangsa dan negara, dan aku pun harus mengerjakannya sampai selesai. Betapa leganya, saat pekerjaanku akhirnya selesai, walaupun kemudian aku harus kembali pulang ke rumah tengah malam. Rumah bisu yang hanya bisa terdiam. Betapa rindunya aku akan keluargaku. Namun, keluargaku tidak boleh tahu seperti apa perjuanganku, mereka hanya boleh tahu bahwa aku bahagia di sini. “Sabar, jangan bersedih hati”, ujarku dalam hati. Besoknya, aku berkunjung ke meja temanku. Canda tawa memenuhi ruangannya. Para bulok (bujang lokal) yang ada di kantor kami berkumpul, membicarakan kapan akan pulang ke kampung halaman, memenuhi rasa kangen terhadap keluarga. “Ayo, Pak, pulang, sudah tiga minggu nih. Bang Jali aja tiga minggu pulang”, ujar salah seorang rekan. “Ya, sudahlah ayo pulang, sudah kangen juga dengan keluarga”. Hari itu, kami memutuskan untuk pulang hari Jumat pekan ini. Kami memutuskan untuk pulang dengan tiket penerbangan yang tidak mengganggu jam kerja kami. Hari Jumat, kami naik pesawat dengan penerbangan pukul 17.40 dan hari Seninnya, kami akan kembali mengabdi di kota serumpun sebalai ini dengan menaiki pesawat dengan penerbangan pukul 06.10 dari Jakarta. Kami berkumpul bersama keluarga, senang rasanya, bisa tertawa lepas. Melihat anak-anakku sudah besar membuat hatiku terasa hangat. Ternyata perjuangan ini berbuah indah, nikmat yang tiada bandingannya. Aku harap dapat bersama kembali bersama mereka suatu saat nanti. Kupanjatkan doa, berharap Allah akan memberikan kebaikan di setiap jalan yang


158

kutempuh karena kuyakin Allah Mahabesar, Maha Mengetahui. Dia mengetahui niat baik setiap manusia. Dan kini, aku akan kembali untuk mengawal APBN, membangun negeri di kota itu, Pangkalpinang. Dengan mengucap bismillah, kunaiki pesawat JT 610 dari Jakarta ke Pangkalpinang. Untuk Abdul Khaer, Mohamad Fadillah, Eko Sutanto, Bambang Rozali Usman, Akhmad Endang Rokhmana, dan Joyo Nuroso, semoga kalian selalu dalam lindungan Allah Swt. Amin.


Perekat Indonesia

159

PMK dan Perdirjen, Pahlawanku Haryono Efendi, Kanwil DJPb Provinsi Kepulauan Riau

Raha, sore hari sekitar pukul 15.00 waktu setempat di hari Rabu, bulan Mei 2017, cuaca sangat cerah di Kepulauan Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Cuaca seperti ini sangat mendukung untuk melakukan perjalanan dinasku, mengikuti rapat kegiatan rekonsiliasi atas undangan BPJS Cabang Baubau yang akan diselenggarakan di kantor Wali kota Baubau dengan peserta dari beberapa Kabupaten Pemda di Provinsi Sultra. Dimulai dengan doa dan semangat melaksanakan tugas organisasi, aku berangkat dari KPPN Raha bersama seorang driver KPPN Raha menuju Pemda Kabupaten Baubau dengan perjalanan lebih kurang lima jam. Dengan menggunakan kendaraan dinas dari Raha ke Baubau, biasanya untuk acara rekonsiliasi seperti itu aku didampingi oleh Kepala Seksi Verifikasi, Akuntansi dan Kepatuhan Internal (Kasi Veraki). Namun berhubung dia sedang cuti, maka yang bersangkutan tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut. Ada perasaan senang dan bahagia ketika berangkat ke Kota Baubau. Pun rekan-rekan yang bertugas di kantor ikut senang. Kenapa demikian? Kami senang berangkat ke Baubau karena kami akan bisa melihat indahnya lampu lalu lintas yang kedapkedip yang menandakan bahwa ada keramaian lalu lintas yang cukup lumayan di kota Baubau. Dan lebih bahagia lagi kami bisa melihat swalayan atau mal. Maklum di Raha, di tempat


160

kami bertugas, tidak ada lampu lalu lintas, apalagi mal seperti di kota-kota lainnya. Namun kondisi demikian tidak menyurutkan semangat para pegawai KPPN Raha, justru semakin menjadi pemantik semangat dalam melaksanakan tugas di kota kecil itu. Para pegawai yang sedang tugas di kantor pun senang, mengingat aku sebagai teman kerjanya sudah hampir empat bulan belum melihat swalayan ataupun merasakan makanan-makanan seperti di kota-kota lainnya yang lebih ramai karena selama itu belum ada tugas ke luar kota ataupun panggilan tugas ke kota lain, baik panggilan dari Kanwil DJPb Provinsi Sultra, Kantor Pusat DJPb, ataupun pihak lainnya. Sedangkan yang biasanya ditunggu pegawai ketika ada rekan yang dinas atau tugas ke Kendari, Makassar, ataupun ke Baubau biasanya adalah buah tangan berupa fried chicken atapun Roti Boy yang merupakan makanan kesukaan anak-anak kos seperti mereka, tetapisulit didapat di daerah seperti Raha pada saat itu. Seperti biasa, sebelum bertugas ke luar kantor apalagi ke luar kota, tak lupa terlebih dahulu aku pamitan kepada rekan-rekan semuanya dan sedikit menyampaikan pesan apa yang harus dilakukan di kantor, baik sebagai pemimpin, maupun sebagai sahabat di rantauan. Tak lupa juga aku pamitan ke tokoh masyarakat di lingkungan kantor sebagaimana yang biasa kulakukan kalau sedang pergi dinas ke luar kota. Hal ini aku lakukan, mengingat keberadaan KPPN Raha berada di area permukiman penduduk. Dengan menggunakan mobil dinas Kijang Innova berplat merah serta berpakaian lengkap kebesaran Kemenkeu, yaitu warna biru dengan nametag yang tertulis nama pemberian dari orang tuaku, yaitu Haryono Efendi, aku berangkat menuju ke Kota Baubau. Dalam perjalanan dari Raha ke Baubau, kami tempuh via jalur darat sampai di ujung Kepulauan Muna, baru kemudian menyeberang laut sebentar menuju Kota Baubau. Opsi jalan lain dari Raha menuju Baubau bisa juga melalui jalur laut langsung dengan kapal feri, tetapi aku lebih memilih jalur darat kemudian menyeberang laut sebentar dengan pertimbangan karena kapal feri yang langsung dari Raha ke Baubau hanya dua kali pemberangkatan setiap harinya, yaitu pukul 11.00 dan 13.00, sementara aku harus menyelesaikan tugas terlebih dahulu di KPPN Raha sampai selesai, yaitu sekira pukul 15.00 waktu setempat dan selesai rapatnya di Pemda Kota Baubau belum tentu tepat waktu.


Perekat Indonesia

161

Jalan dari Raha ke kota Baubau melewati hutan-hutan dan terkadang melewati perkampungan sebentar lalu hutan-hutan lagi dan begitu seterusnya selama hampir sekitar dua jam. Jalan-jalan yang kami lewati pada saat itu penuh dengan debu, batu-batu (terkadang batu-batu besar), dan tidak jarang ada kayu-kayu dan pohon-pohon pisang yang rupanya sengaja ditaruh di tengah jalan oleh sekelompok pemuda masyarakat setempat dengan tujuan agar kendaraan, khususnya mobil, berjalan pelan-pelan karena kalau ngebut, maka debu bertebaran di rumah penduduk. Kondisi demikian tergambar dari rumah-rumah penduduk di sekitar jalan yang penuh dengan debu. Dalam perjalanan itu, perasaan kami tidak enak dan terkadang bulu kuduk berdiri ketika memasuki gerbang perkampungan yang terpencil. Perasaan tak enak yang sedari tadi menghantui perjalanan semakin menjadi-jadi. Semakin cepat mobi melaju, maka semakin tak enak pula perasaan, dan kami pun mencoba untuk melambatkan lajunya mobil plat merah itu. Namun, ternyata perasaan malah semakin takut. Seperti maju kena, mundur juga kena. Saat kami memasuki desa Parigi, kami berdua terkejut setengah mati dengan pemandangan yang kami lihat. Ada segerombolan pemuda kampung yang berbadan besar dengan kulit legam, membawa benda-benda tajam dan kayukayu. Sorot mata mereka tajam. Suasana saat itu sungguh mengerikan bagi kami yang hanya berdua di dalam mobil. Panas dingin rasanya badan dan pikiran kami pun sedikit stres. Dalam kondisi seperti itu, aku berusaha menenangkan driver agar tidak terlalu berat beban psikologisnya. Aku pun berupaya tenang. Dari arah depan, segerombolan pemuda tadi menghadang mobil dinas kami yang dari arah depan, tak jauh dari mobil kami, terdapat mobil dinas lainnya, yaitu milik Pemda Kabupaten Muna yang sudah musnah dibakar massa. Saat mobil dihentikan, aku tambah khawatir, tetapi kucoba untuk tetap berdoa meminta perlindungan Allah. Dalam benak da hatiku, aku meyakini bahwa jika kita berniat baik, maka insyaallah kita akan dilindungi. Dengan modal doa, keyakinan, dan niat baik, aku turun dari mobil yang saat itu aku berada di samping driver, sementara dia masih di belakang setir dengan harapan jika tidak terdapat masalah, maka bisa segera berangkat meneruskan perjalanan. Salah satu pemuda gempal dengan didampingi sekitar lima orang langsung


162

menegur kami, “Mau ke mana, Pak?“ Kata mereka dengan nada tinggi. Kujawab dengan nada sopan dan tetap menghormati mereka, “Mohon maaf, Saudaraku semuanya, kami mau ke Kota Baubau karena ada acara kedinasan di sana”. Selanjutnya mereka mengatakan kepadaku dengan nada tinggi lagi, “Anda tahu tidak bahwa mobil berplat merah dilarang masuk sepanjang jalan ini karena jalan-jalan di daerah kami maupun kondisi desa kami tidak terurus oleh pemerintah daerah, maka sebagai bentuk protes ke pemerintah, kami larang mobil dinas memasuki jalan ini, dan apabila memaksa, akan kami bakar seperti mobil di depan.” Pemuda itu menunjuk ke arah mobil Pemda Kabupaten Muna yang sudah dibakar. Dalam benakku, pasti masyarakat di sini sedang demo, sedang marah ke Pemda Kabupaten Muna maupun Provinsi Sultra terkait dengan jalan yang memprihatinkan. Selanjutnya guna meredakan situasi seperti itu, aku langsung mengambil tas di mobil untuk mengambil uang sekitar Rp300.000,00 untuk kuserahkan ke mereka. Namun apa yang terjadi, “Mohon maaf, Pak, kami bukan minta uang, tapi kami butuh jalan yang baik dan pembangunan desa agar diperhatikan!” Mendengar penjelasan seperti itu, aku langsung berpikir bahwa pemuda-pemuda itu sebenarnya baik dan mungkin ada komunikasi yang tersumbat atau pendekatan petugas Pemda yang kurang pas dengan masyarakat setempat sehingga mereka terpaksa marah. Dengan kondisi seperti itu, aku berpikir apa yang harus kulakukan agar sekelompok pemuda tersebut tidak marah. Aku harus bisa menjelaskan kepada mereka tentang apa-apa yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat dalam memajukan masyarakat desa sebagaimana harapan mereka. Dan saat itu aku teringat bahwa masih ada berkas dokumen di mobil yang dipakai saat rapat di Pemda Kabupaten Muna pada beberapa hari sebelumnya, yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 50/PMK.07/2017 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa, juga Perdirjen Perbendaharaan Nomor Per-4/PB/2017 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dan Dana Desa. Berkas tersebut langsung kuambil di mobil sebagai bahan pendekatan yang cukup relavan dengan sekelompok pemuda yang menghadang kami tersebut. Pada saat itu, dengan permohonan maaf aku meminta waktu sedikit untuk memperkenalkan diri dengan menunjukkan nametag bahwa aku pegawai


Perekat Indonesia

163

KPPN Raha yang sekaligus dipercaya sebagai Kepala KPPN Raha. Kujelaskan salah satu tugas baru yang dilakukan KPPN Raha, yaitu melaksanakan penyaluran pembayaran DAK Fisik dan Dana Desa. Aku juga menjelaskan tata cara pengelolaan DAK Fisik dan Dana Desa, serta peranan pemuda dalam pengelolaan DAK Fisik maupun Dana Desa. Sebagai bukti bahwa pembayaran Dana DAK Fisik dan Dana Desa itu ada di KPPN, aku menyerahkan fotokopian dokumen peraturan yang sudah ada di tanganku kepada pemuda tersebut. Alhamdulillah, dengan kujelaskan pembayaran dan pengelolaan DAK Fisik dan Dana Desa kepada para pemuda yang menghadang, respons yang kudapat bukanlah perlakuan kasar, apalagi menyakiti, tetapi sebaliknya, kami di kawal dengan sepeda motor mereka menuju pelabuhan yang berada di ujung Pulau Muna. Setelah sampai di pelabuhan penyeberangan, tak lupa kami mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa di lain kesempatan. Kami pun menyeberang ke kota Baubau dengan selamat. Di hotel, tak lupa kami sujud syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan jiwa kami dan mobil dinas KPPN Raha untuk kemudian kami istirahat sebelum esok harinya mengikuti rapat di Pemda Kota Baubau. Dari pengalaman saat keberangkatan, untuk kepulangan kembali ke Raha, terlebih dahulu kami mengganti plat merah menjadi plat hitam sementara waktu. Hal ini kami lakukan guna menghindari kejadian yang sama, yaitu razia mobil plat merah di jalan yang akan kami lewati menuju Raha. Dan akhirinya kami sampai kembali ke Raha dan bisa bertugas untuk mengawal APBN kita dan bertemu kembali dengan para pegawai KPPN yang ada. Allah telah menyelamatkan kami dan aset negara melalui berkas yang masih ada di mobil, yaitu PMK Nomor 50/PMK.07/2017 dan Perdirjen Perbendaharaan Nomor Per-4/PB/2017. Pembangunan desa dan daerah jelas menjadi prioritas utama pemerintahan. Kue pembangunan yang awalnya hanya berkutat di kota-kota, akan lebih tepat diratakan ke seluruh Indonesia. Hal tersebut tak lepas dari fenomena ketimpangan pendapatan antar daerah. Jadi, sangatlah tepat kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan DAK Fisik dan Dana Desa sehingga rakyat di daerah terpencil ikut merasakan nikmatnya hasil pembangunan. Dengan kejadian yang kami alami tersebut, kami belajar bahwa selama kita


164

senantiasa berbuat baik dan ramah kepada bumi dan isinya, insyaallah orang lain akan menghargai kita dan tentunya Allah juga akan selalu melindungi diri kita. Dan jangan takut untuk bertugas di daerah terpencil karena di sanalah integritas pengabdian kita diuji.


Perekat Indonesia

165

Buku Saku Istimewa Lenni Ika Wahyudiasti, Kanwil DJBC Sulawesi Bagian Utara

“Tapi Pak, saya ‘kan cuma bawa oven bekas yang saya pakai waktu kuliah di Belanda kemarin. Oven itu mau saya hadiahkan buat mama saya di sini. Mosok begitu aja mesti bayar bea masuk dan pajak-pajak segini gedenya? Mahalan pajaknya daripada harga ovennya nih! Bisa nggak, kami nggak usah bayar?” “Ya, nggak bisa. Saudara wajib membayar bea yang tertera dalam PIBK (Pemberitahuan Impor Barang Khusus) ini. Barang impor Saudara tidak memenuhi syarat sebagai barang pindahan yang berhak mendapatkan fasilitas pembebasan bea masuk.” “Tapi saya nggak pernah dapat informasi soal kriteria barang pindahan untuk mahasiswa yang pulang dari belajar di luar negeri seperti ini, Pak. Apa Bea Cukai pernah menyebarluaskan informasinya?!” “Terhadap suatu peraturan yang sudah diundangkan, masyarakat itu dianggap tahu dan wajib tahu, Mas!” Uups, perdebatan di ruang konsultasi antara dua orang tamuku–yang mengaku sebagai mahasiswa yang baru saja menamatkan pendidikan S2-nya di sebuah perguruan tinggi ternama di Belanda, dengan salah seorang Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai (PKC) di kantorku siang itu sepertinya bakal berlangsung “alot” dan tak berujung. Kulihat sang kepala seksi mulai tak sabar dan tersulut emosi, sementara


166

kedua tamuku pun keukeuh tak bergeming dari keinginannya untuk “tak mau” membayar bea masuk dan pajak dalam rangka impor atas barang impor yang diakuinya sebagai barang pindahan yang dibawanya dari Belanda. Kondisi memanas ini tak boleh kubiarkan. Aku harus melakukan sesuatu. Maka, sebagai petugas Layanan Informasi, kucoba berbicara baik-baik dan menjadi mediator di antara mereka. “Begini, Mas Edo, apa yang disampaikan Kepala Seksi PKC bahwa Anda harus membayar bea masuk dan pajak dalam rangka impor atas barang impor yang Anda bawa memang benar. Prosedur ringkasnya bisa Anda baca di informasi yang ada di website kami di www.beacukai.go.id,” jelasku sambil menyodorkan print out dari laman yang kutunjukkan. Kedua tamuku–Edo dan kakaknya, Beny, manggut-manggut. Agaknya mereka mulai paham bahwa kewajiban membayar pungutan impor atas barang yang mereka bawa dari luar negeri tak dapat dihindari lagi. Sejurus kemudian kulanjutkan penjelasanku, “Terima kasih atas pengertian Anda dan sebagai ungkapan terima kasih sekaligus permohonan maaf kami atas ketidaknyamanan yang Anda rasakan, terimalah hadiah kecil ini.” Kusodorkan sebuah buku mungil bertajuk “Mengenal Kepabeanan” kepadanya. “Saya pribadi minta maaf bila informasi dari kami kurang memadai. Namun, untuk selanjutnya Anda bisa membaca berbagai hal seputar masalah kepabeanan di buku itu. Informasi yang ada di dalamnya bisa pula Anda infokan kepada rekan-rekan sejawat Anda sehingga kesalahpahaman seperti ini tak terjadi lagi,” lanjutku. Lelaki berkacamata minus itu tersenyum. Dibacanya sekilas isi buku kecil berukuran 10,5 cm x 15 cm itu. “Lumayan lengkap isi buku ini ya?” Komentarnya. “Masalah impor barang pindahan juga ada.” Kuanggukkan kepalaku dan membalas senyumnya. Kurasa kekecewaannya lantaran harus membayar bea masuk dan pajak dalam rangka impor sedikit terobati oleh small gift dariku ini. Tak lama kemudian mereka berpamitan dan berjanji akan segera kembali untuk menuntaskan kewajiban kepabeanan yang harus mereka penuhi.


Perekat Indonesia

167

“Untung Mbak Ika bisa membujuk dia supaya mau bayar. Saya udah capek tadi meladeni kengototannya, Mbak,” cetus Kepala Seksi PKC lega. “Berhadapan dengan pengguna jasa memang butuh kesabaran ekstra dan strategi khusus, Pak. Pemberian hadiah kecil tadi salah satu kiat jitunya,” sahutku dengan senyum lebar. Tak dapat kupungkiri, kejadian kecil itu menjadi pelajaran besar buatku dan rekan-rekan yang bertugas di Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi saat itu. Sejak itulah, buku saku kepabeanan tersebut menjadi “senjata andalan” kami untuk menjawab kegundahan para pengguna jasa yang datang ke kantor kami. Buku kecil itu kami jadikan “hadiah istimewa pelipur lara” atau di lain kesempatan, ia kami jadikan door prize cantik saat kami melakukan berbagai aktivitas sosialisasi. “Hmm, bukankah pada dasarnya setiap orang akan bersuka cita bila diberi hadiah, sekecil apa pun wujudnya?” Kujamin senyumku bakal selalu mengembang lebar bila mengenang kejadian itu. Sekian tahun telah berlalu. Kembali kupandang dan kutimang-timang buku saku bersampul kuning cerah yang ada di tanganku. Tak pernah kuduga bila buku kecil berisi tanya-jawab seputar masalah kepabeanan ini akan menjadi “dewa penyelamat” kami ketika menghadapi “kerewelan” masyarakat yang berinteraksi dengan institusi kami. Pun tak kusangka bahwa buku yang kubuat “setengah terpaksa” tersebut bakal menjadi instrumen jitu pereda kemarahan dan kekecewaan pengguna jasa. Ternyata dampak keberadaannya tak semungil wujudnya. Hingga tanpa sadar anganku melayang ke hari-hari ketika kutengggelamkan diri menyusun buku itu sekian bulan sebelumnya. *** “Lagi ngapain, Mbak? Bertapa terus nih di ruangan?” Tanya kepala kantor. Dihampirinya meja kerjaku yang penuh dengan beragam brosur dan aneka peraturan kepabeanan. “Ini, Pak, lagi nyiapin buku saku kepabeanan sebagai pelengkap isi goody bag yang akan kita bagikan kepada para juri dan tamu di acara penilaian lomba


168

kantor percontohan nanti,” jawabku cepat tanpa menghentikan kegiatanku mengetik materi tanya-jawab yang terpampang di layar komputerku. “Memangnya kita harus punya buku ini?” Tanyanya lagi. Terselip keraguan di balik pertanyaan Beliau. “Menurut saya begitu, Pak,” sahutku tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer. Waktuku hanya tersisa beberapa hari lagi untuk menyelesaikan seluruh materi buku ini sebelum batas waktu naik cetak. Buku ini harus siap sebelum hari “H” Penilaian Kantor Pelayanan Percontohan Tingkat Kementerian Keuangan yang tinggal hitungan pekan. Aku tak boleh berleha-leha. “Ketika KPPBC Kediri ikut lomba kantor percontohan, mereka bikin Buku Saku Cukai, Pak. Karena kantor kita juga memberikan pelayanan cukai, maka buku yang sama pun saya siapkan berdasarkan materi yang ada pada mereka dengan sedikit editing. Persoalannya, kantor kita ‘kan juga menangani masalah kepabeanan, bahkan tipologinya pun sebagai Kantor Madya Pabean. Masa kita hanya menyiapkan buku saku cukai? Kurang pas dong, Pak,” lanjutku lagi. “Memangnya kantor lain nggak ada yang punya? Atau kantor pusat mungkin? Biar kita nggak perlu repot-repot bikin sendiri, Mbak. Ini waktunya ‘kan udah mepet banget,” komentar kepala kantor. “Saya sudah coba konfirmasi ke kantor pusat maupun ke KPPBC lainnya, Pak. Ternyata belum ada satu pun yang punya,” jawabku. “So, kita bikin sendiri aja deh!”

Inovasi itu tak selalu harus berupa sesuatu yang ‘wah’ dan rumit. Menurutku, bikin hal sederhana yang memudahkan pekerjaan kita sehari-hari di unit kerja kita masingmasing juga bisa disebut sebagai inovasi lho, Ka!


Perekat Indonesia

169

“Sanggup bikinnya, Mbak? Sendirian?” Sangsinya. “Insyaallah bisa, Pak,” sahutku yakin. “Dibantu beberapa rekan kok. Ada Pak Didik dan Mbak Icha yang siap membantu. Kami siap berbagi tugas dan saling mendukung. Kebetulan sudah saya inventarisasi bahan-bahannya, sudah saya susun pula daftar isinya sebagai kerangka acuan. Tinggal disusun dalam bentuk tanya-jawab aja, Pak. Saya rasa, masyarakat akan lebih mudah memahami jika informasi kepabeanan kita kemas dalam bentuk tanya-jawab seperti ini.” Begitulah. Niat awal membuat buku saku itu semata-mata hanya sebagai pelengkap isi goody bag dalam Penilaian Kantor Pelayanan Percontohan yang diikuti kantor kami beberapa tahun silam. Idenya pun meneladani KPPBC Kediri yang terlebih dahulu punya buku saku cukai yang mereka buat saat menjadi peserta lomba kantor pelayanan percontohan periode sebelumnya. Maka, dengan sedikit pengetahuan literasi dan jurnalistik yang kumiliki, kucoba meramu sejumlah peraturan dan brosur-brosur yang ada menjadi sebuah buku saku tanya-jawab yang menarik agar siapa pun yang membacanya nanti bakal mengenal selukbeluk kepabeanan tanpa bersusah-payah membaca ketentuan hukumnya. “Oke, silakan dilanjutkan inovasi dan kreativitasnya deh, Mbak! Saya dukung sepenuhnya.” Hei, apa Beliau bilang? Inovasi? Benarkah yang tengah kulakukan ini sebuah inovasi? Padahal hanya sebuah buku saku kecil seputar masalah kepabeanan yang hendak kubuat. Mendadak kuingat seorang teman pernah berujar, “Inovasi itu tak selalu harus berupa sesuatu yang ‘wah’ dan rumit. Menurutku, bikin hal sederhana yang memudahkan pekerjaan kita sehari-hari di unit kerja kita masing-masing juga bisa disebut sebagai inovasi lho, Ka!” Hmm, kurasa ia benar. Inovasi tak melulu identik dengan penciptaan sistem aplikasi rumit yang berbasis teknologi. Inovasi tak pula harus berupa rancangan hebat yang dibuat dengan dana besar dan pembahasan berbulan-bulan. Sebuah pembukuan sederhana yang mempermudah pencarian berkas kerja pun bisa jadi merupakan inovasi!


170

Karena itulah, inovasi bisa dilakukan oleh siapa pun dan kapanpun di setiap lini, tak melulu oleh mereka yang berada di unit teknis sebuah institusi. Bahkan, tak jarang, inovasi muncul dari sebuah “keterpaksaan” kondisi seperti yang tengah kualami! Ah, aku tak peduli apakah hal kecil yang kulakukan ini terbilang inovasi atau bukan. Pun tak hendak kutuntut penghargaan serupa namaku tertera sebagai penyusunnya di sampul depan. Cukuplah bila suatu saat nanti kudapati kantorkantor lain melakukan hal yang sama–atau bahkan lebih baik, ataukah direktorat yang berwenang mengambil alih pembuatan buku sederhana ini sebagai salah satu instrumen sosialisasi kepabeanan untuk mencerahkan pemahaman masyarakat akan tugas pokok dan fungsi DJBC. Cukuplah kuyakini, hal sederhana ini ‘kan mendukung misi Kementerian Keuangan untuk mencapai tingkat pendapatan negara yang tinggi melalui pelayanan prima serta pengawasan dan penegakan hukum yang efektif guna mewujudkan visi kementerian yang kita banggakan ini, “Menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang produktif, kompetitif, inklusif, dan berkeadilan di abad ke-21.” Maka, adakah hal lain yang lebih membahagiakan selain ketika hasil kerja kita bernilai dan bermanfaat untuk sebuah kebaikan kecil institusi tercinta sebagai bagian dari kontribusi kita dalam mewujudkan Indonesia bersatu yang maju dan bermartabat?


Perekat Indonesia

171

Sinergi Dengan Masyarakat Setempat dalam Rangka Tour Of Duty Anandita Ramdhani Widigdya, Kanwil DJPb Provinsi Jambi

Seberapa dekatkah kita mengenal Ketua Rukun Tetangga (RT) di rumah masing-masing? Pertanyaan ini kesannya sangat sederhana tetapi mengandung arti penting mengenai hubungan antara warga dengan pengurus RT di lingkungannya. Ketua RT yang notabene didaulat sebagai pihak yang mewakili masyarakat, memiliki peran strategis bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, seperti keagamaan, kesejahteraan, sosial, politik, budaya, dan keamanan. Mungkin bagi pegawai yang bekerja di daerah homebase akan kenal lebih dekat dengan ketua RT-nya. Bahkan bisa jadi sebagian pegawai Kementerian Keuangan menjabat sebagai ketua atau pengurus RT. Akan tetapi, bagaimana dengan pegawai yang menjalankan tour of duty ke berbagai kota/ kabupaten di penjuru negeri? Kenalkah mereka dengan warga lingkungan sekitar? Apakah mereka mengetahui rumah pengurus RT? Atau apakah pegawai tersebut pernah melaporkan diri bahwa yang bersangkutan merupakan warga baru di lingkungan tersebut? Deretan pertanyaan di atas sudah sepatutnya kita pertanyakan sebagai warga negara yang baik. Namun demikian, kita sebaiknya memiliki kewajiban dan budaya untuk berbuat lebih baik dalam berkontribusi, bukan hanya untuk organisasi,


172

melainkan kepada lingkungan masyarakat tempat tinggal masing-masing. Tour of Duty Insan Perbendaharaan Direktorat Jenderal Perbendaharaan memiliki sekitar 7.600 pegawai dalam melaksanakan tugas untuk mengawal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai lebih dari Rp2.461 triliun pada tahun 2019. Pegawai tersebut ditugaskan pada kantor pusat dan instansi vertikal yang tersebar di setiap provinsi dengan total sebanyak 34 Kantor Wilayah (Kanwil) dan 182 Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) di berbagai kabupaten/kota. Sering kali dalam menjalankan penugasan tersebut, pegawai DJPb ditempatkan pada kantor yang jauh dari homebase. Walaupun demikian, penempatan yang jauh dari rumah tetap dipenuhi oleh segenap insan perbendaharaan yang menyadari arti pentingnya peran mereka pada kantor yang menjadi tempat penugasan. Sebagai strategi pengelolaan sumber daya manusia dengan lokasi kantor yang tersebar di nusantara, kantor pusat DJPb memiliki kebijakan mutasi tiap beberapa tahun atau yang sering dikenal dengan istilah tour of duty. Pola mutasi tersebut mengakibatkan pegawai berpindah-pindah kantor dalam beberapa tahun sesuai dengan berbagai faktor, seperti periode penempatan di suatu daerah, mendapatkan beasiswa, memperoleh promosi atau menjelang masa purnatugas. Konsekuensi tersebut mengakibatkan para pegawai yang berpindah ke lokasi penugasan harus cepat beradaptasi pada pekerjaan dan kantor baru, serta lingkungan tempat tinggal masing-masing Situasi Lingkungan Perumahan di Jambi Sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: 39/ PB/UP.9/2018 tanggal 16 Agustus 2018 tentang Mutasi dan Pengangkatan dalam Jabatan Pengawas di Lingkungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan, terdapat tujuh pegawai baru yang ditugaskan pada Kanwil DJPb Provinsi Jambi. Pegawai tersebut berasal dari berbagai kabupaten/kota di pulau Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Selain berasal dari kantor vertikal di berbagai daerah tersebut, para pegawai baru turut membawa budaya lokal dari tempat pegawai tersebut berdomisili. Hal ini tentunya membawa warna tersendiri ketika bersosialisasi di organisasi dan lingkungan tempat mereka tinggal. Sebagian pegawai baru tersebut ditempatkan pada rumah dinas yang berjarak


Perekat Indonesia

173

sekitar satu kilometer dari Kanwil DJPb Provinsi Jambi. Kompleks rumah dinas dimaksud terletak di Kelurahan Telanaipura yang merupakan lingkungan perumahan yang relatif sepi, tidak jauh dari Kompleks Perkantoran Gubernur Jambi, dan terletak dekat dengan dua jalan utama di Kota Jambi, yaitu Jalan Mayjen H.M. Yusuf Singedekane dan Jalan R.E. Martadinata. Lokasi perumahan yang cukup strategis, bukan hanya memudahkan akses bagi warga, akan tetapi menyebabkan peluang terjadinya kejahatan dengan memanfaatkan waktu ketika para warga meninggalkan rumah di siang hari untuk beraktivitas. Tidak heran jika kerap didengar berita mengenai rumah warga dan rumah dinas yang dibobol maling ketika para penghuninya sedang berada di luar rumah. Sosok Ketua RT 03 Telanaipura Guna menjaga keamanan lingkungan, hubungan yang baik perlu dibina dengan warga sekitar rumah, termasuk ketua RT setempat. Oleh sebab itu, para pegawai baru disarankan melaporkan diri kepada perangkat RT di tempat tinggal masingmasing dan berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang melibatkan warga. Pada kesempatan ini, para pegawai penghuni rumah dinas di Kelurahan Telanaipura mengajukan lapor diri kepada Ketua RT 03 yang ternyata hanya berjarak dua puluh meter dari kompleks rumah dinas. Kondisi rumah Ketua RT tersebut terbilang cukup sederhana. Rumah bernuansa hijau itu terdiri dari satu ruang depan, dua kamar tidur, dan hanya memiliki lantai beralaskan semen. Sebuah TV tabung tampak menjadi hiburan satu-satunya bagi seluruh anggota keluarga. Sepertinya, aktivitas anggota keluarga berpusat di ruangan ini. Tampak tumpukan baju yang telah disetrika dan beberapa dokumen serta kitab suci tersusun rapi di ruangan tersebut. Di depan rumah, terbentang halaman yang cukup luas dengan runtuhan puing bangunan sebagai alas dan beberapa pohon untuk peneduh perkarangan. Sosok pemilik rumah tersebut ialah Bapak Haris Fadilla. Pria paruh baya kelahiran 54 tahun silam dan merupakan putra daerah Jambi. Berbekal pendidikan di Universitas Jambi, Pak Haris merantau ke Jakarta di tahun 1990an dan kembali ke Jambi tujuh tahun kemudian dengan membawa seorang istri dan putra. Saat ditanyakan mengenai pekerjaan, Beliau menyatakan bahwa saat ini menyibukan diri dengan mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi Ketua RT 03 yang menaungi tuju puluh kepala keluarga. Beliau juga aktif di masjid dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan Kelurahan Telanaipura, seperti menjadi panitia Pemilu.


174

Tentunya berbagai kegiatan dimaksud tidak memberikan penghasilan yang sedemikian besar seperti pegawai Kementerian Keuangan. Alih-alih memanfaatkan latar belakang pendidikannya untuk mendapatkan pekerjaan, Bapak Haris tetap senang dalam berkontribusi kepada masyarakat secara penuh waktu dan aktif di kegiatan keagamaan. Untuk menyiasati hal tersebut, Pak Haris membagi dua rumahnya untuk dikontrakkan dan diisi dengan beberapa pekerja bangunan dari luar Jambi. Pun putra satu-satunya turut membantu ekonomi keluarga dengan menjadi tenaga honorer di suatu instansi pemerintah kota dan bekerja ekstra menjadi pengemudi ojek daring di malam harinya. Namun demikian, situasi ini tidak membuat Bapak Haris patah arang. Beliau tetap bersemangat membantu warga memenuhi keperluan terkait administrasi pemerintahan, serta berkoordinasi dengan perangkat pemerintahan lainnya untuk menjaga keamanan lingkungan sekitar. Peran Pegawai DJPb dalam Masyarakat Berkaca dari sosok Ketua RT 03 dimaksud, tampak besar perjuangan hidup dan pengabdian yang telah Beliau berikan kepada masyarakat untuk dapat dijadikan inspirasi bagi segenap pegawai Kementerian Keuangan. Kita yang telah memberikan kontribusi nyata bagi organisasi dalam pengambilan kebijakan hingga sebagai penentu keputusan pada berbagai level sampai dengan lingkup nasional, sudah sepatutnya turut berkontribusi pada masyarakat. Dengan berbagai keahlian berupa hard competency di bidang keuangan negara, kemampuan literasi, latar belakang pendidikan yang tinggi, dan juga soft competency dalam hal kepemimpinan dan pengorganisasian, membuat kita memiliki potensi yang besar untuk berbuat nyata di lingkungan tempat tinggal. Ditambah lagi dengan jaringan hubungan kerja yang tersebar dari pemerintah pusat dan daerah hingga institusi perbankan, menambah luasnya berbagai hal yang dapat diberikan sebagai pengabdian kepada negara dalam bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Sebagai makhluk sosial, interaksi antara pegawai dengan masyarakat diperlukan sebagai bentuk hubungan majemuk dan meningkatkan kondisi berbagai faktor lingkungan, termasuk kesejahteraan dan keamanan warga. Saat ini yang dibutuhkan ialah langkah nyata berupa implementasi keterlibatan para pegawai di berbagai komunitas masyarakat.


Perekat Indonesia

175

Sebagai ilustrasi, untuk meningkatkan tingkat ekonomi warga, peran pegawai DJPb yang memiliki informasi dan jaringan pada program kredit Ultra Mikro (UMi) dapat menjadi langkah kontribusi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Selain dari pada itu, kebutuhan dasar warga sekitar akan fasilitas umum dan sosial, seperti prasarana jalan, jembatan, pendidikan, dan kesehatan merupakan salah satu sisi yang dapat dipenuhi melalui jaringan pegawai DJPb pada pemerintah daerah. Kewenangan pengelolaan keuangan dalam Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dan Dana Desa, membuat pegawai DJPb memiliki hubungan yang erat dengan pemerintah daerah. Oleh karena itu, kita dapat menyampaikan kebutuhan warga sekitar terkait infrastruktur yang dapat dipenuhi dari dana transfer dimaksud. Beberapa contoh di atas merupakan wujud nyata kontribusi yang dapat kita lakukan. Sebagaimana Bapak Haris selaku Ketua RT 03 Telanaipura yang memiliki keterbatasan ekonomi, tetapi mampu mengabdikan diri ke masyarakat, maka sudah sudah sepatutnya pula kita memberikan hal yang terbaik sesuai dengan kapasitas kita kepada lingkungan warga sekitar.

Dengan berbagai keahlian berupa hard competency di bidang keuangan negara, kemampuan literasi, latar belakang pendidikan yang tinggi, dan juga soft competency dalam hal kepemimpinan dan pengorganisasian, membuat kita memiliki potensi yang besar untuk berbuat nyata di lingkungan tempat tinggal.


176

Jawaban Tuhan Itu Bernama Kanwil DJPb Avviz Elfarij, Kanwil DJPb Provinsi Maluku Utara

Suatu hari di bulan Januari 2018, kepala kanwil di tempatku bertugas bertanya padaku, “Kamu pernah nanganin masalah BLUD, dek?” “Belum pernah, Pak Edo”, jawabku seraya menggelengkan kepala. “Mulai sekarang, kamu harus fight ya, target April 2018 harus beres, nanti saya akan bimbing kamu”, lanjut beliau. Dengan refleks aku pun menyambutnya dengan kata, “Siap, Pak”. Entah kekuatan apa yang mendorong aku mengatakan itu karena bahkan hati kecilku pun berbisik, “Kamu gak tahu apaapa tentang BLUD!” Bagi beberapa kalangan, istilah Badan Layanan Umum Daerah atau disingkat BLUD mungkin masih terdengar asing. Berdasarkan pengertiannya, BLUD adalah sistem yang diterapkan kantor/unit kerja pemerintah daerah dalam rangka melayani masyarakat dengan fleksibilitas pengelolaan keuangan. Fleksibilitas tersebut merupakan pengecualian dari pola pengelolaan keuangan negara/daerah secara umum. Dengan itu, unit kerja BLUD dapat melayani masyarakat melalui praktik bisnis yang sehat tanpa terhambat aturan birokrasi seperti pada umumnya. Di lingkungan pemerintah daerah, BLUD dapat diterapkan pada unit/dinas yang menyelenggarakan layanan


Perekat Indonesia

177

umum, terutama di bidang kesehatan, unit/dinas yang mengelola dana khusus, dan unit/dinas yang mengelola kawasan khusus. Tulisan ini bukan untuk menceritakan apa itu BLUD, tetapi untuk mengisahkan bagaimana aku bersama tim Kanwil DJPb Provinsi Maluku Utara (Malut), berupaya untuk memberikan sumbangsih nyata bagi kemajuan BLUD di Malut. Sesuai tugas dan fungsinya, Kanwil DJPb memiliki peran untuk memberikan asistensi dan bimbingan kepada BLUD. Entah kebetulan atau mungkin jalan yang Tuhan berikan, aku memiliki tugas untuk mengoordinasikan pelaksanaan asistensi dan bimbingan kepada BLUD di wilayah Malut. Sesuai arahan Kepala Kanwil, sekitar akhir tahun 2017, aku diminta untuk menginventarisasi BLUD yang ada di Malut. Hasilnya, dari sebelas Pemda di Malut, hanya terdapat satu BLUD, yakni RSUD Labuha di Kabupaten Halmahera Selatan. Berbekal kondisi tersebut, Kanwil DJPb Provinsi Malut berinisiatif menyelenggarakan rapat koordinasi BLUD di wilayah Malut. Seluruh Rumah Sakit Pemda di wilayah Malut diundang dalam acara tersebut. Kenapa rumah sakit yang diundang? Alasan kami mungkin sederhana, tetapi lagi-lagi mungkin ini jalan Tuhan. Ya, kanwil mengundang rumah sakit karena mereka adalah unit layanan yang sangat dekat dengan masyarakat. Dan tahu ‘kan, mereka berjuang demi kesehatan manusia yang sering dikaitkan dengan hidup dan mati seseorang. Hari itu, Senin 15 Januari 2018 menjadi babak baru bagiku tentunya, berurusan dengan hal yang bernama BLUD. Kanwil DJPb Malut mengundang rapat seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah di Malut. Hasil rapat memutuskan bahwa Kanwil DJPb Malut akan membantu pembentukan BLUD rumah sakit di wilayah Malut. Sementara itu, aku mendapat tugas untuk mengoordinasikan pembentukannya, serta dituntut untuk dapat menelurkan tiga BLUD baru di Malut pada bulan April 2018. Dengan kata lain, waktu yang saya miliki adalah tiga bulan! Apakah tuntutan itu berat? Tentu saja, karena sebuah rumah sakit dapat ditetapkan sebagai BLUD apabila telah memenuhi berbagai persyaratan. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun aku menganggap bahwa ini adalah sebuah tantangan dan aku bertekad bahwa dalam prosesnya nanti harus bekerja dengan ikhlas. kepala kantorku, Edward atau biasa dipanggil Pak Edo, adalah sosok yang sangat concern terhadap


178

sesuatu yang menurutnya bermanfaat, dalam hal ini tentu saja penerapan BLUD di Rumah Sakit Daerah. Dia mememberikan challenge kepadaku untuk menapaki suatu level baru dalam bekerja. Hari-hari selanjutnya adalah saat aku harus berjibaku dengan peraturanperaturan tentang BLUD, berkomunikasi dengan pihak rumah sakit, dan tentu saja yang tidak boleh dilupakan tugas-tugas rutin lainnya yang harus tetap dikerjakan. Mendampingi tim rumah sakit menyusun dokumen persyaratan administratif menjadi pekerjaan yang paling menguras waktu dan tenaga. Bayangkan, pegawai rumah sakit yang mayoritas lulusan kesehatan masyarakat harus menyusun rencana strategi bisnis dan laporan keuangan! Tentu tidak mudah mendampingi mereka, rasa stres dan gampang marah pun acap kali muncul ketika progress pekerjaan mereka tak sesuai dengan harapan. Apalagi saat harus bekerja sampai tengah malam, kondisi badanku jadi lebih mudah menurun. Namun, perlahan aku mulai memaklumi keadaan yang ada. Kutanamkan dalam hati bahwa apa yang kulakukan bukan untuk tugas kantor semata, tapi ladang ibadah untuk mengharap pahala dari Tuhan. Alhamdulillah, badan dan pikiranku mulai beradaptasi dengan tekanan pekerjaan. Suatu ketika, aku harus pergi ke RSUD Tobelo karena diminta Tim RSUD untuk me-review seluruh dokumen persyaratan administratif. Sebenarnya bagiku tidak masalah pergi ke Tobelo untuk me-review dokumen mereka, tetapi menjadi berbeda ketika kegiatan itu harus kujalani ketika bulan Ramadan, saat aku punya kewajiban untuk berpuasa. Perjalanan ke Tobelo harus ditempuh dengan menyeberangi lautan dan melewati hutan-hutan dan jalan yang berkelok. Apakah aku pernah mengeluh? Tentu saja pernah dan itu wajar. Tetapi aku kembali mengingat apa yang sudah aku tekadkan, bekerja sekaligus ibadah sebagai ladang untuk memperoleh pahala. “Kamu gak apa-apa ke Tobelo puasa-puasa gini?� Tanya Pak Edo. “Gak apaapa, Pak. Justru kalau sambil puasa gini pahalanya dobel�, jawabku mantap. Alhamdulillah sampai di Tobelo dengan selamat, segera kulaksanakan tugas. Rasa lelah pudar ketika bertemu dengan wajah-wajah Tim RSUD yang tampak banyak berharap kepadaku untuk membantu mereka. Dan syukurlah, perjalanan ke Tobelo tak sia-sia. Setelah dilakukan beberapa perbaikan, dokumen persyaratan administratif RSUD Tobelo untuk menerapkan BLUD sudah layak untuk diuji oleh Tim Penilai.


Perekat Indonesia

179

Selepas magrib kami rehat sejenak sambil menikmati hidangan buka puasa. Direktur RS Tobelo menyampaikan rasa terima kasih. “Terima kasih, mas, selangkah lagi kami bisa menerapkan BLUD di rumah sakit ini, tinggal menunggu penilaian dari Tim Penilai”, ujar direktur RS. “Ah, gak apa-apa, Pak, sudah jadi tugas kami”, jawabku. Dan kemudian dia pun bercerita bahwa sudah empat tahun terakhir dirinya dan tim berusaha untuk menerapkan pola BLUD di RS Tobelo. “Tapi gak pernah berhasil, Pak, pelatihan-pelatihan yang diikuti menjadi mubazir karena tidak ada yang memantau hingga akhir”, lanjutnya. Selanjutnya, aku berusaha untuk tidak terbuai atas pujian-pujian yang dilontarkan direktur RS. Kujawab bahwa itu semua bagian dari tugas dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tak disangka, beberapa saat kemudian aku sedikit tercekat dan kaget ketika dia mengatakan bahwa aku dan tim kanwil adalah Jawaban Tuhan atas harapan-harapan dia selama ini. “Bagi saya, Kanwil (DJPb) adalah jawaban Tuhan atas doa dan usaha yang telah kami lakukan untuk menerapkan BLUD di RS Tobelo”, ujarnya. “Ah, Bapak bisa saja, tapi makasih, Pak”, jawabku sedikit canggung. Kini, lima rumah sakit Pemda di Maluku Utara telah menerapkan pola BLUD, serta tiga Puskesmas dan dua rumah sakit lainnya sedang bersiap diri untuk penetapan BLUD. Tugas yang kuemban belum usai. Seperti saat ini, telah lewat waktu isya, aku masih berjibaku untuk membantu mengevaluasi kinerja RS. Lelah? Pastinya, tetapi apabila mengingat kembali apa yang diucapkan direktur RS Tobelo tempo hari, rasa lelah itu seakan mundur teratur. Malam ini, hati kecil ini bertanya, “Adakah hal lain yang membuat kita bangga atas pekerjaan yang telah kita lakukan selain ucapan Direktur RS Tobelo tempo hari?” “Hmm, entahlah”, gumamku seraya merebahkan badan ke sandaran kursi. Dan, tanpa sadar aku pun menggelengkan kepala.

Bagi saya, Kanwil (DJPb) adalah jawaban Tuhan atas doa dan usaha yang telah kami lakukan untuk menerapkan BLUD di RS Tobelo.


180

Simponi: Bukan Sekadar Create Billing Setoran PNBP Muslikhudin, Direktorat PNBP - DJA

“Apakah bisa diubah tanggal pelaksanaan nikah dikarenakan salah ketik?” Sebuah pertanyaan menggelitik di help desk Sistem Informasi PNBP Online (SIMPONI) dari calon pengantin yang telah ditentukan tanggal pernikahannya. SIMPONI adalah Sistem yang memfasilitasi pembayaran/penyetoran PNBP dan penerimaan negara lainnya secara online yang melayani 24 jam sehari dan 7 hari full dalam seminggu. Aku senyum-senyum sendiri ketika membuka help desk SIMPONI pagi itu. “Hebat banget ya, SIMPONI”, pikirku dalam hati. Kalau selama ini, di sebagian masyarakat, menentukan tanggal pernikahan atau mencari tanggal baik dengan referensi primbon/weton atau shio bagi masyarakat Tionghoa, maka ada fenomena baru pikirku, “SIMPONI bisa menentukan tanggal pernikahan seseorang!” Masih sambil tersenyum, kujawab pertanyaan dari seorang calon pengantin yang akan menikah tersebut bahwa dia tinggal membuat billing PNBP kembali yang benar sesuai dengan tanggal pernikahannya, tanpa harus mengubah hari pernikahan. Billing yang salah akan terhapus secara otomatis jika tidak terbayar setelah tanggal kedaluwarsanya billing. Ada juga pertanyaan lainnya di help desk SIMPONI: “Kode billing 820180706159151 atas nama Wasta/Suhermi Prihatini


Perekat Indonesia

181

di-cancel karena Beliau menikah di Kantor KUA”. Kalau hal ini adalah pertanyaan bagaimana calon pengantin mendapatkan kembali biaya nikah yang telah mereka bayar sebesar Rp600.000,00. Saat ini orang yang tidak mampu (miskin) dan calon pengantin yang menikah di Kantor KUA tidak dipungut biaya nikah. Dalam terminologi Undang-Undang PNBP yang baru (UU 9/2018) disebut tarif 0 (nol). Oleh karena itu, calon pengantin tersebut berhak mendapatkan pengembalian uang sebesar Rp600.000,00 yang telah mereka bayar dengan mengajukan ke KPPN terdekat. Lain lagi cerita lagi dengan pertanyaan dari seorang Bendahara Desa: “Mohon informasinya, saya mau bikin billing untuk pembayaran BPJS Perangkat Desa di Kabupaten Bangka Tengah, akan tetapi untuk Sayan pembayarannya tidak muncul. Mohon bantuannya dan terima kasih”. “Hmmm, ternyata ada ya pembayarannya dari desa-desa di seluruh Indonesia?” Pertanyaan dalam hatiku ketika membaca pertanyaan tersebut. Aku langsung mempelajari tentang serba-serbi yang berkaitan dengan pengelolaan Dana Desa dalam APBDes dengan membaca peraturan-peraturan terkait dan bertanya kepada para ahli pengelolaan Dana Desa. Ternyata, mulai tahun 2015, Pemerintah mengalokasikan Dana Desa dalam APBN. Berdasarkan Pasal 31 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, Bendahara Desa sebagai wajib pungut Pajak Penghasilan (PPh) dan pajak lainnya, wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke Rekening Kas Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Peraturan ini yang menjadi rujukan Bendahara Desa untuk menyetor Iuran Jaminan Kesehatan BPJS Perangkat Desa dengan menggunakan SIMPONI. Jika merujuk ke Peraturan Menteri Keuangan Nomor 226/PMK.05/2016, Pembayaran Iuran BPJS dari potogan gaji pemerintah desa tidak masuk sebagai Dana PFK (Perhitungan Fihak Ketiga). Oleh karena itu, pembayaran Iuran BPJS-nya langsung ke BPJS, tidak melalui SIMPONI. Walaupun sudah sering dijelaskan dalam help desk SIMPONI, namun masih saja pertanyaan yang sama dari para perangkat desa di seluruh Indonesia muncul dan muncul lagi di papan help desk SIMPONI hingga saat ini. Setiap kali ada pertanyaan yang sama, setiap kali pula senyum heranku selalu muncul sambil menjawab pertanyaan dengan sabar.


182

Ada juga cerita menarik lagi dari pengelola keuangan dana dekonsentrasi dari daerah di Sulawesi Tenggara, tepatnya Kabupaten Muna. Pada awalnya, pengelola tersebut bertanya melalui help desk SIMPONI, “Apakah bisa bukti setoran pengembalian belanja, kopnya (identitasnya) adalah Kabupaten Muna, bukan kementerian/lembaga asal dari dana dekonsentrasi?� Seperti pertanyaan lainnya, pertanyaan itu aku jawab bahwa dana yang dikelola oleh pengelola tersebut berasal dari APBN, bukan APBD. Oleh karena itu, sistem pengelolaannya mengikuti sistem APBN. Maka, kop (identitas) setoran pengembalian belanja melalui SIMPONI adalah K/L dan unit Eselon I yang mengalokasikan dana dekonsentrasinya ke satker di Kabupaten Muna. Kukira pengelola keuangan tersebut sudah puas dengan jawabanku di help desk SIMPONI. Tak disangka, seminggu kemudian penanya tersebut sudah berada di Ditjen Anggaran (Direktorat PNBP), membawa misi dari pemimpin mereka untuk mengubah kop (identitas), sama dengan pertanyaan di help desk SIMPONI. Setelah kujelaskan panjang lebar dan lebih dari satu jam, barulah pengelola keuangan tersebut mau menerimanya. Tak lupa, mereka meminta nomor handphone-ku untuk berjaga-jaga jika pemimpin mereka meminta penjelasan lebih lanjut. Masih banyak cerita-cerita (pertanyaan) yang masuk ke help desk SIMPONI yang menarik untuk diceritakan, tetapi dari beberapa cerita di atas yang kuperoleh ketika melayani para pengguna SIMPONI, aku baru menyadari betapa beraneka ragamnya masyarakat Indonesia, ada yang sudah sangat maju, ada pula yang masih perlu secara pelan-pelan dibantu. Banyak orang-orang pintar dan sudah berteknologi tinggi, tetapi ada juga masyarakat di ujung negeri yang sedang berjuang meraih mimpi. Adanya variasi dan keberagaman stakeholders yang kami layani melalui SIMPONI membuatku lebih mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta aku dapat lebih menghayati arti dari Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda, tetapi tetap satu juga.


Perekat Indonesia

183

Satu Bumi Satu Saudara Pratanto, Kanwil DJPb Provinsi Sumatra Selatan

Pagi itu kami–rombongan dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Banjarnegara, melaksanakan kegiatan Perbendaharaan Peduli Lingkungan. Kami berangkat di pagi yang cerah setelah sarapan bersama di kantor. Melintasi jalan sepanjang Kota Banjarnegara-Dawuhan, kami disuguhi pemandangan hijau yang menghampar di tebing dan lembah. Tampak dari jauh Gunung Sindoro dan Sumbing yang puncaknya ditutupi segumpal awan. Jalan berkelok-kelok dengan pemandangan kebun salak di beberapa tempat. Sesampai di Desa Dawuhan, kami disambut panitia acara yang bertajuk “Satu Bumi Satu Saudara�, masyarakat desa yang antusias, juga sekelompok siswa SD setempat yang memainkan drumben. Di halaman balai desa, berjajar rapi tanaman kubis. Ada banyak komunitas yang mengikuti kegiatan itu. Di antaranya, komunitas umum (Gusdurian) dan komunitas agama, baik Islam, Kristen, Katolik dan Hindu. Selain itu, ada beberapa instansi seperti Kepolisian, Pemerintah Daerah, Perwakilan KPPN, juga perusahaan Indonesia Power yang menyumbangkan lima ribu bibit kopi gayo. Daerah Dawuhan yang merupakan daerah berbukit-bukit sangat rawan dengan bencana tanah longsor. Keinginan penduduk untuk memperoleh keuntungan dari berkebun salak


184

menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Betapa tidak, akar-akar tanaman salak bukanlah akar yang mampu menahan tanah dari derasnya air hujan. Pengalaman pahit akan hal ini dituturkan oleh Kepala Desa Dawuhan tentang bencana tanah longsor yang pernah terjadi di Desa Sijeruk tahun 2006 dan bencana longsor lainnya yang terus-menerus menimpa daerah Dawuhan dan sekitarnya. Karena itulah, beberapa komunitas mencetuskan gagasan untuk membuat gerakan menanam lima ribu pohon kopi di Desa Dawuhan. Bersatu padu, menghilangkan segala perbedaan yang ada. Kita semua bersaudara, demi kelestarian dan keselamatan lingkungan. Sebuah gagasan yang sebetulnya sarat dengan makna dan multidimensi manfaat. Tanaman kopi yang ditanam mampu menyatukan beragam simbol keagamaan dan budaya, menjaga kelestarian alam, dan memunculkan harapan baru untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Berharap tanaman kopi itu akan tumbuh subur, melindungi tanahnya dari gerusan air hujan dan dalam jangka panjang memberi manfaat ekonomis berupa biji-biji kopi yang rasanya pahit, namun manis di dompet. Didahului upacara seremonial yang dipimpin Kepala Desa Dawuhan, semua anggota komunitas bergerak menuju bukit-bukit dan menanam bibit-bibit kopi gayo di sana. Setelah penanaman bibit kopi, seluruh komunitas berjalan menyusuri perkampungan menuju saung untuk melaksanakan sarasehan. Acara dipandu oleh anggota komunitas Gusdurian yang membawakan acara dengan santai namun tidak mengurangi substansi yang hendak dituju. Satu demi satu perwakilan komunitas yang diawali dari perwakilan keagamaan menyampaikan pendapat tentang kelestarian alam dari ajaran agamanya masing masing yang dilanjutkan dari unsur pemerintahan, termasuk kami dari KPPN Banjarnegara. Bahwa pemerintah sangat mendukung kegiatan riil seperti ini, mengingat seringnya bencana tanah longsor menyebabkan alokasi pendanaan terserap untuk kegiatan tanggap bencana, termasuk perbaikan kerusakan fasilitas umum. Padahal dana yang ada semestinya bisa dipergunakan untuk prioritas kegiatan pembangunan desa. Tanpa terasa kegiatan berlangsung melewati tengah hari, kami yang beragama Islam melaksanakan salat Zuhur berjamaah di lokasi kegiatan, sementara umat agama lain menunggu dengan sabar sampai ibadah kami selesai. Sebuah wujud toleransi yang hakiki.


Perekat Indonesia

185

Di ujung kegiatan, kami menandatangani deklarasi “Satu Bumi Satu Saudara� di sebuah area wisata desa Dawuhan yang dibangun dengan dana desa. Bungabunga ditata sedemikian rupa sehingga tampak asri dengan beberapa tempat istirahat yang serupa saung. Tempat itu juga dikaruniai sungai yang mengalir jernih dan deras dengan batu-batu besar tampak di pinggir dan tengah sungai. Suasana asri lingkungan perdesaan mengingatkan bahwa bumi tempat berpijak merupakan anugerah Tuhan yang harus dijaga kelestariannya untuk kelangsungan hidup generasi yang akan datang.


186

Balada Pegawai dan Nelayan Pantai Fitu Made Krisna Aryawan, Kanwil DJPb Provinsi Maluku Utara

Pada suatu pagi yang cukup cerah di Pantai Fitu, pantai nan eksotis di pinggiran Kota Ternate. Gunung Maitara dan Gunung Tidore di seberang pantai terlihat gagah menjulang menantang langit. Matahari muncul dengan ramahnya dari balik gunung, menyapa setiap butiran pasir pantai yang berwarna hitam. Kilau sinarnya makin memukau kala terpantul jernihnya air laut. Perahu-perahu nelayan banyak tertambat di bibir pantai. Dibiarkan terombang-ambing, disapu gelombang kecil yang menepi bersusulan. Pagi itu perahu-perahu seakan saling bercanda satu sama lain, setelah di malam sebelumnya, bekerja menemani sang tuan mengarungi laut mencari ikan. Tampak seorang pegawai dengan kemeja polos berwarna biru muda sedang berjalan menyusuri pantai. Ada tanda pengenal sebuah instansi yang kental dengan tema warna biru tersemat di saku kemejanya. Tangannya menenteng selembar map biru tua bergambar logo kementerian. Pelan ia berjalan, menghindari sisa-sisa karang yang banyak terserak di pasir pantai. Sekian lama melangkah, pegawai itu sejenak berhenti. Ujung telunjuk tangan kirinya menata posisi kacamata yang menggantung manis di wajahnya. Pegawai itu lantas merogoh sesuatu dari balik saku celana. Tangannya berhasil meraih


Perekat Indonesia

187

selembar uang seribuan kertas edisi lama, edisi sebelum terbitnya uang seribuan baru Tahun Emisi 2016. Diamatinya dengan saksama gambar pemandangan yang tercetak pada uang seribuan kertas itu. Kekaguman seketika menyelimuti sanubarinya. Ya, hamparan pemandangan yang diabadikan dalam uang seribuan kertas itu, kini nyata hadir di hadapannya. Sungguh indah. Tak jauh dari posisi pegawai itu berhenti, terlihat dua nelayan sedang turun dari perahu sambil mengangkat sekeranjang ikan hasil tangkapan semalam. Setelah meletakkan keranjang ikan di tepi pantai, salah satu nelayan gesit mengambil tali, lalu menambatkan perahu agar tidak dibawa arus. Pegawai itu diam-diam mengamati kesibukan kedua nelayan. Setelah dilihatnya kedua nelayan beristirahat, dengan langkah cepat, pegawai itu pun bergegas menghampiri. “Selamat pagi Bapa,” sapa pegawai itu dengan senyuman ramah. “Banyak tangkap ikan tarada (tidak)?” Lanjutnya dengan sebisa mungkin mengikuti bahasa dan logat bicara khas Ternate. Bagi pegawai pendatang seperti dia, bisa menguasai bahasa dan logat bicara setempat merupakan cara tersendiri untuk menghormati penduduk lokal. “Pagi juga, Pa,” balas nelayan berbaju hitam tak kalah ramahnya. Selain religius, penduduk lokal Ternate umumnya ramah dan terbuka terhadap pendatang. “Sekarang lagi musim ikan, jadi lumayan, Pa, ikan ada banyak,” nelayan berbaju biru menimpali. “Wah, kalau musim ikan macam ini, tangkapan ikan jadi banyak ya, pasti kalau dijual, penghasilan Bapa berdua lumayan banyak ya?” Selidik pegawai itu ingin tahu. “Alhamdulillah, Pa, cukup buat torang (kami) makan sehari-hari, bisa juga ada tabungan sadikit-sadikit,” jawab nelayan berbaju biru. “Ikan-ikan apa saja yang boleh batangkap (ditangkap), Pa?” Tanya pegawai itu. “Torang batangkap ikan Tude (sejenis ikan kembung) saja, Pa,” jawab nelayan berbaju biru.


188

Ngoni sebagai kelompok nelayan juga termasuk UMKM, jadi berhak mengajukan KUR ke Bank Penyalur. Ngoni boleh ambil kredit ke Bank Penyalur KUR dengan bunga rendah. Kenapa bunganya rendah? Karena pemerintah pusat ada kasih subsidi bunga.

“Ikan Bobara (kakap) atau Goropa (kerapu) tara bisa tangkap kah?” Sambung pegawai itu. “Torang tara bisa pigi (pergi) ka laut jauh-jauh, Pa. Dekatdekat saja. Torang pe (punya) mesin tempel di perahu so (sudah) sering rusak, jadi tara berani pigi jauh-jauh ka tengah laut,” sahut nelayan baju hitam dengan nada sedikit rendah. “Wah, sayang sekali ya,” sambung pegawai itu bersimpati. “Itu mesin masih boleh diservis tarada? Atau so harus ganti baru?” Kembali pegawai itu lanjut bertanya. “Masih boleh servis, Pa, tapi kalau ada doi (uang/modal) mending beli baru sudah,” sahut nelayan berbaju hitam sedikit memelas. Mendengar jawaban tersebut, pegawai itu sejenak terdiam. Kembali ia menata posisi kacamata di wajahnya. Jawaban kedua nelayan berusaha diresapi. Pegawai itu lantas mengambil nafas dalam-dalam, lalu perlahan menghembuskannya. Suasana hening beberapa saat


Perekat Indonesia

189

menyelimuti percakapan ketiganya. Tak ingin hilang momentum, pegawai itu lantas menata senyuman dan melanjutkan percakapan. “Bapa-bapa berdua, maaf sebelumnya, perkenalkan torang pegawai Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Torang pe kantor ada di Jalan Jati Lurus. Mungkin torang bisa kasih sadikit info untuk ngoni (anda) berdua,” kata pegawai itu dengan mantap memecah keheningan. “Info apa itu, Pa?” Tanya nelayan berbaju biru agak antusias. “Jadi begini, Pa, torang dari Ditjen Perbendaharaan ada tugas pendampingan penyaluran KUR dan UMi kepada pemerintah daerah dan UMKM,” jawab pegawai itu. “Maksudnya bagaimana, Pa? KUR dan UMi torang tara mengerti,” potong nelayan berbaju hitam. Sambil mengeluarkan selembar brosur dari map biru yang dipegangnya sejak tadi, pegawai itu pun melanjutkan penjelasan. “KUR itu singkatan dari Kredit Usaha Rakyat. Ngoni sebagai kelompok nelayan juga termasuk UMKM, jadi berhak mengajukan KUR ke Bank Penyalur. Ngoni boleh ambil kredit ke Bank Penyalur KUR dengan bunga rendah. Kenapa bunganya rendah? Karena pemerintah pusat ada kasih subsidi bunga,” pegawai itu menjelaskan. “Jadi dengan KUR, ngoni boleh pinjam sampai dua puluh lima juta rupiah untuk jenis KUR Kecil atau pinjam sampai lima ratus juta rupiah untuk KUR Ritel. Nah, misal perlu modal buat beli mesin perahu baru, ngoni boleh jo pakai doi dari KUR,” tambah pegawai itu sambil menunjukkan brosur. “Kalau UMi itu pembiayaan Ultra Mikro. Ini kredit baru pelengkap KUR, khusus untuk pinjaman sampai dengan 10 juta rupiah. Ngoni boleh pinjam UMi di lembaga-lembaga macam koperasi atau pegadaian. Untuk Ternate, torang so kerja sama dengan pegadaian,” sambung pegawai itu lagi. “Itu cara pinjam KUR dan UMi bagaimana, Pa?” tanya nelayan berbaju biru. “Ditjen Perbendaharaan so kerja sama dengan Pemda, dengan Dinas Koperasi dan UMKM. Ditjen Perbendaharaan ada bangun sistem, de pe nama Sistem Informasi Kredit Program atau SIKP. Ngoni boleh jo datang ke dinas untuk


190

bantuan dan pendampingan proposal. Nanti petugas dinas ada catat ngoni pe data-data, macam ngoni pe nama, alamat, nomor KTP, jenis usaha, lama atau umur usaha. Ngoni pe data, nanti ada petugas dinas input di SIKP,” jawab pegawai itu sedikit detail. “Nah, kalau ngoni pe data so masuk di SIKP berarti ngoni so jadi calon debitur KUR,” pungkas pegawai itu. “Oo, kalau torang pe data-data so masuk SIKP, torang boleh pinjam KUR, boleh modal buat beli mesin perahu baru, begitu, Pa?” Kembali tanya nelayan berbaju biru. “Itu sudah, Pa!” Jawab pegawai itu meyakinkan kedua nelayan. “Wah, basyukur (bersyukur) Bapa dari Perbendaharaan ada kasih info. Nanti torang coba tanya-tanya lagi ke dinas atau ke Bapa pe kantor,” kata nelayan berbaju hitam penuh semangat. “Dengan senang hati, Bapa, silakan datang ke torang pe kantor. Kalau begitu torang permisi dulu ya Bapa, semoga Bapa berdua bisa cepat beli mesin perahu baru,” tutup pegawai itu sambil bersalaman dengan kedua nelayan. Setelah berpamitan, pegawai itu kembali melanjutkan langkahnya. Pijakan tapak sepatunya kembali meninggalkan jejak-jejak pada pasir hitam yang mulai hangat menyerap sinar mentari. Ada bahagia bercampur rasa bangga dalam dirinya dapat berbagi dengan masyarakat. Perjalanan pegawai itu masih panjang, entah ke mana ia akan melangkah berikutnya. Namun, selagi masih bisa menatap gagahnya Gunung Maitara dan Gunung Tidore, ia akan terus mempersembahkan karya terbaik sebagai wujud pengabdian insan Perbendaharaan, Kementerian Keuangan.


Perekat Indonesia

191

Perjalanan yang Lebih Berarti Cahyo Windu Wibowo, Kanwil DJKN Jawa Tengah dan DIY

Secara geografis, wilayah Kalimantan Tengah banyak dialiri sungai. Bila dilihat dari batas wilayah kabupaten, area wilayah kabupaten kebanyakan mengikuti alur sungai. Pusat kegiatan masyarakat dan perdagangan lebih banyak berada di sekitar sungai. Dalam perkembangannya, infrastruktur jalan darat yang mulai dibangun, menjadikan tranportasi darat menjadi alternatif pilihan lain. Perjalanan melalui darat lebih efisien waktu tempuhnya, meskipun di beberapa titik jalan kondisinya masih berupa jalan tanah dan bila musim hujan berubah menjadi berlumpur dan kadang menjadi kubangan air. Beberapa kali dalam perjalananku bertugas ke daerah, terjebak di jalan yang berlumpur, tetapi itu bukan menjadi kendala dalam bertugas. Budaya yang ada di sana adalah saling menolong. Ketika ada mobil hendak melintas di daerah yang jalannya tidak baik, maka ia akan menunggu kendaraan lain di belakangnya, selanjutnya kendaraan melintas bergantian dan bila salah satu mengalami selip/terjebak dalam lumpur, maka kendaraan lain akan menolong menariknya. Para penumpangnya pun tidak segan-segan untuk membantu mengarahkan mobil atau bahkan membantu mendorong mobil. Biasanya kendaraan yang lebih kuat atau jenis double gardan yang lebih dulu melintas, diikuti di belakangnya kendaraan lainnya. Makanya dalam setiap kali bertugas, aku selalu menyiapkan pakaian ganti yang cukup dan tali pengikat mobil tentunya. Dengan budaya saling menolong


192

itu, medan yang berat menjadi terasa ringan. Untuk antisipasi, sehari sebelum berangkat tugas biasanya salah seorang rekan anggota tim menelepon teman-teman dari satuan kerja yang tinggal di daerah tujuan untuk menanyakan cuaca dan kondisi jalan menuju ke sana sehingga kami dapat mempersiapkan diri apakah menggunakan mobil dinas, menyewa kendaraan double gardan, atau menggunakan mobil travel, untuk menyesuaikan kondisi medan. Apabila mendapat tugas ke daerah yang infrastruktur jalannya lebih baik, maka kami lebih memilih menggunakan mobil travel. Perjalanan menggunakan mobil travel ternyata juga memberikan kesan tersendiri, di setiap perjalanan yang kualami, para penumpang di Kalimantan Tengah umumnya ramah-ramah. Sepanjang perjalanan, para penumpang guyub mengobrol apa saja. Aku biasanya bertanya seputar apa-apa yang khas di daerah yang dilalui, misalnya makanan/obat tradisional atau kerajinan setempat. Kadang juga satu kendaraan berisi para perantau yang ingin pulang kampung, maka obrolannya menyesuaikan menjadi seputar daerah tujuan mudik, hingga pengalaman kerja. Pernah juga dalam perjalanan setelah cerita panjang lebar, seorang penumpang ibu-ibu tidak percaya kalau aku bekerja di Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan karena mungkin melihat tampangku yang kurus. “Orang Kementerian Keuangan ‘kan biasanya gemuk dan makmur, tapi kok masnya kurus, memang kerjanya di bagian

Nah, sopir truk pasir saja bisa berbuat baik seperti itu, maka aku pun juga harus bisa to?


Perekat Indonesia

193

apa?” Katanya. “Mengurusi jaringan dan komputer, Bu, saya orangnya konsisten, Bu, dari dulu ya segini terus”, jawabku biar mudah. Bila teman seperjalanan bertanya seputar pekerjaan, maka aku sekalian mengenalkan tugas dan fungsi organisasi, ceritanya biasanya jadi menarik kalau seputar lelang. Penumpang lainnya pun antusias memperhatikan. Pernah juga penumpang bertanya seputar permasalahan-permasalahan BMN, aku berusaha menjawab sesuai yang kuketahui. Apabila tidak bisa menjawab, biasanya aku minta nomor telepon atau email untuk bisa berdiskusi lebih lanjut. Lebih kurang 4,5 jam pun berlalu, perjalanan dari Palangkaraya menuju Banjarbaru tidak terasa lama, ditambah dapat cerita hal-hal baru dan teman/kenalan baru. Adanya pertanyaan-pertanyaan di luar tugas dan fungsiku, menjadikan aku belajar kembali mengenal tugas dan fungsi tersebut dan diskusi dengan seksi terkait. Ini menjadikan tambahan pengetahuan juga tentunya. Tambahan pengetahuan yang demikian ini entah mengapa tidak gampang lupa, di otak nyantel terus, apalagi teman perjalanannya juga berkesan. *** Saat ini aku bertugas di Semarang, perjalanan tugas yang kualami saat ini beda dengan yang dulu. Di sini para penumpang travel/angkutan umum lebih banyak diam dan sebagian tertidur, sarana transportasi yang digunakan juga lebih banyak macam dan pilihannya. Untuk efisiensi waktu, aku lebih memilih menggunakan kendaraan sendiri dalam pelaksanaan tugas, sehingga aku kurang mendapat nilai tambah dalam setiap perjalanan melaksanakan tugas. Setiap Jumat malam dalam perjalanan pulang ke rumah, di depan Terminal Bawen, Kabupaten Semarang, awalnya aku sering mengamati ibu-ibu pekerja pabrik yang menunggu bis jurusan Magelang. Kadang mereka menumpang truk kosong yang telah selesai mengangkut pasir. Suatu saat di tempat itu aku sengaja mengendarai mobil dengan pelan dan agak menepi. Seorang pekerja pabrik melambaikan tangannya ingin ikut menumpang. Salah seorang itu mendekat, “Pak, ke Magelang ya? Bisa numpang ikut?”. “Oh, ini ke Temanggung, Mbak, tapi kalau sampai Secang saja bisa, silakan”. “Nggih, Pak, nderek mawon (ikut saja)”, sambil membuka pintu naik mobil, diikuti serombongan orang di belakangnya yang juga ikut naik. Sesuai kapasitas


194

mobilku, hanya delapan orang saja yang dapat kuangkut. “Wah, jadi penuh nih”, dalam hatiku. Ternyata untuk perjalanan pulang kerja, mereka lebih sering menumpang (ikut angkutan bukan umum) kendaraan pribadi atau truk pasir kosong karena angkutan menuju Magelang sudah jarang ada bila selepas pukul 19.00. Salah satu keuntungan bagi mereka bila menumpang truk pasir adalah tidak dimintai ongkos sehingga bisa menghemat pengeluaran. Nah, sopir truk pasir saja bisa berbuat baik seperti itu, maka aku pun juga harus bisa to? Malahan kadang ketika menurunkan penumpang, aku dapat bonus, “Matur nuwun, Pak, mugi rejekinipun diparingi lancar nggih (semoga rezekinya lancar ya)”. “Alhamdulillah didoakan baik”, dalam hatiku, “Sami-sami, Mbak”, balasku. Aku senang karena sepanjang perjalanan jadi dapat cerita-cerita baru. Mereka bercerita seputar pekerjaan di pabrik konveksi, susahnya mencari kerja, hingga keseharian perjalanan menuju tempat kerja. Aku pun tidak ketinggalan ikut cerita mengenalkan PKN STAN yang mungkin putra-putrinya/saudara yang lulus SMA bisa mendaftar dan nantinya setelah lulus langsung bisa bekerja. Minggu-minggu berikutnya aku melakukan hal yang sama dan para penumpang pun sudah mengenali kendaraanku. Sampai sekarang, ini menjadi rutinitas mingguan dan semakin banyak hal-hal baru yang kudapatkan. Ternyata membantu orang lain itu bisa dengan tanpa biaya dan mudah dilakukan.


Perekat Indonesia

195


196

“Kalau bukan anak bangsa ini yang membangun bangsanya, siapa lagi? Jangan Saudara mengharapkan orang lain yang datang membangun bangsa kita.� Bacharuddin Jusuf Habibie


BE RS A

Perekat Indonesia

M

A

197

A S G N A B N U G AN B M E M


198

Infrastruktur Sumatra Utara dan Kesatuan Bangsa Indonesia Leonardo Simbolon, KPPBC TMP B Kualanamu - DJBC

Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau. Jumlah pulau yang tidak sedikit itu tentu mengakibatkan sulitnya pemerataan pembangunan infrastruktur bagi seluruh daerah. Banyak orang berpendapat bahwa pemerintah selama ini hanya fokus pada Indonesia bagian barat dan mengabaikan Indonesia bagian tengah dan timur, meskipun secara pribadi aku sendiri tetap tidak bisa setuju karena di daerahku sendiri–Sumatra Utara, jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi maju di Pulau Jawa atau Pulau Jawa pada umumnya sekalipun, kurasa bahwa Sumatra Utara sangat tertinggal dalam hal pembangunan infrastruktur. Saat ini aku masih belum bisa berkomentar banyak terkait pembangunan infrastruktur karena aku masih belum memiliki kapasitas di bidang ini, baik itu di bidang birokrasi, ekonomi, maupun di bidang teknis. Namun sebagai masyarakat sipil tentu selama bertahun-tahun ada rasa cemburu atas daerah lain yang mendapat perhatian lebih. Apakah yang kurang dari daerahku? Apakah daerahku tidak layak untuk dibangun? Siapa dalang di balik ini semua? Spekulasi-spekulasi buruk terus berputar di tengah masyarakat, khususnya dengan banyaknya pemberitaan nasional yang semakin membenarkan bahwa banyak pihak yang menyebabkan pembangunan itu bermasalah. Mulai dari masyarakat lokal yang kerap menghalangi upaya pembangunan padahal telah dilakukan mediasi, bandit- bandit


Perekat Indonesia

199

yang mengganggu ketertiban dan keamanan pembangunan, hingga yang paling klise yaitu dana yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan, justru hilang di tangan para pejabat dan petinggi daerah. Rasanya sampai beberapa tahun yang lalu kota tempat tinggalku, yaitu Kota Medan adalah kota yang rawan banjir karena drainase yang buruk. Rasanya sampai beberapa tahun yang lalu aku sangat malas untuk pulang ke kampung halamanku di kawasan Tarutung karena akses jalan yang buruk. Rasanya sampai beberapa tahun yang lalu Sumatra Utara hanya memiliki sedikit bandara maupun pelabuhan yang mampu menampung aktivitas masyarakat. Rasanya sampai beberapa tahun yang lalu aku masih belum menemukan infrastruktur yang dapat dibanggakan dari Sumatra Utara. Dulu Sumatra Utara memang seperti itu... Tapi, kini tidak lagi. Kini aku sudah bisa bangga dengan daerahku dan infrastruktur di sana. Kini aku bisa menikmati fasilitas yang sebelumnya hanya bisa kunikmati di Pulau Jawa. Kini aku merasakan infrastruktur yang pantas dan layak bagi kemajuan ekonomi di daerahku. Selain mendapatkan fasilitas, kekhawatiranku terhadap kemungkinan Kota Medan akan banjir parah seperti pada tahun 2010 juga telah berkurang, meskipun kemungkinan masih selalu ada. Kekhawatiranku berkurang karena drainase di Kota Medan saat ini sudah diperbarui sehingga mampu mengendalikan debit air meskipun pada saat musim hujan. Aku tidak perlu lagi merasa malas untuk pulang ke kampung halaman karena kini di Sumatra Utara, baik di jalan arteri dalam kota, di jalan lintas yang menghubungkan antardaerah, maupun di jalan tol, semua sudah tersedia dan berfungsi dengan sangat baik. Jika dulu aku harus menempuh jalan hingga sembilan jam untuk tiba di kampung halamanku di Tarutung, kini aku hanya membutuhkan waktu tujuh jam. Untuk mendukung ekonomi dan mobilitas masyarakat, kini Sumatra Utara sudah memiliki pelabuhan di Belawan, Pelabuhan Kuala Tanjung (Kawasan Pantai Timur Sumatra Utara), dan bahkan sebuah pelabuhan baru di Sibolga (Kawasan Pantai Barat Sumatra Utara) yang juga dilalui oleh lintasan jalan Tol Sibolga yang baru saja rampung. Pelabuhan-pelabuhan ini membantu sektor pengiriman dan transportasi via laut bagi masyarakat Sumatra Utara dengan kualitas yang bisa disandingkan dengan pelabuhan besar lainnya, bahkan dengan pelabuhan


200

sekelas Singapore Cruise Centre milik Singapura. Meskipun hingga saat ini aku belum menikmati manfaatnya secara pribadi selain untuk perjalanan laut, namun pembangunan infrastruktur ini membawa harapan ekonomi jangka panjang bahwa Sumatra Utara akan dapat menjadi gerbang ekonomi Internasional, seperti layaknya Batam. Sehingga tidak tertutup kemungkinan Sumatra Utara berpeluang menjadi benteng ekonomi. Dan bahkan untuk sektor ekonomi dan pariwisata daerah, Danau Toba tidak lepas dari pembangunan. Terbukti dari pembangunan dermaga, bahkan pembaruan Bandara Sisingamangaraja XII menjadi bandara Internasional yang berjarak hanya 20 km dari Danau Toba. Dengan kehadiran Bandara Sisingamangaraja XII, maka masyarakat yang hendak berlibur di kawasan Danau Toba bisa menggunakan pesawat dari Bandara Internasional Kualanamu dan mendarat pada Bandara Internasional Sisingamangaraja XII yang kini juga telah menerima penerbangan internasional. Ada hal yang aku perhatikan, yaitu pada setiap proyek/kegiatan pembangunan yang dilakukan di suatu daerah, khususnya di daerah yang rawan penolakan (zona merah), masyarakat di sekitar selalu diberikan kesempatan untuk turut berkontribusi dalam pembangunan. Kontribusi masyarakat bisa dilihat dari perusahaan-perusahaan yang merekrut penduduk lokal sebagai pekerja sehingga selain menciptakan kondisi yang kondusif selama pembangunan (karena masyarakat turut menjaga), kondisi itu juga membuat ekonomi masyarakat sekitar berkembang, bahkan sejak infrastruktur tersebut belum berdiri. Hal ini tentu berbeda bila dibandingkan dengan pembangunan pada zaman dahulu yang cenderung bersifat tangan besi sehingga menimbulkan kontra karena tidak adanya pendekatan masyarakat dan cenderung tertutup terhadap kontribusi bagi masyarakat lokal. Memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk turut berkontribusi dalam pembangunan tentunya akan memberikan efek psikologis bagi masyarakat untuk lebih menjaga dan menghargai fasilitas yang dibangun bersama. Kondisi yang bersahabat inilah yang perlu dibina demi mencegah agar tidak terjadi tindakan perusakan fasilitas dan memudahkan jalinan kerja sama sehingga bila di kemudian hari pemerintah hendak melakukan pembangunan berkelanjutan di daerah tersebut, masyarakat tentu akan bersedia. Aku yakin bahwa sesungguhnya pemerintah sadar akan dua hal, yaitu


Perekat Indonesia

201

pembangunan infrastruktur yang merata itu tidak hanya sekadar menyambungkan ujung Timur ke ujung Barat Indonesia secara teknis dan ekonomis, tetapi juga menciptakan persatuan dan kesatuan masyarakat sebagai sebuah Bangsa Indonesia yang utuh. Komponen vital tersebut dibutuhkan untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Pemerintah tidak akan mampu untuk menghimpun seluruh masyarakat agar sejalan jika hanya menggunakan lisan, maka pembangunan infrastruktur adalah langkah pasti untuk menyentuh hati masyarakat. Banyaknya pembangunan infrastrukur yang dapat aku dan masyarakat Sumatra Utara nikmati tentulah bukan tanpa sebab. Pembangunan itu datang dari kebijakan Kementerian Keuangan yang mengalokasikan anggaran untuk membangun infrastruktur di Sumatra Utara yang dikelola dan dimanfaatkan dengan seefisien dan sebaik mungkin sehingga dapat memberikan manfaat yang sebaik-baiknya pula. Tentunya upaya Kementerian Keuangan ini dilakukan demi mempererat ikatan antardaerah di Indonesia sehingga dengan upaya penggelontoran dana ini Kementerian Keuangan bukan hanya berhasil menyambungkan Sumatra Utara dengan Indonesia dan dunia secara teknis, tetapi juga berhasil menyatukan Sumatra Utara dengan Indonesia sebagai sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia.


202

Extra Miles Untuk Indonesia M. Rizky Rahardika Hartono, Sekretariat DJPPR

Ini bukan cerita tentangku. Ketika beberapa orang ditunjukkan ke dua buah benda: sebuah kertas putih dan sebuah kertas putih dengan sebuah titik hitam di tengahnya. Apa yang kira-kira mereka pikirkan? “Kertas putih dan titik hitam.” “Kertas kosong dan gambar sebuah titik.” “Kertas baru dan… sebuah noda?” Mungkin kita harus bertanya ke lebih banyak orang lagi agar mendapatkan jawaban dengan makna yang berbeda. Apa artinya ini semua? Kira-kira begitulah cara kerja pemikiran manusia pada umumnya. Seseorang tanpa ragu mengatakan sebuah kertas putih bersih sebagai “kertas putih” atau “kertas kosong”. Namun ketika ada setitik noda di tengahnya, “kertas putih” tadi sudah dianggap tidak lagi putih. Satu titik hitam telah mengubah keseluruhan makna. Seperti sebuah keburukan kecil yang menutupi begitu banyak kebaikan. Fokus pada kesalahan dan keburukan. Seperti itulah bagaimana kebanyakan orang melihat Utang Pemerintah Indonesia.


Perekat Indonesia

Kami sadar bahwa keresahan tersebut akan semakin nyata kala menginjak tahun politik. Isu utang akan datang gelombang demi gelombang. Hal tersebut mendorong aku dan banyak rekanrekan hebatku di DJPPR untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat utang, bagaimana Indonesia mengelola utang, dan bagaimana utang menjadi langkah terbaik yang harus diambil demi kebaikan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia harus sudah siap sebelum gelombang tersebut datang. Kami mengawalinya dari cara-cara konvensional seperti kunjungan langsung dan sosialisasi di seluruh Indonesia. Dari Aceh hingga Papua. Kami mengunjungi tempattempat diskusi masyarakat, kantor-kantor vertikal di daerah, ke pelosok yang sukar dijangkau sekalipun, hingga bersilaturahmi dengan ulama-ulama besar. Membawa pesan bahwa utang Indonesia akan selalu dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya.

203

Satu titik hitam telah mengubah keseluruhan makna. Seperti sebuah keburukan kecil yang menutupi begitu banyak kebaikan. Fokus pada kesalahan dan keburukan. Seperti itulah bagaimana kebanyakan orang melihat Utang Pemerintah Indonesia.


204

Apakah selalu disambut baik? Tentu saja tidak. Bukan berarti tidak ramah. Tentunya Indonesia prominen dengan keramahannya. Hanya saja ketika kami mulai membahas utang, banyak pemikiran dan sudut pandang bermunculan. Dari yang disampaikan dengan baik hingga yang sedikit membikin nyeri. Namun justru karena itulah kami merasa apa yang kami lakukan memang perlu. Rakyat Indonesia harus memiliki pemahaman yang lebih luas dan tidak mudah percaya hoaks. Tidak semua orang memahami manfaatnya meskipun telah merasakannya dalam keseharian. Jalan dan jembatan yang dilewati setiap hari, hingga sumber air dan pengendali ombak di pantai hanyalah sedikit bagian dari betapa nyatanya manfaat utang itu. Seiring waktu, kami tahu cara-cara lama tidak cukup. Dewasa ini menyatukan dan memecah belah kelompok–kelompok manusia bisa dilakukan dari ujung jari. Kemudahan penyebaran informasi menjadi pedang bermata ganda bagi pengguna yang kurang bijak. Di situlah kami tahu, ini adalah medan perang yang juga harus kami masuki. Dunia digital adalah dunia yang rumit. Dunia yang cepat. Dunia yang terus berkembang. Kita harus bekerja lebih cerdas, lebih cepat, dan tidak kalah berkembang. Seluruh potensi yang dimiliki oleh DJPPR harus dapat dikerahkan untuk mengedukasi masyarakat dalam pengelolaan utang dan pembiayaan, dan yang terpenting: sinergi. Lahirlah tim luar biasa dari DJPPR. Lupakan istilah milenial, generasi X, Y, Z, dan seterusnya. Kita membutuhkan semuanya. Wisdom dan pengalaman dari generasi yang lebih dulu mengabdi, dilengkapi dengan ide-ide dan kreasi brilian dari abdi-abdi muda DJPPR. Kombinasi ini menghasilkan konten-konten yang tidak hanya sekadar berdasarkan data, tetapi juga menyenangkan bagi warganet Indonesia. Apakah kemudian semudah itu? Tentu tidak. Tidak sama sekali! Memasuki dunia digital mengharuskan kami untuk selalu siap siaga. Kami harus tahu siapa yang menjadi target edukasi kami. Jika ini sebuah medan perang, berarti memahami siapa musuh sama dengan memenangkan setengah pertempuran. Masuk di dunia digital berarti kita harus siap untuk melawan kapan pun sebuah isu muncul. Kami bertanya dan belajar dari banyak ahli di bidang digital. Kami mengikuti pelatihan dalam bermedia sosial. Bahkan untuk sekadar tahu kapan kita harus melawan balik, kami harus menempuh pelatihan yang cukup panjang. Semuanya hanya demi Indonesia yang lebih berkembang. Indonesia yang suatu saat akan benar-benar membuktikan potensi ekonominya sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Indonesia yang melek akan perubahan-


Perekat Indonesia

205

perubahan baik. Indonesia yang tidak harus memasang tameng terhadap rakyatnya sendiri. Di sisi lain, eksplorasi digital yang kami lakukan juga menghemat anggaran negara yang cukup besar. Sosialisasi secara konvensional mungkin terasa lebih nyata, namun hanya menjangkau segelintir orang dengan biaya yang tidak sedikit. Melalui media digital, ketika kita memahami cara kerjanya, kita bisa menjangkau ratusan ribu bahkan jutaan orang dalam satu kali klik. Sekali lagi, ini bukan cerita tentangku. Ini adalah cerita tentang tim tanpa nama dari DJPPR yang luar biasa hebat. Sebutlah kami Tim Strategi Komunikasi. Katakanlah kami Tim Media Sosial. Katakanlah kami Tim Counter Issue Utang Pemerintah. Bahkan sebut kami Content Creator saja tidak masalah. Karena semua itu adalah bagian dari kami. Semuanya adalah bagian yang sama pentingnya dalam peran DJPPR bagi Indonesia. Bagiku, rekan-rekan dan anak-anak muda ini adalah pahlawan yang nyata di era digital seperti ini. Mereka yang menghabiskan akhir pekannya untuk mencerdaskan Indonesia secara nasional daripada sekadar menikmati secangkir Starbucks. Mereka yang sepulang kerja memikirkan cara-cara baru untuk menyampaikan pesan mulia kepada warganet ketika mereka sebenarnya bisa saja menonton Netflix dan bersantai di rumah. Mereka yang melakukan extra miles dalam pekerjaannya sehari-hari. Ini adalah sedikit caraku untuk menunjukkan betapa bangganya aku terhadap mereka yang luar biasa. Sedikit membawanya ke permukaan untuk menginspirasi banyak orang, khususnya anak muda Indonesia. Sekali lagi, mereka adalah pahlawan yang nyata bagi Indonesia. Sebagai penutup, ini bukan cerita tentangku. Ini cerita tentang rekan-rekanku yang luar biasa. Cerita tentang mereka yang memperlihatkan luasnya kertas putih dari pada satu titik noda hitam.


206

Kolaborasi Tingkat Dewa Satu untuk Semua Siti Mulyanah, Direktorat Dana Perimbangan - DJPK

Di hari Sabtu pada pekan terakhir bulan Mei 2018, denting suara HP bertubi-tubi mengirimkan pesan lewat WhatshApp. Tidak biasanya. Suara-suara HP tadi awalnya tak kuindahkan, tetapi frekuensi bunyi yang terdengar terasa makin kerap. Penasaran juga. Setelah dilihat, ternyata hampir 60 pesan masuk, baik dari pesan pribadi maupun pesan dalam grup. Sontak terkejut membaca pertanyaan-pertanyaan seputar adanya Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap salah satu pegawai DJPK! Tentu saja aku tidak tahu kabar tersebut karena sejak tadi pagi hingga malam aku menikmati quality time dengan keluarga, tanpa televisi dan tanpa HP. Kasus yang merebak adalah dugaan suap dalam pengalokasian Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik. Aku memang baru dua bulan mutasi ke unit yang menangani DAK Fisik, tetapi rasanya janggal jika menilik pada mekanisme yang ada. Apalagi yang bersangkutan tidak mengemban tugas yang berhubungan dengan dana tersebut. Kabar angin yang berembus menceritakan bahwa seolah-olah DAK ini adalah makhluk yang paling seksi sehingga banyak yang memperjualbelikan informasinya. Dan anehnya laku keras, meskipun si pemberi informasi mengarang indah alias ndobos! Ada syaratnya tentu saja, yaitu sepanjang dalam menyampaikan informasi sangat meyakinkan. Tak lupa gunakan atribut baju


Perekat Indonesia

207

biru Kementerian Keuangan, “gas pol� keyakinan makin kuat. Permasalahan DAK menjadi sorotan seluruh jajaran pemimpin Kementerian Keuangan. Segala upaya dan strategi dituangkan dalam notula-notula arahan. Dan pemimpin baru DJPK membawa semangat bersatu dan bersinergi. Tak hanya larut dalam rasa marah yang sama, tetapi juga memacu semangat untuk menata integritas unit yang terkoyak. Ayunan kapak kebijakan yang pertama dilakukan oleh Beliau adalah memotong upaya pertemuan dengan Pemerintah Daerah, baik di kantor maupun di luar kantor, baik secara resmi, apalagi tidak resmi. Nah, ada tantangan nih. Lebih positif auranya jika kita menyebut permasalahan atau hambatan dengan panggilan sayang: “tantangan�. Berawal pada tahun 2015, proses pengalokasian DAK Fisik secara garis besar dimulai dengan penyampaian usulan dari daerah, kemudian dilakukan penilain oleh K/L teknis terkait. Usulan dari daerah disampaikan secara manual dalam bentuk hardcopy berangkap untuk tiga pihak, yaitu Kementerian Keuangan, Bappenas, dan K/L teknis terkait. Kemudian, dalam rangka validasi data K/L dengan data pemerintah daerah, dilakukan semacam pertemuan yang diberi judul sinkronisasi dan harmonisasi. Hasil pertemuan tersebut diharapkan dapat menghasilkan keyakinan terbatas bagi K/L dalam memberikan penilaian akhir sebagai bahan rekomendasi kepada Kementerian Keuangan untuk selanjutnya dihitung alokasi per daerah. Upaya mengurangi pertemuan dengan daerah telah dilakukan sebelumnya, yaitu di tahun berikutnya, tahun 2016, melalui perbaikan metode penyampaian usulan. DJPK menyiapkan wadah untuk menampung dokumen usulan dalam konsep web based, yaitu melalui aplikasi e-Proposal yang ditempatkan pada website DJPK. Rupanya langkah tersebut diikuti oleh K/L teknis dan Bappenas. Terlihat keren jika dilihat secara masing-masing aplikasi. Namun, tidak tampak keindahannya karena masing-masing aplikasi tidak terkoneksi. Belum lagi jika kita coba membayangkan kerumitan daerah dalam menyampaikan usulannya dengan membuka banyak aplikasi. Terlepas dari hal tersebut, tentu niatan baik untuk mengurangi pertemuan dengan pemerintah daerah perlu diapresiasi. Namun pada tahapan sinkronisasi dan harmonisasi, pertemuan tersebut tidak terhindarkan mengingat belum ditemukan metode yang tepat. Perbaikan berlanjut tahun berikutnya. Aplikasi yang terserak dicoba disatukan dengan satu aplikasi yang disepakati bersama tiga pihak, yaitu aplikasi


208

e-Planning. Aplikasi tersebut dibangun oleh Bappenas. Satu langkah besar dalam kolaborasi tingkat tinggi. Belum sempurna tentunya karena masing-masing pihak termasuk DJPK mengambil data usulan dari aplikasi e-Planning kemudian dimasukkan ke dalam aplikasi DAK Sinkron. Hal tersebut juga berlaku untuk Bappenas dan K/L pengampu DAK Fisik. Jadi, kolaborasinya masih di permukaan saja, ego sektoral masih kental. Cukup alot sebagaimana yang diperkirakan oleh Pak Putut selaku Sekretaris DJPK kala itu, sekaligus selaku Ketua PMO yang mencetuskan Inisiatif Straegis (IS) DJPK yang bertujuan untuk menghadirkan pemerintah di seluruh wilayah Indonesia. Mimpi Beliau sebagaimana yang tertuang dalam IS Charter mulai tersibak dengan berpindahnya Beliau menjadi Direktur Dana Perimbangan yang menggawangi dana perimbangan tempat bernaungnya makhluk manis yang bernama DAK. Dengan kewenangan yang dimilikinya dan dengan gaya kepemimpinannya yang luwes dan tegas, serta dibantu dengan tim kecil di Subdit DAK Fisik I dan Subdit DAK Fisik II, memperkuat keinginan menyatukan aplikasi di pemerintah pusat. Arahan Beliau sangat memberi semangat. Beliau mengatakan bahwa untuk bersinergi, kita tidak perlu menang-menangan, merasa milik sendiri paling bagus dan paling benar sehingga harus diikuti oleh semua orang. Prinsip yang harus dipegang adalah, tujuan tercapai, biaya murah, dan semua pihak dilibatkan dalam pembahasannya, serta diperoleh kesepakatan bulat. Bulan-bulan terakhir di tahun 2017 telah disepakati aplikasi yang dibangun oleh Bappenas. Aplikasi ini akan digunakan oleh K/L untuk perencanaan penganggaran sebagai wujud nyata langkah mewujudkan kehadiran pemerintah pusat di seluruh wilayah Indonesia dengan berupaya menyinergikan penganggaran pusat ke daerah melalui belanja K/L dan melalui Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD). Di awal tahun 2018 aplikasi tersebut dikembangkan kembali agar dapat menampung usulan dari pemerintah daerah terkait kegiatan DAK Fisik. Namun konsep sinkronisasi dan harmonisasi yang dirancang masih menggunakan metode tatap muka. Dengan merebaknya kasus OTT terkait DAK Fisik dan arahan larangan tatap muka dengan pemerintah daerah dalam tahapan perencanaan dan penganggaran APBN membuat seluruh unsur bahu-membahu memikirkan solusi terbaik. Di bawah komando Pak Putut berhasil dicapai kesepakatan bulat dan persetujuan untuk menghindari tatap muka dengan pemerintah daerah. Kemudian dirancang metode tatap muka dalam aplikasi. Mantap dan luar biasa! Sebagai orang yang


Perekat Indonesia

209

gagap teknologi aku terkagum-kagum dengan upaya-upaya yang telah dilakukan. Apakah sudah cukup? Ternyata masih belum. Masih banyak lubang yang harus ditutupi lagi. Waktu itu selepas magrib, beberapa orang anggota Subdit DAK Fisik I, Subdit DAK Fisik II, Tata Usaha (TU), dan Bapak Direktur sedang melepas penat sejenak sebelum lanjut pada pembahasan rencana penyesuaian PMK, khususnya pada bagian DAK Fisik. Secara tiba-tiba Bapak Dirjen menyambangi kami. Dengan gaya Beliau yang santai, lepas, namun tetap tegas penuh tantangan, membawa diskusi kepada pangkal permasalahan terjadinya OTT. Beliau mengatakan bahwa berangkat dari pemanggilan KPK terhadap beberapa pejabat di lingkungan DJPK sebagai saksi ahli, mengerucut pada kesimpulan bahwa dalam pembahasan DPR belum diatur mekanisme pengusulan anggaran dari anggota dewan. Mekanisme yang diharapkan mengamankan pemerintah dari jerat hukum tentunya. Tantangan yang Beliau sampaikan ada dua, yaitu mekanisme pengusulan DAK Fisik oleh anggota dewan dan mekanisme pemberian keyakinan terbatas pada pemerintah pusat bahwa uang dibelanjakan oleh pemerintah daerah dari DAK Fisik sesuai penggunaannya. Selepas Beliau memberikan arahan dan mengobrol sejenak dengan Kasubbag TU kami, Beliau pun meninggalkan ruangan dan menyisakan kami yang menarik nafas panjang seraya menerawang. Lamunan singkat buyar oleh helaan nafas Pak Direktur yang meminta kami segera menyiapkan ruang rapat untuk membahas Rancangan Peraturan Menteri Keuangan (RPMK) yang berbeda dari yang telah disiapkan. Karena keterbatasan ruangan, kami pun meminjam ruang rapat lantai 12 pada Direktorat Pembiayaan dan Transfer Non Dana Perimbangan. Singkat kata dan singkat cerita, PMK yang mengatur kriteria DAK Fisik sebagai dasar menyetujui atau menolak usulan DAK Fisik pun siap. Salut untuk rekanrekan Biro Hukum Kementerian Keuangan, Pak Agus dkk. atas kolaborasi yang dahsyat. Dengan gagahnya Bapak Dirjen berhasil mengimplementasikan aturan tersebut untuk memberikan kepastian hukum dan menjaga integritas pengalokasian DAK Fisik. Tahun 2019 ini adalah tahun implementasi pengawasan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) daerah untuk dapat memberikan keyakinan terbatas pada pemerintah pusat bahwa penggunaan DAK Fisik di daerah telah sesuai. Tahun 2019 ini pun kembali dikembangkan sinergi antara aplikasi dari


210

Bappenas dengan aplikasi Online Monitoring Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (OM SPAN) pada Direktorat Jenderal Perbandaharaan (DJPb). Sinergi mengalirkan data Rencana Kerja (RK) DAK Fisik per bidang dan per daerah secara otomatis untuk menjaga integritas data dan meminimalkan kesalahan yang tak disengaja maupun yang disengaja. Aplikasi dari Bappenas menjadi jembatan kolaborasi tingkat dewa, menyatukan K/L dan pemerintah daerah dengan jumlah user yang luar biasa: sejumlah K/L pengampu DAK sekitar 14 K/L dan akan meningkat setiap tahun, ditambah dengan 542 daerah dengan setiap daerah memiliki banyak akun yang berbeda kewenangan, seperti Bappeda, BPKAD, APIP daerah, dan SKPD Pelaksana DAK Fisik. Kemudian dengan otomasi masuknya data RK ke dalam OM SPAN, menambah pula jumlah pengakses sebesar 171 KPPN dan tentu saja kantor pusat. Selanjutnya, kita tunggu saja pengembangan aplikasi tersebut untuk segera bergabung dengan aplikasi SAKTI. Semoga semua dapat berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan kualitas pengalokasian dan penggunaan DAK Fisik.


Perekat Indonesia

211

Sosialisasi di Ujung Negeri Nok Siti Murni Sulistiyoningsih, KPP Pratama Jakarta Kelapa Gading- DJP

Namaku Nok Siti Murni SN, Kepala Seksi Dukungan Teknis Komputer di Kanwil DJP Sumatra Utara II. Tugas dan fungsiku berkaitan dengan IT dan komputer di Kanwil DJP Sumatra Utara II. Namun seperti kata atasanku, “Pegawai DJP harus kompeten di segala bidang, tidak peduli apa latar belakang pendidikan dan jabatannya”. Karena itulah aku menjadi salah satu anggota Tim Penyuluh di Kanwil DJP Sumatra Utara II. Suatu hari di tahun 2017, ada perintah untuk melakukan sosialisasi perpajakan di Kepulauan Nias. Aku ingin menolak perintah tersebut. Ada rasa keraguan, takut, dan keengganan melaksanakan tugas ini. Masih tebersit rasa ngeri setelah kasus “PARADA”, peristiwa yang meninggalkan rasa duka dan cerita kelam bagi DJP. Apalagi peristiwa itu masih belum lama berlalu. Ditambah lagi cerita-cerita horor seperti papan tanda disita dicabut atau bahwa terdakwa kasus parada mempunyai banyak pengikut yang menandakan bahwa “Nias” kurang bersahabat terhadap Pajak. Namun hati kecilku bertanya, apakah memang harus seperti itu, tidak perlu dilakukan sosialisasi? Pantaskah kita melupakan dan meninggalkan mereka? Pantaskah kita membiarkan mereka– Wajib Pajak dan calon-calon Wajib Pajak, tetap buta dan tidak mengerti peraturan perpajakan? Mereka punya hak untuk mendapatkan pendidikan, khususnya perpajakan. Walaupun


212

kalau dilihat dari segi penerimaan, kontribusi pajak dari Kepulauan Nias mungkin hanya 0,0‌% dari penerimaan nasional. Setelah melalui kebimbangan hati, akhirnya perintah melakukan sosialisasi tersebut harus tetap kujalankan. Nias sebuah kepulauan. Nias merupakan bagian wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sibolga. Untuk menuju ke sana tidaklah mudah. Dibutuhkan waktu semalam perjalanan laut dari Sibolga. Itu pun apabila cuaca sedang baik. Apabila ombak besar, kapal pun tidak akan berlayar. Alternatif lain adalah melakukan perjalanan udara dari Bandara Kualanamu, Medan. Hanya saja untuk mencapai Bandara Kualanamu haruslah ditempuh dengan perjalanan darat sekitar dua belas jam. Di Kepulauan Nias terdapat Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Gunung Sitoli. Kantor tersebut merupakan perpanjangan tangan dari KPP Pratama Sibolga. Hanya saja dengan keterbatasan sumber daya manusia, baik jumlah maupun kemampuan teknis perpajakannya, sering kali masalah sosialisasi masih dilakukan oleh KPP maupun Kanwil. KPP Pratama Sibolga merupakan salah satu KPP di Kanwil DJP Sumatra Utara II yang berkedudukan di Pematang Siantar. Jarak Kanwil dengan KPP Pratama Sibolga sekitar sepuluh jam perjalanan darat. Dapat dibayangkan betapa jauh perjalanan antarkantor yang ada di luar Pulau Jawa. Setelah perintah sosialisasi keluar, pembagian tugas dan tim dibentuk. Tim dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari tim dari KPP Pratama Sibolga yang menempuh perjalanan laut dengan membawa perlengkapan dan peralatan sosialisasi. Sedangkan tim dari Kanwil DJP Sumatra Utara II sebagai kelompok kedua dengan menempuh perjalanan udara dari Bandara Kualanamu. Hal ini kami lakukan untuk menghemat waktu dan tenaga karena jarak tempuh dari Pematang Siantar ke bandara hanya sekitar tiga jam. Bayangkan kalau kami berangkat bersama kelompok pertama, kami harus berkendaraan ke Sibolga dahulu selama sepuluh jam, baru berlayar selama satu malam. Hari Senin di Bandara Kualanamu. Tas ransel berisi laptop, buku- buku peraturan perpajakan, baju, dan perlengkapan mandi terasa berat membebani punggung kami. Pukul 13.00 WIB sudah berlalu, tetapi belum ada panggilan untuk boarding. Rasa was was dan gelisah mulai menghantui. Walaupun naik pesawat, tetapi Bandara Binaka, Nias, adalah bandara perintis dengan segala keterbatasannya. Apabila cuaca kurang bagus, penerbangan pun sering dibatalkan. Pengumuman pesawat ditunda berkumandang berkali-kali. Menguji kesabaran kami.


Perekat Indonesia

Rasanya sudah capek untuk duduk menunggu, suara azan salat Asar terdengar sayup di kejauhan pertanda pukul 15.30 telah terlewati. Kami masih menunggu. Tas ransel tak lagi berdiri tegak karena sekarang telah menjadi alas untuk ganjal kepala karena duduk pun sudah tak lagi nikmat. Dan akhirnya pengumuman kalau penerbangan dibatalkan dan pesawat baru diberangkatkan besok paginya, merupakan puncak kecapekan hari ini. Kami pun berusaha tertawa untuk mengobati rasa capek dan kekesalan hati. Kami serombongan satu pesawat diberikan penginapan sebagai kompensasi pembatalan penerbangan dari maskapai. Diinapkan dengan orang yang tidak kita kenal. Malam pun terlewati dengan mata terpejam tidak sempurna, pikiran masih terjaga, rasa was-was karena harus bermalam dan sekamar dengan orang yang tidak kita kenal. Pukul 02.30 kamar diketuk oleh petugas hotel. Pemberitahuan untuk bersiap berangkat ke bandara dengan mata masih terpejam dan terhuyung menuju kamar mandi Akhirnya pesawat mendarat di bandara Binaka, Gunung Sitoli. Tak menunggu lama, kami bergegas menuju ke gedung serba guna di salah satu kantor, tempat sosialisasi di Gunung Sitoli. Pukul 09.00 WIB sosialisasi harus dimulai. Tak lupa kami sempatkan mampir untuk sarapan di warung dekat bandara. Karena mencari warung yang menjual makanan halal di Nias agak susah, hal ini disebabkan mayoritas agama yang dianut masyarakat adalah Kristen Protestan. Hampir 90% penduduknya memeluk agama ini, sisanya beragama Katolik, Islam, dan Buddha.

213

‌ jangankan istilah pemotong, pemungut pajak, atau pengusaha kena pajak. Pengertian pajak, wajib pajak, dan NPWP pun harus dijelaskan dengan perlahanlahan dan dengan bahasa yang mudah.


214

Kepulauan Nias terdiri dari empat kabupaten dan 1 kota madya, yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunung Sitoli. Selama lima hari kami akan melakukan “roadshow” dimulai dari Kabupaten Nias, Nias Barat, dan Gunung Sitoli yang bertempat di Gunung Sitoli. Sudah sering aku melakukan sosialisasi di wilayah Sumatra Utara, tetapi baru di Niaslah yang jauh dari bayanganku. Teramat sangat jauh. Jangan pernah membayangkan sosialisasi perpajakan seperti di kota Medan, apalagi dibandingkan dengan di Jakarta. Mulai dari sarana prasarana yang serba terbatas, bahkan spanduk yang dibawa dari kantor tidak dapat terpasang sempurna karena tidak ada tempat untuk memasang. Yang lebih ajaibnya lagi adalah tidak diperbolehkan memasang paku di dinding. Yah… dengan kreativitas dan inovasi tingkat tinggi, spanduk dipasang dengan lakban. Belum lagi listrik yang mati hidup seperti lampu diskotik, akibatnya sound system pun tidak banyak membantu. Untungnya suaraku keras. Baru kali ini aku merasakan keuntungan mempunyai suara yang kencang. Peserta… jangankan istilah pemotong, pemungut pajak, atau pengusaha kena pajak. Pengertian pajak, wajib pajak, dan NPWP pun harus dijelaskan dengan perlahan-lahan dan dengan bahasa yang mudah. “Bahasa Bumi “ istilah anak sekarang. Akhirnya hari pun menjelang sore, sosialisasi hari pertama usai sudah. Malam hari waktunya istirahat dan harus kami gunakan sebaik mungkin untuk menebus kantuk dan lelah kemarin karena besok masih harus menempuh perjalanan selama lebih kurang lima jam ke Nias Selatan. Ternyata tidur di hotel pun bukan sesuatu yang nikmat. Jauh dari harapan. Masih enak tidur di indekos (maklumlah di Kanwil Sumatra Utara II aku tinggal sendiri karena keluarga di Jakarta. Bulok alias Bujang Lokal). Listrik sebentar-bentar padam dan kondisi hotel yang tua dengan fasilitas seadanya, menimbulkan rasa horor dan merinding. Belum lagi kondisi kamar mandi. Inilah alasanku membawa perlengkapan mandi sendiri. Suka agak jijik menggunakan handuk, sikat gigi, dan sabun yang disediakan hotel. Ajaibnya kami harus membayar mahal untuk penginapan yang mereka sebut hotel ini. Alasan mereka kenapa harga hotel mahal karena jarang ada yang menginap sedangkan biaya perawatannya mahal. Hari masih gelap walaupun sudah pukul 06.00 WIB. Mungkin teman- teman yang bertugas di Jakarta sudah berlarian atau bergelayutan di kereta . Dengan


Perekat Indonesia

215

berbekal roti bakar–sarapan dari hotel, rombongan tim sosialisasi berangkat menuju Nias Selatan, tepatnya Kota Teluk Dalam. Beriringan menelusuri jalan pinggir pantai yang sangat Indah, pantai yang masih perawan, yang masih sepi, dan bebas sampah. Matahari terlihat semburat kuning, sunrise kata orang-orang. Sungguh indah ciptaan Ilahi. Aku terkagum. Pantas saja Nias menjadi tempat incaran wisatawan asing. Ini terlihat sejak berangkat dari Bandara Kualanamu, kami berbarengan dengan para turis yang membawa bagasi berupa perlengkapan selancar. Dan kabarnya Pantai di Nias Selatan mempunyai spot surfing terbaik di dunia yang menjadi incaran para surfer dunia. Pertanyaan berkecamuk, “Kapan Nias ini menjadi seperti Hawai? Atau kapan ya seperti pantai yang ada di film Baywatch?” Dengan pemandangan yang begitu indah, tak terasa sudah empat jam perjalanan dan sampailah di Kota Teluk Dalam. Aku dibuat terkaget-kaget lagi. Apa pantas ini disebut kota? Layaknya desa di kota Jawa. Sarana prasarana serba terbatas. Tidak ada bangunan yang menjulang bahkan semua tampak sederhana. Apa benar kita akan melakukan sosialisasi di tempat ini? Dengan semangat yang kuat, pegawai dari KP2KP Gunung Sitoli menjawab, “Ya!” Ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan tempat lain di Nias. Angkat topi buat mereka. Pejuang Pajak sejati. Rombongan kendaraan, ah… sebenarnya bukan rombongan karena hanya dua mobil saja, mengarah ke lokasi sosialisasi. Aku pun harus mengelus dada. Sosialisasi diadakan di aula seperti balai desa dengan fasilitas yang lebih minim dibanding sosialisasi di Gunung Sitoli kemarin. Dari undangan yang dikirim, hanya sembilan orang yang datang. Di akhir acara, mereka mendatangi kami menanyakan uang saku alias honorarium kedatangan. Pingin tertawa dan menangis, ternyata ini ada di negeriku Indonesia. Pantas saja mereka terkadang antipati terhadap pajak. Pantas saja sejarah kelam menimpa pegawai DJP. Pantas saja mereka mempunyai pandangan yang buruk dan menakutkan terhadap pajak. Mungkin pikiran mereka baru sampai pajak itu seperti merampas harta mereka. Mungkin pikiran mereka pajak itu tidak ada manfaatnya bagi mereka. Salahkah mereka? PR berat bagi institusi DJP. Itulah tugas kami untuk melakukan sosialisasi. Kewajiban kami membuat mereka paham tetang pajak. Harapannya timbul kesadaran untuk membayar pajak. Walaupun butuh perjuangan dan pengorbanan. Sosialisasi di ujung negeri ini bukti perjuangan kami untuk bumi pertiwi.


216

Patriotisme di Serambi Makkah Oji Saeroji, KPP Pratama Surabaya Wonocolo - DJP

Menyusuri perjalanan darat selama lebih kurang sepuluh jam dari Bandara Kualanamu, Medan, ke Kota Tapaktuan terbayarkan dengan suasana pagi yang sangat indah. Jalan-jalan di atas perbukitan dan lautan yang biru tampak dari kejauhan menjadi sebuah oase keindahan yang tidak terlukiskan. Semakin mendekati kota kecil ini kita akan dimanjakan oleh hamparan pantai pasir putih dengan ombak yang bergulung tipis di atas pasir laut yang lembut. Belum lagi pesona Taman Nasional Gunung Leuser yang konon katanya merupakan ekosistem terakhir di Bumi. Gajah, harimau, badak, dan orang utan masih hidup bersama. Sisi indah kota ini akan menemani pengabdian berikutnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) sampai masanya berakhir. Menjelang akhir 2013, aku dipromosikan menjadi Kepala Seksi Pelayanan di Kantor Pelayanan Perpajakan (KPP) Pratama Tapaktuan. Tapaktuan merupakan satu kota indah di pinggiran Samudra Hindia. Jaraknya 400 kilometer dari Kota Banda Aceh atau 350 kilometer dari Kota Medan. Tepatnya berada di wilayah Kabupaten Aceh Selatan. Tapaktuan memang bukan muara konflik masa lalu dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang banyak bersimpul di Pantai Timur Aceh, tetapi sebagai bagian dari Aceh,


Perekat Indonesia

217

solidaritasnya tentu saja sampai di tengah-tengah masyarakat wilayah Aceh Selatan yang sebagian besarnya bersuku Aceh dan Minang. Banyak keraguan yang hinggap setelah Surat Keputusan promosi tersebut keluar. Salah satunya tentu saja soal predikat sebagai bekas daerah konflik berdarah di masa lalu. Apalagi ini dalam rangka tugas sebagai simbol pemerintah bahkan pemungut pajak. Simpelnya untuk mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan merah putih saja mereka berani menolak dengan jiwa raganya, lalu bagaimana mereka mau membayar pajak yang notabene adalah pengakuan penuh akan NKRI? Aceh yang kubayangkan tentu saja tidak seseram dalam pemberitaan beberapa tahun terakhir. Begitulah kesan pertama yang kami dapatkan usai pelantikan pada jenjang jabatan eselon IV medio Oktober 2013. Sepuluh tahun pasca Perjanjian Helsinki pada 2005 lalu yang menjadi babak baru kembalinya Aceh di pangkuan ibu pertiwi, tidak sepenuhnya benar-benar hilang. Ini karena luka yang diakibatkan konflik berkepanjangan tersebut. Pembangunan infrastruktur cenderung stagnan di usia republik yang sudah menginjak setengah abad lebih. Akibat nyata dari konflik yang tersisa barangkali adanya beberapa bekas bangunan era konflik teronggok seperti sebuah museum hidup. Kengerian konflik sungguh terasa. Belum lagi luka batin yang kerap dilontarkan oleh sebagian keluarga korban yang tidak menemukan orang terkasih dan sanak keluarganya hingga tiada kabar yang jelas tentang keberadaannya. Mengukuhkan kembali nasionalisme dan patriotisme di daerah yang sebelumnya dilanda konflik tentu saja merupakan pekerjaan berat dan membutuhkan waktu yang lama. Dalam pikiran bawah sadarnya, masyarakat telah membentuk sentimen antara pemerintah dan masyarakat yang demikian kuat dan sulit dihilangkan. Apalagi jika dikaitkan dengan kondisi psikologis anak dan remaja korban konflik, maka hambatan dari diri pribadi masyarakat sendiri sudah sangat kuat. Untuk itu, upaya ini jelas memerlukan kerja keras dan kerja sama sebanyak mungkin pihak, tidak semata pemerintah, tetapi juga melibatkan tokoh agama dan pemuka masyarakat. Pascagempa mahadahsyat yang diiringi dengan gelombang tsunami menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak. Perjanjian Helsinki setelahnya merupakan ikhtiar dan kerja sama rakyat Aceh dan pemerintah. Boleh dikatakan


218

Perbincangan seperti ini awalnya hanya searah. Kami yang selalu proaktif ke dayah, tetapi lambat laun mereka juga menyempatkan diri berkunjung ke KPP.

ini sebagai titik balik bagi pembangunan berbagai infrastruktur di seluruh wilayah Aceh. Gelontoran dana otonomi khusus (otsus) sebagai implementasi perjanjian tersebut diserap dalam pembangunan infrastruktur terutama sarana dan prasarana umum. Walaupun belum sepenuhnya menyembuhkan luka akibat konflik, tetapi perbaikan di sanasini oleh pemerintah diapresiasi dengan tidak banyaknya gejolak. Peran para tengku–istilah untuk para pemuka agama di Aceh, sangat sentral, bukan hanya soal pelaksanaan syariat Islam yang menjadi keistimewaanya, tetapi juga soal berintegrasinya mereka dengan NKRI. Istilah pajak sendiri telah hidup cukup lama dan dikenal bahkan sangat familier di tengah masyarakat dengan sebutan pajak Nanggroe. Ini suatu bentuk pungutan tidak resmi yang dilakukan oleh GAM untuk membiayai perjuangannya. Kini, mereka sudah sepenuhnya mengakui NKRI dan merah putih serta berpartisipasi dalam era demokrasi dengan otonomi khusus berdemokrasi. Mereka membentuk partai-partai lokal yang dalam beberapa kali pemilihan umum menguasai parlemen tingkat kabupaten atau kota dan provinsi di seluruh wilayah Aceh. Bahkan keberadaan bupati atau wali kota juga didukung sepenuhnya oleh mantan GAM yang beberapa di antaranya adalah para kombatan atau angkatan perang GAM di masa lalu. Partisipasi aktif dalam politik ini juga menandai awal bergabungnya masyarakat Aceh bersama NKRI hingga mereka berkesempatan untuk mendaftarkan diri menjadi wajib


Perekat Indonesia

219

pajak dan mendapatkan identitas perpajakan, yaitu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Di wilayah Aceh bagian selatan terdapat salah satu dayah atau istilah sebutan untuk pesantren di Aceh, tepatnya 65 kilometer arah selatan dari Kota Tapaktuan. Dalam sejarah konflik yang terjadi di Aceh, dayah ini mempunyai peran sentral sebagai mediator bahkan beberapanya seolah pemberi semangat spiritual dan fatwa perjuangan. Dayah yang kami maksudkan di sini pada masa lalu sering menjadi rujukan spiritual para anggota GAM di wilayah Aceh bagian selatan. Pemimpin dayah sendiri umumnya para tengku yang sangat disegani pada masa lalu hingga kini, bahkan dalam kunjungan wali Nanggroe (pemimpin adat di Aceh) selalu disempatkan untuk berkunjung ke dayah tersebut. Momentum kami bisa dekat dengan mereka adalah saat diikutsertakan oleh Komandan Rayon Militer (Danramil) Aceh Selatan pada 2013 silam kala melakukan sosialisasi kebangsaan di lingkungan pesantren tersebut. Dari sanalah kami mulai intensif melakukan komunikasi, silaturahmi, dan pendekatanpendekatan. Beberapa acara pesantren sering juga kami ikuti seperti acara keagamaan, baik itu syukuran ataupun momentum hari besar keislaman yang mereka lakukan. Gayung pun bersambut. Kerja tidak pernah membohongi hasilnya. Ada respons yang positif saat kami bisa berdialog langsung dengan tengku dan pengurus yayasan dayah tersebut. Dari sini obrolan berkembang sampai dengan kemanfaatan pajak dan dana pemerintah untuk pembangunan yang berasal dari pajak, sebagaimana zakat yang selama ini ditunaikan untuk membangun kemaslahatan bersama. Perbincangan seperti ini awalnya hanya searah. Kami yang selalu proaktif ke dayah, tetapi lambat laun mereka juga menyempatkan diri berkunjung ke KPP. Di situlah barangkali titik baliknya. Pelayanan yang kami berikan mereka anggap nyaman, ramah, responsif, dan tanggap. Awal mulanya kami membantu mereka untuk menjadi wajib pajak PBB Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan (P3) dengan mendaftarkan aset dayah berupa kebun kelapa sawit yang selama ini diolah oleh dayah. Selama ini


220

sebagian keuntungan dari hasil perkebunan digunakan untuk operasional dayah. Bagi para pengurus dayah, pajak yang mereka bayarkan dianggap sebagai sedekah bagi NKRI. Mereka mau membayar PBB P3 sesuai ketetapan dan tentu saja tertunaikan dengan baik. Pada tahun berikutnya kami imbau untuk mendaftarkan wajib pajak badan usaha yang berbentuk CV untuk menjadi wajib pajak PP 46 (satu persen dari omset). Pada akhirnya mereka mau mendaftarkannya walaupun masih nihil pembayarannya dengan alasan sebagian keuntungan untuk membiayai dayah dan investasi lanjutan. Setelah berada di Tapaktuan selama tiga tahun lebih, sepeninggal kami, kami mendengar kabar baik bahwa mereka sudah mau membayar pemenuhan kewajiban pajak PP 23Â (0,5 %) pengganti PP 46 (1 %). Tentu saja tidak ada yang tiba-tiba. Pendekatan dan pelayanan yang kami lakukan dengan sepenuh hati berbuah manis dan menjadi penguatan bahwa banyak potensi yang bisa digali untuk menambah pundi-pundi pajak sekalipun di daerah bekas konflik yang mengerikan. Dalam setiap acara internal, kami sering memberikan motivasi bahwa para pemuka agama GAM pada masa lalu saja mau dan bersedia membayar pajak. Mereka tidak hanya menghormati simbol bendera merah putih saja, tetapi jiwa raganya sudah merah putih. Kini merah putih itu telah kafah menancap di bumi Serambi Makkah. Itulah jiwa nasionalisme dan patriotisme sesungguhnya. Tidak hanya menjadi semangat yang membuat bangsa Indonesia mampu berjuang mencapai dan mempertahankan kemerdekaannya. Lebih dari itu telah menjadi perekat bangsa ini di saat sejumlah upaya merusak persatuan bangsa datang dari dalam. Semoga damai dan maju Acehku. Semoga.


Perekat Indonesia

221

Sei Guntung Merajut Nasionalisme dengan Bangga Membayar Pajak Andy Prijanto, KPP Pratama Tanjung Karang - DJP

Matahari mulai bersemayam dan berselimut warna jingga. Kakiku untuk pertama kalinya menginjak Kelurahan Sei Guntung di Kecamatan Kateman, Indragiri Hilir, Riau. Saat itu musim kemarau pada bulan Juni 2014. Embusan angin di pelabuhan rakyat Pasar Sei Guntung terasa panas. Beriringan dengan hempasan air akibat belahan speedboat yang hilir mudik. Aroma amis terasa menyengat. Tak banyak lagi aktivitas di pasar karena menjelang senja. Aku mengguyurkan air ke badan di penginapan sembari pikiranku menghitung ulang waktu perjalananku hari ini. Tiga jam dengan Avanza ke Tembilahan dan tiga jam dengan speedboat menyusuri sungai menuju Sei Guntung. Pantas semua badan terasa lelah dan kaku. Posisi duduk selama enam jam terasa cukup “menyiksa� badan. Setelah azan Magrib berkumandang dan kuselesaikan ibadahku, segera kuajak anggota tim kecilku mencari makan malam. Menyusuri tepian sungai sejauh satu kilo meter, mencari tempat makan yang masih buka. Pandanganku tak lepas dari deretan ruko yang kebanyakan mulai menua. Mataku tak melihat satu pun mobil di Sei Guntung, selain sebuah kijang kapsul putih. Lambang palang merah menempel di pintu depannya. Dia parkir di halaman Puskesmas. Di beberapa sudut jalan beberapa pasang mata menatap dengan tajam dan


222

kurang bersahabat. Aku membalasnya dengan senyuman dan anggukan kecil. Mereka tak bergeming dengan tatapannya. Aku masuk ke sebuah rumah makan yang masih melayani pembeli. Kupilih tempat di sudut dekat meja kasir dengan empat kursi. Pas dengan jumlah tim kecilku. Malam itu kulalui dengan perut kenyang dan badan yang sangat lelah. Selama tiga hari tim kecil menyisir Sei Guntung. Cukup banyak informasi yang kudapat di sana. Mulai banyaknya pengusaha yang belum ber-NPWP, sulitnya memahami masalah pajak, susahnya menyetor dan melapor pajak, sampai besarnya biaya kepatuhan pajak. Tembilahan merupakan ibu kota Indragiri Hilir. Menuju Sei Guntung perlu waktu tiga jam memakai speedboat. Tidak ada transportasi darat. Sudah kurasakan terbatasnya transportasi dari dan menuju ke Tembilahan. Kantor administrasi perpajakan terdekat berupa KP2KP. Namanya KP2KP Tembilahan. Biaya bolakbalik tanpa menginap sekitar empat ratus ribu rupiah. Jika tertinggal jadwal speedboat atau kapal pong pong (perahu kayu bermesin), maka ada ekstra biaya menginap dan makan minum untuk sehari semalam. Tim sempat juga menengok tempat pembayaran pajak di Sei Guntung. Saat itu masih tidak dapat diproses langsung. Petugasnya harus membawanya ke Tembilahan. Pembayar pajak tidak langsung mendapatkan bukti setoran hari itu juga. Aku pulang ke Rengat dengan speedboat pukul sepuluh pagi. Hanya ada dua jadwal dengan yang jam sebelas. SB Rahmat Jaya dan SB Sri Gemilang. Itu yang kubaca di penjualan loket pelabuhan. Penuh persoalan dalam kepalaku. Kondisi Sei Guntung bukan semata persoalan kepatuhan pajak. Tapi sudah kompleks dan belum bisa dipenuhi oleh pemerintah, terutama infrastrukturnya. Setahun berlalu, aku dan tim kembali menapakkan kaki di pelabuhan Sei Guntung. Bedanya saat itu hujan berada di penghujung musim. Persis di bulan Juni dan masih menyebarkan bau amis. Bedanya lagi, di kepalaku sudah ada solusi yang kubungkus untuk disajikan di sana. Solusi untuk pengusaha yang belum ber-NPWP adalah dengan program pendaftaran NPWP door to door go show. Kami datangi setiap toko yang belum ber-NPWP dan langsung kami buatkan saat itu juga. Solusi untuk masyarakat


Perekat Indonesia

223

yang belum tahu akan pentingnya pajak adalah dengan penyuluhan door to door go show. Kami sebarkan leaflet dan penjelasan singkat. Solusi untuk wajib pajak agar lebih mudah dan murah dalam membayar pajak adalah dengan menggunakan mini ATM. Otakku juga sudah memetakan kultur sosial masyarakat di sana. Mereka terbagi atas etnis Tiongha, Banjar, Bugis, Minang, Melayu, dan sebagian kecil Jawa, Sunda, dan Batak. Kucoba bicara dengan para tokoh mereka. Salah satunya, aku bertemu tokoh adat Bugis yang sangat berpengaruh di Sei Guntung. Panggilannya Bang Ali, nama panjangnya tak kuingat lagi. Satu jam kami bicara tentang kondisi dan kendala kesadaran pajak di Sei Guntung, Bang Ali memberikan masukan dan dukungan yang luar biasa meskipun baru pertama kali berjumpa. Dia katakan, “Silakan Pak Andy pakai satu lapak saya. Boleh yang di ruko permanen berlantai dua atau yang ada di pelabuhan rakyat.� Intinya, Bang Ali memberikan jaminan bahwa masyarakat Sei Guntung mau membayar pajak asal ada yang membimbing dan memudahkan mereka di wilayah itu. Mereka ingin orang pemerintah yang resmi, kompeten, dan berwenang mengelola pajak. Bukan calo dan oknum yang hanya menggemukkan kantong pribadi. Tanpa pikir panjang, kuiyakan keinginan Bang Ali. Kesempatan tak datang dua kali. Salah satu tokoh adat yang punya pengaruh besar menawarkan sesuatu yang berharga. Sebuah kepercayaan dan dukungan. Kami berpisah karena Bang Ali harus meluncur ke Batam dan Malaysia untuk menangani bisnisnya. Aku kembali ke Rengat dengan hati yang campur aduk. Senang karena kendala di Sei Guntung mulai teratasi. Risau karena memikirkan bagaimana caranya memenuhi keinginan Bang Ali. Bagaimana bisa menempatkan staf organik di Sei Guntung? Apa ada payung hukumnya? Siapa yang menjamin keamanan dan keselamatan mereka? Sementara malam pertama kemarin, kudengar terjadi pembunuhan di dekat kantor kelurahan! Sehari setelah kembali dari Sei Guntung, kulaporkan semua kondisi dan peluang kepada kepala kantor. Beliau antusias mendukung konsep yang kutawarkan untuk mengelola Sei Guntung sebagai lumbung penerimaan pajak. Beliau siapkan semua perangkat dan infrastruktur yang dibutuhkan.


224

Maret 2016, KPP Pratama Rengat mengukir sejarah baru dalam mengelola potensi pajak di Sei Guntung. Aku dan tim menyulap sebuah lapak sederhana di pelabuhan rakyat di Sei Guntung, milik Bang Ali, menjadi kantor representative untuk melayani wajib pajak. Sebuah meja, sebuah laptop, sebuah mini ATM BRI, dan beberapa jenis leaflet, beberapa spanduk terpasang, dan dua orang pelaksana Seksi Ekstensifikasi Dan Penyuluhan setia melayani masayarakat Sei Guntung untuk mendapatkan layanan apa pun. Mulai informasi, konsultasi, pendaftaran NPWP, pembuatan billing system, dan apa pun yang dibutuhkan masyarakat diupayakan terpenuhi di satu tempat yang sederhana dan terbatas fasilitasnya. Dalam satu bulan Gerai Layanan Pajak (GLP) di Sei Guntung memberikan layanan selama lima hari kerja mulai Senin sampai dengan Jumat. Dikondisikan pada tanggal-tanggal yang mendekati jatuh tempo pembayaran pajak setiap bulannya. Hari pertama gerai dibuka, tidak ada satu pun yang mengunjungi. Hari kedua, dua orang mulai berani masuk dan hanya meminta informasi. Hari ketiga, empat orang datang untuk berkonsultasi. Hari keempat dua orang mendaftar NPWP dan dua orang meminta cetak ulang kartu NPWP. Hari Jumat pertama gerai dibuka hanya dua orang yang mengajukan permohonan NPWP. Air mataku menetes saat mendapatkan report day to day lewat aplikasi WhatsApp (WA) dari staf yang bertugas di Sei Guntung. Perasaanku tambah campur aduk antara pesimisme dan harapan. Otakku terus berputar dan berkata besok saat mereka kembali ke kantor harus langsung minta laporan lengkap dan lakukan evaluasi! Energiku sangat terkuras memikirkan Sei Guntung. Kukuatkan hatiku untuk sabar dan percaya bahwa hasil tidak akan mengkhianati usahanya. Ini bukan masalah gengsi pekerjaan dan ambisi jabatan. Sudah kutaruh di kotak sampah keduanya bersama serpihan kertas tak berguna. Ini masalah hati nurani dan tanggung jawab moral kepada masyarakat yang berada di remote area. Mereka yang dianggap tidak taat pajak. Masyarakat yang dimarginalkan dari sarana dan infrastruktur kemudahan membayar pajak. Warga negara yang dicap tidak peduli, tetapi tidak ditelusuri dan dipenuhi kebutuhannya. Enam bulan tak terasa berlalu seiring masuknya kemarau di Sei Guntung memuncak. Mulai ada seuntai senyuman dan munculnya keyakinan setelah


Perekat Indonesia

harapan. Anggota tim yang bergantian berangkat ke Sei Guntung mulai merasakan candu yang nikmat untuk berlayar ke sana. Bahkan kudengar beberapa dari mereka sudah menjadi sahabat bahkan anak angkat dari masyarakat di Sei Guntung. Warga Sei Guntung sudah membutuhkan staf KPP Pratama Rengat. Mereka mulai rindu menunggu kedatangan rombongan dari kantor pajak. Padahal sebelumnya mereka sangat resistan dan enggan berhubungan. Puncaknya saat program Tax Amnesty (TA) mulai berjalan, masyarakat Sei Guntung antusias mengikutinya. Selama bulan Juli sampai dengan September 2016, jadwal gerai ditambah menjadi sepuluh hari untuk menyukseskan pelaksanaan TA di daerah terpencil tersebut. Alhamdulillah hasil TA dari Sei Guntung menyumbang pundi-pundi uang negara sebesar enam puluh miliar rupiah. Air mataku kembali menetes, tetapi hatiku tidak

225

Puncaknya saat program Tax Amnesty (TA) mulai berjalan, masyarakat Sei Guntung antusias mengikutinya. Selama bulan Juli sampai dengan September 2016, jadwal gerai ditambah menjadi sepuluh hari untuk menyukseskan pelaksanaan TA di daerah terpencil tersebut.


226

lagi campur aduk. Hanya rasa syukur yang membuatku menangis. Terima kasih ya Tuhan. Konsentrasiku sedikit terusik saat dering HP-ku berbunyi. Kulirik sebentar dan terbaca ada WA yang masuk. Hanya nomor HP saja yang muncul tanpa nama pemiliknya. Walau sebenarnya malas untuk membuka pesannya, entah kenapa seperti ada yang menggerakkan tanganku agar menyentuh layar HP untuk membuka pesan itu. Sambil perlahan membaca, perasaan haru tiba-tiba mengalir di relung kalbuku. Sekejap kemudian ingatanku kembali kepada kenangan tahun 2016 lalu. Saat aku masih bertugas di Rengat dan bersama-sama dengan sahabat satu kantor menggali potensi di Sei Guntung. Menjelang selesainya program TA periode kedua, aku mendampingi kepala kantor dan diiringi cukup banyak staf KPP Pratama Rengat untuk kembali hadir di Sei Guntung. Ada undangan dari warga setempat untuk menghadiri syukuran akhir tahun sekalian mengevaluasi pelaksanaan TA di wilayah sana. Bertemu kembali dengan para tokoh adat seperti Bang Ali yang orang Bugis, Koh Asan yang tokoh Tiongha, dan beberapa tokoh adat yang sudah lupa namanya. Surprise! Kami disambut cukup meriah dengan tarian barongsai. Malam itu acara berlangsung di gedung serba guna milik wihara di Sei Guntung. Dua ratusan lebih warga setempat berbaur dengan tim KPP Pratama Rengat untuk menikmati kebersamaan dan melepas rindu persahabatan. Di saat makan bersama di satu meja bundar, aku mengatakan impianku kepada Koh Asan. Sebuah keinginan untuk mengangkat nama Sei Guntung sebagai wilayah taat pajak. Kusampaikan dengan sangat santun agar tidak menyinggung para tokoh setempat. “Koh Asan, boleh aku minta izin kepada beberapa pemilik ruko di pelantaran paling depan pasar yang langsung menghadap ke sungai?” Koh Asan tersenyum lalu justru balik bertanya, “Untuk apa Pak Andy?” “Begini Koh, aku punya mimpi bahwa orang-orang yang berlalu lalang melewati Sei Guntung setiap hari, baik dari Tembilahan maupun dari Batam tahu bahwa Sei Guntung ini adalah wilayah taat pajak.” “Bagaimana cara saya membantu Pak Andy mewujudkan mimpi itu?” Tanyanya semakin tertarik.


Perekat Indonesia

227

“Aku ingin memasang spanduk raksasa di dinding paling atas ruko. Tulisannya: Wilayah Taat Pajak”, jawabku singkat. Koh Ahsan tersenyum kemudian menjawab, “Tentu saya mendukung dan pasti akan bantu. Tapi bapak pernah berpikir berapa lama kalau spanduk itu bertahan dari hujan dan panas?” “Aku tahu Koh, paling satu sampai tiga bulan. Tapi itulah kemampuan kantorku. Hanya sanggup menganggarkan biaya untuk spanduk”, jelasku Koh Ahsan semakin mengembang senyumnya, “Pak Andy, serahkan semua ke saya. Nanti akan saya buatkan dari bahan stainless steel. Kita pasang persis di tepian sungai. Lebih terlihat dan yang pasti awet. Kalau malam akan bersinar karena akan saya kasih lampu sorot.” Aku terdiam mendengar omongan Koh Ahsan. Lebih tak berkutik saat dia melanjutkan, “Pak Andy gak perlu pikir masalah biaya. Itu sudah menjadi kewajiban kami masyarakat Sei Guntung. Ungkapan terima kasih untuk Kantor Pelayanan Pajak Rengat.” Pikiranku kembali ke alam nyata saat kurasakan tetesan air mata bahagia. Bahagia saat melihat sebuah foto yang dikirim Koh Asan lewat pesan WA. Di bawah foto tertulis sebuah pesan yang menggetarkan sanubariku. “Hari ini, tanggal 28 Maret 2017 peresmian sekaligus pembukaan selubung tulisan Kawasan Taat Pajak Kateman. Sayang Pak Andy sudah pindah tugas ke Lampung. Sayangnya juga bapak tidak bisa bersama kami. Padahal ini mimpi Bapak. Tapi saya, Ahsan, dan teman-teman tetap akan ingat Bapak karena peresmian ini.” Sungguh indah merajut kebersamaan di daerah terpencil saat bertugas. Ada hikmah dan rahasia besar yang indah di balik kesedihanku saat pertama kali tahu harus bertugas ke Rengat. Jauh dari rumah dan keluarga. Jarak yang membuatku hanya mampu bertemu dua minggu sekali dengan keluarga tercinta. Kisahku ini telah kusampaikan kepada anak lelakiku tercinta yang tahun 2019 ini sedang menjalani on the job training di salah satu kantor pajak. Nilai moralnya adalah, persoalan yang begitu banyak di DJP ini dengan izin Allah Swt. akan dapat diselesaikan dengan dua modal yang ada di dalam diri kita sendiri. Segumpal jaringan yang berisi trilyunan syaraf berupa otak yang harus


228

dimaksimalkan dan segumpal daging di rongga tubuh yaitu hati untuk selalu meyakini bahwa Allah Swt. akan memudahkan apabila kita mau bekerja keras, cerdas, ikhlas, dan mencintai DJP dengan hati dan akal sehat.


Perekat Indonesia

229

Rumah Pajak untuk Anak Dwi Joko Kristanto, Kanwil DJP Jawa Tengah I

Hal apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata pajak? Ya, pasti ada bermacam-macam jawaban, tetapi mungkin yang pertama kali terlintas adalah bayar, bayar, dan bayar. Ada yang mengeluh dan ada juga yang bingung dalam menyikapi pajak yang dibebankan. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya pajak bagi negara pun tergolong masih cukup rendah. Ada beberapa faktor penyebab kurangnya kesadaran pajak di Indonesia, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan pentingnya manfaat pajak tersebut. Hal ini wajar mengingat masyarakat sebagai warga negara, membayar pajak karena dipaksa oleh undang-undang dan tidak berdasarkan keinginannya sendiri. Karena tidak ada masyarakat yang rela apabila sesuatu yang ia miliki harus diberikan ke orang lain atau ke negara melalui pajak yang ia bayarkan. Selain itu, ketika masyarakat membayar pajak, ia tidak langsung mendapatkan imbalan atas apa yang telah dibayarkan. Berbeda ketika masyarakat membayar di supermarket atau toko syawalan karena mereka mendapatkan barang yang diinginkan ketika mereka telah membayarkannya di kasir. Padahal atas pajak yang telah terkumpul sebagai sebuah penerimaan negara nantinya akan digunakan untuk mewujudkan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang tidak bisa di wujudkan oleh satu atau sekelompok masyarakat saja. Sesuatu tersebut antara lain seperti membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, bandara yang akan memudahkan masyarakat untuk bepergian; membayar


230

PNS sebagai pelayan masyarakat, polisi, dan tentara untuk menjaga keamanan negara; membayar guru dan semua kebutuhan untuk pendidikan generasi muda; dan membayar sesuatu lainnya yang telah direncanakan oleh pemerintah untuk mencapai kesejahteraan warganya. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya kesadaran pajak di Indonesia adalah kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pihak pengelola pajak. Oleh karena itu, untuk mengembalikan dan menghidupkan kepercayaan masyarakat tersebut terutama generasi milenial, generasi Z, dan generasi Alfa yang cerdas dapat ditempuh dengan memberikan informasi terkait pajak secara luas dan transparan. Seperti yang telah kita ketahui bahwasanya pajak merupakan salah satu pendapatan terbesar bagi negara. Lebih dari 70% penerimaan negara bersumber dari pajak. Tanpa adanya pajak tentunya akan menghambat kemajuan bangsa, baik dari segi pembangunan infrastruktur, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, maupun kegiatan perekonomian yang juga akan turut terganggu. Mengingat pentingnya peranan pajak bagi kelangsungan masa depan bangsa dan negara, sudah seharusnya pajak dikenalkan sejak dini kepada generasi penerus kita. Generasi milenial, generasi Z, dan generasi Alfa yang merupakan aset negara yang paling berharga karena masa depan bangsa dan negara ke depannya ada di tangan mereka. Mereka yang nantinya akan saling bantu membantu dalam membangun bangsa dan negara ini. Ada yang berperan sebagai perumus dan perencana pembangunan negara, ada juga yang berperan sebagai pendukung kelancaran hal tersebut seperti memastikan ketersediaan dana untuk pembangunan. Salah satu sumber ketersediaan dana untuk pembangunan berasal dari pajak yang merupakan salah satu sumber penerimaan negara. Pengenalan seperti ini penting dilakukan agar ke depannya para generasi muda terutama anak-anak menjadi sadar tentang pentingnya membayar pajak sehingga kelak bisa menjadi warga negara yang sadar dan patuh pajak. Dengan kesadaran akan pentingnya pajak sejak dini diharapkan dapat mendukung kelancaran pembangunan bangsa dan negara di masa mendatang. Hal inilah yang mendorong KPP Pratama Demak membuat sebuah inovasi Rumah Pajak Untuk Anak, yaitu suatu ruang bermain untuk anak sekaligus tempat pengenalan dini tentang pajak. Harapannya, inovasi tersebut bisa mewujudkan generasi muda yang mempunyai kesadaran pajak sejak dini. Terlebih, wajib pajak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Demak mempunyai karakteristik yang unik, yaitu beberapa di antaranya sering membawa anak-anak


Perekat Indonesia

231

pada saat melaksanakan kewajiban perpajakannya. Agar anak-anak tersebut tidak merasa bosan menunggu dan mengganggu suasana kerja, KPP Pratama Demak menyediakan Rumah Pajak Untuk Anak tersebut. Rumah Pajak Untuk Anak didasarkan atas dua aspek. Aspek Orisinalitas, Rumah Pajak untuk Anak memang disediakan oleh KPP Pratama Demak untuk memberikan kenyamanan terhadap Wajib Pajak karena permasalahan karakteristik Wajib Pajak di Demak sebagian di antaranya adalah ibu-ibu yang datang melaporkan pajak dengan membawa serta anaknya sehingga penciptaan Rumah Pajak untuk Anak memang sesuai bila diterapkan di Demak. Aspek Asas Manfaat, Fungsi Rumah Pajak untuk Anak adalah untuk ruang bermain anak dan pengenalan dini tentang pajak. Program inovasi ini sekaligus memberikan edukasi perpajakan kepada anak usia dini dan memberikan citra yang ramah dan menyenangkan tentang kantor pelayanan pajak. Program inovasi Rumah Pajak untuk Anak telah memenuhi aspek-aspek perubahan dalam pilar-pilar reformasi birokrasi, yakni aspek Penataan Organisasi. Rumah Pajak Untuk Anak terletak menyatu dengan ruang Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) tanpa mengganggu proses pelayanan itu sendiri. Sementara menunggu nomor antreannya dipanggil, para orang tua dapat menemani anak beraktivitas di ruangan ini sesuai dengan keinginan anak-anaknya. Posisinya yang strategis juga memungkinkan satpam atau petugas cleaning service dapat mengarahkan dan membantu anak-anak untuk bermain, membaca, foto-foto, atau belajar mewarnai gambar yang sudah disediakan. Rumah Pajak Untuk Anak ini memang disediakan bagi para Wajib Pajak yang datang ke KPP Pratama Demak dengan membawa serta anak-anaknya yang masih kecil. Tidak menutup kemungkinan juga bagi anak-anak para pegawai yang kebetulan sedang tidak ada yang menjaga di rumahnya, bisa dititipkan kepada satpam/cleaning service yang berjaga pada saat itu (program one day) sehingga tidak mengganggu kinerja para pegawai yang bersangkutan. Bahkan pada musim libur seperti libur lebaran, tidak sedikit juga pegawai KPP yang membawa anak-anaknya ke kantor dikarenakan sedang ditinggal mudik pengasuhnya. Dengan adanya Rumah Pajak untuk Anak, para pegawai tersebut tidak perlu resah dan repot jika harus membawa anaknya ke kantor dan pekerjaan mereka pun tidak akan terganggu. Bagi orang tua yang mempunyai kewajiban melaporkan pajaknya setiap bulan akan dengan senang hati mengajak anaknya ke KPP karena anak-anaknya akan terhibur dan mendapatkan edukasi tentang pajak sebagai generasi penerus yang bangga dan


232

cinta akan pajak untuk pembangunan bangsa. Program inovasi ini sekaligus memberikan edukasi perpajakan kepada anak usia dini dan memberikan citra yang ramah dan menyenangkan tentang KPP. Desain Rumah Pajak Untuk Anak ini dibuat dengan konsep yang sangat menarik dan menyenangkan. Dinding-dinding ruangan diberi gambar-gambar lucu dengan warna cerah sehingga menarik minat anak kecil. Ada juga boneka kojib (kontribusi wajib) sebagai identitas visual yang bisa menggambarkan institusi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) secara menarik. Fasilitas yang ada di dalamnya pun sangat beragam. Di bagian depan sebelum memasuki Rumah Pajak Untuk Anak disediakan rak tempat sandal/sepatu yang dimaksudkan untuk melatih anak-anak belajar tertib dan menjaga kerapian dan kebersihan ruangan. Beberapa permainan interaktif seperti perosotan kecil, kuda-kudaan, serta kompor yang berisikan game interaktif tentang edukasi perpajakan dan kuis pajak juga disediakan untuk melatih motorik anak. Dengan game dan kuis interaktif tersebut, anak-anak tentunya tidak hanya senang dalam bermain, tetapi juga secara tidak langsung menjadi tahu apa itu pajak dan bagaimana pajak berperan bagi kelangsungan masa depan bangsa dan negara. Selain itu ada juga beragam permainan kreatif dan edukatif untuk anak- anak seperti photo booth untuk berfoto ria, puzzle bertemakan pajak, komik-komik perpajakan yang menarik, lembar mewarnai dengan gambar bertema pajak yang dilengkapi dengan pensil warna dan krayon. Hasil karya anak-anak yang dinilai bagus nantinya juga akan diberikan apresiasi dengan dibuatkan pigura dan dipasang pada dinding-dinding. Pada tahun 2015, Rumah Pajak untuk Anak berhasil mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari Kementerian Keuangan dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB). Inovasi tersebut masuk dalam Top 99 Inovasi Pelayanan Publik yang diadakan oleh KemenPANRB di tingkat kementerian/lembaga/pemerintah provinsi/ pemerintah daerah/pemerintah kota. Inovasi tersebut juga diikutsertakan dalam sebuah pameran yang juga diikuti oleh 255 peserta, antara lain oleh juara dan finalis UNPSA 2015, Top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik 2015, inovasi dari kabupaten/kota se-Jawa Timur, BUMN, swasta, lembaga mitra pembangunan dari Amerika Serikat, Jerman, dan Korea Selatan. KPP Pratama Demak sebagai salah satu peraih penghargaan Top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik tahun 2015, ikut meramaikan acara tersebut dengan membuka stand “Rumah Pajak Untuk Anak� mewakili Kementerian Keuangan.


Perekat Indonesia

233

Stan didesain dengan unik dan menarik sehingga berhasil mendapatkan antusias yang luar biasa dari masyarakat, khususnya anak-anak. Berbagai kegiatan pun diikuti oleh mereka di antaranya lomba mewarnai gambar bertemakan pajak, ada juga game dan kuis tentang pajak dengan hadiah-hadiah yang tentunya lucu dan menarik. Selain itu ada juga klinik pajak yang berisikan informasiinformasi perpajakan yang dikonsep dengan menarik dan menyenangkan. Para orang tua yang datang pun mengaku sangat senang dengan adanya stan tersebut karena anak-anaknya bisa bermain, mendapatkan door prize menarik, sekaligus mendapatkan ilmu tentang pajak. Bertepatan dengan hari Jumat, 15 Mei 2015, bertempat di Ruang Graha Wicaksana Praja, Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Timur, KPP Pratama Demak menerima penghargaan Apresiasi Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2015 dari KemenPANRB. Tujuan kompetisi inovasi pelayanan publik ini adalah untuk melakukan evaluasi, sejauh mana upaya-upaya yang telah dilaksanakan dalam peningkatan kualitas pelayanan publik di tanah air. Penghargaan tersebut tentunya menjadi bukti bahwa Rumah Pajak untuk Anak merupakan sebuah inovasi yang cukup sederhana namun membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat serta bisa diterapkan pada unit-unit kerja yang lain, khususnya kantor layanan masyarakat dengan layanan publik yang dapat menyediakan space sederhana yang ramah anak. Adanya Rumah Pajak untuk Anak menjadikan KPP berkesan terbuka dan lebih dekat dengan masyarakat dengan memberikan kebebasan mereka mengikutsertakan anak-anaknya ketika melaksanakan kewajiban perpajakannya. Rumah Pajak untuk Anak menumbuhkan citra di masyarakat bahwa KPP memberikan pelayanan dengan ramah dan mengayomi demi kelangsungan masa depan bangsa. Dengan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan Wajib Pajak setempat, mereka merasa dihargai dan secara otomatis mereka pun akan menghargai para pegawai pajak ketika mengunjungi KPP. Dari sinilah akan muncul persepsi bahwa Wajib Pajak sebagai “mitra� yang dengan sukarela melaksanakan kewajiban perpajakannya tanpa ada unsur keterpaksaan. Perhatian dari hal-hal yang kecil akan menciptakan kepercayaan masyarakat pada umumnya untuk sadar akan arti pentingnya pajak. Selain itu, pemahaman tentang pajak yang diberikan sejak dini juga diharapkan dapat memberikan edukasi tentang pajak, manfaat pajak bagi negara dan masyarakat, dan tahu bagaimana jadinya negara ini berdiri jika tidak ada pajak. Dengan edukasi


234

itu, secara tidak langsung akan menumbuhkan kesadaran, pengetahuan, serta kepedulian anak-anak terhadap pajak, dan pada akhirnya kelak mereka akan tumbuh menjadi warga negara yang sadar dan patuh pajak. Dengan pemahaman pajak sejak dini, lima sampai sepuluh tahun ke depan ketika anak-anak tersebut mulai memasuki dunia kerja atau dunia usaha, mereka akan paham dan mudah dalam menjalankan kewajiban perpajakannya. Tentunya, masa depan negara kita dipertaruhkan pada usaha kita menyiapkan generasi penerus negeri yang punya hati dan suka memberi. Indonesia ada karena rakyatnya mau berbagi dan membayar pajak adalah cara kita berbagi untuk negeri. Oleh karena itu, budaya sadar pajak harus ditanamkan sejak dini untuk membentuk karakter generasi bangsa yang cinta tanah air dan bela negara melalui kesadaran melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan.


Perekat Indonesia

235

Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong Julhendra H. Saragih, KPP Pratama Jakarta Senen- DJP

Batu-batu granit berukuran raksasa bertebaran di antara hamparan pantai-pantai indah berpasir putih yang diselingi barisan nyiur melambai. Ya, itulah panorama eksotis Pulau Bangka. Pulau ini dianugerahi Tuhan keindahan alam yang begitu menawan. Mungkin Pulau Bangka diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Masyarakat Bangka adalah komunitas yang hidup rukun dan damai. Sebagian besar penduduknya adalah etnis Melayu dan Tionghoa yang sudah berasimilasi sejak sekian lama. Sebagian yang lain adalah warga pendatang yang berasal dari berbagai penjuru Nusantara. Warga Tionghoa sudah sejak abad ke17 berdatangan ke Pulau Bangka dalam jumlah besar untuk bekerja di pertambangan timah, jauh sebelum penjajah Belanda datang. Orang Tionghoa yang umumnya dari suku Hakka tidak membawa pasangan perempuan sehingga mereka menikah dengan para perempuan Melayu di Bangka. Selanjutnya terbentuklah masyarakat peranakan dari interaksi yang erat tersebut. Kalau dirunut lebih jauh pasti masih ada hubungan kerabat jauh antara masyarakat Melayu dengan Tionghoa. Kebersamaan telah menjadi semangat hidup masyarakat Bangka, mereka hidup berdampingan tanpa membeda-bedakan. Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong adalah slogan khas dalam bahasa Hakka yang artinya “orang Tionghoa dan orang Melayu adalah


236

sama�. Roh persaudaraan Melayu-Tionghoa terus dijaga masyarakat Bangka sejak berabad silam sehingga tidak ada pengotak-kotakan antara Tionghoa dan Melayu, termasuk dengan suku-suku lainnya. Kedua suku ini sejak lama hidup dalam harmoni dan penuh kekeluargaan. Saling berkunjung sewaktu Idulfitri, Imlek, dan Natal sudah sejak lama menjadi tradisi. Di tengah-tengah masyarakat Bangka yang hidup rukun dan harmonis inilah Direktorat Jenderal Pajak (DJP), dalam hal ini Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bangka dan Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Sungailiat hadir guna mendekatkan dan mempermudah Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan, baik pendaftaran, pelaporan, dan konsultasi. Dengan kehadiran kantor pajak ini, masyarakat sampai ke pelosok desa di Pulau Bangka dapat semakin dimudahkan dan pada akhirnya pelayanan pajak kepada masyarakat bisa lebih optimal. Pada tahun 2011 DJP mulai menggelar program Sensus Pajak secara nasional, termasuk juga di Pulau Bangka. Persiapan Sensus Pajak dimulai dengan membuat rencana kerja dan menyediakan data seperti peta cluster-cluster sentra ekonomi yang ada di Bangka. Sentra ekonomi di Bangka utamanya berada di kota Sungailiat dan Belinyu. Setelah menentukan cluster sebagai target sensus, proses berikutnya adalah melakukan koordinasi dan kerja sama dengan berbagai pihak seperti pemerintah daerah, tokoh masyarakat setempat, sampai para ketua RT/RW. Selanjutnya, petugas sensus dari KPP Pratama Bangka dan KP2KP Sungailiat dengan didampingi oleh pihak ketiga mendatangi dan melakukan kunjungan ke lokasi usaha atau tempat tinggal masyarakat secara proaktif dari pintu ke pintu (door to door). Petugas sensus memberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan pelaksanaan sensus dan meminta kesediaan responsden untuk memberikan data dan keterangan melalui wawancara sambil mengisi Formulir Isian Sensus (FIS). Hasil sensus nantinya dapat dimanfaatkan untuk melakukan pemutakhiran data dan melengkapi profil Wajib Pajak agar tetap up to date, lengkap, dan akurat. Sensus Pajak pada hakikatnya adalah upaya untuk menegakkan keadilan. Tidak adil jika sebagian masyarakat taat membayar pajak sementara sebagian masyarakat lain belum membayar pajak dengan semestinya. Ini adalah bentuk ketidakadilan yang tidak boleh terus-menerus dibiarkan karena bagaimanapun hasil dari pajak tersebut bisa dirasakan seluruh masyarakat, baik yang taat pajak maupun yang belum membayar pajak. Melalui sensus ini petugas pajak sekaligus


Perekat Indonesia

237

mengedukasi masyarakat untuk bersama-sama sadar dan peduli pajak dengan memiliki NPWP, membayar pajak sesuai ketentuan, melunasi utang pajak, dan menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT). Dari komunikasi yang dilakukan pada saat sensus diketahui bahwa masih banyak Wajib Pajak yang belum memahami hak dan kewajiban perpajakannya, tetapi mereka enggan untuk mengurus sendiri urusan pajaknya ke kantor pajak. Selama ini Wajib Pajak di Bangka memang banyak yang lebih mengandalkan jasa konsultan tidak resmi sebagai perantara dalam urusan perpajakannya. Konsultan seperti ini biasanya berani menjanjikan sanggup membantu supaya pajak yang dibayar menjadi lebih kecil. Ketidakpedulian akan urusan pajak sering kali membuat Wajib Pajak menjadi korban pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Secara umum Sensus Pajak telah memungkinkan pengumpulan data dan informasi yang lebih berkualitas pada cluster-cluster sentra ekonomi yang menjadi sasaran sensus. Pengumpulan data mengenai kewajiban perpajakan dan potensi pajak ini dilakukan dalam rangka memperluas basis pajak. Penerimaan negara akan dapat ditingkatkan jika ada perluasan basis pajak. Perlu dijadikan catatan bahwa modal sosial berupa semangat kebersamaan dan jaringan sosial masyarakat Bangka ternyata berhasil meningkatkan partisipasi warga untuk kesuksesan program ini. Para tokoh masyarakat, ketua RT/RW, bahkan tenaga pendukung di lingkungan kantor pajak yang seluruhnya adalah penduduk asli Bangka, baik dari suku Melayu maupun Tionghoa, berperan penting untuk mendampingi dan menjadi penghubung antara petugas sensus dengan masyarakat. Pendamping dan penghubung yang sudah dikenal dengan baik oleh masyarakat dan memahami kultur setempat dapat meminimalkan potensi resistensi yang mungkin timbul. Dengan cara ini Wajib Pajak menjadi lebih terbuka untuk menerima petugas sensus di tempat tinggal atau tempat usahanya dan memberikan data dan informasi yang diperlukan dengan jujur dan benar. Keberhasilan program sensus pajak di lapangan memang sebagian besar tergantung pada aspek komunikasi sehingga terwujud sinergi dan dukungan aktif berbagai pihak. Sebagai koordinator petugas sensus, aku berusaha mengoptimalkan momentum Sensus Pajak dengan melakukan pendekatan kepada masyarakat dan memberikan pemahaman akan pentingnya pajak. Pada setiap kesempatan selalu disampaikan bahwa roda pembangunan nasional akan terus bergerak dan perekonomian negara dapat terus tumbuh karena adanya pajak. Dengan semakin besarnya penerimaan negara dari pajak tentu akan semakin banyak pula fasilitas


238

publik yang dapat disediakan pemerintah dan langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pembangunan terminal Bandara Depati Amir Pangkalpinang, jembatan baru berteknologi buka tutup yang menghubungkan Kota Pangkalpinang dengan Sungailiat, dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas  (PLTG) Air Anyir di Kabupaten Bangka adalah beberapa di antara sarana infrastruktur yang sedang dibangun di Pulau Bangka. Karena itu, dengan adanya Sensus Pajak Nasional diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat Bangka secara bersama-sama untuk patuh dalam membayar kewajiban pajaknya yang pada akhirnya dapat menjadi sumber pendanaan negara dan daerah yang memadai, kokoh, dan berkesinambungan. Momentum Sensus Pajak ternyata telah menjadi terobosan bagi petugas pajak untuk melakukan kontak langsung dengan masyarakat. Melalui sensus ini petugas pajak jadi dapat lebih mengenal dan dikenal oleh para Wajib Pajak di Pulau Bangka. Pemahaman dan pemanfaatan kearifan lokal juga dirasakan sangat bermanfaat dalam pelaksanaan tugas ini. Ini telah menjadi tonggak penting dan merupakan permulaan dari perjalanan panjang untuk membangun interaksi yang lebih intensif antara petugas pajak dengan masyarakat. Pajak ternyata telah meningkatkan daya rekat sosial dalam kemajemukan masyarakat Bangka dengan menggugah rasa kebersamaan, kesetiakawanan, dan sekaligus tanggung jawab akan kemajuan bersama. Kearifan lokal melalui slogan Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong telah memberi inspirasi bagi masyarakat Bangka, baik Melayu maupun Tionghoa, serta suku-suku lainnya untuk bersama-sama bergotong royong dan berpartisipasi aktif membiayai pembangunan nasional dengan membayar pajak. Dengan rasa memiliki dan mencintai tanah air sebagai pancaran rasa syukur atas karunia Tuhan, masyarakat Bangka tentu akan siap melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara yang baik. Hal tersebut secara tidak langsung mengindikasikan dampak positif pasca pelaksanaan Sensus Pajak.


Perekat Indonesia

239

Pajak Sebagai National Security Marihot Pahala Siahaan, KPP Pratama Ruteng- DJP

Awal tahun bagi kantor pajak selalu menjadi hari yang penuh kesibukan penerimaan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan. Salah satu upaya yang rutin dilakukan adalah pemberian teladan kepala daerah dalam penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan. Sebagai negara dengan mayoritas masyarakat menganut asas patrilineal, teladan dari pemimpin (kepala daerah) memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat termasuk bagi wajib pajak di Indonesia. Untuk itu Pekan Panutan penyampaian SPT Tahunan merupakan cara yang efektif untuk menunjukkan teladan kepala daerah bagi Aparatur Sipil Negara dan anggota TNI/Polri serta masyarakat yang menjadi wajib pajak yang wajib menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan. Dalam Pekan Panutan Penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak 2018 oleh Bupati dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Kabupaten Manggarai diadakan dialog tentang pajak. Acara diselenggarakan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Ruteng bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Manggarai di Ruang Rapat VIP Nucalale Kantor Bupati Manggarai pada tanggal 6 Maret 2019. Kabupaten Manggarai merupakan salah satu kabupaten yang ada di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Salah satu anggota Forkompimda, yaitu Komandan Komando


240

Distrik Militer (Kodim) 1612 Manggarai, Letnan Kolonel Rudi Markiano Simangunsong mengemukakan pandangannya tentang pajak. Pandangan yang menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang arti penting pajak dalam kehidupan bernegara. “Pajak merupakan salah satu unsur national security. Ya, berbicara tentang pajak berarti bicara tentang keamanan negara,” kata pak Dandim dengan mantap. Satu hal yang menarik tentunya bagi peserta Pekan Panutan. Selain Bupati dan Wakil Bupati Manggarai turut hadir Ketua DPRD, Ketua Pengadilan Negeri, Wakil Ketua Pengadilan Agama, Kapolres, Kepala Kejaksaan Negeri, para kepala dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Manggarai, pemimpin instansi vertikal pemerintah pusat, dan pemimpin BUMN/BUMD yang ada di Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Hadirin tampak menyimak dengan antusias. Sang Dandim kemudian melanjutkan paparannya, “Rasio pajak kita terhadap penerimaan negara sampai saat ini ‘kan hampir 80%. Lebih kurang 1.600 triliyun rupiah penerimaan negara berasal dari penerimaan pajak, berbanding 2.000 triliyun dari keseluruhan penerimaan negara untuk membiayai pengeluaran di APBN kita. Nah kalau pajak kita kolaps apa yang terjadi kira-kira? Belum banyak yang berbicara tentang ini, tentang national security. Jadi kalau pajak kita ini drop sama dengan kalau moneter kita drop. Mungkin tidak bisa dibayar gaji saya, gaji bapak ibu sekalian, gaji ASN (Aparatur Sipil Negara), dan gaji anggota TNI/Polri. Gaji kita tiba-tiba akan hilang begitu saja, tiba-tiba tidak ada uang. Dimungkinkan akan terjadi huru hara, kolaps negara”. “Memang harus kita sadari bersama, teman-teman pajak kita ini salah satu Nation Fighter juga. Tujuannya untuk negara ini ya dari sektor itu, pajak. Di samping dari yang lain kita berbicara transportasi, energi, kemudian salah satunya juga defense, kemudian lain-lainnya. Karena itu pajak masuk dalam national security kita, keamanan nasional kita. Dalam lingkup negara memang pajak tidak dinyatakan sebagai unsur keamanan nasional. Keamanan nasional ini kurang populer di Indonesia padahal sebenarnya keamanan nasional kita ini yang menjamin keberlangsungan negara kita. Saya selalu membayangkan tiba-tiba pajak kolaps. Tidak ada orang yang bayar pajak, apa yang terjadi? Pembangunan semua hilang. Bayangkan saja, APBN disusun 2.000 triliyun misalnya, sementara 2.000 triliyun ini 1.600 triliyunnya dari pajak, kolaps kita. Kita tidak dibayar misalnya, prajurit tidak dibayar, polisi tidak dibayar. Padahal dia pegang senjata, datang dia ke toko ambil barang, sambil berkata ‘kasih ga, saya mau makan’.


Perekat Indonesia

241

Tentu keadaan akan chaos, kacau. Hal ini tentunya tidak kita inginkan terjadi.� Di akhir paparannya Pak Dandim mengimbau, “Mari kita membayar dan melapor pajak dengan benar. Kita memang harus peduli masalah pajak karena pajak penting bagi keamanan negara. Kita support teman-teman kita dari kantor pajak ini, sambil kita awasi teman-teman ini mengelola pajak secara transparan dan jujur.� Sungguh suatu paparan yang mendukung keberhasilan pemasyarakatan kesadaran tentang pajak sebagai kewajiban kenegaraan. Sebagai Kepala KPP Pratama Ruteng, tentunya aku sangat mendukung dan berterima kasih kepada Beliau. Aku yakin hadirin, termasuk bupati dan wakil bupati mendapatkan pencerahan dari sudut pandang lain tentang pajak. Apalagi yang menyampaikan bukan orang pajak langsung. Sebagai Komandan Kodim yang bertanggung jawab atas keamanan negara, khususnya tiga kabupaten yang menjadi wilayah kerjanya, Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur, tentunya tepat sekali yang disampaikannya. Beliau melihat keberadaan pajak sebagai unsur penting dalam menjaga keamanan dan kedaulatan negara, Secara tidak langsung hal ini berarti pajak berkaitan erat dengan persatuan Indonesia yang mendukung tetap kokohnya negara Indonesia tercinta. Terima kasih Pak Dandim yang bijaksana. Asyik sekali kalau sosialisasi pajak dilakukan oleh pihak ketiga, apalagi pihak yang bertanggung jawab atas keamanan negara. Pastinya hadirin mendapatkan pencerahan dan wawasan baru tentang pajak. Pajak dipahami dengan utuh, tidak hanya memahami pajak sebagai alat pengumpulan penerimaan negara semata. Semoga semakin banyak pejabat yang memahami arti penting pajak dan mau menyuarakannya kepada masyarakat. Demi negara Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.


T

242

T U A T R E B

U K A T N A W A L E M


Perekat Indonesia

�Makna hidup itu bukan ditentukan panjang pendeknya usia, tapi seberapa besar kita bermanfaat bagi sesama selama hidupnya. Bisa membantu sesama dalam apa pun sesuai kapasitas kita.“ Sutopo Purwo Nugroho

243


244

Temankeu Lombok Adnan Wimbyarto, KPPN Mataram - DJPb

Komunitas ini lahir dari keinginan anak-anak muda yang menginginkan Lombok lebih baik, maju, dan sejahtera. Kelahirannya diawali dengan adanya Kemenkeu Mengajar 2 pada tahun 2017, kegiatan rutin yang dimulai dari tahun 2016 dan pada tahun 2017 salah satunya dilakukan di Pulau Lombok. Komunitas ini lahir dari rahim yang sama, yaitu Kementerian Keuangan, tetapi dibesarkan di tempat yang berbeda-beda karena keinginan dan tekad yang sama untuk memberi warna bagi negeri ini. Positive thinking dan saling mendukung ke arah yg lebih baik untuk berbagi ke sesama merupakan dasar dari komunitas ini bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita untuk bersatu dalam komunitas ini. Tidak membedakan suku, agama, strata sosial, menjadikan komunitas anak-anak muda ini mempunyai visi ke depan untuk Indonesia yang lebih baik. Tidak ada tendensi politik maupun pencitraan menjadikan keikhlasan dan kebahagiaan anak-anak muda ini melakukan kegiatan sosial secara bersama-sama. Akan mendapatkan kepuasan batin yang tiada tara ketika kita bisa melihat orang lain bahagia. Banjir Keruak, Lombok Timur pada tanggal 22 November 2017 adalah aksi pertama kali yang dilakukan. Kegiatan lainnya


Perekat Indonesia

245

adalah ikut membantu membuat TPA di daerah Rembiga, Kota Mataram. Selain membangun, Temankeu Lombok juga ikut terjun langsung mengajar adik-adik yang belajar di sana, lebih kurang tiga puluh anak. Saat ini juga telah menambah kegitan berbagi nasi di sekitar Pulau Lombok yang dilakukan setiap akhir pekan. Satu kejadian yang tidak akan dilupakan adalah Bencana Gempa Lombok. *** Bumi Seribu Masjid tiba-tiba terentak, terperenyak, terdiam, kaget dengan gempa bumi yang datangnya berturut turut, dimulai pada tanggal 29 Juli 2018 dengan kekuatan magnitudo 6,4 di kedalaman 10 km pukul 06.47 WITA, kemudian disusul hari Minggu tanggal 5 Agustus 2018, pukul 19.45.35 WITA. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 8,37° LS  dan 116,48° BT, dengan magnitudo 7,0 di kedalaman 15 km. Gempa bumi ini menimbulkan kerusakan berat di Pulau Lombok, terutama Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur. Gempa susulan terjadi lagi pada Kamis, 9 Agustus 2018 dengan magnitudo 6,2 pukul 13.16.29 WITA, selanjutnya hari Minggu, 19 Agustus 2018, Pulau Lombok kembali diguncang gempa bumi yang signifikan pada pukul 22.56.27 WITA, dengan kekuatan magnitudo 6.9, lokasi: 8.44° LS dan 116.68° BT di kedalaman 18 Km. Rusaknya infrastruktur dan berbagai macam fasilitas umum maupun sosial, berdampak pula pada perekonomian dengan sepinya transaksi di pasar maupun tempat-tempat sentra perekonomian. Gedung sekolah, gedung pemerintahan, rumah-rumah penduduk mengalami kerusakan, hasil pembangunan yang selama ini dilakukan hampir dapat dikatakan luluh lantak akibat gempa bumi. Dana APBN maupun APBD yang sudah disalurkan/dicairkan, output-nya banyak yang tidak tersisa. Dana yang dipergunakan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi kerugian gempa di Lombok diperkirakan akan menghabiskan 7,7 triliun rupiah. Ada satu pertanyaan, bagaimana bisa membangun lagi? Bagaimana Lombok bangkit? Dan bagaimana membangun infrastruktur yang telah hancur? Tentu saja pemerintah tidak tinggal diam dan telah menyiapkan dana untuk membangun kembali Pulau Seribu Masjid ini. Sekarang tergantung bagaimana masyarakat punya gereget untuk bangun dari keterpurukan ini, tidak berpangku tangan menunggu bantuan pemerintah maupun relawan, tetapi dari dalam dirinya sendiri memiliki kemauan untuk bangun, gumregah untuk bangkit.


246

Pertanyaan berikutnya, apa saja yang bisa dilakukan oleh para relawan dan pemerintah? Ketika berbicara masalah infratruktur itu hal yang bisa diselesaikan dengan cepat bila ada dana yang cukup. Tetapi ketika berbicara masalah SDM, kita harus berpikir lebih dalam lagi. Bagaimana memberi semangat serta memberikan gambaran masa depan mereka pascagempa bumi ini. Nah, ini PR bersama yang harus segera kita pecahkan dalam waktu dekat. Temankeu Lombok langsung beraksi melakukan bantuan trauma healing dan membuka posko bantuan di KPPN Mataram, serta membuka rekening donasi bagi yang ingin meringankan beban saudara-saudara kita. Alhamdulillah terkumpul dana lebih dari dua ratus juta rupiah dan barang-barang yang tak terhingga banyaknya dari tenda, selimut, terpal, bahan makanan, biskuit, camilan, pakaian pantas pakai, dan lain sebagainya yang terkumpul dari seluruh Indonesia. Salut untuk kalian semua. Lanjutkan dan jangan lelah berbakti pada negeri tercinta ini.Â


Perekat Indonesia

247

Berkawan dengan Rasa Takut Abd Gafur, Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Selatan

Bekerja di daerah rawan konflik tentu bukanlah sebuah cita-cita. Pun hanya sekadar terlintas dalam angan. Namun takdir tak akan pernah mampu ditepis oleh tangan. Bersedia ditempatkan di mana saja telah menjadi sebuah ikrar yang kutandatangani sebelum menyandang status sebagai PNS. Perasaan berkecamuk di dalam dada tatkala membaca SK mutasi harus kukalahkan demi sebuah pengabdian. Untuk kedua kalinya aku harus angkat koper menuju tempat tugas baru. Sebuah kota yang tidak lebih baik dari kota penempatanku sebelumnya. Kota yang telah terbangun image sebagai zona merah yang rawan konflik. Ya, kota itu bernama Ambon, ibu kota tanah Maluku. Kota kaya yang sejujurnya memiliki potensi alam yang sangat indah, tetapi kemudian porak-poranda akibat konflik horizontal yang menghancurkan segala sendi-sendi kehidupan di sana. Sebelas tahun silam, untuk pertama kalinya kuinjakkan kaki di sana. Aku dan tiga orang kawanku berangkat dari Ternate, kota penempatanku sebelumnya. Perasaan was-was telah menghinggapi saat seorang kawan harus berbeda jemputan dengan kami, hanya karena masalah agama. Memang konflik yang terjadi di sini selalu disangkut-pautkan dengan isu SARA. Isu yang paling gampang “digoreng� untuk memecah belah bangsa, bahkan hingga hari ini.


248

Harus kuakui, selentingan kabar mengerikan yang pernah kudengar dari media dan kisah pegawai yang pernah ditugaskan di sana pada saat konflik, sedikit banyak mengganggu psikologisku. Perasaan orang tua tak usah ditanya. Orang tua mana yang tidak was-was saat putranya harus bertugas di Ambon pada waktu itu. Hanya pesan untuk selalu berhati-hati yang mampu diucapkannya, selebihnya hanya berserah diri kepada Yang Mahakuasa. Hari itu aku dan kawanku menghabiskan malam dalam sebuah kamar kos yang disewa dengan tarif yang terbilang sangat mahal untuk kami yang berdompet tipis dan belum mendapat sepeser pun uang pindah. Namun apa daya, tak ada pilihan lain. Mes pegawai tak ada dan rumah dinas pun sangat terbatas. Kota Ambon sejatinya merupakan kota dengan tingkat toleransi yang tinggi. Mereka mampu hidup berdampingan berpuluhpuluh tahun, saling membaur dan berinteraksi satu sama lain. Namun akibat konflik,

Separah apa pun kondisi yang terjadi, KPPN tetap harus memberikan layanan. Jika KPPN menutup layanannya, maka siapa yang akan memberi makan aparat keamanan itu? Kantor pemerintahan lainnya boleh saja tutup, tapi tidak dengan KPPN!


Perekat Indonesia

249

kota ini terpecah menjadi berkubu-kubu, tergantung pemeluk agama mana yang dominan di daerah itu. Kondisi itu kemungkinan tercipta saat konflik, tapi tak pernah diupayakan kembali seperti sediakala oleh pemerintah setempat. Jangan heran bila ada bekas rumah ibadah yang tak kunjung direnovasi lagi atau bahkan telah berubah fungsi menjadi gudang-gudang. Bagi pegawai yang berstatus mutasi, agenda hari pertama kerja adalah bersegera melapor di tempat baru dan setelahnya bekerja seperti biasa. Namun tidak bagi kami, justru di hari itu kami harus terlunta-lunta tak jelas nasibnya kapan akan memulai kerja. Seharusnya kami memulai aktivitas dengan status sebagai pegawai KPPN, tetapi dua hari pertama kami hanya bisa menganggur di ruang rapat Kanwil DJPb Provinsi Maluku. Memang saat itu terjadi masalah resistensi yang cukup hebat dari pegawai lama akibat kebijakan “ekstrem� di waktu itu. Penolakan keberadaan kami begitu kuat terasa, bahkan terjadi riak-riak kecil berupa demonstrasi. Demi alasan keamanan, maka kepala kanwil memutuskan untuk menunda proses peralihan pegawai. Dan masih banyak lagi kisah di baliknya. Hari demi hari terlewati dan suasana kerja pun mulai berangsur normal, walau tetap tak bisa dikatakan sama seperti di tempat lain dalam situasi normal. Kami mencoba menikmati rutinitas yang ada. Menikmati keindahan surga dunia yang tersaji indah membentang di sepanjang pantai di pulau Ambon menjadi selingan kami. Hingga suatu hari di Minggu siang tepatnya tanggal 9 September 2011, hal yang kukhawatirkan benar-benar terjadi. Saat semua orang beraktivitas normal di pusat kota, tiba-tiba saja mereka berhamburan memisahkan diri menjadi dua kubu. Gemuruh suara bunyi tiang listrik terdengar di mana-mana yang menguak kembali memori lama warga. Dahulu saat konflik berkecamuk, bunyi itu menjadi tanda bahwa akan terjadi perang. Aku yang saat itu sedang di pusat perbelanjaan, segera mengambil langkah seribu menyelamatkan diri. Ternyata telah beredar sebuah isu pembunuhan seorang tukang ojek yang lagi-lagi bernuansa SARA. Banyaknya SMS yang bernada provokatif membuat isu sensitif itu begitu cepat tersebar luas. Sontak saja suasana Kota Ambon memanas di hari itu. Dua kelompok telah saling berhadap-hadapan di beberapa titik perbatasan. Saling lempar batu dan pembakaran tak dapat terelakkan. Jalan-jalan protokol masing-masing kawasan diblokade warga. Suara tembakan senjata dari aparat


250

keamanan kudengar silih berganti. Kabar simpang siur yang beredar mengatakan bahwa korban jiwa juga sudah mulai berjatuhan. Hal itu terus berlangsung hingga malam hari membuat langit Ambon kupandangi telah berubah menjadi merah. Tak ada tidur nyenyak di malam itu. Semua lelaki diharuskan untuk ronda malam, terlebih jika berada di daerah perbatasan. Keesokan harinya, tak ada aktivitas perkantoran apa pun. Tak ada yang memberanikan diri mengambil risiko. Jalan-jalan di kota begitu lengang. Aparat keamanan dari TNI dan Polri masih terus berjaga. Layanan di KPPN pun tak dapat berjalan karena kondisi yang memang sangat tidak memungkinkan. Kami pun berkumpul di kompleks rumah dinas bersama dengan para pejabat, berdiskusi mencoba mencari solusi terbaik. Hingga akhirnya keputusan kepala kantor bahwasanya aktivitas di KPPN akan segera dimulai esok hari dengan bantuan pengawalan Brimob Polda. Vitalnya fungsi KPPN menjadi pertimbangan utama keputusan itu. Pesan Beliau, “Separah apa pun kondisi yang terjadi, KPPN tetap harus memberikan layanan. Jika KPPN menutup layanannya, maka siapa yang akan memberi makan aparat keamanan itu? Kantor pemerintahan lainnya boleh saja tutup, tapi tidak dengan KPPN!� Tegasnya. Sebuah pesan yang tentu saja memberikan kebanggaan dan motivasi tersendiri, walaupun publik tak banyak yang mengenal kantorku itu. Akhirnya kami pun memulai aktivitas kembali dengan bantuan aparat Brimob bersenjata lengkap mengawal dua unit mobil dinas yang kami tumpangi dari titik berkumpul di kompleks rumah dinas menuju kantor. Tak usah kautanyakan bagaimana tegangnya melewati jalanan lengang di pagi itu. Sisa-sisa batu di tengah jalan dan puing sisa bangunan yang dibakar masih tampak begitu jelas. Perlu dicatat bahwa hari itu tak ada aktivitas perkantoran apa pun kecuali hanya instansi DJPb serta beberapa perbankan. Itu pun mereka hanya membuka layanan sampai pukul 12.00, tetapi KPPN tetap membuka layanan sampai pukul 17.00. Saat jam pulang tiba, kami segera berkumpul kembali menumpang mobil dinas bersama pulang menuju kompleks rumah dinas dengan bantuan pengawalan dari aparat Brimob. Hal itu berlangsung setiap hari selama seminggu, hingga akhirnya kondisi berangsur-angsur pulih dan situasi mulai dapat terkontrol aparat berwenang. Sebuah pengalaman berharga yang harus kulalui dan mungkin tak banyak orang yang mengalaminya. Menjadi bagian sejarah berjibaku bersama kawan-kawan


Perekat Indonesia

251

merintis awal KPPN Ambon bersama 17 KPPN Percontohan Tahap I lainnya di seluruh Indonesia yang mungkin lambat laun sudah mulai terlupakan. Melewati beberapa kali masa-masa menakutkan yang membahayakan jiwa. Namun pengabdian tetaplah sebuah dedikasi. Pesan kepala kantorku begitu terngiangngiang hingga detik ini. Maka aku pun tak pernah heran jika saat tsunami Aceh dahulu, KPPN Khusus Banda Aceh berdiri paling awal menyalurkan bantuan di sana. Dan saat di Palu sedang tertimpa musibah, KPPN tetap saja menjadi instansi yang pertama membuka layanan di tengah segala keterbatasannya. Ya, kantor pemerintah lainnya boleh saja tutup, tetapi tidak dengan KPPN.


252

Sebelas Ukhuwah di Atas Tanah Terbelah Casman, Kanwil DJBC Sumatra Bagian Barat

Matahari begitu teriknya menggoreng kepalaku hingga menembus topi yang kupakai. Bedak debu dari lapangan Graha Segara yang cukup tebal melapisi wajahku dengan lekatnya. Alhamdulillah selesai sudah pemeriksaan tiga kontainer hari ini setelah dua jam menjalaninya. Saatnya aku kembali ke posko pemeriksa di gedung JICT 1, ditemani pak ojek yang setia menanti di ujung pintu masuk lapangan ini. Tangga lantai dua gedung JICT 1 memperhatikanku dengan saksama ketika gawai di saku kananku tak hentinya memanggil, bergegas aku mengangkatnya agar dia bisa berhenti berteriak. “Assalaamu’alaikum, Mas”, di ujung sana, suara Wawan, sahabatku yang juga bertugas di KPU Priok, menyapa. “Wa’alaikumussalaam warahamatullahi wa barakaatuh”, jawabku seraya mendoakan segala keberkahan baginya. “Padang gempa, Mas, kantor rusak, kita diminta menggantikan sementara peran pegawai di sana saat ini sehingga mereka bisa mengurus keluarganya”, suara yang terdengar agak menggebu tetapi agak terganggu dengan suara trailer dan mobil yang lewat. “Siap berangkat, Mas? Kalau siap, sore ini kita terbang ke sana, dari Priok langsung ke bandara?” Ia berkata lebih lanjut.


Perekat Indonesia

253

“Insyaallah siap, Bro, tapi apa kita tidak berganti pakaian dan pamit keluarga dulu di rumah?” Tanyaku. “Ini darurat, Mas, semua administrasi akan disiapkan rekan dari kantor pusat mulai dari tiket, surat tugas, dan yang lainnya. Bagaimana, Mas?” “Insyaallah saya siap“, jawabku semangat bercampur rasa sedih mendengar kejadian gempa ini. Ya Allah, lindungilah semua saudaraku di sana. Udara begitu sejuk pagi ini, awan yang membiru dan kicau burung yang samar terdengar di antara deru kendaraan bermotor. Aku sampai di gedung B, Kantor Pusat DJBC di Rawamangun. Di sinilah kami berjanji untuk berkumpul hari ini sebelum berangkat bersama ke Bandara Soekarno-Hatta untuk selanjutnya menuju Padang. Akhirnya sore kemarin diputuskan bahwa kami dapat pulang dulu ke rumah dan berpamitan dengan keluarga serta mempersiapkan kebutuhan sebelum berangkat karena qqdarulloh untuk hari itu semua tiket fully booked sehingga kami tidak mendapatkan tiket. Bermodalkan sebuah nomor telepon yang diberikan Wawan, koordinator tim kami adalah Wing Hartopo dari Bagian Keuangan Kantor Pusat DJBC yang akan mengatur semua akomodasi kami ke sana dan keperluan kami di sana. Tiga pemuda yang sudah terlebih dahulu hadir di sana menyambutku dengan senyuman hangat. Aku memberi salam dan menyapa mereka kemudian mereka membalasnya dengan semangat. Aku tidak mengenal satu pun dari mereka. Kami pun taaruf, saling memperkenalkan diri. Mereka adalah Iswandi, Seva, dan Ade Hidayat, yang kemudian hari baru kutahu bahwa mereka adalah orang-orang luar biasa di institusiku ini. Selang tak berapa lama Wing Hartopo hadir bergabung bersama kami diikuti oleh anggota tim lainnya. Total anggota tim ini menjadi sebelas orang. Sang gagah Sriwijaya mendarat mulus di Bandara Internasional Minangkabau. Ternyata kami dijemput Bang Hengki, salah seorang pegawai KPPBC Teluk Bayur yang di perintahkan Pak Hilman Satria selaku kepala kantor di sana untuk menjadi pemandu kami. Dari bandara kami diantar ke rumah dinas kepala kantor untuk bermalam di sana. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan menyedihkan dampak dari gempa yang terjadi, rumah dan bangunan yang hancur, jalanan yang terbelah, pohon-pohon yang tumbang, belum lagi jumlah korban jiwa yang jatuh. Melihat kondisi itu membuat badan


254

Di sini kami tak merasa ada perbedaan antarunit ataupun instansi. Gempa ini sudah menyatukan kami dengan visi yang sama, yaitu membantu korban dan menjaga Negara.

kami yang sumuk semakin sumuk. Rencana diri ingin segera mandi terpaksa dibatalkan karena krisis air saat itu membuat kami harus bisa bertahan untuk tidak mandi. Esok harinya kami berangkat ke bandara untuk mulai bertugas. Tugas utama kami adalah mendata dan menyiapkan kelengkapan administrasi semua barang bantuan yang masuk yang dikirim melalui pesawat-pesawat perang negara sahabat seperti Malaysia, Australia, dan lainnya yang hampir setiap jam mendarat dengan durasi beberapa menit untuk selanjutnya terbang kembali, juga menjaga jangan sampai ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi ini untuk melakukan penyelundupan. Baru dua hari kami bergabung dalam tim sebelas, tetapi ikatan yang kami rasakan begitu dekat seperti sudah bertahun lamanya bersama. Mungkin kondisi juga yang mempersatukan hati kami. Saat ini kami hanya fokus tentang bagaimana menjaga negara dan membantu rekan-rekan di sini. Kami pun berbagi tugas mulai dari mengurus masalah administrasi, perizinan, sampai dengan pengawasan. Aku bertugas sebagai koordinator pengawasan, Penindakan Penyidikan (P2) yang tugas utamanya adalah naik ke semua pesawat perang tersebut untuk meminta dokumen manifes atau minimal dokumen yang berisi data barang yang diturunkan sebelum mereka terbang kembali. Kami menikmati setiap tugas yang dijalani dengan semangat, walau belum mandi. Banyak kenangan menarik yang kami alami


Perekat Indonesia

255

di sana. Bukan hanya makan bersama dari dapur umum sebagai ransum harian kami ataupun susahnya air saat itu, tetapi banyak lagi hal menyenangkan yang kami rasakan. Salah satunya adalah saat kami mengenal Mr. Steven, ground marshall alias tukang parkir pesawat asal Australia. Kami mencoba menyapanya dengan Bahasa inggris yang seadanya, tetapi ternyata dia menjawab dengan fasih menggunakan bahasa sunda. Oh my God! Usut punya usut ternyata istrinya memang urang Bandung asli. Beberapa pengalaman menarik lainnya antara lain kami melihat bagaimana bantuan dari Malaysia yang datang lengkap dengan kru TV 3 yang mengambil perhatian sekitar karena cukup heboh ketika barang turun langsung dilakukan wawancara di lokasi. Juga melihat bagaimana beberapa negara yang menghadirkan pesawat perangnya untuk membawa bantuan mulai dari Hercules sampai Antonov Rusia yang memuntahkan barang-barang dari tengan perutnya yang terbelah dengan cepatnya, hanya hitungan menit. Mereka harus langsung terbang lagi karena bandara yang tidak bisa dibilang besar ini harus melayani arus padat pesawat-pesawat bantuan yang hilir mudik. Bertugas di bandara ini kami tidak sendiri, tetapi bergabung dengan instansi lain seperti TNI, Kementerian Sosial, pemerintah daerah, dan beberapa instansi lainnya, termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat seperti tim Aksi Cepat Tanggap, Tagana, PMI, dan lain sebagainya. Di sini kami tak merasa ada perbedaan antarunit ataupun instansi. Gempa ini sudah menyatukan kami dengan visi yang sama, yaitu membantu korban dan menjaga negara. Bahkan komandan dari posko TNI yang aku tahu berpangkat kolonel dengan keramahannya bahu membahu dengan kami, baik dalam pengamanan ataupun berkaitan data yang harus dilaporkan perkembangannya ke Presiden setiap saat. Kadang aku mendapatkan jatah ransum TNI dari Beliau. Betapa indahnya persatuan bangsa ini. Tetiba turun satu pesawat perang yang agak berbeda. Selama ini, biasanya aku harus langsung mengejar naik pesawat-pesawat perang tersebut sebelum pesawat itu take off lagi, tetapi kali ini agak berbeda. Mereka tidak hanya menurunkan barang-barang bantuan, tetapi juga sepasukan tentara berseragam loreng biru. Mirip sih dengan jaket yang kami gunakan. Yang unik dan menjadi perhatian kami adalah saat mereka mendarat, yang pertama segera mengambil air wudu dan salat berjamaah masih lengkap dengan seragam PDL terpakai dan tas dikumpulkan menjadi satu di depan imam. Setelah selesai salat, dua orang di


256

antara mereka masuk ke ruanganku. Salah seorang di antara mereka memberi kami beberapa kotak piza, mungkin mereka paham bahwa kondisi saat ini sulit untuk mendapatkan makanan yang layak. Tapi bukan piza itu fokus perhatianku. Orang berseragam dan berjanggut panjang yang memberi salam dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman. “Ana Jenderal Khomis�, begitu dia memperkenalkan diri. Sebagai seorang jenderal serta komandan tentara Qatar, Beliau sangat sopan, baik, dan tidak sombong. Kami berbincang sejenak dengan menggunakan Bahasa Inggris sampai akhirnya dia pamit karena akan langsung menuju wilayah terdampak gempa. Ketika kami berjabat tangan, teman-teman berseloroh kepadaku bahwa Jenderal Khomis sangat mirip denganku. Jenggotnya. Mereka tertawa sehingga memaksaku ikut tersenyum juga. Menghilanglah beberapa bagian lelah kami saat tersenyum bersama. Waktu berjalan begitu cepat, malam pun tiba, saatnya kami untuk kembali. Kegiatan yang tiada henti hari ini membuat badan kami menuntut untuk diistirahatkan. Dalam mobil kami bersepakat sepertinya tidak bisa memaksakan diri untuk melaju dari rumah dinas ke bandara setiap hari. Lebih baik mulai besok kami tetap stand by di bandara dengan segala kondisi yang ada, minim air, dan minim makanan. Dalam perjalanan pulang, tak jauh dari gerbang bandara, kami melihat rambu lalu lintas yang menunjukkan arah masjid. Kami bergegas menuju ke sana. Masjid ini terlihat sepi, kami hampir tidak menemukan seorang pun di sini, tetapi Masyaallah, Allahuakbar, ternyata di masjid ini air sangat berlimpah. Masjid ini adalah satu-satunya tempat yang kami temukan yang airnya tidak kering. Kami akhirnya mandi dan menyegarkan diri di sini. Kami salat bersama, tilawah bersama, dan menyatukan hati kami bersama dalam sebuah lingkaran kecil penuh makna. Ya Allah betapa manisnya ukhuwah ini. Kami yang minggu lalu belum saling mengenal, sekarang menjadi satu hati yang tak terpisahkan. Ukhuwah telah mengalahkan lelah, ukhuwah juga telah menghapus gundah, dan ukhuwah juga yang menguatkan dakwah. Kutatap saudaraku satu per satu, wajah-wajah tawadhu’ yang bersinar indah. Tak kuasa aku menahan diri mengatakan pada mereka. Saudaraku, aku mencintai kalian semua karena Allah.


Perekat Indonesia

257

Pahlawan Rahmatullah, KPPN Tanjung Selor - DJPb

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani; hero. Pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat, bangsa, atau umat manusia. Berbicara mengenai pahlawan tidak lantas membuat kita berpikir sempit bahwa sosok tersebut hanya ada di masa lalu yang rela mati demi negara. Pahlawan di masa kini tentunya tidak harus bersenjata perang dan tidak harus bercucuran darah. Pahlawan-pahlawan tersebut dapat ditemukan di sekitar kita. Tentunya dalam masa yang berbeda dan dengan perjuangan yang berbeda pula. Ada guru atau dosen sebagai pahlawan pendidikan, bertugas mendidik rakyat Indonesia. Saat kita sakit ada dokter, sebagai pahlawan kesehatan yang membantu kesembuhan kita, dan masih banyak pahlawan di bidang lainnya. Pahlawan bukan hanya yang memiliki jabatan seperti contoh di atas saja. Tukang becak pun layak menyandang gelar pahlawan bagi keluarganya, anak-anaknya, atas perjuangannya dalam mencari nafkah. Orang tua kita juga layak disebut sebagai


258

pahlawan karena rela berkorban serta berani memperjuangkan kebahagiaan bagi sang buah hati. Dengan demikian, siapa pun dapat disebut pahlawan jika ia merupakan sosok pemberani yang rela mengorbankan sesuatu bukan sekadar untuk diri sendiri, tetapi keluarga, masyarakat, atau negeri tercintanya. Demikian pula yang terjadi di Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan. Masih teringat, saat aku pertama kali datang dan bertugas di KPPN Manokwari pada tahun 2000 (saat itu masih bernama KPKN Manokwari), aku mendapat cerita bahwa satu tahun sebelum aku datang, kantor DPRD Kabupaten Manokwari (saat ini menjadi Hadi Mall) dibakar massa akibat kerusuhan sosial. Peristiwa ini dipicu oleh adanya isu salah seorang warga tertembak peluru aparat saat terjadi penurunan bendera Bintang Kejora di depan halaman DPRD Kabupaten Manokwari. Massa datang beramai-ramai mendatangi kantor DPRD. Berhubung letak KPPN Manokwari bersebelahan dengan kantor DPRD, tentu terkena imbas dari peristiwa tersebut. Salah seorang pegawai yang kebetulan tinggal di mes yang terletak dalam kantor, spontan keluar dan menghubungi beberapa rekannya. Rupanya massa mulai menjarah barang-barang yang berada di dalam gedung KPPN. Sontak, sambil menunggu rekan-rekan lain yang datang, ia mencoba menyelamatkan beberapa berkas penting dan aset-aset yang bisa diselamatkan. Ia berjibaku sendirian menyelamatkan dokumen-dokumen penting. Saat itu, pekerjaan masih bersifat manual. Tentunya sangat berarti dalam proses pembayaran tagihan kepada negara. Dalam suasana kacau dan massa yang beringas, ia tidak menghiraukan keselamatan dirinya. Dalam benaknya, dokumen tersebut sangatlah penting. Tidak lama, beberapa rekan lain dan beberapa aparat pun berdatangan dan ikut membantu menyelamatkan dokumen-dokumen penting dan aset-aset yang masih bisa diselamatkan. Bagiku, beberapa pegawai KPPN Manokwari tersebut adalah pahlawan. Dapat dibayangkan, dalam kondisi kacau dan massa yang tidak dapat dikendalikan, serta kobaran nyala api, tindakan yang dilakukan oleh beberapa pegawai tersebut tergolong sangat berani. Berkat keberanian dan kesigapan mereka, beberapa dokumen penting dan aset-aset lainnya bisa diselamatkan. Mereka layak mendapatkan penghargaan atas pengorbanan yang telah mereka lakukan.


Perekat Indonesia

259

Nah, apakah kita juga sudah layak menjadi pahlawan? Silakan tanyakan ke diri kita masing-masing, kebaikan apa yang sudah dilakukan sehingga kita layak menyandang predikat pahlawan.


260

Pengabdian di Tengah Bencana Ahmad Iqbal Zakyuddin, Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Tengah

Hari itu adalah hari Rabu siang, tanggal 25 September 2018, ketika aku secara resmi menduduki jabatan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Tengah, suatu amanah yang akan menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidup. Namun, ada hal yang cukup mengherankan adalah ketika memutuskan untuk melakukan web check in untuk penerbangan yang akan dilakukan esok dini hari, entah mengapa hal yang pertama dilakukan adalah melakukan pencarian akan musibah gempa yang pernah melanda Kota Palu. Dari hasil pencarian tersebut ternyata Kota Palu pernah mengalami gempa yang mengakibatkan kerusakan yang cukup parah pada tahun 2005 dan ini cukup membuatku ingin mengubah list dari beberapa item barang yang akan dibawa. Perjalanan di Kamis dini hari tanggal 27 September itu terasa berat, tidak seperti biasanya. Walaupun perjalanan sejauh 2.747 km yang ditembuh selama 2,5 jam ini tidak ada apa-apanya dibandingkan jarak yang memisahkan Jakarta-Edinburgh ketika harus menuntut ilmu di sana. Ada rasa sayang yang harus tertinggal, ada rindu yang mesti dipendam, dan ada bagian yang tidak dapat mengiringi perjalanan ini. Perjalanan yang singkat ini pun terasa lama dan tidak urung tiba di tempat tujuan. Ketika akhirnya pesawat Batik Air ID-7585 mendarat pagi


Perekat Indonesia

261

itu di Bandara Mutiara SIS Al Jufri, ada asa baru yang menyeruak, rasa untuk berkomitmen sepenuh hati untuk mengembang amanah yang telah diberikan. Mentari pagi itu pun begitu hangat, seolah menyambut kedatanganku dengan tangan terbuka dan berjanji akan begitu seterusnya. Ditambah dengan rencana keluarga yang akan menyusul datang dan kondisi rumah dinas serta sekolah untuk anak-anak yang sudah dipersiapkan sematang-matangnya dan hanya tinggal menunggu waktu kedatangan mereka. Akhirnya kaki ini bisa menjejakkan kaki di kantor yang akan menjadi tempat mengabdi, hari pertama pun terlewati dan hari kedua yang jatuh pada hari Jumat tanggal 28 September 2018 ini pun tampak seperti hari yang lain, terlewati seperti biasanya sampai dengan pukul 14.30 ketika terjadi gempa yang cukup mengagetkan kita semua di ruangan. Walaupun goncangannya tidak terlalu besar, tetapi cukup membuat beberapa rekan kerja lekas keluar ruangan dan mencari tempat yang aman. Website BMKG pun menjadi situs pertama yang diakses untuk mendapat info lebih lanjut terkait gempa yang terjadi dan didapatkan informasi bahwa gempa tersebut berkekuatan 5 SR yang terjadi di sekitar Kota Palu. Sore itu pun berlalu dengan lambat dan aku pun berniat untuk mengitari kota selepas Isya untuk mengetahui lebih jauh tentang keindahan kota ini. Tempat utama yang dituju adalah Pantai Talise dikarenakan ada festival yang sedang dilangsungkan di daerah itu. Sepulang dari kantor pun tangki motor diisi penuh karena rencana malam ini akan dihabiskan dengan berkeliling Kota Palu. Sekitar pukul 17.40 aku pun tiba di rumah dinas dan ini adalah malam keduaku menempatinya. Karena azan Magrib sudah sayup-sayup terdengar, aku pun berniat berganti pakaian untuk kemudian mengambil wudu dan berangkat ke masjid. Ketika baru melepas pakaian untuk berganti dengan pakaian salat, pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan itu pun terjadi, gempa berkekuatan 7,4 SR membuatku seketika berusaha bangkit dari posisi duduk dengan susah payah. Ditambah dengan efek gempa yang membuat tubuh serasa diaduk-aduk dan kepala pusing, serta menambah sulit usaha untuk sekadar keluar dari dalam rumah. Setelah sekian lama gempa itu pun usai, aku pun terpaku karena masih tidak percaya apa yang baru saja kualami. Akan tetapi untung aku segera sadar karena ancaman belum usai, masih akan ada beberapa gempa susulan maupun bencana lain yang kemungkinan akan melanda, yaitu tsunami.


262

Saat itu terasa sekali bahwa tidak ada sekat antara pegawai dengan warga sekitar, kami sama-sama tidur beralaskan bumi dan beratapkan langit dengan samasama hatinya diliputi kekhawatiran akan datangnya gempa susulan yang lebih besar.

Motor yang terjatuh tadi pun dengan susah payah didirikan kembali dan dicoba untuk dinyalakan mesinnya. Jalanan depan rumah dinas pun sudah sepi karena warga berhamburan menyelamatkan diri dengan berbagai macam cara, akhirnya aku bisa menaiki motor untuk mencari tempat teraman dari bencana ini, walaupun tidak tahu ke mana arah yang akan dituju. Tempat pertama kali yang dituju adalah kantor karena sepanjang dua hari ini aku hanya menghabiskan waktu di sini dan hanya rekan-rekan di kantor sajalah yang baru kukenal, sekalian memastikan bahwa kondisi kantor kami baik-baik saja. Perjalanan pun kulanjutkan dengan tak tentu arah karena tidak mengetahui ke mana tempat teraman untuk menyelamatkan diri. Akhirnya setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan, maka sampailah aku di arah bandara ditandai dengan gapuranya yang sudah hancur dan aku pun memilih tempat itu untuk beristirahat, tanpa mengetahui bahwa tempat itu tidak jauh dari daerah


Perekat Indonesia

263

Petobo yang terkena bencana likuefaksi. Hal pertama yang dilakukan adalah membentangkan ponco untuk melaksanakan ibadah salat Magrib dan Isya yang dijamak karena belum sempat dilakukan saat evakuasi. Namun berada di tempat ini pun belum terasa nyaman karena masih terjadi beberapa gempa susulan yang terasa cukup keras, ditambah dengan suara tangisan bayi dan teriakan ibu-ibu yang membuat suasana semakin mencekam. Malam itu menjadi malam terpanjang yang pernah kualami, khawatir akan keselamatanku, juga tidak dapat mengabarkan kondisiku kepada kerabat, ditambah sangat kecilnya kemungkinan keluargaku untuk dapat menyusulku ke sini. Tak terasa sang mentari sudah menampakkan dirinya, orang-orang yang mengungsi pun berangsur-angsur meninggalkan tempat ini. Aku mencoba untuk kembali ke kantor dan di sepanjang jalan baru disadari bahwa gempa ini mengakibatkan kerusakan yang cukup parah di Kota Palu. Setibanya di kantor, aku berjumpa dengan rekan-rekan yang alhamdulillah semuanya selamat dari gempa, namun dengan ekspresi kekhawatiran yang beragam. Ditambah lagi dengan situasi halaman kantor yang menjadi kantong pengungsian sementara bagi warga sekitar karena dipandang relatif aman, membuat situasi kantor menjadi ramai dan penuh dengan warga yang mengungsi. Kebutuhan logistik menjadi kebutuhan yang paling utama saat itu, akhirnya dibukalah kotak sumbangan yang menampung dana yang akan dipakai untuk membeli kebutuhan logistik untuk kepentingan bersama. Seluruh logistik yang dimiliki oleh kanwil maupun KPPN pun dikeluarkan, dari mulai bensin mobil dinas yang digunakan untuk genset, air galon untuk minum bersama, tabung gas dari rumah dinas yang digunakan untuk dapur umum, dan beberapa hal lain. Hari itu pun dilalui dengan kesulitan karena terbatasnya logistik, listrik yang belum menyala, dan koneksi telepon yang belum pulih. Untungnya, keadaan ini segera mendapat respons yang cepat dari rekan-rekan Ditjen Perbendaharaan yang segera mengirimkan logistik untuk menopang kehidupan kami pascagempa karena otomatis perekonomian di Kota Palu ini lumpuh. Saat itu terasa sekali bahwa tidak ada sekat antara pegawai dengan warga sekitar, kami sama-sama tidur beralaskan bumi dan beratapkan langit dengan sama-sama hatinya diliputi kekhawatiran akan datangnya gempa susulan yang lebih besar. Akhirnya beberapa logistik yang dikirim pun tiba dan semuanya dikumpulkan di salah satu ruangan yang kuncinya harus kami jaga dan tidak kami buat mencolok karena masih maraknya penjarahan. Logistik kami ini ditambah dengan tenaga


264

untuk memasak dari warga sekitar membuat pengungsi di kantor tercukupi kebutuhannya. Hal ini pun berlangsung beberapa hari dengan motivasi untuk bisa selamat dari bencana ini. Setelah beberapa hari, dengan inisiatif untuk memulihkan pelayanan dalam kondisi darurat, maka kami pun berusaha untuk dapat menyelamatkan server yang digunakan untuk pelayanan dan memanfaatkan sarana yang tersedia untuk tetap dapat melakukan pelayanan yang terbaik walaupun risiko untuk melakukan hal tersebut tidak dapat dianggap remeh. Ancaman gempa susulan yang terus datang, sulitnya mengeluarkan peralatan yang akan digunakan untuk pelayanan dari dalam gedung kantor, maupun terbatasnya listrik yang harus disiasati semaksimal mungkin adalah tantangan yang ada. Akan tetapi, keinginan untuk tetap dapat berkontribusi karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain membuat semua kekhawatiran itu menjadi sirna. Hari-hari ke depan pun akan dilalui dengan pengalaman dan cara pandang yang berbeda dengan tetap menjaga asa untuk tetap berkontribusi bagi negara ini, membuat kami tetap bertahan di sini, dengan segala konsekuensinya.


Perekat Indonesia

265

Jangan Mencari Toleransi di Indonesia Made Krisna Aryawan, Kanwil DJPb Provinsi Maluku Utara

Aku menyelesaikan masa perkuliahan Program Diploma I Kepabeanan dan Cukai pada Balai Diklat Keuangan Medan dan dinyatakan lulus pada tahun 2003. Ketika menjalani On the Job Training di Kantor Wilayah I Bea dan Cukai di Belawan, terbitlah Surat Keputusan mutasi pertamaku dari Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Aku masih ingat, saat itu aku bersama teman-teman satu angkatan sedang menjalani Diklat Kesamaptaan di Pusdiklat Bea dan Cukai Jakarta. Ketika pertama melihat surat mutasi itu, sebagian dari kami menangis di barak. Kenapa? Sebagian dari kami mendapatkan penempatan tugas di wilayah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sementara aku dapat penempatan di KPBC Meulaboh, sebagian yang lain ada di wilayah Banda Aceh, Sabang, dan Kuala Langsa. Saat itu di Nanggroe Aceh Darussalam masih bergejolak karena Gerakan Aceh Merdeka. Ditambah lagi ketika aku selesai Diklat Kesamaptaan dan kembali ke Belawan, ada teman di kantor yang berasal dari Aceh mengatakan, “Hati-hati kerja di sana, Bron, Aceh masih rawan dan orang-orang Aceh paling benci sama orang Jawa.� Ya Allah, bagaimana ini? Dengan hati yang setengah was-was dan setengah pasrah, aku pergi bersama rekanku, Suhrawardi Badrun dari Medan menuju Meulaboh menggunakan pesawat perintis (SMAC) dari Bandara Polonia.


266

Ternyata kisah di Meulaboh berbanding terbalik dengan apa yang ada di pikiranku ketika mau berangkat dari Medan. Sesampainya di Bandara Meulaboh, aku disambut oleh orang Aceh yang ramah dan baik hati. Kami diantar dari bandara menuju rumah dinas Bea dan Cukai. Selama perjalanan, orang itu menenangkan hati kami berdua. “Adek-adek ini bukan orang Aceh asli ya? Tenang saja, Dek, di Meulaboh ini sudah aman, gak ada yang namanya Gerakan Aceh Merdeka.� Melewati kebun-kebun sawit, jari orang itu menunjuk beberapa orang selama perjalanan sambil tersenyum berkata, “Itu dulunya anggota GAM, sekarang sudah bertobat, kembali berkebun.� Kemudian kami diantar dengan selamat oleh orang itu sampai di rumah dinas Bea dan Cukai Meulaboh. Sesampainya di rumah dinas, kami juga disambut dan diterima dengan baik oleh senior-senior yang kebetulan orang Aceh asli. Selama bekerja di Meulaboh, masyarakatnya juga ramah-ramah. Selain orang Aceh asli, ada juga orang Minang dan orang Jawanya. Kami berbaur dengan mereka dan mereka pun mau menerima kami dengan baik. Kami kadang-kadang diajak keluar malam oleh senior-senior untuk minum kopi (favoritku adalah kopi campur susu dan telur) dan makan mi aceh serta menonton bola di warung kopi. Alhamdulillah tidak terjadi hal-hal buruk dan kami baik – baik saja. Sejak dulu inilah Indonesia, orang-orang yang berbeda suku dan agama dapat hidup berdampingan dengan damai dan menjunjung tinggi toleransi. Sering kali keadaan yang sebenarnya tidak seburuk sebagaimana yang diberitakan oleh media massa. Selama bekerja di Aceh, ada pengalaman yang tidak akan kulupakan sepanjang hidup. Ketika itu pagi hari Minggu tanggal 26 Desember 2004. Pada hari Sabtu, sehari sebelumnya kami yang tinggal di kompleks rumah dinas sudah berencana bahwa pada hari Minggu akan berolah raga dengan lari pagi di Pantai Meulaboh. Tetapi entah kenapa, pada malam harinya kami begadang dan tidur larut malam. Sebagian dari kami ada sekadar ngobrol-ngobrol hingga larut malam dan sebagian yang lain nyanyi sumbang dengan main gitar, tentunya dengan ditemani secangkir kopi. Kemudian entah pukul berapa persisnya, mungkin sekitar pukul dua dini hari, aku baru bisa tidur. Sebelum tidur aku sudah pasang alarm pukul lima pagi.


Perekat Indonesia

Tadinya kami mau menuju ke situ, tetapi ketika mau melangkah, dari belakang masjid datang ombak yang tinggi, semua orang yang berada di masjid ikut tersapu ombak. Akhirnya kami pasrah berdiam diri di depan ruko tersebut. Sementara posisi air sudah setinggi dagu.

267

Saat alarm berbunyi pertama kali, hanya ku-pause kemudian tidur lagi. Mungkin karena mata yang terlalu lelah untuk terbuka, ketika alarm yang kedua pun hanya kumatikan dan tidur lagi sampai terlewat waktu salat Subuh. Ketika masih tertidur, aku setengah bermimpi ada yang menggoyang-goyang badanku dan semakin lama semakin kencang. Dalam tidur setengah sadar, aku berpikir, “Ini saya tidurnya ‘kan di lantai, kenapa bisa digoyang-goyang?� Seketika itu kupaksa diri untuk membuka mata dan ternyata ada gempa bumi! Langsung aku bangun keluar rumah dan berkumpul di halaman bersama teman-teman yang tinggal di kompleks rumah dinas Bea dan Cukai. Gempa bumi ketika itu sangat besar, seumur hidup baru merasakan gempa bumi sebesar dan selama itu. Saat itu, tiang listrik yang besar dan terbuat dari beton pun seakan mau roboh. Ketika gempa bumi telah selesai (mungkin sekitar pukul tujuh pagi), kami masih bertahan di halaman kompleks rumah dinas dan berbincang-bincang.


268

Antara takut dengan lega, ada yang ngomong pas gempa bumi sedang BAB dan ada juga yang keluar cuma pakai sarung saja (langsung disambut tawa temanteman yang lain). Tiba-tiba kami melihat orang-orang (jumlahnya banyak) berbondong-bondong di jalan raya dari arah belakang rumah dinas menuju ke pusat kota sambil teriak-teriak (tak kudengar jelas itu teriakan apa), kami pikir orang-orang itu mau demonstrasi atau mau ada acara perkumpulan apa gitu. Tapi semakin lama, jumlah orangnya semakin banyak. Karena penasaran aku pun melihat ke jalan raya itu. Astagfirullah... Di jalan raya itu penuh sesak dengan orang-orang yang berlari sambil berteriak, “Air naik, air naik� dan di belakangnya mengikuti ombak besar berwarna hitam kecoklatan bercampur serpihan kayu yang tinggi ombaknya melebihi tinggi badan orang. Orang-orang tersebut beradu cepat berlari dengan ombak tersebut. Seketika itu, aku berdua bersama temanku, Suhrawardi Badrun, langsung berlari menghindari ombak tersebut. Sepanjang jalan, orang-orang pada panik sambil menangis dan teriak teriak. Ketika kami berlari, dari arah depan datang air laut, kami langsung berbelok arah untuk menghindari ombak. Begitu terus sampai semua daratan yang kami lewati terendam air. Sambil berlari menyelamatkan diri, dalam hati terus membaca istigfar. Dalam hati berdoa secara terus menerus, “Jika saat ini aku tidak diberi keselamatan, ampuni dosa-dosaku, ya Allah.� Badanku terasa lelah, sejauh mata memandang, daratan sudah terendam air yang semakin lama semakin tinggi. Rasanya mau menyerah, tapi hati kecil ini menyuruh untuk tetap berlari. Sampai pada akhirnya sudah tidak dapat berlari lagi, air yang merendam sudah setinggi dada. Kami terjebak di depan deretan rumah toko tiga lantai. Kami mencoba masuk ke ruko tersebut dengan tujuan untuk naik ke lantai tiga atau atap lantai tiga, tetapi tidak bisa karena pintunya terkunci. Di sebelah kiri ruko, sekitar 100 meter ada sebuah masjid yang lantainya sekitar


Perekat Indonesia

269

dua meter dari permukaan jalan, banyak orang yang berkumpul di situ dan belum terendam. Tadinya kami mau menuju ke situ, tetapi ketika mau melangkah, dari belakang masjid datang ombak yang tinggi, semua orang yang berada di masjid ikut tersapu ombak. Akhirnya kami pasrah berdiam diri di depan ruko tersebut. Sementara posisi air sudah setinggi dagu. Posisi air semakin tinggi dan badan sudah mau tenggelam, tiba-tiba terlihat akan datang ombak yang sangat tinggi berbarengan dari sebelah kiri (belakang masjid) dan sebelah kanan (bibir laut). Astagfirullah... Sudah tidak bisa bergerak ke mana-mana, aku pasti tenggelam dan sepertinya akan mati. Dalam hati, “Ya Allah, sepertinya sekarang aku akan mati, aku terima, ya Allah, tapi ampuni dosa-dosaku.� Qadarullah, ketika ombak-ombak tersebut sampai ke kami, tenggelam sekejap, tiba-tiba pintu ruko tempat kami berdiam (rolling door dari besi) jebol terhempas terbuka dan kami terlempar ke dalam bersama pintu tersebut. Kami langsung bangun dan naik tangga menuju lantai tiga dengan selamat. Ketika itu air langsung naik setinggi atap lantai dua. Dari lantai tiga tersebut, kami memandang ke luar, seluruh daratan sudah terendam air setinggi enam meter. “Ya Allah, apakah ini mau kiamat?� Ada banyak hikmah di setiap kejadian yang kita alami di dunia ini. Karena kejadian ini, banyak orang di Banda Aceh dan Meulaboh yang kehilangan nyawanya dan tak sedikit yang kehilangan keluarga dan hartanya. Tetapi seluruh warga negara Indonesia jadi semakin bersatu, terbukti langsung bahu-membahu memberikan doa dan bantuan kepada masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam yang terkena bencana. Demikian juga masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam yang selamat dari bencana, mereka semakin menghargai perbedaan, tidak ada lagi Gerakan Aceh Merdeka, dan semakin taat menjalankan agamanya, yaitu dengan Perda syariatnya. Toleransi itu sudah ada dan terpelihara sejak dulu, kenapa kita harus mencarinya?


270

KO NT RI

I S A R K EMO D M LA A D I S U B


Perekat Indonesia

“Demokrasi penting. Kebaikan bersama (common good) adalah sasaran kita. Mari kita pastikan demokrasi membawa kebaikan bersama.� Susilo Bambang Yudhoyono

271


272

Bersama Tak Harus Sama

Drajad Ulung Rachmanto, KPP Pratama Boyolali- DJP

Memasuki tahun politik, selalu ada cerita-cerita menarik. Pesta demokrasi lima tahun sekali ini memang kerap menyuguhkan ragam isu yang menjadi tren tersendiri. Tepatnya pada tanggal 17 April 2019, aku dan seluruh rakyat Indonesia menggunakan hak pilihnya untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden serta anggota Legislatif. Aku bekerja di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Boyolali. Sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil, maka aku dituntut untuk menjaga netralitas. Tidak diperkenankan secara terang-terangan untuk menyatakan dukungan kepada salah satu pasangan calon tertentu. Baik melalui kampanye langsung ataupun hanya sekadar berupa simbol-simbol seperti mengacungkan jari atau penggunaan simbol lain yang berkaitan dengan salah satu pasangan calon. Semakin berkembangnya teknologi, maka banyak ditemui kampanye terselubung di media-media sosial. Tak sedikit pula berita-berita bohong tersebar, debat antarwarganet semakin menjadi-jadi, dan apabila dibiarkan, bisa memecah belah bangsa. Setiap orang memiliki pendapat dan masing-masing akan mempertahankannya. Terlebih apabila orang tersebut sudah terlalu fanatik terhadap salah satu pasangan calon, maka dia akan membela mati-matian pasangan calon tersebut tanpa melihat dari sudut pandang dan kenyataan lain.


Perekat Indonesia

Sebagai warga negara dan rakyat yang baik, kita tetap harus menggunakan hak pilih karena masa depan bangsa ada di tangan kita.

273

Tak sedikit pula yang saling mencaci-maki, menghina, dan menjelekkan sesama hanya karena beda pandangan politik. Tentu saja hal tersebut membuat kita khawatir. Apabila semakin berlanjut, maka hanya akan menuai hal-hal buruk yang tidak bermanfaat. Karena meskipun beda pilihan, kita tetap satu Indonesia. Di media sosial orang-orang lebih gencar menyuarakan pendapat mereka, bahkan ada hal-hal yang mengkhawatirkan karena ada beberapa oknum yang menyebarluaskan konten negatif dan provokatif. Parahnya, sering kali berita-berita tersebut diterima secara mentah-mentah oleh banyak orang tanpa melakukan verifikasi, apakah berita itu benar atau tidak. Alhasil banyak kita temui, antara manusia satu dengan manusia lain pun akan saling berkomentar buruk yang berdampak pula ke dunia nyata. Kita mesti berpikir jauh ke depan karena Pemilu, khususnya Pilpres merupakan sebuah pesta demokrasi yang diadakan rutin setiap lima tahun sekali sehingga perpecahan antarmasyarakat yang dapat merugikan itu tidak diperlukan. Ketika Pemilu selesai, maka yang tersisa hanyalah kebencian antartetangga dan sifat-sifat negatif lainnya. Padahal kita tidak dapat apa-apa dari hal-hal provokatif tersebut. Misalnya, kita berbeda pendapat dan pilihan dengan tetangga kita sehingga hubungan tidak lagi berjalan harmonis, namun bukankah ketika kita sakit, tetangga kita itulah yang paling dekat dan paling mampu untuk menolong kita? Mungkin


274

orang lain bisa, tetapi tetanggalah yang memiliki keleluasaan untuk segera berhubungan dengan kita secara langsung, cepat, dan tanggap. Maka permusuhan dan perpecahan hanya karena beda pendapat itu tidak dibenarkan. Karena kebersamaan lebih dari segalanya. Dan apabila ingin mendukung, boleh saja, asal dengan cara yang lebih elegan dan bermanfaat. Bukan saling menjatuhkan, tetapi dengan berusaha untuk meyakinkan masyarakat melalui visi dan misi yang dicanangkan. Beberapa hari lalu ketika aku sedang ngopi bersama teman, dia tiba-tiba membahas tentang Pilpres. Dia ternyata aktif untuk mendukung salah satu calon melalui media sosial, entah dengan cara membangun opini melalui tulisan ataupun sekadar berkomentar buruk terhadap lawan dari pasangan calon yang didukungnya. Aku yang diajaknya berdiskusi tetap menghargai tanpa ada maksud untuk mengiyakan atau menolak pendapatnya. Selama apa yang dia bicarakan itu benar, maka aku tetap menerima dan menghargainya. Namun apabila dia ikut menyebarkan isu yang belum pasti kebenarannya, maka aku tetap mengingatkan dengan sopan dan tidak bermaksud menggurui. Pada intinya aku menghindari sebuah perdebatan karena bagiku debat semacam itu tidak akan ada habisnya. Yang ada hanyalah rasa benci ataupun jengkel terhadap teman sendiri. Maka aku lebih memilih mengalah untuk keutuhan persahabatan. Aku juga tidak memberitahukan pasangan calon mana yang aku dukung sehingga kita hanya sebatas bertukar pikiran dan pendapat saja. Beberapa teman di luar PNS memang sering kali secara terang-terangan menyatakan dukungan kepada salah satu calon. Dan mereka berkontribusi paling gencar di media sosial sehingga tak jarang komentar mereka selalu muncul di kolom komentar akun-akun publik. Meskipun kadang gatal ingin membalas, tetapi aku harus tetap menjaga komitmen untuk bersikap netral. Sebenarnya aku ingin berkomentar, bukan dalam hal menyatakan dukungan atau menyudutkan salah satu pasangan calon, tetapi sepertinya akan lebih baik jika aku diam saja. Karena aku sadar apabila tidak bisa memberi kata yang baik, maka lebih baik diam. Aku juga menolak segala atribut yang diberikan oleh partai-partai peserta Pemilu. Meskipun ada tetangga yang menjadi calon legislatif atau orang-orang dekat yang menjadi tim kampanye. Di rumah, nenekku memiliki warung usaha minuman kecil-kecilan. Di situ tidak diperbolehkan untuk dipasangi spanduk, stiker, bendera, atau atribut apa pun karena aku tidak ingin terlibat dalam


Perekat Indonesia

275

kampanye politik. Meskipun demikian, aku tetap menggunakan hak pilih dengan sebaik-baiknya sesuai asas Pemilu. Sebagai warga negara dan rakyat yang baik, kita tetap harus menggunakan hak pilih karena masa depan bangsa ada di tangan kita. Memilih sesuai dengan hati nurani, bukan karena terprovokasi oleh isu-isu dan berita bohong yang menyesatkan. Meskipun pilihan kita beda, kita mesti menjaga persatuan dan kesatuan bersama-sama. Karena Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, maka kita harus bersatu untuk mewujudkan Indonesia yang lebih berjaya. Tak perlu melakukan hal-hal besar, tetapi cukup memulainya dari hal-hal kecil dan dari diri sendiri terlebih dulu. Aku yakin kita mampu berjalan berdampingan karena bersama tak harus sama.


276

Bergeser Tempat Duduk Ahmad Dahlan, KPP Penanaman Modal Asing Enam - DJP

Prolog Dua orang murid laki-laki dan perempuan sedang berdebat. Mereka sedang mengerjakan soal matematika yang diberikan oleh gurunya. Keduanya bersikeras dengan cara penghitungannya masing-masing. Si laki-laki bertahan dengan pendapatnya bahwa cara penghitungannyalah yang paling benar dan menganggap cara penghitungan si perempuan salah. Pun demikian dengan si perempuan. Dia bersikeras bahwa caranyalah yang paling benar. Penghitungan si laki-laki adalah salah. Begitu terus tanpa ada yang mau mengalah. Bahkan keduanya saling ejek dan menganggap bodoh lawannya. Sampai kemudian gurunya datang. Melihat muridnya bertengkar saling mempertahankan egonya, sang guru hanya tersenyum. Lalu menyuruh keduanya duduk saling berhadapan. Di tengahnya diletakkan sebuah bola. Bola itu memiliki dua sisi dengan warna yang berbeda, hitam dan putih. Sisi yang berwarna hitam dihadapkan kepada murid laki-laki. Sisi putih ke perempuan. Lalu, kepada murid laki-laki sang guru bertanya, apa warna bola itu. Dengan mantap dan penuh


Perekat Indonesia

277

keyakinan, si laki-laki menjawab, “Hitam”. Mendengar jawaban hitam, si perempuan tertawa mengejek, “Bagaimana ceritanya bola putih begini dibilang hitam?” Si laki-laki balik mengejek, “Dasar mata buta, bola hitam dibilang putih.” Guru masih saja senyum-senyum. Lalu sang guru menyuruh kedua murid yang masih terus saling ejek itu bertukar posisi. Si laki-laki duduk menghadap sisi bola berwarna putih. Si perempuan menghadap bola sisi hitam. Kemudian guru bertanya apa warna bola kepada murid perempuan. Sambil tersenyum, si perempuan menjawab, “Hehe… hitam, Bu.” Sambil senyum-senyum pula si laki-laki menjawab, “Hihi... putih, Bu.” *** Sejak menjelang Pemilu 2014 lalu, masyarakat kita seperti terbelah. Sebelah mendukung Capres A, sebelah yang lain mendukung Capres B. Pemilu usai. Salah satu Capres terpilih jadi presiden. Tapi masyarakat tetap terbelah. Bahkan makin lebar. Hingga bertahun-tahun. Sialnya, Pemilu 2019 ini, Capres yang bertarung sama seperti 2014 lalu. Maka pertentangan itu masih terus terjadi. Bahkan makin panas. Mungkin akan berlangsung terus, meskipun Pemilu 2019 telah usai. Apa yang dilakukan oleh salah satu Capres atau oleh tokoh pendukung Capres, akan selalu salah dinilai oleh pendukung Capres lainnya. Hal-hal sepele selalu dibesar-besarkan. Dijadikan olok-olokan tiap hari di medsos. Bahkan terkadang

Dan di lain tempo, saat argumentasinya terpatahkan oleh lawan, alih-alih mengakui kekalahan, yang ada malah perasaan dendam untuk bisa menjatuhkan lawan pada debat berikutnya.


278

hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kedua Capres pun akan dikaitkaitkan. Dijadikan senjata untuk menyerang lawan. Aku pernah berada di salah satu sisi yang terbelah itu. Sangat ekstrem. Melihat apa yang dilakukan pihak lawan akan selalu tampak buruk. Hampir setiap hari berdebat di medsos dengan teman sendiri yang berada di posisi ekstrem lawan. Masing-masing mempertahankan egonya. Merasa paling benar. Hasilnya? Tak ada. Kecuali perasaan gagah perkasa ketika memenangkan debat. Dan di lain tempo, saat argumentasinya terpatahkan oleh lawan, alih-alih mengakui kekalahan, yang ada malah perasaan dendam untuk bisa menjatuhkan lawan pada debat berikutnya. Lebih buruk lagi, hati selalu diliputi prasangka negatif. Sampai kemudian seorang kawan memberi saran. Bahwa apa yang selama ini kita pegang erat-erat sebagai sebuah kebenaran, terkadang hanyalah persepsi balaka. Hanya masalah sudut pandang. Maka cobalah menggeser tempat duduk. Melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Hasilnya akan lain. Maka sekarang, ketika melihat hal-hal yang sedang ramai diperdebatkan, aku mencoba menggeser sudut pandang agar menjadi agak ke tengah. Dan hasilnya jadi lebih objektif. Yang selama ini tampak buruk, tak selalu demikian kenyataannya. *** Epilog Mempunyai kecenderungan terhadap salah satu pasangan calon, baik calon presiden, kepala daerah, maupun calon anggota legislatif, adalah keniscayaan. Namun sebagai anggota Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah sebuah pelanggaran jika kecenderungan tersebut ditampakkan dalam bentuk perbuatan. Berkaitan dengan hal sebut, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPANRB), Asman Abnur, pada tanggal 27 Desember 2017 telah mengirimkan surat kepada para pejabat Negara, mulai Menteri Kabinet Kerja hingga Gubernur dan Bupati/Wali Kota mengenai pelaksanaan netralitas ASN.


Perekat Indonesia

279

Dalam surat tersebut, MenPANRB juga mengutip ketentuan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Berikut contoh larangan dimaksud. 1. PNS dilarang melakukan pendekatan terhadap partai politik terkait rencana pengusulan dirinya atau orang lain sebagai bakal calon kepala daerah/wakil kepala daerah. 2. PNS dilarang memasang spanduk/baliho yang mempromosikan dirinya atau orang lain sebagai bakal calon kepala daerah/wakil kepala daerah. 3. PNS dilarang mendeklarasikan dirinya sebagai bakal calon kepala daerah/wakil kepala daerah. 4. PNS dilarang menghadiri deklarasi bakal calon kepala daerah/wakil kepala daerah dengan atau tanpa menggunakan atribut bakal pasangan calon/atribut partai politik. 5. PNS dilarang mengunggah, menanggapi, atau menyebarluaskan gambar/foto bakal calon/bakal pasangan calon kepala daerah melalui media online, termasuk media sosial. 6. PNS dilarang melakukan foto bersama dengan bakal calon kepala daerah/wakil kepala daerah dengan mengikuti simbol tangan/gerakan yang digunakan sebagai bentuk keberpihakan. 7. PNS dilarang menjadi pembicara/narasumber pada kegiatan pertemuan partai politik.


280

AR J A L E B R A J JA E S


Perekat Indonesia

281

“Pendidikan bukanlah proses alienasi seseorang dari lingkungannya, atau dari potensi alamiah dan bakat bawaannya, melainkan proses pemberdayaan potensi dasar yang alamiah bawaan untuk menjadi benarbenar aktual secara positif bagi dirinya dan sesamanya.� Butet Manurung


282

Bukan Mengajar, Kami Belajar Teddy Ferdian, KPP Pratama Subulussalam - DJP

Tahun 2017 merupakan awal aku berkenalan dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Mengajar. Tepatnya sekitar empat bulan setelah Surat Keputusan (SK) yang membawaku mutasi ke tanah rencong, “Bumi Sada Kata”, Kota Subulussalam. Berawal dari niatan hati ingin memperkenalkan kota Subulussalam ke seantero penjuru negeri, aku memberanikan diri mendaftar sebagai Koordinator Kota Subulussalam untuk Kemenkeu Mengajar 2. Kemenkeu Mengajar sendiri merupakan program kegiatan Kemenkeu yang bersifat kerelawanan, dalam artian seluruh rangkaian kegiatan menggunakan dana yang murni dari relawan. Kegiatan sendiri menitikberatkan pada upaya memperkenalkan Kemenkeu kepada peserta didik di tingkat Sekolah Dasar (SD) untuk lebih mengenal profesi yang ada di Kemenkeu serta memotivasi siswa untuk menggapai citacita mereka. Mengenal “Bumi Sada Kata” “Bumi Sada Kata” merupakan julukan dari Kota Subulussalam, kota di ujung selatan provinsi Aceh. Subulussalam merupakan kota termuda di provinsi Aceh yang baru terbentuk pada tahun 2007 berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2007 tanggal 2 Januari 2007. Kota ini merupakan hasil pemekaran Kabupaten Aceh Singkil. Percaya atau tidak, kota dengan lebih kurang 82.000 penduduk ini merupakan kota terluas keempat di Indonesia dengan luas wilayah 1.391 km2.


Perekat Indonesia

283

Faktanya masih banyak orang yang tidak mengetahui tentang eksistensi kota ini. Tidak dapat disalahkan memang karena di peta terbitan lama kita tidak dapat menemukan letak kota Subulussalam. Sehingga tidak mengherankan jika banyak orang yang tidak familier dengan nama kota Subulussalam. Jangankan masyarakat di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, atau Papua, bahkan orang Aceh sendiri masih ada yang tidak mengetahui ada kota bernama Subulussalam di provinsi Aceh. Hal ini menjadi alasan utamaku untuk mencoba peruntungan mendaftarkan kota Subulussalam sebagai salah satu kota penyelenggara kegiatan Kemenkeu Mengajar. Bak gayung bersambut, Subulussalam pun terpilih sebagai salah satu dari 51 kota/kabupaten tempat terselenggaranya kegiatan tahunan kedua Kemenkeu Mengajar. Bersama Banda Aceh, Subulussalam menjadi wakil provinsi Aceh dalam perhelatan Kemenkeu Mengajar 2. Kemenkeu Mengajar 2 Subulussalam Alhamdulillah Kemenkeu Mengajar 2 di kota Subulussalam berjalan lancar pada tanggal 23 Oktober 2017 di tengah keterbatasan yang ada. Pertama, keikutsertaan kota Subulussalam ternyata kurang menarik minat para relawan untuk mendaftarkan diri menjadi relawan Kemenkeu Mengajar di Subulussalam. Bagi mereka mungkin nama Subulussalam masih terdengar asing sehingga belum menjadi pilihan. Alhasil, hanya dua relawan yang mendaftarkan diri sebagai relawan pengajar. Mereka pun adalah teman sekantor di KPP Pratama Subulussalam dan mantan pegawai KPP Pratama Subulussalam. Keterbatasan kedua adalah kepanitiaan. Tidak seperti kota lain, penyelenggara Kemenkeu Mengajar 2 di Subulussalam tidak ada kantor unit Eselon I Kementerian Keuangan yang lain, hanya ada KPP Pratama Subulussalam. Hal ini mengakibatkan kepanitiaan hanya terdiri dari para pegawai di KPP Pratama Subulussalam. Bersyukurnya, ternyata banyak rekan di KPP Pratama Subulussalam yang berminat ikut serta dalam kepanitiaan. Ketiga, sebagai efek dari keterbatasan jumlah pengajar, kegiatan hanya bisa dilaksanakan di satu sekolah, itu pun panitia ada yang berperan sebagai pengajar dan dokumentator untuk mengisi kekurangan pengajar. Surprisingly kegiatan dapat berjalan lancar dan sukses. Gembira sekali melihat wajah penuh senyum semringah dan tawa merekah di sudut bibir mungil anak-


284

anak saat menerima kedatangan sekelompok orang yang sebenarnya asing bagi mereka. Tidak tampak raut wajah khawatir di ekspresi mereka. Hal ini yang menambah semangat kami dalam menghidupkan suasana di kelas. Kemenkeu Mengajar 3 Pulau Banyak Berkaca pada pergelaran Kemenkeu Mengajar 2 Subulussalam, tebersit dalam hati dan benakku untuk menghadirkan kegiatan yang lebih baik lagi di tahun depan dengan tetap menonjolkan daerah tempatku bekerja ini. Rasanya ada yang kurang dari perhelatan Kemenkeu Mengajar 2 Subulussalam. Aku ingin kegiatan yang lebih menarik minat banyak kalangan dan melibatkan pegawai dari Eselon I lain di luar DJP dan unit kerja yang jauh dari Subulusalam. Diskusi dengan beberapa teman mengarah pada pemilihan alternatif tempat kegiatan untuk tahun berikutnya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku merasa bagus juga untuk mengusulkan kegiatan di Pulau Banyak, Aceh Singkil. Lokasinya tidak jauh dari Subulussalam, namun lokasi di pulau berjarak lebih kurang empat jam perjalanan membelah lautan ini menjadi tantangan sendiri bagi kami pastinya. Dalam kegiatan tersebut, aku ingin mencoba peran lain sebagai relawan pengajar. Sebagai langkah awal mewujudkan niat tersebut, aku mencoba berkoordinasi dengan Kepala Kantor Penyuluhan, Pelayanan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Aceh Singkil yang akhirnya setuju untuk menjadi Koordinator Kota Kemenkeu Mengajar 3

Adalah tugas kita untuk mengantarkan mereka meraih citacita mereka.


Perekat Indonesia

285

Pulau Banyak, Aceh Singkil. Aku pun memulai peran baru sebagai relawan pengajar. Tantangan berbeda pun kami hadapi mulai saat itu. Sesuai harapan, ternyata Kemenkeu mengajar 3 Pulau Banyak cukup mendapat respons dari pegawai Kementerian Keuangan, tidak hanya DJP, tetapi juga teman-teman dari Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC), Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), dan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) turut bergabung, bahkan ada teman dari Jakarta yang ikut serta. Total 24 relawan pengajar, dokumentator, dan panitia yang terlibat. Kami bergabung dengan 63 kota/kabupaten lain di Indonesia yang turut menggelar Kemenkeu Mengajar 3. Kegiatan pun dapat dilaksanakan di dua sekolah. Sama seperti pengalaman di tahun lalu, interaksi dengan siswa-siswi di Pulau Banyak pun berjalan dengan penuh keceriaan. Bedanya kali ini aku merasakan langsung aura kebahagiaan di dalam kelas selama kegiatan berlangsung. Hanya dalam waktu singkat, seluruh relawan dan para siswa serta guru dapat membaur selayaknya sudah saling kenal untuk waktu yang lama. Keceriaan yang bukan hanya milik para relawan, tetapi juga seluruh siswa dan guru. Tatapan mata bahagia terpancar dari wajah-wajah mungil para siswa. Rasa bangga dan haru pun terlihat jelas di wajah para relawan. Satu hari yang semoga menjadi pengantar cita-cita anak bangsa untuk Indonesia tercinta. Pelajaran dan Pengalaman Berharga Ketika mendengar kegiatan yang kami laksanakan di Kemenkeu Mengajar, setiap orang pasti akan mengatakan bahwa kami mengajar di sana. Pendapat ini tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar. Nyatanya kami banyak belajar dari pada mengajar. Pertama, kami belajar mencintai negeri ini dengan mengeksplorasi keindahan ujung barat ibu pertiwi. Kami belajar bahwa ada kota atau kabupaten kecil di negeri ini yang memiliki harapan untuk bangkit dengan banyaknya anak-anak cerdas dengan cita-cita yang luar biasa. Adalah tugas kita untuk mengantarkan mereka meraih cita-cita mereka. Kedua, kami belajar bahwa Kemenkeu adalah organisasi yang besar dengan banyak unit Eselon I di dalamnya. Sinergi antarunit mutlak diperlukan untuk lebih menguatkan Kemenkeu. Dari Kemenkeu Mengajar, kami dapat berinteraksi dengan saudara-saudara kami lintas unit Eselon I. Saling berbagi dan saling menguatkan menjadi bagian dari silaturahmi kami selama kegiatan.


286

Ketiga, kami belajar bahwa banyak teman-teman pegawai Kemenkeu yang rela mengorbankan materi, tenaga, dan waktu untuk berbakti pada negeri. Hal ini terbukti dari jumlah relawan dan kota/kabupaten penyelenggara yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tidak melihat jabatannya, mereka mau turun untuk terlibat langsung dalam kegiatan ini. Satu hari menggantikan peran guru di sekolah bukanlah hal yang mudah. Namun semua dijalani dengan penuh semangat dan keceriaan. Masih banyak pelajaran berharga dari partisipasi dalam Kemenkeu Mengajar. Pelajaran yang pastinya tidak didapat dari jalur formal di bangku sekolah ataupun kuliah. Belajar mencintai negeri ini dan peduli terhadap kelangsungan ibu pertiwi. Menanamkan semangat cinta tanah air pada generasi penerus serta mengantar mereka menggapai cita-cita, menjadi pengalaman dan pelajaran berharga. Generasi penerus yang kelak akan menjadi generasi emas Indonesia untuk bersaing di kancah dunia. Inilah yang kami dapat dari Kemenkeu Mengajar, “Bukan Mengajar, Kami Belajar�.


Perekat Indonesia

287

Semangat Berbagi, Menebar Inspirasi Drajad Ulung Rachmanto, KPP Pratama Boyolali - DJP

“Dari Kami Untuk Negeri�, sebuah tulisan yang terpampang menghiasi dinding-dinding sekolah yang bakal dikunjungi, menjadi penyemangat tersendiri untuk berbagi dan menyalurkan semangat lintas generasi. Sebuah komitmen dan inovasi dalam upaya memperluas wujud pengabdian dan bakti kita untuk negeri sebagai wujud sebuah kebanggaan. Kementerian Keuangan selalu memiliki inovasi dalam hal pengabdian masyarakat. Dan Kemenkeu Mengajar adalah salah satu wujud nyata sebuah pengabdian melalui berbagi hal-hal positif yang dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Oeang. Hingga tahun 2018 Kemenkeu Mengajar telah dilaksanakan tiga kali di berbagai kota. Dipelopori pada kesuksesan Kemenkeu Mengajar 1 sehingga kegiatan inspiratif ini mampu berkembang pesat dan menyebar luas guna menebar manfaat positif. Tepat pada tanggal 22 Oktober 2018 dilaksanakan Kemenkeu Mengajar 3 secara serentak di berbagai kota di Indonesia. Kemenkeu Mengajar ini memberikan informasi seputar peran dan seluk beluk Kementerian Keuangan yang dikemas secara menarik untuk diterima oleh adik-adik di Sekolah Dasar. Karena pengenalan akan sesuatu yang positif memang harus dilakukan sejak dini. Dan inilah salah satu bentuk komitmen Kementerian Keuangan dalam mempersiapkan dan mencetak generasi muda yang berkualitas di masa mendatang.


288

Kota Bandung menjadi tempat yang kupilih untuk mengenyam cerita-cerita keseruan Kemenkeu Mengajar 3. Aku sendiri sudah mengikuti kegiatan Kemenkeu Mengajar ini sebanyak dua kali. Pertama kali aku mengikuti Kemenkeu Mengajar 2 di kota Semarang dan aku bertekad untuk terus menjadi bagian dari relawan Kemenkeu Mengajar ini, tepatnya sebagai relawan pengajar. Mengapa memilih Bandung? Karena bagiku, Bandung termasuk kota yang romantis. Setiap sudut kota yang dinamis selalu memberikan kesan optimis. Menjadi angin segar tersendiri mengingat banyak hal perlu diselami. Dari kuliner, budaya, wisata, lingkungan, dan lebih banyak lagi yang bisa kita jadikan inspirasi. Aku berkeinginan untuk terus menjadi relawan Kemenkeu Mengajar dengan berpindah-pindah kota, merekam sebuah jejak perjalanan yang kelak akan memberikan sebuah makna dan cerita. Memahami bahwa Indonesia itu luas dan ada banyak nilai-nilai yang berjalan selaras. Hidup berdampingan di antara banyak perbedaan, tetapi tetap mengedepankan persatuan dengan semangat keberagaman. Perbedaan itulah yang membuat Indonesia indah dan berjaya yang mesti dipupuk dengan rasa syukur sebagai aset yang perlu dijaga. Maka yang telah kuat, jangan terlemahkan oleh berbagai gesekan kepentingan. Sudah selayaknya sebagai generasi muda harus mampu berperan aktif dalam merawat kebinekaan. Kemenkeu Mengajar ini adalah salah satu sarana dalam menyalurkan semangat keberagaman. Bagiku, banyak hal yang bisa dilakukan dalam upaya bakti untuk negeri. Sebuah aksi nyata dalam hal berbagi. Dan selama itu bermanfaat, sekecil apa pun peranku, maka aku akan tetap berjalan maju penuh semangat. Menjadi relawan pengajar bagiku sangat menyenangkan. Meskipun segala akomodasi ditanggung sendiri itu tidak menyurutkan semangat dalam berbagi. Banyak hal yang bisa dibagi, misalnya tentang tugas pokok dan fungsi seharihari sebagai bagian dari keluarga besar Kementerian Keuangan, nilai-nilai Kementerian Keuangan, cita-cita, nasionalisme, dan lain sebagainya. Mulai dari hal-hal kecil hingga manfaat yang lebih besar. Tak sedikit pula cerita menarik yang ditemui selama menjadi relawan dan canda tawa selalu menjadi bumbu yang mengesankan. Relawan dalam Kemenkeu Mengajar terbagi menjadi beberapa bagian, antara lain koordinator daerah, koordinator sekolah, fasilitator, relawan pengajar, relawan dokumentator, dan lain sebagainya. Aku sendiri memilih untuk menjadi relawan


Perekat Indonesia

Aku berkeinginan untuk terus menjadi relawan Kemenkeu Mengajar dengan berpindahpindah kota, merekam sebuah jejak perjalanan yang kelak akan memberikan sebuah makna dan cerita.

289

pengajar karena aku ingin terjun langsung di kelas bersama adik-adik Sekolah Dasar. Bagiku semua bagian penting dan saling menunjang satu sama lain. Aku memilih untuk menjadi pengajar karena aku ingin berinteraksi secara langsung dengan adik-adik sekolah dasar, ingin merasakan menjadi seorang pengajar yang mampu mentransfer ilmu dan melatih komunikasi secara kontinu. Karena komunikasi dengan adik-adik akan sedikit berbeda mengingat setiap harinya aku dihadapkan pada masalah-masalah yang lebih kompleks dan tentu ini menjadi tantangan sendiri yang patut untuk dicoba dan ditaklukkan. Menjadi relawan pengajar tentu tidak mudah. Banyak hal yang mesti dipersiapkan, mulai dari segi materi hingga tata cara berkomunikasi. Kadang apabila kita kurang tepat dalam berbicara, maka si penerima pesan–dalam hal ini adik-adik, juga akan mendapatkan informasi yang kurang tepat pula. Maka komunikasi harus dibangun sedemikian rupa agar dapat dipahami oleh adik-adik dengan tetap esensi dari sebuah materi itu sendiri. Terlebih tantangan juga sangat kompleks. Menjadi guru dalam sehari ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Banyak kejadian-kejadian lucu ataupun kejadian yang membuat kita harus lebih bersabar dalam menghadapi adik-adik ini. Seperti ketika kita menggambar di papan tulis, tiba-tiba ada yang menangis atau ketika kita sedang bercerita ada beberapa anak yang berlarian ke sana ke mari dan bermain dengan meja. Ada banyak kesan menarik selama menjadi pengajar. Namun tentunya itu tidak dialami


290

oleh relawan pengajar saja melainkan oleh relawan dokumentator, fasilitator, dan lain sebagainya. Salah satu momen favorit dari rangkaian acara Kemenkeu Mengajar khususnya bagi adik-adik yang diampu, yakni membuat sebuah karya yang dilakukan bersama-sama di akhir waktu sebagai tanda penutupan acara. Di Kemenkeu Mengajar 2 lalu, adik-adik dipandu untuk membuat origami berbentuk pesawat terbang dari kertas lipat yang nantinya akan diterbangkan bersama-sama ketika penutupan acara. Aku masih ingat betul betapa antusiasnya adik-adik dalam membuat karya itu dan momen tersebut diabadikan dalam bentuk foto yang sangat cantik dan ceria. Kemenkeu Mengajar 3 juga tak kalah seru, panitia membiarkan kreativitas kita sebagai relawan berkembang. Melalui diskusi-diskusi maka kita putuskan untuk membuat origami berbentuk bunga yang nantinya akan ditulisi kesan dan pesan untuk bapak dan ibu guru. Benar saja, kita sebagai relawan pengajar di masingmasing kelas memberikan contoh dan membantu adik-adik dalam membuat origami tersebut. Kelas berlangsung seru karena antusiasme adik-adik membuat origami bunga bertuliskan kesan mereka terhadap bapak ibu guru. Setelah jadi, barulah kita mengadakan acara penutupan di halaman sekolah. Dengan diiringi lagu “Terima Kasih Guruku,� para siswa ini langsung memberikan hasil karya mereka kepada bapak ibu guru. Dan itu momen yang mengharukan dan tidak pernah terlupakan bagi mereka. Bahkan isak tangis terdengar di berbagai sudut, tak sedikit pula guru mereka yang ikut meneteskan air mata. Suasana mengharu biru pertanda jika pesan yang ingin disampaikan cukup berhasil. Setidaknya terkenang di memori adik-adik tentang acara ini juga dapat mengingatkan kembali kepada mereka akan jasa-jasa bapak ibu guru yang mungkin selama ini kurang mendapat perhatian. Dan semoga kebaikan akan merasuk di hati adikadik setelah acara ini selesai. Dengan adanya Kemenkeu Mengajar ini ada banyak hal yang kudapat. Dari sisi internal, aku semakin mengenal banyak orang dan menjalin relasi sesama pegawai Kementerian Keuangan karena di sini kita merasa satu dan memiliki satu tujuan yang sama pula. Berbagai unit vertikal menyatu untuk membawa sebuah nama kebanggaan Kementerian Keuangan. Dari sisi eksternal, kita juga menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat, khususnya dengan pihak sekolah. Mengukir sebuah sejarah dan citra yang baik untuk instansi dan tentu menebar manfaat untuk saling berbagi. Kita juga banyak belajar dari dunia anak-anak–


Perekat Indonesia

291

dalam hal ini adik-adik Sekolah Dasar yang kita ampu, yaitu dunia yang jujur. Mengajarkan kepada kita akan sebuah integritas dan nilai-nilai kesederhanaan. Menjadi apa adanya dan terus berupaya memperbaiki diri untuk memberikan karya yang terbaik. Semoga kegiatan Kemenkeu Mengajar ini semakin baik dan terus menginspirasi sesuai dengan tagline-nya, “Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi.�


292

Tentang Program Beasiswa LPDP M. Try Sutrisno Gaus, LPDP - Sekretariat Jenderal

Sejak tahun 2013, Pemerintah melalui LPDP telah membuka program beasiswa S2 dan S3 ke perguruan tinggi terbaik di dalam dan di luar negeri dalam rangka mempersiapkan pemimpin masa depan Indonesa. Untuk mencapai mimpi tersebut, LPDP perlu menyediakan program yang beragam yang dapat membuka peluang ditemukannya potensi putra-putri terbaik Indonesia di berbagai daerah hingga, termasuk daerahdaerah pelosok dengan berbagai latar belakang. Sehingga diharapkan program beasiswa LPDP ini dapat diakses oleh seluruh rakyat Indonesia dan melahirkan pemimpin masa depan dengan jumlah yang banyak di berbagai daerah. Oleh karena itu, sejak tahun 2013 pula, LPDP telah membuka program beasiswa tidak hanya dengan proses seleksi menggunakan jalur reguler tetapi juga dengan proses seleksi melalui jalur lainnya secara afirmatif. Salah satu daerah yang menjadi perhatian LPDP adalah daerah tertinggal, terluar, dan terdepan, atau yang biasa dikenal dengan sebutan daerah 3T. LPDP sejak awal terus mendorong agar para penerima beasiswa LPDP yang berasal dari daerah 3T ini dapat terus bertambah dengan target minimal sebanyak 30% dari seluruh penerima beasiswa LPDP. Walaupun target 30% ini tidak mudah untuk dicapai, beragam kreativitas dan inovasi terus LPDP lakukan agar beasiswa LPDP dapat dirasakan oleh seluruh putra-putri terbaik Indonesia di berbagai daerah


Perekat Indonesia

293

sehingga kehadiran pemerintah dapat dirasakan hingga di pelosok-pelosok negeri. Dengan semakin dirasakannya kehadiran pemerintah di seluruh pelosok negeri diharapkan dapat semakin menyatukan Indonesia, tidak hanya di daerah perkotaan, tetapi juga hingga di daerah perbatasan dan daerah terluar Indonesia. Salah satu program inovasi LPDP yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah penerima beasiswa afirmasi dalam rangka mendorong persatuan Indonesia adalah program Beasiswa Indonesia Timur (BIT). Target penerima Program ini dikhususkan kepada 5 provinsi di daerah timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, Maluku Utara (Malut), Papua, dan Papua Barat. Untuk membuat program ini berkualitas, LPDP membentuk tim penyusun program tersebut dengan melibatkan pegawai LPDP maupun para pakar dari luar LPDP. Pada kesempatan tersebut, aku sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk dipercaya bergabung dalam tim tersebut dari unsur pegawai LPDP. Dalam proses pengkajian dan pendalaman konsep program BIT yang telah disusun sejak tahun 2015 hingga akhir 2016, LPDP telah melibatkan berbagai unsur seperti dari praktisi, akademisi, pemerintah provinsi, dan dari lembaga masyarakat setempat. Dengan mendapatkan masukan dari berbagai unsur, diharapkan program ini dapat sesuai dengan kebutuhan Indonesia dalam rangka mendorong persiapan pemimpin masa depan khususnya di 5 provinsi yang akan menjadi perhatian program BIT. Pada awal tahun 2017, dengan melibatkan Pemerintah Provinsi setempat, LPDP telah membuka program BIT untuk pertama kalinya. Pada angkatan pertama ini, LPDP telah menghasilkan 102 penerima beasiswa. Hal ini patut kami syukuri sebagai langkah awal dalam memberikan perhatian terhadap pengembangan SDM di Indonesia Timur. Namun tentunya LPDP masih terus berharap pada kesempatan selanjutnya para penerimai BIT dapat terus bertambah dalam jumlah yang lebih besar lagi. Pada tahun 2018, LPDP terus berusaha agar program ini dapat secara masif mengakar di masyarakat, khususnya di provinsi target penerima BIT. Sebagaimana tugas dan fungsiku dalam unit pengembangan layanan LPDP, aku pun sangat ingin program ini dapat terus berkembang dan infonya dapat tersampaikan ke pelosok-pelosok daerah, khususnya di Papua dan Papua Barat. Berbagai cara telah dilakukan, baik melalui komunikasi jalur formal maupun jalur informal. Hingga akhirnya aku teringat dengan informasi dari ayahku bahwa


294

aku mempunyai seorang kakek yang belum lama mengakhiri masa jabatannya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Provinsi Papua Barat, Drs. KH. Musa Abdul Hakim Altuaraw. Beliau ini menjadi pintu awal untukku dapat mengembangkan informasi beasiswa LPDP, khususnya di daerah Papua dan Papua Barat. Kakekku, yang akrab dengan sebutan Opa Musa, sangat mengapresiasi upayaku dan LPDP dalam berusaha memasifkan informasi beasiswa LPDP ke pelosok daerah di daerah Papua dan Papua Barat. Beliau memperkenalkan aku kepada kakek jauhku yang belum pernah aku kenal sebelumnya yang ternyata juga menjadi salah satu anggota dari Majelis Rakyat Papua (MRP) dengan nama Robby Altuaraw yang akrab disapa dengan sebutan Opa Robby. MRP merupakan representasi kultural orang asli Papua yang memiliki wewenang tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang asli Papua dengan berlandaskan pada penghormatan terhadap adat dan budaya, pemberdayaan perempuan, dan pemantapan kerukunan hidup beragama. Berdasarkan aturan yang berlaku, apabila LPDP ingin memperbanyak jumlah penerima BIT dari unsur orang asli Papua, maka LPDP perlu melibatkan para kepala adat dari berbagai suku di Papua dan Papua Barat yang terkumpul dalam MRP dalam penyelenggaraan program BIT. Dengan dibantu oleh Opa Robby, akhirnya pertemuan dengan MRP Papua di Papua maupun Papua Barat pun dapat berlangsung. Kepada seluruh perwakilan kepala adat yang hadir, Opa memperkenalkanku tidak hanya sebagai perwakilan dari LPDP, tetapi juga sebagai cucu dari para kepala adat Papua tersebut sehingga pertemuanpertemuan ini berlangsung dengan sangat kekeluargaan. Pengalaman dalam menyusun program BIT hingga dalam proses pengembangannya, menjadikanku bertemu dengan keluarga jauh yang sebelumnya sudah lama tidak bertemu dan bahkan aku juga berkenalan dengan keluarga jauh yang tidak pernah kusangka sebelumnya bahwa Beliau merupakan salah satu anggota MRP di Papua. Saat ini aku semakin akrab dengan keluarga jauh di Papua dan Papua Barat. LPDP pun kini semakin dekat dengan para kepala adat di Papua dan Papua Barat. Dengan semakin baiknya komunikasi LPDP, tidak hanya dengan pemerintah provinsi tetapi juga dengan para perwakilan kepala adat di Papua dan Papua Barat, diharapkan informasi beasiswa LPDP, khususnya program Beasiswa Indonesia Timur, dapat semakin mengakar dan menyebar hingga ke berbagai pelosok daerah terpencil di Papua dan Papua


Perekat Indonesia

Barat. Dengan demikian diharapkan dapat semakin meningkatkan kehadiran pemerintah di masyarakat Papua dalam rangka menyatukan Indonesia dalam satu kesatuan NKRI.

295


296

Merajut Kesatuan Melalui Pendidikan Kedinasan Tri Sutopo, KPPN Raha - DJPb

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdiri dari ribuan pulau dan suku bangsa juga kaya akan adat-istiadat dan budaya yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Pulau Rote, dan merupakan negara kepulauan yang mempunyai wilayah sangat luas dan dihubungkan oleh lautan. Tidak mudah menjaga keutuhan negara apabila tidak ada ikatan yang kuat antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah sistem Otonomi Daerah, yaitu daerah diberi kewenangan untuk melaksanakan pemerintahan sendiri dalam bingkai NKRI. Sistem sentralisasi diubah menjadi sistem desentralisasi, pemerintah pusat tetap hadir di seluruh daerah di wilayah NKRI melalui penempatan kantor-kantor vertikal dan pengalokasian Dana Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan, dan Dana Transfer ke Daerah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan Otonomi tersebut, daerah tidak dibiarkan berjalan sendiri tanpa dukungan dari Pemerintah Pusat. Salah satu peran Pemerintah Pusat dalam proses pemerataan pembangunan daerah utamanya Wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Indonesia BagianTimur adalah menempatkan kantor vertikal kementerian (khususnya Kementerian Keuangan) di daerah yang bertujuan untuk mendekatkan kantor bayar dengan stakeholders (satuan kerja dan Satuan Kerja Perangkat Daerah atau SKPD). Kantor Pelayanan


Perekat Indonesia

Membimbing siswa-siswa dengan latar belakang dan kemampuan yang berbeda tentu tidak mudah sehingga muncul suka dan duka seiring berjalannya waktu.

297

Perbendaharaan Negara (KPPN) adalah salah satu instansi vertikal Kementerian Keuangan di bawah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) yang saat ini memiliki peran sebagai perekat hubungan dengan Pemerintah Daerah, yakni sebagai Kuasa Pengguna Anggaran Penyaluran Dana Alokasi Khusus Fisik (DAK F) dan Dana Desa (DD). KPPN Raha adalah salah satu instansi vertikal DJPb, di bawah kendali Kantor Wilayah DJPb Provinsi Sulawesi Tenggara. KPPN Raha yang berkedudukan di Kabupaten Muna. Pulau Muna menjadi bagian dari gugusan pulau-pulau di ujung Sulawesi Tenggara dengan luas lebih kurang 2.889km², komoditas asli dari bumi Muna adalah kayu jati dan kacang mede. Pulau Muna mulanya hanya satu kabupaten, yaitu Kabupaten Muna dengan Ibu Kotanya Raha. Namun sejak tahun 2017 terjadi pemekaran daerah menjadi dua wilayah, yaitu Kabupaten Muna dan Muna Barat. Raha merupakan sebuah kota kecil yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Muna dan KPPN Raha berada di sana. Predikat terpencil karena pada mulanya transportasi keluar dari Pulau Muna hanya melalui dua pelabuhan penyeberangan, yaitu Pelabuhan Raha dan pelabuhan penyeberangan feri, Tampo. Waktu tempuh dari Raha menuju ibu kota provinsi Sulawesi Tenggara lebih kurang 6-7 jam dengan menggunakan kapal malam, sedangkan jika melalui pelabuhan feri, dibutuhkan 3-4 jam perjalanan laut dan 2 jam perjalanan darat. Bandar udara mulai beroperasi pada bulan Juli tahun 2017, menggunakan penerbangan perintis berupa pesawat jenis AvionsdeTransport Regional (ATR) .


298

Pegawai KPPN Raha sebagian besar lulusan PKN STAN. Pada tahun 2014 mendapatkan tambahan dua pegawai baru, salah satunya bernama Muhamad Yani Nursyamsu. KPPN Raha mempunyai beban kerja cukup besar sedangkan pegawai terbatas. Berperan membantu siswa menghadapi dunia kerja, KPPN Raha selalu menerima siswa SMK di wilayah Kabupaten Muna untuk melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Bukan bermaksud merendahkan kualitas pendidikan di Muna, tetapi jika dibandingkan dengan di kota-kota besar, tentu berbeda, di samping itu sebelum tahun 2014 belum ada yang menjadi mahasiswa PKN STAN sehingga informasi tentang profil perguruan tinggi kedinasan ini belum ada yang tahu. kepala kantor (Bapak Haryono) berinisiatif memperkenalkan tentang KPPN sekaligus PKN STAN kepada siswa PKL. Pada tahun 2016, Syamsu menawarkan diri untuk memberikan bimbingan belajar Ujian Saringan Masuk (USM) PKN STAN dengan keyakinan dan kerja keras insyaallah putra-putri Muna bisa kuliah di PKN STAN. Akhir tahun 2016 menjadi titik awal Syamsu memulai kegiatan memberi bimbingan belajar kepada lima siswa SMK Negeri 1 Raha yang sedang melaksanakan PKL. Metode bimbingan yang dilakukan adalah Try Out soalsoal standar USM PKN STAN kemudian dilanjutkan pembahasannya secara perlahan-lahan sampai siswa paham. Penyampaian materi pelajaran tidak dilakukan karena materi dirasa sudah cukup disampaikan oleh guru di sekolah. Soal-soal yang disampaikan adalah khusus mata pelajaran untuk USM PKN STAN (TPA, Psikotes, Bahasa Inggris). Khusus untuk mata pelajaran Bahasa Inggris disarankan untuk memperbanyak perbendaharaan kosa kata. Bimbingan belajar dilaksanakan setiap hari kerja mulai pukul 19.00 s.d 21.00 WITA, sedangkan untuk hari Minggu dimulai pukul 16.00 s.d 18.00 WITA, bertempat di aula kantor. Namun apabila sebagian siswa berhalangan karena ada kegiatan sekolah, maka bimbingan pun diliburkan. Peserta bimbingan berasal dari beberapa SMA di Raha dengan jumlah bervariasi setiap periodenya. Periode pertama akhir tahun 2016 sebanyak lima siswa, awal tahun 2017 sebanyak dua puluh siswa, akhir tahun 2017 hanya enam siswa, tahun 2018 sampai menjelang USM PKN STAN siswa yang aktif hanya empat orang, dan untuk tahun 2019 jumlah siswa seluruhnya sebanyak lima belas orang. Naik turunnya siswa ini dipengaruhi oleh penyampaian informasi kepada para calon peserta Pertama kali informasi tersebar dari lima siswa PKL yang menyampaikan kepada teman dan orang tua siswa lainnya. KPPN Raha setiap


Perekat Indonesia

299

tahun melaksanakan sosialisasi tentang peran KPPN dalam pengelolaan APBN ke sekolah-sekolah. Saat materi tentang PKN STAN, Syamsu menawarkan diri untuk memberikan bimbingan belajar (bimbel). Dampak dari sosialisasi ke sekolah-sekolah tersebut, beberapa siswa tertarik untuk mengikuti bimbel USM PKN STAN di awal tahun 2017. Setelah pelaksanaan USM, informasi pembukaan bimbingan tidak disampaikan sampai dengan awal 2018. Dikarenakan tidak ada informasi, maka siswa PKL menanyakan pembukaan bimbel, bahkan ada orang tua siswa menemui Syamsu di kantor untuk menanyakan bagaimana cara mendaftar bimbel dan berapa biayanya. Muhamad Yani Nursyamsu membuka bimbel khusus menghadapi USM PKN STAN. Berangkat dari niat tulus menambah pengalaman dan mencoba bermanfaat bagi orang lain dengan mengajarkan ilmu yang dimiliki, juga keinginan besar agar warga asli Muna bergabung dengan Kementerian Keuangan melalui PKN STAN. Hal tersebut dapat dikatakan melatarbelakangi Syamsu bersedia memberi bimbingan belajar tanpa biaya. Terkait pertanyaan orang tua siswa mengenai bagaimana cara pendaftaran dan berapa biayanya, maka ia jawab jika ingin ikut, langsung datang saja sesuai waktunya dan bimbel tersebut tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis. Syamsu membuat soal-soal sendiri dalam memberikan try out, bahkan untuk membantu pengayaan soal latihan, dia membeli beberapa buku Soal dan Pembahasan USM PKN STAN untuk dibagikan kepada siswa dengan tujuan agar siswa-siswa bisa mendapatkan nilai tertinggi. Ketulusan Syamsu tercermin dari kalimat bijaknya, “Tenaga, waktu, pikiran, dan dana yang saya keluarkan, tidak sebanding dengan pengalaman yang saya peroleh. Pengalaman yang saya peroleh sangat berharga dan tidak ternilai harganya�. Kegiatan bimbel ini sangat didukung oleh pimpinan baru, yaitu Bapak Ma’ruf dalam melanjutkan estafet kepemimpinan sebelumya. Pejabat lain serta seluruh pegawai KPPN Raha juga memberikan dukungan secara penuh. Salah satu bentuk dukungan adalah pemanfaatan aula kantor beserta fasilitasnya untuk digunakan sebagai tempat proses belajar mengajar dan rekan kerja lainnya memberikan suasana lingkungan kondusif sehingga proses belajar mengajar tidak terganggu. Membimbing siswa-siswa dengan latar belakang dan kemampuan yang berbeda tentu tidak mudah sehingga muncul suka dan duka seiring berjalannya waktu. Sukanya ketika mengajari para siswa, melihat pemuda-pemudi yang sangat antusias untuk belajar, saat melihat ekspresi wajah mereka ketika gagal dalam mengerjakan try out kemudian segera bangkit


300

kembali, mencoba, dan terus mencoba memperbaiki diri agar menjadi yang terbaik dan lebih bersemangat belajar lagi, seperti menyuntikan semangat dalam diri Syamsu untuk mengajar. Dukanya pada saat ada siswa yang tidak bisa hadir karena terlalu malam, tidak diizinkan oleh orang tua, tidak punya kendaraan, maka di saat itulah Syamsu merasa sedih karena tidak bisa membatu lebih. Perlu kusampaikan bahwa siswa pesera bimbingan belajar adalah putra dan putri dengan jarak antara rumah mereka dengan KPPN yang jauh dan bebera adi antaranya berlatarbelakang ekonomi yang kurang, sedangkan Syamsu hanya bisa mengalokasikan waktu di luar jam kerja. Begitu juga dengan kondisi Kota Raha yang merupakan kota kecil di daerah terpencil menyebabkan angkutan kota sangat terbatas. Pada pukul 17.00 WITA sudah tidak ada lagi yang beroperasi, ditambah lokasi KPPN Raha yang tidak dilewati jalur trayek angkot sehingga butuh kendaraan pribadi untuk sampai ke KPPN. Seluruh waktu, tenaga, biaya, pikiran termasuk suka dan duka yang selama ini telah dikeluarkan, akhirnya terjawab pada tahun 2018 dengan dua siswa berhasil lulus USM PKN STAN dan saat ini sedang menempuh pendidikan di kampus Jurang Mangu Tangerang Selatan tersebut. Walaupun baru dua siswa yang berhasil, tetapi hal ini sanggat membanggakan bagi Syamsu dan seluruh jajaran KPPN Raha, terlebih bagi orang tua mereka, guru, sekolah (SMAN 1 Raha dan MAN 1 Raha), serta daerah mereka, yaitu Kabupaten Muna. Semangat mengajar ini juga akan dibawa apabila Syamsu ditugaskan di tempat lain karena sebagai pegawai Kementerian Keuangan, khususnya DJPb yang senantiasa ditugaskan pada seluruh kantor vertikal maupun kantor pusat. Ketulusan dan keikhlasan Muhamad Yani Nursyamsu dalam berkarya untuk merajut NKRI melalui Pendidikan Kedinasan Kementerian Keuangan seirama dengan satu kalimat dalam yel-yel KPPN Raha, “Membangun Indonesia dari Pulau Muna�. Keberhasilan 2 siswa bimbel Syamsu menjadi awal dari kelulusan-kelulusan berikutnya agar tercapai cita-cita pembangunan nasional yaitu pemerataan pendidikan sehingga PKN STAN tidak hanya menjadi langganan bagi siswasiwa di wilayah kota besar, tetapi juga siswa-siswa di wilayah terpencil seperti Kabupaten Muna dan Muna Barat. Semakin banyak yang berhasil, semakin erat juga rajutan NKRI karena semakin banyak anak negeri di Wilayah Indonesia Timur yang bergabung dengan Kementerian Keuangan untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi.


Perekat Indonesia

301

Selamat bergabung adik-adikku, semoga berhasil menyelesaikan pendidikan untuk selanjutnya mengabdi bersama kami. Jangan takut dan jangan minder untuk mencoba dan berkompetisi demi meraih mimpi menjadi yang tertinggi. Terima kasih Mas Muhamad Yani Nursyamsu ketulusan dan keikhlasanmu dalam merajut kesatuan melalui pendidikan kedinasan akan selalu terkenang dan semoga mendapatkan balasan dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan terima kasih atas dukungan pimpinan serta seluruh pegawai KPPN Raha, semoga menjadi amal ibadah. Amin.


302

Sekolah Rimba di Taliabu Sidiq Gandi Baskoro, KPPBC TMP C Ternate - DJBC

Mereka anak-anak Kampung Fango, Pulau Taliabu, Maluku Utara. Tinggalnya di tengah hutan. Rumah-rumah mereka berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Jalan menuju Fango masih berupa tanah. Jaringan telekomunikasi didominasi jaringan E, bukan 4G. Dalam candaannya, orang sini mengatakan jaringan E itu singkatan dari Error-G. Jaringan 4G hanya ada sesekali, suka-suka dia pas dia mau lewat barang satu atau dua jam saja. Setelah itu berhari-hari tidak muncul lagi. Anak-anak Fango tidak bersekolah sebagaimana anak-anak seusianya. Namun mereka memiliki kemauan dan semangat untuk belajar. Mereka adalah penerus masa depan Pulau Taliabu. Ada sebuah bangunan kayu berbentuk panggung yang tidak begitu luas di tengah perkampungan mereka. Anak-anak ini datang ke panggung untuk belajar kalau ada orang yang datang dan mau mengajar mereka. Meja, kursi, white board, seragam, dan alat tulis yang mereka miliki adalah sumbangan dari donatur atau pemberian dari program CSR beberapa perusahaan di Pulau Taliabu. Panggung belajar ini di kelilingi kolam ikan yang tidak dalam, ikan air tawar. Di sampingnya lagi terdapat sebuah gereja kecil yang baru saja dibangun. Belum ada namanya. Hendrikus, seorang laki-laki kurus, datang dari Flores ke pedalaman


Perekat Indonesia

303

Pulau Taliabu pada tahun 2009. Lalu pada 2010 pindah ke Fango. Dialah yang membangun gereja kecil dengan sumbangan beberapa donatur. Hendrikus sering ditemani seorang laki-laki yang selalu mengenakan kalung salib, Moses namanya. Kampung terdekat dengan Fango adalah Kampung Tolong, sebuah kampung kecil dengan beberapa rumah. Berjarak paling cepat 30 menit melewati lembah, hutan, dan sungai lebar yang tak memiliki jembatan. Di Kampung Tolong ada gereja kecil dan masjid. Pada arah lainnya yang menjadi kampung terdekat dengan Fango–setelah Tolong, adalah Kampung Lede dan Tikong. Berupa pemukiman besar dan padat penduduk yang dihuni masyarakat beragama Islam. Jalan-jalan di Lede dan Tikong sudah sangat tertata, sebagiannya sudah diplester, sudah banyak warga membangun rumah dari bahan batako, banyak masjid, dan terdapat pelabuhan atau dermaga. Jarak dari Fango ke Lede atau Tikong paling cepat ditempuh satu jam perjalanan naik turun bukit dengan jalur terjal berliku, Jabal Mubarak kita menyebutnya. Anak-anak Fango ada yang sudah bisa membaca dan ada yang belum. Mereka semua belajar bersama, usia berapa pun digabung dalam satu kelas. Tidak ada jenjang atau klasifikasi dalam proses belajar mengajar. Hal itu disebabkan keterbatasan tempat dan juga pengajar. Tidak setiap hari ada orang datang mengajar mereka. Seringnya beberapa karyawan perusahaan yang bekerja di Pulau Taliabu datang pada hari tertentu, sore sepulang kerja. Itu pun mereka harus menempuh perjalanan sangat jauh. Tidak ada batasan materi yang diajarkan. Bebas. Terserah yang mengajar mau ngajari apa. Anak-anak siap menyimak, mencatat, dan mengikuti. Relawan bisa mengajarkan baca tulis, sejarah, geografi, Bahasa Inggris, matematika, cinta tanah air dan bangsa, ataupun yang lainnya. Namun, satu hal yang menurutku tidak boleh ditinggalkan guru untuk diajarkan, yaitu nilai-nilai, akhlak, dan tata karma agar anak didik tidak sekadar pintar, tetapi juga bermoral. Ada empat kunci sukses yang kurumuskan dan kuminta anak-anak ini mencatat dan menghafalnya. Aku bilang, “Nanti saya cek hafalannya�. Pertama, Jujur. Kedua, Sopan Santun. Ketiga, Tekun. Dan keempat, Doa. Kujelaskan secara ringkas agar lebih mudah dimaknai dan dipahami mereka. Sukses itu berhasil, bahagia. Kalau lomba dia menang. Kalau bertanding menjadi juara. Kalau bekerja menjadi kaya. Kalau punya cita-cita tercapai cita-citanya.


304

Menjadi yang terbaik. Jujur itu kalau bicara tidak berbohong. Mengatakan sesuai kenyataan. Apa adanya. Lalu kubuat ilustrasi kejujuran, mana jujur mana bohong. Sopan santun artinya menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, tidak kasar, tersenyum kepada teman, hidup rukun, memaafkan, dan tahu berterima kasih. Tekun artinya rajin. Tidak malas-malasan. Kalau tidak tahu, dia belajar. Kalau tidak bias, dia bertanya. Kalau bekerja, dia bersemangat kerjanya. Kalau ada teman kesulitan, dia bantu. Terkahir, iringi semuanya dengan doa. Memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bukan memohon kepada batu karena batu bisa dipecah. Bukan memohon kepada pohon karena pohon bisa ditebang. Nilai keempat ini untuk menanamkan nilai Ketuhanan, sesuai dengan sila pertama Pancasila. “Apa empat kunci sukses, adik-adik sekalian?” Mereka pun membacanya. *** Seharusnya Selasa kemarin aku datang lagi untuk mengajar mereka. Namun, sejak pagi hujan lebat. Awan gelap pekat seolah memenuhi seantero jagad. Seharian tidak terlihat secuil pun sinar sang surya, apalagi birunya angkasa. Air sungai meluap. Banjir. Tidak aman dan berbahaya untuk diseberangi. Padahal itulah jalur satu-satunya yang harus dilewati. Tidak ada jembatan sehingga kendaraan harus masuk sungai untuk melewatinya. Seharusnya kemarin aku juga pergi ke SMA Negeri 1 Lede untuk berbagi inspirasi, mengenalkan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan, dan sekalian sosialisasi PKN STAN. Tapi, kami tidak bisa pergi. Jalan yang kami lalui terhalang banjir. Ada sungai yang juga harus dilewati. “Ampuni kami, ya Rab. Semoga hari ini atau besok pagi kita bisa kembali berbagi.” Ilmu dan pengalaman adalah titipan. Ia amanah untuk diamalkan dan dibagikan. Bukan sekadar disimpan. Mewujudkan kejayaan Indonesia Raya adalah impian. Ia butuh perjuangan segenap pihak. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Tidak ada pengorbanan tanpa kepayahan. Orang bijak menasihatkan, “Berlelah-lelahlah! Manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.”


Perekat Indonesia

305

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda yang intinya, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” Para motivator mengatakan, “Kebahagiaan akan diraih pada saat kita berhasil membahagiakan orang lain.” Dan para pejuang sering bilang, “Dunia hanyalah persinggahan. Dunia itu tempat berjuang dan berlelah-lelah. Bukan tempat berleha-leha. Kalau mau beristirahat, nanti setelah di surga.”


306

M

A Y A D R E B N A D A D U


Perekat Indonesia

“Beranjak tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa, bijaksana, dan berprestasi itu pilihan.� Bambang Pamungkas

307


308

Kisah Kami, Kemenkeu Muda Kei Ayu Widyasari Primanda, KPPBC TMP C Tual - DJBC

Kepulauan Kei? Pasti banyak dari kalian yang asing dengan nama itu. Di manakah pulau itu? Ada apa di sana? Dan apakah mereka merupakan bagian dari Indonesia? Pertanyaan itu tidak asing bagi kami, masyarakat Kepulauan Kei yang sudah lahir dan hidup di pulau kecil di tengah lautan ini. Tak jarang, kami–masyarakat Kepulauan Kei, tidak tahu apa yang terjadi di luar pulau kami. Bagaimana majunya teknologi di luar sana? Bagaimana tinggi dan megahnya bangunan-bangunan bertingkat dan rasanya melihat ke luar jendela saat berdiri di lantai 10 atau 20? Bagaimana rasanya naik di puncak monumen paling bersejarah Indonesia–Monas? Bagaimana rasanya belajar di ruang ber-AC dengan meja dan kursi yang nyaman? Bagaimana mudahnya membeli banyak buku-buku menarik dan mendapatkan bimbingan belajar untuk kegiatan belajar kami? Dan bagaimana rasanya menjadi anak-anak yang merasakan pendidikan secara layak untuk masa depan? Iya, kami tidak tahu rasanya dan akhirnya kakak-kakak berhati baik ini datang seperti malaikat dunia yang kami harap akan menjadi malaikat di surga nanti. Inilah sedikit gambaran hidup kami, anak-anak penuh semangat di pulau kecil bagian Waktu Indonesia Timur dengan tanah berkarang dan laut yang sangat indah. Kami, anak-anak pulau Kei. ***


Perekat Indonesia

309

Perkenalkan, namaku Ayu Widyasari Primanda. Aku adalah salah satu pegawai DJBC yang baru lulus dari sekolah tinggi kedinasan Kementerian Keuangan– PKN STAN yang berada di Bintaro, Tangerang Selatan. Sekarang aku sedang menjalankan tugas pertamaku di Tual, Maluku Tenggara, tepatnya Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) C Tual. Dan ini adalah salah satu kisah yang ingin aku bagikan kepada kalian yang masih mengeluh dengan takdir yang Tuhan tetapkan. Ya, pertama kali mendengarnya pun aku takut, aku pun bertanya-tanya di manakah pulau itu? Apa yang akan aku lakukan di sana? Dan apa yang terjadi jika aku jauh dari rumah dan orang tuaku yang selama 20 tahun aku bergantung dan mengeluhkan segala masalahku kepada mereka? Ini tidak mudah untukku dan saat itu aku merasa dirikulah yang paling tidak beruntung. Apalagi saat melihat teman-temanku mendapatkan tugas sesuai dengan keinginannya, bahkan dekat dengan rumah. Membayangkan mereka bisa terus berkumpul dengan keluarga setiap harinya cukup membuatku iri. Namun, inilah konsekuensi yang harus aku siapkan dan terima sejak awal aku memutuskan untuk mendaftarkan diri di PKN STAN, “Kamu siap memberikan masa mudamu untuk negara dan siap mengabdi di mana saja untuk Indonesia.“ Dengan hati yang masih sangat merindukan rumah, aku pun berangkat untuk pertama kalinya pada tanggal 24 Desember 2018 bersama enam orang teman seangkatanku, sama-sama meninggalkan “rumah”, tempat ternyaman kami selama ini. Untuk mencapai Pulau Kei, kami harus menaiki pesawat transit di Bandara Pattimura, Ambon dan melanjutkannya ke Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur, dan pada tanggal 25 Desember 2018, aku dan enam temanku tersebut–yang sekarang adalah keluargaku, menginjakkan kaki di Kepulauan Kei. Ya, pulau yang sangat asing. Kami pun dijemput oleh senior kami dan diantar menuju rumah dinas. Untuk sementara waktu kami akan menetap di rumah dinas tersebut selama kami menjalankan tugas di tempat ini. Singkat cerita, hari ke hari berganti minggu dan bulan, kami pun semakin akrab satu sama lain. Bukan hanya kepada rekan-rekan kami di kantor bea cukai, tetapi juga terhadap rekan-rekan sesama Kementerian Keuangan yang juga bertugas di pulau ini. Kami pun sering menghabiskan waktu bersama, walau hanya sekadar menikmati kopi, bermain kartu, bermain


310

game online, ataupun hanya mengobrol topiktopik hangat yang bisa kami bahas. Yang jelas, dengan takdir Tuhan ini, walaupun kami jauh dari rumah tempat kami lahir, kami tetap merasa dekat dengan keluarga karena sekarang kami sudah menjadi keluarga. Perkenalkan, nama keluarga kami, Kemenkeu Muda Kei. Kemenkeu Muda Kei terdiri dari seluruh pegawai muda Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang bertugas di Pulau Kei, dari mulai Bea Cukai (KPPBC TMP C Tual), Pajak (KPP Mikro Tual), dan KPPN Tual. Kami adalah anak-anak muda berusia 19-25 tahun yang sama-sama memilki tujuan yang sama, yaitu mengabdikan diri kami untuk kemajuan dan kemakmuran negara kami tercinta, Indonesia. Hingga suatu saat ide ini muncul, ide yang bertujuan membantu mengubah nasib generasi muda yang berada di pulau ini. Yaitu, dengan membuat sosialisasi tentang sekolah kedinasan PKN STAN yang berkembang menjadi bimbingan belajar gratis persiapan masuk bagi anak-anak kelas 3 SMA yang ingin melanjutkan studinya ke PKN STAN. Kegiatan ini dilakukan karena sebelumnya nama sekolah kedinasan yang paling diminati oleh seluruh lulusan SMA dari seluruh Indonesia ini, tidak dikenal dan diketahui anak-anak Kepulauan Kei! Minimnya informasi dan pengetahuan serta keterbatasan ekonomi menyebabkan anak-anak ini memilih untuk putus sekolah setelah lulus dari SMA.

Kami juga ada, kami juga hidup, kami juga belajar, kami berjuang, untuk masa depan.


Perekat Indonesia

311

Dan kami, tidak ingin mutiara-mutiara bangsa yang seharusnya bisa diolah menjadi lebih indah harus terbuang sia-sia karena kurangnya kesempatan yang diberikan. Kegiatan ini dimulai dengan “Customs Talkshow� yang dibawakan oleh KPPBC TMP C Tual yang bekerja sama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) Tual dan dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Tenggara dan Kota Tual, siswa-siswi pilihan, serta seluruh kepala sekolah dari Kota Tual dan Maluku Tenggara. Acara ini menjelaskan tentang apa itu sekolah kedinasan PKN STAN dan bagaimana caranya untuk menjadi salah satu siswa-siswi yang berkesempatan bisa mendapatkan pendidikan di sana. Acara ini juga telah disiarkan di seluruh Indonesia melalui siaran radio. Sekali lagi, biarkan cerita perjuangan anak-anak Pulau Kei mengudara. Setelah itu, kami berkoordinasi dengan seluruh kepala sekolah di Kepulauan Kei, instansi daerah, dan pemerintahan terkait untuk mengadakan bimbel gratis yang bisa diikuti oleh 120 anak-anak kelas 3 SMA Pulau Kei yang telah lolos seleksi. Seleksi bimbel gratis ini mendapatkan banyak respons positif dari berbagai pihak terkait, terbukti jumlah siswa-siswi terdaftar yang mengikuti seleksi mencapai 487 peserta. Setelah terpilih 120 siswa-siswi pilihan dengan nilai terbaik melalui tes seleksi, anak-anak ini dibagi menjadi enam kelas untuk mengikuti kelas bimbingan belajar setiap hari Sabtu dan Minggu, dimulai dari pukul 10.30 hingga 17.00 selama 6 minggu. Kami, Kemenkeu Muda Kei, kamilah guru mereka, mengabdi bukan hanya sebagai penggawa keuangan negara pada hari Senin hingga Jumat, tetapi juga sebagai kakak dan abang dari anak-anak penuh impian Pulau Kei. Kami harap, pengabdian kami ini tidak sia-sia dan dapat diterapkan oleh manusia-manusia penuh kelebihan di luar sana. Bahwa di dunia yang segalanya sudah terasa mudah, masih ada anak-anak yang penuh perjuangan dalam mendapatkan pendidikan untuk menggapai impian mereka. Kami, Kemenkeu Muda Kei, gabungan dari Bea Cukai, Pajak, dan Perbendaharaan di Tual, bersatu untuk membuat perubahan. Memang tidak bisa mengubah seluruh dunia, tetapi setidaknya bisa mengubah dunia untuk anakanak Pulau Kei. Bersinergi dengan berbagai pihak, menyingkirkan berbagai keterbatasan dan perbedaan, bersatu untuk masa depan masyarakat Pulau Kei yang lebih baik lagi.


312

“Setiap anak-anak Indonesia harus memilki kesempatan yang sama untuk meraih impiannya. Tolong jaga mimpi-mimpi mereka.� – Kemenkeu Muda Kei Termasuk kami, anak-anak dari pulau terpencil bagian Waktu Indonesia Timur yang jarang diketahui oleh masyarakat luar. Kami juga ada, kami juga hidup, kami juga belajar, kami berjuang, untuk masa depan.


Perekat Indonesia

313

Nyala Kementerian Kegunaan Di Pedalaman Kalimantan Timur Arif Rahman Hakim, Biro Organta- Sekretariat Jenderal

Kala itu adalah tanggal 2 Maret 2015, saat yang bersejarah bagiku. Aku mendapat tugas dinas ke luar kota yang pertama kali sejak 1 tahun 4 bulan bekerja. Sebelumnya, aku tak pernah sekalipun menerima penugasan ke luar kota. Waktu itu aku adalah seorang pegawai yang bertugas di Subbagian Layanan Pengguna, Bagian Operasional TIK di Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan (Pusintek). Namun, menariknya keberangkatanku tersebut tidak menggunakan Surat Tugas (ST), tetapi menggunakan Surat Keputusan (SK). Aku dipercaya oleh kantor untuk ditempatkan di unit baru, yaitu Kantor Pengelolaan Pemulihan Data (KPPD) di Balikpapan. Hal yang lucu lainnya adalah, ini adalah pertama kalinya aku menaiki pesawat, namun tiketnya bukan untuk pulang-pergi, hanya pergi saja dan tidak pulang. Pertama kali kuinjakkan kaki di pulau Kalimantan ini serasa asing bagiku, tidak ada orang yang kukenal dan tidak ada nama teman yang kutahu sebelumnya. Selama bekerja di Balikpapan, aku tinggal di kantor. Ya, aku tidur di bawah meja kantor. Tidak ideal memang karena aku tidak memiliki aktivitas lain selepas jam kerja. Bulan demi bulan berlalu, aku harus bergerak dan tidak boleh berkubang dalam keadaan seperti ini. Aku harus bermanfaat untuk daerah tempatku bekerja. Bekerja di kantor adalah kewajiban setiap hari Senin hingga Jumat, mulai pukul 07.30 hingga petang. Namun di luar itu, aku merasa bahwa kita


314

harus bermanfaat. Tujuan kita ditempatkan di suatu daerah, menurutku tidak lain bertujuan untuk memberi manfaat di setiap daerah yang kita tempati. Aku pun mencari aktivitas yang pernah kutekuni, yaitu pendidikan. Aku mulai mengikuti kegiatan yang kutemukan di Balikpapan. Dimulai dengan adanya Kelas Inspirasi Balikpapan, sebuah kegiatan yang pengajarnya adalah sukarelawan dari profesional dan diwajibkan mengambil cuti sehari untuk mengajar di sekolah dasar. Di tahun pertamaku mendaftar sebagai inspirator dan mengajar tentang dunia Kementerian Keuangan di sebuah SD yang terletak di dalam perkebunan karet yang letaknya cukup jauh di daerah timur Kota Balikpapan. Pada tahun kedua, aku dipercaya untuk menjadi fasilitator atau Liaison Officer/LO untuk mendampingi para pengajar di perbatasan Balikpapan Utara dan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Tahun ketiga, aku pun dipercaya sebagai Koordinator Fasilitator serta merangkap sebagai pengajar di SDN Luar Biasa bersama anak-anak yang istimewa. Aku mengenalkan diri sebagai Budayawan yang memberi musik dan cerita berbagai budaya daerah dengan latar penempatan pegawai Kementerian Keuangan di seluruh Indonesia. Waktu itu aku mengajar di depan para anak tunanetra, tunarungu, dan autis. Aku kagum dengan seorang anak tunanetra yang mahir memainkan piano saat upacara bendera, sungguh suatu keistimewaan yang luar biasa. Pada akhir pekan, aku juga kerap mengajar

Bulan demi bulan berlalu, aku harus bergerak dan tidak boleh berkubang dalam keadaan seperti ini. Aku harus bermanfaat untuk daerah tempatku bekerja.


Perekat Indonesia

315

di kegiatan 1000 Guru Balikpapan serta 1000 Guru Samarinda untuk mengajar di berbagai daerah terpencil seperti di Pulau Gusung Bontang, Perkampungan terpencil di Muara Andeh Kabupaten Paser, sebuah pulau kecil Kepulauan Balabalakang di Selat Makassar, serta sebuah SD kecil di Bidukbiduk Kabupaten Berau yang terletak tepat di “hidung” Pulau Kalimantan. Keberangkatan yang sangat berisiko dengan jalur setapak di tepi jurang yang terjal hingga menggunakan kapal ikan nelayan di tengah badai ombak Sulawesi. Tujuanku adalah untuk menjelaskan tentang keuangan negara dalam pemahaman sekolah dasar dan aku senang sekali karena berhasil menanamkan kesadaran kepada mereka bahwa negara ini membutuhkan kontribusi wajib yang akan digunakan untuk pembangunan guna memajukan daerah tempat tinggal mereka. Banyak di antara mereka yang bercita-cita ingin menjadi Menteri Keuangan. Hampir di setiap malam selepas jam kerja, aku juga aktif sebagai musisi tradisional Dayak atau biasa disebut dengan Sape’ Dayak. Karena antusiasme bersama kawan-kawan yang tergabung dalam melestarikan budaya tersebut di berbagai kegiatan di tingkat kota dan provinsi, kami pun pernah lolos dan ditunjuk untuk mewakili Kota Balikpapan di Jambore Pemuda tingkat provinsi Kalimantan Timur bersama utusan kota lainnya seperti Mahakam Ulu, Samarinda, Paser, Bontang, Kutai Barat, Penajam, dan lain sebagainya. Dari pertemuan itu, aku mendapat banyak masukan tentang kondisi daerah mereka yang masih memerlukan pembangunan infrastruktur dan subsidi transportasi karena akses yang sangat terpencil seperti Kabupaten Mahakam Ulu yang terletak di “jantung” Pulau Kalimantan. “Kalau kita mau balik kampung itu pakai perahu long boat dan menyusuri sungai Mahakam dari hilir di Tering Kutai Barat lalu ke hulu dengan melawan arus dan riam yang banyak bahaya”, ujar Monica Dea Eugenia Buaq Hiit dan Maria Hangin Ibo. Sampai suatu kala, aku diajak oleh tiga rekan untuk mendirikan suatu organisasi nirlaba bernama Rawikara Indonesia yang bergerak dalam bidang energi dengan tujuan untuk membantu dalam bentuk penerangan hunian ke berbagai desa terpencil yang tidak memiliki akses listrik di berbagai pelosok Kalimantan Timur, Dayak Punan di Kalimantan Utara, bahkan di Pegunungan Bintang di Papua. Aku mendirikan kampanye sosial bertagar #MenyalakanMeratus, sebuah gerakan crowd funding untuk menggalang donasi pengadaan lampu tenaga surya portable kepada tiga puluh kepala keluarga suku Dayak Meratus di dusun Pusarangin dan Nininyao di Desa Muara Andeh, Kecamatan Muara Samu, Kabupaten Paser


316

yang terletak di pegunungan Meratus, dekat dengan perbatasan Kalimantan Selatan. Survei tersebut aku lakukan sendiri menggunakan sepeda motor selama sembilan jam dengan berbagai rintangan seperti tersesat di hutan, medan yang sangat terjal, dan beberapa komunikasi bahasa lokal. “Mun ulun handak bagawi di kota kawa haja, tapi kadada bubuhan wan kakanakan nang jagakan hutan saurang�, ujar Ibun yang menerjemahkan ucapan bapaknya ke dalam Bahasa Banjar agar kami mengerti yang kira-kira artinya, “Jikalau kami ingin bekerja di kota, bisa saja, tapi nanti siapa yang akan menjaga hutan ini kalau penduduknya habis pergi semua?� Aku yang berbahasa ibu–Bahasa Jawa pun harus mempelajari bahasa mereka agar mudah untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal yang berbahasa Banjar dengan dialek Meratus. Saat penggalangan dana, kami bekerja sama dengan berbagai tim di Balikpapan dan berbagai teman yang tersebar di berbagai kota dunia, dari Jepang, Australia, Turki, Italia, China, Spanyol, hingga kutub utara untuk menyebarkan tajuk tersebut. Kami mengajak komunitas mobil offroad VES Balikpapan sebagai transportasi kami menuju desa tempat donasi kami. Selain menyalurkan donasi lampu, kami juga mendonasikan berbagai kebutuhan logistik yang mempu menunjang kehidupan mereka. Kami juga memberikan motivasi kepada anakanak dan para pemuda untuk belajar dan terus melanjutkan pendidikan agar bisa memajukan desa mereka dan berharap semoga ada putra daerah yang bisa cemerlang di Indonesia bahkan dunia. Dari berbagai kegiatan tersebut, aku merasa bahwa apa pun yang bisa kita lakukan kepada sekitar, lakukanlah. Sebagai pegawai negeri, kita harus multiguna. Aku memiliki sudut pandang bahwa Kementerian Keuangan itu lebih luas dari pada sekadar KEUANGAN. Dan kalau kita acak lagi hurufnya, maka kata keuangan bisa disusun menjadi KEGUNAAN.


Perekat Indonesia

317

Menjadi Ikan Besar di Kolam Kecil Ahmad Dahlan, KPP Penanaman Modal Asing Enam - DJP

Namanya Irena Shafira. Biasa dipanggil Iren, adalah salah satu anak didikku di Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN STAN). Aku memang pernah mengajar di sekolah kedinasan di bawah naungan Kementerian Keuangan itu, selama lebih kurang tiga tahun, dari 2014 sampai dengan 2017. Kala itu, pendidikan tinggi yang berkampus di Jurang Mangu Timur ini “menitipkan� peserta didik program diploma satunya ke Balai Diklat Keuangan (BDK) yang tersebar di beberapa kota. BDK Cimahi adalah salah satunya. Di sanalah aku mengajar dengan bermodalkan nota dinas dari atasan. Kantorku saat itu berdekatan dengan lokasi BDK Cimahi, yakni KPP Pratama Soreang–sebelum aku pindah ke Jakarta. Dan Iren adalah salah satu peserta didiknya. Lama tak berkomunikasi dengan anak-anak didik, tiba-tiba salah seorang dari mereka berkirim pesan lewat WhatsApp (WA). Ia menanyakan, apakah aku masih ingat dengan Irena Shafira atau tidak. Lalu ia menceritakan bahwa sekarang ia menjadi salah satu finalis Puteri Indonesia 2019 perwakilan Maluku Utara. Beberapa jenak aku mengingat-ingat. Kubuka kronologi percakapan di WA. Aku memang melayani percakapan dengan


318

hampir semua anak didikku lewat WA. Umumnya mereka menanyakan nilai atas mata kuliah yang kuampu. Kadang juga bertanya materi kuliah yang tidak sempat ditanyakan di kelas. Ada nama Iren di sana. Lalu, kepada Iren kuucapkan selamat. Kusampaikan bahwa itu adalah hikmah ditempatkan di Ternate. Aku juga mendoakan agar ia maju terus hingga juara. “Alhamdulillah, Pak. Amin. Terima kasih banyak, mohon doa dan dukungannya,” balasnya. Besoknya aku meminta izin agar kisahnya aku tulis. Ia mengizinkan. “Dengan senang hati,” katanya. Kisah Bermula “Dari dulu, Iren selalu ingin ikut ajang kecantikan,” begitu Iren membuka kisahnya. Tetapi tidak pernah mendapat izin dari kedua orang tuanya karena mereka menginginkan ia fokus pendidikan dulu. Iren yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pun menurut saja. Demi tidak mengecewakan kedua orang tuanya, rencana itu ia simpan. Akhirnya setelah lulus kuliah, barulah ia diizinkan untuk memasuki dunia ajang kecantikan. Mulanya, gadis cantik yang kini berusia 19 tahun itu sempat ikut Mojang Jajaka Kota Bandung 2017. Saat itu, ia baru selesai sidang yudisium di PKN STAN, sambil menunggu wisuda. Ia berhasil mendapat Award Best Talent Mojang Kota Bandung 2017 dengan menampilkan bakat menari daerah sambil memakai sepatu roda. Karena kebetulan, ia juga atlet Freestyle Inline Skating. Bidang yang umumnya disebut sepatu roda itu, ia geluti sejak 2011. Memasuki 2016 ia berhenti berkompetisi, yakni saat diterima di PKN STAN. Jam kuliah yang padat akan bentrok dengan jadwal latihan yang harus dilakukan secara rutin. Alasan lainnya, ia sudah beberapa kali juara dalam kompetisi skala internasional. Sempat sebagai juara keempat Classic Senior Women di ajang Singapore International Freestyle Slalome Championship 2014. “Jadi rasa penasaran untuk menang sudah terbayarkan,” begitu Iren beralasan. Tapi sekali-kali, ia masih main sepatu roda hanya untuk fun saja, tidak untuk kompetisi. On the Job Training Sayangnya, hidup tak selamanya indah. Tidak ada pesta yang tak berakhir. Setelah bergembira atas kelulusan dari sekolah kedinasan yang terkenal dengan “kekejaman” sistem droup out (DO)-nya dan keberhasilan mendapat sebuah


Perekat Indonesia

319

award dalam ajang mojang Kota Bandung itu, kini tiba giliran kesedihan menyapanya. Beberapa saat setelah wisuda, Iren mendapat pengumuman penempatan On the Job Training (OJT). Ia ditempatkan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kupang. Ia shock berat dan membuat rengsa badannya. Aku memaklumi. Ia perempuan yang pada saat itu baru berusia 17 tahun dan harus pergi merantau sendirian di kota nun jauh, meninggalkan orang tuanya di Bandung. Sempat ia berpikir untuk resign, tetapi akhirnya ia berangkat juga ke Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur itu, dengan air mata yang terus rebas. “Iren tidak bisa berhenti menangis, Pak,” ungkapnya menggambarkan kesedihannya. Namun terkadang, bahagia dan sedih hanyalah persepsi belaka. Saat kita menjalaninya, sesuatu yang semula dianggap membahagiakan, bisa jadi nyatanya tidak. Pun kesedihan. Iren membayangkan, di Kupang nanti ia akan sendirian. Ia akan kesepian karena jauh dari orang-orang yang dicintainya. “Tapi setelah sampai di sana dan masuk kantor di hari pertama, semuanya berubah,” Iren membuka kisah lembaran barunya. Kondisi kantor itu lebih terasa kekeluargaanya. “Mungkin karena banyak anak rantaunya”, ia melanjutkan. Suasana kantor seperti itu membuat Iren merasa nyaman untuk bekerja. Pun tinggal di kotanya. Meskipun jarang sekali tempat hiburan seperti mal dan lainnya, tidak ada transportasi daring, dan cuacanya yang panas ekstrem. Tapi semua itu terkesampingkan oleh keindahan alamnya. Sehingga Iren sudah merasa benar-benar betah tinggal di kota yang sepulau dengan negara Timor Leste itu. Penempatan Definitif Hidup selalu mengajarkan bahwa tawa dan tangis akan datang silih berganti. Sesuka hati. Tanpa kita minta dan tanpa kita duga. Begitu pun yang terjadi dengan Iren. Saat ia sudah merasa betah dan senang tinggal di Kupang, tiga bulan kemudian, keluar pengumuman definitif. Ia ditempatkan di KPP Pratama Ternate. Sedih? Tentu saja. Karena alih-alih balik ke homebase, ia malah makin jauh ke timur. Tapi Iren sudah mulai belajar legawa dan ikhlas. “Iren percaya, Allah pasti mempunyai rencana indah buat Iren,” ungkapnya bijak.


320

Di Ternate, hal yang sama seperti di Kupang terulang kembali. Di sana tidak ada bioskop, mal pun hanya satu-dua saja. Itu pun kecil. Tidak ada transportasi daring juga. Biaya hidup tinggi karena hampir semua barang kebutuhan merupakan barang impor atau didatangkan dari pulau lain. Tapi semua itu terkalahkan dengan keeksotisan alamnya. “Wah… Subhanallah ciptaan Allah memang luar biasa pokoknya,” Iren memuji kebesaran Tuhannya. Iren mempunyai kegemaran travelling. Ia juga anak yang mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Hal itulah yang membuat ia betah tinggal di kota yang berada di bawah gunung api Gamalama di Provinsi Maluku Utara itu. Malah lebih betah dari saat tinggal di Kupang. Sejak Iren mulai merantau ke luar Bandung, satu yang menjadi moto hidupnya, “Lebih baik menjadi ikan besar di kolam kecil, daripada menjadi ikan kecil di kolam besar.” Maka ia sebisa mungkin melakukan yang terbaik di sana. Baik dalam segi pekerjaan, maupun dalam segi soft skill–membangun relasi dengan rekan kerja satu instansi, di luar instansi, dan dengan stakeholders. Semua ia lakukan dengan maksimal agar ia lebih menonjol. Menjadi Finalis Puteri Indonesia “Kalau mengenai mengapa Iren bisa menjadi Puteri Indonesia mewakili Maluku Utara, ceritanya begini Pak...” Iren membuka kisah mengenai keterlibatannya dalam ajang kecantikan paling bergengsi di Indonesia itu. Awalnya, Iren merasa sudah hampir setahun tinggal di Ternate, tetapi hanya kenal dengan orang-orang kantor saja. Akhirnya ia mulai ikut komunitaskomunitas daerah untuk memperluas relasi dan wawasan. Dari situ, Iren kenal dengan seseorang, Kak Ian namanya. Kak Ian sering mengajak Iren jalan-jalan hunting foto-foto. Terus Kak Ian unggah foto-foto itu ke akun medsosnya. Unggahannya itu dilihat oleh Koko, orang yang membantu Iren hingga bisa mendapatkan gelar Puteri Indonesai Maluku Utara. Tidak mudah untuk Iren mendapatkan gelar itu. Bersaing dengan banyak putri daerah lain yang cukup berkompeten. Mulanya ia–selaku pendatang, merasa pesimis. Tapi pihak Yayasan Puteri Indonesia menekankan bahwa syarat untuk mewakili suatu provinsi itu: (1) mempunyai garis keturunan daerah dari provinsi, dan/atau (2) kelahiran/bertempat tinggal di provinsi, dan/atau (3) kuliah/bekerja


Perekat Indonesia

321

di provinsi tersebut. Kata “atau” di situ menandakan bahwa syarat dimaksud adalah syarat alternatif. Iren memenuhi salah satu syarat, yakni bekerja di provinsi tersebut. Dengan itu, Iren jadi optimis karena memang mengikuti ajang seperti itu merupakan impiannya sejak lama. Motivasi Aku bertanya perihal motivasinya mengikuti ajang kecantikan itu. Ia menjawab panjang lebar. Jawaban-jawabannya menunjukkan bahwa Iren, meskipun masih remaja, tetapi pemikirannya sudah jauh ke depan. Tampak jelas dari kalimatkalimatnya itu tidak dibuat-buat. Motivasinya sangat mulia. Aku hampir tak percaya bahwa ia pernah menjadi anak didikku. “Iren sudah mengunjungi beberapa destinasi wisata di Maluku Utara dan Iren merasa sedih,” ia mengawali kisah tentang motivasinya. “Dengan alam yang seindah dan secantik itu, masyarakat tidak melihatnya sebagai peluang mereka untuk menarik wisatawan dan menyejahterakan hidup mereka. Pemerintah memang telah banyak membuat program untuk menarik wisatawan. Namun hal itu seharusnya tertanam di masyarakatnya dulu, harus sadar akan pariwisata berkelanjutan.” Karena itu, ia pun mengambil advokasi, “Pentingnya edukasi pelestarian lingkungan di wilayah terpencil timur Indonesia.” Menurutnya, kalau saja masyarakatnya mau bergerak untuk merapikan dan menata tempat wisata yang dekat dengan pemukiman mereka, misalnya dengan membuat trip organizer atau semacamnya, untuk menjemput tamu langsung dari bandara dan menyiapkan transportasi serta segala macamnya, pasti banyak yang akan datang ke sana. Sejauh ini hanya ada satu dua saja, itu pun jenis pelayanannya masih tidak selengkap seperti yang Iren harapkan. Hal itulah yang menurut Iren membuat wisatawan enggan datang ke Ternate. Sudahlah tiketnya mahal, para wisatawan masih kesulitan mencari informasi mengenai akomodasi, transportasi, dan sebagainya. Padahal, para pekerja speedboat daripada hanya diam di pelabuhan menunggu penumpang yang akan ke pulau seberang, lebih baik disewa untuk membawa turis-turis. Harapan ke depannya, Iren bisa memotivasi masyarakat di sana, khususnya kaum melenial yang sedang produktif-produktifnya untuk berani bersaing dengan dunia luar. Mereka harus bisa membuktikan kalau masyarakat di timur itu tidak


322

terbelakang. “Sedih Iren, Pak. Waktu ikut acara seribu guru di desa Tolofuo. Anak-anak di sana kalau ditanya cita-citanya apa, jawabnya pengin jadi pemanjat kelapa, pengin jadi sopir speedboat, ya semacam begitu saja karena yang mereka lihat sehari-hari hanya seperti itu,” jelas Iren. Ia juga menjelaskan, desa Tolofuo bisa ditempuh dari Ternate selama 23 jam perjalanan darat ditambah 3 jam perjalanan laut. “Makanya, Iren di sana ingin menginspirasi mereka, membantu mengenalkan kalau di ‘dunia luar’ itu ada apa saja, agar mereka ada acuan untuk belajar setinggi-tingginya,” Iren menutup kisahnya dengan kalimat yang merupakan keinginan luhurnya. Wilayah Indonesia memang begitu luas. Terdiri dari ribuan pulau. Dengan keragaman suku dan budaya. Pun keelokan alamnya. Kekayaan yang luar biasa itu sekaligus juga merupakan ancaman bangsa ini menjadi terpecah-pecah, tanpa kesadaran dan usaha dari semua pihak akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Juga perlunya kesadaran ikut memajukan saudara-saudara kita nun jauh di sana yang masih tertinggal dalam segala hal. Ternyata selain cantik, Iren juga telah menginspirasi kita semua tentang perilaku yang mendukung kesadaran nasionalisme, kesetiakawanan sosial, dan perilaku yang memberikan pengakuan terhadap kaum marginal. Ia juga telah menunjukkan dukungannya terhadap inisiatif dan peran masyarakat dalam pembangunan. Tahun ini, ajang kecantikan yang dipelopori oleh Ibu Mooryati Soedibyo itu, merupakan perhelatan yang ke-23. Puncak acaranya digelar pada tanggal 8 Maret 2019 di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat. Iren bersama 38 finalis lainnya yang mewakili provinsinya masing-masing berjuang untuk menyandang gelar Puteri Indonesia 2019. Meskipun Iren belum berhasil menjadi Puteri Indonesia 2019, sejatinya ia pun telah menjadi juara atas inspirasi-inspirasinya, memajukan daerahnya yang terletak ribuan mil dari ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia itu. Ia telah menjadi ikan besar di kolam kecil.


Perekat Indonesia

323

Merawat Kebangsaan Sekaligus Edukasi Keuangan Negara yang Menyenangkan Rudi Andika, Staf Tenaga Pengkaji Bidang Perbendaharaan - DJPb

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan berpopulasi lebih dari 262 juta jiwa. Ia menjadi rumah bagi 350 kelompok etnis yang menuturkan 725 bahasa. Indonesia sering dijadikan contoh sebagai sebuah negara dengan penduduk yang sangat beragam namun dapat hidup berdampingan dengan damai. Bapak-bapak pendiri bangsa pun memformulasikan sebuah prinsip pemersatu yang kemudian diekspresikan dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika� sebagai semboyan bangsa. Sangat disayangkan bahwa wajah Indonesia akhir-akhir ini semakin menjauh dari citra tersebut. Warga negara yang berbeda latar belakang semakin sulit untuk hidup berdampingan dengan damai. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang menjadi mata pelajaran wajib di bangku sekolah seakan tidak efektif menghasilkan warga negara yang aktif berkontribusi karena lebih banyak dilakukan dalam bentuk hafalan. Sekolah tidak lagi menjadi ruang perjumpaan bagi siswa dari berbagai latar belakang karena sekolah negeri yang semakin tidak kondusif bagi siswa minoritas dan menjamurnya sekolah-sekolah swasta eksklusif berbasis agama. Lebih jauh lagi, Revolusi Mental yang menjadi program andalan pemerintah hingga hari ini masih belum memiliki wujud nyata di tengah masyarakat. Sejatinya, revolusi mental adalah revolusi karakter warga negara yang semula lebih banyak menuntut dan


324

memikirkan kepentingan diri dan golongan sendiri (self-centered) menjadi lebih banyak berkontribusi dan memikirkan kesejahteraan bersama (others-oriented). Dani Dwi Permana adalah pelaku bom bunuh diri Hotel JW Marriott, Jakarta, beberapa waktu silam. Yang mengejutkan adalah ia seusia pelajar SMA dan hanya bersama seorang remaja lainnya melakukan pengeboman. Padahal, selama menjadi pelajar di sekolah, ia dikenal sebagai murid yang berprestasi dan dikenal sebagai anak yang baik, sering menghabiskan waktunya dengan ibadah, bahkan menjadi marbot masjid. Di Surabaya, sepasang suami-istri melibatkan anakanaknya untuk menjadi pelaku bom bunuh diri di beberapa gereja di Surabaya. Ini hanya dua dari banyak hal yang melatarbelakangi perlunya merekatkan bangsa ini. Yang jelas, mereka butuh ruang perjumpaan! Sebuah sekolah umumnya cenderung homogen. Madrasah umumnya berisi murid-murid Muslim, sekolah seminari umumnya berisi siswa Kristen/ Katolik, sekolah swasta kebanyakan dihuni oleh siswa dari etnis tertentu yang sebagian besar orang tuanya kaya dan sang anak akan bergaul dengan anak orang kaya lainnya. Siswa sekolah negeri pun berisi anak-anak yang bisa kita lihat kekhasannya sendiri. Para pelajar tengah dalam segregasi. Tanpa mengetahui “dunia luar�, masing-masing individu akan rentan menerima informasi yang keliru tentang dunia luar. Mereka rentan terpapar kabar bohong (hoaks). Hoaks yang bermuatan kebencian akan bermuara pada intoleransi memecah belah tanpa sadar bahwa semua informasi tersebut tidak benar. Ruang perjumpaan memimpikan para siswa dari berbagai sekolah berkumpul, berbagi, mengekspresikan toleransi, serta terluruskannya pandangan yang keliru dalam pikiran mereka selama ini. Selain mimpi ruang perjumpaan, berikutnya adalah mimpi generasi kontributif. Masyarakat kita cukup dikenal dengan nyinyiran-nya. Memang, mengkritik tidak harus selalu dilengkapi dengan alternatif solusi karena tidak memiliki kompetensi. Bagi kaum awam, mengeluhkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) atau mengkritik pemerintah yang berutang tetap sah-sah saja meskipun kaum awam tersebut tidak sanggup menawarkan solusi. Mereka mengeluhkan apa yang mereka lihat atau rasakan. Namun paling tidak misalnya, jika masyarakat benar-benar mendalami apa yang dihadapi pemerintah, mereka akan memahami bahwa mengambil keputusan memang tidak mudah di tengah ketidakleluasaan (constraint) yang dihadapi. Demikian juga bagi para pelajar yang adalah tunas bangsa. Pendalaman situasi akan membuat mereka belajar


Perekat Indonesia

325

untuk memikirkan kontribusi apa yang dapat dilakukan, daripada hanya sekadar nyinyir tanpa faedah. Sehebat apa pun solusi yang dikembangkan/ditawarkan pemerintah, ia akan optimal jika ada dukungan kontribusi dari rakyatnya. Itulah sisi kontributif. Kondisi ini yang memanggil Yayasan Beneran Indonesia, sebuah yayasan nonprofit yang terpanggil untuk menegakkan pendidikan karakter dan kewarganegaraan anak-anak Indonesia. Dengan kalimat lain, yayasan (atau bisa juga disebut dengan komunitas) ini memiliki visi untuk membentuk generasi muda yang toleran dan kontributif, melalui kegiatan yang menyenangkan (fun) dan relevan. Beberapa rekan juga menyebutnya sebagai “pembelajaran PPKn di luar ruangan�. Beneran Indonesia sendiri adalah sebuah singkatan, yaitu Bela Negara Nasional Indonesia. Berbagai kegiatan pernah dilakukan oleh Beneran Indonesia antara lain: Amazing Race (disebut juga Aku Cinta Indonesia/ACI), sebuah pembelajaran aplikasi Pancasila di luar ruangan dengan metode permainan dan kegiatan kelompok; Life Skills Training, sebuah pembekalan keterampilan untuk remaja; dan Volunteer Now!, sebuah kegiatan kesukarelawanan yang dikemas seru dan menyenangkan. Pada 11 Desember 2018, Beneran Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Keuangan mengadakan Institution Visit ke kompleks Kantor Pusat Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng, Jakarta, yang melibatkan berbagai siswa dari beberapa sekolah di Jakarta. Melalui Institution Visit, pelajar dapat melihat langsung profil institusi pemerintah yang sejatinya bekerja bagi mereka. Institution Visit berusaha untuk menghilangkan jurang antara pemerintah dengan rakyat, apalagi generasi pelajar adalah generasi yang kelak akan meneruskan pemerintahan ini. Selain itu, kunjungan ini bertujuan juga untuk menciptakan ruang perjumpaan para pelajar yang plural. Institution Visit menjadi manifestasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang relevan, menciptakan ruang perjumpaan bagi siswa berbagai latar belakang, serta menjadikan revolusi mental menjadi sebuah praktik nyata. Diharapkan, para pelajar Indonesia menjadi warga negara yang mampu melihat permasalahan yang terjadi di sekitar mereka dan menganalisa penyebab (complex problem solving dan analytical thinking), serta mengambil langkah nyata berupa kontribusi sebagai warga negara yang baik (creativity) sehingga Pancasila tetap relevan dan pelaksanaan penerapan Pancasila menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan secara khusus bagi generasi muda. Sebagai salah satu penggiat komunitas Beneran Indonesia, aku bersama


326

rekan-rekan Beneran Indonesia mengawali persiapan dengan mengutarakan inisiatif ini kepada Ibu Adelina Sirait, salah seorang pengarah pada Program Kemenkeu Muda, yang kemudian bermuara pada komunikasi dengan Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Setjen Kemenkeu. Puji Tuhan, Biro KLI menyambut baik dan mendukung penuh inisiatif ini. Inisiatif ini selaras dengan visi dan strategi komunikasi (strakom) publik Kementerian Keuangan sehingga diharapkan memenuhi ekspektasi edukasi publik oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan. Aku merasakan betul atmosfer dukungan biro dalam persiapan dan penyelenggaraan kunjungan ini. Demikian halnya atasanku, Tenaga Pengkaji Bidang Perbendaharaan–Bapak Syafriadi yang juga mengizinkan dan mendukung keterlibatanku dalam kegiatan ini. Seperti pada semua Institution Visit Beneran Indonesia sebelumnya, visit ini membutuhkan relawan. Keberadaan relawan tidak hanya membantu persiapan teknis kunjungan, namun visi ruang perjumpaan ini juga menyasar para relawan juga. Sesuai arahan Biro KLI, para pegawai Kemenkeu dilibatkan untuk menjadi relawan sehingga memunculkan kesadaran (awareness) juga di kalangan pegawai Kemenkeu untuk berinteraksi dan memberikan edukasi kepada masyarakat/ pelajar. Dari puluhan pendaftar, enam belas relawan dipilih sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Persiapan penyelenggaraan Institution Visit tanggal 11 Desember 2018 yang dikombinasikan dengan meningkatnya beban pekerjaan di akhir tahun anggaran 2018 cukup menguras tenaga para relawan maupun rekan-rekan di Beneran Indonesia. Namun, semua terbayar lunas pada hari pelaksanaan visit tatkala melihat antusiasme para pelajar dalam mengikuti visit. Pagi itu, wajahwajah ceria dan penuh keingintahuan membuat rasa lelah ini berguguran dan menyalakan semangat bagi diri. Institution Visit ini dihadiri oleh 91 siswa dari beberapa sekolah se-Jabodetabek. Sekolah-sekolah yang terlibat didesain merupakan sekolah yang berbeda “jenis� dengan sekolah lainnya, yaitu sekolah negeri, sekolah swasta, homeschooling, bahkan panti asuhan. Belum lagi ketika sempat melihat bahwa ada peserta dari Kota Bandung yang berangkat saat subuh ke Jakarta untuk mengikuti Institution Visit ini. Ia berkebutuhan khusus, namun tidak menahannya untuk bergabung. Bahkan, kami semula mendengar bahwa ada peserta dari panti asuhan yang sedang berjuang melawan kanker, meskipun pada akhirnya tidak diizinkan ikut oleh pihak panti karena alasan kesehatan.


Perekat Indonesia

Para peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok diberi nama para Menteri Keuangan RI terdahulu dan didampingi oleh kakakkakak relawan. Pembagian kelompok juga memisahkan #Temankeu (demikian para peserta kemudian disebut dalam visit tersebut) dari agama dan suku yang sama, demi terjalinnya interaksi melalui ruang perjumpaan. Acara diawali dengan penayangan video sambutan Menteri Keuangan yang diproduksi khusus untuk kunjungan siswa (study tour) ke Kementerian Keuangan. Para siswa tampak antusias menyimak pesan dari Ibu Menteri Keuangan agar menggunakan kesempatan ini untuk memperoleh pengetahuan dan inspirasi dari Kementerian Keuangan. Acara diisi dengan berbagai permainan menarik yang tidak hanya membuat para #Temankeu berbaur, namun juga mengenalkan tusi Kemenkeu kepada mereka. Acara dikemas begitu seru sehingga tawa ceria #Temankeu tidak tertahankan untuk meledak di Aula Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Di dalam aula BKF pada saat itu, sedang terjadi jalinan kebinekaan, edukasi keuangan negara, dan sukacita bermain yang menyenangkan. Turut hadir dalam acara adalah Bapak Letkol Eko dari Direktorat Bela Negara Kementerian Pertahanan. Dalam sambutannya, Beliau mengapresiasi Yayasan Beneran Indonesia atas inisiatif menciptakan generasi yang kontributif nan toleran. Beliau juga mengapresiasi Kementerian Keuangan yang membuka “pintu rumah� untuk melayani antusiasme

327

Negara yang kuat adalah negara yang memiliki warga negara yang kontribusinya jauh melebihi tuntutannya dan cakap bekerja sama dengan warga lainnya yang berbeda latar belakang untuk mencari solusi bagi kebaikan bersama.


328

#Temankeu. Kemudian, acara juga diisi dengan talkshow yang menghadirkan Tenaga Pengkaji Bidang Sumber Daya Aparatur, Bapak Adi Budiarso; Chief Reporting Officer Central Transformation Office (CTO), Ibu Adelina Sirait; dan Koordinator Tim Program Kemenkeu Muda, Luh Putu Rina Maharani. Bapak Adi dan Ibu Adelina banyak melayani keingintahuan para #Temankeu mengenai berbagai isu keuangan dan ekonomi negara, tidak terkecuali perihal utang dan pendapatan negara. Beliau menyampaikan juga prospek negara Indonesia di tahun-tahun mendatang, misalnya bahwa pada tahun 2030 kelak Indonesia akan mengalami bonus demografi bahwa Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2045, tantangan Revolusi Industri 4.0, dan sebagainya. Oleh karena itu, para #Temankeu perlu sadar dan diperlengkapi untuk berkontribusi bagi kesejahteraan bangsanya dan tidak hanya memikirkan diri sendiri. Kak Rani pun banyak menginspirasi para #Temankeu melalui contoh kehidupannya yang tetap dapat menjaga keseimbangan antara bekerja dan aktivitas “ekstrakurikuler�, bahwa bekerja tidak lantas membuat passion-nya padam. Secara pribadi aku merasa salut dengan kesediaan para narasumber yang telah meluangkan waktu di sela-sela kesibukan yang pastinya padat. Talkshow yang melibatkan ketiga narasumber/inspirator tersebut begitu berkualitas dan inspiratif. Aku sangat berharap api inspirasi ini bertahan awet dalam diri para #Temankeu dan bahkan membakar kayu-kayu bakar lainnya di sekeliling mereka. Seusai talkshow, para #Temankeu diajak untuk bermain simulasi APBN. #Temankeu dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang diisi oleh #Temankeu yang berasal dari sekolah yang berbeda-beda. Dalam permainan ini, setiap kelompok seolah dipercayakan dana APBN sebesar satu miliar rupiah yang kemudian diminta untuk menentukan besaran alokasi belanja tiap-tiap fungsi. Dibantu oleh dua kakak relawan di tiap kelompok, para #Temankeu dalam satu kelompok secara bergantian melihat infografik kondisi Indonesia sesuai fungsi belanja yang tersaji pada bilik/booth/chamber. Para #Temankeu melihat infografik kondisi pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pelayanan umum, ketertiban dan keamanan, hingga pariwisata Indonesia. Para kakak relawan menjawab hal-hal yang kurang dapat dipahami oleh #Temankeu. Kemudian, setiap kelompok melakukan simulasi alokasi anggaran pada tiap-tiap fungsi tersebut. Selain itu, ada sebuah activity game ketika #Temankeu diminta untuk mendeskripsikan tusi Kemenkeu yang menjadi salah satu ukuran #Temankeu memahami Kemenkeu, dengan tulus menyampaikan apa yang sudah baik dari Kemenkeu, respectfully menyampaikan apa yang masih perlu diperbaiki dari Kemenkeu serta


Perekat Indonesia

329

mengusulkan program Kemenkeu yang perlu diselenggarakan untuk generasi muda. Kuperhatikan banyak ekspresi sukacita juga dari rekan-rekan relawan karena dapat terlibat dalam kegiatan ini. Para relawan memberikan yang terbaik saat menyumbangkan kontribusi konten handout dan kontribusi konten booth kondisi Indonesia sesuai fungsi APBN. Indonesia adalah negara dengan persentase rakyat yang terlibat dalam kegiatan kesukarelawanan tertinggi di dunia. Aku berharap kita semua dapat terus menjaga hati yang melayani ini. Kekuatan suatu negara adalah sebesar kekuatan warga negaranya. Negara yang kuat adalah negara yang memiliki warga negara yang kontribusinya jauh melebihi tuntutannya dan cakap bekerja sama dengan warga lainnya yang berbeda latar belakang untuk mencari solusi bagi kebaikan bersama. Terlebih lagi hal ini sesuai dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2019 sebagaimana juga tertuang dalam APBN 2019 yang mengambil tema “APBN Untuk Mendorong Investasi dan Daya Saing Melalui Pembangunan Sumber Daya Manusia�. Generasi muda Indonesia perlu diperlengkapi secara serius, terlebih dalam rangka memasuki era disrupsi Revolusi Industri 4.0 maupun Society 5.0. Pemerintah maupun Non-Government Organization (NGO) serta seluruh komponen bangsa perlu bersinergi demi mewujudkan sejumlah program nyata untuk melatih warga negara memiliki mentalitas kontribusi yang aktif menyejahterakan bangsa dan sesamanya. Pendidikan jelas masih menjadi cara yang paling tepat dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut, namun harus dilakukan dengan cara yang relevan, berkelanjutan, dan aplikatif. “Jangan pernah lelah mencintai negeri ini!�, ucap Ibu Menteri Keuangan dalam berbagai kesempatan. Mari bersama merekatkan Indonesia dalam Gerakan Indonesia Bersatu!


330

Menabur Benih Sedari Dini untuk Mengakar Penny Febriana, Sekretariat Pengadilan Pajak - Sekretariat Jenderal

Mengarungi Birokrasi. Dua kata yang aku tetapkan akan menjadi satu hal yang menjadi tantangan terbesar dalam perjalanan karierku saat ini. Membawa latar belakang pekerjaan di sektor privat selama lebih kurang lima tahun membuatku menyadari hal ini justru akan semakin berat. Pun hal tersebut yang sempat mengernyitkan kening cukup banyak orang ketika mengetahui keputusan yang aku ambil untuk terjun ke sektor publik. Aparatur Sipil Negara. Januari 2019, secara resmi aku menyandang predikat tersebut, setelah tentunya satu tahun penuh bergulat dengan berbagai proses yang masih menempelkan kata Calon di depannya. Menapaki kembali waktu demi waktu dalam satu tahun menyandang predikat Calon tersebut, tidak bisa kugambarkan pergolakan di dalam diri mengenai apa yang aku rasakan dan perubahan apa yang aku hadapi dalam ruang lingkup baru ini. Begitu hebat pergolakannya sehingga dalam hatiku berjanji jika benang-benang kusut yang ada di dalam otakku ini berhasil aku luruskan, aku harus membagikannya kepada orang lain. Tujuannya hanya sederhana, tidak boleh ada lagi yang kebingungan dan meragukan dirinya seperti aku. Ada hal yang perlu aku akui. Sempat terlintas di dalam benakku bahwa bisa jadi yang orang-orang jadikan doktrin


Perekat Indonesia

331

tentang budaya birokrasi di pemerintahan yang coba aku sangkal demi optimisme, mungkin ternyata benar. Sehingga menyiratkan sedikit rasa ragu dan menggantikan tanda seru dengan tanda tanya di akhir kalimat menjadi abdi negara. Ironi pun kerap menyelinap masuk ke dalam realita kehidupanku. Walau terhubung hanya dari media sosial dan poster acara yang sering muncul melalui kiriman surat elektronik yang dikirimkan untuk seluruh pegawai, namun tidak mengurangi kekagumanku terhadap sosok yang memimpin institusi ini, Ibu Sri Mulyani Indrawati. Kebanggaan atas keberhasilan untuk memperoleh predikat “anak buah� Ibu Sri Mulyani pun kerap kulontarkan menjadi canda jika sedang berkumpul dengan teman-teman, setelah kepindahanku ke Kementerian Keuangan. Jika optimisme dan kebanggaan tersebut tidak surut mengiringi langkah keseharian pekerjaanku, maka tidak mungkin aku sebut ini ironi. Dan tidak perlu juga aku sampai menciptakan begitu banyak benang-benang di dalam labirin otakku hingga kusut. Sayangnya, benturan realita yang aku dapati sempat berhasil mengalahkan optimisme awal yang aku bawa untuk mengubah stigma masyarakat terhadap birokrasi pemerintahan. Benturan realita. Bentuknya adalah pekerjaan klerikal dan serangkaian hierarki yang harus dihadapi setiap harinya. Realita itu berupa adanya keterbatasan ruang untuk berkreasi dan merasakan pekerjaan yang kulakukan tidak memberikan kontribusi esensial kepada negeri. Aku merasa posisiku saat ini justru membawaku semakin jauh dengan sosok idola sekaligus pemimpin institusi tempatku bekerja. Aku tentunya tidak dapat menyangkal kodratku sebagai kaum milenial yang mungkin dalam pernyataan ini terdengar sangat subjektif. Seberapa pun seringnya aku mendengar isu adanya gap antargenerasi diperbincangkan untuk ditemukan solusinya, tetap saja hierarki birokrasi melahirkan keresahan bagiku. Dan seberapa pun seringnya aku dan rekan-rekanku sebagai kaum milenial mengeluhkan tentang hierarki yang menurut kami membelenggu, tetap saja hierarki yang melekat pada peraturan dan kebijakan harus ditaati dan dijalankan sebaik-baiknya. Atas benturan realita ini, sempat aku termakan oleh pesimisme dan ketakutan bahwa institusi pemerintahan hanya mengantarkan aku kepada kemandekan. Sempat aku merasa keputusan ini telah meniadakan ruang untuk diriku bisa


332

berkembang. Sempat pula aku meragukan mimpi yang telah aku gantungkan dengan mengorbankan pengalaman profesional yang telah aku bangun selama lima tahun. Mimpi untuk mengguncang kultur birokrasi dan membuatnya menjadi seideal yang kuinginkan, mengubah budaya birokrasi untuk bisa lebih adaptif dan responsif terhadap dinamika perubahan zaman, mengubah persepsi masyarakat atas birokrasi yang kaku, apakah mungkin? Namun dalam hal ini aku merasa beruntung bahwa yang terlahir dari ketidaknyamanan tersebut adalah keresahan yang membuatku mempertanyakan kembali visiku menjadi Aparatur Sipil Negara. Penguraian benang-benang kusut ini pun dimulai dari pelurusan niatku dalam menjadi Abdi Negara. Dari pemikiran yang didasarkan pada keresahan tersebut, aku akhirnya tersadar, kekusutan benang-benang tersebut didominasi oleh egosentrisme dalam diri sebagai individu yang sedang merasa kecewa karena tidak mendapatkan sesuatu sesuai dengan yang diekspektasikan. Di sela-sela pemikiran yang rumit tersebut, terbacalah pesan, yang anehnya meskipun bukan pertama kali aku baca, tetapi kala itu seperti memberikan makna berbeda yang mampu mengubah pandanganku, “Jangan pernah lelah mencintai negeri ini” Perspektif baru. Dari sebaris kalimat singkat tersebut, aku tersadar bahwa yang kujalankan bukan lagi pekerjaan, melainkan pengabdian yang harus didasarkan pada rasa cinta. Dalam pengabdian tidak patut rasanya jika kekecewaan atas tidak terpenuhinya ekspektasi diri sendiri dimanjakan menjadi keluhan demi keluhan yang tidak akan mengubah apa pun. Dari situ, aku mulai membenahi pemikiran bahwa untuk memelihara mimpi yang besar kepada negeri ini dibutuhkan bukan hanya tekad, tetapi juga niat yang tulus dalam menerima fakta “pengabdian bisa saja menghantarkanku kepada kondisi yang jauh dari ideal”. Ketulusan tersebut akan memiliki force yang lebih besar dalam memelihara pengabdian kepada negeri ini. Ketulusan itu juga yang akhirnya menyadarkanku bahwa pekerjaan klerikal yang kerap dikeluhkan, yang mungkin hanya dapat dianalogikan sebagai baut-baut kecil mesin kenegaraan, tetap sejatinya perlu dijalankan dengan baik untuk membuat mesin tetap berfungsi. Berangkat dari pemikiran ini, aku mulai melepaskan pemikiran-pemikiran negatif yang memudarkan optimisme dalam diri selama ini. Bukan berarti berhenti mengkritisi dan mencari “what went wrong” tetapi aku menjadi lebih realistis dan menyadari keterbatasan otoritas yang kumiliki saat ini. Oleh sebab


Perekat Indonesia

333

itu, “start small� tampaknya menjadi penyemangat paling realistis dan paling manis bagiku saat ini. Memaksimalkan peran yang aku punya saat ini dengan segala keterbatasan otoritas dan ruang kreasi yang kupunya untuk berkontribusi kepada bukan hanya institusi, tetapi kepada negeri ini, aku nyatakan sebagai visi baruku dalam mengarungi birokrasi. Lebih mendalam, aku juga menyadari kultur birokrasi saat ini merupakan hal yang telah dipupuk puluhan tahun. Seperti pohon yang sudah mengakar, aku sepatutnya sadar bahwa menebang pohon yang sudah tumbuh belasan bahkan puluhan tahun tidaklah mudah.  Sehingga tampaknya kurang realistis jika perubahan yang kudambakan harus aku capai hanya dalam satu kedipan mata. Lalu aku pun menyadari bahwa keberadaanku di dalam organisasi bukan sejatinya untuk menebang pohon yang sudah mengakar tersebut. Perspektif baruku menghantarkan aku pada intuisi untuk menanamkan pohon lain yang sama kokohnya yang bisa memberikan nuansa baru bagi organisasi.

“When things change inside you, things change around you.�

Aku percaya perspektif itu penting karena sejatinya respons kita terhadap sesuatu yang terjadi di sekeliling kitalah yang memberikan nilai kepada masingmasing kita sebagai individu. Sebaris kalimat di atas secara kuat mewakili apa yang terjadi saat itu. Seperti gayung bersambut, di tengah pergolakan batin dan pencerahan yang kudapatkan, semesta seperti berkonspirasi mendukung niatan baikku, atau bisa jadi ingin menantang sekuat apa ketulusan niat tersebut. Satu pintu kesempatan terbuka bagiku melalui seorang teman yang telah sejak kecil aku kenal namun takdir membawanya lebih cepat untuk menjalankan pengabdiannya pada negara. Temanku ini berasal juga dari Kementerian Keuangan, tetapi dari Unit Eselon I yang berbeda denganku. Sempat pula kuceritakan kepadanya mengenai pergolakan dalam proses adaptasiku tersebut. Dari perbincangan tersebut, sebuah fakta akhirnya kuketahui bahwa yang memiliki pandangan sepertiku bukan hanya aku sendiri. Dia pun telah merasakan keresahan yang sama hingga akhirnya menginisiasi sebuah gerakan muda di Kementerian Keuangan yang dilabelkan dengan nama Kemenkeu Muda. Jejaringnya begitu luar biasa, mampu menyatukan seluruh aspirasi pegawai


334

Kementerian Keuangan di seluruh pelosok negeri. Dia menceritakan niatannya untuk membuat sebuah inisiatif baru yang bisa menciptakan jejaring yang lebih luas cakupannya. Berangkat dari pengalamannya bergelut di Kemenkeu Muda, dia pun menyadari walaupun tidak diikat dalam naungan institusi yang sama, tetapi ikatan orang-orang yang memiliki satu kesamaan visi sejatinya jauh lebih kuat. Dari ikatan tersebut maka tercetuslah salah satu inisiatif yang menjawab segala ketakutan dan pesimisme kami, yang sepakat kami namakan Aparatur Muda. Aparatur Muda menyatakan dirinya sebagai komunitas golongan muda Para Aparatur Sipil Negara dan Pegawai Pemerintahan di beberapa Kementerian/Lembaga dan Institusi Publik lainnya. Komunitas ini dibentuk dengan keanggotaan yang tanpa paksaan. Anggotaanggota yang memutuskan untuk ambil andil dalam komunitas ini tidak memiliki ikatan formal dan juga tanpa adanya kepastian keuntungan. Menjadi Aparatur Muda. Jika ada yang mempertanyakan apa sebenarnya yang ingin kami capai dari inisiatif ini, kami pun belum tentu memiliki keberanian untuk menyatakan visi yang muluk dan besar, seperti menginisiasi adanya transformasi birokrasi antara Kementerian/Lembaga atau memberikan usulan kebijakan kepada Pemerintah misalnya. Kami masih jauh dari itu. Tidak ingin memulai dengan visi yang terlalu ambisius, namun memilih menjalaninya dengan semangat dalam melakukan hal yang sederhana dan secara konsisten memiliki progres, layaknya bayi yang perlahan sedang belajar merangkak sebelum mengokohkan kaki untuk bisa berlari. Itulah jalan yang kami pilih. Visi Aparatur Muda adalah fokus untuk menjadi komunitas yang bisa mewadahi semangat para ASN Muda untuk meningkatkan integritas, sinergi, dan inovasi dalam menjalankan peran sebagai pegawai muda pemerintahan di lintas Kementerian/Lembaga. Forum Diskusi. Kami yakini ini menjadi salah satu wadah yang baik untuk bisa mengumpulkan lebih banyak partisipan dan mempersatukan lebih banyak ide dengan beragam perspektif. Pada tanggal 19 Juli 2018, Aparatur Muda telah berhasil menjejakkan langkahnya yang pertama dalam kegiatan Nyata  (Ngobrol Santai Aparatur Muda) Volume 1. Konsep acara diskusi adalah dengan membagi para peserta ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas 2 topik berbeda (SDM dan Teknologi) dengan tema besar “Quo Vadis Indonesia Emas 2045? Inovasi Pengembangan SDM dan Teknologi Indonesia�. Kelompok-


Perekat Indonesia

335

kelompok kecil tersebut akan difasilitasi oleh satu moderator dan diberikan waktu lebih kurang satu jam untuk berdiskusi dan mencapai beberapa usulan kebijakan tentang mempersiapkan Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas di tahun 2045. Aku masih ingat betul atmosfer di ruangan tersebut pada sore itu. Mungkin sore itu sebagian dari kami mengalami hari yang berat di pekerjaan, ada yang kelelahan menghadapi kemacetan Jakarta, ataupun ada yang mengorbankan waktu untuk segera pulang ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga. Namun, sore itu, diskusi berjalan dengan amat seru. Kebebasan yang terasa seperti kemewahan bagi kami benar-benar menjadi pengobat lelah. Secara pribadi aku yakin rekan-rekan yang kutemui di Aparatur Muda memiliki banyak sekali ide-ide yang masih tertahan dan menunggu untuk dikeluarkan. Ketiadaan ruang yang kami rasakan selama ini, mungkin bisa terbantu dengan adanya kegiatan seperti Forum Diskusi ini. Ada salah satu anggota Aparatur Muda yang berasal dari Kantor Staf Presiden menyatakan akan berupaya menyampaikan ide dan aspirasi kami kepada pejabat-pejabat yang terkait, tetapi kami tetap tidak menggantungkan semangat kami pada akan ditindaklanjutinya atau tidak usulan kebijakan tersebut. Untuk akhirnya menemukan “suara” pun sudah menjadi sebuah oase bagi kami. Selain itu, kami menyadari dengan saling beradu argumen dalam menyampaikan ide bisa mengasah kapabilitas kami sebagai kaum muda untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin bangsa. Hal yang dirasa perlu kami mulai sejak dini untuk bisa mengakar di masa depan. Senang rasanya bisa menciptakan “ruang” kecil untuk berkreasi dan berkolaborasi. Senang rasanya bisa menjalin jejaring-jejaring dengan teman-teman seperjuangan di lintas Kementerian/Lembaga untuk mempermudah koordinasi. Yang kami lakukan pun sebenarnya hanya koordinasi informal sederhana yang kerap muncul di sela-sela perbincangan pertemuan kami atau melalui notifikasi WhatsApp pada grup kami. “Eh, kemarin aku ketemu bosmu, Beliau rapat dengan bosku. Besok rapat lagi ‘kan jam 9? Kamu ikut?” Atau sesederhana, “Ada yang mau ikut acara seminar minggu depan di kantorku?” Dari kelakar dan obrolan ringan, kami bisa saling bertukar informasi mengenai


336

isu yang sedang hangat dibicarakan di masing-masing Kementerian dan Lembaga atau seputar Pemerintahan. Kami bisa menyelipkan promosi inovasi yang sedang dilakukan di satuan kerja atau institusi kami. Aku dan temanteman yang berasal dari Kementerian Keuangan bisa menceritakan tentang #UangKita yang kerap disosialisasikan oleh institusi kami, dan kerap disambung dengan gurauan tentang permintaan penambahan anggaran di masing-masing Kementerian. Kami bisa bertukar pandangan, bertukar keluh kesah, ataupun menggambar mimpi bersama. Topik bisa apa saja dan berubah-ubah di setiap pertemuannya, tetapi yang selalu sama adalah optimisme kami yang selalu menggebu karena kami tahu, setidaknya suara kami mulai terdengar. Memperluas Kolaborasi. Satu hal tersebut disepakati oleh para anggota Aparatur Muda, menjadi cara yang esensial untuk mencapai visi kami. Dibutuhkan benih yang berbeda untuk dapat menanam pohon yang menghasilkan buah yang berbeda. Secara pribadi aku merasa bahwa perubahan akan bisa dilakukan jika “benih-benih� muda yang ada saat ini bersinggungan dengan lebih banyak orang yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda atau dengan mengenal lingkungan di dunia profesional yang lebih beragam. Oleh sebab itu,

‌kami menyadari dengan saling beradu argumen dalam menyampaikan ide bisa mengasah kapabilitas kami sebagai kaum muda untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin bangsa.


Perekat Indonesia

337

berkolaborasi dengan pihak di luar sektor publik untuk membangun kerangka berpikir yang lebih luas adalah salah satu jalan yang efektif bagi Aparatur Muda, membantu untuk menciptakan benih-benih unggul calon pemimipin di masa depan. Jika di beberapa bulan awal, Aparatur Muda fokus untuk meningkatkan kolaborasi antar-Kementerian dan Lembaga, tetapi di tahun kedua berjalannya, organisasi ini ingin meningkatkan kolaborasi bukan hanya antarsesama Kementerian/ Lembaga, tetapi juga dengan lingkungan luar seperti golongan akademisi atau sektor privat. Jejaring media sosial membukakan banyak kesempatan bagi Aparatur Muda. Ajakan-ajakan untuk berkolaborasi pun mulai berdatangan dan berhasil melambungkan optimisme masing-masing kami sebagai anggota Aparatur Muda. Beberapa rangkaian kolaborasi pun telah sukses dilaksanakan. Di akhir tahun 2018, Aparatur Muda menandai kolaborasi yang pertama dengan Google Indonesia bertajuk “Gapura Digital”. Banyak hal menarik yang dibahas pada saat itu, salah satunya mengenai panduan dunia digital yang dapat dimanfaatkan untuk mempermudah pekerjaan-pekerjaan di kantor melalui platform teknologi yang ada saat ini. Selanjutnya di awal tahun 2019, Aparatur Muda kembali diberikan kesempatan berkolaborasi dengan Konekin Indonesia (Koneksi Indonesia Inklusif ) dalam acara “Kongkow Inklusif 2019” yang ditujukan untuk engaging dengan para ASN disabilitas. Yang kedua di tahun 2019, Aparatur Muda berkolaborasi dengan yang menggandeng sederet aktivis ternama di bidang Pemerintahan dan akademisi yang tergabung dalam organisasi Roundtable on Youth and Demographic Development (RYDD) untuk berpartisipasi dalam forum diskusi kebijakan publik . Diskusi yang dilaksanakan awal Februari 2019 ini membahas mengenai kebijakan di bidang edukasi dan ketenagakerjaan. Di satu kesempatan lainnya, Aparatur Muda pernah diajak berdiskusi oleh satu institusi pendidikan ternama di Indonesia. Sebuah pertanyaan akhirnya dilontarkan dalam diskusi tersebut, yang tidak bisa tidak melambungan masingmasing kami ke awan. Bagaimana tidak jika kira-kira bentuk pertanyaannya adalah seperti ini: “Jika kami tertarik untuk membuka program Public Policy di Indonesia, program-program atau mata kuliah seperti apa yang kalian lihat akan cocok dan bisa memberikan dampak signifikan untuk Pejabat Pemerintah di masa mendatang?” Pertanyaan ini seperti membangunkan kami dan membuat kami tersadar sepenuhnya bahwa suara kami didengarkan. Suara kami dibutuhkan.


338

Rangkaian kolaborasi tersebut meninggalkan jejak tersendiri bagiku dan berhasil mengubah perspektifku akan banyak hal. Kini aku menyadari bahwa membawa perubahan tidak akan bisa dicapai jika aku tidak menjadi perubahan itu sendiri. Mungkin membutuhkan belasan atau bahkan puluhan tahun untuk memetik buah dari benih yang ditabur saat ini. Namun saat ini setidaknya kuketahui bahwa setiap optimisme dalam diri mulai redup, diskusi bulanan atau agendaagenda pertemuan dengan Aparatur Muda bisa mengingatkanku kembali tentang mimpi yang harus terus kujaga. Dari Aparatur Sipil Negara menjadi “Aparatur Muda”. Sebuah perjalanan yang sungguh aku maknai istimewa dalam mengarungi birokrasi. Perjalanan tersebut telah mengisi tiap sudut perspektif di dalam diri ini, mengubahkan kata perjalanan karier menjadi sebuah pengabdian. Kata “muda” yang telah mengubah banyak hal dalam hidupku, patutnya tidak hanya dimaknai sebagai deretan angka yang menjadi tolak ukur usia semata. Kata “muda” ini istimewa karena mewakili semangat optimisme untuk menjadi perubahan yang kuharapkan bisa mengakar dari waktu ke waktu.


Perekat Indonesia

339

Tentang Sinergi dan Penempatan di Ujung Negeri Afif Dodi Saputra Sinaga, KPPBC TMP C Ternate - DJBC

Bagi seorang pegawai Kementerian Keuangan, perihal penempatan dan mutasi bukanlah sesuatu yang ringan. Begitu banyak kantor-kantor milik Kementerian Keuangan yang tersebar dari ujung Sabang hingga penjuru Merauke. Beberapa kantor tersebut berada di kota besar yang penuh dengan gedung pencakar langit, sedangkan beberapa di antaranya berada di daerah yang bahkan namanya saja asing didengar. Orang-orang tidak akan bingung ketika mendengar Kota Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Tapi bagaimana dengan Tahuna? Atambua? Sangatta? Orang-orang yang tinggal di pulau Jawa biasanya akan menaikkkan alis dan berpikir keras ketika daerah itu disebutkan. Aku sendiri sudah menandatangani sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa aku siap ditempatkan di mana saja. Pada awalnya, pernyataan itu terasa menggelikan karena aku merasa tidak ada yang perlu ditakutkan dari sebuah penempatan. Namun hal itu berubah ketika aku telah menyelesaikan pendidikanku di PKN STAN. Segala isu dan desas-desus terkait penempatan membuat suasana tidak lagi sederhana. Sebelumnya aku merasa ditempatkan di Indonesia Timur bukanlah sesuatu yang berat, hingga aku sadar bahwa hanya Ambon dan Jayapuralah kota yang memiliki bioskop. Aku bukannya mengatakan bahwa ketiadaan bioskop adalah sebuah kiamat kecil, namun ketiadaan bioskop adalah sebuah contoh kecil


340

bahwa aku tidak lagi bisa melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sudah kulakukan sejak lama sebelumnya. Namaku Putra. Aku adalah seorang laki-laki keturunan Batak dan Jawa yang tinggal di Jakarta. Sebagaimana remaja pada umumnya, aku menyukai kopi dan senja. Saat ini aku bekerja pada sebuah kantor Kementerian Keuangan yang berada di Ternate. Kalian tahu di mana Ternate? Ternate berada di Indonesia Timur. Ya, aku akhirnya ditempatkan di sebuah kantor di Indonesia Timur. Dan benar saja kalau di kota ini tidak ada bioskop! Aku masih mengingat bahwa aku sudah diharuskan untuk pergi ke Ternate pada pertengahan Desember 2016. Waktu itu umurku masih 19 tahun. Di saat banyak teman seusiaku berkutat dengan tugas kuliah dan dosen yang menyebalkan, aku justru harus mulai berbakti pada ibu pertiwi. Terlebih aku ditempatkan pada sebuah kota yang terdengar asing. Berbagai kemungkinan buruk menyeruak dari pikiranku. Bagaimana kalau di Ternate aku tidak mengerti bahasa masyarakatnya? Bagaimana kalau di Ternate tidak ada hiburan sama sekali? Bagaimana kalau di Ternate tidak ada tukang martabak? Terlalu banyak kata bagaimana yang membuatku sakit kepala. Setelah meneguhkan hati dan pikiran, aku akhirnya siap untuk berangkat ke Ternate bersama teman-teman seperjuanganku. Jumlah keseluruhan kami adalah dua belas orang. Namun, malam itu di Bandara Soekarno-Hatta hanya ada sepuluh orang termasuk diriku. Dua orang lainnya akan menyusul keesokan hari karena masih harus menyelesaikan satu dan lain hal. Malam itu, dengan dilepas oleh pelukan hangat dari keluarga, aku meninggalkan Jakarta dan segala kenyamanannya. Waktu perjalanan dari Jakarta ke Ternate adalah sekitar tiga setengah jam. Ditemani musik dari handphone dan buku “Tentang Kamu� karya Tere Liye, aku memutuskan untuk tidak tidur. Sembari sesekali memandangi kegelapan di luar jendela, aku kembali mempertanyakan banyak hal tentang Ternate yang bagiku masih abu-abu. Malam itu aku mengumpulkan semua pertanyaan dan bersiap menemukan jawabannya pada keesokan harinya. Sekitar pukul tujuh pagi, pesawat yang kunaiki mendarat di Bandara Sultan Babullah, Ternate. Keraguanku sudah sedikit berkurang seketika sebelum mendarat. Adalah pemandangan yang luar biasa menakjubkan yang akhirnya


Perekat Indonesia

341

membuatku terpesona. Dan sebuah kisah tentang keindahan Indonesia Timur ternyata bukanlah hanya isapan jempol semata. Keindahan yang luar biasa menakjubkan walau hanya dilihat dari atas pesawat. Satu pertanyaanku tentang tembat hiburan terjawab sudah. Ternate penuh akan tempat wisata alam. Aku disambut oleh beberapa orang senior dan atasan. Setelahnya aku langsung diantar menuju sebuah rumah dinas yang akan kugunakan. Rumah yang sederhana dengan sebuah lapangan badminton di depannya. Nantinya, lapangan badminton itu akan lebih sering digunakan untuk bermain futsal dibanding bermain badminton. Aku juga disuguhi makanan khas Ternate, yaitu nasi kuning. Nasi kuning yang ada di ternate sedikit berbeda daripada yang ada di pulau Jawa. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi kalau kalian mau merasakannya, kalian bisa mampir ke Ternate dan menghubungiku. Nanti aku yang traktir. Setelah melewati hari pertama, ternyata tinggal di Ternate tidak seburuk yang kukira. Ternate memang tidak memiliki bioskop, tetapi Ternate memiliki banyak tempat yang bisa dijadikan tempat untuk menghabiskan waktu selain bioskop. Pantai Sulamadaha, Pantai Jikomalamo, Danau Tolire, dan Batu Angus adalah beberapa nama tempat yang bisa dijadikan opsi lain untuk menghabiskan waktu. Memang tidak ada yang bisa menggantikan sensasi menonton film sambil menghabiskan popcorn yang ada di tangan, tapi segelas es kelapa segar dan semburat senja yang indah bisa sejenak membuatku melupakan bioskop. Terlepas dari masalah bioskop, Ternate sebenarnya tidak terlalu tertinggal dibandingkan kota lain yang ada di pulau Jawa. Ternate memiliki pusat perbelanjaan yang tidak buruk. Beberapa makanan fast food yang ada di Jakarta juga bisa di temukan di Ternate. Kedai kopi khas kekinian juga mulai bertumbuh subur. Belum lagi ditambah dengan adat dan budaya yang masih terus dipegang oleh masyarakatnya. Ternate menjadi hebat dengan caranya sendiri. Dan satu lagi, Ternate ternyata memiliki banyak tukang martabak! Sedikit demi sedikit pertanyaanku tentang penempatan di Indonesia Timur mulai terjawab. Keraguan mulai terganti oleh kenyamanan, lalu akhirnya kenyamanan menghasilkan kecintaan. Ternate tidak lagi abu-abu bagiku. Ternate menjadi sepenuhnya terang dan menyenangkan. Aku menikmati setiap detikku di kota ini hingga tidak sadar bahwa tahun pertama berlalu begitu saja. Selama satu tahun pertama aku menghabiskan hampir seluruh waktuku bersama


342

teman-teman satu kantor. Sebenarnya semua berjalan biasa saja hingga akhirnya ada satu titik yang membuatku merasa bahwa memiliki teman-teman satu kantor saja tidaklah cukup. Tadi sudah kujelaskan ‘kan bahwa aku memiliki sebelas orang teman seperjuangan? Seperjuangan yang kumaksud adalah temanteman yang sama-sama mendapat penempatan di Ternate pada waktu yang sama. Dalam periode satu tahun pertama, kami selalu resah untuk menunggu panggilan diklat prajabatan dan diklat kesamaptaan yang wajib untuk dijalani oleh semua pegawai baru. Sialnya, kami tidak dipanggil secara sekaligus untuk melakukan kedua diklat tersebut. Dan yang lebih sial lagi, aku jadi salah satu orang yang tertinggal dalam daftar kelompok yang dipanggil diklat. Lalu tersisalah aku dan dua teman lain yang juga ikut tertinggal. Efek samping yang paling menyebalkan dari tertinggal diklat adalah kehilangan teman untuk menghabiskan waktu. Setelah sadar bahwa sewaktu-waktu lingkaran pertemananku di Ternate bisa mengecil karena hal-hal yang tidak terduga. Aku memutuskan untuk membangun relasi. Biasanya, cara paling mudah untuk membangun relasi adalah mencari orang-orang yang memiliki kesamaan dengan diri kita. Karena aku adalah seorang pendatang yang bekerja pada salah satu instansi Kementerian Keuangan yang ada di Ternate, maka hal itu memudahkanku untuk mencari relasi yang berasal dari instansi lain yang juga Kementerian Keuangan. Oh iya, aku tadi belum menjelaskan di instansi apa aku bekerja. Aku bekerja pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) C Ternate. Jadi, aku harus mulai bergerak untuk mengumpulkan relasi yang berasal dari KPP, KPKNL, KPPN, dan Kanwil Perbendaharaan. Dalam menentukan relasi, selain faktor kesamaan, kita juga harus jeli dalam melihat faktor lain. Aku akhirnya kembali meruncingkan parameter pencarian relasi yang kubutuhkan. Sekarang aku bukan hanya mencari pegawai Kementerian Keuangan yang ada di Ternate, aku menambahkan sebuah kriteria lain, yaitu umur. Relasi yang kucari adalah mereka yang berumur tidak terlalu jauh dariku. Dengan segala hormat, aku tidak pernah bermaksud untuk menghindari golongan senior, hanya saja biasanya mereka yang seumuran memiliki pola pikir dan hobi yang tidak jauh berbeda. Aku menghindari konflik yang mungkin terjadi ke depannya. Singkat cerita, perjuanganku mengumpulkan relasi yang sama-sama berasal dari Kementerian Keuangan yang ada di Ternate menemui titik terang. Beberapa


Perekat Indonesia

343

orang sudah mulai terkumpul dan membuat sebuah grup pada aplikasi WhatsApp. Orang-orang inilah yang nantinya jadi penggagas pergerakan anak-anak muda Kementerian Keuangan di Ternate. Beberapa orang mungkin memandang perkumpulan ini dengan sebelah mata, tetapi menurutku, kami yang mencoba untuk membangun sinergi lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk tidak peduli dan hidup dengan dunianya sendiri. Langkah selanjutnya adalah menentukan akan dibawa ke mana perkumpulan ini. Apakah hanya akan berakhir pada obrolan di sebuah kedai kopi? Atau hanya akan meramaikan perjalanan untuk menghabiskan akhir minggu? Seperti yang kubilang tadi bahwa mereka yang sepantar memiliki pemikiran yang tidak jauh berbeda. Akhirnya sepakatlah kami untuk melakukan sesuatu yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri. Dalam setahun perkumpulan ini berjalan, beberapa acara yang bermanfaat sudah berhasil terselenggara. Apakah acaranya berjalan sukses? Jika indikator kesuksesan ditentukan dari kebahagiaan kami dalam menyelenggarakan sebuah acara, maka dengan bangga aku menyatakan bahwa semua acara yang kami selenggarakan pantas mendapatkan label “sukses�. Puncak acara terbesar yang kami selenggerakan adalah Try Out PKN STAN perdana di Maluku Utara. Di tengah sesaknya pekerjaan di kantor, kami bersusah payah meluangkan waktu dan tenaga demi terselenggaranya acara ini. Tidak sedikit kesulitan yang harus kami lalui, terlebih karena nama PKN STAN masih asing di telinga anak-anak yang bersekolah di Indonesia Timur. Rentetan Try Out PKN STAN yang kami selenggarakan dimulai dari tahap pembentukan panitia, penyusunan waktu, sosialisasi, pemantapan acara, pelaksanaan, dan yang terakhir adalah evaluasi. Acara Try Out PKN STAN yang kami buat memang tidak semegah try out yang ada di daerah lain. Tapi kami patut berbangga bahwa acara yang kami selenggarakan murni dilaksanakan dari hati. Yang mungkin berbeda dengan daerah lain, Try Out PKN STAN yang kami selenggarakan sama sekali tidak dipungut biaya. Hebatnya lagi, semua peserta try out berhak mendapatkan snack ringan. Belum lagi ditambah hadiah bagi tiga peringkat teratas. Dan hadiah yang diberikan benar-benar bukan hanya sebuah formalitas. Peringkat pertama berhak mendapat sebuah smartphone. Kalian bisa membayangkan sendiri bagaimana perjuangan kami hingga semua hal yang kusebutkan tadi bisa benar-benar terjadi. Setahun setelah terselenggaranya acara Try Out PKN STAN Perdana di Maluku


344

Utara, aku mendapat sebuah kabar yang mengejutkan. Ternyata, salah seorang perserta try out tersebut benar-benar masuk PKN STAN. Dia adalah peringkat pertama yang sebelumnya berhasil membawa pulang smartphone. Aku terkejut karena ternyata try out yang terlaksana tidak hanya menjadi sebuah acara cobacoba, tetapi juga memberikan dampak positif bagi pesertanya. Sebuah perasaan yang tidak bisa dibayarkan oleh apa pun di dunia. Sebuah kebanggaan. Selain mengadakan try out, kami juga sempat membuat kegiatan lain yang tidak kalah menarik. Pada bulan Ramadan, kami sempat mengadakan acara buka puasa bersama anak yatim dan pembagian takjil gratis di jalan. Mungkin perihal buka puasa bersama anak yatim bukanlah sesuatu yang baru, tetapi pembagian takjil gratis di jalan jelas merupakan sesuatu yang tabu di Ternate. Tidak sekali takjil yang mau kami bagikan ditolak karena kami dikira berjualan. Terkadang ketika kita ingin melakukan sesuatu yang baik, belum tentu kita mendapatkan respons yang baik juga. Tapi respons penolakan yang kami dapatkan adalah sesuatu yang wajar karena di Ternate terdapat banyak sekali mahasiswa yang mencari dana untuk kegiatannya di kampus dengan cara berjualan di sepanjang lampu merah atau pinggir jalan. Untungnya, setelah orang-orang sadar bahwa kami membagikan takjil secara gratis, mereka tidak segan untuk mengambil takjil yang kami bagikan. Tepat beberapa menit sebelum azan Magrib berkumandang, takjil kami habis. Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan acara atau kegiatan yang kami lakukan, kami bersyukur bisa saling mengenal satu lain. Terlebih karena sebuah fakta bahwa kami adalah adalah seorang pendatang di sebuah kota di ujung timur Indonesia. Kami telah sukses menjadi sebuah keluarga baru. Keluarga yang mungkin tidak bisa didapatkan di tempat lain di Indonesia. Coba bayangkan, dari sekian banyak daerah di Indonesia, berapa banyak daerah yang anak-anak muda Kementerian Keuangannya mau bersatu untuk membuat sebuah perkumpulan yang menghasilkan banyak hal positif? Dua tahun yang lalu aku datang ke Ternate dengan langkah yang penuh keraguan. Namun sekarang, dua tahun kemudian, sisa-sisa keraguan itu tidak lagi tampak. Aku justru bersyukur ditempatkan di sini. Begitu banyak memori dan hal yang mengesankan yang telah kulakukan. Kalau definisi rumah adalah sebuah tempat yang membuatmu nyaman dan menjadi diri sendiri, maka kota ini telah layak kusebut rumah. Lalu penghuninya tentu saja mereka semua yang telah membantuku untuk bersenang-senang di kota ini. Terima kasih karena


Perekat Indonesia

345

telah mau membangun sinergi, karena tanpa kalian semua, kota ini mungkin tidak akan terasa semenyenangkan ini. Oh iya, satu lagi, ternyata selain Ambon dan Jayapura, Ternate juga akhirnya memiliki bioskop setelah setahun aku tinggal di sini.


346

Milenial, Kaum Sosial Era Modern Muhkamat Anwar, KPP Pratama Banjar Baru - DJP

Memiliki puluhan ribu pulau, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berbagai keberagaman yang dimiliki, disatukan dengan semboyan bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika� yang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Berdasarkan fungsi semboyan bangsa, keberagaman digunakan sebagai pembentuk negara yang besar. Sebagai negara yang memiliki luas wilayah 1.904.569 km2 menempatkan Indonesia sebagai negara terluas ke-15 dunia versi world population review. Dengan daerah yang sangat luas, berbagai kendala dialami oleh Indonesia terutama pemerataan ekonomi dan pendidikan. Pada abad ke-21, Indonesia masih memiliki berbagai masalah yang belum terselesaikan. Fakta tersebut diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 131 tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal tahun 2015-2019 yang menyebutkan 122 kabupaten di Indonesia dengan kategori daerah tertinggal tahun 2015-2019. Daerah Tertinggal yang dimaksud adalah daerah kabupaten yang wilayah serta masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional. Beberapa kriteria penetapan daerah tertinggal tersebut, yaitu perekonomian masyarakat serta sumber daya manusia. Beberapa kriteria yang dimaksud menjadi latar belakang


Perekat Indonesia

347

penggerak kaum milenial untuk turut andil dalam melakukan kegiatan pembangunan negeri. Prihatin terhadap ketidakmerataan pembangunan Indonesia adalah kata yang tepat dan sebagai alasan utama generasi muda ikut serta menjadikan Indonesia lebih baik. Pendidikan dan kesejahteraan bagi masyarakat merupakan tujuan Indonesia seperti yang disebutkan dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, meskipun pada kenyataannya Indonesia masih jauh dari tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu upaya peningkatan kualitas negeri ditunjukkan oleh seorang figur PNS KPP Pratama Banjarbaru, Fatimah Zachra Fauziah atau Lala. Banjarbaru merupakan salah satu kota di Provinsi Kalimantan Selatan yang merupakan kota penempatan pertama Lala bekerja di Direktorat Jenderal Pajak sejak 18 Januari 2016. Selain sebagai PNS yang aktif dalam setiap pelaksanaan tugas sebagai pelaksana, perempuan kelahiran Cirebon ini aktif dalam berbagai bidang terutama untuk memajukan pendidikan Indonesia. Mengikuti program Kemenkeu Mengajar Balikpapan 2016, sebuah kegiatan mengajar selama satu hari di Sekolah Dasar yang digagas oleh Kemenkeu tentang peran Kementerian Keuangan dalam upaya menjaga ekonomi negeri dan memperkenalkan profesi yang ada di Kementerian Keuangan menjadi pilihan kali pertama Lala sebagai relawan pengajar. Memiliki keinginan menjadi pengajar merupakan impian Lala dan sifat yang melekat pada dirinya. Dekat dengan anak, melihat anak-anak tersenyum, hingga berbagi ilmu mendorong dirinya untuk ikut berpatisipasi menjadi relawan. Melihat respons anak-anak yang luar biasa, mendorong Lala untuk terus mengembangkan kegiatan sosial terutama dengan pendidikan anak. Yang tak kalah penting, menjadi sosok yang lebih percaya diri, menambah ilmu kependidikan, memperbanyak relasi, serta bertemu dengan sosok-sosok hebat dan menginspirasi menjadikan Lala lebih menemukan arti manusia sebagai makhluk sosial sesungguhnya. Kesadaran terhadap tidak meratanya kualitas pendidikan Indonesia melatarbelakangi anak muda berkreasi demi membangun Indonesia. Seperti Kelas Inspirasi Banjarmasin yang menjadi pilihan Lala setelah berakhirnya Kemenkeu Mengajar 2016. Menjadi inspirator “SDN Kelayan Dalam 2 Banjarmasin� merupakan pengalaman baru bagi Lala. Kegiatan mengajar satu hari yang dilaksanakan pada 2016 ini terdiri dari tiga fasilitator, empat belas inspirator, dan tiga dokumentator yang berasal dari berbagai latar perkerjaan dan beragam daerah. Perawat, wirausaha, teknisi telekomunikasi, teknisi


348

pertambangan, florist, dosen, penyiar radio, accounting, fotografer, PNS, sekretaris perusahaan, dan analis pengembangan SDM merupakan pekerjaan utama para relawan Kelas Inspirasi Banjarmasin. Proses memperkenalkan profesi sebagai pegawai pajak sempat terkendala karena profesi tersebut tidak dikenal oleh anak Sekolah Dasar. Mengatasi ketidaktahuan tersebut, sebagai inspirator ia telah menyiapkan berbagai puzzle tebak gambar seperti jembatan, rumah sakit, bandara, stasiun kereta api, serta gedung sekolah yang memiliki tujuan untuk menyadarkan bahwa fasilitas umum yang dinikmati masyarakat dibiayai dari penerimaan negara sektor pajak. Berkontrubusi kepada negara melalui pembayaran pajak, setelah dewasa, dan setelah memiliki pekerjaan dengan tujuan terciptanya Indonesia yang lebih berkembang di berbagai sektor menjadi kalimat penutup Kelas Inspirasi Banjarmasin. Lapak Membaca Pintar (Lampin) merupakan acara mingguan yang digelar Lala beserta beberapa pegawai KPP Pratama Banjarbaru. Awal 2017 mulai terbentuknya ide gerakan membaca untuk anak-anak. Berlatar belakang pada kecintaan terhadap anak serta menumbuhkan minat baca dari usia dini, menyatukan relawan hingga terbentuknya komunitas “Lapak Membaca Pintar�. Penamaan ini juga mengambil dari bahasa Banjar yang berarti selimut bayi. Alat dan buku baca Lampin terkumpul dari beberapa pendonor seperti dari anggota komunitas, pegawai KPP Pratama Banjarbaru, dan pihak lain. Acara rutin digelar setiap minggu di Kompleks Perkantoran Gurbernur Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru. Beberapa buku bacaan ditata rapi mulai pukul 07.00 WITA hingga 09.30 WITA, beberapa pengunjung yang berdatangan membuat kami merasa mendapatkan penghargaan. Lampin terus berlanjut dengan minat baca yang semakin meningkat. Dikarenakan beberapa faktor, aktivitas Lampin berakhir pada akhir 2018 dan buku bacaan anak disumbangkan kepada Komunitas Teaching and Trip Kalimantan Selatan, sebuah wadah gerakan sosial yang menggabungkan antara teknik mengajar dan berwisata. Sebelumnya Lampin dan Teaching and Trip pernah bekerja sama dalam pembukaan lapak minat baca di Lapangan Murjani Banjarbaru. Kemenkeu Mengajar bagaikan penyeimbang kehidupan kerja dan keinginan berbagi ilmu, cerita, dan keceriaan dengan anak-anak. Tahun 2017, Lala sebagai inspirator muda KPP Pratama Banjarbaru, pengaruh keikutsertaan Lala dalam Kemenkeu Mengajar sebelumnya menjadi penggerak pegawai muda untuk mengikuti Kemenkeu Mengajar 2017. Tercatat peningkatan generasi milenial


Perekat Indonesia

349

KPP Pratama Banjarbaru sebagai relawan Kemenkeu Mengajar 2017 dengan jumlah empat relawan Kemenkeu Mengajar 2017. Pengaruh Lala terhadap pegawai lain terutama pegawai muda di lingkungan KPP Pratama Banjarbaru menyadarkan generasi milenial untuk peduli dan ikut serta dalam pembangunan negeri terutama kemajuan di bidang pendidikan Indonesia. Lala yang sangat menginspirasi melalui berbagai kegiatan sosial di lingkungan Kemenkeu maupun eksternal Kemenkeu sangat menunjukkan sikap dan sifat positif sebagai kaum milenial yang mampu memberikan dampak berarti pada generasi muda hingga patut dijadikan pedoman sebagai makhluk sosial era modern. Moto “Muda, Menginspirasi� adalah kalimat yang tepat bagi Lala dan para milenial yang peduli terhadap negara melalui berbagai cara untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Sosok yang harus ditiru bagi generasi milenial sebagai kaum sosial era modern.

Moto “Muda, Menginspirasi� adalah kalimat yang tepat bagi Lala dan para milenial yang peduli terhadap negara melalui berbagai cara untuk menjadikan Indonesia lebih baik.


350

Halaman Ini Sengaja Dikosongkan


Perekat Indonesia

351


352

Profile for Andrew Hidayat

Andrew Hidayat Perekat Indonesia Gerakan Indonesia Bersatu  

Andrew Hidayat Perekat Indonesia Gerakan Indonesia Bersatu

Andrew Hidayat Perekat Indonesia Gerakan Indonesia Bersatu  

Andrew Hidayat Perekat Indonesia Gerakan Indonesia Bersatu

Advertisement