Issuu on Google+

IRASAH D

MEDP Newsletter „ Agustus 2009

TANTANGAN

PENINGKATAN MUTU GURU DIRASAH D IRASAH

1


DA F T A R I S I

DIRASAH MEDP Newsletter

Alamat: Lantai 8 Blok C 808 Gedung Departemen Agama Jl. Lapangan Banteng Barat no. 3-4 Jakarta Dewan Redaksi: Bahrul Hayat, PhD, Dr. Mohammad Ali, Dr. Affandi Mochtar Pemimpin Umum: Drs. H. Firdaus, M.Pd Pemimpin Redaksi: Dr. Rohmat Mulyana, M.Pd Wakil Pemred: Aceng Abdul Aziz, M.Pd Staf Redaksi: Abdul Rouf, Bekti Indramaji, Ety Herawati, Fifi Mutia, Nina Hasanah, Muhibuddin Konsultan Produksi: PT. Madah Arbata Design: Ahmad Gabriel Website: medp.depag.go.id

4 SALAM REDAKSI 3

Memacu Mutu Guru

LAPORAN UTAMA 4

Tantangan Peningkatan Mutu Guru 7 Kualitas Berpacu dengan Waktu 9 Dana Rp 15 M untuk S1 900 Guru 11 Drs. H. Firdaus M.Pd: Meningkatkan Kualifikasi Sekaligus Mutu Guru PENGALAMAN 12 Pengalaman Zuman Malaka, Fasilitator di Bangkalan Madura PROFIL 14 MI Husnul Khotimah, Terpencil Bersemangat 16 MTs Raden Fatah, Bertahan Melalui Kiprah Nyata

12

18 MAN Kalibeber, Berpacu Meretas Keunggulan PROGRAM 20 Menag: Pertahankan Madrasah Multifungsi 22 Dirjen Pendis Depag: Mutu Madrasah Negeri Sudah Baik 23 Kemnas I 2009: Hidup Madrasah, Hidup Madrasah! 24 Depag-AusAID Bangun 500 MTs Satu Atap 25 Facebook Bawa DIY Juara Umum Kemnas SUKSES 26 Ma’had Al-Qur’an Obsesi Menag PERSPEKTIF 28 Penelitian Tindakan Kelas, Inovasi Belajar Praktis 31 Dr. H. Affandi Mochtar MA: Semua Harus Bersinergi Majukan Madrasah

20

2

Agus Agustus stuss 2009 2009 09

5

31


SAL AM RE DAKSI

Memacu Mutu Guru

D

alam buletin Dirasah kali ini, kami menyorot hasil rapat kordinasi antara pengelola MEDP di tingkat pusat (CPMU) dengan jajaran rektor yang menjadi mitra proyek MEDP. Rapat itu berlangsung di Jakarta, 10 Agustus lalu, membahas segala aspek yang menyangkut pengembangan kualitas atau mutu guru madrasah serta kendala dan solusinya. Dalam rapat itu terungkap permasalahan yang telah atau bakal dihadapi. Dalam hal alokasi dana, misalnya. Kami telah menghitung biaya peningkatan mutu guru sejak 2004 lalu. Sekitar Rp 15 miliar telah dialokasikan untuk sekitar 900 guru madrasah yang akan dikuliahkan hingga jenjang S1. Ini meliputi biaya kuliah dan biaya untuk kebutuhan mahasiswa dalam masa kuliah. Biaya kuliah meliputi semua hal yang berhubungan dengan perkuliahan mulai dari pendaftaran, biaya masuk, SPP, orientasi, bimbingan skripsi dan lainnya. Sedangkan biaya kebutuhan hidup meliputi biaya hidup, transportasi, pembelian kebutuhan kuliah mulai dari buku, perlengkapan praktikum dan lainnya. Masalahnya, menurut kontrak antara Depag dengan ADB, pembiayaan proyek MEDP hanya

berlangsung hingga tahun 2012. Artinya, tersisa waktu selama tiga tahun hingga proyek berakhir nanti. Permasalahannya, jika dijalankan secara reguler, perkuliahan jenjang S1 ternyata membutuhkan waktu empat tahun, atau lebih lama satu dari waktu sisa proyek. Kendala lainnya, sejumlah guru yang akan menjadi objek proyek ini mempunyai latar belakang berbedabeda sehingga membutuhkan perlakuan yang juga berbeda. Perbedaan terjadi seperti pada jenjang pendidikan. Sebagian guru hanya berijazah SMA, lainnya berijazah D1, dan seterusnya. Dengan perbedaan demikian, mustahil mereka langsung dimasukkan ke dalam satu kelas karena dipastikan kemampuan mereka berbeda. Beruntung, beragam pengalaman yang dimiliki para rektor dan wakil perguruan tinggi mitra MEDP sangat membantu memberikan solusi dan jalan keluar bagi permasalahan-permasalahan yang muncul. Itu semua terjadi karena kita memiliki cita-cita sama meningkatkan mutu madrasah dan memacu mutu guru dengan sebaik-baiknya. Dr. Rohmat Mulyana, M.Pd. Manajer Proyek MEDP

DIRASAH D IRASAH H

3


LA P O RA N UT A M A

Tantangan Peningkatan Mutu Guru

Dalam program peningkatan gelar kesarjanaan guru, banyak kendala yang berpotensi ditemukan di lapangan oleh pihak CPMU, jajaran perguruan tinggi serta para guru peserta peningkatan kualitas.

R

apat kordinasi antara pengelola pusat MEDP (CPMU) dan jajaran rektor mitra seIndonesia berlangsung serius di Jakarta, 10 Agustus lalu. Mereka membahas solusi terbaik bagi pengembangan kualitas atau mutu guru madrasah. Terungkap betapa banyak kendala yang berpotensi ditemukan di lapangan oleh pihak CPMU, jajaran perguruan tinggi serta para guru yang mengikuti peningkatan kualitas. Kendala-kendala itu, antara lain, sejumlah guru yang akan menjadi 4

Agustus 2009

objek proyek ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda sehingga membutuhkan perlakuan yang juga berbeda. Perbedaan terjadi seperti pada jenjang pendidikan. Sebagian guru hanya berijazah SMA, lainnya berijazah D1, dan seterusnya. Dengan demikian, mustahil mereka langsung dimasukkan ke dalam satu kelas karena dipastikan kemampuan mereka berbeda. Kendala lain, kebanyakan guru dari sisi usia jauh lebih tua dari mahasiswa umum. Sehingga kadang


L AP O RAN UTAMA dalam kegiatan belajar-mengajar di kampus membutuhkan perlakuan yang berbeda. Padahal jajaran kampus sangat sulit untuk memberlakukan berbeda atas semua mahasiswa. Usia yang berbeda ini juga yang bisa menimbulkan kesan bahwa yang diiginginkan sejumlah guru hanya gelar, sehingga kualitas berpotensi dikesampingkan. Pihak CPMU dan jajaran perguruan tinggi menganggap semua masalah di atas merupakan tantangan yang harus dihadapi. Semua jajaran rektorat sepakat dengan komitmen CPMU bahwa peningkatan mutu guru bukan hanya soal peningkatan kuantitas mereka jadi bergelar S1. Dalam proses pendidikan, guru memang salah satu komponen penting tak tergantikan. Keberadaanya

harus terwujud, namun harus bermutu tinggi. Kita menyadari, banyak guru madrasah berkualitas masih di bawah standar. Saat ini banyak guru belum mencapai jenjang pendidikan Strata Satu (S1) yang merupakan standar minimal mengajar di madrasah. Karena itu pengelola MEDP mengagendakan sedikitnya 900 guru yang berasal dari 500 madrasah sasaran harus mendapatkan pendidikan S1. Pada mulanya pihak MEDP berharap program meningkatan kualitas menuju S1 ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah menempun jenjang pendidikan D1 dan D2. Namun ternyata di lapangan ditemukan bahwa masih banyak guru yang hanya berpendidikan D1, bahkan

DIRASAH

5


LA P O R A N UT A M A setingkat sekolah menengah atas. Sehingga mau tidak mau mereka juga harus diikutkan dalam program sertifikasi ini. Rektor UIN Malang Prof Dr H Imam Suprayogo mengatakan, dalam mendidik mahasiswa di perguruan tinggi, yang diusung adalah semangat kualitas. “Kami tidak main-main dengan kualitas,” tegasnya. Termasuk dalam program MEDP, pihaknya tidak akan mengorbankan kualitas demi hanya sebuah proyek. “Tidak mungkin karena mengkhususkan program ini kami menurunkan kualitas. Zaman gini kok menurunkan kualitas,” tambahnya. Untuk masalah perbedaan latar belakang pendidikan guru yang berbeda-beda, “Forum Rektor MEDP” memberikan sejumlah opsi. Perwakilan rektoriat IAIN Alaudin Makasar, misalnya, mengusulkan perlunya tes penempatan (placement test) untuk memastikan bahwa guru si calon mahasiswa dimasukkan ke kelas sesuai kemampuannya. Usulan lainnya, para guru cukup dikelompokkan jadi dua, yakni guru berpendidikan D2-D3 serta guru lulusan SMA-D1. Sedangkan untuk masalah perbedaan usia guru calon mahasiswa, semua jajaran rektorat sepakat bahwa mereka terkadang membutuhkan perlakuan berbeda. Padahal itu sangat sulit dilakukan. Wakil dari rektorat Universitas Negeri Makasar mengatakan, jika mereka disatukan dalam kelas regular kemudian

6

Agustus 2009

meminta perlakuan “istimewa” dari dosen, hal itu nanti bisa menimbulkan kecemburuan dari mahasiswa biasa. Namun jika mereka disatukan di kelas tersendiri, seringkali mereka tidak memenuhi jumlah kuota minimal satu kelas. Meskipun banyak kendala dihadapi, para wakil rektoriat berkomitmen mencari jalan terbaik. Apapun nantinya solusi yang diambil, Forum Rektor berharap agar CPMU dapat memberikan keleluasaan pada rektor masing-masing untuk menentukan langkah terbaik dan paling memungkinkan. Apalagi permasalahan dan sistem masing-masing perguruan tinggi berbeda-beda. Mereka berharap pihak CPMU tidak perlu memberikan ketentuanketentuan yang sangat detail, cukup berupa pengaturan garis besar saja. “Serahkan saja kepada rektor. Masak rektor diperintah-perintah,” ujar Imam sambil berkelakar dan disambut tawa semua yang hadir. Penasehat senior MEDP Wahidin berharap apapun nantinya mekanisme terbaik yang akan dilakukan, peningkatan guru harus terlaksana. Apalagi mereka merupakan guru yang sudah lama mengajar, bahkan ada yang mengajar lebih dar 40 tahun. “Bagaimana pun mereka harus diperhatikan. Jangan sampai keterbatasan dan kendala di lapangan menghalangi mereka mendapatkan pendidikan sesuai standar yang telah disyarakatkan,” kata Wahidin berharap. (at)


L AP O RAN UTAMA

Kualitas Berpacu dengan Waktu

Dana MEDP hanya tersedia untuk tiga tahun masa kuliah. Sisanya bagaimana?

P

ihak Departemen Agama (Depag) dan Asean Development Bank (ADB) sepakat, program Madrasah Education Development Project (MEDP) akan berakhir pada 2012. Berarti hanya tersisa tiga tahun lagi program sertifikasi peningkatan kualitas guru, salah satu program utama MEDP, sudah harus dituntaskan. Dari soal keterbatasan waktu tadi, muncul permasalah akademik dan pendanaan. Masalah akademik muncul ketika pendidikan “dipaksa-

kan” harus selesai dalam waktu tiga tahun. Padahal, untuk menempuh pendidikan setara S1, secara umum seseorang harus belajar selama delapan semester yang umumnya diperlukan waktu empat tahun. Waktu pendidikan tiga tahun hanya cukup untuk enam semester. Artinya syarat delapan semester tidak bisa terpenuhi. Jika pendidikan S1 dipaksakan hanya berjalan tiga tahun, dipastikan akan ada sejumlah aturan yang perlu “dilangkahi” untuk memadatkan kegiatan belajar-

DIRASAH

7


LA P O RA N UT A MA mengajar selama 8 semester menjadi tiga tahun. Hal ini menimbulkan kekhawatiran kualitas dikesampingkan demi target proyek semata. Sebaliknya jika proses belajarmengajar harus dilaksanakan selama empat tahun, masalah pendanaan pun muncul. Pasalnya pihak MEDP hanya mendapatkan dana hingga 2012 saja, bukan 2013. Menurut Direktur MEDP Rohmat Mulyana, pihaknya akan mengalami kesulitan jika harus menggunakan dana sampai empat tahun. “Kita akan kesulitan menghadapi penyidik, karena logika kita dengan penyidik berbeda. Tidak mungkin tahun anggaran berakhir sementara program masih berjalan,” ungkap Rohmat. Beruntung, pihak CPMU dan jajaran rektorat sejumlah perguruan tinggi yang menjadi mitra program MEDP dapat duduk bersama membicarakan permasalahan yang berkembang. Sehingga berbagai solusi pun muncul dan diajukan untuk dijadikan penyelesaian. Perwakilan rektorat IAIN Sunan Ampel Surabaya mengaku pernah mengalami persoalan sama. Kala itu mereka melaksanakan peningkatan kualitas guru ibtidaiyah untuk jenjang S1 dengan membagi satu semester dalam empat bulan. Sehingga satu tahun bisa terdapat tiga semester. Dalam program itu semua peserta didik dapat menyelesaikan studi, termasuk praktik mengajar, dalam waktu 3,2 tahun. Maka permasalahan pendanaan pun tidak terlalu menjadi kendala. “Waktu 8

Agustus 2009

dipadatkan dan hampir tidak ada waktu untuk libur,” jelas perwakilan IAIN Sunan Ampel tadi. Untuk menyiasati kendala, solusi lain juga muncul dalam perbincangan “Forum Rektor” dengan CPMU. Di antaranya, dengan memanfaatkan semester pendek meskipun penerapan semester pendek ini mengandung beberapa kendala. Berbagai solusi bisa saja ditawarkan. Tapi tidak semua perguruan tinggi menggunakan solusi yang seragam. Pihak rektorat berharap agar masalah solusi diserahkan ke masing-masing perguruan tinggi karena merekalah yang mengetahui solusi yang paling memungkinkan di lingkungan akademik mereka. Penasehat senior MEDP Wahidin berharap pengalaman mereka mengajar dalam waktu lama bisa memberikan nilai plus yang bisa dipertimbangkan agar mereka mendapatkan kemudahan. Hal ini juga disetujui semua perwakilan rektorat. Pada dasarnya mereka mendukung program ini dan akan membantu sesuai kapasitas mereka. Jika terpaksa pendidikan ditempuh selama empat tahun, tampaknya forum sepakat biaya yang tersisa ditanggung oleh peserta didik. Pihak MEDP hanya mendukung pembiayaan sampai 2012. Sisanya ditangung peserta didik. Ini tampaknya bisa menjadi salah satu bagian solusi. Solusi apa pun yang diambil, yang pasti MEDP bertekad mengembangkan SDM madrasah yang berorientasi mutu.


L AP O RAN UTAMA

Tersedia Dana untuk Sertifikasi S1 900 Guru Pembiayaan dalam program ini meliputi biaya kuliah dan biaya untuk kebutuhan mahasiswa dalam masa kuliah. Termasuk semua kebutuhan hidup semasa kuliah.

M

adrasah Education Development Project (MEDP) telah menyiapkan berbagai pengembangan madrasah sejak 2004 lalu. Termasuk pembiayaan yang salah satu fokusnya peningkatan mutu guru melalui sertifikasi keguruan yang mensyaratkan gelar sarjana Strata Satu (S1). Pihak CPMU pun telah menghitung dana yang harus dikeluarkan untuk hal ini. Menurut Direktur MEDP Roh-

mat Mulyana, alokasi dana sertifikasi guru ini telah “dihitung� sejak 2004 lalu. Pembiayaan dalam program ini meliputi biaya kuliah dan biaya untuk kebutuhan mahasiswa dalam masa kuliah. Biaya kuliah meliputi semua hal yang berhubungan dengan perkuliahan mulai dari pendaftaran, biaya masuk, SPP, orientasi, bimbingan skripsi dan lainnya. Sedangkan biaya kebutuhan hidup meliputi biaya hidup, transportasi, pembelian kebutuhan kuliah mulai dari buku, perlengkapan praktikum dan lainnya. Rohmat mengemukaan pihaknya telah menganggarkan dana untuk program ini sebesar Rp 15 miliar yang akan digunakan untuk DIRASAH

9


LA P O RA N UT A MA sekitar 900 guru madrasah. Namun pihaknya belum bisa membagi peruntukan dana sebesar ini secara terperinci. Apalagi dana ini sebenarnya merupakan dana yang dihitung sejak 2004 lalu. “Penganggaran dana ini bisa saja sudah tidak sesuai lagi karena adanya perbedaan harga kebutuhan pada saat ini dengan patokan harga barang beberapa tahun lalu,” jelas Rohmat. Belum terperincinya dana itu, sebagaimana dijelaskan lebih lanjut oleh Muhibuddin, juga disebabkan karena adanya beberapa variabel yang belum bisa ditentukan pada tahun 2004 saat anggaran dibuat. Sehingga pihaknya masih perlu menghitung kembali alokasi dana yang pas dan tepat untuk masingmasing kebutuhan. Sementara itu sejumlah wakil rektorat yang menjadi mitra MEDP dalam peningkatkan kualitas guru berharap agar dana yang dialokasikan sesuai dengan dana yang berlaku bagi perguruan tinggi. Selain itu perguruan tinggi mempunyai tarif-tarif yang beragam sehingga pembiayaan pun bisa berbeda-beda. Rektor UIN Malang Prof Dr H Imam Suprayogo menyarankan agar dana jangan terlalu minim sebab dikhawatirkan tidak sesuai dengan standar yang ada. Menurutnya, pihak CPMU diharapkan menganggarkan dana secara optimal terlebih dahulu, selanjutnya dihitung dan dibagi sesuai deng10

Agustus 2009

an pos-pos pembiayaan dalam perkuliahan. “Setelah itu kita bagibagi pada pos-pos pembiayaan sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” jelasnya. Anggaran dana yang disediakan hendaknya jangan terlalu minim sebab dikhawatirkan tidak sesuai dengan standar yang ada di masing-masing perguruan tinggi. MEDP berharap perguruan tinggi mengurangi pembiayaan dengan cara menghapus proses belajarmengajar yang bisa diminimalisir. Penasehat Senior MEDP Wahidin mencontohkan, para mahasiswa yang memang terdiri dari guru telah mengajar lama di madrasah. Sehingga program PPL bisa lebih disesuaikan tidak seperti mahasiswa regular yang PPL secara penuh. Selain itu, program kuliah kerja lapangan (KKN) mungkin bisa dihilangkan mengingat mereka sudah bermasyarakat sejak lama. “Kelebihan mereka diharapkan juga dipertimbangkan pihak perguruan tinggi,” harap Wahidin. Untuk dana perkualiahan, pihak CPMU akan langsung menyerahkannya ke pihak perguruan tinggi masing-masing. Sedangkan biaya kebutuhan mahasiswa akan langsung diberikan kepada masing-masing peserta. “Kalau dana perkuliahan diberikan kepada mahasiswa, dikhawatirkan akan menimbulkan masalah,” jelas Wahidin.


L AP O RAN UTAMA

Drs. H. Firdaus M.Pd:

Meningkatkan Kualifikasi Sekaligus Mutu Guru

D

irektur Pendidikan Madrasah Departemen Agama, Drs H Firdaus M.Pd, mengatakan bahwa program upgrading kualifikasi S.1 dimaksudkan untuk meningkatkan kualifikasi guru. “Meningkatkan kualifikasi guru sekaligus meningkatkan mutu guru di madrasah,”cetus pria kelahiran 11 September 1950 di Palembang ini. Seperti halnya di sekolah atau lembaga pendidikan lain, ungkap Firdaus, banyak guru di madrasah, terutama di madrasah ibtidaiyah, yang belum memenuhi kualifikasi seperti yang diamanatkan Undangundang: berkualifikasi S.1 atau D 4. Program peningkatan guru madrasah ini beragam. Ada yang didanai oleh APBN. Ada pula program yang dimasukkan ke program bantuan Asian Development Bank (ADB). “Program ini kita sebut Madrasah Education Development Project,” terang suami Failasufah ini. Salah satu program yang sudah dirancang dengan pihak ADB adalah peningkatan mutu guru. “Peningkatan mutu guru ini, setelah dipelajari, dapat ditempuh dengan metode menyekolahkan guru yang belum memiliki persyaratan minimal se-

bagai sarjana S.1 atau D 4,” kata Firdaus. Lebih jauh Firdaus mengemukakan bahwa guru di Madrasah Ibtidaiyah yang akan disekolahkan, adalah mereka yang mengajar matematika, bahasa Indonesia dan IPA. Untuk guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) adalah guru matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan IPA. Mengingat mata pelajaran umum yang menjadi fokus program peningkatan mutu ini, maka pihaknya, kata Firdaus, meminta bantuan dan kerjasama dengan perguruan tinggi umum. “Memang ada beberapa perguruan tinggi yang sudah memiliki program ini, seperti UIN Yogya, IAIN Semarang dan UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang Jawa Timur,” tandas Firdaus. Firdaus berharap, melalui program ini, mereka bukan saja mendapatkan sertifikat S.1 tapi betul-betul mereka memiliki kompetensi. “Ada perbaikan pada penguasaan kompetensi mereka. Dan kami harapkan melalui pendidikan yang kita laksanakan ini, lulusannya nanti, tentu memenuhi standar DSNP untuk menjadi guru profesional,” harap Firdaus. DIRASAH

11


P EN G A L A M A N

Zuman Malaka, Fasilitator di Bangkalan Madura

Madrasah Terpencil Cenderung Tertinggal

D

itemui di Kantor DCU MEDP Kabupaten Bangkalan, fasilitator Zuman Malaka bercerita tentang keadaan madrasah-madrasah yang menjadi sasaran MEDP di daerahnya. Banyak hal menarik bisa kita simak dari penuturannya. Berikut ini petikan wawancara dengan Zuman yang didampingi tiga rekannya sesama fasilitator di Bangkalan, yaitu Rusdi, Muhammad Mahrus dan Djohan Trio Santoso: Bisakah Anda gambarkan keadaan madrasah yang menjadi sasaran MEDP di Kabupaten Bangkalan? Kita bisa katakan bahwa gambarannya beragam. Sebagian madrasah sasaran MEDP bisa dibilang sudah 12

Agustus 2009

mempunyai kemampuan, baik secara SDM maupun sarana prasarana, sementara sebagian lainnya belum. Lebih jelasnya, sebagian madrasah yang menjadi sasaran MEDP tergolong sudah mapan karena sering menerima bantuan dan berhubungan dengan dunia luar. Sementara sebagian lainnya cenderung “kurang pergaulan� tapi mempunyai potensi untuk maju. Apa yang menentukan hal itu? Salah satunya faktor lokasi, sekalipun ini tak mutlak. Madrasahmadrasah yang berlokasi di pusat kota, atau berada di pinggir jalan sehingga mudah diakses, cenderung lebih mapan. Contohnya MTs Al-Ma’arif di Kota Bangkalan. Sementara madrasah yang berada di daerah terpencil dan susah


P EN GALAMAN diakses, cenderung agak ketinggalan. Namun ada pula madrasah yang relatif terpencil, tapi memiliki banyak kelebihan, seperti Madrasah Aliyah Al-Hamidiyah di Kecamatan Konang. Mengapa demikian? Dalam satu aspek, yaitu SDM, madrasah ini relatif tak kekurangan karena dipasok oleh STAI Al-Hamidiyah yang bernaung di bawah yayasan yang sama. Dalam hal akses ke instansi pemerintah, madrasah ini tergolong bagus. Bisakah digambarkan lebih lanjut tentang madrasah yang cenderung agak sulit berkembang itu? Kita bisa ambil contoh MI Miftahul Mubtadin. Madrasah ini terletak di Desa Paddasan Dabung, Kecamatan Geger. Madrasah ini menghadapi tantangan yang relatif kompleks. Lokasinya terpencil dan sulit diakses. Jika hujan, misalnya, mobil sama sekali tak bisa menjangkau madrasah tersebut, karena jalan menjadi berlumpur. Kemudian, listrik juga terbatas. Jika kita sumbang komputer, misalnya, belum tentu bisa dipakai karena tak cukup daya listriknya. Ini kemudian berimbas pada SDM. SDM di madrasah ini cenderung sangat terbatas, karena yang mau menjadi guru juga terbatas. Jika pihak madrasah bisa mendapatkan guru yang sarjana, itu sudah alhamdulillah sekali. Namun, justru di tengah segala keterbatasan ini kita layak bangga. Kita bisa melihat bagaimana semangat untuk mengembangkan pendidikan luar biasa tinggi. Demikian juga dukungan dari masyarakat, sangat besar. Dibanding sekolah umum, bagaimana posisi madrasa di sini?

Bisa dikatakan, madrasah cenderung lebih diminati. Secara umum, masyarakat Madura relijius dan sangat menghormati kyai. Masyarakat Madura akan menuruti apa yang dikatakan kyai. Nah, sebagian besar madrasah itu dimiliki atau dipimpin oleh kyai. Ini menjadi faktor utama mengapa madrasah lebih diminati dibanding sekolah umum. Jika progam MEDP berhasil, madrasah akan semakin unggul dibanding sekolah umum. Sejauh ini, apa saja tantangan yang Anda hadapi di lapangan? Di samping tantangan karena alam, atau faktor lokasi madrasah sasaran yang sulit dijangkau, tantangan bagi kita adalah bagaimana memahamkan soal program MEDP ini kepada sebagian madrasah sasaran yang, karena keterbatasan SDM, sulit mencernanya. Bagi mereka, istilahistilah yang terkait dengan program MEDP ini pun sulit dipahami. Pada prakteknya, madrasah yang belum mempunyai SDM memadai, memang membutuhkan pendampingan ekstra. Dari jenjang ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah di Bangkalan, mana yang SDM-nya paling membutuhkan pembinaan ekstra? Menurut pengamatan saya, yang rata-rata SDM-nya masih membutuhkan pembinaan ekstra adalah madrasah ibtidaiyah. Oke, apa impian Anda ke depan? Saya kira, sesuai tujuan MEDP, kita harus mengupayakan agar madrasahmadrasah di Bangkalan yang menjadi sasaran MEDP setidaknya bisa menjadi madrasah berstandar nasional. DIRASAH

13


PROFIL

MI Husnul Khotimah

Terpencil Bersemangat

Warga ingin menyekolahkan anaknya di tempat yang tak hanya menyajikan pelajaran umum, tapi juga menyajikan pelajaran keagamaan yang memadai

M

enuju lokasi madrasah ini, kita butuh kerja agak keras. Madrasah Ibtidaiyah Khusnul Khotimah berjarak delapan km dari jalan raya Bangkalan-Sampang, melewati pegunungan kapur. Jika kita menggunakan mobil pribadi, memang tak begitu repot. Tapi, jika menggunakan angkutan umum, agar cepat, kita bisa pergunakan ojeg. Sebagian penduduk memilih menumpang mobil pen14

Agustus 2009

gangkut batu kapur yang hilir mudik ke Desa Kampek, meskipun untuk sampai ke tujuan akhir, mereka masih harus berjalan kaki. Demikianlah, di bagian timur Desa Kampek, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, tepat berbatasan dengan Kecamatan Tanah Merah, berdirilah Madrasah Ibtidaiyah Husnul Khotimah. Madrasah ini bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Khusnul Khotimah yang juga mengelola Raudhatul Atfal dan Madrasah Tsanawiyah. Keberadaan MI Husnul Khotimah bermula pada 1983. Salah satu perintisnya adalah KH. Fauzan Faqih, warga asli Desa Kampek, yang merupakan alumnus Pesan-


PROF I L tren Al-Khoziny. Ia menuturkan, di saat awal pendirian, banyak siswa SD Negeri di Desa Kampek yang berpindah ke madrasah yang ia dirikan bersama beberapa sesepuh desa itu. Alasannya sederhana, mereka ingin menyekolahkan anaknya di tempat yang tak hanya menyajikan pelajaran umum, tapi juga menyajikan pelajaran keagamaan yang memadai. Sekarang, jumlah murid madrasah ini mencapai 150 siswa. Sebagian besar siswa tersebut justru tidak berasal dari Desa Kampek, melainkan dari desa-desa sekitar yang sudah masuk Kecamatan Tanah Merah. Ini terjadi karena lokasi MI Khusnul Khotimah yang lebih dekat dengan pemukiman di desadesa sekitar, ketimbang dengan pemukiman di Desa Kampek sendiri. Murid-murid itu diasuh oleh 15 orang guru, tiga orang di antaranya adalah PNS, sementara sisanya sukarelawan atau guru yayasan. Para guru ini kiranya bisa disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, karena rela menyumbangkan ilmunya di tengah segala keterbatasan, termasuk keterbatasan finansial dan akses transportasi. Untuk bisa bertahan, saat ini MI Khusnul Khotimah hanya mengandalkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dikucurkan pemerintah. Dukungan keuangan dari orang tua murid tak bisa diharapkan, karena mereka yang kebanyakan petani penggarap sawah dan ladang tadah hujan, berpenghasilan sangat

minimal. Namun, yang patut disyukuri, para orang tua murid ini biasanya mau menyumbangkan tenaga mereka secara sukarela jika madrasah membutuhkannya, semisal untuk membangun gedung baru. Menyangkut sarana-prasarana sekolah seperti ruang kelas, selama ini MI Khusnul Khotimah membangun secara swadaya. Tak heran, kondisinya cenderung bersahaja, bahkan memprihatinkan. Bantuan dari pemerintah, seperti dalam wujud blockgrant MEDP, akan sangat berharga bagi madrasah ini, karena dengan dana bantuan itu ruang kelas baru bisa dibangun, dan ruang kelas lama yang sebagian sudah tak layak bisa direnovasi. Satu hal yang membuat kita layak berbangga pada madrasah seperti MI Khusnul Khotimah ini, segala keterbatasan dalam saranaprasarana, bukanlah halangan pagi pengelola madrasah dan para guru untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran. Berbagai inovasi pembelajaran, seperti KTSP, mulai diterapkan di madrasah ini. Ke depan, KH. Fauzan Faqih, perintis madrasah ini yang sekaligus masih menjabat sebagai ketua yayasan, mempunyai impian MI Khusnul Khotimah - demikian pula MTs Khusnul Khotimah yang menampung lulusan MI Khusnul Khotimah – bisa terus maju dan berkembang. Dan jika ada rizki, agar pendidikan anak-anak didiknya tidak terputus, ia juga berencana membuka MA dan SMK. DIRASAH

15


PROFIL

MTs Raden Fatah

Bertahan Melalui Kiprah Nyata

Meski harus bersaing dengan sekolah umum, madrasah ini bisa bertahan dengan jumlah siswa yang memadai, berkat inovasi yang terus-menerus.

B

ertahan di tengah kompetisi yang kian ketat tentu hal yang tak mudah. Banyak madrasah swasta yang jumlah siswanya menyusut hingga madrasah itu berada pada posisi “mati enggan, hidup tak mau�, ketika di sekitarnya mulai hadir lembaga lain yang sejenjang, terutama sekolah umum dan madrasah negeri. Hal demikian nyaris terjadi di MTs Raden Fatah, madrasah swasta yang bernaung di bawah Yayasan Raden Fatah dan terletak di Desa 16

Agustus 2009

Grobogwetan, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Namun, berkat inovasi terus-menerus, madrasah ini bisa bertahan dengan jumlah siswa yang memadai. Dulu, sebelum ada SMP Negeri dan MTS lain di kawasan Kecamatan Pangkah, murid siswa di MTS Raden Fatah sangat melimpah sehingga pembelajaran dilakukan pagi dan sore. Kini, pembelajaran hanya dilakukan di pagi hari. Namun jumlah siswa masih tergolong banyak: 296 siswa pada tahun ajaran 2008/2009. Salah satu kiat bertahan madrasah yang kini diperkuat 23 orang pendidik ini adalah dengan terusmenerus mendekatkan diri kepada masyarakat. Menimbang kehidupan


PROF I L masyarakat Pangkah yang relatif agamis, berbagai momen dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dijadikan sebagai momen silaturrahmi antara civitas akademika MTS Raden Fatah dengan masyarakat. Misalnya, saat majelis taklim di berbagai desa di Kec. Pangkah mengadakan acara Akhirussanah, MTs Raden Fatah memberikan sumbangsih dengan menampilkan atraksi drumband. Dengan pola ini, MTs Raden Fatah menjadi kian terkenal. Para orangtua pun menjadi tak segan lagi untuk memasukkan anak mereka ke MTs Raden Fatah. Kiat seperti itu kiranya memang sejalan dengan persepsi sang kepala madrasah, Ahmad Rofi’fi, yang memaknai madrasah bermutu sebagai madrasah yang sanggup melahirkan alumnus yang mampu menyumbangkan pikiran pada masyarakat. Sehingga, sejak awal siswa-siswi MTs Raden Fatah dibimbing untuk bisa berkiprah di tengah masyarakat. Terkait dengan hal ini, karena masyarakat kerap membutuhkan kehadiran anak muda yang menguasai keterampilan keagamaan seperti Tilawah al-Qur’an, mengikuti tahlil dan semacamnya, secara sadar MTs Raden Fatah membekali siswasiswinya dengan ilmu agama secara lebih mendalam. Mata pelajaran keagamaan yang disajikan antara lain adalah fiqih (melalui penelaahan terhadap kitab kuning), nahwu sharaf dan aswaja. Madrasah ini juga menerapkan pembiasaan Kuliah Subuh, dimana siswa secara bergantian

menjadi penceramah. Dalam hal peningkatan mutu pembelajaran, berbagai kiat yang dilakukan oleh MTs Raden Fatah antara lain melalui pelibatan guru-guru dalam MGMP. Dalam forum ini, para guru secara kolaboratif membahas RPP, menyusun silabus dan modul, membahas kisi-kisi soal semester, dan memprediksi soal UN. Pembelajaran eksperiental pun coba dilakukan. Antara lain melalui kegiatan study tour yang disesuaikan dengan pelajaran, semisal ke museum agar siswa-siswi punya pengetahuan lebih dalam soal sejarah. Berkaitan dengan pelajaran ekonomi, setiap semester siswa-siswi diberi tugas untuk berbelanja di pasar sekaligus mengamati fenomena di pasar, lalu menyusun laporan. Metode pembelajaran pun dimodifikasi. Jika dulu guru cenderung mengajar secara monoton dan anak hanya diam mendengarkan, kini anak diajak berdialog dan diberi kesempatan melakukan presentasi. MTs Raden Fatah mempunyai komitmen untuk terus meraih kemajuan. Seperti dinyatakan oleh Ahmad Rofi’i, “Ke depan, madrasah secara fisik dan nonfisik harus maju.” Beruntung, saat ini MTs Raden Fatah berkesempatan mempercepat proses meraih kemajuan ini melalui MEDP. Melalui dana blockgrant dari MEDP, MTs Raden Fatah akan membangun laboratorium IPA dan laboratorium komputer, serta menambah ruang kelas, di samping mengintensifkan upaya peningkatan mutu guru. DIRASAH

17


PROFIL

MAN Kalibeber

Berpacu Meretas Keunggulan

Menjelang UN, penguatan mental siswa dilakukan melalui acara karantina, yang diisi tadarrus alQur’an dan mujahadah

M

eskipun berstatus negeri, madrasah ini dirintis bukan oleh pemerintah, tetap oleh KH. Muntaha al-Hafidz (penghafal Al-Qur’an). Pada tahun 1961, madrasah yang semula swasta ini dinegerikan, dan hingga kini dikenal dengan nama Madrasah Aliyah Negeri atau MAN Kalibeber. Berlokasi di Desa Krasak, Kabupaten Wonosobo, madrasah ini 18

Agustus 2009

dikelilingi oleh beberapa pesantren. Desa Krasak sendiri, sekitar 5 km dari pusat kota Wonosobo menuju Dieng, tergolong desa yang masyarakatnya religius. Di pagi hari, berpadulah suara keceriaan dari siswa-siswi yang menjejakkan kaki di halaman madrasah dengan alunan shalawat atau pengajian dari masjid dan pesantren sekitar. Dulu, seperti dikatakan oleh Abdul Haq, Kepala MAN Kalibeber, madrasah ini cukup terkendala oleh mitos yang relatif mengakar di masyarakat, bahwa lulusan madrasah tak bisa menjadi Pegawai


PROF I L Negeri Sipil. Namun, semenjak UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Madrasah memastikan bahwa madrasah punya posisi sejajar dengan sekolah, mitos seperti ini mulai lenyap dan minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di MAN Kalibeber mulai meningkat. Bahkan, saat ini bisa dibilang, MAN Kalibeber punya keuntungan dibandingkan sekolah: di sini, anakanak tak hanya belajar ilmu pengetahuan umum, tapi juga dibimbing ilmu agama secara lebih dalam, dan hal inilah yang diminati oleh masyarakat khususnya masyarakat religius. MAN Kalibeber, saat ini terus memacu diri agar bisa menjadi sekolah unggul. Di luar terobosan untuk kian mengentalkan kultur agamis pada diri siswa - salah satunya melalui penyelenggaraan khataman Al-Qur’an setiap enam bulan - berbagai langkah perbaikan pada tataran sarana prasarana, manajerial maupun pembelajaran terus dilakukan. Salah satu citra yang ingin dikembangkan oleh madrasah ini, adalah bahwa siswa yang bersekolah di sini, selain memiliki ilmu agama lebih mantap, namun juga akrab dengan simbol-simbol kemodernan, seperti komputer dan Internet. Tak heran, di sekolah ini telah tersedia jaringan Internet yang bisa diakses siswa. Perangkat komputer pun terus dilengkapi: yang paling belakangan, telah didatangkan 40 unit komputer baru. Untuk membekali kecakapan vokasional, bagi siswi-siswi putri diberi keterampilan menjahit.

Dari sisi manajerial, madrasah ini coba melakukan benchmarking dengan menarik inspirasi dari lembaga-lembaga pendidikan yang lebih maju. Salah satu langkahnya adalah dengan melakukan komunikasi dan kunjungan intensif kepada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Bahkan, kepala madrasah ini pernah mendapatkan kesempatan istimewa, mengikuti studi banding ke Singapura dan Malaysia. Langkah lain yang juga penting, adalah terus menjalin kemitraan dengan Komite Madrasah. Sejauh ini, Komite Madrasah MAN Kalibeber sangat berperan; pihak pengelola madrasah pun selalu berkonsultasi dengan pengurus Komite Madrasah semisal keterlibatan di proyek MEDP. Dari sisi pembelajaran, salah satu inovasi yang dilakukan adalah membuat proses pembelajaran menyenangkan. Seperti dituturkan Adi, salah satu siswa kelas 3, dalam pelajaran Bahasa Inggris misalnya, guru menyetelkan musik latar dan menyajikan bahan multimedia sehingga pembelajaran menjadi menarik. Peningkatan mutu pembelajaran ini juga dilakukan melalui keterlibatan intensif dalam MKKS dan MGMP. Untuk menghadapi Ujian Nasional setiap tahun, agar hasil yang diperoleh maksimal, selain menyelenggarakan jam 0, madrasah ini menerapkan kebijakan karantina, selama dua minggu bagi siswa putra dan putri. Penguatan mental siswa dilakukan dalam karantina ini, seperti tadarrus Al-Qur’an dan mujahadah. DIRASAH

19


P R O G RA M

Menag: Pertahankan Madrasah Multifungsi

Madrasah harus tetap mempertahankan karakteristiknya, sekaligus bisa tampil sebagai lembaga multifungsi

M

enteri Agama (Menag) Muhammad Maftuh Basyuni mengatakan, pengembangan madrasah hendaknya diukur dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. “Bukan hanya kebutuhan pemerintah,� katanya saat membuka Kompetisi dan Expo Madrasah 2009 di Stadion Gajayana, Malang, akhir Juli lalu. Ia menjelaskan, tanggung 20

Agustus 2009

jawab yang diemban Depag akan selalu menempuh dua langkah yang kontradiktif. Depag harus selalu memodifikasi format kelembagaan berikut pengelolaannya agar mampu mengikuti tuntutan kekinian, namun di sisi lain lembaga pendidikan di bawah Depag juga harus selalu mempertahankan karakteristik khas agar tidak kehilangan identitas, terutama agar tidak tercabut dari akar sejarah pendirian lembaga pendidikan tersebut. Sebagaimana diketahui, pendirian madrasah pada umumnya dilakukan atas inisiatif masya-


PROGRAM rakat untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak di lingkungan mereka masing-masing. Mereka memilih sistem madrasah karena ia dianggap lebih cocok. Madrasah tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan keagamaan, tetapi juga pengetahuan umum meskipun porsinya tidak seperti di sekolah-sekolah umum. Madrasah juga tak jarang bertindak sebagai lembaga dakwah karena dari sini dilahirkan juru dakwah yang melayani kepentingan masyarakat. Itu sebabnya, menurut Menag, madrasah dapat dikatakan sebagai lembaga multifungsi. Selain sebagai lembaga penyelenggara pendidikan, madrasah juga sebagai lembaga pengembangan dakwah serta sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, menurut Menag, pengelolaan madrasah harus dimulai dari sebuah perspektif bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan yang memiliki karakteristik khas yang sama sekali berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Madrasah harus tetap mempertahankan karakteristiknya, sekaligus bisa tampil sebagai lembaga multifungsi yang berbeda dengan lembaga pendidikan atau sekolah umum. “Ke depan, madrasah harus mampu tampil sebagai lembaga multifungsi, di antaranya sebagai lembaga pendidikan formal, wadah pengembangan dakwah serta

lembaga pemberdayaan masyarakat secara riil,� kata Menag penuh optimisme. Menurut Menag, untuk menjadi lembaga multifungsi yang berkualitas, madrasah harus memulai dari pengelolaan administrasinya yang lebih baik dan memiliki karakteristik tersendiri. Dengan demikian manajemen madrasah harus lebih modern. Dewasa ini, perkembangan lembaga pendidikan Islam, termasuk madrasah, juga mengalami modernisasi yang tidak bisa dihindari. Bahkan, ada pergeseran paradigma untuk menyesuaikan dengan kebutuhan global. Namun, karakteristik sebagai lembaga pendidikan Islam harus tetap dipertahankan oleh madrasah, agar tidak tercerabut dari akarnya dan tujuan utama pendirian pendidikan madrasah tidak luntur. Menag menambahkan, madrasah memiliki keunggulan tersendiri dan sudah diwujudkan secara riil dengan tingginya angka partisipasi masyarakat yang peduli terhadap pendidikan di lembaga tersebut. Itu tak mengherankan, karena madrasah umumnya bermula dari inisiatif masyarakat. Berdasarkan data statistik Depag, jumlah madrasah negeri lebih sedikit dibanding madrasah swasta, yakni 91 persen madrasah dikelola swasta. Ini berbalik dengan sekolah umum, yang 90 persen berstatus negeri dan 10 persen swasta. DIRASAH

21


P R O G RA M

Dirjen Pendis Depag:

Mutu Madrasah Negeri Sudah Baik

D

irjen Pendidikan Islam Mohammad Ali mengatakan, kualitas pendidikan di sekolah-sekolah agama milik pemerintah sudah sangat baik, sebaik sekolah umum negeri. Namun, Dirjen mengakui, untuk madrasah yang didirikan swasta, sebagian masih tertinggal dalam hal mutu pendidikannya. Ketertinggalan ini harus terus-menerus diupayakan untuk diatasi. Dirjen yang hadir pada acara pembukaan Pekan Ketrampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam Tingkat Nasional III, di Bekasi Jawa Barat, akhir Juli mengatakan, sekolah-sekolah agama negeri memiliki guru dengan kualifikasi bagus dan bahkan berpendidikan setara strata dua, begitu juga dengan fasilitas yang mereka miliki. “Atas dasar itu saya minta agar orang tua tidak perlu sungkan menyekolahkan anak mereka ke sekolah agama negeri akibat takut kemampuan anak mereka tidak sebaik di sekolah umum,� ujarnya. Ia mencontohkan, madrasah Insan cendekia di Serpong Tangerang bahkan sudah menjadi sekolah berstandar internasional dan 70 persen siswanya lulus di PTN favorit di Indonesia. Menyangkut madrasah swasta, Dirjen menyatakan, yayasan se22

Agustus 2009

laku pengelola harus berusaha meningkatkan mutu sekolah dengan merekrut guru berkualitas dan selalu melengkapi sarana dan prasarana di lembaga pendidikannya. Ia mengatakan, Depag tetap mendorong agar orang tua menyekolahkan anak-anak mereka ke madrasah dan pesantren agar makin banyak generasi muda yang memiliki pengetahuan agama bagus sebagai bekal di masa datang. Dalam era global sekarang, generasi muda selain memiliki ilmu pengetahuan luas juga harus memiliki budi pekerti dan akidah kuat agar bisa membentengi diri dalam pergaulan dan pekerjaan. Kualitas madrasah baik tsanawiyah maupun aliyah negeri sudah sangat baik dan tidak kalah dengan sekolah umum lainnya. Di madrasah siswa diajari berbagai pelajaran tentang agama, sejarah kebudayaan Islam, pemahaman Al-Qur’an dan praktek shalat berjamaah sementara pendidikan umum mendapat porsi yang cukup besar lainnya sekolah umum. Kesadaran orang tua menyekolahkan anak mereka di sekolah agama cukup tinggi, bahkan jumlah calon siswa di madrasah jauh melebihi daya tampung hingga mengakibatkan sebagian anak belum bisa diterima.


PROGRAM

Kemnas I 2009

Hidup Madrasah,

H

Hidup Madrasah!

idup madrasah... hidup madrasah...!!! Yel-yel itu yang diteriakkan Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Syaifulloh Yusuf saat pembukaan ajang Kompetisi dan Expo Madrasah Nasional (Kemnas) I tahun 2009 di Stadion Gajayana Malang dan dihadiri kurang lebih 20.000 siswa-siswi madrasah se-Malang Raya. Acara pembukaan Kemnas 2009 berlangsung meriah dengan berbagai atraksi, gerak dan konfigurasi yg dimainkan ribuan siswa madrasah. Acara pembukaan diawali dengan parade kontingen dari 33 propinsi. Kompetisi ini diikuti oleh 420 siswa madrasah dari 33 provinsi. Mereka beradu di berbagai jenis lomba, meliputi karya ilmiah (LKIR) keagamaan, Sosial, Ekonomi, Sains dan Teknologi; Pidato bahasa Arab dan Inggris; Fahmil Qur’an; Fotografi, Film pendek; Madrasah Award; Lomba media pembelajaran; Kaligrafi; serta berbagai jenis cabang olahraga (bulutangkis dan lari marathon). Direktur Pendidikan Madrasah di Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Depag, Drs H Firdaus MPd mengatakan, kegiatan ini bertujuan mengembangkan potensi dan kreativitas siswa dan guru dalam membangun kultur ilmiah. Juga untuk

meningkatkan kualitas madrasah, khususnya dalam pengembangan pengetahuan, keterampilan, sikap dan mental-jasmani anak didik. Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam Depag Prof Dr. Muhammad Ali, MA menegaskan, Kompetisi dan Expo Madrasah 2009 adalah ajang untuk mengembangkan potensi dan kreativitas siswa madrasah. “Selain itu juga untuk menumbuhkan watak jujur, kreatif, cermat dan berdaya saing serta membangun citra madrasah,� papar Ali saat pembukaan. Dalam kompetisi ini baik siswa maupun guru madrasah bisa mendapatkan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk berekspresi, bertindak sportif, dan mengaktualisasikan diri. Ajang ini merupakan kesempatan pula untuk mendapatkan pengakuan melalui prestasi yang diraih. Kemnas pertama dengan dana sekitar Rp 2,5 miliar itu dihelat mulai 28 hingga 31 Juli 2009, diikuti sekitar 500 peserta dan 250 orang official dari 33 provinsi. Ketua Panitia Dr.H. Rohadi Abdul Fatah mengatakan, dalam kegiatan ini juga digelar pameran hasil karya siswa dan guru serta madrasah unggulan. Pameran ini dimaksud sebagai ajang pertukaran informasi dan promosi madrasah di stand-stand propinsi. DIRASAH

23


P R O G RA M

Depag-AusAID Bangun 500 MTs Satu Atap

D

epartemen Agama bekerjasama dengan pemerintah Australia membangun Madrasah Tsanawiyah Satu Atap sebanyak 500 buah di sembilan propinsi. Sebanyak 33 Madrasah MTs di antaranya diresmkikan secara serentak oleh Menteri Agama Dr. Muhammad Maftuh Basyuni di MTs Tsanawiyah Satu Atap Pondok Pesantren Kebon Dalem, Lamongan, Jawa Timur, akhir Juli. Direktur Pendidikan Madrasah Depag Drs H Firdaus MPd mengatakan, biaya pembangunan ke-33 madrasah ini akan menelan dana Rp 28 miliar lebih. Madrasah Tsanawiyah Satu Atap ini berlokasi di Lampung (8 Mts SA), Banten (1), Jawa Barat (8), Jawa Tengah (8) dan di Jawa Timur 14 Mts SA. Pondok pesantren Kebon dalem sebagai salah satu lokasi telah mendapat dana hibah dari Australia via AusAID sebesar satu miliar lebih. Menurut Direktur, pada tahun 2006 sampai 2007 telah dibangun sebanyak 46 MtS SA dan Madrasah Tsanawiyah pesantren Baru di lima provinsi. Yaitu di Sumsel (8 lokasi), Lampung (12), Jawa Barat (11), Jawa Tengah (7) dan Jawa Timur sebanyak delapan lokasi. Sampai bulan Desember 2009 diharapkan 24

Agustus 2009

seluruh bangunan yang berjumlah 500 madrasah tersebut sudah dapat diserahterimakan dan difungsikan seluruhnya. Sementara itu perwakilan AusAID di Indonesia Blair Exel dalam sambutannya mengatakan, pemerintah Australia melalui AusAID bekerjasama dengan pemerintah Indonesia telah membangun 2000 madrasah di 21 provinsi. Yaitu berupa Madrasah Satu Atap dan Madrasah Baru. “Kami ucapkan terima kasih pada pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia yang telah membantu pembangunan madrasah-madrasah ini,” papar Blair. Dikatakannya, 33 Madrasah Tsanawiyah Satu Atap ini akan menampung sekitar 50 ribu siswa. Menurut Blair, Indonesia dan Australia bermitra erat dalam dunia pendidikan di Indonesia. “Kami bangga bisa bermitra dan ikut berpartisipasi dalam pendidikan di Indonesia,” katanya. Pihaknya sudah berbicara dengan Mendiknas maupun Menag terkait hubungan kerjasama ke depan antara kedua negara. “Kita ada ikatan darah. Kegiatan ini menjadi pengingat kerjasama kedua negara dan kedua bangsa,” ucap Blair.


PROGRAM

Facebook Bawa DIY Juara Umum Kemnas

K

arya tulis ilmiah siswa berjudul “Keindahan Facebook Diantara Kontroversi Aqidah Islam” turut mengantar tim Yogya menjadi juara umum ajang perdana Kemnas 2009. Dengan perolehan empat emas, kontingen dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil meraih juara umum, dan Jawa Timur sebagai runner up dengan perolehan tiga emas. Ketua Tim LKTI MAN I Yogyakarta, Bagus Ramadhan, menuturkan fenomena facebook dan kontroversinya menjadi ide bagi mereka untuk melakukan penelitian itu. “Semua orang menggemari facebook tapi sempat beredar larangan ulama yang menyebutkan kontroversi facebook,” katanya. Dari hasil kajian yang dilakukan, tim yang terdiri dari Lasita Rahmawati, Ginuk Ari dan Bagus ini menemukan beberapa ayat yang mendukung fungsi facebook. Disebutkan surah Al-Hujurat ayat 13 menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia di muka bumi ini terdiri dari laki-laki dan perempuan bersukusuku dan berbangsa-bangsa. Tujuannya untuk saling mengenal atau ta’aruf. Sementara surah Ali Imran 104 juga berisi anjuran untuk berbuat amar ma’ruf nahi mungkar.

Dalam facebook, penggunanya bisa saling mengenal sehingga cocok dengan kedua surah tersebut. Pengguna facebook juga banyak yang memanfaatkan untuk media dakwah sepereti mengingatkan waktu shalat, diskusi agama dll. Sementara itu penanggungjawab kepanitian pusat Kemnas 2009, Drs. H. Firdaus, M.Pd yang menutup ajang ini menyampaikan, program Kemnas diharapkan bisa menggali potensi siswa madrasah sekaligus menjadi ajang siltaurrahmi. Karena itu, kegiatan Kemnas akan menjadi agenda rutin dan akan dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Daftar peraih juara satu lomba Kemnas I 2009, yaitu; Lomba KIR Agama diraih kontingen DIY, KIR Sain dan Teknologi diraih Jawa Timur, KIR Sosial dan Ekonomi diraih DIY, Fahmil Qur’an diraih Lampung, Seni Kaligrafi diraih oleh Aceh, pidato Bahasa Inggris diraih oleh Banten, pidato Bahasa Arab oleh Jawa Timur, Film pendek oleh Bekasi, Media pembelajaran oleh Jawa Timur, Fotografi oleh DIY, dan Madrasah Award oleh MI Yogajakarta, MTs. Sumatera Selatan dan MA Kalimantan Timur, lari 1500 meter jalan raya putra oleh Sumatera Barat dan putri oleh Sumatera Utara. DIRASAH

25


S UK S ES

Ma’had Al-Qur’an Obsesi Menag

O

bsesi Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni untuk memimpin sebuah pondok pesantren akhirnya terwujud. Pada September mendatang, beberapa bulan sebelum mengakhiri jabatannya sebagai menteri agama, Bapak Maftuh Basyuni akan memimpin langsung Ma’had Al-Quran Pondok Pesantren Darul Muzari’in Al-Islamiah di Karang Bolong, Pandeglang, Banten. Persiapan pendidikan Ma’had Al-Quran di Pondok Pesantren Darul Muzari’in itu sudah matang. Gedungnya sudah dibangun sejak tahun lalu. Direktur Pusat Studi Islam Frankfurt, Jerman, Prof. Dr. Muhammad Hassan Hitou, menjadi penyandang utama pembangunan gedung Ma’had Al-Quran. Berapa besarnya nilai bantuan itu, Maftuh tak mau menjelaskan. “Kita terima beres,” katanya. Pada September mendatang, pendidikan sudah dapat dilaksanakan. Semua biaya selama perkuliahan dibebaskan. Namun, santri yang ikut pendidikan untuk gelom26

Agustus 2009

bang pertama ini dibatasi 25 santri. “Kita membebaskan 25 santri lelaki saja. Semua biaya perkuliahan, penginapan di asrama dibebaskan. Hanya saja, untuk makan seharihari, santri harus cari sendiri,” kata Maftuh yang terobsesi memimpin sebuah pondok pesantren sejak sebelum ia menjadi Duta Besar di Arab Saudi. Ia meminta kepada para santri yang hafal Al-Quran dan mahir Bahasa Arab untuk ikut pendidikan Mahad Al-Quran yang dipimpinnya tersebut. Di negeri ini banyak santri yang hafal Al Quran, tapi yang hafal dan mahir Bahasa Arab sangat langka,” kata Maftuh di Pandeglang, Banten, awal Juli. Mengenai tenaga pengajar, ia mengatakan, semuanya berasal dari negara Timur Tengah. “Saya tak membayar para pengajar, tetapi atas komitmen sejumlah tokoh dan ulama dari negara sahabat itu. Mereka bersedia mengirim pengajar ke sini,” Maftuh menjelaskan. Karena itu, lanjutnya lagi, para santri yang ikut pendidikan Ma’had


SUKSE S Al-Quran itu selain harus hafal AlQuran juga mahir Bahasa Arab sebagai persyaratan utama. Syarat lain, yaitu berijazah SLTA dan berbadan sehat. “Kapan para santri bisa mendaftar?” tanya Maftuh. Ia kemudian menjelaskan pertanyaannya sendiri. Katanya, sekitar awal September sudah dapat dilakukan. Sementara ini sedang dibahas materi sebagai bahan seleksi santri dengan melibatkan berbagai pakar Al-Quran. Hassan Hitou, ketika ikut meletakan batu pertama pembangunan gedung Maahad Al Quran Pondok Pesantren Darul Muzari`in Al Islamiah, Karang Bolong, Pandeglang, Banten, tahun lalu, mengharapkan lembaga pendidikan Al Quran itu dapat menjadi institusi terbesar di Asia Tenggara. Pasalnya, karena lingkungan masyarakatnya sangat mendukung disamping suasana religius Islami sudah tertanam sejak lama. Ketika datang pertama kali ke Pandeglang, ia mengatakan, infrastruktur belum memadai. Tapi ketika akan dilakukan peletakan batu pertama, jalan sudah baik. Hassan Hotou datang ke Pandenglang sudah kedua kalinya. Selain memberi bantuan bangunan bagi Pondok pesantren tesebut, juga membagi-bagikan bantuan langsung tunai kepada masyarakat miskin di kawasan tersebut. Dr. Taufik Ramadhan, pengajar

pada jurusan ilmu Islam Universitas Damaskus, Suriah, mengatakan, Ma’had Al-Quran di Pondok Pesantren yang didirikan di Pandeglang ini memiliki arti penting dalam pengembangan ajaran Islam. Peletakan batu pertama hanya merupakan simbol belaka, tetapi lebih penting dari itu adalah mengisi dengan berbagai kegiatan sesuai seperti yang diamanatkan Nabi Muhammad SAW. Mengamalkan ajaran Islam dan Al-Quran akan membawa keberkahan yang pada akhirnya akan memperkuat solidaritas sesama Muslim, katanya. Tentang pengembangan Ma’had ke depan, menurut Hassan Hitou, akan membangkitkan kejayaan Banten dengan nilai Islamnya. Sebab, dari berbagai literatur yang dipelajarinya, banyak ulama dari daerah ini melahirkan karya ilmiah dan bernilai tinggi. Kejayaan Banten dengan nilai Islamnya harus dikembalikan, katanya. Sekretaris Umum Yayasan Darul Muzari’in al-Islamiah, H. Sudaryono mengatakan, Pondok Pesantren itu didirikan pada 1998. Pada tahun 2000 didirikan masjid. Luas areal pendidikan 8 ha, untuk lahan percobaan dan sarana pertanian 12 ha. Sedangkan luas pertanian mencapai 20 ha. Di areal ini juga terdapat lahan untuk peternakan sapi dan kambing dengan lahan 1,5 ha. Juga terdapat pabrik tahu untuk memberdayakan masyarakat setempat. DIRASAH

27


P E RSP EK T I F

Penelitian Tindakan Kelas, Inovasi Belajar Praktis Bagian 1 dari 2 Tulisan

S

alah satu ide inovatif yang diperkenalkan kepada para guru madrasah melalui Proyek MEDP adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Apakah yang dimaksud dengan PTK? Dan benarkah ia memiliki prospek untuk menjawab tuntutan peningkatan mutu pembelajaran di madrasah? Tulisan ini secara ringkas akan memaparkan PTK. PTK adalah salah wujud pengembangan model Action Re28

Agustus 2009

search yang biasanya dilakukan oleh para pekerja sosial mencari solusi terhadap berbagai masalah sosial seperti kemiskinan, pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lainnya. Melalui action research ini, pekerja sosial melakukan kajian terhadap masalah yang dihadapi secara sistematis. Hasil kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Secara praktis, ia dilakukan berawal dari penyusunan sebuah ren-


PER SPE KTI F cana kegiatan, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan rencana itu. Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai. Pada perkembangan berikutnya, model action research dikembangkan untuk mendorong mutu pendidikan, sehingga lahirlah apa yang disebut Class Action Research, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK kemudian dipahami sebagai kegiatan penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas. PTK dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran, dan mencobakan hal-hal baru di bidang pembela-

jaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran. Melalui PTK, para guru didorong dan difasilitasi untuk mengubah bebagai keadaan, kenyataan, dan harapan mengenai pembelajaran menjadi lebih baik dan bermutu dengan cara melakukan sejumlah tindakan yang dipandang tepat. Saat ini, PTK kian banyak dipergunakan di satuan-satuan pendidikan, karena ia memang dipandang membawa berbagai manfaat. Berbagai manfaat penerapan PTK itu antara lain, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. PTK juga mengasah intelektualitas guru. Guru bisa menerapkan PTK sembari melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda: praktisi dan peneliti. Secara lebih rinci, berbagai manfaat yang bisa didap-

‘‘

Berbagai manfaat penerapan PTK itu antara lain, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. PTK juga mengasah intelektualitas guru.

‘‘

DIRASAH

29


P ER SP EK T I F atkan melalui penerapan PTK itu. Pertama, melalui penerapan PTK guru menghasilkan laporan-laporan yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu, hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah. Kedua, PTK membantu menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung profesionalisme dan karier guru. Ketiga, PTK mendorong terwujudnya kerjasama dan sinergi antarguru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersamasama memecahkan (mengatasi) masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.

30

Agustus 2009

Keempat, PTK membantu guru meningkatkan kemampuan mereka dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat kekontekstualan dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa. Kelima, PTK mendorong meningka keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswa pun dapat meningkat. Dan keenam, PTK membantu terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, dan melibatkan siswa-siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.


P ER SPE KTI F

Dr. H. Affandi Mochtar MA.

Semua Harus Bersinergi Majukan Madrasah

P

emerintah, melalui Departemen Agama RI, berkomitmen untuk terus memajukan dan mengembangkan mutu pendidikan madrasah. “Ini telah dibuktikan dengan peningkatan alokasi anggaran untuk sektor pendidikan Islam dari tahun ke tahun,� kata Dr. H. Affandi Mochtar, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Depag. Karena itu, tandas pria kelahiran 12 Februari 1964, di Cirebon Jawa Barat ini, dibutuhkan kesiapan dari para pengelola madrasah dan para guru madrasah, untuk menangkap segenap peluang dan bekerja keras memperbaiki diri. Kepada Dirasah, Kang Fandi, sapaan akrabnya, (20/8) mendialogkan kiat menepis streotip negatif madrasah, kendala utama meningkatkan mutu madrasah serta kepedulian pemerintah pada madrasah. Berikut petikannya:

Madrasah konon lebih rendah dari sekolah umum. Komentar Anda? Kesan itu bisa dipahami jika merujuk pada masa lalu, ketika madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya cenderung mengalami diskriminasi dari sisi kebijakan negara. Namun, semenjak UU No. 20 Tahun 2003 dikeluarkan, madrasah secara yuridis mendapatkan pengakuan sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional. Dalam hal ini, UU tersebut menegaskan madrasah setara dengan sekolah. Hanya saja, secara faktual, sebagai akibat dari kebijakan masa lalu, secara umum madrasah saat ini memang masih tertinggal dibanding sekolah umum, ditinjau dari berbagai aspek. Namun, sebetulnya di beberapa tempat khususnya yang memiliki basis masyarakat relijius, madrasah tak bisa DIRASAH

31


P ER SP EK T I F dikatakan nomor dua, karena justru menjadi pilihan pertama masyarakat. Agar kesan negatif tersebut berubah menjadi positif, apa caranya? Tentu saja, insan madrasah harus bekerja keras membenahi berbagai aspek yang mempengaruhi mutu madrasah. Insan madrasah mesti berupaya lebih keras agar mutu pendidik dan tenaga kependidikan di madrasah menjadi lebih berkualitas, proses belajar-mengajar menjadi lebih menarik. Demikian pula, perbaikan harus diupayakan dalam hal sarana prasarana, dalam sistem manajemen madrasah, dan tak lupa, dalam hal pencitraan. Terkait dengan yang terakhir, segenap inovasi dan kemajuan yang telah dicapai oleh madrasah, haruslah secara intensif dikomunikasikan ke berbagai pihak, sehingga dinamika madrasah yang bisa diketahui, dan citra positif terhadap madrasah pun bisa terbentuk. Bagaimana agar madrasah lebih diperhitungkan? Pertama, jelas keinginan kuat dari berbagai stakeholder madrasah. Dalam hal ini, pemerintah, pengelola madrasah, para guru madrasah, harus punya hasrat kuat untuk maju, sekaligus mau bersinergi dalam melakukan berbagai agenda perbaikan. Pemerintah sendiri, melalui Departemen Agama RI, berkomitmen untuk terus memajukan dan mengembangkan mutu pendidikan madrasah. Ini telah dibuktikan dengan 32 32

Agustus Agustus 2009 2009

peningkatan alokasi anggaran untuk sektor pendidikan Islam dari tahun ke tahun. Nah, menyambut hal ini, dibutuhkan kesiapan dari para pengelola madrasah dan para guru madrasah, untuk menangkap segenap peluang yang ada dan bekerja keras memperbaiki diri. Kedua, adanya inovasi dan perbaikan terus-menerus terhadap kebijakan dan praktek pembangunan pendidikan Islam, sehingga pembangunan pendidikan Islam menjadi makin efektif dan efisien. Mulai dari pejabat di tingkat Ditjen Pendidikan Islam, hingga para pelaksana manajemen madrasah di lapangan, mesti terbuka terhadap segenap ide perubahan, sekaligus mampu merespon secara cerdas kritik, saran dan ide-ide segar. Banyak kendala madrasah untuk bisa berkualitas. Bisa dijelaskan? Kendala utama yang dihadapi madrasah, pertama dan terutama, adalah faktor kesiapan SDM. Berbagai ide perubahan seringkali kandas atau tidak bertahan lama, karena SDM madrasah tidak siap menjalankannya. Katakanlah menyangkut ide penerapan manajemen berbasis sekolah dan KTSP. Dua konsep ini sesungguhnya ideal. Tapi, pada tingkat praktis, belum tentu bisa terlaksana dengan baik, ketika SDM di madrasah, baik di tingkat Yayasan (untuk madrasah swasta), maupun pada tingkat manajemen madrasah dan para guru, tidak memiliki persepsi yang


P E RPE KTI F tepat, atau kurang menguasai aspek teknisnya. Kendala berikutnya, ini agak klise memang tapi faktual, yaitu soal pendanaan. Harus diakui, bahwa kondisi madrasah yang 90%-nya adalah madrasah swasta, membuat persoalan pembiayaan ini menjadi sesuatu yang cukup pelik. Anggaran yang dimiliki pemerintah terbatas, sehingga tak mungkin semua madrasah mendapatkan bantuan dalam jumlah memadai pada saat bersamaan. Sementara madrasah kebanyakan tak bisa memobilisasi dana dari masyarakat atau siswa karena keterbatasan tingkat ekonomi mereka. Namun, tak ada persoalan yang tak bisa dipecahkan. Yang penting, semua pihak yang berkepentingan dengan madrasah memiliki kesamaan visi dan spirit untuk memajukan madrasah, pelan tapi pasti, akan ditemukan jalan untuk membuat madrasah menjadi lembaga pendidikan yang diperhitungkan. Bagaimana pengembangan mutu dan kualitas madrasah yang ideal? Manajemen pengembangan mutu madrasah tentu saja harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang telah kita sepakati: transparan, akuntabel dan partisipatif. Prinsip ini harus diterapkan dalam manajemen pengembangan mutu madrasah di semua jenjang dan lini, mulai dari tingkat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam hingga pada tingkat pengelola madrasah. Mutu guru madrasah rendah? Apa

saja langkah peningkatannya? Secara umum, kualitas guru madrasah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun, tentu saja, masih jauh dari ideal. Masih banyak guru yang belum memiliki kualifikasi S1. Demikian pula, masih banyak guru yang mismatch karena mengajar bukan sesuai latar belakang pendidikannya. Untuk mengatasi hal demikian, kita harus sama-sama mengupayakan peningkatan kualifikasi guru madrasah, peningkatan kompetensi guru, termasuk peningkatan kesejahteraan guru madrasah. Apa saja peran dan perhatian pemerintah? Departemen Agama RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, telah melakukan berbagai terobosan. Untuk aspek sarana prasarana, berbagai kegiatan bantuan, seperti bantuan rehabilitasi ruang kelas belajar, telah dilaksanakan, baik pada jenjang MI, MTs maupun MA. Pada aspek pendidik dan tenaga kependidikan, berbagai hal juga telah dilakukan. Mulai dari pemberian beasiswa untuk peningkatan kualifikasi guru madrasah, penyelenggaraan kegiatan beasiswa dual competence agar problem mismatch bisa diatasi, maupun penyelenggaraan berbagai shortcourse untuk perluasan wawasan dan peningkatan keterampilan dalam pembelajaran. Dan yang tak kalah penting, dengan mempertimbangkan bahwa mutu guru berkaitan erat DIRASAH DIRASAH

33 33


P ER SP EK T I F dengan tingkat kesejahteraan mereka, kegiatan sertifikasi dan pemberian tunjangan juga telah dilakukan. Komentar Anda mengenai MEDP? MEDP merupakan sebuah terobosan penting yang diharapkan memberi dampak nyata bagi perbaikan mutu madrasah, terutama pada madrasah yang menjadi sasaran. Kita tahu, MEDP menyediakan alokasi blockgrant dalam jumlah yang cukup memadai, berdasarkan Madrasah Development Plan yang disusun oleh pihak madrasah sendiri. Terlebih, telah disiapkan sebuah sistem yang memungkinkan pemanfaatan blockgrant ini menjadi efektif dan efisien. Akankah program ini efektif untuk menunjang terbentuknya mutu dan kualitas madrasah? Tentu saja. Kita bisa bayangkan, sebuah MI misalnya, yang semula bangunannya telah dimakan usia,

D

dengan blockgrant, katakanlah 400 juta, akan memiliki beberapa ruang kelas baru, bahkan fasilitas seperti perpustakaan atau laboratorium. Ini tentu saja akan meningkatkan performa MI tersebut secara cukup signifikan. Kita bisa harapkan, melalui program MEDP ini, akan ada cukup banyak madrasah yang bisa memenuhi standar nasional dan bisa disejajarkan dengan sekolah umum yang berkategori maju. Apa harapan Anda terhadap MEDP ini? Saya berharap, semua pihak yang bekerja dalam kerangka MEDP ini, mulai dari pejabat dan staf CPMU, hingga komite pelaksana MEDP di tingkat madrasah, bisa menjalankan tugas dan perannya secara profesional dan amanah. Kita harus samasama mengupayakan agar MEDP memberikan dampak perubahan yang nyata.

R. H. AFFANDI MOCHTAR, MA lahir di Cirebon 12 Februari 1964. Ia pribadi penuh inisiatif dan inspiratif. Menempuh salah satu tahap pendidikannya di McGill University Kanada, ia menikmati pergaulan yang cukup luas, tidak saja dengan jaringan lokal dan nasional, tapi juga internasional. Pada 1987, ia memulai tugas sebagai tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Cirebon. Sebagai warga akademik, ia aktif menulis dan meneliti. Kini ia mengemban tugas sebagai Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI. Sebelumnya, di Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Depag, ia bertanggung jawab dalam pelaksanaan program-program kerjasama perguruan tinggi. Ia pun menangani sejumlah program kerjasama dengan lembaga-lembaga bertaraf internasional.

34

Ag gustu us 2009 20 009 Agustus


LE NSA

Rapat kordinasi antara pengelola pusat MEDP (CPMU) dan jajaran rektor mitra se-Indonesia

PCU Advisors Meeting, berlangsung di Jakarta.

Pelatihan peningkatan mutu guru madrasah di Jakarta.

DIRASAH DIR DI RASAH

35


Program MEDP untuk Madrasah yang Lebih Baik!

Departemen Agama RI

36

Departemen Agama RI Berperan Menuntaskan Program Wajib Belajar Sembilan Tahun melalui Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Pondok Pesantren Salafiyah Ula dan Wustho, serta Program Paket A dan B di Pesantren

Agustus 2009


Dirasah 4