ZINE VOLUME 4
edisi
BEBAS BERKARYA tanpa ada batasan dan tanpa latar belakang tertentu. Untuk ekspreksikan dirimu
pkasn zine
VOL 4
BEBAS BERKARYA kalo tertarik berkontribusi bersama kami kirim karyamu melalui email : pkasn.native@gmail.com
karya terkumpul dari open submission
KALIAN SEMUA OKE LAYOUT & DESAIN
Semangat
SERANGKAIAN Sebuah keyakinan mendalam atas manusia
berkehidupan
tentu
adalah
M Rifki Kurniawan
sebuah semangat yang tumbuh tanpa
KONSTIBUTOR
harus membayar, yang ada sejak manusia
Ayu Rikza Rizki Amalia Affiat Mita Octaviani M Reza Pahlevi Ilham Hermansyah
itu ada. Memang berkarya itu bagian penting
dari
proses
manusia
berkehidupan tanpa manusia itu sadari. Sebuah kehidupan memang selalu silih berganti
dan
terus
bertransformatif
sebagaimana manusia memiliki peradaban dunia ini.
Pang Png
Sebagaimana keyakinan untuk berbuat
Rifki
baik dan berprilaku baik, berkarya tidak ada yang salah. Justru yang tidak berkarya
MEDIA SOSIAL
itu yang salah. Karena berkarya adalah
@pkasn.cok
bentuk peradaban manusia yang terus tumbuh dan lahir kembali.
E-MEGAZINE issu.com/pkasn
Begitu dalam proses zine ini akan terus memberi ruang bagi kawan-kawan yang ingin
berkarya.
Tidak
ada
yang
tidak
mungkin dalam suatu proses terutama berkarya,
jadi
lakukan
yang
perlu
dilakukan dan ekspresikan dirimu. Terimakasih kepada setiap kontributor yang senantiasa mengirimkan karya dan juga
kawan-kawan
yang
memberikan
support dukungan kepada zine PKASN ini.
EMAIL pkasn.native@gmail.com
Yuk baca zine pkasn vol 4
Daftar Isi
01 Hijab Perempuan dalam Kapitalisme Rasial
4 Fenomena Citayam Fashion Week, Buah Sistem Kapitalisme
I II III IIII
Sampul Simbol zine Ucapan terimakasih Daftar isi
01 13 17 18 21
Tulisan Karya Karya Sastra Sastra
7 Perampasan Tanah di Wadas dan Bagaimana Hukum Represif Bekerja
10 Senyum Anak Anak dibalik Potensi Industri Tembakau di Kabupaten Probolinggo
pkasn zine
TULISAN
Ayu Rikza dan Rizki Amalia Affiat
HIJAB PEREMPUAN DALAM KAPITALISME RASIAL Salah satu kecenderungan paradigmatik dalam melihat perempuan muslim di media dan isu gender arus utama adalah ‘agensi berbasis identitas’ yang dipisahkan dari sejarah kolonialisme dan perkembangan kapitalisme. Perempuan muslim hanya dirayakan agensinya jika mereka dianggap berhadapan atau berjuang melawan sesama kaum muslim itu sendiri: entah itu para lelaki muslim yang patriarkis, ulama misoginis, atau rezim-rezim yang berkuasa di negara muslim seperti Taliban. Sementara itu, agensi perempuan muslim melawan Islamofobia di Perancis, berbaris di garda depan revolusi Sudan, atau memimpin gerakan dalam menuntut keadilan di berbagai lini tampak tak terlalu ditengok.
Apapun yang dianggap Islam dan Muslim seolah harus dibenturkan untuk menjadikan perempuan muslim ‘heroik’. Artikel ini dibagi ke dalam tiga bagian berseri. Bagian 1 membahas tentang hijabofobia dalam konteks kapitalisme rasial. Bagian 2 menelaah kasus pelarangan hijab oleh Uni Eropa dan bagian 3 menelaah kasus bangkitnya Taliban pada tahun 2021 lalu. Tujuan tulisan ini adalah untuk melakukan kritik terhadap feminisme liberal dan menggambarkan bagaimana media dan feminisme arus utama gagal melihat masalah perjuangan perempuan--
yang mendasar dalam jerat struktur yang menyejarah. Penutup di Bagian 3 juga akan mengidentifikasi tugas feminisme Islam ke depan.
Pertarungan
“If we want to destroy the structure of Algerian society, its capacity for resistance, we must first of all conquer the women; we must go and find them behind the veil where they hide themselves and in the houses where the men keep them out of sight.”
memiliki
[“Jika
regional
kita
ingin
menghancurkan
struktur
di
seputar
hijab
perempuan
muslim trayektori
panjang. Hingga kini, pelembagaan ketakutan Islam
terhadap
hingga
ke
institusi negara dan membuat
masyarakat Aljazair, kemampuan perlawanan
perempuan
mereka, pertama-tama kita harus menaklukkan
di
kaum perempuannya; kita harus mencari dan
korban paling rentan.
Eropa
muslim menjadi
menemukan mereka di balik hijab tempat mereka bersembunyi dan di rumah-rumah dimana kaum lelaki menutupi mereka dari pandangan.”] Franz Fanon, A Dying Colonialism (1965), dalam merangkum doktrin politik pemerintahan kolonial –
Tulisan | Volume 4 | Halaman 1
pokok ati seneng zine
TULISAN Pada tanggal 15 Juli 2021, Pengadilan Kehakiman Uni Eropa/The Court of Justice of the European Union (CJEU) mengeluarkan keputusan yang menjadi peneguhan legitimasi praktik diskriminasi terhadap para perempuan muslim pekerja. Atas nama netralitas di ruang publik, CJEU memperbolehkan perusahaan untuk melarang pekerja mengenakan atribut keagamaan dan memecat mereka jika tak taat pada aturan perusahaan. Keputusan yang mengulang keputusan tahun 2017 lalu ini adalah bukti konkret bagaimana kapitalisme yang beroperasi dalam aspek rasial menciptakan penindasan struktural yang dialami oleh mayoritas kelas proletariat muslim dan menjadi alat hegemoni identitas. Ini adalah hasil persekongkolan kelompok sayap kanan, neoliberal, dan feminis kulit putih di Eropa, yang ironisnya, dalam beberapa aspek melibatkan kaum Islam ‘liberal’.Pernikahan adalah sebuah upacara yang menyatukan dua orang dalam pernikahan. Tradisi dan kebiasaan pernikahan sangat bervariasi menurut budaya, kelompok etnis, agama, negara, dan kelas sosial. Penindasan struktural ini dilakukan melalui upaya pelembagaan hijabofobia—yang dilihat secara taken for granted sebagai permasalahan horizontal dan identitas—hingga ke institusi negara dan regional.
Tulisan | Volume 4 | Halaman 2
Pelembagaan ini beroperasi salah satunya dengan menekan dan mengontrol perempuan muslim di Eropa melalui politik hijab—kami memakai kata “hijab” untuk mewakili segala bentuk penutup kepala dan wajah Islami seperti kerudung, cadar, burqa, niqab dan segala variasinya sebagai satu kesatuan material di mana perempuan muslim dirasialisasi. Politik hijab berfungsi sebagai sarana untuk mengimplementasikan suatu sistem politik tertentu dengan menentukan sejauh mana hijab dapat dikenakan dalam sistem politik tersebut (Wingo, 2003: 50). Tujuan dari politik ini tidak lain adalah untuk melayani nilainilai politik tertentu yang dalam konteks ini ialah nilai dari bangsa Eropa yang sekuler dan liberal. Hijabofobia turut menjadi bagian dari mentalitas imperialisme baru, yang ditopang oleh kapitalisme rasial. Di sini konsep kapitalisme rasial masuk sebagai penyokong dari problem penindasan di era modern, yaitu neoliberalisme, rasisme dan problem pengungsi yang berakar dari kolonialisme dan rasisme sebagai bagian inheren dari kapitalisme (Thariq, 2020). Perempuan berhijab adalah representasi paling vulgar dari ketiga kelindan ini: kehadiran mereka di tanah Eropa dirasialisasi karena identik dengan gelombang arus pengungsi non-kulit putih dari wilayah Muslim yang berkecamuk perang dan kemiskinan, sekaligus komoditas paling ‘memikat’ di wilayah-wilayah Muslim seperti Afghanistan untuk dijadikan objek ‘penyelamatan’ oleh kekuasaan imperialisme Amerika Serikat dan Eropa yang diwakili NATO. Dua persoalan muncul sebagai warisan kolonialisme. Pertama, bagaimana kekuatan imperialisme modern membangun narasi soal ‘menyelamatkan’ perempuan muslim dari terkaman patriarki laki-laki Muslim sebagai justifikasi perang, dan kedua, bagaimana kapitalisme menandai tubuh dan kehadiran perempuan sebagai agensi budaya konsumerisme dan sebagai komoditas itu sendiri. Artikel ini akan menjelaskan bahwa hijabofobia bukanlah peristiwa yang tiba-tiba muncul, tak memiliki sejarah, maupun tak ditopang oleh kondisi material tertentu. Posisi kami ingin menekankan bahwa hijabofobia, sebagai Islamofobia yang tergenderisasi, diproduksi untuk menjustifikasi kolonialisme bangsa Eropa di Afrika dan Asia dan beregenerasi hingga sekarang untuk melayani agenda-agenda liberal, sekuler, dan so-called “feminis”.
pokok ati seneng zine
TULISAN Kritik kami terhadap feminisme liberal tidaklah semata pada pengelompokk an feminisme gelombang kedua atau gelombang ketiga.
Fokus kami adalah kritik pada berbagai akrobat akademis yang menekankan perspektif dan agenda feminisme pada isu pemberdayaan berbasis identitas dengan bias liberalisme: semangat untuk merangkul segala aspek yang dirujuk sebagai identitas oleh perempuan, mengusung hak asasi yang melebih-lebihkan aspek kebebasan individu, mengesampingkan dimensi spiritualitas dan mengecam patriarki— namun di saat yang sama merangkul patriarki dalam kapitalisme: bertarung tentang siapa yang berhak mengeksploitasi dan menguasai tubuh dan seksualitas perempuan. Feminis liberal berasumsi bahwa hasrat sejati tiap manusia adalah untuk mengejar otonomi dan kebebasan optimal ketika tidak dikekang oleh norma. Asumsi liberal normatif ini membuat norma dan ketaatan terhadap aturan agama dianggap mengekang perempuan dan secara insting perempuan yang ‘tercerahkan’ pasti menginginkan lepas dari kungkungan ini, sehingga gerakan perempuan dalam Islam berbasis kesalehan menempati posisi yang tidak nyaman dalam langgam feminisme (Mahmood, 2005).
KOLOMQUOTES
1
Orang-orang yang membuat Anda tertawa, yang membantu Anda ketika Anda membutuhkan. Orang-orang yang benarbenar peduli. Mereka adalah orang-orang layak disimpan dalam hidup Anda. Orang lain hanya lewat.
Karl Marx
2
Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.
Hadji Oemar Said Tjokroaminoto
MENURUT M MEREKA Penindasan
terhadap
perempuan
adalah
bentuk
ketidakmajuan
masyrakat
modernisasi. Karena itu peran edukasi dan literasi sangat
penting
mewujudkan
3
Cinta adalah penyakit. Ia membuat orang lemah di hadapan insan yang dicintainya. Ia menyebabkan candu kehidupan, seakan-akan hidup tak punya arti tanpanya, dan seseorang harus memiliki kebergantungan dengannya. Oleh sebab itu, aku tak mau terjerat cinta, dan tidak akan menoleransi diriku terjebak cinta untuk selama-lamanya.
ditengah
dalam keadilan
fikiran manusia.
Ika Fitra, Masyarakat Indonesia
Friedrich Nietzsche
Tulisan | Volume 4 | Halaman 3
pokok ati seneng zine
TULISAN
Mita Octaviani
Fenomena Citayam Fashion Week, Buah Sistem Kapitalism Sepanjang tahun kita disuguhkan dengan
berbagai
problematika
muncul
silih
berganti.
umat
yang
Alih-alih
memodernisasikan masyarakat sebuah negara dengan menerapkan sistem kapitalisme yang berasaskan sekular, justru berimbas pada kondisi masyarakat
terkhusus
umat
Islam
yang
mengalami kemunduran karena dijauhkan dari fitrah
agamanya.
Islam
kini
hanya
sekedar
dijadikan identitas dalam kolom KTP. Pernikahan
adalah
menyatukan Tradisi
dua
dan
sebuah
orang
kebiasaan
upacara
dalam
yang
pernikahan.
pernikahan
sangat
bervariasi menurut budaya, kelompok etnis, agama, negara, dan kelas sosial. Istilah Islam KTP sering dijumpai di kondisi masyarakat mudanya
saat yang
ini,
terlebih
menganggap
di
generasi
agama
hanya
sebagai ranah pribadi. Beragama Islam tapi lebih condong dan berkiblat pada barat. Generasi muslim seakan kehilangan arah dan terjangkit krisis identitas. Munculnya Fenomena Citayam Fashion Week seakan membenarkan kondisi generasi muslim sedang mengalami krisis identitas.
Tulisan | Volume 4 | Halaman 4
pokok ati seneng zine
TULISAN Dilansir dari Okezone.com Istilah Citayam Fashion Week diunggah pertama kali dari TikTokers sekaligus fotografer bernama Radita Pradana. Ia mengunggah suasana di sekitar stasiun BNI City, Sudirman, Jakarta Pusat pada (27/06/2022) dengan tulisan ‘Citayam Fashion Week in Stasiun BNI City’. Radita juga memperlihatkan aktivitas sekelompok remaja yang berlalu lalang di sekitar Sudirman, Jakarta Pusat. Tampak beberapa remaja asyik berselfie, dibalut dengan busana serba monokrom serta hoodie. Dari fenomena ‘Citayam Fashion Week’, nampak generasi muslim lebih tertarik dan menganggap penampilan fisik sebagai sebuah kemajuan zaman di era globalisasi dan modernisasi. Hal ini tak lepas dari pengaruh gaya hedonis yang tercipta dari sebuah sistem bernama Kapitalisme yang berasaskan sekular. Sistem ini memberikan ruang bagi generasi muda untuk tampil eksis dengan berbagai gaya berbusana. Alih-alih ingin ikut bergaya namun semakin jauh generasi muslim dari identitas agamanya.
Perlu Edukasi Tak dimungkiri generasi muslim saat ini dilanda krisis identitas. Sebab kurangnya pengetahuan mereka tentang agama, akhirnya norma- norma agama dilanggarnya. Generasi muslim perlu edukasi. Beberapa hal yang seharusnya dipahami dan diamalkan generasi muslim: Pertama bahwa Islam mengajarkan untuk bersosialisasi sesuai hukum syara’, seperti tidak boleh campur baur antara laki-laki dan perempuan. Istilah dalam Islam disebut ikhtilat yaitu bertemunya (interaksi) antara laki-laki dan perempuan (yang bukan mahramnya) di suatu tempat tanpa adanya keperluan syar’i. Seperti berpacaran, duduk berdua, nongkrong bersama antara laki- laki dan perempuan. “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32). Kedua, Islam mengatur gaya berbusana bagi setiap muslim dan muslimah. Namun saat ini gaya busana generasi cenderung berkiblat pada barat. Dikenal dengan slogan slebew nya, Jeje panggilan akrabnya merupakan sosok remaja perempuan yang saat ini eksis dari jalan Sudirman. Jeje alias Jasmine Latika (18) kini menjadi icon Citayam Fashion Week karena busananya yang dianggap nyentrik. Miris, gaya busana ini menjadi tren di kalangan generasi muslim. Padahal Islam punya aturan gaya berbusana untuk muslim dan muslimah. Aturan ini bersumber dari Al Khaliq yang pasti baik bagi setiap makhlukNya. Hikmahnya bila diterapkan aturan berbusana ini dalam keseharian yaitu dapat menjaga setiap muslim dan muslimah agar terhindar dari zina mata, terumbarnya aurat, dan untuk menjaga diri dari tindak pelecehan. Allah Swt. berfirman dalam Qs. Al Ahzab ayat 59; “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Tulisan | Volume 4 | Halaman 5
pokok ati seneng zine
TULISAN Mirisnya lagi, sosok fenomenal yang disebutkan di atas beragama selain Islam. Sebagai generasi muslim tidak dibenarkan mengambil contoh dan mengikuti gaya/cara berpakaian kaum kafir yang jelas jauh beda dengan Islam.
Islam Standar Hidup
Keluarga adalah benteng pertama generasi dari arus baratisasi. Dengan keluarga yang memberikan pendidikan Islam sejak dini, mulai dari mengajarkan tentang aqidah Islam, konsekuensi keimanan, menutup aurat, menjaga diri dari ikhtilat/campur baur, dsb. Diharapkan generasi muslim memiliki identitas yang kuat, dan tak berkiblat pada barat. Di lingkungan sosial, masyarakat memiliki peran sebagai benteng perlindungan sosial. Dengan adanya kontrol masyarakat yang memiliki perasaan, pemikiran dan aturan yang sama. Diharapkan dapat menciptakan suasana saling beramar ma’ruf nahi mungkar.
Selain benteng keluarga dan kontrol masyarakat, benteng yang terpenting selanjutnya adalah peran negara dalam menjaga moral generasi muslim. Dengan memberikan pendidikan yang merata di setiap daerah, kajian- kajian edukasi di berbagai lapisan masyarakat serta pejabat, menyediakan sarana dan prasarana fasilitas perpustakaan di berbagai daerah sebagai penunjang pembelajaran, serta membuat kebijakan juga menegakkan aturan yang menjaga individu muslim dari perbuatan tercela. Ketiga benteng di atas hanya dapat terwujud jika umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan sebuah negara yang menerapkan aturan Islam. Semua dilakukan sebagai solusi tuntas untuk melindungi generasi muslim dari perbuatan sia- sia, dan membangun negara dimulai dari majunya pemikiran generasinya.
GATAU MIMIN BERCELOTEH Kenapa saya Apapun itu hadapi dan kok jomblo? Apakah jangan lari sebab hidup enggan adalah perlawanan dan mencari atau sudah pertentangan menyerah? Tulisan | Volume 4 | Halaman 6
pokok ati seneng zine
TULISAN
Ilham Hermansyah
Perampasan Tanah di Wadas dan Bagaimana Hukum Represif Bekerja
PADA mulanya Wadas, Kecamatan Bener, Provinsi Jawa Tengah, adalah sebuah desa biasa yang menyimpan banyak berkah. Tanahnya subur dan produktif. Ada banyak mata air yang menjadi sumber penghidupan masyarakat, juga beragam tumbuhan dan tanaman rempah mulai dari durian, kopi, petai, sengon, kemukus, vanili, dan lain-lain. Menurut survei yang dilakukan oleh Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempa Dewa) bersama Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, dan Perpustakaan Jalanan, pendapatan dari berbagai komoditas tersebut mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah per tahun. Angka tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan upah minimum setempat–tahun 2022 hanya Rp 1,9 juta. Angka tersebut juga menggambarkan bahwa warga mungkin untuk menggantungkan hidup hanya dari apa yang dihasilkan oleh alam. Karena itulah dapat dipahami betapa warga Desa Wadas memiliki hubungan yang sangat dekat dengan tanah– melebihi orang-orang kota.
Fotografi | Volume 4 | Halaman 7
pokok ati seneng zine
TULISAN Tetapi semuanya terancam sejak adanya wacana pembangunan Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo.
Bendungan Bener adalah salah satu Proyek
Bendungan tersebut sebenarnya terletak di Desa
Nasional.
Guntur yang berjarak sekitar 10 kilometer dari
Mahkamah Konstitusi No.91/PUU-XVIII/2020 yang
Wadas, namun material yang akan dipakai, yaitu
juga menyatakan bahwa Undang-Undang Cipta
andesit, ditambang di tempat tersebut.
Kerja bersifat inkonstitusional bersyarat, segala
Keputusan ini didasari oleh Izin Penetapan
proyek
Lokasi (IPL) yang diterbitkan oleh Gubernur
Namun
Jateng Ganjar Pranowo melalui Surat Keputusan
mengepung desa pada awal Februari lalu.
Gubernur Nomor 590/41/2018–yang kemudian
Bendungan yang memiliki kapasitas sebesar
diperpanjang melalui Surat Keputusan Gubernur
100,94 m3 ini semula dikatakan akan berfungsi
No 539/29 Tahun 2020 tentang Perpanjangan
mengairi
atas Penetapan Lokasi Pengadaan Tanah bagi
menjadi sumber pembangkit listrik tenaga air
Pembangunan Bendungan Bener di Kabupaten
(PLTA), dan menyuplai kebutuhan air di Jateng,
Purworejo dan Wonosobo. Selain sebagai tempat
khususnya Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten
pengambilan andesit, surat itu juga menyatakan
Kebumen, dan Kabupaten Purworejo. Namun ada
Wadas adalah tempat yang akan dibebaskan
rencana
lahannya.
diupayakan meski harus mengorbankan banyak
Strategis Nasional (PSN) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan
Pelaksanaan
Sebetulnya,
strategis itu
nasional
tidak
sawah,
lain
jika
Proyek
Strategis
mengacu
putusan
harus
terjadi.
mengurangi
yang
membuat
dihentikan.
Polisi
bahkan
debit
banjir,
proyek
terus
hal dan mengesampingkan penolakan-penolakan Warga yang sebagian besar menggantungkan
warga.
hidupnya
dan
Dalam laporan tahunan 2019, LBH Yogyakarta
perkebunan menjadi gusar. Kehadiran tambang
mengatakan bahwa proyek Bendungan Bener
akan
terkait
kepada
berpotensi
hasil
pertanian
menciptakan
kerusakan
dengan
keberlangsungan
industri
ekologis sekaligus juga menghilangkan banyak
pariwisata di Jateng. Melalui dokumen Rencana
hal: sejarah kampung, tempat tinggal beserta
Pembangunan
relasi sosial yang telah dibentuk, dan lahan-lahan
(RPJMN) 2015-2019 yang disahkan oleh Presiden
produktif
sumber
Joko Widodo, pemerintah menjadikan pariwisata
penghidupan. Ringkasnya, proyek Bendungan
sebagai sektor unggulan prioritas (leading sector)
Bener
yang tujuannya tidak lain untuk mendorong
pertanian
yang
yang
menjadi
mensyaratkan
pertambangan
andesit di Wadas berpotensi membuat warga
Jangka
Menengah
Nasional
pertumbuhan ekonomi.
kehilangan ruang hidupnya
Tulisan | Volume 4 | Halaman 8
pokok ati seneng zine
TULISAN Melalui Perpres 109/2020, Jokowi mencanangkan 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) atau yang dikenal dengan sebutan “10 Bali Baru”. Wilayah yang ditetapkan menjadi KSPN di sekitaran Jateng dan D. I Yogyakarta adalah Candi Borobudur. Setidaknya ada tiga proyek yang
Masalahnya
pengelola
NYIA
tidak
boleh
mengambil langsung air dari Kulon Progo. Bendungan Bener, yang lokasinya paling dekat, ditujukan untuk menunjang kebutuhan air di tempat tersebut. Latar belakang tersebutlah yang menjadi titik awal konflik tanah di Wadas. Berbagai izin terbit sebagai
pembenaran
untuk
melakukan
perampasan. Pemberian konsesi tanah dan sumber
daya
alam
komoditas-komoditas
untuk
menghasilkan
global
memang
merupakan alat yang sering digunakan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk meningkatkan
pertumbuhan
ekonomi
dan
berkelindan untuk menunjang kebutuhan ini,
perolehan
yaitu
Airport
berbagai mekanisme dan relasi kuasa yang
(NYIA) di Kulon Progo, Pembangkit Listrik Tenaga
timpang, masyarakat Wadas kehilangan kontrol
Uap (PLTU) di Kabupaten Cilacap, dan, ya,
dan kuasa atas tanahnya.
New
Yogyakarta
International
rente
bagi
mereka.[2]
Melalui
Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo. PLTU ditujukan untuk memasok kebutuhan
Dalam Marxisme, apa yang terjadi di sana
listrik di Jateng, khususnya daerah Magelang,
disebut sebagai akumulasi primitif, prakondisi
tempat di mana Candi Borobudur berdiri. Lalu
untuk akumulasi modal, yakni proses pemisahan
keberadaan NYIA menjadi penting, tentu saja,
para
untuk memudahkan orang-orang berwisata ke
produksinya, penciptaan hak milik pribadi yang
tempat tersebut.
kapitalistik,
produsen dan
Tapi tidak hanya itu fungsi NYIA. Dalam ekonomi
upahan
neoliberal,
pembangunan
bandara
merupakan
salah
satu
independen pembentukan
bebas.[3]
dari kelas
Dengan
alat buruh
demikian,
Bendungan
Bener
beserta
pertambangannya
bukan
hanya
penunjang untuk menghubungkan sektor-sektor
praktik
industri sekaligus melakukan eksploitasi alam
menggambarkan bahwa proyek tersebut sarat
dalam waktu bersamaan.[1] “Fungsi” eksploitasi
akan kepentingan elite alih-alih masyarakat,
tampak dalam kaitannya dengan Bendungan
melainkan juga menandakan adanya proses
Bener. Untuk tetap bisa beroperasi dengan
pemisahan masyarakat dengan alat produksinya,
maksimal, bandara perlu didukung oleh air yang
dalam hal ini tanah, yang pada gilirannya akan
mencukupi.
mengakibatkan
hilangnya
akses
mereka
terhadap sumber penghidupan. Tulisan | Volume 4 | Halaman 9
pokok ati seneng zine
TULISAN
M Reza Pahlevi
Senyum Anak Anak dibalik Potensi Industri Tembakau di Kabupaten Probolinggo
Tulisan | Volume 4 | Halaman 10
pokok ati seneng zine
TULISAN Indonesia merupakan Negara dengan kesuburuan tanah yang luar biasa bahkan disebut “Tanah Surga” karena segala jenis Tumbuhan tumbuh dengan subur. Sehingga tidak heran jika perkebunan dan pertanian menjadi mata pencaharian utama penduduk Indonesia dan menjadi salah satu penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar bagi Indonesia. Nicoriana Tabacum (Nicotiana spp., L) atau Tembakau menjadi salah satu varietas tanaman perkebunan yang tumbuh subur dan memiliki potensi perekonomian yang tinggi di Indonesia. Tumbuhan yang berasal dari Benua Amerika di tahun 1942 tersebut dibawa oleh Bangsa kolonial ke Indonesia dengan tujuan untuk dikembangkan karena potensi kesuburan tanah Indonesia. Probolinggo menjadi salah satu diantara beberapa kawasan lain di Jawa yang menjadi lokasi penanaman Tembakau di era tanam paksa Belanda tersebut. Hasil Tembakau di Probolinggo sangat memuaskan dan menjadi yang terbaik diantara beberapa kawasan lainnya dengan varietas unggulan Tembakau Besuki yakni hasil persilangan dari tembakau varietas Deli dan Kedu. Potensi tersebut terbawa hingga era kemerdekaan Indonesia, sehingga Pemerintah melalui Undang Undang No 39 tahun 2014 memasukkan Tembakau sebagai komoditas strategis yang berperan dalam pembangunan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Kabupaten Probolinggo sendiri merupakan penghasil Tembakau terbesar ke 3 di Jawa Timur dengan luas mencapai 10,042 ha serta nilai produksi Tembakau 12,450 ton pertahunnya. Kondisi tersebut didukung dengan banyaknya pabrik olahan Tembakau yang berada di Kabupaten Probolinggo sehingga tidak mengherankan bahwa komoditas Tembakau dianggap sangat menjanjikan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun dibalik potensi Temabaku tersebut terselip senyum anak anak yang merelakan waktu dan hakhak nya hilang demi bekerja menjadi pekerja anak disektor perkebunan Tembakau. Budaya turun temurun menanam Tembakau di masyarakat membuat mereka sejak kecil sudah terbiasa membantu orang tua mereka dalam pekerjaan pekerjaan di perkebunan Tembakau, baik dalam proses penanaman maupun panen Tembakau.
Berdasarkan survei pada 2019 menyebutkan bahwa Kabupaten
Probolinggo memiliki 41,9% dari 528 responeden anak anak -anak usia 5-17 tahun yang menjadi pekerja anak disektor perkebunan Tembakau (Ramadhan Fatah Ulfah Alifia Rezanti Putri Pramana and Penelitian SMERU 2021). Dimana mayoritas mereka terlibat di fase pascapanen Tembakau dengan kegiatan menjemur Tembakau diterik matahari, merajang Tembakau hingga melipat Tembakau untuk siap kirim ke tengkulak. Bagi masyarakat, keterlibatan anak anak menjadi pekerja anak tersebut sudah biasa karena tradisi turun temurun mereka yang sejak dini anak anak diajarkan untuk membantu perekonomian keluarga dengan membantu dalam proses pascapanen maupun tanam Tembakau. Ada anggapan bahwa “banyak anak banyak rezeki” sehingga anak anak dipekerjakan untuk meningkatkan produksi Tembakau yang berdampak pada peningkatan ekonomi sendiri. Tulisan | Volume 4 | Halaman 11
pokok ati seneng zine
TULISAN Dimana persoalan pekerja anak tersebut bukan hanya terjadi di Kabupaten Probolinggo saja, melainkan sudah menjadi persoalan ditingkat Nasional yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No 235 tahun 2003.
Oleh karena itu keterlibatan anak anak dalam industri Tembakau tidak dibenarkan sama sekali meskipun dengan dalih “membantu ekonomi keluarga dan kesukaleraan anak anak”.
International
Labour
menganggap
bahwa
Organization pekerjaan
(ILO)
perkebunan
Tembakau tidak aman untuk anak anak karena potensi paparan debu dan asap yang berpotensi menyebabkan
kelelahan,
batuk,
gangguan
pernafasan hingga permasalahan kulit.Selain itu minimnya
penggunaan
alat
perlindungan
semakin memperparah kondisi tersebut. Oleh karena itu kertelibatan anak anak sama sekali tidak dibenarkan, senyum manis mereka seharusnya menikmati pendidikan, bermain dan bersosialisasi membantu
bukan
pada
perekonomian
senyum
manis
keluarga
dalam
sektor perkebunan Tembakau Namun untuk memutus persoalan tersebut bukan perkara yang mudah karena sudah turun temurun dan berakar menjadi suatu kebiasaan
Keterlibatan anak anak tersebut sama saja
bahwa anak anak sebagai bentuk baktinya maka
dengan membunuh senyum mereka karena
membantu orang tua mereka dalam pekerjaan
telah merapmas hak dan waktu mereka menjadi
orang tua mereka. Kondisi tersebut diperparah
anak
tidak
dengan minimnya pengetahuan dan pendidikan
pengelolaan
orang tua mengenai hak hak anak sehingga
Tembakau karena difase anak anak (usia 5-17
masalah ini menjadi permasalahan bersama
tahun) adalah fase mereka belajar dan bermain
yang
untuk meningkatkan potensi dan minat bakat
mewujudkan adanya kesejahteraan sosial dan
anak.
dilibatkan
mereka.
Anak
sama
anak
sekali
seharusnya dalam
Senyum anak anak tersebut akan
berubah menjadi kesedihan karena masa depan
harus
segera
diselesaikan
untuk menciptakan adanya pembangunan berkelanjutan
anak, baik karena pendidikan mereka yang
integrasi
terbengkal ai
kemiskinan dan kesejangan sosial
terganggu karena berbagai bahan kimia dalam
(GDS’s)
Susstainable Development Goals
mereka mulai terganggu karena menjadi pekerja hingga kesehatan mereka yang
demi
dan
dengan
prinsip
inklusif
untuk
universalitas, mengakhiri (THE 17
GOALS | Sustainable Development n .d.) .
industri Tembakau.
Tulisan | Volume 4 | Halaman 12
pokok ati seneng zine
KARYA
Pang png
Ilustrasi | Volume 4 | Halaman 13
PANG PNG
FUCK ASAP
pokok ati seneng zine
KARYA
Pang png
Ilustrasi | Volume 4 | Halaman 14
PANG PNG
MANUSIA TERLAHIR TELANJANG
pokok ati seneng zine
KARYA
Pang png
Ilustrasi | Volume 4 | Halaman 15
PANG PNG
PERAHU TERAKHIR KITA
pokok ati seneng zine
KARYA
Pang png
Ilustrasi | Volume 4 | Halaman 16
KLISE
pokok ati seneng zine
SASTRA
sastra sastra sastra sastra
Ilustrasi | Volume 4 | Halaman 17
pokok ati seneng zine
SASTRA
Chairil Anwar
Aku …. Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau
Chairil Anwar
Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi ………. Maret 1943
Ilustrasi | Volume 4 | Halaman 18
pokok ati seneng zine
SASTRA
Agam Wispi
SAJAK-SAJAK LEPAS …… daun yang mau gugur, gugurlah cinta yang berkubur, pergilah bila setitikpun tiada nyala pembakar sampah sekitar jangan tinggalkan biola dan teruskan langkah kemana kau suka Semua yang terkenang lupakan dari ingatan tak usah lihat potret kawan yang hancur di malam terakhir
Agam Wispi
tapi telanlah kepahitan dan jalan tidak sempoyongan Apakah yang indah selain kenangan tapi mengapa berduka jika mimpi tak siap terbangun tengah malam? Yang merindu tak tahu pada siapa tapi kenangan bergetar dan cinta mekar pada hati yang terbuka bagi derita kawan-kawan jangan kembali pejuang muda. Yang merindu tak tahu pada siapa memang tidak padanya.
Ilustrasi | Volume 4 | Halaman 19
pokok ati seneng zine
SASTRA
M Rifki kurniawan
Seindah Manusia …… Memoar mahari berdiri diatas kepala Tersentak mata tergeletak kepala Tanpa berfikir lagi Tanpa menyentuh lagi Orang lain hanya bisa berkata Ada jutaan manusia tapi aku nemilih satu Yang meredup malam Yang meredup pagi adalah air sesuci air surga bukan air mata Tapi seteguk air dari tanganmu yang menepuk hati
Ilustrasi | Volume 4 | Halaman 20
M Rifki Kurniawan
pokok ati seneng zine
Pokok ati seneng
pkasn.native @gmail.com
pkasn zine